Anda di halaman 1dari 5

KEWARISAN BERGANDA A.

Pendahuluan Kewarisan berganda itu mengandung arti bahwa seseorang dalam satu kasus mempunyai dua hak kewarisan. Dari segi bentuknya ada dua macam hak kewarisan berganda yang disebabkan oleh dua kemungkinan: a. Pertama, karena timbulnya kasus kewarisan baru sebelum kewarisan lama diselesaikan pembagiannya. Bentuk ini sering disebut dengan almunaskhaat (kewarisan beruntun). b. Dalam bentuk seseorang memiliki dua sebab dalam kewarisan dan mewarisi dari setiap sebab itu.

B. Pembahasan Kewarisan berganda itu mengandung arti bahwa seseorang dalam satu kasus mempunyai dua hak kewarisan. Dari segi bentuknya ada dua macam hak kewarisan berganda yang disebabkan oleh dua kemungkinan: c. Pertama, karena timbulnya kasus kewarisan baru sebelum kewarisan lama diselesaikan pembagiannya. Bentuk ini sering disebut dengan almunaskhaat (kewarisan beruntun). d. Dalam bentuk seseorang memiliki dua sebab dalam kewarisan dan mewarisi dari setiap sebab itu. Bentuk pertama atau munaskhaat terjadi bila sebelum harta warisan dibagi kepada ahli waris yang berhak, terjadi pula kematian di antara ahli waris itu yang menyebabkan seseorang kerabat yang ditinggalkannya di samping menerima warisan dari pewaris pertama juga mendapat warisan dari pewaris kedua dari harta yang diterimanya pertama. Hal seperti ini dapat pula terjadi dalam kasus orang hilang yang datang berita kematiannya sebelum harta warisan selesai dibagikan. Dua kasus kewarisan yang menjadi satu ini dapat diselesaikan sesuai dengan keadaannya dan tidak menimbulkan masalah menurut biasanya. Bentuk kedua muncul bila terjadi perkawinan antara dua orang yang mempunyai hubungan kewarisan. Contoh dalam hal ini adalah

seseorang perempuan kawin dengan anak pamannya (sepupu) kemudian meinggal dan meninggalkan harta. si laki-laki dari satu segi adalah suaminya dan dari segi lain ia adalah anak pamannya. Kalau ia hanya satusatunya ahli waris, sebagai suami ia mendapat dan sebagai anak paman ia mendapat sisa harta. demikian pula dapat terjadi dalam bentuk hubungan kelamin secara syubhat dengan salah seorang ahli warisnya, karena hubungan kelamin secara syubhat itu menghasilkan anak dengan status hukum yang sah. Seperti terjadi hubungan kelamin syubhat antara seseorang laki-laki dengan anak perempuannya yang melahirkan anak perempuan. Dalam contoh ini anak perempuan yang dicampuri adalah ibu oleh anak yang lahir kemudian dan sekaligus ia juga saudaranya yang seayah. Dalam kasus pertama dua orang yang berkedudukan dalam dua fungsi ahli waris, satu di antaranya sebagai furudh (suami) dan satu lagi sebagai ashabah (anak paman), sedangkan dalam bentuk kedua, keduanya sebagai furudh yaitu ia adalah saudara dan ia juga ibu. Bagaimana cara pewarisan orang yang mempunyai dua fungsi kewarisan menjadi bahasan di kalangan ulama. Para ulama telah sepakat bahwa bila dua kedudukan kewarisan bertemu dalam seseorang sedangkan yang satu sebagai furudh dan yang satu lagi sebagai ashabah, ia mewarisi dari kedua hak itu sekaligus. Dalam contoh di atas sebagai suami ia menerima dan sebagai anak paman ia menerima sisanya yang . Namun bila kedua kedudukan itu sama-sama sebagai furudh, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Golongan Syafiiyah berpendapat bahwa ia hanya menerima dari satu kedudukan saja dan tidak dari keduanya. Satu kedudukan yang dimaksud adalah yang terkuat di antara keduanya, yaitu kedudukan yang dapat menghijab terhadap yang lain atau satu mungkin terhijab sedangkan yang lain tidak atau keduanya mungkin terhijab sedangkan yang satu sedikit yang menghijabnya dibandingkan yang lain.

Contoh pertama yaitu satu di antara dua fungsi tersebut terhijab oleh yang lain umpamanya terjadi hubungan kelamin syubhat antara seorang laki-laki (A) dengan ibunya (B) dan lahir anak perempuan (C). kemudian si A mati meninggalkan ahli waris si C. si C bagi pewaris (A) adalah anak perempuannya dan juga sebagai saudara perempuan seibu. Dalam hal ini si C hanya mewaris dari si A sebagai anak perempuan dan tidak lagi sebagai karena kedudukan saudara seibu dihijjab oleh kedudukannya sebagai anak perempuan. Contoh bentuk kedua yaitu satu di antaranya tidak mungkin terhijab sedangkan yang satu lagi mungkin, umpamanya terjadi hubungan kelamin syubhat antara seorang laki-laki (A) dengan anak perempuannya (B) dan lahir anak perempuan (C), kemudian si C meninggal dan meninggalkan ahli waris si B itu nagi si C adalah ibunya dan sekaligus juga saudaranya (anak ayahnya). Dalam contoh itu si B hanya mewaris dari si C sebagai ibu dan tidak ada lagi sebagai saudara, karena kedudukannya sebagai ibu lebih kuat dari kedudukannya sebagai saudara sebab ibu tidak mungkin terhijab sedangkan saudara memiliki banyak kemungkinan yang menghijabnya. Contoh bentuk ketiga yaitu kedudukan itu sama-sama mungkin terhijab namun satu di antaranya lebih banyak dibandingkan dengan yang lain. Contoh dalam hal ini umpamanya terjadi hubungan kelamin syubhat antara laki-laki (A) dengan anak perempuan (B) dari anak perempuannya (C) melahirkan anak perempuan (D). kemudian si D meninggal dunia dan meninggalkan ahli waris si B. Si B bagi si D adalah neneknya dan sekaligus juga saudaranya (anak ayahnya). Dalam kasus seperti ini si B hanya mewaris sebagai nenek dan tidak sebagai saudara, oleh karena kedudukannya sebagai nenek lebih kuat daripada kedudukannya sebagai saudara, sebab yang menghijab nenek itu hanya satu yaitu ibu, sedangkan yang menghijab saudara itu banyak sekali. Ibnu Qudamah sebagai pengikut Hanabilah di samping mengemukakan kesamaan pendapatnya dengan ulama Syafiiyah yang

hanya memberikan satu hak yang terkuat di antara dua kedudukan di atas, juga mengemukakan pendapat berbeda. Ia mengemukakan ada pendapat yang menetapkan orang yang berada dalam dua kedudukan ahli waris, meskipun sama-sama sebagai ahli waris furudh, menerima hak dari kedua kedudukan tersebut. Dalam bentuk pertama seperti dicontohkan, ia memang tidak dapat mewaris dari keduanya karena kedudukannya sebagai saudara seibu terhijab oleh kedudukannya sebagai anak perempuan. Pada contoh kedua bentuk kedua tersebut dalam kedudukannya sebagai ibu ia menerima 1/3 dan dalam kedudukannya sebagai saudara perempuan ia menerima . Oleh karena itu tidak ada ahli waris lain sisanya dikembalikan kepadanya sebagai radd. Pada contoh bentuk ketiga sebagai nenek menerima 1/6 dan sebagai saudara perempuan ia menerima , kemudian sisanya dikembalikan kepadanya sebagai radd.1 C. Penutup Simpulan Golongan Syafiiyah berpendapat bahwa ia hanya menerima dari satu kedudukan saja dan tidak dari keduanya. Satu kedudukan yang dimaksud adalah yang terkuat di antara keduanya, yaitu kedudukan yang dapat menghijab terhadap yang lain atau satu mungkin terhijab sedangkan yang lain tidak atau keduanya mungkin terhijab sedangkan yang satu sedikit yang menghijabnya dibandingkan yang lain.

Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam, (Jakarta: Kencana, 2004), hlm. 152-153

Daftar Pustaka Syarifuddin, Amir, Hukum Kewarisan Islam, (Jakarta: Kencana, 2004)