Anda di halaman 1dari 24

GLOSSARIUM

Anoreksia (anorexia) - gangguan makan yang disebabkan oleh gangguan psikologis di mana penderitanya mengontrol asupan kalori secara ekstrim, membatasi makan, dan amat terobsesi dengan berat badan. Dekubitus - kerusakan atau kematian kulit sampai jaringan di bawah kulit, bahkan menembus otot sampai mengenai tulang akibat adanya penekanan pada suatu area secara terus-menerus sehingga

mengakibatkan gangguan sirkulasi darah setempat. (M.Clevo Rendi, 2012). Fraktur - terputusnya kontinuitas jaringan tulang, retak atau patahnya tulang yang utuh, yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik yang ditentukan jenid dan luasnya trauma. (Lukman, Nurma Ningsih. 2009). Kongesti - akumulasi abnormal atau berlebihan dari cairan tubuh. Istilah ini digunakan secara luas dalam pengobatan. Konstipasi - suatu kondisi medis yang ditandai dengan kesulitan untuk buang air besar sebagai akibat dari feses yang mengeras. Penyebab khas dari konstipasi adalah pola makan rendah serat. Kontraktur - terbatasnya mobilitas sendi sebagai akibat dari perubahan patologis pada permukaan sendi atau jaringan lunak yang secara fungsional berhubungan dengan sendi. Lesi Hill-Sachs - kerusakan yang terjadi pada kepala posterohumerus karena impaksi dari pinggiran glenoid yang juga terjadi trauma dislokasi anterior. Lesi Bankart - cedera kapsulolabral anterior yang berhubungan dengan robekanlabrum glenoid anteroinferior.

Page | 1

Ligamen - jaringan berbentuk pita yang tersusun dari serabut-serabut liat yang mengikat tulang satu dengan tulang lain pada sendi. Luxatio Erecta dislokasi inferior shoulder. Pergeseran posterior caput humeri yang masih terletak di lateral dan berada di posterior dalam fosa infraspinatus. Myositis ossificans - salah satu kelompok myositis yang ditandai dengan deposit tulang atau osifikasi otot. Biasanya kelompok myositis ini terjadi apabila penderita mengalami cedera otot, terutama memar. (American Academy of Orthopaedic Surgeons Myositis, 2007; Newman, 2006; The Myositis Association, 2007). Rotator Cuff - kelompok otot stabilitator aktif sendi glenohumeralis dan sekaligus sebagai penggerak. Rheumatoid Arthritis - penyakit autoimun (penyakit yang terjadi pada saat tubuh diserang oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri) yang mengakibatkan peradangan dalam waktu lama pada sendi. Shoulder Blade scapula Trombosis Vena Dalam kondisi medis yang ditandai dengan pembentukan gumpalan-gumpalan darah pada vena-vena dalam di dalam tubuh (vena profunda), yang dapat menyumbat baik seluruh maupun sebagian aliran darah yang melalui vena, menyebabkan gangguan sirkulasi darah.

Page | 2

BAB I DISLOKASI TRAUMATIK A. Definisi Dislokasi traumatik adalah dislokasi yang terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan di sekeilingnya dan mungkin juga merusak struktur sendi, ligamen, saraf, dan sistem vaskular. B. Epidemiologi C. Etiologi Secara umum dislokasi traumatic disebabkan oleh : a) Cedera olahraga Olahraga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga yang beresiko. b) Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya

menyebabkan dislokasi. c) Terjatuh Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin.

D. Patomekanisme a. Klasifikasi Berdasarkan tipe kliniknya dislokasi traumatik dibagi atas (Brunner & Suddart, 2002, KMB, edisi 8, vol 3,Halaman 2356) : a) Dislokasi Akut Dislokasi akut umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di sekitar sendi. b) Dislokasi Kronik c) Dislokasi Berulang Jika suatu trauma dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint dan patello femoral joint. Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang atau fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan.

Page | 3

b. Patofisiologi Dislokasi traumatik menyebabkan terjadinya tear ligamen dan kapsul artikuler yang merupakan komponen vital penghubung tulang. c. Prognosis Tingkat kesembuhan pada kasus dislokasi traumatik ini baik jika tidak menimbulkan komplikasi. Adapun komplikasi yang terjadi pada dislokasi, yaitu : 1. Komplikasi yang dapat menyertai dislokasi antara lain : a) Fraktur b) Kontraktur c) Trauma jaringan 2. Komplikasi yang dapat terjadi akibat pemasangan traksi : a) Dekubitus b) Kongesti paru dan pneumonia c) Konstipasi d) Anoreksia e) Stasis dan infeksi kemih f) Trombosis vena dalam

E. Gambaran Klinis a. At the time of injury 1. An intense sickening pain (nyeri yang menyakitkan) Dislokasi traumatik akan menyebabkan nyeri yang sangat

menyakitkan dikarenakan terdapat jaringan yang rusak (cedera), misalnya ligamen, tendon, dan otot. 2. Deformity (cacat) Dislokasi dapat menyebabkan defomitas pada tubuh, misalnya dislokasi traumatik pada acromioclavicular yang disebabkan benturan keras pada tulang clavicula yang berdampak pada rupturnya ligamen acromioclavicular dan coracoclavicular yang menyebabkan deformitas berupa tonjolan yang jelas oleh tulang clavicula. 3. Loss of function (kehilangan fungsi) Dislokasi menyebabkan kehilangan fungsi pada jaringan yang cedera, baik pada jaringan itu sendiri maupun jaringan disekitarnya. 4. Gangguan gerakan

Page | 4

dikarenakan kehilangan fungsi pada jaringan yang cedera, baik pada jaringan itu sendiri maupun jaringan disekitarnya menyebabkan gangguan gerakan pada regio yang terkait. b. Later features 1. Swelling (pembengkakan) 2. Bruising (memar) 3. Stiffness (kaku) 4. Muscle Weakness (kelemahan otot) F. Diagnosis Banding

Page | 5

BAB II DISLOKASI SHOULDHER A. Definisi Dislokasi adalah cidera pada persendian yang mana kepala tulang lepas atau bergeser dari mangkoknya. Faktor yang meningkatkan resiko dislokasi adalah ligamen-ligamennya yang kendor akibat pernah mengalami cedera, kekuatan otot yang menurun ataupun karena faktor eksternal yang berupa tekanan energi dari luar yang melebihi ketahanan alamiah jaringan dalam tubuh (Stevenson et al, 2000). Dislokasi bahu adalah suatu kerusakan yang terjadi saat bagian atas tulang humerus tidak menempel lagi dengan scapula. Hal ini terjadi saat caput humerus keluar dari glenoid, maka dislokasi bahu ini fokus pada dislokasi dari sendi glenohumeral (Dr H. Subagyo, Sp.B, Sp.OT, 2013).

B. Epidemiologi Dislokasi dan subluksasi sendi glenohumeral sering terjadi pada atlet. Seorang peneliti mengidentifikasi distribusi dimodal dislokasi sendi bahu primer dengan puncak dalam dekade kedua dan keenam. Dalam 95% kasus, dislokasi bahu yang terjadi mengarah ke anterior. Terdapat beberapa fraktur yang berhubungan dengan dislokasi bahu anterior yaitu kelainan Hill-Sachs dengan kasus sebanyak 35-40% dari kasus yang ada, lesi Bankart dan fraktur dari greater tuberosity dengan kasus sebanyak 10-15% dari kasus yang ada. Sekitar 4% dari kasus yang ada, dislokasi terjadi ke arah posterior. Sekitar 0,5% dari semua dislokasi yang ada, terjadi dislokasi ke arah inferior (luxatio erecta). Dan dislokasi ke arah superior jarang sekali ditemukan, angka kejadiannya lebih kecil dari dislokasi ke arah inferior. Komplikasi penting dari dislokasi primer adalah dislokasi berulang. Berdasarkan studi yang dilakukan, sekitar 70% dari mereka yang telah mengalami dislokasi memiliki kemungkinan untuk mengalami dislokasi berulang dalam waktu 2 tahun sejak cedera pertama. Penderita yang lebih muda dan lebih tua memiliki insiden dislokasi bahu primer yang sebanding. Namun keadaan dislokasi berulang sangat bergantung pada usia dan lebih sering terjadi pada populasi remaja

Page | 6

dibandingkan dengan populasi yang lebih tua. Telah dilaporkan bahwa dislokasi rekuren pada 66% sampai 10% pada individu berusia 20 tahun atau lebih muda, 13% sampai 63% dari individu berusia antara 20 tahun dan 40 tahun. Dan 0% sampai 16% dari individu berusia 40 tahun atau lebih. (Donnateli, 1991) Dislokasi bahu cenderung lebih sering terjadi pada pria dibandingkan dengan wanita. Hal ini mungkin disebabkan karena tipe olahraga yang dilakukan.

C. Etiologi Penyebab utama dislokasi bahu adalah cedera traumatik. Hamper 95% dari dislokasi bahu yang terjadi pertama kali adalah akibat dari beberapa kejadian seperti benturan kuat, jatuh pada lengan terulur, atau gerakan tibatiba yang dapat mengakibatkan bahu terkilir. Pada individu-individu ini, struktur yang berfungsi menstabilkan gerakan ditarik paksa secara spontan. Sekitar 5% dari dislokasi yang ada disebabkan oleh kejadian yang atraumatik (misalnya, overuse, mengangkat lengan). Individu-individu ini mungkin memiliki kelemahan kapsuler atau pengontrolan otot pada kompleks bahu atau dapat disebabkan oleh keduanya.

D. Patomekanisme a. Klasifikasi Terdapat empat jenis dislokasi pada bahu yaitu : 1. Dislokasi Anterior Adalah Pergeseran caput humerus dari sendi glenohumeral dapat terjadi pada bagian anterior dan medial glenoid, sehingga caput humeri bergeser ke medial di bawah processus coracoideus. Dislokasi sendi bahu anterior biasanya terjadi setelah cedera akut karena lengan dipaksa berabduksi, berotasi eksternal dan ekstensi sendi bahu.

Page | 7

2. Dislokasi Posterior Adalah pergeseran posterior caput humeri yang masih terletak di lateral dan berada di posterior dalam fosa infraspinatus.

3. Dislokasi Inferior Adalah dislokasi dimana bagian leher dari tulang humerus terangkat atau menekan melawan akromion yang disebabkan oleh tekanan hiperabduksi. Jenis dislokasi ini jarang ditemukan.

Page | 8

4. Dislokasi Superior Adalah dislokasi dimana caput humerus terdorong ke atas melawati rotator cuff. Dislokasi superior sangatlah jarang.

b. Patofisiologi 1. Dislokasi Anterior Sekitar 95% dari dislokasi bahu yang terjadi, bagian atas humerus berada di depan shoulder blade dan menyebabkan dislokasi anterior. Mekanisme umum dari kerusakan yang terjadi, yaitu abduksi yang ekstrim, eksorotasi, ekstensi, dan suatu tekanan langsung dari posterior terhadap humerus. Abduksi atau rotasi eksternal secara paksa sendiri dapat menyebabkan dislokasi (sekitar 30% dari kasus yang ada), begitu juga suatu tekanan kuat langsung terhadap bagian posterior humerus (29%), elevasi dan eksorotasi yang terjadi secara paksa (24%), dan jatuh dengan tangan terbuka lebar (17%). 2. Dislokasi Posterior Dalam kurang dari 5% dari kasus yang ada, bagian atas humerus berada di belakang shoulder blade, suatu dislokasi posterior. Dislokasi posterior terjadi akibat berat axial yang ditumpukan pada lengan yang sedang berada dalam keadaan adduksi dan endorotasi. Seperti jatuh dalam posisi lengan adduksi dan endorotasi, atau adanya tekanan langsung pada bagian depan bahu. Dislokasi posterior yang klasik dapat juga terjadi akibat tersengat listrik ataupun kejang karena ketidakseimbangan kekuatan antara otot internal rotators (subscapularis, latissimus dorsi, pectoralis mayor), yang menekan otot-otot eksternal rotatos (teres minor dan infraspinatus). Jika terjadi kejang, perlu dilihat adanya dislokasi bilateral. 3. Dislokasi Inferior Mekanisme cedera dari dislokasi bahu inferior adalah adanya berat aksial yang ditumpukan saat lengan sedang abduksi atau hiperabduksi secara paksa seperti menangkap atau menggenggam suatu objek yang berposisi di atas kepala saat jatuh. 4. Dislokasi Superior

Page | 9

Pada dislokasi superior, caput humerus terdorong ke atas melewati rotator cuff. Dislokasi superior dapat terjadi akibat tekanan yang ekstrim ke arah atas pada lengan yang adduksi.

c. Prognosis Tingkat kesembuhan pada kasus dislokasi shoulder ini baik jika tidak menimbulkan komplikasi. Adapun komplikasi yang terjadi pada dislokasi, yaitu : 1. Dislokasi Anterior Dislokasi bahu anterior rekuren disebabkan karena stabilitas dari bahu bergantung pada integritas dari kapsul sendi, dan karena kapsul dan labrum anterior hampir selalu mengalami cedera atau terlepas dari glenoid dan leher dari scapula pada saat dislokasi bahu yang pertama kali terjadi, maka tidaklah mengagetkan jika pada beberapa individu dapat terjadi dislokasi berulang yang lebih sering akibat tekanan yang semakin lama semakin kecil. Selain cekungan jaringan lunak yang dapat menyebabkan caput humerus untuk bergeser, sering juga ditemukan cekungan pada aspek posterior dari caput humerus akibat fraktur kompresi saat dislokasi pertama terjadi. Cekungan ini (lesi Hill-Sachs) menyebabkan caput humerus yang eksorotasi untuk bergeser ke arah margin anterior dari rongga glenoid. Pada pasien remaja, dislokasi berulang sangatlah merugikan dan mengganggu. Pasien sangat waspada jika lengan abduksi dan exorotasi maka akan terjadi dislokasi kembali. Kondisi ini merupakan indikasi dilakukannya perbaikan secara pembedahan pada jaringan lunak. Dari berbagai macam dan banyaknya tipe operasi yang ada, dua tipe operasi yang paling sering dilakukan yaitu operasi Bankart, dimana labrum dan kapsul disambungkan kembali pada margin anterior dari rongga glenoid; dan operasi Putti-Platt, dimana kapsul dan otot subskapularis dipotong kemudian disambung secara bertumpuan sehingga mengurangi gerak exorotasi. Setelah operasi, lengan pasien akan diberikan sling dan diperban pada badan dengan bahu yang berada dalam keadaan endorotasi selama 6 minggu.

Page | 10

Pasien dapat beraktifitas seperti normal kembali jika perbaikan ini berhasil dilakukan dengan baik. Selain dislokasi anterior rekuren, dislokasi bahu anterior biasanya berhubungan dengan fraktur dari tuberositas mayor, lesi Bankart (Fraktur dari glenoid rim) (15%) dan defek Hill-Sachs (fraktur impaksi pada permukaan posterolaterl dari caput humerus karena impaksi dari caput humerus dengan glenoid rim anterior saat terjadi dislokasi) (50%). Komplikasi yang cukup umum terjadi akibat dislokasi inisisal yaitu cedera traksi pada N.aksilaris. Pasien tidak dapat abduksi bahu karena paralisis deltoid dan terdapat daerah kecil dengan sensasi

kulit yang berkurang. Prognosis penyembuhan baik. Kadang-kadang dapat terjadi secara bersamaan yaitu robekan pada

muskulotendinous cuff yang dapat memperburuk dislokasi yang ada, dimana pada keadaan ini bahu yang sudah direduksi perlu untuk dilakukan imobilisasi selama 3 minggu dalam posisi abduksi. Jarang terjadi interposisi tendon dari otot biceps longus yang memerlukan reduksi terbuka yaitu secara pembedahan. 2. Dislokasi Posterior Komplikasi yang dapat terjadi pada dislokasi bahu posterior yaitu dislokasi yang tidak dapat direduksi. Sekurang-kurangnya setengah dari pasien dengan dislokasi posterior memiliki lesi yang tidak dapat direduksi saat pertama kali ditemukan. Tipikalnya pasien memegang lengan dalam keadaan endorotasi, pasien tidak dapat mengabduksi lengannya lebih daro 70-800, dan jika pasien mengangkat lengannya ke arah depan, ia tidak dapat memutar telapak tangannya ke arah atas. Komplikasi lainnya yaitu dislokasi bahu posterior rekuren dan habitul. Jika bahu yang sebelumnya pernah terdislokasi mengalami dislokasi berulang oleh karena suatu cedera lain, dislokasi keduan dan seterusnya disebut sebagai dislokasi rekuren. Perbaikan jaringan lunak posterior secara pembedahan dianjurkan. Akan tetapi jika pasien dapat melakukan dislokasi bahu sesuai dengan keinginannya ataupun mereduksi kembali bahu tersebut, maka kondisi ini disebut

Page | 11

sebagai dislokasi habitual, dan biasanya berhubungan dengan kelainan congenital yaitu kelemahan umum congenital dari ligament yang membentuk bahu. Atau hal ini dapat berhubungan dengan remaja atau orang dewasa yang mencari perhatian. Maka perhatian khusus harus diberikan pada mereka agar tidak melakukan hal itu secara sengaja. 3. Dislokasi Inferior Mendiagnosa dislokasi inferior sangatlah penting oleh karena tingginya angka kejadian untuk komplikasi. Sebanyak 60% dari kasus yang ada, kerusakan neurologi (biasanya lesi pada N. Aksilaris) berhubungan dengan dislokasi inferior. Kerusakan vaskularisasi terjadi dalam 3,3% dari kasus yang ada, robekan rotator cuff terjadi dalam 80-100% dari kasus yang ada. Dan fraktur greater tuberosity dan avulsi pectoralis major juga berhubungan dengan dislokasi inferior. 4. Dislokasi Superior Kerusakan yang dapat terjadi bersamaan dengan dislokasi superior yaitu kerusakan pada akromioclavicular, fraktur pada akromion, clavicula, dan tuberositas.

E. Gambaran Klinis a. Dislokasi Anterior Pasien yang mengalami dislokasi bahu akan merasa sangat kesakitan dan mencegah untuk siapapun untuk melakukan pemeriksaan karena sakitnya itu. Jika pasien mengalami dislokasi bahu, rentang gerak (ROM) dari pasien itu tidak luas. Jika bahu terdislokasi ke arah anterior, lengan berada dalam posisi sedikit abduksi dan exorotasi. Pada pasien yang kurus, caput humerus yang menonjol dapat dirasakan berada di anterior dan cekungan dapat dilihat posterior pada bahu. Rotator cuff seringkali mengalami kerusakan dan harus diperiksa setelah dilakukan reduksi. Penting untuk menilai fungsi neurovascular aksila dengan meraba nadi dan melakukan uji sensasi pada daerah bahu. Gerakan biasanya sangat menyakitkan akibat dari spasme otot. Lokasi dislokasi anterior yang paling sering terjadi yaitu subkorakoid. Dapat juga terjadi dislokasi

Page | 12

subglenoid, subclavicula, dan yang sangat jarang yaitu intratorakal atau retroperitoneal. b. Dislokasi Posterior Dislokasi bahu posterior mudah untuk terlewatkan dalam diagnosa, karena lengan pasien biasanya terletak dalam keadaan endorotasi dan adduksi (yaitu, pasien memegang lengannya dan meletakkannya pada perutnya). Pasien tidak dapat melakukan supinasi pada tangannya. Pada lengan tidak dapat dilakukan eksorotasi ke posisi netral. Pada pasien yang kurus, caput humerus yang menonjol dapat dilihat dan teraba diposterior dibawah prosesus acromion, bahu anterior menjadi rata, dan processus coracoids lebihb menonjol. Dislokasi bahu posterior seringkali terlewatkan, karena pasien hanya tampak seperti memegang

ekstremitasnya. Sebelumnya, dislokasi ini pernah terlewatkan atau disalah

diagnosiskan sebagai frozen shoulder. Jika gambaran radiografi yang tepat tidak dapat diperoleh, diagnosis akan terlewatkan. Cedera pada saraf dan vaskuler tidak umum terjadi. c. Dislokasi Inferior Dislokasi inferior akan menjadi kondisi yang disebut sebagai luxato erecta, yang menjelaskan mengenai presentasi klasik dimana lengan atas abduksi 110-1600 dengan lengan bawah diistirahatkan pada atau dibelakang kepala pasien. Pada pemeriksaan, ditemukan lengan yang berada di atas kepala pada posisi yang tetap dengan siku yang fleksi. Caput humerus teraba pada atau di bawah aksila. d. Dislokasi Superior Pada pemeriksaan dapat ditemukan caput humerus yang meninjol yang dapat dirasakan berada di superior.

F. Diagnosis Banding Diagnosis banding utama dari dislokasi anterior adalah fraktur kolum humerus dan dislokasi fraktur. Frekuensi fraktur ini lebih kecil dibandingkan dengan kasus dislokasi sederhana. Kesalahan fatal dapat terjadi saat melewatkan kasus ini dan menganggapnya sebagai dislokasi sederhana lalu menatalaksananya sesuai prosedur tatalaksana dislokasi sederhana. Jika

Page | 13

pemeriksa dapat membuat siku pasien menyentuh pinggang atau humerus dapat bergerak pada scapula, maka kemungkinan adanya fraktur kolum humerus atau dislokasi fraktur lebih besar. Selain itu adanya pembengkakan yang hebat juga dapat menyingkirkan kemungkinan dislokasi sederhana.

Page | 14

BAB III DISLOKASI ACROMIOCLAVICULAR JOINT A. Definisi Dislokasi adalah cidera pada persendian yang mana kepala tulang lepas atau bergeser dari mangkoknya. Faktor yang meningkatkan resiko dislokasi adalah ligamen-ligamennya yang kendor akibat pernah mengalami cedera, kekuatan otot yang menurun ataupun karena factor eksternal yang berupa tekanan energi dari luar yang melebihi ketahanan alamiah jaringan dalam tubuh (Stevenson et al, 2000). Dislokasi Acromioclavicular Joint adalah dislokasi yang terjadi pada sendi antara ujung distal clavicula dengan acromion. Dislokasi AC Joint dapat terjadi karena adanya ruptur ligamen acromioclavicular dan ligamen coracoclavicular (Apley, 1993). B. Epidemiologi Dislokasi acromioclavucular joint kebanyakan terjadi pada usia 15 40 tahun karena aktivitas olah raga dan kecelakaan lalu lintas (Apley, 1993). C. Etiologi Dislokasi acromioclavicular terjadi karena adanya strain pada ligamen acromioclavicular yang disebabkan oleh trauma. Ketika seseorang jatuh dengan bahu bagian anterior, maka akan ada gaya yang mendorong bahu tersebut ke arah posterior sementara clavicula tetap berada di posisi anatominya, sehingga menyebabkan ligamen acromioclavicular tertarik dan terjadi ruptur. D. Patomekanisme a. Klasifikasi Tipe dislokasi pada acromioclavicular joint antara lain (Allman and Rockwood) : 1. Tipe I Pada ligamen acromioclavicular terjadi stretch yang menyebabkan ligamen tersebut mengalami ketegangan dan dapat juga

menyebabkan ruptur parsial. 2. Tipe II

Page | 15

Pada ligamen acromioclavicular terjadi ruptur total dan ligamen coracoclavicular terjadi rupture parsial. 3. Tipe III Pada ligamen acromioclavicular dan coracoclavicular terjadi ruptur total, dan tulang clavicula terangkat ke atas. 4. Tipe IV Pada ligamen acromioclavicular dan coracoclavicular terjadi ruptur total, dan tulang clavicula terdorong kea rah posterior. 5. Tipe V Pada ligamen acromioclavicular dan coracoclavicular terjadi ruptur total, dan tulang clavicula mengalami ketidakstabilan. 6. Tipe VI Pada ligamen acromioclavicular dan coracoclavicular terjadi ruptur total, dan tulang clavicula masuk diantara kepala humerus dan tendon otot biceps dan coracobrachialis.

Page | 16

b. Patofisiologi Ruptur pada ligamen acromioclavicular yang disebabkan oleh trauma yang dapat menyebabkan dislokasi acromioclavicular. Ketika seseorang jatuh dengan bahu bagian anterior, maka akan ada gaya yang mendorong bahu tersebut ke arah posterior sementara clavicula tetap berada di posisi anatominya, sehingga menyebabkan ligament acromioclavicular tertarik dan terjadi rupture. Mekanisme yang paling umum untuk dislokasi acromioclavicular adalah benturan langsung pada bagian acromion dengan lengan adduksi. c. Prognosis Tingkat kesembuhan pada kasus dislokasi acromioclavicular ini baik jika ditangani dengan benar. E. Gambaran Klinis Pasien mengalami nyeri di atas sendi acromioclavicular. Terjadi pembengkakan, memar, dan clavicula menonjol secara jelas. F. Diagnosis Banding a. Cedera rotators cuff b. Dislokasi bahu

Page | 17

BAB IV DISLOKASI ELBOW A. Defenisi Dislokasi elbow adalah suatu injuri berupa keadaan yang abnormal pada regio elbow, dimana olekranon tidak berhubungan secara normal dengan epicondilus humeri, atau bergesernya tulang ulna ke belakang dari ujung bawah tulang humeri.

B. Epidemiologi Dislokasi elbow dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa akibat suatu trauma tidak langsung. C. Etiologi Dislokasi elbow terjadi karena trauma, misalnya jatuh lalu menumpu dengan tangan dimana elbow dalam keadaan sedikit fleksi. D. Patomekanisme a. Klasifikasi Klasifikasi didasarkan pada arah dari dislokasi tersebut : 1. Dislokasi posterior 2. Dislokasi posterolateral 3. Dislokasi posteromedial 4. Dislokasi lateral

Page | 18

5. Dislokasi medial 6. Dislokasi divergen b. Patofisiologi Mekanisme traumanya yaitu jatuh lalu menumpu dengan tangan dimana elbow dalam keadaan sedikit fleksi dan mekanisme cederanya yaitu jatuh pada tangan yang dapat menimbulkan dislokasi sendi siku ke arah posterior. Pada dislokasi yang paling besar terjadi kerusakan jaringan lunak berupa kerobekan kapsul sendi bahkan arteri brachialis. Dan jika dislokasi ke arah lateral atau medial, ligament akan terulur bahkan ruptur, avulsi tendon pleksor dan epicondilus medial. c. Prognosis Tingkat kesembuhan pada kasus dislokasi elbow ini baik jika tidak menimbulkan komplikasi. Adapun komplikasi yang terjadi pada dislokasi, yaitu berupa kelumpuhan nervus medianus, hal ini kadang terjadi namun prognosisnya sembuh adalah baik, maka dapat diberikan elektrical stimulation. Selain itu komplikasi yang mungkin terjadi adalah kerusakan nerve ulnaris, kerusakan arteri brachialis (tetapi jarang terjadi), fraktur caput radii atau processus olecrani, m yositis ossifican (kaku tidak bisa digerakkan), recurrent dislokasi, dan deformitas yang menetap. E. Gambaran Klinis a. Gambaran klinis dari kasus dislokasi elbow yaitu terdapat rasa sakit yang berulang di bagian luar lengan atas, tepat di bawah siku (lateral epikondilus) dan kadang-kadang ada rasa sakit yg menjalar ke lengan bawah menuju pergelangan tangan. Rasa sakit ini menyebabkan karena adanya lipatan pada lengan. Biasanya rasa sakit ini berlangsung selama 6 12 minggu. Selain itu pasien sulit untuk memperpanjang lengan sepenuhnya, karena adanya peradangan otot, tendon dan ligamen. F. Diagnosis Banding

Page | 19

BAB V DISLOKASI METACARPAL DAN INTERPHALANGEAL A. Definisi Dislokasi metacarpal dan interphalangeal adalah dislokasi yang disebabkan oleh gerakan hiperekstensi atau ekstensi persendian metacarpal dan interphalangeal.

B. Epidemiologi C. Etiologi Dislokasi metacarpal disebabkan oleh trauma langsung maupun tidak langsung. Contoh jenis trauma langsung misalnya fraktur yang mendapat ruda paksa (misalnya benturan, pukulan yang mengakibatkan patah tulang). Sedangkan contoh jenis trauma tidak langsung misalnya penderita jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi, sehingga dapat terjadi fraktur pada pergelangan tangan. D. Patomekanisme a. Klasifikasi b. Patofisiologi 1. Metacarpal Dislokasi metacarpal dapat disebabkan oleh adanya perubahan patologis pada rheumatoid arthritis (RA) dan pada

metacarpophalangeal 1 paling hiperekstensi injuri.

memungkinkan dislokasi akibat

Page | 20

2. Interphalangeal Dislokasi interphalangeal dapat disebabkan oleh adanya gerakan hiperektensi yang dipaksa dan karena dislokasi intherphalangeal tersebut direduksi. c. Prognosis E. Gambaran Klinik F. Diagnosis Banding

Page | 21

DAFTAR PUSTAKA
Subagyo. 2013. Dislokasi Sendi Shouldher. Jakarta : Klinik Jakarta Orthopedic Apley, A. Graham. 1995. Orthopedi dan Fraktur Sistem Apley. Edisi Ketujuh. Jakarta: Widya Medika Rasjad, Chairuddin. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi. Jakarta: Yarsif Watampone Sjamsuhidajat, R dan Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC Anonim. 2005. Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Bedah RSCM. Jakarta

Page | 22

HALAMAN KONSULTASI
Catatan dosen fasilitator 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Makassar, 06 Februari 2014

_______________________

Page | 23

Page | 24