Anda di halaman 1dari 16

1 Dinamika Keuangan dan Perbankan, Mei 2011, Hal: 1 - 16 I N :1!"!-#$"$ Vol. 3, No.

IN%&' I D'N P()*+M,+H'N (K-N-MI : +.I K'+ '&I*' INFLATION AND ECONOMIC GROWTH : TESTING FOR CAUSALITY /ai0ul Ma1robi
(maqrobi@ymail.com)

'min Pu2ia3i Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Negeri Semarang Sekarang, Gunungpati, Semarang 5 !!" (apu#i $@ya%oo.co.id)

', *)'K Studi ini bertu#uan untuk mengu#i %ubungan kausalitas antara in&lasi dan pertumbu%an ekonomi di 'ndonesia periode ("").( * ! ( .+.,lat analisis yang digunakan adala% kausalitas Granger dan -ointegrasi Eangle * Granger. .asil u#i kausalitas Granger variabel in&lasi dan pertumbu%an ekonomi mempunyai %ubungan kausalitas dua ara%. /erdasarkan %asil u#i kointegrasi Eangle0 Granger menun#ukkan ba%1a %asil regresi memiliki dera#ad integrasi yang sama 2terkointegrasi3 se%ingga terdapat %ubungan #angka pan#ang yang signi&ikan antara in&lasi dengan pertumbu%an ekonomi di 'ndonesia pada periode ("").(0! ( .+. Ka3a kun4i: kausalitas, kointegrasi, in&lasi, pertumbu%an ekonomi

ABSTRACT This study aims to testing of causality between Inflation And Economic Growth and in Indonesia Period 1998.1- !1!.".The tools of analys is Granger #ausality Test and Eangle-Granger cointegration test. Granger causality test results of the inflation $ariables and economic growth ha$e bilateral causality. %ased on the results Eangle-Granger cointegration test shows that the regression results ha$e the same degree of integration so that there are significant long-run stable relationshi& between inflation with economic growth in Indonesia &eriod 1998.1- !1!.". Key words: causality ' cointegration' Inflation ' economic growth

2 /ai0ul Ma1robi dan 'min Pu2ia3u Dinamika Keuangan dan Perbankan

P(ND'H+&+'N 'n&lasi merupakan sala% satu indikator penting dalam perekonomian yang tidak bisa diabaikan, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas baik ter%adap perekonomian maupun kese#a%teraan masyarakat. /agi perekonomian, in&lasi yang tinggi dapat menyebabkan timbulnya ketidakstabilan, menurunkan gaira% menabung dan berinvestasi, meng%ambat usa%a peningkatan ekspor, menyebabkan melambatnya pertumbu%an ekonomi, maupun dapat berdampak pada meningkatnya tingkat pengangguran. 4ari sisi kese#a%teraan, in&lasi yang tinggi menyebabkan turunnya pendapatan riil 2daya beli3 masyarakat, terutama bagi peker#a0peker#a yang mempunyai peng%asilan tetap, se%ingga berdampak pada menurunnya tingkat konsumsi masyarakat dan meningkatnya tingkat kemiskinan. -ondisi perekonomian 'ndonesia selama ta%un ("")0! ( , terli%at ba%1a in&lasi ta%unan 'ndonesia masi% cenderung tinggi 25abel (3, untuk periode ("")0! ( mencapai rata0rata sebesar (6,++7 per ta%un. Sedangkan in&lasi yang tergolong tinggi tercatat ter#adi pada ta%un (""), ! (, ! !, ! 5, dan ! )8 yang mana pada ta%un0ta%un tersebut in&lasi mencapai kisaran dua digit. ,kibat dari masi% tingginya in&lasi ta%unan, pertumbu%an ekonomi ta%unan pun cenderung tumbu% secara lambat8 yang mana untuk periode yang sama, rata0rata pertumbu%an ekonomi 'ndonesia %anya mencatat pertumbu%an rata0rata sebesar 6,+57 per ta%un. 4alam suatu perekonomian, antara in&lasi dan pertumbu%an ekonomi saling berkaitan. ,pabila tingkat in&lasi tinggi maka dapat menyebabkan melambatnya pertumbu%an ekonomi, sebaliknya in&lasi yang relati& renda% dan stabil dapat mendorong terciptanya pertumbu%an ekonomi. /egitu pula dengan pertumbu%an ekonomi, pertumbu%an ekonomi yang tinggi dapat pula memicu ter#adi in&lasi yang tinggi melalui kenaikan dalam permintaan agregat. -aitan antara in&lasi dengan pertumbu%an ekonomi ini, akan terli%at #elas apabila dili%at dari perkembangan data tri1ulan untuk kedua indikator ekonomi tersebut, %al ini sebagaimana diperli%atkan pada gambar (.

Pada gambar ( terli%at ada pola %ubungan antara in&lasi dengan pertumbu%an ekonomi. ,da saat0saat di mana in&lasi yang tinggi diikuti dengan penurunan dalam la#u pertumbu%an ekonomi ataupun menurunnya la#u in&lasi diikuti dengan kenaikan dalam la#u pertumbu%an ekonomi. Sebaliknya terdapat pula saat0saat di mana la#u pertumbu%an ekonomi yang tinggi diikuti dengan meningkatnya la#u in&lasi. 9eskipun demikian, %ubungan antara la#u in&lasi dengan pertumbu%an ekonomi belum dapat dipastikan ke#elasan kausalitasnya, dalam arti apaka% in&lasi yang menyebabkan pertumbu%an ekonomi atauka% sebaliknya pertumbu%an ekonomi yang menyebabkan in&lasi. 5u#uan penelitian ini untuk mengeta%ui apaka% tingkat in&lasi menyebabkan pertumbu%an ekonomi dan sebaliknya dan apaka% ada %ubungan #angka pan#ang antara in&lasi dengan pertumbu%an ekonomi selama periode ("").(0! ( .+. K'.I'N *(-)I D'N P(N5(M,'N5'N HIP-*( I In0la6i 'n&lasi adala% kecenderungan dari %arga0 %arga untuk menaik secara umum dan terus menerus 2/oediono, (")53. 4ari de&inisi tersebut , maka kenaikan %arga dari satu atau dua macam barang sa#a tidak bisa langsung disebut in&lasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada 2atau mengakibatkan kenaikan3 sebagian besar dari %arga barang0barang lain. -enaikan %arga0 %arga yang ter#adi sekali sa#a dan tidak mempunyai pengaru% lan#utan 2misal: peruba%an %arga yang bersi&at musiman, men#elang %ari raya, dan sebagainya3 tidak disebut in&lasi. ;ika ditin#au dari penyebabnya, in&lasi dapat dibedakan men#adi: 2(3 'n&lasi permintaan (demand-&ull inflation3, yakni in&lasi yang timbul karena terlalu kuatnya permintaan masyarakat akan berbagai macam barang dan #asa8 2!3 'n&lasi pena1aran 2cost &ush inflation 3 yakni in&lasi yang timbul karena kenaikan biaya produksi8 dan 263 'n&lasi campuran 2mi)ed inflation3 yaitu in&lasi yang penyebabnya berupa campuran atau kombinasi antara demand-&ull dan cost-&ush inflation. 4alam kasus demand inflation biasanya ada kecenderungan bagi output menaik bersama0

3 Vol. 3 No. 1, Mei 2011 Perbankan Dinamika Keuangan dan

sama dengan kenaikan %arga umum. /esar kecilnya kenaikan output ini tergantung dari elastisitas kurva pena1aran agregat, semakin mendekati output maksimum semakin tidak elastis kurva ini. Sebaliknya, dalam kasus cost inflation biasanya kenaikan %arga disertai dengan penurunan %asil pen#ualan barang 2kelesuan usa%a3. Perbedaan yang lain dari kedua proses in&lasi ini terletak pada urutan dari kenaikan %arga. 4alam demand inflation kenaikan %arga barang ak%ir 2output3 menda%ului kenaikan %arga barang0barang input dan %arga &aktor0&aktor produksi. Sebaliknya, dalam cost pus% in&lation kenaikan %arga barang0barang input dan %arga &aktor0&aktor produksi menda%ului kenaikan %arga barang0barang ak%ir. Secara gra&ik, perbedaan antara demand &ull inflation dan cost pus% in&lation sebagaimana terli%at pada gra&ik di ba1a% ini. Selain dari penyebabnya, in&lasi dapat #uga dibedakan berdasarkan asalnya. /erdasarkan asalnya in&lasi dibedakan men#adi: 2(3 'n&lasi yang berasal dari dalam negeri 2domestic inflation3, dan 2!3 'n&lasi yang berasal dari luar negeri 2foreign inflation3. 'n&lasi yang berasal dari dalam negeri biasanya timbul karena de&isit anggaran belan#a yang dibiayai dengan pencetakan uang baru, gagal panen, bencana alam, peruba%an kebi#akan %arga pemerinta%, &aktor musiman seperti perayaan %ari besar keagamaan, tindakan spekulati& menimbun barang yang dapat mengganggu ketersediaan barang, serta ekspektasi masyarakat ter%adap in&lasi yang akan datang. Sedangkan in&lasi yang berasal dari luar negeri adala% in&lasi yang ter#adi karena kenaikan %arga0%arga komoditi di luar negeri 2di negara0negara mitra dagang 3 atau karena ter#adinya depresiasi nilai tukar. -enaikan %arga barang0barang yang kita impor secara langsung mengakibatkan kenaikan indeks biaya %idup karena sebagian dari barang0barang yang tercakup di dalamnya berasal dari impor, dan secara tidak langsung menaikkan indeks %arga melalui kenaikan biaya produksi dari berbagai barang yang menggunakan ba%an baku atau mesin0mesin yang diimpor. 5erlepas dari pengelompokan0 pengelompokan tersebut, pada kenyataannya

in&lasi yang ter#adi di suatu negara sangat #arang 2#ika tidak bole% dikatakan tidak ada3 disebabkan ole% satu macam atau satu #enis in&lasi sa#a, sebaliknya in&lasi yang ter#adi seringkali merupakan kombinasi dari berbagai #enis in&lasi, sebagai misal im&orted inflation seringkali diikuti ole% cost &ush inflation, domestic inflation diikuti dengan demand &ull inflation, dan sebagainya. Sementara itu dari segi pengukurannya 2per%itungannya3, in&lasi dapat di%itung dengan menggunakan indeks %arga konsumen 2'.-3, indeks %arga produsen 2'.P3, maupun dengan de&lator P4/. 5erkait dengan penelitian ini, per%itungan in&lasi yang digunakan adala% indeks %arga konsumen 2'.-3. Sedangkan yang dimaksud indeks %arga konsumen adala% besarnya biaya paket barang0barang dan #asa yang menun#ukkan konsumsi masyarakat perkotaan 25ri <idodo, ! $3. Secara garis besar, teori in&lasi dapat dikelompokkan men#adi tiga 263 kelompok, yang mana masing0masing teori tersebut menyoroti aspek0aspek tertentu dari proses in&lasi, dan masing0masing teori tersebut bukanla% teori in&lasi yang lengkap yang mencakup semua aspek penting dari pen#elasan ter#adinya proses in&lasi. Secara lebi% rinci, masing0masing teori in&lasi yang akan diuraikan adala% teori kuantitas, teori -eynes dan teori strukturalis. Per3ama, 5eori -uantitas menyoroti proses ter#adi in&lasi dari dua aspek, yakni #umla% uang beredar dan psikologi atau %arapan 2e)&ectations3 masyarakat mengenai kenaikan %arga0%arga. 'nti dari teori adala% sebagai berikut: a3 'n&lasi %anya ter#adi #ika ada penamba%an volume #umla% uang beredar. 5anpa adanya kenaikan #umla% uang beredar, ke#adian seperti gagal panen, %anya akan menaikkan %arga0 %arga untuk sementara 1aktu sa#a 2bersi&at temporer3. 4alam kerangka teori ini, penamba%an #umla% uang beredar merupakan ba%an bakar bagi ter#adinya in&lasi. Sebaliknya, bila #umla% uang tidak ditamba%, in&lasi akan ber%enti dengan sendirinya, apapun penyebab a1al dari ter#adinya kenaikan %arga tersebut. b3 =a#u in&lasi ditentukan ole% la#u penamba%an #umla% uang beredar dan ekspektasi

# /ai0ul Ma1robi dan 'min Pu2ia3u Dinamika Keuangan dan Perbankan

masyarakat mengenai kenaikan %arga0%arga di masa mendatang. 4alam %al ini, terdapat tiga 263 keadaan yang mungkin ter#adi. ,lasan pertama, keadaan dimana masyarakat tidak 2atau belum3 meng%arapkan %arga0%arga untuk naik pada bulan0bulan mendatang. Pada kondisi ini, kenaikan #umla% uang beredar tidak 2atau %anya sedikit3 menyebabkan kenaikan yang berarti pada permintaan agregat, dengan kata lain, tidak menimbulkan in&lasi yang berarti. Sebagai misal, kenaikan #umla% uang beredar sebesar ( 7 %anya diikuti dengan kenaikan %arga0 %arga sebesar (7. -eadaan ini biasanya di#umpai pada 1aktu in&lasi masi% baru mulai dan masyarakat belum menyadari ba%1a in&lasi sedang berlangsung. ,lasan kedua, keadaan dimana masyarakat 2atas dasar pengalaman di bulan0 bulan sebelumnya3 mulai sadar ba%1a in&lasi tenga% ter#adi. Pada kondisi ini, masyarakat mulai memperkirakan ba%1a %arga0%arga naik, dan penamba%an #umla% uang beredar akan digunakan masyarakat untuk membeli barang0 barang. .al ini dilakukan karena masyarakat berusa%a untuk meng%indari kerugian yang timbul seandainya mereka memegang uang tunai. 4ari segi masyarakat secara keseluru%an, %al ini berarti adanya kenaikan permintaan masyarakat akan barang0barang, sebagai akibatnya %arga0%arga barang akan naik. /ila masyarakat memperkirakan ba%1a %arga0%arga akan naik di masa mendatang sebesar la#u in&lasi di bulan0bulan yang lalu, maka kenaikan #umla% uang beredar, katakanla% sebesar ( 7, mungkin akan diikuti dengan kenaikan %arga barang0barang sebesar ( 7 pula. ,lasan ketiga, keadaan yang ter#adi pada ta%ap in&lasi yang lebi% para% yakni %iperin&lasi. Pada kondisi ini, masyarakat suda% ke%ilangan kepercayaan ter%adap nilai mata uang domestik. 9asyarakat cenderung memperkirakan ba%1a keadaan akan semakin memburuk, yang mana la#u in&lasi pada bulan0 bulan mendatang diperkirakan ole% masyarakat akan lebi% besar dibandingkan bulan sebelumnya. -eadaan ini ditandai dengan semakin cepatnya peredaran uang.

4alam keadaan ini, kenaikan #umla% uang beredar, katakanla% sebesar ! 7 akan mengakibatkan kenaikan %arga0%arga > ! 7. Kedua, 5eori -eynes mengenai in&lasi didasarkan atas teori makronya. 9enurut teori ini, in&lasi ter#adi karena suatu masyarakat ingin %idup di luar batas kemampuan ekonominya. Proses in&lasi, menurut pandangan ini tidak lain adala% proses perebutan bagian re?eki di antara kelompok0kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebi% besar daripada yang bisa disediakan ole% masyarakat tersebut. Proses perebutan ini ak%irnya diter#ema%kan men#adi keadaan di mana permintaan masyarakat akan barang0barang selalu melebi% #umla% barang0 barang yang sanggup di%asilkannya, se%ingga timbul apa yang disebut dengan inflationary ga&. Inflationary ga& ini timbul karena di satu sisi masyarakat ber%asil menguba% keinginan mereka akan barang0barang men#adi permintaan e&ekti&, dengan kata lain, mereka ber%asil memperole% dana untuk me1u#udkan keinginan mereka akan barang0barang tersebut8 sementara di sisi lain, #umla% barang0barang yang tersedia 2atau yang mampu di%asilkan3 tidak mencukupi untuk memenu%i permintaan masyarakat tersebut. -ondisi ini pada ak%irnya menyebabkan ter#adinya kenaikan %arga0%arga. Selan#utnya, ketika masyarakat ber%asil memperole% dana kembali untuk me1u#udkan keinginan mereka, maka kenaikan %arga akan berlangsung kembali, demikian seterusnya. Proses ini, akan ber%enti bila sebagian dari golongan masyarakat tidak dapat memperole% dana kembali untuk me1u#udkan keinginan mereka akan barang0barang. Ke3iga, 5eori strukturalis adala% teori in&lasi yang didasarkan atas pengalaman di negara0 negara ,merika =atin. 5eori ini memberikan penekanan pada kekakuan0kekakuan 2rigidities3 yang ter#adi pada struktur perekonomian negara0 negara sedang berkembang 2NS/3. 9enurut teori ini, ada dua kekakuan utama dalam perekonomian NS/ yang bisa menimbulkan ter#adinya in&lasi, yakni: c3 -ekakuan berupa ketidakelastisan dari penerimaan ekspor, yakni nilai ekspor cenderung tumbu% dengan lambat dibandingkan pertumbu%an sektor0sektor lain.

7 Vol. 3 No. 1, Mei 2011 Perbankan Dinamika Keuangan dan

=ambatnya pertumbu%an ekspor ini, berarti pula ter#adi kelambanan pada kemampuan untuk mengimpor barang0barang yang dibutu%kan, baik barang konsumsi maupun modal. Sebagai akibatnya, negara tersebut terpaksa menggalakkan strategi substitusi impor. -ebi#akan substitusi impor ini seringkali menimbulkan biaya produksi yang lebi% tinggi yang berdampak pada tingginya %arga barang yang diproduksi. /ila proses substitusi impor ini makin meluas maka kenaikan biaya produksi #uga makin meluas ke berbagai barang, se%ingga makin banyak %arga barang0 barang yang naik, dan pada ak%irnya akan menyebabkan ter#adinya in&lasi. d3 -ekakuan berupa ketidakelastisan pada produksi ba%an makanan di dalam negeri. 4alam %al ini, pertumbu%an produksi ba%an makanan di dalam negeri tidak secepat ter#adinya penamba%an penduduk dan pendapatan perkapita, se%ingga %arga ba%an makanan di dalam negeri cenderung meningkat melebi%i kenaikan %arga barang0 barang lain. Selan#utnya, %al tersebut akan mendorong timbulnya tuntutan karya1an akan kenaikan upa%. -enaikan upa% berarti kenaikan biaya produksi, yang berarti pula kenaikan %arga dari barang0barang tersebut. -enaikan %arga barang0barang seterusnya mengakibatkan timbulnya tuntutan kenaikan upa% lagi, dan kenaikan upa% kemudian akan diikuti dengan kenaikan %arga0%arga, demikian seterusnya. Proses ini akan ber%enti dengan sendirinya seandainya %arga ba%an makanan tidak terus menaik. Namun karena &aktor struktural tadi, maka proses tersebut akan terus berlan#ut se%ingga menimbulkan in&lasi spiral. Prospek pembangunan ekonomi #angka pan#ang akan men#adi semakin memburuk sekiranya in&lasi tidak dapat dikendalikan. 'n&lasi cenderung akan men#adi bertamba% cepat apabila tidak diatasi. 'n&lasi yang bertamba% serius tersebut cenderung untuk mengurangi investasi yang produkti&, mengurangi ekspor dan menaikkan impor. -ecenderungan in&lasi ini akan memperlambat pertumbu%an ekonomi. ,kibat buruk in&lasi dapat dibedakan ke dalam dua aspek, yaitu:

(. Pada perekonomian meliputi: a. 5ingkat bunga meningkat dan akan mengurangi investasi Suku bunga nominal adala% suku bunga riil ditamba% dengan in&lasi, maka makin tinggi tingkat in&lasi akan berakibat naiknya suku bunga. Naiknya suku bunga nominal berakibat naiknya suku bunga kredit, se%ingga akan menurunkan investasi nasional. b. 9enimbulkan masala% neraca pembayaran 'n&lasi yang ter#adi di suatu negara tidak dapat dikendalikan maka akan ter#adi kenaikan impor besar0besaran se%ingga impor lebi% besar dari ekspor. 4i samping itu aliran modal ke luar akan lebi% banyak daripada yang masuk ke dalam negeri. /arang dan #asa yang dikonsumsi masyarakat negara itu akan mengakibatkan de&isit neraca pembayaran. .al ini seterusnya akan menimbulkan kemerosotan nilai mata uang. c. 9enaikkan penanaman modal spekulati& 4alam kondisi in&lasi biasanya %arga barang0barang tetap naik lebi% tinggi dibandingkan in&lasinya, misalnya: %arga tana% dan bangunan. .al ini akan membuat pemilik uang lebi% menyukai penanaman modal spekulati&. 9embeli ruma% dan tana% serta menyimpan barang yang ber%arga akan lebi% menguntungkan daripada melakukan investasi yang produkti&. d. 'n&lasi menimbulkan ketidakpastian mengenai keadaan ekonomi dimasa depan in&lasi akan bertamba% cepat #alannya apabila tidak dikendalikan. Pada ak%irnya in&lasi akan menimbulkan ketidakpastian dan ara% perkembangan ekonomi tidak lagi dapat diramalkan dengan baik. -eadaan ini akan mengurangi kegaira%an pengusa%a mengembangkan ekonomi. !. 'n&lasi ter%adap individu atau masyarakat a. 9emperburuk distribusi pendapatan

6 /ai0ul Ma1robi dan 'min Pu2ia3u Dinamika Keuangan dan Perbankan

4alam masa in&lasi nilai %arta0%arta tetap seperti tana%, ruma%, bangunan pabrik dan pertokoan akan mengalami kenaikan %arga yang adakalanya lebi% cepat dari kenaikan in&lasi itu sendiri. Sebaliknya, penduduk yang tidak mempunyai %arta yang meliputi seba%agian besar dari golongan masyarakat berpendapatan renda%, pendapatan riilnya merosot sebagai akibat in&lasi. 4engan demikian in&lasi melebarkan ketidaksamaan distribusi pendapatan. b.9enurunkan pendapatan riil Sebagian tenaga ker#a di setiap negara terdiri dari peker#a0peker#a berga#i tetap. 4alam masa in&lasi biasanya kenaikan %arga0%arga selalu menda%ului kenaikan pendapatan. 4engan demikian, 'n&lasi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan menurun yang dicerminkan ole% turunnya daya beli masyarakat. c.9enurunnya nilai riil tabungan Suku bunga tabungan tidak dinaikkan atau sama dengan tingkat in&lasi maka nilai riil tabungan ter#adi penurunan. Selain berman&aat untuk memobilisasi tabungan, in&lasi #uga bisa mendorong tumbu%nya perusa%aan s1asta, yaitu ketika in&lasi dianggap bisa membantu menarik tenaga ker#a dan kapital dari sektor ekonomi yang sedang mengalami penurunan menu#u sektor yang dinamis. 4engan demikian in&lasi terutama yang moderat tidak %anya dipandang sebagai tidak ter%indarkan, tetapi ba%kan diinginkan. Pengalaman se#ak ta%un ("5 menyarankan ba%1a in&lasi tidak ter%indarkan di negara berkembang yang sedang mempercepat peningkatan pendapatan per kapita: &aktor0&aktor produksi relati& immobile dalam #angka pendek dan suplai mengalami ketidakseimbangan 2Nopirin, ! 3. Per3umbu8an (konomi 9enurut 5odaro 2! $3 terdapat tiga &aktor atau komponen utama dalam pertumbu%an ekonomi dari setiap bangsa, ketiganya adala%: ,kumulasi modal yang meliputi semua bentuk atau #enis investasi baru yang ditanamkan pada tana%, peralatan &isik dan modal atau sumber daya

manusia , Pertumbu%an penduduk beberapa ta%un selan#utnya yang akan memperbanyak #umla% akumulasi kapital, kema#uan teknologi 5eori .arrod04omar mengatakan ba%1a pembentukan modal merupakan &actor penting yang menentukan pertumbu%an ekonomi.Pembentukan modal tersebut dapat diperole% dari akumulasi tabungan yang dilakukan ole% penduduk, se%ingga berman&aat bagi kegiatan investasi 2 Gillis et al' (""$ 3 9odel pertumbu%an neoklasik dipelopori ole% @obert 9. Solo1 pada ta%un ("5 0an. 9odel pertumbu%an ini tela% diterapkan dalam berbagai studi empiris di banyak negara. ,sumsi dasar yang dipakai dalam model ini antara lain ,keluaran di%asilkan dari penggunaan dua #enis masukan yaitu modal dan tenaga ker#a, perekonomian berada pada kondisi penggunaan tenaga ker#a penu%, perekonomian berada dalam kondisi persaingan sempurna. ,da dua %al utama yang diba%as dalam model ini, yaitu peranan modal dan peruba%an teknologi dalam pertumbu%an ekonomi. Namun untuk sementara peruba%an teknologi dianggap konstan se%ingga akan diketa%ui bagaimana peran modal dalam proses pertumbu%an. ,kumulasi modal dan kedalaman modal ter#adi pada saat pertumbu%an persediaan 2stoc*3 modal lebi% cepat daripada pertumbu%an tenaga ker#a. 4alam kondisi tanpa peruba%an teknologi, akumulasi modal akan mendorong pertumbu%an keluaran per tenaga ker#a, meningkatkan marginal &roduct tenaga ker#a serta meningkatkan upa%. Namun akumulasi modal #uga akan mendorong berkurangnya pengembalian modal 2return of ca&ital 3 dan menurunkan tingkat suku bunga riil. 5eori pertumbu%an berikutnya adala% teori pertumbu%an baru 2endogenous growth theory3 yang muncul sebagai reaksi ter%adap kelema%an intelektual dan empiris model pertumbu%an neoklasik.5eori pertumbu%an endogen 2endogenous growth theory3 dari @omer 2 (""( 3 berpendapat sumber pertumbu%an adala% peran penelitian dan pengembangan 2research and de$elo&ment + , - .3 dan modal manusia. Perbedaan lokal dalam modal manusia dan aktivitas @ A 4 adala% &aktor penting dalam men#elaskan tingkat perbedaan pertumbu%an .

" Vol. 3 No. 1, Mei 2011 Perbankan Dinamika Keuangan dan

5ingkat pendidikan penduduk yang tinggi , tenaga ker#a yang terampil dan semakin banyak #umla% @A4 yang dilakukan ole% perusa%aan yang ada di daera% tertentu akan mendorong pertumbu%an ekonomi. ,da empat ciri utama yang membedakan model pertumbu%an baru dengan model neoklasik 2@ay, (""53 sebagai berikut. a. -ema#uan teknologi yang endogen 2endogenous B sesuatu yang ditentukan ole% &aktor0&aktor di dalam ekonomi3

negara, selan#utnya akan menyebabkan dana anggaran belan#anya #uga ikut menurun. -etika pendanaan untuk anggaran belan#a mengalami penurunan, namun di pi%ak lain pemerinta% ingin memperta%ankan anggaran belan#a yang tinggi guna memacu pertumbu%an ekonomi, maka pemerinta% akan berusa%a mencari pendanaan baru, dengan cara mencetak uang, se%ingga berdampak pada meningkatnya #umla% uang beredar. -etika #umla% uang beredar meningkat %al tersebut kemudian akan mendorong meningkatnya la#u in&lasi, se%ingga siklus tersebut terus berlan#ut. M(*-D( P(N(&I*I'N ;enis data yang digunakan dalam penelitian ini adala% data sekunder yang berupa data runtut 1aktu 2time series3 selama periode ("").(0! ( .+. 5erkait dengan penelitian ini, data sekunder yang digunakan terutama diperole% dari laporan Statistik Ekonomi -euangan 'ndonesia 2SE-'3 yang diterbitkan ole% /ank 'ndonesia ta%un ! ((. 4i samping itu, sebagai pelengkap dan pendukung analisis pada penelitian ini, #uga dilampirkan data0data yang bersumber dari sumber0sumber lainnya yang terkait dan relevan dengan penelitian ini. 4alam penelitian ini terdapat dua variabel yang men#adi &okus peneliti untuk diamati, yakni variabel in&lasi 2C3 dan variabel pertumbu%an ekonomi 2D3. 4e&inisi operasional 'n&lasi dalam penelitian ini adala% kecenderungan kenaikan %arga0%arga secara umum dan terus menerus. 'ndikator yang digunakan untuk me1akili in&lasi adala% 'ndeks %arga konsumen. 'n&lasi yang digunakan adala% in&lasi tri1ulan yang dii%itung berdasarkan '.(""6B( 2dilakukan penyesuaian ta%un dasar3 2/PS, ! ((3, dan dirumuskan sebagai berikut:
'n&lasiE 2t3 = '.- E 2t3 '.- E 2t 0(3 '.- E2t 0(3 ( 7

b. Penekanan lebi% banyak ter%adap peran akumulasi modal. c. 4imasukkannya dampak eksternal. d. 'mplikasi model untuk kebi#aksanaan yang lebi% bersi&at intervensi. Kai3an 'n3ara In0la6i dengan Per3umbu8an (konomi -etika in&lasi mengalami peningkatan maka akan menyebabkan turunnya tingkat investasi. .al ini dikarenakan kenaikan in&lasi akan mendorong naiknya tingkat suku bunga, kenaikan suku bunga tersebut pada gilirannya akan mendesak investasi se%ingga menyebabkan investasi mengalami penurunan 2Nopirin ! 3. 5urunnya investasi, berarti pula menurunnya kapasitas produksi. -etika kapasitas produksi mengalami penurunan, %al tersebut selan#utnya berdampak pada menurunnya 2melambatnya3 penyerapan tenaga ker#a. 9enurunnya penyerapan tenaga ker#a di satu pi%ak, sementara di pi%ak lain, ter#adi penamba%an tenaga ker#a baru setiap ta%unnya, akan berdampak pada meningkatnya tingkat pengangguran. Saat pengangguran meningkat maka pendapatan masyarakat men#adi berkurang, menurunnya pendapatan masyarakat selan#utnya berdampak pada berkurangnya konsumsi masyarakat. 9enurunnya konsumsi masyarakat berarti pula menurunnya permintaan agregat 2permintaan konsumsi3. -etika permintaan agregat menurun, %al tersebut kemudian menyebabkan la#u pertumbu%an ekonomi mengalami penurunan. ,pabila la#u pertumbu%an ekonomi menurun maka pendapatan negara ikut mengalami penurunan. 9enurunnya pendapatan

-eterangan: 'n&lasi E2t3 B 5ingkat in&lasi pada tri1ulan '.- E2t3 '.- E2t0(3 B '.- pada tri1ulan 2t3 B '.- pada tri1ulan 2t0(3

$ /ai0ul Ma1robi dan 'min Pu2ia3u Dinamika Keuangan dan Perbankan

Sedangkan de&inisi operasional pertumbu%an ekonomi dalam penelitian ini adala% pertumbu%an P4/ riil tri1ulan yang di%itung berdasarkan %arga konstan ta%un (""6 2dilakukan penyesuaian ta%un dasar3 2/PS, ! (( 3,dan dinyatakan dalam satuan persen. Pertumbu%an ekonomi tri1ulan dirumuskan sebagai berikut:
G E2t3 = DE 2t3 DE 2t 0(3 DE2t 0(3 ( 7

G, I B Error term Sedangkan untuk mengeta%ui apaka% ter#adi %ubungan #angka pan#ang pada model yang digunakan, digunakan u#i U#i -ointegrasi Eangle0 Granger 2'nsukindro, dkk, ! (3. 4alam penelitian ini, metode estimasi #angka pan#ang dilakukan dengan menggunakan metode eangle0granger. Persamaan yang digunakan adala% : HHHHHHHHHH.. -eterangan : B &irst di&&erence dari residu yang digunakan t B variabel trend & B J0( , #ika JB(. 5erdapat unit root, tidak stasioner B nilai residual H' I& P(N(&I*I'N D'N P(M,'H' 'N Kau6ali3a6 *ingka3 In0la6i dan Per3umbu8an (konomi di Indone6ia Periode 1!!$.1-2010.# U#i Granger Fausality digunakan untuk meli%at %ubungan kausalitas antara variabel0 variabel yang diteliti, yakni tingkat in&lasi dan pertumbu%an ekonomi 'ndonesia. 9elalui u#i ini, akan dili%at apaka% kedua variabel tersebut memiliki %ubungan yang saling mempengaru%i, memiliki %ubungan seara%, atau sama sekali tidak ada %ubungan. .asil pengu#ian Granger Fausality dapat dili%at pada 5abel !. /erdasarkan %asil u#i Granger Fausality di atas, yang dilakukan pada lag (, terli%at ba%1a terdapat %ubungan kausalitas dua ara% atau dapat dikatakan terdapat %ubungan sebab0akibat antara tingkat in&lasi dan pertumbu%an ekonomi. -esimpulan ini terli%at dari probabilitas K statistik 2 . 6653 dan 2(.E0 $ atau , (3 yang lebi% kecil dari L B 57. 4engan demikian, %ipotesis 2.o3 yang menyatakan ba%1a pertumbu%an ekonomi tidak menyebabkan in&lasi ditolak, sedangkan 2.a3 yang menyatakan ba%1a pertumbu%an ekonomi menyebabkan in&lasi diterima. Sedangkan 2.o3 yang menyatakan ba%1a in&lasi tidak menyebabkan pertumbu%an ekonomi ditolak. Sedangkan 2.a3 yang 263

-eterangan: GE2t3 B Pertumbu%an ekonomi riil pada tri1ulan D E2t3 D E2t0(3 B P4/ riil pada tri1ulan 2t3 B P4/ riil pada tri1ulan 2t0(3

4alam penelitian ini, guna menganalisis kausalitas antara tingkat in&lasi dan pertumbu%an ekonomi di 'ndonesia, akan digunakan metode analisis berupa pengu#ian -ausalitas Granger. Sala% satu kelebi%an u#i kausalitas Granger adala% ba%1a u#i ini #au% lebi% bermakna dibanding dengan u#i yang berdasarkan pada korelasi biasa, karena dari pengu#ian ini dapat diketa%ui ke#elasan ara% %ubungan dari dua variabel yang diduga saling mempunyai %ubungan2 -uncoro, ! ( 3. 5u#uan u#i kausalitas Granger adala% untuk meneliti apaka% C menda%ului 2menyebabkan3 D atauka% D menda%ului C, atauka% %ubungan antara C dengan D saling timbal balik 2dua ara%3, atauka% antara C dan D tidak ada %ubungan sama sekali. Sedangkan persamaan yang digunakan untuk melakukan pengu#ian Granger Fausality, dapat dituliskan sebagai berikut:
C t = a i C t 0( + b # Dt 0( + G t HHHHHH
i =( # =( m n

2(3
Dt = c i C t 0( + d # Dt 0( + v t ..HHHHHH
i =( # =( r s

2!3HHHHHHH.. -eterangan: Ct Dt B 5ingkat 'n&lasi B Pertumbu%an ekonomi

! Vol. 3 No. 1, Mei 2011 Perbankan Dinamika Keuangan dan

menyatakan ba%1a in&lasi pertumbu%an ekonomi diterima.

menyebabkan

mempengaru%i tingkat in&lasi pada ( periode yang akan datang 2quartal yang akan datang3. 4ari %asil u#i kausalitas Granger antara tingkat in&lasi dan pertumbu%an ekonomi, berarti sesuai dengan %ipotesis yaitu terdapat %ubungan kausalitas dua ara% yang ter#adi pada lag (, dimana pada saat yang bersamaan tingkat in&lasi menyebabkan pertumbu%an ekonomi dan pertumbu%an ekonomi menyebabkan tingkat in&lasi, %al tersebut berbeda dengan penelitian terda%ulu yang dilakukan ole% Setya1ati 2 ! $ 3 yang melakukan penelitian tentang kausalitas antara in&lasi dan pertumbu%an ekonomi periode (""+.(0! 6.+, yang %anya memperole% %asil kausalitas seara% yaitu pertumbu%an ekonomi yang %anya menyebabkan in&lasi. Ha6il +2i Koin3egra6i (angle-5ranger /erdasarkan %asil yang diperole% dari pengu#ian kointegrasi Eangle0Granger, dapat diartikan %asil regresi memiliki dera#ad integrasi yang sama 2terkointegrasi3 se%ingga terdapat %ubungan #angka pan#ang yang signi&ikan dan bermakna antar variabel dalam model, dimana variabel bebas 2independen3 dalam model persamaan memiliki pengaru% %ubungan #angka pan#ang dengan variabel terikat 2dependen3 yang valid. 4ari %asil u#i tersebut dapat di#elaskan ba%1a variabel tingkat in&lasi mempunyai %ubungan #angka pan#ang dengan variabel pertumbu%an ekonomi, yang berarti pernyataan tersebut sesuai dengan %ipotesis yaitu ada %ubungan #angka pan#ang antara tingkat in&lasi dan pertumbu%an ekonomi. IMP+&'N D'N IMP&IK' I Ke6im9ulan /erdasarkan %asil penelitian dan pemba%asan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : (. /erdasarkan %asil u#i kausalitas Granger ada %ubungan kausalitas dua ara% antara tingkat in&lasi dan pertumbu%an ekonomi di 'ndonesia periode ("").(0! ( .+, yang ter#adi pada lag (, artinya ketika tingkat in&lasi mengalami peruba%an 2peningkatan ataupun penurunan pada quartal sebelumnya3 maka %al tersebut akan mempengaru%i pertumbu%an ekonomi pada ( periode yang akan datang 2quartal yang

Hubungan .angka Pan2ang *ingka3 In0la6i dan Per3umbu8an (konomi. U#i -ointegrasi Eangle0Granger ini dimaksudkan untuk mengeta%ui apaka% ter#adi keseimbangan #angka pan#ang pada model yang digunakan. U#i kointegrasi dilakukan untik mengu#i stasionaritas residual atau error term dari model tersebut, yang dilakukan dengan metode Augmented .ic*y /uller test. U#i kointegrasi dilakukan untuk mengu#i stasionaritas residual atau error term dari model tersebut se%ingga variabel0variabel dalam model dinyatakan memiliki pengaru% dalam %ubungan #angka pan#ang. .asil u#i nilai residu apaka% stasioner atau tidak dilakukan dengan u#i ,4K dengan %asil pada 5abel 6 4ari %asil u#i stasionaritas residu di atas menun#ukkan ba%1a pengu#ian pada level a1al nilai probabilitas M 57, maka residu tersebut dapat dikatakan stasioner pada level a1al. .al tersebut menun#ukkan ba%1a residual terkointegrasi. Pemba8a6an Ha6il +2i Kau6ali3a6 5ranger /erdasarkan %asil u#i kausalitas Granger antara tingkat in&lasi dan pertumbu%an ekonomi 'ndonesia periode ("").(0! ( .+, memperole% %asil ba%1a variabel tingkat in&lasi mempunyai %ubungan dua ara% ter%adap pertumbu%an ekonomi, dan %ubungan dua ara% tersebut ter#adi pada lag (. ,rtinya, tingkat in&lasi pada ( lag sebelumnya 2t0(3 akan berdampak pada pertumbu%an ekonomi saat ini , atau dapat #uga dikatakan ba%1a ketika tingkat in&lasi mengalami peruba%an 2peningkatan ataupun penurunan pada quartal sebelumnya3 maka %al tersebut akan mempengaru%i pertumbu%an ekonomi pada ( periode yang akan datang 2quartal yang akan datang3, dan sebaliknya pertumbu%an ekonomi pada ( lag sebelumnya 2t0(3 akan berdampak pada tingkat in&lasi saat ini, atau dapat #uga dikatakan ba%1a ketika pertumbu%an ekonomi mengalami peruba%an 2peningkatan ataupun penurunan pada quartal sebelumnya3 maka %al tersebut akan

10 /ai0ul Ma1robi dan 'min Pu2ia3u Dinamika Keuangan dan Perbankan

akan datang3. Sebaliknya ketika pertumbu%an ekonomi mengalami peruba%an 2peningkatan ataupun penurunan pada quartal sebelumnya3 maka %al tersebut akan mempengaru%i tingkat in&lasi pada ( periode yang akan datang 2quartal yang akan datang3. !. /erdasarkan %asil u#i kointegrasi Eangle0 Granger menun#ukkan ba%1a %asil regresi memiliki dera#ad integrasi yang sama 2terkointegrasi pada level a1al3, artinya ada %ubungan #angka pan#ang yang signi&ikan antara tingkat in&lasi dan pertumbu%an ekonomi di 'ndonesia periode ("").(0! ( .+. Im9lika6i /erdasarkan %asil penelitian, ada %ubungan sebab0akibat dua ara% antara tingkat in&lasi dan pertumbu%an ekonomi pada lag ( 2 satu kuartal 3, maka di%arapkan otoritas moneter selalu mengka#i dan mempertimbangkan timing 2 1aktu 3 yang tepat dalam mengambil tindakan moneter.

2onstan %ebagai 'ndonesia.

Edisi.

;akarta:

/ank

0000000001tatisti* E*onomi 2euangan Indonesia3 5a&oran Pere*onomian Indonesia %erbagai Edisi. ;akarta: /ank 'ndonesia. 0000000001tatisti* E*onomi 2euangan Indonesia3 5a&oran Pere*onomian Indonesia Triwulan %erbagai Edisi. ;akarta: /ank 'ndonesia. Gillis, et.al. (""$. Economic .e$elo&ment. Kourt% Edition. << Norton and Fompany. 'nsukindro, dkk. ! (. Ekonometrika 4asar dan Penyusunan 'ndikator Unggulan Ekonomi. 9odul =okakarya Ekonometrika dalam @angka Pen#aa#kan =eading 'ndikator ENport di -5'. 9akasar, tanggal 6 * $ September ! ( -uncoro, 9udra#ad. ! (. 0etode 2uantitatif. Dogyakarta: 2UPP3 S5'9 D-PN. Nopirin.! . E*onomi 0oneter. Dogyakarta: /PKE. Setya1ati, Dunita. ! $. O,nalisis -ausalitas ,ntara 'n&lasi dan Pertumbu%an Ekonomi 2kasus perekonomian 'ndonesia ta%un (""+.(0! 6.+3 4engan 9otode EF9P. Dog#akarta: Kakultas ekonomi U''. @ay, 4 .(""5 ,P Paradigma Ne1 Gro1t% : 5eori dan 'mplikasinya ter%adap -ebi#akan6' Prisma 2Qol 63, pp. $60R$. 5odaro.! $.Pembangunan Ekonomi di 4unia -etiga. ;akarta : Erlangga <idodo, 5ri. ! $. Perencanaan Pembangunan: ,plikasi -omputer. Dogyakatra: UPP S5'9 D-PN Dogyakarta.

D'%*') P+ *'K'
/oediono.(")5. E*onomi 0oneter' Dogyakarta :/PKE. /adan Pusat Statistik. ! ((. #ara 0enyama*an Tahun .asar. Semarang. /ank 'ndonesia. ! ((. 1tatisti* E*onomi 2euangan Indonesia 3 Inde* 4arga 2onsumen %ebagai Edisi. ;akarta: /ank 'ndonesia. 0000000001tatisti* E*onomi 2euangan Indonesia3 Produ* .omesti* %ruto Atas .asar 4arga

11 Vol. 3 No. 1, Mei 2011 Perbankan Dinamika Keuangan dan

&'MPI)'N 1 +.I K'+ '&I*' 5)'N5()

Pairwise Granger Causality Tests Date: 05/20/11 Time: 02:02 Sample: 1998Q1 2010Q4 ags: 1 !ull "yp#t$esis: P+,T-./-"0! 1#es n#t Granger Cause 2!' 0S2 2!' 0S2 1#es n#t Granger Cause P+,T-./-"0! %&s 51 '(Statisti) 4*39401 40*4044 Pr#&* 0*0445 1*+(05

Pairwise Granger Causality Tests Date: 05/20/11 Time: 02:05 Sample: 1998Q1 2010Q4 ags: 2 !ull "yp#t$esis: P+,T-./-"0! 1#es n#t Granger Cause 2!' 0S2 2!' 0S2 1#es n#t Granger Cause P+,T-./-"0! %&s 50 '(Statisti) 0*30344 4*28445 Pr#&* 0*4984 0*0198

Pairwise Granger Causality Tests Date: 05/20/11 Time: 02:05 Sample: 1998Q1 2010Q4 ags: 4 !ull "yp#t$esis: P+,T-./-"0! 1#es n#t Granger Cause 2!' 0S2 2!' 0S2 1#es n#t Granger Cause P+,T-./-"0! %&s 49 '(Statisti) 1*10250 15*1444 Pr#&* 0*4588 8*+(03

Pairwise Granger Causality Tests Date: 05/20/11 Time: 02:05 Sample: 1998Q1 2010Q4 ags: 4 !ull "yp#t$esis: P+,T-./-"0! 1#es n#t Granger Cause 2!' 0S2 2!' 0S2 1#es n#t Granger Cause P+,T-./-"0! %&s 48 '(Statisti) 1*14514 0*43053 Pr#&* 0*4494 0*3530

12 /ai0ul Ma1robi dan 'min Pu2ia3u Dinamika Keuangan dan Perbankan

&'MPI)'N 2 *'H'P'N +.I K-IN*(5)' I ('N5&(-5)'N5() 1. Ha6il regre6i


Depen1ent 6aria&le: 2!' 0S2 .et$#1: east S7uares Date: 05/20/11 Time: 02:08 Sample: 1998Q1 2010Q4 2n)lu1e1 #&ser8ati#ns: 52 6aria&le C P+,T-./-"0! ,(s7uare1 01:uste1 ,(s7uare1 S*+* #9 regressi#n Sum s7uare1 resi1 #g li;eli$##1 '(statisti) Pr#&>'(statisti)? C#e99i)ient 4*555419 (0*322898 0*220920 0*205448 4*435291 953*5950 (149*5235 14*13824 0*000449 St1* +rr#r 0*529231 0*191984 t(Statisti) 5*810550 (4*355499 Pr#&* 0*0000 0*0004 4*040000 4*909248 5*823982 5*904040 5*855354 1*558244

.ean 1epen1ent 8ar S*D* 1epen1ent 8ar 0;ai;e in9# )riteri#n S)$war< )riteri#n "annan(Quinn )riter* Dur&in(=ats#n stat

2. Ha6il )e6idu
#&s 1998Q1 1998Q2 1998Q4 1998Q4 1999Q1 1999Q2 1999Q4 1999Q4 2000Q1 2000Q2 2000Q4 2000Q4 2001Q1 2001Q2 2001Q4 2001Q4 2002Q1 2002Q2 2002Q4 2002Q4 2004Q1 2004Q2 2004Q4 2004Q4 2004Q1 2004Q2 2004Q4 2004Q4 2005Q1 2005Q2 0)tual 23*1400 15*2900 19*3400 1*24000 4*08000 (1*40000 (2*54000 1*90000 0*94000 1*91000 1*34000 4*48000 2*11000 4*28000 2*55000 4*05000 4*50000 0*92000 1*54000 4*54000 0*33000 0*45000 1*24000 2*51000 0*92000 2*45000 0*49000 2*51000 4*19000 1*05000 'itte1 9*81551 9*98138 1*53558 3*04581 0*01401 4*40824 0*90941 5*45245 0*91554 4*03530 0*59855 4*53450 2*55048 2*35004 2*25400 5*83532 1*14034 2*25845 1*40300 5*45404 0*93443 2*18131 1*54535 5*40444 1*45350 1*93940 1*55324 4*54244 2*18894 2*04445 ,esi1ual 13*4145 5*40822 18*0544 (5*81581 4*05599 (5*30824 (4*54941 (4*45245 0*01445 (2*15530 1*14144 (0*09450 (0*44048 0*51993 0*40500 (1*81532 2*45923 (1*44845 0*44400 (2*82404 (0*20443 (1*32131 (0*40535 (4*89444 (0*44350 0*43030 (1*03324 (2*12244 1*00105 (0*99445 ,esi1ual Pl#t * @ * A@ * @ A @ * @ * A@ A* @ * @ * @ A* @ A* @ * @ *A @ * @ *A @ * @ * A * @ * A@ * @ * @A * @ * A * @ * A * @ * A * @ * A * @ * A@ * @ * @A * @ * A@ * @ * A * @ *A @ * @ * A * @ * A@ * @ * A * @ *A @ * @ * A * @ * A * @ * A@ * @ * A@ * @ * @A * @ * A@ * @

@ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @

13 Vol. 3 No. 1, Mei 2011 Perbankan Dinamika Keuangan dan

2005Q4 2005Q4 2005Q1 2005Q2 2005Q4 2005Q4 2003Q1 2003Q2 2003Q4 2003Q4 2008Q1 2008Q2 2008Q4 2008Q4 2009Q1 2009Q2 2009Q4 2009Q4 2010Q1 2010Q2 2010Q4 2010Q4

2*04000 10*0800 1*98000 0*83000 1*15000 2*44000 1*91000 0*13000 2*28000 2*09000 4*41000 4*50000 2*88000 0*54000 0*45000 (0*15000 2*03000 0*49000 0*99000 1*41000 2*39000 1*59000

1*58894 5*12490 2*13448 2*18131 0*94109 4*99438 2*13448 1*31182 0*91554 5*59439 1*91424 1*55499 0*95238 5*24313 2*49858 1*93203 0*94842 5*42352 2*25400 1*58894 1*15242 4*30452

0*44103 4*95510 (0*19448 (1*41131 0*22891 (2*55438 (0*25448 (1*54182 1*45445 (4*50439 1*49533 2*84501 1*92322 (5*59313 (2*04858 (2*12203 1*14158 (4*94352 (1*25400 (0*13894 1*52358 (4*11452

@ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @

* A * * @ A * A * * A@ * * A * *A @ * * A * * A@ * * @A * *A @ * * @A * * @ A* * @A * A* @ * * A@ * * A@ * * @A * A @ * * A@ * * A * * @A * *A @ *

@ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @ @

3. Ha6il +2i 3a6ionari3a6 :uni3 roo3 3e63 ad0; re6idu


!ull "yp#t$esis: ,+S2D- $as a unit r##t +B#gen#us: C#nstant ag engt$: 0 >0ut#mati) &ase1 #n S2CC .0D 0GE10? t(Statisti) 0ugmente1 Di);ey('uller test statisti) Test )riti)al 8alues: 1F le8el 5F le8el 10F le8el A.a)Ginn#n >1995? #ne(si1e1 p(8alues* (3*945405 (4*555440 (2*919952 (2*593905 Pr#&*A 0*0000

0ugmente1 Di);ey('uller Test +7uati#n Depen1ent 6aria&le: D>,+S2D-? .et$#1: east S7uares Date: 05/20/11 Time: 02:23 Sample >a1:uste1?: 1998Q2 2010Q4 2n)lu1e1 #&ser8ati#ns: 51 a9ter a1:ustments 6aria&le ,+S2D->(1? C ,(s7uare1 01:uste1 ,(s7uare1 S*+* #9 regressi#n Sum s7uare1 resi1 #g li;eli$##1 '(statisti) Pr#&>'(statisti)? C#e99i)ient (0*948981 (0*444225 0*554053 0*554150 4*543555 548*4935 (143*2042 54*14545 0*000000 St1* +rr#r 0*118154 0*509425 t(Statisti) (3*945405 (0*534351 Pr#&* 0*0000 0*5045 (0*400531 5*443890 5*458983 5*544345 5*483945 2*282055

.ean 1epen1ent 8ar S*D* 1epen1ent 8ar 0;ai;e in9# )riteri#n S)$war< )riteri#n "annan(Quinn )riter* Dur&in(=ats#n stat

1# /ai0ul Ma1robi dan 'min Pu2ia3u Dinamika Keuangan dan Perbankan

&'MPI)'N-3 *abel 1. Perkembangan 'n&lasi dan Pertumbu%an Ekonomi 5a%un ("")0! (


Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 rata-rata Inflasi (%) 77.65 1.92 9.35 12.55 10.03 5.06 6.41 17.11 6.60 6.59 11.78 2.78 6.96 13.44 Pertumbuhan Ekonomi (%) -13.13 0.79 4.98 3.64 4.50 4.78 5.03 5.69 5.50 6.35 6.01 4.58 6.10 3.45

umber: ,ank Indone6ia, (KI :2011;

*abel 2 .asil U#i -ausalitas Granger pada =ag (


Pair1ise Granger Fausality 5ests 4ate: 6S6 S(( 5ime: ((:!+ Sample: ("")E( ! ( E+ =ags: ( Null .ypot%esis: PE@5U9/U.,N does not Granger Fause 'NK=,S' 'NK=,S' does not Granger Fause PE@5U9/U.,N Tbs 5( K0Statistic +.R"6 ( 6 .6 66 Prob. . 665 (.E0 $

Sumber : =ampiran ( , %asil u#i kausalitas Granger.

17 Vol. 3 No. 1, Mei 2011 Perbankan Dinamika Keuangan dan

*abel .3 .asil U#i ,4K


Pada le<el a=al
Null .ypot%esis: @ES'4UU'NK=,S' %as a unit root ENogenous: Fonstant =ag =engt%: 2,utomatic based on S'F, 9,C=,GB( 3 t0Statistic ,ugmented 4ickey0Kuller test statistic 5est critical values: (7 level 57 level ( 7 level V9ac-innon 2(""$3 one0sided p0values. 0R."+$+ 5 06.5$5+6 0!."(""5! 0!.5"R" 5 Prob.V .

Sumber : lampiran ! , u#i residual ,4K

16 /ai0ul Ma1robi dan 'min Pu2ia3u Dinamika Keuangan dan Perbankan

umber: /ank 'ndonesia, SE-' 2! ((3

$ "

"2
1 2

"1

P2 P1

P2
2 1 3
1 2

P1

(a) eman! Pull Inflation

Q1 Q 2

Q2

(b) %ost Push Inflation

Q1

I# "

5ambar 2: .emand Pull Inflation dan #ost Push Inflation


Sumber : Nopirin. ! .