Anda di halaman 1dari 124

APLIKASI METODE QIRAATI DALAM MENINGKATKAN

KEMAMPUAN MEMBACA AL-QURAN PADA SISWA


KELAS IV DI SD PLUS AL KAUTSAR MALANG

SKRIPSI


Oleh :

Mariatul Ulfah
07140084













PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYYAH
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYYAH
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Agustus, 2009




APLIKASI METODE QIRAATI DALAM MENINGKATKAN
KEMAMPUAN MEMBACA AL-QURAN PADA SISWA
KELAS IV DI SD PLUS AL KAUTSAR MALANG


SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik
Ibrahim Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna
Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan (S. Pd)

Oleh :
Mariatul Ulfah
07140084













PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYYAH
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYYAH
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Agustus, 2009



APLIKASI METODE QIRAATI DALAM MENINGKATKAN
KEMAMPUAN MEMBACA AL-QURAN PADA SISWA
KELAS IV DI SD PLUS AL KAUTSAR MALANG

SKRIPSI

Oleh :
Mariatul Ulfah
07140084


Disetujui oleh :
Dosen Pembimbing



Drs. H. A. Fatah Yasin, M.Ag
NIP. 150 287 892


Tanggal 25 Juli 2009


Mengetahui
Ketua Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah



Dra. Hj. Sulalah, M. Ag
NIP. 150 267 279


HALAMAN PENGESAHAN


APLIKASI METODE QIRAATI DALAM MENINGKATKAN
KEMAMPUAN MEMBACA AL-QURAN PADA SISWA
KELAS IV DI SD PLUS AL KAUTSAR MALANG

SKRIPSI
dipersiapkan dan disusun oleh
Mariatul Ulfah (07140084)
telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal
06 Agustus 2009 dengan nilai
dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk
memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan (S.Pd)
pada tanggal: 11 Agustus 2009

Panitia Ujian Tanda Tangan
Ketua Sidang
Abdul Ghofur, M. Ag
NIP. 150 368 773


:




Sekretaris Sidang
Drs. H. A. Fatah Yasin, M. Ag
NIP. 150 287 892


:



Pembimbing
Drs. H. A. Fatah Yasin, M. Ag
NIP. 150 287 892


:



Penguji Utama
Dra. Hj. Sulalah, M. Ag
NIP. 150 267 279

:




Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang





Dr. M. Zainuddin, MA
NIP. 150 275 502

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan skripsi ini kepada orang yang paling berarti dalam
hidupku yang mempunyai ketulusan jiwa dan senantiasa mendampingi serta
mengarahkanku dalam mengarungi samudra kehidupan.

Ayah dan Ibunda tercinta.
Pelita hidupku yang selalu mengasihi dan menyayangiku dengan kasih tak
terbatas dari buaian hingga mengerti akan arti sebuah ilmu dengan belasan
sesejuk embun dan doa suci di malam hari.

Suami dan anak-anakku tercinta
Yang selalu menemani dan memotivasi sehingga aku bisa terpacu dan maju
menjadi orang yang kalian banggakan.

Guru-guruku dan dosenku
Yang selalu mendidik dalam studiku sehingga aku dapat mewujudkan
harapan dan anganku sebagai awal berpijak dalam menggapai cita-cita

Teman-temanku PGMI angkatan 2005-2006
Selamat Berjuang dan Melangkah ke masa depan dengan kesuksesan yang
gemilang.


MOTTO


. }

{
Artinya: Didiklah anakmu dengan tiga perkara, yaitu mencintai Nabimu,
mencintai keluarga Nabi, dan membaca Al-Qur'an, sesungguhnya
orang yang berpegang teguh pada Al-Qur'an berada pada
perlindungan Allah swt pada hari tidak ada perlindungan kecuali
lindungan-Nya bersama-sama dengan Nabi-nabi dan Sahabat-
sahabatnya yang tulus (H.R. Ad-Daylami an Iliyyi).
1






1
Lihat kitab Mukhtar al Hadits al Nabawy karangan Sayyid Ahmad Hasyimi, hadits ke-
48.

Drs. H. A. Fatah Yasin, M.Ag
Dosen Fakultas Tarbiyah
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Nota Dinas Pembimbing

Hal : Skripsi Mariatul Ulfah Malang, 24 Juli 2009
Lamp : 4 (empat) Eksemplar


Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN MMI Malang
Di
Malang

Assalamualaikum Wr. Wb.
Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi,
bahasa maupun teknik penulisan dan setelah membaca skripsi mahasiswa
tersebut di bawah ini:

Nama : Mariatul Ulfah
NIM : 07140084
Jurusan : Pendidika Guru Madrasah Ibtidaiyah
Judul Skripsi : Aplikasi Metode Qiraati Dalam Meningkatkan
Kemampuan Membaca Al-Quran Pada Siswa
Kelas IV Di SD Plus Al Kautsar Malang.

Maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah
layak diajukan untuk diujikan.
Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamualaikum Wr. Wb.


Pembimbig






Drs. H. A. Fatah Yasin, M.Ag
NIP. 150 287 892



SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan.



Malang, 24 Juli 2009


Mariatul Ulfah

KATA PENGANTAR


Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT
yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Aplikasi Metode Qiraati Dalam
Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Quran Pada Siswa Kelas IV di SD
Plus Al Kaustar Malang .
Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan Nabi
Muhammad SAW, para keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang telah
membawa petunjuk kebenaran seluruh manusia yaitu al-Dinul Islam yang kita
harapkan syafaatnya di dunia dan di akhirat.
Penulisan dan penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk melengkapi
dari keseluruhan kegiatan perkuliahan yang telah dicanangkan oleh UIN malang
sebagai bentuk pertanggung jawaban penulis menjadi Mahasiswa Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN MMI) Malang serta untuk
memenuhi salah satu persyaratan guna memperoleh gelar strata satu Sarjana
Pendidikan di UIN Malang.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa keterbatasan kemampuan dan
kurangnya pengalaman, banyaknya hambatan dan kesulitan senantiasa penulis
temui dalam penyusunan skripsi ini. Dengan terselesainya skripsi ini, tak lupa
penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang memberikan

arahan, bimbingan dan petunjuk dalam penyusunan karya ilmiah ini, dengan
segala kerendahan hati, diucapkan terimakasih kepada:
1. Ayahanda dan ibunda serta segenap keluarga yang dengan sabar telah
membesarkan, membimbing, mendoakan, mengarahkan, memberi
kepercayaan, bantuan moril dan materiil demi kesuksesan ananda.
2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor UIN MMI Malang.
3. Bapak Dr. M. Zainuddin, M.A selaku Dekan Fakultas Tarbiyah UIN MMI
Malang.
4. Dra. Hj. Sulalah, M.Ag, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah.
5. Bapak Drs. H. A. Fatah Yasin, M.Ag selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberikan arahan dan bimbingannya hingga laporan ini selesai.
6. Bapak dan ibu dosen UIN MMI Malang yang telah membimbing penulis
selama belajar dibangku perkuliahan.
7. Ibu Dhiah Saptorini, M. Pd selaku Kepala Sekolah SD Plus Al Kaustar
Malang yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk
mengadakan penelitian di lembaga yang dipimpin.
8. Segenap Guru dan Karyawan SD Plus Al Kaustar Malang yang telah
memberikan bantuannya dalam memberikan data-data selama penelitihan ini
berlangsung.
9. Seluruh siswa/i kelas IV SD Plus Al Kaustar Malang yang turut membantu
jalannya program penelitian ini.

10. Semua teman-teman PGMI angkatan 2005-2006 yang selalu memberikan
motivasi dan banyak pengalaman yang berharga.
11. Sahabat-sahabatku: Fitri, Bu Iva, Bu lia, Bu Rahma, Bu Nur, Aulina, Rida
yang memberikan semangat kepada saya sehingga skripsi ini selesai.
12. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini,
yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Tiada kata yang patut diucapkan selain ucapan terimakasih yang
sebesar-besarnya dan doa tulus, semoga amal baik mereka diterima oleh alloh
dan mendapat Ridho-Nya. Amin..
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang konstruktif sangat penulis
harapkan. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat.
Amiin


Malang, 24 Juli 2009

Penulis



DAFTAR TABEL

Hal
Tabel 4.1 Sarana dan Prasarana SD Plus Al Kautsar ..................................... 71
Tabel 4.2 Jumlah Siswa SD Plus Al Kautsar ................................................ 73
Tabel 4.3 Muatan Materi Plus ...................................................................... 75

















DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Angket Respon Siswa ............................................................. 156
Lampiran 2 Format Observasi Perilaku Siswa ............................................ 157
Lampiran 3 Struktur Organisasi Sekolah .................................................... 160
Lampiran 4 Denah Letak Geografis Sekolah .............................................. 161
Lampiran 5 Badan Struktur Organisasi Komite/ Dewan Sekolah ................ 162
Lampiran 6 Bagan Struktur Organisasi Sekolah ......................................... 163
Lampiran 7 Jadwal Pelajaran Tahun Akademik 2008/2009 ........................ 164
Lampiran 8 Pedoman Wawancara Guru Bahasa arab .................................. 165
Lampiran 9 Pedoman Wawancara Kepsek .................................................. 166
Lampiran 10 Pedoman wawancara Siswa ................................................... 167
Lampiran 11 Surat Keterangan Penelitian .................................................. 168
Lampiran 12 Lampiran Surat Keputusan Kepala MI Ar-Rahmah ................ 169
Lampiran 13 Profil Sekolah MI. Ar-Rahmah .............................................. 170
Lampiran 14 Daftar Nama Guru ................................................................. 172
Lampiran 15 Daftar Nama Kelompok Pembelajaran ................................... 173
Lampiran 16 Soal Ujian ............................................................................ 174
Lampiran 17 Hasil Prestasi Siswa Kelas V ................................................. 175
Lampiran 18 Rencana Pembelajaran .......................................................... 176
Lampiran 19 Dokumentasi Hasil Penelitian ................................................ 185
Lampiran 20 Surat Penelitian ..................................................................... 190
Lampiran 21 Bukti Konsultasi .................................................................... 191
Lampiran 22 Riwayat Hidup Peneliti.......................................................... 192

ABSTRAK

Ulfah, Mariatul, 2009. Aplikasi Metode Qiraati Dalam Meningkatkan
Kemampuan Membaca Al-Quran Pada Siswa Kelas IV di
SD Plus Al Kautsar Malang. Skripsi Jurusan Pendidikan
Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Tarbiyah, Universitas
Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.
Dosen Pembimbing: Drs. H. A. Fatah Yasin, M.Ag

Kata Kunci: Aplikasi, Metode Qiraati

Al-Quran adalah pedoman umat Islam di dunia dan diwajibkan bagi kita
semua untuk belajar membaca Al-Quran dengan baik dan benar sesuai dengan
kaidah ilmu tajwid. Seharusnya anak didik membaca Al-Quran itu sejak kecil
karena sangat penting guna memahami isi kandungan Al-Quran, namun yang
terjadi pada saat ini banyak sekali yang kurang bisa membaca Al-Quran. Metode
Qiraati merupakan metode yang lebih menekankan pada bacaan yang baik dan
benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Selain itu guru yang mengajar harus
ditashih terlebih dahulu dan mendapatkan syahadah.
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
bagaimana penerapan metode Qiraati pada siswa kelas IV di SD Plus Al Kautsar
Malang, kemampuan membaca Al-Quran siswa kelas IV di SD Plus Al Kautsar
Malang setelah diterapkannya metode Qiraati dan untuk mengetahui faktor-faktor
apa saja yang mendukung dan menghambat dalam meningkatkan kemampuan
baca Al-Quran pada siswa kelas IV di SD Plus Al Kautsar Malang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya
deskriptif, dengan tujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu gejala
tertentu. Teknik pengambilan data melalui observasi, wawancara dan
dokumentasi. Untuk menganalisa data digunakan metode deskriptif kualitatif,
yakni uraiannya berdasarkan pada gejala-gejala yang tampak. Agar hasil penilaian
berjalan dengan baik, maka proses analisa data tersebut dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut: pertama, reduksi data yaitu penggolongan dan
pemusatan data-data yang sudah diperoleh dilapangan untuk mempermudah
peneliti dan data yang diperoleh juga valid, kedua penyajian data yaitu
mengumpulkan data secara tersusun dengan memberi kemungkinan adanya
kesimpulan dan tindakan, ketiga analisis data yaitu penarikan kesimpulan yang
memberikan analisis pada puncak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Aplikasi metode Qiraati di SD
Plus Al Kautsar Malang dengan guru mempersiapkan alat peraga, kartu absensi
siswa serta membaca doa bersama-sama, pembelajaran menggunakan strategi
klasikal dan individual, evaluasi dilakukan setiap hari oleh guru kelas qiraati dan
untuk tes kenaikan jilid oleh koordinator qiraati. Namun, aplikasi metode qiraati
masih perlu ditingkatkan dan disempurnakan, (2)Kemampuan membaca Al-
Quran siswa sudah baik, karena siswa sudah dapat membaca Al-Qur,an dengan
baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid (3)Faktor pendukung dan penghambat
dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran siswa kelas IV SD Plus

Al Kautsar Malang adalah guru yang mengajar sudah ditashih dan bersyahadah,
siswa yang datang tepat waktu, siswa aktif dan rajin, sarana dan prasarana yakni
tersedianya alat peraga. Sedangkan penghambatnya adalah keterbatasan waktu,
siswa yang terlambat masuk kelas, jumlah siswa melebihi kapasitas dan
kurangnya meja belajar atau rakel.




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam Al-Quran dan hadits Nabi SAW dinyatakan bahwa agama
(tauhid/keimanan kepada Allah SWT) merupakan suatu fitrah atau potensi
dasar manusia (anak). Sedangkan tugas pendidik adalah mengembangkan dan
membantu tumbuh kembangnya fitrah tersebut pada manusia (anak).
Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Ar Ruum ayat 30,
yang berbunyi:
% %% % ' '' ' 7 77 7 _ __ _ e ee e$ $$ $# ## # 9 99 9 $ $$ $Z ZZ Z m mm m 4 4 4 4 N NN N ! !! ! # ## # L LL L 9 99 9 # ## # $ $$ $ 9 99 9 # ## # $ $$ $ = == = 4 4 4 4 7 77 7 ? ?? ? , ,, , = == = 9 99 9 ! !! ! # ## # 4 4 4 4
9 99 9 e ee e$ $$ $! !! ! # ## # h hh h ) )) ) 9 99 9 # ## # 3 33 3 9 99 9 Y YY Y 2 22 2 & && & $ $$ $ 9 99 9 # ## # = == =
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah
atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak
ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui.
2


) (

Setiap kelahiran (anak yang dilahirkan) dilahirkan dalam keadaan suci.
Hanya kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu Yahudi, atau
Nasrani atau Majusi
3


2
Depag RI, Al-Quran dan Terjemahnya, Jakarta: 1971, hlm.645
3
Muhtar Al Hadits Shahih Bukhari, Surabaya:1992, hlm. 35-36

Dalam mendidik agama pada siswa jenjang sekolah dasar diperlukan
pendekatan-pendekatan tertentu, diantaranya melalui pendekatan keagamaan.
Pendekatan keagamaan ialah bagaimana cara pendidik memproses anak didik
atau siswa melalui kegiatan bimbingan, latihan dan pengajaran keagamaan,
termasuk didalamnya mengarahkan, mendorong, dan member semangat
kepada mereka agar mau mempelajari ajaran agamanya melalui baca tulis Al-
Quran (BTA), serta taat dan mempunyai cita rasa beragama Islam.
4

Perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan
dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa pertumbuhan pertama
(usia 0-12 tahun). Masa ini merupakan masa yang menentukan bagi
pertumbuhan dan perkembangan agama anak untuk masa berikutnya. Di era
globalisasi yang didukung oleh kemajuan teknologi informasi terutama dalam
kemajuan media massa (cetak dan elektronik), sehubungan dengan kehidupan
anak sehari-hari, pengaruh media massa dapat berdampak positif dan juga
negatif.
Al-Quran adalah kalam Allah SWT yang diturunkan (diwahyukan)
kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibril, yang
merupakan mukjizat, yang diriwayatkan secara mutawtir, yang ditulis di
mushaf, dan membacanya adalah ibadah.
5
Membaca dalam aneka maknanya

4
Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam. Bandung: Nuansa, 2003,
hlm. 113
5
Ahmad Syarifuddin, Mendidik Anak Mambaca, Menulis, dan Mencintai Al-Quran,
Jakarta:Gema Insani, 2004, hlm. 16

adalah syarat pertama dan utama pengembangan ilmu dan teknologi serta
syarat utama membangun peradaban.
6

Dalam Al-Quran disebutkan perintah membaca dan menulis yaitu
dalam surat al Alaq ayat 1-5.
7

& && & % %% % # ## # $ $$ $ / // / 7 77 7 n nn n/ // / % %% % ! !! ! # ## # , ,, , = == = { {{ { , ,, , = == = { {{ { } }} } # ## # @ @@ @, ,, , = == = & && & % %% % # ## # 7 77 7 / // / . .. . { {{ { # ## # % %% % ! !! ! # ## #
= == = = == = ) )) ) 9 99 9 $ $$ $ / // / = == = } }} } # ## # $ $$ $ 9 99 9 > >> >

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah
menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah yang
Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia
mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya".

Adapun hadits Nabi yang menyatakan tentang belajar Al-Quran adalah :

) (
"Sebaik-baik kamu adalah mempelajari Al-Quran dan mengajarknnya"
(HR. Bukhari Muslim).
8


Tujuan pendidikan baca tulis Al-Quran adalah menyiapkan anak
didiknya agar menjadi generasi muslim yang Qurani, yaitu generasi yang
mencintai Al-Quran, menjadikan Al-Quran sebagai bacaan dan sekaligus
pandangan hidupnya sehari-hari.
Sebagai kitab suci dan pedoman hidup, Al Quran tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan umat Islam. Sejak diturunkan hinga sekarang Al

6
Ibid, hlm. 20
7
Depag RI, Al-Quran dan Terjemahnya, Jakarta: 1971, hlm.1079
8
Team Tadarrus AMM, Kumpulan Seratus Hadits, (Yoqyakarta: Penerbit Team
Tadarrus AMM, 1994), hlm. 1

Quran dibaca, dipelajari, dan diamalkan oleh umat Islam dimana saja berada.
Membaca Al Quran merupakan ibadah, disamping merupakan sarana untuk
mempelajari dan melestarikannya.
Metode adalah cara yang digunakan untuk melaksanakan suatu
pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki.
9
Dalam proses
belajar mengajar metode merupakan faktor yang sangat dominan dalam
menentukan keberhasilan pembelajaran. Seorang pendidik atau guru
diharapkan memiliki berbagai metode yang tepat serta kemampuan dalam
menggunakan metode yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.
Metode pembelajaran Al-Quran pada hakekatnya adalah
mengajarkan Al-Quran pada anak yang merupakan suatu proses pengenalan
Al-Quran tahap pertama dengan tujuan agar siswa mengenal huruf sebagai
tanda suara atau tanda bunyi.
Pengajaran membaca Al-Quran tidak dapat disamakan dengan
pengajaran membaca dan menulis di sekolah dasar, karena dalam pengajaran
Al-Quran, anak-anak belajar huruf dan kata-kata yang tidak mereka pahami
artinya. Yang paling penting dalam pembelajaran membaca Al-Quran adalah
keterampilan membaca Al-Quran dengan baik sesuai dengan kaidah yang
disususun dalam ilmu Tajwid.
10


9
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka: 2005, hlm. 740.
10
Zakiah Darajat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara,
2004, h. 92.

Prinsip pengajaran Al-Quran pada dasarnya dapat dilakukan dengan
berbagai macam metode, yang semuanya memiliki tujuan yang sama yaitu
agar anak-anak dapat membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Sedangkan
metode Qiraati adalah suatu metode membaca Al-Quran yang langsung
mempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan kaidah ilmu tajwid dan dalam
penbelajarannya guru tidak perlu memberi tuntunan dalam membaca namun
menggunakan sistem cara belajar siswa aktif (CBSA).
11

Anak merupakan tanggung jawab kedua orangtua, karena anak
merupakan amanat Allah SWT. Di sisi lain orangtua yang tidak mampu
mendidik anaknya secara menyeluruh, akan melimpahkan sebagian tanggung
jawabnya kepada guru-guru melalui pendidikan formal.
Oleh karena itu kita harus melaksanakan tanggung jawab tersebut
dengan baik dan hati-hati. Sesungguhnya dalam Islam pendidikan terhadap
anak sangatlah lengkap, maka apabila pendidikan diberikan dengan sebaik-
baiknya (sesuai dengan ajaran Islam), tentu akan tercapai apa yang
diharapkan oleh setiap orang tua yakni mempunyai anak yang shalih dan
shalihah.
SD Plus Al Kautsar adalah satuan pendidikan formal jenjang
pendidikan dasar yang berada dibawah naungan Yayasan Pelita Hidayah.
Sebagai bentuk penyelenggaraan pendidikan berbasis masy arakat (society
based education), SD Plus Al Kautsar memiliki kekhasan keagamaan yaitu

11
Dahlan Salim Zarkasyi, Merintis Qiraati Pendidikan TKA, Semarang, 1987, h. 12-13

pendidikan dasar terpadu bernuansa Islam. Dalam kegiatan pembelajarannya
SD Plus Al Kautsar menambahkan kurikulum khusus yang meliputi
pembelajaran membaca Al-Quran dengan menggunakan metode Qiraati.
Selain itu juga memberikan materi tambahan atau materi plus, diantaranya
hafalan hadits, doa sehari-hari serta hafalan surat-surat pendek.
SD Plus Al Kautsar Malang dalam meningkatkan kemampuan siswa
membaca Al-Quran memiliki target yaitu siswa yang sudah kelas IV harus
mampu membaca Al Quran dengan baik dan benar. Akan tetapi dalam
pelaksanaannya masih ada siswa kelas IV yang masih jilid, hal ini berarti
siswa belum mampu membaca Al-Quran. Siswa yang belum mampu
membaca Al-Quran mendapatkan pembelajaran baca Al-Quran secara
khusus, yang pelaksanaannya pada jam ke nol (06.30-07.00 WIB).
Dari latar belakang tersebut perlu dilakukan penelitian yang lebih
mendalam, dalam hal ini peneliti akan melakukan kajian dengan judul
Aplikasi Metode Qiraati Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al
Quran Pada Siswa Kelas IV Di SD Plus Al Kautsar Malang.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan rumusan
masalah penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana aplikasi metode Qiraati pada siswa kelas IV di SD Plus Al
Kautsar Malang?
2. Bagaimana kemampuan membaca Al-Quran siswa kelas IV setelah
diterapkannya metode Qiraati?
3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat aplikasi metode Qiraati
dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran pada siswa kelas IV di
SD Plus Al Kautsar Malang.

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini
adalah:
1. Untuk mendeskripsikan Aplikasi Metode Qiraati Pada Siswa Kelas IV Di
SD Plus Al Kautsar Malang.
2. Untuk mendeskripsikan kemampuan membaca Al-Quran siswa kelas IV di
SD Plus Al Kautsar Malang setelah diterapkannya metode Qiraati.
3. Untuk mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat Aplikasi
Metode Qiraati Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al Quran
Pada Siswa Kelas IV Di SD Plus Al Kautsar Malang.



D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Siswa
Agar siswa memiliki kemampuan membaca Al-Quran dengan
baik dan benar, baik makhraj dan bacaan sesuai dengan kaidah ilmu
tajwid.
2. Bagi Guru
Diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan
pembelajaran membaca Al-Quran yang sederhana, mudah dan praktis,
tetapi mampu meningkatkan prestasi siswa.
3. Bagi Sekolah
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi alternatif untuk
melaksanakan proses pembelajaran yang bisa diterapkan oleh para
pendidik disekolah, dan diharapkan dapat membantu guru dalam
meningkatkan kemampuan siswa, khususnya pada mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam.
4. Bagi Peneliti
Sebagai seorang calon guru, peneliti dapat mempersiapkan diri
melatih serta mengembangkan kemampuannya dengan menerapkan
metode Qiraati, sebagai bekal dan sarana untuk memasuki dunia
pendidikan.




5. Bagi Pengetahuan
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi dalam upaya
peningkatan pembelajaran baca Al-Quran, serta menjadi pembanding
metode-metode pembelajaran baca Al-Quran yang telah diterapkan.

E. Ruang Lingkup Pembahasan
Agar penelitian ini lebih terfokus sesuai dengan apa yang dikaji
dalam penelitian, maka penelitian ini akan dibatasi dalam pembahasan:
1. Aplikasi Metode Qiraati dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-
Quran pada siswa kelas IV di SD Plus Al Kautsar Malang.
2. Kemampuan membaca Al-Quran siswa kelas IV di SD Plus Al Kautsar
Malang setelah diterapkannya metode Qiraati.
3. Faktor pendukung dan penghambat aplikasi metode Qiraati dalam
meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran pada siswa kelas IV di
SD Plus Al Kautsar Malang.

F. Pengertian Istilah
Untuk menghindari kesalahan dalam memahami isi penelitian ini,
peneliti memberikan batasan pengertian dan penjelasan istilah sebagai
berikut:


1. Aplikasi
Aplikasi merupakan sebuah penerapan dari sesuatu yang sudah
terkonsep sebelumnya. Sedangkan dalam kamus John. M. Echols kata
aplikasi merupakan kata serapan yang di ambil dari kata dalam bahasa
Inggris yaitu Apply yang berarti menggunakan atau penerapan.
12

2. Metode Qiraati
Metode Qiraati adalah suatu metode membaca Al-Quran yang
langsung mempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan kaidah ilmu tajwid
dan dalam penbelajarannya guru tidak perlu memberi tuntunan dalam
membaca namun menggunakan sistem cara belajar siswa aktif
(CBSA).
13

3. Baca Tulis Quran
Baca artinya : melihat, memperhatikan serta memahami isi dari
yang tertulis dengan melisankan atau hanya dalam hati.
Al-Quran adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi
Muhammad saw melalui malaikat jibril secara berangsung-angsur supaya
mudah di fahami serta dijadikan pedoman umat islam.




12
John. M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: PT. Gramedia,
1996), hlm. 34
13
Zarkasyii, Op. Cit., hlm. 12

G. Sistematika Pembahasan
Skripsi ini dijadikan beberapa bab pembahasan sebagai kerangka
yang dijadikan acuan dalam berfikir secara sistematis. Adapun sistematika
pembahasan dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:
BAB I : Pendahuluan, yang merupakan gambaran umum isi
penelitian meliputi: latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang
lingkup pembahasan, pengertian istilah atau definisi
operasional dan sistematika pembahasan.
BAB II : Kajian pustaka, yang pembahasannya meliputi: tinjauan
pembelajaran baca tulis Al-Quran dan tinjauan tentang
metode qiraati,.
BAB III : Metode Penelitian, yang berisi pendekatan dan jenis
penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber
data, tehnik pengumpulan data, analisis data, pengecekan
keabsahan data, serta tahap-tahap penelitian.
BAB IV : Merupakan Paparan data yang berisi gambaran lokasi
penelitian dan hasil penelitian yang telah dirumuskan
sebelumnya.
BAB V : Merupakan Pembahasan hasil penelitian yang didapatkan
oleh peneliti di lapangan. Pada bab ini akan membahas
temuan-temuan penelitian yang telah dikemukakan pada

pada bab IV, dan mempunyai arti penting bagi keseluruhan
penelitian serta untuk menjawab permasalahan yang ada
dalam penelitian ini.
BAB VI : Merupakan kesimpulan dari hasil bab terdahulu, bab ini
berisi kesimpulan dan saran yang bersifat konstruktif



















BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pengajaran Membaca Al-Quran
Wahyu pertama yang disampaikan kepada Nabi Muhammad adalah
perintah membaca, karena melalui membaca Allah mengajarkan manusia
sesuatu atau pengetahuan yang tidak diketahuinya. Dengan membaca manusia
akan memperoleh ilmu pengetahuan.
Perintah iqra mendorong agar umat manusia berpikir dan
bertafakkur mempergunakan potensi akalnya, sementara al qalam menyeru
untuk menulis dan mencatat. Dari ayat tersebut apabila bacaan dan materi Al-
Quran diberikan kepada generasi muda dengan benar, akan lahir generasi
yang qurani, bersahaja dan progresif. Dan sebaliknya apabila suatu generasi
dijauhkan dari Al-Quran maka akan muncul generasi yang sontoloyo.
14

Umat Islam memerintahkan kepada umatnya agar mempelajari dan
mewarisi ajaran-ajaran agama Islam. Mempelajari ajaran agama Islam bagi
orang-orang yang beriman merupakan suatu kewajiban dan bersumber pada
Al-Quran dan Hadits.
Ayat Al-Quran yang pertama kali turun adalah ayat 1-5 dari surat Al
Alaq, wahyu yang pertama turun berbunyi iqra,.. bacalah dengan
menyebut nama Tuhanmu. Dari ayat tersebut dapat disimpulkan adanya
perintah membaca, untuk bisa membaca maka harus dilakukan proses belajar.

14
Ahmad Syarifuddin, Mendidik Anak Membaca, Menulis, dan Mencintai Al-Quran,
Jakarta:Gema Insani, 2004, hlm. 22


Al-Quran diibaratkan oleh sahabat Abdullah bin Masud sebagai
jamuan Tuhan. Oleh karena itu Al-Quran harus dikaji, dibaca, dipahami, dan
dinikmati oleh kaum muslimin. Untuk menuju kesana tangga pertama adalah
belajar, belajar mengerti aksaranya, belajar membaca dan menulis aksara Al-
Quran.
Meskipun sekedar belajar aksara (huruf) Al-Quran saja Allah SWT
telah membaeri apresiasi. Bacaan Al-Quran seseorang meski masih gagap,
tidak fasih, susah, tidak mahir, dan cadel diberikan dua nilai pahala oleh Allah
SWT, asalkan ia mau belajar dan terus berupaya memperbaiki diri, kecuali
bila sudah menjadi dialek kulturalnya yang sulit dihilangkan.
15

Di Indonesia pemerintah telah ikut memberikan perhatian terhadap
hal ini, keputusan bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama RI
nomor 128 tahun 1982/ 44A tahun 82. Di dalam keputusan tersebut
dinyatakan perlunya usaha peningkatan kemampuan baca tulis Al-Quran bagi
umat Islam dalam rangka peningkatan penghayatan dan pengamalan Al-
Quran dalam kehidupan sehari-hari.
Tata cara membaca Al-Quran menurut para ulama terbagi menjadi
4 macam yaitu:
1. Membaca secara tahqiq
Tahqiq ialah membaca Al-Quran dengan memberikan hak-hak
setiap huruf secara tegas, jelas, dan teliti. Seperti memanjangkan mad,

15
Ahmad Syarifuddin, Ibid, hlm. 40


menegaskan hamzah, menyempurnakan harakat, melepas huruf secara
tartil, memperhatikan panjang pendek, waqaf dan ibtida.
2. Membaca secara tartil
Tartil maknanya hampir sama dengan tahqiq, hanya tartil lebih
luwes dibandingkan dengan tahqiq. Az Zarkasyii mengatakan bahwa
kesempurnaan tartil ialah menebalkan kalimat sekaligus menjelaskan
huruf-hurufnya. Perbedaan lainnya ialah tartil lebih menekankan aspek
memahami dan merenungi kandungan ayat-ayat Al-Quran, sedangkan
tahqiq tekanannya pada aspek bacaan.
Membaca Al-Quran dengan tartil hukumya amat ditekankan,
Allah SWT berfirman:
o oo o? ?? ? # ## # ) )) ) 9 99 9 # ## # ? ?? ? ? ?? ?
Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan (tartil). (Al
Muzzammil: 4)
3. Membaca secara tadwir
Tadwir ialah membaca Al-Quran dengan memanjangkan mad,
hanya tidak sampai penuh. Tadwir merupakan cara membaca Al-Quran
yang tingkatannya berada dibawah tartil.
4. Membaca secara hard
Hadr ialah cara membaca Al-Quran dengan cepat, ringan dan
pendek, namun tetap dengan menegaskan awal dan akhir kalimat serta
meluruskannya, suara mendengung tidak sampai hilang. Meskipun cara
membacanya cepat dan ringan, ukurannya harus standar riwayat-riwayat

sahih yang diketahui oleh para pakar qiraah. Cara ini lazim dipraktikkan
oleh para penghafal Al Quran pada kegiatan khataman Al Quran sehari
(12 jam).
16

Dari empat tata cara membaca Al Quran tersebut, tata cara yang
ideal untuk dipraktikkan di kalangan anak-anak oleh orang tua dan guru
adalah cara yang pertama yaitu tahqiq. Dengan membaca secara tahqiq,
anak akan terlatih membaca Al Quran secara pelan, tenang, tidak terburu-
buru. Cara ini akan membiasakan anak membaca Al Quran secara baik
dan benar.
Membaca Al-Quran tidak sama dengan membaca kitab suci lain.
Membaca Al-Quran adalah suatu ilmu yang mengandung seni, seni baca
Al-Quran. Isi pengajaran membaca Al-Quran itu meliputi:
1. Pengenalan huruf hijaiyah.
2. Cara membunyikan masing-masing huruf hijaiyah dan sifat-sifat huruf
tersebut.
3. Bentuk dan fungsi tanda baca.
4. Bentuk dan fungsi tanda berhenti baca (waqaf).
5. Cara membaca, melagukan dengan berbagai macam irama.
6. Adabut tilawah, berisi tata cara dan etika membaca Al-Quran.


16
Ibid, hlm. 79-80

Ruang lingkup pengajaran Al-Quran lebih banyak berisi
pengajaran keterampilan khusus yang memerlukan banyak latihan dan
pembiasaan. Pengajaran Al-Quran tidak dapat disamakan dengan
pengajaran membaca-menulis di sekolah dasar, karena dalam pengajaran
Al-Quran, anak-anak belajar huruf-huruf dan kata-kata yang tidak mereka
pahami artinya.
Yang paling penting dalam pengajaran membaca Al-Quran
adalah keterampilan membaca Al-Quran dengan baik dan benar sesuai
dengan kaidah yang disusun dalam ilmu tajwid.
17
Pengertian Tajwid
menurut bahasa (etimologi) adalah memperindah sesuatu, sedangkan
menurut istilah, Ilmu Tajwid adalah pengetahuan tentang kaidah serta
cara-cara membaca Al-Quran dengan sebaik-baiknya.
Tujuan ilmu tajwid adalah memelihara bacaan Al-Quran dari
kesalahan dan perubahan, serta memelihara lisan (mulut) dari kesalahan
membaca. Belajar ilmu tajwid itu hukumnya fardlu kifayah, sedang
membaca Al-Quran dengan baik (sesuai dengan ilmu tajwid) itu
hukumnya Fardlu Ain.






17
Zakiah Darajat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara,
2004, hlm. 92

B. Tinjauan Tentang Metode Qiraati
1. Sejarah Munculnya Metode Qiraati
18

Sebelum adanya Taman Kanak-kanak Al-Quran (TKQ),
pendidikan Al-Quran di Indonesia masih menggunakan sistem pengajian
anak-anak di musholah, langgar, masjid bahkan dirumah-rumah. Metode
pengajarannya dengan menggunakan turutan, yakni Al-Quran juz 30 yang
dilengkapi dengan petunjuk membaca Al-Quran. Metode ini disusun oleh
ulma dari baghdad, sehingga metode ini dikenal dengan nama Qoidah
Baghdadiyah. Qoidah ini telah terbukti menciptakan ulama-ulama besar
yang ahli dalam bidang Al-Quran.
Namun pada saat ini mayoritas umat Islam, khususnya anak-anak
mulai enggan mengaji dengan menggunakan turutan, karena dianggap
kurang praktis dan efisien, terutama bagi mereka yang ingin bisa membaca
Al-Quran lebih cepat dan praktis.
Melihat gejala seperti ini, banyak para ulama mencoba mencarikan
atau menyajikan alternatif yang lebih menarik dan memudahkan anak-
anak dalam belajar membaca Al-Quran. Tetapi alternatif yang ditawarkan
selalu mengalami kegagalan, karena tidak ada bukti keberhasilannya. Di
samping itu juga ada suatu pandangan atau kesepakatan yang tidak tertulis,

18
Nur Shodiq Achrom, Pendidikan Dan Pengajaran Al- Quran Sistim Qoidah Qiroati,
(Ngembul Kalipare: Koordinator Malang III, 1996), hlm. 5



bahkan kalau mengajar mengaji harus mamakai turutan. Sehingga metode
baru yang ditawarkan hanya dipandang sebelah mata.
Pada pertengahan tahun 1986 umat Islam dibuat lega dengan
adanya metode atau model pengajian anak-anak yang baru, yakni
pendidikan Al-Quran anak-anak untuk usia 4 6 tahun yang dirintis oleh
Ust. H. Dahlan Salim Zarkasyii di Semarang. Karena pendidikannya
seperti Taman Kanak-kanak umum, maka lebih dikenal masyarakat
dengan sebutan Taman Kanak-kanak Al-Quran (TKQ). Keberadaan TKQ
ini tidak terlepas dari usaha Ust. H. Dahlan Salim Zarkasyi dalam mencari
metode belajar membaca Al-Quran yang telah dirintis dan diuji coba
sejak tahun 1963.
Pada tahun 1963 Ust. H. Dahlan Salim Zarkasyi mulai mengajar
ngaji kepada anak-anaknya dan anak-anak tetangganya dengan
menggunakan turutan. Akan tetapi ternyata hasilnya kurang memuaskan,
dimana anak-anak hanya menghafal saja.
Jika petang Ust. H. Dahlan Salim Zarkasyii mengajar ngaji,
sedangkan pada siang harinya berdagang, pada saat berkesempatan
mengambil barang diluar kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya,
Pekalongan, Yogyakarta dan kota-kota lainnya. Beliau selalu
menyempatkan diri untuk meneliti dan mengamati pengajian anak-anak
yang ada di mushalla, langgar dan masjid setempat. Teryata hasilnya tidak
jauh baerbeda dengan yang dialami beliau.
19


19
Ibid., hlm.6

Berdasarkan rasa tidak puas dengan hasil dari mengaji dengan
kitab turutan itu, maka beliau mencoba menyusun metode baru yang lebih
efektif dan efisien. Akhirnya berkat inayah, hidayah dan rahmah dari Allah
SWT, Ust. H. Dahlan Salim Zarkasyi berhasil menyusun metode praktis
belajar membaca Al-Quran yang tersusun menjadi 10 jilid.
Atas saran dua orang ustadz, yakni ustadz Djoened dan ustadz
Syukri Taufiq, metode ini diberi nama Metode Qiraati, yang berarti
inilah bacaanku yang tartil (membaca Al-Quran). Metode Qiraati ini
langsung mengajarkan bunyi huruf, yaki huruf-huruf yang berkharokat
tanpa dieja dan mengenalkan nama-nama huruf secara acak serta langsung
memasukkan bacaan yag bertajwid secara praktis, bukan teoritis.
Melihat keberhasilan Ust. H. Dahlan Salim Zarkasyi dengan
metode Qiraatinya pada tahun 1966, H. Jafar, seorang ulama Semarang,
mengajak beliau sowan kepada K.H. Arwani Kudus untuk menunjukkan
buku Qiraatinya. Dan Alhamdulillah, setelah diteliti dan dikoreksi,
mendapat restu beliau. Setelah mendapat restu K.H Arwani buku Qiraati
mulai dikenalkan kepada masyarakat Semarang dan sekitarnya.
20
Pada bulan Mei 1986, Ust. H. Dahlan Salim Zarkasyi diajak oleh
salah satu wali murid (Sukito), untuk silaturrahim dan menyaksikan
Pondok Pesantren Al-Quran Anak-anak Mambaul Hisan di Sedayu
Gresik, yang berdiri pada tahun 1965 yang diasuh K.H. Muhammad.
Beliau merasa prihatin melihat anak-anak kecil di bawah umur 7 tahun,

20
Ibid., hlm.7

yang terpisah dari orang tuanya, dan semestinya anak-anak tersbut masih
membutuhkan kasih sayang mereka, akan tetapi dalam membaca Al-
Quran mereka kurang tartil.
Dari hasil kunjungan tersebut, beliau dapat menyimpulkan bahwa
anak di bawah usia balita mampu diajarkan membaca Al-Quran. Sepulang
dari gresik, selama sebulan tepatnya di bulan Ramadhan, ustadz. H.
Dahlan Salim Z, menyusun kembali buku Qiraati untuk usia taman kanak-
kanak yang diambil dari Qiraati 10 jilid. Kemudian dibukalah pendidikan
Al-Quran untuk anak-anak usia 4-6 tahun pada tanggal 1 juli 1986. inilah
Taman Kanak-Kanak pertama di Indonesia. Kemudian atas saran KH.
Hilal Syaban yang juga direstui oleh KH. Turmudzi Taslim, TKQ tersebut
diberi nama Roudlotul Mujawwidin.
Sebenarnya awal berdirinya merupakan percobaan, mungkinkah
anak-anak usia TK(4-6 tahun) mampu membaca Al-Quran. Pada hari
pertama pembukaan, jumlah muridnya 26 anak dan tempat pendidikannya
meminjam rumah Ir. Abdullah di Kampung Wotprau 77 Semarang.
Setelah berjalan kurag lebih 3 bulan, jumlah muridnya mencapai 70 anak.
Proses belajar mengajar berlangsung setiap sore selama 1 jam, mulai jam
16.00 sampai 17.00 WIB.
Sekalipun berdirinya TKQ merupakan percobaan dengan rencana 4
tahun baru mengkhatamkan Al-Quran 30 juz. Setelah 7 bulan diluar
dugaan target yang semula 4 tahun ternyata dalam 2 tahun sudah
mengkhatamkan 30 juz. Tepatnya 1 Juli 1988 telah mengkhatamkan Al-

Quran 30 juz sebanyak 20 anak, khatam dengan bacaan tajwid dan
ghorib.
21

Lahirnya TKQ Roudlotul Mujawwidin ini mendapat sambutan
yang sangat menggembirakan, sehingga di beberapa tempat berdiri pula
lembaga-lembaga pendidikan Al-Quran di Indonesia. Selain itu, di negara
tetangga mulai berdiri pula TKQ dengan menggunakan metode Qiraati
seperti Malaysia, Serawak, Singapura, Brunai Darussalam dan Thailand.

2. Pengertian Metode Qiraati
22

Metode Qiraati adalah suatu metode membaca Al-Quran yang
langsung memasukkan dan mempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan
qoidah ilmu tajwid. Dari latar belakang sejarah Qiraati dan taman kanak-
kanak Al-Qurannya, maka metode Qiraati mempunyai tujuan, target,
sistem, prinsip dan strategi dalam pengajarannya.
Metode Qiraati merupakan metode yang yang bisa dikatakan
metode membaca Al-Quran yang ada di Indonesia, yang terlepas dari
pengaruh Arab. Metode ini pertama kali disusun pada tahun 1963, hanya
saja pada waktu itu buku metode Qiraati belum disusun secra baik. Dan
hanya digunakan untuk mengajarkan anaknya dan beberapa anak disekitar
rumahnya, sehingga sosialisasi metode Qiraati ini sangat kurang.

21
Ibid., hlm 8-9
22
Nur Shodiq Achrom, Pendidikan Dan Pengajaran Al-Quran Dengan Qoidah Qiraati,
(Malang: Ponpes Shirotul Fuqoha, 1995) hlm. 9

Berasal dari metode Qiraati inilah kemudian banyak sekali
bermunculan metode membaca Al-Quran seperti metode Iqro', metode
An-Nadliyah, metode Tilawaty, metode Al-Barqy dan lain sebagainya.
Diawal penyusunan metode Qiraati ini terdiri dari 6 jilid, dengan ditambah
satu jilid untuk persiapan (par-TK), dan dua buku pelengkap sebagai
kelanjutan dari pelajaran yang sudh diselesaikan, yaitu juz 27 serta ghorib
Musykilat (kata-kata sulit).

3. Visi, Misi, Amanah, dan Tujuan Metode Qiraati
Buku Qiraati dalam pengembangan dan penyebarannya tidak
seperti buku-buku lain pada umumnya, sebab mempunyai visi dan amanah
khusus. Buku tidak dijual bebas melainkan melalui koordinator yang
bersedia berpegang teguh pada misi dan amanah tersebut. Visi dari metode
qiraati adalah menyampaikan ilmu baca Al-Quran dengan benar dan tartil,
bukan menjual buku. Sedangkan misi dari metode ini adalah
membudayakan bacaan Al-Quran yang benar dan memberantas bacaan
Al-Quran yang salah kaprah.
23
Amanah dari metode Qiraati antara lain:
a. Jangan mewariskan kepada santri bacaan Al-Quran yang salah karena
yang benar itu mudah.
b. Harus diajarkan oleh guru yang lulus tashih saja, jangan yang hanya
asal bisa baca Al-Quran.

23
Ahmad Alwafa Wajih, Panduan calon Guru TKQ, 1996, hlm. 6

c. Guru yang belum lulus tashih hendaknya dibina bacaan Al-Qurannya
sampai lulus.
d. Guru yang lulus hendaknya diberikan petunjuk mengajar atau
metodologi.
24

Dengan adanya tashih bacaan Al-Quran bagi calon guru, maka
metode Qiraati mempunyai tujuan:
Menjaga kesucian dan kemurnian Al-Quran dari segi bacaannya agar
tetap sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Sesuai dengan fiman Allah
dalam surat Al Hijr: 9
$ $$ $ ) )) ) t tt t $ $$ $ 9 99 9 . .. . e ee e% %% %! !! ! # ## # $ $$ $ ) )) ) 9 99 9 t tt t : :: :
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan
Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya
25


Menyebarluaskan ilmu membaca Al-Quran, sesuai dengan hadits
Nabi

) (
Sebaik-baik diantara kalian adalah yang mau mempelajari Al-
Quran, kemudian mau mengajarkannya kepada orang lain (H. R.
bukhori Muslim)
Memberi peringatan kepada para pendidik Al-Quran agar lebih
berhati-hati dalam mengajarkan Al-Quran.

24
Ibid, hlm. 7

25
Depag RI, Al-Quran Dan Tarjamahnya (Jakarta: 1971), hlm. 391

Meningkatkan pendidikan Al-Quran. Dengan adanya tashih
diharapkan hasil dari pendidikan Al-Quran kualitasnya terjamin
dengan baik dan akan menjadikan murid tidak sekedar bisa membaca
Al-Quran.
26

4. Sistem dan Strategi Metode Qiraati
27

Sistem pengajaran membaca Al-Quran Metode Qiraati sebagai
berikut:
Langsung membaca huruf-huruf hijaiyah yang berharokat tanpa
mengeja.
Langsung praktek bacaan bertajwid dimulai dari yang mudah dan cara
yang mudah.
Belajar dengan sistem modul. Mulai dari modul yang rendah sampai
modul tinggi dan diselesaikan secara bertahap.
Belajar secara berulang-ulang dari pokok bahasan sampai latihan yang
banyak.
Belajar sesuai kemampuan. Guru menaikkan halaman disesuaikan
dengan kemampuan dan kecepatan membaca dengan baik dan benar.


26
Ibid, hlm. 10-11
27
Sadar Harapan, Penjelasan Lengkap Metode Qiraati, LPMQ: 2002, hlm. 5-6

Siswa belajar dengan petunjuk guru dan membaca contoh dengan
tepat. Selanjutnya siswa membaca sendiri berdasarkan contoh yang
diberikan guru.
Siswa membaca tanpa tuntunan guru.
Waktu belajar 60 menit.
Selain metode diatas agar proses belajar mengajar sesuai
dengan apa yang diharapkan, maka harus memakai strategi mengajar.
Dalam mengajar Al-Quran dikenal beberapa macam strategi, yaitu:
1. Strategi mengajar secara umum (global)
a. Individual atau privat
Siswa belajar membaca satu atau dua halaman sesuai
dengan kemampuannya kepada guru secara bergiliran (satu
persatu). Dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu dengan menggunakan kelas khusus dan tanpa kelas.
b. Klasikal-individual
Sebagian waktu digunakan guru untuk menerangkan
pokok-pokok pelajaran secara klasikal sekedar 2 atau 3 halaman
dan sebagian lagi untuk individual. Cara ini dilakukan ketika
menggunakan peraga kelas, cara menggunakannya sebagai berikut:

Peraga dibaca berdasarkan halaman buku yang dibaca siswa
pada kelompoknya, dari yang rendah sampai yang terakhir.
Waktu yang digunakan sesuai kebutuhan.
Guru menjelaskan pokok bahasan, kemudian seluruh siswa
mengikuti sampai bacaannya benar. Guru menunjuk bacaan
pada alat peraga dan diikuti bacaan seluruh siswa. Kemudian
guru menunjuk seorang siswa untuk membaca peraga secara
bergantian.
c. Klasikal baca simak
Strategi ini digunakan untuk mengajarkan membaca dan
menyimakk bacaan Al-Quran orang lain. Dasar yang digunakan
adalah firman Allah SWT di surat Al-Araf ayat 204 :
# ## # ) )) ) % %% % # ## # ) )) ) 9 99 9 # ## # # ## # G GG G $ $$ $ 9 99 9 # ## # F FF F & && & 3 33 3 = == = 9 99 9 q qq q ? ?? ?
Dan apabila dibacakan Al-Quran, Maka dengarkanlah baik-
baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat
rahmat
28

Caranya:
Guru menunjukkan pokok bahasan atau latihan pada peraga
dan menunjuk seorang siswa secara bergantian untuk dites
membaca dan disimak oleh orang lain.


28
Depag RI, Al-Quran Dan Tarjamahnya (Jakarta: 1971), hlm. 256

Setelah cara diatas dilakukan, guru menunjuk salah seorang
siswa membaca alat peraga dan diikuti oleh seluruh siswa.
2. Strategi mengajar secara khusus (detail)
Agar kegiatan belajar mengajar Al-qauran dapat berjalan
dengan baik sehingga tercapai keberhasilan yang maksimal maka perlu
diperhatikan syarat-syarat sebagai berikut:
29

1. Guru harus menekan kelas, dengan memberi pandangan
menyeluruh terhadap semua santri sampai semuanya tenang,
kemudian mengucapkan salam dan membaca doa iftitah.
2. Pelaksanaan pelajaran selama satu jam ditambah 15 menit untuk
variasi (doa-doa harian, bacaan sholat, doa ikhtitam atau
hafalan-hafalan lainnya).
3. Usahakan setiap anak mendapat kesempatan membaca satu
persatu.
4. Wawasan dan kecakapan anak harus senantiasa dikembangkan
dengan sarana dan prasarana yang ada.
5. Perhatian guru hendaknya menyeluruh, baik pada anak yang maju
membaca maupun yang lainnya.
6. Penghayatan terhadap jiwa dan karakter anak sangat penting agar
anak tertarik dan bersemangat untuk memperhatikan pelajaran. Jika
ada yang diam terus dan tidak mau membaca maka guru harus
tetap membujuknya dengan sedikit pujian.

29
Nur shodiq achrom, op.cit., hlm. 18-21

7. Motivasi berupa himbauan dan pujian sangat penting bagi anak,
terutama anak Pra TK. Anak jangan selalu dimarahi, diancam atau
ditakut-takuti. Tapi kadang kala perlu dipuji dengan kata-kata
manis, didekati serta ucapan dan pendapatnya ditanggapi dengan
baik.
8. Guru senantiasa menanti kritik yang sifatnya membangun demi
meningkatkan mutu TKQ. Jangan cepat merasa puas.
9. Jaga mutu pendidikan dengan melatih anak semaksimal mungkin.
10. Idealnya untuk masing-masing kelas/jilid terdiri dari :
a. Pra Taman Kanak-kanak : 10 anak
b. Jilid I : 15 anak
c. Jilid II Al-Quran : 20 anak
Masing-masing dengan seorang guru.
11. Agar lebih mudah dalam mengajar, sebaiknya disediakan alat-alat
peraga dan administrasi belajar mengajar di dalam kelas, antara
lain :
a. Buku Data Siswa
b. Buku Absensi Siswa
c. Kartu/Catatan Prestasi Siswa (dipegang siswa)




5. Prinsip Dasar Metode Qiraati
30

Demi lebih efektif dan efisiennya metode Qiraati, prinsip-prinsip
yang harus diperhatikan oleh ustadz/dzah dan santri adalah:
a. Prinsip yang harus dipegang oleh guru
1. Daktun (tidak boleh menuntun)
Dalam hal ini ustadz-guru hanya menerangkan pokok
pelajaran, memberikan contoh yang benar, menyuruh santri
membaca sesuai dengan contoh menegur bacaaan yang salah,
menunjukkan kesalahan bacaan dan memberitahukan seharusnya
bacaan yang benar.
2. Tiwagas (teliti, waspada dan tegas)
Teliti artinya dalam memberikan contoh atau menyimak
ketika santri membaca jangan sampai ada yang salah walaupun
sepele. Waspada artinya dalam memberikan contoh atau menyimak
santri benar-benar diperhatikan ada rasa sambung dari hati ke hati.
Tegas artinya dalam memberikan penilaian ketika menaikkan
halaman atau jilid tidak boleh banyak toleransi, ragu-ragu atau pun
segan, penilaian yang diberikan benar-benar obyektif.





30
Nur Shodiq Achrom, Ibid, hlm. 13

b. Prinsip yang harus dipegang oleh santri
1. CBSA+M : Cara Belajar Santri Aktif dan Mandiri
Santri dituntut keaktifan, kosentrasi dan memiliki tanggung
jawab terhadap dirinya tetntang bacaan Al-Qurannya. Sedangkan
ustadz-guru sebagai pembimbing, motivator dan evaluator saja.
31

Menurut Zuhairini fenomena adanya CBSA (Cara Belajar
Siswa Aktif) perlu dipertimbangkan untuk lebih mengembangkan
potensi-potensi siswa secara individual. Dalam hal ini guru
bertugas memberikan bimbingan dan pengarahan kepada siswa
secara aktif. Untuk itu dalam CBSA diharapkan yang aktif tidak
hanya siswanya tetapi juga gurunya.
32

2. LCTB : Lancar Tepat Cepat dan Benar
Lancar artinya bacaannya tidak ada yang diulang-ulang.
Cepat artinya bacaannya tidak ada yang putus-putus atau mengeja.
Tepat artinya dapat membunyikan sesuai denganbacaan dan dapat
membedakan antara bacaan yang satu dengan laiannnya. Benar
artinya hukum-hukum bacaan tidak ada yang salah.
33






31
Nur Ali Usman, Pendidikan Al-Quran Metode Qiroati Dinamika Dan
Perkembangannnya (Malang: Tim Pembina Pendidikan Al-Quran Metode Qiroati Koordinator
Cabang Malang II). Hlm. 3-4
32
Zuhairini, Abdul Ghafir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam(Malang: Universitas Islam Negeri Malang, 2004), hlm. 93
33
Nur Ali Utsman, loc.cit., hlm. 4

6. Metode Penyampaian Buku Qiraati
34

Ada baiknya sebelum kita membahas metode Qiraati, lebih dahulu
kita ketahui kunci-kuncinya, antara lain :
b. Praktis
Artinya: langsung (tidak dieja). Contoh :

baca, A-BA
(bukan Alif fatha A, Ba fatha BA), dan dibaca pendek. Jangan di baca
panjang Aa Baa, atau Aa Ba atau, A Baa
c. Sederhana
Artinya: kalimat yang dipakai menerangkan usahakan
sederhana asal dapat difahami, cukup memperhatikan bentuk hurufnya
saja, jangan menggunakan keterangan yang teoritis/devinitif. Cukup
katakan: Perhatikan ini!

Bunyinya= BA Cukup katakan:


Perhatikan titiknya !. ini BA, ini TA, dan ini TSA.
Dalam mengajarkan pelajaran gandeng, jangan mengatakan:
ini huruf didepan, ditengah atau dibelakang, contohnya seperti: -
/

Cukup katakan : semua sama bunyinya, bentuknya


memang macam-macam. Yang penting dalam mengajarkan Qiraati
adalah bagaimana anak biasa membaca dengan benar. Bukan masalah
otak-atik tulisan, oleh karena itu disini tidak diterangkan tentang huruf
yang bisa di gandeng dan yang tidak. Sederhana saja.

34
Ahmad Alwafa Wajih, loc.cit, hlm. 21-23


d. Sedikit Demi Sedikit, Tidak Menambah Sebelum Bisa Lancar
Mengajar Qiraati tidak boleh terburu-buru, ajarkan sedikit demi
sedikit asal benar, jangan menambah pelajaran baru sebelum bisa
dengan lancar, bacaan terputus-putus. Guru yang kelewat tolenransi
terhadap anak degan mengabaikan disiplin petunjuk ini akibatnya akan
berantakan, sebab pelajaran yang tertumpuk dibelakag menjadai beban
bagi anak, ia justru bingung dan kehilangan gairah belajar. Jika disuruh
mengulang dari awal jelas tidak mungkin, ia akan malu, dan akhirnya
ia akan enggan pergi belajar.
Guru yang disiplin dalam menaikkan pelajaran hasilnya akan
menyenangkan anak itu sendiri, semakin tinggi jilidnya semakin
senang, karena ia yakin akan kemampuannya, dan insyaallah akan
tambah semangat menuntaskan pelajarannya. Disiplin ini memang
mengundang reaksi besar baik dari santri maupun dari wali santri, oleh
karenanya guru dituntut dapat berpegang teguh, tidak kehilangan cara
dengan mengorbankan disiplin tersebut. Disinilah perlu adanya seni
mengajar itu.
e. Merangsang Murid Untuk Saling Berpacu
Setelah kita semua tau mengajarkan Qiraati tidak boleh
menambah pelajaran baru sebelum bisa membaca dengan benar dan
cepat, maka cara yang tepat adalah menciptakan suasana kompetisi dan
persaingan sehat dalam kelas, cara ini insya Allah akan memacu

semangat dan mencerdaskan anak. KH. Dahlan telah merintis agar
terjadi suasana ini dalam sekolah dengan terbaginya buku Qiraati
dalam bentuk berjilid, karena secara otomatis setiap anak naik jilid
semangat dan gairah ikut kembali baru pula.
Kenaikan kelas sebaikya diadakan beberapa bulan sekali
dengan menggunakan standar pencapaian pelajaran Qiraati, karena
dengan demikian anak yang tertinggal dalam kelas akan malu dengan
sendirinya.
f. Tidak Menuntun Untuk Membaca
Seorang guru cukup menerangkan dan membaca berulang-
ulang pokok bahasan pada setiap babnya, sampai anak mampu
membaca sendiri tanpa dituntun latihan di bawahnya. Metode ini
bertujuan agar anak faham terhadap pelajarannya, tidak sekedar hafal.
Karena itu guru ketika mengetes kemampuan anak boleh dengan cara
melompat-lompat, tidak urut mengikuti baris tulisan yang ada.
Apabila dengan sangat terpaksa guru harus dengan menuntun,
maka dibolehkan dalam batas 1 sampai 2 kata saja. Metode ini pada
awal dekade 1980 an, oleh kalangan pendidikan dikenal dengan istilah
CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif).
g. Waspada Terhadap Bacaan Yang Salah
Anak lupa terhadap pelajaran yang lalu itu soal biasa dan
wajar, anak lupa dan guru diam itulah yang tidak wajar. Terlalu sering
anak membaca salah saat ada guru dan gurunya diam saja, maka

bacaan salah itu akan dirasa benar oleh murid, dan salah merasa benar
itulah bibit dari salah kaprah. Maka agar ini tidak terus menerus terjadi
dalam bacaan Al-Quran, maka harus waspada setiap ada anak baca
salah tegur langsung, jangan menunggu sampai bacaan berhenti.
Kewaspadaan inilah cara satu-satunya memberatas salah kaprah itu.
Keberhasilan guru mengajar tartil dan fashih adalah tergantug pada
peka atau tidaknya guru mendengar anak baca salah.
h. Driil (bisa karena biasa)
Metode drill banyak tersirat pada buku Qiraati, adapun yang
secara khusus menggunakan metode ini adalah pada pelajaran :
1. Ghorib
2. Ilmu tajwid
3. Hafalan-hafalan
Biarpun tanpa ada kewajiban menghafal di rumah, insyaallah
dengan metode drill ini semua pelajaran hafalan akan hafal dengan
sendirinya.
35


7. Pokok-Pokok Pelajaran Qiraati
JILID I
36

A. Materi Pelajaran :


35
Ahmad Alwafa Wajih, Maqolah Qiraati ( Korcab Gresik, 1996), hlm 21-23
36
Kepala TPQ Nahdlatul Ulum, Panduan Materi Pengajaran Qiroati Jilid 1 Ghoroib
Dan Materi Tambahan (Mergan-Malang: 2005), hlm. 1

1. Bacaan huruf-huruf berharakat fathah yang di baca secara langsung
tanpa mengeja.
2. Nama-nama huruf hijaiyah dari Alif s.d Ya
3. Bacaan huruf berangkai dalam satu suku kata secara lancer

Hal. Pokok Pelajaran
1-28 Pengenalan baca -

dengan dua atau tiga kelompok huruf, cara


bacanya cepat dan tepat, tidak boleh panjang, lambat atau putus.
31 Ini

ini juga


32 Ini ini juga
33 ini ini juga , ini
34 Ini ini juga , Ini
35 Ini ini juga , ini
Ini

ini juga

, ini

ini juga


36 Ini ini juga
37 Ini ini juga
38 Ini

ini ini ini juga


49 Ini

ini

ini ini ini juga


40 Ini

Ini juga
B. Cara mengajar :
1. Cara mengajar halaman 1 s.d 30 adalah sama.
Dibaca langsung , tanpa mengeja. Membacanya
dengan cepat, tidak putus-putus. Agar siswa cepat dan lancar

dalam membaca, guru bisa membantu dengan irama ketukan.
Sekiranya para siswa belum lancar atau belum faham, dapat
dilakukan upaya sebagai berikut :
Langkah pertama :
Memberi contoh bacaan , menunjuk bacaan huruf
satu persatu mulai dari yang mudah dahulu, kemudian
selanjutnya secara acak, begitu pula untuk bacaan huruf-
huruf yang lain s.d , jika perlu.
Langkah kedua :
Jika siswa sudah memahami masing-masing huruf,
maka siswa di suruh mencoba membaca rangkaian dua huruf
dan agar lancar membaca bantulah dengan ketukan.
Langkah ke tiga :
Jika siswa sudah lancer membaca dua rangkaian ,
maka selanjutnya siswa diperkenankan mencoba membaca
rangkaian tiga huruf. Sekali lagi bantulah dengan ketukan.
2. Pelajaran didalam kotak, baris paling bawah pada setiap halaman
adalah termasuk yang harus dibaca oleh siswa, yakni pelajaran
nama-nama huruf hijayyah. Cara mengajarnya ialah dengan
membaca secara berkelompok. Setelah memahami baru kemudian
secara acak ditunjuk satu persatu huruf tersebut.
3. Cara mengajar dari halaman 31 s.d 40 adalah sama, yakni
membaca huruf-huruf yang disambung. Siswa diminta agar

memperhatikan jumlah titik dan letak titiknya, serta
memperhatikanbentuk tulisan hurufnya
4. Pada halam 44 siswa harus lancar membaca dalam rangkaian
kalimat yang terdiri dari tiga suku kata.

JILID II
37

A. Materi Pelajaran
1. Membaca huruf-hurf hijayyah berkharakat : kasroh, dhommah,
tanwin (fatkhah, kasroh, dhommah).
2. Pengenalan nama-nama kharokt dan engka arab.
3. Bacaan mad (panjang), yakni mad thabi'I (panjang satu alif atau
dua harokat).

Hal. Pokok Pelajaran
Coret diatas namanya Fathah bersuara A, coret dibawah
namanya kasroh bersuara I bukan e.
6 Harokat seperti koma ( ) namanya dhummah bersuara u
bukan o
11 Coret dua diatas( ) namanya fathahtain atau fathah
tanwin bersuara an
13 Coret dua dibawah ( ) namanya kasrohtain atau
kasroh tanwin bersuara in bukan en

37
Ibid., hlm 2

16 Harokat seperti koma berekor ( ) namanya
dlummahtain atau dlummah tanwin bersuara un bukan
on
20 Ini

ini

ini juga


23 Setiap fathah diikuti alif dibaca panjang
33 Setiap fathah berdiri dibaca panjang seperti fathah diikuti
alif.
36 Setiap kasroh diikuti ya sukun dibaca panjang seperti fathah
diikuti alif.
40 Setiap dlummah diikuti wawu sukun dibaca panjang seperti
fathah diikuti alif
42 namanya : huruf fawaatichus
suwar.
B. Cara mengajar
1. Cara mengajar Qiraati jilid 2 hampir sama dengan jilid satu,
untuk bacaan-bacaa huruf berkharokat kasroh, dhommah dan
tanwin, bias dibantu dengan ketukan irama yang cepat.
2. Pada bacaan-bacaan mad (panjang), sebaikya boleh dibaca
melebihi panjangnya 1 alif (tingkat bacaan tahqiq, biasa
digunnakan dalam belajar mengajar) : hal ini untuk melatih dan
membiasakan pada bacaan panjang. Pada bacaan ini guru harus
lebih waspada dalam menyimak bacaan para siswanya.


JILID III
38

A. Materi Pelajaran :
1. Bacaan mad thabii yang belium diajarkan di jilid 2.
2. Bacaan huruf-huruf yang dimatikan (bertanda sukun), antara lain:
dan bacaan Al Qomariyah, perbedaan dengan dan

3. Dengan mempelajari bacaan huruf-huruf sukun diatas, berarti juga
sekaligus menunjukkan makhorijil hurufnya. Selain huruf-huruf
sukun yang tersebut di atas, pada beberapa halaman latihan oleh
penyusunnya juga diselipkan beberapa huruf sukun yang lain yang
hamper sama (berdekatan) dengan huruf-huruf sukun di atas,
seperti : dan . disini guru dituntut ketelitian dan
kewaspadaannya.
4. Bacaan hafu Lin ( dan )

Hal. Pokok Pelajaran
1 Setiap dlummah diikuti wawu sukun ada alif atau tidak ada
alifnya dibaca sama panjangnya.
2 Fathah berdiri, kasroh berdiri dan dlummah terbalik, dibaca
sama panjangnya.
4 Setiap lam sukun suaya ditekan membacanya.
6 Setiap alif lam sukun dibaca seperti lam sukun.

38
Ibid., hlm 3

10 semua huruf bersukun supaya ditekan membacanya.
18 Dihalaman ini fawaatichus suwar dibaca sesuai huruf
aslinya (belum bertajwid)
19 Dlummah diikuti wawu sukun dibaca panjang bersuarau
uu
fathah diikuti wawu sukun dibaca pendek bersuara AU
bukan AO
25 Baca (mim sukun) Am Im Um, (sin sukun) As Is Us,
dan seterusnya.
26 Setiap membaca Alif Lam Sukun Alif Fathah supaya
berhati-hati.
28 Fathah diikuti wawu sukun dibaca pendek, bersuara AU
bukan AO
Fathah diikuti ya sukun juga dibaca pendek bersuara AI
bukan AE
31 Ra sukun didahului fathah atau dlummah dibaca tebal
(mecucu)
Ra sukun didahului kasrah dibaca tipis (mencibir).
35 Setiap membaca hamzah sukun Ain sukun supaya
berhati-hati.
37 bawah garis dibaca seperti halaman 25



B. Cara Mengajar
1. Dalam mengajarkan bacaan huruf-huruf bertanda sukun, kita
harus menjelaskan kepada siswa bahwa huruf-huruf bertanda
sukun harus dibaca jelas dan ditekan membacanya.
Dalam membacanya tidak boleh ada tawallud (suara
tambahan. Berrbunyi "a" seperti ALLE, ASSE dsb) . atau
melamakan bunyi huruf sukunnya. Seperti ALLL, ASSS, dst.
Untuk menghindari buyi tawallud, bantulah dengan ketukan
ketika membacanya.
2. Untuk mengajarkan perbedaan suara dengan guru agar
memberikan contoh secara benar berulang-ulang. Serta melatih
dan mengingatkan para siswa secara intensif dengan tepat.
Demikian pula untuk makhorijul huruf.
3. Dalam menerangkan dan memberi contoh bacaan harfu Lin guru
harus hati-hati, misalnya:
39

dibaca LAULA (dengan bibir mecucu) bukan LAOLA dan
dibaca dengan cepat, bukan panjang.
dibaca LAILA Bukan LAELA dan dibaca dengan cepat.





39
Ibid., hlm 19

JILID IV
40

A. Materi Pelajaran :
1. Bacaan-bacaan
2. Makharijul huruf
a. Ikhfa' haqiqi
b. Mad wajib dan mad Jaiz (~)
c. Ghunnah ( dan dinaca dengung)
d. Adzhar Syafawi dan Idghom Mitsli
e. Idghom Bighunnah (untuk dan )
f. Idghom Bilaghunnah ( dan )
g. Huruf-huruf bertasydid selain dan , serta bacaan Asy-
Syamsyyah.
3. Cara membaca huruf-huruf "awalihus Suwar" (huruf-huruf diawal
surat Al-Qur'an). Seperti . dan lain-lain.

Hal. Pokok Pelajaran
1 Setiap nun sukun harus dibaca dengung
3 Cara membaca fawaatichus suwar ada empat :
1. Dibaca sesuai huruf
aslinya
3. Dibaca menurut tajwidnya

2. Dibaca menurut h
harokatnya
4. Dibaca tanpa putus
suaranya

40
Ibid., hlm 4


5 Setiap tanwin harus dibaca dengung seperti dengungnya
nun sukun.
7 Setiap ada tanda layar diatas, supaya dibaca panjang 21/2
alif atau lima harokat.
12 Setiap nun bertasydid harus dibaca dengung yang lama
13 Setiap mim bertasydid harus dibaca dengung yang lama
19 Setiap huruf bertasydid selain mim dan nun membacanya
harus ditekan
23 Setiap Alif Lam di ikuti huruf bertasydid, maka alif lamnya
tidak dibaca.
25 Dlummah diikuti wawu tak bersukun dibaca pendek
30 Semua mim sukun dibaca jelas, kecuali mim sukun bertemu
dengan mim harus dibaca dengung yang lama.
32 Setiap nun sukun atau tanwin bertemu dengan hruf mum,
suaranya berubah menjadi mim sukun, dan dibaca dengung
yang lama disertai bibir terkatub.
36 Setiap nun sukun / tanwin bertemu lam suaranya ditukar
dengan lam sukun dan tidak boleh dibaca dengung.
39 Setiap nun sukun atau tanwin bertemu dengan Ra, suaraya
ditukar dengan Ra sukun dan tidak boleh dibaca dengung.



B. Cara Mengajar :
1. Dalam mengajarkan bacaan ikhfa' haqiqi, diterangkan bahwa
selain dibaca dengung (dengungnya ikhfa'). Guru agar
berusaha memberikan contoh dengungnya bacaan ikhfa' dengan
benar dan memperhatikan kepada para siswa. Di sini guru waspada
melihat bibir dan lisan para siswanya terutama pada huruf :
dan .
41

2. Dalam mengajarkan bacaan fawalihus suwar. Guru harus memberi
contoh yang benar dan selalu mengingatkan mana yang harus
dibaca dengung dan mana yang tidak boleh didengungkan.
3. Dalam mengajarkan Mad Wajib dan Mad Jaiz, diterangkan bahwa
setiap ada tanda ~ Dibaca lebih panjang dari biasanya.
4. Untuk mengajarkan bacaan ghunnah (dengung), kita terangkan
bahwa setiap dan dibaca dengung yang lama.
5. Sedangkan untuk semua huruf bertasydid selain dan harus
dibaca cepat dan ditekan membacanya; bias dibantu dengan satu
ketukan. Demikian keterangan : setiap ada (tanda tasdid)
tidak dibaca.
6. Pada pokok pelajaran diterangkan bahwa tidak ada tandanya
jangan dibaca; dibaca pendek.

41
Ibid., hlm 20

7. Dalam mengajarkan bacaan Idzhar Syafawi dan Idzhom Mitsli,
kita terangkan bahwa : setiap

dibaca jelas (tidak berdengung),


kecuali jika bertemu dengan harus dibaca dengung.
8. Untuk mengajarkan bacaan idhom bighunnah ) ( diterangkan setiap
bertemu dengan dibaca bibir "mingkem" (bibir
mengatup) dengan dengung yang lama.
9. Dan untuk menganajarkan bacaan Idgom Bilaghunnah ) ( perlu
diterangkan bahwa bertemu dan dibaca
dan (bertasydid) dengan cepat dan ditekan, jangan sampai dibaca
terlalu lama.

JILID V
42

A. Materi Pelajaran :
1. Bacaan-bacaan :
Idghom Bighunnah (untuk dan )
Iqlab
Ikhfa' Syafawi dan Idzhar Syafawi
Lafadz Allah
Qolqolah (beserta makharijul hurufnya)
Mad Lazim Mutsaqqal Kalimi
Idzhar Halqi (dengan tanda )
2. Cara menghentikan bacaan (mewaqafkan bacaan), yakni :

42
Ibid., hlm 5

Waqaf Mad Aridh lissukun (waqaf panjang).
Waqaf Pendek
Waqaf Mad Thabi'I dan Waqaf Mad Iwadh
Waqaf (ta' marbuthoh)
3. Makharijul huruf-huruf : dan
4. Mulai halaman 34, para siswa dapat dilatih membaca surat-surat Al-
Quran dan latihan membaca lancar Al-Quran Juz 27 terbitan
Yayasan Pendidikan Al-Quran Roudlotul Mujawwidin Semarang.

Hal. Pokok Pelajaran
1 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf
wawu, suaranya masuk ke huruf wawu dan dibaca dengung.
2 Setiap kalimat yang diwaqofkan, huruf terahirnya dibaca
mati.
5 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengn huruf Ya,
suaranya masuk kehuruf Ya dan dibaca dengung.
6 Setiap fathahtain atau fathah berdiriwaqofnya dibaca fathah
dan panjang 1 alif.
8 Lafadz Allah didahului kasroh dibaca tarqiq atau tipis
Lafadz Allah didahului fathah atau dlummah dibaca tafhim
atau tebal
11 Sebelum huruf terahir dibaca panjang waqofnya dibaca
panjang1, 2 atau 3 alif

Sebelum huruf terakhir di baca pendek waqofnya dibaca
pendek.
12 Nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf Ba, suaranya
berubah menjadi mim sukun dan dibaca dengung disertai
bibir terkatub.
14 Mim sukun tidak boleh dibaca dengung kecuali mim sukun
bertemu dengan huruf Ba, harus dibaca dengung yang lama.
16 Setiap Ba sukun, Dal sukun harus dibaca qolqolah atau
memantul.
18 Setiap jam sukunharus dibaca qolqolqh atau memantul
23 Ta Marbuthoh berkharaokat apa saja, jika diwaqofkan
suaranya berubah menjadi Ha sukun.
24 Setiap Qof sukun harus di baca qolqolah atau memantul.
28 Setiap Tho sukun harus dibaca qolqolah atau memantul
34 Setiap ada nun kecil diatas harus dibaca jelas tidak boleh
dibaca dengung.
38 Setiap ada layar diatas bertyemu tasydid, supaya dibaca 3
alif / 6 harokat.
B. Cara Mengajar :
1. Mengajarkan bacaan Idzhom Bighunnah
bertemu dibaca bibir "mecucu" ("monyong" bahasa
Sunda) disertai dengaung yang lama.
bertemu dibaca bibir nyengingis, degang yang lama.

Mengajarkan bacaan Iqlab
bertemu dibaca bibir terkatup/bibir "mingkem", disertai
dengan dengan yang lama.
2. bacaan Ikhfa' Syafawi dan Idzhar Syafawi :
Setiap dibaca jelas (tanpa dengung), kecuali jika bertemu dan
, dibaca dengan lama.
3. Untuk mengajarkan lafadz Allah perlu contoh dan latihan
berulang-ulang secara seksama.
4. Demikian juga dalam mengajarkan bacaan Qolqolah, guru perlu
memberi contoh bacaan yang benar secara berulang-ulang, dan
berusaha agar siswanya dapat membaca qolqolah secara baik dan
benar.
5. Dalam mengajarkan bacaan Mad Lazim Mutsaqol Kalimi, guru
memberi contoh beberapa kali dengan menerangkan bahwa "jika
ada tanda ~ bertemu dengan tsydid dibaca sangat pajang".
6. Untuk bacaan Idzhar Halqi (adanya tanda ) kita jelaskan "setiap
ada tanda

"suara nun sukun/Tanwin dibaca dengan jelas (tanpa


dengung).
7. Cara mengajar menghentikan bacaan (Waqaf):
Waqaf Mad Aridh Lissukun : jika huruf terakhir didahului
atau , maka waqofnya dibaca panjang, bias juga jika sebelum
huruf terakhir dibaca panjang, maka waqafnya dibaca panjang.
Selain itu, maka waqafnya dibaca pendek.

Waqaf Mad 'Iwadh: fathah panjang dan fathah tanwin
waqofnya dibaca panjang 1 Alif (ta' marbuthah) waqofnya
dibaca

JILID VI
43

A. Materi Pelajaran :
1. Bacaan Idzhar Halqi
2. Cara membacanya: yang sebaiknya dibaca washal/ dibaca terus
ha panjang dibaca pendek.
3. Mulai jilid 6 ini para siswa dapat dilatih membaca Al-Quran dari
juz 1

Hal. Pokok Pelajaran
1 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf
Hamzah tidak boleh dibaca dengung.
5 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf
Hamzah, Cha tidak boleh dibaca dengung
8 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf
Hamzah, Cha, Kho tidak boleh dibaca dengung
12 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf
Hamzah, Cha, Kho, Ain tidak boleh dibaca dengung

43
Ibid., hlm 6

15 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf
Hamzah, Cha, Kho, Ain, Ghoin tidak boleh dibaca
dengung
19 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf
Hamzah, Cha, Kho, Ain, Ghoin Ha tidak boleh dibaca
dengung
22 Setiap ada ILLA (), supaya dibaca washol (terus)
Semus tulisan ANA, Na-nya dibaca pendek.
B. Cara Mengajar :
1. Mengajarkan bacaan idzhar halqi secara bertahab satu persatu kita
sentuhkan dan kita terangkan bahwa "setiap nun sukun / tanwin
jika beretemu huruf-huruf ) ( dan " harus dibaca jelas
tanpa dengung.
2. Dalam mengajarkan bacaan dan guru perlu memberi contoh
beberapa kali.
3. Ketika latihan membaca mushhaf Al-Qur'an, para siswa mulai
dilatih mengatur nafas dalam membaca Al-Qur'an, tanpa adanya
tanaffus (mengambil nafas ditengah-tengah membaca); dengan
cara mewaqafkan bacaan jika nafasnya tidak kuat, dan mengulang
bacaan kembali ('ibtida').




8. Pengelolaan Kelas Metode Qiraati
44

Syarat:
1) Setiap kelas jilidnya harus sama
2) Terdiri dari 20 santri per kelas
3) Harus dengan guru kelas
4) Waktu kegiatan belajar 60 menit
5) Menggunakan peraga kelas
6) Ada papan tulis
7) Setiap santri memiliki absen tersendiri
8) Ada buku prestasi
9) Pengelolaan kelas
a) Pengelolaan kelas
1) Kelas dikelompokkan sesuai dengan jilidnya, apabila santri lebih
dari 20 dalam setiap jilidnya maka dibagi menjadi 2 kelas, yaitu
kelas A dan B.
2) Pembagian kelas A dan B didasarkan dengan halaman jilid.
Jilid 1 A = buku halaman 01-20 peraga kelas halaman 01-17
B = buku halaman 21-44 peraga kelas halaman 18-36
Jilid 2 A = buku halaman 01-22 peraga kelas halaman 01-13

44
Nur Ali Utsman, Metodologi Metode Qiraati, Malang: 2002, hlm. 5-7

B = buku halaman 23-44 peraga kelas halaman 14-29
Jilid 3 A = buku halaman 01-18 peraga kelas halaman 01-11
B = buku halaman 19-44 peraga kelas halaman 12-20
Jilid 4 A = buku halaman 01-22 peraga kelas halaman 01-13
B = buku halaman 23-44 peraga kelas halaman 14-20
Jilid 5 A = buku halaman 01-22 peraga kelas halaman 01-17
B = buku halaman 23-38 peraga kelas halaman 18-23
Juz 27 tidak ada pembagian
Jilid 6 tidak ada pembagian buku halaman 01-22 peraga kelas
halaman 01-13
Kelas Al-Quran A = Juz 1 10
Kelas Al-Quran B = Juz 10 20, dengan pengajaran Gharib.
Kelas Gharib A = buku halaman 01 20 peraga halaman 01 11
B = buku halaman 21 44 peraga halaman 12 - 24
Kelas Al-Quran C = Juz 21 30, dengan pengajaran Tajwid.

3) Naik secara otomatis artinya bagi santri yang telah lulus tashih
kenaikan jilid, langsung dimasukkan ke kelas diatasnya, tidak
menunggu santri lainnya. ( siapa cepat dia dapat )
4) Sewaktu-waktu dapat dilakukan perputaran guru atau perubahan
kelas.
b) Pelaksanaan pengajaran
a. Materi jilid 1 6
1) Waktu dibagi 3 bagian dalam 30 menit
15 menit awal klasikal
30 menit individual
15 menit akhir klasikal
2) Ketika klasikal, pelajaran mengulang dengan peraga atupun
menambah dan setiap pokok pelajaran dijelaskan.
3) Membaca dengan berurutan atau diacak dan guru ikut
membaca apabila suara santri kurang keras.
4) Sekali waktu menunjuk santri untuk membaca baik dengan
diacak atau berurutan terutama santri yang lambat perlu
dibantu.
5) Menggunakan alat peraga kelas dengan tinggi dan posisi yang
tepat yang memudahkan santri cepat bisa.

6) Menggunakan alat penunjuk yang panjangnya kurang lebih 60
cm
7) Posisi berdiri guru berada disebelah kanan peraga, agar santri
dapat melihat lisan gurunya ( musyafahah ).
c) Tashih
Tashih akhir santri adalah tashih akhir bacaan Al-Quran bagi
pemula yang mengandung nilai keterampilan membaca dengan benar
dan tartil menurut pedoman yang telah ditentukan dan dihasilkan dari
dari proses pendidikan dan pengajaran Al-Quran metode Qiraati.
Bidang penilaian tashih akhir:
1) Fashohah dan adab
2) Tartil dan kelancaran
3) Ghorib/ musykilat
4) Tajwid
5) Praktek shalat
6) Hafalan surat-surat pendek
7) Hafalan doa-doa sehari-hari
45





45
Nur Ali Utsman, Panduan Tashih Akhir Santri

d) Kunci Keberhasilan Mengajar
46

1) Ikhlas karena Alloh Taala dan selalu memohon bantuannya
2) Ciptakan situasi yang sungguh-sungguh namun santai
3) Usahakan agar siswa senang dan bergembira, jangan merasa
tertekan
4) Diantara guru dan siswa ada sambung rasa
5) Guru harus bersikap bijaksana dan penuh kewibawaan
6) Berilah motivasi/dorongan baik pada siswa yang berprestasi
maupun siswa yang kurang
7) Ciptakan koordianasi dan hubungan akrab dengan wali santri
8) Beri motivasi agara siswa senang berlatih, mandiri dan
mengulang-ulang










46
Nur Shodiq Achrom, loc.cit, hlm. 33

BAB III
METODE PENELITIAN

A Pendekatan dan Jenis Penelitian
Menurut Bog dan Taylor yang dikutip oleh lexy J. Moleong
mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-
orang dan prilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan
individu tersebut secara holistik (utuh).
47

Deskriptif kualitatif adalah penelitian yang data-datanya berupa kata-
kata (bukan angka-angka, yang berasal dari wawancara, catatan laporan,
dokumen dan lain-lain). Atau penelitian yang di dalamnya mengutamakan
untuk pendiskripsian secara analisis suatu peristiwa atau proses sebagaimana
adanya dalam lingkungan yang alami untuk memperoleh makna yang
mendalam dari hakekat proses tersebut.
48

Deskripsi kualitatif, bertujuan untuk memahami keadaan atau
fenomena, dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, dengan
memanfaatkan berbagai metode alamiah. Dalam penelitian kualitatif, metode
yang biasanya digunakan adalah wawancara, pengamatan, dan pemanfaatan
dokumen.
49



47
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2002), hlm. 3.
48
Nana Sudjana, Metode Statistik (Bandung: Tarsito, 1989), Hlm. 203.

49
Lexy J. Moleong, Op.Cit, Hlm. 5-6

Menggunakan pendekatan deskriptif, karena tidak dimaksudkan untuk
menguji hipotesis, tetapi hanya menggambarkan suatu gejala atau keadaan
yang diteliti secara apa adanya serta diarahkan untuk memaparkan fakta-fakta,
kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat. Penelitian deskriptif yang
dimaksedkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala
yang ada, yaitu keadaan gejala apa adanya pada saat penelitian dilakukan.
50

Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk memberikan gambaran
tentang suatu gejala/suatu masyarakat tertentu. Dengan penelitian ini peneliti
akan mendapatkan data secara langsung terhadap obyek yang diteliti, yakni
untuk mendeskripsikan aplikasi metode Qiraati dalam meningkatkan
kemampuan membaca Al Quran siswa kelas IV sesuai dengan kondisi yang
ada di SD Plus Al Kautsar Malang.

B Kehadiran Peneliti
Sesuai dengan pendekatan yang digunakan, maka kehadiran peneliti
ditempat penelitian sangat diperlukan sebagai instrumen utama. Peneliti
bertindak sebagai pengumpul data, menganalisis dan pelaporan hasil
penelitian Seperti yang dikatakan oleh Lexy J. Moleong bahwa peneliti dalam
penelitian kualitatif cukup rumit. Ia sekaligus merupakan perencana,
pelaksana pengumpulan data, analis, penafsir data dan pada akhirnya ia
menjadi pelapor hasil penelitiannya.
51


50
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek,(Jakarta: PT
Rineka Cipta, 2002), hlm 309
51
Lexy J. Moleong, Op. Cit., Hlm. 168.

Untuk penelitian ini penulis hadir untuk menemukan data-data yang
diperlukan yang bersinggungan langsug ataupu tidak langsung dengan
masalah yang diteliti, dimana dalam peneltian ini penulis tidak menentukan
waktu lamanya maupun harinya, tapi penulis secara terus menerus menggali
data dalam keadaan yang tepat dan sesuai dengan kesempatan para informan.
Disamping itu penekanan terhadap keterlibatan langsung peneliti dilapangan
dengan informan dan sumber data.

C Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat di mana penelitian akan dilakukan,
beserta jalan dan kotanya. Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi di
SD Plus Al Kautsar yang bertempat di jalan Laksda Adi Sucipto XXII/338
Malang (0341) 403079.
SD Plus Al Kautsar adalah satuan pendidikan formal jenjang
pendidikan dasar yang berada di daerah malang, dan merupakan sekolah dasar
yang menerapkan pembelajaran membaca Al Quran dengan menggunakan
metode Qiraati serta menerapkan sistem pembelajaran yang mengintegrasikan
antara ilmu islam dan konvesional, sehingga siswa menjadi insan yang cerdas,
profesional, dan mempunyai kedalaman spiritual.





D Sumber Data
Yang dimaksud sumber data dalam penelitian, menurut Suharsimi
Arikunto adalah subjek dimana data diperoleh.
52
Sedangkan menurut Lofland,
yang dikutip oleh Moleong, sumber data utama dalam penelitian kualitatif
ialah kata-kata atau tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti
dokumen dan lain-lain. Adapun data dan informasi dalam penelitian ini
diperoleh dari dua sumber yaitu:
1. Data Primer
Data primer adalah data yang bersumber dari informan secara
langsung berkenaan dengan masalah yang diteliti. Seperti dikatakan
Moelong, bahwa kata-kata atau ucapan lisan dan perilaku manusia
merupakan data utama dan data primer dalam suatu penelitian.
53

Dalam penelitian ini, data primer yang diperoleh oleh peneliti
adalah: hasil wawancara dengan Kepala Sekolah SD Plus Al Kautsar,
koordinator Qiraati dan guru Qiraati.
2. Data Sekunder
Data kedua adalah data sekunder, yaitu data yang dimaksudkan
untuk melengkapi data primer dari kegiatan penelitian. Data skunder
berasal dari dokumen-dokumen berupa catatan-catatan. Moelong
menjelaskan tentang sumber data penting lainnya adalah berbagai sumber
tertulis seperti buku disertasi Buku riwayat hidup, jurnal, dokumen-

52
Suharsmi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka
Cipta: Jakarta, 2002), hlm. 107.
53
Lexy J. Moelong, Op.Cit, Hlm. 112.

dokumen, arsip-arsip, evaluasi, buku harian dan lain-lain. Selain itu foto
dan data statistik juga termasuk sebagai sumber data tambahan.
49

Data sekunder yang diperoleh peneliti adalah data yang diperoleh
langsung dari pihak-pihak yang berkaitan berupa data-data sekolah dan
berbagai arsip atau dokumen-dokumen yang relevan dengan pembahasan
penelitian.

E Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang valid pada suatu penelitian, maka teknik
pengumpulan data sangat membantu dan menentukan kualitas dari penelitian
dengan kecermatan memilih dan menyusun. Teknik pengumpulan data ini
akan memungkinkan dicapainya pemecahan masalah yang valid. Dalam
penelitian ini penulis menggunakan metode-metode sebagai berikut:
1. Metode Observasi
Metode observasi adalah metode yang digunakan dengan jalan
mengadakan pengamatan terhadap objek yang diteliti sebagaimana yang
diungkapkan Sutrisno Hadi:
Metode observasi bisa dikatakan sebagai pengamatan dan pencatatan
dengan sistematis terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki.
54


Dengan demikian pengamatan atau observasi dapat dilaksanakan
secara langsung dan sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek
penelitian untuk memperoleh data tentang permasalahan dan segala

49
Ibid. Hlm. 113-116.
54
Sutrisno Hadi, Metodologi Research II (Yogyakarta: Andi Offset, 1984), Hlm. 126

sesuatu yang berhubungan dengan penelitian yang dilaksanakan. Dengan
kata lain, peneliti terjun langsung ke lapangan yang akan diteliti tujuannya
agar terdapat gambaran yang tepat mengenai objek penelitian.
Penulis menggunakan metode ini untuk memperoleh data sebagai
berikut:
a. Kondisi Lingkungan SD Plus Al Kautsar di Malang.
b. Sarana dan prasarana yang terdapat di SD Plus Al Kautsar di Malang
c. Pelaksanaan metode Qiraati siswa kelas IV SD Plus Al Kautsar di
Malang
2. Metode Dokumentasi
Suharsimi Arikunto mengatakan bahwa didalam melaksanakan
metode dokumentasi peneliti menyelidiki benda tertulis seperti buku-buku,
majalah, peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.
55

Dari rujukan diatas, teknik pengumpulan data yang dilakukan
dalam penelitian ini adalah dengan menganalisa data-data tertulis seperti:
arsip-arsip, catatan-catatan administrasi yang berhubungan dengan
penelitian.
Penulis menggunakan metode ini untuk memperoleh data sebagai
berikut:
a. Sejarah SD Plus Al Kautsar di Malang
b. Data guru, data siswa, karyawan, dan stuktur organisasi SD Plus Al
Kautsar di Malang

55
Ibid. Hlm. 131

c. Data hasil pembelajaran membaca al Quran dengan menggunakan
metode Qiraati.

3. Metode Wawancara
Metode wawancara adalah metode pengumpulan data dengan Tanya
jawab sepihak yang dikerjakan dengan cara sistematis dan berlandaskan pada
tujuan penyelidikan.
56
metode interview yang digunakan dalam penelitian ini
adalah interview terpimpin. Interview terpimpin adalah interview yang
dilakukan oleh pewawancara dengan membawa sederetan pertanyaan lengkap
dan terperinci.
57

Lexy J. Moleong, menjelaskan wawancara (interview) merupakan
percakapan-percakapan dengan maksud tertentu, percakapan ini dilaksanakan
oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dengan yang
diwawancarai memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
58

Wawancara ini dilakukan untuk memperoleh data tentang:
a. Aplikasi metode Qiraati dalam meningkatkan kemampuan membaca al
Quran siswa kelas IV SD Plus Al Kautsar di Malang
b. Faktor pendukung dan penghambat penerapan metode Qiraati di SD Plus
Al Kautsar di Malang




56
Surtrisno Hadi. Op.Cit, Hlm:193.
57
Suharsimi Arikunto, Op.Cit., hlm.146
58
Lexy J. Moleong. Op.Cit, hlm. 135.

F. Tehnik Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan
data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat
ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang
disarankan oleh data.
Dari rumusan di atas dapat kita simpulkan bahwa analisis data
bermaksud mengorganisasikan data. Data yang terkumpul banyak sekali
dan terdiri dari catatan lapangan, komentar peneliti, gambar, foto, dokumen
berupa laporan, biografi, artikel, dan sebagainya.
Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan
metode pengumpulan data di atas, maka peneliti akan mengolah dan
menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis secara deskriptif-
kualitatif, tanpa menggunakan teknik kuantitatif.
Analisis deskriptif-kualitatif merupakan suatu tehnik yang
menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah
terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin
aspek situasi yang diteliti pada saat itu, sehingga memperoleh gambaran
secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya.

G. Pengecekan keabsahan temuan
Perlu kiranya di lakukan teknik pemeriksaan keabsahan data
dengan memanfaatkan berbagai sumber diluar data tersebut sebagai bahan
perbandingan. Triangulasi yang di gunakan oleh peneliti ada 3 antara lain:

1) Triangulasi data yaitu cara membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil
wawancara, data hasil wawancara dengan dokumentasi, dan data hasil
pengamatan dengan dokumentasi. Hasil perbandingan ini diharapkan dapat
menyatukan persepsi atas data yang diperoleh.
2) Triangulasi metode yaitu mencari data lain tentang sebuah fenomena diperoleh
dengan menggunakan metode yang berbeda yaitu wawancara, observasi dan
dokumentasi. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan metode ini
dibandingkan dan disimpulkan sehingga memperoleh data yang bias dipercaya.
3) Triangulasi sumber yaitu membandingkan kebenaran suatu fenomena
berdasarkan data yang diperoleh peneliti, baik dilihat dari dimensi waktu
maupun sumber lain.
59


H. Tahap-tahap Penelitian
Tahap ini terdiri atas tahap pra lapangan, tahap kegiatan lapangan,
dan tahap analisa data.
1. Tahap pra lapangan
a. Memilih lapangan
b. Mengurus perizinan secara format (ke pihak sekolah)
c. Melakukan penjajakan lapangan, dalam rangka penyesuaian dengan
SD Plus Al Kautsar Malang selaku obyek penelitian tahap pra
lapangan


59
Ibid.,hlm. 166

2. Tahap Kegiatan Lapangan
Pada tahap ini peneliti mencari sumber data seakurat mungkin
dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi.
3. Tahap analisis data
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah menyajikan data
dalam bentuk deskripsi dan menganalisa data sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai.

















BAB IV
PAPARAN DATA

A. GAMBARAN OBJEK PENELITIAN
1. Profil Sekolah
60

Nama Sekolah : SD Plus Al Kautsar
NIS : 000770
Propinsi : Jawa Timur
Otoda : Kota Malang
Kecamatan : Blimbing
Desa/kelurahan : Pandanwangi
Alamat : Jl. L.A. Sucipto XXII No. 338
Kode pos : 65124
Telepon : 0341 403079
Daerah : Perkotaan
Status Sekolah : Swasta
Tahun Berdiri : 2004
KBM : Pagi
Bangunan Sekolah : Milik sendiri
Jarak ke pusat kec. : 2,5 km
Jarak ke pusat otoda : 4 km
Terletak pada lintasan : Kabupaten/kota
Organisasi penyelenggara : Organisasi
NSS : 002056103004




60
Dokumentasi SD Plus Al Kautsar Malang

2. Sekilas Tentang SD Plus Al Kautsar Malang
61

Sekolah Dasar Plus Al-Kautsar Malang berdiri sejak tahun 2005,
merupakan satuan pendidikan formal jenjang pendidikan dasar, dibawah
naungan Yayasan Pelita Hidayah. Sebagai bentuk penyelenggaraan
pendidikan berbasis masyarakat (Society Based Education), SD Plus Al-
Kautsar memiliki kekhasan keagamaan yaitu pendidikan dasar terpadu
bernuansa Islam. Oleh karenanya kehadiran SD Plus Al-Kautsar
menjadikannya sebagai pendidikan alternatif yang diharapkan dapat
menjawab tantangan kebutuhan SDM masa depan yang beriman,
berwawasan, dan berbudaya.
Untuk dapat mewujudkan idealisme dalam bidang pendidikan
dengan konsep penciptaan SDM yang unggul, diperlukan suatu strategi
manajerial integral dan komprehensif, terutama dalam pemberdayaan
sumber daya pendidikan yang harus disesuaikan dengan semangat
otonomi daerah. Hal tersebut perlu dilakukan mengingat lembaga
pendidikan tidak hanya memperhatikan masalah input dan output tetapi
harus pula berorientasi pada outcome pendidikannya. Keberhasilan suatu
kegiatan secara manajerial dapat dicapai apabila didukung oleh
pengimplementasian fungsi-fungsi manajemen yang meliputi
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian secara
terpadu dan berkesinambungan.


61
Buku Panduan Akademik tahun ajaran 2008/ 2009, hlm. 3

3. Visi, Misi, dan Tujuan SD Plus Al Kautsar Malang
62

a. Visi
Visi SD Plus Al-Kautsar Malang adalah Menjadi sekolah
terpercaya di masyarakat untuk mencerahkan dan mencerdaskan
bangsa dengan mencetak insan Indonesia Islami yang cerdas spiritual,
emosional, intelektual, dan sosial, serta kompetitif, berdaya, dan
berbudaya.
b. Misi
Misi adalah tindakan atau upaya untuk mewujudkan visi. Jadi
misi merupakan penjabaran visi dalam bentuk rumusan tugas,
kewajiban, dan rancangan tindakan yang dijadikan arahan untuk
mewujudkan visi. Dengan kata lain, misi adalah bentuk layanan untuk
memenuhi tuntutan yang dituangkan dalam visi dengan berbagai
indikatornya. Adapun misi SD Plus Al-Kautsar Malang adalah :
1. Menyiapkan generasi unggul yang memiliki potensi di bidang
IMTAQ dan IPTEK
2. Menghasilkan lulusan yang unggul dan kompetitif
3. Memberikan pelayanan di bidang pendidikan yang berkualitas
4. Membentuk sumber daya manusia yang Islami, aktif, kreatif, dan
inovatif sesuai dengan perkembangan zaman.
5. Membangun citra sekolah sebagai lembaga pendidikan terpercaya
di masyarakat.

62
Ibid., hlm. 4-5


6. Membangun sistem persekolahan berkualitas yang komprehensif
meliputi pengelolaan input, proses, dan output pendidikan.
c. Tujuan
Jika visi dan misi terkait dengan jangka waktu yang relatif
panjang, maka tujuan dikaitkan dengan jangka waktu menengah.
Dengan demikian tujuan pada dasarnya merupakan tahapan atau
langkah untuk mewujudkan visi dan misi sekolah. Adapun tujuan
penyelenggaraan SD Plus Al-Kautsar Malang adalah sebagai berikut:
1. Mendidik siswa beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta
berakhlaq mulia, sehat jasmani dan rohani.
2. Menanamkan konsep belajar sepanjang hayat (life long education)
agar siswa dapat mengembangkan dirinya secara terus menerus
3. Mentransfer dan mentransformasikan ilmu pengetahuan agar
siswa memiliki dasardasar pengetahuan, pola pikir, dan
ketrampilan hidup untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang
lebih tinggi serta menjadi insan yang bertanggung jawab terhadap
Tuhannya, dirinya, keluarganya, masyarakat dan negaranya.
4. Menanamkan sikap kebangsaan dan cinta tanah air.

4. Struktur Organisasi
63

Adapun struktur organisasi SD Plus Al Kaustar adalah terlampir.


63
Ibid.,hlm. 6


5. Sarana dan Prasarana SD Plus Al Kautsar Malang
64

Sarana adalah sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat atau media
dalam mencapai maksud atau tujuan. Sedangkan prasarana adalah
perangkat penunjang utama suatu proses atau usaha pendidikan agar
tujuan pendidikan tercapai.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa setiap satuan
pendidikan formal dan nonformal mrnyediakan sarana dan prasarana yang
memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan
perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan
kejiwaan peserta didik.
65

Keadaan bangunan fisik dan sarana yang merupakan salah satu
faktor pendukung kegiatan belajar mengajar di SD Plus Al Kautsar
Malang dikatakan cukup memadai. Hal tersebut dapat kita lihat pada tabel
dibawah ini:
Tabel 4.1
Sarana dan Prasarana SD Plus Al Kaustar Malang

No Gedung/Ruang Jumlah Status
1 Ruang Kabag 1 Milik Sendiri
2 Ruang Kabid 1
3 Ruang Koordinator 1
4 Ruang Kepala Sekolah 1
5 Ruang Tamu 1
6 Kedai Siswa 1
7 Ruang Tata Usaha 1
8 Musholla 1
9 Perpustakaan 1


64
Ibid., hlm. 12

65
Undang Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, hlm. 30

No Gedung/Ruang Jumlah Status
10 Laboratorium Komputer 1
11 Ruang UKS 1
12 Ruang Keuangan 1
13 Ruang BK 1
14 Ruang Guru 2
15 Ruang Kelas 27
16 Ruang Musik 1
17 Laboratorium IPA 1
18 Kamar Mandi Siswa 18
19 Kamar Mandi Guru 14
20 Kamar Mandi Tamu 1
22 Dapur 1
23 Kolam Renang 2
24 Lapangan Olahraga 2
25 Tempat Parkir 2
26 Mobil Antar Jemput 12
27 Gudang 2

6. Tenaga kepegawaian SD Plus Al Kautsar Malang
66

Untuk kelancaran kegiatan belajar mengajar SD Plus Al Kautsar
Malang, dilakukan pembagian tugas untuk tenaga edukatif sesuai dengan
kompetensinya. Selain tugas utamanya sebagai pendidik, baik tenaga
edukatif maupun administratif diberi tugas dan tanggung jawab tambahan
sesuai kompetensinya, dan program yang ada di SD Plus Al-Kautsar.
Pemberian tugas tambahan tersebut selain untuk memperlancar program
pendidikan, juga untuk memupuk etos dan moral kerja para tenaga
edukatif.
Jumlah seluruh tenaga edukatif ada 56 orang, sedangkan tenaga
administratif berjumlah 24 orang, dan Adapun susunannya terlampir.


66
Buku Panduan Akademik tahun ajaran 2008/ 2009, Op.Cit, hlm. 12


7. Keadaan Siswa SD Plus Al Kautsar
67

Tabel 4.2
Jumlah siswa SD Plus Al Kaustar Tahun Ajaran 2008-2009

KELAS
JENIS KELAMIN
JUMLAH
Laki-laki Perempuan
I 68 51 119
II 65 57 122
III 83 63 146
IV 65 64 129
V 59 45 104
TOTAL 340 280 620

8. Kurikulum SD Plus Al Kautsar
68

1. Muatan kurikulum:
a. Muatan Umum
Sejak tahun pertama beroperasi SD Plus Al-Kautsar telah
menggunakan Kurikulum 2004, yaitu Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK). Dan mulai tahun pelajaran 2007-2008 telah
disesuaikan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP). Pada dasarnya tidak ada perubahan mendasar pada isinya,
baik Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikatornya,
maka pendekatan pembelajaran yang digunakan tetap sama
dengan pendekatan pembelajaran yang menunjang KBK antara
lain pembelajaran aktif dan terpadu, serta pembelajaran

67
Ibid., hlm. 13
68
Ibid, hlm. 7-10


kontekstual. Sedangkan untuk metode pembelajaran dengan
Multiple Intellegence (MI) mulai diterapkan di kelas 2.
b. Muatan Plus
Di samping menggunakan kurikulum Kurikulum 2004,
yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), SD Plus Al
Kautsar dalam kegiatan pembelajarannya juga menambahkan
Kurikulum khusus berupa Materi Plus. Kurikulum ini disusun
dengan tetap mengacu pada tujuan yang telah ditetapkan, sebagai
salah satu bentuk keunggulan dari SD Plus Al Kautsar. Di dalam
Kurikulum khusus ini memuat tentang materi pembelajaran Plus
yang meliputi: Pembelajaran membaca AlQuran dengan metode
Qiraati, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Hafalan Al Quran (surat
pilihan), Hafalan Hadits-hadits Nabi (pilihan) dan hafalan doa-
doa sehari-hari. Pengembangan kurikulum Plus ini bertujuan
menghasilkan output bernilai plus dalam keseimbangan IMTAQ
dan IPTEK, serta berakhlakul karimah. Adapun muatan materi
plus yang dikembangkan di SD Plus Al-Kautsar Malang
sebagaimana tabel berikut.






Table 4.3
Muatan Materi Plus
69


Kls Smt Al Quran Hadits tentang Doa Sehari-hari
1
I
Surat Al Fatihah
Surat An Naas
Surat Al Ihlash
Surat Al Lahab
Surat An Nashr
Surat Al kautsar
Surat Al fiil
Surat Al ashr
Kebersihan
Berkata benar
Menunjukkan
kebaikan
Kasih sayang
Doa sebelum
makan
Doa sesudah makan
Doa masuk kelas
Doa hendak belajar
II
Surat Al Falaq
Surat Al Kafirun
Surat Al Maun
Surat Quraisy
Surat Al
Humazah
Surat At Takatsur
Dermawan
Syukur Nikmat
Keutamaan
agama islam
bersih / suci
Doa Untuk Kedua
Orang Tua
Doa Kebahagiaan
Dunia Akhirat
Doa Keluar Rumah
Doa Naik
Kendaraan
I
Surat Al Qoriah

69
Ibid, hlm. 19-21

Kls Smt Al Quran Hadits tentang Doa Sehari-hari








2
Surat Al Qadar
Surat At Tin
II
Surat Al adiyat
Surat Al insyirah
Surat Al zalzalah
Sesama Muslim
Bersaudara
Kedudukan Ibu
Dalam Islam
Tujuan
Diutusnya Nabi
Muhammad
SAW.
Keutamaan
Sholat
Berjamaah
Doa Masuk Shof
(barisan) Sholat
Doa Mau Mandi
3 I
Surat Al Alaq
Surat Adh Dhuha
Hadits tentang
Perintah Shalat
Hadits tentang
Meluruskan
Shof/Barisan
Shalat
Hadits tentang
Doa Pembuka
Hati
Doa Mohon diberi
Kecerdasan dalam
Berfikir
Doa Memohon
Pertolongan dalam

Kls Smt Al Quran Hadits tentang Doa Sehari-hari
Perintah
Mencari Ilmu
Hadits tentang
Menunaikan Ibadah
II
Surat Al Bayyinah
surat Al Lail
Hadits tentang
Hidup Hemat
(Tidak boros)
Hadits tentang
Shalat Adalah
Tiang Agama
Hadits tentang
Tekun Bekerja
Doa ketika
Sedih/Malas
Doa Mendapat
Nimat/Anugerah
Doa Memakai
Pakaian
4 I
Surat Asy syams
Surat Al Balad
Hadits tentang
Memuliakan
tamu
Hadits tentang
perintah
Mengucapkan
salam
Hadits tentang
Tata Cara
Memberi
Doa Melepas
Pakaian
Doa Bercermin
Doa Sesudah
Adzan
Doa ketika Bersin
dan Cara menjawab

Kls Smt Al Quran Hadits tentang Doa Sehari-hari
salam
Hadits tentang
Ciri
Kesempurnaan
Iman
II
Surat Al fajr
Surat Al
Ghosyiyah
Adab
Bertetangga
Persatuan Antara
Sesama Mukmin
Larangan
Meninggalkan
Shalat

Doa Sesudah
Belajar
Doa Kebenaran
Doa Sesudah
(Menjawab)
Iqamah
5
I
Surat Al Ala
Surat Ath Thariq
Larangan
meninggalkan
sholat
Sifat amanah
Doa memohon
Petunjuk
Doa Mendapat
Rizki
Doa Ketika Lupa
II
Surat Al Buruj
Surat Al Insyiqaq
Menjauhi sifat
dengki/hasud
Doa persatuan
sesama muslim

Kls Smt Al Quran Hadits tentang Doa Sehari-hari
Adab sholat
jumat
Doa mohon
ditetapkan dan
diteguhkan iman
Doa berbuka puasa
6
I
Surat Al
Muthoffifin
Surat Al Infithar
Larangan
mengadu domba
Taqwa
Doa mohon diberi
kesabaran
Doa mohon
keselamatan
Doa mohon diberi
kemudahan dalam
bekerja dan berfikir
II
Surat At Takwir
Surat Abasa
larangan lemah
keyakinan
(teguh
pendirian)
tolong
menolong
Doa niat zakat
Doa ketika
menerima hadiah
Doa aman dari fakir
dan miskin




2. Hidden curriculum
70

Selain menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP 2006) dan Kurikulum muatan Plus (Materi Plus), SD Plus Al-
Kautsar Malang juga menerapkan Hidden Curriculum, yaitu
kurikulum yang merupakan ciri khas SD Plus Al Kautsar.
Hidden Curriculum merupakan kegiatan terprogram yang
pelaksanaannya tidak terjadwal secara tekstual, namun tetap terarah
sesuai dengan target. Tujuan dilaksanakannya hidden curriculum ini
adalah terbentuknya budaya Islami (Islamic Culture), yaitu dengan
tumbuhnya kesadaran pada diri peserta didik untuk melakukan Salim,
Salam, Sapa, Santun, Disiplin dan selalu menjaga kebersihan diri,
kelas, dan lingkungan
3. Evaluasi hasil belajar
71

Evaluasi hasil belajar merupakan suatu aktifitas yang
dilakukan oleh guru, sekolah, maupun Dinas Pendidikan untuk
mengetahui kompetensi siswa dalam menguasai materi yang sudah
disampaikan. Bentuk Evaluasi yang dilaksanakan di SD Plus Al
Kautsar meliputi kompetensi dalam aspek kognirif, afektif dan
psikomotor. Sistem Penilaian yang digunakan adalah penilaian proses.
Evaluasi tersebut meliputi penilaian hasil belajar harian (PHB), Uji
Kompetensi (UK), Ujian Tengah Semester (UTS), Ujian Akhir
Semester (UAS) dan juga Ujian Materi Plus.

70
Ibid, hlm.8
71
Ibid, hlm.8


B. HASIL PENELITIAN
1. Aplikasi Metode Qiraati dalam meningkatkan kemampuan membaca Al
Quran siswa kelas IV di SD Plus Al Kautsar Malang
Metode Qiraati merupakan salah satu metode baca Al-Quran,
yang merupakan metode yang diterapkan di SD Plus Al Kautsar Malang
dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al-Quran.
Dhiah Saptorini, M.Pd selaku kepala sekolah mengungkapkan bahwa:
SD Plus Al Kaustar menggunakan Metode Qiraati dalam
pembelajaran baca Al-Quran karena SD Plus Al Kautsar
melanjutkan penggunaan metode qiraati yang sudah di terapkan di
TK Plus Al Kautsar, selain itu metode Qiraati memiliki kelebihan
yang tidak di temukan dalam metode baca Al-Quran yang lain,
diantaranya: penerapan langsung cara membaca Al-Quran sesuai
dengan kaidah ilmu tajwid, dan juga memiliki kegiatan organisasi
yang terstruktur.
72


Hal tersebut senada dengan hasil wawancara dengan Syamsuddin,
S. PdI selaku koordinator guru Qiraati SD Plus Al Kautsar Malang
mengatakan bahwa:
SD Plus Al Kautsar Malang menggunakan metode Qiraati ini
mempunyai alasan tetentu. Alasan memilih metode qiraati karena:
siswa mampu mengusai Al-Quran (membaca) dengan lancar, fasih
dan tartil dengan waktu yang cukup singkat, kualitas bacaan sangat
baik/lancar dan tegas dalam artian tidak tawallud, setiap jilid dalam
qiraati mempunyai tekanan yang berbeda dan tingkat kualitasnya
bertahap, metode ini sangat disiplin dan ketat, ustad/guru di
perbolehkan mengajar jika mereka telah bersyahadah (lulus tashih),
buku qiraati tidak terjual bebas di toko-toko namun terkodinir di
setiap koordinator cabangnya masing-masing.
73





72
Wawancara dengan Kepsek SD Plus Al Kaustar, 26 Mei 2009
73
Wawancara dengan Syamsuddin, koordinator guru qiraati SD Plus Al Kautsar, 20 April
2009

Persiapan pelaksanaan
Sebelum proses kegiatan belajar mengajar dilaksanakan, maka
terlebih dahulu yang perlu dipersiapkan adalah guru mempersiapkan alat
peraga atau Al-Quran, kartu absensi siswa, dan materi yang akan
disampaikanserta mampu mengkondisikan siswa ketika baca doa pembukaan.
Hal tersebut senada dengan hasil wawancara dengan Syamsuddin, S. PdI
selaku koordinator qiraati yang mengungkapkan bahwa:
Sebelum pembelajaran dimulai guru mempersiapkan alat
peraga atau Al-Quran, kartu absensi siswa, dan juga materi
yang akan disampaikan. Alat peraga berfungsi sebagai papan
tulis, karena dengan peraga guru tidak perlu lagi menuli. Selain
itu guru juga harus bisa mengelola kelas, karena karakteristik
siswa di sekolah ini berbeda-beda.
74


Jadi, dalam hal ini yang perlu dipersiapkan dalam pelaksanaan
metode qiraati adalah adalah alat peraga atau Al-Quran, karena alat
peraga mempermudah proses pembelajaran. Kartu absensi siswa yang
berfungsi untuk mengetahui tingkat kehadiran siswa. Selain itu setiap
akan melakukan proses pembelajaran guru dan siswa membaca doa
bersama-sama.
75

Selain itu juga dinyatakan oleh Nourma Amaliyah, salah satu guru
qiraati yang menyatakan bahwa:
Untuk persiapan guru dalam melaksanakan metode Qiraati di
SD Plus Al Kautsar Malang yaitu adanya tadarus rutin setiap

74
Wawancara dengan Syamsuddin, koordinator guru qiraati SD Plus Al Kautsar, 20 April
2009
75
Ibid.,

hari rabu diikuti oleh semua guru, tadarus ini dimulai dari jam
10.00-12.00 WIB. Tadarus ini berfungsi menjaga bacaan Al-
Quran agar sama antara guru yang satu dengan yang
lainnya
76


Dalam penyampaian materi agar memiliki kualitas yang sama
maka diadakan tadarus rutin yang berfungsi menyamakan bacaan
antara guru yang satu dengan yang lainnya.
Kegiatan Proses Belajar Mengajar
Aplikasi metode Qiraati pada siswa kelas IV di SD Plus Al
Kautsar yakni pembelajaran menggunakan metode klasikal-individual
serta di tambah dengan materi plus yang meliputi hafalan doa-doa,
Hafalan surat-surat pendek dan hafalan Hadits
Lebih lanjut peneliti melakukan wawancara tentang proses belajar
mengajar, yang dinyatakan oleh Koordinator guru Qiraati untuk
memperkuat, bahwa:
Proses belajar mengajar sesuai dengan jadwal yaitu mulai jam
07.00-07.30 WIB, khusus siswa yang sudah Al Quran.
Sedangkan siswa yang masih di materi jilid pelaksanaan
pembelajaran dilakukan pada jam 06.30-07.30 WIB. Ketika
pembelajaran qiraati berlangsung siswa mendapatkan materi
tambahan seperti hafalan doa-doa, hafalan surat-surat pendek
dan hadits
77


Dalam proses belajar mengajar peneliti juga wawancara dengan
Nourma Amaliyah selaku guru qiraati, ungkapannya yaitu:

76
Wawancara dengan Nourma Amaliyah, Ustadzah SD Plus Al Kautsar, 21 April 2009
77
Wawancara dengan Syamsuddin, koordinator guru qiraati SD Plus Al Kautsar, 20 April
2009

Dalam penerapannya pada siswa yang masih jilid, kegiatan
belajar mengajar menggunakan startegi secara klasikal dengan
peraga Qiraati (milik SD), secara individu dengan baca sendiri-
sendiri dan setor sesuai dengan halaman masing-masing.
Sedangkan siswa yang sudah Al-Quran juga menggunakan
strategi klasikal dengan membaca Al-Quran sebanyak 2
halaman, sedangkan individualnya membaca 5 baris ayat.
Disamping itu meteri plus juga disampaikan.
78


Pembelajaran metode qiraati pada siswa kelas IV dilakukan
pembagian kelas sesuai dengan kemampuan siswa. Siswa yang sudah
Al-Quran pembelajaran dimulai jam 07.00-07.30 WIB, sedangkan
yang masih jilid pembelajaran dimulai jam 06.30-07.30 WIB.
Evaluasi pembelajaran qiraati
Evaluasi pembelajaran qiraati setiap hari yang ditulis dibuku
prestasi siswa dan buku monitoring siswa. Selain itu evaluasi
dilakukan setiap kenaikan jilid dan Al-Quran, dalam tes kenaikan jilid
atau Al-Quran ini terdapat dua tahap yang dilakukan oleh guru kelas
qiraati dan koordinator qiraati.
Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan
Syamsuddin, S. PdI selaku koordinator qiraati, yang menyatakan:
Sebelum siswa naik jilid selanjutnya, terlebih dahulu
diadakan pra tes yang dilakukan oleh guru kelas qiraati, jika
siswa dirasa sudah bagus dan lancar dalam membaca, maka
siswa di tes kenaikan jilid oleh koordinator qiraati. Tes ini
merupakan tes penentuan naik jilid ke jilid selanjutnya. Dan

78
Wawancara dengan Nourma Amaliyah, guru qiraati SD Plus Al Kautsar, 21 April
2009

jika koordinator qiraati memutuskan tidak lulus maka santri
tersebut harus mengulang sampai bisa.
79


Selain itu peneliti juga melakukan wawancara dengan Nourma
Amaliyah, yang mengungkapkan:
Evaluasi pembelajaran qiraati dilakukan setiap hari oleh guru
kelas qiraati yang ditulis di buku prestasi siswa dan buku
monitoring. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan cara
membaca Al-Quran dengan baik.
80


Dari hasil wawancara tersebut evaluasi pembelajaran qiraati
dilakukan setiap hari oleh guru kelas qiraati, yang ditulis di buku
prestasi siswa dan buku monitoring siswa. Jika siswa ingin naik ke jilid
selanjutnya maka diadakan tes terlebih dahulu, tes terbagi dua tahap,
tahap pertama tes dilakukan oleh guru kelas qiraati dan tahap kedua tes
dilakukan oleh koordinator qiraati. Tes yang dilakukan oleh
koordinator qiraati adalah tes penentuan kenaikan jilid ke jilid
selanjutnya. Dan jika koordinator qiraati memutuskan tidak lulus maka
santri tersebut harus mengulang sampai bisa.
2. Kemampuan Membaca Al-Quran Siswa Kelas IV SD Plus Al Kautsar
Malang Setelah Diterapkannya Metode Qiraati

Untuk kemampuan membaca Al-Quran siswa sudah cukup baik
karena siswa sudah mampu membaca Al-Quran sesuai dengan makhraj

79
Wawancara dengan Syamsuddin, koordinator guru qiraati SD Plus Al Kautsar, 20 April
2009
80
Wawancara dengan Nourma Amaliyah, guru qiraati SD Plus Al Kautsar, 21 April
2009


dan tajwidnya. Selain itu siswa sejak awal sudah dilatih membaca Al-
Quran dengan baik dan benar.
Lebih lanjut peneliti juga melakukan wawancara dengan
Syamsuddin, S. PdI selaku koordinator guru qiraati, yang menyatakan
bahwa:
Pada hasil yang dicapai untuk saat ini hasilnya sudah maksimal
karena siswa sudah mampu membaca Al-Quran dengan tartil,
serta mengetahui bacaan gharib dan tajwid. Selain itu dari jumlah
keseluruhan siswa kelas IV, ada 45 siswa yang sudah lulus tashih
dan mendapatkan syahadah. Dengan adanya siswa yang lulus
tashih, membuktikan kemampuan membaca Al-Quran siswa
sudah baik dan merupakan keberhasilan penerapan metode
qiraati. Hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi seluruh
civitas SD Plus Al Kautsar Malang
81


Nourma Amaliyah, selaku guru qiraati menambahkan:
Untuk kemampuan membaca Al-Quran siswa yang sudah
bagus karena siswa sudah berhasil sampai materi ghorib dan
tajwid. Bahkan ada yang lulus tashih, meskipun hanya 45 siswa
saja. Selain itu juga untuk menunjukkan keberhasilannya maka
siswa tersebut mengikuti lomba-lomba tartil dan mendapatkan
juara 1 untuk tingkat kota Malang. Meskipun saat ini siswa kelas
IV yang masih jilid 5 masih ada 6 siswa.
82


Hasil kemampuan baca yang dicapai oleh siswa itu sudah
maksimal, kemampuan baca yang dihasilkan dapat dilihat ketika
terselesainya jilid itu sampai gharib dan tajwid. Dan untuk hasil
kemampuannya antara siswa yang satu dengan siswa yang lain berbeda,

81
Wawancara dengan Syamsuddin, Koordinator guru qiraati SD Plus Al Kautsar, 20
April 2009
82
Nourma Amaliyah, guru qiraati, 21 April 2009

dalam hal ini seperti yang telah di diungkapkan oleh Syamsuddin, S. PdI
selaku koordinator guru qiraati SD Plus Al Kautsar, mengungkapkan:
Untuk hasil kemampuan baca yang telah dicapai oleh siswa
dalam menghatamkan Al-Quran dibagi 3 kelas. Kelas pertama
khatam juz 1-10, kedua juz 11-20 disertai materi gharib, dan
yang ketiga juz 21-30 dengan materi tajwid. Untuk kelas pertama
siswa sudah mampu membaca Al-Quran dengan tartil dan benar
sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Untuk kelas kedua siswa
sudah mampu membaca Al-Quran dengan tartil dan menguasai
bacaan gharib. Sedangkan kelas ketiga siswa mampu membaca
Al-Quran dengan menguasai ilmu gharib dan tajwid.
83


Selain itu Dhiah Saptorini, M. Pd selakuk kepala sekolah
menyatakan bahwa:
Hasil kemampuan membaca Al-Quran Siswa kelas IV sudah
dangat memuaskan, hal tersebut dapat dilihat dari khataman
perdana yang dilaksanakan pada tanggal 18 Juli 2009. Untuk
mengikuti khataman siswa harus melalui tes terlebih dahulu.
Mereka sudah mampu membaca Al-Quran dengan baik dan
benar serta mampu menjelaskan tentang gharib dan ilmu
tajwid.
84


Dari hasil wawancara tersebut dikatakan bahwa di SD Plus Al
Kautsar Malang menggunakan metode Qiraati karena melanjutkan
penerapan pembelajaran Al-Quran yang ada di SD Plus Al Kautsar,
sebelum pelaksanaan pembelajaran guru mempersiapkannya sehingga
dalam pelaksanannya dapat berjalan dengan lancar. Begitu juga dengan
proses belajar mengajarnya juga menggunakan menggunakan strategi
klasikal dan individual serta adanya materi tambahan yang disampaikan.
Oleh karena itu kemampuan membaca Al-Quran siswa kelas IV sudah

83
Ibid, Syamsuddin, 20 April 2009
84
Wawancara dengan kepala sekolah, 26 April 2009

baik, karena adanya siswa yang sudah sampai pada tahap gharib dan
tajwid, bahkan lulus tashih dan mendapat syahadah.
3. Faktor-Faktor Yang Mendukung dan Menghambat Siswa Dalam
Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Quran
1) Faktor Pendukung
Setiap lembaga faktor pendukung itu sangat diperlukan karena
dengan adanya faktor pendukung maka kegiatan belajar mengajar
dapat berlangsung dengan lancar. Menurut Dhiah Saptorini, M. Pd
selaku kepala sekolah dalam menanggapi pertanyaan tentang faktor
pendukung dalam mengaplikasikan metode Qiraati adalah:
Faktor yang sangat mendukung dalam menerapkan metode
Qiraati adalah, siswa dapat datang ke sekolah tepat waktu
sesuai jadwal yang telah ditentukan, terutama siswa yang
masuk pada jam ke nol. Serta tersedianya alat peraga atau
media yang memadai, selain itu wali murid sangat mendukung
program pembelajaran Al-Quran yang diterapkan di SD Plus
Al Kaustar.
85


Untuk mengetahui faktor pendukung dalam pelaksanaan
persiapan baca Al-Quran maka peneliti interview dengan
Syamsuddin, S. PdI selaku koordinator guru qiraati, bahwa:
Untuk berlangsungnya kegiatan belajar mengajar supaya
dapat berjalan dengan lancar maka terdapat faktor pendukung
yaitu membawa Al-Quran dan buku prestasi, selain siswa
yang datang tepat waktu guru juga harus on time Untuk
memperlancar kegiatan belajar mengajar dengan baik maka
harus terdapat peraga ghorib dan tajwid bagi yang sudah Al-
Quran..
86


85
Wawancara dengan Kepsek SD Plus Al Kaustar, 26 Mei 2009
86
Wawancara dengan Syamsuddin, Koordinator guru qiraati SD Plus Al Kautsar, 20
April 2009


Senada dengan hal tersebut juga dikatakan oleh guru Nourma
Amaliyah, bahwa:
Yang menjadi faktor pendukung adalah semua siswa datang
tepat waktu, sedangkan dalam bacaannya yang bisa menjadi
dukungan itu terdapat dua tehnik yaitu teknik klasikal dan
teknik individual. Tehnik klasikal adalah al Quran di baca
secara besama ketika awal pelajaran dimulai, meskipun ada
anak yang baru masuk harus mengikuti tehnik ini. Tehnik
individual ini disesuaikan dengan kelancaran dan kemampuan
masing-masing anak dengan membaca 5 baris.
87



Dari hasil wawancara tersebut telah diketahui bahwa yang
menjadi faktor pendukung adalah antara siswa dan guru yang datang
tepat waktu, adanya strategi pembelajaran, terdapat peraga gharib dan
tajwid bagi yang sudah Al-Quran,.
2) Faktor Penghambat
Dengan adanya faktor pendukung yang mempermudah
kegiatan belajar mengajar, disisi lain juga ada faktor penghambat yang
akan memperlambat jalannya persiapan kegiatan, kegiatan belajar
mengajar serta penilaian. Sebagamana hasil wawancara dengan Dhiah
Saptorini selaku kepala sekolah menyatakan bahwa:
Faktor yang menghambat proses belajar mengajar karena
adanya siswa dan guru yang datang terlambat. Terutama
pembelajaran yang dilaksanakan pada jam ke nol
88


Senada dengan ungkapan kepsek, Nourma Amaliyah selaku guru
qiraati juga mengungkapan hal sebagai berikut:

87
Wawancara dengan ustadzah Nourma Amaliyah, 21 April 2009
88
Wawancara dengan Dhiah Saptorini, Kepsek SD Plus Al Kaustar, 26 Mei 2009

Yang menjadi penghambat dalam persiapan pelaksanaan itu
karena banyaknya siswa yang terlambat datang sehingga
banyak yang tidak mengikuti tadarus secara maksimal. Selain
itu siswa yang tidak memperhatikan pembelajaran merupakan
faktor penghambat karena siswa ketinggalan materi yang telah
di sampaikan. Akibatnya pada waktu tes kelulusan banyak
siswa yang lupa materi tersebut
89


Adapun yang menghambat kegiatan belajar mengajar sehingga
proses belajar mengajar tidak bisa berjalan dengan lancar.
Sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan Syamsuddin, S. PdI
selaku koordinator guru qiraati, ungkapannnya yaitu:
Selain siswa yang terlambat yang bisa menghambat proses
belajar mengajar adalah kurangnya waktu belajar bagi siswa
yang Al-Quran. Waktu belajar yang tersedia bagi siswa Al-
Quran hanya 30 menit, sedangkan tidak sedikit materi yang
harus disampaikan. Selain itu siswa tidak membawa
qiraati/Al- Quran juga merupakan salah satu faktor
penghambat
90



Lebih lanjut peneliti wawancara dengan koordinator guru qiraati
tentang penghambat penerapan metode qiraati, ungkapannya yaitu:
Penghambat penerapan metode qiraati di SD Plus Al Kautsar
yaitu jumlah siswa melebihi jumlah yang di tentukan dalam
metode Qiraati, idealnya dalam satu kelas Al-Quran
maksimal 15 orang, tetapi dalam kenyataannya satu kelas 20
siswa dengan satu guru
91


Dari wawancara tersebut dapat difahami bahwa yang menjadi
faktor penghambat adalah keterbatasan waktu, keterlambatan siswa
dan guru pada jam ke nol, jumlah siswa melebihi kapasitas, dan siswa
yang kurang memperhatikan materi yang di sampaikan guru

89
Wawancara dengan Nourma Amaliyah, Ustadzah SD Plus Al Kautsar, 21 April 2009
90
Wawancara dengan Syamsuddin, koordinator guru qiraati SD Plus Al Kautsar, 20 April
2009
91
Ibid, 20 April 2009

BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN


Setelah ditemukan beberapa data yang diinginkan, baik dari hasil
penelitian observasi, interview maupun dokumentasi, maka peneliti akan
menganalisa temuan yang ada dan memodifikasi temuan yang ada, kemudian
membangun penemuan yang baru serta menjelaskan tentang implikasi-implikasi
dari hasil penelitian.
Sebagaimana diterangkan dalam teknik analisa data dalam penelitian,
peneliti menggunakan analisis kualitatif deskriptif (pemaparan) dari data yang
peneliti peroleh baik melalui observasi, interview dan dokumentasi dari pihak-
pihak yang mengetahui tentang data yang peneliti butuhkan.
Adapun data yang akan dipaparkan dan di analisa oleh peneliti sesuai
dengan rumusan masalah diatas, untuk lebih jelasnya maka peneliti akan
memaparkan hasil temuan penelitian di SD Plus Al Kautsar Malang.

A. Aplikasi Metode Qiraati Dalam meningkatkan Kemampuan Membaca
Al-Quran Pada Siswa Kelas IV di SD Plus Al Kaustar Malang
Metode Qiraati merupakan cara untuk membaca Al-Quran dengan
baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Di SD Plus Al Kautsar
Malang ini menggunakan metode Qiraati sejak pertama kali berdiri yaitu
tahun 2005, dengan menggunakan metode ini diharapkan akan memperoleh
hasil yang baik. Adapun persiapan yang dilakukan sebelum proses kegiatan

belajar mengajar berlangsung para guru diharuskan mempersiapkan alat
peraga atau Al-Quran, kartu absensi siswa, dan juga materi yang akan
disampaikan. Selain itu guru juga harus mampu mengelola kelas dengan
karakteristik siswa yang berbeda-beda.
Setiap minggu guru mengadakan tadarus rutin yang dilaksanakan
setiap hari rabu, yang wajib diikuti seluruh guru qiraati yang ada di SD Plus
Al Kautsar. Tadarus ini berfungsi menyamakan bacaan tajwid antara guru
yang satu dengan yang lainnya. Strategi yang di gunakan dalam pembelajaran
Al-Quran dengan klasikal individual ditambah penyampaian materi
tambahan, seperti hafalan hadits, hafalan doa-doa, hafalan surat-surat pendek.
Penerapan metode Qiraati pada siswa kelas IV di SD Plus Al Kautsar
dilaksanakan mulai jam 07.00-07.30 WIB, bagi siswa yang sudah Al-Quran.
Sedangkan yang masih jilid diadakan jam ke nol yaitu pembelajarannya
dimulai jam 06.30-07.30 WIB, ketika pembelajaran qiraati berlangsung siswa
diberikan materi tambahan.
Penerapan metode Qiraati ini hasilnya cukup baik karena siswa sudah
mampu membaca Al-Quran dengan tartil. Bahkan ada yang lulus tashih dan
sudah mendapat syahadah meskipun hanya 45 siswa saja, meskipun masih
terdapat 6 siswa yang masih di jilid V. Dengan adanya siswa yang lulus tashih
menggambarkan keberhasilan penerapan metode qiraati.
Maka sebagai pedoman hidup, Al-Quran merupakan petunjuk bagi
seluruh umat manusia. M.Quraish Shihab, mengatakan bahwa yang dimaksud
petunjuk adalah petunjuk agama atau syari'at, yaitu peraturan-peraturan yang

mengatur keselamatan hidup dari dunia dan akhirat. Peraturan yang
merupakan petunjuk kejalan yang lurus. Sebagaimana Firman Allah SWT
dalam Al-Quran (Surat Al-Isra' (17) : 9) yang berbunyi:
) # #)9# L=9 %& e; 9# %!# =
Ms=9# & ; #\_& #Z6.
Artinya: Sesungguhnya Al-Quran memberi petunjuk kejalan yang lurus dan
memberi kabar gembira kepada orang-orang yang mengerjakan
amal sholeh bagi mereka adalah pahala yang besar.

Mengingat demikian pentingnya peran Al-Quran dalam memberikan
dan mengarahkan kehidupan manusia, maka belajar membaca, memahami,
dan menghayati Al-Quran untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan
sehari-hari merupakan kewajiban bagi umat Islam.

B. Kemampuan membaca Al-Quran siswa kelas IV SD Plus Al Kautsar
Malang Setelah Diterapkannya Metode Qiraati
Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan kepala sekolah,
koordinator qiraati dan guru kelas qiraati dapat disimpulkan bahwa
kemampuan membaca Al-Quran siswa kelas IV SD Plus Al Kautsar Malang
setelah diterapkannya metode qiraati hasilnya mengalami peningkatan yang
cukup signifikan. Hal tersebut dapat dilihat dari kemmapuan siswa membaca
Al-Quran dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Selain
itu ada siswa yang sudah menguasai bacaan gharib dan tajwid, sehingga
mereka mengikuti tes dan mendapatkan syahadah.

Untuk menunjukkan kemampuan membaca Al-Quran siswa kelas IV
guru mengikutsertakan siswa dalam lomba tartil baik tingkat kecamatan,
wilayah, kota bahkan tingkat propinsi. Dari hasil lomba tersebut siswa
seringkali mendapatkan juara.


C. Faktor-Faktor Yang Mendukung Dan Menghambat Aplikasi Metode
Qiraati Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Quran Pada
Siswa Kelas IV di SD Plus Al Kaustar
Dari hasil interview dan observasi yang penulis lakukan dengan dewan
guru qiraati, dalam hal ini juga dijelaskan oleh koordinator guru qiraati,
bahwasannya aplikasi metode qiraati dalam meningkatkan kemampuan
membaca Al-Quran siswa kelas IV di SD Plus Al Kautsar Malang itu juga
mempunyai faktor pendukung dan juga faktor penghambat.
1. Faktor pendukung
a. Guru
Faktor yang mendukung keberhasilan pelaksanaan proses
kegiatan belajar mengajar qiraati ini di dukung oleh kemampuan para
gurunya sudah lulus tashih. Sebelum guru menyampaikan materi maka
para guru terlebih dahulu mempersiapkan kartu absensi siswa, alat
peraga dan materi yang akan disampaikan. Guru juga harus
mempersiapkan materi yang akan disampaikan dan untuk menjaga
kesamaan bacaan maka setiap hari rabu diadakan tadarus bersama
yang di koordinir oleh koordinator guru qiraati.

b. Siswa
Dalam pelaksanaan pembelajaran baca Al-Quran, siswa
merupakan faktor pendukung yaitu siswa yang masuk tepat pada
waktunya dan siswa yang aktif mengikuti pembelajaran.
c. Sarana dan pra sarana
Dalam hal ini yang terjadi pendukung adalah adanya Al-
Quran, kitab-kitab qiraati, alat peraga yang sudah tersedia langsung di
SD Plus Al Kautsar, artinya para siswa tidak perlu membeli di luar,
karena siswa sudah dapat membeli di kedai sekolah, disamping itu
kitab qiraati tidak di jual secara bebas. Hal ini semua berkat para guru
yang sudah bersyahadah, jadi pengadaan qiraati langsung dapat di
koordinir dari guru tersebut.
2. Faktor penghambat
Disamping faktor pendukung tersebut, ada juga beberapa faktor
yang menghambat, berdasarkan hasil interview dan observasi, faktor
penghambat proses kegiatan belajar mengajar di SD Plus Al Kautsar,
antara lain:
a. Waktu belajar
Faktor yang menghambat dalam kegiatan belajar mengajar
karena keterbatasan waktu, waktu yang dibutuhkan untuk kelas Al-
Quran adalah 60 menit akan tetapi waktu yang tersedia hanya 30
menit, sehingga pembelajaran baca Al-Quran siswa tidak terlaksana
dengan sempurna.

b. Siswa
Siwa yang datang terlambat juga merupakan faktor
penghambat pembelajaran membaca Al-Quran. Siswa yang tidak
aktif, sehingga tetap berada pada jilid yang sama juga sebagai
penghambat dalam pembelajaran baca Al-Quran.
c. Sarana dan prasarana
Di SD Plus Al Kautsar, faktor alat peraga ghorib merupakan
penghambat proses kegiatan belajar mengajar karena alat peraga
gharib jumlahnya hanya satu. Selain itu kurangnya rakel (tempat al
quran) jumlahnya juga sangat sedikit yaitu hanya 34 rakel. Karena
banyak yang rusak dan tidak bisa dipakai sehingga dalam belajar tidak
semua siswa menggunakan rakel.

BAB VI
PENUTUP


A. Kesimpulan
Setelah penulis membahas, melakukan penelitian, dan menganalisis
hasil-hasil penelitian sebagaimana yang telah di rencanakan, maka peneliti
dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Aplikasi Metode Qiraati pada siswa kelas IV SD Plus Al Kautsar adalah
sebelum pelaksanaan pembelajaran metode Qiraati ini diterapkan yang
dilakukan oleh para guru yaitu menyiapkan alat peraga, kartu absensi serta
membaca doa ketika akan memulai pembelajaran. Pelaksanaannya bagi
yang sudah Al-Quran dimulai jam 07.00-07.30 WIB (30 menit),
sedangkan yang masih jilid pembelajaran dimulai jam 06.30-07.30 WIB
(60 menit) pembelajaran menggunakan strategi klasikal dan individual
dengan ditambah materi plus yaitu hafalan doa-doa, surat-surat pendek
dan hadits. Sedangkan evaluasi siswa dilakukan setiap hari oleh guru
kelas dan tes kenaikan jilid dilakukan oleh koordinator qiraati.
2. Kemampuan membaca Al-Quran siswa kelas IV SD Plus Al Kautsar
Malang setelah diterapkannya metode qiraati hasilnya cukup memuaskan.
Hal tersebut dapat dilihat dari kemampuan siswa membaca Al-Quran
dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Selain itu bagi
siswa yang sudah menguasai bacaan gharib dan tajwid, mereka dapat
mengikuti tes dan mendapatkan syahadah.

Untuk menunjukkan kemampuan membaca Al-Quran siswa kelas IV guru
mengikutsertakan siswa dalam lomba tartil baik tingkat kecamatan, tingkat
kota, bahkan tingkat propinsi. Dari hasil lomba tersebut siswa seringkali
mendapatkan juara.
3. Faktor pendukung dan penghambat dalam melaksanakan baca tulis Al-
Quran adalah Faktor pendukung: setiap guru yang mengajar sudah
ditashih terlebih dahulu, siswa yang masuk tepat waktu, siswa aktif dan
rajin, menggunakan sarana dan prasarana yakni tersedianya alat peraga.
Sedangkan Faktor penghambatnya: ada siswa yang terlambat,
keterbatasan waktu, kurangnya jumlah peraga gharib dan rakel.


B. Saran
Dari hasil kesimpulan, ada beberapa hal yang perlu diungkapkan
sebagai saran dalam rangka meningkatkan kemampuan baca Al-Quran, antara
lain :
1. Bagi Kepala Sekolah
Kepala Sekolah hendaknya lebih meningkatkan proses belajar mengajar
metode Qiraati, terutama penambahan jam belajar demi peningkatan
kemampuan baca Al-Quran.
2. Bagi Para Guru
Bagi para guru kelas qiraati hendaknya meningkatkan proses pembelajaran
baca Al-Quran tidak ganti-ganti guru, karena dengan tetapnya guru dalam

mengajar maka akan mudah mengetahui perkembangan yang dialami
siswa.
3. Bagi Sarana dan Pra Sarana
Untuk memperlancar berjalannya proses pembelajaran baca Al-Quran,
seharusnya ditingkatkan sarana dan prasarananya terutama rakel untuk
siswa.





DAFTAR PUSTAKA



Achrom, Shodiq, Nur. 1996. Pendidikan Dan Pengajaran Al- Quran Sistem
Qoidah Qiroati.


Ahmad Alwafa Wajih, 1996. Maqolah Qiroaty , Korcab Gresik


Ali Utsman, Nur, Pendidikan Al-Quran Metode Qiroati Dinamika Dan
Perkembangannnya. Malang: Tim Pembina Pendidikan Al-Quran
Metode Qiroati Koordinator Cabang Malang II


Arikunto, Suharsimi. 1993. Menejemen Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.


Ash Siddieqy, M. Hasbi. 1992. Sejarah Dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir.
Jakarta: PT Bulan Bintang.


Darajat, Zakiah 2004. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta:
Bumi Aksara


Depag RI, 1971. Al-Quran dan Terjemahnya Jakarta: Surya Cipta


Depdiknas, 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka


Huda, PP. Nurul. 2002. Materi Pembinaan Mengajar Al-Qur'an Metode Qiroati.
Singosari-Malang.


John. M. Echols dan Hassan Shadily, 1996. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta:
PT. Gramedia,


J.Moleong, Lexi. 2002.Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja
Rosda Karya



Kepala TPQ Nahdlatul Ulum,, 2005. Panduan Materi Pengajaran Qiroati Jilid
1 Ghorob Dan Materi Tambahan, Malang


Margono, 2006. Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta


Muhaimin, 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam. Bandung:
Nuansa


Mulyana, Dedi. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu
Komunikasi Dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosda
karya.


Nasution. 1988. Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif. Bandung: Tarsito.


Qoidah Baghdadiyah Maa Juz Amma. Surabaya: Terbit Terang


RI, Depdikbud. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.


Rumidi, Sukandar, 2004. Metodologi Penelitian: Petunjuk Praktis Untuk
Peneliti Pemula,Yogyakarta: Gadjah Mada University Press


Shalihah, Khadijatus. 1983. Perkembangan Seni Baca Al-Quran Dan Qiroat
Tujuh Di Indonesia. Jakarta: Pustaka Al-husna.


Sudjana, Nana 1989. Metode Statistik .Bandung: Tarsito


Supardi. 2004. Perbandingan Metode Baca Quran Bagi Pelajar di TKA/TPQ
Kelurahan Bareng Malang . Lemlit Stain Mataram.


Suwaid, Muhammad. 2003. Mendidik Anak Bersama Nabi. Solo: Pustaka Arafah


Syarifuddin, Ahmad 2004. Mendidik Anak Membaca, Menulis, dan Mencintai
Al-Quran. Jakarta:Gema Insani


Team Tadarrus AMM, 1994. Kumpulan Seratus Hadits. Yoqyakarta: Penerbit
Team Tadarrus AMM


Zarkasyi, Dahlan 1987, Merintis Qiroaty Pendidikan TKA, Semarang


Zuhairini, Abdul Ghafir, 2004. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam, Malang: Universitas Islam Negeri Malang



SURAT KETERANGAN
Nomor: /MI. ARH/III/2009

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Dhiah Saptorini, M.Pd
Jabatan : Kepala Sekolah SD Plus Al Kautsar
Malang
Alamat : L.A. Sucipto 338 Pandan Wangi
Malang

Menerangkan bahwa:

Nama : Mariatul Ulfah, A.Ma
Nim : 07140084
Fakultas : Tarbiyah
Jurusan : Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)
Perguruan Tinggi : Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik
Ibrahim Malang

Yang bersangkutan benar-benar telah melakukan penelitian untuk
menyelesaikan tugas akhir (skripsi) dengan judul Aplikasi Metode Qiraati
Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Quran di Sd Plus Al
Kautsar Malang. di Sekolah SD Plus Al Kautsar Malang sejak tanggal 02
April 2009 sampai tanggal 30 Juni 2009.

Demikian surat keterangan ini kami buat untuk digunakan sebagaimana
mestinya.

Malang, 30 Juni 2009
Kepala MI. Ar-Rahmah





Dhiah Saptorini, M. Pd
NIP. 992 085 001

BUKTI BIMBINGAN SKRIPSI

Nama
NIM
Fakultas/Jurusan
Pembimbing
Judul Skripsi


:
:
:
:
:
MARIATUL ULFAH
07140084
TARBIYAH/ PGMI
Drs. H. A. Fatah Yasin, M.Ag
Aplikasi Metode Qiraati Dalam Meningkatkan
Kemampuan Membaca Al-Quran Pada Siswa Kelas IV di
SD Plus Al Kautsar Malang.

No Tanggal
Materi Yang
Dikonsultasikan
Tanda Tangan
Pembimbing
1 Konsultasi Judul dan Proposal


2 Revisi Proposal


3 ACC Proposal


4 Konsultasi BAB I


5 ACC BAB I


6 Konsultasi BAB II & BAB III


7 ACC BAB II & BAB III


8
Konsultasi dan Revisi BAB
Keseluruhan


9 ACC Keseluruhan


Malang, 24 Juli 2009
Mengetahui,
Dekan Fakultas Tarbiyah





Dr. Zainuddin, M A
NIP. 150 275 502








































Kabid.
Kesiswaan

Kepala Sekolah
Kabid.
Kurikulum
Kabid. Adm
Umum
Koordinator,
Wali Kelas &
Guru
Kabid. Humas
Kabag.
Pengajaran
Kabag. Tata
Usaha
Kabag.
PubKomInfo
Kabag. EksKul
Kabag. Layanan
Khusus
B & K
Konseling
U K S
Kabag.
wirausahaan
Sosial
C S O
Penerbitan
Kedai Siswa
Catering
Koperasi
Peserta Didik
Kabag. P S B
K B M
Laboratorium
Perpustakaan
Adm.
Pengajaran
Kabag. RT
Pengadaan
Sarpras
Pemhr.Sarpras
Kedai
Satpam
Kesekretariatann
Kepegawaian
Keuangan
Konsumsi
Yayasan Pelita
STRUKTUR ORGANISASI SD PLUS AL KAUTSAR

JADWAL PEMBELAJARAN AL-QURAN METODE QIRAATI
SD PLUS AL KAUTSAR MALANG
TAHUN AJARAN 2008-2009

NO Jam Belajar Keterangan
1 06.30-07.30 WIB Siswa kelas IV dan V yang masih jilid
2 07.00-07.35 WIB Siswa kelas IV yang sudah Al-Quran
3 07.35-08.45 WIB Siswa kelas I
4 08.45-09.50 WIB Siswa kelas II
5 12.50-14.00 WIB Siswa kelas III



(Gedung SD Plus Al Kautsar)





















(Wawancara dengan Kepsek)




















(Tadarus Rutin Guru Qiraati)





















(Kondisi Siswa Saat Tadarus)


RIWAYAT HIDUP PENELITI



Nama
NIM
Tempat Tanggal Lahir
Fak./Jur./Prog. Studi
Tahun Masuk
Alamat Rumah
No. Tlp Rumah/Hp







RIWAYAT HIDUP PENELITI



: Mariatul Ulfah, A.Ma
: 07140084
Tempat Tanggal Lahir : Malang, 08 Agustus 1983
: Tarbiyah, PGMI, Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah.
: 2005-2006
: Jln. Abdillah gang 1 No. 27 Pakis Malang
: (0341) 795234
0878 597 369 79
Malang, 24 Juli 2009
Mahasiswa
(.)


Tarbiyah, PGMI, Pendidikan Guru Madrasah
gang 1 No. 27 Pakis Malang
Juli 2009
(.)