Anda di halaman 1dari 80

ANALISIS LOKASI USAHA TERHADAP PENJUALAN

(Pada Pedagang Buah di Sepanjang Jl. Sersan Harun Pasar


Besar Malang)

SKRIPSI

Diajukan Kepada :
Dekan Fakultas Ekonomi UIN Malang
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam
Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE)

Oleh
ETY MASLAHAH
NIM : 03220052







JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
2007






HALAMAN PERSETUJUAN

ANALISIS LOKASI USAHA TERHADAP PENJUALAN
(Pada Pedagang Buah di Sepanjang Jl. Sersan Harun Pasar
Besar Malang)

SKRIPSI

Oleh
ETY MASLAHAH
NIM : 03220052



Telah Disetujui 19 September 2007
Dosen Pembimbing,


DR. MASYHURI, Ir., MP


Mengetahui :
Dekan ,



Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA
NIP.150231828







LEMBAR PENGESAHAN


ANALISIS LOKASI USAHA TERHADAP PENJUALAN
(Pada Pedagang Buah di Sepanjang Jl. Sersan Harun Pasar
Besar Malang)

SKRIPSI

Oleh

ETY MASLAHAH
NIM : 03220052

Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji
dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE)
Pada 28 September 2007


Susunan Dewan Penguji Tanda Tangan
1. Ketua
Drs. Surjadi, SE., MM : ( )
NIP.

2. Sekretaris/Pembimbing
DR. Masyhuri, Ir., MP : ( )
NIP.

3. Penguji Utama
Drs. Nur Asnawi, MA : ( )
NIP. 150295491



Disahkan Oleh :
Dekan,



Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA
NIP. 150231828





SURAT PERNYATAAN


Yang bertandatangan di bawah ini saya :
Nama : Ety Maslahah
NIM : 03220052
Alamat : Mertojoyo Selatan Gg I, No 21 Malang

Menyatakan bahwa SKRIPSI yang saya buat untuk memenuhi
persyaratan kelulusan pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Negeri ( UIN) Malang, dengan judul:

ANALISIS LOKASI USAHA TERHADAP PENJUALAN (Pada
Pedagang Buah di Sepanjang Jl Sersan Harun Pasar Besar Malang)

Adalah hasil karya sendiri, bukan Duplikasi dari karya orang lain.

Selanjutnya apabila kemudian hari ada klaim dari pihak lain, bukan
menjadi tanggung jawab Dosen Pembimbing dan atau pihak Fakultas
Ekonomi, akan tetapi menjadi tanggungjawab saya sendiri.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan
tanpa paksaan dari siapapun.



Malang, 19 September 2007
Hormat saya,




ETY MASLAHAH
NIM ; 03220052








PERSEMBAHAN




Kupersembahkan karyaku kepada orang-orang yang berjasa dalam
hidupku
Kedua orangtuaku yang telah bekerja keras demi aku
Bapak dan ibu dosen yang telah membimbing dan mendidikku
Teman-temanku semua dimanapun berada
































MOTTO





y yy ym mm mr rr r& && &u uu u ! !! !$ $$ $# ## # y yy y t tt t7 77 7 9 99 9$ $$ $# ## # t tt t y yy ym mm mu uu u ( (( (# ## #4 44 4 t tt t/ // / h hh h 9 99 9$ $$ $# ## # 4 44 4

Artinya : Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS
AL-Baqoroh : 275)



































KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan
Rahmat, Nikmat, dan Hidayah-Nya, sholawat serta salam semoga tetap
tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW pembawa
kebenaran yang patut kita ikuti jejaknya sampai ahkir hayatnya.
Dengan petunjuk-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
ANALISIS LOKASI USAHA TERHADAP PENJUALAN (Pada
Pedagang Buah di sepanjang Jl. Sersan Harun Pasar Besar Malang).
Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan
terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan
sehingga penulis bisa menyelesaikan penulisan skripsi ini. Oleh sebab itu
dengan segala kerendahan hati dan rasa hormat, penulis menyampaikan
rasa terima kasih sedalam-dalamnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor UIN Malang.
2. Bapak Drs. HA. Muhtadi Ridwan, MA selaku Dekan Fakultas
Ekonomi UIN Malang.
3. Bapak DR. Masyhuri, Ir., MP selaku dosen pembimbing berkat
kesabaran beliau dalam membimbing dan memberi arahan serta
masukan yang amat berguna bagi penulis sehingga
terselesaikannya penulisan skripsi ini.




4. Seluruh dosen Fakultas Ekonomi yang telah mengajarkan ilmunya
kepada penulis selama belajar di universitas ini.
5. Seluruh staf Fakultas Ekonomi yang telah membantu bagian
administrasi.
6. Bapak, Ibu, dan adiku tercinta, atas dukungan dan doa selama ini
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
7. Kak sham yang telah memotivasi, membantu dan berbagi baik
suka maupun duka.
8. Seluruh teman-temanku angkatan 2003 dan semua yang tidak bisa
aku sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan
dan kesalahan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran
dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini, atas perhatian dan masukan
kami ucapkan terimakasih.

Malang, 19 September 2007
Penulis

( ETY MASLAHAH )









DAFTAR ISI


HALAMAN SAMPUL.... i
HALAMAN PERSETUJUAN... ii
HALAMAN PENGESAHAN.. iii
HALAMAN PERSEMBAHAN.....v
MOTTOvi
KATA PENGANTAR... vii
DAFTAR ISI... ix
DAFTAR TABEL... xi
DAFTAR GAMBAR. xii
DAFTAR LAMPIRAN.... xiii
ABSTRAK .... xiv

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar belakang.. 1
B. Rumusan masalah........ 4
C. Tujuan penelitian. 5
D. Manfaat penelitian ...... 5

BAB II : KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian terdahulu 6
B. Kajian teori 8
1. Lokasi usaha... 8
2. Memilih lokasi bisnis eceran. . 10
3. Pedagang kaki lima.. 13
4. Karakteristik pedagang kaki lima.............. 15
5. Faktor penyebab timbulnya PKL........... 17
6. Penjualan .. 18
7. Tujuan penjualan...... 19
8. Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan penjualan. 19
9. Proses penjualan... 21
10. Hubungan lokasi usaha dengan penjualan.. 22
11. Lokasi dan penjualan dalam perspektif islam. 23
12. Kerangka pikir...... 24
13. Model hipotesa. 26
14. Hipotesa. 26

BAB III : METODE PENELITIAN
A. Lokasi penelitian.. . 28
B. Jenis penelitian... 28
C. Sumber data 29




D. Metode pengumpulan data.. 30
E. Definisi operasional variabel ... 31
F. Skala Pengukuran.. 33
G. Instrumen Penelitian.. 32
1. Validitas. 34
2. Reliabelitas 35
H. Tehnik Analisis Data. 36
1. Analisisdeskriptif. 36
2. Analisis regresi linier berganda. 36

BAB IV : PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN HASIL
PENELITIAN
A. Gambaran umum lokasi penelitian 40
B. Hasil Penelitian.. 41
1. Karakteristik responden. 41
2. Gambaran distribusi item.. 45
3. Uji validitas.. 51
4. Uji reliabilitas 52
5. Analisis regresi linier berganda. 53
C. Pembahasan hasil penelitian ... 54
1. Analisis dan interpretasi secara simultan 54
2. Analisis dan interpretasi secara parsial 55
3. Analisis dan interpretasi variabel dominan 57

BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan. 60
B. Saran. 62

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

















DAFTAR TABEL

Tabel.3.1 : Konsep, variabel, indikator dan item.. 32
Tabel.4.2 : Tabel karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin.. 42
Tabel.4.3 : Tabel karakteristik responden berdasarkan perkawinan 42
Tabel.4.4 : Tabel karakteristik responden berdasarkan pendidik.. 43
Tabel.4.5 : Tabel karakteristik responden berdasarkan usia... 44
Tabel.4.6 : Tabel karakteristik sarana jual responden.. 44
Tabel.4.7 : Tabel distribusi frekuensi item variabel kemudahan untuk
dilihat... 45
Tabel.4.8 : Tabel distribusi frekuensi item variabel kemudahan untuk
dikunjungi........ 47
Tabel.4.9 : Tabel distribusi frekuensi item variabel kesesuaian dengan
sarana jual... 48
Tabel.4.10 : Tabel distribusi frekuensi item variabel realisasi . . 50
Tabel.4.11 : Tabel hasil uji validitas... 51
Tabel.4.12 : Tabel hasil uji reliabilitas.... 52
Tabel.4.13 : Rekapitulasi hasil regresi linier berganda... 54















DAFTAR GAMBAR


Gambar 2.1 : Kerangka pikir.. 25
Gambar 2.2 : Model hipotesa..... 26





























DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Data jawaban responden
Lampiran 2 : Frekuensi jawaban responden
Lampiran 3 : Uji validitas dan uji reliabilitas
Lampiran 4 : Analisis regresi linier berganda
Lampiran 5 : Daftar kuesioner


























ABSTRAK

Maslahah, Ety. 2007, SKRIPSI. Judul: Analisis Lokasi Usaha Terhadap
Penjualan (Pada Pedagang Buah di Sepanjang Jl. Sersan
Harun Pasar Besar Malang.
Pembimbing : DR. Masyhuri, Ir., MP

Kata Kunci : Lokasi usaha, penjualan

Tempat/lokasi usaha merupakan salah satu unsur dari bauran
pemasaran yang sangat penting bagi kelangsungan suatu usaha, terutama
bagi para PKL disepanjang Jl. Sersan Harun pasar besar Malang.
Keberadaannya yang cenderung bertahan di lokasi tersebut menarik
untuk diteliti. Padahal kita ketahui tempat/lokasi tersebut dilarang oleh
pemerintah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
apakah variabel pemilihan lokasi usaha berpengaruh terhadap penjualan
para pedagang tersebut sehingga mereka tetap bertahan.
Penelitian ini merupakan penelitian explanatory dengan
pendekatan surve. Jumlah sampel sebanyak 64 orang , sedangkan teknik
pengambilan menggunakan Acak Sederhana. Variabel bebasnya terdiri
dari kemudahan untuk dilihat (X1), kemudahan untuk dikunjungi (X2),
kesesuaian dengan sarana jual (X3) dan variabel terikatnya adalah
realisasi penjualan (Y). Pengujian instrumen menggunakan uji validitas,
uji reliabelitas. Sedangkan metode analisis data menggunakan regresi
linier berganda dengan uji F dan uji t.
Hasil penelitian menunjukan variabel kemudahan untuk dilihat
(X1), kemudahan untuk dikunjungi (X2), serta kesesuaian dengan sarana
jual (X3) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap realisasi
penjualan. Dari penghitungan uji F di peroleh F hitung 16,968 > F tabel
2,75. selain itu nilai Adjusted R Square yang sebesar 0,432 yang berarti
besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat adalah 43,2 %.
Dan uji t diketahui bahwa secara parsial variabel kemudahan untuk
dikunjungi (X2) dan kesesuaian dengan sarana jual mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap variabel terikatnya sedangkan variabel
kemudahan untuk dilihat (X1) tidak berpengaruh secara signifikan
dengan t hitung variabel kemudahan untuk dikunjungi (X1) sebesar -0,771
< t tabel 2,000, kemudahan untuk dikunjungi (X2) sebesar 2,522 > tabel
2,000, kesesuaian dengan sarana jual (X3) sebesar 3,237 > t tabel 2,000.
Diduga ada variabel lain yang mempengrauhi dalam pemilihan lokasi
usaha selain ketiga variabel diatas. Disarankan untuk peneliti selanjutnya
untuk mencari dan menyempurnakan penelitian sebelumnya.






ABSTRACT

Maslahah, Ety. 2007. Thesis. Title : Location Analysis Effort to sale (at
merchant of Fruit Alongside Sergeant Harun Street Malang)
Advistor: DR. Masyhuri, Ir., MP.

Key Words: Location Effort, Selling.

Business location or place is one of the very important elements of
the mixture marketing that is important for the existence of a business,
especially for all merchants of cloister (PKL)alongside Sergeant Harun
street, Malang.Its existence that tend to stay in that location is intetesting
to be researched. Eventhough we know that its location or place is
forbidden by the government. Therefore, this research aim is to know
whether the choosing of business location variabel influences the sale of
all the merchants, so that they are keen to stay.
This research is a Explanatory research by using survey approach.
The numer of sampel was 64 people, while the data collection used is
simple random sampling. The free variables consist of the amenity to be
seen (X1), the amenity to be visited (X2) and the approprianteness to the
selling medium (X3) and the bound variable is the selling realization (Y0.
The instrument testing used are validity test and reliability test. While the
data analysis method used is double linier regression with F
test
and t
test
.
The result of this research indicated that the amenity to be seen
variable (X1), the amenity to be visited (X2) and the approprianteness to
the selling medium simultaneously influence significantly to selling
realization. From the accounting of F
test
, it is found that F
account
16,968
F
table
2,75. Besides, the value of Adjusted R Square is 0,432 that means the
influence level of the free variable to the bound variable is 43,2%. And
from t
test
, it is found that partially the amenity to be visited (X2) and the
appropriateness to the selling medium have significance influence to the
bound variable, while the amenity to be seen (X1) has no influence
significantly to t
account
to the amenity to be seen variable (X2) is -0,771
t
table
2,000, the amenity to be visited (X2) is 2,522 t
tabel
2,000, the
appropriateness to the selling medium (X3) is 3,237 t
table
2,000. it is
assumed that there are other variables which influence in the choosing of
business location besides those three variables above. It is suggested for
the next researcher to find and complete this research.









:

.
: .
:


. .
.
.
.
. (X1)
(X2) (X3) (Y) .
.
F t .
(X1) (X2) (X3)
. >
.
.% (X2)
(X3) . (X1)
(X1) > .
(X2) > . (X3) <
. .
.









BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Marketing mix (bauran pemasaran) adalah kombinasi dari empat
variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran
perusahaan, yakni produk, struktur harga, kegiatan promosi dan tempat,
(Swastha, 2001 : 193).
Lokasi atau tempat usaha yang merupakan salah satu unsur
dalam bauran pemasaran yang memegang peranan penting dalam
menjalankan kelangsungan usaha. Ketepatan dalam pemilihan lokasi
usaha merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dan
dipertimbangkan dengan matang dalam menjalankan suatu usaha.
Sebagai salah satu unsur dari bauran pemasaran, lokasi atau tempat usaha
diharapkan dapat mendukung keberhasilannya tujuan dari program
pemasaran. Lokasi yang tepat bagi bidang usaha merupakan modal untuk
mencapai tujuan demikian juga sebaliknya pemilihan lokasi yang salah
akan menghambat segala gerak gerik usaha sehingga akan membatasi
kemampuan memperoleh keuntungan maupun kelangsungan usaha.
Seperti diketahui bahwa sebuah produk yang berkualitas baik dan
ditambah dengan promosi yang gencar, kemudian dijual dengan harga
yang menarik tidak akan dapat mencapai keuntungan yang optimal




apabila produksen kurang memperhatikan lokasi tempat usahanya dalam
artian lokasi itu mudah dijangkau, terletak ditempat ramai yang juga
merupakan faktor kunci dalam kemampuan pengusaha menarik
pelanggan. Dengan demikian banyaknya bentuk usaha yang dilakukan
maka setiap usaha juga membutuhkan lokasi tersendiri bagi usahanya.
Salah satu bentuk usaha yang memerlukan adanya lokasi usaha
yang tepat adalah sektor informal pedagang kaki lima. Hampir disetiap
pusat keramaian kota banyak dijumpai pedagang kaki lima, keberadaan
pedagang kaki lima sering kali tidak sejalan dengan kebijakan yang
diterapkan oleh pemerintah kota setempat, karena kehadiran pedagang
kaki lima sering kali mengakibatkan kekotoran dan merusak
pemandangan tata kota.
Keberadaanya pedagang kaki lima memang sering tidak sejalan
dengan kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah Daerah. Hal ini sebagai
akibat adanya ketidaksamaan antara keinginan pemerintah daerah untuk
mengatur dan memperindah kota dengan kebutuhan ekonomi para
pedagang kaki lima. Bagi pedagang kaki lima dengan menempati lokasi
usaha yang strategis maka mereka akan memperoleh pendapatan yang
cukup besar. Sehingga dalam praktek kebijakan tata kota sektor ini sering
kali mendapat perlakuan yang kurang baik.






Begitu pula yang terjadi di Pasar Besar Malang yang situasinya
tidak jauh berbeda dengan pasar pada umumnya. Pasar besar banyak
dipilih oleh para pedagang sebab selain lokasinya strategis juga memiliki
bangunan permanen bertingkat dua yang cukup besar dan layak sebagai
tempat untuk membuka usaha. Para pedagang disini dibedakan menjadi
dua, yaitu pedagang yang menetap didalam bangunan dan diluar
bangunan pasar atau yang disebut pedagang kaki lima. Para pedagang
kaki lima yang berjualan diluar gedung khususnya di sepanjang Jl. Sersan
Harun sangat mengganggu jalannya transpotasi yang kerap kali
mengakibatkan macet. Lokasi dijalan ini sebenarnya dilarang oleh
pemerintah kota namun para pedagang cendrung bertahan ditempat ini.
Kebanyakan pedagang di Pasar Besar ini memang tidak memiliki tempat
atau ruang untuk berjualan. Sebagian besar mereka hanya berjualan di
emperan dan di pinggir jalan, dan alat atau sarana jual merekapun
sederhana seperti meja, kereta dorong, plastik, tikar, dan lainnya, begitu
juga barang yang mereka jualpun bervariasi misalnya: makanan,
minuman, buah-buahan, alat rumah tangga, sayur mayur, asesoris dan
masih banyak lagi. Dari pengamatan yang peneliti lakukan mayoritas
pedagang kaki lima dipasar besar menjual buah-buahan sehingga dalam
penelitian ini hanya pedagang buah saja yang akan di teliti. Walaupun
demikian para pedagang diharapkan tetap harus mempertimbangkan
sekali mengenai hal pemilihan lokasi demi kelangsungan usahanya.




Dengan demikian kebutuhan akan lokasi bagi aktivitas pedagang
kaki lima merupakan hal yang logis, mengingat perdagangan fisik sebagai
tumpuan kegiatan pedagang kaki lima serta dengan segala keterbatasan
kemampuan yang dimiliki, tidaklah mengherankan bila pedagang kaki
lima mengambil lokasi yang strategis dalam arti demi kelancaran
pemasaran produknya untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik.
Dari keadaan tersebut mendorong peneliti untuk mengadakan
penelitian dengan judul "ANALISIS LOKASI USAHA TERHADAP
PENJUALAN" (Pada Pedagang Buah di Sepanjang Jl. Sersan Harun Pasar
Besar Malang).

B. Rumusan Masalah
Dari persoalan umum diatas, maka secara spesifik dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah variabel pemilihan lokasi usaha yang meliputi Kemudahan
untuk dilihat (X1), Kemudahan untuk dikunjungi (X2), Kesesuaian
dengan sarana jual (X3) berpengaruh terhadap variabel realisasi
penjualan secara parsial maupun simultan ?
2. Dari variabel diatas manakah yang paling dominan pengaruhnya
terhadap penjualan ?






C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui apakah variabel pemilihan lokasi usaha yang
meliputi Kemudahan untuk dilihat (X1), Kemudahan untuk
dikunjungi (X2), Kesesuaian dengan sarana jual (X3) berpengaruh
terhadap variabel realisasi penjualan secara parsial maupun
simultan .
2. Untuk mengetahui variabel mana yang paling dominan
berpengaruhnya terhadap penjualan.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis
a. Menambah wawasan para pedagang kaki lima dalam
menentukan lokasi usahanya.
b. Untuk aplikasi ilmu yang didapat penulis selama kuliah.
2. Bagi Dunia Pendidikan
a. Menambah koleksi dan khasanah pengetahuan dibidang
manajemen pemasaran.
b. Sebagai salah satu bahan rujukan dalam penelitian manajemen
pemasaran selanjutnya.







BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu
Penelitian serupa dilakukan oleh : Ana Lutfia (2000) dengan judul
"Pengaruh Tempat Usaha Terhadap Penjualan" (Studi pada pedagang kaki
lima di sepanjang JL H. Agus Salim Malang ). Jenis penelitian yang
digunakan adalah explanatory (penjelasan) dengan menggunakan
kuesioner sebagai alat pengumpul data, tehnik data yang digunakan
adalah Simple Rondom Sampling dan penelitian ini dibatasi pada pedagang
kaki lima yang berpindah sebelum akhirnya berdagang dilokasi. Dengan
jumlah responden yang diambil sebanyak 86 orang dan metode
analisisnya menggunakan metode bevariat dan multibevariat.
Pada penelitian ini menggunakan tiga variable bebas yaitu
Kemudahan untuk dilihat orang X1, Kemudahan utnuk dikunjungi orang
X2, dan Kesesuaian dengan sarana jual X3. Sedangkan variable terikatnya
(Y) adalah variabel realisasi penjualan.
Dari hasil penelitiannya dapat diketahui bahwa terdapat
pengaruh antara variable terikat (Y) terhadap variable bebas(X1) dengan
koefisien regresi berganda sebesar 0,262, t hitung 3,888, p sebesar 0,000
terhadap variable bebas (X2) koefisien regresi linier berganda 0,313, t
hitung sebesar 2,735, p sebesar 0,008 terhadap variable bebas (X3)




koefisien regresi linier berganda sebesar 0,219, t hitung sebesar 2,664, p
sebesar 0,009.
Dinawati, (2002) dengan judul "Pengaruh Lokasi Usaha Terhadap
Penjualan " (Studi pada Rumah Makan Minang dikelurahan Lowokwaru
dan Blimbing Malang) dengan sampel yang diteliti dari 45 orang pemilik
rumah makan minang dengan menggunakan penelitian Explanatory
diketahui dari variable bebasnya adalah variable Kemudahan lokasi usaha
(X1), Situasi lokasi usaha (X2), Biaya lokasi (X3) mempunyai pengarugh
yang signifikan secara bersama sama terhadap variable terikatnya realisasi
penjualan (Y) dan varibel kemudahan lokasi usaha yang mempunyai
terhadap vareabel realisasi penjualan.
Analisa pada penelitan ini menggunakan uji korelasi berganda,
uji regresi berganda, dan uji parsial. Berdasarkan data secara statistik dari
pengolahan computer SPSS versi windows dapat dibuktikan bahwa ketiga
variable bebas diatas mempunyai pengaruh yang signifikan secara
bersama sama terhadap variabel terikat realisasi penjualan dan dari ketiga
vareabel tersebut yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap
penjualan adalah variabel kemudahan lokasi usaha.
Perbedan penelitian ini dengan dahulu adalah terletak pada
empat, obyek dan jumlah sampel yang diambil (untuk diteliti), sedangkan
untuk analisis datanya menggunakan uji t hitung, f hitung dan regresi
linier ganda yang datanya dari hasil kuesioner yang diolah.




B. Kajian Teori
1. Lokasi Usaha
Berkenaan dengan unsur bauran pemasaran yang keempat yaitu
place, tempat dapat diartikan sebagai segala hal yang menunjukan pada
berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk membuat produk
dapat diperoleh dan tersedia bagi pelanggan sasaran (Kotler, 1997 : 82).
Place berkaitan dengan upaya menyampaikan produk yang tepat
ketempat pasar sasaran produk yang baik dan berkualitas tidak akan
banyak artinya apabila yang baik dan berkualitas tidak akan benyak
artinya apabila tidak tersedia pada saat dan tempat yang diinginkan. Place
dalam bauran pemasaran ini adalah lokasi usaha, kebanyakan pihak
percaya bahwa keuntungan dari lokasi yang baik dapat menjadi suatu
kelemahan apabila penenpatannya salah. Lokasi yang baik dipilih untuk
usaha sangat mempengaruhi biaya dan laba. Faktor lokasi yang tepat juga
merupakan cara untuk bersaing dalam usaha menarik pelanggan. Lokasi
perlu diseleksi karena keberhasialan usaha sangat tergantung pada
pemilihan lokasi usaha yang tepat.
Pentingnya pemilihan lokasi usaha juga dikemukakan dalam
bukunya Hermawan Kertajaya (1998 : 229) bahwa ada tiga unsur penting
dalam bisnis yaitu lokasi, lokasi, lokasi.






Sebuah usaha yang terletak dijalan utama menjadi pertimbangan
bagi pedagang dikarenakan arus pejalan kaki menjadi faktor yang
menentukan kelangsungan usaha terutama yang berkecimpung dalam
sektor informal. Pejalan kaki merupakan salah satu sumber pemasokan
yang besar karena kebanyakan dari pejalan kaki memanfaatkan kehadiran
pedagang dan sebaliknya pedagang mendapat pendapatan dari pejalan
kaki.
Lokasi usaha memiliki pengaruh yang nyata terhadap pilihan
konsumen, hal ini dikarenakan konsumen lebih memilih membeli didekat
tempat tinggalnya, selain faktor dekat dengan tempat tinggalnya
konsumen yang melihat segi lokasi usaha diperlukan suatu kejelian dan
kecermatan dari pedagang agar tepat dalam menentukannya.
Dalam masalah penentuan lokasi toko pengecer, manajer harus
berusaha menentukan suatu lokasi yang dapat memaksimumkan
penjualan dan labanya, hal ini dimaksudkan untuk memdapatkan lokasi
yang strategis yang dapat menarik para konsumen dari pesaingnya
(Swastha, 2003 : 335).
Dari pernyataan diatas dapatlah dijelaskan bahwa lokasi usaha
merupakan hal yang cukup penting dan harus dipertimbangkan dengan
matang oleh produksen dalam upaya untuk memperoleh keuntungan
maupun demi kelangsungan usaha





2. Memilih Lokasi Bisnis Eceran.
Lokasi atau tempat melakukan usaha sangat besar pengaruhnya
terhadap kelancaran penjualan dalam menyampaikan barang dagangan
dari produksen kekonsumen. Lokasi yang strategis sangat menentukan
keberhasilan suatu usaha dagang namun untuk menentukannya bukan
hal mudah apabila ditengah laju pembangunan.
Pengusaha yang berhasil adalah yang paling dapat menyesuaikan
barang dan jasanya dengan permintaan pasar secara tepat, oleh karena itu
pengusaha harus memperhatikan masalah yang berkaitan dengan
ketepatan pemilihan lokasi usaha.
Menurut Swastha dan Irawan (1997 : 339) faktor yang harus
mempertimbangkan dalam menentukan daerah perbelanjan adalah:
a. Luas daerah perdagangan
b. Dapat dicapai dengan mudah
c. Pontensi pertumbuhannya
d. Lokasi toko-toko saingan
Selain itu menurut Carthy dan Parreault (1993 : 270 - 271) dalam
memasarkan barang dagangan sebaiknya memilih lokasi seperti:
a. Pusat pembelanjaan yang terencana yaitu perkumpulan toko toko
yang direncanakan sebagai suatu unit untuk memenuhi kebutuhan pasar
karena toko toko tersebut biasanya melakukan promosi bersama.





b. Pusat pembelanjaan yang dekat dengan perumahan yang terdiri
dari beberapa toko kebutuhan sehari hari.
c. Pusat pembelanjaan masyarakat, karena disini pedagang kaki lima
bisa mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menarik konsumen
karena padatnya populasi.
Selain faktor tersebut diatas pilihan utama dalam memilih lokasi
adalah yang berada dipusat kota dan pusat perniagaan. Karena daerah
yang memiliki kepadatan yang besar memiliki kesempatan lebih besar
mendapat perhatian konsumen untuk menarik minat mereka untuk
melihat dan akhirnya timbul keinginan membeli.
Menurut Yazid (2001 : 188) kriteria yang perlu diperhatikan
dalammemilih lokasi adalah:
a. Karakteristik dan ukuran populasi
b. Ketersediaan tenaga kerja
c. Kedekatan dengan sumber produksi
d. Promosi
e. Basis ekonomi
f. Kesesuaian dengan sarana
g. Situasi persaingan
h. Kemudahan lokasi toko






Sedangkan menurut Lamb, Hair and Mc Daniel (2002 : 101)
faktor-faktor yang penting dalam pemilihan sebuah lokasi adalah:
a. Karakteristik sosial ekonomis sekitarnya
b. Arus lalu lintas
c. Biaya tanah
d. Peraturan kawasan
e. Transportasi pablik
f. Keberadaan pesaing
g. Kemungkinan terlihat
h. Tempat parkir
i. Lokasi masuk dan keluar
j. Kemudahan akses
k. Keselamatan dan keamanan
Dari beberapa pendapat diatas dapat diambil beberapa alternatif
kesimpulan bahwa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi
adalah sebagai berikut:
a. Kemudahan untuk dilihat
b. Kemudahan untuk dikunjungi
c. Kesesuaian dengan sarana jual







3. Pedagang Kaki Lima
Pertumbuhan sektor informal didaerah perkotaan biasanya
tersebar dan mudah dijumpai dipusat kegiatan perdagangan kota yang
memberikan peluang permintan terhadap produk yang mereka tawarkan
seperti terminal, stasiun, trotoar, alun alun, tempat hiburan, perkotaan
dan sekitar pusat perbelanjaan. Unit usaha informal yang banyak
dijumpai dikota besar meliputi penarik becak, pemulung, kuli angkut,
tukang ojek, tukang servis, perdagang asongan, pedagang kaki keliling,
pedagang kaki lima dan sebagainya.
Pedagang kaki lima adalah orang ekonomi golongan lemah, yang
berjualan barang-barang kebutuhan sehari hari, makanan atau juga
dengan modal yang relativ kecil, modal sendiri atau orang lain, baik
berjualan ditempat terlarang ataupun tidak (Alma, 2003 : 64).
Sedangkan pengertian PKL menurut Bromley dalam Manning
dan Noer (1996 : 229). Pedagang kaki lima digambarkan sebagai
perwujudtan pengangguran tersembunyi atau setengah pengangguran
yang luas dan pertumbuhan yang biasa dari jenis pekerjaan sektor tersier
yang sederhana dikota didunia ketiga. Sebagai bagian dari sector informal
PKL mempunyai ciri ciri tidak jauh berbeda dari ciri ciri sektor informal
supaya dapat lebih menjelaskan pengertian konsep PKL, berikut adalah
ciri-ciri umum yang dijumpai pada PKL.





Menurut (Firdausi 1995 : 145) yaitu :
a. PKL umumnya sebagai mata pencaharian pokok
b. Para PKL umumnya tergolong angkatan kerja produtif
c. Tingkat pendidikan rendah
d. Sebagian besar pedagang kaki lima adalah pendatang dari daerah
dan belum memiliki status kependudukan yang sah dikota
e. Sebelum berdagang kaki lima mereka adalah buruh
f. Kemampuan wirausaha mereka umumnya lemah dan kurang
mampu menumpuk modal
g. Umumnya memperdagangkan bahan pangan, sandang dan
kebutuhan hidup dikota
Dikemukakan pula oleh Winardi (1986 : 163 - 167) ada ciri-ciri
umum yang dijumpai pada pedagang kaki lima diantaranya:
a. Perkataan kaki lima memberi konotasi bahwa mereka umumnya
menjajakan barang-barang dagangan mereka diatas gelaran tikar
atau plastik dipinggir jalan, yang biasanya dimuka toko atau
tempat lain yang dianggab strategis
b. Para pedagang kaki lima pada umumnya menjajakan bahan
makanan, minuman, barang-barang konsumsi baik tahan lama
maupun tidak tahan lama secara eceran
c. Para pedagang kakai lima umumnya bermodal kecil
d. Kwalitas barang yang dijual relatif lebih rendah.




e. Tawar menawar
f. Para pedagang kaki lima pada umumnya berusaha dalam kondisi
ketidakpastian dan ketidaktenagaan
g. Kelompok pedagang kaki lima ini sering dibebani dengan aneka
macam pungutan (baik pungutan resmi maupun pungutan liar)
h. Masyarakat pada umumnya beranggapan bahwa kelompok
pedagang kaki lima merupakan kelompok yang menduduki status
sosial yang relatif rendah
i. Menginggat pula bahwa kelompok pedagang kaki lima ini naluri
untuk bertahan amat kuat, maka pada umumnya mereka bersedia
dan siap melanggar segala macam peraturan dan ketentuan yang
bertentangan dengan kepentingan mereka
4. Karakteristik Pedagang Kaki Lima
Karakteristik pedangang kaki lima berdasarkan cara melakukan
kegiatan menurut Ernawati, Tanjung, Subekti (1995 : 17-18) dapat
dikelompokan menjadi tiga macam :
a. Pedagang kaki lima menetap
Merupakan pola kegiatan pedagang kaki lima yang dalam tata cara
pelaksanaan kegiatannya dilakukan dengan menetap pada suatu
lokasi yang tertutup atau tetap. Kegiatan dalam kelompok ini
mempunyai sifat yang hampir sama dengan tata cara yang
dijumpai pada kegiatan pedagang formal. Dengan kata lain setiap




konsumen yang membutuhkan pelayanannya akan datang kelokasi
penjualan.
b. Pedagang kaki lima berpindah
Merupakan bentuk kegiatan yang dalam tata cara pelaksanaan
kegiatannya hanya akan meetap pada suatu waktu tertentu saja
selama menurut mereka lokasi tersebut masih mengguntungkan
begitu seterusnya, mereka akan mencari tempat lain bila lokasi
tersebut mulai dirasa sepi dari pembeli.
c. Pedagang kaki lima berkeliling
Pola kegitan pedagang kaki lima yang dalam tata cara pelaksanaan
kegiatannya selalu berusaha mendatangi konsumen untuk
menawarkan barang atau jasa jasa yang diperdagangkan.
Sedangkan karakteristik pedagang kaki lima berdasarkan sarana
jual yang digunakan menurut Ernawati, Tanjung, Subekti (1995 : 19)
terdapat empat tipe dasar yaitu:
a. Hamparan dilantai
Pedagang kaki lima disini dalam melakukan kegiatan berjualannya
biasanya menggunakan alas seperti tikar, kain, plastik, bakul atau
meja untuk menjual barangnya.
b. Pikulan
Pedagang biasanya menggunakan sebuah atau dua keranjang
denagn cara dipikul, kelompok kegiatan dengan sarana jual




pikulan merupakan bentuk aktifitas perdagangan yang masih
menunjukan ciri ciri tradisional. Keranjang yang dipikul
menggunakan pikulan dan keranjang untuk menjual barangnya.
c. Meja
Pedangang dalam menjual dagangannya disini menggunakan meja
sebagai sarana jualnya. Pada kelompok yang menggunakan meja
ada yang diberi pelengkap atap dan ada yang tidak beratap, fungsi
atap tersebut adalah untuk melindungi barang maupun pedagang
itu sendiri dari cuaca hujan atau panas dan dari pengaruh debu.
d. Kereta dorong
Pedagang yang disini menggunakan kios sebagai sarana jualannya.
Bentuk kios ini dapat dikatakan mempunyai tingkatan yang lebih
maju dibanding dengan sarana jual yang lain. Kios yang
dipergunakan ada yang berupa kios permanent ataupun kios semi
permanent.
5. Faktor Penyebab Timbulnya PKL
Timbulnya sektor informal, adalah akibat adanya dualisme dalam
kegiatan ekonomi pada negara yang sedang berkembang (Alma, 2004 :
65). Diantara jenis usaha di sektor informal yang paling menojol
diperkotan saat ini usaha kaki lima, keberadan PKL telah mengalami
perkembangan yang cukup padat dan sekaligus menjadi masalah dikota
besar di Indonesia.




Seperti yang telah disebutkan para PKL banyak yang dari luar
daerah dan banyak yang belum menjadi penduduk kota yang sah.
Sebelum menjadi PKL, banyak dari mereka yang bekerja hanya
mengandalkan kekuatan fisik saja dengan bekerja sebagai buruh
(Firdausy, 1995 : 140).
Dalam upaya mempertahankan hidup diperkotaan, PKL
berusaha dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuan yang dimiliki,
keberadaan mereka dalam kelompok yang berasal dari daerah yang sama
dapat dikatakan sebagai arena pelatihan mengenai strategi menghadapi
kehidupan perkotaan melalui kerabat dan kenalan tersebut mereka
mendapatkan akses untuk dapat masuk ke sektor informal.
6. Penjualan
Menurut Swastha (1990 : 10) penjualan merupakan interaksi antar
individu saling bertemu muka yang ditunjukan untuk menciptakan,
memperbaiki, menguasai atau mempertahankan hubungan pertukaran
yang saling menguntungkan dengan pihak lain.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa menjual
merupakan usaha untuk menimbulkan kegiatan transaksi antara pembeli
dan satuan mata uang rupiah ataupun satuan moneter lainnya yang
diakui secara global diseluruh dunia.






7. Tujuan Penjualan
Pada umumnya semua pengusaha atau pedagang mempunyai
tujuan yang sama yaitu mendapatkan laba yang sebanyak banyaknya.
Namun hal ini bisa terjadi bila semua sesuai dengan semua yang sudah
direncanakan. Menurut Swastha dan Irawan (2003 : 404) pada umumnya
perusahaan mempunyai tiga tujuan umun dalam penjualan yaitu:
a. Mencapai volume penjualan tertentu
b. Mendapatkan laba tertentu
c. Menunjang pertumbuhan perusahaan
Tujuan diatas bukan hanya dilakukan oleh pelaksana penjualan
atau para penjual tapi juga perlu adanya kerja sama yang baik antar
fungsionaris dalam perusahaan tersebut.
8. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kegiatan Penjualan
Menurut Swastha dan Irawan (2003 : 406-408) penjualan
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti:
a. Kondisi dan kemampuan penjual
Disini penjual harus mampu menyakinkan kepada pembelinya
agar dapat mencapai sasaran penjualan yang diharapkan.
b. Kondisi pasar
Mengetahui kondisi pasar yang akan menjadi sasaran dalam
penjualan sangatlah penting. Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan seperti:




1) Jenis pasarnya apakah pasar konsumen, pasar industri, pasar
pemerintah atau pasar penjual
2) Segmentasi pasar
3) Daya beli
4) Frekuensi pembelian
5) Kegiatan dan kebutuhan pasar
c. Modal
Modal adalah sumber dana untuk membiayai promosi dan lain-lain
agar produksi dapat dikenali oleh para calon pembelinya.
j. Kondisi organisasi perusahaan
Biasanya dalam perusahaan besar mempunyai struktur organisasi
yang mana didalamnya ditempatkan orang-orang yang memang
menguasai dalam bidangnya. Tapi lain halnya dengan perusahaan
kecil semua kegiatannya dilakukan sendiri.
k. Faktor lain
Dalam penjualan tidak mungkin terlepas dari periklanan, peragaan
pemberian sering dan semua yang berkaitan dengan penjualan
barang.








9. Proses Penjualan
Menurut Swastha dan Irawan (2003 : 410-413) tahap-tahap
didalam proses penjualan terdiri dari:
a. Persiapan sebelum penjulan
Sebelum melakukan penjualan tenaga penjualan harus
dipersiapkan terlebih dahulu dengan memberikan pengertian
tentang barang yang akan mereka jual.
b. Penentuan pembelian potensial.
Lokasi atau tempat usaha merupakan salah satu alat ukur utnuk
mengetahui segmen pasar yang akan kita tuju untuk menentukan
karakteristik konsumen yang tepat untuk produk kita.
c. Pendekatan pendahuluan
Disini penjual harus mampu mempelajari semua masalah tentang
individu atau perusahaan yang dapat kita harapkan sebagai
pembeli.
d. Melakukan penjualan
Suatu usaha untuk memikat konsumen kemudian diusahakan
untuk mengetahui daya tarik mereka.
e. Pelayanan sesudah penjulan
Untuk mencapai kesan yang baik kepada konsumen produksen
harus mampu menekankan penjualan pada pencapaian target yang
diinginkan tetapi harus juga memberi jaminan seperti garansi,




pemberian jasa reparasi, penghantaran barang ke rumah agar
konsumen semakin nyakin.
10. Hubungan antara Lokasi Usaha dengan Penjulan
Lokasi adalah merupakan salah satu faktor yang penting dalam
melakukan kegiatan ekonomi yaitu perdagangan maupun usaha
sejenisnya. Pemilihan lokasi usaha yang salah akan berakibat fatal dan
sangat merugikan, karena ketika kita menjual suatu barang di suatu
tempat tanpa kita mengetahui lingkungan dan keinginan konsumen
kemungkinan besar barang yang kita tawarkan tidak akan laku. Ini bisa
saja terjadi jika apa yang kita jual tidak sesuai dengan selera konsumen
dan kurang diminati. Masalah semacam ini bisa dijadikan pertimbangan
juga oleh para produksen sebelum menjual barang atau mendirikan suatu
usaha.
Pemilihan tempat usaha yang tepat dan strategis kemungkinan
besar akan memberikan laba yang maksimum bagi para pengusaha.
Karena barang yang kita tawarkan sesuai dengan keinginan konsumen di
sekitar tempat kita mendirikan usaha. Oleh karena itu produksen dituntut
untuk lebih peka terhadap apa yang diinginklan oleh konsumennya
sehingga mereka bisa memberikan pelayanan yang sesuai dengan yang
diinginkan konsumen.






Dari uraian diatas terlihat sekali hubungan antara penjualan dan
pemilihan tempat usaha yang tepat, karena pemilihan tempat usaha yang
tepat dan strategis akan lebih menjajikan laba yang banyak di timbang
kesalahan pemilihan tempat usaha yang salah. Maka dari itu sangat
penting sekali perencanaan dan pertimbangan pertimbangan sebelum
mendirikan suatu usaha.
11. Lokasi (tempat) dan Penjualan dalam Perspektif islam



Artinya: Barang siapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan
memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi
syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari
padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (AN-NISA: 85).



Artinya : Dan tepatilah Perjajian dengan Allah apabila kamu berjanji dan
janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah
meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai
saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah
mengetahui apa yang kamu perbuat (AN-NAHL : 91)




Merujuk dari kedua ayat diatas bahwa suatu perbuatan yang
memberikan kebaikan kepada orang lain maka seseorang yang
melakukannya akan mendapatkan pahala dari Allah, begitu juga
sebaliknya jika seseorang atau hamba itu memberikan sesuatu atau
manfaat yang buruk kepada orang lain maka hamba tersebut juga akan
menanggungnya. Ketika kita melakukan jual beli ditempat yang dilarang
bahkan menganggu orang lain maka itu tidak akan membawa kebaikan
karena ada yang merasa dirugikan dan hal tersebut lebih baik dihindari.
Selain itu, dalam jual beli terdapat perjanjian dimana seorang
penjual akan berusaha menyakinkan pembelinya agar membeli
barangnya. Dalam islam diajarkan agar kita mengatakan yang sebenar-
benarnya tanpa ada unsur penipuan yang dapat merugikan orang lain.
12. Kerangka Berfikir
Volume penjualan besar kecilnya tergantung pada aktivitas
produksi, keberadan tempat, tingkat harga, dan pelaksanaan promosi.
Pada penelitian ini titik poinnya pada tempat, ada dugaan kuat bahwa
tempat dipengaruhi oleh 3 variabel yaitu, kemudahan untuk dilihat,
kemudahan untuk dikunjungi dan kesesuaian dengan sarana jual. Tiga
variable tersebut masing masing akan dianalisa kontribusi pengaruhnya
terhadap volume penjualan dengan alat analisi regresi ganda. Secara
lengkap dapat dilihat pada gambar 1 berikut:





Gambar 2.1 Pola Pikir





















Pemasaran
Tempat
Harga
Produksi
Promosi

Tempat/Lokasi
Kesesuaian
Dengan sarana
Jual (X3)
Kemudahan
Untuk dikunjungi
(X2)
Kemudahan Untuk
didilihat (X1)
Regresi Linier Ganda




13. Model Hipotesa
Gambar 2.2 Model hipotesa





Realisasi penjualan





14. Hipotesa
Hipotesa merupakan suatu jawaban yang bersifat sementara
terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang
terkumpul (Arikunto, 2006 : 71).
Adapun hipotesa dalam penelitian ini adalah :
a. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel kemudahan
untuk dilihat (X1), Kemudahan untuk dikunjungi (X2),
Kesesuaian dengan sarana jual (X3) sebagai variabel pemilihan





Kemudahan untuk dilihat (X1)
Kemudahan untuk dilihat (X2)
Kemudaha untuk dilihat (X3)




lokasi usaha terhadap variabel realisasi penjualan (Y), baik secara
simultan maupun parsial.
b. Dari ketiga variabel tersebut terdapat pengaruh variabel yang
paling dominan terhadap variabel realisasi penjualan.






















BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian
Lokasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah sepanjang Jl.
Sersan Harun Pasar Besar Malang. Adapun maksud memilih lokasi disitu
karena banyaknya pedagang kaki lima yang memilih lokasi disini untuk
berjualan, selain itu Pasar Besar juga merupakan salah satu pasar terbesar
yang mempunyai letak strategis di pusat kota.

B. Jenis Penelitian
Sejalan dengan tujuan penelitian yang telah dibicarakan
sebelumnya maka penelitian tentang Analisis Lokasi Usaha Terhadap
Penjualan ini menggunakan penelitian explanatory. Penelitian explanatory
menurut Singarimbun (1995 : 5) merupakan penelitian yang menjelaskan
hubunga kausal antara variable penelitian dan pengujian hipotesa.
Didalam penelitian explanatory, pendekatan yang dipakai dalam penelitian
ini adalah metode survey seperti yang dikatakan Effendi (1995 : 16) bahwa
survey merupakan penyelidikan yang dilakukan untuk memperoleh fakta
fakta mengenai fenomena yang ada didalam masyarakat dan mencari
keterangan secara aktual dan sistematis.





1. Populasi
Populasi menurut Arikunto (2003 : 120) yaitu merupakan
keseluruhan subyek penelitian. Dalam penelitian ini populasinya adalah
Pedagang Kaki Lima (PKL) khususnya pedagang buah yang berjualan di
luar bangunan pasar yang tepatnya disepanjang Jl. Sersan Harun Pasar
Besar Malang. Dalam menentukan populasi, peneliti mengambil data dari
Dinas Kota Pasar Malang.
2. Sampel
Sampel menurut Djarwanto dan Pangestu (2002 108) adalah
sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki, dan
dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi (jumlahnya lebih sedikit
dari populasinya).
Menurut Singarimbun (1995 : 155) sampel acak sederhana adalah
sebuah sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga tiap unit
penelitian atau satu elemeter dari populasi mempunyai kesempatan yang
sama untuk dipilih sebagai sampel. Dalam menentukan jumlah sampel
menurut (Arikunto,1998 : 120) bahwa jika jumlah populasi lebih dari 100
orang maka dapat diambil 10-15% atau 20-25% atau lebih.
C. Sumber Data
Jenis data dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua jenis data,
yaitu data primer dan data sekunder.




1. Data Primer, adalah data yang diperoleh dari sumbernya yaitu
responden atau obyek yang diteliti. Dalam penelitian adalah pedagang
kaki lima.
2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari keterangan yang
telah dikumpulkan dan diperoleh melalui dokumen-dokumen dari
instansi yang terkait.

D. Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian
ini menggunakan beberapa metode penelitian data yaitu:
1. Metode Kuesioner, merupakan tehnik pengumpulan data yang
dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyan data tertulis
kepada responden dengan tujuan untuk memperoleh data yang
digunakan dalam penelitian.
a. Tipe Isian. Daftar pertanyaan ini digunakan untuk mendapatkan
jawaban tentang nama, jenis kelamin, umur dan pendidikan
terakhir responden.
b. Tipe Pilihan. Pada tipe ini responden diminta untuk menulis salah
satu jawaban dari alternative jawaban yang telah disediakan
dengan bentuk Multiple Choice Question.
2. Metode Wawancara, metode ini untuk mendapatkan data yang
diperlukan dengan cara tanya jawab langsung dengan responden.




3. Dokumentasi, menurut Sanusi (2003 : 102) biasanya dilakukan untuk
mengumpulkan data sekunder dari berbagai sumber baik secara pribadi,
maupun kelembagaan.

E. Definisi operasional variabel
Selanjutnya agar konsep dapat di teliti secara tepat maka konsep
yang ada harus dioperasionalkan menjadi suatu variabel yaitu obyek
penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian variabel bebas atau
independen variabel (X), sedangkan variabel akibat disebut variabel tidak
bebas, variable tergantung, terikat atau dependen variabel (Y). (Ari Kunto
1998 : 101).
Variabel variabel yang sudah ada selanjutnya dioperasionalkan
lebih lanjut menjadi item dan indikator-indikator sebagai berikut :













Tabel. 1
KONSEP, VARIABEL, INDIKATOR, ITEM
Konsep Variabel Indikator Item
Lokasi
Usaha
1. Kemudahan
untuk dilihat (X1)
Tingkat
ketepatan
lokasi usaha
1.1 Lokasi berada
dipingir jalan
1.2 Lokasi berada
pada pusat
kota
1.3 Lokasi banyak
dilewati
pejalan kaki
2. Kemudahan
untuk dikunjungi
(X2)
Tingkat
kemudahan
lokasi usaha
2.1 Mudah
dijangkau
transportasi
2.2 Berada pada
tempat terbuka
2.3 Dekat dengan
permukiman

3. Kesesuaian
dengan sarana jual
(X3)
Macam-
macam alat
jual
3.1 Jenis alat
berupa meja
3.2 Jenis alat
berupa kereta
dorong
3.3 Jenis alat
berupa
hamparan tikar
Penjualan Realisasi
Penjualan
Volume
Penjualan
Penjualan per hari
dalam rupiah
Laba per hari












F. Skala Pengukuran
Pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah ukuran
interval. Menurut Effendi dalam Singarimbun dan Effendi (1995 : 103)
ukuran interval adalah pengurutan orang atau obyek berdasarkan atribut.
Selain itu ukuran ini juga memberikan informasi tentang interval antara
satu atau obyek dengan orang atau obyek yang lainnya. Ukuran ini
merupakan salah satu ukuran yang paling sering dipakai dalam penelitian
sosial karena skala dan indeks sikap biasanya menghasilkan ukuran
interval. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert.
Effendi dalam Singarimbun dan Effendi (1995 : 111) mengemukakan
bahwa:
Salah satu cara yang paling penting digunakan dalam
menentukan skor adalah menggunakn Skala Likert, cara pengukuran
adalah dengan menghadapkan seorang responden dengan sebuah
pertanyaan dan kemudian diminta untuk memberi jawaban sangat setuju,
setuju, ragu ragu, tidak setuju, sangat setuju. Jawaban itu diberi skor satu
sampai lima.
Secara garis besar, gambarannya adalah sebagai berikut:
1. Sangat setuju, diberi skor 5
2. Setuju,diberi skor 4
3. Ragu ragu, diberi skor 3
4. Tidak setuju, diberi skor 2




5. Sangat tidak setuju 1

G. Instrumen Penelitian
Instrumen pengumpulan data yang baik harus memenuhi dua
persyaratan penting yaitu valid dan reilabel.
1. Validitas
Menurut Ancok dalam Singarimbun dan Effendi (1995 : 124),
validitas menunjukan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa
yang ingin di ukur sekiranya peneliti menggunakan kuesioner didalam
pengumpulan data penelitian maka kuesioner yang disusun harus
mengukur apa yang ingin diukurnya.
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui kesyahihan dari
Instrumen kuisioner dengan menggunakan rumus korelasi Product
Moment.
r =
( )( )
( ) { } ( ) { }
2
2
2 2

Y Y N X X N
Y X XY N

Dimana : r = Korelasi produk moment
N = Jumlah responden/sampel
X = Jumlah jawaban variabel x
Y = Jumlah variabel jawaban y
Jika nilai r 0,60 maka instrumen tersebut dapat dikatakan valid,
dan apabbila nilai r 0,60 maka instrumen tersebut dapat dikatakan tidak
valid.




Singarimbun dan Effendi, (1995 : 124), mengatakan jika 0,05
maka pertanyaan tersebut dikatakan valid dan apabila 0,05 maka
pertanyaan tersebut dapat dikatakan tidak valid.
Tingkat validitas diperoleh dengan membandingkan nilai hitung
dengan probabilitas. Bila 0,05 berarti item-item dalam setiap variabel
tersebut valid.
2. Relibilitas
Menurut Arikunto (1993 : 142) reliabilitas menunjukan pada
tingkat keterandalan sesuatu. Reliabilitas artinya dapat dipercaya jadi
dapat diandalkan. Yang diusahakan dapat dipercaya adalah datanya
bukan semata-mata instrumennya. Sesuatu instrumen harus reliabilitas
mengandung arti bahwa instrumen tersebut cukup baik sehingga mampu
mengungkapkan data yang bisa dipercaya.
Untuk menguji tingkat reliabilitas, dalam penelitian ini
menggunakan rumus Alpha Cronbach.
r =
( )

2
1
2
1
1

b
K
K

Dimana : r = Reliabelitas instrumen
K = Banyaknya pertanyaan
2
b
= Jumlah varians butir
2
1
= Varians total
Menurut Singarimbun instrumen dikatakan reliabel, jika hasil
penelitian memiliki koefisien keandalan sebesar alpha = 0,05 atau lebih.




H. Tehnik Analisis Data
Untuk menjawab tujuan penelitian diatas dalam penelitian ini
menggunakan diskriptif statistik dengan melalui tahap-tahap sebagai
berikut:
1. Analisis deskriptif
Analisis ini digunakan untuk menganalisis data dengan cara
mendeskripsikan atau mengambarkan obyek penelitian yang terdiri dari
gambaran penelitian, keadaan responden yang diteliti serta item-item
yang didistribusikan dari masing-masing variabel. Setelah keseluruhan
data telah terkumpul maka kegiatan selanjutnya mengolah data kemudian
mentabulasikan ke dalam tabel dan membahas data yang diolah secara
deskriptif.
2. Analisis regresi linier berganda
Analisis regresi berganda digunakan untuk memeriksa kuatnya
hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Maka dalam
penelitian ini regresinya sebagai berikut (Sugianto, 2005 : 250).
Y = a+b
1
x
1
+b
2
x
2
+b
3
x
3
+ e
Dimana: Y = Variabel terikat yaitu realisasi penjualan
a = Konstanta
b
1
= Koefisien regresi variabel bebas ke -1
X1 = Kemudahan untuk dilihat
X2 = Kemudahan untuk dikunjungi




X3 = Kesesuaian dengan sarana jual
e = Standar error
Untuk mengetahui hipotesis yang diajukan bermakna atau tidak
maka digunakan perhitungan uji statistik, sebagai berikut :
a. Uji F (Uji simultan)
Digunakan untuk mengetahui apakah secara simultan koefisien
variabel bebas mempunyai pengaruh nyata atau tidak terhadap variabel
terikat, (Sugiono, 2005 : 250 ).
F
hitung
=
( )
( ) ( ) k N R
k R

/ 1
1
2
2

Dimana : F = Harga F
R = Koefisien korelasi berganda
K = Banyaknya variabel bebas
N = Ukuran sampel
Adapun langkah-langkah uji F atau uji simultan adalah:
1) Perumusan hipotesis
Ho = variabel pemilihan lokasi usaha tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap variabel realisasi penjualan
Ha = variabel pemilihan lokasi usaha ada pengaruh yang
signifikan terhadap variabel realisasi penjualan
2) Nilai kritis distribusi F dengan level of signifikan = 0,05
F
tabel
= F
k n k ; 1 ; 05 , 0

3) Kriteria penolakan atau penerimaan
Ho diterima jika :
F
hitung
F
tabel
maka Ho diterima dan Hi ditolak, ini berarti tidak
terdapat pengaruh simultan oleh variable X dan Y.




F
hitung
F
tabel
maka Ho ditolak dan Hi diterima, hal ini berarti
terdapat pengaruh yang simultan terhadap variabel Y.
b. Uji t (uji parsial)
Digunakan untuk mengetahui masing-masing sumbangan
variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat, menggunakan uji
masing-masing koefisien regresi variabel bebas apakah mempunyai
pengaruh yang bermakna atau tidak terhadap variabel terikatnya,
Sugiono (2005 : 223).
t =
2
1
2
r
n r


Dimana : r = Koefisien regresi
n = Jumlah responden
t = Uji hipotesa
Adapun langkah-langkah untuk uji t atau uji parsial adalah :
1) Perumusan hipotesa nol (Ho) dan hipotesa alternatifnya (Ha)
- Ho = variabel kemudahan untuk dilihat ada pengaruh terhadap
realisasi penjualan.
- Ha = variabel kemudahan untuk dilihat ada pengaruh terhadap
realisasi penjualan.
- Ho = variabel kemudahan untuk dikunjungi tidak berpengaruh
terhadap realisasi penjualan.
-Ha = variabel kemudahan untuk dikunjungi ada pengaruh
terhadap realisasi penjualan.
- Ho = variabel kesesuaian dengan sarana jual tidak berpengaruh
terhadap realisasi penjualan.




- Ha = variabel kesesuaian dengan sarana jual ada pengaruh
terhadap realisasi penjualan.
2) Menentukan nila kritis dengan nilai lefel of signifikan 0,05
t
tabel
= t
) 1 ; 2 / ( k n a

3) Penentuan kriteria penerimaan dan penolakan.
t
hitung
t
tabel
maka Ho diterima dan Ha di tolak, itu berarti tidak
ada pengaruh yang bermakna oleh variabel X dan Y
t
hitung
t
tabel
maka Ho ditolak ha diterima, itu berarti ada pengaruh
yang bermakna oleh variabel X dan Y.



















BAB IV
PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A . Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Pasar Besar Malang dibangun pada jaman penjajahan Hindia
Belanda pada tahun 1914, pasar besar selalu tumbuh dan berkembang
mengikuti perkembangan yang terjadi di masyarakat. Untuk memenuhi
kebutuhan sebagian pusat perdagangan maka pada tahun 1938 dan 1973
diadakan renovasi. Pada tahun 1985 terjadi musibah kebakaran pada
bagian dalam timur, pada tahun tersebut bagian yang terbakar diganti
dengan bangunan kerangka besi dan atap asbes gelombang.
Bangunan pasar besar terdiri dari 4 (empat) lantai, lantai dasar
dan satu untuk pedagang pasar besar, lantai dua untuk Departemen store
Matahari dan parkir, sedangkan lantai tiga untuk parkir.
Fasilitas tempat berjualan untuk pedagang dalam pasar besar
yang telah selesai di bangun berupa :
1. Toko : 718 Unit
2. Kios : 2.666 Unit
3. Konter : 1.040 Unit
Jumlah : 4.424 Unit
Pasar Besar merupakan pasar yang berada di pusat kota malang,
letaknya strategis sehingga banyak pedagang yang memilih menjual




barangnya disana mesti harus berjualan di luar bangunan bahkan
dijalanan yang sebenarnya oleh pemerintah dilarang namun mereka tetap
bertahan demi kelangsungan hidupnya. Terutama di sepanjang Jalan
Sersan Harun banyak terdapat pedagang kaki lima yang berjual
dagangannya. Barang yang mereka jualpun juga bervariasi seperti
makanan, minuman, buah buahan, asesoris dan masih banyak lagi. Begitu
juga alat jualnya pun juga sangat sederhana seperti meja, keranjang, tikar
dan lain-lain.
Untuk mengetahui keadaan penduduk didaerah ini secara
diskriptif akan dijelaskan dengan melihat data yang kami dapat dari
penelitian dengan bantuan kuesioner yang diolah dengan komposisi
mengenai jenis kelamin responden, tingkat pendidikan responden,
kategori usia responden, status perkawinan responden, dan kategori
sarana jual yang digunakan responden dalam menjual dagangannya

B. Hasil Penelitian
1. Karakteristik responden
Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 64 pedagang buah
di sepanjang Jl Sersan Harun pasar besar malang melalui kuesioner
didapat karakteristik responden berdasar jenis kelamin responden, status
perkawinan responden, tingkat pendidikan responden, kategori usia




responden, dan kategori sarana jual yang dipakai responden adalah
sebagai berikut:
a. Jenis kelamin responden
Tabel 2
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
Jenis kelamin Frekuensi Prosentase
Laki-laki 28 43,8 %
Wanita 36 56,3 %
Jumlah 64 100 %
Sumber : Data Primer diolah 2007

Dari tabel 2 dapat diketahui bahwa responden dengan jenis
kelamin laki-laki berjumlah 28 orang dan responden dengan jenis kelamin
wanita berjumlah 36 orang. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar
pedagang kaki lima di sepanjang jalan Sersan Harun adalah wanita.
b. Status perkawinan responden
Tabel 3
Karakteristik responden berdasarkan status perkawinan
Status perkawinan Frekuensi Prosentase
Kawin 52 81,3 %
Belum 12 18,8 %
Jumlah 64 100 %
Sumber : Data Primer diolah 2007
Dari tabel 3 dapat diketahui bahwa dari 64 responden pedagang
kaki lima yang diteliti, 52 responden telah menikah dan 12 responden




belum menikah. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar pedagang di
daerah tersebut sudah menikah atau berkeluarga.
c. Tingkat pendidikan responden
Tabel 4
Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan Frekuensi Prosentase
Tidak sekolah 3 4,7 %
SD 21 32,8 %
SLTP 24 37,5 %
SLTA 14 21,9 %
AKADEMI 2 3,1 %
Jumlah 64 100 %
Sumber : Data Primer diolah 2007
Dari tabel 4 dapat diketahui bahwa sebagian besar pedagang kaki
lima didaerah ini berpendidikan SLTP dengan jumlah responden
sebanyak 24. Kemudian urutan kedua adalah berpendidikan SD yaitu
sebanyak 21 responden, di ikuti 14 responden berpendidikan SLTA, 2
responden berpendidikan Akademi dan 3 orang responden yang tidak
pernah sekolah. Hal ini menunjukan bahwa tingkat pendidikan tidak
terlalu berpengaruh terhadap pekerjaan yang mereka jalani, karena
pekerjaan sebagai pedagang kaki lima khususnya menjual buah bisa
dilakukan oleh siapa saja dengan berbagai tingkat pendidikan yang
mereka miliki.





d. Kategori usia responden
Tabel 5
Karakteristik responden berdasarkan usia responden
Kategori usia Frekuensi Presentase
Dibawah 30 th 14 21,8 %
30 40 th 28 43,8 %
40 50 th 19 29,7 %
Diatas 50 th 3 4,6 %
Jumlah 64 100 %
Sumber : Data Primer diolah 2007
Dari tabel 5 dapat diketahui bahwa dari 64 responden yang
diteliti sebagian besar usia mereka antara 30 40 tahun yaitu sebanyak 28
responden. Kemudian usia 40 50 tahun sebanyak 19 responden, dibawah
30 tahun sebanyak 14 responden dan diatas 50 tahun berjumlah 3 orang.
Hal ini menunjukan bahwa rata-rata pedagang kaki lima di daerah ini
berjualan dalam usia yang produktif
e. Kategori sarana jual yang di gunakan responden
Tabel 6
Karakteristik sarana jual yang di gunakan responden
Sarana jual Frekuensi Prosentase
Meja 34 53,1 %
Kereta dorong 12 18,8 %
Keranjang 14 21,8 %
Tikar 4 6,2 %
Jumlah 64 100 %




Dari tabel 6 dapat diketahui bahwa sebagian besar pedagang kaki
lima disepanjang jalan Sersan Harun menggunakan meja untuk berjualan
yaitu sebanyak 34 responden. Kemudian keranjang 14 responden, kereta
dorong 12 responden dan alas tikar atau plastik sebanyak 4 orang. Hal ini
menunjukan semakin layak sarana jual yang mereka gunakan maka
dagangan yang dapat mereka jual semakin banyak karena mampu
memuat banyak dagangan.
2. Gambaran distribusi item
Pada bagian ini akan di sajikan distribusi item masing-masing
variabel dari jawaban responden secara keseluruhan baik dalam jumlah
responden maupun dalam prosentase.
a. Distribusi frekuensi variabel kemudahan untuk dilihat
Dalam variabel kemudahan untuk dilihat terdapat 3 item, yaitu
lokasi yang terletak dipinggir jalan, lokasi yang terletak dipusat kota dan
lokasi yang banyak dilalui pejalan kaki. Jawaban dari responden dapat
dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 7
Variabel kemudahan untuk dilihat (X1)
1 2 3 4 5
STS TS RR S SS
Total Statistik
Item
F % f % f % F % f % F % Mean
X1.1 - - - - 6 9.4 30 46.9 28 43.8 64 100 4.34
X1.2 - - - - 2 3.1 25 39.1 37 57.8 64 100 4.55
X1.3 - - - - 8 12.5 20 31.3 36 56.3 64 100 4.44
Sumber : Data primer diolah 2007




Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa variabel kemudahan
untuk dilihat orang (X1), item lokasi yang terletak di pinggir jalan (X1.1)
diketahui ada orang 30 (46,9%) yang menjawab setuju, sementara 28
orang (43,8%) menjawab sangat setuju dan 6 orang (9,4%) menjawab ragu-
ragu. Hal ini menunjukan bahwa mayoritas pedagang kaki lima memilih
lokasi yang terletak dipinggir jalan.
Pada item lokasi terletak di pusat kota (X1.2) diketahui 37 orang
(57.8%) menjawab sangat setuju untuk memilih lokasi yang terletak di
pusat kota, 25 orang (39,1%) menjawab setuju. Kemudian diikuti oleh 2
orang (3,1%) menjawab ragu-ragu. Hal ini menunjukan bahwa banyak
pedagang kaki lima memilih lokasi usaha yang terletak di pusat kota.
Pada item lokasi yang banyak dilalui pejalan kaki (X1.3) diketahui
36 orang ( 56,3%) menjawab sangat setuju, sementara 20 orang (31,3%)
menjawab setuju dan 8 orang (12,5%) menjawab ragu-raggu. Hal ini
menunjukan bahwa banyak pedagang kaki lima yang memilih lokasi
usaha yang banyak dilalui pejalan kaki
b. Distribusi frekuensi variabel kemudahan untuk dikunjungi
Dalam variabel kemudahan untuk dikunjungi orang (X2) terdapat
tiga item yaitu lokasi mudah dicapai dengan alat transportasi (X2.1),
lokasi yang berada ditempat terbuka (X2..2), dan lokasi yang dekat dengan
pemukiman penduduk (X2.3). dari hasil penyebaran kuesioner dan diolah
dapat dilihat hasilnya sebagai berikut :




Tabel 8
Variabel kemudahan untuk dikunjungi (X2)
1 2 3 4 5
STS TS RR S SS
Total Statistik
Item
F % f % f % F % F % f % Mean
X2.1 - - 4 6,3 2 3,1 24 37,5 34 53,1 64 100 4.38
X2.2 - - 2 3,1 14 21,9 31 48,4 17 17 64 100 3.98
X2.3 - - 5 7,8 18 28,1 35 54,7 5 9,4 64 100 3.66
Sumber : Data primer diolah 2007


Berdasarkan jawaban responden yang tertera pada tabel 8 dapat
diketahui bahwa untuk item lokasi yang mudah dicapai alat trasportasi
(X2.1) sebagian besar responden menyatakan sangat setuju yang
didukung oleh 34 orang (53,1%), kemudian sebanyak 24 orang (37,5%)
menyatakan setuju, 2 orang (3,1%) menyatakan ragu-ragu dan 4 orang
(6,3%) menyatakan tidak setuju. Hal ini menunjukan bahwa banyak PKL
yang memilih lokasi yang mudah dicapai alat trasportasi dalam menjual
barang dagangannya.
Untuk item lokasi berada ditempat terbuka (X2.2). Kebanyakan
responden memilih jawaban setuju sebanyak 31 orang (48,4%) kemudian
sebanyak 17 orang (17%) menyatakan sangat setuju, 14 orang (21,9%)
menyatakan ragu-ragu, 2 orang (3,1%) menyatakan tidak setuju. Hal ini
menunjukan bahwa banyak pedagang kaki lima yang memilih lokasi
ditempat terbuka karena lebih leluasa dan ramai.




Untuk item lokasi dekat dengan pemukiman penduduk (X2.2)
mayoritas responden menjawab setuju sebanyak 35 orang (54,7%), 18
orang lainnya (17,1%) menyatakan sangat setuju, sedangkan 14 orang
(28,1%) menyatakan ragu-ragu, 6 orang (9,4%) menjawab sangat setuju
dan 5 orang (7,8%). Hal ini menunjukan baha banyak PKL yang memilih
lokasi usaha yang dekat dengan pemukiman penduduk karena membuat
mereka semakin dekat dengan konsumen.
c. Distribusi frekuensi variabel kesesuaian dengan sarana jual
Dalam variabel kesesuaian dengan sarana jual (X3) terdapat tiga
item yaitu pengunaan alat jual meja (X3.1), penggunaan jenis alat jual
berupa kereta dorong (X3.2) dan penggunaan jenis alat jual berupa
hamparan tikar dilantai (X3.3). Jawaban dari responden dapat dilihat pada
tabel dibawah ini :
Tabel 9
Variabel kesesuaian dengan sarana jual(X3)
1 2 3 4 5
STS TS RR S SS
Total Statistik
Item
F % f % f % f % f % f % Mean
X3.1 - - 3 4.7 3 4.7 42 65.6 16 25.0 64 100 4.11
X3.2 - - 3 4.7 19 29.7 34 53.1 8 12.5 64 100 3.73
X3.3 5 7.8 12 18.8 32 50.0 14 21.9 1 1.6 64 100 2.91
Sumber : Data primer diolah 2007


Berdasarkan atas jawaban responden pada tabel 9 dapat
diketahui bahwa untuk penggunan alat jual berupa meja sebagian besar




responden menyatakan setuju sebanyak 42 orang (65,6%). Kemudian 16
orang (25,0%) menjawab sangat setuju, 3 orang (4,7%) menjawab ragu-
ragu dan 3 orang (4,7%) menjawab tidak setuju. Hal ini menunjukan
bahwa banyak PKL yang menggunakan jenis alat jual berupa meja dalam
menjajakan dagangannya.
Untuk item penggnaan jenis alat jual berupa kereta dorong
sebagian besar responden menyatakan setuju sebanyak 34 orang (53,1%).
Sementara 19 orang (29,7%) menjawab ragu-ragu lalu 8 orang (12,5%)
sangat setuju dan terakhir 3 orang (4,7%) menjawab tidak setuju. Hal ini
menunjukan bahwa banyak PKL yang menggunakan jenis alat jual berupa
kereta dorong.
Untuk item penggunaan jenis alat jual berupa hamparan tikar
dilantai sebagian responden menyatakan ragu-ragu sebanyak 32 orang
(50,0%). Kemudian 14 orang (21,9%) menjawab setuju, 12 orang (18,8%)
menyatakan tidak setuju, 5 orang (7,8%) sangat tidak setuju dan 1 orang
(1,6) sangat setuju. Hal ini menunjukan bahwa banyak PKL yang ragu-
ragu menggunakan jenis alat jual berupa hamparan tikar di lantai karena
daya muatnya kecil, jadi kurang bisa memberi keuntungan yang banyak.
d. Distribusi frekuensi variabel realisasi penjualan
Dalam variabel realisasi penjualan ini terdapat dua item yaitu
penjualan yang diperoleh per hari (dalam rupiah) dan laba penjualan




yang diperoleh perhari (dalam rupiah). Jawaban responden dapat dilihat
dalm tabel dibawah ini :
Tabel 10
Variabel realisasi penjualan
1 2 3 4 5
STS TS RR S SS
Total Statistik
Item
F % f % f % f % f % f % Mean
Y.1 1 1.6 3 4.7 18 28.1 29 45.3 13 20.3 64 100 3.78
Y.2 1 1.6 3 4.7 18 28.1 33 51.6 9 14.1 64 100 3.72
Sumber : Data primer diolah 2007


Berdasarkan distribusi frekuensi variabel realisasi penjualan (Y)
tersebut terlihat untuk item penjulan per hari (dalam r upiah) (Y1)
diketahui bahwa mayoritas 29 orang (45,3%) menjawab sesuai yang
berarti penjualan yang diperoleh per hari dalam rupiah sudah sesuai
dengan yang diharapkan apa bila dibandingkan dengan kebutuhan hidup
mereka. Sementara 18 orang (28,1%) menjawab kurang sesuai, 13 orang
(20,3%) menjawab sangat sesuai, 3 orang (4,7%) menjawab tidak sesuai
dan terkhir 1 orang (1,6%) menjawab sangat tidak sesuai. Hal ni
menunjukan bahwa pekerjaan sebagai pedagang kaki lima sudah
menjajikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-sehari.
Untuk item penjualan per hari (Y2) diketahui sebanyak 33 orang
(51,6%) menjawab sesuai yang berarti laba yang diperoleh sudah sesuai
dengan harapan mereka sebagai sekedar penyambung hidup dan untuk
menutupi kebutuhan hidup mereka. Sedangkan 18 orang (28,1%)




menjawab kurang sesuai, 9 orang (14,1%) menjawab sangat sesuai, 3 orang
(4,7%) menjawab tidak sesuai dan 1 orang (1,6%) menjawab sangat tidak
sesuai. Hal ini menunjukkan bahwa penghasilan sebagai pedagang buah
sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup para pedagang setiap harinya.
3. Uji validitas
Pengujian validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah
korelasi Product Moment Person dan dianggap valid jika nilai r 0,60 maka
dapat dikatakan valid dan apabila nilai r 0,60 maka instrumen tersebut
dikatakan tidak valid atau jika 0,05 maka pertanyaan tersebut dapat
dikatakan valid dan apabila 0,05 maka pertanyaan tersebut dapat
dikatakan tidak valid. Dalam penelitian ini menggunakan program SPSS
12.0 for Windows.
Tabel 11
Hasil Uji Validitas
No Variabel Item r Probabilitas Keterangan
X1.1
0.742
0,000 Valid
X1.2 0.813 0,000 Valid
1 Kemudahan untuk dilihat (X1)
X1.3 0.810 0,000 Valid
X2.1 0.867 0,000 Valid
X2.2 0.797 0,000 Valid
2 Kemudahan untuk dikunjungi (X2)
X2.3
0.730
0,000 Valid
X3.1 0.865 0,000 Valid
X3.2 0.810 0,000 Valid
3 Kesesuaian dengan sarana jual (X3)
X3.3 0.823 0,000 Valid
Y1 0.864 0,000 Valid
4 Realisasi penjualan (Y)
Y2 0.844 0,000 Valid
Sumber : Data primer diolah 2007





Dari tabel 11 dapat diketahui bahwa seluruh variabel pemilihan
lokasi usaha yang terdiri dari kemudahan untuk dilihat (X1), kemudahan
untuk dikunjungi (X2), kesesuaian dengan sarana jual (X3) dan realisaasi
penjualan (Y) mempunyai nilai r 0,60. ini berarti bahwa seluruh item
masing-masing variabel pemilihan lokasi usaha dinyatakan valid.
4. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan untuk menunjukan sejauh mana alat
ukur dapat dipercaya atau diandalkan. Hasil uji reliabelitas dinyatakan
reliabel jika hasil perhitungan memiliki koefisien keandalan sebesar
0,05.
Tabel 12
Hasil uji reliabilitas
No Variabel Alpha Keterangan
1 Kemudahan untuk dilihat (X1)
0.688 Reliabel
2 Kemudahan untuk dikunjungi (X2) 0.717 Reliabel
3 Kesesuaian dengan sarana jual (X3) 0.768 Reliabel
4
Realisasi penjualan (Y)
0.629
Reliabel
Sumber : Data primer diolah 2007


Dari tabel 12 dapat diketahui bahwa seluruh variabel pemilihan
lokasi usaha yang terdiri dari kemudahan untuk dilihat (X1), kemudahan
untuk dikunjungi (X2), kesuaian dengan sarana jual (X3) dan realisasi
penjualan mempunyai koefisien keandalan sebesar 0,05. Hal ini
berarti bahwa seluruh variabel pemilihan lokasi usaha dinyatakan reliabel
untuk diteliti.




5. Analisis regresi linier berganda
Uji regresi linier berganda digunakan digunakan utnuk
mengetahui pengaruh variabel antara beberapa variabel secara bersama-
sama dengan satu variabel terikat atau dalam penelitian ini adalah
variabel pemilihan lokasi usaha dan variabel terikatnya realisasi
penjualan.
Berdasarkan hipotesa dalam penelitian ini, yaitu:
a. Diduga terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel
kemudahan untuk dilihat (X1), kemudahan untuk dikunjungi (X2),
kesesuaian dengan sarana jual (X3) sebagai variable pemilihan
tempat usaha terhadap variabel realisasi penjualan (Y), baik secara
simultan maupun parsial.
b. Diduga dari ketiga variable tersebut terdapat pengaruh variable
yang paling dominan terhadap variabel realisasi penjualan.
Maka untuk menguji hipotesa di atas diperlikan analisis regresi
linier berganda dengan menggunakan program SPSS 12.0 for windows.
Tingkat kepercayaan yang digunakan dalam perhitungan korelasi
linier berganda adalah 95% atau dengan tingkat signifikan 0,05 ( = 0,05).
Pada analisis regresi linier berganda dilakukan uji F untuk simultan dan
uji t untuk parsial. Berikut adalah rekapitulasidari hasil uji dari analisis
regresi linier berganda.





Tabel 13
Rekapitulasi hasil uji regresil linier berganda
Variabel
B (koofisien
regresi
Beta t hitung t tabel Sig t
Alph
a
Hipotesis
Konstanta 1.897 - 1.438 - 0.156 - -
X1 -0.082 -0.085 -0.771 2,000 0.443 0,05 di tolak
X2 0.277 0.360 2.522 2,000 0.014 0,06 di terima
X3 0.314 0.415 3.237 2,000 0.002 0,07 di terima
N= 64 F hitung= 16,968
R= 0,677 F Tabel= 2,75
R Square= 0,459 Sig F= 0,000
Adjusted R Square= 0,432 Alpha= 0,05
Sumer : Data primer dilah 20007



C. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Analisis dan interpretasi data secara simultan
Dari hasil tabel 13 dapat dilihat bahwa F
hitung
16,968 dengan =
0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak. Pengujian hipotesa dengan
membandingka F
tabel
didapat 2,75 untuk taraf 5%. Maka dari tabel diatas
membuktikan bahwa F
hitung
16,968 lebih besar dari pada F
tabel
2,75,
sedangkan tingkat signifikasi (0,000) lebih kecil dari pada taraf 5% atau
0,05. Sehingga Ha yang berarti ada pengaruh yang signifikan antara
variabel kemudahan untuk dilihat, kemudahan untuk dikunjungi dan
kesesuaian dengan sarana jual terhadap realisasi penjualan diterima.
Sedangkan Ho yang berbunyi tidak ada pengaruh yang signifikan antara
variabel kemudahan untuk dilihat, kemudahan untuk dukunjungi dan




kesesuaian sarana jual dengan realisasi penjualan ditolak. Hal ini berarti
variabel bebas berpengaruh secara simultan terhadap variabel terikat (Y).
Koefisien determinan (Ajusted R Square) sebesar 0,432 atau
43,2%, koefisien determinan ini digunakan untuk mengetahui seberapa
besar prosentase pengaruh variabel bebas kemudahan untuk dilihat(X1),
kemudahan untuk dikunjungi (X2), dan kesesuaian dengan sarana jual
(X3) terhadap perubahan variabel terikatnya realisasi penjualan (Y),
artinya bahwa keempat variabel secara bersama-sama memberikan
kontribusi sebesar 43,2%. Sedangkan sisanya (100% - 43,2%) sebesar
56,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti.
2. Analisis dan interpretasi data secara parsial
Y = 1,897 - 0,082 X
1
+ 0,277 X
2
+ 0,314 X
3
+ e
Pengaruh masing-masing variabel diinterpretasikan sebagai
berikut:
a. Hasil analisis regresi antara variabel kemudahan untuk dilihat (X1)
terhaadap realisasi penjualan (Y) menunjukan t
hitung
sebesar -0,771 dan
nilai 0,443 0,05. Ini berarti bahwa secara parsial tidak ada pengaruh
yang signifikan antara variabel kemudahan untuk dilihat terhadap
realisasi penjualan. Nilai koefisien (bi) yang diperoleh adalah negatif yaitu
-0,082, yang dapat diartikan bahwa jika nilai kemudahan untuk dilihat




dinaikan sebesar satu kesatuan maka penjualan akan menurun dengan
asumsi variabel bebas lainnya yang bersifat konstan.
b. Hasil analissi regresi antara variabel kemudahan untuk
dikunjungi (X2) terhadap realisasi penjualan (Y) menunjukan sebesar
2,522 dan (0,014) 0,05. Ini berarti bahwa secara parsial ada pengaruh
yang signifikan antara variabel kemudahan untuk dikunjungi terhadap
realisasi penjualan. Nilai koefisien regresi parsial (bi) yang diperoleh
positif yaitu 0,277, yang dapat diartikan bahwa jika nilai kemudahan
untuk dikunjungi dinaikan sebesar satu kesatuan maka penjualan akan
meningkat dengan asumsi variabel lainnya bersifat konstan.
c. Hasil analisis regresi antara variabel kesesuaian dengan sarana
jual menujukan t
hitung
sebesar 3,237 dan (0,002) 0,05. ini berarti bahwa
secara parsial ada pengaruh yang yang signifikan antara variabel
kesesuaian dengan sarana jual terhadap realisasi penjualan. Nilai
koefisien regresi parsial (bi) yang diperoleh positif sebesar 0,314, yang
berarti jika nilai kemudahan unuk dikunjungi dinaikan sebesar satu
kesatuan maka penjulaan akan meningkat dengan asumsi variabel bebas
lainnya yang bersifat konstan.
Dari hasil analisis parsial terlihat bahwa nilai p untuk variabel
kemudahan untuk dilihat lebih besar dari 0,05. Dengan demikian




hipotesa yang mengatakan ada pengaruh secara parsial variabel
pemilihan lokasi usaha terhadap penjualan ditolak.
3. Analisis dan interpretasi data variabel dominan
Dari tabel 13 juga dapat diketahui bahwa dari ketiga variabel
bebas tersebut menjunjukan bahwa variabel kesesuaian dengan sarana
jual memiliki nilai t
hitung
tertinggi yaitu sebesar 3,237 dan nilai yang
paling tinggi 0,413. ini berarti variabel kesesuaian dengan sarana jual
paling dominan pengaruhnya terhadap variabel realisasi penjalan.

D. PEMBAHASAN
1. Kemudahan untuk dilihat (X1)
Dalam penelitian variabel kemudahan untuk dilihat terbukti juga
memiliki pengaruh yang signifikan secara simultan terhadap realisasi
penjualan. Namun secara analisis parsial variabel kemudahan untuk
dilihat tidak berpengaruh terhadap realisasi penjualan sehingga secara
parsial ditolak. Lokasi yang terletak di pinggir jalan, dipusat kota maupun
lokasi yang banyak dilewati pejalan tidak menjamin konsumen akan
datang dan membeli barang yang mereka butuhkan mesti itu ada di dekat
mereka. Terkadang dalam membeli seorang konsumen dibagung juga dari
rasa kecokan terhadap penjual mesti lokasinya jauh dan nggak langsung
terlihat.





2. Kemudahan untuk dikunjungi (X2)
Dalam penelitian ini terbukti juga memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap realsasi penjualan. Kemudahan untuk dikunjungi
disisni lebih fokus pada tingkat kemudahan dalam menjangkau lokasi
usaha, apabila usaha mudah dicapai alat transportasi, berada ditempat
terbuka dan dekat dengan pemukiman penduduk maka dapat dipastikan
konsumen yang datang mengunjungi lokasi tersebut akan semakin
bertambah karena konsumen tidak memenuhi kesulitan untuk datang ke
lokasi usaha.
3. Kesesuaian dengan sarana jual (X3)
Dalam penelitian ini ternyata variabel kesesuaian dengan sarana
jual (X3) memiliki t hitung paling besar yaitu 3,237 dibandingkan dengan
variabel bebas lainnya, sehingga disimpulkan dari ke tiga variabel yang
diteliti, yang memiliki pengaruh paling dominan adalah variabel
kesesuaian dengan sarana jual (X3). Variabel ini mempunyai pengaruh
yang penting untuk dipertimbangkan oleh pelaku usaha khususnya
pedagang kaki lima. Sebab pedagang kaki lma mempunyai keterbatasan
pada sarana jual mereka, padahal penjualan sedikit banyak tergantung
pada sarana jual yang digunakan. Semakin layak alat yang digunakan
maka penjualan yang diperoleh juga akan meninggkat sebab apabila
pedagang menggunakan meja atau kereta dorongmaka dia dapat memuat
banyak buah atau barang yang akan mereka jual dan apabila pedagang




hanya menggunakan hamparan tikar atau bakul sebagai alat jual tentu
juga mempengaruhi penjualan karena barang yang dijual lebih sedikit
sehingga keuntungan yang diperoleh juga berkurang. Jadi keterlibatan
sarana jual sangat mempengaruhi pendapatan pedagang kaki lima.






















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian analisis lokasi usaha terhadap
penjualan dengan obyek pedagang kaki lima di sepanjang Jl Sersan Harun
pasar besar malang adalah sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil dari analisis regresi linier berganda menunjukan
bahwa variabel kemudahan untuk dilihat, kemudahan untuk
dikunjungi, dan kesesuaian dengan sarana jual mempunyai
pengaruh terhadap realisasi penjualan. Dari hasil perhitungan uji F,
dapat dilihat bahwa F
hitung
> F
tabel
. Berdasarkan hasil analisis secara
parsial variabel kemudahan untuk dilihat memiliki t
hitung
t
tabel
,
maka Ha ditolak dan Ho diterima, ini berarti tidak ada pengaruh
yang signifikan oleh variabel kemudahan untuk dilihat terhadap
realisasi penjualan.
2. Atas dasar uji secara parsial, variabel yang paling dominan terhadap
realisasi penjualan adalah kesesuaian dengan sarana jual, kemudian
kemudahan untuk dikunjungi dan kemudahan untuk dilihat. Hal ini
di indikasikan dengan selang kepercayaan yang lebih kecil.





B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan diatas, maka
peneliti perlu memberikan saran-saran, diantaranya adalah :
1. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada pengaruh yang signifikan
antara variabel pemilihan lokasi usaha dengan realisasi penjualan
maka merupakan tindakan yang wajar bila para pedagang kaki lima
( PKL) sangat mempertimbangkan variabel-variabel diatas dalam
menentukan lokasi usahanya.
2. Tingginya kepadataan penduduk mengakibatkan perdagangan dalam
sektor ini semakin marak oleh sebab itu bagi pemerintah daerah
hendaknya mengupayakan sistem izin bagi para pedagang yang
akan berjualan didaerah ini dan merumuskan peraturan daerah yang
dapat mengakomodasikan semua yang dikeluhkan oleh para PKL.
3. Pemerintah perlu mengupayakan alokasi pasar yang sesuai dengan
faktor pendukung realisasi penjualan dengan mendirikan
memberikan tempat yang strategis khusus bagi para pedagang kaki
lima sehingga bisa menertipkan para pedagang kaki limass, selain
itu tata kota dan jalur transportasi tetab terkendali dan baik.
4. Karena memiliki Adjusted R Square= 0,432 diduga ada variabel lain
selain variabel kemudahan untuk dilihat, kemudahan untuk
dikunjungi dan kesesuaian dengan sarana jual yang mempengaruhi
dalam pemilihan lokasi usaha, variabel tersebut seperti variabel




keamanan dan resiko penjualan. Untuk itu dianjurkan peneliti
selanjutnya untuk mencari variabel yang lain dan lebih
menyempurnakan penelitian ini.









































DAFTAR PUSTAKA

Alma, Buchari. 2004. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Cetakan
keenam: CV.Alvabeta

Arikunto, Suharsimi. 2003. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek.
Edisi revisi Jakarta : Rieke Cipta

Charty E, Jerome MC dan William P. Parreault. 1993. Dasar-Dasar
Pemasaran diterjemahkan Agus Dharma: Edisi kelima.
Jakarta. Erlangga

Djarwanto dan Subagyo, Pangestu. 2002. Statistik Idukatif. Cetakan
Pertama Edisi Keempat. Yogyakarta : BPFE

Effendi, Rustam. 1995. Marketing Management. Malang : IKIP

Ernawati, Jenny; Subekti, Harini; Suharso, Tanjung. W . 1995. Preferensi
Pedagang Kaki Lima Terhadap Faktor Faktor Lokasi Tempat
Usaha Mangkal dalam Melakukan Aktivitas Perdagangan
Dikotamadya Malang. Fakultas Tehnik Universitas
Brawijaya

Firdaus, Carunia Mulya. 1995. Pengembangan sector Informal Pedagang Kaki
Lima dan Kontrol. Alih bahasa oleh Acella Aniwati. H .
Jakarta : Salemba Empat

Hermawan, Kartajaya. 1998. Marketing Plus 2000 ;Siasat Memenangkan
Persaingan Global. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Kotler, Philip. 1997. Manajemen Pemasaran. Alih bahasa oleh Wihelmus W.
Bakuwatun. Jakarta: Intermedia

Sabiq, Sayyid. 1993. Fiqih Islam. Alih bahasa oleh Kamalludin A. Marzuki
dkk. Syamsudin Manaf (Ed.) 1993 : Bandung






Shihab, M Quraish. 2001. Wawasan Al- Quran. Bandung Mizan

Singarimbun, Masri dan, Effendi, Sofyan. 1995. Metode Penelitian Survei :
LP3ES

Swastha, Basu. 1990. Manajemen Penjualan. Yogyakarta. Fakultas Ekonomi
Universitas Gajah Mada


Winardi. 1991. Marketing dan Perilaku Konsumen. Edisi II. Cetakan Ketiga :
Madar maju

Yazid. 2001.. Edisi Kedua. Yogyakarta : Ekonomi FE UI Pemasaran Jasa:
Konsep implementasi