Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT SISTEM PENCERNAAN: AKUT ABDOMEN Di susun oleh Kelompok: IV

Dewi astuti Halimatun sakdiah Rajiah suhaimi Iskandar (101121099) (101121100) (101121101) (101121102)

Maisarah Junika suci lestari Deby ade ayu Yeni rahmawati

(101121103) (101121104) (101121105) (101121105)

AKUT ABDOMEN
2.1 Pengertian Akut abdomen adalah suatu keadaan perut yang dapat membahayakan penderita dalam waktu singkat jika tidak dilakukan tindakan yang cepat dan tepat keadaan akut pada rongga abdomen yang Akut abdomen adalah suatu keadaan klinik akibat kegawatan di rongga abdomen biasanya timbul secara mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama yang memerlukan penanganan segera

Penyebab

Adanya inflamasi/peradangan (appendiks secara akut atau sudah terjadi perforasi apendiks, tukak lambung, usus tifus, pankreatitis akut, kolesistitis akut). Adanya ileus obstruksi (hernia inkarserata maupun karena adanya volvulus usus). Karena adanya iskemia yang disebabkan karena adanya kelainan atau penyumbatan vaskuler. Adanya perdarahan bisa disebabkan karena adanya kehamilan ektopik, atau aneurisma yang pecah. Karena adanya cedera/trauma (perforasi organ berongga, perdarahan hati atau limpa).

Tanda dan gejala


Nyeri abdomen dan/atau kaku Pasien diam melindungi abdomen (shock) Pernafasan cepat dan dangkal Nyeri Anoreksia, mual, muntah Kekakuan yang mengganjal Nyeri ulu hati Kolik (nyeri spasme berat)

Kolik (nyeri spasme berat) Sulit menelan Jaundice Hilangnya suara usus Takikardi Hipotensi Tegang atau distensi abdomen Konstipasi tiba-tiba dan diare yang berdarah

2.2 Anatomi
Batas rongga Abdomen :

Atas Bawah Depan Lateral Belakang

: Diafragma : Pelvis : Dinding depan abdomen : Dinding lateral abdomen : Dinding belakang abdomen serta tulang belakang

Pemeriksaan Fisik
A. Inspeksi Tanda-tanda khusus pada trauma daerah abdomen adalah : Penderita kesakitan. Pernafasan dangkal karena nyeri didaerah abdomen. Penderita pucat, keringat dingin. Bekas-bekas trauma pada dinding abdomen, memar, luka, prolaps omentum atau usus. Kadang-kadang pada trauma tumpul abdomen sukar ditemukan tanda-tanda khusus, maka harus dilakukan pemeriksaan berulang oleh dokter yang sama untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya perubahan pada pemeriksaan fisik. Pada ileus obstruksi terlihat distensi abdomen bila obstruksinya letak rendah, dan bila orangnya kurus kadang-kadang terlihat peristalsis usus (Darm-steifung). Keadaan nutrisi penderita.

B. Palpasi 1. Akut abdomen memberikan rangsangan pada peritoneum melalui peradangan atau iritasi peritoneum secara lokal atau umum tergantung dari luasnya daerah yang terkena iritasi. 2. Palpasi akan menunjukkan 2 gejala : Perasaan nyeri Kejang otot (muscular rigidity, defense musculaire) 3. nyeri tekan dan nyeri lepas. 4. Kejang otot (defense musculaire, muscular rigidity)

C. Perkusi Penting untuk menilai adanya massa atau cairan intra abdominal Perasaan nyeri oleh ketokan pada jari. Ini disebut sebagai nyeri ketok. Bunyi timpani karena meteorismus disebabkan distensi usus yang berisikan gas pada ileus obstruksi rendah. D. Auskultasi Auskultasi tidak memberikan gejala karena pada akut abdomen terjadi perangsangan peritoneum yang secara refleks akan mengakibatkan ileus paralitik.

Pemeriksaan laboratorium dan foto rontgen


1. Pemeriksaan darah rutin a. darahlengkap b. hematokrit c. protrombin time d. kadar ureum darah e. kadar gula darah f. elektrolit (Na,K) 2. Pemeriksaan urine a. ketonuria pada asidosis b. Pemeriksaan Rontgen abdomen 3. posisi untuk mengetahui adanya sumbatan dan letaknya

2.9 Pemeriksaan radiologi


Terdapat gambaran air fluid level Penanganan 1. Pantau cairan dan elektrolit 2. oksigenasi 3. Periksa asam basa 4 Antibiotik massif 5. Pantau keadaan suhu 6. Bila peritonitis sekunder terapi causa dasarnya.

Asuhan keperawatan
Data subjektif: Riwayat penyakit sekarang : Nyeri di RUQ ,hipokondria atau region epigastrik (cedera pada hati) Nyeri pada kuadran kiri atas (LUQ ), tanda Kehr (nyeri pada kuadran kiri atas yang menjalar ke bahu kiri) pada cedera limfa Nyeri pada area epigastrik atau bagian belakang, mungkin asimptomatik kecuali terdapat peritonitis, tanda mungkin tidak ditemukan sampai 12 jam setelah cedera pada cedera pancreas Nyeri pada abdomen ,mual dan muntah pada cedera usus Mekanisme cedera trauma tumpul atau tajam

Data objektif 1. Data Primer A : Airway : Tidak ada obstruksi jalan nafas B : Breathing (pernapasan) : Ada dispneu, penggunaan otot bantu napas dan napas cuping hidung. C : Circulation (sirkulasi) : Hipotensi, perdarahan , adanya tanda Bruit (bunyi abnormal pd auskultasi pembuluh darah, biasanya pd arteri karotis), tanda Cullen, tanda Grey-Turner, tanda Coopernail, tanda balance.,takikardi,diaphoresis D : Disability (ketidakmampuan ) : Nyeri, penurunan kesadaran, tanda Kehr 2. Data sekunder E : Exposure : Terdapat jejas ( trauma tumpul atu trauma tajam) pada daerah abdomen tergantung dari tempat trauma F : Five intervension / vital sign : Tanda vital : hipotensi, takikardi, pasang monitor jantung, pulse oksimetri, catat hasil lab abnormal

Diagnosa keperawatan
1. PK Perdarahan 2. Nyeri akut b/d agen cedera fisik( Trauma tumpul / tajam) ditandai dengan keluhan nyeri, diaphoresis, dispnea, takikardia 3. Cemas b/d prosedur pembedahan ditandai dengan pasien gelisah, takut, gugup, gemetar, wajah tegang 4. Pola napas tidak efektif b/d hiperventilasi ditandai dengan sesak, dispnea, penggunaan otot bantu napas, napas cupung hidung

Intervensi Dx 1 : PK Perdarahan
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 x 4 jam diharapkan perdarahan dapat dihentikan/teratasi Mandiri : 1) Pantau TTV Mengidentifikasi kondisi pasien. 2) Pantau tanda-tanda perdarahan. Mengidentifikasi adanya perdarahan, membantu dalam pemberian intervensi yang tepat. 3) Pantau tanda-tanda perubahan sirkulasi ke jaringan perifer (CRT dan sianosis). Mengetahui keadekuatan aliran darah. Kolaborasi : 1) Pantau hasil laboratorium (trombosit). Trombosit sebagai indicator pembekuan darah. 2) Kolaborasi pemberian cairan IV (cairan kristaloid NS/RL) sesuai indikasi. Membantu pemenuhan cairan dalam tubuh.

Dx 2 : Nyeri akut b/d agen cedera fisik ( Trauma tumpul / tajam) ditandai dengan keluhan nyeri, diaporesis, dispnea, takikardia Intervensi : Mandiri :

Kaji nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, qualitas, intensitas nyeri dan faktor presipitasi. Evaluasi peningkatan iritabilitas, tegangan otot, gelisah, perubahan tanda-tanda vital. Berikan tindakan kenyamanan, misalnya perubahan posisi, masase. Ajarkan menggunakan teknik non-analgetik (relaksasi progresif, latihan napas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan terapeutik, akupresure) Berikan lingkungan yang nyaman Kolaborasi : Berikan obat sesuai indikasi : relaksan otot, misalnya : dantren; analgesik

Dx 3 : Cemas b/d prosedur pembedahan ditandai dengan pasien gelisah, takut, gugup, gemetar, wajah tegang
Intervensi : Mandiri :

Indetifikasi tingkat kecemasan dan persepsi klien seperti takut dan cemas serta rasa kekhawatirannya. Kaji tingkat pengetahuan klien terhadap musibah yang dihadapi dan pengobatan pembedahan yang akan dilakukan. Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya. Berikan perhatian dan menjawab semua pertanyaan klien untuk membantu mengungkapkan perasaannya. Observasi tanda tanda kecemasan baik verbal dan non verbal. Berikan penjelasan setiap tindakan persiapan pembedahan sesuai dengan prosedur. Berikan dorongan moral dan sentuhan therapeutic. Berikan penjelasan dengan menggunakan bahasa yang sederhana tentang pengobatan pembedahan dan tujuan tindakan tersebut kepada klien beserta keluarga.

Dx 4 : Pola napas tidak efektif b/d hiperventilasi ditandai dengan sesak, dispnea, penggunaan otot bantu napas, napas cuping hidung Tujuan : Setelah dilakukan askep selama 1 x 10 menit diharapkan pola nafas pasien kembali efektif

Intervensi : Mandiri : Pantau adanya sesak atau dispnea Monitor usaha pernapasan, pengembangan dada, keteraturan pernapasan, napas cuping dan penggunaan otot bantu pernapasan Berikan posisi semifowler jika tidak ada kontraindikasi Ajarkan klien napas dalam Kolaborasi Berikan O2 sesuai indikasi Bantu intubasi jika pernapasan semakin memburuk dan siapkan pemasangan ventilator sesuai indikasi

EVALUASI
Dx 1 : Perdarahan dapat dihentikan/teratasi Dx 2 : Nyeri pasien terkontrol Dx 3 : Cemas pasien berkurang Dx 4 : Pola napas pasien kembali efektif

Terima Kasih