Anda di halaman 1dari 16

MANFAAT SERAT BAGI KESEHATAN

Oleh :
Dr. Zaimah Z. Tala, MS., SpGK
NIP. 132 014 898





DEPARTEMEN ILMU GIZI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2009



Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

DAFTAR ISI


Teks Halaman


PENDAHULUAN ................................................................................................ 1

JENIS-JENIS SERAT MAKANAN.................................................................. 2

SIFAT FISIK SERAT MAKANAN DAN EFEKNYA BAGI TUBUH.......... 7

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN..................................................... 10

PERAN SERAT DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT............................... 12

Daftar Pustaka .................................................................................................... 14





























Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

BAB I
PENDAHULUAN

Keberadaan serat sebagai komponen penting dalam makanan disadari kembali
oleh para ahli. Hasil dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa serat mempunyai efek
yang berperan dalam pencegahan dan penatalaksanaan beberapa penyakit. Sebelumnya
serat belum begitu banyak dibicarakan karena memang belum banyak diketahui nilai gizi
dan fungsinya. Namun sejak tahun 1970-an hasil-hasil penelitian mulai menunjukkan
fungsi serat makanan yang sangat besar bagi tubuh.
Hasil penelitian selama 25 tahun terakhir ini menunjukkan bahwa serat makanan
merupakan komponen penting untuk fungsi saluran cerna. Beragam efek yang
ditimbulkannya ini berhubungan dengan fakta bahwa serat terdiri dari beragam
komponen yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda. Oleh karena itu serat
tersebut tidak dapat dinyatakan sebagai zat tunggal, melainkan harus secara keseluruhan.
Dengan mengkonsumsi bahan makanan nabati akan tersedia serat yang cukup
bagi tubuh. Komposisi serat yang tersedia (sellulose, hemisellulose, pektin, lignin dll)
dipengaruhi oleh spesies tumbuhan, bagian tumbuhan (daun, akar atau batang) dan
derajad kematangan tumbuhan tersebut.
Tulisan ini bertujuan untuk mengenal lebih jauh tentang serat makanan, hubungan
antara tumbuhan dan serat serta kimiawinya, sifat fisik serat, efek fisiologis dan
metabolik yang ditimbulkannya, bahan makanan sumber dari masing-masing jenis serat
serta jumlah konsumsi yang dianjurkan.

Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

BAB II
JENIS-JENIS SERAT MAKANAN

Secara fisiologis serat makanan didefinisikan sebagai karbohidrat yang resisten
terhadap hidrolisis oleh enzim pencernaan manusia (karena itu tidak dapat dicerna) dan
lignin. Termasuk ke dalamnya adalah sellulosa, hemisellulosa, pektin, lignin, gum, -
glukan, fruktan dan resistant starch). Functional fiber adalah karbohidrat yang tidak
dapat dicerna tetapi dapat diisolasi, diekstraksi atau difabrikasi dan telah menunjukkan
efek yang menguntungkan bagi manusia. Termasuk kedalamnya adalah sellulosa, pektin
lignin, gum, -glukan, fruktan, chitin dan chitosan, polydextrose dan polyols, psillium,
resistant dextrins dan resistant starch.
Berdasarkan kelarutannya dalam air, serat dapat diklassifikasikan menjadi serat
larut (hemisellulosa, pektin, gum, psillium, -glukan dan musilages) dan serat tak larut
(sellulosa dan hemisellulosa). Lignin masuk dalam kelompok ini meskipun sebenarnya
bukan karbohidrat.

Sellulosa
Sellulosa merupakan komponen utama dinding sel. Bahan ini adalah polimer
linier unit glukosa dengan ikatan 1,4. Susunan yang terdiri dari ikatan tersebut
membentuk ikatan hidrogen inter dan intra molekul yang kuat, sehingga menjadikannya
tidak dapat larut dalam air. Sellulosa ditemukan pada dinding parenkimal tumbuhan,
kurang lebih 30% dari berat keringnya. Saat ini sudah dapat dimodifikasi secara kimiawi
menjadi lebih larut dan digunakan sebagai bahan tambahan makanan, seperti
Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

karboksimetilsellulosa, metilsellulosa dan hidroksipropilmetilsellulosa. Degradasinya
oleh bakteri usus bervariasi tetapi secara umum tidak dapat difermentasi dengan baik.
Bahan makanan yang kaya sellulosa contohnya bekatul, biji-bijian, kacang-
kacangan, sayuran dari keluarga kol dan apel. Sellulosa dalam bentuk bubuk biasa
ditambahkan pada makanan yang dipakai untuk pembuatan roti, kue dan produk daging
beku seperti nugget ayam dan juga pada jus campuran beberapa jenis buah.

Hemisellulosa
Adalah kelompok heterogen dari senyawa-senyawa yang mengandung sejumlah
gula pada rantai utama dan cabangnya. Gula inilah yang menentukan klassifikasi
hemisellulosa, terdiri dari xilosa, manosa dan galaktosa pada rantai utama sedangkan
pada rantai cabang ditemukan arabinosa, asam glukoronat dan galaktosa. Jenis gula yang
terdapat pada rantai cabang memberikan karakteristik penting bagi hemisellulosa.
Hemisellulosa yang mempunyai molekul asam pada rantai cabangnya akan sedikit
bermuatan listrik dan larut di dalam air, sedangkan hemisellulosa lainnya tidak larut. Hal
ini juga mempengaruhi fermentabilitas bakteri usus terhadap hemisellulosa.
Bahan makanan yang tinggi kadar hemisellulosanya adalah bekatul dan biji-bijian
utuh.

Lignin
Adalah komponen non karbohidrat utama dari serat. Merupakan polimer 3
dimensi yang terdiri dari unit-unit fenol dengan ikatan intra molekuler yang kuat. Lignin
biasanya tidak termasuk dalam komponen penting makanan manusia, karena umumnya
Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

berhubungan dengan jaringan-jaringan keras dan berkayu yang membentuk komponen
struktural tumbuhan. Lignin tidak larut air dan tidak difermentasi oleh bakteri usus.
Kandungan lignin yang tinggi ditemukan pada wortel, gandum dan buah yang
bijinya dapat dimakan seperti arbei.

Pektin
Pektin adalah suatu kelompok dari komponen yang mengandung pektik yang
terdiri dari pectin, pectic acid dan pectinic acid. Merupakan dietary fiber sekaligus
functional fiber. Adalah kelompok polisakarida yang unsur utamanya asam D-
galakturonat dengan ikatan 1,4 yang terdapat pada rantai utama sedangkan pada rantai
cabang terdapat ramnosa, arabinosa, xylosa, fruktosa dan galaktosa. Pektin membentuk
sebagian dinding utama sel tumbuhan dan sebagian lamella bagian tengah. Merupakan
serat larut air yang membentuk gel dan hampir seluruhnya dapat dimetabolisir oleh
bakteri kolon.
Stabil pada pH rendah oleh karena itu dapat dijumpai pada makanan yang asam.
Bahan makanan yang mengandung banyak pektin adalah apel, strawberi dan jeruk. Saat
ini pektin dapat diekstraksi dari jeruk atau apel dan dipakai sebagai bahan tambahan
makanan disamping dipakai untuk membentuk jel pada pembuatan jelli dan selai. Pektin
juga ditambahkan pada beberapa makanan enteral sebagai sumber serat.

Gum
Adalah salah satu kelompok senyawa yang dapat disebut sebagai hidrokoloid.
Gum terdiri dari berbagai jenis gula dan derivatnya. Jenis gula yang paling utama adalah
Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

galaktosa, asam glukoronat, asam uronat, arabinosa, ramnosa dan manosa. Di usus besar
difermentasi dengan sangat baik oleh bakteri usus. Gum arabikum merupakan
hidrokoloid tumbuhan yang paling sering digunakan sebagai bahan tambahan makanan.
Gum sangat dikenal karena mudah larut, pH stabil dan sifat khasnya pada pembentukan
gel. Gum ditemukan dalam bahan makanan seperti oat, barley dan tumbuhan polong.

-glukan
Adalah polimer glukosa yang mempunyai ikatan campuran antara ikatan 1,4 D-
glukosa dengan ikatan 1,3 D-glukosa. Setiap 2 atau 3 unit kelompok 1,4 D-glukosa
dipisahkan oleh 1 unit kelompok ikatan 1,3 D-glukosa. -glukan ini sangat baik
difermentasi oleh bakteri di dalam usus besar. Saat ini ekstraksi -glukan dipakai
sebagai functional fiber karena efeknya yang dapat menurunkan kadar kolesterol serum
dan kadar gula darah post prandial.
Bahan makanan yang banyak mengandung komponen -glukan adalah oat dan
barley, dimana sekitar 70% dari dinding endospermnya terdiri dari -glukan.

Fructans Inulin, Oligofruktosa dan fruktooligosakarida
Fruktans termasuk ke dalamnya inulin, oligofruktosa dan fruktooligosakarida
mengandung rantai fuktosa dengan panjang yang bervariasi. Inulin terdiri dari 2 60
unit fruktosa. Oligofruktosa berasal dari hidrolisis parsial inulin dan biasanya
mengandung 2 8 unit fruktosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi
fruktooligosakarida dapat merangsang pertumbuhan bifidobakteria yang bekerja sebagai
prebiotik.
Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

Bawang merah merupakan salah satu bahan makanan yang banyak mengandung
fruktans. Inulin dan oligofruktosa ini juga dapat disintesis dari sukrosa.

Resistent starch
Merupakan zat pati yang tidak bisa dicerna secara enzimatik. Salah satu
contohnya adalah zat pati yang ditemukan di dinding sel tanaman yang tahan terhadap
aktivitas amylase (RS1). Gelatinisasi dapat mempermudah aksesnya terhadap enzim ini
(RS2). Resistant starch juga bisa terbentuk akibat pengolahan bahan makanan seperti
proses pemasakan atau pendinginan (RS3) atau modifikasi kimiawi dari zat pati tersebut
(RS4). RS1 dan RS2 termasuk golongan dietary fiber sedangkan RS3 dan RS4 adalah
functional fiber.

Chitin dan Chitosan
Chitin merupakan amino-polisakarida yang tidak larut dalam air sedangkan
chitosan adalah bentuk deasetilasi dari chitin. Pada beberapa tanaman rendah chitin dapat
menggantikan sellulosa pada dinding sel. Ia juga merupakan komponen eksoskeleton dari
insekta dan ditemukan juga pada krustasea. Chitin dan chitosan saat ini banyak dijual
sebagai food supplement. Beberapa penelitian menunjukkan chitosan efektif menurunkan
kadar kolesterol darah.

Psillium
Psillium dimasukkan ke dalam golongan functional fiber yang didapat dari getah
tumbuhan berbiji platago ovata yang bersifat hidrofilik dan dapat membentuk gel.
Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

BAB III
SIFAT FISIK SERAT MAKANAN DAN EFEKNYA BAGI TUBUH

Efek fisiologis dan metabolik dari serat sangat bervariasi tergantung dari jenis
serat yang dikonsumsi. Efek fisiologis dan metabolik yang timbul sangat dipengaruhi
oleh sifat fisik serat tersebut, seperti kelarutan dalam air, hidrasi dan kemampuan
menahan air, kemampuan mengikat bahan organik dan anorganik dan daya
fermantabilitas bakteri .

Kelarutan dalam air
Berdasarkan kelarutannya dalam air serat dapat dibedakan menjadi serat larut dan
serat tak larut. Yang dimaksud dengan serat larut adalah serat yang dapat larut dalam air
panas, termasuk ke dalamnya beberapa hemisellulosa, pektin, gum dan -glukan. Serat
yang tidak dapat larut dalam air panas disebut serat tak larut dan yang termasuk dalam
kelompok ini adalah sellulosa, beberapa hemisellulosa dan lignin. Secara umum sayur-
sayuran dan gandum mengandung lebih banyak serat tak larut.
Efek kelarutannya dalam air ini akan mempengaruhi beberapa sifat serat yang
lain. Serat larut biasanya akan memperlambat waktu pengosongan lambung,
meningkatkan waktu transit melalui usus (karena gerakannya lebih lambat) dan akan
mengurangi penyerapan beberapa zat gizi. Sebaliknya serat tak larut akan memperpendek
waktu transit dan akan memperbesar massa feses.


Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

Kemampuan menahan air dan viskositas
Kemampuan menahan air ini dimaksudkan sebagai kemampuan serat untuk
menahan air dalam matriksnya. Jenis serat larut dapat menahan air lebih besar dibanding
serat tidak larut. Sifat ini tidak hanya ditentukan kelarutannya dalam air, tetapi juga
dipengaruhi oleh pH saluran cerna, besarnya partikel serat (dimana partikel yang kasar
memiliki kemampuan hidrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan partikel yang halus)
dan juga proses pengolahan.
Akibat dari kemampuan menahan air ini serat akan membentuk cairan kental yang
dapat memberi pengaruh pada saluran cerna berupa :
- Waktu pengosongan lambung lebih lama
Dengan terbentuknya gel di lambung setelah konsumsi serat akan menyebabkan
chyme yang berasal dari lambung berjalan lebih lambat ke intestine. Hal ini
menyebabkan makanan lebih lama tertahan di lambung sehingga rasa kenyang
setelah makan juga lebih panjang. Keadaan ini juga akan memperlambat proses
pencernaan karena karbohidrat dan lemak yang tertahan di lambung belum dapat
dicerna sebelum masuk ke intestine.
- Mengurangi mixing isi saluran cerna dengan enzim pencernaan
Viscous gel yang terbentuk membuat adanya barier yang mempengaruhi
kemampuan makanan untuk bercampur dengan enzim pencernaan.
- Menghambat fungsi enzim
Viscous gel yang terbentuk mempengaruhi proses hidrolisis enzimatik di dalam
saluran cerna. Misalnya gum dapat menghambat peptidase usus yang dibutuhkan
Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

untuk pemecahan peptida menjadi asam amino. Aktivitas lipase pankreas juga
berkurang sehingga menghambat pencernaan lemak.
- mengurangi kecepatan difusi nutrient (sehingga memperlambat penyerapan)
- mempengaruhi waktu transit di usus.

Adsorption atau binding ability
Beberapa jenis serat seperti lignin, gum, pektin dan hemisellulosa dapat berikatan dengan
enzim atau nutrien di dalam saluran cerna. Efek fisiologisnya adalah :
- Berkurangnya absorpsi lemak
Baik serat larut (pektin, gum dan -glukan) maupun serat tak larut (lignin) dapat
mempengaruhi absorpsi lemak dengan mengikat asam lemak, kolesterol dan garam
empedu di saluran cerna. Asam lemak dan kolesterol yang terikat dengan serat tidak
dapat membentuk micelle yang sangat dibutuhkan untuk penyerapan lemak agar
dapat melewati unstirred water layer masuk ke enterosit. Akibatnya lemak yang
berikatan dengan serat tidak bisa diserap dan akan terus ke usus besar untuk
dieksresi melalui feses atau didegradasi oleh bakteri usus.
- Meningkatkan eksresi garam empedu
Serat akan mengikat garam empedu sehingga micelle tidak dapat terbentuk. Di
samping itu garam empedu yang telah terikat serat ini tidak dapat direabsorpsi dan
di-resirkulasi melalui siklus enterohepatik. Akibatnya garam empedu ini akan terus
ke usus besar untuk dibuang melalui feses atau didegradasi oleh flora usus.


Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

- Mengurangi kadar kolesterol serum
Konsumsi serat dapat menurunkan kadar kolesterol serum melalui beberapa cara.
1. dengan meningkatnya eksresi garam empedu dan kolesterol melaui feses maka
garam empedu yang mengalami siklus enterohepatik juga berkurang.
Berkurangnya garam empedu yang masuk ke hati dan berkurangnya absorpsi
kolesterol akan menurunkan kadar kolesterol sel hati. Ini akan meningkatkan
pengambilan kolesterol dari darah yang akan dipakai untuk sintesis garam
empedu yang baru yang akibatnya akan menurunkan kadar kolesterol darah.
2. Terjadi perubahan pool garam empedu dari cholic acid menjadi
chenodeoxycholic acid yang menghambat 3-hydroxy 3-methylglutaryl (HMG)
CoA reductase yang dibutuhkan untuk sintesis kolesterol
3. Penelitian pada hewan menunjukkan propionat atau asam lemak rantai pendek
lain yang terbentuk sebagai hasil degradasi serat di kolon akan menghambat
sintesis asam lemak.
- Mempengaruhi keseimbangan mineral
Beberapa serat dapat berikatan dengan kation seperti kalsium, zink dan zat besi.

Degradability / Fermentability
Bakteri yang terdapat di lumen usus terutama usus besar dapat memfermentasi
serat, terutama pektin dan gum. Sellulosa dan hemisellulosa juga difermentasi tetapi
dengan kecepatan yang lebih lambat.
Metabolit utama dari fermentable fiber adalah laktat dan asam lemak rantai
pendek yang dulu disebut dengan volatile fatty acid. Asam lemak rantai pendek yang
Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

terbentuk terutama asam asetat, butirat dan propionat. Selain itu dihasilkan juga hidrogen,
karbondioksida dan gas metana yang akan keluar melalui flatus atau ekspirasi dari paru.
Masing-masing serat akan difermentasi oleh bakteri yang berbeda dan akan menghasilkan
asam lemak rantai pendek yang berbeda pula. Hasil penelitian pada tikus menunjukkan
konsumsi tinggi pektin akan menghasilkan banyak propionat sedangkan konsumsi tinggi
gandum akan menghasilkan banyak butirat.
Asam lemak rantai pendek ini kemudian berperan dalam (1) meningkatkan absorpsi air
dan sodium di kolon, (2) merangsang proliferasi sel, (3) sebagai sumber energi dan (4)
akan menimbulkan lingkungan asam di lumen usus.
Jenis serat yang nonfermentable (sellulosa dan lignin) atau yang lambat difermentasi
(hemisellulosa) berperan dalam merangsang proliferasi bakteri. Hal ini bermanfaat untuk
detoksifikasi dan untuk meningkatkan volume feses.











Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

BAB IV
PERAN SERAT DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT

Pentingnya asupan serat (dalam jumlah yang cukup) bagi kesehatan telah
ditunjukkan melalui efek fisiologis dari masing-masing jenis serat tersebut. Dengan
memperlambat absorpsi karbohidrat dapat membantu penderita diabetes mellitus dalam
mengatur kadar gula darahnya. Kadar kolesterol yang tinggi merupakan faktor risiko
untuk penyakit jantung, karena itu konsumsi serat larut yang dapat menurunkan kadar
kolesterol sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya penyakit jantung. Konsumsi
serat yang cukup terutama insoluble, nonfermentable juga bermanfaat dalam
penatalaksanaan beberapa gangguan saluran cerna, seperti divertikulitis, batu empedu,
irritable bowel syndrome dan konstipasi. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada
kelompok populasi dengan konsumsi serat yang tinggi dijumpai insidens yang lebih
rendah untuk gangguan saluran cerna, penyakit jantung, kanker kolon dan mammae. Efek
kenyang yang timbul setelah konsumsi serat juga membantu untuk mengontrol berat
badan.
Beberapa mekanisme kerja serat menghambat terjadinya kanker kolon adalah :
- kadar garam empedu yang tinggi berhubungan dengan tingginya risiko terjadinya
kanker kolon. Serat memiliki efek proteksi karena dapat mengurangi kadar garam
empedu bebas dan perubahannya menjadi secondary bile acid yang membantu
proses karsinogenesis kolon.
Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

- Serat yang dapat meningkatkan massa feses akan mengurangi konsentrasi
karsinogen dan prokarsinogen dan juga akan mengurangi interaksinya dengan sel
mukosa kolon
- Tersedianya substrat fermentable untuk bakteri usus akan mengubah jumlah dan
spesies serta metabolismenya yang akan menghambat proliferasi sel tumor dan
perubahan prokarsinogen menjadi karsinogen
- Transit time yang singkat akan mengurangi waktu terbentuknya toksin dan lamanya
kontak dengan kolon
- Fermentasi serat menjadi asam lemak rantai pendek akan menurunkan pH di lumen
usus. Hal ini akan mengurangi terbentuknya secondary bile acid yang dapat
membantu terbentuknya sel tumor
- Asam butirat memperlihatkan efek memperlambat proliferasi dan diferensiasi sel
tumor
- Serat tak larut seperti lignin yang resisten terhadap degradasi akan mengikat
karsinogen sehingga meminimalisir kemungkinan interaksinya dengan sel mukosa
kolon







Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

Dr. Zaimal Z. Tala : Manfaat Serat Bagi Kesehatan, 2009
USU Repository 2008

DAFTAR PUSTAKA
Anderson J.W. (2006) Diabetes mellitus : medical nutritional therapy, dalam Modern
Nutrition in Health and Disease (Shils dkk eds), 10
th
ed, hal 1043-1066.
Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia.

Autio K. (2004) Starch in food : diabetes and coronary heart disease, dalam Functional
Food, Cardiovascular disease and Diabetes (Arnoldi ed), hal 377-394, Woodhead
Publishing

Gallagher M.L. (2008) The nutrients and their metabolism, dalam Krauses Food
Nutrition and Diet Therapy (Mahan & Escott-Stump eds) 12
th
ed, hal 39-143,
Saunders Elsevier

Gallaher D.D., dan Schneeman B.O. (2001) Dietary fiber, dalam Present Knowledge in
Nutrition ( Bowman & Russell eds), hal 83-91. ILSI Press, Washington D.C.

Gropper S.S., Smith J.L., dan Groff G.L. (2005) Advanced Nutrition and Human
Metabolism, 4
th
ed, hal 108-123. Thomson Wadsworth
.
Grundy S.M. (2006) Nutrition in the management of disorders of serum lipids and
lipoproteins, dalam Modern Nutrition in Health and Diseases (Shils dkk eds), 10
th

ed, hal 1076-1094. Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia.

Lupton J.R., dan Trumbo P.R. (2006) Dietary fiber, dalam Modern Nutrition in Health and
Disease (Shils dkk eds), 10
th
ed, hal 83-91. Lippincott Williams & Wilkins,
Philadelphia.

Krummel D.A (2008) Medical nutrition therapy for cardiovascular disease, dalam
Krauses Food Nutrition and Diet Therapy (Mahan & Escott-Stump eds) 12
th
ed,
hal 833-864, Saunders Elsevier

Omning G. (2004)The use of cereal beta-glukans to control diabetes and cardiovascular
disease, dalam Functional Food, Cardiovascular disease and Diabetes (Arnoldi
ed), hal 402-416, Woodhead Publishing

Pujol T.J., dan Tucker J.E (2007) Disease of the cardiovascular system, dalam Nutrition
Therapy and Pathophysiology (Nelms dkk eds), hal 371-420, Thomson
Wadsworth.

Rolfes S.R., Pinna K., dan Whitney E (2006) Understanding Normal and Clinical
Nutrition, 7
th
ed, hal 102-139, Thomson Wadsworth.

Sizer F.S., dan Whitney E. (2006) Nutrition Concepts and Controversies. 10
th
ed, hal 99
138, Thomson Wadsworth.