Anda di halaman 1dari 38

DIAGNOSIS DAN MANAJEMEN ANEMIA

W. Sri Wardani

SMF ILMU Penyakit Dalam RSUD SANJIWANI Gianyar November 2010

ANEMIA

Menurunnya massa eritrosit yang beredar


sehingga tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai oxygen carrying power Ditandai oleh menurunnya kadar :
hemoglobin hematokrit hitung eritrosit

PATOFISIOLOGI
Penyebab Anemia Penurunan Hb, Hct, Eritrosit

Kapasitas angkut oksigen menurun Hipoksia organ target Mekanisme Kompensasi

Gejala Anemia

Gejala anemia
Berat ringannya gejala anemia tergantung dari:
1. Derajat penurunan Hb 2. Kecepatan penurunan Hb 3. Usia

4. Penyakit penyerta (kelainan jantung/paru)

Pendekatan diagnosis anemia


1.

Pendekatan klinis, sehingga dapat diketahui sifat gejala anemia, awitannya dan beratnya anemia. pendekatan berdasarkan hasil laboratorium
pendekatan berdasarkan pola etiologi anemia.

2.

3.

1. Pendekatan klinis
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
fisik yang baik untuk mencari:
Gejala anemia: Sindrom anemia Tanda khas anemia Gejala penyakit dasar

Sindrom anemia

Kumpulan gejala : gejala umum anemia yang timbul pada semua jenis anemia.
Sindrom anemia tidak sensitif ( bila hb <7 ) dan tidak spesifik Bila diklasifikasikan berdasarkan organ, sbb:
Sistem kardiovaskular : Rasa lemah, lesu, cepat lelah, sesak waktu kerja, anggina pectoris, gagal jantung. Sistem saraf : sakit kepala, pusing, telinga mendenging (tinnitus), mata berkunang-kunang, kelemahan otot, iritable, lesu, kaki terasa dingin,

Sindrom anemia

Sistem urogenital:
Epithel :

Gangguan haid dan libido menurun Warna pucat pada mukosa elastisitas kulit menurun, rambut tipis dan halus

Pada pemeriksaan : tampak pucat:


konjungtiva, mukosa mulut, telapak tangan dan jaringan dibawah kuku

Tanda khas anemia


Tanda khas anemia : gejala spesifik masing2 anemia
Anemia defisiensi besi : disfagia, atrofi papil lidah, stomaitis angularis, dan kuku sendok (koilonikia)

Anemia megaloblastik : glositis, gangguan neurologikpada


defisiensi B12 Anemia hemolitik : ikterus, splenomegali, hepatomegali Anemia aplastik : perdarahan dan tanda infeksi

Gejala penyakit dasar


Gejala yang timbul akibat penyakit dasar yang
menyebabkan anemia:
Cacing tambang: sakit perut, pembengkakan
parotis, warna kuning pada telapak tangan

Anemia pada penyakit kronik

Artritis rematoid, TBC

2. Pendekatan laboratorium

Analisis hasil laboratorium:


Pemeriksaan penyaring : tahap awal

Hb, indeks eritrosit WBC, Plt Apusan darah tepi

2. Pendekatan laboratorium
Pemeriksaan rutin: dikerjakan pada semua
kasus anemi LED, Hitung diferensial retikulosit

Pemeriksaan khusus: atas indikasi

Sumsum tulang SI dan TIBC, Serum feritin B12 dan folat Tes coombs, elektroforesis hb
Fungsi ginjal, hati, endokrin, dll pemeriksaan biopsi kelenjar, sitogenetik, radiologi

Pemeriksaan lab lain :

penunjang lain :

3. Pendekatan pola etiologi

Jenis anemia yang paling sering di dunia adalah:


Anemia defisiensi besi
Anemia akibat penyakit kronik (ACD) thalasemia

Pola etiologi suatu daerah diperhatikan:


daerah tropis : ADB, ACD, thalasemia Bali : anemia aplastik cukup sering

Jenis kelamin
Wanita hamil: defisiensi besi dan folat

Usia:
Anak2 : thalasemia Dewasa : anemia penyakit kronik

Tahapan diagnosis anemia Menentukan adanya anemia Menentukan jenis anemia

1. 2.

3.

Menentukan beratnya anemia atau


adanya keadaan gawat darurat.

4.

Menentukan etiologi/penyakit dasar

1.

Menentukan adanya anemia

Kriteria anemia menurut WHO 1968: Laki dewasa : < 13 g/dl Wanita dewasa : < 12 g/dl Wanita hamil : < 11 g/dl Anak 6-14 th : < 12 g/dl Anak 6 bl-6 th : < 11 g/dl

Kriteria Klinik

: Hb < 10 g/dl Hct < 30 % Eritrosit < 2,8 juta/mm3

2.

Menentukan jenis anemia (Klasifikasi anemia)

Klasifikasi Morfologi a. Anemia hipokromik-mikrositer (MCV < 80 fl, MCH < 27 pg) b. Anemia normokromik-normositer ( MCV 80-95fl, MCH 27 34pg) c. Anemia makrositer ( MCV > 95 fl)

Klasifikasi Etiopatogenesis
A. Gangguan Produksi Eritrosit
1. Kekurangan bahan pembentuk darah a. Anemia defisiensi besi b. Anemia defisiensi B12 & asam folat 2. Gangguan Utilisasi Besi a. Anemia akibat penyakit kronik b. Anemia sideroblastik 3. Kerusakan sumsum tulang a. Hipoplasia Anemia aplastik b. Infiltrasi anemia mieloptisik 4. Gangguan eritropoetin a. Anemia pada GGK 5. Disfungsi sumsum tulang a. Anemia diseritropoetik b. Anemia pada sindroma mielodisplastik

Klasifikasi Etiopatogenesis (lanjutan)


B. Perdarahan
a. Anemia pasca perdarahan akut b. Anemia pasca perdarahan kronik C. Anemia akibat hemolisis 1. Faktor ekstrakorpuskuler a. Akibat proses imun b. Hipersplenisme c. Akibat bahan kimia/fisik d. Akibat infeksi bakteri atau parasit e. Akibat faktor mekanik 2. Faktor intrakorpuskuler a. Gangguan membran eritrosit (membranopati) Hereditary spherocytosis b. Gangguan ensim eritrosit (ensimopati) Defisiensi G6PD c. Gangguan pembentukan hemoglobin (hemoglobinopati) Hemoglobinopati struktural: HbS, HbE, dll Thalassemia D. Bentuk Campuran

3.

Menentukan beratnya anemia atau adanya keadaan gawat darurat Klasifikasi derajat anemia yang umum
digunakan adalah sbb:
1. Ringan sekali : Hb : 10 g/dl cut off point 2. Ringan 3. Sedang : Hb : 8-9,9 g/dl : Hb : 6-7,9 g/dl

4. Berat

: Hb : <6 g/dl

4.

Menentukan etiologi/penyakit dasar

Gejala dan tanda penyakit dasar


ADB yang disebabkan oleh infestasi cacing ditandai dg:
pembesaran parotis Telapak tangan berwarna kuning seperti jerami

Kanker kolon: perubahan BAB,feces campur darah dan lendir. TBC : keringat malam, batuk darah, BB

Fig. 5.8 Thalassemia major dengan muka yang khas

Normal peripheral blood smear

High power view of a normal peripheral blood smear. Several platelets (black arrows) and a normal lymphocyte (blue arrow) can also be seen. The red cells are of relatively uniform size and shape. The diameter of the normal red cell should approximate that of the nucleus of the small lymphocyte; central pallor (red arrow) should equal one-third of its diameter. Courtesy of Carola von Kapff, SH (ASCP).

Anemia hipokromik

ALGORITMA DIAGNOSIS ANEMIA

ANEMIA

HIPOKROMIK MIKROSITIK

NORMOKROMIK NORMOSITIK

MAKROSITIK

HYPOCHROMIC MICROCYTIC ANEMIA


Serum Iron
Low Normal

TIBC Ferritin

TIBC Ferritin N/

Normal feritin

Marrow iron negative

Marrow iron positive

Hb Electrophoresis

Ring sideroblast in bone marrow

Hb A2 HbF

Iron deficiency Anemia

Anemia of chronic disease

Beta thalasemia

Sideroblastic anemia

NORMOCHROMIC NORMOCYTIC ANEMIA


Reticulocyte High Hemolytic signs positive Coomb test Negative Family history positve Enzymopathy Membranopathy Hemoglobinopahy AIHA Positive History of acute bleeding Hypoplastic Hematologic malignancy (leukemia, myeloma) Normal / low

Bone marrow Infiltration Lymphoma Cancer Normal Liver function Renal function Thyroid function Chronic disease

Aplastic anemia

Myelopthisic anemia

Microangiopathic anemia Drugs Parasite

Post acute hemorrhagic anemia Anemia in acute leukemia / myeloma

Anemia in : CRF Chronic liver disease Hypothyoidism Chronic disease

MACROCYTIC ANEMIA
Reticulocyte
High History of acute bleeding Normal/low Bone marrow

Megaloblastic Post acute hemorrhagic anemia

Non megaloblastic

B12 /folate deficiency anemia during treatment

Serum B12 low


B12 def. anemia

Folic acid low

Thyroid funct. Liver fucntion Dysplastic

Folate def. anemia

Anemia in hypotiroidism
Anemia in chronic liver disease
Myelodysplastic syndrome

Prinsip terapi anemia

pengobatan hendaknya dilakukan setelah diagnosis anemia ditegakkan, dan atas indikasi yang jelas. Jenis-jenis terapi anemia dapat berupa:
1. 2. 3. 4. 5. terapi untuk keadaan gawat darurat terapi suportif terapi khas untuk anemia Terapi untuk penyakit dasar Terapi exjuvantivus

1. Terapi untuk keadaan gawat darurat

Transfusi darah :
Pada kasus anemia dg payah jantung atau ancaman payah jantung Pada anemia karena perdarahan akut Spesimen pemeriksaan diambil terlebih dahulu sebelum

transfusi

2.

Terapi suportif

Terapi untuk mengurangi gejala anemia dan


menstabilkan hemodinamik
Pada perdarahan akut diberikan terapi cairan Pada gagal jantung diberikan oksigen Pada anemia aplastik dg febris diberikan

antipiretik

2.

Terapi khas untuk anemia

Terapi ini tergantung jenis anemia


Anemia defisiensi besi : preparat besi Anemia defisiensi folat : asam folat Anemia defisiensi B12 : vitamin B12, dll

4. Terapi untuk penyakit dasar

Penyakit dasar perlu diobati, bila tidak, anemia akan kambuh kembali.
Kasus TBC pengobatan TBC Kasus menorrhagi terapi menoragi Infestasi cacing : obat cacing

4. Terapi exjuvantivus

Terapi yang terpaksa diberikan sebelum diagnosis dapat ditegakkan


bila tidak tersedia fasilitas diagnosis yang mencukupi. Jauh dari sentra fasilitas diagnosis Harus diawasi ketat : bila respon baik terapi diteruskan, bila tidak evaluasi kembali