Anda di halaman 1dari 37

http://doktermaya.wordpress.

com/2011/12/10/soft-tissu-tumor/ BAB I PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG Jaringan lunak adalah bagian dari tubuh yang terletak antara kulit dan tulang serta organ tubuh bagian dalam. Yang tergolong jaringan lunak antara lain adalah otot, tendon, jaringan ikat, lemak dan jaringan synovial (jaringan di sekitar persendian). Tumor adalah benjolan atau pembengkakan abnormal dalam tubuh, tetapi dalam artian khusus tumor adalah benjolan yang disebabkan oleh neoplasma. Secara klinis, tumor dibedakan atas golongan neoplasma dan nonneoplasma misalnya kista, akibat reaksi radang atau hipertrofi. Tumor jaringan lunak dapat terjadi di seluruh bagian tubuh mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tumor jaringan lunak ini ada yang jinak dan ada yang ganas. Tumor ganas atau kanker pada jaringan lunak dikenal sebagai sarcoma jaringan lunak atau Soft Tissue Sarcoma (STS). Kanker jaringan lunak termasuk kanker yang jarang ditemukan, insidensnya hanya sekitar 1% dari seluruh keganasan yang ditemukan pada orang dewasa dan 7-15% dari seluruh keganasan pada anak. Bisa ditemukan pada semua kelompok umur. Pada anak-anak paling sering pada umur sekitar 4 tahun dan pada orang dewasa paling banyak pada umur 45-50 tahun. Lokasi yang paling sering ditemukan adalah pada anggota gerak bawah yaitu sebesar 46% di mana 75% ada diatas lutut terutama di daerah paha. Di anggota gerak atas mulai dari lengan atas, lengan bawah hingga telapak tangan sekitar 13%. 30% di tubuh bagian luar maupun dalam, seperti pada dinding perut, dan juga pada jaringan lunak dalam perut maupun dekat ginjal atau yang disebut daerah retroperitoneum. Pada daerah kepala dan leher sekitar 9% dan 1% di tempat lainnya, antara lain di dada.

I.2 I.2.1 I.2.2

RUMUSAN MASALAH Bagaimana etiologi dan patofisiologi tumor jaringan lunak? Bagaimana diagnosis dan penatalaksanaan tumor jaringan lunak?

I.3 I.3.1 I.3.2

TUJUAN Mengetahui etiologi dan patofisiologi tumor jaringan lunak. Mengetahui cara mendiagnosis dan penatalaksanaan tumor jaringan lunak.

I.4

MANFAAT

I.4.1 Menambah wawasan mengenai ilmu kedokteran pada umumnya, dan ilmu bedah orthopedi pada khususnya I.4.2 Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti kepaniteraan klinik bagian ilmu bedah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. A.

DEFINISI

Jaringan lunak adalah bagian dari tubuh yang terletak antara kulit dan tulang serta organ tubuh bagian dalam. Yang tergolong jaringan lunak antara lain adalah otot, tendon, jaringan ikat, dan jaringan lemak. Tumor jaringan lunak atau Soft Tissue Tumor (STT) adalah suatu benjolan atau pembengkakan abnormal yang disebabkan pertumbuhan sel baru.

1. B.

ANATOMI FISIOLOGI

Menurut Evelyn C. Pearce (2008:15), anatomi fisiologi jaringan lunak adalah sebagai berikut :

1. Otot Otot ialah jaringan yang mempunyai kemampuan khusus yaitu berkontraksi bergerak. Otot terdiri atas serabut silindris yang mempunyai sifat yang sama dengan jaringan yang lain, semua ini diikat menjadi berkas-berkas serabut kecil oleh sejenis jaringan ikat yang mengandung unsur kontraktil 2. Tendon Tendon adalah pengikat otot pada tulang, tendon ini berupa serabut-serabut simpai yang berwarna putih, berkilap, dan tidak elastis. 3. Jaringan ikat Jaringan ikat melengkapi kerangka badan, dan terdiri dari jaringan areolar dan serabut elastis.

1. C.

ETIOLOGI

Etiologi Soft Tissue Tumor : 1. Kondisi genetik Ada bukti tertentu pembentukan gen dan mutasi gen adalah faktor predisposisi untuk beberapa tumor jaringan lunak, dalam daftar laporan gen yang abnormal, bahwa gen memiliki peran penting dalam diagnosis. 2. Radiasi Mekanisme yang patogenik adalah munculnya mutasi gen radiasi-induksi yang mendorong transformasi neoplastik. 3. Lingkungan karsinogen Sebuah hubungan antara eksposur ke berbagai karsinogen dan setelah itu dilaporkan meningkatnya insiden tumor jaringan lunak. 4. Infeksi Infeksi virus Epstein-Barr dalam orang yang kekebalannya lemah juga akan meningkatkan kemungkinan tumor jaringan lunak. 5. Trauma

Hubungan antara trauma dan Soft Tissue Tumors nampaknya kebetulan. Trauma mungkin menarik perhatian medis ke pra-luka yang ada.

D.

INSIDENSI

Kanker jaringan lunak termasuk kanker yang jarang ditemukan, insidensnya hanya sekitar 1% dari seluruh keganasan yang ditemukan pada orang dewasa dan 7-15 % dari seluruh keganasan pada anak. Bisa ditemukan pada semua kelompok umur. Pada anak-anak paling sering pada umur sekitar 4 tahun dan pada orang dewasa paling banyak pada umur 45-50 tahun. Lokasi yang paling sering ditemukan adalah pada anggota gerak bawah yaitu sebesar 46% dimana 75%-nya ada di atas lutut terutama di daerah paha. Di anggota gerak atas mulai dari lengan atas, lengan bawah hingga telapak tangan sekitar 13%. 30% di tubuh bagian di bagian luar maupun dalam, seperti pada dinding perut, dan juga pada jaringan lunak di dalam perut maupun dekat ginjal atau yang disebut daerah retroperitoneum. Pada daerah kepala dan leher sekitar 9% dan 1% di tempat lainnya, antara lain di dada. E. MANIFESTASI KLINIS

Gejala dan tanda kanker jaringan lunak tidak spesifik, tergantung pada lokasi di mana tumor berada, umumnya gejalanya berupa adanya suatu benjolan dibawah kulit yang tidak terasa sakit. Hanya sedikit penderita yang mengeluh sakit, yang biasanya terjadi akibat pendarahan atau nekrosis dalam tumor, dan bisa juga karena adanya penekanan pada saraf-saraf tepi. Tumor jinak jaringan lunak biasanya tumbuh lambat, tidak cepat membesar, bila diraba terasa lunak dan bila tumor digerakan relatif masih mudah digerakan dari jaringan di sekitarnya dan tidak pernah menyebar ke tempat jauh. Umumnya pertumbuhan kanker jaringan lunak relatif cepat membesar, berkembang menjadi benjolan yang keras, dan bila digerakkan agak sukar dan dapat menyebar ke tempat jauh ke paru-paru, liver maupun tulang. Kalau ukuran kanker sudah begitu besar, dapat menyebabkan borok dan perdarahan pada kulit diatasnya.

F.

PATOFISIOLOGI

Pada umumnya tumor-tumor jaringan lunak atau Soft Tissue Tumors (STT) adalah proliferasi jaringan mesenkimal yang terjadi di jaringan nonepitelial ekstraskeletal tubuh. Dapat timbul di tempat di mana saja, meskipun kira-kira 40% terjadi di

ekstermitas bawah, terutama daerah paha, 20% di ekstermitas atas, 10% di kepala dan leher, dan 30% di badan. Tumors jaringan lunak tumbuh centripetally, meskipun beberapa tumor jinak, seperti serabut luka. Setelah tumor mencapai batas anatomis dari tempatnya, maka tumor membesar melewati batas sampai ke struktur neurovascular. Tumor jaringan lunak timbul di lokasi seperti lekukan-lekukan tubuh. Proses alami dari kebanyakan tumor ganas dapat dibagi atas 4 fase yaitu : 1. Perubahan ganas pada sel-sel target, disebut sebagai transformasi. 2. Pertumbuhan dari sel-sel transformasi. 3. Invasi lokal. 4. Metastasis jauh.

G.

DIAGNOSA

Metode diagnosis yang paling umum selain pemeriksaan klinis adalah pemeriksaan biopsi, bisa dapat dengan biopsi aspirasi jarum halus (FNAB) atau biopsi dari jaringan tumor langsung berupa biopsi insisi yaitu biopsi dengan mengambil jaringan tumor sebagian sebagai contoh bila ukuran tumornya besar. Bila ukuran tumor kecil, dapat dilakukan biopsi dengan pengangkatan seluruh tumor. Jaringan hasil biopsi diperiksa oleh ahli patologi anatomi dan dapat diketahui apakah tumor jaringan lunak itu jinak atau ganas. Bila jinak maka cukup hanya benjolannya saja yang diangkat, tetapi bila ganas setalah dilakukan pengangkatan benjolan dilanjutkan dengan penggunaan radioterapi dan kemoterapi. Bila ganas, dapat juga dilihat dan ditentukan jenis subtipe histologis tumor tersebut, yang sangat berguna untuk menentukan tindakan selanjutnya.

Simak Baca secara fonetik Kamus Lihat kamus yang lebih detail 1. H. PENATALAKSANAAN

Secara umum, pengobatan untuk jaringan lunak tumor tergantung pada tahap dari tumor. Tahap tumor yang didasarkan pada ukuran dan tingkatan dari tumor. Pengobatan pilihan untuk jaringan lunak tumors termasuk operasi, terapi radiasi, dan kemoterapi. 1. Terapi Pembedahan (Surgical Therapy) Bedah adalah yang paling umum untuk perawatan jaringan lunak tumors. Jika memungkinkan, dokter akan menghapus kanker dan margin yang aman dari jaringan sehat di sekitarnya. Penting untuk mendapatkan margin bebas tumor untuk mengurangi kemungkinan kambuh lokal dan memberikan yang terbaik bagi pembasmian dari tumor. Tergantung pada ukuran dan lokasi dari tumor, mungkin, jarang sekali, diperlukan untuk menghapus semua atau bagian dari lengan atau kaki. 2. Terapi radiasi Terapi radiasi dapat digunakan untuk operasi baik sebelum atau setelah shrink Tumor operasi apapun untuk membunuh sel kanker yang mungkin tertinggal. Dalam beberapa kasus, dapat digunakan untuk merawat tumor yang tidak dapat dilakukan pembedahan. Dalam beberapa studi, terapi radiasi telah ditemukan untuk memperbaiki tingkat lokal, tetapi belum ada yang berpengaruh pada keseluruhan hidup.

3. Kemoterapi Kemoterapi dapat digunakan dengan terapi radiasi, baik sebelum atau sesudah operasi untuk mencoba bersembunyi di setiap tumor atau membunuh sel kanker yang tersisa. Penggunaan kemoterapi untuk mencegah penyebaran jaringan lunak tumors belum membuktikan untuk lebih efektif. Jika kanker telah menyebar ke area lain dari tubuh, kemoterapi dapat digunakan untuk Shrink Tumors dan mengurangi rasa sakit dan menyebabkan kegelisahan mereka, tetapi tidak mungkin untuk membasmi penyakit.

1. I.

KOMPLIKASI

Penyebaran atau metastasis kanker ini paling sering melalui pembuluh darah ke paru-paru , ke liver, dan tulang. Jarang menyebar melalui kelenjar getah bening. 1. I. PROGNOSIS

Pada kanker jaringan lunak yang sudah lanjut, dengan ukuran yang besar, resiko kekambuhan setelah dilakukan tindakan operasi masih dapat terjadi. Oleh karena itu setelah operasi biasanya penderita harus sering kontrol untuk memonitor ada tidaknya kekambuhan pada daerah operasi ataupun kekambuhan ditempat jauh berupa metastasis di paru, liver atau tulang.

1. J.

CONTOH SOFT TISSUE TUMOR

1)

LIPOMA

2)

FIBROMA DESMOPLASTIK

3)

LIPOSARKOMA

4)

FIBROSARKOMA

BAB III PENUTUP

III.1 KESIMPULAN

Jaringan lunak adalah bagian dari tubuh yang terletak antara kulit dan tulang serta organ tubuh bagian dalam. Yang tergolong jaringan lunak antara lain adalah otot, tendon, jaringan ikat, dan jaringan lemak. Tumor jaringan lunak atau Soft Tissue Tumor (STT) adalah suatu benjolan atau pembengkakan abnormal yang disebabkan pertumbuhan sel baru. Gejala dan tanda kanker jaringan lunak tidak spesifik, tergantung pada lokasi di mana tumor berada, umumnya gejalanya berupa adanya suatu benjolan dibawah kulit yang tidak terasa sakit. Hanya sedikit penderita yang mengeluh sakit, yang biasanya terjadi akibat pendarahan atau nekrosis dalam tumor, dan bisa juga karena adanya penekanan pada saraf-saraf tepi. Metode diagnosis yang paling umum selain pemeriksaan klinis adalah pemeriksaan biopsi, bisa dapat dengan biopsi aspirasi jarum halus (FNAB) atau biopsi dari jaringan tumor langsung berupa biopsi insisi yaitu biopsi dengan mengambil jaringan tumor sebagian sebagai contoh bila ukuran tumornya besar. Bila ukuran tumor kecil, dapat dilakukan biopsi dengan pengangkatan seluruh tumor. Pengobatan pilihan untuk jaringan lunak tumors termasuk operasi, terapi radiasi, dan kemoterapi.

III.2 SARAN 1. Dilakukan penelitian tentang komplikasi dan prognosis pada penderita Soft Tissue Tumor 2. Mahasiswa diharapkan lebih mengenalkan kepada masyarakat tentang bahaya Soft Tissue Tumor

DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat, R., Jong, W.D., editor., Soft Tissue Tumor, dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. EGC, Jakarta, 2005, 2. Harri Prawira Ezzedin. 2009. Fraktur. Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau. available at (http://www.Belibis17.tk. Di akses tanggal 17 Agustus 2011. 3. Tassya, A, 2010. Tumor Jaringan Lunak. (http://www.BlogSpot.com). Diakses tanggal 17 Agustus 2011

http://dheyat.blogspot.com/2012/01/konsep-dasar-soft-tissue-tumor-stt.html Konsep Dasar Soft Tissue Tumor (STT)

1.

Definisi

Tumor adalah benjolan atau pembengkakan abnormal dalam tubuh, tetapi dalam artian khusus tumor adalah benjolan yang disebabkan oleh neoplasma. Secara klinis, tumor dibedakan atas golongan neoplasma dan nonneoplasma misalnya kista, akibat reaksi radang atau hipertrofi. Neoplasma dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasma ganas atau kanker terjadi karena timbul dan berkembang biaknya sel secara tidak terkendali sehingga sel-sel ini tumbuh terus merusak bentuk dan fungsi organ tempat tumbuhnya. Kanker, karsinoma, atau sarkoma tumbuh menyusup (infiltrative) ke jaringan sekitarnya sambil merusaknya (destruktif), dapat menyebar ke bagian lain tubuh, dan umumnya fatal jika dibiarkan. Neoplasma jinak tumbuh dengan batas tegas dan tidak menyusup, tidak merusak, tetapi membesar dan menekan jaringan sekitarnya (ekspansif), dan umumnya tidak bermetastasis, misalnya lipoma. Klasifikasi patologik tumor dibuat berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopik pada jaringan dan sel tumor. Dari pemeriksaan mikroskopik ini tampak gambaran keganasan yang sangat bervariasi, mulai dari yang relatif jinak sampai ke yang paling ganas. Pada satu organ dapat timbul satu atau lebih neoplasma yang sifatnya berlainan. Sel tumor ialah sel tubuh yang mengalami transformasi dan tumbuh secara autonom lepas dari kendali pertumbuhan sel normal sehingga sel ini berbeda dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya. Perbedaan sifat sel tumor bergantung pada besarnya penyimpangan dalam pertumbuhan, dan kemampuannya mengadakan infiltrasi danmenyebabkan metastasis. Bila kulit diatas benjolan masih baik dan tidak ada luka berupa borok, kemungkinan benjolan tersebut berasal dari bawah kulit yaitu dari jaringan lunak yang ada dibawah kulit atau bisa juga dari tulang iga, namun kemungkinan paling besar adalah dari jaringan lunak bila pembesarannya relatif cepat dalam waktu yang singkat. Jaringan lunak adalah bagian dari tubuh yang terletak antara kulit dan tulang serta organ tubuh bagian dalam. Yang tergolong jaringan lunak antara lain adalah otot, tendon, jaringan ikat, lemak dan jaringan synovial (jaringan di sekitar persendian) Tumor jaringan lunak dapat terjadi diseluruh bagian tubuh mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tumor jaringan lunak ini ada yang jinak dan ada yang ganas. Tumor ganas atau kanker pada jaringan lunak dikenal sebagai sarcoma jaringan lunak atau Soft Tissue Sarcoma (STS) . Kanker jaringan lunak termasuk kanker yang jarang ditemukan, insidensnya hanya sekitar 1% dari seluruh keganasan yang ditemukan pada orang dewasa dan 7-15 % dari seluruh keganasan pada anak. Bisa ditemukan pada semua kelompok umur. Pada anak-anak paling sering pada umur sekitar 4 tahun dan pada orang dewasa paling banyak pada umur 45-50 tahun. Lokasi yang paling sering ditemukan adalah pada anggota gerak bawah yaitu sebesar 46% dimana 75%-nya ada di atas lutut terutama di daerah paha.

Di anggota gerak atas mulai dari lengan atas, lengan bawah hingga telapak tangan sekitar 13%. 30% di tubuh bagian di bagian luar maupun dalam, seperti pada dinding perut, dan juga pada jaringan lunak di dalam perut maupun dekat ginjal atau yang disebut daerah retroperitoneum. Pada daerah kepala dan leher sekitar 9% dan 1% di tempat lainnya, antara lain di dada. Penyebaran atau metastasis kanker ini paling sering melalui pembuluh darah ke paru-paru (paling sering), ke liver, tulang. Jarang menyebar melalui kelenjar getah bening.Gejala dan tanda kanker jaringan lunak tidak spesifik, tergantung pada lokasi dimana tumor berada, umumnya gejalanya berupa adanya suatu benjolan dibawah kulit yang tidak terasa sakit. Hanya sedikit penderita yang mengeluh sakit, yang biasanya terjadi akibat perdarahan atau nekrosis dalam tumor, dan bisa juga karena adanya penekanan pada saraf-saraf tepi. Tumor jinak jaringan lunak biasanya tumbuh lambat, tidak cepat membesar, bila diraba terasa lunak dan bila tumor digerakan relatif masih mudah digerakan dari jaringan disekitarnya dan tidak pernah menyebar ke tempat jauh. Kanker jaringan lunak umumnya pertumbuhannya relatif cepat membesar, berkembang menjadi benjolan yang keras, bila digerakkan agak sukar bergerak dan dapat menyebar ke tempat jauh ke paru-paru, liver maupun tulang. Kalau ukuran kanker sudah begitu besar, dapat menyebabkan borok dan perdarahan pada kulit diatasnya. Metode diagnosis yang paling umum selain pemeriksaan klinis, adalah dengan pemeriksaan biopsi, bisa dapat dengan biopsi aspirasi jarum halus (FNAB) atau biopsi dari jaringan tumor langsung berupa biopsi insisi yaitu biopsi dengan mengambil jaringan tumor sebagian sebagai contoh bila ukuran tumornya besar. Bila ukuran tumor kecil, dapat dilakukan biopsi dengan pengangkatan seluruh tumor. Jaringan hasil biopsi diperiksa oleh dokter patologi anatomi, dan dapat diketahui apakah tumor jaringan lunak yang jinak atau ganas. Bila ganas, dapat juga dilihat dan ditentukan jenis subtipe histologis tumor tersebut, yang sangat berguna untuk menentukan tindakan selanjutnya. Bila diagnosis sudah ditegakkan, maka penanganannya tergantung pada jenis tumor jaringan lunak itu sendiri. Bila jinak, maka cukup hanya benjolannnya saja yang diangkat dan tidak ada tindakan tambahan lainnya. Bila tumor jaringan lunak hasilnya ganas atau kanker, maka pengobatannya bukan hanya tumornya saja yang diangkat, namun juga dengan jaringan sekitarnya sampai bebas tumor menurut kaidah yang telah ditentukan, tergantung dimana letak kanker ini. Tindakan pengobatannya adalah berupa operasi eksisi luas.Penggunaan radioterapi dan kemoterapi hanyalah sebagai pelengkap, namun responsnya kurang begitu baik, kecuali untuk jenis kanker jaringan lunak yang berasal dari otot yang disebut embrional rhabdomyosarcoma. Untuk kanker yang ukurannya besar, setelah operasi, ditambah dengan radioterapi. Pada kanker jaringan lunak yang sudah lanjut, dengan ukuran yang besar, resiko kekambuhan setelah dilakukan tindakan operasi masih dapat terjadi. Oleh karena itu setelah operasi biasanya penderita harus sering kontrol untuk memonitor ada tidaknya kekambuhan pada daerah operasi ataupun kekambuhan ditempat jauh berupa metastasis di paru, liver atau tulang. Soft Tissue Tumor (STT) adalah benjolan atau pembengkakan abnormal yang disebabkan oleh neoplasma dan nonneoplasma. Soft Tissue Tumor (STT) adalah pertumbuhan sel baru, abnormal, progresif, dimana sel-selnya tidak tumbuh seperti kanker. (http://www.dinkes.kalbar.go.id/).

Jadi kesimpulannya, Soft Tissue Tumor (STT) adalah suatu benjolan atau pembengkakan abnormal yang disebabkan pertumbuhan sel baru. 2. Etiologi

Menurut (http://emedicine.medscape.com), etiologi Soft Tissue Tumor : -Kondisi genetik Ada bukti tertentu pembentukan gen dan mutasi gen adalah faktor predisposisi untuk beberapa tumor jaringan lunak, dalam daftar laporan gen yang abnormal, bahwa gen memiliki peran penting dalam diagnosis. -Radiasi Mekanisme yang patogenic adalah munculnya mutasi gen radiasi-induksi yang mendorong transformasi neoplastic. -Lingkungan carcinogens Sebuah asosiasi antara eksposur ke berbagai carcinogens dan setelah itu dilaporkan meningkatnya insiden tumor jaringan lunak. -Infeksi Infeksi virus Epstein-Barr dalam orang yang kekebalannya lemah juga akan meningkatkan kemungkinan tumor pembangunan jaringan lunak. -Trauma Hubungan antara trauma dan Soft Tissue Tumors nampaknya kebetulan. Trauma mungkin menarik perhatian medis ke pra-luka yang ada. 3. Anatomi fisiologi

Menurut (blog.asuhankeperawatan.com/materilengkap), jaringan lunak adalah bagian dari tubuh yang terletak antara kulit dan tulang serta organ tubuh bagian dalam. Yang tergolong jaringan lunak antara lain adalah otot, tendon, jaringan ikat, dan jaringan lemak. Menurut Evelyn C. Pearce (2008:15), anatomi fisiologi jaringan lunak adalah sebagai berikut : Otot Otot ialah jaringan yang mempunyai kemampuan khusus yaitu berkontraksi bergerak. Otot terdiri atas serabut silindris yang mempunyai sifat yang sama dengan jaringan yang lain, semua ini diikat menjadi berkas-berkas serabut kecil oleh sejenis jaringan ikat yang mengandung unsur kontraktil -Tendon Tendon adalah pengikat otot pada tulang, tendon ini berupa serabut-serabut simpai yang berwarna putih, berkilap, dan tidak elastis. -Jaringan ikat

Jaringan ikat melengkapi kerangka badan, dan terdiri dari jaringan areolar dan serabut elastic. Tanda dan Gejala Menurut (http://blog.asuhankeperawatan.com/materilengkap), tanda dan gejala tumor jaringan lunak tidak spesifik, tergantung pada lokasi dimana tumor berada, umumnya gejalanya berupa adanya suatu benjolan dibawah kulit yang tidak terasa sakit. Hanya sedikit penderita yang mengeluh sakit, yang biasanya terjadi akibat perdarahan atau nekrosis dalam tumor, dan bisa juga karena adanya penekanan pada saraf-saraf tepi. Menurut (http://en.wikipedia.org/wiki/Soft_tissue_tumor), dalam tahap awal, jaringan lunak tumors biasanya tidak menimbulkan gejala karena jaringan lunak yang relatif elastis, tumors dapat tumbuh lebih besar, mendorong samping jaringan normal, sebelum mereka merasa atau menyebabkan masalah. kadang gejala pertama biasanya gumpalan rasa sakit atau bengkak. dan dapat menimbulkan gejala lainnya, seperti sakit atau rasa nyeri, karena dekat dengan menekan saraf dan otot. Jika di daerah perut dapat menyebabkan rasa sakit abdominal umumnya menyebabkan sembelit. 5. Patofisiologi

Menurut (blog.asuhankeperawatan.com/materilengkap), pada umumnya tumor-tumor jaringan lunak Soft Tissue Tumors (STT) adalah proliferasi masenkimal yang terjadi di jaringan nonepitelial ekstraskeletal tubuh. Dapat timbul di tempat di mana saja, meskipun kira-kira 40% terjadi di ekstermitas bawah, terutama daerah paha, 20% di ekstermitas atas, 10% di kepala dan leher, dan 30% di badan. Menurut (http://emedicine.medscape.com/article/1253816-overview), tumors jaringan lunak tumbuh centripetally, meskipun beberapa tumor jinak, seperti serabut luka. Setelah tumor mencapai batas anatomis dari tempatnya, maka tumor membesar melewati batas sampai ke struktur neurovascular. Tumor jaringan lunak timbul di lokasi seperti lekukan. Menurut (http://darryltanod.blogspot.com/2008/11), proses alami dari kebanyakan tumor ganas dapat dibagi atas 4 fase yaitu : -Perubahan ganas pada sel-sel target, disebut sebagai transformasi. -Pertumbuhan dari sel-sel transformasi. -Invasi lokal. -Metastasis jauh. 6. Diagnosis

Menurut (http://en.wikipedia.org/wiki/Soft_tissue_tumor), satu-satunya cara yang handal untuk menentukan apakah suatu jaringan lunak itu jinak atau ganas adalah melalui biopsi. Karena itu, semua jaringan lunak yang bertambah besar harus biopsi. Biopsi dapat diperoleh melalui biopsi jarum atau biopsi dengan bedah. Selama prosedur ini, tenaga kesehatan membuat sebuah pengirisan atau menggunakan jarum khusus untuk mengambil sampel jaringan tumor dan diteliti

lewat mikroskop. Setelah pemeriksaan tersebut dapat ditemukan jinak atau ganasnya sebuah tumor dan dapat menentukan tingkatannya. Menurut (http://blog.asuhankeperawatan.com/materilengkap), metode diagnosis yang paling umum selain pemeriksaan klinis adalah pemeriksaan biopsi, bisa dapat dengan biopsi aspirasi jarum halus (FNAB) atau biopsi dari jaringan tumor langsung berupa biopsi insisi yaitu biopsi dengan mengambil jaringan tumor sebagian sebagai contoh bila ukuran tumornya besar. Bila ukuran tumor kecil, dapat dilakukan biopsi dengan pengangkatan seluruh tumor. Jaringan hasil biopsi diperiksa oleh ahli patologi anatomi dan dapat diketahui apakah tumor jaringan lunak itu jinak atau ganas. Bila jinak maka cukup hanya benjolannya saja yang diangkat, tetapi bila ganas setalah dilakukan pengangkatan benjolan dilanjutkan dengan penggunaan radioterapi dan kemoterapi. 7. Penatalaksanaan

Menurut (http://en.wikipedia.org/wiki/Soft_tissue_tumor), secara umum, pengobatan untuk jaringan lunak tumors tergantung pada tahap dari tumor. Tahap tumor yang didasarkan pada ukuran dan tingkatan dari tumor. Pengobatan pilihan untuk jaringan lunak tumors termasuk operasi, terapi radiasi, dan kemoterapi. -Bedah adalah yang paling umum untuk perawatan jaringan lunak tumors. Jika memungkinkan, dokter akan menghapus kanker dan margin yang aman dari jaringan sehat di sekitarnya. Penting untuk mendapatkan margin bebas tumor untuk mengurangi kemungkinan kambuh lokal dan memberikan yang terbaik bagi pembasmian dari tumor. Tergantung pada ukuran dan lokasi dari tumor, mungkin, jarang sekali, diperlukan untuk menghapus semua atau bagian dari lengan atau kaki. -Terapi radiasi dapat digunakan untuk operasi baik sebelum atau setelah shrink Tumors operasi apapun untuk membunuh sel kanker yang mungkin tertinggal. Dalam beberapa kasus, dapat digunakan untuk merawat tumor yang tidak dapat dilakukan pembedahan. Dalam beberapa studi, terapi radiasi telah ditemukan untuk memperbaiki tingkat lokal, tetapi belum ada yang berpengaruh pada keseluruhan hidup. -Kemoterapi dapat digunakan dengan terapi radiasi, baik sebelum atau sesudah operasi untuk mencoba bersembunyi di setiap tumor atau membunuh sel kanker yang tersisa. Penggunaan kemoterapi untuk mencegah penyebaran jaringan lunak tumors belum membuktikan untuk lebih efektif. Jika kanker telah menyebar ke area lain dari tubuh, kemoterapi dapat digunakan untuk Shrink Tumors dan mengurangi rasa sakit dan menyebabkan kegelisahan mereka, tetapi tidak mungkin untuk membasmi penyakit. Menurut (blog.asuhankeperawatan.com/materilengkap), penanganan padaSoft Tissue Tumor (STT) adalah sebagai berikut : Terapi Medis Terapi medis termasuk eksisi endoskopik tumor di traktus gastrointestinal bagian atas misalnya: esophagus, perut (stomach), dan duodenum atau colon. Terapi Pembedahan (Surgical Therapy)

Pembedahan (complete surgical excision) dengan kapsul sangatlah penting untuk mencegah kekambuhan setempat (local recurrence). Terapi tergantung lokasi tumor. Pada lokasi yang tidak biasanya, pemindahan lipoma menyesuaikan tempatnya..

Diposkan oleh dhevo kamazu di 22.35

http://learntogether-aries.blogspot.com/2010/09/askep-limfoma-maligna-i.html ASKEP LIMFOMA MALIGNA

I. Konsep Dasar Penyakit a. Pengertian Limfoma maligna (kanker kelenjar getah bening) merupakan bentuk keganasan dari sistem limfatik yaitu sel-sel limforetikular seperti sel B, sel T dan histiosit sehingga muncul istilah limfoma maligna (maligna = ganas). Ironisnya, pada orang sehat sistem limfatik tersebut justru merupakan komponen sistem kekebalan tubuh. Ada dua jenis limfoma maligna yaitu Limfoma Hodgkin (HD) dan Limfoma non-Hodgkin (LNH). b. Epidemiologi Saat ini, sekitar 1,5 juta orang di dunia hidup dengan limfoma maligna terutama tipe LNH, dan dalam setahun sekitar 300 ribu orang meninggal karena penyakit ini. Dari tahun ke tahun, jumlah penderita penyakit ini juga terus meningkat. Sekadar gambaran, angka kejadian LNH telah meningkat 80 persen dibandingkan angka tahun 1970-an. Data juga menunjukkan, penyakit ini lebih banyak terjadi pada orang dewasa dengan angka tertinggi pada rentang usia antara 45 sampai 60 tahun. Sedangkan pada Limfoma Hodgkin (DH) relative jarang dijumpai, hanya merupaka 1 % dari seluruh kanker. Di negara barat insidennya dilaporkan 3,5/100.000/tahun pada laki-laki dan 2,6/100.000/tahun pada wanita. Di Indonesia, belum ada laporan angka kejadian Limfoma Hodgkin. Penyakit limfoma Hodgkin banyak ditemukan pada orang dewasa muda antara usia 18-35 tahun dan pada orang di atas 50 tahun. c. Etiologi Penyebab dari penyakit limfoma maligna masih belum diketahui dengan pasti..Empat kemungkinan penyebabnya adalah: faktor keturunan, kelainan sistem kekebalan, infeksi virus atau bakteria (HIV, virus human T-cell leukemia/lymphoma (HTLV), Epstein-Barr virus (EBV), Helicobacter Sp) dan toksin lingkungan (herbisida, pengawet dan pewarna kimia). d. Faktor Predisposisi 1. Usia Penyakit limfoma maligna banyak ditemukan pada usia dewasa muda yaitu antara 18-35 tahun dan pada orang diatas 50 tahun 2. Jenis kelamin Penyakit limfoma maligna lebih banyak diderita oleh pria dibandingkan wanita 3. Gaya hidup yang tidak sehat Risiko Limfoma Maligna meningkat pada orang yang mengkonsumsi makanan tinggi lemak hewani, merokok, dan yang terkena paparan UV 4. Pekerjaan Beberapa pekerjaan yang sering dihubugkan dengan resiko tinggi terkena limfoma maligna adalah peternak serta pekerja hutan dan pertanian. Hal ini disebabkan adanya paparan herbisida dan pelarut organik. e. Patofisiologi

Proliferasi abmormal tumor dapat memberi kerusakan penekanan atau penyumbatan organ tubuh yang diserang. Tumor dapat mulai di kelenjar getah bening (nodal) atau diluar kelenjar getah bening (ekstra nodal). Gejala pada Limfoma secara fisik dapat timbul benjolan yang kenyal, mudah digerakkan (pada leher, ketiak atau pangkal paha). Pembesaran kelenjar tadi dapat dimulai dengan gejala penurunan berat badan, demam, keringat malam. Hal ini dapat segera dicurigai sebagai Limfoma. Namun tidak semua benjolan yang terjadi di sistem limfatik merupakan Limfoma. Bisa saja benjolan tersebut hasil perlawanan kelenjar limfa dengan sejenis virus atau mungkin tuberkulosis limfa. Beberapa penderita mengalami demam Pel-Ebstein, dimana suhu tubuh meninggi selama beberapa hari yang diselingi dengan suhu normal atau di bawah normal selama beberapa hari atau beberapa minggu. Gejala lainnya timbul berdasarkan lokasi pertumbuhan sel-sel limfoma. f. Klasifikasi 1. Klasifikasi Penyakit Ada dua jenis penyakit yang termasuk limfoma malignum yaitu penyakit Hodgkin (PH) dan limfoma non Hodgkin (LNH). Keduanya memiliki gejala yang mirip. Perbedaannya dibedakan berdasarkan pemeriksaan patologi anatomi dimana pada PH ditemukan sel Reed Sternberg, dan sifat LNH lebih agresif 2. Klasifikasi Patologi Klasifikasi limfoma maligna telah mengalami perubahan selama bertahun-tahun. Pada tahun 1956 klasifikasi Rappaport mulai diperkenalkan. Rappaport membagi limfoma maligna menjadi tipe nodular dan difus kemudian subtipe berdasarkan pemeriksaan sitologi. Modifikasi klasifikasi ini terus berlanjut hingga pada tahun 1982 muncul klasifikasi Working Formulation yang membagi limfoma maligna menjadi keganasan rendah, menengah dan tinggi berdasarkan klinis dan patologis. Seiring dengan kemajuan imunologi dan genetika maka muncul klasifikasi terbaru pada tahun 1982 yang dikenal dengan Revised European-American classification of Lymphoid Neoplasms (REAL classification). 3. Stadium Limfoma Maligna Penyebaran Limfoma dapat dikelompokkan dalam 4 stadium. Stadium I dan II sering dikelompokkan bersama sebagai stadium awal penyakit, sementara stadium III dan IV dikelompokkan bersama sebagai stadium lanjut. Stadium I : Penyebaran Limfoma hanya terdapat pada satu kelompok yaitu kelenjar getah bening. Stadium II : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening, tetapi hanya pada satu sisi diafragma, serta pada seluruh dada atau perut. Stadium III : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening, serta pada dada dan perut. Stadium IV : Penyebaran Limfoma selain pada kelenjar getah bening setidaknya pada satu organ lain juga seperti sumsum tulang, hati, paru-paru, atau otak g. Gejala Klinis Gejala klinis dari penyakit limfoma maligna adalah sebagai berikut : 1. Limfodenopati superficial. Sebagian besar pasien datang dengan pembesaran kelenjar getah bening asimetris yang tidak nyeri dan mudah digerakkan (pada leher, ketiak atau pangkal paha)

2. Demam 3. Sering keringat malam 4. Penurunan nafsu makan 5. Kehilangan berat badan lebih dari 10 % selama 6 bulan (anorexia) 6. Kelemahan, keletihan 7. Anemia, infeksi, dan pendarahan dapat dijumpai pada kasus yang mengenai sumsum tulang secara difus h. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik pada daerah leher, ketiak dan pangkal paha Pada Limfoma secara fisik dapat timbul benjolan yang kenyal, tidak terasa nyeri, mudah digerakkan (pada leher, ketiak atau pangkal paha) Inspeksi , tampak warna kencing campur darah, pembesaran suprapubic bila tumor sudah besar. Palpasi, teraba tumor masa suprapubic, pemeriksaan bimanual teraba tumor pada dasar buli-buli dengan bantuan general anestesi baik waktu VT atau RT. j. Pemeriksaan Penunjang Untuk mendeteksi limfoma harus dilakukan biopsi dari kelenjar getah bening yang terkena dan juga untuk menemukan adanya sel Reed-Sternberg. Untuk mendeteksi Limfoma memerlukan pemeriksaan seperti sinar-X, CT scan, PET scan, biopsi sumsum tulang dan pemeriksaan darah. Biopsi atau penentuan stadium adalah cara mendapatkan contoh jaringan untuk membantu dokter mendiagnosis Limfoma. Ada beberapa jenis biopsy untuk mendeteksi limfoma maligna yaitu : 1. Biopsi kelenjar getah bening, jaringan diambil dari kelenjar getah bening yang membesar. 2. Biopsi aspirasi jarum-halus, jaringan diambil dari kelenjar getah bening dengan jarum suntik. Ini kadang-kadang dilakukan untuk memantau respon terhadap pengobatan. 3. Biopsi sumsum tulang di mana sumsum tulang diambil dari tulang panggul untuk melihat apakah Limfoma telah melibatkan sumsum tulang. k. Terapi Cara pengobatan bervariasi dengan jenis penyakit. Beberapa pasien dengan tumor keganasan tingkat rendah, khususnya golongan limfositik, tidak membutuhkan pengobatan awal jika mereka tidak mempunyai gejala dan ukuran lokasi limfadenopati yang bukan merupakan ancaman. Radioterapi Walaupun beberapa pasien dengan stadium I yang benar-benar terlokalisasi dapat disembuhkan dengan radioterapi, terdapat angka yang relapse dini yang tinggi pada pasien yang dklasifikasikan sebagai stadium II dan III. Radiasi local untuk tempat utama yang besar harus dipertimbangkan pada pasien yang menerima khemoterapi dan ini dapat bermanfaat khusus jika penyakit mengakibatkan sumbatan/ obstruksi anatomis. Pada pasien dengan limfoma keganasan tingkat rendah stadium III dan IV, penyinaran seluruh tubuh dosis rendah dapat membuat hasil yang sebanding dengan khemoterapi. Khemoterapi 1. Terapi obat tunggal Khlorambusil atau siklofosfamid kontinu atau intermiten yang dapat memberikan hasil baik pada pasien dengan limfoma maligna keganasan tingkat rendah yang

membutuhkan terapi karena penyakit tingkat lanjut. 2. Terapi kombinasi. (misalnya COP (cyclophosphamide, oncovin, dan prednisolon)) juga dapat digunakan pada pasien dengan tingkat rendah atau sedang berdasakan stadiumnya. l. Prognosis Kebanyakan pasien dengan penyakit limfoma maligna tingkat rendah bertahan hidup lebih dari 5-10 tahun sejak saat didiagnosis. Banyak pasien dengan penyakit limfoma maligna tingkat tinggi yang terlokalisasi disembuhkan dengan radioterapi. Dengan khemoterapi intensif, pasien limfoma maligna tingkat tinggi yang tersebar luas mempunyai perpanjangan hidup lebih lama dan dapat disembuhkan. II. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan a. Pengkajian Gejala pada Limfoma secara fisik dapat timbul benjolan yang kenyal, tidak terasa nyeri, mudah digerakkan (pada leher, ketiak atau pangkal paha). Pembesaran kelenjar tadi dapat dimulai dengan gejala penurunan berat badan, demam, keringat malam. Hal ini dapat segera dicurigai sebagai Limfoma. Namun tidak semua benjolan yang terjadi di sistem limfatik merupakan Limfoma. Bisa saja benjolan tersebut hasil perlawanan kelenjar limfe dengan sejenis virus atau mungkin tuberculosis limfa. Pada pengkajian data yang dapat ditemukan pada pasien limfoma antara lain: 1. Data subjektif a.Demam berkepanjangan dengan suhu lebih dari 38oC b.Sering keringat malam. c.Cepat merasa lelah d.Badan Lemah e.Mengeluh nyeri pada benjolan f.Nafsu makan berkurang 2. Data Obyektif a.Timbul benjolan yang kenyal,mudah digerakkan pada leher,ketiak atau pangkal paha. b.Wajahpucat 3.Kebutuhan dasar AKTIVITAS/ISTIRAHAT Gejala : Kelelahan, kelemahan atau malaise umum Kehilangan produktifitasdan penurunan toleransi latihan Kebutuhan tidaur dan istirahat lebih bantak Tanda : Penurunan kekuatan, bahu merosot, jalan lamban dan tanda lain yang menunjukkan kelelahan SIRKULASI Gejala Palpitasi, angina/nyeri dada Tanda Takikardia, disritmia. Sianosis wajah dan leher (obstruksi drainase vena karena pembesaran nodus limfa adalah kejadian yang jarang)

Ikterus sklera dan ikterik umum sehubungan dengan kerusakan hati dan obtruksi duktus empedu dan pembesaran nodus limfa(mungkin tanda lanjut) Pucat (anemia), diaforesis, keringat malam. INTEGRITAS EGO Gejala Faktor stress, misalnya sekolah, pekerjaan, keluarga Takut/ansietas sehubungan dengandiagnosis dan kemungkinan takut mati Takut sehubungan dengan tes diagnostik dan modalitas pengobatan (kemoterapi dan terapi radiasi) Masalah finansial : biaya rumah sakit, pengobatan mahal, takut kehilangan pekerjaan sehubungan dengan kehilangan waktu kerja. Status hubungan : takut dan ansietas sehubungan menjadi orang yang tergantung pada keluarga. Tanda Berbagai perilaku, misalnya marah, menarik diri, pasif ELIMINASI Gejala Perubahan karakteristik urine dan atau feses. Riwayat Obstruksi usus, contoh intususepsi, atau sindrom malabsorbsi (infiltrasi dari nodus limfa retroperitoneal) Tanda Nyeri tekan pada kuadran kanan atas dan pembesaran pada palpasi (hepatomegali) Nyeri tekan pada kudran kiri atas dan pembesaran pada palpasi (splenomegali) Penurunan haluaran urine urine gelap/pekat, anuria (obstruksi uretal/ gagal ginjal). Disfungsi usus dan kandung kemih (kompresi batang spinal terjadi lebih lanjut) MAKANAN/CAIRAN Gejala Anoreksia/kehilangna nafsu makan Disfagia (tekanan pada easofagus) Adanya penurunan berat badan yang tak dapat dijelaskan sama dengan 10% atau lebih dari berat badan dalam 6 bulan sebelumnya dengan tanpa upaya diet. Tanda Pembengkakan pada wajah, leher, rahang atau tangan kanan (sekunder terhadap kompresi venakava superior oleh pembesaran nodus limfa) Ekstremitas : edema ekstremitas bawah sehubungan dengan obtruksi vena kava inferior dari pembesaran nodus limfa intraabdominal (non-Hodgkin) Asites (obstruksi vena kava inferior sehubungan dengan pembesaran nodus limfa intraabdominal) NEUROSENSORI Gejala Nyeri saraf (neuralgia) menunjukkan kompresi akar saraf oleh pembesaran nodus limfa pada brakial, lumbar, dan pada pleksus sakral Kelemahan otot, parestesia. Tanda Status mental : letargi, menarik diri, kurang minatumum terhadap sekitar. Paraplegia (kompresi batang spinaldari tubuh vetrebal, keterlibatan diskus pada kompresiegenerasi, atau kompresi suplai darah terhadap batng spinal) NYERI/KENYAMANAN

Gejala Nyeri tekan/nyeri pada nodus limfa yang terkena misalnya, pada sekitar mediastinum, nyeri dada, nyeri punggung (kompresi vertebra), nyeri tulang umum (keterlibatan tulang limfomatus). Nyeri segera pada area yang terkena setelah minum alkohol. Tanda Fokus pada diri sendiri, perilaku berhati-hati. PERNAPASAN Gejala Dispnea pada kerja atau istirahat; nyeri dada. Tanda Dispnea, takikardia Batuk kering non-produktif Tanda distres pernapasan, contoh peningkatan frekwensi pernapasan dan kedaalaman penggunaan otot bantu, stridor, sianosis. Parau/paralisis laringeal (tekanan dari pembesaran nodus pada saraf laringeal). KEAMANAN Gejala Riwayat sering/adanya infeksi (abnormalitasimunitas seluler pwencetus untuk infeksi virus herpes sistemik, TB, toksoplasmosis atau infeksi bakterial) Riwayat monokleus (resiko tinggi penyakit Hodgkin pada pasien yang titer tinggi virus Epstein-Barr). Riwayat ulkus/perforasi perdarahan gaster. Pola sabit adalah peningkatan suhu malam hari terakhir sampai beberapa minggu (demam pel Ebstein) diikuti oleh periode demam, keringat malam tanpa menggigil. Kemerahan/pruritus umum Tanda : Demam menetap tak dapat dijelaskan dan lebih tinggi dari 38oC tanpa gejala infeksi. Nodus limfe simetris, tak nyeri,membengkak/membesar (nodus servikal paling umum terkena, lebih pada sisi kiri daripada kanan, kemudian nodus aksila dan mediastinal) Nodus dapat terasa kenyal dan keras, diskret dan dapat digerakkan. Pembesaran tosil Pruritus umum. Sebagian area kehilangan pigmentasi melanin (vitiligo) SEKSUALITAS Gejala Masalah tentang fertilitas/ kehamilan (sementara penyakit tidak mempengaruhi, tetapi pengobatan mempengaruhi) Penurunan libido. PENYULUHAN/PEMBELAJARAN Gejala Faktor resiko keluargaa (lebih tinggi insiden diantara keluarga pasien Hodgkin dari pada populasi umum) Pekerjaan terpajan pada herbisida (pekerja kayu/kimia) b. Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri b.d agen cedera biologi

2. Hyperthermia b.d tidak efektifnya termoregulasi sekunder terhadap inflamasi 3. Ketidakseimbangan nutrisi ; kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah 4. Kurang pengetahuan b.d kurang terpajan informasi 5. Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif b.d pembesaran nodus medinal / edema jalan nafas. c. Intervensi 1. Nyeri b.d agen cedera biologi Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan nyeri klien berkurang/hilang dengan KH : 1. Skala nyeri 0-3 2. Wajah klien tidak meringis 3. Klien tidak memegang daerah nyeri Intervensi : 1. Kaji skala nyeri dengan PQRST R : untuk mengetahui skala nyeri klien dan untuk mempermudah dalam menentukan intervensi selanjutnya 2. Ajarkan klien teknik relaksasi dan distraksi R : teknik relaksasi dan distraksi yang diajarkan kepada klien, dapat membantu dalam mengurangi persepsi klien terhadap nyeri yang dideritanya 3. Kolaborasi dalam pemberian obat analgetik R : obat analgetik dapat mengurangi atau menghilangkan nyeri yang diderita oleh klien 2. Hyperthermia b.d tidak efektifnya termoregulasi sekunder terhadap inflamasi Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan suhu tubuh klien turun / dalam keadaan normal dengan kriteria hasil : 1. suhu tubuh dalam batas normal (35,9-37,5 derajat celcius) Intervensi : 2. Observasi suhu tubuh klien R : dengan memantau suhu tubuh klien dapat mengetahui keadaan klien dan juga dapat mengambil tindakan dengan tepat 3. Berikan kompres hangat pada dahi, aksila, perut dan lipatan paha R : kompres dapat menurunkan suhu tubuh klien 4. Anjurkan dan berikan minum yang banyak kepada klien (sesuai dengan kebutuhan cairan tubuh klien) R : dengan banyak minum diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh klien 5. Kolaborasi dalam pemberian antipiretik R : antipiretik dapat menurunkan suhu tubuh 3. Ketidakseimbangan nutrisi ; kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selam 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi dengan criteria hasil : 1. Menunjukkan peningkatan berat badan/berat badan stabil 2. Nafsu makan klien meningkat 3. Klien menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk mempertahankan berat badan yang

sesuai Intervensi : 1. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai R : mengidentifikasi defisiensi nutrisi dan juga untuk intervensi selanjutnya 2. Observasi dan catat masukan makanan klien R : mengawasi masukan kalori 3. Timbang berat badan klien tiap hari R : mengawasi penurunan berat badan dan efektivitas intervensi nutrisi 4. Berikan makan sedikit namun frekuensinya sering R : meningkatkan pemasukan kalori secara total dan juga untuk mencegah distensi gaster 5. Kolaborasi dalam pemberian suplemen nutrisi R : meningkatkan masukan protein dan kalori 4. Kurang pengetahuan b.d kurang terpajan informasi Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan sela 1 x 24 jam diharapkan diharapkan klien dan keluarganya dapat mengetahui tentang penyakit yang diderita oleh klien dengan criteria hasil : 1. Klien dan keluarga klien dapat memahami proses penyakit klien 2. Klien dan keluarga klien mendapatkan informasi yang jelas tentang penyakit yang diderita oleh klien 3. Klien dan keluarga klien dapat mematuhi proses terapiutik yang akan dilaksanakan Intervensi : 1. Berikan komunikasi terapiutuk kepada klien dan keluarga klien R : memudahkan dalam melakukan prosedur terpiutuk kepada klien 2. Berikan KIE mengenai proses penyakitnya kepada klien dan keluarga klien R : klien dan keluarga klien dapat mengetahui proses penyakit yang diderita oleh klien 5. Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif b.d pembesaran nodus medinal / edema jalan nafas. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selam 3 x 24 jam diharapkan bersihan jalan nafas klien efektif/normal dengan criteria hasil : 1. Klien dapat bernafas dengan normal/efektif 2. Klien bebas dari dispnea, sianosis 3. Tidak terjadi tanda distress pernafasan Intervensi : 1. Kaji frekuensi pernafasan, kedalaman, irama R : perubahan dapat mengindikasikan berlanjutnya keterlibatan/pengaruh pernafasn yang membutuhkan upaya intervensi 2. Tempatkan pasien pada posisi nyaman, biasanya dengan kepala tempat tidur tinggi/atau duduk tegak ke depan kaki digantung R : memaksimalkan ekspansi paru, menurunkan kerja pernafasan, dan menurunkan resiko aspirasi 3. Bantu dengan teknik nafas dalam dan atau pernafasan bibir /diafragma. Abdomen bila diindikasikan R : membantu meningkatkan difusi gas dan ekspansi jalan nafas kecil, memberikan klien beberapa kontrol terhadap pernafasan, membantu menurunkan ansietas 4. Kaji respon pernafasan terhadap aktivitas R : penurunan oksigenasi selular menurunkan toleransi aktivitas

d. Evaluasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan : 1. Nyeri klien berkurang/hilang 2. Suhu klien dalam batas normal suhu tubuh dalam batas normal (35,9-37,5 derajat celcius) 3. Kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi 4. Klien dan keluarganya dapat mengetahui tentang penyakit yang diderita oleh klien 5. Bersihan jalan nafas klien efektif/normal

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Limfoma maligna (kanker kelenjar getah bening) merupakan bentuk keganasan dari sistem limfatik yaitu sel-sel limforetikular seperti sel B, sel T dan histiosit sehingga muncul istilah limfoma maligna (maligna = ganas). Ironisnya, pada orang sehat sistem limfatik tersebut justru merupakan komponen sistem kekebalan tubuh. Ada dua jenis limfoma maligna yaitu Limfoma Hodgkin (HD) dan Limfoma non-Hodgkin (LNH). Saat ini, sekitar 1,5 juta orang di dunia hidup dengan limfoma maligna terutama tipe LNH, dan dalam setahun sekitar 300 ribu orang meninggal karena penyakit ini. Dari tahun ke tahun, jumlah penderita penyakit ini juga terus meningkat. Sekadar gambaran, angka kejadian LNH telah meningkat 80 persen dibandingkan angka tahun 1970-an. Data juga menunjukkan, penyakit ini lebih banyak terjadi pada orang dewasa dengan angka tertinggi pada rentang usia antara 45 sampai 60 tahun. Sedangkan pada Limfoma Hodgkin (DH) relative jarang dijumpai, hanya merupaka 1 % dari seluruh kanker. Di negara barat insidennya dilaporkan 3,5/100.000/tahun pada laki-laki dan 2,6/100.000/tahun pada wanita. Di Indonesia, belum ada laporan angka kejadian Limfoma Hodgkin. Penyakit limfoma Hodgkin banyak ditemukan pada orang dewasa muda antara usia 18-35 tahun dan pada orang di atas 50 tahun. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan permasalahan yang penulis angkat adalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah konsep dasar penyakit dari limfoma maligna ? 2. Bagaimanakah konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien dengan limfoma maligna ?

1.3 Tujuan Tujuan dari pada penulisan ini adalah : 1. Mengetahui konsep dasar penyakit dari limfoma maligna

2. Mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien dengn limfoma maligna

BAB III PENUTUP Simpulan Simpulan yang dapat diambil dalam pembuatan tulisan ini adalah : 1. Limfoma maligna (kanker kelenjar getah bening) merupakan bentuk keganasan dari sistem limfatik yaitu sel-sel limforetikular seperti sel B, sel T dan histiosit 2. Ada dua jenis penyakit yang termasuk limfoma malignum yaitu penyakit Hodgkin (PH) dan limfoma non Hodgkin (LNH). 3. Penyebab dari penyakit limfoma maligna masih belum diketahui dengan pasti..Empat kemungkinan penyebabnya adalah: faktor keturunan, kelainan sistem kekebalan, infeksi virus atau bakteria (HIV, virus human T-cell leukemia/lymphoma (HTLV), Epstein-Barr virus (EBV), Helicobacter Sp) dan toksin lingkungan (herbisida, pengawet dan pewarna kimia).

KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan tugas dengan judul Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Limfoma Maligna ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Imunologi dan Hematologi. Kami menyadari bahwa tulisan ini masih belum sempurna adanya, hal ini karena keterbatasan kemampuan yang kami miliki.Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dosen mata kuliah Imunologi dan Hematologi serta pembaca tulisan ini yang sifatnya membangun demi kesempurnaan tulisan ini dan kami harapkan tulisan ini ada manfaatnya bagi pembaca.

Denpasar, September 2009 Penyusun

DAFTAR PUSTAKA Amori. 2007. Jurnal Nasional : Pengobatan tepat untuk Limfoma. www.jurnalnasional/limfoma/44356.com. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2009. Anonymous. 2006. Limfoma Maligna. www.wordpress.com. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2009.

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta. : EGC Doenges, Marilyn E, et all. 1993. Nursing Care Plans : Guidelines for Planning and Documenting Patient Care, Edition 3, F.A. Davis Company, Philadelphia. Hoffbrand, A.V, et all. 2002. Kapita Selekta Hematologi. Jakarta : EGC Vinjamaran. 2007. Lymphoma, Non-Hodgkin. www.emedicine.com. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2009. Diposkan oleh Agung Ariesti di 20.24

http://mutiaamoonti.blogspot.com/2013/11/laporan-pendahuluan-tumor-ketiak.html

APORAN PENDAHULUAN TUMOR

KETIAK

I. A.

KONSEP MEDIK
Pengertian Tumor ketiak merupakan tumbuhnya benjolan pada ketiak akibat sel limfosit Dan penyakit sulit untuk angkat bila sudah stadium lanjut. B. Etiologi Bisa disebabkan oleh peradangan akibat luka yang meradang

1.

2. Disebabkan oleh beberapa bakteri, virus atau jamur yang menyebar pada kulit, mata atau hidung. C. Patofisiologi Pembengkakan kelenjar juga bisa terjadi karena kanker akibat mutasi sel limfosit (sejenis sel darah putih), yang menjadi ganas dan tumbuh di berbagai organ termasuk kelenjar getah bening. Kalau kelenjar ini terserang kanker, disebut limfoma. Pendeteksian kanker atau bukan tidak bisa dilakukan kasat mata. Penentuan kanker harus melalui tahapan pemeriksaan, mulai pengambilan gambar (rontgen) hingga pengambilan sampel kelenjar getah bening atau biopsi. Gejala-gejala untuk mengenali pembengkakan kelenjar getah bening sebagai kanker antara lain, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, demam, hidung sering tersumbat, telinga berdengung, dan menurunnya nafsu makan berkepanjangan. Dus, setelah mengenali jenis dan gejalanya, penanganan pun bisa dilakukan dengan tepat. D. Manifestasi Klinik 1. 2. 3. 4. 5. Benjolan tersebut tidak terasa sakit bila ditekan Bila disentuh terasa kenyal dan tidak padat Terjadi benjolan bukan hanya di ketiak tapi juga dipaha dan di leher Demam tinggi Sering keluarnya keringat pada malam hari

E.

Pengobatan Pengobatan tergantung pada organisme yang menyebabkan infeksi. Untuk infeksi bakteri, dalam medis konvensional antibiotik biasanya diberikan secara infus atau dengan mulut, namun pengobatan seperti ini biasanya menimbulkan resistensi bakteri serta membunuh bakteri menguntungkan dalam saluran pencernaan kita. Dalam pengobatan holistik, pemberian antibiotik alami seperti bawang putih dan propolis mampu membasmi mikroba penyebab peradangan tanpa harus membunuh bakteri

menguntungkan di dalam tubuh. Kompres air hangat bisa membantu mengurangi rasa sakit pada peradangan batang getah bening. Biasanya, ketika infeksi tersebut telah diobati, batang getah bening pelan-pelan menyusut, dan rasa sakit surut. Kadangkala batang yang membesar tetap kuat tetapi tidak lagi terasa lunak F. 1. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan trombosit 2. 3. darah hemoglobin biasanya menurun, leukosit meningkat,

meningkat.

Pemeriksaan urine, diperiksa apakah ureum dan kreatinin meningkat. Tes diagnostik yang biasa dilakukan pada penderita tumor ketiak adalah sinar X, ultrasonografi dan pemeriksaan reseptor hormon
Diposkan 4th November oleh Mutia Agustiani Moonti Lokasi: Makassar, South Sulawesi, Indonesia

http://yantorikahia.blogspot.com/2010/07/askep-klien-dengan-kanker-payudara_28.html SKEP KLIEN DENGAN KANKER PAYUDARA `BAB II TINJAUAN TEORITIS

Dalam bab ini akan diuraikan mengenai pengertian, anatomi fisiologi, etiologi, pathoisiologi, manifestai klinis, pemeriksaan diagnostik , penatalaksanaan dan komplikasi mengenai kanker payudara dan konsep dasar keperawatannya yang diperoleh melalui study kepustakaan. Agar lebih mudah dipahami maka akan dibahas satu persatu seperti dibawah ini : A. KONSEP DASAR MEDIS 1) Defenisi Kanker payudara adalah jenis neoplasma ganas yang menyerang jaringan payudara dengan melakukan mutasi dari sel sebelumnya normal yang memiliki sifat-sifat anti social terhadap sel-sel normal tubuh. (Price and Wilson, 1995). Kaker payudara adalah semua komponen jaringan yang berasal dari jaringan ikat dan usus epitel dimana unsure epitel yang lebih sering menimbulkan neoplasma payudara.. ( Robbins, 1993 ). 2) Anatomi Fisiologi a) Anatomi saluran pernapasan kelenjar payudara adalah suatu organ reproduksi pada wanita yang mengeluarkan air susu. Kelenjar payudara terletak pada fasial suprafisial didaerah antara sternum dan axilla dari iga ke-2 sampai ke7. Bagian tengan terdapat putting susu yang dikeliling oleh ariola payudara yang berwarna coklat, dekat daerah putting susu terdapat kelenjar montgometri yang berfungsi untuk melumasi putting susu agar tetap lamas. Putting susu mempunyai kurang lebih 15-20 lobang atau saluran untuk mengeluarkan air susu. Kelenjar mamae terdiri dari jaringan alveolar yang tersusun atas lobus bermuara ke duktus laptiversu. Pada wanita perubahan perkembangan buah dada terjadi pada masa pubertas. Menstruasi pertama terjadi sedikit pembesaran buah dada yang dipengaruhi oleh ormon estrogen dan progersteron yang dihasilkan oleh ovarium. Lama-kelamaan payudara berkembang dan penimbunan lemak akan membuat pembesaran yang menetap pada masa menopause secara perlahan-lahan ovarium berhenti memproduksi hormone estrogen dan progerteron, dan jaringan payudara akan mengkerut dan kendor. (Smeltzer and Bare. 1999, edisi 8, jilid 2). 3) Etiologi 1. Keluarga Tiga kali lebih besra pada orang yang keluarganya menderita kanker payudara (bilateral, pra menopause) wanita yang pernah kanker payudara. 2. Hormon Menarche cepat, menopause lambat. Melahirkan anak pertama tertunda.

Riwayat kanker payudara jinak Menarke/menarche dini-sebelum usia 12 tahun Belu pernah hamil atau hamil pertama diatasu usia 38 tahun Menapouse usia lanjut (sesudah umur 50 tahun). Obesitas Radiasi dada Masukan alcohol setiap hari ( Sumber : Smeltzeer & Bare, 2001 ) 4) Fathofisiologi Kanker ganas tidak mempunyai kapsul yang membungkus dirinya dank arena itu memungkinkan infasi kejaringan sekitarnya termasuk ke dalam pembuluh getah bening dan darah, melalui jalur sel ini maligna menyebar ke bagian tubuh yang jauh dan tumbuh lagi tumor-tumor baru ( Metastase ) Bila tumor tidak diangkat seluruhnya dan dimusnahkan, ia bisa tumbuh kembali dan masih berjangkit bisa membawa kematian karena terjadinya penggantian sel yangnormal dan penyebabpenyebab lain yang belum di ketahui. Perubahan pertumbuhan sel yang abnormal adalah pertumbuhan maligna. Sel neoplastik adalah otonom dalam arti tubuh dengan kecepatan yang tidak terkoordinasi dengan kebutuhan hospes dan fungsi yang sangat tidak bergantung pada homeotatis sebagian besar sel tubuh lainnya. Pertumbuhan sel neoplastik biasanya progresif yaitu tidak mencapai keseimbangan, tetapi lebih banyak mengakibatkan massa sel yang mempunyai sifat yang sama, sebenarnya neoplasma tidak melakukan tujuan adaptif yang menguntungkan hospes tetapi lebih sering membahayakan neoplasma telah dihilangkan, neoplasma tumor terus tumbuh dengan progresif. Sel-sel neoplasma ganas yang berprolifeasi mampu untuk melepaskan dari tumor primer dan memasuki sirkulasi untuk menyebarkan ke tempat lain. Pada kanker sifat sel-selnya yaitu antisocial terdapat sel-sel normal tubuh, sel-sel ganas tidak mentaati peraturan territorial biasa dan tumbuh pada tempat yang tidak semestinya. Tidak memberi respon terhadap pengendalian diri, biasa ukuran sel atau tentang laju pertumbuhan populasi itu. Kelainan-kelainan penting dari sel-sel kanker kelihatannya terletak pada membrane sel itu. Jelas bahwa sinyal-sinyal homeotasi dari sel-sel lain dan dari tempat-tempat lain dalam tubuh diterima oleh membrane sel dan diteruskan ke bagian dalam sel. Struktur antigenik membran sel pasti penting dipandang dari interaksiimmunologik dari sel terhadap lingkungan sekitar. Sel-sel neoplasma dapat metastasis. Metastasis dapat terjadi melalui hematogen contohnya pada otak, paru-paru, hepar, rahim, keduanya melalui limpogen. Contohnya benjolan pada node-node aksila. Sel-sel ganas neoplastik yang ganas bertumbuh cepat sehingga menekan pada struktur tubuh yang mengakibatkan nyeri dan penyumbatan jalan tubuh contohnya vena yang mengakibatkan neoplastik yang ganas menyerbu jaringan sekitar, contohnya benjolan dipayudara baik bersifat keras maupun terikat pada kulit dan menjadi ulkus pada payudara. (Price and Wilson, Patofisiologi Vol. 2) 5) Manifestasi Klinis Adapun tanda dan gejala kanker payudara adalah : 1. Tanda dini Benjolan tunggal tanpa nyeri yang agak keras dengan batas kurang jelas Kelainan mammogram tanpa kelainan palpasi 2. Tanda lama

- Retrakis kulit atau areola - Retraksi atau invasi putting - Kelenjar axilla dapat diraba - Pengerutan payudara - Pembesaran payudara - Kemerahan - Edema kulit - Fiksasi pada dulit atau dinding kulit 3. Tanda akhir - Tukak - Kelenjar supraklavikula dapat diraba - Oedem lengan - Metastasis tulang, paru, hati, otak, pleura atau ditempat lain.

6) Pemeriksaan Diagnostik. a. mamograi memperlihatkan struktur internal payudara untuk mendeteksi kaker yang teraba atau tumor pada tahap awal. b. Ultrasound.. Dapat membantu membendakan massa padat, dan kista, dan pada wanita yang jaringan payudaranya keras, komplenent dari mamografi. c. Xeroradiografi. Menyatakan peningkatan sirkulasi sekitar tumor. d. Sken, CT dan MRI. Tekhnik skan yang dapat mendeteksi payudara, khususnya massa yang lebih besar atau tumor kecil, payudara yang lebih kecil yang sulit diperiksa drngan mamografi, tehknik ini tidak bisa untuk pemeriksaan rutin dan tidak untuk mamografi. e. Biopsi payudara (jarum atau eksisi). Memberikan diagnosa definitive massa dan berguna untuk klasifikasi histology pentahapan dan sekresi. Terapi yang tepat. 7) Penatalaksanaan - Kualitatif Konsrevati (eksisi luas), eksisi tumor luas disekresi kelenjar axilla, radioterafi pada sisa payudara. - Radikal mastektomi (haisted) Pengangkatan payudara dengan sebagian besarnya kulit mempektoralisis mayor, mempektorasisis minor, semua kelenjar ketiak. - Modified radikal mastektomi (patey) Mempektoralisis mayor dan minor dipertahankan - Superradikal Bedah urban diperluas dengan pengeluaran kelenjar linfe supra klavikula. - Radiotherafy Kuratif : Untuk terafi tunggal tidak efektif

Untuk terai tambahan (efektif) Untuk tumor yang relative besar. Paliatif : dapat dilakukan dengan hasil baik dengan waktu terbatas Untuk tumor yang tidak bisa diangkat. - Kemotherafy Diberikan untuk penderita untuk metastasis pada satu buah atau beberapa kelenjar pada pemeriksaan histopat pasca mastektomi Untuk menghancurkan mikro metastasis didalam tubuh. 8) Komplikasi. Limfedema adalah system limfe tidak dapat menjamin aliran balik cairan limfe kesirkulasi namun pada klien yang telah diangkat node-node limfe pada axilla. Mengakibatkan edema hebat pada lengan sebelah mastektomi dapat dihindari dengan latihan, masase, elevasi lengn yang sakit selama 3-4 bulan. - Cedera syaraaf. Terjadi saat pembedahan dengan tidak sengaja memotong syaraf pleksus brokhialus - Konstruksi sendi Konstruksi pada axilla terjadi akibat kesembuhan luka lambat dan mobilisasi yang kurang. - Infeksi/osteomiliis. Khususnya menjadi resiko dengan mastektomi radikal dan penanganan skin graff. Resiko meningkat bila terekspose tulang iga. (Smlerzer and Bare, 1997) B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN Konsep dasar keperawatan biasanya dimulai dari pengkajian, analisis data, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, implementasi dan evaluasdi, dari urutan diatas maka akan dimulai dari ; 1. Pengkajian Pengkajian dari konsep perawatan dikaji perpola sesuai dengan nanda yaitu : a. Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan. kaji persepsi klien terhadap kesehatan, upaya-upaya yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan, termasuk juga penyakit saat ini, upaya yang dilakukan serta harapan klien. b. Pola sosioekonomi Kaji jumlah anggota keluarga, orang yang tinggal serumah, pekerjaan klien dan kecukupan dari materi. c. Pola kognitif Kaji adanya alat bantu yang digunakan klien baik pendengaran ataupun pengelihatan, daya ingat, kemampuan untu belajar sesuatu dan orientasi klien terhadap lingkungan sekitar, serta adanya gangguan persepsi sensori, seperti pengelihatan kabur, gangguan penengara. d. Pola persepsi kondep diri Kaji pandangan klien terhadap diri sendiri, pengalaman tentang frustasi dan ungkapan klien terhadap keadaan klien saat ini. e. Pola koping/toleransi terhadap stress Fakto-faktor yang emmbuat klien marah dan tidak dapat mengontrol diri, siapa tempat bertukar pandapat dan mekanisme yang digunakan selama ini. Kaji juga terhadap penyesuaian diri, ungkapan penyangkalan atau penolakan diri.

f. Pola aktivitas Kaji adanya kelemahan, kelelahan danl pola istirahat klien g. Pola eliminasi Kaji bagaimana rekuensi pola eliminasi apakah teratur dan apakah ada perubahan dan pola eliminasi tersebut. h. Pola tidur Kaji bagaimana, apakah teratur tidurnya, apakah gangguan, bagaimana menangani susah tidur. i. Pola nutrisi metabolic. Yang dapat dikaji adalah bagaimana dengan pola nutrisi, kaji makanan kesukaan, kebiasaan pola makan. j. Pola reproduksi dan seksualitas. Kaji apakah ada gangguan reproduksi sperti nyeri, keputihan, jamur dan rasa gatal-gatal, umur dan berapa melahirkan dan KB yang digunakan. k. Pola kepercayan Kaji system kepercayaan klien, tujuan hidup, rencana masa depan dan ungkapan klien tentang kebutuhan spiritual. 2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia dan individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, membatasi, mencegah dan merubah. (Capernito, 2000). Diagnosa keperawatan adalah pernyataan atau kesimpulan yang diambil dari pengkajian tentang status kesehatan klien. (Effendy Nasrul, 1995. hal. 26). Diagnosa keperawatan merupakan respon klien terhadap adanya masalah kesehatan, oleh sebab itu diangnosa keperatatan berorientasi pada kebutuhan dan sarana menusia berdasarkan pada teori kebutuhan dasar Abraham Maslow. (goffer, 1999). Diagnosa keperawatan yang dapat timbul adalah : 1) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kehilangan integritas kulit yang disebabkan oleh kanker payudara 2) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma jaringan insisi bedah. 3) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka kanker payudara. 4) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit. 5) Gagguan citra diri berhubungan dengan kehilangan bagian tubuh perasaan negatif derhadap tubuh. 3. Perencanaan Keperawatan. 1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma jaringan insisi bedah. Tujuan : Rasa nyeri berkurang sampai hilang. Kriteria hasil :

- Ekspresi wajah rileks - TTV dalam batas normal - Klien menyatakan nyeri berkurang Intervensi a) Kaji nyeri, lokasi, lamanya dan intensitas, R/ membantu dalam mengidentiikasi derajat nyeri dan kebutuhan untuk analgesic b) Kaji ttv Q4H saat nyeri R/dengan mengkaji TTV sapat diketahui status nyeri c) Berikan poisi yang nyaman sesuai kebutuhan klien R/ mempertahankan tingkat kenyamanan d) Kolaborasi denga klien untuk mengidentifikasi tindakan penghilag nyeri yang efektif R/ klien dapat memberikan pandangan bermakna terhadap nyeri dan menghilangkan nyeri e) Berikan obat nyeri sesuai dengan program medis yang telah ditentukan analgesik) R/ dengan pemberian analgesic dapat mengontrol denstlrer nyeri 2) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka kanker payudara. Tujuan : integritas kulit tampak membaik Kriteria hasil : kulit utuh dan bebas dari tanda-tanda infeksis luka berwarna merah muda Intervensi a) bersihkan luka setiap hari R/pembersihan setiap hari akan mengurangi kontaminasi bakteri. b) laksanakan perawatan luka sesuai dengan preskripsi medik R/ perawatan luka akan mempercepat penyembuhan luka c) dorong untuk tidak menggunakan pakaian yang tidak sempit atau ketat, tidak menggunakan jam tangan dan perhiasan lain pada tangan yang dakit R/ menurunkan tekanan pada jaringan yang terkena yang dapat memperbaiki sirkulasi atau penyembuhan d) Kaji luka,laporkan tanfa-tanda kesembuhan yang baik R/intervensi dini untuk mengatasi sesembuhan luka sangat esensial e) Berikan antibiotic sesuaiindikasi. R/ diberi secara profilaksis atau untuk mengobati infeksi khususnya dan peningkatan penyembuhan. 3) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kehilangan integritas kulit yang disebabkan oleh kanker payudara. Tujuan : klien bebas dari infeksi Criteria hasil : klien tidak demam, pembentukan jaringan grandulasi dan leadaan luka bsik. Intervensi

a) Pantau penampilan luka setiap hari, duhu detiap 4 jam, dan jumlah makanan yang di konsumsi setiap kali makan. R/untuk mengidentiikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang di harapkan b) bersihkan areal luka dan laporkan jaringan nekrotik (debridemen) sesuai pesanan R/pembersihan pada pelapisan jaringan dan nekrotik meningkatkan pembentukan granulasi. c) lakukan langkah-langkah untuk mencegah infeksi. R/tindakan ini membantu mencegah masuknya mikroorganisme kedalam luka. d) Beritauhu doker bila demam atau berbau busuk di areal kanker payudara R/temuan dan ini menandakan infeksi. 4) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit. Tujuan : klien mengerti tentang proses penyakit dan pengobatannya. Kriteria hasil : - Menanyakan tentang proses penyakit dan pengobatannya - Melakukan pola hidupa dan partidipasi pada programpengobatannya. Intervensi a) kaji proses penyakit, prosdur pembedahan dan harapan yang akan datang R/ memberitahukan klien pengetahuan dasar dimana klien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi yang diberikan b) diskusikan perlunya keseimbangan kesehatan, nutrisi makanan dan pemasukan cairan yang adekuat R/ memberikan nutrisi optimal dan mempertahankan volume sirkulasi untuk meningkatkan regenerasi jaringan atau proses kesembuhan c) waspadai dalam pengambilan darah atau memberikan cairan intravena atau obat atau pengukuran tekanan darah pada sisi yang sakit R/ dapat membatasi atau meningkatkan resiko infeksi bila system daya tahan tubuh menurun d) dorong pemeriksaan dini yang teratur pada payudara yang masih ada. R/ mengidentifikasi perubahan jaringan payudara yang mengindikasikan terjadinya atau beulangnya tumor baru. ( Doenges, 1999). 4. Implementasi Pelaksanaan tindakan keperawatan adalah inisiatif dan rencana tindakan untik mencapai tujuan spesifik (Nursalam, 2001). Implementasi sebaiknya di buat sesuai dengan apa yang direncanakan, dan sesuai situasi klien dan peralatan rumah sakit Dalam tahap implementasi ini, perawat berperan sebagai pelaksana keperawatan, memberikan support, advokasi, konselor dan penghimpunan data. (Capernito, 1999).

5. Evaluasi Tindakan inteliktual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana keperawatan dan pelaksanaan sudah berhasil dicapai. (Nursalam, 2001). Evaluasi terdiri dari dua yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. a Evaluasi formatif disebut juga proses evaluasi jangka pendek atau evaluasi berjalan dimana evaluasi dilakukan secepat nya setelah tindakan keperawatan dilakukan sampai tujuan tercapai. b Evaluasi sumatif biasa disebut evaluasi hasil, evaluasi akhir dan evaluasi jangka panjang. Evaluasi ini dilakukan diakhir tindakan keperawatan dilaksanakan. Dan menjadi suatu metode dalam memonitor kualitas dan efisien, tindakan yang diberikan. Bentuk evaluasi ini lazimnya menggunakan format SOAP. (Nursalam, 2001). Tujuan evaluasi adalah untuk mendapatkan umpan balik dalam rencana keperawtan, nilai serta meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui hasil perbandingan dan standar yang telah ditentukan sebelumnya.. Ada empat kemungkinan yang dapat terjadi dalam tahap evaluasi ini yaitu : masalah teratasi seluruhnya, masalah teratasi sebagian, masalah belum teratasi dan masalah baru. 6. Perencanaan pulang 1) dalam proses penyembuhan dan rehabilitas kanker payudara terjadi dalam waktu yang lama, oleh sebab itu keluarga perlu ketekunan dan kesabaran. 2) Jelaskan kepada klien dan keluarga mengenai tanda-tanda dan gejala komplikasi baik kepada dokter maupun perawat. 3) Dorong keluarga selama proses penyembuhan dirumah untuk memberikan dukungan yang positif. 4) Rencana control ulang untuk mengetahui kemajuan dalam pengobatan. Diposkan oleh Yanto-Rika Nurse di 21.58