Anda di halaman 1dari 16

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI

2013

KATA PENGANTAR

Pertama-tama, saya panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa karena berkat dan tuntunan-Nya, sehingga saya bisa menyelesaikan tugas makalah ini dengan tidak kurang suatu apapun. Tugas ini saya buat untuk menunjang pencapaian nilai mata kuliah Teknologi bahan konstruksi. Dimana saya sebagai mahasiswa universitas samratulangi. Tugas ini saya buat sesuai dengan pokok pembahasan yaitu makalah bahan bahan konstruksi yang membahas mengaenai bahan konstruksi (ASPAL). Saya sebagai penulis menyadari penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, karena itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi perbaikan penulisan makalah ini sangat saya harapkan. Akhir kata, semonga penulisan makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi para pembaca serta semua pihak yang membutuhkannya.

Manado, juli 2012

Penulis

FAKULTAS TEKNIK

Page 1

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI


DAFTAR ISI

2013

KATA PENGANTAR ............................................................................... DAFTAR ISI ............................................................................................. Bab.I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang.................................................................... .......... Bab .II PEMBAHASAN A. ASPAL.................................................................................. ............ a. Sumber Aspal................................................................................. . b. Sifat-Sifat Penyusun Aspal................................................... .......... b.1. Asphaltene................................................................ .

i ii

5 7 7

8 8
9 10 10 10 10 11 11 13 13 14 15 15 16

b.2. Maltene............................................................................
c. Fungsu Aspal...................................................................... ............ B. JENIS ASPAL......................................................................... ............. a. Aspal Batu....................................................................................... b. Aspal Batuan................................................................................... c. Aspal Keras......................................................................... ............ d. Aspal Cair........................................................................... ............ e. Aspal Emulisi...................................................................... ............ C. TITIK NYALA DENGAN CLEVELAND OPEN CUP............... D. PENETRASI BAHAN BITUMEN........................................... E. TITIK LEMBEK.................................................................... F. DAKTILITAS BAHAN BITUMEN........................................ G. ALAT VISCOMETER........................................................... DAFTAR PUSTAKA.................................................................

FAKULTAS TEKNIK

Page 2

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI BAB. I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

2013

Jalan merupakan infrastruktur dasar dan utama dalam menggerakkan roda perekonomian nasional dan daerah, mengingat penting dan strategisnya fungsi jalan untuk mendorong distribusi barang dan jasa sekaligus mobilitas penduduk. Ketersediaan jalan adalah prasyarat mutlak bagi masuknya investasi ke suatu wilayah. Jalan memungkinkan seluruh masyarakat mendapatkan akses pelayanan pendidikan, kesehatan dan pekerjaan. Untuk itu diperlukan perencanaan struktur perkerasan yang kuat, tahan lama dan mempunyai daya tahan tinggi terhadap deformasi plastis yang terjadi. Kerusakan jalan di Indonesia umumnya disebabkan oleh pembebanan yang terjadi berlebihan (overload) atau disebabkan oleh Physical Damage Factor (P.D.F.) berlebih, banyaknya arus kendaraan yang lewat (repetisi beban) sebagai akibat pertumbuhan jumlah kendaraan yang cepat terutama kendaraan komersial dan perubahan lingkungan atau oleh karena fungsi drainase yang kurang baik. Ketiga faktor penyebab utama kerusakan perkerasan jalan ini menuntut penggunaan material untuk perkerasan jalan (beton aspal) dengan kualitas yang lebih tinggi, yang berupa material agregat sebagai bahan pengisi maupun aspal sebagai bahan pengikat. Pada saat ini, Indonesia sudah menggunakan lapis perkerasan campuran beraspal panas (hotmix) baik untuk kegiatan peningkatan maupun pembangunan jalan baru. Campuran beraspal panas adalah campuran yang terdiri atas kombinasi agregat yang dicampur dengan aspal pada suhu tinggi. Pencampuran dilakukan di Unit Pencampur Aspal (UPA) sedemikian rupa sehingga permukaan agregat terselimuti aspal dengan seragam. Salah satu jenis campuran beraspal panas yang sering digunakan adalah Laston (Lapis Aspal Beton/ AC/ Asphalt Concrete). Laston memiliki tingkat fleksibelitas yang tinggi sehingga penempatan langsung di atas lapisan seperti lapisan aus (AC-Wearing Course) membuat 2 lapisan ini rentan terhadap kerusakan akibat temperatur yang tinggi dan beban lalu lintas berat. Jenis kerusakan yang

FAKULTAS TEKNIK

Page 3

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI

2013

sering terjadi pada Laston adalah pelepasan butiran dan retak. Di samping hal tersebut, kerusakan jalan juga karena terlalu tingginya viskositas aspal keras saat pencampuran dengan agregat akibat tidak berjalannya pengendalian mutu di AMP sehingga temperatur aspal tidak terkontrol. Dari permasalahan diatas, perlu dilakukan penelitian dengan melakukan uji laboratorium tentang Kinerja Aspal Pertamina Pen 60/70 dan Aspal BNA Blend 75/25 pada Campuran Aspal Panas AC-WC dengan mengacu pada Spesifikasi beton aspal campuran panas 2010.

FAKULTAS TEKNIK

Page 4

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI BAB. II PEMBAHASAN A. ASPAL

2013

Aspal ialah bahan hidro karbon yang bersifat melekat (adhesive), berwarna hitam kecoklatan, tahan terhadap air, dan visoelastis. Aspal sering juga disebut bitumen merupakan bahan pengikat pada campuran beraspal yang dimanfaatkan sebagai lapis permukaan lapis perkerasan lentur. Aspal berasal dari aspal alam (aspal buton} atau aspal minyak (aspal yang berasal dari minyak bumi). Berdasarkan konsistensinya, aspal dapat diklasifikasikan menjadi aspal padat, dan aspal cair. Aspal atau bitumen adalah suatu cairan kental yang merupakan senyawa hidrokarbon dengan sedikit mengandung sulfur, oksigen, dan klor. Aspal sebagai bahan pengikat dalam perkerasan lentur mempunyai sifat viskoelastis. Aspal merupakan bahan yang sangat kompleks dan secara kimia belum dikarakterisasi dengan baik. Kandungan utama aspal adalah senyawa karbon jenuh dan tak jenuh, alifatik dan aromatic yang mempunyai atom karbon sampai 150 per molekul. Atom-atom selain hidrogen dan karbon yang juga menyusun aspal adalah nitrogen, oksigen, belerang, dan beberapa atom lain. Secara kuantitatif, biasanya 80% massa aspal adalah karbon, 10% hydrogen, 6% belerang, dan sisanya oksigen dan nitrogen, serta sejumlah renik besi, nikel, dan vanadium. Senyawasenyawa ini sering dikelaskan atas aspalten (yang massa molekulnya kecil) dan malten (yang massa molekulnya besar). Biasanya aspal mengandung 5 sampai 25% aspalten. Sebagian besar senyawa di aspal adalah senyawa polar.Aspal merupakan bahan perkerasan yang sering di lakukan buat pembuatan jalan. Pada suhu ruang, aspal adalah material yang berbentuk padat dan bersifat termoplastis. Jadi, aspal akan mencair jika dipanaskan sampai dengan temperatur tertentu, dan kembali membeku jika temperatur turun. Bersama dengan agregat, aspal merupakan material pembentuk campuran perkerasan jalan. Aspal dalam bahasa yang umum dikenal juga dengan tar. Untuk kata tar atau aspal sering digunakan secara bergantian, mereka memiliki arti yang berbeda. Salah satu alasan untuk kebingungan ini disebabkan oleh fakta bahwa, di antara negara-negara lain, ada perbedaan substansial dalam arti dihubungkan dengan periode yang sama. Sebagai

FAKULTAS TEKNIK

Page 5

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI

2013

contoh, aspal minyak di Amerika Serikat disebut dengan aspal, sedangkan di Eropa aspal adalah campuran agregat batu dan aspal yang digunakan untuk pembangunan jalan. Di Eropa, istilah aspal menunjukkan residu dari penyulingan minyak bumi. Aspal adalah campuran aspal dan bahan batu (kerikil, pasir, debu). Tar, yang sesuai dengan tar kata Inggris, adalah bahan yang terlihat mirip dengan aspal, tapi benar-benar berbeda dalam asal dan komposisi, dan, pada kenyataannya, yang diperoleh dari penyulingan batubara. Materi ini, dibandingkan dengan aspal, menunjukkan kandungan lebih tinggi dari hidrokarbon aromatik polisiklik dan senyawa lain yang banyak mengandung oksigen, nitrogen dan belerang. Di banyak negara, di masa lalu, tar batubara sering diganti atau dicampur dengan aspal dalam industri. Penggunaan tersebut, sekarang seluruhnya berhenti, telah menyebar kebiasaan baik menggunakan dua istilah dalam tar umum digunakan dan aspal. Aspal dikenal sebagai bahan/material yang bersifat viskos atau padat, berwarna hitam atau coklat, yang mempunyai daya lekat (adhesif), mengandung bagian-bagian utama yaitu hidokarbon yang dihasilkan dari minyak bumi atau kejadian alami (aspal alam) dan terlarut dalam karbondisulfida. Aspal sendiri dihasilkan dari minyak mentah yang dipilih melalui proses destilasi minyak bumi. Proses penyulingan ini dilakukan dengan pemanasan hingga suhu 350oC dibawah tekanan atmosfir untuk memisahkan fraksi-fraksi ringan, seperti gasoline (bensin), kerosene (minyak tanah), dan gas oil.

FAKULTAS TEKNIK

Page 6

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI

2013

a. Sumber Aspal Sumber aspal dari kilang minyak (refinery bitumen). Aspal yang dihasilkan dari industri kilang minyak mentah (crude oil) dikenal sebagai residual bitumen, straight bitumen atau steam refined bitumen. Istilahrefinery bitumen merupakan nama yang tepat dan umum digunakan.

Aspal yang dihasilkan dari minyak mentah yang diperoleh melalui proses estilasi minyak bumi. Proses penyulingan ini dilakukan dengan pemanasan hingga suhu 350 oC di bawah tekanan atmosfir untuk memisahka faksi-fraksi minyak seperti gasoline (bensin), koresene (minyak tanah) dan gas oil b. Sifat Sifat Senyawa Penyusun Dari Aspal Aspal dipandang sebagai sebuah sistem koloidal yang terdiri dari komponen molekul berat yang disebutaspaltene, dispersi/hamburan di

FAKULTAS TEKNIK

Page 7

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI

2013

dalam minyak perantara disebut maltene. Bagian dari maltene terdiri dari molekul perantara disebut resin yang menjadi instrumen di dalam menjaga dispersi asphaltene. Aspal merupakan senyawa yang kompleks, bahan utamanya disusun oleh hidrokarbon dan atom-atom N, S, dan O dalam jumlah yang kecil. Dimana unsur-unsur yang terkandung dalam bitumen, antara lain : Karbon (82-88%), Hidrogen (8-11%), Sulfur (0-6%), Oksigen (0-1,5%), dan Nitrogen (0-1%). Berikut sifat-sifat senyawa penyusun dari aspal : b.1. Asphaltene Asphaltene merupakan senyawa komplek aromatis yang berwarna hitam atau coklat amorf, bersifat termoplatis dan sangat polar, dengan perbandingan komposisi untuk H/C yaitu 1 :1, memiliki berat molekul besar antara 1000 100000, dan tidak larut dalam n-heptan. Asphaltene juga sangat berpengaruh dalam menentukan sifat reologi bitumen, dimana semakin tinggi asphaltene, maka bitumen akan semakin keras dan semakin kental, sehingga titik lembeknya akan semakin tinggi, dan menyebabkan harga penetrasinya semakin rendah.

Asphaltene b.2. Maltene Di dalam maltene terdapat tiga komponen penyusun yaitu saturate, aromatis, dan resin. Dimana masing-masing komponen memiliki struktur dan komposisi kimia yang berbeda, dan sangat menentukan dalam sifat rheologi bitumen.
o

Resin. Resin merupakan senyawa yang berwarna coklat tua, dan berbentuk solid atau semi solid dan sangat polar, dimana tersusun oleh atom C dan H, dan sedikit atom O, S, dan N, untuk perbandingan H/C yaitu 1.3 1.4, memiliki berat molekul antara 500 50000, serta larut dalam n-heptan.

FAKULTAS TEKNIK

Page 8

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI


o

2013

Aromatis. Senyawa ini berwarna coklat tua, berbentuk cairan kental, bersifat non polar, dan di dominasi oleh cincin tidak jenuh, dengan berat molekul antara 300 2000, terdiri dari senyawa naften aromatis, komposisi 40-65% dari total bitumen. Saturate. Senyawa ini berbentuk cairan kental, bersifat non polar, dan memiliki berat molekul hampir sama dengan aromatis, serta tersusun dari campuran hidrokarbon lurus, bercabang, alkil naften, dan aromatis, komposisinya 5-20% dari total bitumen.

Saturate

Dengan demikian maka aspal atau bitumen adalah suatu campuran cairan kental senyawa organik, berwarna hitam, lengket, larut dalam karbon disulfida, dan struktur utamanya oleh polisiklik aromatis hidrokarbon yang sangat kompak. c. Fungsi Aspal 1) Untuk mengikat batuan agar tidak lepas dari permukaan jalan akibat lalu lintas (water proofing, protect terhadap erosi) 2) Sebagai bahan pelapis dan perekat agregat. 3) Lapis resap pengikat (prime coat) adalah lapisan tipis aspal cair yang diletakan di atas lapis pondasi sebelum lapis berikutnya. 4) Lapis pengikat (tack coat) adalah lapis aspal cair yang diletakan di atas jalan yang telah beraspal sebelum lapis berikutnya dihampar, berfungsi pengikat di antara keduanya. 5) Sebagai pengisi ruang yang kosong antara agregat kasar, agregat halus, dan filler.

FAKULTAS TEKNIK

Page 9

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI B. Jenis Aspal

2013

Yang tinggi dengan perbandingan tertentu sehingga dihasilkan aspal dengan angka penetrasi yang diinginkan. a. Aspal Batu (Rock Asphalt) Aspal batu Kentucky dan Buton adalah aspal yang secara alamiah terdeposit di daerah Kentucky, USA dan di pulau Buton, Indonesia. Aspal dari deposit ini terbentuk dalam celah-celah batuan kapur dan batuan pasir. Aspal yang terkandung dalam batuan ini berkisar antara 12 - 35 % dari masa batu tersebut dan memiliki tingkat penetrasi antara 0 - 40. Untuk pemakaiannya, deposit ini harus ditambang terlebih dahulu, lalu aspalnya diekstraksi dan dicampur dengan minyak pelunak atau aspal keras dengan angka penetrasi yang lebih tinggi agar didapat suatu campuran aspal yang memiliki angka penetrasi sesuai dengan yang diinginkan. Pada saat ini aspal batu telah dikembangkan lebih lanjut, sehingga menghasilkan aspal batu dalam bentuk butiran partikel yang berukuran lebih kecil dari 1 mm dan dalam bentuk mastik. b. Aspal Buatan Jenis aspal ini dibuat dari proses pengolahan minya bumi, jadi bahan baku yang dibuat untuk aspal pada umumnya adalah minyak bumi yang banyak mengandung aspal. Jenis dari aspal buatan antara lain adalah sebagai berikut: 1) Aspal keras 2) Aspal cair 3) Aspal emulsi c. Aspal Keras Aspal keras merupakan aspal hasil destilasi yang bersifat viskoelastis sehingga akan melunak dan mencair apabila mendapat cukup pemanasan dan sebaliknya. Aspal keras digunakan untuk bahan pembuatan AC (Asphalt Concrete). Aspal yang digunakan dapat berupa aspal keras penetrasi 60 atau penetrasi 80 yang memenuhi persyaratan aspal keras. Jenis-jenisnya : 1). Aspal penetrasi rendah 40 / 55, digunakan untuk kasus: Jalan dengan volume lalu lintas tinggi, dan daerah dengan cuaca iklim panas.

FAKULTAS TEKNIK

Page 10

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI

2013

2). Aspal penetrasi rendah 60 / 70, digunakan untuk kasus : Jalan dengan volume lalu lintas sedang atau tinggi, dan daerah dengan cuaca iklim panas. 3). Aspal penetrasi tinggi 80 / 100, digunakan untuk kasus : Jalan dengan volume lalu lintas sedang / rendah, dan daerah dengan cuaca iklim dingin. 4). Aspal penetrasi tinggi 100 / 110, digunakan untuk kasus : Jalan dengan volume lalu lintas rendah, dan daerah dengan cuaca iklim dingin. d. Aspal Cair Aspal cair merupakan aspal hasil dari pelarutan aspal keras dengan bahan pelarut berbasis minyak. Aspal cair digunakan untuk keperluan lapis resap pengikat (prime coat) digunakan aspal cair jenis MC 30, MC 70, MC 250 atau aspal emulsi jenis CMS, MS. Untuk keperluan lapis pengikat (tack coat) digunakan aspal cair jenis RC 70, RC 250 atau aspal emulsi jenis CRS, RS. e. Aspal Emulsi Aspal cair yang dihasilkan dengan cara mendispersikan aspal keras ke dalam air atau sebaliknya dengan bantuan bahan pengemulsi sehingga diperoleh partikel aspal yang bermuatan listrik positif (kationik), negatif (anionik) atau tidak bermuatan listrik (nonionik). Jenis-jenisnya adalah: 1) Aspal Emulsi Anionik Aspal cair yang dihasilkan dengan cara mendispersikan aspal keras ke dalam air atau sebaliknya dengan bantuan bahan pengemulsi anionik sehingga partikel-partikel aspal bermuatan ionnegatif. 2) Aspal Emulsi Anionik Mengikat Cepat (Rapid setting, RS) Aspal emulsi bermuatan negatif yang aspalnya mengikat agregat secara cepat setelah kontak dengan agregat. 3) Aspal Emulsi Anionik Mengikat Lebih Cepat (Quick setting, QS) Aspal emulsi bermuatan negatif yang aspalnya mengikat agregat secara lebih cepat setelah kontak dengan agregat. Meliputi : QS-1h (Quick Setting-1): Mengikat lebih cepat-1 keras (Pen 40-90).

FAKULTAS TEKNIK

Page 11

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI

2013

4) Aspal Emulsi Jenis Mantap Sedang Aspal emulsi yang butir-butir aspalnya bermuatan listrik positip. 5) Aspal Emulsi Kationik Aspal cair yang dihasilkan dengan cara mendispersikan aspal keras ke dalam air atau sebaliknya dengan bantuan bahan pengemulsi jenis kationik sehingga partikel-partikel aspal bermuatan ion positif. 6) Aspal Emulsi Kationik Mengikat Cepat (CRS) aspal emulsi bermuatan positif yang aspalnya memisah dari air secara cepat setelah kontak dengan agregat. 7) Aspal Emulsi Kationik Mengikat Lambat (CSS) Aspal emulsi bermuatan positif yang aspalnya memisah dari air secara lambat setelah kontak dengan agregat. 8) Aspal Emulsi Kationik Mengikat Lebih Cepat (CQS) Aspal emulsi bermuatan positif yang aspalnya memisah dari air secara lebih cepat setelah kontak dengan agregat. 9) Aspal Emulsi Kationik Mengikat Sedang (CMS) Aspal emulsi bermuatan positif yang aspalnya memisah dari air secara sedang setelah kontak dengan agregat. 10) Aspal Emulsi Mantap Cepat (Cationic Rapid Setting - CRS) Aspal emulsi kationik yang partikel aspalnya memisah cepat dari air setelah kontak dengan aggregat. 11) Aspal Emulsi Mantap Cepat (cationic rapid setting, CRS) Aspal emulsi kationik yang partikel aspalnya memisah cepat dari air setelah kontak dengan aggregate aspal emulsi jenis kationik yang partikel aspalnya memisah dengan cepat dari air setelah kontak dengan udara.

FAKULTAS TEKNIK

Page 12

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI C. Titik nyala dengan Cleveland Open Cup

2013

Penentuan titik nyala dilakukan untuk memastikan bahwa aspal cukup aman untuk pelaksanaan. Titik nyala yang rendah menunjukkan indikasi adanya minyak ringan dalam aspal. Prosedur pengujian berdasarkan SNI 06-2433-1991, secara garis besar adalah sebagai berikut : 1) Panaskan contoh aspal + 100 gr pada 140oC sampai cukup cair. 2) Isilah cawan Cleaveland sampai garis batas dan hilangkan gelembung udara Letakkan cawan di atas plat pemanas, atur letak sumber panas 3) Letakkan nyala penguji, gantungkan termometer diatas dasar cawan. Atur posisi thermometer 4) Tempatkan penahan angin, nyalakan sumber pemanas, atur hingga kenaikan temperatur 15 + 1 oC/menit sampai mencapai temperatur 56 oC di bawah titik nyala perkiraan. 5) Atur kecepatan pemanasan 5 - 6 oC/menit pada temperatur antara 56 oC dan 28oC di bawah titik nyala perkiraan. Nyalakan nyala penguji dan atur diameter nyala penguji 6) Putar nyala penguji hingga melalui permukaan cawan (dari tepi ke tepi cawan) dalam waktu 1 detik, Ulangi setiap kenaikan 2oC sampai terlihat nyala singkat pada permukaan aspal, baca temperatur pada termometer dan catat 7) Lanjutkan pengamatan sampai terlihat nyala di atas permukaan benda uji yang lebih lama minimal 5 detik , baca dan catat temperatur pada termometer. D. Penetrasi bahan bitumen Pengujian ini dimaksudkan untuk menetapkan nilai kekerasan aspal. Berdasarkan pengujian ini aspal keras dikatagorikan dalam beberapa tingkat kekerasan. Pengujian ini merupakan pengukuran secara empiris terhadap konsistensi aspal. Kekerasan aspal diukur dengan jarum penetrasi standar yang masuk kedalam permukaan bitumen pada temperatur 25oC, beban 100 gram dan waktu 5 detik. Prosedur pengujian berdasarkan AASHTO T 48 atau SNI 06-2456-1991, secara garis besar adalah sebagai berikut : 1) Tuang bahan uji ke kap penetrasi, diamkan 1 - 2 jam pada temperatur ruang

FAKULTAS TEKNIK

Page 13

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI

2013

2) Rendam dalam bak air 25 oC, selama 1 - 2 jam 3) Bersihkan jarum penetrasi dan pasang 4) Letakkan pemberat 50 gr pada pemegang jarum sehingga berat total 100 gram 5) Pindahkan contoh ke dalam bak air kecil 25oC. 6) Atur jarum hingga bertemu dengan permukaan benda uji (aspal). 7) Lepaskan jarum selama 5 + 0,1 detik. 8) Tekan penunjuk penetrometer dan baca angka penetrasinya. 9) Angkat jarum perlahan-lahan, lakukan pengujian paling sedikit 3 kali. E. Titik lembek Konsistensi bitumen ditunjukkan oleh temperatur dimana aspal berubah bentuk karena perubahan tegangan. Hasilnya digunakan untuk menentukan temperatur kelelehan dari aspal. Alat pengujian ditunjukkan pada Gambar 3. Prosedur pengujian berdasarkan SNI 06-2434-1991, secara garis besar adalah sebagai berikut : 1) Panaskan aspal + 25 gr hingga cair 2) Letakkan 2 buah cincin di atas pelat kuningan yang telah diolesi talk-gliserol 3) Tuang contoh ke dalam cincin cetakan, diamkan pada temperatur ruang selama 30 menit. 4) Ratakan permukaan contoh dengan pisau. 5) Pasang kedua benda uji 6) Masukkan pada bejana gelas berisi air suling bertemperatur 5 + 1oC 7) Pasang termometer khusus untuk penentuan titik lembek 8) Letakkan bola baja di atas benda uji 9) Rendam di dalam air pada temperatur 5 oC selama 15 menit 10) Panaskan bejana dengan kenaikan temperatur air 5oC/menit, 11) Atur kecepatan pemanasan untuk 3 menit pertama 5 oC + 0,5 /menit 12) Catat temperatur yang ditunjukkan saat bola baja jatuh

FAKULTAS TEKNIK

Page 14

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI

2013

F. Daktilitas bahan bitumen Daktilitas ditunjukkan oleh panjangnya benang aspal yang ditarik hingga putus. Pengujian dilakukan dengan alat yang terdiri atas cetakan, bak air dan alat penarik contoh. Alat pengujian ditunjukkan pada Gambar 4. Prosedur pengujian berdasarkan SNI 06-2432-1991, secara garis besar adalah sebagai berikut : 1) Lapisi cetakan dengan campuran gliserin pasanglah cetakan dakilitas di atas plat dasar 2) Tuang bahan uji dalam cetakan dari ujung ke ujung hingga penuh berlebih. 3) Dinginkan cetakan pada temperatur ruang selama 30 - 40 menit, ratakan dengan spatula. 4) Rendam di dalam bak perendam bertemperatur 25oC selama 30 menit 5) Lepaskan benda uji dari plat dasar dan sisi -sisi cetakan. Pasang benda uji pada mesin uji dan tarik dengan kecepatan 5 cm per menit sampai benda uji putus 6) Bacalah jarak antara pemegang benda uji pada saat benda uji putus (cm). G.Alat viscometer Cara ini dimaksudkan untuk menentukan temperatur campuran dan pemadatan campuran beraspal panas, mencakup pengujian kekentalan Saybolt Furol aspal secara empiris pada temperatur antara 120o 200oC. Gambar peralatan diperlihatkan pada Gambar 34. Cara kerja sesuai SNI 03 6441 2000 dengan garis besar sebagai berikut : 1) Panaskan alat pada temperatur 120oC. 2) Masukkan benda uji yang telah dipanaskan pada 120oC kedalam tabung viscometer

FAKULTAS TEKNIK

Page 15

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI

2013

Daftar Pustaka
http://www.ilmutekniksipil.com/perkerasan-jalan-raya/konstruksi-perkerasan-jalan-raya http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/2721097113_1907-0284.pdf
http://ahmadhafizullahritonga.blog.usu.ac.id/2011/02/18/aspal-2/

FAKULTAS TEKNIK

Page 16