Anda di halaman 1dari 17

Home Belajar Mandiri

Search

Belajar Mandiri
Dimanapun dan Kapanpun Kita Tetap Bisa Belajar Tulisan Terakhir
Link Blogger PAI Browsing menggunakan Google Bahasa HTML, apa tuh? Benarkah Internet Berguna? Apa itu Internet? E-book (buku elektronik) Situs Belajar Komputer Lembar Kerja Excel Menulis Skripsi Penulisan Skripsi menggunakan Ms Word

BELAJAR MANDIRI: Konsep dan Peneraannya dalam Sistem Pendidikan dan Pelatihan Terbuka/Jarak Jauh
Anung Haryono (SEAMOLEC)

Pendahuluan Dalam sistem Pendidikan dan Pelatihan Terbuka dan Jarak Jauh (PPTJJ), siswa/peserta didik dituntut untuk belajar secara mandiri. Orang-orang yang berkecimpung atau bekerja dalam sistem PPTJJ tentu sering mendengar bahkan menggunakan istilah mandiri dan belajar mandiri, namun mungkin persepsi kita terhadap istilah itu berbeda-beda. Tulisan ini bermaksud mengetengahkan konsep, persepsi, atau teori mengenai belajar mandiri untuk keperluan tukar pendapat, sharing informasi, dan kalau mungkin juga untuk menambah wawasan mengenai belajar mandiri. Konsep Mandiri dan Belajar Mandiri Bagian ini mengupas arti kata mandiri, belajar mandiri, dan tingkat kemandirian belajar yang digunakan orang dalam berbagai program pembelajaran.

Mandiri Kata mandiri mempunyai arti yang sangat relatif. Pada dasarnya kata mandiri mengandung arti tidak tergantung pada orang lain, bebas, dan dapat melakukan sendiri. Kata ini seringkali diterapkan untuk pengertian dan tingkat kemandirian yang berbeda-beda. Berikut ini disajikan beberapa contoh a. Seorang ibu bercerita kepada teman-temannya bahwa anaknya yang berumur 8 tahun (kelas satu atau dua Sekolah Dasar) sudah dapat mandiri. Dia sudah dapat mandi sendiri, berpakaian sendiri dan makan sendiri. Pada pagi hari sang ibu cukup menyediakan air hangat untuk mandi, sabun, dan handuk, si anak akan dapat mandi sendiri tanpa harus dimandikan. Selesai mandi sang anak juga sudah dapat mengenakan baju yang telah disiapkan oleh ibunya dengan rapi di kamar. Dia tidak memerlukan bantuan lagi waktu mengenakan bajunya. Setelah itu sang anak juga dapat makan pagi sendiri tanpa harus disuapi. Ibu cukup menyediakan makan paginya di piring dan diatur di atas meja makan. Yang dilakukan oleh anak berumur 8 tahun itu merupakan tingkat kemandirian anak kecil. Dibandingkan dengan anak lain yang masih harus dimandikan, dibantu dalam mengenakan baju, disuapi pada waktu makan, anak ini memang tergolong telah mandiri. b. Seorang pemuda dewasa mengeluh bahwa sifat atau sikap tunangannya terlalu mandiri. Gadisnya itu hampir tidak pernah mau menerima bantuan dari dia. Pulang kuliah tidak mau dijemput dengan mobil sungguhpun hari telah sore. Dia lebih suka pulang sendiri naik bis. Sungguhpun kiriman uang dari orang tuanya sangat kecil dan hampir tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolahnya, dia tidak pernah mau menerima pemberian apapun (baik yang berupa uang maupun materi) dari sang pacar. Dia lebih suka hidup sederhana dengan uang pemberian orang tuanya sendiri. Gadisnya itu tidak pernah minta padanya untuk diantar ke toko, ke rumah teman, bahkan ke setasiun. Biasanya dia harus menawarkan bantuan itu baru si gadis mau menerimanya. Itupun selalu didahului dengan pertanyaan apakah dia (si gadis) tidak mengganggu tugas dan waktu sang pacar. c. Seorang ayah bercerita dengan bangganya bahwa anak sulungnya telah dapat mandiri. Segera setelah menikah dia langsung memboyong isterinya di rumah kontraknya yang sederhana jauh di pinggiran kota. Sejak itu dia tidak pernah minta bantuan apapun dari orang tua untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Sungguhpun sederhana rumahnya dilengkapi dengan perabotan yang tertata rapi. Pakaiannya sungguhpun sederhana selalu rapi dan bersih. Untuk makan dan pemeliharaan kesehatan dia dapat menyediakan sendiri. Pendek kata dia sudah 100% mandiri. d. Pada waktu Indonesia dipimpin Presiden yang pertama, sang Presiden berpendirian bahwa Indonesia harus dapat berdikari. Artinya harus dapat hidup dan berdiri di atas kaki sendiri. Tidak menggantungkan hidupnya pada bantuan dari negara lain. Indonesia harus mandiri. Belajar Mandiri Menurut Wedemeyer seperti yang disajikan oleh Keegan (1983), siswa/peserta didik yang belajar secara mandiri mempunyai kebebasan untuk belajar tanpa harus menghadiri pelajaran yang diberikan guru/instruktur di kelas. Siswa/peserta didik dapat mempelajari pokok bahasan atau topik pelajaran tertentu dengan membaca buku atau melihat dan mendengarkan program media pandang-dengar (audio visual) tanpa bantuan atau dengan bantuan terbatas dari orang lain. Di samping itu siswa/peserta didik mempunyai otonomi dalam belajar. Otonomi tersebut terwujud dalam beberapa kebebasan sebagai berikut: a. Siswa/peserta didik mempunyai kesempatan untuk ikut menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai sesuai dengan kondisi dan kebutuhan belajarnya. b. Siswa/peserta didik boleh ikut menentukan bahan belajar yang ingin dipelajarinya dan cara mempelajarinya.

c.

Siswa/peserta didik mempunyai kebebasan untuk belajar sesuai dengan kecepatannya sendiri.

d. Siswa/peserta didik dapat ikut menentukan cara evaluasi yang akan digunakan untuk menilai kemajuan belajarnya. Kemandirian dalam belajar ini menurut Wedemeyer (1983) perlu diberikan kepada siswa/peserta didik supaya mereka mempunyai tanggung jawab dalam mengatur dan mendisiplinkan dirinya dan dalam mengembangkan kemampuan belajar atas kemauan sendiri. Sikap-sikap tersebut perlu dimiliki siswa/peserta didik karena hal tersebut merupakan ciri kedewasaan orang terpelajar. Sejalan dengan Wedemeyer, Moore (dalam Keegan, 1983) berpendapat bahwa ciri utama suatu proses pembelajaran mandiri ialah adanya kesempatan yang diberikan kepada siswa/peserta didik untuk ikut menentukan tujuan, sumber, dan evaluasi belajarnya. Karena itu, program pembelajaran mandiri dapat diklasikasikan berdasarkan besar kecilnya kebebasan (otonomi) yang diberikan kepada siswa/peserta didik untuk ikut menentukan program pembelajarannya. Tingkat kemandirian pembelajaran dapat diklasikasi berdasarkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut: a. Otonomi dalam menentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tujuan pembelajaran itu ditentukan oleh siswa/peserta didik, oleh guru/instruktur atau oleh guru/instruktur dan siswa/peserta didik? Semakin besar kesempatan yang diberikan kepada siswa/peserta didik untuk ikut menentukan tujuan pembelajarannya, berarti semakin besar kesempatan siswa/peserta didik untuk belajar sesuai dengan kebutuhan belajarnya. Dengan demikian semakin besar pula kesempatan siswa/peserta didik untuk bersikap mandiri. b. Otonomi dalam belajar. Siapakah yang menentukan buku atau media yang akan dipakai dalam belajar? Apakah semuanya ditentukan oleh guru/instruktur, oleh siswa/peserta didik, atau oleh guru/instruktur dan siswa/peserta didik? Kalau siswa/peserta didik dapat ikut menentukan bahan belajar, media belajar, dan cara belajar yang akan digunakan untuk mencapai tujuan itu, berarti siswa/peserta didik telah diberi kesempatan untuk bersikap mandiri. c. Otonomi dalam evaluasi hasil belajar. Siapakah yang menentukan cara dan kriteria evaluasi hasil belajar? Dapatkah siswa/peserta didik ikut menentukan cara evaluasi dan kriteria penilaian yang akan dipakai? Tingkat kemandirian (otonomi) yang diberikan kepada siswa/peserta didik dalam berbagai program pembelajaran tidak sama. Ada program pembelajaran yang lebih banyak memberikan kemandirian (otonomi), ada pula program pembelajaran yang kurang memberikan kemandirian kepada siswa/peserta didik. Contoh, di Universitas London ada program pembelajaran yang memberi kebebasan kepada mahasiswa untuk belajar sendiri di luar kampus. Mahasiswa yang lulus dalam ujian akan mendapat gelar yang nilainya sama dengan gelar yang diperoleh siswa/peserta didik yang mengikuti kuliah di kampus. Mahasiswa luar kampus ini diberi kesempatan untuk ikut menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan bahan belajar serta cara belajar yang akan digunakan. Namun demikian mahasiswa tidak diberi kesempatan untuk menentukan cara evaluasi dan kriteria penilaiannya. Di universitas lain, ada juga program perkuliahan yang memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk memilih sendiri buku dan media belajar yang akan dipakainya. Mahasiswa juga diberi kesempatan untuk memilih cara belajar yang disukainya, (a) siswa/peserta didik boleh mengikuti kuliah, dan boleh belajar sendiri, (b) siswa/peserta didik boleh belajar dari buku, dan boleh belajar dengan melihat program media, dan (c) siswa/peserta didik boleh belajar sendirian, boleh juga belajar bersama dengan teman dalam bentuk diskusi. Namun demikian, dalam program pembelajaran ini, siswa/peserta didik tidak diberi kesempatan untuk menentukan tujuan pembelajarannya dan cara evaluasinya. Jadi kebebasan yang diberikan hanya kebebasan dalam memilih bahan dan cara belajarnya. Belajar Mandiri dan Belajar Sendiri

Belajar mandiri tidak berarti belajar sendiri (Panen, 1997). Belajar mandiri bukan merupakan usaha untuk mengasingkan siswa/peserta didik dari teman belajarnya dan dari guru/instrukturnya. Hal yang terpenting dalam proses belajar mandiri ialah peningkatan kemampuan dan keterampilan siswa/peserta didik dalam proses belajar tanpa bantuan orang lain, sehingga pada akhirnya siswa/peserta didik tidak tergantung pada guru/instruktur, pembimbing, teman atau orang lain dalam belajar. Dalam belajar mandiri siswa/peserta didik akan berusaha sendiri dahulu untuk memahami isi pelajaran yang dibaca atau dilihatnya melalui media pandang dengar. Kalau mendapat kesulitan, barulah siswa/peserta didik akan bertanya atau mendiskusikannya dengan teman, guru/instruktur, atau orang lain. Siswa/peserta didik yang mandiri akan mampu mencari sumber belajar yang dibutuhkannya. Tugas guru/instruktur dalam proses belajar mandiri ialah menjadi fasilitator, menjadi orang yang siap memberikan bantuan kepada siswa/peserta didik bila diperlukan. Terutama, bantuan dalam menentukan tujuan belajar, memilih bahan dan media belajar, serta dalam memecahkan kesulitan yang tidak dapat dipecahkan siswa/peserta didik sendiri. Teman dalam proses belajar mandiri itu sangat penting. Kalau menghadapi kesulitan, siswa/peserta didik sering kali lebih mudah atau lebih berani bertanya kepada teman dari pada bertanya kepada guru/instruktur. Teman sangat penting karena dapat menjadi mitra dalam belajar bersama dan berdiskusi. Di samping, itu teman dapat dijadikan alat untuk mengukur kemampuannya. Dengan berdiskusi bersama teman, siswa/peserta didik akan mengetahui tingkat kemampuannya dibandingkan dengan kemampuan temannya. Bila siswa/peserta didik merasa kemampuannya masih kurang dibandingkan dengan kemampuan temannya, ia akan terdorong untuk belajar lebih giat. Bila kemampuannya dirasakan sudah melebihi kemampuan temannya, ia akan terdorong untuk mempelajari topik atau bahasan lain dengan lebih bersemangat. Bila menghadapi kesulitan dalam memahami isi pelajaran tertentu, siswa/peserta didik seringkali merasa bahwa dirinya bodoh dan karenanya menjadi putus asa. Tetapi kalau mengetahui bahwa teman-temannya juga mengalami kesulitan yang sama, perasaan di atas dapat dihilangkan dan karenanya tidak menjadi mudah putus asa. Sungguhpun belajar mandiri tidak berarti belajar sendiri, dan dalam belajar mandiri siswa/peserta didik boleh bertanya, berdiskusi, atau minta penjelasan dari orang lain, menurut Knowless, 1975 (dalam Panen, 1997) siswa/peserta didik yang belajar mandiri tidak boleh menggantungkan diri dari bantuan, pengawasan, dan arahan orang lain termasuk guru/instrukturnya, secara terus menerus. Siswa/peserta didik harus mempunyai kreativitas dan inisiatif sendiri, serta mampu bekerja sendiri dengan merujuk pada bimbingan yang diperolehnya. Kozma, Belle, Williams, 1978 dalam Panen dan Sekarwinahyu (1997) mendenisikan belajar mandiri sebagai usaha individu siswa/peserta didik yang bersifat otonomis untuk mencapai kompetensi akademis tertentu. Keterampilan mencapai kemampuan akademis secara otonom ini bila sudah menjadi milik siswa/peserta didik dapat diterapkan dalam berbagai situasi, bukan hanya terbatas pada masalah belajar saja, tetapi dapat juga diterapkan dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Dalam menghadapi masalah, siswa/peserta didik tidak akan tergantung pada bantuan orang lain. Tampaknya, Knowless (1975), Kozma, Belle, Williams (1978), Panen dan Sekarwinahyu (1997) hanya menekankan kemandirian belajar dalam pemilihan sumber dan cara belajarnya. Denisi kemandirian siswa tidak meliputi penentuan tujuan pembelajaran dan evaluasi hasil belajarnya. Tingkat Kemandirian Siswa/Peserta Didik Dalam Berbagai Program Pembelajaran Di bagian terdahulu telah dibicarakan bahwa menurut Wedemeyer dan Moore (dalam Keegan, 1983), kemandirian belajar itu dapat ditinjau dari ada tidaknya kesempatan yang diberikan kepada siswa/peserta didik (1) dalam menentukan tujuan pembelajaran, (2) dalam memilih cara dan media belajar yang digunakan untuk mencapai tujuan, dan (3) dalam menentukan cara, alat, dan kriteria evaluasi hasil belajarnya. Kemandirian belajar diberikan kepada siswa/peserta didik dengan maksud supaya siswa/peserta didik mempunyai tanggung jawab untuk mengatur dan mendisiplinkan dirinya dan

mengembangkan kemampuan belajar atas kemauan sendiri. Sikap-sikap tersebut perlu dimiliki siswa/peserta didik karena hal tersebut merupakan ciri kedewasaan orang yang terpelajar. Sampai tingkat tertentu, setiap program pendidikan memberikan kesempatan kepada siswa/peserta didik untuk belajar secara mandiri. Ada program pendidikan yang tingkat kemandirian siswa/peserta didiknya sangat besar, sebaliknya ada juga yang tingkat kemandirian siswa/peserta didiknya sangat kecil. Berikut adalah sebuah gambaran mengenai tingkat-tingkat kemandirian dalam berbagai program pembelajaran seperti yang diutarakan oleh Moore (dalam Keegan, 1983). a. Program pembelajaran yang paling tinggi tingkat kemandiriannya ialah Private Study atau Program Belajar Sendiri. Dalam program pembelajaran ini si pelajar (learner) mempunyai kebebasan sepenuhnya dalam menentukan tujuan belajarnya, media dan cara belajarnya, serta kriteria keberhasilan belajarnya. Sebagai contoh, dimisalkan ada seseorang yang ingin belajar bagaimana cara menggunakan Internet untuk berkomunikasi serta untuk mencari data dan informasi. Bagi orang ini tujuan belajar yang dia tentukan sendiri dia dirumuskan sebagai berikut: (1) dapat berkomunikasi, dan (2) dapat mencari data atau informasi melalui Internet. Untuk mencapai tujuan tersebut, dia pergi ke toko, kemudian memilih serta membeli buku-buku yang berkaitan dengan penggunaan Internet. Buku-buku tersebut dipelajarinya dengan caranya sendiri sambil mempraktekkannya di komputer. Bila menjumpai bagian-bagian yang tidak dapat dimengerti, dia bertanya kepada orang yang diduga mengetahui dan mau membantunya. Dalam setiap langkah belajarnya, dia menilai sendiri apakah kemampuan yang diperolehnya telah cukup untuk mempelajari langkah berikutnya. Setelah beberapa minggu ia belajar, akhirnya dia dapat berkomunikasi dan mencari data melalui Internet. Dia menilai sendiri apakah kemampuan yang diperolehnya sudah sesuai dengan yang diinginkannya. Jadi, orang yang menggunakan program Belajar Sendiri (Self Study) ini bersikap mandiri dalam menentukan tujuan, mandiri dalam menentukan bahan dan cara belajar, dan mandiri dalam mengevaluasi hasil belajarnya. (M-M-M). Mandiri dalam tiga hal. b. Di Universitas London ada program pembelajaran yang disebut External Degree Program.. Mahasiswa peserta program ini tidak harus mengikuti kuliah di kampus setiap hari seperti mahasiswa/peserta didik reguler. Pada awal semester, mahasiswa bersama dosen menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Mahasiswa ikut mengambil bagian dalam menentukan tujuan pembelajaran itu. Kemudian dosen dan mahasiswa menentukan bersama mengenai buku-buku atau bahan belajar lain yang harus dipelajari untuk mencapai tujuan itu. Mahasiswa juga diberi kebebasan dalam menentukan tempat, waktu, cara, dan kecepatan belajarnya. Pada akhir semester mahasiswa harus menempuh ujian seperti mahasiswa lainnya. Soal ujian, cara ujian dilaksanakan, dan kriteria keberhasilannya semuanya yang menentukan dosen. Jadi mahasiswa mempunyai kemandirian dalam hal menenutukan tujuan, mandiri dalam memilih bahan belajar dan cara belajar, tetapi tidak mandiri dalam menentukan cara evaluasinya. ( M-M-T). Mandiri dalam dua hal. c. Orang yang mempelajari keterampilan di bidang olahraga. Orang ini mempunyai kebebasan atau kemandirian dalam menentukan tujuan. Dia bebas menentukan keterampilan apa yang ingin dia pelajari, misalnya kemampuan bermain tenis. Tetapi dia tidak bebas dalam menentukan cara mempelajarinya dan alat apakah yang harus digunakannya. Misalnya dalam belajar melakukan serve dia harus mengikuti caracara tertentu, dan alat yang dipakai tentu saja bola dan raket. Dalam belajar memukul bola servis itu dia harus mengikuti cara yang diberikan pelatihnya atau mengikuti prosedur seperti yang dibacanya dari buku. Dalam menentukan keberhasilan belajarnya, dia boleh ikut menentukan kriterianya. Kalau dia sudah puas dengan keterampilan yang diperolehnya dia dapat menghentikan latihannya. Jadi tingkat kemandirian yang dimilikinya ialah dalam menentukan keterampilan yang dipelajarinya, dan dalam menentukan tingkat keberhasilannya. Tetapi dia tidak mandiri dalam menentukan alat dan prosedur latihannya (M-T-M). Mandiri dalam dua hal. d. Kursus dan evaluasi yang dikontrol siswa/peserta didik (Learner controls course and evaluation). Jalannya kursus ini dan cara evaluasinya di kontrol sendiri oleh siswa/peserta didik. Dari nama programnya jelas bahwa siswa/peserta didik dalam kursus ini mempunyai kemandirian dalam memilih cara belajar dan menilai kemajuan belajarnya. Namun siswa/peserta didik tidak mempunyai

kemandirian dalam menetukan tujuan pembelajarannya (T-M-M). Mandiri dalam dua hal. Sebagai contoh dapat diberikan ilustrasi sebagai berikut. Di negara yang telah maju banyak orang yang mengambil kursus tertentu hanya karena ingin menambah pengetahuan, untuk menyalurkan hobby, untuk pengisi waktu luang, dan sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhan mereka, ada penyelenggara kursus yang menawarkan paket-paket pelatihan atau paket kursus tertentu, seperti mengarang bunga, membuat perkakas dari tanah liat, merenda, dan sebagainya. Tujuan pembelajaran untuk masing-masing kursus telah dirumuskan secara jelas oleh penyelenggara kursus. Peserta yang memilih suatu kursus tertentu harus mengikuti tujuan yang telah ditentukan itu. Namun karena kursus ini diselenggarakan secara individual maka peserta dapat menentukan cara belajar sendiri. Apakah dia ingin datang setiap hari untuk belajar dari instruktur, atau belajar sendiri dengan menggunakan buku-buku yang disediakan oleh penyelenggara, atau belajar sendiri tetapi sewaktu-waktu akan datang ke tempat kursus untuk bertanya atau berdiskusi derngan intsruktur mengenai hal-hal yang kurang dipahaminya atau datang ke tempat kursus untuk melakukan praktek dengan peralatan yang ada di tempat kursus. Karena peserta mengikuti kursus hanya untuk menambah pengetahuan, menyalurkan hobby, atau mengisi waktu, dia sendirilah yang menentukan cara dan kriteria evaluasinya. Kalau dia telah puas dengan tingkat kemampuan yang telah dimilikinya dia akan berhenti kursus. e. Belajar mengendarai mobil. Orang yang belajar mengendarai mobil dapat ikut menentukan tujuan yang ingin dicapai. Tetapi tidak mempunyai kemandirian dalam menentukan cara belajarnya. Dia juga tidak dapat ikut menentukan kriteria keberhasilannya. Supaya dapat surat izin mengemudi dia harus mencapai tingkat kemahiran tertentu yang ditentukan oleh penguji. Jadi dia mempunyai kemandirian dalam menentukan tujuan, tetapi tidak mempunyai kemandirian dalam menentukan cara belajar dan kriteria keberhasilannya (M-T-T). Mandiri dalam satu hal saja. f. Evaluasi yang dikontrol siswa/peserta didik (Learner controls evaluation). Program pembelajaran ini memberi keleluasaan kepada siswa/peserta didik untuk menilai kemajuan belajarnya sendiri, tetapi tidak mandiri dalam menentukan tujuan. Kalau kita cermati benar pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga Pemerintah di Indonesia, sebagian besar mirip dengan program Learner Controls Evaluation. Tujuan pelatihan, bahan dan cara belajar dalam pelatihan itu ditentukan oleh Panitia. Tetapi peserta diminta menilai kemajuan belajarnya sendiri. Dalam pelatihan itu tidak ada evaluasi formal yang diselenggarakan oleh Panitia. Semua peserta yang mengikuti pelatihan dari awal sampai akhir dinyatakan telah mengikuti pelatihan dengan baik. Jadi di sini siswa/peserta didik mandiri dalam satu hal, yaitu dalam menentukan cara evaluasi (T-T-M). g. Kuliah mandiri (Independent Courses). Banyak kuliah-kuliah di universitas luar negeri yang disebut Independent Course atau Independent Study. Dalam kuliah ini mahasiswa tidak mandiri dalam menentukan tujuan dan cara evaluasinya. Kemandirian yang diperoleh mahasiswa hanya dalam menentukan bahan dan cara belajarnya saja (T-M-T). Mandiri dalam satu hal saja. h. Belajar bebas untuk mendapatkan kredit (Independent study for credit). Dalam program pembelajaran yang namanya Independent Study ini siswa/peserta didik tidak mempunyai kemandirian dalam menentukan tujuan, dalam menentukan cara dan media belajar, serta dalam menentukan cara evaluasinya. (T-T-T). Derajat tingkat kemandirian siswa/peserta didik dalam program pembelajaran tersebut dapat dilihat dalam Tabel 1. Dari Tabel 1 dapat disimpulkan bahwa dalam praktek ada 4 golongan program pembelajaran yang tingkat kemandirian siswa/peserta didiknya dalam belajar berbeda-beda: a. Program pembelajaran yang siswa/peserta didiknya sangat mandiri dalam belajar (M-M-M = mandiri dalam tiga hal). b. Program pembelajaran yang tingkat kemandirian siswa/peserta didiknya dalam menentukan tujuan, cara belajar dan evaluasi belajarnya relatif besar. (M-M-T = dua M satu T = mempunyai kemandirian dalam dua hal).

c. Program pembelajaran yang tingkat kemandirian siswa/peserta didiknya dalam menentukan tujuan, cara belajar, dan evaluasi belajarnya relatif kecil (satu M dua T = hanya mandiri dalam satu hal). d. Program pembelajaran yang siswa/peserta didiknya tidak mandiri dalam belajar (T-T-T = tidak mandiri dalam menentukan tujuan, dalam menentukan strategi dan media belajar, dan dalam mengevaluasi hasil belajarnya). Tabel 1. Tipe Program Pembelajaran Mandiri Dilihat dari Tingkat Kemandiriannya Tingkat Kemandirian No. Tipe/Nama Program Pembelajaran Dalam merumuskan tujuan Dalam pelaksanaan belajar Dalam menentukan kriteria evaluasi

Program Belajar Sendiri (Private M M M Study) 2 External Degree Program di Universitas London M M T (University of London External Degree) 3 Belajar Keterampilan dalam bidang M T M olahraga (Learning Sports Skill) Siswa/peserta didik 4 Program Pembelajaran yang mandiri dalam Pelajaran dan menentukan tujuan, Evaluasinya dikontrol cara belajar, dan T M M Siswa/Peserta didik evaluasi (M) (Learner Controls Course and Guru/instruktur Evaluation) menentukan tujuan, cara belajar, dan 5 Belajar Mengendarai evaluasinya Mobil (Learning Car M T T Siswa/Peserta Didik Driving) Tidak Mandiri 6 Program Pembelajaran yang Evaluasinya Dikontrol T T M Siswa/Peserta Didik (Learner Controls Evaluation) 7 Kuliah Mandiri (Independent Study T M T Courses) 8 Belajar Bebas untuk Mendapatkan Kredit T T T (Independent Study for Credits) (Diadaptasi dari Types of Independent Study Programmes by Variable Learner Autonomy tulisan

Moore, dalam Desmond Keegan 1983, 1991) Dalam sistem Pendidikan Tinggi di Indonesia, kegiatan pembelajaran untuk setiap satuan kredit semester (sks) meliputi tiga kegiatan: (1) kegiatan belajar mengajar secara tatap muka, (2) kegiatan belajar terstruktur, dan (3) kegiatan belajar mandiri. Yang dimaksud dengan kegiatan belajar tatap muka kiranya sudah jelas, yaitu dosen mengajar di dalam kelas yang dihadiri oleh para mahasiswa. Kegiatan terstruktur ialah kegiatan belajar di luar kelas untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Belajar mandiri ialah kegiatan belajar yang ditentukan sendiri oleh mahasiswa dengan maksud untuk memperdalam dan memperluas wawasan berkaitan dengan isi kuliah yang diterima dalam kelas. Dalam sistem pembelajaran di universitas, baik di luar negeri maupun di Indonesia, ada suatu program pembelajaran yang betul-betul menuntut kemandirian mahasiswa, yaitu program pembelajaran dalam melakukan penelitian untuk penulisan skripsi, tesis, atau disertasi. Seorang mahasiswa yang akan melakukan penelitian untuk penulisan disertasi misalnya, diberi kebebasan dan bahkan dituntut untuk memilih atau menentukan sendiri permasalahan yang akan diteliti, tujuan penelitiannya, serta metodologi penelitiannya (termasuk di dalamnya pemilihan populasi, sampel, instrumen, cara pengumpulan data, cara menganalisis data, dan cara menyusun laporannya). Bahkan dalam batas-batas tertentu mahasiswa juga diberi sedikit kebebasan dalam memilih promotor atau pembimbing, serta pengujinya. Belajar Mandiri Dalam Sistem Pendidikan/Pelatihan Terbuka/Jarak Jauh Wedemeyer (1983) mempunyai gagasan bahwa untuk mengatasi persoalan jarak dalam sistem pendidikan/pelatihan terbuka jarak jauh (PPTJJ) perlu diciptakan sistem pembelajaran yang memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut: siswa/peserta didik belajar terpisah dari guru/instruktur; isi pelajaran disampaikan melalui tulisan atau media lainnya; pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan individual dan proses belajar terjadi melalui kegiatan siswa/peserta didik; belajar dapat dilakukan ditempat yang dianggap sesuai untuk siswa/peserta didik dilingkungannya sendiri; dan siswa/peserta didik bertanggung jawab atas kemajuan belajarnya, dan mempunyai kebebasan dalam menentukan kapan akan mulai dan akan berhenti belajar, serta kebebasan dalam menentukan kecepatan belajarnya. Karena terpisahnya atau karena adanya jarak antara guru/instruktur dari siswa/pesertanya, siswa/peserta didik dituntut untuk belajar secara mandiri. Namun karena tidak semua siswa/peserta didik dapat belajar secara mandiri benar, perlu adanya komunikasi antara siswa/peserta didik dengan guru/instruktur. Hubungan antara jarak dan kemandirian ini digambarkan dengan baik oleh Moore (1983) dalam teorinya yang disebut Jarak Transaksi dan Kemandirian Siswa/peserta didik (Transactional Distance and Learner Autonomy) Jarak Transaksi Menurut Moore (1983), jarak dalam sistem PPTJJ itu jangan dilihat berdasarkan jarak geogras atau jarak sik yang ada antara guru/instruktur dan siswa/peserta didik. Pendidikan terbuka/jarak jauh merupakan konsep pendidikan dimana hubungan antara guru/instruktur dan siswa/peserta didik tergantung pada tiga hal, yaitu: (1) interaksi antara guru/instruktur dan siswa/peserta didik (dialog); (2) struktur program pembelajarannya (struktur), dan (3) sifat atau tingkat kemandirian siswa/peserta didik (otonomi) Dewey seperti yang dikutip oleh Moore (1983) mengutarakan pendapatnya tentang transaksi pendidikan. Menurutnya, transaksi pendidikan itu merupakan interaksi antara lingkungan, individu, dan perilaku yang terjadi dalam situasi tertentu. Transaksi pendidikan dalam PJJ itu terjadi antara guru/instruktur dan siswa/peserta didik dalam situasi khusus, yaitu terpisahnya siswa/peserta didik dari guru/instruktur.

Keterpisahan atau jarak itu menimbulkan adanya pola perilaku guru/instruktur dan siswa/peserta didik yang berbeda dengan pola perilaku dalam lingkungan pendidikan konvensional. Karena ketrepisahan itu ada jarak kejiwaan dan jarak komunikasi yang harus dijembatani. Jarak ini dapat menimbulkan perbedaan penafsiran antara isi pelajaran yang disampaikan oleh guru/instruktur dan pengertian yang ditangkap oleh siswa/peserta didik. Jarak kejiwaan dan jarak komunikasi inilah yang oleh Moore (1983) disebut jarak transaksi. Sampai seberapa jauh jarak kejiwaan dan jarak komunikasi (jarak transaksi) yang ada dalam program PPTJJ itu dapat dijembatani sangat tergantung pada fungsi-fungsi dialog dan struktur pembelajarannya. Sesemakin mudah komunikasi antara guru/instruktur dan siswa/peserta didik, sesemakin dekat jarak transaksi itu dan sesemakin kurang tingkat kemandirian yang dituntut dari cara belajar siswa/peserta didiknya. Begitu pula, sesemakin tidak terstruktur program pembelajarannya, sesemakin besar kemungkinan dilakukannya dialog antara guru/instruktur dan siswa/peserta didik, semakin kurang juga tingkat kemandirian cara belajar siswa/peserta didik. Dialog Pembelajaran Dialog pembelajaran dikembangkan oleh guru/instruktur dan siswa/peserta didik dalam suatu interaksi yang terjadi pada saat guru/instruktur mengajar dan siswa/peserta didik menanggapinya. Dialog itu dapat menghasilkan nilai plus, yaitu kesamaan persepsi, kesamaan pendapat, atau terpecahkannya masalah yang dihadapi sebagai hasil diskusi. Terjadi tidaknya dialog dalam proses pembelajaran dalam sistem PPTJJ sangat tergantung pada orang yang merancang pembelajarannya, pribadi guru/instruktur dan siswa/peserta didiknya, isi pelajaran, serta faktor lingkungannya. Faktor lingkungan yang sangat penting yang mendukung terjadinya dialog dalam sistem PPTJJ ialah media pembelajaran yang digunakan. Kalau media yang digunakan itu buku teks, program TV, dan program radio, kemungkinan terjadinya dialog lebih kecil dari pada kalau media yang digunakan adalah pembicaraan jarak jauh melalui misalnya, media konferensi audio atau video (audio dan video conference) dan Internet. Struktur Program Faktor kedua yang menentukan terjadinya transaksi pendidikan dalam PPTJJ ialah rancangan pembelajarannya (course design) atau cara-cara program pembelajaran itu disusun (structured) sehingga dapat disampaikan melalui berbagai jenis media komunikasi. Program pembelajaran itu disusun dengan cara yang berbeda-beda karena penyusun harus mempertimbangkan cara-cara memproduksinya, memperbanyaknya, menyajikannya, dan mengontrol penggunaannya. Susunan atau struktur pembelajaran itu menyatakan ada tidaknya keluwesan dalam menentukan tujuan, strategi dan evaluasi pembelajarannya. Struktur program ini juga menentukan sejauh mana program pembelajaran itu dapat mengakomodasikan atau memperhatikan kebutuhan belajar siswa/peserta didik secara individual. Seperti halnya dengan dialog, tingkat keluwesan struktur pembelajaran itu juga ditentukan oleh jenis media komunikasi yang digunakan, sifat kepribadian guru/instruktur dan siswa/peserta didiknya, dan keterbatasan-keterbatasan yang dialami oleh lembaga penyelenggaranya. Berkenaan dengan media yang digunakan, program TV misalnya, sangat terstruktur. Program pembelajaran melalui TV tidak memberi kesempatan bedialog. Tujuan pembelajaran, isi pelajaran, maupun waktu menyampaikan pelajaran semuanya ditentukan oleh guru/instruktur yang menyiapkan program TV tersebut. Program pembelajaran semacam ini kurang atau tidak dapat memberikan perhatian pada kebutuhan belajar masing-masing individu siswa/peserta didik. Program pembelajaran melalui video conference atau audio conference lebih luwes dan kurang terstruktur. Program ini dapat menanggapi pertanyaan dan pendapat siswa/peserta didik secara individual. Dalam program pembelajaran yang strukturnya luwes dan dirancang supaya memungkinkan adanya interaksi secara individual, siswa/peserta didik dapat memperoleh bimbingan dan petunjuk belajar melalui dialog dengan guru/instruktur. Dialog-struktur-kemandirian

Dari uraian pada butir a dan b di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Program pembelajaran yang jarak transaksinya jauh atau tidak memberi peluang adanya komunikasi, interaksi, atau dialog antara guru/instruktur dan siswa/peserta didiknya (misalnya program pembelajaran melalui TV), tidak memberi kemandirian dalam menentukan tujuan dan isi pelajaran. Semuanya telah ditentukan oleh guru/instruktur. Namun program pembelajaran seperti itu menuntut kemandirian siswa yang tinggi dalam cara belajarnya. Siswa dituntut untuk berinisiatif sendiri apakah dia akan mencatat bagian-bagian yang penting supaya tidak mudah terlupakan, atau apakah juga akan mencatat bagianbagian yang tidak dipahami. Bahkan, dia harus mengambil keputusan sendiri apakah dia akan meneruskan belajarnya atau tidak. Dia juga harus berinisiatif sendiri apakah dia akan menanyakan bagian yang tidak diketahuinya itu kepada orang yang dianggap mengetahuinya. Dengan perkataan lain, dia harus membuat pertimbangan dan mengambil keputusan sendiri mengenai strategi, cara, atau metode belajar yang akan digunakan untuk memahami isi pelajaran dalam program pembelajaran tersebut. Resiko dari cara belajar seperti ini ialah bahwa ada kemungkinan terjadinya perbedaan persepsi dan interpretasi mengenai konsep yang disampaikan guru/instruktur dan konsep yang diterima oleh siswa/peserta didik. Sebaliknya, program pembelajaran yang jarak transaksinya kecil (misal belajar melalui Internet atau belajar melalui audio atau video conference) yang memberi peluang besar untuk terjadinya komunikasi, interaksi, atau dialog antara guru/instruktur dan siswa/peserta didiknya, memberi peluang kepada siswa/peserta didik untuk ikut menentukan tujuan dan isi pelajarannya. Siswa/peserta didik dapat bersikap mandiri dalam menentukan tujuan dan isi pelajaran. Namun tuntutan kemandirian siswa dalam cara belajarnya cenderung menjadi relatif kecil atau kurang. Siswa/peserta didik dapat memperoleh tuntunan belajar dari guru/instruktur melalui dialog. Karena itu seringkali terjadi siswa/peserta didik akan lebih mengandalkan penjelasan atau jawaban dari guru/instruktur dan kurang berusaha mengatasi permasalahan sendiri. Siswa/peserta didik cenderung untuk tidak berusaha secara maksimal dalam memahami sendiri isi pelajaran. 2. Pada program pembelajaran yang terstruktur (misalnya buku teks, program TV, program radio), program pembelajarannya sudah tersusun secara pasti dan tidak ada keluwesan untuk diubah-ubah sesuai dengan kebutuhan individu siswa. Dalam hal ini siswa/peserta didik tidak dapat ikut menentukan tujuan dan isi pelajarannya. Jadi, ditinjau dari batasan Moore (1983), dalam program yang terstruktur, siswa tidak mandiri atau otonom dalam menentukan tujuan dan isi pelajaran. Sebaliknya dalam program pembelajaran yang kurang terstruktur (misal sekolah korespondensi, belajar melalui Internet), siswa/peserta didik dapat mengajukan pertanyaan, meminta tambahan penjelasan, meminta tambahan informasi yang diperlukan mengenai topik tertentu, dan sebagainya. Jadi, dalam program pembelajaran yang kurang terstruktur seperti itu programnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa secara individual. Dalam program pembelajaran seperti ini siswa mempunyai kemadirian atau otonomi dalam menentukan tujuan dan isi pelajaran. Kemandirian Siswa/Peserta Didik dan Keberhasilan Belajar Tingkat kemandirian siswa/peserta didik berkaitan erat dengan pemilihan program: (1) apakah memilih program yang kesempatannya untuk berdialog tinggi dan kurang terstruktur, atau (2) program yang kurang memberikan kesempatan berdialog dan sangat terstruktur. Menurut Moore (dalam Keegan, 1991), ada siswa/peserta didik yang lebih senang atau lebih berhasil dalam belajar bila program pembelajarannya memberikan peluang untuk banyak dialog dan tidak terlalu terstruktur. Tetapi, ada siswa/peserta didik yang lebih menyukai atau lebih berhasil belajarnya bila programnya tidak memerlukan banyak dialog dan sangat terstruktur. Banyak siswa/peserta didik yang menggunakan bahan belajar untuk mencapai tujuannya dengan caranya sendiri di bawah kontrol sendiri. Proses belajar seperti itu menunjukkan kemandirian belajar siswa. Dalam batasannya, Moore (dalam Keegan, 1991) mengatakan bahwa: Kemandirian belajar siswa/peserta didik adalah sejauh mana dalam proses pembelajaran itu siswa dapat ikut menentukan tujuan, bahan dan pengalaman belajar, serta evaluasi pembelajarannya.

Namun demikian, Moore tidak menentukan mana yang lebih baik: PPTJJ yang memberikan banyak kesempatan untuk berdialog dan programnya kurang terstruktur (yang memberi peluang kepada siswa untuk mandiri) atau yang kurang memberikan kesempatan berdialog dan programnya sangat terstruktur (yang kurang memberi kesempatan untuk mandiri). Hal tersebut sangat tergantung pada tingkat kemandirian yang telah dimiliki siswa/peserta didiknya. 1. Siswa/peserta didik yang sudah sangat mandiri mempunyai karakteristik sebagai berikut:

a. Sudah mengetahui dengan pasti apa yang ingin dia capai dalam kegiatan belajarnya. Karena itu dia ingin ikut menentukan tujuan pembelajarannya. Dia tidak senang mempelajari sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Karena itu dia tidak menyukai program pembelajaran yang sangat terstruktur yang tidak dapat menampung keinginan atau kebutuhan belajarnya. b. Sudah dapat memilih sumber belajar sendiri dan mengetahui kemana dia dapat menemukan bahanbahan belajar yang diinginkan. Dia juga mempunyai keyakinan bahwa dia dapat menafsirkan isi pelajaran dengan betul sesuai yang dimaksud oleh penyusun bahan belajar. Karena itu dia merasa tidak perlu banyak berdialog dengan guru/instruktur. Kalau menemui kesulitan belajar dia juga sudah tahu kemana dia dapat mencari nara sumber yang dapat dimintai bantuan untuk ikut memecahkan kesulitan belajarnya. Karena itu dia tidak memerlukan program pembelajaran dengan komunikasi antara guru/instruktur dan siswa/peserta didik yang terjadwal dengan ketat. Dia tidak begitu menyukai program pembelajaran yang mewajibkannya untuk selalu berkomunikasi atau berkonsultasi secara rutin dengan guru/instruktur. Lebihlebih kalau dia tidak mempunyai waktu untuk selalu berkonsultasi atau menghadiri pertemuan tatap muka dengan guru/instruktur. Dia hanya akan berkonsultasi bila dia sendiri tidak dapat memecahkan kesulitan yang dihadapinya dan merasa perlu meminta bantuan orang lain. c. Sudah dapat menilai tingkat kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaannya atau untuk memecahkan permasalahan yang dijumpainya dalam kehidupannya. Karena itu dia ingin menilai sendiri atau ingin ikut menentukan kriteria keberhasilan belajarnya. Siswa yang sudah sangat mandiri akan lebih berhasil bila program pembelajarannya tidak terlalu terstruktur, tidak mewajibkan berkonsultasi secara rutin dan terjadwal, dan boleh mengevaluasi kemajuan belajarnya sendiri. Orang seperti ini biasanya mempunyai motivasi dan disiplin belajar yang tinggi karena yang dipelajari sesuai dengan kebutuhannya. 2. Siswa yang kurang mandiri biasanya belum mempunyai tingkat kemandirian seperti pada butir 1) di atas. Karena itu, dia mempunyai pilihan program pembelajaran yang berbeda dengan siswa yang telah lebih mandiri. Siswa seperti itu: . Lebih menyukai program pembelajaran yang sudah terstruktur. Dia lebih suka mengikuti program pembelajaran yang tujuannya sudah dirumuskan dengan jelas. a. Lebih suka mengikuti program pembelajaran yang bahan belajarnya telah ditentukan dengan jelas, cara belajarnya juga telah ditentukan dengan jelas. Dia juga lebih suka kalau dalam program pembelajaran itu ada program komunikasi antara guru/instruktur dan siswa/peserta didik yang telah diatur dengan jelas dan terjadwal. Untuk siswa/peserta didik seperti ini komunikasi antara guru/instruktur dengan siswa/peserta didik akan digunakan untuk mendengarkan penjelasan dan arahan dari guru/instruktur dan untuk menanyakan bagian-bagian pelajaran yang dirasakannya sulit. Dia mempunyai rasa khawatir kalau-kalau penafsirannya mengenai isi pelajaran kurang tepat. Karena itu penjelasan dari guru/instruktur dirasa sangat perlu. Sebagian dari orang-orang seperti ini cenderung untuk tidak berusaha sendiri dahulu, sebelum meminta bantuan orang lain. b. Belum dapat menilai kemampuannya sendiri. Karena itu lebih menyukai program pembelajaran yang telah mempunyai kriteria keberhasilan yang jelas. Dengan demikian dia dapat mengarahkan kegiatan belajarnya untuk memenuhi kriteria tersebut. Penerapan Konsep Belajar Mandiri Dalam Sistem Pendidikan Terbuka

Seperti dalam program pembelajaran pada umumnya, teori belajar mandiri dari Wedemeyer, Moore, dan Keegan (1983) hampir tidak pernah diterapkan sepenuhnya dalam sistem PPTJJ. Jarang sekali sistem PPTJJ yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk ikut menentukan tujuan, memilih sumber dan cara belajar, dan menentukan cara dan kriteria evaluasi. Program PPTJJ yang dapat menerapkan prinsip belajar mandiri yang lebih besar pada umumnya adalah program pendidikan luar sekolah (out of school education) atau pendidikan orang dewasa (adult education). Program PPTJJ yang bersifat formal pada umumnya hanya menuntut kemandirian siswa dalam memilih bahan (media) dan cara belajarnya. Belajar Mandiri Pada Out-of-school dan Adult Education Di negara maju, banyak orang yang ingin mempelajari sesuatu yang berkaitan dengan hobi atau untuk menambah pengetahuan atau keterampilan di bidang tertentu. Mereka mengambil kursus atau pendidikan tertentu untuk memenuhi keinginannya itu. Misalnya kursus merangkai bunga, kursus membuat pot, kursus menata rumah (interior design), kursus komputer, kursus membuat perabotan rumah, dan kursus mengelas. Orang-orang seperti itu sama sekali tidak memerlukan pengakuan formal mengenai tambahnya pengetahuan atau keterampilan yang diperolehnya dari kursus atau pendidikan yang diikutinya. Pada awal kursus atau pendidikan mereka mendaftarkan diri pada lembaga penyelenggara kursus tertentu, berdiskusi mengenai kemampuan yang ingin dimiliki (tujuan pembelajaran yang ingin dicapai). Pada akhir pembicaraan, biasanya calon peserta kursus ditawari paket-paket kursus tertentu yang sesuai dengan keinginan calon tersebut. Setiap paket yang ditawarkan biasanya telah mempunyai tujuan pembelajaran yang jelas. Setelah menentukan paket kursus yang akan diikuti, peserta kursus boleh memilih bahan dan cara belajar yang sesuai, dan menentukan kriteria keberhasilan belajarnya. Setelah itu mereka mempelajari bahan belajar yang telah disepakati secara mandiri. Mereka akan berkonsultasi (berkomunikasi/berdialog) dengan guru/instruktur sewaktu-waktu mereka merasa perlu bantuan dari guru/instrukturnya. Sesuai dengan kesepakatan, sewaktu-waktu akan diadakan evaluasi untuk mengetahui kemajuan yang telah dicapai. Evaluasi dilakukan dengan cara yang mereka sepakati. Independent Study di Universitas Luar Negeri Di universitas luar negeri seringkali ada mata kuliah tertentu yang dapat diambil dengan belajar secara bebas atau belajar mandiri (independent study). Mahasiswa yang ingin mengambil mata kuliah ini harus menghubungi dosen pengajarnya. Kalau dosen bersangkutan mengijinkannya, pada awal semester mahasiswa dan dosen mengadakan pembicaraan untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai, bahan belajar yang harus dipelajari, cara belajarnya, dan cara mengevaluasi hasil belajar dan kriteria keberhasilannya. Sungguhpun mahasiswa ikut menentukan tujuan, sumber dan cara belajar, serta cara mengevaluasinya, pendapat dosen biasanya lebih menentukan. Hal ini dilakukan karena dosen harus menjaga standar mutu seperti yang dituntut oleh fakultas atau universitasnya. Lain dari pada itu dia juga harus menjaga kesamaan mutu pelajaran yang diberikan melalui kuliah tatap muka dan belajar secara mandiri. Belajar Mandiri di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Terbuka SLTP Terbuka adalah SLTP yang kurikulumnya sama dengan kurikulum SLTP Reguler tetapi cara belajarnya menggunakan pendekatan sekolah terbuka atau jarak jauh. Siswa SLTP Terbuka tidak diwajibkan datang ke sekolah untuk mengikuti pelajaran dari guru setiap hari. Tetapi mereka wajib datang ke Tempat Kegiatan Belajar (TKB) setiap hari untuk mempelajari bahan belajar cetakan yang disebut modul secara mandiri. Di mana letak kemandirian siswa SLTP Terbuka dalam belajar? 1. Apakah siswa diberi kesempatan untuk ikut menentukan tujuan pembelajarannya?

Tujuan pembelajaran setiap modul telah dirumuskan berdasarkan kurikulum yang berlaku oleh guru yang menulisnya. Jadi dalam hal ini siswa tidak diberi kesempatan ikut menentukannya. Namun demikian siswa diberi kebebasan untuk menentukan tujuan belajar yang ingin dicapai untuk setiap harinya. Jenis modul yang perlu dipelajari (misalnya modul matematika, sika, atau bahasa Indonesia) sudah ditentukan

dalam jadwal belajar. Namun siswa bebas menentukan modul nomor berapa yang akan dipelajarinya. Siswa juga bebas menentukan target belajar yang akan dicapai pada hari tertentu. Dia bebas untuk menentukan apakah pada hari itu dia akan mempelajari satu Kegiatan Belajar, dua Kegiatan Belajar, tiga Kegiatan Belajar atau seluruh modul (Catatan: Setiap modul itu dibagi dalam beberapa Bab, Penggalan, atau Kegiatan Belajar). Setiap Kegiatan Belajar membahas isi pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran khusus (TPK) tertentu. Dengan demikian kecuali mempunyai kebebasan dalam memilih dan menentukan jumlah tujuan yang akan dipelajari, siswa juga diberi kebebasan dalam menentukan kecepatan belajarnya sendiri. 2. Apakah siswa diberi kebebasan dalam memilih bahan belajar dan cara belajar sendiri?

Media utama yang dipakai di SLTP Terbuka memang telah ditentukan oleh Departemen Dikbud, yaitu modul. Sedangkan sebagai media penunjang telah ditentukan media radio, media kaset suara, dan media slide suara (lm bingkai suara). Jadi siswa tidak dapat menentukan sendiri bahan belajar yang dipakai. Dimana letak kemandirian siswa dalam belajar? Seperti yang telah disebut pada bagian sebelumnya, siswa diberi kebebasan dalam memilih nomor modul yang akan dipelajarinya. Kecuali itu siswa juga bebas dalam menentukan cara mempelajari modul itu. Siswa dapat mempelajari sendiri Kegiatan demi Kegiatan termasuk mengerjakan latihan/tugasnya. Siswa dapat juga mempelajari sendiri Kegiatannya, tetapi sebelum mengerjakan latihan/tugas dia dapat mendiskusikan isi Kegiatan Belajar itu dengan temannya, baru kemudian mengerjakan soal latihan atau tugas yang telah disediakan. Siswa juga diberi kebebasan untuk memilih media penunjang yang akan digunakan. Apakah akan mendengarkan program radio atau kaset suara, atau melihat program slide suara. Siswa juga bebas menentukan kepada siapa dia harus membicarakan kesulitan belajar yang dihadapi. Apakah dia akan menunggu seminggu dan mendiskusikan kesulitan yang dihadapi dengan Guru Bina saat pelajaran tatap muka? (Catatan: Guru Bina adalah guru SLTP yang ditugasi untuk mengajar siswa SLTP Terbuka sekali dalam seminggu dalam pelajaran tatap muka). Atau dia lebih suka membicarakan kesulitan itu dengan teman sebayanya. Kalau teman sebaya dapat ikut membantu memecahkan kesulitannya, permasalahan itu akan lebih cepat diatasi. Di lokasi SLTP Terbuka yang sudah dilengkapi dengan program radio interaktif, siswa dapat berkonsultasi setiap saat dengan Guru Bina yang ada di Sekolah Induk melalui radio komunikasi (Catatan: Setiap SLTP Terbuka mempunyai SLTP Induk. Siswa terdaftar sebagai siswa di SLTP Induk. Tetapi mereka tidak harus belajar di SLTP Induk setiap hari. Guru SLTP Induk yang ditugasi ikut membina proses pembelajaran siswa SLTP Terbuka disebut Guru Bina). 3. Apakah siswa diberi kesempatan untuk ikut menentukan cara evaluasi yang digunakan untuk menilai kemajuan belajarnya? Pada sistem SLTP Terbuka ada beberapa jenis evaluasi, yaitu evaluasi mandiri, evaluasi akhir modul, evaluasi akhir unit, dan evaluasi belajar tahap akhir (EBTA). Evaluasi mandiri berupa pertanyaan latihan atau tugas yang disediakan pada akhir setiap Kegiatan Belajar dalam modul. Tes mandiri ini perlu dikerjakan siswa untuk mengetahui kemajuan belajarnya sendiri. Setelah selesai mengerjakan latihan ini siswa dapat mencocokkan jawabannya dengan kunci jawaban yang disediakan di bagian belakang modul. Dengan demikian siswa dapat menilai kemajuan belajarnya sendiri. Siswa juga diberi kebebasan kapan akan mengerjakan evaluasi mandiri ini. Evaluasi akhir modul adalah evaluasi yang diberikan setelah siswa selesai mempelajari sebuah modul sampai tuntas. Siswa diberi kebebasan kapan dia akan menempuh evaluasi akhir modul ini. Setiap saat setelah siswa merasa siap dia boleh meminta soal tes kepada Guru Pamong dan mengerjakan evaluasi ini. (Catatan: Guru Pamong adalah guru, fasilitator atau tutor yang bertugas memonitor dan memotivasi siswa yang belajar di TKB). Kunci jawaban soal dipegang oleh Guru Pamong. Pekerjaan yang telah selesai, dinilai oleh Guru Pamong dengan mencocokkan jawaban siswa dengan kunci jawabannya. Kunci jawaban tersebut disusun oleh penulis modul. Tes akhir unit diberikan setelah siswa menyelesaikan beberapa modul yang merupakan satu unit pelajaran.

Evaluasi belajar tahap akhir diberikan pada akhir cawu atau semester. Dalam menentukan evaluasi akhir unit dan evaluasi hasil belajar tahap akhir, siswa tidak diikut sertakan. Semuanya diatur oleh guru atau lembaga pengelola. Kemandirian Mahasiswa Universitas Terbuka Seperti layaknya siswa pendidikan terbuka/jarak jauh, mahasiswa Universitas Terbuka belajar terpisah dari dosennya. Karena itu mahasiswa Univeristas Terbuka dituntut untuk belajar secara mandiri. Di mana letak kemandirian belajar mahasiswa Universitas Terbuka? 1. Pendidikan di Universitas Terbuka diselenggarakan berdasarkan kurikulum tertentu. Tujuan kurikuler, tujuan pembelajaran umum, dan tujuan pembelajaran khususnya sudah disusun berdasarkan kurikulum tersebut. Bahan belajar yang digunakan semuanya juga disusun berdasarkan kurikulum itu. Jadi dalam hal penyusunan tujuan, mahasiswa Universitas Terbuka tidak diberi peluang untuk ikut menentukannya. 2. Pendidikan di Universitas Terbuka diarahkan untuk mendapatkan gelar S1 atau merupakan pendidikan profesi non-gelar berupa program sertikat, D1, D2, dan D3. Ijazah yang diberikan kepada para siswa yang telah menyelesaikan program pendidikan tertentu harus memenuhi standar mutu tertentu. Oleh karena itu sistem evaluasi dan kriteria kelulusan mahasiswa semuanya telah ditentukan oleh universitas. Dalam hal ini mahasiswa tidak diberi peluang untuk ikut menentukannya. 3. Kemandirian yang diberikan kepada mahasiswa Universitas Terbuka adalah dalam cara belajarnya. Dalam hal ini mereka mendapat kebebasan dalam: memilih tempat dan waktu belajar; menentukan kecepatan belajar; menentukan apakah akan ikut atau tidak ikut ujian pada masa ujian yang telah ditentukan; menentukan apakah pada semester tertentu akan aktif atau tidak aktif; menentukan berapa mata kuliah yang akan diambil untuk semester tertentu; dan menentukan apakah akan mengikuti kegiatan tutorial (baik secara tatap muka ataupun non tatap muka atau tidak). Bahan Belajar Mandiri Sesuai dengan pengertian belajar mandiri, bahan belajar mandiri adalah bahan belajar yang disusun sedemikian rupa sehingga relatif mudah dipelajari siswa/peserta didik tanpa bantuan dari orang lain. Karena itu, siswa yang belajar menggunakan bahan belajar jenis ini diharapkan dapat belajar secara mandiri. Semua informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran telah tersedia di bahan belajar mandiri (self-contain atau self-explanatory). Dengan demikian siswa tidak perlu mencari informasi di lain tempat. Bahan belajar mandiri termasuk bahan belajar terstruktur. Karena itu, siswa/peserta didik tidak dapat berperanserta dalam menentukan tujuan dan isi pelajaran bahan belajar tersebut. Bahan belajar yang terstruktur pada dasarnya tidak dapat menampung atau menyesuaikan diri dengan aspirasi atau kebutuhan belajar siswa/peserta didik. Untuk mengurangi kelemahan ini dan supaya bahan belajar tersebut dapat berguna bagi siswa/peserta didik, penulis bahan belajar mandiri seyogyanya menjajagi kebutuhan belajar siswa/peserta didik yang menjadi sasaran bahan belajarnya (target audience-nya) Pada bagian terdahulu telah dibahas bahwa bila dalam proses pembelajaran antara guru/instruktur dan siswa/peserta didik tidak ada dialog atau komunikasi berarti jarak transaksinya jauh. Hal ini dapat menimbulkan perbedaan penafsiran mengenai konsep yang diajarkan. Artinya, siswa/peserta didik menafsirkan konsep yang diajarkan berbeda dengan makna yang dimaksudkan oleh guru/instruktur. Untuk mengurangi kelemahan ini, seyogyanya bahan belajar itu ditulis sedemikian rupa sehingga terjadi dialog atau interaksi antara bahan belajar itu dengan siswa. Ada beberapa cara untuk menciptakan interaksi

antara siswa/peserta didik dengan bahan belajarnya. Salah satu di antaranya dengan memberikan latihan/tugas yang harus dikerjakan siswa. Dengan mengerjakan tugas atau menjawab soal latihan siswa/peserta didik mencoba untuk mengungkapkan tafsiran mengenai isi pelajaran yang diajarkan. Dengan mencocokkan jawabannya dengan kunci jawaban yang disediakan siswa/peserta didik akan mengetahui dengan pasti apakah tafsirannya benar atau salah. Interaksi dan dialog ini juga dapat diciptakan dengan penggunaan bahasa yang komunikatif. Penutup Program belajar mandiri yang diterapkan secara penuh memberi kesempatan kepada siswa/peserta didik untuk ikut berperan dalam menentukan tujuan, memilih isi pelajaran dan cara mempelajarinya. Bahkan siswa/peserta didik juga diberi kesempatan untuk ikut menentukan cara dan kriteria evaluasinya. Namun dalam praktek tidak seluruh kemandirian itu diterapkan. Dalam belajar mandiri, siswa peserta didik harus berusaha untuk memahami isi pelajaran sendiri, mencari sumber informasi sendiri, serta memecahkan kesulitan sendiri. Dalam belajar, siswa/peserta didik harus lebih banyak berinisiatif untuk melakukan kegiatan belajar sendiri. Namun belajar mandiri tidak berarti belajar sendiri. Siswa/peserta didik boleh belajar bersama teman, berdiskusi dengan teman, guru, atau sumber belajar yang lain, bahkan siswa juga boleh bertanya kepada teman, guru, atau sumber belajar lain dalam memecahkan kesulitan yang dihadapinya. Dalam proses pendidikan, dialog antara siswa/peserta didik dengan guru/instruktur dapat memberikan nilai plus, yaitu dapat menghindarkan adanya salah penafsiran mengenai isi pelajaran yang diajarkan. Dalam sistem PPTJJ jarak bukan hanya berarti jarak sik tetapi juga jarak transaksi. Besar kecilnya jarak transaksi ditentukan oleh ada tidaknya dialog antara guru/instruktur dengan siswa/peserta didik. Hubungan antara guru/isntruktur dan siswa/peserta didik itu dalam PPTJJ dipengaruhi oleh: (1) dialog; (2) struktur program pembelajaran; dan (3) tingkat kemandirian siswa/peserta didik. Namun demikian, tidak dapat ditentukan apakah program PPTJJ yang memungkinkan adanya dialog dan menggunakan program tidak terstruktur lebih berhasil dibandingkan dengan yang kurang memberikan kesempatan berdialog dan menggunakan program pembelajaran yang terstruktur. Ada siswa/peserta didik yang lebih senang atau lebih berhasil mengikuti program PPTJJ yang memberikan kesempatan berdialog dan menggunakan program pembelajaran tidak terstruktur, sebaliknya ada pula yang lebih senang atau lebih berhasil mengikuti program PPTJJ yang kurang memberikan kesempatan berdialog dan menggunakan program terstruktur. Dalam kenyataan, jarang sekali program PPTJJ untuk pendidikan formal yang memberikan kemandirian kepada siswa/peserta didik secara penuh, yaitu dalam menentukan tujuan, sumber dan cara belajar, serta cara mengevaluasi hasil belajarnya. Sebagian besar porgram PPTJJ menuntut siswa/peserta didik besikap mandiri dalam kegiatan belajarnya saja. Penulisan skripsi, tesis, dan disertasi merupakan program pembelajaran mandiri yang dilakukan secara relatif penuh. Referensi Holmberg, B. (1989). Theory and practice of distance education. London: Rouledge. Kay, A. dan Rumble, G. (1981). Distance teaching for higher and adult education. London: Croom Helm. Keegan, D. (1993). Theoretical priciples of distance education. London & New York: Routledge. Keegan, D. (1986, 1991). The Foundation of distance education. London: Croom Helm. Keegan, D. (1983). Six distance education theorists. Cambridge: International Extension College. Lockwood, F. (Editor). (1995). Open and distance learning today. London: Rouledge.

Panen, P. & Sekarwinahyu. (1997). Belajar mandiri dalam mengajar di perguruan tinggi. Program Applied Approach. Bagian 2. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka. Parer, M. S. (Editor). (1989). Development, design and distance education. Victoria: Centre for Distance Learning Gippsland Institute. Perry, W. dan Greville. (1987). Rumble: A short guide to distance education. Cambride: International Extension Course sumber http://pk.ut.ac.id/ptjj/22anung.htm Related posts: 1. Ayo Belajar.. 2. Aksesibilitas dan Kendala Pemanfaatan Media Belajar di Indonesia

Post a Comment

Name (required) Mail (will not be published) (required) Website

Submit Comment

CAPTCHA Code

Kategori Tulisan
Belajar Aplikasi Ofce (9) Belajar Internet (8) Umum (10)

Terbaru

Link Blogger PAI Browsing menggunakan Google Bahasa HTML, apa tuh? Benarkah Internet Berguna? Apa itu Internet? E-book (buku elektronik) Situs Belajar Komputer Lembar Kerja Excel Menulis Skripsi Penulisan Skripsi menggunakan Ms Word Tip&trik Ms Word Tip&Trik Powerpoint Excel Menguasai Excel dengan cepat Tip & Trik MsExcel e-Learning

Arsip Tulisan
Desember 2011 (1) November 2011 (20)

Komentar Terakhir
Nur Luthn Nisa' pada Lembar Kerja Excel UMI MASRURO pada Tip&trik Ms Word UMI MASRURO pada Tip&trik Ms Word jayora pada Tip&Trik Powerpoint jayora pada Tip&trik Ms Word

Velocity by Free WordPress Themes | Powered by WordPress | Entries (RSS) | Comments (RSS)