Anda di halaman 1dari 6

Nama NIM

: Vidi Prasetyo Utomo : 0910710128

1. Gambaran infiltrat pada keratitis viral Infiltrat merupakan area fokal dari inflamasi stroma aktif yang terdiri dari akumulasi leukosit dan cellular debris. Tandanya fokal, kekeruhan abu-abu putih, biasanya pada stroma anterior dan berhubungan dengan limbal atau conjunctival hyperemia.
Sumber: Kanksi, Jack J. 2007. Clinical Ophthalmology: A systematic Approach. Philadelphia: Elsevier.

Pada Disciform keratitis (Herpes simpleks keratitis) bentuknya yaitu: Area berbentuk disc akibat edema kornea. Terdapat inflamasi stromal minimal dan tidak ada keterlibatan epitel. Endapan keratik fokal pada dasar edema merupakan ciri diagnostik tapi mungkin sulit untuk diamati. Hal lain yang membedakan adalah demarkasi yang tajam antara stroma yang terlibat dan tidak terlibat, yang berbeda dari edema stroma tipe lainnya.

Gambar Disciform Keratitis

Sumber: Yanoff, Myron dan Jay S. Duker. 2008. Ophthalmology, 3rd Ed. Mosby.

Pada Keratitis Nummularis atau Dimmers Keratitis (Epidemic Keratoconjunctivitis) bentuknya yaitu: Infiltrat berbentuk koin Tampak pada stroma kornea superfisial Bisa bertahan ada selama beberapa bulan atau tahun

Sumber: Lang, Gerhard K. 2006. Ophthalmology: A Pocket Textbook Atlas, 2nd Ed. New york: Thieme.

2. Tes sensibilitas kornea Langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. Mencuci tangan. 2. Menyiapkan alat: memilin ujung kapas lidi. 3. KIE pada pasien menjelaskan tentang pemeriksaan yang akan dilakukan. 4. Pasien diminta melirik ke arah yang berlawanan dengan mata pasien yang akan diperiksa (bila mata kiri yang diperiksa pasien melirik ke kanan). 5. Sentuh kornea pasien dari arah lateral ke medial dengan ujung kapas lidi yang telah dipilin. 1 6. Amati reaksi pasien, bila terjadi refleks kedip dicatat sebagai sensibilitas kornea positif (+), sedangkan bila tidak terjadi refleks kedip maka dicatat sensibilitas kornea negatif (-). 7. Dites bergantian, dibandingkan mata kanan dan kiri. Penurunan sensitivitas menunjukkan trigeminal/facial neuropathy atau bisa jadi merupakan tanda infeksi virus pada kornea.2

Figure 18.8 The corneal sensation test.3

Gambar uji sensitivitas kornea.2 Sumber: 1. Modul Pemeriksaan Neurology Kepaniteraan Klinik Umum FKUB 2013. 2. Lang, Gerhard K. 2006. Ophthalmology: A Pocket Textbook Atlas, 2nd Ed. New york: Thieme. 3. Essential Action to Minimise Disability in Leprosy Patients, Jean M. Watson, second edition, 1994. http://labspace.open.ac.uk/mod/oucontent/view.php?id=452601&section=8.7.1

3. Tanda klinis konjungtivitis viral a. Adenoviral keratoconjunctivitis (karena adenovirus) Biasanya awalnya unilateral, mata berair (nrocoh), merah, terasa tidak nyaman, dan photophobia (silau). Mata kontralateral akan ikut terinfeksi 1-2 hari kemudian, tapi klinisnya tidak akan separah mata yang terkena lebih dulu. Adanya tanda-tanda konjungtivitis, yaitu: Terdapat edema kelopak mata. Nyeri pre-auricular lymphadenopathy. Follicular conjunctivitis. Infeksi yang lebih berat bisa terdapat conjunctival haemorrhage, chemosis, dan pseudomembran. Bila pseudomembran menghilang bisa jadi muncul conjunctival scarring yang ringan. Disertai tanda-tanda keratitis, yaitu: Stage I : terjadi 7-10 hari sejak munculnya gejala, yang ditandai dengan adanya punctate epithelial keratitis yang akan sembuh dalam 2 minggu. Stage II : ditandai dengan kekeruhan subepithelial yang berwarna putih, fokal, yang berkembang di bawah lesi epithelial dan diperkirakan merupakan respon imun terhadap virus. Stage III : ditandai dengan anterior stromal infiltrat yang secara bertahap menghilang sendirinya selama beberapa bulan atau tahun.

Sumber: Kanksi, Jack J. 2007. Clinical Ophthalmology: A systematic Approach. Philadelphia: Elsevier.

Sumber: Tasman, William dan Edward A. Jaeger. 2001. The Wills Eye Hospital: Atlas of Clinical Ophthalmology, 2nd Edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

b. Molluscum contagiosum conjunctivitis (karena poxvirus) Unilateral, kronik, iritasi mata, dan sedikit discharge Pucat, waxy (seperti bahan lilin), umbilicated nodul pada tepi kelopak mata, yang berhubungan dengan follicular conjunctivitis dan sedikit mucoid discharge. Nodul pada bola mata jarang terjadi, biasanya pada pasien yang immunocompromised. Pada kasus yang dibiarkan lama tidak diobati bisa berkembang menjadi epithelial keratitis atau pannus.

Sumber: Kanksi, Jack J. 2007. Clinical Ophthalmology: A systematic Approach. Philadelphia: Elsevier.

c. Acute haemorrhagic conjunctivitis (karena enterovirus 70 atau coxsackievirus A24) Akut onset, biasanya ada rasa terbakar/panas pada kedua mata (bilateral), mata berair (nrocoh), ada discharge, dan bengkak pada kelopak mata. Beberapa pasien ada dengan sakit tenggorokan dan badan lemas. Terdapat subconjunctival haemorrhage dan follicular conjunctivitis Pre-auricular lymphadenopathy

Sumber: Kanksi, Jack J. 2007. Clinical Ophthalmology: A systematic Approach. Philadelphia: Elsevier.