Anda di halaman 1dari 4

PERCOBAAN V IODOMETRI-IODIMETRI (PENETAPAN KADAR ANTALGIN DENGAN METODE IODOMETRI-IODIMETRI) I.

TUJUAN PRAKTIKUM Tujuan dari praktikum ini, yaitu untuk memahami prinsip-prinsip metode iodometri-iodimetri dan menetapkan kadar antalgin secara metode iodimetri. II. TEORI RINGKAS Definisi dari analisis kualitatif adalah pemeriksaan kimiawi tentang jenis-jenis unsur atau ion terdapat dalam suatu zat tunggal atau campuran beberapa zat. Setelah sifat dasar penyusun-penyusun dari suatu contoh itu dipastikan, seringkali analisis itu kemudian diminta menetapkan banyaknya tiap komponen atau komponen komponen khusus yang ada di dalamnya. kuantitatif !"assett, #$$%&. 'stilah oksidasi mengacu kepada setiap perubahan kimia dimana terjadi kenaikkan bilangan oksidasi. "erarti proses oksidasi disertai dengan hilangnya elektron, sedangkan reduksi memperoleh elektron. (ksidator adalah senyawa dimana atom yang mengalami penurunan bilangan oksidasi. Sebaliknya pada reduktor, atom yang mengalami kenaikkan bilangan oksidasi. (ksidasi reduksi harus selalu berlangsung bersama dan saling mengkompensasi satu sama lain. 'stilah oksidator reduktor mengacu kepada suatu senyawa tidak kepada atomnya saja. )ika suatu reagen berperan baik sebagai reduktor dan oksidator, maka dikatakan zat tersebut mengalami autooksidasi atau disproporsionasi !*hopkar, +,,+&. Titrasi titrasi redoks berdasarkan pada perpindahan elektron antara titran dengan analit. )enis titrasi ini biasanya menggunakan potensiometri untuk mendeteksi titik akhir, meskipun demikian penggunaan indikator yang dapat berubah warnanya dengan adanya kelebihan titran juga sering digunakan. Titrasi yang melibatkan iodium dapat dilakukan dengan + cara, yaitu titrasi langsung !iodimetri& dan titrasi tidak langsung !iodometri& !-ohman, +,,.&. enetapan semacam ini terletak didaerah analisis II.1 Dasar Teori

'odometri atau iodimetri merupakan titrasi-titrasi yang menyangkut reaksi / '+ 0 +e +'Titrasi langsung yang disebut iodimetri, larutan baku ' + dipakai sebagai titrat atau titran untuk mengoksidasi analat, cara ini jarang dipakai sebab iodium sendiri merupakan oksidator lemah. Titrasi tidak langsung yang disebut iodometri, *' digunakan sebagai reduktor untuk mereduksi analat sehingga terbentuk '+ bebas, '+ bebas ini dititrasi oleh larutan baku 1a+S+(2. 3ara ini dapat digunakan untuk menganalisis hampir semua oksidator yang kuat sehingga lebih sering digunakan daripada iodimetri !4arjadi, #$$2&. 'odium merupakan oksidator lemah. Sebaliknya ion iodida merupakan suatu pereaksi reduksi yang cukup kuat. Dalam proses analitik iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi !iodimetri& dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi !iodometri&. "eberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium. 5aka jumlah penentuan iodometrik adalah sedikit. 6kan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Dengan adanya kelebihan ion iodida yang ditambahkan pada pereaksi oksidasi yang ditentukan, yaitu dengan pembebasan iodium, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium thiosulfat !Day 7 8nderwood, #$9:&. *elarutan iodium rendah dalam air maka larutannya dibuat dengan menambahkan *' berlebihan, sehingga terjadi reaksi berikut /

'+ 0 ' -

'2-

*;

; . < #,+

Tetapan kesetimbangan proses pembentukan kompleks ini tidak begitu besar, sehingga kelebihan ion iodida dapat menggeser reaksi ke arah kanan, akibatnya dalam larutan itu iodium berada dalam bentuk ion tri-iodida '2- !S=ehla, #$.$&. 5etode titrasi iodometri langsung !iodimetri& mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. 5etode titrasi iodometri tak langsung !iodometri& adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia. otensial reduksi normal dari sistem re=ersibel/ '+!solid& +e +'-

ersamaan di atas mengacu kepada suatu larutan air yang jenuh dengan adanya iod padat> reaksi sel setengah ini akan terjadi, misalnya, menjelang akhir titrasi iodida dengan suatu zat pengoksid seperti kalium permanganat, ketika konsentrasi ion iodida menjadi relatif rendah. Dekat permulaan, atau dalam kebanyakan titrasi iodometri, bila ion iodida terdapat dengan berlebih, terbentuklah ion tri-iodida/ '+!a?& 0 'sebagai/ '2- 0 +e 2''2-

karena iod mudah larut dalam larutan iodida, reaksi sel setengah itu lebih baik ditulis

otensial reduksi standarnya adalah ,,@2@@ =olt. 5aka, iod atau ion tri-iodida merupakan zat pengoksid yang jauh lebih lemah ketimbang kalium permanganat, kalium dikromat, dan serium !'A& sulfat !"assett, #$$%&. Bat-zat pereduksi yang kuat !zat zat potensial reduksi yang jauh lebih rendah&, seperti timah !''& klorida, asam sulfat, hidrogen sulfida, dan natrium thiosulfat, bereaksi lengkap dan cepat dengan iod, bahkan dalam larutan asam. Dengan zat pereduksi yang lemah misalnya arsen tri=alen, atau stibium tri=ale, reaksi yang lengkap hanya akan terjadi bila larutan dijaga tetap netral atau, sangat sedikit asam. ada kondisi ini, potensial reduksi adalah minimum, atau daya mereduksinya adalah maksimum !"assett, #$$%&. )ika suatu zat pengoksid kuat diolah dalam larutan netral atau !lebih biasa& larutan asam, dengan ion iodida yang sangat berlebih, yang terakhir bereaksi sebagai zat pereduksi, dan oksidan akan direduksi secara kuantitatif. Dalam hal-hal yang demikian, sejumlah iod yang eki=alen akan dibebaskan, lalu dititrasi dengan larutan standar suatu zat pereduksi, biasanya natrium thiosulfat !"assett, #$$%&. Carna larutan ,,# 1 iodium adalah cukup kuat sehingga dapat bekerja sebagai indikatornya sendiri. 'odium juga memberi warna ungu atau merah lembayung yang kuat kepada pelarut pelarut sebagai karbon tetraklorida atau kloroform dan kadang kadang hal ini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi. 6kan tetapi lebih umum digunakan suatu larutan !dispersi koloidal& kanji karena warna biru tua dari kompleks kanji iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium. *epekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam daripada larutan netral dan akan lebih besar lagi dengan adanya ion iodida !6nonim#, +,,.&.

Darutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometrik adalah natrium thiosulfat. Earam ini biasanya berbentuk sebagai pentahidrat 1a+S+(2.@4+(. Darutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi dengan standar primer. Darutan natrium thiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama !Day 7 8nderwood,#$9:&. )ika larutan iodium dalam *' pada suasana netral maupun asam dititrasi dengan natrium thiosulfat maka/ '2- 0 +S+(2+- 2'- 0 S%(:+Selama reaksi zat antara S+(2+- yang tidak berwarna adalah terbentuk sebagai berikut / S+(2+- 0 '2- S+(2'- 0 +'- yang mana berjalan terus menjadi/ S+(2'- 0 S+(2+- S%(:+- 0'2-eaksi berlangsung baik dibawah p4 ; @,, !*hopkar, +,,+&.