Anda di halaman 1dari 3

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS ILMU PENYAKIT KULIT KELAMIN


IDENTITAS Nama Lengkap Jenis Kelamin Umur Agama Alamat Perceptor : Bp. a : laki - laki :35 tahun : Islam : Kleben, Pakuncen Ko asisten : Syahrizal Ardhiyand H.

: dr. H. Rikyanto, Sp.KK, M.Kes

1. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengeluhkan adanya benjolan sebesar biji salak pada telinga kiri, terdapat 2 benjolan. Benjolan teraba kenyal, berwarna kemerahan, tidak terasa gatal ataupun nyeri. Menurut keterangan pasien, pasien sebelumnya sudah pernah melakukan tindik pada telinga kiri. Sejak 1 tahun terakhir pasien mengaku tidak lagi rutin kontrol, sebelumnya pasien rutin melakukan suntik pada benjolan tersebut. Setelah 1 tahun tidak kontrol pasien merasa benjolan bertambah besar. 2. Pemeriksaan Dermatologis

UKK : Tampak tumor dengan permukaan licin ukuran 4 x 3 x 2 cm pada telinga kiri 3. Topik permasalahan : Bagaimana gejala klinis keloid? Bagaimana tatalaksana pasien keloid? Bagaimana pemeriksaan penunjang keloid ? 4. Pembahasan Definisi Keloid adalah parut abnormal yang timbul sebagai akibat dari proses penyembuhan luka. Jaringan parut abnormal ini terbentuk akibat dari sintesis dan degradasi kolagen yang tidak seimbang. Komponen pemicu pembentuk keloid adalah fibronektin dan glikosaminoglikan yang berlebihan. Manifestasi Klinis Lesi berupa papul, nodul, tumor dari kenyal sampai keras, tidak teratur. Berbatas tegas menebal, padat, berwarna coklat, merah muda dan merah. Lesi yang masih awal kenyal, RM.01.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS ILMU PENYAKIT KULIT KELAMIN


permukaanlicin, kadang dikelilingi hufa eritematosa dan mungkin juga terdapat teleangiektasis. Pada perkembangannya lesi dapatdisertai gatal dan nyeri Gambaran selanjutnya dapat memanjang seoerti cakar kadang dapat terjadi ulserasi serta bisa terbentuk sinus didalamnya. Sedangkan pada lesi yang lanjut biasanya sudah mengeras, hiperpigmentasi, dan asimetris keloid berkembang selama beberapa minggu sampai bulan setelah trauma. Keloid meluas diluar batas luka, tidak mengalami regresi secara spontan. Lokasi yang sering pada kulit putih di wajah (pipi, telinga0 ekstremitas atas, dada daerah parasternal, leher, punggung, ekstremitas bawah. Sedangkan pada orakulit hitam sering di cuping telinga, wajah, leher, ekstremitas bawah, payudara, dada, punggung dan abdomen Pemeriksaan penunjang Pada keloid dapat dilakukan pemeriksaan histologis yang akan memberikan gambaran berupa peningkatan deposisi kolagen dan glikosaminoglikan yang merupakan komponen utama pembentuk matrik ekstraseluler. Kolagen pada keloid terdiri dari bundel kolagen hialin dengan susunan yang beraturan yang dikenal sebagai kolagen keloidal. Hal ini berbeda dengan bekas luka normal dimana bundel kolagen yang berorientasi sejajar dengan permukaan kulit.

Tatalaksana 1. Injeksi steroid intra lesi : Triamsinolon asetonid dapat menghambat sintesis kolagen dan pertumbuhan fibroblas secara invitro, triamsinolon asetonid dapat menurunkan TGF . Dengan menurunnya TGF akan menyebabkan ekspresi fibroblas dalam menghasilkan kolagen berkurang, selain itu kulit akan menjadi lebih lunak dikarenakan fibroblas berpoliferasi menjadi miofibroblas yang menyebabkan kontraksi pada luka dihambat pembentukannya. 2. Pembedahan (eksisi) : Tindakan ini mungkin berhasil dengan memuaskan, namun demikian berpotensi menimbulkan kekambuhan. 3. Krioterapi : Digunakanpada lesi yang berukuran kecil, penggunaannya dapat mengurangi nyeri akibat injeksi dan memperpanjang masa penyembuhan. 4. Radioterapi : dapat menyebabkan terjadinya eritema dan hiperpigmentasi 5. Laser : Penggunaan laser tidak cukup memuaskan, terapi laser menggunakan karbondioksida dan argon dapat memicu kekambuhan hingga 90 %. Namun demikian, hasil trapi dengan penggunaan pulsed dye laser yang mempunyai panjang gelombang 585nm. Penggunaan pulsed dye laser menghambat regulasi dari TGF , dan meningkatkan regulasi dari metalproesterase MMP-13 yang akan menekan proliferasi fibroblas keloidalsebaik menginduksi apotosis 6. Silikon Bel Sheet : Penggunaan lembaran silikon gel sheet akan memberikan penghalang terhadap oklusi dan melunakkan bekas luka, juga mengurangi eritem. RM.02.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS ILMU PENYAKIT KULIT KELAMIN


7. Imiquimod : merupakan imunomodulator topikal sebagai terapi bagian luar genital & perianal. Imiquimod berperan melalui tol-like receptor 7 yang berperan dalam proses apregulasi sitokin proinflamasi seperti TNF yang berperan dalam penurunan sintesis kolagten dan fibroblas. 8. Bleomisin : Suatu agen kemoterapi penyakit kanker, mempunyai efek menghalangi siklus sel, menurunkan DNA dan RNA dan menghasilkan ROS. 9. Imerferon 2b : suatu sitokin yang memodulasi aktivitas faktor pertumbuhan dan telah terbukti memilii efek antiproliferatif dan antifibrolitik Prognosis : Secara kosmetika, keloid mempumyao prognosis yang buruk dikarenakan belum ada terapi yang efektif dan efisien. Referensi : 1. Edris AS. Management of Keloid and Hypertropjic Scar. Medic line 2. Djuanda. A (2010). Ilmu Penyaki Kulit dan Kelamin. Jakrta. FKUI 3. Siregar,RS (2004). Atlas Berwarna Saripati Penyzkit Kulit. Jakarta : EGC 4. Robles DT, Noore E, Draznin M,Berg P. Keloid : Patophysiology and Management. Dermatology online journal 13 (3):9

Yogyakarta, 24 Agustus 2013 Diperiksa dan disahkan oleh,

dr. H. Rikyanto , Sp.KK, M.Kes

RM.03.