Anda di halaman 1dari 20

DIAGNOSA KLINIK PADA KUCING

KELOMPOK 1 :
FUAD ROSYADI EKO HANANTO. W ISVAN RANDI. S TARUNO HADI. S HENK H H MIRINO NURYANTO WIDODO 11820061 11820060 11820029 11820034 11820052 11820070

PENDAHULUAN
Tujuan pemeriksaaan klinis adalah untuk menentukan diagnosa. Banyak penyakit yang dapat ditentukan diagnosa khasnya dengan mendasarkan atas riwayat kejadian penyakit serta pemeriksaaan fisik pada penderita.

Dalam mendiagnosa penyakit pada pasien kucing diperlukan beberapa tindakan, yaitu anamnesa, pemeriksaan umum, dan pemeriksaan khusus. Pemeriksaan fisik pada kucing dilakukan dengan cara palpasi, inspeksi visual dan penciuman disamping pendengaran dengan cara auskultasi dan perkusi. Keadaan normal pada kucing temperatur : 38,0 39,5 o C denyut nadi (pulsus) : 110 140 x per menit freq. napas : 24 42 x per menit awal birahi : 10 bln dikawinkan : 12 bln lama birahi : 3 15 hari daur birahi : 2 3 x per tahun lama bunting : 56 60 hari

PEMBAHASAN
Sebelum kita melakukan pemeriksaan umum maupun fisik pada kucing, kita harus tahu penampilan normal kucing; Refleks/reaksi terhadap rangsangan baik Mata jernih, bersinar, tanpa ada leleran/sekret Lubang hidung bersih tanpa leleran Lubang telinga bersih tanpa bau Kulit elastis, bebas luka dan parasit Membrana mukosa/selaput lendir, jambon muda (anjing), pucat (kucing) dan waktu pengisian kapiler (Capillary Refill Time = CRT) 1 2 detik

Riwayat penyakit (Anamnesa)


Suatu catatan kejadian-kejadian yang telah berlangsung sebelum saat penderita dihadapi oleh dokter hewan untuk pemeriksaan merupakan hal yang sangat penting dalam penentuan diagnosa.

Pertanyaan-pertanyaan harus ditujukan terhadap faktafakta penting yang telah diceritakan atau terhadap gejalagejala klinis yang telah diamati pemilik. Pertanyaan harus disusun secara kronologik agar patogenesis dari penyakit yang diperiksa dapat diusahakan untuk dipelajari. Pertanyaan tersebut meliputi : Fungsi semua sistem dalam tubuh harus ditanyakan. Sebagai tambahan, pertanyaan tentang frekuensi, kualitas dan jumlah tinja maupun kencing yang dikeluarkan perlu pula diajukan. Tanggal-tanggal seekor hewan dikawinkan dan tingkat kebuntinganya perlu dicantumkan pada riwayat hewanhewan yang masih meghasilkan keturunan. Hal lain yang menyangkut pertanyaan mengenai tipe perkandangan, jenis makanan, dan air perlu pula ditanyakan

Lama berlangsungnya suatu penyakit harus ditentukan. Riwayat tentang adanya penyakit yang terdahulu, baik yang berasal dari hewan yang sama atau yang sekandang. Keterangan tentang tambahnya hewan-hewan baru ke dalam kandang tempat penderita ditempatkan perlu diketahui oleh pemeriksa. Riwayat tentang vaksinasi dan pengobatan yang telah diberikan perlu diketahi oleh pemeriksa. Berhasil atau kurang berhasilnya pengobatan sebelumnya.

Pemeriksaan Umum
Keadaan umum dan kelakuan hewan perlu diperhatikan. Hewan dalam keadaan berdiri atau tiduran perlu dicatat. Tingkat kelesuan, kesadaran , atau kegelisahan hendaknya dicatat pula. Kegiatan di bawah sadar atau abnormal mungkin menggambarkan penyakit syarafi. Adanya rasa sakit ditandai dengan cara berdiri yang tidak bebas, hewan menggeratakan gigi, gejala-gejala yang berupa hewan yang berguling-guling atau menunjukan posisi abnormal; penderitaan yang berasal dari daerah perut kadang juga ditunjukan oleh penderita dengan cara menendang-nendang perutnya sendiri.

Apabila hewan sedang makan perhatian perlu ditujukan pada kelainan cara mengunyah makanan; pengunyahan secara intermiten dapat disebabkan karena adanya rasa sakit waktu mengunyah. Bahan makanan yang jatuh atau keluar lagi dari mulut dapat ditemukan pada penderita gangguan syaraf, juga cara mengambil pakan, termasuk kemampuan lidah dan bibir harus diperhatikan.

Pengeluaran tinja dan kemih perlu diperhatikan apabila hal tersebut terjadi pada saat pemeriksaan umum dilakukan. Rasa sakit yang berkaitan dengan sistem muskuloskeletal kadang menyebabkan sikap hewan yang abnormal, atau pembagian berat badan yang tidak merata. Sikap kaku sebagai akibat penyakit tetanus lebih mudah diamati dari jauh dibandingkan dengan pemeriksaan dari dekat. Gangguan dalam langkah hewannwaktu berjalan juga merupakan petunjuk adanya penyakit syaraf atau otot-ototnya.

Pengeluaran tinja dan kemih perlu diperhatikan apabila hal tersebut terjadi pada saat pemeriksaan umum dilakukan. Rasa sakit yang berkaitan dengan sistem muskuloskeletal kadang menyebabkan sikap hewan yang abnormal, atau pembagian berat badan yang tidak merata. Sikap kaku sebagai akibat penyakit tetanus lebih mudah diamati dari jauh dibandingkan dengan pemeriksaan dari dekat. Gangguan dalam langkah hewannwaktu berjalan juga merupakan petunjuk adanya penyakit syaraf atau otot-ototnya.

Frekuensi pernafasan, keteraturan serta dalamnya perlu diperiksa dari jarak yang tidak mengganggua hewan. Tingkat sesak nafas atau respirasi abdominal dapat dinilai pada pengamatan pernafasan. Pada kucing normal dalam keadaan tenang serta pada suhu lingkungan sedang, rata-rata frekuensi pernafasanya 24 42 tiap menitnya

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara palpasi, inspeksi visual dan penciuman disamping pendengaran dengan cara perkusi dan auskultasi. Palpasi dapat digunakan untuk mengenal kelainan-kelainan kecil atas susunan anatomi dan untuk menilai kepekaan terhadaprasa sakit, atau tanda-tanda lain dari proses peradangan. Kelainan konsistensi jaringan seperti busung dapat ditentukan dengan palpasi pada jaringan bawah kulit dengan bekas tekanan jari yang tidak segera kembali ke bentuk aslinya.

Perkusi hanya memilik nilai terbatas dalam pemeriksaan kucing. Perkusi yang dilakukan bersama dengan auskultasi dapat digunakan untuk menetukan diagnosa secara pasti terhadap lokasi jaringan yang berisi gas didalam rongga perut. Caranya adalah dengan mendengarkan dengan stetoskop, dan pada saat yang sama jari-jari dipukulkan dengan keras, atau dijentikan pada dinding badan dalam daerah yang sama. Apabila gas atau udara terdapat di daerah tersebut, suara nyaring atau ping akan terdengar.

Auskultasi dengan menggunakan stetoskop adalah cara terbaik untuk menilai keadaan abnormal dari suara jantung dan pernafasan. Gerakan saluran gastrointestinal dapat pula ditentukan dengan mendengarkan secara auskultasi pada perut.

Pulsus pada kucing dapat ditentukan dari arteri-arteri : Arteria femoralis ; di sisi medial femur Arteria digitalis; di sisi voler karpus Arteria koksigea; di sisi ventral/ basis ekor Arteria lingualis ; di sisi ventral lidah (hanya pada pasien terbius dapat diraba)

Kadang-kadang frekuensi pulsus lebih mudah ditentukan dengan jalan auskultasi jantung. Frekuensi pulsus per menit pada kucing (110 140 x/ menit). Apabila mengalami kenaikan, frekuensi pulsus perlu diukur ulang, karena kegelisahan akibat pemeriksaan dapat mengakibatkan kenaikan frekuensi sementara.

Tanda abnormalitas kejadian penyakit pada kucing


Perubahan nafsu makan Perubahan urinasi (kencing) Perubahan defekasi Muntah (emesis, vomitus) Leleran hidung (ingus, nasal discharge) Leleran telinga Leleran mata Leleran vagina (lubang kelamin betina) Batuk Perubahan warna selaput lendir Keresahan, kegelisahan (restlesness)

Terimakasih