Anda di halaman 1dari 22

Presentasi Kasus

DENGUE HAEMORAGHIC FEVER (DHF)

Oleh: Arini Rahmawati G0007043

Pembimbing: Dyah Poerwohastoeti, S.Farm, Apt.

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang masih menimbulkan masalah kesehatan di negara berkembang, khususnya di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh karena masih tingginya angka morbiditas dan mortalitas akibat penyakit tersebut (Rampengan, 1997). Morbiditas dan mortalitas demam berdarah dengue bervariasi dan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain status imunologi penderita, kepadatan vektor nyamuk, transmisi virus dengue, virulensi virus, dan kondisi geografi setempat (Soegeng, 2002). Di beberapa Negara penularan virus dengue dipengaruhi oleh adanya musim, jumlah kasus biasanya meningkat bersamaan dengan peningkatan curah hujan. Di Indonesia jumlah penderita meningkat antara bulan September sampai Februari dan mencapai puncaknya pada bulan Januari (Soegeng, 2002). Walaupun demam berdarah dengue bisa mengenai semua kelompok umur, namun terbanyak pada anak di bawah umur 15 tahun. Di Indonesia penderita demam berdarah dengue terbanyak umur 5-14 tahun (Soegeng, 2002). Insidensi DBD di Indonesia sejak awal bulan Januari 2004 sampai pertengahan Maret 2004 mencapai lebih dari 25.000 kasus, dengan angka kematian mencapai 400 orang. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan menuntut semua pihak untuk berperan serta secara aktif dalam menanggulangi masalah tersebut (Soegeng, 2002) Angka kematian rata-rata DBD atau DSS yang diterapi dengan baik berkisar 3 %, sedangkan pada yang tidak diterapi bisa mencapai 50 % (Soegeng, 2002). Data-data di atas yang menjadi dasar bagi kami dalam mengangkat kasus ini untuk disajikan sebagai presentasi kasus.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Dengue Haemoraghic Fever (DHF) Demam dengue (DD) adalah penyakit demam akut selama 2-7 hari disertai dua atau lebih gejala klinis berupa nyeri kepala, nyeri retro-orbital, mialgia / atralgia, ruam kulit, manifestasi perdarahan (tes tourniket positif dan petechie) dan leucopenia. Dengue Haemoraghic Fever atau Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut dengan gejala seperti DD disertai manifestasi perdarahan yang lebih nyata (tes tourniket positif, petechie, echimosis, atau purpura, perdarahan mukosa), trombositopenia (100.000/L) dan kebocoran plasma akibat meningkatnya permeabilitas kapiler yang ditandai oleh peningkatan hematokrit 20 %. Dengue shock symdrome (DSS) adalah penampilan klinis DBD yang disertai tanda-tanda kegagalan sirkulasi berupa penderita gelisah sampai penurunan kesadaran, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (< 20 mmHg), hipotensi (tekanan sistolik < 80 mmHg), kulit dingin dan lembab, akral dingin (capillary refill time > 2 detik), dieresis menurun sampai anuria. B. Manifestasi Klinik 1. Demam dengue (DD) Setelah masa inkubasi 4-6 hari (rentang 3-14 hari), timbul gejala prodromal yang tidak khas seperti nyeri kepala, sakit tulang belakang, dan rasa lelah. Tanda khas dari DD adalah peningkatan suhu mendadak, kadang-kadang disertai menggigil, sakit kepala dan flushed face (muka kemerahan). Dalam 24 jam, terasa nyeri pada belakang mata terutama pada pergerakan mata atau bila bola mata ditekan, fotofobia, dan nyeri otot serta sendi. Gejala lainnya adalah anoreksia, konstipasi, nyeri perut/kolik, nyeri tenggorok dan depresi. Gejala tersebut biasanya menetap selama beberapa hari. Demam, suhu pada umumnya antara 39-40 0C, dapat bersifat bifasik, menetap antara 5-6 hari. Pada awal fase demam timbul ruam menyerupai urtikaria di muka, leher, dada, dan pada akhir fase demam (hari sakit ke-3 atau 4), ruam akan menjadi makulopapular. Pada akhir

fase demam atau awal suhu turun timbul petekhie yang menyeluruh biasanya pada kaki dan tangan. Perdarahan kulit pada DD terbanyak adalah uji tourniquet positif dengan atau tanpa petekhie. Pada awal fase demam akan dijumpai jumlah leukosit normal, kemudian menjadi leukopenia selama fase demam. Jumlah trombosit dan semua faktor pembekuan umumnya normal. Serum biokimia dan enzim pada umumnya normal tetapi enzim hati dapat meningkat. 2. Demam berdarah Dengue (DBD) Terdapat empat gejala utama DBD yaitu demam tinggi, fenomena perdarahan, hepatomegali, dan kegagalan sirkulasi. Gejala klinis diawali dengan demam mendadak, disertai dengan muka kemerahan (facial flushed) dan gejala klinis lainnya yang tidak khas menyerupai gejala DD. Keempat gejala utama DBD adalah : a. Demam Penyakit didahului demam tinggi mendadak, terus menerus berlangsung 2-7 hari dengan sebab yang tidak jelas dan hampir tidak bereaksi terhadap pemberian antipiretik (mungkin hanya akan turun sedikit kemudian naik kembali). Bila tidak disertai syok maka demam akan turun dan penderita sembuh dengan sendirinya. Akhir fase demam merupakan fase kritis pada DBD, oleh karena fase tersebut dapat merupakan awal penyembuhan tetapi dapat pula sebagai awal fase syok. b. Tanda-tanda perdarahan Penyebab perdarahan pada DBD adalah vaskulopati,

trombositopenia, dan gangguan fungsi trombosit serta koagulasi intravaskuler yang enyeluruh. Jenis perdarahan terbanyak antara lain perdarahan kulit seperti uji tourniquet (uji Rumple Leed) positif, petekhie, purpura, echimosis, dan perdarahan mukosa seperti epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, melena. Petekhie

merupakan tanda perdarahan yang tersering ditemukan. Tanda ini dapat muncul pada hari-hari pertama demam. Perdarahan yang paling ringan adalah uji tourniquet positif, berarti fragilitas kapiler meningkat, namun hal ini dapat dijumpai pada penyakit virus lain (misalnya campak, demam chikungunya), infeksi bakteri dan lain-lain. Uji

tourniquet positif sangat berguna apabila secara klinis diduga DBD, karena pada awal perjalanan penyakit 70,2 % kasus DBD mempunyai hasil tourniquet positif. Uji tourniquet dinyatakan positif jika terdapat 10-20 atau lebih petekhie dalam diameter 2,8 cm (1 inchi persegi) di lengan bawah bagian depan (volar) dan pada lipatan siku (fossa cubiti). c. Pembesaran hepar Pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit, bervariasi dari hanya sekedar dapat diraba sampai 2-4 cm di bawah lengkung iga kanan. Derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit. Nyeri tekan di daerah hati sering ditemukan dan ini berhubungan dengan adanya perdarahan. d. Syok Perjalanan syok tergantung pada penyakit primer penyebab renjatan, kecepatan dan jumlah cairan yang hilang, lama renjatan, serta kerusakan jaringan yang terjadi, tipe dan stadium renjatan. 3. Dengue Shock Syndrome (DSS) Shock biaa terjadi pada saat atau segera setelah suhu turun, antara hari ke-3 sampai hari sakit ke-7. Pada kasus ringan dan sedang, semua tanda dan gejala klinis menghilang setelah demam turun. Demam turun disertai keluarnya keringat, perubahan pada denyut nadi dan tekanan darah, akral ekstremitas dingin, disertai kongesti kulit. Perubahan ini menunjukkan gejala gangguan sirkulasi, sebagai akibat dari

perembesan plasma yang dapat bersifat ringan atau sementara. Pada kasus berat, keadaan umum pasien mendadak menjadi buruk setelah beberapa hari demam. Pada saat atau beberapa saat setelah suhu turun, antara hari sakit ke 3-7, terdapat tanda kegagalan sirkulasi. Sesaat sebelum syok seringkali pasien mengeluh nyeri perut. Syok ditandai dengan kulit pucat, dingin dan lembab terutama pada ujung kaki dan tangan, anak menjadi rewel, gelisah lambat laun kesadarannya menurun menjadi apatis, sopor, dan koma; denyut nadi cepat dan lemah; tekanan nadi menurun ( 20 mmHg); hipotensi (tekanan sistolik 80 mmHg); oliguria sampai anuria. Pasien dapat dengan cepat masuk ke

dalam fase kritis yaitu syok berat (profound shock), pada saat itu tekanan darah dan nadi tidak terukur lagi. Dengan diagnosis dini dan penggantian cairan adekuat, syok biasanya teratasi dengan segera, namun bila terlambat diketahui atau pengobatan tidak adekuat, syok dapat menjadi syok berat dengan berbagai penyulitnyaseperti asidosis metabolic, perdarahan hebat saluran cerna, sehingga memperburuk prognosis. Secara klinis perjalanan syok dapat dibagi dalam 3 fase yaitu fase kompensasi, dekompensasi, dan ireversibel. C. Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis DBD didasarkan pada kriteria menurut WHO (1997), yaitu: 1. Kriteria Klinis a. Panas tinggi mendadak, terus menerus selama 2-7 hari tanpa sebab yang jelas (tipe demam bifasik) b. Manifestasi perdarahan Uji tourniquet positif Petekhie, echimosis, purpura Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi Hematemesis dan atau melena

c. Hepatomegali d. Kegagalan sirkulasi (syok) yang ditandai dengan : Nadi cepat dan lemah Tekanan darah menurun ( 20 mmHg) Hipotensi (tekanan sistolik 80 mmHg) Akral dingin Kulit lembab Pasien tampak gelisah

2. Kriteria Laboratoris a. Trombositopenia (AT < 100.000/L) b. Hemokonsentrasi ditandai dengan nilai hematokrit lebih dari atau sama dengan 20 % dibandingkan dengan masa kovalesen yang

dibandingkan dengan nilai Hct sesuai umur, jenis kelamin dari populasi. Dua kriteria klinis pertama ditambah trombositopenia dan hemokonsentrasi (atau peningkatan hematokrit) cukup untuk menegakkan diagnosis klinis DBD. Efusi pleura dan atau hipoalbuminemia dapat memperkuat diagnosis terutama pada pasien anemia dan atau terjadi perdarahan. Pada kasus syok, adanya peningkatan hematokrit dan adanya trombositopenia

mendukung diagnosis DBD.

D. Derajat Penyakit Mengingat derajat beratnya penyakit ynag bervariasi dan sangat erat kaitannya dengan pengelolaan dan prognosis maka WHO (1997) membagi DBD dalam derajat setelah kriteria laboratories terpenuhi yaitu : Derajat I : demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan adalah uji tourniquet positif. Derajat II : derajat I disertai dengan perdarahan spontan di kulit atau perdarahan lain. Derajat III : terdapat kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lembut, tekanan nadi menurun (< 20 mmHg) atau hipotensi disertai kulit dingin, lembab dan penderita menjadi gelisah. Derajat IV : renjatan berat dengan nadi yang tak teraba dan tekanan darah yang tak terukur, kesadaran amat menurun.

E. Komplikasi Komplikasi yang harus diwaspadai : a. Ensefalopati dengue, dapat terjadi pada DBD dengan atau tanpa syok. Evaluasi gejala sisa SSP sangat penting, mengingat organ ini sangat sensitif terhadap hipoksia yang dapat terjadi pada renjatan

berkepanjangan. b. Kelainan ginjal, akibat syok berkepanjangan dapat terjadi gagal ginjal akut. c. Edema paru, seringkali terjadi akibat overloading cairan. d. Depresi miokard-gagal jantung. e. Gangguan koagulasi / pembekuan (DIC).

F.

DIAGNOSIS BANDING 1. Pada awal perjalanan penyakit, diagnosis banding mencakup infeksi bakteri, virus atau protozoa seperti demam tifoid, campak, influenza, hepatitis, demam chikungunya, leptospirosis dan malaria. 2. Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP). 3. Perdarahan seperti petekhie dan echimosis ditemukan pada beberapa penyakit infeksi, misalnya sepsis, meningitis meningokokus, leukemia, atau anemia aplastik.

G. PENATALAKSANAAN Terdapat 5 hal yang harus dievaluasi yaitu keadaan umum, renjatan, kebocoran plasma, perdarahan terutama perdarahan gastrointestinal dan komplikasi. Pada dasarnya terapi DBD bersifat suportif yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan akibat perdarahan. Adapun penatalaksanan DBD menurut derajatnya adalah sebagai berikut :

PENATALAKSANAAN KASUS TERSANGKA DEMAM BERDARAH DENGUE DBD (Bagan 1) Tersangka DBD
Demam tinggi, mendadak, terus-menerus, < 7 hari tidak disertai ISPA, badan lemah/lesu

Ada kedaruratan
Tanda syok muntah terus menerus, kesadaran menurun Kejang, muntah darah, berak darah, berak hitam

Tidak ada kedaruratan

Periksa uji tourniquet

Uji Tourniquet (+) (Rumplee Leede)

Uji tourniquet (-) (Rumplee Leede)

Jumlah trombosit < 100.000/ul

Jumlah trombosit > 100.000/ul

Rawat jalan Parasetamol Kontrol tiap hari sampai demam hilang

Rawat Inap

Nilai tanda klinis & jumlah trombosit, Ht bila masih demam hari sakit ke 3

Rawat Jalan Minum banyak, Parasetamol bila perlu Kontrol tiap hari sp demam turun. Bila demam menetap periksa Hb.Ht, Trombosit. Perhatikan untuk orang tua pesan bila timbul tanda syok : gelisah, lemah, kaki tangan dingin, sakit perut, berat hitam, kencing berkurang

Lab :Hb/Ht naik dan trombosit turun

PENATALAKSANAAN KASUS DBD DERAJAD I (Bagan 2) DBD Derajad I Gejala klinis : demam 2-7 hari Uji tourniquet positif Lab. hematokrit tidak meningkat trombositopeni (ringan)

Pasien Masih dapat minum Beri minum banyak 1-2 liter/hari atau 1 sd. mkn tiap 5 menit. Jenis minuman; air putih teh manis, sirup, jus buah, susu, oralit Bila suhu > 38,5 derajad celcius beri parasetamol Bila kejang beri obat antikonvulasif

Pasien tidak dapat minum Pasien muntah terus menerus

Pasang infus NaCl 0,9%: Dekstrosa 5% (1:3) tetesan rumatan sesuai berat badan Periksa Hb, Ht, trombosit tiap 612 jam

Ht naik dan atau trombositopeni

Perbaikan klinis dan laboratoris

Infus ganti ringer asetat (tetesan disesuaikan, lihat Bagan 3)

Pulang Kriteria memulangkan pasien : 1. Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik 2. Nafsu makan membaik 3. Secara klinis tampak perbaikan 4. Hematokrit stabil 5. Tiga hari setelah syok teratasi 6. Jumlah trombosit lebih dari 50.000/ml 7. Tidak dijumpai distress pernafasan

10

PENATALAKSANAAN KASUS DBD DERAJAD II (Bagan 3)

DBD Derajat II DB Derajad I + perdarahan spontan Hemokonsentrasi & Trombositopeni Cairan awal RA/NaCl 0,9% atau RAD5%/NaCl 0,9 + D 5% 6 7 ml/kgBB/jam Monitor Tanda Vital/Nilai Ht & trombosit tiap 6 jam Tidak Ada Perbaikan Gelisah Distres pernafasan Fre. nadi naik Ht tetap tinggi/naik Tek. Nadi < 20 mmHg Diuresis kurang/tidak ada

Perbaikan Tidak gelisah Nadi kuat Tek Darah stabil Diuresis cukup (1 ml/kgBB/jam) Ht Turun (2x pemeriksaan)

Tanda Vital memburuk

Tetesan dikurangi

Ht meningkat

Tetesan dinaikkan 10-15 ml/kgBB/jam (bertahap)


Evaluasi 12-24 jam

5 ml/kgBB/jam

Perbaikan

Perbaikan Sesuaikan tetesan Tanda vital tidak stabil

3 ml/kgBB/jam IVFD stop setelah 24-48 jam apabila tanda vital/Ht stabil dan diuresis cukup

Distress pernafasan Ht Naik

Ht turun

Koloid 20-30 ml/kgBB

Transfusi darah segar 10 ml/kgBB

Perbaikan

11

PENATALAKSANAAN KASUS DSS ATAU DBD DERAJAD III DAN IV (Bagan 4) DBD Derajad III & IV
DBD Derajad II + Kegagalan sirkulasi

Oksigenasi (berikan O2 2-4/menit) Penggantian volume plasma segera (cairan kristaloid isotonis) RingerAsetat/ NaCl 0,9 % 10-20 ml/kgBB secepatnya (bolus dalam 30 menit) Evaluasi 30 menit, apakah syok teratasi ? Pantau tanda vital tiap 10 menit Cacat balans cairan selama pemberian cairan intravena Syok tidak teratasi Kesadaran menurun Nadi lembut / tidak teraba Tekanan nadi < 20 mmHg Distres pernafasan / sianosis Kulit dingin dan lembab Ekstrimitas dingin Periksa kadar gula darah

Syok teratasi Kesadaran membaik Nadi teraba kuat Tekanan nadi > 20 mmHg Tidak sesak nafas / Sianosis Ekstrimitas hangat Diuresis cukup 1 ml/kgBB/jam

Cairan & tetesan disesuaikan 10 ml/kgBB/jam Evaluasi ketat Tanda vital Tanda perdarahan Diuresis Hb, Ht, Trombosit

Lanjutkan cairan 15-20 ml/kgBB/jam Tambahan koloid/plasma Dekstran 40/FFP 10-20 (max 30) ml/kgBB Koreksi Asidosis evaluasi 1 jam Syok belum teratasi

Syok teratasi

Stabil dalam 24 jam Tetesan 5 ml/kgBB/jam


Ht turun Transfusi darah segar 10 ml/kgBB .Dapat diulang sesuai kebutuhan Ht tetap tinggi/naik Koloid 20 ml/kgBB

Tetesan 3 ml/kgBB/jam

Infus Stop tidak melebihi 48 jam

12

BAB III STATUS PENDERITA

I. IDENTITAS PENDERITA Nama Jenis kelamin Umur Berat badan Tinggi badan Nama Ayah Pekerjaan Ayah Agama Alamat No. CM II. ANAMNESIS Alloanamnesis diperoleh dari ibu penderita. Penderita adalah anak pertama dari dua bersaudara. Anak lahir dengan berat badan 2900 gram, lahir spontan, menangis kuat, umur kehamilan 9 bulan, di bidan. Keguguran tidak pernah, anak lahir meninggal tidak ada, anak meninggal tidak ada. Ayah dan ibu menikah satu kali. Penderita tinggal satu rumah dengan ayah, ibu, dan adiknya. A. Pohon Keluarga : An. A : Laki-laki : 14 tahun : 43 kg : 150 cm : Bp. P : Wiraswasta : Islam : Blulukan RT 03, RW 06 Colomadu, Karanganyar. : 86 72 26

, 14 thn B. Keluhan Utama : Panas

13

C. Riwayat Penyakit Sekarang Sejak 4 hari SMRS kira-kira jam 07.00 WIB, penderita badannya panas mendadak. Panas tinggi terus menerus sepanjang hari. Oleh ibu penderita diberi obat penurun panas. Setelah minum obat, panas turun tapi tak berapa lama panas timbul kembali. Selain itu penderita juga batuk dan pilek sejak 4 hari SMRS. Batuknya tidak berdahak dan tidak disertai sesak napas. Nyeri menelan tidak didapatkan. Selama sakit, penderita sudah 6 kali muntah, isi makanan, kurang lebih gelas belimbing setiap kali muntah. Penderita juga mengeluh pusing, mual, nafsu makan berkurang, nyeri perut, dan pegalpegal di seluruh tubuh. . Mimisan (-), muntah darah (-), berak darah (-), bintikbintik merah (-). Sejak sakit penderita makan dan minum hanya sedikit. BAB tidak ada keluhan. BAK juga tidak ada keluhan. D. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat sakit serupa Riwayat mondok di RS Riwayat alergi : disangkal : disangkal : disangkal

E. Riwayat Penyakit Keluarga dan Lingkungan - Riwayat sakit serupa di keluarga - Riwayat sakit serupa di lingkungan - Riwayat alergi di keluarga F. Riwayat Imunisasi Jenis BCG DPT Polio Campak Hepatitis B I 1 bulan 2 bulan 1 bulan 9 bulan 1 bulan II 3 bulan 2 bulan 2 bulan III 4 bulan 3 bulan IV 4 bulan : disangkal : Ya, anak tetangga terkena DBD : disangkal

G. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Senyum Miring Tengkurap Duduk Gigi keluar Berdiri Berjalan 2 bln 5 bln 6 bln 7 bln 6 bln 9 bln 11 bln

14

H. Keadaan Kesehatan Keluarga Ayah Ibu Saudara : baik : baik : baik

Sekitar rumah : DBD (+), anak tetangga terkena DBD I. Riwayat Makan Minum Anak ASI diberikan sejak lahir sampai anak berusia 2 tahun. Frekuensi pemberian tiap kali anak menangis, lama pemberian 10-15 menit, bergantian payudara kanan dan kiri. Sesudah menyusu anak tidak menangis. Sejak usia 1 tahun sampai dengan usia 3 tahun anak diberikan susu formula. Saat anak berusia 6 bulan diberi makanan tambahan berupa bubur sumsum dan bubur susu, nasi tim sejak usia 7 bulan, dan nasi mulai usia 1 tahun. Anak makan 3 kali sehari dengan nasi dan lauk pauk yang cukup. J. Pemeliharaan Kehamilan dan Prenatal Pemeriksaan di Frekuensi : Bidan : TM I : 1 x/bulan TM II : 1 x/bulan TM III: 2 x/bulan Penyakit selama kehamilan : (-) Obat-obatan yang diminum selama kehamilan: vitamin dan tablet penambah darah. K. Riwayat Kelahiran Lahir di bidan, umur kandungan 9 bulan, lahir normal, berat badan lahir 2900 gram, menangis kuat segera setelah lahir. L. Riwayat Post natal Pemeriksaan rutin di Posyandu sejak umur 1 bulan. M. Riwayat Keluarga Berencana Ya, bentuk suntik Sikap dan kepercayaan baik

15

III. PEMERIKSAAN FISIK A. Keadaan Umum: lemah, compos mentis, gizi kesan baik B. Tanda Vital Tensi Heart rate Nadi Respirasi Suhu : 110/80 mmHg : 88 x/menit : 88 x/menit, reguler, isi cukup, simetris kanan-kiri : 24 x/menit, reguler, tipe thorakal : 38,1 0C

Berat badan : 43 kg Tinggi badan : 150 cm C. Kulit Warna sawo matang, kelembaban baik, turgor baik. UKK (-) D. Kepala Bentuk Rambut Sutura UUB : mesocephal : hitam, sukar dicabut : sudah menutup : sudah menutup

Kelainan lain : (-) E. Mata Odema palpebra (-/-), mata cowong (-/-), air mata (+/+), sekret (-/-), conjunctival injection (-/-), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor, diameter 3mm/3mm, Refleks Cahaya (+/+). F. Hidung Napas cuping hidung (-), sekret (-/-), darah (-/-). G. Mulut Bibir sianosis (-), mukosa basah (+), stomatitis (-), bercak Koplik (-), lidah kotor (-), lidah tremor (-).

16

H. Tenggorok Uvula di tengah, mukosa pharynx hiperemis (-), tonsil T1-T1, tonsil hiperemis (-). I. Leher Bentuk normocolli, limfonodi tidak membesar, glandula thyroid tidak membesar, kaku kuduk (-). J. Thorax Bentuk normochest, retraksi (-), UKK (-) Cor Inspeksi : ictus cordis tidak tampak Palpasi Perkusi Kiri atas Kiri bawah Kanan atas : ictus cordis tidak kuat angkat : batas jantung kesan tidak melebar : SIC II LPSS : SIC IV LMCS : SIC II LPSD

Kanan bawah: SIC IV LPSD Auskultasi : BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-), gallop (-) Pulmo Inspeksi Palpasi Perkusi : Pengembangan dada kanan = kiri : Fremitus raba kanan = kiri : Sonor di seluruh lapang paru

Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+) normal Suara tambahan (-/-) K. Abdomen Inspeksi : Dinding perut sejajar dinding dada UKK (-) Palpasi : Supel, nyeri tekan (+) di epigastrium, hepar teraba 1 cm di bawah arcus costa dextra, 3 cm di bawah Proc. xyphoideus, lien tidak teraba Perkusi Auskultasi : Tympani : Peristaltik (+) normal

17

L. Urogenitalia Dalam batas normal M. Ekstremitas Superior :oedem (-/-), luka (-/-), akral dingin (-/-), tremor (-/-), ikterik (-/-), kuku spoon nail (-/-) Inferior :oedem (-/-), luka (-/-), akral dingin (-/-), tremor (-/-), ikterik (-/-), kuku spoon nail (-/-) Perfusi perifer : < 2 RL : (+)

N. Pemeriksaan Neurologi Fungsi luhur Fungsi vegetatif Fungsi sensorik Fungsi motorik K 5 5 5 5 O. Ujud Kelainan Kulit Tidak ada P. Perhitungan Status Gizi Menggunakan BMI = BB/TB2 = 43/1,52 = 19,11 Status gizi secara antropometri : gizi baik IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG Hasil pemeriksaan Laboratorium darah Hb Hct AL AT Gol. Darah : 13,6 gr/dL : 42,4 % : 5.400 uL : 49.000 uL :O : T N N N N RF +2 +2 +2 +2 RP - - : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal

18

GDS Na K Cl

: 102 mg/dl : 140 mEq/L : 4,5 mEq/L : 102 mEq/L

V. DIAGNOSIS BANDING DHF grade I Dengue Fever VI. DIAGNOSIS KERJA DHF grade I dengan panas hari ke IV VII. PENATALAKSANAAN Non Medikamentosa - Diet 2600 kalori Karbohidrat Lemak Protein Medikamentosa - Infuse RL 10 ml/kgBB/jam 1 jalur 46 tpm makro - Paracetamol 500 mg (p.r.n) VIII. PENULISAN RESEP R/ Infus Ringer Lactat flabot No. VIII Cum infuse set No. I IV catheter no. 22 No. I imm = 1/4 x 70 % x 2600 = 728 Kal = 1/9 x 20 % x 2600 = 57,77 Kal = 1/4 x 10 % x 2600 = 65 Kal

R/ Paracetamol tab mg 500 No.III p.r.n 1-3 dd tab I Pro : An. A (14 tahun)

19

BAB IV PEMBAHASAN

A. Infus Ringer Lactat Larutan Ringer laktat merupakan larutan isotonic dengan konsentrasi elektrolit hampir sama dengan plasma. Larutan ringer laktat berisi Na 131 mEq/L, K 5 mEq/L, Ca 4 mEq/L, Cl 111mEq/L, Bikarbonat 29 mEq/L dan osmolaritas 276 mOsm/L. Ringer laktat dapat digunakan untuk koreksi pada asidosis metabolik, mengatasi kehilangan cairan karena drainase empedu, diare, dan luka bakar .Pemberian infus pada kasus ini bertujuan untuk mencegah dehidrasi, sebagai tambahan nutrisi dan mencegah asidosis.

B. Paracetamol
Merupakan derivate p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik dan analgesik. Pada penggunaan per oral dapat diserap dengan cepat melalui saluran cerna. Kadar maksimum dalam plasma dapat dicapai dalam waktu 30 60 menit setelah pemberian. Dieksresikan melalui ginjal kurang dari 5% tanpa mengalami perubahan dan sebagian dalam bentuk terkonjugasi. Indikasi : - sebagai antipiretik dan analgetik termasuk bagi pasien yang tidak tahan terhadap asetosal - sebagai analgesik misalnya untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala, sakit gigi, sakit waktu haid, sakit pada otot - Menurunkan demam pada influenza dan setelah vaksinasi Efek samping : dosis besar dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan hati

20

BAB V PENUTUP

A. Simpulan Pada demam berdarah dengue grade I, terapi yang diberikan bertujuan untuk mencegah dehidrasi. Untuk mencegah dehidrasi, maka diberikan infuse Ringer Lactat. Selain itu, dapat diberikan parasetamol untuk menurunkan demam. Pemberian nutrisi yang tepat juga menunjang penyembuhan pada penyakit demam berdarah dengue. B. Saran Pemberian terapi pada demam berdarah dengue grade I, sebaiknya tetap memperhatikan umur dan berat badan anak supaya dapat memberikan terapi yang sesuai dan optimal. Selain itu, untuk mencegah dehidrasi pada demam berdarah dengue, dapat diberikan infus dextrose 5%.

21

DAFTAR PUSTAKA

Hadinegoro S. R. H., Satari H. I. 2004. Demam Berdarah Dengue. Jakarta : FKUI. Rampengan, T.H., 1997. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak : Demam Berdarah Dengue. EGC, Jakarta. Soedarmo S. S. P., Garna H., Hadinegoro S. R. S., Satari H. I. 2008. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis. Ikatan Dokter Anak Indonesia, hal : 155-181. Soegeng, S., 2002. Ilmu Penyakit Anak : Demam Berdarah Dengue. Salemba Medika, Jakarta. Suhendro, Nainggolan L., Chen K., Pohan H. T. 2007. Demam Berdarah Dengue dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam volume III. Editor Bahasa Indonesia : Sudoyo A. W., Setiyohadi., Alwi I., Simadibrata M. K., Setiati S. Jakarta : FK-UI, hal : 1709-1713. Wilmana, P., dkk. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta : FK UI.

22