Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang disebabkan oleh banyak hal namunyang terpenting diantaranya adalah karena infeksi virus-virus hepatitis.Virus-virus ini selaindapat memberikan peradangan hati akut, juga dapat menjadi kronik.Hepatitis kronik dibedakan dengan hepatitis akut apabila masih terdapat tanda-tanda peradangan hati dalam jangka waktu lebih dari 6 bulan. Virus-virus hepatitis penting yangdapat menyebabkan hepatitis akut adalah virus hepatitis A (VHA), B (VHB), C (VHC) dan E(VHE) sedangkan virus hepatitis yang dapat menyebabkan hepatitis kronik adalah virushepatitis B dan C. Infeksi virus-virus hepatitis masih menjadi masalah masyarakat di Indonesia.Hepatitis akut walaupun kebanyakan bersifat self-limited kecuali hepatitis C, dapatmenyebabkan penurunan produktifitas dan kinerja pasien untuk jangka waktu yang cukup panjang. Pengelolaan yang baik pasien hepatitis akibat virus sejak awal infeksi sangat pentinguntuk mencegah berlanjutnya penyakit dan komplikasi-komplikasi yang mungkin timbul. Di negara berkembang infeksi Hepatitis A terjadi pada usia relatif lebih muda. Di negara bermusim tropis Kejadian Luar Biasa (KLB) Hepatitis A sering terjadi pada musim hujan dan mengalami siklus epidemik 5-10 tahun.

Di indonesia, KLB sering terjadi di sekolah, asrama, karyawan perusahaan dengan jenis KLB common source dengan periode berkisar 1-2 bulan.Masa inkubasi 14-50 hari, rata-rata 28-30 hari. Masa penularan tinggi pada 1-2 minggu sebelum timbulnya gejala sampai beberapa hari setelah timbulnya tanda-tanda mata kuning dan air kencing berwarnaa sepertiair teh, dan kuman dapat ditemukan dalam tinja sejak 1-2 minggu sebelum munculnyagejala dan menurun setelah gejala menghilang.Penularan HAV biasanya melalui fekal-oral, kontiminasi feses pada makanan atau minuman, atau dengan menelan kerang yang mengandung virus yang tidak di masak dengan baik. Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, karena penularan penyakit Hepatitis A ini cukup mudah, maka perlu dilakukan penelitiantentang penangulangan penyakit Hepatitis A.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian adalah bagaimana cara menangulangi penyakit Hepatitis A di RW 09 kelurahan Cipedes.

C. Ruang Lingkup Dalam makalah ini, akan dibahas tinjauan secara singkat mengenai penanggulangan penyakit Hepatitis A

D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk memenuhi tugas Kepanitera an Klinik Senior di Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Komunitas Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Puskesmas Cipedes dan meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai penanggulangan penyakit Hepatitis A. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui distribusi frekuensi penderita Hepatitis A berdasarkan pengetahuan masyarakat. b. Untuk mengetahui distribusi frekuensi penderita Hepatitis A berdasarkan penyehatan lingkungan . c. Untuk mengetahui distribusi frekuensi penderita Hepatitis A berdasarkan perilaku sehat. d. Distribusi frekuensi penderita Hepatitis A tertinggi berdasarkan penyuluhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan puskesmas.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Hepar Hepar merupakan kelenjar yang terbesar dalam tubuh manusia.Hepar pada manusiaterletak pada bagian atas cavum abdominis, di bawah diafragma, di kedua sisi kuadran atas,yang sebagian besar terdapat di sebelah kanan.Beratnya 1200 1600 gram.Permukaanatas terletak bersentuhan di bawah diafragma, permukaan bawah terletak bersentuhan di atasorgan-organ abdomen.Hepar difiksasi secara erat oleh tekanan intraabdominal dandibungkus oleh peritoneum kecuali di daerah posterior-superior yang berdekatan denganv.cava inferior dan mengadakan kontak langsung dengan diafragma. Bagian yang tidak diliputi oleh peritoneum disebut bare area.Terdapat refleksi peritoneum dari dinding abdomenanterior, diafragma dan organ-organ abdomen ke hepar berupa ligamen. Macam-macam ligamennya: 1. Ligamentum falciformis :Menghubungkan hepar ke dinding anterior abdomen danterletak di antara umbilicus dan diafragma. 2. Ligamentum teres hepatis = round ligament :Merupakan bagian bawah lig. falciformis ;merupakan sisa-sisa peninggalan v.umbilicalis yg telah menetap. 3. Ligamentum gastrohepatica dan ligamentum hepatoduodenalis :Merupakan bagian dariomentum minus yg terbentang dari curvatura minor lambung dan

duodenumsebelah proximal ke hepar. Di dalam ligamentum ini terdapat Aa.hepatica, v.porta danduct.choledocus communis. Ligamen hepatoduodenale turut membentuk tepi anterior dariForamen Wislow. 4. Ligamentum Coronaria Anterior kirikanan dan Lig coronaria posterior kirikanan :Merupakan refleksi peritoneum terbentang dari diafragma ke hepar. 5. Ligamentum triangularis kiri-kanan :Merupakan fusi dari ligamentum coronaria anterior dan posterior dan tepi lateral kiri kanan dari hepar.Secara anatomis, organ hepar terletak di hipochondrium kanan dan epigastrium, danmelebar ke hipokondrium kiri. Hepar dikelilingi oleh cavum toraks dan bahkan pada orangnormal tidak dapat dipalpasi (bila teraba berarti ada pembesaran hepar). Permukaan lobuskanan dpt mencapai sela iga 4/ 5 tepat di bawah aerola mammae. Lig falciformis membagihepar secaratopografis bukan secara anatomis yaitu lobus kanan yang besar dan lobus kiri

Gambar 1. Anatomi Hepar

B. Fungsi Hepar Heparmerupakan pusatdarimetabolisme seluruhtubuh, merupakan

sumber energitubuh sebanyak 20% serta menggunakan 20 25% oksigen darah. Ada beberapa fungsi hatiyaitu: 1. Fungsi hati sebagai metabolisme karbohidrat. Pembentukan dan pemecahan karbohidrat, lemak dan protein saling berkaitan 1 sama lain. Hati mengubah pentosa dan hektosa menjadi yang diserap dari usus halus menjadi glikogen. Proses ini disebut glikogenesis. Glikogen ditimbun dihati kemudian hati akan memecahkan glikogen menjadi glukosa. Mekanisme ini disebut glikogenelisis. Karena proses in hati merupakan sumber utama pembentukan glukosa, selanjutnya hati

memecahkan glukosa menjadi heksosa monophospat shunt dan terbentuknya pentosa. Pembentukan pentosa mempunyai beberapa tujuan : menghasilkan energi, biosintesis dari nukleotida, nucleic acis dan ATP. 2. Fungsi hati sebagai metabolisme lemak Hati tidak hanya membentuk/ mensintesis lemak tapi sekaligus mengadakan katabolisisasam lemak. Asam lemak dipecah menjadi beberapa komponen : a.Senyawa 4 karbon keton bodies b.Senyawa 2 karbon active acetate(dipecah menjadi asam lemak dan gliserol) c. Pembentukan cholesterol

d. Pembentukan dan pemecahan fosfolipid. Hati merupakan pembentukan utama, sintesis, esterifikasi dan ekskresi kholesterol.Dimana serum Cholesterol menjadi standar pemeriksaan metabolisme lipid 3. Fungsi hati sebagai metabolisme protein Hati mensintesis banyak macam protein dari asam amino. Dengan proses deaminasi, hati juga mensintesis gula dari asam lemak dan asam amino. Dengan proses transaminasi, hatimemproduksi asam amino dari bahan-bahan non nitrogen. Hati merupakan satu-satunyaorgan yg membentuk plasma albumin dan globulin danorgan utama bagi produksi urea.globulin selain dibentuk didalam hati, juga dibentuk di limpa dan sumsum tulang. globulin hanya dibentuk didalam hati. Albumin mengandung 584 asam amino dengan BM66.000. 4. Pembentukan dan ekresi empedu 3 a. Metabolisme garam empedu : garam empedu penting untuk pencernaan dan absorbsi lemak serta vitamin larut lemak (vitamin A, D, E, K) didalam usus. b. Metabolisme pigmen empedu : Bilirubin (pigmen empedu utama) merupakan hasil akhir metabolisme pemecahan eritrosit yang sudah tua. Proses konjugasi berlansung dalam hati dan ekresi kedalam empedu

C. Definisi Hepatitis adalah peradangan arti istilah umum dari hati dan dapat disebabkan oleh berbagai berbeda virus seperti A, B, C, D, E. Manifestasipenyakit hepatitis akibat virus bisa akut ( Hepatitis A )dapat pula Hepatitis kronik ( hepatitis B,C ) dan adapulayang kemudian menjadi kanker hati ( Hepatitis B dan C ).4, 5

D. Etiologi dan faktor resiko Hepatitis A disebabkan oleh virus Hepatitis A (HAV).HAV merupakan jenis infeksi hepatitis virus yang paling sering di Amerika Serikat.Namun kasus ini menurun sejak tahun 1970-an. HAV lazim terjadi pada anak dan dewasa muda. Terdapat peningkatan insidensi pada musim tertentu yaitu pada musim gugur dan musim dingin.3 HAV terutama ditularkan per oral dengan menelan makanan yang sudah terkontiminasi feses. Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak atau terjadi akibatkontak dengan orang terinfeksi melalui kontiminasi feses pada makanan atau minuman, atau dengan menelan kerang yang mengandung virus yang tidak di masak dengan baik.3 HAV diekresikan di tinja oleh orang yang terinfeksi selam 1-2 minggu sebelum dan 1 minggu setelah awitan penyakit. Masa penularan tertinggi adalah pada minggu satu sampai kedua sebelum timbulnya gejala sampai beberapa hari setelah timbulnya tanda-tanda mata dan air kencing berwarna seperti air teh, dan kuman dapat ditemukan pada tinja sejak satu sampai dua minggu sebelum
8

munculnya gejala dan menurun setelah gejala menghilang. Penularan ditunjang oleh sanitasi yang buruk, kesehatan pribadi yang buruk dan kontak yang intim (tinggal serumah atau seksual). Masa inkubasi Hepatitis A 15-50 hari (rata-rata 30 hari).2, 6 Virus ini mengganggu fungsi hati sambil mereplikasi dalam

hepatosit.Sistem kekebalan individu ini kemudian diaktifkan untuk menghasilkan reaksi spesifik untuk memerangi dan mungkin membasmi infeksi virus. Sebagai kompensasi dari kerusakan hati terjadi peradangan atau Hepatitis. 5 Faktor resiko penyakit Hepatitis A, diantaranya:6 1. Transmisi enterik (fekal-oral) predominan diantara anggota keluarga. Kejadian luar biasa (KLB) dihubungkan dengan sumber umum yang digunakan bersama, makanan yang terkontiminasi dan air. 2. Pusat perawatan sehari-hari untuk bayi atau anak batita. 3. Berpergian ke negara berkembang 4. Perilaku seks oral anal

E. Patologi Perubahan morfologi yang terjadi pada hati seringkali mirip untuk berbagai macam virus yang berlainan.Pada kasus yang klasik hati tampaknya berukuran dan berwarna yang normal, namun kadang-kadang agak edema, membesar dan pada palpasi terdapat nyeri ditepian.Secara histologis, terjadi kekacauan susunan hepatoseluler, cedera dan nekrosis sel hati dalam berbagai
9

derajat, dan perandangan periportal. Perubahan ini bersifat reversibel sempurna, bila fase akut penyakit mereda.3

F. Gambaran klinis Sebagian besar infeksi HAV bersifat ringan dengan penyembuhan sempurna dan memiliki gambaran klinis yang serupa. Gejala prodromal timbul pada semua penderita dan dapat berlangsung selama satu atau dua minggu sebelum awitan ikterus (meskipun tidak semua pasien mengalami

ikterus).Gambaran utama pada saat ini adalah malaise, rasa malas, anoreksia, sakit kepala, demam derajat rendah. Disamping itu, di abdomen kuadran kanan atas dapat terasa tidak nyaman.3 Fase prodromal di ikuti oleh fase ikterik dan awaitan ikterus.Fase ini biasanya berlangsung selama empat hingga enam minggu namun dapat mulai mereda dalam beberapa hari.Beberapa hari sebelum ikterus, biasanya penderita merasa lebih sehat.Nafsu makan penderita kembali setelah beberpa minggu. Bersamaan dengan demam yang mereda, urine menjadi lebih gelap dan feses memucat, hati membesar sedang dan terasa nyeri. 3

10

Gambar 2. Gambaran sklera ikterik Menurut WHO tahun 2000, terdapat 4 fase klinis dari Hepatitis A; 1. Fase inkubasi atau periode praklinis, mulai dari 10 sampai 50 hari, di mana pasien tetap asimtomatik meskipun replikasi aktif virus. 2. Fase prodromal atau preicteric mulai dari beberapa hari sampai lebih dari seminggu, ditandai dengan munculnya gejala seperti hilangnya nafsu makan, kelelahan, nyeri perut, mual dan muntah, demam, diare, urin gelap. 3. Fase ikterik, selama penyakit kuning berkembang pada tingkat bilirubin total melebihi 20 - 40 mg / l. Pasien sering mencari bantuan medis pada tahap penyakit mereka. Fase ikterik biasanya dimulai dalam waktu 10 hari dari gejala awal. Demam biasanya membaik setelah beberapa hari pertama penyakit kuning. Viremia berakhir tak lama setelah hepatitis berkembang, meskipun tinja tetap menular selama 1 - 2 minggu. 4. Masa penyembuhan, di mana resolusi penyakit ini lambat, tapi pemulihan pasien lancar dan angka kekambuhan penyakit Hepatitis terjadi pada 3 20 kasus.

11

G. Pemeriksaan penunjang Kelainan biokimia yang paling didni adalah peningkatan kadar AST (Asparatate aminotransferase) dan ALT (alanine aminotransferase), yang mendahului awitan ikterus 1 atau 2 minggu. Konsentrasi puncak bervariasi dari 500 sampai 5000 U/L. Pemeriksaan urine pada saat awitan menunjukan adanya bilirubin dan kelebihan urobilinogen. Bilirubin urin menetap selama penyakit berangsung, namun urobilinogen urine akan menghilang untuk sementara waktu bila terjadi fase obstruktif akibat kolestasis, dalam penyakit selanjutnya dapat timbul peningkatan urobilinogen urine sekunder. 3, 6 Pase ikterik dikaitkan dengan hiperbilirubinemia (baik bilirubin terkonjugasi maupun tak terkonjugasi) yang biasanya kurang dari 10 mg/dl.Kadar fosfatase alkali serum biasanya normal atau sedikit meningkat.Leukositosis ringan lazim ditemukan pada hepatitis virus, dan waktu protombin dapat memanjang antara 1-3 detik. Pada kasus yang tidak berkomplikasi, penyembuhan dimulai 1 atau 2 minggu setelah awitan ikterus, dan berlangsung 2 hingga 6 minggu. Keluhan yang lazim adalah mudah lelah.Hepatomegali baru kembali normal setelah beberapa minggu kemudian. Hasil pemeriksaan laboratorium dan hasil uji fungsi hati yang abnormal dapat menetap selama 3 hingga 6 bulan. 3, 6 Diagnosis konfirmasi adalah kasus disertai hasil pemeriksaan serologi ditemukan IgM positif atau pemeriksaan lain menunjukan positif Hepatais A dan deteksi virus dan atau antigen dalam feses.Pada awal penyakit, kehadiran IgG antiHAV selalu disertai dengan adanya IgM anti- HAV.IgM anti HAV dapat dideteksi
12

selama fase akut dan 3 sampai 6 bulan setelahnya.Seperti IgG anti-HAV berlanjut seumur hidup setelah infeksi akut, adanya anti-HAV yang positif tanpa IgM anti HAV mengindikasikan infeksi lampau.2, 5, 6

H. Pengobatan Infeksi Hepatitis A merupaka infeksi yang dapat sembuuh spontan. 1. Rawat jalan, kecuali pasien dengan mual atau anoreksia berat yang dapat menyebabkan dehidrasi. 2. Mempertahankan asupan kalori dan cairan yang adekuat a. Tidak ada rekomendasi diet khusus b. Makan pagi dengan porsi yang cukup besar merupakan makanan yang paling baik ditoleransi c. Menhindari konsumsi alkohol selama fase akut d. Diet rendah lemak dan tinggi karbohidrat umunya makanan yang paling dapat dimakan oleh penderita. Pemberian makanan secara intravena munkin perlu diberikan selama fase akut bila pasien terus-menerus muntah. 3. Aktivitas fisik yang berlebihan dan berkepanjangan harus dihindari. 4. Pembatasan aktivitas sehari-hari tergantung dari derajat kelelahan dan malaise. 5. Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk Hepatitis A.

13

I. Pencegahan Hepatitis A ditularkan melalui faecal-oral. Oleh karenanya, salah satu cara pencegahan adalah proses memasak harus dilakukan dengan baik. Ada 5 tips penting, khususnya bagi pembuat atau penjual makanan agar makanan yang diproduksi aman dari virus Hepatitis A.Lima tips tersebut adalah 7 1. Pertama, menjaga kebersihan dengan cuci tangan sebelum masak dan setelah keluar toilet, cuci alat-alat masak dan alat makan, dapur harus bersih, tidak ada binatang, serangga dll. 2. Kedua, pisahkan bahan makanan matang dan mentah dengan menggunakan alat dapur dan alat makan yang berbeda serta simpan di tempat berbeda. 3. Ketiga, masak makanan hingga matang. Masak sampai matang, terutama daging, ayam, telur, seafood, rebus sup hingga 70 derajat Celcius. Untuk daging dan ayam, pastikan tidak masih berwarna pink serta panaskan makanan yang sudah matang dengan benar. 4. Keempat, simpan makanan di suhu aman. Jangan simpan makanan matang di suhu ruangan terlalu lama, masukan makanan ke dalam lemari es bila ingin disimpan, sebelum dihidangkan, panaskan sampai lebih dari 60 derajat celcius, serta jangan simpan terlalu lama di lemari es. 5. Kelima, gunakan air yang bersih dan bahan makanan yang baik. Pilih bahan makanan yang segar, air yang bersih, proses memasak yang baik, cuci buah dan sayur dengan baik, serta tidak menggunakan bahan makanan yang sudah kadaluarsa.
14

Gambar 3. Cara mencegah penularan Hepatitis A Pengobatan lebih ditekankan pada pencegahan imunisasi karena keterbatan pengobatan Hepatitis virus.Kini tersedia imunisasi pasif dan aktif untuk HAV maupun HBV. Pada bulan Februari 1995, vaksin pertama untuk HAV disetujui untuk dilisensikan oleh FDA ( Food and Drug Administration) Amerika Serikat. Pencegahan dengan imunoprofilaksis: 1. Imunoprofilaksis sebelum paparan. Vaksin diberikan dengan rekomendasi untuk jadwal pemberian dua dosis bagi orang dewasa berumur 18 tahun dan yang lebih tua, dan dosis kedua diberikan 6 hingga 12 bulan setelah dosis pertama. Anak berusia lebih dari 2 tahun dan remaja diberi tiga dosis, dosis kedua diberikan satu bulan setelah dosis pertama dan dosis ketiga diberikan 6 hingga 12 bulan berikutnya.Anak

15

berusia kurang dari 2 tahun tidak divaksinasi. Cara pemberian adalah suntikan intramuskular (IM) dalam otot deltoideus.3 Indikasi pemberian vaksin HAV diantaranya: 6 a. b. c. d. Pengunjung ke daerah risiko tinggi Homoseksual dan biseksual Anak dan remaja pada daerah yang pernah mengalami kejadian luar biasa Anak pada daerah dimana angka kejadian HAV lebih tinggi dari angka nasional e. f. g. Pasien yang rentan terhadap penyakit kronis Pekerja laboratorium yang menagani HAV Pekerja pada pembuangan air.

2. Imunoprofilaksis pasca paparan a. Keberhasilan vaksin HAV setelah paparan belum jelas b. Keberhasilan imunoglobulin sudah nyata akan tetapi tidak sempurna c. Dosis dan jadwal pemberian imunoglobulin Dosis 0,02 ml/kg, suntikan pada daerah deltoid sesegera mungkin setelah paparan Toleransi baik, nyeri pada daerah suntikan Indikasi : kontak erat dan kontak dalam rumah tangga dengan infeksi HAV akut

16

J. Komplikasi Sejumlah kecil pasien (kurang dari 1%) memperlihatkan kemunduran klinis yang cepat setelah awitan ikterus akibat hepatitis fulminan dan nekrosis hati masif.Hepatitis fulminan ditandai dengan tanda dan gejala gagal hati akut sampai penciutan hati, kadar bilirubin serum meningkat cepat, pemanjang waktu protombin yang sangat nyata, dan koma hepatikum. HBV merupakan penyebab 50% kasus Hepatitis fulminan. Sekita 5 hingga 10% pasien hepatitis virus mengalami kekambuhan setelah sembuh dari serangan awal.Hal ini biasanya berkaitan dengan individu berada dalam risiko tinggi (misal, penyalah gunaan zat, dan penderita karier). Tirah baring biasanya akan segera diikuti kesembuhan.

I. Wabah dan Kejadian Luar Biasa (KLB) Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.Menteri menetapkan dan mencabut daerah tertentu dalam wilayah Indonesia yang terjangkit wabah sebagai daerah wabah (UU No. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular). Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu

17

daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah (Permenkes RI No. 949/Menkes/SK/VIII/2004). Wabah/KLB Hepatitis A ditetapkan apabila terdapat dua kasus klinis atau lebih yang berhubungan secara epidemiologis dalam waktu kurang dari 35 hari.Berhubungan secara epidemiologi yaitu adanya kesamaan tempat tinggal, tempat kerja, sekolah atau tempat jajan. Cara penyelidikan: 1. Koordinasi tim penyelidikan sesuai bidang keakhliannya atau memahami penyakit. 2. Penyiapan administrasi, alat, dan bahan (surat tugas, kuesioner, bahan laboratorium, dll) 3. Pengumpulan data (data prrmer dan data sekunder) Data yang dikumpulkan harus mencakup variabel yang akan menjawab tujuan penyelidikan seperti : a. Penetapan diagnosis Hepatitis A 1). Diagnosis klinis Hepatitis A berupa panas mendadak, lelah, nafsu makan menurun, mual dan perut kembung, yang diikut dengan warna kulit kuning, mata dan air kencing berwarna air teh. 2). Diagnosis konfirmasi adalah kasus disertai hasil pemeriksaan serologi ditemukan IgM positif atau pemeriksaan laboratorium lainnya yang menunjukan positif Hepatitis A.

18

b.

Identifikasi faktor resiko 1). Identifikasi cakupan imunisasi HB1, 2, dan 3. 2). Identifikasi pengunaan sarana air bersih, sumber makanan minuman, pengelohan makanan minuman, dan sanitasi tempat tinggal.

c.

Pencarian kasus tambahan dilakukan dengan Pencarian kasus tambahan dilakukan dengan 1). Pendataan ke sarana pelayanan kesehatan, praktik swasta mencari kasus yang berobat dengan kelurahan menyerupai kasus Hepatitis A. 2). Mewawancarai penduduk disekitar kasus mengenai keluhan yang menyerupai kasus Hepatitis A.

19

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Data Umum Puskesmas 1. Geografi Kondisi geografis Kecamatan Cipedes terdiri dari wilayah dataran dan persawahan. Letak Wilayah Kerja Puskesmas Cipedes merupakan satu dari tiga Puskesmas yang berada di Wilayah Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya yang berada di sebelah Utara dengan jarak sekitar 5 km dari Ibukota Kota Tasikmalaya yang dihubungkan dengan jalan raya beraspal dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Selatan Sebelah Barat : : : : KelurahanNagarasari Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Cigeureung . KelurahanPanglayungan Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Panglayungan . KelurahanPanglayungan Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Panglayungan . KelurahanPanyingkiran Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Indihiang . Secara Administratif Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Cipedes termasuk ke Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya terdiri dari 1 Kelurahan, 13 RW dan 68 RT, dengan luas 220,072 ha. 2. Lingkungan Kondisi fisik Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Cipedes dilihat dari penggunaan lahan terdiri dari : pesawahan : 23,4 ha. dan tanah perumahan
20

dan lainnya 196,672 ha. Jumlah rumah yang ada sebanyak 3.297 buah.Sarana transportasi di semua Kelurahan sudah bisa dilalui oleh kendaraan roda empat. 3. Kependudukan Puskesmas Cipedes dalam 5 tahun terakhir merupakan daerah dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,2% dengan jumlah penduduk pada tahun 2007 sebanyak 14.489 jiwa, pada tahun 2008 sebanyak 14.489 jiwa, tahun 2009 sebanyak 14.462 jiwa, pada tahun 2010 sebanyak 14.585 jiwa dan pada tahun 2011 sebanyak 14.427 jiwa. B. Jalannya Penelitian Penelitian yang berjudul Upaya Penangulangan Penyakit Hepatitis A di Wilayah Kerja Puskesmas Cipedes Kota Tasikmalaya dilakukan pada bulan Oktober 2012 dengan cara menyebarkan kuesioner kepada ibu yang berkunjungke Posyandu yaitu Posyandu Kartika sebanyak 30 orang dan Posyandu Al-Fatuhrohman sebanyak 12 orang. Setelah semua data terkumpul maka dilakukan pengolahan data dan analisa data dengan bantuan perangkat komputer.

21

C. Definisi Operasional Tabel 1. Definisi operasional N o 1 Variabel Kejadian Hepatitis A Definisi Operasional Hepatitis A adalah penyakit infeksi hatiyang disebabkan oleh virus Hepatitis A Alat ukur Kuesioner Cara ukur Wawan cara Hasil ukur (0)Positif=Menderi ta Hepatitis A (1) Negatif=Tidak menderita Hepatitis A Skala ukur Ordinal

Penyehatan lingkungan

Kondisi sosial serta pendapatan responden atau keluarga Perilaku sehat adalah pengetahuan, sikap dan tindakan proaktif untuk memlihara dan mencegah penyakit Hal-hal yang diketahui ibu tentang penyakit Hepatitis A

Kuesio ner

Wawan cara

Perilaku sehat

Kuesio ner

Wawan cara

(0)Kurang = lebih rendah dari nilai mean (6.3) (1)Baik = lebih tinggi dari nilai mean (6.3) (0) Kurang = Lebih rendah dari nilai mean (6.6) (1) Baik = Lebih tinggi dari nilai mean (6.6)

Ordinal

Ordinal

Pengetahuan ibu

Kuesio ner

Wawan cara

Penyuluhan kesehatan

Penyuluhan Kuesio kesehatan yang ner dilakukan oleh tenaga kesehatan puskesman

Wawan cara

(0)Kurang=Lebih rendah dari nilai mean (4.8) (1)Baik=Lebih tinggi dari nilai mean(4,8) (0) Kurang = lebih rendah dari nilai mean (5.2) (1) Baik = lebih dari nilai mean (5.2)

Ordinal

Ordinal

22

E. Hasil dan Pembahasan Penelitian Dari hasil pengukuran kadar glukosa darah di Rw 005 didapatkan hasil pengukuran sebagai berikut : 1. Angka kejadian Hepatitis A Tabel 2. Distribusi Pengetahuan masyarakat di RW 09 Puskesmas Cipedes Kota Tasikmalaya tahun 2012 Persentase Penyehatan Lingkungan Frekuensi Positif Negatif 10 32 23.8% 76.2%

Berdasarkan tabel diatas didapatkan distribusi frekuensi responden dengan angka kejadian Hepatitis A di RW 09 sebanyak 10 orang dengan persentase 23.8% sedangkan responden yang tidak menderita penyakit Hepatitis A sebanyak 32 orang dengan persentase 76.2%. 2. Pengetahuan Tabel 3. Distribusi Pengetahuan masyarakat di RW 09 Puskesmas Cipedes Kota Tasikmalaya tahun 2012 Persentase Penyehatan Lingkungan Frekuensi Baik Kurang baik 20 22 47.7% 52.3%

Berdasarkan tabel diatas didapatkan distribusi frekuensi responden dengan tingkat kemampuan baik sebanyak 20 orang dengan persentase 47.7% sedangkan responden dengan tingkat kemampuan kurang baik sebanyak 22

23

orang dengan persentase 52.3%. Salah satu yang tidak dapat dipungkiri bahwa kejadian Hepatitis A terkait erat dengan pengetahuan tentang Hepatitis A yang dimiliki oleh masyarakat khususnya ibu, karena ibu sebagai

penanggungjawab utama dalam pemeliharaan kesejahteraan keluarga. Mereka mengurus rumah tangga, menyiapkan keperluan rumah tangga, merawat keluarga yang sakit, dan lain sebagainya. Pada masa balita dimana balita masih sangat tergantung kepada ibunya, sangatlah jelas peranan ibu dalam menentukan kualitas kesejahteraan anaknya.

3. Penyehatan Lingkungan Tabel 4. Distribusi Penyehatan Lingkungan di RW 09 Puskesmas Cipedes Kota Tasikmalaya tahun 2012 Persentase Penyehatan Lingkungan Frekuensi Baik Kurang baik 16 26 38.1 % 61.9 %

Berdasarkan tabel diatas didapatkan distribusi frekuensi responden dengan tingkat kesehatan lingkungan yang baik sebanyak 16 orang dengan persentase 38.1% sedangkan responden dengan tingkat kesehatan lingkungan kurang baik sebanyak 26 orang dengan persentase 61.9%.

24

Penyehatan lingkungan diantaranya: a. Penyediaan Air Bersih Mengingat bahwa ada beberapa penyakit yang dapat ditularkan melalui air antara lain adalah diare, kolera, disentri, hepatitis, penyakit kulit, penyakit mata, dan lain-lain, maka penyediaan air bersih baik secara kuantitas dan kualitas mutlak diperlukan dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari termasuk untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Untuk mencegah terjadinya penyakit tersebut, penyediaan air bersih yang cukup disetiap rumah tangga harus tersedia. Disamping itu perilaku hidup bersih harus tetap dilaksanakan. b. Pengelolaan Sampah Sampah merupakan sumber penyakit dan tempat berkembang biaknya vektor penyakit seperti lalat, nyamuk, tikus, kecoa dan sebagainya. Selain itu sampah dapat mencemari tanah dan menimbulkan gangguan kenyamanan dan estetika seperti bau yang tidak sedap dan pemandangan yang tidak enak dilihat. Oleh karena itu pengelolaan sampah sangat penting, untuk mencegah penularan penyakit tersebut. Tempat sampah harus disediakan, sampah harus dikumpulkan setiap hari dan dibuang ke tempat penampungan sementara. Bila tidak terjangkau oleh pelayanan pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir dapat dilakukan pemusnahan sampah dengan cara ditimbun atau dibakar.

25

c. Sarana Pembuangan Air Limbah Air limbah baik limbah pabrik atau limbah rumah tangga harus dikelola sedemikian rupa agar tidak menjadi penularan penyakit. Sarana pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat akan menimbulkan bau, mengganggu estetika dan dapat menjadi tempat perindukan nyamuk dan bersarangnya tikus, kondisi ini dapat berpotensi menularkan penyakit seperti leptospirosis, filariasis untuk daerah endemis filarial. Bila ada saluran pembuangan air limbah di halaman, secara rutin harus dibersihkan, agar air limbah dapat mengalir, sehingga tidak menimbulkan bau yang tidak sedap dan tidak menjadi tempat perindukan nyamuk (Dirjen PP & PL, 2010).

4. Perilaku sehat Tabel 5. Distribusi FrekuensiPerilaku Sehat di RW 09 Puskesmas Cipedes Kota Tasikmalaya tahun 2012 Persentase Penyehatan Lingkungan Frekuensi Baik Kurang baik 24 18 57.2 % 42.8 %

Berdasarkan tabel diatas didapatkan jumlah responden denganperilaku baik sebanyak 24 orang dengan persentase 57.2% sedangkan responden dengan tingkat perilaku sehat kurang baik sebanyak 18 orang dengan persentase 42.8%.

26

Salah satu perilaku sehat meliputi: a. Menggunakan Air Bersih Yang Cukup Sebagian besar kuman infeksius penyebab Hepatitis A ditularkan melalui fecal-oral, kuman tersebut dapat ditularkan bila masuk ke dalam mulut melalui makanan, minumam atau benda yang tercemar dengan tinja, misalnya jari-jari tangan, makanan yang wadah atau tempat makan-minum yang dicuci dengan air tercemar. Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air yang benar-benar bersih mempunyai resiko menderita Hepatitis A lebih kecil disbanding dengan masyarakat yang tidak mendapatkan air bersih. Masyarakat dapat mengurangi resiko terhadap serangan Hepatitis A yaitu dengan

menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari sumbernya sampai penyimpanan di rumah. Yang harus diperhatikan oleh keluarga: 1. Ambil air dari sumber air yang bersih. 2. Simpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup serta gunakan gayungan khusus untuk mengambil air. 3. Jaga sumber air dari pencemaran oleh binatang dan untuk mandi anakanak. 4. Minum air yang sudah matang (dimasak sampai mendidih). 5. Cuci semua peralatan masak dan peralatan makan dengan air yang bersih dan cukup.
27

b. Mencuci Tangan Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan Hepatitis A adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun, terutama sesudah buang air, sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi makan anak dan sebelum makan, mempunyai dampak dalam kejadian Hepatitis A. c. Menggunakan Jamban Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penurunan resiko terhadap penyakit Hepatitis A. Keluarga yang tidak mempunyai jamban harus membuat jamban dan seluruh anggota keluarga harus buang air besar di jamban tersebut. Yang harus diperhatikan oleh keluarga: 1. Keluarga harus mempunyai jamban yang berfungsi baik dan dapat di pakai oleh seluruh anggota keluarga. 2. Bersihkan jamban secara teratur. 3. Gunakan alas kaki bila akan buang air besar.

28

5. Penyuluhan Kesehatan Tabel 6. Distribusi Frekuensi Penyuluhan Kesehatan di RW 09 Puskesmas Cipedes Kota Tasikmalaya tahun 2012 Persentase Penyehatan Lingkungan Frekuensi Baik Kurang baik 9 33 21.4 % 78.6 %

Berdasarkan tabel diatas didapatkan distribusi frekuensi penyuluhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang baik sebanyak 9 orang dengan persentase 21.4% sedangkan responden dengan kurang baik sebanyak 33 orang dengan persentase 78.6%. Seperti yang kita ketahui penyuluhan kesehatan berperan terhadap pengetahuan masyarakat tentang penyakit maupun

pencegahan dan penangulangan penyakit itu sendiri. Karena jika masyarakat tahu akan penyakit dan pencegahannya maka masyarakat lebih aktif menjaga hal-hal yang dapat mencegah penyakit dan menhindari sumber penyakit dan sumber penularan penyakit.

29

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. Pada penelitian ini yang dilakukan di RW 09 Kelurahan Cipedes Kota

Tasikmalaya Jawa Barat didapatkan jumlah penderita Hepatitis A sebanyak 10 orang dengan persentase 23.8% 2. Distribusi frekuensi penderita Hepatitis A tertinggi berdasarkan tingkat pengetahuan yaitu 22 orang dengan persentase 52.3% 3. Distribusi frekuensi penderita Hepatitis A tertinggi berdasarkan tingkat penyehatan lingkungan kurang baik yaitu 26 orang dengan persentase 61.9%. 4. Distribusi frekuensi penderita Hepatitis A tertinggi berdasarkan tingkat perilaku sehat yang baik yaitu 24 orang dengan persentase 57.2% 5. Distribusi frekuensi penderita Hepatitis A tertinggi berdasarkan penyuluhan yang kurang baik yaitu sebanyak 33 orang dengan persentase 78.6%.

B. Saran 1. Bagi Puskesmas, perlunya upaya penyuluhan intensif dan kerja sama terpadu antara puskesmas dan pihak terkait dalam rangka penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit Hepatitis A. 2. Bagi peneliti hasil ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan terutama mengenai penyakit Hepatitis A.

30

Anda mungkin juga menyukai