Anda di halaman 1dari 12

KONTRAKSI OTOT GASTROKNEMOUS DAN OTOT JANTUNG KATAK

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Cikha Farahdiba Iman : B1J011157 :V :4 : Rio Rakhmanandika S.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2013

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Hewan vertebrata atau hewan bertulang belakang memiliki sebuah kelebihan dibandingkan hewan tak bertulang belakang. Salah satu kelebihannya yaitu lokomosi atau kemampuan untuk bergerak secara kontinuitas dan didukung dengan bentuk tubuh hewan tersebut. Amfibi merupakan hewan yang memiliki lokomosi yang unik, karena pergerakan yang dilakukan oleh hewan kelas ini ialah dengan cara melompat. Kemampuan melompat hewan Amfibi dipengaruhi oleh keberadaan otot sebagai alat gerak pasif pada bagian ekstrimitasnya (Hickman, 1972). Otot gastroknemus merupakan salah satu otot yang terdapat pada bagian ekstrimitas posterior katak yang memungkinkan katak untuk melompat. Otot gastroknemus ini terletak pada bagian tibia dan merupakan jenis otot rangka yang melekat pada pertulangan dan bekerja secara volunteer (sadar). Otot gastroknemus katak memiliki respon yang sangat cepat terhadap stimulus dan mampu melompat sangat jauh dengan tenaga yang sangat kuat terutama ketika ada pemangsa (Prosser,1961). Selain itu, keberadaan jantung juga menjadi pembeda antara hewan avertebrata dan hewan vertebrata. Jantung merupakan organ pemompa darah baik untuk seluruh tubuh maupun untuk ke beberapa organ lainnya. Jantung memiliki peranan sangat vital pada setiap hewan vertebrata. Kelas amfibi memiliki jantung sebesar biji kacang polong dan diselaputi oleh perikardium atau pembungkus jantung. Jantung dapat memompa banyak darah pada hewan terutama pada amfibi dikarenakan adanya kontraksi yang disebabkan oleh otot jantung (Gordon, 1981).

1.2 Tujuan Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui efek perangsangan elektrik terhadap besarnya respon kontraksi otot gastroknemus dan efek perangsangan kimia terhadap kontraksi otot jantung katak.

II.

MATERI DAN CARA KERJA

2.1 Materi Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini ialah Katak hijau (Fejervarya cancrivora), larutan ringer katak dan larutan Asetilkolin 3 5 %. Alat yang digunakan ialah Universal Kimograf, baki, pinset, gunting bedah, benang dan jarum.

2.2 Cara Kerja A. Kontraksi Otot Gastroknemus 1. Universal Kimograf disiapkan, kemudian Katak (Fejervarya cancrivora) dilemahkan dengan menusuk bagian diantara kedua mata pada katak dengan jarum atau gunting bedah. 2. Katak diletakkan pada bak preparat lalu buat irisan melingkar pada daerah pergelangan kaki katak. 3. Tepi kulit dipegang lalu dipotong dan disingkap hingga terbuka ke bagian lutut. 4. 5. Otot gastroknemus dipisahkan. Tendon diikat dengan benang, lalu tendon achilles digunting dan setelah itu otot gastroknemus dibasahi dengan larutan ringer. 6. Katak diletakkan pada keimograf kemudaian diberi rangsangan elektrik dairi mulai 0, 5, 10, 15, 20, 25 volt 7. Hasil dicatat dan dibuat tabel dan grafik.

B. Kontraksi Otot Jantung 1. Katak dilemahkan dengan menusuk bagian diantara kedua mata pada katak dengan jarum atau gunting bedah. 2. Bagian dada dibedah mulai dari perut hingga jantung katak terlihat, kemudian perikardiumnya disobek. 3. Kontraksi otot jantung diamati selama 15 detik.

4.

Asetilkolin diteteskan 1-2 tetes lalu kontraksi otot jantung diamati kembali selama 15 detik.

5.

Kontraksi otot jantung sebelum dan sesudah ditetesi Asetilkoli 3-5 % dibandingkan.

6.

Hasil dicatat dalam tabel.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Tabel 1. Kontraksi Otot Gastroknemus Voltase 0 5 10 15 20 25 Amplitudo (mm) 0 0 0 2 3,1 6,9

Tabel 2. Kontraksi Otot Jantung Sebelum dan Sesudah ditetesi Asetilkolin Kelompok 1 2 3 4 Asetilkolin 3-5 % Sebelum 68 60 64 32 Sesudah 16 56 60 68

Grafik Kontraksi Otot Gastroknemus


Grafik Hubungan Antara Voltase Dengan Amplitudo Pada Kontraksi Otot Gastroknemous
8 7 6 5 4 3 2 1 0 0 5 10 15 20 25 Amplitudo (mm)

3.2 Pembahasan Hasil pengamatan yang dilakukan pada percobaan menggunakan katak yang diberi stimulus pada otot gastroknemus sebesar 0 volt, 5 volt, 10 Volt, 15 volt, 20 Volt dan 25 Volt. Hasil yang didapatkan yaitu 0 mm; 0 mm; 0 mm; 2 mm; 3,1 mm dan 6,9 mm. Ini sesuai dengan pernyataan Storer (1961) yang menyatakan bahwa semakin tinggi rangsangan yang diberikan maka amplitudo yang terukurpun akan semakin besar. Hal ini terjadi karena daya rangsangan akan memberikan stimulus pada reseptor yang kemudian akan dijawab dengan kontraksi otot gastroknemus yang masih berfungsi dengan bantuan larutan ringer katak, mesti katak telah mati. Sedangkan pada 0 volt, 5 volt dan 10 Volt menghasilkan 0 mm dikarenakan pada voltase tersebut, kurang memberi rangsangan atau katak bisa dikatakan tidak peka terhadap rangsangan tersebut.
Grafik Hubungan Antara Voltase Dengan Amplitudo Pada Kontraksi Otot Gastroknemous
8 7 6 5 4 3 2 1 0 0 5 10 15 20 25 Amplitudo (mm)

Berdasarkan grafik hasil pengamatan menunjukkan bahwa semakin tinggi rangsangan (voltase) akan mempengaruhi peningkatan amplitudo. Gordon (1981), menyatakan bahwa voltase yang diberikan terhadap otot akan mempengaruhi besarnya respon dalam bentuk amplitudo (simpangan). Beban yang diberikan juga akan mempengaruhi kelenturan otot yang diuji. Beban akan menarik otot lebih besar, maka ketika otot tersebut dirangsang dengan aliran listrik akan menghasilkan simpangan gerak. Storer (1961) berpendapat bahwa ketika rangsangan elektrik dimulai dari yang lemah maka hasilnya akan lemah dan akan meningkat secara bertahap sesuai dengan besarnya rangsangan. Ambang batas dari perangsangan di dapat ketika hasil kontraksi lemah, lebih lanjut peningkatan akan menghasilkan

kontraksi yang besar, selanjutnya akan menghasilkan sebuah titik dimana rangsangan masih besar dan tidak menghasilkan efek. Adapun jika terjadi data yang diperoleh tidak sesuai dengan teori, hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan. Kemungkinan yang mungkin terjadi diantaranya adalah kesalahan dalam menghitung rata-rata amplitudo, tombol pengatur voltage tidak stabil sehingga tidak sesuai dengan ukuran voltage yang harus diberikan, atau karena jumlah serabut yang berkontraksi dalam setiap individu berbeda-beda. Sesuai dengan pernyataan Kimball (1988) yang menyatakan bahwa banyaknya serabut pada otot tertentu. Peningkatan kekuatan dan ukuran otot diakibatkan oleh meningkatnya ketebalan individu serabut-serabut dan bertambahnya jumlah jaringan lain, seperti pembuluh darah dan jaringan penyambung dalam ototnya. Tidak tampak perubahan dalam serabut otot selama (dan segera sesudah) periode potensial aksi menjalar sepanjang serabut tersebut. Periode ini lamanya ratarata 3-10 m detik, bergantung pada serabut khusus yang diteliti. Disusul dengan kontraksi serabutnya. Lebih dari periode sekitar 50 m detik, serabut-serabut mengerahkan ketegangan dan jika mungkin memendek. Kontraksi itu, sebagaimana potensial aksi adalah menyeluruh atau tidak sama sekali, atau serabut itu berkontraksi secara maksimum atau tidak berkontraksi sama sekali. Berdasarkan hasil percobaan mengenai kontraksi otot jantung katak yang ditetesi dengan larutan asetilkolin menunjukkan perubahan yaitu sebelum di tetesi Asetilkolin dalam 15 detik tercatat 32 kali detak jantung, dan kemudian setelah di tetesi Asetilkolin dalam 15 detik tercatat 68 kali. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Ville et. al (1988) bahwa asetilkolin memberikan rangsangan secara kimiawi pada otot jantung katak, sehingga merangsang kerja otot jantung bekerja lebih cepat. Jadi fungsi dari asetilkolin adalah memberikan rangsangan kimiawi pada otot jantung katak. Selama perlakuan, otot gastroknemus katak harus selalu ditetesi larutan ringer. Fungsi larutan ringer katak adalah sebagai larutan fisiologis yang dapat memelihara sel-sel otot katak agar tetap dapat hidup. Oleh karena itu usahakan jangan sampai sel-sel otot katak kering. Faktor-faktor yang mempengaruhi kontraksi yaitu stimulus listrik yang diberikan pada otot akan menyebabkan otot berkontraksi secara simultan dan menggerakan grafik pada kertas sehingga semakin besar tegangan yang diberikan semakin jauh pin akan menyimpang dan menggoreskan grafik dikertas kimograf (Galambos, 1962). Ville et al. (1988) menyatakan bahwa

kontraksi otot disebabkan oleh kejutan listrik dan semakin tinggi voltnya, maka semakin banyak kontraksi ototnya. Kontraksi otot juga dipengaruhi oleh keadaan aktin, miosin dan ion kalsium. Kontraksi otot dapat diartikan sebagai suatu aktivitas yang menghasilkan suatu tegangan dalam otot. Biasanya kontraksi itu disebabkan oleh suatu impuls saraf. Neuron dan serabut-serabut otot yang dilayani merupakan suatu unit motor. Serabut otot secara individu merupakan satuan struktural otot kerangka, ini bukanlah merupakan satuan fungsional. Semua neuron motor yang menuju otot kerangka mempunyai akson-akson yang bercabang, masing-masing berakhir dalam sambungan neuromuskular dengan satu serabut otot. Impuls saraf yang melalui neuron dengan demikian akan memicu kontraksi dalam semua serabut otot yang padanya cabangcabang neuron itu berakhir (Hickman,1972). Mekanisme kontraksi otot diawali dari sebuah impuls saraf yang tiba pada persambungan neuromuscular yang akan dikontraksikan ke sarkomer oleh sistem tubulatransversal. Sarkomer otot akan menerima sinyal untuk kontraksi sehingga otot dapat berkontraksi. Sinyal elektrik dihantarkan menuju reticulum sitoplasmik (SR) yang merupkan sistem vesikel yang pipih. Membran SR yang secara normal nonpermeabel terhadap Ca2+ mengandung transmembran Ca2+ ATPase yang memompa Ca2+ ke dalam SR untuk mempertahankan kontraksi Ca2+ pada saat otot rileks. Kedatangan impuls saraf membuat SR menjadi impermeable terhadap Ca2+. Akibatnya Ca2+ terdifusi melalui saluransaluran khusus Ca2+ menuju interior myofibril dan konsentrasi internal Ca2+ akan bertambah. Peningkatan konsentrasi Ca2+ ini cukup untuk memicu konformasial troponin dan tropomiosin. Akhirnya kontraksi otot terjadi dengan mekanisme perahu dayung, sedangkan mekanisme relaksasi diawali dengan penarikan Ca2+ dari filament tipis oleh SR. Ca2+ berdifusi dari filament tipis ke SR. Ca2+ dilepas dari komponen troponin Ca2+. Tropomiosin kembali ke posisi blocking kemudian cross bridge myosin aktin putus. Terakhir komponen myosin ATP dibentuk kembali dalam head dari filament tebal (Gunawan, 2001). Berdasarkan teori (Bhargava et al., 2004) menyatakan bahwa otot dapat berkontraksi apabila ada rangsangan dan secara fisiologis ion kalsium dilepaskan dan setiap kepala filamen miosin akan mengikatkan diri pada bagian aktif didekatnya. Salah satu molekul ATP digunakan dalam daur ulang pertautan, pembengkokan dan

pelepasan kepala miosin. Pengeluaran kalsium dari retikulum endoplasmik akan menyebabkan pemblokiran tempat aktif dan mencegah kontraksi lebih lanjut. Faktor-faktor yang mempengaruhi kontraksi otot gastroknemus menurut Hadikastowo (1982) antara lain: 1. Beban Pemberian beban menyebabkan kontraksi otot menurun daripada yang tidak diberi beban. 2. Panjang otot Panjang otot yang lebih pendek daripada normal atau lebih besar daripada normal maka tegangan aktif yang terjadi lebih sedikit sehingga kontraksi otot menurun. 3. Tegangan (Voltage) Semakin tinggi tegangan semakin tinggi pula kontraksi otot. 4. Jumlah serabut individu Kekuatan kontraksi seluruh otot meningkat dengan meningkatnya jumlah serabut individu yang berkontraksi. Pemberian voltase pada kaki katak terutam pada otot gastroknemus ini mengakibatkan adanya polarisasi respon pada saraf sehingga menekan ATP-ase dalam penyaluran ATP. Penyaluran ATP mengakibatkan otot bergerak oleh voltase tertentu. Selain itu, otot gastroknemus sangat peka dengan perubahan suhu dan kenaikan ataupun penurunan suhu mengakibatkan perubahan gerak isometrik dan lamanya waktu maksimum relaksasi otot (James et al., 2011). Kimball (1988) menyatakan bahwa otot jantung merupakan serabut otot beranastomose, memiliki garis seran lintang dan inti terletak ditengah dengan bentuk oval. Otot jantung terletak di jantung, umumnya otot ini tahan terhadap kelelahan. Prosser (1961) berpendapat bahwa sitoplasma serabut otot lurik penuh dengan miofibril yang longitudinal, tiap miofibril terdiri atas protein mikrofilamen longitudinal yang terdiri dari filamen tebal dan filamen tipis. Otot lurik umumnya terletak di otot rangka dan otot kulit. Jantung terbuat dari jaringan otot khusus yang tidak terdapat di manapun di seluruh tubuh. Lapisan pertama disebut endokardium yang berfungsi sebagai bagian dalam jantung. Lapisan kedua disebut miokardium yaitu otot utama jantung yang melaksanakan pemompaan untuk mensirkulasikan darah. Epikardium adalah lapisan ketiga otot jantung, tipis merupakan membran proteksi yang menutup sebelah luar

jantung (Agung, 2005). Kontraksi otot lurik vertebrata diatur melalui aktivasi dari filamen tipis karena Ca2+ mengikat ke sub unit troponin C (TNC) dari troponin, yang bersama-sama dengan tropomiosin terdiri dari filamen tipis (Richard dan Daniel, 2010). Otot yang banyak digunakan untuk bergerak seperti otot BF mempunyai myoglobin (penentu warna merah daging) yang lebih banyak daripada otot yang kurang banyak digunakan untuk bergerak (misalnya otot LD) (Purbowati et al., 2006). Menurut Frandson (1992), kontraksi otot jantung dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : 1. Treppe, summasi, tetani, fatique dan ragor. treppe atau staircase effect adalah meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu serabut otot karena stimulasi berurutan berseling beberapa detik. Pengaruh ini disebabkan karena konsentrasi ion Ca2+ didalam serabut otot yang meningkatkan aktivitas miofibril. 2. Summasi berbeda dengan treppe, pada summasi tiap otot berkontraksi dengan kekuatan yang berbeda yang merupakan hasil penjumlahan kontraksi dua jalan (summasi unit motor berganda dan summasi bergelombang). 3. Tetani yaitu peningkatan frekuensi stimulus dengan cepat sehingga tidak ada peningkatan frekuensi. 4. 5. Fatique adalah menurunnya kapasitas bekerja karena pekerjaan itu sendiri. Rigor dan rigor mortis adalah sebagian ATP dalam otot telah dihabiskan.

IV.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: : 1. Hasil pengamatan yang dilakukan pada percobaan menggunakan katak menunjukkan bahwa otot gastroknemus yang diberi stimulus sebesar 0 volt,5 volt, 10 Volt, 15 Volt, 20 Volt dan 25 Volt menghasilkan 0 mm; 0 mm; 0 mm; 2 mm; 3,1 mm dan 6,9 mm. 2. Voltase yang diberikan terhadap otot akan mempengaruhi besarnya respon dalam bentuk amplitudo.

DAFTAR REFERENSI

Agung, R. 2005. Realisasi Elektrokardiograf Berbasis Komputer Personal untuk Akuisisi Data Isyarat Elektris Jantung. Fakultas Teknik UNUD, Bali Bhargava, L. S., Marcus G. Pandy dan Frank C. Anderson. 2004. A Phenomenological Model for Estimating Metabolic Energi Consumption in Muscle Contraction. http: //www.bme.utexas.edu/faculty/pandy/final MS. Jan 2004 pdf. Frandson, R. D. 1992. Anatomi Fisiologi Ternak. UGM Press, Yogyakarta Galambos, R. 1962. Nerve and Muscles. Anchar Book, New York. Gordon, M. S. 1981. Animal Physiology. Mc Millan Publishing Inc, New York Gunawan, A.M.S. 2001. Mekanisme dan Mekanika Pergerakan Otot. Integral Vol. 6 (2): 58-62. Hadikastowo. 1982. Zoologi Umum. Alumni, Bandung. Hickman,C.P. 1972. Biology of Animal. The C.V. Mos by Company, Sant Louis. James, R.S, J.Tallis, A.Herrel and C.Bonneaud. 2011. Warmer is better: thermal sensitivity of both maximal and sustained power output in the iliotibialis muscle isolated from adult Xenopus tropicali. The Journal of Experimental Biology 215, 552-558. Kimball, J.W. 1988. Biologi Jilid II. Erlangga, Jakarta. Moss, Richard L. and Daniel P. Fitzsimons. 2010. Department of Physiology and Cardiovascular Research Center, University of Wisconsin School of Medicine and Public Health, Madison, WI 53706. Regulation of contraction in mammalian striated musclesthe plot thick-ens, Vol. 136(1): 21-27. Prosser, C.T. 1961. Comparative Animal Physiology. W.B. Saunders Company, London. Purbowati, E., C.I. Sutrisno, E. Baliarti, S.P.S. Budhi dan W. Lestariana.2006. Karakteristik Fisik Otot Longissimus Dorsi dan Biceps Femoris Domba. Vol.13.No.2.Th.2006 : 147-153. Storer, T. I. 1961. Element of Zoology. McGraw-Hill, New York. Ville, C. A., F. W. Warren, and R. D. Barnes. 1988. General Biology. W. B. Saunders Co., New York.