Anda di halaman 1dari 210

Analisis Produktivitas Hijau

Dalam Rangka

Keberlanjutan Produk Industri

Yunia Dwie Nurcahyanie Rusdiyantoro Sutrisno

Adibuana Press Surabaya

ANALISIS PRODUKTIVITAS HIJAU DALAM RANGKA KEBERLANJUTAN PRODUK INDUSTRI

ii

KutipanPasal44,Ayat1dan2,UndangUndangRepublikIndonesiatentangHAKCIPTA Tentang Sanksi Pelanggaran UndangUndang Nomor 19 Tahun 2002 tentang HAK CIPTA, sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang No.7 Tahun 1987 jo. UndangUndang No.12 Tahun1997,bahwa: 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau menyebarkan suatu ciptaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masingmasing paling singkat 1 (satu) bulan dan atau denda paling sedikit Rp.1.000.000, (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan ataudendapalingbanyakRp.5.000.000.000,(limamilyarrupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umumsuatuciptaanatauhasilpelanggaranHakCiptaatauHakTerkaitsebagaimanadimaksud padaayat (1)dipidana dengan pidanapenjara paling lama 5(lima) tahun dan atau dendapaling banyakRp.500.000.000,00(limaratusjutarupiah).

ANALISIS PRODUKTIVITAS HIJAU DALAM RANGKA KEBERLANJUTAN PRODUK INDUSTRI

Yunia Dwie Nurcahyanie Rusdiyantoro Sutrisno

Adibuana Press

iv
Yunia Dwie Nurcahyanie, Rusdiyantoro, Sutrisno ANALISIS PRODUKTIVITAS HIJAU DALAM RANGKA KEBERLANJUTAN PRODUK INDUSTRI @2013 Yunia Dwie Nurcahyanie, Rusdiyantoro, Sutrisno Edisi Pertama, Cetakan ke-2

Adibuana 2013.009 Hak Penerbitan pada Adibuana Press Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun, termasuk dengan cara menggunakan mesin fotokopi, tanpa izin sah dari penerbit Desain cover Percetakan Layout Editor Lab Desain Produk Teknik Industri Adibuana Surabaya Adibuana Press Nitabian Nitabian

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) YUNIA DWIE NURCAHYANIE, RUSDIYANTORO, SUTRISNO Analisis Produktivitas Hijau Dalam Rangka Keberlanjutan Produk Industri Surabaya; Adibuana Press, 2013 Ed.1, cet.1; xvi; 186 hlm; 23 cm ISBN 978-979-8559-18-1 Cetakan ke-2, September 2013 Adibuana Press Jl. Ngagel Dadi IIIB no. 37 Surabaya Telp. 031-5041097 Fax. 031-5042804 INDONESIA

Kata Pengantar
Beberapa tahun terakhir, perkembangan perhatian terhadap kelestarian lingkungan sangat gencar diberlakukan. Produktivitas hijau saat ini menjadi issue sentral dalam dunia industri jasa dan manufakturing. Untuk meningkatkan produktivitas hijau melalui awal produk dibuat, yaitu sejak tahap perancangan sampai produk tersebut sampai pada titik akhir hidup produk (end of life). Buku ini memberikan wawasan tentang peningkatan produktivitas yang berkaitan langsung dengan peningkatan kinerja perusahaan dan keuntungan ekonomi. Dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, kami sangat berharap buku ini mudah diterima dan mudah dicerna sehingga bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya baik untuk mahasiswa, praktisi, atau untuk menambah referensi di bidang analisis produktivitas. Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada Direktorat Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, atas dana penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang diberikan periode 2009 sampai 2012 Serta ucapan terimakasih kepada bapak Prof. Moses L. Singgih, PhD, yang telah berbesar hati bersedia menjadi reviewer draft buku ini sampai terbitnya. Terimakasih pula kepada Universitas PGRI Adi Buana Surabaya yang telah memberi kesempatan untuk melaksanakan proses cetak di Adibuana Press. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa membalas kebaikan semua pihak yang membantu terwujudnya buku ini. Amin.

Penulis

Daftar Isi
Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Bagian Satu
BAB 1 1.1 1.2 1.3 1.4 BAB 2 2.1 2.2 2.3 2.4 LINGKUNGAN DAN AKTIVITAS EKONOMI Aktivitas Ekonomi Dan Lingkungan Perkembangan Pola Konsumsi Perkembangan Industri Dan Penurunan Kualitas Lingkungan Industri Dan Peraturan-Peraturan Mengenai Lingkungan PRODUKTIVITAS Definisi Umum Produktivitas Pengaruh Perusahaan Terhadap Kinerja Karyawan Pengaruh Produktivitas Kerja Terhadap Pencapaian Tujuan Perusahaan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas

i v viii 1
3 3 5 6 6 9 9 12 12 14 17 17 19

BAB 3 PENGEMBANGAN BERKELANJUTAN 3.1 Usaha Menuju Pengembangan Berjelanjutan 3.2 Usaha Penerapan Produktivitas Berkelanjutan Untuk Usaha Kecil Dan Menengah Di Jawa Timur BAB 4 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 BAB 5 5.1 5.2 5.3 5.4 5.4.1 5.4.2 5.4.3 PRODUKTIVITAS HIJAU Definisi Produktivitas Hijau Paradigma Baru Produktivitas Pemicu Timbulnya Produktivitas Hijau Konsep Produtivitas Hijau GP Memastikan Peningkatan Keuntungan dan Kualitas Hidup Manfaat Penerapan Produktivitas Hijau LINGKUPAN KONSEP PRODUKTIVITAS HIJAU Perlindungan Pada Polusi Environment Management System (EMS) Struktur Dasar EMS Sertifikasi, Regristrasi Dan Akreditasi ISO Model EMS Lain : Emas Dan Responsible Care Benefit Bisnis Dengan EMS Aturan Green Productivity Dalam EMS

23 23 23 24 25 25 27 35 35 36 37 38 39 39 39

ii
5.5 5.6 5.7 5.8 5.9 5.10 Pengendalian Pencemaran Produksi Bersih Daur Ulang Pelarut dan Air Good House Keeping Industri Berwawasan Lingkungan Eco Design Daur Sumber Daya Alam Dan Persoalan Lingkungan Hidup 40 43 45 47 53 67

BAB 6 STUDI KASUS 6.1 Studi Kasus I 6.2 Studi Kasus 2

73 73 76

Bagian Dua
BAB 7 PERANAN PROSES PERANCANGAN PRODUK PADA SENTRA INDUSTRI KERAJINAN SKALA KECIL MENENGAH DALAM ERA PERDAGANGAN BEBAS 7.1 Industri Kerajinan Modern Di Indonesia 7.2 Karakteristik Pengusaha Sentra (Kasus Mebel Serenan) 7.3 Strategi Mencapai Desain Kerajinan Yang Diterima Di Era Global 7.4 Sistem Industri Kerajinan Tangan Terpadu (SIKATT) Di Industri Kerajinan Skala Besar BAB 8 DAUR HIDUP PRODUK BAB 9 WAKTU PELUNCURAN PRODUK BARU BAB 10 PENINGKATAN PRODUKTIVITAS BERDASARKAN PRODUK 10.1 Value Analysis/Value Engineering 10.2 Product Simplification

77
79

82 83 85 87

93 97 99 99 105

Bagian Tiga
BAB 11 INDUSTRI MANUFAKTUR BAB 12 HUMAN CAPITAL PADA INDUSTRI MANUFAKTUR BAB 13 HUMAN RESOURCE MANAGEMENT (HRM) PADA INDUSTRI MANUFAKTUR

117
119 123

125

iii
BAB 14 HUMAN RESOURCES PRODUCTIVITY BAB 15 HUMAN RESOURCES PRODUCTIVITY IMPROVEMENT BAB 16 ANALYSIS HUMAN RESOURCES PRODUCTIVITY 16.1 PTPN III 16.2 PT.HM Sampoerna 16.3 Unit bisnis Intech metalworks (unit IbIKK Adibuana Surabaya) 129 131 135 135 137 138

Bagian Empat
BAB 17 MANUFACTURING PRODUCTIVITY 17.1 Sekilas Tentang Manufacturing Productivity 17.2. Hubungan Antara Manufacturing Productivity Dan Main Factors of Product In Industry 17.3. Keterkaitan Material Productivity Dan Proses Produksi Dalam Meningkatkan Total Productivity Management (Tpmgt) BAB 18 PEMBAGIAN UMUM MATERIAL PRODUCTIVITY 18.1 Material Cycling 18.2 Material Development 18.3 Controlling Of Material Requirement 18.4 Cutting And Inventory Control Material 18.5 Measuring Material Flow And Resources Analysis BAB 19 KONSEP EFISIENSI RELATIF 19.1 Pengukuran efiensi relatif 19.2 Data Envelopment Analysis 19.3 Interpretasi grafis model DEA 19.4 Model matematis DEA 19.5 Pengertian Kualitas 19.6 Fault Tree Analysis BAB 20 PENGERTIAN DAN PENGENDALIAN KUALITAS 20.1 Pengertian Kualitas 20.2 Pengendalian Kualitas 20.3 Six Sigma 20.4 Konsep Six Sigma 20.5 Konsep Jasa 20.6 Konsep Kualitas Jasa

141
143 143 144 145 149 149 152 154 156 158 161 161 162 163 165 168 169 179 179 179 180 181 181 182

iv
20.7 20.8 20.9 Harapan Konsumen Persepsi Konsumen Kepuasan Pelanggan 184 184 184

Daftar Gambar
Bagian Satu
Gambar 1.1 Gambar 2.1 Gambar 2.2 Gambar 2.3 Gambar 2.4 Gambar 3.1 Gambar 3.2 Gambar 3.3 Gambar 3.4 Gambar 4.1 Gambar 4.2 Gambar 4.3 Gambar 4.4 Gambar 5.1 Gambar 5.2 Gambar 5.3 Gambar 5.4 Gambar 5.5 Gambar 5.6 Gambar 5.7 Gambar 5.8 Gambar 5.9 Gambar 5.10 Gambar 5.11 Gambar 5.12 Gambar 5.13 Gambar 6.1 Gambar 6.2 Gambar 6.3 : Diagram aktivitas ekonomi dan dampak kepada lingkungan : Framework produktivitas : Siklus produktivitas : Cara meningkatkan produktivitas : Model faktor produktivitas perusahaan : Ekosistem industri berupa aliran material dan energi : Foto Koperasi waru buana putra, Ngingas, Sidoarjo : Proses pengelasan di salah satu anggota WBP : Proses mengebor di salah satu anggota WBP : Dasar dari green productivity : Perkembangan produktivitas dari masa ke masa : Perlindungan lingkungan dengan green productivity : Hubungan produktivitas dengan lingkungan : Total Quality and Environmental Management : Hierarki Pollution Prevention : Pengembagan tanggung jawab industri selama daur hidup produk : konsep rancangan daur hidup : konsep eco factory : sistem pengencer ramah lingkungan : tahapan product lifecycle : project heatsun (republic of ireland)-developers of the world first eco computer IAMECO : Laura Williams-Designer of Aluna, The worlds tidal powered clock moon : Keseimbangan diantara kriteria-kriteria desain : Diagram usia produk (product life cycle) : Siklus material dalam penjelmaan dan penggunaannya : Laju penimbunan spent resources : konsumsi energi malaysia : Sample dari spesific energy consumption (SEC) pada proses seluruh pabrik : Green manufacturing and management 3 20 21 14 16 18 20 20 20 23 24 26 27 35 42 48 52 53 54 57 62 63 64 65 68 69 73 74 76

vi

Bagian Dua
Gambar 7.1 Gambar 7.2 Gambar 7.3 Gambar 8.1 Gambar 8.2 Gambar 9.1 Gambar 9.2 Gambar 10.1 Gambar 10.2 Gambar 10.3 Gambar 10.4 Gambar 10.5 Gambar 10.6 Gambar 10.7 Gambar 10.8 Gambar 10.9 Gambar 10.10 Gambar 10.11 Gambar 10.12 Gambar 10.13 : Posisi riset dalam peningkatan kualitas produksi kerajinan : Kerangka hubungan industri kerajinan mebel serenan : Kerja dalam divisi pengembangan produk : Grafik Daur Hidup Produk : Varian produck merek R saat ini : Peluncuran produk pada kondisi normal : Kondisi produk saat pesaing meluncurkan produk baru yang lebih inovatif : pneumatic stater yang tersedia pada pasar impor : pneumatic stater yang ditawarkan menggunakan metodologi VE : air mineral Vittel, produk perusahaan perancis yang diakuisisi PT.Aqua Golden Mississippi : produk PT Aqua golden mississippi yang menjangkau pasar menengah atas, bawah dan premium : proses DFMA menggunakan software DFMA : proses DFMA menggunakan software DFMA : prosentase keuntungan menggunakan DFMA : perbandingan mouse yang lama dan yang baru : toyota prius generasi pertama tahun 1997 : generasi kedua tahun 2003 dan prius 2009 : nippon denso panel meter dan kemungkinan 288 kombinasinya : metode emulasi yang digunakan pada peningkatan produktifitas setrika : perkembangan produk kanibalisasi intel dari 8088 menjadi 80286, menjadi 388 hingga pentium 4 83 85 89 93 94 97 97 100 102 104 104 106 107 107 109 111 111 112 113 114

Bagian Tiga
Gambar 11.1 Gambar 13.1 Gambar 15.1 Gambar 15.2 Gambar 16.1 : Hubungan antara industri manufaktur dan industri jasa : berbagai pihak yang berkepentingan dengan MSDM : proses training : konstribusi motivasi dalam industri : bengkel IbIKK Adibuana 120 126 131 132 138

vii

Bagian Empat
Gambar 17.1 Gambar 17.2 Gambar 17.3 Gambar 18.1 Gambar 18.2 Gambar 18.3 Gambar 18.4 Gambar 18.5 Gambar 18.6 Gambar 18.7 Gambar 18.8 Gambar 18.9 Gambar 18.10 Gambar 18.11 Gambar 19.1 Gambar 19.2 Gambar 19.3 Gambar 19.5 Gambar 19.6 Gambar 20.1 : main factor of product competitives : field management of toyota : menjelaskan tentang fishbone analysis : fishbone analyzes before developing the action plan for the electronics : Aliran bahan scrap di Eropa : tata peralatan dan material dalam operasi pembentukan chip dengan referensi parameter proses material : beberapa kriteria yang berbeda pada permesinan dan aturan kontrol chip : struktur material requirement planning : level assignment MRP : simple sleeting : planned sliting : the geompetry of the strips : aliran material : FMA and commercial life cycle : grafik efisiensi frontier dari 2 input strating point : interpretasi gravis criteria output (Y1 lawan) kriteria output lain : interpretasi gravis criteria input lawan kriteria output : contoh struktur cut set : contoh pembentukan cut set : konsep kepuasan pelanggan 144 145 147 150 151 152 153 154 155 156 157 157 158 159 162 163 164 175 176 185

viii

Daftar Tabel
Bagian Satu
Tabel 3.1 Tabel 5.1 Tabel 5.2 Tabel 6.1 Tabel 6.2 : Target keberhasilan pencapaian tujuan : Seluruh ISO 14000 dan sub kategorinya : Contoh greener product : Fuel Saving, Cost Saving dan Pengurangan CO2 : Energi Potensial Penghematan dan Pengurangan CO2 22 38 61 75 75

Bagian Dua
Tabel 10.1 Tabel 10.2 Tabel 10.3 Tabel 10.4 Tabel 10.5 : Perkiraan biaya per komponen berdasarkan fungsi : Penentuan target pengurangan biaya per fungsi : Perbandingan reticle assembly antara desain awal dengan desain baru : Perbandingan mouse lama dengan mouse yang baru : Korelasi antara enam jenis teknik dengan kriteria peningkatan produktivitas 101 101 108 109 115

Bagian Tiga
Tabel 16.1 Tabel 16.2 : Program pelatihan dan pengembangan karyawan PTPN III : Program pelatuhan dan pengembangan karyawan PT.HM Sampurna 136 137

Bagian Empat
Tabel 19.1 Tabel 19.2 Tabel 20.1 : Simbol-simbol logika dalam FTA : Simbol-simbol logika (kejadian) dalam FTA : Contoh cara konsumen menilai lima dimensi kualitas jasa 173 174 183

BAGIAN SATU LINGKUNGAN DAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS INDUSTRI MANUFAKTUR Tujuan Instruksional Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami pentingnya perhatian terhadap lingkungan terutama pada industri manufaktur. Mahasiswa mampu memahami meningkatnya perhatian konsumen internasional terhadap kepedulian lingkungan pada setiap produk hasil industri manufaktur yang berpengaruh pada regulasi-regulasi standar produk yang berwawasan lingkungan. Mahasiswa mampu memahami beberapa ketentuan green productivity sebagai issue global terbaru yang harus dimiliki oleh industri manufaktur. Mahasiswa mampu memahami kerusakan-kerusakan lingkungan akibat dari produk yang tidak memperhatikan lingkungan.

halaman ini sengaja dikosongkan...................................................

BAB 1 Lingkungan Dan Aktivitas Ekonomi


1.1 Aktivitas Ekonomi Dan Lingkungan
Beberapa tahun terakhir, perkembangan perhatian terhadap kelestarian lingkungan sangat gencar diberlakukan, survey yang dilakukan oleh beberapa peneliti diantaranya Roberts (1992), Cropper dan Oates (1992) , OECD (1993), Jaffe dan Stavins (1995), Glass (1996), dan Elkins dan Spek (1998) berargumen bahwa tidak cukup bukti jika peraturan mengenai kelestarian lingkungan memiliki efek pada perdagangan internasional. Produktivitas industri atau kegiatan ekonomi harus bersaing dan lebih kompetitif. Namun pada faktanya, peneliti lain seperti Porter dan Van der Linde (1995) melakukan selangkah lebih maju, yaitu mencari fakta dan keuntungan dari aplikasi diawal dari teknologi yang ramah lingkungan pada industri dan produksi. Mereka melakukan, serangkaian studi kasus dimana implementasi teknologi ramah lingkungan digunakan telah membuktikan serangkaian benefit dari mulai minimalisasi limbah, meningkatkan efisiensi dan kualitas. Mereka berkesimpulan bahwa benefit dari penggunakan teknologi ramah lingkungn ini adalah bukti dari aplikasi regulasi mengenai lingkungan hidup.

AktivitasEkonomi

Sumberdayayangdidapat darialam

LINGKUNGAN

Dampakdaripenggunaan sumberdaya,penggunaan danpembuangan Pemicu Perdagangan Pola Produksi Pemicu Pola konsumsi

Gambar 1.1 Diagram aktivitas ekonomi dan dampak kepada lingkungan Sumber: Berbagai Sumber Diolah

4
Pada penelitian yang dilakukan oleh Portney, Oates dan Palmer (1994), mereka mengamati Porter Hypothesis dimana asumsi yang diberikan oleh Porter yaitu dengan investasi pada R & D, dan tdak akan mengurangi profit dan justru meningkatkan kompetitif. Beberapa teori yang mereka lakukan diantaranya adalah teori X-inefisiensi, namun para ahli ekonomi tetap berpendapat jika ingin meningkatkan margin keuntungan yang harus dilakukan adalah menekan biaya produksi. Jika ada teknologi yang mempu meningkatkan efisiensi, maka mereka akan menggunakannya dan menjadikan investasi biasa. Teori Innovation offset oleh Porter, juga termasuk biaya lingkungan. Biaya pembuangan limbah, yang dicontohkan oleh Porter, dapat dikurangi melalui penggunaan teknologi baru yang ramah lingkungan, reorganize, restructured, dan retrofitting. Teknologi end of pipe (akhir daur hidup), disisi lain, tidak memberikan efisiensi yang diharapkan, terutama untuk jangka panjang. Lebih jauh, teori rasional ekonomi benar adanya, bahwa variasi pada perlindungan lingkungan dan berbagai peraturan akan memiliki efek pada divisi internasional buruh dan alokasi faktor produksi. Jika mengabaikan standar lingkungn justru akan meningkatkan biaya yang disebut Polluting Industries yang mengantarkan pada penurunan produktivitas. Sampah Teknologi Elektronika Dan Komputer (Electronic-Waste) Pernahkah terbayang berapa tinggi gundukan yang dihasilkan oleh sampah teknologi seperti komputer, monitor, printer dan produk-produk teknologi lain setiap tahunnya? Di Kanada saja, menurut konsultan lingkungan Kanada Enviros RIS, sebanyak 67.324 ton perangkat teknologi informasi, seperti PC, monitor, notebook dan pelengkapnya akan terbuang di tahun 2005. Belum yang terdapat di belahan bumi lain. Untuk menghindari penumpukan limbah teknologi tersebut Hewlett-Packard Canada Ltd. meluncurkan layanan "take-back atau layanan menerima kembali komputer dan perangkat yang tidak lagi diinginkan pengguna, sehingga menghindarkan sampah itu diekspor ke negara berkembang. Adapun sampah itu nantinya akan dievaluasi apakah akan digunakan ulang, didonasikan, atau didaurulang secara aman. "Take-back program di Kanada dilaksanakan mengikuti suksesnya layanan serupa di Amerika Serikat tahun lalu," kata Paul Tsaparis, president dan chief executive officer, HP Canada. Komitmen HP untuk mengurangi electronic waste tidak hanya dengan program daur ulang sebagai Planet Partners, tetapi juga dengan merancang produk-produk yang menggunakan seminimal mungkin materi berbahaya yang tidak dapat didaur atau digunakan ulang. Layanan program HP ini mencakup pengambilan barang, transportasi, dan evaluasi terhadap sampah teknologi, mulai dari PC dan printer sampai ke server dan scanner. Mereka yang ingin membuang sampah teknologinya diminta membayar antara 20 hingga 52 dollar Kanada sesuai jumlah dan jenis produk. Dikatakan pihak HP, harga ini menutupi biaya pelayananan semata dan tidak menghasilkan keuntungan bagi HP. Seluruh perangkat komputer yang diterima akan dievaluasi terlebih dahulu untuk penggunaan ulang. Produk yang masih berfungsi akan didonasikan ke suatu program pemerintah "Computer for Schools", yang menyediakan komputer gratis bagi sekolah di Kanada. Sisanya akan didaur ulang melalui proses yang dirancang untuk memaksimalkan materi yang masih dapat dipakai. Seluruh produk yang sama sekali tak dapat digunakan akan dikirim ke Nashville, Tennesse, fasifitas daur ulang dengan teknologi canggih. Tempat

5
ini dikelola oleh HP dan Noranda Inc. Fasilitas yang dibuka sejak Juli 2001 ini mampu memproses kurang lebih 680.389 kilogram e-waste per bulannya. HP dan Noranda telah mengembangkan proses unik yang mengevaluasi perangkat yang akan diproses, memisahkan bagian yang masih dapat digunakan, dan mendaur ulang sisa-sisa produk beserta komponennya. Fasilitas seharga 3 juta dollar Kanada ini memiliki shredder canggih untuk menggiling menjadi berkeping-keping. Dari sana, baru dipisahkan melalui magnet yang memisahkan metal dan plastik untuk daur ulang. Layanan baru ini menunjang program lingkungan HP lainnya seperti HP Planet Partners LaserJet supplies program dan Inkjet supplies, yang beroperasi sejak 1992 dan telah membantu pelanggan mendaur ulang lebih dari 39 juta HP LaserJet cartridges atau 50.000 ton material di seluruh dunia. Sebagai catatan, dalam program ini HP menerima produk-produk dari produsen lain untuk didaur ulang. Sejauh ini program baru dilakukan di beberapa negara di Amerika dan Eropa, namun akan diperluas jangkauannya.

1.2 Perkembangan Pola Konsumsi


Komersialisme Pada dasarnya, usaha-usaha untuk meningkatkan nilai desain lebih dari sekedar benda-pakai. sekedar pekerjaan menghias atau sekedar penciptaan simbol status, terus berlangsung dengan berbagai label. "Good Design" yang dipromosikan di Museum of Modern Art, di Merchandise Mart, Chicago serta Design Council di London, 1950 - 1960 merupakan suatu doktrin atau kredo yang memberi penilaian tinggi kepada produk desain yang berhasil memadukan ekonomi, teknologi dan estetika secara utuh sehingga dapat diterima pasar. Dogma ini diangkat untuk meningkatkan aspirasi dan selera publik yang terlalu lama dicekoki strategi komersialisasi yang dianggap membodohi masyarakat. Dengan bentuk yang ditawarkan, bom iklan-iklan yang gencar ditayangkan selalu menonjolkan kelebihan dan menutupi kekurangan produk. Maka dengan sikap estetik baru transaksi antara produk dan pembelinya diangkat lebih tinggi rnenjadi suatu peristiwa intelektual. Transaksi seperti ini, merupakan akomodasi masyarakat berpendidikan dengan status sosial ekonomi menengah ke atas. Komersialisme dianggap oleh kalangan berpendidikan sebagai bad taste dan low Quality. Tetapi para pelaku pasar mampu menyedot perhatian dan mempengaruhi masyarakat luas.

Konsumerisme Akibat dari aksi komersialisme adalah konsumerisme yang muncul karena pengusaha terlalu mengeksploitasi calon konsumen sehingga melakukan manipulasi berlebihan dalam penjelasan kualitas dan volume produknya. Industri yang mendukung aksi komersialisme dan konsumerisme adalah media massa yang menyebar iklan-iklan mereka. Pada kenyataanya, di pasar kita menemukan produk yang berkualitas rendah, produk yang berbahaya, produk yang tidak susila, produk yang menyebabkan kecanduan, produk yang dipalsukan, produk yang cepat rusak, produk yang menipu dan yang menjebak. Dan orang-orang yang bertanggung jawab pada kondisi ini adalah para desainer komunikasi dengan iklan mereka.

6
Dalam manipulasi ini korban terbesar adalah golongan menengah ke bawah serta anak-anak dan orang tuanya. Daftarnya bisa sangat panjang. Meskipun sudah terdapat Lembaga Perlindungan Konsumen di Indonesia dan lembaga seperti itu telah mendunia, namun praktek penipuan, manipulasi dan siasat dagang yang menjebak tidak berkurang terutama di negara-negara yang sistem kontrol dan hukumnya lemah. Gerakan ini merupakan reaksi sosial langsung dari pasar yang merasa dirugikan.

1.3 Perkembangan Industri Dan Penurunan Kualitas Lingkungan


Penggunaan material mentah melalui proses penebangan hutan, penambangan liar, penggunaan air, pengurangan energi sebagai upaya untuk mencari material mentah sebagai bahan produksi industri untuk memenuhi permintaan pasar terhadap kebutuhan akan produk. Pemanfaatan sumber daya menyebabkan peningkatan emisi, wastewater, dan solidwaste artinya pemanfaatan ini tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Dengan meningkatnya emisi, air limbah dan limbah padat, jelas akan sangat merusak lingkungan. Dampak yang terlihat dari peningkatan emisi seperti rusaknya lapisan ozon, dan rusaknya lapisan ozon ini menimbulkan efek pemanasan global yang berdampak sangat luas pada kerusakan lingkungan. Dengan meningkatnya jumlah air limbah akan mencemari air tanah, akibatnya jumlah air tanah yang sangat dibutuhkan untuk kehidupan mahluk hidup tercemari dan dampaknya sangat besar pada kesehatan manusia, dan keberlangsungan hidup hewan dan tanaman. Peningkatan permintaan selama proses distribusi,menimbulkan sampah dari barang dan jasa. Artinya selama proses distribusi, setiap produk membutuhkan salah satunya adalah kemasan. Dimana kemasan ini menggunakan kertas dan plastik sebagai bahan baku utama sebagian besar kemasan produk. Dengan jumlah peningkatan permintaan produk yang meningkat, maka kebutuhan akan kertas kemasan pun akan meningkat. Artinya kebutuhan pulp seabagai bahan utama pembuatan kertas pun meningkat. Dan ujungnya adalah peningkatan penebangan hutan untuk memenuhi kebutuhan kemasan berbahan kertas pada produk. Sedangkan kemasan plastik, terdapat berbagai jenis plastik yang bisa didaur ulang, dan yang tidak bisa didaur ulang. Dan yang lebih berbahaya adalah bahan plastik adalah bahan yang tidak dapat diproses secara alami oleh tanah.

1.4 Industri Dan Peraturan-Peraturan Mengenai Lingkungan


Industri dan peraturan-peraturan mengenai lingkungan dibagi menjadi dua bagian yaitu : - Level Makro dan - Level Mikro Level Makro Richardson dan Multi (1976) menggunakan model general equilibrum untuk analisis mereka. Pada penelitian mereka, mereka memperkirakan tingkat demand pasar dan suply untuk 81 industri, dengan variasi konsumsi dan elastisitas suplai. Mereka menggunakan input-output matrix untuk menghitung control direct dan indirect cost. Lebih jauh mereka membangun teori mereka dengan tiga skenario yaitu: - The polluter pays principle

7
Full subsidization through a Value Added Tax Full subsidization by a production tax Perbedaan yang mereka temukan sangat signifikan (2.5% dibawah subsidi, namun 5% dibawah polluter pays principle). Penyebabnya adalah sektor industri bidang kimia, pemurnian minyak, industri logam. Dalam rangka menangkap perbedaan tersebut, Richardson dan Mutti menggunakan model kedua pada tahun berikutnya (1977). Pada waktu ini mereka mencoba untuk melihat perbedaan diantara kebijakan makro lintas negara dan kontrol lingkungan, pembiayaan atas kontrol tersebut, nilai tukar dan tingkat fleksibilitasnya. Pada saat ini mereka menggunakan pendekatan partial equilibrum untuk menghitung biaya langsung pada kontrol lingkungan dan menghitung tingkat elastisitas efek keluarannya. Hasilnya dampak lebih sedikit dibandingkan penelitian pertama. Hasil yang lebih baik ini dikarenakan mereka melakukan penelitian lintas negara dimana biaya didistribusikan pada semua negara. Bagaimanapun efek biaya kontrol lingkungan dapat dikontrol lebih baik dengan menggunakan instrumen makro ekonomi. Model Computable General Equilibrium (CGE) seringkali digunakan untuk menghitung efek dalam berbagai sektor yang memungkinkan memberi efek pada seluruh aspek ekonomi. Hazilla dan Kopp (1990) menggunakan model CGE pada ekonomi Amerika untuk menghitung efek pada Clean Air and Clean Water Acts. Hasilnya $28,3 billion jauh dibawah biaya EPA ($42,5billion). Mereka membuat klaim bahwa input subtitut pada produksi energi dapat menghemat dana industri daripada mereka membeli peralatan pengolah limbah. Jorgenson dan Wilcoxen (1990) menghitung biaya pada pollution control, pada tingkat makro, dengan melaporkan hasil simulasi pada tingkat pertumbuhan ekonomi Amerika dengan dan tanpa peraturan mengenai undang-undang perlindungan lingkungan pada periode 1973-1985. Mereka menggunakan general-equilibrium econometric model, dimana determinan pada perkembangan jangka panjang dianggap sebagai interaksi antara industri untuk melihat perhatian mereka pada peraturan pada lingkungan. Biaya yang dibutuhkan lebih dari 10% dari keseluruhan pengaluaran negara dan hasilnya justru penurunan GNP sebesar 0,19% pertahun. Pada tahun 1997, Chaston dkk, mengembangkan pengukuran total factor productivity growth, yang dirancang untuk menghitung beneficial effect terhadap peraturan pada lingkungan. Untuk mencari poin-poin terpenting, mereka menggunakan deskripsi sederhana pada ekonomi, layanan publik, ekspor dan impor, skala pengembalian non konstan, dan non competitive pricing. The welfare-based measure of productivity growth dipresentasikan untuk mengeneralisasi semua faktor ini. Untuk lebih lebih operational pada welfarebased measure of productivity growth, tidak hanya membutuhkan faktor-faktor ini, namun mereka harus menghitung keuntungan non ekonomis dari peningkatan kualitas lingkungan yang sudah jelas sulit. Level Mikro Pada tahun 1990, Barbera dan McConnel mengembangkan pendekatan pada dampak peraturan pada lingkungan menggunakan Total Factor Productivity (TFP) growth . Mereka membagi menjadi lima industri paling berpolusi diantaranya (iron & steel, pulp & paper, chemicals, nonferrous metals, dan stone, clay, glass industries). Model dampak pada TFP ini, mereka mencari investasi terpenting antara kapital yang lebih sedikit dan lebih produktif. Dari sini, mereka mampu menghitung efek dari keberadaan dan ketiadaan peraturan tentang lingkungan. Lebih penting lagi, mereka juga menghitung efek tidak langsung dengan -

8
adanya peraturan tentang lingkungan. Hal ini mungkin saja termasuh mereorganisasi proses, penekanan pada input, peningkatan dan penurunan tenaga kerja, dan sebagainya. Hasilnya koefisien yang dihasilkan bisa jadi negatif dan positif. Seperti pada kasus proses logam non besi atau beberapa produksi kimia, efisiensi telah ditingkatkan dengan input menggunakan air daur ulang, pengelolaan industri yang lebih baik dan mampu meningkatkan investasi yang lebih produktif, juga emisi yang mampu dikurangi secara dramatis hal yang sama terjadi juga pada industri kertas. Pada tahun 1983, Gollop dan Roberts memperkirakan efek terhadap peraturan pada lingkungan pada industri utilitas listrik menggunakan pendekatan fungsi biaya. Dengan cara mengukur tingkat kekuatan hukum lingkungan pada fasilitas pabrik mereka meneliti efek kekuatan dan input konvensional. Namun mereka tidak memisahkan efek langsung dan tidak langsung. Barbera dan McConnel (1985) memiliki asumsi bahwa peraturan pada lingkungan mampu mengurangi kapital yang tidak produktif, namun kapital ini juga dikombinasi dengan input konvensional untuk menghasilkan output dan mengurangi polusi secara simultan. Metodologi yang digunakan berbeda namun hasilnya sama yaitu koefisien negatif pada produktivitas, bahkan mampu meningkatkan produktifitas secara besar pada industri listrik sebesar 0,59% per tahun. Persoalan utama bagi pada pengembang model adalah hubungan yang sangat kompleks diantara banyak variabel penting dan korelasi yang sangat tinggi diantara input price membuat semakin sulit untuk memperkirakan mana yang mampu menjadi cost function. Solusi yang ditawarkan oleh Barberra dan McConnel didapat dengan cara diferensiasi cost function dan share equations. Dengan cara memperkirakan cara ini mengurangi ketidaklinieran dan memaksimalkan jumlah data poin. Satish Joshi pada tahun 1995 mengatakan dalam model sederhana peraturan pada lingkungan dimana translog function dan factor share equation digunakan dan diuji dengan berbagai hipotesis dengan efek peraturan, skale effect, dan technical change effects untuk sektor industri baja US. Bagaimanapun juga peraturan ini mampu menekan penggunaan material, melalui dampak netral untuk minimills. Meskipun pada pengeluaran operasional lingkungan secara signifikan berbeda antara steel plant dan minimills, biaya tingkat elastisitas dari peraturan ini mirip antara kedua sektor.

BAB 2 PRODUKTIVITAS
2.1 Definisi Umum Produktivitas
Produktivitas adalah salah satu faktor yang penting dalam mempengaruhi proses kemajuan dan kemunduran suatu perusahaan, artinya meningkatkan produktivitas berarti meningkatkan kesejahteraan dan mutu perusahaan. Oleh sebab itu perlu dilakukan suatu pengukuran produktivitas di perusahaan yang bertujuan untuk mengetahui tolak ukur produktivitas yang telah dicapai dan merupakan dasar dari perencanaan bagi peningkatan produktivitas di masa datang Program peningkatan produktivitas yang berhasil itu ditandai dengan adanya andil yang luas dari karyawan atau pekerja yang baik, sehingga akan menghasilkan kinerja yang baik dan hal tersebut akan menghasilkan produktivitas yang optimal. Secara umum produktivitas diartikan sebagai efisien dari penggunaan sumber daya yang menghasilkan. Sedangkan ukuran produktivitas pada umumnya adalah rasio yang berhubungan dengan keluaran terhadap satu atau lebih masukan yang mengeluarkan keluaran (barang dan jasa) tersebut. Menurut Sukotjo (1995) mengemukakkan bahwa produktivitas adalah sebuah konsep yang menggambarkan antara hasil dengan sumber modal, tanah, energi dan sebagainya. Ravianto (1990) mengemukakan produktivitas adalah hubungan kerja antara jumlah produk yang dihasilkan dengan jumlah sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan produk tersebut atau dengan rumusan umum yang lebih rasio antara keputusan kebutuhan dan pengorbanan yang diberikan. Menurut berbagai pendapat di atas mengenai produktivitas, maka untuk mencapai produktivitas harus dengan cara tepat memastikan sumber-sumber daya harus dipergunakan. Secara umum produktivitas mencerminkan efisiensi dari penggunaan sumber daya yang menghasilkan. Ukuran tenaga kerja, modal dan energi yang menghasilkan keluaran tersebut. Atas dasar masukan dan keluaran tersebut, dicantumkan beberapa rumusan produktivitas yang dikemukakan oleh Ravianto (1992) yaitu : Produktivitas Total (PT) = Output/Input (2.1)

Berdasarkan uraian mengenai pengertian-pengertian produktivitas diatas dapat disimpulkan bahwa produktivitas adalah perbandingan antara keluaran (output) dengan masukan (input) pada perusahaan industri dan ekonomi secara keseluruhan. Penghargaan serta penggunaan motivator yang tepat akan menimbulkan produktivitas yang lebih tinggi. Semua ini mencakup pemberian insentif dan usaha-usaha menambah kepuasan kerja melalui sarana yang beraneka macam. Produktivitas merupakan sesuatu yang sangat penting dan mempunyai peranan besar dalam perkembangan perusahaan. Peningkatan produktivitas akan menghasilkan peningkatan pada standart hidup dan kualitas hidup pada suatu perusahaan atau negara. Kuncoro (1999) menyebutkan bahwa perbaikan produktivitas perusahaan sebagai upaya untuk bertahan, mengembangkan usaha dan

10
mengopti imalkan keun ntungan dapat t dilakukan dengan d perbaikan produkti ivitas partial tenaga kerja, material, energi dan modal. m Sejak awal perkembangan nnya sampai saat ini telah banyak b defini isi produktivit tas yang telah h dikemban ngkan. Menur rut Summanth h (1984), meny yatakan defini isi produktivit tas adalah: 1.Produk ktivitas partial, perbandinga an antara kelua aran terhadap salah satu fak ktor masukkan n. 2.Produk ktivitas faktor total, perban ndingan antara keluaran be ersih terhadap p jumlah mas sukkan tenaga a kerja dan d modal. antara keluara 3.Produk ktivitas total, perbandingan p an dangan jum mlah seluruh faktorfaktor fa m masukkan. Pengertia an produktivit tas yang lain dijelaskan ol leh Cascio (1998), produk ktivitas sebaga ai pengukuran n output be erupa barang atau a jasa dalam m hubunganny ya dengan inp put yang berup pa karyawan, modal, materi i atau baha an baku dan peralatan. p Seja alan dengan pandangan p di atas, Sedarma ayanti (2001) menyebutkan n produktiv vitas kerja me enunjukkan bahwa b individ du merupakan n perbandinga an dari efektiv vitas keluaran n (pencapa aian unjuk kerja k maksim mal) dengan efisiensi e sala ah satu masu ukan (tenaga kerja) yang g mencang gkup kuantita as, kualitas dalam wakt tu tertentu. Nuzsep (2004) menyebu utkan bahwa a produktiv vitas kerja ad dalah suatu uk kuran dari pa ada hasil kerja atau kinerja a seseorang d dengan proses s input seb bagai masuka an dan output t sebagai kelu uarannya yang g merupakan indikator dar ripada kinerja a karyawan n dalam mene entukan bagaimana usaha untuk u mencapai produktivit tas yang tingg gi dalam suatu u organisas si. Beberapa unsur u dalam produktivitas p a antara lain: efi fisiensi, efektiv vitas dan kual litas. Efisiensi i merupaka an suatu uku uran dalam membandingka m an penggunaan n masukkan (input) yang direncanakan n dengan penggunaan p m masukkan yan ng sebenarnya dilaksanaka an. Efektifitas s merupakan suatu ukuran n yang me emberikan gam mbaran seber rapa jauh target dapat ter rcapai baik se ecara kualitas s atau waktu. Sedangka an kualitas merupakan m suat tu ukuran yan ng menyataka an seberapa ja auh telah dipe enuhi berbagai i persyarat tan, spesifikas si atau harapa an konsumen. Gambaran ru uang lingkup produktivitas p terdapat pada a skema pada gambar 2.1. 2 Produktivitas digunak kan sebagai sarana s manaje emen untuk m mengevaluasi, mengana alisa dan mend dorong efisien nsi produksi, serta s menempa atakan perusah haan pada pos sisi yang tepat t berkaitan n dengan pene entuan target/ sasaran tujua an yang nyata a dan pertukar ran informasi antara tenaga a kerja dan n manajemen secara s periodi ik terhadap ma assalah-masal lah yang saling berhubunga an.

Gam mbar 2.1. Framewor rk produktivita as

11

Gambar 2.2 Sik klus produktiv vitas Pada a umumnya terdapat beb berapa strateg gi yang dapat digunakan n dalam men nyusun perba aikan prod duktivitas Jona as, dkk (2005) ) yaitu: 1. Meningkatkan n input dan output, diman na peningkata an output leb bih besar dari ipada peningk katan input. 2. Menurunkan input dan outp put, dimana penurunan p inpu ut lebih besar daripada penu urunan output t. 3. Input tetap tat tapi output me eningkat. 4. Input menuru un tetapi outpu ut tetap. 5. Input turun da an output men ningkat. Terd dapat tiga prin nsip dasar yang g digunakan dalam d konsep pengukuran produktivitas p p perusahaan, ya aitu: 1. Manajer departemen hend daknya dimin nta untuk men ngembangkan n ukuran produktivitas me ereka sendiri. Penet tapan ini seha arusnya melib batkan menaje er lini sebaga ai penanggung g jawab serin ngkali mengetahui cara c terbaik da alam mendefin nisikan keluar ran dan masuk kan pada perus sahaan tersebu ut. 2. Semua pengu ukuran produ uktivitas hend daknya dikaitk kan pada sua atu kebiasaan n hierarki. Ha al ini untuk memas stikan konsist tensi rasio pa ada tingkat ya ang lebih ting ggi dan lebih h rendah. Ma anajer departemen hendaknya ti idak membua at rasio send diri tetapi menggunakan m rasio yang telah ditetapkan pa ada tingkat yan ng lebih tinggi.

12
3. Rasio produktivitas sebaiknya memasukkan semua tanggung jawab kerja sampai pada tingkat yang memungkinkan. Untuk setiap rasio yang didefinisikan, harus mewakili suatu ukuran total pekerjaan yang dapat diterima.

2.2 Pengaruh Perusahaan Terhadap Kinerja Karyawan


Perusahaan mempunyai peranan yang sangat besar terhadap produktivitas kerja karyawan. Perusahaan harus dapat menjaga agar prodiktivitas kerja karyawan tidak megalami penurunan dari waktu sebelumnya. Untuk dapat mengetaui turun atau tidaknya produktivitas perusahaan harus dapat membuat standar kerja yang ditetapkan oleh pihak perusahaan dengan standar kerja. Sedangkan factor yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan yaitu: a. Karyawan : 1) Motivasi diri, integritas 2) Kompensasi 3) Pengetahuan 4) Keterampilan 5) Pengalaman 6) Pendidikan dan pengalaman 7) Kesehatan dan keamanan b. Suasana kerja 1) Hubungan sesama pegawai 2) Hubungan atasan dengan bawahan c. Budaya kerja 1) Disiplin 2) Gugus kendali mutu d. Manajemen 1) Gaya kepemimpinan 2) Kompetensi 3) Manajerial 4) Memimpin 5) Mengendalikan dan operasional

2.3 Pengaruh Produktivitas Kerja Terhadap Pencapaian Tujuan Perusahaan


Suatu perusahaan dapat meningkatkan produktivitas. Hal ini perlu dilakukan agar perusahaan tersebut dapat melangsungkan kegiatan operasionalnya di masa yang akan datang. Tujuan peningkatan produktivitas ini dapat dilihat dari beberapa sisi, bagi suatu perusahaan peningkatan produktivitas ini mempunyai tujuan antara lain: a. Agar perusahaan tersebut mempunyai daya saing pasar b. Untuk menjamin kelangsungan kegiatan di perusahaan tersebut c. Untuk dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan d. Agar perusahaan tersebut memungkinkan memperluas perusahaan e. Agar perusahaan tersebut dapat meningkatkan volume produksinya

13
Sedangkan untuk tingkat individu, tujuan dan peningkatan produktivitas ini adalah untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan serta mempunyai kesempatan untuk berperan aktif di dalam perusahaan. Peningkatan produktivitas karyawan dapat dilihat dari bentuk : a. Jumlah produksi meningkat dengsn menggunakan masukan yang sama b. Jumlah produksi meningkat yang dicapai dengan menggunakan masukan yang turun c. Jumlah produksi yang lebih besar yang diperoleh dengan tambahan masukan yang relatif kecil Dari pembahasan di atas perusahaan akan dengan mudah mencapai tujuannya dengan adanya produktivitas kerja yang tinggi dari karyawan perusahaan tersebut. Dengan adanya pemberian insentif maka pengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan akan sangat mendorong pencapaian tujuan perusahaan itu sendiri dan pemberian insentif ini merupakan salah satu faktor dapat mempengaruhi produktivitas kerja. Produktivitas merupakan salah satu indikator yang sangat dekat dengan prospek ekonomi jangka panjang. Produktivitas adalah rasio dari output terhadap input untuk situasi produksi yang spesifik. Peningkatan produktivitas mengimplikasikan lebih banyak output yang dihasilkan dengan jumlah input yang sama, atau lebih sedikit input yang digunakan untuk memproduksi jumlah output yang sama. Menurut Sumanth (1985) produktivitas pada dasarnya adalah hubungan antara input dan output dalam pengertian bahwa hubungan antara jumlah output yang dihasilkan dan jumlah input yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Produktivitas mengukur hubungan antara input aktual dengan output aktual dalam dua atau lebih periode. Pengukuran produktivitas tidak menggunakan informasi dari anggaran ataupun standar. Produktivitas ini membandingkan hubungan antara input dan output aktual dengan organisasi sejenis atau dengan periode waktu yang berbeda. Mahoney (Dalam Campbell and campbell, 1990) mendefenisikan produktivitas sebagai suatu pengertian efisiensi secara umum yaitu sebagai rasio antara hasil dan masukan dalam suatu proses yang menghasilkan suatu produk atau jasa. Hasil (output) itu meliputi penjualan, laba, kepuasan konsumen, sedangkan masukan meliputi alat yang digunakan, biaya, tenaga, keterampilan dan jumlah hasil individu. Hadipranata (1987) menjelaskan produktivitas kerja selalu disoroti dari dua segi, segi masukan atau input dan segi hasil atau output. Perbandingan antara kedua segi itu akan menjadi ukuran dari produktivitas. Pengertian produktivitas secara teknis, ekonomis, dan psikologis adalah rangkuman atau gabungan antara unsur efektivitas, efisiensi dan kepuasan kerja yang harus mengandung volume produksi, hemat masukan serta optimalisasi kepuasan kerja secara manusiawi. Meier (dalam Martaniah, 1990) mengemukakan bahwa kriteria produktivitas antara lain adalah kualitas, waktu yang dipakai, absensi dan keselamatan dalam menjalankan tugas pekerjaan. Untuk memudahkan pengukuran produktivitas kerja, pekerjaan dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu : (1) pekerjaan produksi yang hasilnya dapat langsung dihitung dan mutunya dapat dinilai melalui pengujian hasil sehingga standar yang objektif dapat dibuat secara kuantitatif, (2) pekerjaan yang non produksi yang hasilnya hanya diperoleh melalui pertimbangan-pertimbangan subjektif, misalnya penilaian atasan, teman, dan diri sendiri. Menurut Sinungan (1987), produktivitas diartikan sebagai perbandingan ukuran antara harga masukan dan hasil. Produktivitas diartikan juga sebagai perbedaan antara jumlah pengeluaran dengan jumlah masukan. Berbagai ungkapan seperti output, kinerja, efisiensi, dan efektivitas sering dihubungkan dengan produktivitas. Secara umum, pengertian produktivitas dikemukakan orang dengan menunjukan kepada rasio output terhadap input. Input bisa mencakup biaya produksi dan biaya

14
peralatan. Sedangkan output bisa terdiri dari penjualan, pendapatan, market share dan kerusakan. Bahkan ada yang melihat pada performansi dengan memberikan penekanan pada nilai efisiensi. Efisiensi diukur sebagi rasio output dan input. Dengan kata lain, pengukuran efisiensi menghendaki penentuan outcome, dan penentuan jumlah sumber daya yang dipakai untuk menghasilkan outcome tersebut. Selain efisiensi, produktivitas juga dikaitkan dengan kualitas output, yang diukur berdasarkan beberapa standar yang telah ditetapkan sebelumnya (Bernanden Jhon H, Russell Joice E. A, 1993). Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produktivitas perusahaan menurut Joseph (2005) dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 2.3 Cara Meningkatkan Produktivitas (Joseph, 2005)

2.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas


Produktivitas dipengaruhi oleh perubahan teknologi, investasi modal, pembelian input dari luar, penggunaan kapasitas, return to scale, dan keahlian dan tenaga kerja (Filberck dan Gorman).Menurut Sumanth (1985), faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas antara lain: Investasi Apabila investasi dalam suatu perusahaan meningkat, produktivitas perusahaan juga akan meningkat. Rasio Modal/Tenaga Kerja Apabila rasio modal/tenaga kerja semakin tinggi, produktivitas akan semakin tinggi.

15
Riset dan Pengembangan Jika riset dan pengembangan semakin sering dilakukan dan diterapkan secara berkesinambungan, produktivitas akan meningkat. Pemanfaatan Kapasitas Dengan mengoptimalkan pemanfaatan kapasitas secara efektif, produktivitas akan meningkat. Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah dapat bersifat mendukung ataupun menghambat perusahaan. Hal ini tergantung sudut pandang yang digunakan dan posisi perusahaan. Peraturan pemerintah yang mendukung kinerja perusahaan menyebabkan peningkatan produktivitas. Umur Pabrik dan Peralatan Umur pabrik dan peralatan yang semakin tua menyebabkan kinerjanya tidak sebagus saat masih baru, apalagi bila telah melampaui umur ekonomisnya. Kinerja yang tidak bagus menyebabkan pabrik dan peralaan tidak produktif dan produktivitas kseluruhan semakin menurun. Biaya Energi Semakin besar biaya energi yang dikeluarkan, produktivitas semakin menurun. Karena itu, penting untuk meminimasi biaya energi ini. Workforce Mix Workforce mix dalam pengaruhnya terhadap produktivitas sangat tregantung pada jenis perusahaannya. Pada perusahaan yang pekerjaannya cenderung dilakukan oleh satu gender saja, keberadaan workforce mix justru akan berpengaruh negatif terhadap produktivitas. Sebaliknya, pada pekerjaan yang bisa dilakukan siapa saja, keberadaan workforce mix bisa meningkatkan produktivitas. Etika Kerja Etika kerja yang baik membuat pekerja bekerja dengan baik pula dan produktivitas dapat ditingkatkan. Etika kerja yang buruk menurunkan produktivitas dan harus segera diubah agar perusahaan dapat bertahan. Rasa Takut Kehilangan Pekerjaan Adanya rasa takut kehilangan pekerjaan yang dimiliki pekerja akan menyebabkan mereka bekerja dengan lebih giat. Dengan demikian produktivitas akan meningkat. Pengaruh Serikat Pekerja Serikat Pekerja biasanya memberikan pengaruh yang buruk terhadap produktivitas pekerja. Semakin besar pengaruh serikat pekerja, produktivitas akan menurun. Karena iu diperlukan kerjasama yang baik antara pihak manajemen dengan pekerja. Manajemen Perusahaan Semakin baik manajemen perusahaan, semakin bagus pula produktivitas perusahaan tersebut. Menurut Bhaskoro (2005) faktor yang berpengaruh pada produktivitas dapat dibedakan menjadi tiga tingkat, yaitu: Tingkat makro terdiri dari: - Stabilitas politik dan keamanan, - Kondisi sumber daya (SDM, alam dan Energi), - Pelaksanaan pemerintah, - Kondisi infrastruktur berupa transportasi dan komunikasi, dan

16
Perubahan struktural dalam bidang sosial dan budaya. Tingkat mikro terdiri dari: Faktor internal meliputi: sumber daya manusia, teknologi, manajemen, demand intensity, dan struktur modal. Faktor eksternal meliputi produktivitas di tingkat mikro level diantaranya kebijaksanaan pemerintah, kondisi politik, sosial, ekonomi dan hankam serta tersedianya sumber daya alam. Tingkat individu terdiri dari: Sikap mental (budaya produktif), pendidikan, ketrampilan, kompetensi dan apresiasi terhadap kinerja

Sejalan dengan pendapat-pendapat diatas, Joseph (2005) mengemukakan sebuah model faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas suatu perusahaan seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 2.4 Model Faktor Produktivitas Perusahaan (Joseph, 2005) Bagaimanapun, terdapat banyak faktor, baik input maupun output, yang mempengaruhi pengukuran produktivitas dalam suatu perusahaan. Dari dalam perusahaan itu sendiri antara lain produk, pabrik dan peralatan/perlengkapannya, teknologi, bahan dan energi, sumber daya manusia, organisasi dan sistem, metoda kerja, dan manajemen. Sedangkan dari eksternal meliputi kebijaksanaan pemerintah, kondisi politik, social, ekonomi, dan hankam, serta ketersediaan sumber daya alam.

17

BAB 3 Pengembangan Berkelanjutan


3.1 Usaha Menuju Pengembangan Berkelanjutan
Seperti dipaparkan oleh Tolba (1992) bahwa lingkungan adalah sebuah konsep yang kompleks dan dinamis dan disusun dari komponen interaktif. Pengetahuan manusia tentang komponen ini dan cara mereka berinteraksi diantara manusia, antara sumber daya alam dan lingkungan telah berkembang menjadi sangat signifikan. Maka usaha manusia untuk bisa selaras dengan lingkungan dan sejahtera dalam planet bumi, masih memerlukan kesepakatan dan komitmen bersama seperti yang yang tertuang dalam Agenda 21 yang melahirkan konsep "sustainable development", inisiatif tumbuhnya komiment baru dari berbagai industri dan perusahaan besar terhadap lingkungan seperti "The World Business Council for Sustainable Development" (WBCSD), "World Industry Council for the Environment"(WICE), dan the "International Chamber of Commerce"(ICC) dan sebagainya Skenario model dunia untuk evaluasi dampak dari pola konsumsi dunia yang dirancang oleh The Club of Rome (Meadow et.al, 1972) dan kemudian diperbaruhi oleh Meadow (1992). Model dunia dari group periset MIT ini mensimulasikan dinamika perubahan dunia yang memasukkan 2250 variabel perubahan dengan simulasi sebanyak 90.000 kali menghasilkan rekomendasi sebagai berikut 1. Untuk mencegah penurunan output produksi makanan , energi, dan produk industri maka pertumbuhan permintaan material dan populasi penduduk bumi harus diturunkan dalam saat yang bersamaan perlu peningkatan efisiensi penggunaan material dan energi. 2. Mempertahankan kelestarian planet bumi perlu persyaratan kelayakan ekonomis dan teknologis. Aktivitas industri yang ada saat ini bisa dipandang sebagai suatu "ekosistem industri", karena melibatkan arus material dan energi yang berasal dari lingkungan. Sehingga industri yang menyebabkan percepatan aliran material dan energi dari sumbernya di ekosistem sekaligus mengancam keberadaan planet bumi. Karena industri membuang emisi pollutant ke udara, limbah cair dan padat, B3, dan pollutant lain masuk dalam rantai sistem makanan. Sekali masuk dalam ekosistem dalam rantau makanan, seperti pollutant beracun, logam berat, peptisida dan herbisida dalam produk pertanian, menyebabkan penyakit dan kanker bagai manusia. Sedemikian juga bila merusak lapisan ozone, dan membuat penumpukan gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global dan seterusnya. Seperti digambarkan pada gambar 3.1 berikut industri manufaktur memiliki kontribusi yang signikan menghancurkan ekosistem dan merusak lingkungan disaat melakukan proses manufakturnya, menggunakan atau saat membuang produk tersebut, bila tingkat percepatan pertumbuhannya melebihi kecepatan pemulihan sumber daya alam mensuplai bahan baku industri. Setelah revolusi industri, lebih 60 % sumber daya alam di planet bumi mengalami deplesi yang sangat kritis. Ini artinya tidak lebih dari 200 tahun, manusia dan aktivitas industrinya telah menghabiskan cadangan sumber daya alam produksi sistem alami yang proses pembentukannya memerlukan waktu jutaan tahun, juga yang bumi menjadikan menjadi planet rapuh dengan kualitas lingkungan yang memburuk. Karenanya

18
"sustaina ability" dari in ndustri atau in ndustri yang berwawasan b li ingkungan me enjadi suatu "c condition sine e quo none e" bagi mempe ertahankan ke ehidupan manu usia di planet bumi.

Gambar 3.1 . Ek kosistem Industri berupa Aliran A Material l dan Energi (Sum mber: Ciptomu ulyono, 2000) ) Hentschl (1993) meng ggagas konse ep "ecomanuf facturing" me endasarkan pada p sistem p produksi yang g berkelanj jutan (sustain nable product tion system) untuk u mengha asilkan sebua ah produk. Pr roduk industri i hasil pro oses manufact turing terseb but didisain, diproduksi, d di idistribusi, di imanfaatkan d dan kemudian n dibuang sebagi sampa ah yang dap pat meminim malkan dampak k kerusakan n terhadap lin ngkungan dan n kesehatan n serta dengan mengkons sumsi sumber r daya alam seminimalny ya mungkin (material dan n energi). Dalam D sistem m manufacturi ing semacam ini akan dip peroleh perfor rmance indust tri/ organisasi i yang "eco-efficiency cy", secara ekologis e ama an dan seca ara ekonomis s efisien (De eSimone dan n Popoff,19 998). Dalam sejarah h industri man nufaktur bebe erapa evolusi teknologi mau upun proses m manufacturing g terjadi pe erubahan men ndasar yang ditemui. Misalnya dari mul lai industri ma anufaktur sen njata api pada a abab XV V hingga seka arang menurut t Tipnis (1995) terjadi per rgeseran yang g nyata. Perub bahan industri i

19
manufaktur diketemukan dalam hal pengerahan mesin yang dipergunakan, variasi jumlah komponen, perbandingan karyawan dan manajer juga dalam proses manufaktur yang berbasiskan kerajinan menjadi mass production (interchangability: go/no go), dari sistem Taylor (Motion Time Study) menjadi Sistem dinamis pengendalian proses statistik dan CIM (Computer Integrated Manufacturing) dan seterusnya. Paradigma ini juga menggeser ethos kerja, pengendalian proses, standart kerja, kompetensi, perilaku organisasi dan sebagainya. Bilamana paradigma berubah terlihat bahwa banyak hal atribut industri manufactur juga berubah, karenanya perlu dipertanyakan paradigma apa yang berkembang di awal abad XXI ini.

3.2. Penerapan Produktivitas Berkelanjutan Untuk Usaha Kecil Dan Menengah Di Jawa Timur
Pengembangan desain produk saat ini menjadi issue sentral dalam setiap pembicaraan pengembangan di industri kreatif di Indonesia, tidak terlepas dalam perhatian kita perkembangan industri kreatif yang langsung bersentuhan dengan desain produk terutama produk manufaktur yang dibuat oleh pengusaha kecil dan menengah. Di Indonesia sudah terbukti bahwa Industri kecil dan menengah sangat kuat dalam menahan desakan krisis ekonomi mulai tahun 1998, dan terjadi krisis global tahun 2006-2008 lalu. Namun nyatanya perkembangan mereka masih belum dapat terlihat secara signifikan. Desa Ngingas Kecamatan Waru merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Sidoarjo-Jawa Timur yang banyak didirikan unit logam dan furnicraft (UKM Logam). Koperasi Koperasi Waru Buana Putra (WBP) mendapatkan status badan hukum pada tanggal 26 Desember 1978 dengan surat no: 4132/BH/II/tg 26 Desember 1978. Letak desa dimana koperasi berada adalah di perbatasan antara kota Surabaya dengan Kabupaten Sidoarjo, yaitu dekat bundaran Waru. Anggotanya tersebar di tiga desa yaitu di Ngingas, Kureksari dan Wedoro. Di desa ini terdapat unit usaha sebanyak 300 unit lebih. Tenaga kerja yang ditampung bervariasi antara 50 orang per unit , sehingga diperkirakan tenaga kerja keseluruh an adalah 3000 orang. Pada tahun 2009 omset sentra per bulan berkisar antara Rp.10 Rp.15 Milyard. Di era 1980 hingga awal 1990-an koperasi tersebut memiliki peran penting dan menonjol bagi para pengrajin logam setempat. Jumlah anggota yang semula 24 orang dalam perkembangannya bertambah menjadi 180 orang hingga saat sekarang yang tersebar ke tiga desa. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat menarik kepercayaan cukup besar terhadap koperasi yang tergabung dalam Kopeasi Industri dan Kerajinan (Kopinkra) Sidoarjo itu. Berdasarkan penjelasan Ketua Koperasi WBP, Abdul Muchit Adnan, koperasi tersebut telah mengalami jatuh bangun dalam memberdayakan perekonomian masyarakat. Pada saat terjadinya proses transisi dari koperasi binaan pemerintah menjadi koperasi mandiri pada 1992, situasinya cukup sulit. Untuk membesarkan koperasi, pihak Koperasi WBP membentuk jaringan usaha dengan mitra bisnis lainnya. Upaya itu dinilai mutlak perlu, karena tidak mungkin koperasi bisa besar hanya dengan berdiri sendiri. Karena itu, kata Bapak Abdul Muchit Adnan, Koperasi WBP diarahkan untuk membangun hubungan bisnis dengan sejumlah perusahaan besar, dan sejauh ini telah terjalin kemitraan usaha saling membutuhkan antara koperasi tersebut dengan PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER), PT Semen Gresik (Persero), PT PLN (Persero) dan lainnya lagi. Langkahlangkah tersebut dilakukan demi melayani kebutuhan anggota dan masyarakat sekitar, agar loyalitas yang selama ini terbangun dapat dilestarikan, namun diakui oleh beliau, jika sebagian besar tukang

20
yang bek kerja di sentra a industri Ngin ngas adalah tu ukang yang be erdasar penga alaman saja. M Mereka belajar r secara ot todidak, sehin ngga jika ada beberapa kes salahan teknik k pengelasan, mereka mera asa tidak tahu u menahu karena mema ang mereka tidak pernah mengikuti pelatihan form mal dan tidak tersertifikasi. Melalui kelompok pe engusaha kecil desa Ngin ngas diharapk kan terdapat penyebaran p il lmu/informasi i kepada para p pengusah ha desa lainnya a yang telah menjadi m anggo ota koperasi WBP. W Ketua k koperasi, Bpk. Abd. Mu uchit Adnan, menjelaskan m b bahwa sampa ai dengan saat t ini koperasi telah berpera an aktif dalam m meningka atkan kinerja pengusaha ke ecil melalui ke egiatan Manajemen UKM antara a lain : 1) Seba agai tempat be erkumpulnya para p pengusah ha kecil untuk k membahas permasalahan u usaha 2) Mem mbantu menda atangkan baha an baku 3) Mem mberikan conto oh model pek kerjaan logam yang sedang diminati d oleh pasar 4) Mem mbantu memas sarkan produk k Namun Koperasi K WB BP kesulitan untuk melak ksanakan pela atihan desain n produk dan n peningkatan n ketrampilan las bagi i anggotanya a. Beberapa kegiatan An nggota Koperasi WBP y yang berhasil l didokum mentasikan oleh h tim dalam su urvey awal an ntara lain :

G Gambar 3.2. Para Foto Koperasi K War ru Buana Putra a, Ngingas, Si idoarjo

Gam mbar 3.3. Proses pengelasan di d salah satu an nggota WBP

Gam mbar 3 .4 Proses s mengebor di salah satu ang ggota WBP

21
UKM las logam dan furnicraft desa Ngingas dan sekitarnya telah dilakukan secara turuntemurun. Para pengrajin membuka usaha bengkel las secara berjajar di sepanjang jalan desa Ngingas, dengan berbagai jenis produk yang dibuat mulai dari furnicraft sampai pada produk komponen alat berat yang biasa digunakan oleh PLN yang membutuhkan mesin-mesin bertonase besar, mampu diproduksi oleh pengrajin di Ngingas. Untuk pembelian secara partai, biasanya konsumen langsung menghubungi pengrajin melalui produk pesanan. Model beserta karateristik barang ditentukan berdasarkan kriteria pemesan. Sebelum musibah lumpur lapindo menimpa daerah Sidoarjo, sentra pemasaran tersebut banyak dikunjungi pelanggan dari berbagai daerah (dalam dan luar Jawa Timur). Para pengusaha kecilpun banyak yang menggantungkan hidupnya pada hasil penjualan aneka produk logam. Tetapi sejak musibah lumpur lapindo sejak Desember 2006, terjadi penurunan omzet penjualan sebesar 60%. Media massa nasional sangat gencar memberitakan dampak sosial dari luapan lumpur lapindo ini beserta kerusakan fasilitas umum di sekitar semburan, sehingga sangat cepat diketahui oleh masyarakat Indonesia. Ketika diberitakan bahwa yang rusak adalah jalan tol Porong Sidoarjo maka terbayanglah kemacetan lalu lintas wilayah tersebut, yang pada dasarnya merupakan akses utama menuju sentra pemasaran produk logam tersebut. Akibatnya, orang menjadi malas untuk memesan produk logam di sana. Sepinya bengkel las di Ngingas berdampak langsung pada image pasar bahwa produk logam daerah ini kurang bisa diterima pasar. Pembelian eceran berkurang, pemesanpun berkurang drastis. Dari hasil wawancara dengan ketua koperasi diperoleh informasi bahwa sebetulnya para pengusaha kecil telah mencoba menawarkan produk ke berbagai toko logam di luar Sidoarjo, khususnya Surabaya dan Malang. Usaha ini mengalami kendala karena model yang ditawarkan tidak sesuai dengan selera pasar (tidak up-to-date) dan kurang inovatif. Wajar sekali kalau kendala tersebut mereka temui karena selama ini mereka telah terbiasa menerima order dalam bentuk pesanan, di mana seringkali bentuk dan bahan baku produk logam sudah ditetapkan oleh pemesan. Akibatnya, kreativitas pengusaha kecil dalam mendesain produk logam menjadi terhambat. Turunnya omzet penjualan tentunya juga berdampak pada turunnya pendapatan yang diterima para pengrajin. Agar omzet penjualan tidak terus menurun, beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para pengrajin antara lain : 1. Membuat pengembangan perancangan model produk logam yang inovatif dan orisinil hasil karya pengrajin bukan hasil meniru yang disesuaikan dengan permintaan atau selera pasar. 2. Meningkatkan skill pekerja dengan cara melakukan pelatihan las dan sertifikasi las logam yaitu SMAW dan GTAW. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa permasalahan mendasar yang dialami oleh para pengusaha logam Ngingas adalah : 1. Belum mampu mendesain produk logam yang up-to-date dan inovatif sesuai dengan selera pasar sehingga terus kalah bersaing dengan produk kompetitor. 2. Tidak mampu mengembangkan produk karena keterbatasan pengetahuan tentang teknologi logam dan las logam yang tepat, karena tidak pernah mengikuti sertifikasi. Permasalahan tersebut telah dibahas dalam pertemuan rutin anggota koperasi. Tetapi karena keterbatasan kemampuan pengurus, maka sampai dengan saat ini belum ditemukan solusi yang tepat untuk mengatasinya. Peningkatan kegiatan pengembangan ilmu dan teknologi perguruan tinggi melalui penyuluhan dan pelatihan desain produk untuk selalu berinovasi pada produk yang dibuat, serta pelatihan las logam dengan kompetensi SMAW dan GTAW. Secara sistimatis target keberhasilan pencapaian tujuan adalah ditujukkan di Tabel 3.1.

22
Tabel 3.1 Target keberhasilan pencapaian tujuan BASELINE MIDLE Rendah (20%) 60% mampu Rendah (20%) 40% mampu Rendah (20%) 40% mampu Rendah (20%) 40% mampu

INDIKATOR Kemampuan strategi pemasaran Kemampuan dasar mendesain Kompetensi las SMAW Kompetensi las GTAW

FINISH 80% mampu 80% mampu 75% mampu 75% mampu

Dari pengalaman yang dijalankan oleh penulis, ternyata sebagian besar pekerja di Desa Ngingas Kecamatan Waru Sidoarjo memang belum pernah memiliki pelatihan terstruktur terutama pengelasan SMAW dan GTAW yang menjadi keterampilan wajib untuk mengembangkan desain dan rancangan logam seperti yang diproduksi Ngingas dan pangsa pasar yang diincar oleh Kelompok KUD Wirabuana.

23

BAB 4 Produktivitas Hijau


4.1 Definisi Produktivitas Hijau
Sebuah paradigma baru dari socio economic development menjadi bagian dari perkembangan ekonomi dan peningkatan produktifitas sejalan bersama dengan perlindungan lingkungan.

4.2 Paradigma Baru Produktivitas


Sebuah konsep integrasi dari produktivitas, produktivitas dipandang dengan dua cara yaitu sebagai sebuah tujuan dan sebagai sebuah cara. Produktivitas adalah sebuah tujuan dijelaskan dari segi konsep sosialnya. Dan sebagai sebuah metode, produktivitas dilihat dari tehnik, ekonomi dan konsep manajemen. Tradisional terfokus pada produktivitas untuk memastikan keefektifan biaya melalui pengurangan biaya Peningkatan Kualitas dan kepuasan pelanggan menjadi fokus selanjutnya. Dalam green productivity, fokus tidak hanya peningkatan produktivitas untuk lebih efisien biaya dan peningkatan kualitas, namun juga memasukkan unsur kelestarian lingkungan dalam prosesnya. Seperti yang terlihat pada diagram dibawah ini.

kualitas
Langkahselanjutnyamembutuhkan integrasidenganlingkungankedalam programpengembanganproduktivitas produktivitas

biaya

PRODUKTIVITASHIJAU
Gambar 4.1. Dasar dari Green Productivity

lingkungan

24
Perkembangan mengenai pengertian produktivitas sudah bergeser dari masa ke masa, mulai dari tahun 1960an, dimana industri tidak mempedulikan lingkungan, sampai pada era tahun 90an yang sudah mulai memperhatikan lingkungan dalam industri.

GP
Prevention Treatment Dilution and Dispersion Ignore

1990s

1980s 1970s 1960s 1950s

Gambar 4.2 Perkembangan produktivitas dari masa ke masa 4.3 Pemicu Timbulnya Produktivitas Hijau
Berikut ini adalah aktivitas-aktivitas sebagai pemicu timbulnya produktifitas hijau: Dimulai dari Rio Earth Summit, kegiatan ini intinya adalah timbulnya komitmen bersama terutama negara-negara industri untuk lebih memperhatikan kelestarian lingkungan, terutama untuk mengurangi emisi dan polutan yang ditimbulkan dari proses industri dan kegiatan lain yang menimbulkan polusi yang merusak lingkungan. Kemudian dikembangkan konsep green productivity berdasarkan konsep produktivitas dan peraturan-peraturan perlindungan lingkungan .Konteksnya dibuat oleh APO dan aktivitas GP mulai tahun 1993 kedepan, aktivitas ini fokus pada demonstrasi, diseminasi dan promosi terutama kegiatan yang lebih memperhatikan kelestarian lingkungan. Sehingga definisi green productivity lebih lengkap dijabarkan sebagai berikut; Green Productivity (GP) adalah strategi untuk meningkatkan produktivitas dan performa lingkungan sekaligus untuk pengembangan ekonomi secara utuh. GP adalah aplikasi dari produktivitas yang sebenarnya dan sebagai tool manajemen lingkungan, tehnik, teknologi untuk mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas organisasi, barang dan jasa.

25

4.4 Konsep Gr reen Produc ctivity (GP) )


Konsep dari GP didasari dar ri integrasi dua d strategi pengembanga p an yang pent ting yaitu str rategi peng gembnangan kualitas k lingk kungan dan pe eningkatan pr roduktivitas, sehingga s deng gan gabungan n dua strategi ini diper roleh kerang gka kerja un ntuk dilakuka an contious improvement i , sekaligus untuk u susta ainable develo opment. Tuju uan dari GP ad dalah Mengidentifik kasi cara untu uk menghindar ri polusi dari sumber/akarny s ya l input sum mberdaya mel lalui optimasi dan atau rasio onalisasi Mengurangi level n efisiensi sumberdaya s u untuk melind dungi sumberdaya alam d dan meningka atkan Meningkatkan produktivitas sekaligus Pengertian produktivitas p sebelumnya hanya meliha at dengan pe erbandingan o output dan in nput, angkan pada green g producti ivity perbandi ingan antara output o dan inp putnya terdiri dari raw material, seda tenag ga kerja, pen ngendalian en nergi, keseha atan dan kese elamatan kerj rja, biaya yan ng timbul ka arena lingk kungan dan se ebagainya

(4.1)

(4.2)

4.5 GP G Memastik kan Peningka atan Keuntun ngan Dan Ku ualitas Hidup Konv vensional ma anufaktur mem miliki langka ah kerja seba agai berikut, dengan inpu ut antara lain raw mate erial, energi, air a dan tenaga kerja, penin ngkatan produ uktivitas dilak kukan dengan n cara mengur rangi inpu ut, setelah itu memasuki pr roses produks si dan mengh hasilkan produ uk demi produ uk seiring de engan limb bah yang juga ditimbulkan. S Sedangkan un ntuk proses green producti ivity, dipikirk kan mulai pen ngurangan inp put material, lebih hemat nenergi, le ebih efisien te enaga kerja, setelah s itu me emasuki prose es produksi, d dengan GP pr roses prod duksi lebih ef fisien hasilnya a adalah dipro odua pengura an produksi barang-barang b g yang lebih aman a terha adap konsume en dan lebih aman terhadap pengguna, , sekaligus le ebih aman ter rhadap lingku ungan karen na adanya sist tem perlindun ngan lingkungan.

26

Gam mbar 4.3. Perlindung gan Lingkunga an dengan Gre een Productiv vity Konsep green g producti ivity ini melip puti beberapa pemikiran p did dalamnya yaitu u: Pollu ution Prevention Envi ironment Man nagement Syst tem Pollu ution Control Occu upational Safe fety & Health Clea aner Productio on Eco- efficiency Resp ponsible Care Envi ironment Stew wardship Socia al Accountabi ility Corp porate Environment Respon nse Eco-design Dan sebagainya

27
Produktivitas Hijau Produktivitas hijau (Green productivity) adalah suatu strategi untuk meningkatkan produktivitas bisnis dan kinerja lingkungan pada saat yang bersamaan dalam pengembangan kinerja lingkungan d dan pengembangan sosial ekonomi secara keselutuhan. Metode ini mengapliukasikan teknik, teknologi dan sistem manajemen untuk menghasilkan barang dan jasa yang sesuai dengan lingkungan atau ramah lingkungan (APO,2003). Green productivity merupakan bagian dari progtram peningkatan produktivitas yang ramah longkungan berkelanjutan (sustainable development). Green productivity adalah suatu konsep peningkatan produktivitas yang berorientasi pada perlindungan lingkungan yang didasarkan atas keseimbangan antara peningkatan produktivitas dan pebangunan berkelanjutan. Hubungan antara produktivitas dan lingkungan dapat dilihat dari gambar 2.1

Gambar 4.4. Hubungan produktivitas dengan lingkungan Konsep dasar green productivity diambil dari penggabungan dua hal penting dalam strategi pembangunan, yaitu: Perbaikan produktivitas Perlindungan lingkungan Green engineering atau green productivity mempunyai empat tujuan umum (Billatos, 1997) dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan dan ekonomi produksi ketika diimplementasikan pada lantai produksi yaitu: 1. Pengurangan limbah (Waste Reduction) 2. Manajemen material (Material Management) 3. Pencegahan polusi (Pollution Prevention) 4. Peningkatan nilai produk (Product Enhancement)

4.6.Maanfaat Penerapan Green Productivity


Penerapan green productivity akan memberikan manfaat jangka panjang bagi semua pihak (stakeholder), antara lain:

28
Bagi perusahaan Penurunan waste dengan adanya efisiensi penggunaan sumber daya Penurunan biaya operasi dan biaya pengolahan lingkungan Pengurangan atau bahkan eliminasi dari hutang-hutang jangka panjang Peningkatan produktivitas Mendukung regulasi pemerintah Image yang lebih baik dimata masyarakat Meningkatkan keuntungan bersaing Meningkatkan profit dan pangsa pasar Bagi karyawan: Meningkatkan partisipasi para pekerja Meningkatkan kesehatan lebih baik Kualitas kerja lebih baik Bagi konsumen: Produk dan jasa memiliki kualitas tringgi Tingkat harga yang terjangkau Pengiriman barang tepat waktu

Metodologi Green Product Bagian penting dari metodologi green productivity adalah pemeriksaan dan evaluasi ulang dari proses produksi untuk mereduksi beban lingkungan dan jalan terbaik menuju perbaikan produktivitas serta kualitas produk. Metodologi Green Productivity terdiri dari 6 tahapan (APO,2001) sebagai berikut: Tahap1 : Getting Started Tahap awal dalam penerapan green productivity merupakan proses pengumpulan informasi dasar dan proses identifikasi ruang lingkup permasalahan. Dimana proses ini perlu mendapatkan dukungan dari manajemen senior untuk memastikan bahwa sumber daya yang dimiliki perusahaan telah memadai demi kesuksesan penerapan Green Productivity. Oleh sebab itu diperlukan adanya tim tersendiri dalam penerapan Green Productivity. Terdapat 2 aktivitas utama pada tahap ini, yaitu a. Membentuk tim Green Productivity (GP) Tim GP bertanggungjawab untuk mengatur dan mengkoordinasikan keseluruhan program GP. Tim GP juga bertanggungjawab dalam mengidentifikasi dengan tepat. Tim harus mampu mengidentifikasikan area-area yang potensial, mengembangkan solusi dan memfasilitasi dalam mengimplementasikan solusi GP. b. Walk through survey Walk through survey dilakukan untuk mengidentifikasikan rangkaian proses produksi. Pada tahap ini ditentukan process diagram alir, initial layout dan material balance. Kemudian tim GP harus mengetahui operasi-operasi yang menghasilkan waste termasuk estimasi atau perkiraan mengenai waste yang dihasilkan dari tiap-tiap proses yang berbeda. Berikut ini adalah tool yang dipergunakan beserta jenis data yang diperlukan: Flowchart

29
Merupakan diagram yang menjelaskan tentang aktivitas yang berkelanjutan seperti pengumpulan informasi, analisis, operasi dan membuat keputusan. Dalam kerja GP ini flowchart digunakan untuk mengidentifikasikan proses produksi mulai bahan jadi sampai siap dipasarkan. Material Balance Berfungsi untuk proses evaluasi kualitatif terhadap material input dan output. Bentuk dari material balance dapat dilihat dari gambar 2.2. Data yang diperlukan antara lain: 1. Jumlah bahan baku. 2. Jumlah material pendukung. 3. Jumlah sisa hasil produksi. Prinsip dasar dari material balance untuk sebuah sistem produksi adalah sebagai berikut: Material = Produk+waste Keterangan: Input material meliputi raw material, bahan kimia, energi dll Produk adalah output akhir yang baik dari proses produksi pabrik Waste meliputi limbah padat, limbah cair, limbah panas, produk cacat, dan sebagainya gambar material balance di HP. Tahap 2. Planning Pada tahap planning ini terdapat 2 langkah utama yaitu sbb: a. Identifikasi masalah dan penyebabnya Data dan informasi yang didapatkan dari proses walk through survey kemudian digunakan untuk mengidentifikasi permasalahan dan penyebabnya. Hal ini dilakukan dalam tahap planning ini, dimana tools yang digunakan adalah brainsorming dan diagram sebab akibat (cause effect diagram). Brainstorming Merupakan tool yang sering digunakan untuk memunculkan ide-ide dimana dilakukan pertukaran pikiran atau ide. Tool ini dilaksanakan dan digunakan oleh anggota tim untuk mengidentifikasikan akar penyebab suatu permasalahan atau untuk menemukan solusi dari permasalahan tersebut. Diagram sebab akibat (cause effect diagram) Diagram sebab akibat adalah suatu pendekatan terstruktur yang memungkinkan dilakukan suatu analisis lebih terperinci dalam menemukan penyebab-penyebab suatu masalah, ketidaksesuaian, dan kesenjangan yang ada. Bentuk umum diagram sebab akibat ditunjukkan pada gambar berikut: Menentukan tujuan dan target Setelah akar permasalahan dan penyebabnya diketahui, maka berikutnya ditentukan tujuan dan target yang ingin dicapai perusahaan sebagai petunjuk bagi tim GP untuk memilih alternatif yang dapat mengurangi penyebab permasalahan. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan antara lain adalah: Tujuan harus didasarkan pada masalah yang telah teridentifikasi Tujuan mungkin akan menghasilkan lebih dari satu target Target yang diinginkan harus sesuai dengan kebutuhan Harus ada indikator yang dipakai untuk mengetahui pencapaian target dan tujuan dalam suatu satuan waktu

30
Tujuan dan target diatur dalam ruang lingkup masalah. Angka produktivitas dan Indikator Performasi Lingkungan (EPI) juga diidentifikasi pada tahap ini. Disamping itu, untuk mengurangi unsur subyektifitas dalam mengidentifikasi kriteria input EPI harus dilakukan penyebaran kuisioner dan studi literatur. Tahap 3: Generation And Evaluation Tahapan ini memiliki 2 langkah utama yaitu sebagai berikut: 1. Menyusun alternatif-alternatif GP Langkah ini sangat krusial sekaligus memerkulan kreativitas yang tinggi untuk menemukan metode-metode yang memungkinkan untuk meningkatkan produktivitas. Dalam hal ini, proses brainstorming akan sangat membantu untuk menciptakan ide-ide perbaikan. 2. Screening, evaluation dan prioritization dari alternatif-alternatif GP Di saat alternatif-alternatif GP telah teridentifikasi, maka tim akan memilih dan memprioritaskan alternatif yang paling memungkinkan. Alternatif tersebut diuji kelayakannya baik secara teknis maupun secara finansial. Salah satu metode yang digunakan dalam pemilihan alternatif solusi adalah metode annual worth (metode deret seragam). Pengertian metode Annual Worth, dalam metode ini semua aliran kas yang terjadi selama horizon perencanaan dikonversikan ke dalam deret seragam dengan tingkat bunga sebesar MARR (Pujawan, 1995). Biasanya akan lebih mudah kalau perhitungan deret seragam ini dilakukan dari P(present) sehingga akan berlaku hubungan:

A(i)=p(i)(A/P,i%,N) A=Abenefit - Acost

(4.3)

Keterngan: A = Nilai Deret Seragam i% = Tingkat Bunga N = Perencaan Horizontal (Horizon Planning) Bila alternatif-alternatif yang dibandingkan bersifat mutually exlusive, maka yang dipilih adalah alternatif yang memiliki deret seragam yang terbesar. Dengan kata lain, bila aliran kas hanya terdiri atas biaya, maka yang dipilih adalah alternatif yang membutuhkan biaya seragam yang paling kecil. Tahap 4: Implementation of GP options Terdapat beberapa langkah-langkah dalam mengimplementasikan alternatif soluasi dari GP, yaitu sebagai berikut: a. Merencanakan implementasi GP Perencanaan implementasi ini merupakan detail kegiatan yang akan dilakukan, batasan waktu pelaksanaan, dan personel yang akan terlibat didalamnya yang akan menjamin proses implementasi berlangsung dengan baik. b. Mengimplementasikan Alternatif terpilih Jika segala hal dalam tahap perencanaan telah dilakukan dengan baik, maka tim GP dapat melaksanakan solusi terpilih secara simultan. c. Pelatihan, awarness building, dan mengembangkan kompetensi

31
Untuk dapat menjamin pelaksanaan solusi terpilih, maka perlu dilakukan pelatihan bagi tenaga kerja untuk memberikan gambaran mengenai konsep GP serta mengerti peran serta masing-masing. Tahap 5: Monitoring and review Pada tahapan ini dilakukan beberapa aktivitas seperti berikut : a. Memonitor dan mengevaluasi hasil Kinerja dari solusi yang dilaksanakan harus dimonitor agar dapat dibandingkan dengan target dan tujuan yang telah ditentukan pada tahap awal, sehingga pihak manajemen dapat melakukan perbaikanperbaikan yang diperlukan untuk meminimalkan deviasi b. Management review Hal ini dilakukan untuk menentukan apakah seluruh metodologi GP ini dilaksanakan dengan efentif. Review tersebut meliputi: efektifitas pelaksanaan GP, benefit yang diperoleh, cost savings yang dicapai, kesulitan-kesulitan yang dihadapi selama pelaksanaan dan identifikasi untuk perbaikan selanjutnya. Tahap 6. Sustaining Green Productivity Dalam tahapan ini terdapat dua hal penting yang harus dilakukan yaitu: a. Menggabungkan perubahan-perubahan dalam sistem manajemen organisasi GP harus diintegrasikan menjadi bagian-bagian dari manajemen harian. Tim GP harus membentuk sistem terstruktur agar sistem tersebut berjalan efentif, maka perlu untuk terus memperbarui kebijakan, target, tujuan, dan prosedur saat diperlukan. b. Identifikasi permasalahan baru untuk continus improvement Saat siklus pertama selesai dilakukan maka permasalahan dapat muncul karena beberapa faktor, antara lain perubahan harga dan ketersediaan resources, kompetisi baru, adanya produk dan pasar baru, dan sebagainya. Oleh sebab itu akan ada kesempatan baru dalam perbaikan produktivitas dan penurunan dampak limbah. Environmental Performance Indiator (EPI) Indikator dapat diartikan sebagai parameter atau jumlah terukur yang didasarkan pada jumlah yang diteliti atau dihitung. Sebuah indikator lingkungan merupakan suatu hal yang diperkirakan dapat menggambarkan berbagai dampak dari suatu aktivitas pada lingkungan serta usaha untuk mereduksinya. EPI menggambarkan efisiensi lingkungan dari proses produksi dengan melibatkan jumlah input dan output. Secara umum indikator dapat dievaluasi dari dua kategori sesuai dengan ruang lingkupnya. Kategori Fisik adalah menghubungkan performasi terhadap jumlah meterial input yang digunakan, aliran limbah, konsumsi energi, kualitas udara dan air. Kategori Finansial adalah meliputi penilaian keuangan terhadap dampak fisik atau aktivitas keseluruhan proses.

32
Pada akhirnya, indikator performasi dapat menggabungkan indikator sistem, guna menggambarkan usaha perbaikan oleh sebuah unit proses untuk mengurai dampak lingkungannya. Indeks EPI dapat dihitung menggunakan rumusan: Indeks EPI=i-1kWiPi
(4.4)

Dimana k adalah jumlah kriteria limbah yang diajukan dan Wi adalah bobot dari masingmasing kriteria. Bobot ini diperoleh melalui penyebaran kuisioner kepada para ahli kimia lingkungan. Bobot yang dimaksud diatas adalah berdasarkan parameter kesehatan manusia dan keseimbangan lingkungan. Kedua parameter tersebut diberikan prosentase yang sama sebab apabila suatu zat kimia dinyatakan berbahaya bagi lingkungan, maka akan berbahaya bagi kesehatan masusia, karena manusia mengkonsumsi makanan dari hewan dan tumbuhan. Nilai Pi merupakan prosentase penyimpangan antara standar BAPEDAL dengan hasil analisa perusahaan: Pi = (standar - analisa )/standar x 100% (4.5)

Konsep Waste Reduction Waste reduction adalah pengurangan sejumlah limbah padat atau limbah yang berbahaya yang ditimbulkan oleh perusahaan. Pengurangan limbah ini meliputi reduksi sumber limbah dan daur ulang. Waste reduction dapat dicapai dengan beberapa cara, diantaranya adalah sebagai berikut: Melakukan setiap proses dalam sistem sebaik-baiknya Proses dilakukan dengan baik dapat mengurangi timbulnya limbah serta membuat proses menjadi lebih efisien. Hal ini dapat menguntungkan bagi perusahaan. Penggantian material Penggunaan bahan yang lebih sedikit atau tidak berbahaya dalam pembuatan produk dan jasa dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan limbah Memodifikasi proses atau teknologi dalam sistem Memodifikasi teknologi dalam sistem dapat mengurangi limbah yang ditimbulkan oleh perusahaan, hal ini dapat dilakukan dengan pengubahan proses produksi, perubahan penempatan atau layout peralatan, mengganti peralatan yang ada saat ini dengan peralatan sejenis yang lebih efisien, atau dengan otomatisasi proses produksi. Pengurangan konsentrasi limbah Reduksi limbah juga dilakuykan dengan penggunaan peralatan sepertu filter atau sludge dryers untuk mengurangi konsentrasi lilmbah dalam air sekaligus jumlah dan beratnya. Penggunaan kembali, daur ulang, atau pemulihan Material yang dapat dipulihkan dapat digunakan kembali, misalnya larutan yang sudah didestilasi atau disaring. Selain itu daur ulang material dapat juga mengurangi limbah yang timbul, misalnya daur ulang kertas.

33
Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk mereduksi limbah: 1. Mendapatkan dukungan dari top manajemen 2. Mengkomunikasikan rencana secara tertulis dan lisan kepada karyawan 3. Menggambarkan proses untuk mengetahui sumber limbah 4. Menentukan peluang potensial pengurangan limbah 5. Menghitung biaya yang timbul akibat adanya limbah saat ini dan membangun sistem pembebanan biaya akibat limbah tersebut secara proporsional untuk departemen penghasil limbah tersebut. 6. Memilih alternatif terbaik dan melaksanakannya 7. Mengevaluasi program pengurangan limbah tersebut 8. Memelihara dan mengembangkan terus-menerus program pengurangan limbah tersebut.

34

Halaman ini sengaja dikosongkan.......................

35

BA AB 5 Lin ngkupa an Kons sep Pro oduktiv vitas Hijau


5.1 Perlind dungan Pad da Polusi

Bah hasan ini dimulai d den ngan papar ran singkat mengenai pengolahan n limbah yang y sela ama ini kita a kenal dan n pahami, diteruskan d dengan d pen njetasan sin ngkat mengenai prin nsip dasar Cleaner C Pro oduction (Produksi Ber rsih), teknik k Cleaner P Production dan tera akhir penga aiaman kisah sukses beberapa industri ya ang menera apkan Clea aner Pro oduction.

Gambar 5.1 Total Qualit ty Environmen ntal Managem ment

36
Pengolahan Limbah! Sebuah Lingkaran Setan? Pengolahan limbah (end-of-pipe) pada prinsipnya adalah proses perubehan dari satu jenis fasa ke fasa yang lain. Misainya pada pengolahan limbah cair industri, kandungan pencemar dalam limbah umumnya diupayakan agar mengendap, sehingga cairan yang ketuar dari sistem pengolahan limbah sudah berkurang kandungan pencemarannya. Namun masalahnya tidak selesai begitu saja. Endapan hasil olahan tersebut pada dasamya adalah limbah cair yang lebih kental (konsentrasi pencemarya lebih tinggi) yang berbentuk lumpur. Lumpur ini umumnya akan dikurangi kadar aimya sehingga menghasikan suatu padatan, yang masih mengandung pencemar dengan konsentrasi tinggi. Dalam hal ini teejadi proses perubahan dari fasa cair ke fasa padat. Contoh lain yang lebih menarik adalah pembakaran (inceneraton) limbah padat sampah. Pembakaran tersebut akan mengubah limbah padat menjadi limbah gas dan partikulat yang akan dilepaskan ke udara sekitar. Dengan kata lain, proses insenerasi ini akan menimbulkan permasalahan pencemaran udara, umumnya scrubber. Scrubber ini akan menyemprotkan air hingga gas dan partikulat akan melarut. Larutan, yang mengandung pencemar ini, kemudian ditampung untuk kemudian diolah dan diperlakukan sebagai limbah cair. Sebuah lingkaran setan? Selain sebagai suatu sistem yang mengubah fasa, pengolahan limbah seringkali menjadi bentuk perpindahan pencemaran dari suatu media ke media lainnya. Pada contoh pengolahan limbah cair diatas, hasil olahan yang berbentuk padatan harus dibuang ke landfill. Hal ini berarti memindahkan permasalahan dari pencemaran air ke media lain, dalam hal ini tanah. Sedangkan pada contoh insinerator, permasalahannya ternyata febih kompleks. lnsenerasi limbah pada yang bertujuan manghindari terjadinya pencemaran tanah ternyata memindahkan masalah ke media lain, yaitu udara dan air. Dari sisi ekonomi, pengolahan limbah juga kurang menguntungkan. Untuk membangun suatu sistem pengolahan limbah yang baik, dipadukan biaya investasi yang besar. Pada kasus industri kecil dan menengah, sering terjadi biaya pembangunan instalasi lebih mahal dari investasi untuk industri itu sendiri. Di sisi lain, pada saat pengoperasian sistem pengolahan, diperlukan biaya yang cukup besar. Pembelian bahan kimia, listrik, air bersih, dan operator adalah beban yang hanis ditanggung oleh perusahaan. Celakanya, biaya-biaya ini pada dasarnya adalah waste, karena tidak memberikan nilai tambah kepada efisiensi dan produktivitas perusahaan. Permasalahan menjadi bertambah rumit karena pada saat ini di Indonesia sangat sulit ditemukan pengolahan limbah yang mampu memberikan hasil yang memuaskan dan mampu mencapai baku mutu secara konsisten yang semakin lama akan semakin ketat.

5.2 Environment Management System (EMS)


Green productivity meliputi baik pengukuran dan implementasi, seringkali implementasi green productivity ini berhubungan dengan Environmental Management System (EMS) yang digunakan untuk mencari pola perhatian pada lingkungan oleh organisasi, jadi mereka tidak hanya menggunakan sistem end of pipe atau tahapan hubungan publik, namun menggunakan elemen integral pada bisnis dan pada strategi front-end.

37
EMS adalah tool manajemen yang mendorong organisasi pada ukuran berapapun untuk memanaje dampak pada lingkungan pada setiap aktifitasnya, produk atau layanannya. Hal ini menyediakan pendekatan terstruktur untuk mengatur, mendapat dan mengkonfirmasi perkembangan melalui tujuan dan target lingkungan. Salah satu tujuan dari tool ini adalah untuk membantu mengintegrasikan tujuan lingkungan pada lingkungan bisnis praktis. Dari pada mencari hubungan legal (hukum lingkungan), EMS menggunakan perkembangan berkelanjutan pada kinerja lingkungannya. EMS mencari cara pada keseluruhan proses pada perusahaan untuk mencapai tujuan lingkungan. EMS secara eksplisit fokus pada tujuan perusahaan akan lingkungan. Agak berbeda dengan Green Productivity yang meningkatkan baik produktivitas dan performa lingkungan, pada sudut pandang ini, manajemen lingkungan adalah sebuah subsistem pada keseluruhan manajemen perusahaan. Dengan cara fokus pada GP, organisasi dapat menyokong EMS pada seluruh sistem manajemen, dan mampu meningkatkan produktifitas dan mencapai tujuan kelestarian lingkungan. EMS tidak berdiri sendiri, namun mereka menyediakan kerangka kerja yang dapat disesuaikan dengan standar perusahaan dan hukum negara, sebagai contoh ustainable development.

5.3 Struktur Dasar EMS


EMS pertama yang paling dikenal adalah ISO 14000, dibuat pada tahun 1996 oleh International Organization for Standardization (ISO). ISO 14000 adalah sistem standar lingkungan yang ekivalen dengan sistem untuk manajemen kualitas, ISO 9000, karena secara teori dengan standar yang sama, dapat diaplikasikan untuk semua organisasi, kecil atau besar, baik produk atau servis, dalam sektor dan aktivitas apapun. ISO dibentuk tahun 1947 untuk mengembangkan standar teknis untuk keteknikan dan part industri dan proses. Tujuan utama standar ISO adalah merupakan spesifikasi teknis atau kriteria ketepatan lain untuk memastikan bahwa material, produk, proses dan layanan sudah sesuai dengan tujuan mereka. Standar ISO seperti bagian sekrup, mur, baur dan lain sebagainya cocok lada desain dan produknya. ISO memiliki 11.400 standar teknis, sekitar 350 diantaranya memonitor kualitas standar udara, air dan tanah. ISO membuat standar ISO 14000 sebagai kelanjutan dari kesuksesan standar ISO 9000 series pada manajemen kualitas standar. ISO 9000 fokus pada manajemen kualitas dimana organisasi harus memastikan hasil produknya sesuai dengan kebutuhan dari kostumer. ISO 14000 lebih memperhatikan standar lingkungan - dimana organisasi harus meminimumkan efek yang berbahaya terhadap lingkungan. Hanya saja ISO 9000 tidak terlalu siginifikan pada hal ini, dan ISO 14000 pun juga tidak terlalu mendukung green atau environmentally friendly pada produk. Baik ISO 9000 dan ISO 14000 terfokus pada proses dan bukan hasil, setidaknya tidak secara langsung. Mereka membuat spesifiikasi bagaimana organisasi mengatur proses standar yang berpengaruh pada ISO 9000 (kualitas) dan ISO 14000 (lingkungan). Mereka tidak secara langsung mengatakan bahwa organisasi harus mencapai benchmark spesifik pada kualitas atau pada performa lingkungan. Performasi aktual difungsikan untuk mendapatkan kepentingan konsumen dalam kasus ISO 9000, dan keinginan komunitas untuk memberi mandat dalam ISO 14000. Kritik pada sistem ini adalah perusahaan dapat membuat polutan pada semua proses semau mereka. ISO 14000 tumbuh dalam diskusi sustainable development dalam konferensi PBB pada Conference on Environment and Development, di Rio de Janeiro, tahun 1992. Dan pada tahun 1993, ISO diluncurkan dengan

38
pendekatan strategi yang lebih baik, untuk mencapai sustainable development. ISO menyusul komite teknis baru yaitu ISO/TC 207 tentang Environmental Management, untuk membuat standar ISO 14000. Tabel 5.1 Seluruh ISO 14000 dan Sub Kategorinya
SeluruhISO14000subcategories. ISO14001EnvironmentalmanagementsystemsSpecificationwithguidanceforuse ISO14004EnvironmentalmanagementsystemsGeneralguidelinesonprinciples,systemsandsupportingtechniques ISO14010GuidelinesforenvironmentalauditingGeneralprinciples ISO14011GuidelinesforenvironmentalauditingAuditproceduresandEMS ISO14012GuidelinesforenvironmentalauditingQualificationcriteria ISO14020EnvironmentallabelsanddeclarationsGeneralprinciples ISO14021EnvironmentallabelsanddeclarationsSelfdeclaredenvironmentalclaims(TypeIIenvironmentallabeling) ISO14024EnvironmentallabelsanddeclarationsTypeIenvironmentallabelingPrinciplesandprocedures ISO14025EnvironmentallabelsanddeclarationsTypeIIIenvironmentadeclarations ISO14031EnvironmentalmanagementEnvironmentalperformanceevaluation ISO14032EnvironmentalmanagementExamplesofenvironmentalperformanceevaluation(EPE) ISO14040EnvironmentalmanagementLifecycleassessmentPrinciplesandframework ISO14041EnvironmentalmanagementLifecycleassessmentGoalandscopedefinitionandinventoryanalysis ISO14042EnvironmentalmanagementLifecycleassessmentLifecycleimpactassessment ISO14043EnvironmentalmanagementLifecycleassessmentLifecycleinterpretation ISO14049EnvironmentalmanagementLifecycleassessmentExamplesofapplicationofISO14041. ISO14050EnvironmentalmanagementVocabulary ISO14061InformationtoassistforestryorganisationsintheuseofEnvironmentalManagementSystemstandards ISO14001and ISO14004

5.4 Sertifikasi, Registrasi Dan Akreditasi ISO


Saat sebuah organisasi mengatakan bahwa mereka sudah memiliki sertifikasi ISO 14000 atau teregistrasi pada ISO 14000, artinya ada pihak ketiga yang telah menilai sistem manajemennya yang tidak sesuai dengan ISO 14001, dan isu sudah tersertifikasi adalah sebuah konfirmasi bahwa mereka masih terkonfirmasi dengan standar yang ditentukan. Artinya organisasi ini sudah memiliki sistem manajemen, Namun tidak menggambarkan bahwa organisasi ini telah mencapai tingkat sebenarnya pada performa lingkungan. Namun perusahaan sudah memiliki sistem untuk mencapai kearah sana. Sedangkan konteks sertifikasi dan registrai mudah diubah tergantung dari budaya dari perusahaan yang dimaksud. Dalam bahasa ISO, akreditasi merupakan proses berbeda lainnya. Hal ini merupakan prosedur dimana badan yang berotoritas memberi penilaian pada organisasi atau individual yang berhak membawa sertifikat ISO 14000 pada sektor bisnis tertentu. Mungkin masih mengambang istilah ISOcertified atau ISO-registeredatau menggunakan frase seperti ISO certification, ISO certificates and ISO registration. Karena ISO sendiri tidak melakukan audit pada sertifikasi, namun sertifikasi dilakukan oleh badan yang diberi kewenangan untuk itu.

39
5.4.1 Model EMS Lain : Emas Dan Responsible Care

Mengikuti kesuksesan ISO, the European Economic Union (EEU) mendirikan sistem sendiri dan disebut EMAS. EMAS dimodelkan seperti ISO 14000. Tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi lingkungan dan performanya melalui pengembangan yang berkelanjutan dengan menggunakan tool manajemen evaluasi periodik, dan tujuan, dengan verifikasi laporan publik, program, sistem dan hasil. Hampir sama seperti pendahulunya yaitu ISO 14000 dan EMAS, adalah Responsible Care, diciptakan pada Oktober 1989 sebagai respon menurunnya dukungan publik untuk industri kimia. Pada tahun 1980an , setelah bencara bocornya pabrik kimia di Union Carbide yang membunuh ribuan orang di Bhopal, India, kepercayaan publik menurun drastis dari 30% di tahun 80an menjadi 14 % di tahun 1990an. Publik percaya bahwa industri kimia tidak memiliki manajemen yang baik, tidak mendengarkan suara publik, tidak melakukan prosedur keamanan dan tidak bertanggungjawab terhadap bisnisnya. Dan kemarahan publik ini mendorong sebagian industri kimia bergabung dalam Chemical Manufacturing Association (CMA) untuk mendirikan Responsible Care untuk meningkatkan kelestarian lingkungan dan performa keamanan bagi semua anggota CMA untuk mengubah persepsi publik. 5.4.2 Benefit Bisnis Dengan EMS Berdasarkan tujuan yang sudah ditetapkan perusahaan, EMS bermaksud untuk membuat benefit pada perusahaan, mulai dari kesesuaian dengan hukum lingkungan, mengurangi biaya untuk energi, material, dan limbah dengan cara menyederhanakan operasi, meningkatkan image dari pemberi keputusan, konsumen dan publik.

Benefit EMS Sebagai Indikator Manajemen Kualitas Perusahaan dengan EMS lebih termanage dengan baik. Pabrik dengan EMS dan Pollution Prevention (P2) mempunyai dua kali lipat kualitas total daripada pabrik lain dengan program Total Quality Management lain. Superior Community and Stakeholder Relationships Perusahaan dengan EMS atau program P2 memiliki informasi 3 kali lebih banyak daripada yang tidak menggunakan program EMS. Superior Environmental Performance Pabrik dengan EMS dan P2 lebih mampu memperhatikan lingkungan sekitar dan masyarakat selama operasinya. 5.4.3 Aturan Green Productivity Dalam EMS EMS terfokus pada performa lingkungan. GP mengkombinalisannya dengan fokus dengan produktivitas. Bersama, keduanya dapat bekerja sama sebagai pendekatan terintegrasi untuk

40
meningkatkan performa perusahaan secara luas. Contohnya, performa perusahaan sangat buruk dengan berbagai kerusakan yang disebabkan, pasti lebih dalam ada pengaruhnya dari organisasi dan manajemen perusahaan tersebut. Kerusakan ini lebih menjadi akibat dari buruknya manajemen , sistem perusahaan yang kuno, atau ketenagakerjaan yang tidak terlatih dengan baik. Karena GP fokus pada peningkatan produktivitas yang lebih baik

5.5 Pollution Control (Pengendalian Pencemaran)


Pengendalian pencemaran adalah kegiatan yang mengancam lingkungan fisik dinyatakan sebagai pencemaran lingkungan (environmenal pollution) yang dapat berubah ke pengotoran lingkungan (environmental contamination). Pencemaran dapat didefinisikan sebagai masuknya zat, energi, dan makhluk asing ke dalam lingkungan sehingga kualitas lingkungan itu menurun dan tidak sesuai lagi dengan peruntukkannya. Pengendalian kegiatan yang mengancam lingkungan ini terdiri atas kegiatan pengendalian pemanfaatan sumber dan pencemaran berupa pengendalian pencemaran lingkungan, penyusutan pencemaran (pollution mitigation) atau penanggulangan pencemaran (pollution abatement). Pengendalian pencemaran adalah melindungi lingkungan penerima beban dari kegiatan manusia dengan cara penurunan volum limbah dan penurunan konsentrasi zat pencemar baik limbah fasa gas atau limbah fasa cair. Konsep pengendalian pencemaran umumnya ditujukan pada satu media saja, misal udara (air pollution control), air (water pollution control), atau tanah (terrestrial pollution control). Konsep yang hadir adalah pengendalian kualitas limbah yang dikenal sebagai control and command yang membutuhkan pedoman/acuan untuk digunakan dalam penilaian (evaluation) dan penaatan (compliance). Nilai numerik yang berupa konsentrasi pencemar yang diizinkan hadir dibutuhkan untuk penilaian keadaan lingkungan dan watak limbah yang diizinkan untuk dibuang ke lingkungan. Hal ini berarti bahwa kondisi lingkungan yang menerima beban limbah dan watak limbah itu sendiri harus dinilai. Pedoman/Acuan Yang Dibutuhkan Untuk Penilaian (Evaluation) Dan Penaatan (Compliance) Pedoman kualitas udara Berupa ambient air quality standards (baku mutu udara sekeliling) dan emissions quality standard (baku emisi udara) yang ditujukan untuk sumber baru (sumber tak-bergerak misal ketel pembangkit steam) dan sumber bergerak (misal kendaraan bermotor). Pedoman kualitas air Berupa stream quality standards (baku mutu badan air) dan effluent quality standard [baku mutu limbah cair] baik oleh kegiatan baik industri maupun kegiatan di perkotaan. Peraturan pendukung undang-undang yang diterbitkan di antaranya adalah : Peraturan pemerintah no. 20 tahun 1990 tentang pengendalian pencemaran air (yang diterbitkan atas dasar uu no. 4 tahun 1982) Peraturan pemerintah no. 51 tahun 1993 tentang analisis mengenai dampak lingkungan Peraturan pemerintah no. 18 tahun 1999 tentang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

41
Dan berbagai s.k. menteri negara lingkungan hidup misal : - Baku Mutu Emisi Sumber Tak-bergerak - Baku Mutu Limbah Cair. Pengendalian pencemaran dengan penerapan teknologi yang dikenal saat ini adalah teknologi perlakuan akhir atau end-of-pipe treatment technology. Konsep ini merupakan konsep perintah dan pengendalian (command and control) yang hanya meninjau pembebanan pada salah satu media udara, air, atau tanah dan menyelesaikan satu masalah yang tertuju pada suatu kegiatan. Pemikiran yang parsial ini sering menimbulkan masalah, karena penanganan hanya berdasarkan pada pengelolaan yang paling mudah. Yesterdays Need tidak hanya menghadirkan Yesterday Solution tetapi Todays Problems (Graedel dan Allenby, 1995). Penemuan internal combustion engine membutuhkan bahan bakar bensin yang tidak menimbulkan knocking, dengan penambahan Tetra Ethyl Lead (TEL) pada bensin untuk meningkatkan angka oktan agar knocking tidak terjadi. Emisi gas buang hasil pembakaran bahan bakar yang mengandung TEL menimbulkan uap timbal yang beracun. Pemakaian Dichloro Diphenyl Trichloro-ethane (DDT) yang bertujuan untuk memusnahkan jentik nyamuk [malaria] akan memusnahkan pula jasad lain yang berguna bagi manusia dan hewan, karena DDT tidak spesifik (non-targeted insecticide) dan persistent dalam tubuh hewan yang memakan serangga yang mati karena terkena DDT hingga akumulatif. Hal positif dari pengembangan konsep end-ofpipe treatment technology adalah memacu pertumbuhan konsultan teknik dan pembuat peralatan yang berkaitan dengan unit pengolahan baik limbah fasa gas atau limbah fasa cair. Hal yang menggembirakan ini jarang didukung oleh kemampuan analisis yang memadai dari konsultan untuk menyelesaikan masalah pada kegagalan operasi, karena seringkali konsultan teknik ini hanya sebagai penjual teknologi atau peralatan saja. Sebagai akibatnya, sasaran pengelolaan lingkungan dengan pengendalian pencemaran ini tidak dapat dicapai secara menyeluruh. Penyebab lainnya adalah kegagalan sistem cost accounting yang belum dapat menilai biaya kerugian lingkungan sehingga pengusaha, pemilik, dan pengelola industri berpendapat bahwa biaya pembangunan dan pelaksanaan suatu pengolah limbah adalah biaya tambahan (external cost). Konsep Yang Berkembang Setelah End-Of-pipe Treatment Technology : Environmental Impact Assessment (EIA) Konsep ini dikenal sebagai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Indonesia menerapkan konsep ini dan dituangkan dalam Peraturan Pemerintah no. 51 tahun 1993. Penerapan EIA menghasilkan EIS Environmental Impact Statement yang harus dipatuhi oleh pemrakarsa dan pengelola lingkungan untuk menerapkan hasil-hasil yang disepakati. Konsep EIA kemudian disusul dengan Waste Minimization yang berakar pada konsep pengelolaan limbah B-3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Waste minimization memiliki tahap-tahap pelaksanaan [hierarchy] yang dapat dilaksanakan tanpa berurutan di mana peluang yang lebih menguntungkan akan dipilih lebih dulu. Konsep ini banyak berkembang di Amerika Serikat. UNEPUnited Nations Environment Program mengajukan konsep Cleaner Production atau produksi bersih dan diterapkan oleh United Nations Industrial Development

42
Organiza ations (UNID DO). Konsep Pollution Pr revention dike embangkan oleh o US EP PA (Amerika a Serikat) dalam dasawarsa yang sam ma akibat dar ri kegagalan pemantauan p p pelepasan bah han berbahaya a dan berac cun serta kehadiran Polluti ion Prevention n Act Unda ang-undang Pe encegahan Pen ncemaran dan n kemudian n penerbitan Right R to Know w Act. Konsep Pencegahan n Pencemaran n memiliki hir rarki pula dan n menyatak kan bahwa dau ur ulang harus s dilakukan la angsung atau in-pipe i recycle e.

Gam mbar 5.2 . H Hierarki Poll lution Preve ention


Kemudia an dunia usah ha untuk per rdagangan glo obal memilik ki gagasan un ntuk memperb baiki kualitas s lingkungan global dan mengajukan konsep p eco-efficie ency untuk mencapai P Pembangunan n Berkelanj njutan. Kons sep ini diaj jukan atas permintaan Perserikatan n Bangsa B Bangsa yang g menyelen nggarakan Ko onferensi Tin ngkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro, Brasil, 199 92. Apa yang g diinginka an oleh ahli lingkungan, pejabat p peme erintah, dan masyarakat m da alam masalah h pengelolaan n lingkungan ? Keingina an untuk mem mperoleh piran nti pengujian yang y menyelu uruh (holistic) ) dan menyusu utkan dampak k lingkungan from cradle to grave suatu produ uk, kemasan, proses, dan kegiatan. k Kon nsep life-cycle e assessme ent merupakan n piranti anali itik yang dapa at digunakan untuk u memaha ami dampak t tersebut mulai i dari cara a untuk memp peroleh bahan n baku hingga pembuanga an akhir baha an ke lingkungan (SETAC, 1993) ata au LCA adala ah teknik yan ng sistematik untuk melak kukan analisis suatu produk k dari ayunan n hingga ku ubur. Konsep ini memiliki sasaran globa al yang meliputi (1) perbaik kan kesehatan n manusia, (2) ) sumber daya alam. alam (O perbaikan n kualitas eko ologi, dan (3) perlindungan p Owens,1997).

43
International Organization for Standarisation (ISO) menyusun pembakuan Sistem Pengelolaan Lingkungan (Standards for Environmental Management System) yang dikenal dengan ISO 14000 Penerapan sistem ini adalah sukarela yang berarti konsep control and command tidak dianut lagi oleh berbagai negara dalam pengelolaan lingkungan. Seri ISO 14000 ini mencakup penerapan Life-cycle Assessment Penilaian Daur Hidup - suatu produk, proses, atau kegiatan adalah complex dan membutuhkan waktu. Berbagai teknik telah diajukan dan diterapkan oleh pelaku penilaian daur hidup . Indonesia dalam dasawarsa 80 dan 90 telah menerima berbagai konsep yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan, yaitu di antaranya : cleaner production from cradle to grave waste minimization pollution prevention environmental management system [EMS] ISO 14000 Jika konsep-konsep lain langsung berkaitan dengan perangkat keras, tetapi penerapan ISO 14000 dilakukan tahap demi tahap dan tidak langsung dengan pengubahan dan penerapan perangkat keras.

5.6

PRODUKSI BERSIH (CLEANER PRODUCTION)

Pendekatan end-of-pipe seperti yang dipaparkan diatas adalah pusat biaya (cost center) yang membebani perusahaan. Pendekatan ini tidak mampu menyelesaikan permasalahan lingkungan secara tuntas. Sebuah pendekatan baru akhirnya diperkenalkan, yaitu cleaner production (produksi bersih). Cleaner production (CP) perdefinisi menurut UNEP (United Nation Development Program) adalah suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu dan diterapkan secara kontinyu pada proses produksi dan produk untuk mengurangi resiko terihadap manusia dan ingkungan. CP mengintegrasikan faktor lingkungan ke dalam seluruh aspek bisnis, terutama efisiensi. Karena mencegah timbulnya limbah, maka pendekatan ini relatif lebih mampu mengatasi permasalahan limbah dibanding pendekatan lain. Dari sisi proses produksi CP difokuskan pada peningkatan efisiensi dan efektif penggunaan bahan baku, energi dan sumber daya lainnya serta mengganti atau mengurangi penggunaan B3 sehinggga mengurangi jumlah dan toksisitas seluruh emisi dan limbah sebelum keluar dari proses. Dari sisi produk CP difokuskan pada pengurangan dampak diseluruh daur hidup produk mulai dari pengambilan bahan baku sampai pembuangan akhir setelah produk tersebut tidak digunakan lagi. Kedua fokus dapat dilakukan oleh industri baik secara partial rnaupun secara terintegratif. Dari pandangan bisnis dan lingkungan penerapan CP akan memberikan beberapa keuntungan, yaitu: 1. Peningkatan efisiensi produksi 2. Penghematan biaya 3. Kemampuan untuk memenuhi baku mutu dan regulasi lingkungan 4. Sejalan dengan standar ISO 14000 5. Peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja 6. Peningkatan citra perusahaan Pendekatan CP merupakan sebuah konsep yang mencakup tiga hal yang saling berhubungan, yaitu:

44
Lebih sedikit pencemar yang dibuang ke lingkungan alamiah Lebih sedikit limbah yang ditimbulkan Lebih sedikit menggunakan sumber daya alam (air, energi,dan bahan baku) CP mengurangi jumlah limbah yang harus diolah, sekaligus mengurangi limbah yang dibuang ke lingkungan.

Limbah umumnya ditimbulkan dari suatu sistem yang kurang efisien. Peningkatan efisiensi proses produksi berarti akan mengurangi jumlah limbah yang ditimbulkan, sekaligus mengurangi sumberdaya yang dipergunakan. Dengan demikian, peningkatan efisiensi merupakan tulang punggung dari CP. Teknik CP secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu: pengurangan limbah pada sumbernya (source reduction) dan daur ulang (recycle). Source reduction merupakan pengurangan atau eliminasi limbah pada sumbernya, biasanya dalam satu proses. Upaya ini meliputi hal sebagai berikut: Perubahan produk (product changes) Perubahan material (input material changes) . Perubahan teknologi (technology changes), Penerapan operasi yang baik (good operating practices.) Wamer-Lambert (di New York, USA) telah melakukan perubahan produk pada produk Novon, sejenis polimer. Pada awalnya produk ini ditujukan untuk menggantikan material kapsul yang berbahan gelatin. Inovasi ini telah melahirkan material pengganti yang berbahan startch (sejenis polisakarida). Starch diperoleh dari kentang atau jagung, sumber daya alam yang dapat diperbarui. Wamer-Lambert akhimya merekayasa Novon menjadi beberapa produk turunan yang dapat diterapkan untuk berbagai jenis penggunaan. Diantaranya sebagai bahan pengganti plastik. Polimer ini bersifat biodegradable sehingga dapat didaurulang, dalam hal ini sebagai kompos. Produk ini juga tidak beracun (non toxic). Penggunaan komersial awal dari produk ini meliputi kapsul, stick golf, dan tempat lilin. Polimer ini juga berpotensi sebagai bahan kemasan. Produk ini telah dipasarkan ke seluruh dunia. Kasus tersebut diatas menggambarkan suatu jenis produk yang berwawasan lingkungan. Untuk kasus tersebut, produk memiliki ciri sebagai berikut: Menggunakan bahan baku dah sumber daya alam yang terbaharukan (renewable resources) Dapat didaur ulang (recycable), dan Dapat diuraikan secara biologis (biodegradable). Pilihan lain dalam sources reduction, selain perubahan produk, meliputi perubahan material input, perubahan teknologi (proses), dan praktek operasi yang baik. Contoh dari perubahan material input adalah penggantian pelarut organik dengan pelarut berbasis air, pada industri farmasi. Pendekatan ini mampu meminimalkan limbah sampai 100%. Upaya penggantian dengan pelarut berbasis air juga telah dilakukan pada industri percetakan dan pengecatan mobil. Pada industri air conditioner, perubahan dilakukan dengan mengganti adhesive berbasis solvent dengan produk yang berbasis air. Substitusi material-material seperti timbal, raksa, DDT, dan CFCs telah diterapkan di banyak perusahaan, dan telah mengeliminasi permasalahan limbah yang ditimbulkannya. Perubahan material input juga dapat dilakukan dengan melakukan pemurnian. Sebagai contoh adalah menghilangkan kandungan Sulfur dan batubara, pada pembangkit listrik bertenaga batubara.

45
Pendekatan ini akan menghilangkan emisi sulfur ke udara, sekaligus mengeliminasi sistem pengolahan sulfur. Timbulan limbah juga dapat diminimalkan dengan menginstalasikan peralatan proses yang lebih efisien atau memodifikasi sistem yang ada. Penggunaan peralatan yang lebih efisien akan mampu menghasilkan beberapa keuntungan, diantaranya produktifitas yang lebih tinggi, mengurangi biaya bahan baku, dan mengurangi biaya pengolahan limbah. Praktek operasi yang baik (Good Operating Process/GOP) adalah pilihan lain dari sources reduction. GOP melibatkan unsurunsur . - Pengawasan terhadap prosedur-prosedur operasi - Loss prevention - Praktek manejemen - Segregasi limbah - Perbaikan penanganan material - Penjadwalan produk Tujuan dari GOP adalah untuk mengoperasikan peralatan dan sistem produksi secara optimal. Hal ini adalah tugas paling mendasar dari manajemen. Sebagai contoh, pengoperasian secara tepat dan pemeliharaan secara berkala dari peralatan dapat mengurangi, secara substantif, kebocoran dan pemborosan material. Peningkatan GOP umumnya dapat menurunkan jumlah limbah antara 20% s/d 30%, dengan biaya yang rendah. GOP memerlukan perhatian secara detail dan pemantauan secara konstan terhadap aliran bahan baku den dampaknya. Pendekatan ini membuat perusahaan dapat mengetahui secara tepat jumlah dan jenis limbah yang dihasilkan pada setiap tahapan proses produksi. Daur ulang merupakan penggunaan kembali limbah dalam berbagai bentuk, diantaranya: Dikembalikan lagi ke proses semula sebagai bahan baku pengganti untuk proses produksi lain, Diubah untuk diambil kembali bagian yang bermanfaat, atau Diolah sebagai produk samping Walaupun daur ulang limbah cenderung cost effective dibandingkan pengolahan limbah, salah satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa proses daur ulang limbah (dalam bentuk recovery material misalnya) sebaiknya dipertimbangkan setelah seluruh upaya pengurangan jumlah limbah pada sumber akan lebih cost effective dibandingkan daur ulang. Hal ini karena daur ulang limbah cenderung lebih memerlukan waktu dan biaya dalam pengelolaanya. Literatur-literatur umumnya meletakkan daur ulang pada pilihan terakhir dalam hirarki CP. Pendekatan daur ulang dianggap sebagai pendekatan reaktif dan bukan proaktif. Hal ini karena pendekatan murni dari daur ulang seakan membiarkan timbul limbah, dan baru melakukan upaya pengelolaan setelahnya. Terlepas masalah tersebut diatas, pendekatan daur ulang mampu membantu menyelesaikan permasalahan limbah dan pengehematan sumber daya. Sebagai contoh, daur ulang satu ton kertas akan menghemat 17 pohon, 7000 galon air, 14 KVVH listrik, dibandingkan dengan memproduksinya secara konvensional. Contoh-contoh Penerapan Cleaner Production di lndustri Manufacturing Pulp and Paper (China), melalui perbaikan proses, perbaikan sistem pencucian, peningkatan pengendalian proses, den perbaikan prosedur operasi, pabrik ini telah menghasilkan beberapa penghematan, diantaranya:

46
Mampu mengurangi beban COD sebanyak 900 ton Rendemen (yield) meningkat dari 45% menjadi 51 % Penggunaan bahan soda kaustik berkurang sebesar 230 ton Secara total penghematan yang dihasilkan sebesar US$ 85.000 setiap tahunnya

Toyota Astra Motor (TAM) Pelaksanaan komitment TAM terhadap lingkungan dalam bentuk program 5R, yang terdiri dari Refine, Reduce, Reuse, Recyle, dan Recover/Retrieve. Untuk pelaksanaannya TAM mempunyai komite P2K3L (Panita Pembina Kesehatan & Keselamatan Kerja, dan Lingkungan), yang terdiri dari tenaga ahli dari setiap pabrik yang ada. Di samping itu TAM juga membuat kegiatan yang dapat memacu karyawan untuk menciptakan ide-ide perbaikan masalah lingkungan. Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah (1) Penggantian material (penggantian Thchloroethylene dengan Xylol), (2) Hemat energi.

5.7. Daur Ulang Pelarut Dan Air


Penghematan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: - Penggunaan Trichloroethylene sebesar Rp. 138.600.000,- per tahun - Penghematan energi sebesar Rp 256.370.000, per tahun - Daur ulang pelarut sebesar Rp. 13.200.000,- per tahun - Daur pakai air sebesar Rp. 39.000,000,- per tahun 3M adalah salah satu perusahaan yang bisa dikatakan berhasil dalam menerapkan CP, dalam bentuk pencegahan pencemaran (Pollution Prevention). Program pencegahan pencemaran ini dilakukan oleh 3M secara sukarela (voluntary) dan merupakan cerminan sikap proaktif yang dianut oleh perusahaan itu. Hal terpenting dari kebijaksanaan 3M adalah kemampuan dan kemauannya dalam menggeser paradigma dari pendekatan end of pipe menjadi up the pipe. Bagi mereka, cara terbaik mengelola limbah adalah dengan tidak menimbulkan limbah. Program pencegahan pencemaran dari 3M dikenal dengan nama 3P (pollution prevention pays), yang mulai dikembangkan pada tahun 1975. Dua tujuan dasar dari 3P adalah: 1. Mengeliminasi pencemaran pada sumbernya, sebelum timbul. Upaya ini akan menurunkan biaya lingkungan, mengurangi penggunaan energi, dan mengurangi penggunaan bahan baku yang diperlukan untuk produksi. 2. Memperhitungkan limbah sebagai bahan baku/sumber daya yang belum terpakai. Sejak 1975 sampai dengan 1992 (atau selama 17 tahun), 3M melakukan 3.000 proyek 3P. Selama kurun waktu tersebut hal-hal yang telah dicapai adalah tereliminasinya: - 170.000 ton pencemar udara - 18.000 ton pencemar air - 2,7 milyar gallon limbah cair - 480 ton limbah padat Dalam kurun waktu tersebut 3M telah menghemat 500 juta dolar. Strategi dasar yang dilakukan oleh 3M delam melakukan pencegahan pencemaran adalah:

47
Adanya komitmen dari manajemen puncak untuk melaksanakan program 3P. Menjadikan pencegahan pencemaran sebagai salah satu budaya perusahaan. Adanya komitmen untuk menjadikan pencegahan pencemaran sebagai salah satu elemen penting

Setiap rencana usaha 3M dan menjadikannya sebagai tolok ukur kinerja, menjadikan keberhasilan dalam menerapkan pencegahan pencemaran sebagai bagian dan penilaian kinerja karyawan dan manajer. Adanya komitmen untuk membiayai program penelitian dan pengembangan pencegahan pencemaran yang diwujudkan dengan mengucurkan dana sebesar 100 juta dolar untuk hal tersebut. Hal yang terpenting dalam penerapan program 3P adalah mulai dikembangkannya suatu hubungan antara tingkat keluaran pabrik dengan tingkat timbulan limbah.

5.8

Good House Keeping Industri Berwawasan Lingkungan

Sektor industri manufaktur sudah saatnya memperluas tanggung jawabnya terhadap keseluruhan "stake holder" sepanjang siklus hidup produknya, karena selama ini industrilah yang memproduksi dan membuang limbah, menghasilkan emisi pollutant dan membuat sampah dari produk bekasnya. Pasar cenderung memiliki preferensi yang lebih baik terhadap industri yang memiliki citra akrab terhadap lingkungan Tekanan regulasi dan pasar global yang memberlakukan hambatan non tarif seperti "ecolabelling", "EMAS" (Environmental Magement Auditing Scheme), ISO 14001 dan sebagainya memaksa industri dan perusahaan untuk memasukkan pertimbangan lingkungan dalam strategi manajemennya. Karenanya seperti ditampilkan pada gambar dibawah ini, tanggung jawab industri yang berwawasan lingkungan sebaiknya diperluas dari peran dan tanggung jawab tradisionalnya yang hanya sebagai pemabrik (manufacturer) tetapi juga sebagai pendaur ulang produks dan mengurusi limbah yang dihasilkan oleh produksinya supaya beban lingkungan akibat limbah industri bisa berkurang. Di Jerman misalnya, Jovane (1995) melaporkan akibat umur produk (lifetime) yang semakin pendek dan tingkat "kadaluwarsa" (obsolence) semakin tinggi membuat produksi limbah menjadi berlipat 2 kali dalam 2O tahun terakhir. Misalnya produksi limbah mobil bekas tercatat sebesar 3 Juta ton/tahun, peralatan rumah tangga menjadi 750 Ribu ton/tahun.pada tahun 1993. Pada tahun yang sama di AS, biaya pengolahan dan pemusnahannya membesar dari 100$ per ton menjadi 600-1000$/ton. Tentunya trend ini menjadi gejala di Indonesia dikemudian hari mengingat (i) Ledakan pertambahan penduduk (ii) elastisitas peningkatan pendapatan masyarakat terhadap permintaan produk industri manufactur (iii) ketidak mampuan pengendalian dampak lingkungan yang negatif akibat eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam, material dan energi.

48
Pemabrikan Perakitan (Manufacturing & Assemble

Pembuangan Emisi Gas Pencemar

Disassemble dan Daur Ulang Pembuangan limbah

Input produks Material

Komponen

Recovery dan daur ulang Material bekas Komponen bekascadang Suku bekas

Utilisasi Produks

Energi
Selama disassembly dan daur ulang input : Material Komponen Energi Informasi

Energi

Jaminan Garansi Mutu Produk

Informasi

Tanggung Jawab Tradisional Industri

Pembuangan limbah cair dan Padat , B3 dan Sisa Produks Rusak Yang Mencemari Lingkungan Perluasan Tanggung Jawab Industri

Gambar.5.3. Pengembangan Tanggung Jawab Industri Selama Daur Hidup Produk Sumber : Dimodifikasi dari Tipnis (1995) Masyarakat yang sadar lingkungan melahirkan paradigma yang baru, sehingga menuntut "green product", "clean production" serta perancangan produk yang tidak merusak dan membahayakan lingkungan saat baik saat produk itu di proses manufacturing, dipergunakan maupun setelah menjadi sampah. Tipnis (1995) mengajukan gagasan "lean production" dan "robust design" menjadi dasar yang penting dalam merealisir paradigma ini. Kemudian untuk memasukkannya kedalam strategi korporasi, perusahaan atau industri manufaktur harus menjalankan dan memperhatikan prinsip paradigma "E" berikut ini: - Ecology : bertindak selayaknya dalam relasi ekologis - Environment : melindungi lingkungan - Energy : meminimumkan limbah dan mengembangkan sumber energi alternatif yang bersih - Economy: konsumsi lebih sedikit resources, menghasilkan produk yang paling ekonomis - Empowering: pemberdayaan karyawan untuk mendapatkan performance yang terbaik - Education: majukan aspek pendidikan, jauhkan prasangka buruk dan ketidak pedulian - Excellence : berikan yang terbaik untuk ekologi

49
Perkembangan mutakhir sistem produksi memberikan pondasi yang kuat bagi percepatan realisasi paradigma "E " sedemikian juga dengan kerangka kerjanya untuk bisa menunjang konsep "ecomanufacturing" menjadi sistem yang operasional. Beberapa pemaparan berikut dibawah mengindikasikan bahwa konsep mutakhir tentang sistem manufaktur bisa menjadi dasar/pijakan untuk pengembangannya. Lean Production Kelompok pendekatan ini misalnya meliputi JIT/TQC, Toyota Production System. Sistem manufaktur ini menggunakan prinsip "lebih sedikit ", dari "economy of waste", modal, waktu, tenaga kerja,manajemen, lantai produksi, persediaan dan prinsip "lebih cepat" untuk melakukan respons terhadap pasar, memperkenalkan dan menghasilkan produk yang lebih memuaskan konsumen. Lean Production juga terbukti memberikan persipan lebih baik dalam mengadopsinperubahan paradigma yang lebih maju misalnya pendekatan dinamis (SQC/SPC),NC, uga CIM/FMS dan juga Sistem Concurrent Engineering dibandingkan sistem produksi massal (Tipnis,1995). Untuk meminimiasi penggunaan material dan energi, sistem Lean Production ini karenanya sangat konduksif sebagai langkah awal untuk mendukung konsep "ecomanufaturing". Robust Design Untuk Produk dan Process. Membuat produk yang hanya sekedar memenuhi spesifikasi sebagaimana yang difokuskan dalam sistem manufaktur masal jelas tidak menjamin kualitas yang diharapkan, dan secara langsung belum menjamin kepuasan konsumen. Karenanya orientasi pada produks yang yang sesuai dengan kebutuhan pasar menjadi ciri sistem ini. Bilamana suatu produk rusak, cacat atau "defect" sampai ditangan konsumen maka diartikan sebagai kerugian yang melebihi biaya produksi, karena citra buruk ini akan mengarahkan ke hilangan pangsa pasar yang akan menghancurkan prospektif masa depan investasi yang dilakukan. Robust design memberikan kemungkinan metodologis yang sistimatis untuk meminumkan kerugian bagi pengguna produk manufaktur terhadap dampak negatif yang merugikan dan dapat dijadikan titik tolak bagi pengembangan konsep "eco-manufacturing". Quality Function Deployment Konsep ini mendefinisikan kebutuhan konsumen dan bencmark dari pesaing dalam suatu fungsi-fungsi teknis yang spesifik maupun dalam mencapai target rancangan estetika disain. Karenanya sangat berguna untuk bisa menangkap dan memotret aspirasi atau preferensi masyarakat dalam aspek kelestarian lingkungan dan pencegahan pencemaran, atau yang sering didefinisikan sebagai "Green Quality Deployment". Konsep Perancangan Siklus Hidup Pengembangan suatu produk dimulai dari suatu penilaian yang didapat dari analisis kebutuhan di pasar. Kemudian pemilihan solusi teknis unuk merealisir produk sesuai kebutuhan pasar didasarkan

50
pada kebijakan perusahaan, sifat produk dan sistem manufaktur serta biayanya. Selama ini aspek lingkungan belum diintegrasikan dalam proses ini. Karena selama ini misalnya ongkos pemusnahan sampah dari produk industri misalnya dibebankan melalui pajak dan ditanggung oleh konsumen-nya. Dimasa depan azas "polluter pays principle" memaksa industri/pemabrik untuk melakukan internalisasi biaya eksternal yag berkaitan dengan pencemaran, kalau tidak industri akan bermasalah dengan citra-nya sebagai tidak akrab lingkungan. Karenanya perubahan disain diperlukan unntuk memungkinkan produk yang dibuat ekonomis saat diproduksi, didistribusi, dipergunakan maupun saat di buang sebagai sampah. " (Alting, 1995). Konsep perancangan Siklus Hidup menambah dimensi baru yaitu dimensi lingkungan pada proses perancangannya. Konsep ini menurut Jovane (1995) merupakan perkembangan dari konsep "concurrent engineering" dan memperhatikan secara simultant mulai dari saat tahap konsepsi perancangan disain sampai tahap disain detail untuk keseluruhan tapahan siklus perancangan (analisis kebutuhan pengembangan, produksi, distribusi, utilisasi, pembuangan limbah atau daur ulang) . Keseluruhan problematik dalam satu siklus hidup sebaiknya dipertimbangkan dalam tahap konsepsi, karena ditahap tersebut perubahan bisa dilakukan dengan lebih ekonomis. Setiap tahapan selalu mempertimbangkan faktor lingkungan hidup, keselamatan dan kesehatan kerja, optimasi penggunaan sumber daya serta biaya keseluruhan siklus produk. Dalam kaitannya dengan pencegahan pencemaran beberapa metodologis semestinya harus dikembangkan untuk bisa mengevaluasi dampak lingkungan dari setiap tahapan siklus produknya. Misalnya saja diperlukan prosedur untuk menetapkan standart spesifikasi lingkungan sebelum aktivitas dilakukan, model untuk menilai dampak lingkungan, aliran material dan neraca input-outputnya, analisis resiko untuk mengatasi kebocoran dan kemungkinan terjadi kontaminasi dan sebagainya. Dari studi di Denmark yang dilaporkan oleh Alting dan Jorgensen (1995) telah mengeidentifikasikan tiga persoalan utama dalam merealisir konsep "life cycle design" dalam implementasi di industri manufaktur yaitu (i) Persoalan strategi daur hidup, ekonomisasi dan pengendaliannya (penilaian life cycle cost, konsep bisnis dan aktivitasnya); (ii) proses dan teknologi produksi perancangan produks yang diorientasikan pada aspek lingkungan dan sumber daya); (iii) teknologi yang berwawasan lingkungan berbasasis kepada sumber daya (diperlukannya produksi bersih dan teknologi bersih). Life Cycle Cost Secara ekonomis sistem indutri manufactur yang berwawasan lingkungan juga harus layak sehingga akhir diharapkan memperoleh performnce yang paripurna "eco-efficiency". Dalama konsep biaya termasuk didalamanya denda , biaya kerusakan lingkungan dan biaya opportunity diperhitungkan secara komprehensif untuk keseluruhan daur hidup produk tersebut baik yang menjadi beban industri/pemabrik, masyarakat maupun ekosistem. Karena setip produk berada dalam pasar yang kompetitif dan selalu memiliki positioning tersendiri dalam target kualitas dan harga untuk suatu periode waktu tertentu, karenanya keseluruhan biaya "life cycle cost" harus lebih kecil dari anggaran ditargetkan. Target biaya ini yang dikeluarkan harus lebih kecil dari target perolehan dari hasil penjualan dikurangi dengan keuntungan yang diinginkan. Batas efisiensi kelayakan ekonomis mengarahkan kepada pilihan-pilihan serangkaian alternatif produk untuk suatu periode tertentu bervariasi. Aspirasi pasar dan target kualitas maupun

51
tingkat pencapaian objektif perlestarian lingkungan yang dikehandaki bisa didefinisikan melalui QFD dan bencmark dari pesaingnya yang paling kompetitif. Dengan demikian perusahaan atau industri manufactur ini dapat membuat positioning terhadap pesaing yang lain dalam pasar. Beberapa studi evaluasi dan aplikasi konsep "life cycle cost" ini dalam industri manufaktur misalnya dilaporkan oleh Remich (1994) di Departemen Industrial and Manufacturing University of Rhode Island, juga Zust dan Wagner (1994) di Swiss Federal Institut of Technology, Zurich.

Eco-factory
Konsep ini bisa dipandang sebagai pijakan filosophis yang seide dengan pengembangan konsep "ecomanufacturing". Konsep eco-factory tidak lain sebagai implementasi konsep perancangan daur hidup dalam industri manufacturing dalam suatu sruktur organisasi tertentu. Struktur organisasi manufakturnya mendistribusikan pekerjaan antara sistem produksi sebagai penanggung jawab perancangan dan mencipatkan produk yang akrab lingkungan dan aman, serta sistem restorasi yang bertanggung jawab untuk melakukan proses disassemby, mendaur ulang, dan memanfaatkan kembali material limbah maupun bekas kedalam sistem produksi. Bila konsep perancangan daur hidup dibuat dengan baik, maka perancang tentu saja akan dapat merancang rancangan produk baru dengan memanfaatkan pengetahuan mengenai dampak lingkungan pada setiap tahap keputusan disain.

52

Perlindungan Lindungan
n ja da K e r ta n ta n ha se m a K e s el a Ke
Ke P e m ud ma ah b ri an ka n

Design dan Development

Produksi

ili k a n m e p e K s Pr o d u k

Kebutuhan

Perancangan Daur Hidup Produk

Distri busi

O p t i m as i sum b e r d ay a

Pembuangan Daur Ulang

Penggu naan

Gambar 5.4. Konsep Perancangan Daur Hidup Sumber: Ulhoi (1994)

ur aD a uk B ia y p P ro d u H id

K P e e b ij ru ak s ah an a an

53
Design Untuk Standarisasi daur ulang Concurrent design Reduksi Limbah Pemesinan material daur ulang

Sistem Produksi
Produk Teknologi Teknologi Produksi

Produks/Barang
Teknologi Daur Ulang

Pasar

Teknologi Disassembly

Sistem Restorasi
Material terpilih Material Daur Ulang Identifikasi Material yang disassemly

Gambar 5.5. Konsep Eco-factory Sumber : Alting (1995)


5.9 Eco Design

Pengenalan Green Design Green Design bertjuan untu mengembangkan produk dan proses produksu dengan lebih ramah lingungan. Aplikasi dari Green Design ini menyangkut sebuah kerangka kerja yang berhubungan dengan isu lingkungan hidup, Aplikasi dari analisis dan metode sintesis dan sebuah tantangan untuk sebuah prosedur tradisional untuk desain dan manufaktur. Dimasa lalu, efek dari lingkungan hidup seringkali masih tidak dipedulikan pada saat tahapan desain dari sebuah produk baru atau dari sebuah proses produksi. Limbah-limbah yang berbahaya dibuang, tanpa mempedulikan kemungkinan kerusakan lingkungan yang bisa terjadi. Penggunaan energi yang tidak efisien menghasilkan biaya operasional sangat tinggi. Limbah dulunya masih berupa sisa dari bahan produksi, manufaktur atau proses distribusi. Konsumen tidak dilibatkan dalam lingkaan ini, keterlibatan konsumen masih terbatas pada re-manufaktur atau daur ulang. Mengingat masalah-masalah ini mengispirasi para pakar teknologi

54
lingkungan untuk membersihkan polusi masa lalu (yang dikenal sebagai remediation) dan mengatur aliran limbah (dikenal dengan waste treatment). Proses membersihkan polusi yang terjadi masih sangat diperlukan. Namun pada perubahan desainya dapat lebih efektif mengurangi beban lingkunan dan lebih efisien dari segi biaya dibanding dengan strategi membersihkan lingkungan. Beberapa contohnya seperti partikel termasuk : a. Penggantian Bahan Pengencer Peggantian sistem pengencer pada bahan kimia sebaiknya digati dengan alternatif yang lebh aman seperti pengencer yang sifatnya biodegradeable atau pengencer yang tidak mengandung racunn. Pengencer barbahan dasar air lebih disenangi dibanding dengan pengencer organik.

Gambar 5.6 Contoh sistem pengencer ramah lingkungan


b. Technology change
Seperti halnya semi konduktor pada kendaraan bermotor yang lebih efisien dalam konsumsi energinya. Untuk komputer dan produk elektronik juga menggunakan mekanisme serupa, yaitu menggunakan program energy star yang menjelaskan konsumsi energi maksimum untuk komputer, printer, dan peralatan elektronik lainnya. Produk lain menawarkan solusi program green lights dimana program ini mendukung hemat energi pada lampu.

c. Recycling of toxic wastes Daur ulang untuk produk beracun dapat menghindarkan material yang tidak bisa diurai secara alami oleh alam dan menghindarkan adanya produk baru yang membahayakan lingkugan. Contohnya, baterai Nickel Cadmium yang dapat di recharge , dapat didaur ulang menjadi cadmium dan nickel untuk penggunakaan yang lalin.

55
Tantangan dari green design adalah untuk menahan berkembangnya desain konvensional dan prosedur produksi yang tidak memperhatikan lingkungan secara sistematis dan efektif. Hal ini membutuhkan perubahan dalam prosedur merubah setiap proses produksi yang sudah ada sangatlah sulit. Hal ini disebakan desainer harus menghadapi banyak konflik dan industri pasti masih menginginkan kecepatan produksi dan efektif biaya. Kepedulian lingkungan harus dikenalkan secara aplikatif dan dengan metode yang dapat diterima untuk dapat menyelesaikan masalah perubahan proses produksi ini dengan baik.

Mencapai Tujuan Green Design Tidak ada konsensus atau perjanjian khusus mengenai bagaimana mencapai tujuan dari green design. Beberapa berpendapat bahwa green design dan perlindungan polusi (PP) harus dilakukan bergantian untuk menekan biaya. Dalam cara pandang ini, limbah manapun dari proses produksi adalah kesempatan. Yang lain lebih memfokuskan pada strategi yang lebih khusus, seperti daur ulang untuk menyelamatkan material mentah, dan mengembangkan tujuantujuan khususnya dengan strategi ini. Pendekatan lainnya adalah untuk menarik perhatian dari semua aspek, seperti masalah pemanasan global, atau media yang lebih khusus lagi seperti polusi udara, dan tidak mempedulikan efek lingkungan lain. Setiap solusi yang ditawarkan pasti memiliki kelemahan. Beberapa perlindungan pada polusi (PP) mungkin secara sosial diinginkan namun secara ekonomis perusahaan tidak terlalu menginginkan. Beberapa mekanisme daur ulang memiliki beban biaya lebih besar daripada menghemat. Terutama apabila jarak yang dibutuhkan jauh. Terfokus pada satu isu polusi saja misalnya isu polusi udara, bisa jadi polusi udara ini berakibat pada polusi air. Perlu penekatan dan kajian lebih lanjut. Tujuan sosial dari green design adalah untuk lebih menggunakan pendekatan umum. Tujua sosial dari green design adalah untuk membuat masa depan yang berkelanjutan menyangkut sumber daya alam dan kesehatan ekolgi. Apa yang bisa dirakasakan dimasa mendatang adalah hasil yang harus kita mulai saat ini. Dan masalah apa yang terjadi dimasa depan adalah hasil dari masalah yang kita buat saat ini. Bagaimanapun, tidak ada keyakinan bahwa teknologi dan pengetahuan akan mengembangkan hasil yang diharapkan dalam waktu singkat. Terlebih lagi dengan jumlah populasi yang tumbuh beitu cepat. Menghindari untuk membahayakan lingkungan adalah hal yang harus dilakukan manusia baik oleh individual atau berkelompok sebagai wujud kesadaran mereka sebagai bagian penduduk bumi. Terdapat tiga tujuan umum dari green design untuk mencapai masa depan berkelanjutan : - Mengurangi atau meminimalisasi penggunaan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. - Mengatur sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan meyakinkan keberlanjutannya dan mengurangi dengan tujuan utama mengurai racun dan emisi lain yang berbahaya pada lingkungan, termasuk emisi yang menyebabkan pemanasan global.

56
Tujuan green design adalah untuk mencapai tujuan-tujuan diatas dengan biaya yang efektif. Dengan tiga tujuan utama tersebut, dapat dikembangkan lagi beberapa tujuan yang lebih spesifik. Contohnya dengan peralatan yang hemat energi dapat mengurangi penggunaan sumber daya alam dan emisi yang mengandung racun, selama perubahan efisiensi energi tersebut tidak memiliki efeksamping pada beban lingkungan. Karena itu pembangunan instalasi mugkin menghasilkan panas, namun menyelesaikan masalah pada manufaktur dan isntalasi. Sebuah produk hijau atau proses hijau tidak dapat didefinisikan dengan pasti, hanya bisa dipastikan bahwa produk tersebut adalah produk hijau apabila dibandingkan dengan produk lain. Misalnya apakah produk tersbut menggunakan komponen-komponen yang dapat didaur ulang, mengguanan energi yang dapat diperbarui dan memiliki perencanaan yang pasti pada akhir usia produknya (end of life) dari sebuah produk. Bagaimanapun, produk tersebut tidak bisa diaktakan sebagai produk hijau, menggunakan sumber daya alam yang mulai menipis pada saat porduksi, atau menghasilkan limbah yang berbahaya pada saat proses produksi. Sebuah bis yang penuh penumpang bisa dikatakan lebih pantas menjadi produk hijau dibandingkan sebuah mobil terbaru yang menggunakan komponen yang bisa didaur ulang yang dinaiki oleh satu orang. Dikatakan demikian karena emisi yang dihasilkan oleh bus dan mobil tersebut tidak jauh berbeda, namun bus lebih banyak mengangkut orang. Mengembangkan dan memasarkan produk hijau adalah sebuah langkah maju untuk menjaga sumber daya alam yang ada dan perlindungan lingkungan dan melalui pengembangan ekonomi. Produk hijau juga menyangkut lebih banyak sumber daya yang efisiensi yang digunakan, mengurangi emisi, dan mengurangi limbah, mengurangi biaya akibat dampak sosial akibat polusi dan biaya perlindungan pada lingkungan. Produk hijau menjajnjikan keuntungan bagi perusahaan pembuatnya dengan mengurangi biaya-biaya berikut ini, biaya untuk material, mengurangi biaya untuk proses pembuangan, dan mengurangi biaya untuk membersihkan sampah akhir dan meningkatkan nilai jual produk hijau melalui penjualan dan ekspor. Mendesain produk hijau menjadi penting pada generasi saat ini, sama pentingnya dengan menyediakan generasi masa depan dengan planet yang membuat mereka bisa bertahan dan berkembang. Pemerintah khususnya di Eropa, telah menyediakan insentif khusus untuk mengembangkan produk hijau ini. Contohnya, produk buatan Jerman telah menggunakan kemasan yang efisien dan mendesain produkya dengan rencana daur ulang produk saat produk tersebut tidak dapat digunakan kembali. Pemerintah Perancis dan Belanda memiliki badan organisasi tersendiri yang bertugas untuk mempercepat tumbuhnya teknologi yang bersih. Di Amerika Serikat, pemerintahan pada negara bagian menetapkan penggunaan material dari bahan daur ulang dan pemerintah federal telah memerintahkan pegawainya untuk mencari produk hasil daur ulang dan juga telah membuat program produk hijau dan bangunan yang berwawasan lingkugan. Emisi racun telah berhasil dikurangi dalam banyak industri, industri tersebut wajib melaporka berapa jumlah toxic yang mereka keluarkan secara berkala. Perkembangan yang signifikan telah berhasil dibuat oleh perusahaan pada saat mereka menghasilkan produk hijau dan proses produksi yang ramah lingkungan dengan biaya yang dapat ditekan. Konsumen masih dinilai lamban dalam merespon pentingnya produk hijau ini. Pada akhirnya, semua diserahkan kepada konsumen apakah mereka mau membeli produk hijau ini.

57
Desain Industri Desain adalah bagian yang paling rumit dalam proses produksi. Desainer atau perancang harus berhadapan dengan batasan-batasan dan kebutuhan pengembangan produk. Contohnya, sebuah personal computer harus cepat, bertenaga dan murah. Untuk menghasilkan produk hijau harus efisien energinya dan mudah didaur ulang. Desainer harus berjuang untuk mencapai satu set kebutuhan untuk mencapai desain hijau. Mencapai produk yang berwawasan lingkungan membuat tugas desainer menjadi lebih sulit. Bagi sebagian besar konsumen, efisiensi energi dan kemampuan untuk daur ulang produk tidaklah lebih penting dibadingkan dengan variabel pemilihan lainnya, artinya desaier tidak dapat mengkompromikan produk lain untuk dipaksa menjadi produk hijau. Mendesain dan memproduksi produk hijau membutuhkan pengetahuan, peralatan, metode produksi yang tepat, dan keseriusan. Desain juga harus mudah dan cepat penggunaannya dan mudah dimengerti. Idealnya, alat bantu desain ini bisa mengidentiikasi perubahan desain yang juga menekan biaya pada saat mencari material baru yang digunakan dan teknologi yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan daur ulangnya. Misalnya

Gambar 5.7 Tahapan product lifecycle

Pemilihan Material Dan Penggunaan Label Beberapa material mentah dalam industri penggunaannnya sangat luas dan dapat diaplikasikan menjadi beberapa komponen atau produk. Bagaimanapun juga, setiap material memeiliki efek samping yang berbeda pada kelestarian lingkungan. Pemilihan material yang digunakan untuk menuntun desainer melalui material yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan. Sebagai contoh, Graedel dan Allenby (1995) memberikan prinsip-prinsip berikut ini sebagai penuntun untuk pemilihan material: - Pilih material yang tidak beracun jika memungkinkan

58
Pilih material yang familier dengan alam misalnya selulosa, dibandingkan dengan material buatan manusia misalnya aromatik berbahan khlor - Minimalkan penggunaan material yang digunakan dalam produk atau proses - Coba untuk menggunakan material yang telah memiliki infrastruktur daur ulang - Gunakan bagan daur ulang jika memungkinkan Sebagai tambahan dalam tuntunan ini, perusahaan seperti IBM dan Chrysler telah mengembangkan dan menggunakan material spesifik yang ramah lingkungan dengan mendeskripsikan lebih detail pada aplikasi tertentu. Label menjadi penanda umum pada material atau produk yang memberikan informasi mengenai isi dari material yang digunakan dimana sesuai dengan perencanaan material dan manajemen limbah. Contoh, botol plastik digunakan biasanya memiliki identifikasi plastik yang dijelaskan dengan simbol-simbol jenis plastik apa yang digunakan dan usaha daur ulangnya. Label ini menjadi bagian dari green design. Tanggung Jawab Desainer -

Didalam lapangan kerja profesional, dan pada suatu konteks akademik intelektual, desainer dianggap punya tanggung jawab besar pada masyarakat. Dalam berbagai pembahasan, Desainer atau perancang dalam artian luas seperti yang telah dijabarkan diatas memiliki peran langsung dalam penciptaan 'lingkungan buatan' (built environment) tempat bermukim dan tempat berbagai aktivitas manusia yang lain. Desainer terus menciptakan 'alam baru' bagi manusia modern, yang dengan sendirinya selalu memperbarui persepsi manusia tentang alam asli, alam semesta, alam buatan dan tentang dirinya sendiri. Anggapan ini memberi tempat yang terhormat bagi profesi desainer, tetapi sekalipun juga memberi tempat yang rawan karena dianggap turut bertanggung jawab pada berbagai kekeliruan, ketidaknyamanan, bencana, kecelakaan dan kesalahan fatal pada habitat mereka. Sebetulnya, anggapan ini dapat juga dianggap sebagai ekspektasi dan aspirasi masyarakat modern yang mendambakan suatu habitat yang lebih nyaman, lebih aman, lebih bermartabat atau lebih mendukung aktualisasi diri mereka. Sementara itu, wujud dunia modern ini sesungguhnya lebih ditentukan oleh para penguasa dan para pedagang. Desain, hanyalah salah satu tahap dalam proses mewujudkan mimpi politik dan mimpi ekonomi para pemimpin dan para pedagang serta pengusaha. Desainer, turut berperan memberi wujud pada mimpi-mimpi dan rencana-rencana ini. Karena itu, anggapan tentang peran dan tanggung jawab besar desainer ini, bisa kita anggap sebagai 'amanah' dan tuntutan supaya para desainer juga berpihak pada masyarakat dan menentukan tempat berdiri yang tepat di antara berbagai kepentingan ini. Isu tentang tanggung jawab desainer kepada masyarakat telah tercermin sejak awal komersialisme terjadi, pada masa revolusi industri di Eropa, John Ruskin, William Morris, A.W.N. Pugin, Henry Cole dan F.A.Voysey telah gigih mencanangkan bahwa desain punya peran pencerahan dan pemuliaan kualitas hidup, serta desain adalah cerminan moral masyarakatnya. Selanjutnya doktrin seperti ini selalu muncul dalam wacana teori dan praktek desain selama perkembangan modernisme desain. Isu ini menjadi sering muncul kembali dalam pembahasan mengenai profesi desain dalam berbagai forum. Ada hal yang perlu diingat oleh para perancang produk adalah bahwa pengguna dalam hal ini masyarakat telah berkembang sebagai individu, mereka berkembang dan matang dipengaruhi oleh faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture).

59
Faktor Bawaan (Nature) Faktor bawaan (nature) adalah faktor yang mempengaruhi seseorang berdasarkan pengaruh keluarga/keturunan. Termasuk budaya yang dibawa oleh keluarga individu tersebut.

Faktor Lingkungan (Nurture) Pribadi individu diperoleh dari proses belajar. Alam tidak mempersiapkan seseorang secara instan menjadi pandai, jadi orang kota atau orang desa. Banyak hal yang harus dipelajari terlebih dahulu sebelum individu itu betul-betul mandiri dan siap beradaptasi dengan lingkungannya. Pengaruh lingkungan dan bawaan mempunyai pengaruh yang sama besar pada perkembangan seseorang. Perkembangan adalah transaksi antara individu dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya. Ada hal-hal yang sulit atau tidak mungkin diubah dalam dirinya sehingga dia berupaya membuat lingkungan yang sesuai dengan dirinya. Tetapi ada juga hal-hal dari dirinya yang bisa berubah. Dalam hal ini dia berusaha keras untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Tanggung Jawab Profesional Hal-hal yang menyangkut hubungan kerja antara desainer dan pemberi tugas dan antara desainer dengan industrinya. Hal ini dapat diuraikan menjadi tanggung jawab dalam: Kualitas Desain: Meliputi kualitas pemikiran, kualitas konsep kreatif, kualitas konsep problem solving, kualitas penggarapan umum dan penggarapan detil, kualitas presentasi dan pembuatan dokumen dan kualitas pekerjaan desainer dalam proses implementasi untuk desain produk secara umum. Tata Hubungan Kerja: Meliputi keahlian desainer atau grup desain mengelola hubungan kerja dan proses konsultasi dengan pemberi kerja dan para pelaksananya. Keahlian ini harus didukung oleh SDM yang berkualitas dan sistem yang komunikatif. Tanggung Jawab Formal atau Legal Yang menyangkut kewajiban dalam proses melengkapi dan mendapatkan izin atau persyaratan legal atau formal serta tata aturan berpraktek yang mendasari profesi desain atau proses pekerjaan desain yaitu : Perijinan: baik bagi proyek maupun bagi personalia yang terlibat pada usaha atau pelaksanaan pekerjaan desain. Perpajakan: baik untuk memenuhi kewajiban proyek, maupun untuk memenuhi kewajiban personalia pada proyek dan usaha. Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) atau Hak Paten Industri: baik untuk melindungi kepentingan pencipta, maupun untuk melindungi kepentingan klien dan masyarakat pada umumnya. Dalam area ini, tersurat suatu pantangan bagi desainer untuk meniru karya desainer lain.

60
Tanggung Jawab Sosial Perancang Berbeda dengan tanggung lawab profesional dan legal atau formal yang lebih jelas dasar dan pedomannya. Tanggung jawab sosial tidak punya aturan dan ukuran yang pasti. Karena itu, isu ini perlu diangkat ketempat yang lebih hakiki, yaitu suatu tanggung jawab bermasyarakat yang umum, yang dipraktekkan melalui profesi desain. Akibatnya, isu ini berkembang ke area wacana teoritis etika, estetika (filsafat) agama serta bidang-bidang humaniora dan bidang ilmu yang lain. Dalam perkembangan sejarah desain, kita dapat menandai beberapa fenomena dan isu besar, yang mempertanyakan kembali peran desiner dalam masyarakatnya. Setiap era dalam perkembangan bidang desain, memunculkan arah baru dan pertanyaan baru yang harus ditanggapi. Hai-hal penting yang memberi warna pada perdebatan mengenai Tanggung Jawab Sosial Desain adalah mewujudkan desain hijau. Desain Hijau (Green Design) Kemajuan Industrialisasi abad 20, yang diukur dengan berbagai parameter dan indikator 'Growth', berbanding langsung angka kerusakan dan degradasi alam yang terjadi. Bencana ini disiarkan langsung oleh berbagai institusi pada awal 70-an hingga terdengar suara-suara vokal dari 'Club of Rome', MIT dan berbagai desakan 'Limit.of Growth' dan 'Zero Growth' sampai munculnya LSM semacam Greenpeace. Pada awalnya, gerakan ini dimusuhi oleh negara karena dianggap bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi dan baru pada awal 90an diterima sebagai isu global. Label kompromistik yang dipakai di Rio de Jeneiro tahun 1992 adalah 'sustainable development', yaitu pertumbuhan dimana sumber daya alam yang dipakai (dikuras dan dirusak) harus seimbang dengan yang dikembangkan (restorasi, reboisasi, budidaya, biotek, rekayasa). Sedangkan manusia sebagai mahluk sosial tetap melaksanakan konsumsi, terlepas hal tersebut berlebihan atau tidak. Disinilah tanggung jawab seorang desainer produk dalam meilih dan memilah material produk. Karena itu mulailah riset-riset dan produk yang bernuansa Green Design seperti pada produk otomotif yang berbahan bakar dapat diperbaharui (renewable energy) atau mencari alternatif bahan bakar lain seperti energi listrik yang kemudian dikenal sebagai energi alternatif (alternative energy). Pada sisi lain, perubahan pola konsumsi dan gaya hidup harus mutlak dilakukan. Para produsen ditantang dan dirangsang untuk memproduksi produk ramah lingkungan dengan kualitas baik, dan para desainer ditantang untuk menciptakan dan mempertanggung-jawabkannya. Para pemimpin politik dituntut punya komitmen penuh menyelamatkan alam dengan perlindungan hukum yang jelas.

61
Tabel 5.2 Contoh greener product

Desain Untuk Semua Dari perkembangan sejarah desain, kita melihat bahwa untuk waktu yang desain modern hanya berorientasi pada kebutuhan masyarakat negara terutama kelompok sosial ekonomi menengah, menengah atas dan kalangan atas. Fenomena perkembangan desain mencerminkan aspirasi, harapan, kebutuhan dan mimpi kelas menengah. Pada tahun 1971, Victor Papanek, seorang pemikir Amerika Serikat, menerbitkan 'Design for the real world' . Tokoh besar ini menekankan kembali bahwa banyak tugas lain desainer untuk industri komersial kelas menengah. Perhatian pada kelompok khusus yang memerlukan desain khusus segera menjadi area menarik. Pengguna yang memiliki cacat fisik, produk untuk ibu hamil, produk untuk anak-anak, mulai memperoleh tempat khusus. Di negara berkembang, manajemen sumber daya alam serta kegiatan manusia sangat berbeda. Kultur yang berbeda seharusnya membutuhkan perkakas yang berbeda. Area ini merupakan tantangan besar para desainer. Design For Environment (DFE) Dan Keberlanjutan Produk Industri Prinsip DFE (Design For Environment) DFE dirancang untuk membantu perusahaan yang menggunakan aplikasi yang ramah lingkungan untuk mendapatkan lingkungan yang berkelanjutan dan masyarakat yang sehat. Karena itulah DFE membutuhkan baik dukungan dan kerja dalam konteks inisiatif pada lingkungan. - Tiap molekul yang terlibat pada proses fabrikasi harus dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai jual - Energi yang digunakan pada fabrikasi dapat digunakan menjadi material transformasi : misal: solar cell energy, water energy, dll - Minimalisasi penggunaan material dan energi pada produk, proses dan layanan purna jual (services) - Pemilihan non toxic material saat mendesain produk - Pemilihan material recycle atau recycable material pada material mentah dan komponennya. - Tiap proses harus menyediakan utilitas yang menerus, jika perlu membuat sistem moduler pada produk atau menggunakan sistem produksi ulang - Pada end of life cycle produk harus dapat dialih fungsikan menjadi produk lain

62
Setiap industri yang dibangun harus memperhatikan lingkungan sekitar, habitat lokal, perbedaan spesies mahluk hidup dll. Perjanjian kooperatif harus dapat dikembangkan dengan suplier material dan pelanggan untuk minimalisasi material packaging.

Konsepsi Eco Design Selama beberapa dekade, konsumen selau berkeinginan untuk mendapatkan barang konsumtif dengan harga yang terendah. Tendensi ini berakibat pada eksploitasi berlebihan pada sumber daya alam, meningkatnya polusi udara dan air, hilangnya spesies hewan dan meningkatnya limbah-limbah beracun dan berbahaya. Untuk menghapuskan rantai ini sangat diperlukan langkah-langkah dengan konsep Memproduksi Lebih Banyak Dengan Lebih edikit. Dengan kata lain untuk memuaskan kebutuhan akan keperluan barang dan jasa disaat yang sama mencoba mengurangi jumlah limbah dan menghindari akibat buruk dari timbulnya polusi. Perusahaan- perusahaan sat ini mengadopsi pendekatan ini dan telah membawa pada pembangunan yang berkelanjutan. Kepedulian industri pada lingkungan bahkan telah menjadi issu politik. Tahun 2000 di Malm (Sweden), jajaran pemerintahan dunia meluncurkan sebuah wacana baru tentang produksi dan konsumsi yang berkelanjutan, untuk meningkatkan jumlah produk dan jasa dan sekaligus mengurangi efek pada lingkungan dan kesehatan. Semua produk, meskipun yang telah berlabel menjadi green product sekalipun pasti memiliki efek buruk pada lingkungan. Mereka diproduksi menggunakan material mentah, energi dan air. Kemudian mereka juga harus dikemas, dikirim ke tempat mereka akan digunakan, sebelum akhirnya berakhir menjadi seonggok sampah. Eco Desain bertujuan untuk mengurangi efek-efek terebut melalui kesadaran tentang pentngya memikirkan lifecycle produk, sama pentingnya dengan efisiensi dan utilitas produk. Eco Desain adalah sebuah konsep internasional, yang dikembangkan oleh The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) di Rio Summit, Eco Desain adalah kulminasi dari pendekatan yang holistik, berkelanjutan dan proaktif. Terdiri dari mendesain produk atau jasa untuk minimalisasi efeknya untuk lingkungan. Eco Desain mengaplikasikan setiap tahapan dalam usia produk (products life), termasuk ekstrasi material mentah, produksi, pengemasan, distribusi, penggunaan, recovery produk, daur ulang, dan sebagainya.

Gambar 5.8. Project Heatsun (Republic of Ireland) Developers of the worlds first Ecocomputer IAMECO (see right). Sumber : www.iameco.ie

63

Gambar 5.9. Laura Williams Designer of Aluna, the worlds first tidal powered Moon Clock (see right), to be built somewhere on the River Thames in time for the 2012 Olympics. Sumber : www.alunatime.org

Standarisasi Lingkungan Di Eropa Di eropa saat ini dikembangkan konsep standarisasi lingkungan diantaranya : 1. EUP (Energy Using Product) Berdasarkan konsep IPP, tujuan dari EUP adalah untuk standarisasi desain dari peralatan elektronik untuk meyakinkan bahwa produk tersebut bebas sisrkulasi (circulation free) dan bertanggung jawab atas efek lingkungan yang ditimmbulkan pada akhir usia produk, dan menggunakan sumber yang lebih efisien dan melidungi lingkungan dalam misi menjaga kelestarian lingkungan. 2. WEEE (Waste of Electrical and Electronic Equipment) Untuk mengurangi limbah dari produk elektronika, produsen harus berkomitmen untuk mendaur ulang dan memberdayakan kembali produknya yang sudah habis usia produknya antara 70% sampai 80% dari berat produk itu sendiri. 3. RoHS (Restriction of Hazardous Substances) Mengurangi pngunaan bahan bahan berbahaya bagi kesehatan, seperti lead (Pb), mercury (Hg), cadmium (Cd), hexavalent chromium (Cr6) dan polybrominated biphenyl (PBB) dan polybrominated biphenyl ether (PBDE) flame retardants.. Penggunaan bahan-bahan berbahaya diatas harus dihindari, untuk memasuki pasar Eropa. Standar Lain Diluar Eropa Diluar sistem standarisasi lingkungan di Eropa terdapat beberapa standarisasi lain yang melingkupi aspek-aspek lingkungan dalam desain produk industri. Standar tersebut termasuk: 1. STADAR ISO, NF dan EN ISO 140xx: Satu set dari standar manajemen lingkungan

64
ISO TC 61: Aspek k lingkungan - plastik ISO 64 guide: Asp pek lingkunga an pada standa ar produk NF FD F X30 310: Aspek A lingkun ngan dalam de esain produk EN 13428 1 to 1343 32: Aspek ling gkungan pada kemasan Diluar aspek-aspek standar diat tas, beberapa a keterangan dibawah ini i membe erikan ide bag gi desainer pro oduk untuk le ebih memperh hatikan faktor r lingkun ngan seperti - LVD: Low Voltage e Directive; - IEC 60 6 947- 2: low w voltage devic ce standardci ircuit breakers s; - IEC 60 6 947- 4 - 1: switchgear s an nd control gear r standard.

ru yang lebih Sebagai wujud kepedu ulian perusah haan, Schneider Electric mengembangka m an produk bar h ramah lin ngkungan dan n prosedur manufaktur m dis sesuaikan den ngan standar diatas, d sebaga ai iplementasi i perusaha aan yang mem miliki kepedulia an untuk men nerapkan eco desain. d Strategi eco design , harus diguna akan dalam setiap s pengem mbangan prod duk baru atau u peningkatan n produk yang y sudah ad da, termasuk desainer haru us menerapka an kriteria lin ngkungan, dan n memikirkan n efek lling gkungan semi inimal mungk ki pada keselur ruhan usia pro oduknya. Solu usi optimal un ntuk mencapai i kriteria produk p peduli lingkungan dengan prod duk yang sesuai dengan keinginan k kon nsumen maka a desainer harus menye eimbangkan kriteria k desain n berikut ini: performa, biaya, kualitas s, lingkungan, industrial lisasi dan seba againya.

Performa Keb butuhan Pel langgan L Lingkungan

Kualitas s

Biaya a

Kel layakan
Gam mbar 5.10 Keseim mbangan diant tara kriteria-kr riteria Desain Tujuan dari d eco design n sebagaimana a kita ketahui i adalah untuk k mendesain produk p atau la ayanan dengan n efek yang g lebih sediki it pada lingku ungan melalui i keseluruhan usia produk (lifecycle). Ba agaimana kita a mendefin nisikan lifecyc cle? Lifecycle atau perputara an usia produk k diumpamak kan seperti kelahiran sampai i kematian n sebuah produ uk. Mulai dari i ekstraksi ma aterial sampai rusaknya seb buah produk d dan berakhir di i tempat sa ampah. Setiap p tahapan dari i sebuah prod duk ini mulai dari manufak ktur, asembli, distribusi dan n

65
penggunaan kembali sampah produk setelah didaur ulang.. Sangatlah jelas bahwa setiap tingkatan dalam alur hidup sebuah hidup memiliki efek pada lingkungan dan efek ini harus dikurangi. Inilah tujuan dari eco desain., yang harus dilaksanakan pada tiap tahapan alur hidup produk untuk mencegah efek setiap tahapan pasti akan mempengaruhi efek di tahapan lainnya. Sebagai alat bantu untuk menganalisis kebutuhan pada setiap tahapan, digunakan software EIME. Alur sebuah produk digambarkan pada gambar 5.11.

Material Mentah Manufaktur


Thermal recovery

Distribusi

Limbah akhir

Pemulihan Usia Produk

Perencanaan utilitas

Gambar 5.11 Diagram Usia Produk (Product Lifecycle)

Aturan-Aturan Utama Dalam Eco Desain Sebagai wujud kepedulian tentang pembangunan lingkungan yang berkelanjutan, dan peraturan yang melingkupnya, kita harus mendefinisikan beberapa peraturan untuk menunjukkan kepada para percangan produk dalam studi eco desain: - Konservasi dan efisien dalam penggunaan sumber-sumber dari alam - Mengurangi emisi dari rumah kaca, noise dan sebagainya - Mengurangi limbah baik limbah pabrik dan limbah produk yang sudah habis usia produknya (end of lifetime) - Melarang atau meminimalisasi penggunaan bahan-bahan kimia yang berbahaya - Mengurangi konsumsi energi yang berlebihan Bagaimanapun kita telah menunjukkan rekomendasi-rekomendasi umum berikut ini untuk membuat produk-produk yang lebih ramah lingkungan dan tidak dibuat untuk menghilangkan peraturan desain yang telah ada selanjutnya peraturan ini sebaiknya diaplikasikan untuk mengoptimasi pelanggan dengan kriteria-kriteria performa, biaya, kualitas, lingkungan, industrialisasi dsb Namun sebagamiana prioriatas, pelu dilihat bagaimana mengoptimasi fungsi yang dibutuhkan. Artinya perlu menanyakan daftar pertanyaan berikut: - Cara apakah yang paling efektif untuk merespon kebutuhan costumer : produk/jasa? - Bisakah produk menawarkan termasuk tawaran layanan yang ramah lingkungan? - Bisakah produk menawarkan pengolahan limbah produk sebagai tawaran layanan?

66
- Bisakah konsep baru dapat diperkenalkan? - Dapatkah beberpa sub-unit dapat menjadi beberapa produk atau tingkatan produk? - Haruskah menambah fungsi baru pada produk? - Dapatkah material aktif dipergunakan? Setelah level optimasi fungsi produk telah terpenuhi, langkah selanjutnya adalah untuk melihat tingkatan-tingkatan dalam usia produk (product lifecycle) pemilihan material, produksi, distribusi, dan penanganan akhir usia produk, manakah yang bisa diaplikasikan pada produk. Pemilihan Material Perancang Produk industri dapat memberikan efek kontribusi pada lingkungan melalui pemilihan material produk yang digunakan. Sehingga dapat sejalan dengan deskripsi eco desain diatas, pemilihan ini sebaiknya menggunakan kriteria mengurangi konsumsi material mentah, dan efeknya kepada lingkungan lebih sedikit pada material yang digunakan. Mengurangi jumlah dan volume dari material yang digunakan Optimasi jumlah dan volume dari komponen dan produk Mengurangi jumlah dari komponen yang digunakan Memilih material non toxic atau yang mengandung sedikit bahan toxic pada waktu ekstraksi , produksi, utilisasi dan pada saat produk tersebut dibuang (end of lifetime). - Memilih material yang berbahan dasar bahan yang dapat diperbaharui (renewable) untuk menyelamatkan sumber-sumber bahan yang tidak dapat diperbaharui. - Memilih material yang lebih menghemat energi dalam ekstraksi material, material proses dan penggunaannya - Menggunakan bahan yang telah didaur ulang, dan efeknya kepada lingkungan adalah produksi yang lebih memperhatikan mekanisme daur ulang dan bukan produksi baru - Menggunakan bahan yang telah didaur ulang dengan menggabungkan dengan recovery product pada akhir usia sebuah produk (seperti yang dilakukan oleh produk Motorolla) Hal tersebut belum termasuk bagaimana hubungan antara material ramah lingkungan yang dipilih nantinya bersinggungan dengan sistem mekanik, listrik, biaya dan sistem manufaktur (seperti peleburan, pemotongan dsb). Produksi Tahap produksi adalah bagian penting dari lifecycle dan tidak boleh diremehkan dalam eco desain. Pilihan desain dapat mengakibatkan efek yang signifikan dalam proses industri dan juga efeknya pada lingkunan hidup. Mengurangi pencemaran pada lingkungan (pencemaran air, tanah dan udara) Pemilihan pada metode produksi yang dapat mengurangi sampah dan limbah yang mencemari lingkungan. Mengurangi konsumsi energi pada semua tahapa produksi Memilih manufaktur yang hemat energi, seperti pada asembly dan perakitan. Mengurangi jumlah limbah pada proses produksi seperti limbah pada proses potong, -

67
peleburan dsb. Contohnya: - Komponen didesain untuk mengurangi proses potong - Menggunakan kembali serpihan pada proses peleburan - Mengurangi jumlah potongan yang dibuang (srcap) pada proses pemotongan Mengurangi jumlah tahapan pada produksi Mengurangi sistem transportasi pada tiap tahapan - Mengurangi transport dari pabrik ke pabrik (komponen, atau sub unit) - Mengurangi konsumsi energi untuk transport - Menggunakan metode produksi baru - Metode baru dengan efek pada lingkungan hidup lebih kecil dari pada metode konvensional yaitu BAT (Best Avaliable Technique) Distribusi Distribusi produk pada tahapan lain dalam lifcycle dimana yang dapat mempengaruhi secara substansial pada lingkungan. Hal ini menjadi alasan mengapa optimasi kemasan dan sistem distribusi menjadi bagian dari desain produk itu sendiri. Berikut adalah kriteria yang harus digunakan dalam eco desain untuk bagian distribusi : - Mengurangi jumlah dan volume dari kemasan - Mengurangi volume dan jumlah dari produk - Optimasi fungsi dari kemasan - Semakin sedikit kemasan yang digunakan untuk beberapa produk - Memilih kemasan yang ramah lingkungan dengan konten logam berat yang minimum (seperti merkuri, cadmium dan lead) - Kemasan didesain untuk digunakan kembali atau diperbaiki - Perbaikan mencapai 50% s/d 65 % - Hindari menggunaan material yang berbeda (cardboard, foam dsb)

5.10. Daur Sumberdaya Alam Dan Persoalan Lingkungan Hidup


Pada dasarnya, baik proses alami maupun proses ciptaan manusia akan menghasilkan daur-ulang yang secara prinsip akan memunculkan kembali sumberdaya yang berbentuk sama dengan sumberdaya semula yang digunakan maupun berbentuk baru. Faktor penting yang mempengaruhi laju reklasifikasi spent resources menjadi sumberdaya yang tersedia adalah inovasi teknologi. Walaupun pada prinsipnya alam mampu memunculkan kembali sumberdaya yang ada, terdapat persoalan bahwa: Terdaur-ulangnya sumber daya melalui proses alami butuh waktu lama, Alur teknologi yang memunculkan sumberdaya dari spent resources tidak dapat segera tersedia atau diciptakan dan kalau ada harganya sangat tinggi, Di dalam dan selama proses daur ulang tersebut. Terjadi perubahan pesat yang makin menyimpang dari keseimbangan keadaan semula sehingga perubahan ini makin mengganggu kehidupan.

68
Persoalan n tersebut be erakibat terhadap terjadin nya peningka atan penimbu unan spent r resources dan n menurun nkan kemampu uan daya duku ung lingkunga an. ngan Merupakan Sumberd daya Materia al Lingkun Sumber daya d material ini terbagi me enjadi : Yan ng dapat diper rbaharui seper rti biomassa, dan d Yan ng tidak dapa at diperbaharu ui, seperti ga as dan minyak k bumi, batub bara, mineral l logam (besi, alum minium), baha an bukan loga am (pasir, batu u kapur), dan lain-lain. Lin ngkungan ini juga merupa akan tempat penampunga an berbagai hasil h kegiatan n yang harus s dita anggulangi ole eh kemampua an diri (self re eplenishment) atau dengan bantuan tekno ologi manusia a aga ar dapat melak ksanakan fung gsi dalam daur r sumberdaya alam dan siklus pemanfaata an material

Gam mbar 5.12 Siklus Mat terial Dalam Penjelmaan P Da an Penggunan nya

69

Pers syaratan Nor rma Hukum Bagi B Teknolo ogi Berwawas san Lingkung gan paya menjaga a kualitas ling gkungan ini bertumpu pada a pengelolaan n sumberdaya dengan peme enuhi Up pe ersyaratan: Pe ersyaratan nor rma/hukum ba agi teknologi berwawasan b li ingkungan Up paya menjaga a kualitas ling gkungan ini bertumpu pada a pengelolaan n sumberdaya dengan peme enuhi pe ersyaratan:

Gambar 5.13 Upaya men njaga kualitas lingkungan Dim mana : Laju u penimbunan spent resourc ces: dS/dt = S r1 r 2 r3; Agar r dS/dt = 0 ma aka harus dipe enuhi persyara atan S = r1+ r2+ r3 Gang gguan terhada ap fungsi dan kualitas lingk kungan berupa a munculnya persoalan-pers p soalan akan te erjadi bila alam ataupu un proses bu uatan manus sia tidak dap pat mendauru ulang spent resources yang mem mungkinkan te erjadinya akum mulasi spent t resources dan d penurunan n kualitas ling gkungan dan daya duku ung alam, yan ng diakibatkan n oleh: La ambatnya pros ses terdaurula angnya spent resources me elalui proses alami a Ti idak segeranya tersedia alu ur teknologi yang memuncu ulkan sumberdaya berguna a dari bahan-b bahan ya ang merupakan n spent resou urces Le ebih tingginy ya laju pem manfaatan sum mberdaya di ibandingkan dengan laju u terdaurulan ngnya su umberdaya ters sebut.

70
Persoalan akumulasi spent resources dan penurunan kualitas lingkungan dan daya dukung alam ini, telah mendorong perhatian dan tuntutan masyarakat dunia akan pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Langkah-langkah untuk lebih peduli pada persoalan lingkungan adalah sebagai berikut : Diawali dengan adanya the United Nations (UN) Conference on Human Environment di Stockholm (1972) yang menjadikan keterkaitan kegiatan ekonomi dan lingkungan merupakan pokok bahasan agenda politik dan ekonomi dunia. Langkah-langkah global untuk mengatasi persoalan-persoalan lingkungan telah diambil dan terwujud dalam suatu program dunia the UN Environmental Program (UNEP). Hasil konferensi didokumentasikan dalam Our Common Future (1987) yang memperkenalkan terminologi sustainable development yang salah satunya menuntut industri proses untuk menyusun sistem pengelolaan lingkungan yang lebih efektif. Hasil konferensi didukung lebih dari 50 pimpinan dunia dan melahirkan konferensi the UN Conference on Environment and Development (UNCED) yang dikenal sebagai Earth Summit di Rio de Janeiro (1992). Konferensi Pemukiman Manusia Human Settlement Conference di Stockholm, Swedia (1972) mengungkapkan kemajuan teknologi yang diterapkan di industri yang merusak dan membatasi permukiman manusia. Pada tahun 1978, 6 tahun setelah konferensi itu berakhir, masalah lingkungan secara eksplisit ditangani oleh Kementerian Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup. Undang-undang tentang pengelolaan lingkungan diterbitkan pada tahun 1982, yaitu UU No. 4 Tahun 1982 yang kemudian diperbaiki dengan UU No. 23 tahun 1997 Pada saat pembentukan Kementerian Negara PPLH, masalah lingkungan adalah masalah yang belum banyak dipahami oleh masyarakat Indonesia, sedangkan masyarakat ilmiah dan Industri di negaranegara maju saat itu hanya mengembangkan end-of-pipe treatment technology dalam menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan, karena pengelolaan lingkungan saat itu masih dibebankan pada industri dan perkotaan.

Berdasarkan perkembangan perubahan attitude (perilaku) industri dalam berkontribusi untuk bertanggung jawab terhadap dampak yang ditimbulkan oleh industri terhadap kualitas lingkungan, Joseph Fiskel mengelompokkan industri menjadi lima kategori, yaitu kategori: 1) Problem Solving Kelompok industri, dengan jumlah berkisar 10 - 15% dari total industri dunia, yang memandang penyelesaian persoalan pencemaran lingkungan sebagai bagian dari pemenuhan peraturan hanyalah merupakan beban biaya bagi suatu kegiatan business; 2) Managing For Compliance Yaitu industri-industri (jumlahnya sekitar 70-80%) yang bereaksi terhadap penyelesaian persoalanpersoalan pencemaran lingkungan lebih baik dibandingkan kelompok sebelumnya meskipun hanya merupakan pelengkap dalam rangka memenuhi peraturan yang ada;

71
3) Managing For Assurance Yaitu industri-industri yang melihat lebih jauh pengelolaan risiko lingkungan sebagai potensi yang seimbang antara pengelolaan lingkungan dan biaya pengelolaan lingkungan (10 sampai 15%); 4) Managing For Eco-Efficiency Yaitu industri yang telah mengetahui bahwa pencegahan pencemaran lebih cost effective dari pada pengendalian pencemaran di mana industri dalam kelompok ini sangat jarang; dan 5) Fully Integrated In Adopting Environmental Quality Yaitu industri yang menempatkan pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari sistem proses produksi industri yang bersangkutan tanpa mengurangi, bahkan meningkatkan economic benefit tanpa memberikan dampak yang merugikan bagi lingkungan.

72

Halaman ini sengaja dikosongkan........................

73

BAB 6 Studi Kasus


6.1 Studi Kasus 1
Efisiensi Energi Dengan Green Productivity (GP) Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa GP bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, kompetitif dan performa lingkungan untuk sustainable development melalui konservasi energi seperti efisiensi energi dan penggunaan sumberdaya energi yang bisa diperbaharui. Malaysia telah menandatangani United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) sejak tahun 1993 dan komitmen dengan penandatanganan ini adalah untuk mengurangi emisi Greenhouse Gas (GHG) dan peduli pada perubahan iklim. Kebijakan energi Malaysia adalah sebagai berikut : Energy Supply : Penambahan energi, mengurangi ketergantungan pada BBM, mencari sumber energi alternatif Energy Utilisation : Melakukan EE dan pengembangannya, dan mengurangi energi yang terbuang dan pola konsumsi energi non produktif Environmental Consideration : Meminimumkan kerusakan lingkungan

Gambar 6.1 Konsumsi energi Malaysia Sumber Eight Malaysia Plan Sektor industri adalah konsumen energi terbesar, yaitu mencapai 37.1% pada tahun 2000 dan 38.2% pada tahun 2005. Peningkatan konsumsi mencapai 25.7% dari konsumsi energi komersil tumbuh rata-

74
rata 4.7% dari 928.2 Petajoules (PJ) tahun 1995 menjadi 1,167.1 PJ tahun 2000. Inefisinsi dari industri ini mencari 30% dari permintaan dengan energi yang terbuang mencapai 650 PJ (2005) per tahun, pemborosan ini senilai dengan USD 2 Juta. Benchmarking efisiensi energi : Jendela untuk penerapan GP Salah satu usaha untuk melaksanakan Energy Efficiency (EE) adalah Malaysia Industrial Energy Efficiency. Peningkatan proyek ini diluncurkan tahun 1999 dan dilaksanakan oleh Malaysia Energy Center atau Pusat Tenaga Malaysia (PTM). Proyek ini dilakukan untuk penurunan konsumsi energi pada 8 industri (food, iron & steel, rubber, cement, ceramic, glass, paper and wood) sebesar 10% tahun 2004. e-Tool for untuk Benchmarking Efficiensi Energy Benchmarking digunakan sebagai tool untuk mengukur dan membandingkan intensitas energi pada level proses dan keseluruhan level pabrik dan industri berdasarkan peer industri secara lokal dan internasional.

Gambar 6.2 Sample dari Spesific Energy Consumtion (SEC) pada proses dan seluruh pabrik Malaysia's Success Stories Berdasarkan audit MIEEIP dari 43 pabrik, implementasi dari zero cost, low cost dan high cost measure dapat mengurangi kombinasi konsumsi energi sebesar 14%, 9% dan 11.8%. Sebagai tambahan, efisiensi pada furnaces dan boiler pada sektor industri meningkat dari 65% ke 87%, hal ini menurunkan emisi sebesar 28%.

75
Tabel 6.1. Fuel Saving, Cost Saving dan Pengurangan CO2

Tabel 6.2. Energi potensial penghematan dan pengurangan CO2 pada 8 subsektor industri

76

6.2 Studi Kasus 2


Isu lingkungan untuk produk elektronik - Jumlah pertumbuhan penggunaan komputer di India 14.000.000 Dengan pertumbuhan 25% per tahun - Setiap PC mempunyai TOXIC Trap - Pekerja pada proses produksi untuk chip bersesiko racun kimiawi yang memicu kangker, cacat lahir dsb - Banyak pabrik yang memproduksi chip menghasilkan limbah berbahaya dan mencemari air tanah dimana setiap 2 gm chip menggunakan 1260 gm bahan kimia - End of Life dari PC memberi kontribusi pada sampah elektronik pada banyak negara di Asia dimana untuk proses daur ulang komputer ini beresiko pada kesehatan pekerja karena bisa merusak sistem saraf, kerusakan endokrin , kerusakan sel otak. - Sebuah monitor CRT komputer standar mengandung 2-4 kg Lead, sebanyak kandungan phosphor, barium and Chromium - Resistor chip mengandung cadmium - Mother Boards dan connectors mengandung Beryllium - Printed Circuit Boards dan Plastics casing mengandung brominated flame retardants (e.g. PBBE) (Source: Worldwatch Institute)

Gambar 6.3. Green Manufacturing & Management

77

BAGIAN DUA PENGEMBANGAN PRODUK DAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS INDUSTRI MANUFAKTUR Tujuan Instruksional Mahasiswa mampu memahami, bahwa peningkatan produktivitas dapat dilakukan melalui peningkatan pengembangan produk Mahasiswa mampu memahami dengan pengurangan lead time pada proses pengembangan produk, akan dapat meningkatkan produktivitas keseluruhan industri manufaktur Mahasiswa mampu memahami beberapa tipe pengembangan produk yang bisa meningkatkan produktivitas industri manufaktur Dilengkapi dengan studi kasus, pengaruh pengembangan produk pada peningkatan produktivitas

78

Halaman ini sengaja dikosongkan................................

79

BAB 7 Peranan Proses Perancangan Produk Pada Sentra Industri Kerajinan Skala Kecil Menengah Dalam Era Perdagangan Bebas
Isu perdagangan bebas ramai dibicarakan semenjak adanya persetujuan putaran Uruguay dalam GATT (General Agreement on Tariff and Trade) tanggal 15 Desember 1993 di Geneva dan terbentuknya WTO (World Trade Organisation) di Maroko tahun 1994. Maksud dari pada persetujuan liberalisasi perdagangan dunia bukan hanya bebas (free trade) tetapi juga adil (fair trade) (Tambunan, 2001). Tidak ada lagi hambatan tarif dan proteksi lainnya bagi masuknya suatu komoditi ke suatu negara. Implikasi perdagangan bebas adalah perdagangan suatu komoditi ditentukan oleh keunggulan yang dimiliki komoditi tersebut secara ekonomi. Secara umum hal ini kurang menguntungkan bagi perekonomian negara-negara berkembang, karena tentunya kalah dalam keunggulan kompetitifnya dibanding negara maju. Dengan adanya perdagangan bebas, usaha kecil di Indonesia harus tetap dapat menjadi salah satu pelaku penting sebagai pencipta pasar di dalam maupun di luar negeri dan sebagai salah satu sumber penting bagi surplus neraca perdagangan. Namun, untuk melaksanakan peranan ini, usaha kecil Indonesia harus membenahi diri, yakni meningkatkan daya saing globalnya. Data di Departemen Koperasi (www.depkop.go.id) menunjukkan adanya 38 juta usaha di Indonesia yang 98 persen didominasi oleh usaha kecil menengah yang mempekerjakan 58 juta pekerja. Dalam dunia industri ternyata didominasi oleh industri kecil dan rumah tangga sekitar 2,7 juta industri (dengan enam jutaan pekerja), sedang industri besar dan menengah hanya berjumlah 23.000 buah (dengan empat juta pekerja). Memang industri rumah dan kecil ini hanya memutarkan 10 persen dari total uang yang berputar tetapi menghidupi sebagian besar rakyat kecil yang ada di Indonesia. Seperti halnya di negara-negara lain, perkembangan industri kecil di Indonesia dihambat oleh berbagai macam masalah. Masalah-masalah tersebut dapat berbeda dari satu daerah ke daerah lain, dari satu sentra ke sentra lain, maupun berbeda antar unit usaha dalam kegiatan yang sama. Faktor-faktor yang masih menjadi hambatan dalam peningkatan daya saing dan kinerja usaha kecil menengah (UKM) di antaranya adalah terbatasnya informasi sumber bahan baku dan panjangnya jaringan distribusi, lemahnya kekuatan tawar-menawar khususnya bahan baku yang dikuasai oleh pengusaha besar mengakibatkan sulitnya pengendalian harga, serta tidak berfungsinya secara baik lembaga promosi Pemerintah di dalam menunjang promosi produk dan jasa UKM baik untuk pasar domestik maupun pasar global. Di samping masih ada berbagai masalah lainnya. (Hasil Rumusan Panel Diskusi Nasional, 2001)

80
Menurut Tambunan (2001) salah satu kelemahan usaha kecil adalah kurangnya kemauan pengusaha-pengusaha kecil dan menengah nasional untuk berorientasi global. Hal ini bisa disebabkan oleh kelemahan-kelemahan yang bersifat pribadi dari si pengusaha seperti misalnya tidak bisa berbahasa Inggris, takut atau enggan mencoba, cepat puas dengan hasil yang didapat saat itu (pemasaran lokal), dan kurang percaya diri. Benarkah demikian, apakah semuanya sama demikian itu. Pernyataan Tambunan tersebut perlu mendapat perhatian lebih lanjut karena industri kecil yang kebanyakan berada dalam suatu sentra terdapat berbagai macam karakteristik pengusahanya yang berbeda-beda. Melalui pemahaman yang tepat terhadap karakteristik pengusaha kecil dalam suatu sentra diharapkan akan dapat lebih tepat dalam mengembangkan industri kecil, khususnya dalam menghadapi liberalisasi perdagangan. Untuk menjangkau pasar dan mengatasi situasi persaingan yang dihadapi, usaha kecil mesti melakukan strategi bersaing. Strategi bersaing yang dapat dijalankan usaha kecil selain strategi individual adalah strategi kelompok. Termasuk strategi kelompok antara lain, pembentukan koperasi/asosiasi, aglomerasi ekonomi, kemitraan dengan usaha besar, dan inovasi dalam pengembangan produk dan pemasaran kolektif. Namun bagaimana kerja kelompok selama ini, dapatkah strategi kelompok industri dapat berjalan? Dan bagaimana peranan perancang produk dalam pengembangan produk di sentra industri kecil dan menengah? Peran pemerintah selama ini dalam mengembangkan industri kecil dinilai belum efektif (RIP, 2003). Salah satu kelemahan dari kebijakan usaha pengembangan industri kecil di suatu sentra, kemungkinan disebabkan kesalahan dalam memahami pola hubungan antar pengusaha dan hubungan dengan lingkungan usahanya. Dalam menghadapi persaingan, pengusaha pada sentra industri kecil tidak hanya bersaing melawan kekuatan asing tetapi seringkali mereka harus bersaing dengan sesama pengusaha, di samping juga harus melawan kekuatan lain yang melingkupinya. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami hal tersebut adalah kerangka analisis persaingan (five factor competitive) yang dikemukakan Porter dalam bukunya Competitive Strategy (1980). Berkaitan dengan menghadapi liberalisasi perdagangan internasional permasalahannya adalah bagaimana kondisi komunitas industri kecil kerajinan kayu di Serenan, Jawa Tengah dan dibandingkan dengan sentra industri kerajinan kayu didaerah Ubud, Bali, dilihat dari kekuatan tawar menawar terhadap pemasok, persaingan industri sejenis dan pendatang baru potensial serta kekuatan tawar menawar dengan konsumen terkait dengan perda-gangan bebas? Di antara mereka yang terlibat dalam industri yaitu berbagai tingkatan pengusaha atau eksportir, siapakah sasaran yang tepat untuk dijadikan sasaran pembinaan guna meningkatkan kesiapan industri kecil menghadapi perdagangan bebas? Berangkat dari pemikiran inilah tulisan ini disusun berdasarkan hasil kajian studi kasus pada Sentra Industri Kecil Meubel Serenan Kabupaten Klaten Jawa Tengah dan dibandingkan dengan Sentra Industri Kerajinan Ubud, Bali. Pendekatan kajian yang menggunakan metode penelitian kualitatif, dan pengumpulan datanya menggunakan observasi langsung dan indepth interview selama satu tahun. Dengan langkah-langkah penelitian adalah sebagai berikut :

81
Pengambilan data-data mengenai pola kerja industri kerajinan skala lokal dan skala internasional Pengambilan data-data sekunder melalui referensi tertulis Mencari permasalahan yang ada diseputar industri kerajinan, dilihat dari beberapa variable yaitu budaya kerja, pola kerja, pengetahuan pemasaran dan pengembangan produk Salah satu bidang usaha kecil Indonesia yang memiliki pasar internasional adalah industri meubel dan industri seni kerajinan tangan. Pasar meubel dan industri seni kerajinan tangan di dunia setiap tahunnya meningkat dengan pasar utama Amerika Serikat dan Eropa, setelah pasar Jepang terpuruk. Untuk daerah Jawa Tengah kenaikan rata-rata ekspor meubel dan kerajinan sebesar 41,66 persen per tahun. Tahun 1994 tercatat 92,3 juta dollar AS, dan tahun 1998 mencapai 292,9 juta dollar AS. Dan khusus meubel kayu Jawa Tengah setiap tahun meningkat 12,18 persen. Tahun 1992 realisasi ekspor meubel kayu senilai 74 juta dollar, dan tahun 1996 nilainya sekitar 114 juta dollar AS. Namun bila dilihat dari nilai ekspornya, industri meubel dan kerajinan sejak tahun 1991 sampai tahun 1996 mengalami pertum-buhan dan peningkatan sekitar 10 persen per tahun (Kompas, 2000). Salah satu sentra kerajinan meubel di Klaten adalah Serenan, yang mana sekitar 50% penduduknya bekerja sebagai pengusaha meubel. Walaupun usaha kerajinan di desa ini sudah berjalan lama dan perhatian dan bantuan pemerintah juga cukup banyak tetapi perkembangan usaha kerajinan ini belum mampu secara signifikan dapat meningkat. Salah satu kelemahan dari usaha pengembangan industri kecil di suatu sentra, kemungkinan disebabkan kesalahan dalam memahami pola hubungan antar pengusaha dan hubungan dengan lingkungan usahanya. Desa Serenan terletak 8 km dari pusat Kecamatan Juwiring, dan 28 km dari pusat Kabupaten Klaten dengan luas wilayah 1.342.760 Ha. Memiliki 780 KK (kepala keluarga). Industri meubel Serenan merupakan salah satu komoditas unggulan dari daerah Klaten yang dikenal tidak saja karena desain yang variatif dan murah tetapi juga dari nilai ekspor. Nilai ekspor yang mampu dihasilkan industri ini cukup berarti terlihat dari data yang tercatat di Bappeda Kabupaten Klaten bahwa pada tahun 2000 nilai ekpor meubel kayu untuk Kabupaten Klaten mencapai 25,99344 juta dollar AS (1 $ = Rp 10.000,00). Sedangkan untuk jumlah unit usaha yang ada sebanyak 442 atau 14, 44 % dari total industri meubel di Klaten, dengan tenaga kerja yang terserap sebanyak 1.229 atau 5.35 % dari Jumlah total tenaga kerja yang mampu terserap di industri meubel Kabupaten Klaten (Klaten dalam Angka, 2001) Mencermati kelemahan-kelemahan yang bersifat pribadi dari si pengusaha kecil sebagaimana disebutkan di muka, terdapat satu hal yang juga penting dimiliki oleh pengusaha yaitu kemampuan orientasi bisnis. Jika terdapat orientasi bisnis yaitu enterpreuner dan orientasi pasar maka perusahaan dimungkinkan akan meningkat lebih baik prestasinya dalam hal (1) market share, (2) kecepatan memasuki pasar, dan (3) tingkat quality of product (Atuahene-Gima & Ko 2001). Namun demikian perlu dikaji lebih mendalam makna bagi perusahaan mengadopsi orientasi enterpreuneur dan pasar seperti yang telah dilakukan oleh Rob Vitale, at al(2003) Perusahaan yang memiliki business orientation berarti perusahaan memiliki dasar pijakan dalam segala aktiviti, policy, strategi dan inisiatif (Borch, 1947), Miles and Munilla (1993) memberi pemikiran bahwa business orientations dibatasi dan didefinisikan sebagai hubungan antara suatu perusahaan, stakeholdernya, dan faktor lingkungan yang relevan. Hal ini ditunjukkan dalam berbagai -

82
kajian (Craven, Hills, & Woodruff 1987; Taguchi 1987; Miles, Russell, & Arnold 1995; Becherer & Maurer 1997). Berkaitan dengan apa yang mendorong pengambilan keputusan bisnis, maka memahami orientasi bisnis harus tetap digunakan dengan baik oleh para manager atau pengusaha. Dari berbagai kajian (Morris & Paul, 1987; Miles & Arnold, 1991; Zahra & Covin 1995; Hurley & Hult, 1998; Wiklund 1999; Atuahene-Gima & Ko 2001; Miles, Munilla, & Covin 2002; Matsuno, et al 2002) dalam kenyataannya baik entrepreneurial orientation (EO), and market orientation (MO), secara positif dan kuat berhubungan dengan prestasi perusahaan. Untuk menganalisis permasalahan digunakan kerangka analisis yang dikemukakan Porter dalam bukunya Competitive Strategy (1980) mengenai komponenkomponen yang mempengaruhi persaingan usaha. Berbeda dengan kerangka analisis secara tradisional, yang mumnya hanya menekankan aspek persaingan antara usaha-usaha yang sudah ada. Kekuatan masing-masing faktor terhadap daya saing usaha itu bisa berbeda kadarnya. Dalam kajian ini, daya saing suatu usaha dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu untuk tiap jenis usaha terdiri dari, pertama, kekuatan pemasok, misalnya mempengaruhi daya saing berbagai jenis usaha skala kecil yang menggunakan kayu, bambu, rotan sebagai bahan baku. Kedua,Kekuatan tawar pemasok semakin besar bila jumlah pemasok sedikit atau cenderung monopoli pasar bahan baku, sementara jumlah usaha kecil banyak. Pemasok bisa menekan pengusaha kecil melalui manipulasi harga, kualitas, pengiriman, dan mungkin juga pelayanan. Ketiga, Kekuatan tawar menawar pembeli, merupakan faktor pengaruh yang dapat menurunkan daya saing usaha kecil. Keempat, prospek masuknya pendatang baru potensial. Berkaitan erat atau ditentukan oleh kadar hambatan masuk (barriers to entry) yang umumnya sangat kecil untuk banyak jenis usaha yang ditekuni oleh usaha kecil. Kelima, ancaman dari produk pengganti yang memang telah terbukti banyak memukul usaha tradisional. Untuk kepentingan analisis daya saing usaha kecil, kerangka Porter diatas akan sangat membantu.

7.1. Industri Kerajinan Modern Di Indonesia


Kehadiran industri modern membantu industri kerajinan untuk mendefinisikan kembali peran dan fungsinya secara lebih tajam. Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa kebutuhan akan benda yang dibuat oleh tangan tidak akan hilang , bahkan semakin menguat sebagai reaksi dari membanjirnya produk buatan pabrik yang dingin dan tidak berjiwa. Fenomena ini tampak pada masyarakat di negara maju seperti negara - negara Eropa, Jepang dan Amerika. Meskipun demikian pasar di luar negeri menuntut lebih. Lebih baik dalam kualitas pengerjaan, lebih cepat memenuhi stok pasar dan lebih memperhatikan desain. Dimana desain di setiap negara memiliki selera yang berbeda- beda tergantung dari budayanya. Untuk itu desain produk juga membutuhkan kegiatan penelitian dan pengembangan IPTEK yang terdiri dari : - Riset ergonomi desain - Riset semiotik dan semantik - Riset estetika dan wawasan sosial budaya

83
- Pengembangan konsep dan metodologi desain - Riset pemasaran untuk pengembangan produk baru Pentingnya riset pengembangan industri kerajinan dapat digambarkan seperti skema berikut ini.

INFORMASI PENELITIAN PENGEMBANG

INFORMASI

RISET

RISET

SDM SDA BUDAYA

PRODUKSI

SDM SDA BUDAYA

Gambar 7.1. Posisi Riset Dalam Peningkatan Kualitas Produksi Kerajinan

7.2.Karakteristik Pengusaha Sentra (Kasus Meubel Serenan)


Sebagai sentra kerajinan maka di Serenan terdapat berbagai pengusaha yang dapat dibedakan kriterianya. Penyusunan kriteria ini didasarkan pada pendapat pengusaha setempat dan kondisi yang terlihat secara fisik yang ada dari observasi di lapangan penelitian. Kriteria pengusaha yang paling utama yang membedakan antar pengusaha adalah besarnya ukuran usaha seperti misalnya: omset, luas gudang, jumlah tenaga kerja, serta fasilitas produksi. Di samping itu kriteria pengusaha dapat dilihat dari posisi hubungan pengusaha di antara para pengusaha. Dari kedua kriteria tersebut pengusaha di Serenan dapat dikelompokkan ke dalam 3 kelompok yaitu: (1) Pengusaha induk, mempunyai beberapa pengusaha pengikut sub-kontrak yang berada di bawah koordinasinya walaupun sifatnya tidak tetap atau koordinasi tersebut terjadi atas dasar kontrak perjenis order; (2) Pengusaha pengikut yaitu pengu-saha yang menerima subkontrak dari pengusaha induknya. (3) bukan tipe kedua-duanya, yaitu sebagai Pengusaha bebas yang menjalankan usahanya secara sendiri tidak mempunyai ikatan hubungan bisnis dengan pengusaha lainnya.

84
Pola Hubungan antara Pengusaha Sesuai dengan kriteria di atas bahwa secara garis besar ada tiga kelompok pengusaha yaitu pengusaha induk, pengusaha pengikut dan pengusaha bebas. Masing-masing pengusaha tersebut mempunyai pola hubungan sebagaimana tampak dalam gambar bagan dan dalam uraian berikut ini. Hubungan antar Pengusaha Induk Pengusaha induk yang jumlahnya hanya sekitar 4 orang pengusaha, secara relatif tidak memiliki hubungan usaha, dalam hal tertentu mereka berjalan sendiri-sendiri. Kerja sendiri tersebut misalnya dalam hal informasi pembeli (buyers), modal, tenaga kerja. Walaupun pengusaha induk ini relatif tidak berhubungan tetapi mereka juga tidak merasa bersaing Hubungan Pengusaha Induk dengan Pengikutnya Hubungan pengusaha induk dengan pengikutnya ini paling banyak terjadi di Serenan. Ketika pengusaha induk mendapat order dalam jumlah banyak melabihi kapasitasnya maka dia akan mengajak pengusaha lainnya untuk mengerjakan order tersebut di bawah koordinasinya. Hubungannya dengan pengusaha pengikut, para pengusaha induk mempunyai pola pembagian sesuai kemampuan atau kapasitas produksi pengusaha, yaitu ada yang sekitar 70% untuk dibagi kepada pengikut dan 30% bagi diri sendiri. Walaupun demikian ada perbedaan pengusaha induk dalam melibatkan pengusaha pengikut, yang membedakan adalah kepada siapa seorang pengusaha induk akan memberikan kelebihan ordernya jika mereka mendapat order yang melebihi kapasitasnya. Kerjasama atas dasar hubungan keluarga Terdapat beberapa pengusaha yang mempunyai pola, dalam memberikan kelebihan order lebih mengutamakan ke famili terdekatnya. Kerjasama atas dasar Profesional Beberapa pengusaha lebih senang kerjasama memberikan kelebihan ordernya ke pengusaha yang mempunyai kualitas hasil yang baik, dan letak usahanya jauh dari tempat dia kerja atau tempat tinggalnya, alasannya tetangganya dia sudah tahu banyak tentang nilai order tersebut, sehingga dia akan menolak apabila disuruh mengerjakan dengan harga di bawah nilai tarif ordernya sedangkan tuntutan kualitasnya sama. Apabila dia sanggup, dia sering membuat kualitas barang di bawah standart produksinya, sehingga pengusaha induk yang memberi order akan merasa dirugikan.

85
Hubungan Pengusaha Induk dengan Pengusaha Bebas Hubungan di antara para pengusaha juga biasa melakukan beberapa kerja-sama seperti: pinjammeminjam kayu glondongan atau saling memberikan kelebihan order ke pengusaha lain tapi bukan dalam status di bawah koordinasi, mereka berjalan sendiri-sendiri.

PEMBELI (Eksportir, Makelar, Buyer

PEMBELI (Toko)

PENGUSAHA PENDATANG BARU

HUBUNGAN ANTAR PENGUSAHA

PRODUK PENGGANTI

Hubungan order Hubungan sosial

PEMASOK

Gambar 7.3 Kerangka Hubungan Industri Kerajinan Mebel Serenan

7.3. Strategi Mencapai Desain Kerajinan Yang Diterima Di Era Global


Jeffery Hallet dari Future's Group, berbicara tentang pengembangan ekonomi baru. Dia mendeskribsikan bagaimana tahapan ekonomi baru, di era baru, berdasarkan realitas industri. Realita indusri ini merubah bentuk dari produk desain dan meningkatkan kebutuhan serta manajemen dari aktivitas yang komplek. Menurut ICSID (International Council Society of Industrian Design) desain produk industri adalah aktifitas kreatif untuk mewujudkan sifat-sifat suatu produk obyek termasuk karakteristik hubungan dengan struktur dan sistem yang harmonis dari sudut pandang produsen dan konsumen. Intinya desainer produk industri adalah jembatan antara produsen dan konsumen. Sejak saat itu perubahan yang agak dramatis terjadi untuk menunjukkan model ekonomi yang baru dengan kebiasaan konsumen yang baru, hubungan antar konsumen, prioritas sosial yang baru. Dimana pengetahuan dan kreativitas dibagi menjadi : bentuk-bentuk desain yang organik dan partisipasi dari konsumen sangat diperhatikan.

86

Individu Dalam hal ini desain harus memperhatikan kebutuhan setiap konsumen dilihat dari segi individualitas atau perorangan. Pluralisme Dalam hal ini desain harus dapat diterima di konsumen yang bersifat kompleks atau plural Heterogen Desain harus memperhatikan perbedaan nilai-nilai budaya, gaya hidup dan persaingan kemampuan ekonomi konsumen. Bagaimanakah cara dari desain produk industri untuk menunjukkan agar suatu desain dapat memenuhi kebutuhan yang berbeda tersebut ? - Tahap pertama adalah negara berkembang seperti Indonesia harus mempelajari teknik produksi, peningkatan skill dari setiap komponen yang mendukung suatu industri yang sebetulnya kondisi negara sedang berkembang menguntungkan mengingat murahnya biaya buruh. - Tahap kedua adalah memulai memproduksi dan mengekspor desain asli beserta komponennya dari industri domestik - Tahap ketiga adalah negara-negara sedang berkembang sering memproduksi kembali desain produk yang sukses di pasaran dengan jaringan distribusi yang baik serta harga yang lebih murah. Dalam aturan main HAKI dan hak paten hal ini sudah melanggar ketentuan perdagangan oleh WTO. - Tahap empat adalah mengembangkan desain sendiri beserta seluruh struktur produksinya - Tahap kelima adalah mengembangkan pengetahuan tentang seluruh struktur ekonomi berdasarkan kemampuan industri dan budaya pasar yang dituju.

Yang paling baik untuk pengembangan ekonomi negara berkembang seperti Indonesia adalah tahap keempat yaitu berusaha mengembangkan desain sendiri dengan teknik produksi sendiri , yang mampu mendidik komponen industri untuk percaya pada desain lokal. Tahap ketiga adalah tahap yang paling beresiko, sebab termasuk melanggar ketentuan WTO dan bisa mendapatkan sanksi berupa tidak diterimanya produk tersebut ke negara pasar atau dikeluarkan dari keanggotaan WTO (World Trade Organisation). Penemuan dan kreativitas baru adalah pusat kegiatan desain produk yang terkait dengan kemampuan dan perkembangan ekonomi. Pada tahun 50-60 an, desain industri mulai mempropagandakan betapa pentingnya estetika dalam bentuk yang diterapkan dalam setiap desain produk. Pada tahun-tahun ini penuh dengan konsep pengembangan baru dari produk industri dengan inovasi baru pula. Tahun 70an peningkatan konsep ekonomi penunjang berkembangnya desain dan inovasi produk secara besar-besaran pada tahun 50-60an, menciptakan produksi global dan menentukan standar-standar bagi desainer produk industri. Tahun 80an teknologi tinggi mulai mengambil perhatian konsumen yang menyebabkan adanya perubahan secara desain. Meningkatnya performa desain yang memudahkan konsumen membuatnya dapat diterima dimasyarakat, bahkan pada pengguna atau konsumen yang tidak terlatih. Tahun 90-an tekanan sosial dan konsekuensi yang diambil secara ekonomi menguak. Desainer merasa bahwa mereka mendesain

87
bukan hanya untuk perangkat keras atau pun perangkat lunak yang memperhatikan users interface saja melainkan melakukan desain yang sesuai dengan situasi pengguna saat itu. Yang kemudian dikenal dengan situation design.

7.4.Sistem Industri Kerajinan Tangan Terpadu (Sikatt) Di Industri Kerajinan Skala Besar
Berdasarkan hasil penelitian, sistem pengembangan produk yang merupakan penerapan dari SIKATT adalah pengembangan berdasarkan costumer based development yaitu berdasarkan permintaan dari customer dari pasar luar negeri pada umumnya memiliki prosedur seperti berikut: Request Process

Pada proses ini, customer meminta pada perusahaan untuk membuatkan sample atau contoh dari produk yang akan dipesan melalui divisi marketing. Permintaan atau request ini bisa dilakukan secara langsung atau customer datang ke perusahaan dan melihat contoh produk yang ada di showroom atau katalog . Atau customer memesan secara tidak langsung yaitu melalui email atau fax. Untuk customer baru biasanya datang dan melihat produk sekaligus melihat proses produksinya untuk memastikan apakah perusahaan cukup capable untuk menangani pesanan dalam jumlah besar serta tepat waktu. Sedangkan cutomer lama cukup memesan melalui internet. Breakdown Process

Pada proses ini, divisi marketing memilah-milah jenis sample yang dipesan. Ada tiga bagian besar pemesanan jenis sample yaitu : 1. Customer made it's own design Beberapa customer memiliki desainer sendiri, dan menyerahkan sketsa kasar kepada pihak perusahaan untuk diolah lebih lanjut dan dibuat contoh produknya, sebelum mereka memutuskan jadi memesan dalam jumlah banyak atau tidak. 2. Customer get the product from other sources Pada prosedur ini, customer membawa contoh asli dari luar negri, misalnya untuk produk berbahan resin, produk asli dibeli dari Cina atau Hongkong, kemudian diserahkan kepada desainer perusahaan untuk diubah desain atau materialnya, untuk penyesuaian biaya. 3. Customer find the product trough catalogue and the showroom Proses ini hanya melakukan perbanyakan atau pembuatan copy dari produk asli yang dipajang di showroom. Customer memesan sample sebagai sarana kontrol kualitas dari produk yang dihasilkan perusahaan. Dari ketiga tipe pemilahan sample diatas, yang membutuhkan waktu paling lama adalah proses yang pertama yaitu customer made its own design karena tim pengembangan desain harus selalu cek dan melaporkan tiap varian produk contoh yang dihasilkan kepada pemesan, sebelum pemesan memutuskan produk mana yang akan diproduksi dalam jumlah besar.

88
Development Process

Setelah divisi marketing selesai memilah jenis sampel yang diminta, marketing menyerahkan kepada Divisi Pengembangan Produk yaitu melalui sample coordinator. Sample Coordinator bertugas untuk menentukan tim-tim yang membuat sample. Hal ini sangat penting mengingat banyaknya sample yang harus dikerjakan dan waktu yang diberikan pemberi order sangat singkat. Seringkali permintaan sample datang bersamaan sedangkan sumber daya manusia yang mampu mengerjakan kurang, disinilah tugas koordinator mengatur jadwal dan personel yang menangani dan dibuat tim-tim pengembangan tim-tim dalam divisi ini dibagi menjadi dua tim utama yaitu sourcer team dan designer team. Sourcer Team bertugas untuk mencari produk kerajinan yang serupa dari suplier-suplier, mencari material yang sesuai, sekaligus mencari harga yang paling bagus untuk dipasarkan. Designer Team bertugas untuk mengembangkan produk. Designer Team terdiri dari main designer dan designer assistant. Tugas desainer tidak hanya membuat desain yang bisa dinikmati secara estetik , tetapi juga harus memperhitungkan pemasaran dan marketing dan melihat kecenderungan trend pasar. Selain itu juga harus melakukan analisa biaya yang dibutuhkan untuk produksi, untuk menentukan produk tersebut layak diproduksi atau tidak. Pengembangan produk ini meliputi pencarian style baru, material, proses produksi, sistem pewarnaan, motif dsb. Dalam menjalankan tugasnya desainer dibantu oleh beberapa orang artisan atau modeler, yang membuat sample prototype dan mock up. Dalam artian desainer adalah yang menentukan konsep bentuk dan produknya sendiri dikerjakan oleh tukang. Karena desainer memiliki tugas yang jauh lebih rumit yaitu bertanggung jawab pada berhasil tidaknya produk tersebut di pasar, seperti yang dijabarkan pada gambar 7.3. Sesuai dengan kerangka analisis kekuatan persaingan yang dikemukakan Porter (1980) maka dapat dibahas lebih lanjut sebagaimana berikut ini a. Hubungan dengan Pemasok (Supplier) Sesuai dengan kajian yang ada (Tambunan, 2001) bahwa salah satu masalah industri kecil adalah keterbatasan bahan baku dari pemasok. Padahal kekuatan pemasok sangat mempengaruhi daya saing berbagai jenis usaha skala kecil yang menggunakan kayu, bambu, rotan sebagai bahan baku. Kekuatan tawar-menawar pemasok semakin besar bila jumlah pemasok sedikit atau cenderung monopoli pasar bahan baku, sementara jumlah usaha kecil banyak. Dari data, pengusaha Serenan terlihat bahwa terdapat masalah hubungan dengan pemasok dalam hal penentuan harga, pengusaha berada pada posisi tawar yang lemah. Pemasok bisa menekan pengusaha kecil melalui manipulasi harga, kualitas, pengiriman, dan juga pelayanan.

89

Gambar7.3. Kerja Dalam Divisi Pengembangan Produk

90
b. Hubungan dengan Pembeli Seperti juga terjadi pada kajian yang lain, posisi tawar pengusaha Serenan yang lemah di hadapan pembeli. Kekuatan tawar pembeli merupakan faktor pengaruh yang dapat menurunkan daya saing usaha kecil, dimana pembayarannya kadang kala bisa diundur sampai berbulan-bulan. Bagi produk yang diekspor, seperti umumnya pada sentra kerajinan seperti Bali, Jepara dan Cirebon, posisi ekportir sangat kuat (Saefudian, 1999). Umumnya segala resiko ditanggung oleh pengusaha, sementara para eksportir tidak menanggung resiko apa-apa. Di samping menentukan harga, penetapan kualitas memenuhi standart atau tidak yang mempengaruhi harga juga dilakukan sepihak oleh para eksportir atau pengusaha induk. Sedangkan pembeli asing yang langsung datang ke sentra umumnya mereka datang ke pengusaha induk. Karena hanya pengusaha induk yang dapat berkomunikasi dan bertransaksi. Bertransaksi langsung dengan pembeli asing terdapat resiko dan harus ada modal yang cukup. Karena selain minta disediakan contoh produknya terlebih dahulu seringkali pembayarannya mundur dari ketentuan kontrak. Bahkan seringkali produk yang telah dibuat ditolak oleh pembeli, karena dianggap tidak sesuai permintaan dalam hal ini pembeli biasanya sudah memiliki contoh yang dibeli sebelumnya. Sehingga pengusaha harus menanggung resiko yang besar karena industri kerajinan tangan tidak bisa sama persis satu dan lainnya, maka resiko produk ditolak (reject) semakin besar. c. Masuknya Pendatang Baru Prospek masuknya pendatang baru potensial berkaitan erat atau ditentukan oleh kadar hambatan masuk (barriers to entry) yang umumnya sangat kecil untuk banyak jenis usaha yang ditekuni oleh usaha kecil. Hal ini sama juga dengan yang terjadi pada pengusaha baik di sentra industri Serenan dan industri Ubud, produk mereka sangat mudah untuk disaingi oleh pendatang baru walaupun mereka merasa optimis dapat bersaing. Menurut peneliti untuk permintaan produk yang memerlukan ukiran dan bentuk yang berkualitas pengusaha Serenan dan Ubud masih dapat bersaing karena mereka membuatnya dalam jumlah terbatas, tetapi jika permintaan produk hanya berupa ukiran tiruan dan dalam jumlah besar maka bisa jadi pengusaha Serenan dan Ubud akan mengalami kesulitan dalam produksi, akhirnya hasil akhir produknya berkualitas rendah, dan akan sulit bersaing. d. Persaingan antar Pengusaha dalam Sentra Walaupun antar pengusaha dalam sentra merasa tidak bersaing dengan pengusaha lainnya hal itu ditunjukkan dengan adanya berbagai kerjasama, dan kemampuan pengusaha yang menghasilkan kualitas yang berbeda, namun di sisi lain persaingan dalam harga tetap terjadi, yaitu ketika mereka melakukan tawar-menawar dengan pembeli. Salah satu yang jadi pertimbangan utama adalah untung sedikit tidak apa daripada pembeli lari ke pengusaha lainnya. Fenomena ini terjadi baik di sentra Serenan dan sentra Ubud.

e. Ancaman Produk Pengganti Kekuatan terakhir yang dikemukakan Porter adalah ancaman dari produk pengganti, yang memang telah tebukti banyak memukul usaha tradisional.. Untuk kasus Serenan ini bisa dibuat dua pendapat berbeda, yaitu jika produknya tetap memiliki karya seni yang berkualitas maka ancaman produk pengganti adalah kecil. Namun apabila produknya hanyalah sebagai produk biasa maka ancaman produk pengganti sangatlah

91
tinggi. Masalah-masalah yang dihadapi oleh para pengusaha di dalam komunitas industri kecil (sentra) adalah sebagai berikut: 1. Bargaining Position Pengusaha Lemah. Kelemahan posisi tawar-menawar pengusaha dalam penentuan harga terhadap pembeli disebabkan antara pengusaha kecil tidak ada kesepakatan dalam penentuan harga. Sehingga terjadi saling menjatuhkan harga antar para pengusaha itu sendiri. Mereka tidak mau untuk menerapkan keseragaman harga. Alasan mereka pengala-man kasus Jepara dimana para pengusaha ditinggalkan oleh pembelinya diyakini karena ada keseragaman harga, dikhawatirkan hal ini akan dapat menimpa mereka. 2. Margin Harga yang Rendah. Adanya kondisi saling menjatuhkan harga tersebut menyebabkan dalam penentuan harga tidak berdasarkan perolehan margin yang rasional. Artinya berapa harga yang tepat sesuai besarnya total biaya dan keuntungan yang diharapkan tidak terlalu diperhatikan. Yang penting harga yang terjadi dapat menutup biaya produksi, itu sudah cukup. Hal ini menyebabkan pengusaha kesulitan untuk mengembangkan usahanya melalui akumulasi modal dari laba yang diperolehnya. 3. Belum ada Administrasi Keuangan. Tidak adanya administrasi keuangan yang tertib mengakibatkan perhitungan harga sulit disusun secara rasional. 4. Lemahnya Penguasaan Manajemen. Sama dengan penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa kegiatan usaha para pengusaha seperti pada umumnya dihadapi UKM yaitu belum adanya penerapan prinsip dasar manajemen yang rapi. Namun demikian para pengusaha bukan berarti tidak mempunyai keinginan untuk maju. Mereka menginginkan pengelolaan usaha yang lebih profesional. Namun, mereka selalu dihadapkan pada masalahmasalah manajemen produksi (secara khusus masalah Quality Control), pengelolaan modal dan pemasaran (memperoleh konsumen). 5. Macetnya Asosiasi atau Koperasi Pengusaha. Kelemahan posisi tawar-menawar para pegusaha antara lain disebabkan oleh tidak dapat berjalannya forum kerjasama antara pengusaha. Sebenarnya fasilitas untuk hal ini sudah ada yaitu dulunya berupa asosiasi yang kemudian oleh pemerintah dijadikan koperasi. Namun pada saat ini kerja koperasi tidak optimal bahkan dapat dikatakan macet. Akibat dari hal itu hubungan antar pengusaha menjadi renggang dan cenderung terjadi iklim usaha yang tidak sehat. 6. Belum adanya Perlindungan Hak Cipta dan Hak Paten. Produk-produk dari Serenan sebenarnya mempunyai kua-litas yang cukup bagus, terbukti dari luasnya pasar mereka, yaitu dari pasar nasional (Bali, Jakarta dan sebagainya). sampai pasar ekspor (Australia, AS & Eropa Timur) Akan tetapi ada permasalahan lain yang cukup menyulitkan mereka, yaitu mengenai hak cipta/paten. Seorang pengusaha yang kami wawancarai menceritakan bahwa produknya pernah dituntut membayar royalti karena dituduh memasarkan meubel ukiran bajakan oleh sebuah perusahaan Swedia. Setelah diusut memang benar, bahwa ukiran yang jelas-jelas bermotif Indonesia tersebut telah dipatenkan oleh sebuah perusahaan Swedia.

92
7. Ketidak Efektifan Peran Pemerintah. Dalam melakukan pengembangan usaha pengusaha, pemerintah telah melakukan langkah penanganan, namun dapat dikatakan banyak yang tidak efektif karena tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Dari kajian tersebut dapat difahami bahwa untuk menghadapi perdagangan bebas, kemampuan industri kecil dalam suatu sentra tergantung kepada kemampuan pengusaha induk (pengusaha yang memiliki kerjasama dengan pengusaha pengikutnya). Pengusaha yang menjadi induk bagi pengusaha lainnya akan menentukan maju mundurnya pengusaha pada sentra kerajinan. Oleh karena itu dalam melakukan pembinaan dan pengembangan industri kecil perlu untuk memberikan prioritas sasaran pembinaannya ditujukan kepada pengusaha induk. Keberadaan forum kerjasama antar pengusaha dalam bentuk misalnya asosiasi atau koperasi tidak dapat langsung berperan untuk mengoptimalkan guna meningkatkan bargaining position terhadap pembeli maupun pemasok bahan. Oleh karena itu asosiasi atau koperasi belum dapat efektif untuk melaksanakan strategi kelompok dari industri kecil guna menghadapi perdagangan bebas. Terkait langsung dengan liberalisasi perdagangan dunia seperti umumnya pada sentra kerajinan, dalam menangani produk yang diekspor posisi ekportir maupun pembeli asing sangat kuat. Hal ini mendukung temuan Saefudian, (1999). Umumnya segala resiko ditanggung oleh pengusaha, sementara para eksportir tidak menanggung resiko apa-apa. Di samping menentukan harga, penetapan kualitas memenuhi standart atau tidak (yang mempengaruhi harga) juga dilakukan sepihak oleh para eksportir. Berbeda dengan pendapat Tambunan (2001) yang menyatakan bahwa pengusaha industri kecil, khususnya pengusaha induk yaitu belum adanya kemauan pengusaha-pengusaha kecil dan menengah nasional untuk berorientasi global. Sebenarnya pengusaha induk siap dan mau untuk go international, hanya saja mereka butuh perlindungan dalam tranksasinya, atau perlu adanya pihak penjamin transaksi khususnya dengan pembeli asing. 1. Pengembangan nilai produk industri kerajinan seharusnya tidak lepas dari adanya riset yang dilakukan secara simultan dan terus-menerus untuk dapat memprediksi pasar yang tepat dan mampu meningkatkan kualitas desain. Pentingnya divisi desain dan peranan desainer produk tidak sekedar meningkatkan kualitas estetika produk tetapi juga pertimbangan ekonomis dan teknis agar produk mampu bersaing di pasar internasional.

2.

93

BAB 8 Daur Hidup Produk


Menurut Komninos (2002) ada lima fase daur hidup sebuah produk : tahap pengembangan produk, tahap perkenalan (introduction), pertumbuhan (growth), tahap kematangan (maturity) dan tahap penurunan (decline). Fase Pengembangan Produk Dimulai ketika perusahaan menemukan dan mengembangkan ide produk baru. Tahapan ini merupakan penterjemahan kepingan berbagai informasi dan menyatukannya menjadi sebuah produk baru. Yang selanjutnya produk tersebut akan mengalami perubahan atau penyesuaian sehingga mengeluarkan banyak uang dan waktu. Sehingga fase ini dapat dideskripsikan dengan penjualan (sales) adalah nol dan pendapatannya (revenue) negative, dengan kata lain bahwa di fase ini perusahaan akan mengeluarkan biaya cukup besar.

Gambar 8.1. Grafik Daur Hidup Produk Sumber : www.urenio.org

94
Fase Perkenalan Peluncuran produk pada fase perkenalan dimaksudkan agar perusahaan dapat mencapai dampak maksimum pada penjualan, langkah ini dilakukan dengan jalan melakukan promosi dan penggunaan iklan. Di fase ini persiapan distribusi mulai diperkenalkan. Ketersediaan produk di tiap tiap konter sangatlah penting dan hal ini adalah sebuah tantangan bahkan tidak jarang menimbulkan tekanan tersendiri bagi perusahaan sehingga untuk urusan distribusi, beberapa perusahaan menyerahkannya pada konsultan distribusi. Menetapkan harga, juga merupakan langkah lain yang dilakukan oleh perusahaan pada fase ini. Menetapkan harga produk umumnya diikuti oleh satu atau dua strategi tersruktur. Pada masa awal, konsumen akan rela membayar besar untuk sesuatu yang baru. Fase Pertumbuhan Fase pertumbuhan menawarkan kepuasan melihat produk lepas landas di pasar. Ini merupakan waktu yang tepat untuk memfokuskan peningkatan pangsa pasar. Pada fase ini, promosi dan iklan terus dilanjutkan, namun orientasinya sudah bukan pada perkenalan tapi lebih kepada penguatan imej di pasar. Pengembangan efisiensi dan peningkatan ketersediaan produk juga servis adalah tindakan tindakan yang harus dilakukan pada fase pertumbuhan. Fase Matang Pada saat pasar menjadi jenuh dengan varian produk dan kompetitor berlombalomba menyajikan alternatif produk maka tahapan ini dikenal sebagai fase matang (maturity). Ini merupakan periode tertinggi keuntungan yang didapat sebuah produk, market share berkembang dan perusahaan menikmati periode yang menguntungkan. Contoh produk yang sampai saat ini berada pada fase ini adalah Rinso deterjen yang semakin tua tapi masih tetap tumbuh, ini terbukti dengan terus melakukan terobosan baik dalam desain kemasan maupun menambah variannya (saat ini ada Rinso Anti Noda, Rinso Thousand Lilies Molto dan Rinso Color Care). Rinso merupakan deterjen cuci yang popular di Indonesia dan beberapa Negara lainnya. Diluncurkan pertama kali pada 35 tahun yang lalu oleh PT. Unilever dan hingga sampai saat ini Rinso masih bertahan dan menjadi market leader dalam deterjen di Indonesia.

Gambar 8.2. Varian produk Rinso saat ini (ki-ka: Rinso anti noda, Rinso Thousand Lilies Molto dan Rinso Color Care) Sumber : www.unilever.co.id

95
Fase Penurunan Umumnya penurunan produk ditandai dengan menurunnya pula penjualan di pasar. Fase ini adalah waktu untuk memulai menarik kembali produk khususnya yang berada pada posisi lemah dari pasar. Pada pertengahan 70-an, model daur hidup produk yang digambarkan pada gambar 1 mendapat banyak kritikan dari sejumlah penulis. Adapun alasannya sebagai berikut : 1. Adanya perubahan permintaan konsumen selama periode menyebabkan perbedaan yang sulit bagi fase daur hidup produk, durasinya sulit ditebak serta jangkauan tingkat penjualan produk berupa imajinasi. 2. Banyak produk yang tidak mengikuti grafik fase daur hidup produk seperti pada gambar 8. 1. 3. Daur hidup produk tidak hanya dipengaruhi oleh faktor waktu seperti pada gambar, namun juga dari kebijakan manajemen, keputusan strategis perusahaan serta trend pasar. Selain daripada itu, daur hidup produk juga dipengaruhi oleh jenis poduk. Karena tentunya produk yang berbeda juga akan menggunakan model dan pemasaran yang berbeda. Pada dasarnya ada tiga jenis produk, yaitu: a. Product class, contohnya mobil. b. Product form, contohnya mobil keluarga, station wagon, dll. c. Product brand, contoh ford escord. Daur hidup product class merefleksikan perubahan trend pasar dan lebih lama daripada daur hidup product form atau brand. Disatu sisi daur hidup product form atau brand merefleksikan tingkat kompetisi dari sebuah perusahaan dan biasanya mengikuti model grafik daur hidup produk. Lima fase daur hidup juga memberi indikasi bahwa sebaiknya perusahaan sesegera mungkin meluncurkan produknya ke pasar, hal ini dimaksudkan agar mempercepat penjualan dan meraih keuntungan juga karena berlomba dengan kompetitor. Oleh sebab itu fase yang tidak menguntungkan perusahaan, yakni fase pengembangan produk diperpendek lead time-nya, mengoptimalkan fase perkenalan dan pertumbuhan serta memperpanjang fase dewasa yang menguntungkan bagi perusahaan.

96

Halaman ini sengaja dikosongkan........................

97

BAB 9 Waktu Peluncuran Produk Baru


Pada kondisi normal, sebuah perusahaan akan meluncurkan produk baru ketika produk sebelumnya berada pada fase dewasa. Hal ini disebabkan karena, pada fase ini konsumen mengalami kejenuhan sebab banyak pesaing yang memiliki spesifikasi atau fitur yang sama. Sehingga dapat digambarkan grafiknya pada gambar 9.1.

Namun, tidak selamanya kondisi tersebut berlaku. Ada kalanya, ketika sebuah produk diluncurkan ketika produk sebelumnya belum mencapai fase matang, mungkin baru mencapai fase tumbuh perusahaan mengeluarkan produk pengganti. Biasanya hal ini disebabkan oleh pesaing akan atau telah meluncurkan produk baru yang lebih inovatif misalnya. Kondisi tersebut dapat digambarkan seperti pada gambar 9.2. Gambar 9.1. Peluncuran Produk pada Kondisi Normal

Gambar 9.2. Kondisi produk saat pesaing meluncurkan produk baru yang lebih inovatif

98

Halaman ini sengaja dikosongkan..............................................

100
Worth : Pengeluaran terkecil yang disyaratkan untuk memenuhi fungsi dasar dan ditetapkan oleh perbandingan. Cost : Adalah total biaya yang diperlukan untuk mendapatkan, memanfaatkan dan memelihara fungsi- fungsi yang telah ditetapkan. Value : Hubungan worth terhadap cost yang sesuai dengan kebutuhan penugguna dan sumber daya pada situasi tertentu. Perusahaan yang menggunakan metodologi Value Engineering (VE) pada pengembangan produknya adalah DOD (Departement of Defense) USA yang menggunakannya sejak awal tahun 1960an. Contoh kasus : Sebuah perusahaan automotif berencana mengganti penggunaan start engine pada mesin disel berbasis elektrik dengan start engine berbasis pneumatic. Tapi ternyata komponen tersebut didapat dengan mengimpor sehingga pengadaannya menjadi besar pada Gambar 10.1, oleh sebab itu diputuskan untuk membuat dan membelinya di pasar lokal dengan pertimbangan untuk mengurangi biaya dan memiliki kelayakan ekonomis (Ibusuki dan Kaminski, 2006). Oleh sebab itu dilakukan sebuah studi dengan menggunakan metodologi value engineering (VE).

Gambar 10.1. Pneumatic Stater yang Tersedia pada Pasar Impor (Sumber : Ibusuki dan Kaminski, 2006) Diawali dengan perincian komponenkomponen yang terlibat dalam sebuah stater engine yang kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasikan /pendefinisian fungsi dari tiap tiap komponen yang terlibat. Klasifikasikan fungsi berdasar fungsi utama atau fungsi pendukung. Komponen komponen yang berfungsi sebagai pendukung inilah yang nantinya akan direduksi, namun terlebih dahulu dilakukan estimasi biaya dari tiap tiap fungsi tersebut, sehingga didapatlah nilai biaya per fungsi (Tabel 10.1). Kemudian dilakukan perbandingan antar fungsi tersebut

101
menggunakan Mudge Diagram untuk menetapkan derajad kepentingan tiap fungsi secara kuantitatif. Hasil ini digunakan untuk menentukan target biaya. Tabel 10.1. Perkiraan Biaya per Komponen Berdasarkan Fungsi (Sumber : Ibusuki dan Kaminski, 2006)

Nilai target biaya dan nilai biaya per fungsi selanjutnya dibandingkan, dan ternyata biaya yang melebihi target adalah komponen drive pinon, sistem lubrikasi, system segel, connect tubes, pelindung mesin dan fix engine. Tabel 10.2. Penentuan Target Pengurangan Biaya per Fungsi (Sumber : Ibid)

102
Malalui tahapan kreatif akhirnya didapatlah tiga komponen saja yang dapat direduksi biayanya, yaitu connect tubes, pelindung mesin dan fix enginee dengan perkiraan biaya fungsi masing- masing 5, 15 dan 23,71. Dari hasil tersebut dapat diperoleh desain yang baru yang lebih sederhana dan harga yang lebih murah daripada Pneumatic Stater impor (Gambar 10.2).

Gambar 10.2. Pneumatic Stater yang Ditawarkan Menggunakan Metodologi VE Sumber : Ibid

Product Diversification Diversifikasi memiliki pengertian sebagai usaha menambah produk baru, dan terbagi menjadi tiga tipe umum (David, 2006) : 1. Diversifikasi Konsentrik/ terfokus, memiliki pengertian sebagai menambah produk atau jasa baru, tetapi berhubungan dengan produk/ jasa lama. 2. Diversifikasi Horizontal, memiliki pengertian sebagai menambahkan produk atau jasa baru, yang tidak berkaitan kepada pelanggan saat ini. 3. Diverifikasi Konglomerasi, ialah menambahkan produk atau jasa baru yang tidak berkaitan. Namun, agar lebih terfokus dengan masalah produktivitas maka penulisan ini dibatasi pada jenis diversifikasi konsentrik dan terfokus pada produk saja. Alasan perusahaan menerapkan strategi ini karena (Sumanth, 1985) : 1. Ada pesaing yang baru saja meluncurkan produk baru.

103
2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Persepsi konsumen terhadap kualitas produk sebelumnya menurun selama beberapa bulan atau tahun. Bahan mentah, komponen, dan pasokan energy secara tidak terduga menjadi susah didapat. Produk eksisting tidak berlanjut pada pangsa pasar. Perusahaan tengah mengembangkan sebuah produk yang jauh dari kompetisi Produk baru dibutuhkan untuk tujuan pertahanan nasional Belum ada perusahaan yang menawarkan produk baru pada saat itu. Pentingnya terobosan pada pasar internasional. Terobosan dari pesaing menjadi penting agar dapat bertahan dan tumbuh. Perusahaan memenuhi kontrak eksklusif untuk menawarkan produk baru.

Diversifikasi dimaksudkan untuk meningkatkan total penjualan. Jika ada satu produk yang volume penjualannya kecil dapat ditutupi oleh produk lain yang volume penjualannya besar. Salah satu contoh perusahaan yang menerapkan strategi diversifikasi konsentrik adalah AQUA GOLDEN MISSISIPI (Rahman Umar, 2007). PT. Aqua Golden Missisipi merupakan produsen air minum terbesar di Indonesia, menguasai 40% pangsa pasar air minum dalam kemasan, melalui produknya AQUA dan VIT sedangkan sisanya berasal dari pemain industri yang jumlahnya sebanyak 426 perusahaan (id.wordpress.com). Pada awal berproduksi, merk utamanya adalah AQUA dengan kemasan dari botol kaca dengan konsep isi ulang yang membidik pasar orang asing yang makan diluar di Jakarta. Hotel dan rumah makan telah membeli AQUA dalam botol yang dapat dikembalikan. Penjualan mencapai 2.5 juta liter pada tahun 1980, namun meluaskan pasar adalah tidak layak selama AQUA belum mempunyai jaringan pengembalian botol diluar Jakarta. Tahun 1981, Aqua mulai mengemas air dalam penampung yang terbuat dari PVC (Poly Vinyl Chlorida) dengan konsep langsung buang. Penyempurnaannya pada tahun 1984 dengan bentuk yang lebih efisien yakni segi empat. Menginjak 1987, Aqua mengemasnya pada material PET (Poly Ethilen Therepthalat). Terlepas dari hal tersebut, hingga saat ini posisi Aqua ternyata tidak berubah sebagai leader dengan segmen pasarnya adalah menengah atas. Bahkan merk Aqua sendiri sudah menancap di benak masyarakat sehingga sebutan air mineral menjadi Aqua. Hal ini lantas tidak membuat produsen berhenti melakukan terobosan, masih ada ceruk yang belum terjamah yaitu masyarakat menengah bawah dan eksekutif.

104

Gambar 10.3. Air Mineral Vittel, Produk Perusahaan Perancis yang Diakuisisi PT. Aqua Golden Missisipi (Sumber : www.vittel.com) Untuk membidik pasar menengah bawah pada tahun 1987, Aqua mengakuisisi air minum VIT yang merupakan produk dari perusahaan air mineral Perancis, Vittel. Dua produk ini memiliki perbedaan pada bahan baku sumber air. Jika Aqua menggunakan air yang berasal dari sumber mata air walaupun bukan sumber mata air asli, karena 1) sumber mata air asli telah digunakan oleh masyarakat dan jika sumber ini digunakan, maka dampaknya adalah debit air menurun. Sehingga sumber mata air ini hanya dijadikan sebagai indikator adanya sumber air saja. Sedangkan alas an ke 2) adalah agar menghindari kontaminasi, karena umumnya lapisan mata air tidak terlalu dalam hanya 30 40 meter saja dan ini sudah tercemar oleh bakteri oleh sebab itu dilakukan pengeboran sedalam 70 100 meter sedangkan Vit berasal dari air sumur atau apa saja. Sedangkan strategi diversifikasi untuk mengisi pangsa pasar eksklusif, PT. Aqua Golden Missisipi melakukan merger dengan perusahaan multinasional Danone, dengan mendistribusikan secara eksklusif air mineral Evian, yang berasal dari pegunungan Alpen.

Gambar 10.4. Produk PT.Aqua Golden Missisipi yang Menjangkau Pasar Menengah Atas, Bawah dan Premium (Sumber : www.vittel.com)

105

10.2.Product Simplification
Riggs et all (1979) dalam Sumanth (1985) memberikan definisi product simplification sebagai pengurangan terhadap yang tidak relevan atau marginal lines, jenis dan model dari produk. Hal ini berupa pengurangan pada material dan komponen yang digunakan atau bisa juga pengurangan pada kerumitan metode dan proses produksi

DFMA Berbicara tentang product simplification tentu tidak dapat lepas dari Design for Manufacturing Assembly (DFMA). Karena pada dasarnya metode ini memiliki tujan dasar untuk membuat produk menjadi lebih sederhana, baik dari penggunaan komponen, material maupun proses produksinya. Design for manufacture memiliki definisi desain untuk kemudahan manufaktur dari sekumpulan komponen yang membentuk produk setelah dirakit (assembly). Sedangkan Design for Assembly adalah desain produk untuk kemudahan perakitan. Yang kemudian digabungkan menjadi DFMA. Boothroyd (2002), menyebutkan tiga aktivitas utama dari DFMA : a. Sebagai dasar studi concurrent engineering untuk memberikan petunjuk bagi tim desain dalam menyederhanakan struktur produk, mengurangi biaya manufaktur dan perakitan dan untuk mengkuantifikasi improvement. b. Sebagai alat pembanding pada produk pesaing dan untuk mengkuantifikasi kesulitan proses manufaktur serta perakitan. c. Sebagai alat untuk membatu bernegosiasi dengan supplier.

Analisis DFA merupakan langkah pertama yang dilakukan, dengan tujuan untuk menyederhanakan struktur produk. Kemudian dengan menggunakan DFM akan diperoleh estimasi biaya awal untuk komponen, baik pada desain asli maupun desain yang baru untuk memberikan keputusan yang bertentangan. Selama proses ini, material dan proses terbaik, dipertimbangkan untuk bermacam macam komponen. Proses tersebut dapat di rangkum pada gambar 3. Sebuah terobosan dalam implementasi DFA terjadi pada tahun 1988 ketika Ford Motor Company melaporkan bahwa software DFA membantu menyelamatkan miliaran dollar pada cabang automobile Taurus. Belakangan, dilaporkan oleh General Motors (GM) membuat perbandingan antara pabrik perakitan di Fairfax, Kansas yang membuat Pontiac Grand Prix dengan pabrik perakitan Ford Taurus di Mercury Sable dekat Atlanta. GM menemukan selisih produktivitas cukup besar dan disimpulkan bahwa selisih kedua desain tersebut adalah 41% . Contohnya: Mobil ford memiliki komponen lebih sedikit 10 pada bumper depan dibandingkan dengan 100 pada GM Pontiac dan komponen Ford lebih mudah perakitannya.

106

Gambar 10.5. Proses DFMA menggunakan software DFMA Sumber : Boothroyd, et all 2002

DFMA tidak hanya mengurangi biaya produksi, namun dapat memperpendek waktu peluncuran sebuah produk ke pasar, yang ditunjukkan dengan gambar 4. Contoh : Ingersoll Rand Company melaporkan bahwa DFMA software mengurangi waktu fase pengembangan produk dengan drastis dari yang bisanya dua tahun menjadi satu tahun. Dengan tambahan, tim simultaneous engineering mengurangi beberapa komponen dari 80 menjadi 29, penurunan penggunaan sambungan dari 38 menjadi 20, menata perakitan dari 159 menjadi 40 dan mengurangi waktu perakitan dari 18.5 menit menjadi 6.5 menit. Dikembangkan bulan Juni 1989, desain baru diproduksi pada Februari 1990. Keuntungan penggunaan DFMA

Survey yang diambil dari sejumlah engineering design secara mengejutkan menyebutkan bahwa pengurangan biaya produksi tidak penting berdasarkan hasil akhir keinginan meredesain. Gambar 8 menunjukkan bahwa pengurangan waktu peluncuran ke pasar dan peningkatan pada kualitas lebih penting daripada biaya produksi.

107

Gambar 10.6. Proses DFMA menggunakan software DFMA Sumber : Boothroyd, et all 2002

Keuntungan lain dari DFMA menawarkan prosedur yang sitematis untuk menganalisa desain yang ditawarkan dilihat dari sudut pandang perakitan dan manufaktur. DFMA juga mendorong dialog antara desainer dan manufacturing engineers juga semua yang terlibat dalam penentuan biaya produk. Ini berarti mendukung kelompok kerja dan keuntungan simultaneous atau concurrent engineering dapat tercapai.

Gambar 10.7. Prosentase Keuntungan Penggunaan DFMA (Sumber : Boothroyd, et all 2002) Contoh Kasus DFMA pada Thermal Gunsight di Raytheon Systems Sebuah thermal gunsight yang diproduksi oleh Sistem Pertahanan dan Grup Elektronik dari Texas Instraments (sekarang bernama Raytheon Systems), digunakan untuk melacak dan membidik target di malam hari, kondisi di medan pertempuran serta untuk menyesuaikan bagian system video dengan lintasan peluru dari senjata kendaraan untuk memastikan akurasi pada kendaraan darat lapis baja (tank). Yang terpenting adalah alat ini harus ringan.

108
Dengan analisis DFA didapatlah kesimpulan bahwa pengikat (fastener) dan reorientasi perakitan merupakan dua kontribusi utama terhadap pengaruh waktu perakitan. Proses khusus pada pengeboran dan pemasangan serta penggunaan perekat pada sekrup juga merupakan kontribusi utama. Tujuan utama selama redesain adalah untuk mengurangi komponen, mengurangi elemen yang tidak penting, menstandardkan pengingat (reminder), serta mengurangi perakitan. Setelah analisis ini dibuat, maka beberapa alternatif desain ditawarkan sehingga terpilihlah sebuah desain final. Tabel 10.3. Perbandinan reticle assembly antara desain awal dengan desain baru. Sumber: Ibid Original Design Redesign Improvement (%) Assembly time 2.15 0.33 84.7 Number of different parts 24 8 66.7 Total number parts 47 12 74.5 Total number of operators 58 13 77.6 Metal fabrication time 12.63 3.65 71.1 Weight 0.48 0.26 45.8

Paul Zimmermann, pimpinan mechanical engineer Raytheon menyampaikan bahwa keuntungan utama dari DFMA adalah berkurangnya waktu dan biaya untuk memperbaiki dan re-work. Dia juga menyebutkan bahwa metode ini menghemat lebih dari $2 .000.000 selama fase desain.

Contoh Kasus DFMA pada Digital Equipments Corporation Tim desain pada Digital Equipments Corporation menedain ulang mouse perusahaan. Dimulai dengan membandingkan dengan produk digital mouse dan mouse yang dibuat oleh perusahaan lain. Dengan menggunakan software DFMA untuk membandingkan beberapa komponen seperti waktu pemasangan, jumlah komponen, cara perakitan, biaya tenaga kerja dan total biaya produk. Mereka juga berkonsultasi dengan pekerja yang merakit mouse. Gordon lewis, koordinator DFMA dan pemimpin tim, menyatakan bahwa DFMA memberikan tim desain Ini adalah aturan 80/20, menghabiskan waktumu sebesar 80% dan 20% untuk masalah. Dan DFMA adalah alat yang membantu tim mengidentifikasi dengan tepat 20% masalah yang ada.

109

Gambar 10.8. Perbandingan mouse yang lama dan yang baru. Sumber : Boothroyd, et all 2002

Tabel 10.4. Menunjukkan Perbandingan Mouse Lama dengan Mouse yang Baru. Original New Fastener 7 (2 snap fits) Assembly Adjustment 8 Total Assembly Count 83 54 Assembly time 592 277 Cycle Time 18 week for hard tooling only 18 week including hard tooling

d. Concurrent Engineering/ Simutaneous Engineering Concurrent engineering (best.me.berkely.edu) merupakan sebuah metode pengembangan produk yang menggantikan proses pengembangan produk tradisional dengan penyelesaian tugas secara paralel atau serentak dengan pertimbangan awal di setiap aspek proses pengembangan produk. (Dieter,2000) Dimana pada pengembangan produk tradisional, semua prosesnya dilakukan secara berurutan (serial/ sequential). Bahkan sempat dikenal pula istilah over the wall approach, yaitu seorang desainer bekerja pada satu sisi tembok dan melemparkan desain melalui tembok kepada insinyur produksi yang kemudian menghadapi berbagai kendala produksi dikarenakan mereka tidak dilibatkan pada proses desain (Boothroyd et all, 2002).

110
Sekitar tahun 1980-an, berbagai perusahaan menghadapi peningkatan tekanan pada lantai produksi dan sebuah pendekatan baru pada integrasi desain produk berkembang perlahan lahan yang kemudian dikenal dengan concurrent engineering. Hal ini didorong oleh keinginan untuk memperpendek waktu pengembangan produk, juga dipicu oleh keinginan untuk meningkatkan kualitas dan mereduksi biaya daur hidup produk. Tujuan utama Concurrent Engineering adalah sebagai berikut : a. Mengurangi lead time pengembangan produk. b. Meningkatkan keuntungan c. Meningkatkan daya saing d. Meningkatkan kontrol pada desain dan biaya produksi e. Hubungan yang dekat antar divisi f. Meningkatkan reputasi perusahaan dan produk g. Meningkatkan kualitas produk h. Pengembangan semangat tim Perusahaan yang menggunakan Concurrent Engineering pada setiap perancangan produknya adalah Toyota. Salah satu contoh kasus adalah proyek perancangan Toyota Prius. Liker (2006) menyebutkan pada awalnya Prius merupakan proyek penelitian Toyota untuk mobil baru abad ke-21. Adapun konsep awalnya adalah mobil kecil yang efisien bahan bakar namun memiliki ruang kabin yang luas. Bulan September 1993 komite G 21 ini mengadakan pertemuan dan memiliki waktu tiga bulan untuk mengembangkan cetak biru yang berukuran setengah skala kendaraan. Namun dalam proses pengembangannya konsep efisien bahan bakar ini berubah menjadi teknologi hibrida yang merupakan kombinasi manis dari hemat bahan bakar, emisi rendah dan praktis. Padahal pada tahun 1994 tepatnya bulan Nopember teknologi hibrida ini masih dianggap terlalu baru dan merupakan teknologi yang beresiko, namun dilain pihak prototype mobil ini harus selesai pada bulan Oktober 1995 tepatnya pada pameran mobil Tokyo dan hal ini berarti waktu yang dimiliki kurang dari satu tahun. Dimulai dari pertimbangan 80 jenis mesin hibrida yang dipersempit menjadi 10 jenis mesin kemudian memilih empat terbaik. Masing masing dari keempat jenis hibrida ini dievaluasi secara hati hati dengan simulasi komputer . Berdasarkan hasil ini tim cukup yakin dengan mengajukan satu alternatif pada Mei 1995, hanya dalam waktu enam bulan. Juni 1995, Prius resmi menjadi proyek pengembangan dengan rencana awal Prius akan diluncurkan pada awal tahun 1999. Adanya pergantian presiden direktur yang baru menyebabkan proyek ini dipercepat satu tahun yakni Desember 1997. Akhirnya prototype Prius dibuka pada khalayak umum pada Oktober 1995 di pameran Mobil Toyota dan mobil ini menjadi bintang. Juli 1996 tim memiliki sebuah mobil hybrid untuk dikembangkan, ini berarti waktu yang tersisa untuk memproduksi Prius adalah 17 bulan. Tinjauan akhir terhadap desain dan persetujuan formal oleh dewan direksi terhadap desain diberikan pada bulan September, sehingga sejak saat itu hanya tersisa waktu 15 bulan. Disamping mengembangkan teknologi, Toyota juga harus mengembangkan dan mempersiapkan proses manufaktur yang baru, menyusun rencana penjualan yang baru untuk Prius dan bahkan mempersiapkan organisasi pelayanan untuk perawatan kendaraan. Pada tahun 1996 standar industri untuk mengembangkan kendaraan, terutama di AS berkisar antara lima hingga enam tahun. Namun sudah sejak tahun 1982, perusahaan perusahaan mobil Jepang mengembangkan kendaraannya hanya dalam waktu 48 bulan. Terlebih lagi Prius yang merupakan terobosan baru hanya mempunyai waktu 15 bulan. Penelitian dan pengembangan Prius dilakukan secara bersamaan dengan pengembangan produk. Dan akhirnya pada bulan Oktober 1997 dua bulan lebih cepat dari target mobil hibrida produksi massal pertama di dunia ditawarkan ke pasar Jepang, yang segera diikuti oleh peluncuran di AS.

111

Gambar 10.9. Toyota Prius Generasi Pertama Tahun 1997 (Sumber : www.toyota.co.id) Keberhasilan Toyota dalam ketepatan waktu bahkan lebih cepat dari target disebabkan penggunaan metode concurrent/ simultaneous engineering. Yang dilakukan dengan cara : 1. Tim lintas fungsi dan chief engineer bekerja sama setiap hari dalam ruangan yang sama (obeya). Dalam proyek prius, tim ahli dari berbagai fungsi, desain, evaluasi dan manufaktur duduk dalam satu ruangan besar bersama chief engineer dan mengambil kputusan secara real time. Yang turut bergabung dengan kelompok tersebut tidak hanya insinyur desain, tapi juga insinyur produksi sehingga mereka dapat melakukan pembahasan bersama-sama.

Gambar 10.10 . Toyota Prius Generasi Kedua Prius 2009 Sumber : www.toyota.co.id

112
2. Para insinyur manufaktur dan produksi tersebut terlibat sejak awal dalam proses desain bekerja dengan para insinyur desain pada tahap pengembangan konsep, untuk memberikan masukan mengenai masalah manufaktur. Tingkat kerjasama ini tidak baisa dalam industri otomotif dan Toyota telah melakukan enjineering secara simultan selama beberapa tahun sebelum prius namun Prius membuatnya lebih intensif. Begitu banyak hal baru dan tekanan waktu yang intens, terjadilah kerjasama yang tiada duanya antar divisi dan antara bagian desain dan bagian manufaktur untuk Prius. Akibat inovasi ini, sejalan dengan inovasi dalam penggunaan teknologi komputer, proses pengembangan produk di Toyota sekarang secara rutin berkurang menjadi 12 bulan atau kurang untuk kendaraan derivatif, padahal sebagian besar pesaing membutuhkan waktu dua kali lebih lama.

e. Product Standardization Aturan utama dalam mendesain produk ialah mendesain menggunakan komponen standard. Misalnya mur, baut, ring, segel, bearings, gear dan gigi rantai. Standarisasi produk merupakan bagian usaha sistematis dari desainer produk, insinyur industri dan manajer marketing untuk menciptakan sebuah produk yang dapat meminimalkan proses produksi, distribusi, penjualan dan biaya perawatan (Sumanth, 1985). Standarisasi (Ulrich dan Eppinger, 2000) pada hal ini diaplikasikan pada penggunaan komponen, dengan cara pemanfaatan komponen yang sama pada bermacam-macam produk. Kondisi ini dapat menurunkan biaya dan meningkatkan kualitas. Standarisasi komponen dapat terjadi di luar perusahaan, ketika beberapa produk manufaktur semuanya menggunakan komponen dari pemasok yang sama. Contohnya dalah baterai jam tangan Swatch yang dibuat oleh pemasok dan terstandarisasi untuk berapa lini produk manufaktur lainnya. Aplikasi dari penggunaan standarisasi produk adalah produk-produk dengan basis modular desain. Modular desain terdiri atas core components dan support component, dimana kedua jenis komponen ini jika dikombinasikan dapat menghasilkan berbagai varian yang baru dan berbeda. Oleh sebab itu dalam perancangannya komponen komponen ini harus distandardkan agar kompatibel satu dengan yang lainnya. Nippon Denso panel meter, merupakan contoh produk yang menggunakan sistem modul. Panel meter didesain dengan enam modul standard. Kombinasi enam modul ini menghasilkan 288 model yang berbeda dengan 40 model yang baru diproduksi.

Gambar 10.11. Nippon denso panel meter dan kemungkinan 288 kombinasinya (Sumber : Huang, 1999)

113
f. Emulation Emulation ( www.thefreedictionary.com ) ialah usaha untuk menyamai atau mengungguli yang lain. Emulation memiliki pengertian yang sama dengan peniruan (imitation) atau tiruan (copying). Sedangkan dalam hubungannya dengan pengembangan produk, emulation (Burnham, 1979 dalam Sumanth, 1985) memiliki pengertian sebagai meniru ide terbaik dari perusahaan lain, pada industri yang sama. Terkadang sebuah perusahaan tidak perlu menjadi penemu dari metode baru agar sukses dalam meningkatkan produktivitas. Meniru ide terbaik disini termasuk produk, proses, material, teknologi dan kebijakan manajemen. Strategi ini cocok digunakan pada perusahaan dengan sumber daya yang terbatas (www.web-articles.info).

Gambar 10.12. Metode Emulasi yang Digunakan pada Peningkatan Produtivitas Seterika (Perbandingan Produk Maspion dengan Philips) Sumber : www.toyota.co.id

Emulasi tidak jelek sepenuhnya, bahkan dapat menjadi penting. Bahkan merupakan teknik peningkatan produktivitas sederhana yang sangat efektif, karena teknik ini mengambil kelebihan dari ide yang sudah digunakan oleh pesaing. Namun pada prakteknya, selalu ada keseganan pada beberapa perusahaan (terutama perusahaan Amarika) untuk meniru desain dan metode produksi dan gaya manajemen dari pesaing asing. Kondisi ini ternyata berbeda dengan perusahaan perusahaan di Negara timur, yang banyak meniru teknologi know how perusahaan di Negara barat. Contoh kasus ini adalah pada produk seterika PT. Maspion yang meniru desain seterika dari Philips. Gambar 10.12 memperlihatkan kesamaan pada bentuk seterika dan pembagian komponen warnanya. g. Product Cannibalism Untuk memperpanjang daur hidup produk, product cannibalization adalah salah satu cara yang dapat digunakan. Komninos (2002) memberikan pengertian dari product cannibalization sebagai usaha perusahaan memutuskan untuk mengganti produk eksisting dan memperkenalkan yang baru sebagai pengganti produk eksisting tanpa peduli

114
posisinya di pasar. Biasanya, cara ini dilakukan untuk memperkenalkan teknologi baru dan kebanyakan kasusnya pada perusahaan berteknologi tinggi. Pada kondisi kanibalisasi normal, produk baru yang menggantikan produk sebelumnya yang berada pada fase matang. Produk baru dijual pada harga tinggi sebagai keberlanjutan penjualan, sedangkan pencapaian produk yang lama berada pada akhir daur hidup produk. Akan tetapi, ada pula perusahaan yang memperkenalkan versi baru dari sebuah produk ketika produk sebelumnya berada pada fase pengenalan produk. Untuk menggunakan strategi ini, perusahaan harus mengetahui kapan dan mengapa menggunakan ini. Karena apabila terlambat ataupun terlalu cepat akan berdampak buruk bagi penjualan perusahaan. Strategi ini biasanya digunakan untuk mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar, sedangkan bagi pengikut (follower) strategi ini digunakan untuk mengejar posisi pemimpin pasar. Sedangkan dalam kaitannya dengan daur hidup produk, strategi ini dapat mempersingkat fase perkenalan dan pertumbuhan karena tidak memerlukan biaya promosi atau iklan yang besar sebab tidak membutuhkan intensitas iklan atau promosi yang tinggi. Ada tiga tipe kanibalisasi produk, yaitu : Unfavorable Cannibalization, Offensive Cannibalization dan Defensive Cannibalization. Namun dari ketiganya, tipe defensive paling sehat dilakukan. Baik pada perusahaan, pasar maupun perekonomian nasional. Oleh sebab itu, penjelasan kepada tipe defensive lebih ditekankan. Contoh perusahaan yang menggunakan strategi ini adalah Intel Corporation yang mengkanibalisasi prosesor 8088 menjadi 80286 setelah 2,5 tahun, kemudian 80286 digantikan oleh 386 setelah tiga tahun, 386 digantkan 486 setelah 4 tahun dan 486 digantikan dengan Pentium setelah 4,5 tahu dan seterusnya. Jadi disini, pemimpin pasar mendikte langkah dan panjangnya daur hidup produk. Penggantian 486 menjadi Pentium membutuhkan waktu yang lama, disebabkan karena pesaing tidak dapat mengejar. Contoh kasus lain lagi adalah, pada perusahaan Nintendo, sega atau Play Station.

Gambar 10.13. Perkembangan Produk Kanibalisasi Intel dari 8088 menjadi 80286 menjadi 388 hingga Pentium 4 (Sumber : berbagai sumber diolah)

Daur hidup produk terdiri dari lima fase, yakni : fase pengembangan produk, fase perkenalan, fase pertumbuhan, fase dewasa dan fase penurunan. Jika dikaitkan dengan produktivitas, fase perkembangan produk sebisa mungkin diperpendek lead-timenya, sebab pada fase ini perusahaan mengeluarkan biaya yang cukup besar. Bahkan Dewhurst

115
dan Boothroyd (2002) menyebutkan bahwa pengurangan waktu peluncuran lebih penting dari pada pengurangan biaya produksi. Yang kedua adalah, pada fase ini juga perlu dipertimbangkan poses produksinya, yaitu kemudahan perakitan dan pembuatannya tanpa mengabaikan kualitasnya. Adapun cara-cara yang digunakan untuk dapat meningkatkan produktivitas berdasarkan produknya dilakukan dengan teknik : value engineering, diversifikasi produk, penyederhanaan produk melalui DFMA, Simultaneous/ Concurrent Engineering, standarisasi produk, emulasi dan kanibalisasi produk. Dari keenam teknik tersebut, dapat diterangkan kaitannya dengan produktivitas sebagai berikut : Tabel 10.5. Korelasi antara enam jenis teknik dengan kriteria peningkatan produktivitas. Kriteria Produktivitas VE Div. Prod DFMA CE Emulasi Std. Prod Mengurangi lead time pengembangan v v v poduk. Mengurangi biaya produksi v v v v Meminimumkan inventory v v v v Meningkatkan keuntungan v v v v v v Meningkatkan kualitas dan keandalan v v v v v v produk Memperpanjang daur dewasa produk

Cann.P rod v

v v v

Sedangkan pada masa dewasa produk, sebaiknya diperpanjang karena pada masa ini perusahaan meraih keuntungan yang tinggi. Pada fase ini, sebuah produk tidak dapat berhenti pada satu titik namun terus melakukan perubahan walaupun kecil, yakni pada pengemasan misalnya. Hal ini terjadi pada Rinso yang kini tengah berada pada posisi dewasa dan bertahan selama 35 tahun sebagai pemimpin pasar deterjen di Indonesia. Perubahan yang dilakukan untuk menarik pasar selain dilakukan dengan cara perubahan desain kemasan juga meluncurkan variannya, yakni rinso untuk pakaian berwarna dan rinso yang dikombinasi dengan pelembut dan pewangi pakaian.

116

Halaman ini sengaja dikosongkan............................

117
BAGIAN TIGA LINGKUNGAN DAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS INDUSTRI MANUFAKTUR Tujuan Instruksional Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami pentingnya perhatian terhadap lingkungan terutama pada Industri Manufaktur Mahasiswa mampu memahami meningkatnya perhatian konsumen internasional terhadap kepedulian lingkungan pada setiap produk hasil industri manufaktur yang berpengaruh pada regulasi-regulasi standar produk yang berwawasan lingkungan Mahasiswa mampu memahami beberapa ketentuan green produktivity sebagai issue global terbaru yang harus dimiliki oleh industri manufaktur Mahasiswa mampu memahami kerusakan-kerusakan lingkungan akibat dari produk yang tidak memperhatikan lingkungan

118

Halaman ini sengaja dikosongkan............................

119

BAB 11 Industri Manufaktur

Dewasa ini terjadi perkembangan yang cukup pesat pada industri manufaktur. Perkembangan industri manufaktur ini ditandai dengan bertambahnya jumlah dan inovasi yang dilakukan oleh industri manufaktur. Inovasi dilakukan pada proses produksi atau inovasi produk yang dihasilkan. Untuk mendukung inovasi, maka diperlukan suatu kondisi yang reprentatif pada industri tersebut. Kondisi ini dapat tercapai jika semua komponen yang terlibat dalam proses produksi dapat bekerja dengan baik, antara lain komponen bahan baku, tenaga kerja, peralatan produksi dll. Kata manufaktur berasal dari bahasa Latin manus factus yang berarti dibuat dengan tangan. Kata manufacture muncul pertama kali tahun 1576, dan kata manufacturing muncul tahun 1683. Manufaktur, dalam arti yang paling luas, adalah proses merubah bahan baku menjadi produk. Proses ini meliputi (1) perancangan produk, (2) pemilihan material, dan (3) tahap-tahap proses dimana produk tersebut dibuat. Pada konteks yang lebih modern, manufaktur melibatkan pembuatan produk dari bahan baku melalui bermacam-macam proses, mesin dan operasi, mengikuti perencanaan yang terorganisasi dengan baik untuk setiap aktifitas yang diperlukan. Industri manufaktur merupakan industri yang menghasilkan suatu produk tertentu. Karakteristik tersebut mempermudah dalam membuat suatu perbaikan dibandingkan industri jasa yang tidak tampak produknya. Terdapat beberapa karakteristik industri manufaktur pada dunia modern, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Hanya world class organization yang dapat bersaing dipasar domestik dan pasar global. Selalu berorientasi pada peningkatan kualitas dari produk yang dihasilkan. Menyadari bahwa human resources merupakan suatu asset penting dalam organisasi dan memberdayakannya untuk mencapai tujuan perusahaan. Menekankan pada pengendalian biaya Menekankan pada fokus dan spesialisasi. Meningkatkan kemampuan mesin produksi untuk mencapai tujuan speed, accuracy dan quality melalui deploying intelligent machines and flexible manufacturing systems. Meningkatkan peranan komputer untuk memecahkan masalah bisnis yang komplek, desain engineering, R&D, inventori, perawatan peralatan, masalah kualitas. Menggunakan simulasi dan model matematika dalam proses pengambilan keputusan.

Disisi lain, industri manufaktur merupakan pendorong bagi pertumbuhan industry jasa. Produk yang dihasilkan oleh industri manufaktur digunakan dalam proses produksi industri jasa. Dengan demikian inovasi dan perkembangan industri manufaktur sangat berpengaruh pada perkembangan dan inovasi industri jasa.

120

Gambar 11.1. Hubungan antara industri manufaktur dan industry jasa (Sumber: Castaldi, 2008)

Terdapat beberapa bentuk industri manufaktur dewasa ini. Castaldi (2008) membedakan industri manufaktur menjadi empat tipe, yaitu: 1. Scale Intensive (SI): termasuk kebutuhan konsumen yang komplek dan tahan lama (makanan, bahan kimia dan sepeda motor), dan memproses bahan baku (metal manufacturing, glass dan semen) 2. Supplier Dominated (SD): suatu industri dimana sebagian besar proses produksinya menggunakan teknologi (industri tekstil, pipa dan kertas). 3. Science Based (SB): Industri elektronik, minuman, bioengineering, dan semua industri yang secara langsung mengaplikasikan ilmu pengetahuan dalam proses inovasinya. 4. Specialized Suppliers (SS): yang termasuk dalam tipe ini adalah peralatan bangunan, desain dan mechanical engineering (machines and machines tools production). Pada dasarnya perkembangan industri manufaktur tidak terlepas dari masalah produktivitas, karena peningkatan produktivitas merupakan indikator perkembangan positif suatu industri. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk memperbaiki produktivitas pada industri manufaktur adalah: Value Stream Mapping (VSM). Alat ini dapat digunakan untuk melihat aliran produk, aliran bahan baku dan aliran informasi pada industri manufaktur.

121
Selain itu VSM dapat digunakan untuk memisahkan aktivitas value adding dan non value adding aliran produk dari supplier bahan baku sampai konsumen. VSM mempunyai peranan penting dan berbeda-beda pada setiap tipe industri manufaktur. Jobbing shops: VSM digunakan untuk melihat proses pre-manufacturing, seperti: quotation preparation, desain, pembelian, proses perencanaan dan penjadwalan. Batch manufacturing: VSM digunakan untuk menerapkan konsep lean, dan dengan memperkenalkan pull system dengan kanban untuk pengendalian produksi, mengembangkan aliran proses berdasarkan waktu, penjadwalan bertingkat, misalnya mingguan, bulanan dll. Flow line production: VSM digunakan untuk melihat hasil jika telah dilakukan suatu improvement. Process plants: pada tipe ini VSM digunakan untuk melihat possibility smaller run, reviewing set-up atau change over times, memperbaiki system penjadwalan, memperbaiki pengendalian proses, melakukan preventif perawatan dan memperbaiki prosedur pengendalian kualitas.

122

Halamaninisengajadikosongkan.........................................

123

BAB 12 Human Capital Pada Manufaktur


Terdapat berbagai macam modal (capital) yang harus tersedia sebelum suatu industri manufaktur agar dapat melakukan proses operasinya. Beberapa modal yang harus tersedia antara lain: modal fasilitas produksi, modal financial, modal material dan modal tenaga kerja (human capital). Menurut Carmeli (2004), tenaga kerja sebagai human capital merupakan suatu asset strategis agar suatu organisasi dapat berjalan secara efektif. Perkembangan dan inovasi yang berkelanjutan pada tenaga kerja akan memberikan pengaruh positif bagi performance suatu organisasi/ perusahaan. Sedangkan menurut Serneels (2008), human capital merupakan akumulasi dari dua hal, yaitu: suatu pengalaman dan pengetahuan dari seorang karyawan. Human capital merupakan komponen penting dalam operasionalisasi perusahaan, karena berperan dalam merumuskan dan melaksanakan strategi. Human capital berperan dalam merumuskan rencana strategis dan mengimplementasikan rencana tersebut melalui berbagai cara, misalnya: rekrutmen atau perampingan karyawan dan sebagainya (Dessler, 2004). Selain itu, Manajemen sekarang telah banyak berubah dari keadaan 20-30 tahun lampau, di mana human capital menggantikan mesin-mesin sebagai basis keberhasilan kebanyakan perusahaan. Kondisi tersebut menuntut adanya perubahan penanganan tenaga kerja sebagai human capital. Pola yang berubah ini menuntut "pengetahuan" baru dan "cara penanganan" (manajemen) yang baru Moskowitz, R. and Warwick D. (1996) berpendapat, bahwa Human capital yang mengacu kepada pengetahuan, pendidikan, latihan, keahlian, dan ekspertis tenaga kerja perusahaan kini menjadi sangat penting, dibandingkan dengan waktu-waktu lampau. Malcolm Baldrige, menyatakan bahwa penanganan SDM sebagai Human Capital telah berhasil jika MSDM sudah merencanakan penerapan dan intergrasi pertumbuhan pegawai secara penuh, mencakup program pelatihan, alur pengembangan karier, penilaian/proses kesadaran pribadi, kompensasi, pemberian wewenang, dan hasil terukur. Untuk mencapai penanganan SDM sebagai Human Capital dapat dinilai dari komponen-komponen sebagai berikut (Gamal, 2007): 1. Perencanaan dan Pengelolaan SDM a. Seberapa jauh perencanaan SDM dikaitkan dengan strategi; b. Seberapa jauh SDM dikaitkan dengan tujuan peningkatan kualitas; c. Seberapa besar penggunaan data pegawai untuk peningkatan pengelolaan SDM. 2. Peningkatan Pegawai a. Seberapa besar insentif bagi keterlibatab pegawai dalam peningkatan kualitas; b. Seberapa besar wewenang yang diberikan kepada pegawai dalam area kerja mereka; c. Bagaimana pengukuran dan pemantauan pegawai dalam peningkatan kualitas; d. Bagaimana indicator monitoring keterlibatan pegawai pada semua tingkatan. 3. Pendidikan dan Pelatihan a. Bagaimana sistematika pengembangan program pelatihan dan pendidikan; b. Bagaimana mengukur kaitan pelatihan dan pendidikan dengan pekerjaan pegawai; c. Seberapa jauh pengaruh hasil pelatihan berhubungan dengan area pekerjaan pegawai;

124
d. Bagaimana mengukur pelatihan pegawai dengan kategori pekerjaan 4. Kinerja Pegawai dan Pengakuan a. Seberapa jauh reward program mendukung tujuan peningkatan mutu; b. Bagaimana intensitas organisasi meninjau ulang dan meningkatan reward program; c. Bagaimana pengelolaan data dan bukti pengenalan setiap pegawai; d. Bagaimana keberlanjutan peningkatan program untuk mencapai kepuasan pegawai. 5. Kepuasan Pegawai a. Seberapa jauh program pengembangan pelayanan kepada pegawai; b. Bagaimana system penilaian & evaluasi kepuasan pegawai; c. Bagaimana kelengkapan data dalam peningkatan dan pelayanan pegawai. Dengan demikian, human capital pada industri manufaktur, bukanlah memposisikan manusia sebagai modal layaknya mesin, sehingga seolah-olah manusia sama dengan mesin, sebagaimana teori human capital terdahulu. Namun setelah teori ini semakin meluas, maka human capital justru bisa membantu pengambil keputusan untuk memfokuskan pembangunan manusia dengan menitikberatkan pada investasi pendidikan (termasuk pelatihan) dalam rangka peningkatan mutu organisasi sebagai bagian pembangunan bangsa. Penanganan SDM sebagai human capital menunjukkan bahwa hasil dari investasi non fisik jauh lebih tinggi dibandingkan investasi berupa pembangunan fisik.

125

BAB 13 Human Resources Management (HRM) Pada Manufaktur


Manajemen sumber daya manusia (MSDM) atau biasa disebut dengan istilah human resources management (HRM) adalah suatu proses menangani berbagai masalah pada ruang lingkup karyawan, pegawai, buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya untuk dapat menunjang aktifitas organisasi atau perusahaan demi mencapai tujuan yang telah ditentukan. Simamora (2006) mendefinisikan Manajemen sumber daya manusia juga menyangkut desain dan implementasi sistem perencanaan, penyusunan karyawan, pengembangan karyawan, pengelolaan karier, evaluasi kinerja, kompensasi karyawan dan hubungan ketenagakerjaan yang baik. Manajemen sumber daya manusia melibatkan semua keputusan dan praktek manajemen yang mempengaruhi secara lansung sumber daya manusianya. MSDM merupakan sistem yang terdiri dari banyak aktivitas interdependen (saling terkait satu sama lain), dimana setiap aktivitas berpengaruh pada aktivitas yang lain. Tujuan dilakukannya manajemen sumber daya manusia adalah: meningkatkan kontribusi produktif orang-orang yang ada dalam perusahaan melalui sejumlah cara yang bertanggung jawab strategis, etis dan sosial. Tercapainya tujuan manajemen sumber daya manusia pada industri manufaktur tercermin dari adanya : Peningkatan effisiensi Peningkatan effektifitas Peningkatan produktifitas Rendahnya tingkat perpindahan pegawai Rendahnya tingkat absensi Tingginya kepuasan kerja karyawan Tingginya kualitas pelayanan Rendahnya keluhan dari pelanggan Meningkatnya bisnis dari perusahaan.

Peran manajemen sumber daya manusia dalam menjalankan aspek SDM harus dikelola dengan baik sehingga kebijakan dan praktek dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan perusahaan, yang meliputi kegiatan (Rivai, 2003): Melakukan analisis jabatan (menetapkan karakteristik pekerjaan masing masing SDM) Merencanakan kebutuhan tenaga kerja dan merekrut calon pekerja Menyeleksi calon pekerja Memberikan pengenalan dan penempatan pada karyawan baru Menetapkan upah, gaji dan cara memberikan kompensasi Memberikan insentif dan kesejahteraan Melakukan evaluasi kinerja Mengkomunikasikan, memberikan penyuluhan dan menegakan disiplin kerja

126
Memberikan pendidikan, pelatihan dan pengembangan Membangun komitmen kerja Memberikan keselamatan kerja Memberikan jaminan kesehatan Menyelesaikan perselisihan perburuhan Menyelesaikan perselisihan dan relationship karyawan.

MSDM sebagai suatu system dengan ruang lingkup yang bersifat internal dan eksternal. Yang bersifat internal adalah berkaitan dengan menjalankan fungsi-fungsi MSDM, sedangkan yang bersifat eksternal adalah faktor-faktor yang berada diluar jangkauan kemampuan pengendalian manajemen, dimana sebagian merupakan ancaman dan sekaligus tantangan untuk dicarikan solusi penyelesaiannya.

pemilik Karyawan

Manajemen

HRM Pemerintah Konsumen

Gambar 13.1. Berbagai pihak yang berkepentingan dengan MSDM (Sumber: Rifai, 2003)

Tantangan eksternal bersumber dari: teknologi, ekonomi, sosio cultural, politik dan internasional. Sedangkan tantangan internal karena adanya SDM yang mengejar pertimbangan atau trade off adalah: financial, penjualan, keuangan, service, produksi dll. Selain itu, dihadapkan pula pada serikat pekerja, system informasi yang semakin terbuka dan budaya organisasi. Dalam menghadapi berbagai tantangan seperti yang disebutkan diatas, maka perlu dibuatkan suatu strategi pendekatan manajemen sumber daya manusia. Sudut pandang ini memberikan tema-tema pelengkap yang membantu manajer dan operasional SDM dalam mempertahankan fungsi SDM dan aktivitasnya tetap pada sudut pandang yang benar, meliputi (Rifai, 2003):

127
1. 2. 3. 4. 5. Pendekatan strategis, manajemen sumber daya manusia harus memberikan andil atas keberhasilan strategis perusahaan. Pendekatan SDM, manajemen SDM merupakan manajemen manusia, pentingnya dan martabat manusia tidak boleh diabaikan. Pendekatan manajemen, manajemen SDM merupakan tanggung jawab setiap manajer. Departemen SDM ada dalam rangka melayani manajer dan karyawan melalui keahliannya. Pendekatan system, pendekatan SDM berlangsung didalam system yang lebih besar: yakni perusahaan. Oleh karenanya, upaya SDM harus mengevaluasi andil karyawan yang diberikan terhadap produktivitas perusahaan. Pendekatan proaktif, manejemen SDM bisa meningkatkan andilnya atas karyawan dan organisasi dengan mengantisipasi berbagai masalah sebelum kemunculannya.

Pada hakekatnya manajemen sumber daya manusia sangat berbeda dengan sumber daya alam, dimana manajemen SDM sangat ditentukan oleh sifat SDM itu sendiri, yang selalu berkembang (dinamis) baik jumlah maupun mutunya.

128

Halaman ini sengaja dikosongkan................................

129

BAB 14 Human Resources Productivity


Produktivitas tenaga kerja (human resources productivity) sangat besar peranannya dalam proses perkembangan suatu industri. Tenaga kerja sebagai faktor penting dalam proses operasi industri harus dapat dimanfaatkan secara optimal, agar dapat mencapai tujuan perusahaan. Usaha untuk mencapai tujuan ini dapat dilakukan dengan peningkatan produktivitas kerja, salah satunya dengan peningkatan produktivitas tenaga kerja. Produktivitas tenaga kerja merupakan suatu ukuran effisiensi pemanfaatan tenaga kerja dalam menghasilkan sejumlah output pada waktu tertentu. Ananta (1990) mengemukakan bahwa produktivitas tenaga kerja adalah pencerminan dari mutu tenaga kerja jika hal hal lain dianggap sama. Tinggi rendahnya produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh pemanfaatan kapasitas dari berbagai sektor. Produktivitas tenaga kerja rendah karena pemanfaatan kapasitas produksi rendah (Basri, 1996). Secara umum, produktivitas tenaga kerja pada industri manufaktur dipengaruhi oleh beberapa faktor : 1. Unsur tenaga kerja, termasuk didalamnya metode kerja, kesehatan, tingkat pendidikan, kebiasaan, dan pemahaman terhadap pelaksanaan kegiatan usaha, kompensasi kerja (upah/ gaji). 2. Komoditas yang diolah termasuk sumber daya alam (lahan dsb), teknik pelaksanaannya termasuk tingkat kejenuhan kapasitas produksi terutama pada sektor non pertanian. 3. Peralatan atau fasilitas penunjang tenaga kerja, termasuk faktor lingkungan kerjanya. Untuk dapat memperoleh informasi yang akurat tentang posisi produktivitas tenaga kerja, maka diperlukan suatu aktivitas pengukuran produktivitas tenaga kerja. Sinungan (2005) menyebutkan, bahwa untuk mengukur produktivitas tenaga kerja digunakan metode pengukuran waktu tenaga kerja. Pengeluaran diubah kedalam unit unit pekerja, yang biasanya diartikan sebagai jumlah kerja yang dapat dilakukan dalam satu jam oleh pekerja menurut pelaksanaan standart. Pengukuran produktivitas tenaga kerja dapat dilakukan dengan persamaan (Sritomo, 1995).

Produktivitas TK = total output yang dihasilkan/ jumlah buruh yang digunakan

(14.1)

Disini produktivitas dari tenaga kerja menunjukkan rasio dari jumlah keluaran yang dihasilkan per total tenaga kerja yang dipekerjakan. Masukan (input) dapat diukur dalam satuan jam manusia (man hours), yaitu jam kerja yang dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Tenaga kerja yang dipekerjakan dapat terdiri dari tenaga kerja langsung ataupun tidak langsung, akan tetapi biasanya meliputi keduanya. Untuk produk-produk tertentu rasio ini dapat dinyatakan dalam jumlah produk yang dibuat per jam kerja yang digunakan untuk itu. Selanjutnya bisa dinyatakan bahwa seseorang telah bekerja produktif jika ia telah menunjukkan output kerja yang paling tidak telah mencapai suatu ketentuan minimal. Ketentuan ini didasarkan atas besarnya keluaran yang dihasilkan secara normal dan diselesaikkanya dalam jangka waktu yang layak. Dengan demikian, secara garis besar terdapat dua unsur yang termasuk dalam kriteria produktivitas kerja:

130
1. 2. Besar/ kecilnya keluaran yang dihasilkan Waktu kerja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan itu.

Disisi lain, tidak selamanya tingkat produktivitas karyawan tersebut selalu tinggi, meskipun telah diberikan dorongan dorongan untuk meningkatkan produktivitas kerja. Beberapa indikator turunnya tingkat produktivitas tenaga kerja, yaitu: 1. 2. 3. Karyawan tidak tahu mengerjakan tugas yang mana dahulu. Karyawan membuang kesempatan yang bagus. Karyawan sering menunda pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.

131

BAB 15 Human Resources Productivity Improvement


Human resources productivity (produktivitas tenaga kerja) tidak dapat terwujud begitu saja. Banyak usaha yang harus dilakukan untuk dapat meningkatkan/ memperbaiki produktivitas tenaga kerja dalam suatu industri. Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk memperbaiki human resources productivity adalah: 1. Pelatihan Pelatihan merupakan suatu program untuk mempersiapkan sumber daya manusia suatu perusahaan dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat. Pelatihan sebagai bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku dengan waktu yang relatif singkat. Keterampilan dapat meliputi pengertian physical skill, intellectual skill, social skill, managerial skill dll. Amin Akhavan et.al (2008) mendefinisikan pelatihan/ training sebagai proses pengembangan pekerjaan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan keahlian tenaga kerja untuk memperbaiki performance. Manager, executive dan supervisor dapat berperan dalam proses transfer pengetahuan dan keahlian dalam suatu industri (Jong Jan A de et.al, 1999). Terdapat dua metode training yang dapat digunakan, yaitu: on-the job training dan off the job training (Smith, 2002). On the job training merupakan suatu metode pelatihan dengan cara para pekerja atau calon pekerja ditempatkan pada kondisi pekerjaan yang riil, dibawah bimbingan dan supervisi dari pegawai yang telah berpengalaman.Salah satu pendekatan yang dilakukan pada on the job training adalah Job instruction training (JIT), dimana instruktur pertama kali memberi pelatihan kepada supervisor dan selanjutnya supervisor kepada karyawan. Sedangkan off the job training dilakukan dengan metode perkuliahan, film dan simulasi. Agar pelatihan dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhannya, maka beberapa hal yang harus dilakukan perusahaan adalah (Mathis and Jackson,2003).

Assesment
Analysistrainingneeds Indentifytrainingobjective andcriteria

Design Pretesttrainess Selecttraining methods l Evaluation Measuretrainingoutcomes Compareoutcomestoobjectives/ criteria

Delivery Scheduletraining Conducttraining Monitortraining

Gambar 15.1. Proses training

132
2. Motivasi Motivasi merupakan suatu dorongan yang menyebabkan seorang karyawan dapat bekerja dengan baik sehingga tujuan perusahaan dapat dicapai. Veithzal (2003) mendefinisikan motivasi sebagai serangkaian sikap dan nilai nilai yang mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai dengan tujuannya. Dalam Koesmono (2006) Herpen et.al menyebutkan bahwa motivasi seseorang terdiri dari motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Menurut Rifai (2003) sumber motivasi ada tiga, yaitu: kemungkinan untuk berkembang, jenis pekerjaan dan apakah mereka dapat merasa bangga menjadi bagian dari tempat mereka bekerja. Disamping itu terdapat beberapa aspek yang berpengaruh terhadap motivasi karyawan, yakni: rasa aman dalam bekerja, mendapatkan gaji yang adil dan kompetitif, lingkungan kerja yang menyenangkan, penghargaan atas prestasi kerja dan perlakuan yang adil dari manajemen. Dalam suatu industri manufaktur, motivasi memiliki peran penting selain pendidikan dan besarnya upah yang diterima karyawan (Akhavan et.al, 2008)

Gambar 15.2. Kontribusi motivasi dalam industri (Sumber: Amin Akhavan et.al, 2008)

3.

Gaji Gaji merupakan balas jasa dalam bentuk uang yang dierima karyawan sebagai konsekuensi dari statusnya yang memberikan kontribusi dalam mencapai tujuan perusahaan. Veithzal (2003) menyebutkan bahwa tujuan diberikannya gaji antara lain: sebagai ikatan kerja sama, memberikan kepuasan kerja, penggadaan

133
yang effektif, sebagai motivasi karyawan, stabilitas karyawan, disiplin. Sedangkan beberapa factor yang menentukan besarnya gaji adalah: a) b) c) d) e) Tingkat gaji yang lazim, tergantung pada ketersediaan (supply) tenaga kerja di pasar tenaga kerja dan permintaan tenaga kerja. Serikat buruh, ini menjadi kekuatan yang sangat besar dalam perusahaan, sehingga dapat memaksa perusahaan untuk memberi upah atau gaji yang lebih besar dari pada hasil evaluasi jabatan. Pemerintah, dapat menentukan tarif upah minimum, jam kerja standart, dan tunjangan yang harus dipatuhi oleh pengusaha. Faktor internasional, ini dilakukan untuk merangsang seseorang agar bersedia ditempatkan dinegara yang tidak diminati. Biaya dan produktivitas, tenaga kerja merupakan salah satu komponen biaya yang sangat berpengaruh terhadap harga pokok barang. Tingginya harga pokok akan menurunkan penjualan dan keuntungan perusahaan, sehingga mengakibatkan perusahaan tidak mampu membayar pekerja.

134

Halaman ini sengaja dikosongkan............................................................

135

BAB 16 Analisis Human Resources Productivity Pada Industri Manufactur (Studi Kasus)
16.1. PTPN III
PT Perkebunan Nusantara III atau PTPN III (Persero) merupakan salah satu dari 14 Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan merupakan industri manufaktur yang produk utamanya adalah Minyak sawit (CPO) inti sawit (kernel) Karet - Lateks, Crumb Rubber dan Rubber Smoke Sheet Industri Hilir Karet - Rubber Threads, Rubber Dockfender, Rubber Article, Rubber Cowmat, Conveyor Belt, Rubber Karlet dan Resin

Perusahaan ini tumbuh sebagai perusahaan besar dengan dukungan pengelolaan manajemen yang professional. Salah satu yang dilakukan adalah mengelola karyawannya. PTPN III menyadari bahwa karyawan sebagai human capital yang mempengaruhi hidup atau matinya suatu perusahaan sehingga diperlukan suatu proses human resources productivity improvement untuk membangun kapabilitas atau kecakapan karyawan agar mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat di masa yang akan datang. Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, PTPN III menerapkan beberapa strategi, yaitu: operational excellent, customer relationship management, dan khusus bidang penggelolaan karyawan PTPN III menerapkan Competency based human resources management (CBHRM), yang artinya semua aktivitas manajemen SDM berorientasi pada pengembangan dan pemanfaatan kompetensi karyawan. Penerapan CBHRM merupakan tuntutan karena adanya perubahan lingkungan dan atmosfer yang cepat dan harus segera direspon oleh perusahaan, maka untuk menghadapinya organisasi perusahaan harus mampu menyiapkan SDM yang memiliki kompetensi dibidangnya dan berwawasan global dengan pengembangannya secara seimbang antara dimensi mental, sosial spiritual dan dimensi fisik sehingga mampu menciptakan kekuatan sinergis. Competency based pada pengelolaan karyawan ini dipandang penting untuk merubah budaya kerja yang sangat tidak kondusif. Model CBHRM ini dibentuk secara botton up agar kesadaran muncul dari karyawan, tidak ada paksaan dari pihak perusahaan. Human resources productivity improvement dengan konsep competency based seperti yang diterapkan pada PTPN III ini, dilakukan dengan memberikan pelatihan dan motivasi pada karyawannya. Perusahaan ini telah membentuk divisi pelatihan karyawan dan melengkapi sarana prasarana yang diperlukan untuk melatih karyawannya, antara lain: lab computer, lab bahasa, gedung pusdiklat dll. Selain itu, PTPN III secara regular atau intensif menghadirkan in house training, ataupun pelatih dari luar perusahaan. Untuk peningkatan jabatan, PTPN III menyediakan sejumlah kursus bagi karyawannya, antara lain: kursus jabatan untuk orang lapangan, asisten kabag, kabag sampai manajer distrik. Beberapa bentuk pelatihan dan dampaknya bagi perusahaan seperti dalam tabel 16.1.

136
Selain pengembangan karyawan dengan pelatihan, PTPN III memberikan motivasi kerja bagi karyawannya dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah gaji dan fasilitas kerja yang lebih baik jika dibanding dengan 14 PTPN lain di Indonesia. Ini bertujuan untuk memotivasi dan mempertahankan karyawan serta meningkatkan produktivitas kerja karyawan PTPN III. Sebagai gambaran, tahun 2004 untuk memacu produktivitas, terjadi kenaikan gaji karyawan sebesar 48%, dan tahun tahun berikutnya dinaikkan sebesar 10-12% tiap tahun. Motivasi secara financial diberikan PTPN III melalui bonus tahunan yang besarnya mencapai lima kali gaji. Selain itu, karyawan juga mendapatkan fasilitas rumah dinas, santunan hari tua dan tunjangan kesehatan. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan oleh PTPN III, terlihat bahwa kenaikan gaji mampu meningkatkan produktivitas kerja karyawan PTPN III (Rahmat, 2008). Tabel 16.1 Program pelatihan dan pengembangan karyawan PTPN III (Sumber: SWA, Februari 2008) Manfaat Dampak pada perusahaan Mengoptimalkan kinerka karyawan berdasarkan pertimbangan potensi, kompetensi, dan kesesuaian jabatan, meningkatkan kualitas karyawan, dan memunculkan pengetahuan baru. Memberikan semangat berkompetensi diantara karyawan dalam rangka peningkatan kompetensi individu yang didukung upaya penyempurnaan remunerasi bagi karyawan yang berprestasi Meningkatkan kompetensi karyawan secara berkelanjutan dengan pelaksanaan competency level index yang termonitor dan terintegrasi dalam sistem assessment centre PTPN III Menghasilkan pemerataan pengetahuan karyawan dan memunculkan pengetahuan pengetahuan baru, disertai inovasi baru, diantaranya sertifikasi untuk pelatihan in house: Forum ekselen BUMN, OHSAS, SMM ISO 9000, dan beberapa konsultan eksternal. Meningkatkan kualitas kompetensi dan pengetahuan karyawan yang lebih spesifik, berdasarkan aspirasi karyawan di seluruh unit kerja melalui teknik focus group discussion

Konsep human resources productivity improvement Competency based assessment centre

Competency performance management

based

Integrated competency based human resources management In house training yang bersertifikasi

Mampu meningkatkan revenue perusahaan secara berkelanjutan, dengan tingkat pertumbuhan rata rata per tahun 16,44%, sedangkan pertumbuhan rata rata expenses (biaya usaha keseluruhan) per tahun 8,2% pada 2002 s/d 2006.

Competency based training need analysis

137

16.2. PT HM.SAMPOERNA
HM Sampoerna adalah salah satu perusahaan rokok terkemuka di Indonesia. HM Sampoerna merupakan produsen sejumlah merek rokok kretek ternama seperti Sampoerna Hijau, Sampoerna A Mild, dan Dji Sam Soe. Sejak akuisisi perusahaan oleh Philip Morris International pada tanggal 18 Mei 2005, perusahaan ini telah menjadi bagian dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia. Kini HM Sampoerna juga mendistribusikan merek Marlboro di Indonesia, yang merupakan merek rokok terlaris di dunia. Pada tahun 2007, HM Sampoerna memiliki pangsa pasar sebesar 28,0 % di pasar rokok Indonesia, berdasarkan hasil Audit Ritel AC Nielsen. HM Sampoerna memiliki lebih dari 30.000 karyawan di Indonesia. Kesuksesan PT HM Sampoerna ini merupakan hasil kerja keras seluruh karyawan, yang telah bekerja dengan seluruh potensi yang dimiliki. Kesuksesan ini berawal dari kesuksesan merekrut karyawan, melatih dan mengembangkannya. Bagi PT HM Sampoerna, karyawan merupakan aset yang sangat berharga, sehingga untuk meningkatkan human productivity karyawannya, PT HM Sampoerna berkomitmen untuk memberikan perencanaan dan pengembangan karir yang jelas dengan memberikan sarana prasarana pelatihan yang memadai. Komitmen PT HM Sampoerna untuk meningkatkan human productivity, terlihat melalui berbagai motivasi yang diberikan dalam bentuk financial dan non financial. Secara financial, motivasi diberikan melalui pemberian gaji dan insentif lainnya yang kompetitif, sesuai pergerakan pasar. Dari aspek non financial, motivasi diberikan dalam bentuk adanya area pengembangan diri karyawan melalui pemberian kesempatan untuk melaju dalam organisasi dan menciptakan suasana nyaman untuk bekerja. Selain itu, perusahaan ini juga menciptakan konsep work life balance, yaitu: suatu prinsip bahwa kehidupan keluarga sama pentingnya dengan pelaksanaan tanggung jawab perusahaan. Dalam rangka melakukan human resources productivity improvement HM Sampoerna menerapkan konsep Advancement Planning dan Succession Planning, yaitu sebuah konsep bagi para karyawan berpotensi untuk menduduki posisi puncak tanpa harus merekrut dari luar perusahaan. Dengan konsep ini tanggung jawab untuk pengembangan karir dan suksesi bukan hanya tanggungjawab karyawan, melainkan juga tanggungjawab organisasi. Beberapa konsep yang digunakan PT HM sampoerna untuk meningkatkan human productivity atau sebagai alat dalam melakukan human resources productivity improvement bagi karyawannya . Tabel 16.2. Program pelatihan & pengembangan karyawan PT HM Sampoerna Sumber: SWA, Februari 2008 Konsep human resources productivity improvement Dampak bagi perusahaan Aplikasi SDM secara online: People soft human capital management, people soft medical and benefit system, people soft training management system, people soft bonus and Memimpin pasar rokok Indonesia dengan annual increment system, people soft customer issue tracking menguasai pangsa pasar lebih dari 28% pada system, global organization chart application, global 2007. phonebook system. Prolnt payroll system, time attendance system Managing & appraising performance dan advancement planning

138

16.3. Unit Bisnis Intech Metalworks (IbIKK Adibuana)


Program Studi Teknik Industri memiliki program Ipteks Berbasis Inovasi dan Kreativitas kampus yang telah dilaksanakan sejak bulan April tahun 2010. Adapun pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh tim IbIKK Universitas PGRI Adibuana Surabaya ini adalah lingkup pengerjaan proyek manufaktur dengan produk utama berbasis logam. Judul proposal IbIKK yang kami ajukan adalah IbIKK Produk Mebel Ramah Lingkungan yang Diproduksi Oleh Lab. Sistem Manufaktur Teknik Industri UNIPA SURABAYA.

Gambar 16.1. Bengkel IbIKK Adibuana Seiring waktu ternyata produk mebel yang diproduksi kurang mendapatkan respon dari masyarakat karena harganya kurang bisa bersaing dengan produk lokal lainnya, bahkan ada komplain dari produsen mebel yang menyatakan desain milik mereka mirip dengan desain tim IbIKK, dan posisi tim IbIKK lemah sebab belum memiliki HaKi desain. Untuk itu, tim IbIKK melakukan konsultasi dengan pihak reviewer IbIKK yaitu Bapak Sundani, untuk melakukan produksi pekerjaan lain. Dan seluruh tim pun melaksanakannya. Ada beberapa pesanan barang yang diluar proposal yang kami kerjakan justru lebih cepat berkembangnya dan lebih cepat diterima masyarakat karena sifatnya customize by order. Adapun luaran tahun pertama program IbIKK ini adalah produk manufaktur logam elemen eksterior dan interior termasuk mebel, produk jasa berupa pemesanan rancangan animasi dan 3 dimensi, produk pulley flying fox. Untuk kegiatannya kami menuliskan kedalam buku ajar yang ber ISBN 978-979-8559-18-1. Berdasarkan pengalaman di tahun pertama kegiatan IbIKK ini, jika akan memproduksi masal harus memiliki pegangan paten produk atau HaKi produk, maka untuk tahun kedua tim IbIKK akan memproduksi reaktor dengan judul paten sebagai berikut: Judul Paten:Metode Pengolahan Air Umpan Boiler Secara Eksternal. Seperti layaknya wirausaha baru, kegiatan IbIKK di tahun pertama tidak selancar yang diperkirakan. Meski Tim INTECH telah berusaha untuk melakukan analsis usaha yang matang. Namun ternyata banyak sekali kendala-kendala yang mengikuti di tahun pertama. Terutama kendala karena tim kami belum memiliki patent atau HaKi pada produk yang diproduksi. Dan benar hal ini menimbulkan komplain dari industri lain. Tapi tim IbIKK Univertas PGRI Adibuana

139
Surabaya, tidak patah semangat, dan kami terus memutar roda usaha. Pada empat bulan pertama usaha IbIKK ini sangat tinggi overhead-nya yang menyebabkan harga tidak mampu bersaing. Pada bulan ke-5 tim kami mulai menata manajemen dan menata ulang proses produksi dan penjadwalan kerja, dan hasilnya mulai nampak ada profit di bulan ke-5. Dukungan dari pihak lembaga sangat besar karena kegiatan IbIKK ini sangat sesuai dengan visi Universitas yaitu Menghasilkan kader bangsa berperilaku keilmuan, profesional berjiwa entrepreuner berbasis riset . Hal ini tercermin dari ketersediaan dana pendamping dan dukungan kelembagaan serta proses badan hukum IbIKK yang sedang dalam proses pendirian sepenuhnya didukung oleh lembaga. Selain itu lembaga juga mempercayakan memesan beberapa item produk yang digunakan oleh UNIPA Surabaya. Berdasarkan pengalaman di tahun pertama, dimana unit IbIKK belum memiliki hak patent atas produk yang dihasilkan, maka untuk tahun kedua unit IbIKK akan memproduksi produk yang telah memiliki hak patent atas nama inventor ketua pengusul IbIKK.

140

Halaman ini sengaja dikosongkan............................

141
BAGIAN KEEMPAT SUMBER DAYA MATERIAL DAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS INDUSTRI MANUFAKTUR Tujuan Instruksional Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami pentingnya perhatian terhadap lingkungan terutama pada Industri Manufaktur Mahasiswa mampu memahami meningkatnya perhatian konsumen internasional terhadap kepedulian lingkungan pada setiap produk hasil industri manufaktur yang berpengaruh pada regulasi-regulasi standar produk yang berwawasan lingkungan Mahasiswa mampu memahami beberapa ketentuan green produktivity sebagai issue global terbaru yang harus dimiliki oleh industri manufaktur Mahasiswa mampu memahami kerusakan-kerusakan lingkungan akibat dari produk yang tidak memperhatikan lingkungan

142

Halaman ini sengaja dikosongkan...............................

143

BAB 17 Manufacturing Productivity


17.1 Sekilas Tentang Manufacturing Productivity
Peningkatan produktivitas pabrikasi / manufacturing productivity dapat terjadi dalam sejumlah cara. Proses pabrikasi sendiri dapat diefektifkan dalam rangka memaksimalkan waktu kerja karyawan dan mengurangi pemakaian persediaan material. Cara yang lain untuk meningkatkan manufacturing productivity adalah dengan melibatkan penggunaan perangkat lunak berupa program untuk mengefektifkan komunikasi antar departemen berbeda. Jika seseorang menggambarkan produktivitas meliputi tingkat profitabilitas, kemudian perangkat lunak program dapat menawarkan lebih banyak bantuan lagi untuk meningkatkan produktifitas, maka penetapan biaya perangkat lunak akan memudahkan perusahaan manufaktur untuk dengan tepat menjejaki margin keuntungan dalam rangka mencapai keuangan. Perangkat lunak semacam ini juga mempertimbangkan analisa tidak hanya biayabiaya utama tetapi juga biaya umum. Data yang di dapat menggunakan perangkat lunak kemudian akan melengkapi dan menentukan penetapan biaya proyek/produksi kemudian bisa digunakan untuk meneliti tatacara di mana suatu perusahaan manufaktur beroperasi secara keseluruhan. Manufacturing productivity selain dapat diterapkan di industri manufaktur, juga dapat diterapkan di bidang lainnya, salah satunya adalah bidang pemerintahan untuk menentukan produktifitas pemerintah dalam suatu kota, propinsi maupun sebuah negara. Sebagai contohnya adalah pertumbuhan produktivitas Pemerintah pusat dari U.S. sektor manufactur. Pada masa lampau sekitar 15 tahun lalu, produktifitas pemerintah dapat diukur secara luas melalui tingkat pertumbuhan outsourcing dan pergeseran ke produksi barang-barang di lepas pantai, menurut suatu studi dari Upjohn. Pendapat yang bertahan selama 15 tahun ini dibantah oleh Susan Houseman di dalam suatu studi berjudul "Outsourcing, Offshoring dan Produktivitas Pengukuran di pemerintahan U.S." Menurutnya, manufacturing productivity tidak meliputi hanya outsourcing dan offshoring saja. Pertumbuhan produktivitas menjadi basis untuk peningkatan standard hidup pekerja, sekalipun begitu, peningkatan tersebut tercermin di dalam gaji pekerja Amerika yang belum menemui pertumbuhan cepat. Pertumbuhan outsourcing dan offshoring di negara-negara industrialisasi membuat sulit pemerintah untuk mengukur perubahan dalam arus masukan input ke dalam proses produksi dan karena hal inilah penyebab sulitnya mengukur pertumbuhan produktivitas. Sebagai tambahan, pertumbuhan outsourcing dan offshoring merupakan kenaikan isu konseptual tentang apa yang produktivitas lakukan dengan implikasi untuk menafsirkan dan manfaat dari keuntungan peningkatan produktivitas dalam manufacturing productivity.

144

17.2. Hubungan Antara Manufacturing Productivity Dan Main Factors of Product In Industry
Manufacturing productivity terdiri atas beberapa sub bagian seperti material, kapital, teknologi, labor, quality, energi, dan other expense. Secara umum sub bagian ini dapat dikatakan parsial produktifitas yang mempengaruhi nilai total produktifitas dan berdampak pada nilai manufacturing productivity. Menurut Yosuhiro Monden seperti tampak pada gambar 1, faktor utama dari produk yang kompetitive dalam suatu produk industri dapat dijabarkan secara rinci faktor-faktor parsial yang mempengaruhinya, hal ini dilakukan sebagai suatu cara untuk meningkatkan manufacturing productivity melalui pengaturan biaya produksi dan pengendalian prduktifitas parsial. Untuk memperoleh keuntungan, jika dilihat dari sisi material, maka perlu diatur nilai cost yang dikeluarkan akibat material cost. Pengendalian material cost dapat dilakukan dengan sejumlah cara. Hal ini dilakukan untuk mengurangi biaya produksi yang mempengaruhi kepada nilai price pada penjualan produk.

Gambar 17.1 Main factor of product competitives (Sumber : Yosuhiro Monden)

145

Gambar 17.2 Field management of Toyota (Sumber : Yosuhiro Monden, -) Gambar 2 menjelaskan tentang bagaimana secara umum produktifitas dapat di lihat pada kasus management di Toyota. Dengan mengurangi waste diharapkan dapat mampu meningkatkan nilai produktifitas, sehingga nilai manufacturing productivity juga akan meningkat. Gambar tersebut juga menjelaskan bagaimana posisi waste terhadap workers, dan operations pada suatu industri manufaktur.

17.3. Keterkaitan Material Productivity Dan Proses Produksi Dalam Meningkatkan Total Productivity Management (Tpmgt)
Agar lebih mudah memahami mengenai kaitan antara material productivity dan proses produksi dan total produktivity management dalam suatu perusahaan, berikut ini merupakan contoh aplikasi peningkatan produktifitas pada suatu perusahaan industri elektronik di India. Perusahaan tersebut membuat 3 produk dasar di bidang elektronik, yaitu :

146
1. Elektronics equipment, terdiri atas komponen : digital communication equipment naval equipment finance equipment space electronics digital micrawave systems 2. Electron tubes, terdiri atas komponen : broadcasting and TV equipment 3. Semiconductors, berupa : PC Boards Adapun langkah-langkah dalam meningkatkan produktifitas adalah: STEP 1: Mission Statement Perusahaan ingin melakukan pengembangan produk melalui Total productivity management. STEP 2: TPM-Total Productivity Manufacture Analysis: Analisis dilakukan menggunakan data fisik perusahaan selama 5 tahun (1983 1988), pihak manager mengembangkan total produktifitas dan parsial produktifitas untuk diterapkan pada perusahaan dalam menjalankan TPmgt untuk meningkatkan manufacturing productivity. STEP 3: Management Goals: - Improve total productivity 15% setahun selama 5 tahun dari 1,075 saat ini hingga 2,16 (1993-94). - Improve profit before tax dari 7,8% menjadi 20% tahun mulai 1990-1994 - Reduce inventory level dari 10 bulan turnover menjadi 4 bulan turnover inventory. (material productivity). Dari hasil analisis, terlihat pada gambar 17.3. yang menjelaskan kaitan parsial produktifitas index dari masingmasing produktifitas yang diukur (human, material, capital, working capital dan index produktifitas). Parsial produktifitas terutama material dinilai sangat mempengaruhi nilai total produktifitas, total produktifitas sendiri dapat mempengaruhi manufacturing productivity. Posisi material dipengaruhi oleh long cycle time, standardlization, cd, dan vendors. Sesuai dengan tujuan pengukuran prdoktifitas pada STEP 3, untuk meningkatkan produktifitas 15 % perusahaan perlu melakukan control material dengan reduce inventory level dari 10 bulan turnover menjadi 4 bulan turnover inventory. (material productivity), sehingga manufacturing productifity dapat tercapai dengan baik

147

Gambar 17.3 menjelaskan tentang fishbone anlysis

. Benefits & Summary dari kasus ini adalah: TPMgt memandang manajemen dari semua sumber daya nya termasuk di dalamnya adalah material dengan penelitian cermat dan penekanan sama. Perusahaan juga mampu menilai proses produksinya termasuk di dalamnya kontrol akan penggunaan material dalam proses produksi dan teknologi untuk mengatur strategi ke depan. Kasus ini menunjukkan TPmgt dapat diterapkan pada industri elektronik yang menghasilkan variasi produk.

148

Halaman ini sengaja dikosongkan......................

149

BAB 18 Pembagian Umum Material Productivity


Berdasarkan data dan literatur yang diperoleh, pembagian umum material productivity secara umum dapat dibagi menjadi beberapa bagian pembahasan. Yaitu: 1. Material cycling (Bailey R et al, 2008) 2. Material development (Chandrasekaran H, 1988) 3. Controlling of material requirement (Khare M.K et al, 1989) 4. Cutting and Inventory Control Material (Cui, Y. Gu, T. and Hu, We. 2009)) 5. Material Flow Analysis (Synthesis Report)

18.1

Material Cycling

Implikasi lingkungan yang negatif dari ekonomi industri modern sudah mulai diantisipasi melalui suatu perkembangan akan peran serta aliran material di sistem industri. Beberapa metode indikasi yang menandai aliran material telah dikembangkan. Indikasi arus aliran material berada pada sistem industri, bagaimanapun juga tidak secara efektif dapat digunakan mengukur kedua aliran sistem material langsung atau pun tidak langsung aliran material. Pendekatan physical flowmodeling dari pendekatan ilmu ekologi, melalui analisis aliran inputoutput coba untuk digunakan di dalam studi ini untuk mengembangkan indikasi aliran material dari sistem industri. Dari perbandingan ini, Aliran perputaran inputoutput ditunjukkan untuk mengukur perputaran aliran material secara langsung atau pun tidak langsung secara kompleks. Dalam ilmu tradisional biasa metode yang digunakan adalah aliran material langsung. Dampak akan timbulnya isu lingkungan di sistem industri telah mempengaruhi keberadaan akan sistem fisik (energi dan material) arus dari sistem industri. Arus energi dan material dipandang tidak hanya sebagai hal yang mempengaruhi nilai peningkatan keuntungan saja tetapi juga dianggap menjadi pokok penyebab permasalahan lingkungan. Dalam penelitian ini, pendekatan model perputaran dari ilmu ekologi yang didasarkan pada analisa inputoutput dicoba untuk digunakan dalam mengembangkan perputaran aliran material di dalam sistem industri. Teknik ini yang pertama diberlakukan bagi aliran energi dan material alami pada ekosistem di awal pertengahan 1970an (Hannon, 1973). Ahli ilmu lingkungan hidup mengembangkan suatu satuan kemampuan untuk inputoutput analisa berdasar pada pertanyaan relevan ke ekosistem. Dalam penelitian ini mencoba memperluas inputoutput ilmu tentang ukuran ekologis dan analisa lingkungan yang dihubungkan ke sistem arus material industri (Bailey, 2000; Bailey et.al., 2004). Basis untuk perluasan ini adalah bahwa struktur fisik sistem industri dan alami adalah sumber daya, dan Konservasi Pendauran ulang yang digambarkan oleh arus energi dan material konservatif. Secara ringkas, penelitian ini merumuskan suatu model matematis sistem perputaran daur ulang yang akan dicobakan di perputaran arus material di industri. Adapun rumus matematis tersebut adalah:

150

recycled content/isi didaur ulang dapat digunakan oleh perusahaan auto industri dan perusahaan daur ulang kertas untuk menandai adanya persentasi produksi baru yang terdiri atas material didaur ulang.

recoveryrate

Recovery rate dipengaruhi oleh material recovery setelah pemakaian dibagi dengan total pemakaian material.

Gambar 18.1 Aliran produk nickel di USA, 1997

Gambar 18.1, menunjukkan aliran daur ulang secara umum. Pada gambar ini terlihat perputaran arus material sisa dan yang dapat digunakan. Material sisa dapat di alirkan kembali di lantai produksi yang dapat dianggap sebagai suatu sistem ekologi.

151

Gambar 18.2 Aliran bahan scrap di Eropa

Suatu unsur umum dunia nyata material arus sistem adalah bahwa mereka melibatkan import/masukan dan barang ekspor. Pertimbangkanlah, sebagai contoh, arus nikel pada gambar 18.1 Suatu analisis bisa memilih untuk model nikel mengalir dengan beberapa jalan berbeda tergantung pada tujuan mereka. Jika mereka menginginkan untuk mengukur perputaran nikel di keseluruhan sistem, kemudian batas dari model ini meliputi semua aliran perputaran nikel di dunia bahwa tidak ada outflow atau inflow yang menyeberang batas sistem. Kompleksitas sistem arus material yang lain adalah material itu sendiri dapat dilibatkan di dalam mendaur ulang dan remanufacturing. Suatu contoh ini adalah ban sisa, dimana kedua-duanya dapat dilakukan re-treading dan mendaur ulang material (Gambar 18.2). Aliran tersebut menunjukkan bahwa pengukuran material yang tradisional tidak mengukur dampak dari aliran arus tidak langsung pada material. Ilmu tentang aliran perputaran dari analisa inputoutput dari ilmu ekologi dapat diterapkan dalam aliran material di industri. Pada riset berikutnya, analisa aliran inputoutput dan ilmu tentang arus perputaran akan digunakan untuk menyelidiki persamaan dan perbedaan pokok antar sistem industri dan alami/ekologi.

152

18.2. Material Development


Material development yang akan dibahas adalah cara dari pengembangan pekerjaan dan peralatan material dalam konteks permesinan. Dari penelitian ini diusulkan tentang contoh pemanfaatan material melalui machine tool system.

Gambar 18.3 Tata peralatan dan material dalam operasi pembentukan chip dengan referensi parameter proses material

153
Dari bagan gambar 18.3 terdapat dua hal penting, pertama adalah keperluan steels termasuk steinless dan steels dapat terus berlangsung selama ada nilai ekonomis dan nilai kualitas yang dihasilkan. Kedua adalah performansi mesin dalam mengolah material memerlukan suatu perhitungan keuntungan bagi perusahaan. Sedangkan dari kajian diperoleh bahwa ada empat hal utama yang memberikan efek variabilitas dari tingkat kemampuan mesin, yaitu: 1. role of billet production 2. role of pre-matching stage 3. demand for material reliability 4. material behavior Gambar 18.4 menjelaskan tentang perbedaan kriteria permesinan dalam mengontrol produksi chip. Dari gambar tampak jelas bahwa pasif kontrol lebih menekankan adanya kontrol penerjaan material, sehingga work material harus dikontrol secara pasif untuk meningkatkan kemampuan daya mesin.

Gambar 18.4 Beberapa kriteria yang berbeda pada permesinan dan aturan kontrol chip

154

18.3 Controlling of Material Requipment


Di beberapa industri kecil manufaktur atau perdagangan perhatian perencanaan dan pengendalian inventaris tentang material dan barang-barang fisik sangat diperlukan. Bahan baku dan bagian lain yang menunggu untuk diolah dalam pembuatan suatu produk perlu dikalkulasikan penilaian keuangannya. Kebutuhan perencanaan material (MRP) merencanakan dan mengendalikan production-inventory yang bertingkat memproduksi sistem dengan menggunakan suatu bantuan beberapa komputer, tetapi dengan bantuan microprosesor yang lebih canggih sangat membantu dalam melaksanakannya.

Gambar 18.5 Struktur Material Requirement Planning

155
Di perusahaan kecil tidak akan menguntungkan jika menerapkan sistem aliran material dan inventori berbasis komputer, dalam buku ini MRP yang dikembangkan untuk multiproduk production-inventory sistem dalam menyimpan dan mengevaluasi kebutuhan material, menyediakan informasi yang diperlukan untuk penempatan order, pesanan, dan pengendalian dengan bantuan suatu mikro prosesor. Dalam rangka memenuhi fungsi manajemen inventori, informasi yang diperlukan adalah: 1. Catatan permintaan mandiri atau penjualan hasil akhir atau item 2. Daftar semua material dan komponen yang diperlukan untuk dijual atau memasuki pemasangan akhir produk 3. Identifikasi material atau komponen 4. Kwantitas atau permintaan yang diperlukan dari tiap material untuk membuat item akhir 5. Kwantitas dari perolehan tiap material dan inventori ada. Secara jelas dapat dilihat pada Gambar 18.5, menunjukkan proses MRP secara umum dalam kaitannya dengan fungsi manajemen inventori.

Gambar 18.6 Level assignmnet, S- Square Table,R, round table, T, table top assembly for square and round tables respectively;L-leg assembly;al-aluminium strips;Ps-plastic strip; Smt-sunmica top; Pt-plywood top; W-wooden screw; Fc-fixing cement; Sm- sunmica; Ply-plywood; lm-material tube leg; mb-metal bracket; Pa-paint; Pf-plastic foot Komputer selain membantu kebutuhan perencanaan dan pengendalian produksi material dapat juga digunakan oleh perusahaan kecil yang tidak mampu untuk memperoleh komputer mainframe tetapi digantikan oleh suatu komputer mikro atau suatu mikro prosesor. Perangkat lunak digunakan pada mikro prosesor adalah yang sungguh sederhana, dan personil yang menggunakannya dengan mudah dilatih sebab data mewakili kwantitas dari tiap item di dalam inventori atau order.

156

18.4 Cutting and Inventory Control Material


Stainless stell roll digunakan dalam memenuhi komoditi cangkir dan panci. Proses ini biasa digunakan perusahaan make to order. Stock roll biasanya dalam ukuran yang sama. Perbedaan ukuran akan mengakibatkan tidak dapat digunakan karena pesanan tidak datang terus menerus dan penempatan inventory tidak akan muat di gudang. Pendekatan yang diusulkan adalah roll original dapat dibelah ke dalam bentuk strip atau parsial untuk menghemat sisa penggunaan material. Bentuk potongan yang telah digunakan dapat dimanfaatkan pada order berikutnya. Steinless stell roll sering digunakan untuk membuat alat rumah tangga seperti panci, paku, dan lain-lain. Pabrik yang memproduksi produk seperti itu dapat mengkonsumsi beberapa ribu ton rol baja tahan-karat. Baja tahan karat lebih tak bernoda dan jauh lebih mahal dibanding baja biasa, sehingga adalah penting bagi pengusaha untuk melaksanakan cutting-and-inventory dalam kebijakan untuk meningkatkan materialutilisasi. Gambar 19.7 menunjukkan pemotongan simple yang sering dilakukan sedangkan gambar 19.8 adalah pemotongan yang akan dilakukan berdasarkan penelitian yang dijalankan. Gambar 19.9 menjelaskan tentang nilai geometris dari pemotongan yang akan dilakukan. Hasil penelitian ini adalah menghemat waktu, biaya dan material dengan melakukan pemotongan material yang tepat sehingga apabila ada order datang, material ini masih dapat digunakan kembali.

Gambar 18.7

157

Gambar 18.8

Gambar 18.9

158

18.5 Measuring Material Flow and Resources Analysis


Aliran proses material merupakan aliran material dan inputan lainnya dalam suatu sistem industri. Suatu yang baik pemahaman mendasar menyangkut material dan ekonomi diperlukan, oleh karena itu kepentingan perumusan dari nilai ekonomi, perdagangan, sumber daya alami dan kebijakan lingkungan. Tujuan Analisa Aliran Material (MFA) akan sangat berperan untuk pemahaman tersebut. Bantuan dari MFA adalah mengidentifikasi penggunaan sumber alam yang tidak efisien, bahan baku dalam proses rantai dan energi. Pada intinya, MFA meliputi dua unsur-unsur utama.

Gambar 18.10 Aliran material


Aliran material merupakan salah satu isu penting dalam material produktifitas. Dalam laporan sinthesis ini gambar 18. 10 menunjukkan proses secara umum dari aliran proses material. Gambar 18.11 memamparkan tentang aliran material terhadap hubungannya dengan lingkungan dan life-cycle.Setiap kegiatan sistem yang dilaksasnakan selalu memiliki dampak pada lingkungan di udara, air dan tanah. Dengan FMA dampak yang ditimbulkan akibat kegiatan sistem manufaktur selama proses hingga akhir kegiatan diusahakan untuk dapat dikurangi dampaknya terhadap lingkungan. Recyle merupakan proses daur ulang bagi proses, re-manufacturing dan re-use adalah usaha yang dilakukan untuk membuat aliran material jadi maupun tidak terpakai untuk dapat digunakan kembali dalam life cycle materialnya.

159

Gambar 18.11.

FMA dan commercial life cycle

Suatu sistem manufaktur yang besar di dunia otomotif terlihat bagaimana perusahaan berusaha untuk mengendalikan aliran materialnya. Aliran material dikendalikan mulai dari sisi input hingga akhir proses, dimana setiap kegiatan pengolahan material selalu menimbulkan suatu dampak bagi lingkungan berupa polusi air, udar dan tanah. Pihak perusahaan berusaha untuk mengurangi dampak ini, karena sangatlah tidak mungkin untuk menghilangkan sama sekali dampak yang ada. Segala usaha dilakukan untuk mengurangi dampak pengolahan dan aliran material melalui setiap langkah dalam kegiatan produksi dan kegiatan akhir produksi. Pentingnya peran dan pengetahuan MFA sangat berguna untuk menghemat sumber daya dan menyelamatkan lingkungan dari kerusakan akibat dari proses manufaktur. Peningkatan produktivitas pabrikasi/manufacturing productivity dapat terjadi dalam sejumlah cara. Manufacturing productivity selain dapat diterapkan di industri manufaktur, juga dapat diterapkan di bidang lainnya, salah satunya adalah bidang pemerintahan untuk menentukan produktifitas pemerintah dalam suatu kota, propensi maupun sebuah negara. Manufacturing productivity terdiri atas beberapa sub bagian seperti material, kapital, teknologi, labor, quality, energi, dan other expense. Secara umum sub bagian ini dapat dikatakan parsial produktifitas yang mempengaruhi nilai total produktifitas dan berdampak pada nilai manufacturing productivity. Hubungan material produktifitas terhadap peningkatan kualitas manajemen terbukti dapat meningkatkan nilai keuntungan perusahaan.

160
Halaman ini sengaja dikosongkan..............

161

BAB 19 Konsep Efisiensi Relatif


Istilah efisiensi berasal dari bidang teknik yang dipakai untuk menunjukkan rasio antara keluaran (output) suatu sitem terhadap masukan (input) sistem tersebut. Pengukuran-pengukuran dalam ilmu eksak tersebut selalu berpedoman pada suatu situasi ideal dimana kuantitas output dihasilkan sama persis dengan kuantitas input yang diberikan atau rasionya tepat sama dengan 1 (satu). Efisiensi dalam situasi yang ideal ini disebut efisiensi ideal (absolut) yang nilainya selalu 100%, sedangkan efisiensi pada keadaan tak ideal (normal) biasa lebih kecil dari itu. Jadi dengan merujuk pada efisiensi ideal, maka efisiensi suatu obyek kemampuannya dalam kondisi normal dibandingkan kondisi ideal. Hal diatas hanya berlaku untuk sistem yang pasti, seperti mesin, dimana kondisi ideal dapat ditentukan berdasarkan asumsi-asumsi teoritis. Namun untuk sistem yang tidak dapat ditentukan kondisi idealnya, yaitu sistem yang besar dan kompleks dimana hubungan antara variabel tidak diketahui dengan pasti atau terlalu sulit diukur, misalnya organisasi, maka cara diatas tidak dapat diterapkan lagi. Untuk mengatasi hal tersebut maka digunakan efisiensi relatif, yaitu efisiensi suatu obyek diukur relatif terhadap efisiensi obyekobyek yang sejenis. Efisiensi relatif dipakai dengan alasan karena selain adanya kesulitan dalam menetukan hubungan yang pasti antara variabel, juga karena lebih diinginkan untuk diketahui efisiensi suatu obyek dalam konteks perbandingan dengan kompetitornya, dari pada dengan efisiensi ideal yang tidak mungkin dicapai. Jadi dengan cara ini profil ideal tidak ditentukan sendiri oleh obyek yang bersangkutan, tetapi dengan merujuk kepada obyek-obyek yang menghasilkan kinerja terbaik/ frontier (berada pada garis depan).

19.1. Pengukuran efisiensi relatif


Pembahasan tentang pengukuran efisiensi relatif bermula dari sebuah konsep yang dikembangkan oleh Michael James Farrel (1962) yang menjelaskan bahwa sebuah garis batas produksi (production frontier) adalah sebuah hubungan teknologi yang menggambarkan output maksimum yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan yang efisien dari berbagai penggunaan kombinasi input berbagai periode.

162

Gambar 19.1 Grafik efisiensi Frontier dari 2 Input Starting Point

Terdapat peningkatan dalam pengukuran dan perbandingan efisiensi suatu unit organisasi yang sama. Pengukuran efisiensi sederhana (rasio efisiensi) yang sering digunakan didefinisikan sebagai berikut

Efisiensi =

Output Input

19.1

Rasio efisiensi diatas lebih banyak digunakan ketika sebuah unit atau proses memiliki satu input dan satu output. Namun, dalam kenyataannya, sebuah proses atau unit organisasi memiliki berbagai input dan output yang beragam (imcommensurate).

19.2. Data Envelopment Analysis (DEA)


Chorner, Cooper dan Rhodes (1978) memperkenalkan Data Envelopment Analysis (DEA) yang diaplikasikan untuk mengukur efisiensi institusi pendidikan. DEA merupakan teknik dengan dasar programa linier untuk mengukur performansi relatif dari unitunit organisasi dengan multi input dan multi output yang menunjukkan perbandingan antara unit unit organisasi tersebut. Menurut Chorner, Cooper dan Rhodes (CCR), setiap unit memiliki nilai input dan output yang berbeda sehingga penentuan bobotnya pun seharusnya berbeda. Setiap unit seharusnya dapat memilih bobot untuk input dan outputnya, yang

163
dapat menampilkan efisiensi terbaiknya untuk dibandingkan dengan unit yang lain. Dengan pemahaman ini, maka efisiensi dari unit jo dapat ditentukan sebagai solusi dari permasalahan berikut : Maksimalkan efisiensi unit, dengan batasan bahwa efisiensi semua unit < 1

19.3. Interpretasi Grafis Model DEA


Menurut Bowlin (1999) dengan membedakan unit yang efisien dengan unit yang tidak efisien berdasarkan posisinya terhadap fungsi produksi yang dibentuk oleh kumpulan unit yang efisien, disebut garis efisiensi (efisiensi frontier). Unit yang berada pada garis batas efisiensi memberikan ketidakefisienan relative dari unit yang berada pada garis tersebut. Gambar 21.2 menunjukkan kumpulan unit P1, P2,.,P6, yang tiap unitnya menggunakan satu sumber daya dengan jumlah yang sama untuk memproduksi sejumlah output , yaitu y1,dan y2, dengan jumlah yang berbeda. Untuk input yang sama, unit yang memproduksi output yang lebih banyak merupakan unit yang efisien. DEA mengidentifikasi unit P1, P2, P3 dan P4 efisien dan membentuk sebuah tutup (yang disebut garis batas efisien ) pada unitP5 dan P6 yang terdapat dibawah dan diidentifikasi sebagai unit yang tidak efisien. Garis batas efisien dihubungkan dengan garis sumbu oleh P1Y2, dan P4Y1 untuk menutup kumpulan data. Untuk unit P5 , peer group terdiri dari unit P1 dan P2 dan target untuk unit P5 adalah P5. target ini dicapai dengan peningkatan yang proposional ada output-output dari unit P5. tentu saja terdapat target lain yang mungkin dicapai unit P5 , misalnya jika output Y2 untuk alasan tertentu tidak dapat ditingkatkan maka target untuk unit P5 adalahP5 yang hanya meningkatkan output Y 1. untuk unit P 6, peningkatan yang proposional pada kedua output menjadikan target pada P6. Namun P6 terlihat didominasi oleh P4 , yang menghasilkan jumlah yang sama pada output Y1, namun lebih banyak pada output Y2 . dalam masalah ini, peningkatan yang proposional terhadap kedua output harus ditambah peningkatan lebih lanjut untuk output Y2 sebagai target untuk mencapai efisiensi.
Y2 P1 Y2 P5 P5 P2 P5 P3 P4 P6 P6

y1

y1

Gambar 19.2 interpretasi Grafis Kriteria Output (Y1)Lawan Kriteria Output Lain

164
Gambar 19.3 mengilustrasikan model CCR dan BCC, dimana sumbu y sebagai nilai V dan sumbu x sebagai nilai input. Unit. P1, P2, P3 , P4 dan P5 mempresentasikan performansi dari organisasi. Garis BCC yang berhubungan dengan unit P1, P2, P3 dan P4 merepresentasiklan pengembangan frontier dengan menggunakan model DEA BCC dimana unit-unit tersebut memiliki rasio output input yang efisien sebesar 1. Pada segmen P1-P2 menggambarkan penambahan return to scale dimana dalam input akan mengakibatkan penambahan output. pada segmen P2-P3 dan P3-P4 menggambarkan penambahan return to scale dimana dalam penambahan input juga berkontribusi pada pertambahan proporsional yang kecil pada output. Unit P2 merepresentasikan efisiensi frontier dari model CCR, unit tersebut menggambarkan constant return to scale dan dalam model CCR hanya unit P2 yang efisien selama unit beroperasi pada constant return to scale yaitu dimana setiap penambahan input juga berkontribusi terhadap penambahan output yang proporsional dan konstan, sehingga jika titik-titik yang lain, yang mempunyai efisiensi yang sama dihubungkan maka akan membentuk garis lurus. Perbedaan antara model CCR dan BCC dapat diilustrasikan menggunakan unit P5, bila menggunakan model BCC, maka target untuk unit P5 adalah P5BCC dengan peer group terdiri dari unit P1 dan P2 dan target ini dicapai dengan pengurangan input. Bila menggunakan model CCR maka target untuk unit P5 adalah P5 CCR dan target ini dicapai dengan pengurangan input.Gambar 21.2 dan 21.3 menunjukkan interpretasi grafis model DEA. DMU yang memilki efisiensi lebih rendah dibanding DMU yang lain akan terlingkupi (envelope). Dari kondisi ini munculah istilah peer DMU, yaitu DMU yang dijadikan acuan DMU terlingkupi untuk meningkatkan efisiensinya

input

CCR

BCC P4 P3

P2 P5CCR P5BCC P1 P5

input
Gambar 19.3 Interpertasi Grafis Kriteria Input Lawan Kriteria output

165

19.4. Model Matematis DEA


Data Envelopment Analysis (DEA) menggunakan persamaan matematis untuk melakukan evaluasi dari efisiensi relatif dari hasil yang dicapai manajemen, tanpa memandang bagaimana perencanaan maupun pelaksanaannya. Persamaan matematis dalam hal ini digunakan sebagai alat untuk pengendalian dan evaluasi dari pencapaian masa lalu untuk perencanaan masa datang. Data Envelopment Analysis (DEA) dikembangkan sebagai perluasan dari metode rasio teknik klasik untuk efisiensi. DEA menentukan untuk tiap DMU rasio maksimal dari jumlah untuk tiap DMU rasio maksimal dari jumlah output yang diberi bobot terhadap jumlah input yang diberi bobot, dengan bobot ditentukan oleh model. DEA dikembangkan sebagai perluasan dari metode rasio klasik untuk efisiensi. DEA menentukan rasio max untuk tiap DMU dari jumlah output yamg diberi bobot terhadap jumlah input yang diberi bobot, dengan bobot ditentukan oleh model. Ada dua dasar model DEA yang dikembangkan oleh para ahli : 1. Charnes, Cooper dan Rhodes (1978) menggunakan teknik multiple output dan multiple input, Constant Return to Scale (CRS) dan pengembangan CRS model. 2. Fare, Grosskopt dan Lovell (1985) memperkenalkan model Variabel Return to Scale (VRS)

Model Constant Return to Scale (CRS)


Model CRS berasumsi bahwa setiap DMU telah beroperasi pada skala optimal (Charnes, Cooper dan Rhodes, 1978).

Max hk = u r yrk
r r rj i ij r i

u y v x

0 s.t.

v x
i

i ik

=1

u r , vi (19.2)
Persamaan Dual dari model CCR adalah sebagai berikut :

Min k r + S i i r s.t. y rj j r = y rk

k xik S i xij j = 0
j

r , Si , 0

166

tidak dibatasi ....

(19.3)

Model Variable Return to Scale ( VRS )


Persamaan dual model VRs berorientasi input Minimumkan

Z k = k sr+ + si i r + St : Yrk + Yrj j sr = 0

k X ik si X ij j = 0

=1

j , sr+ , si 0 .. (19.4)
Persamaan dual model VR berorientasi output Maksimumkan

Z k = k + sr+ + si i r + St : X rk + X rj j sr = 0

kYik s Yij j = 0
i

=1
(19.5)

j , sr+ , si 0
Penetapan Target

...

DEA tidak hanya mengidentifikasi unit inefisien, tetapi juga derajat ketidakefisienannya. Analisa ini menjelaskan bagaimana unit yang inefisen agar menjadi efisien. Dalam situasi praktis sangat diperlukan penetapan target bagi unit yang relatif inefisien untuk memperbaiki produktivitas. Semua penetapan DEA menghasilkan suatu penambahan set tingkat input/ output. Tingkat target input (output) untuk mengembalikan unit menjadi relatif efisien ditentukan dengan mengurangi (meningkatkan) pada tingkat terendah (tertinggi) input (output) yang diberikan prioritas untuk diperbaiki tanpa merusak tingkat input

167
dan output yang lain. Bagian ini membahas kasus dimana suatu DMU menginginkan target yang akan memaksimasi salah satu tingkat output atau meminimasi salah satu tingkat input. Input Oriented Dalam hal ini hanya mempertimbangkan tingkat input.

X 1 = * X 10 S1 * Y1 = Y10 + S1 * ...........

(19.6)

Output Oriented Xik = Xio k - Si -* Yrk = Yrk + Sr+ * ......................................................................................... .(19.7)

Analisa Faktor
Analisa faktor banyak dipakai dalam penelitian untuk menyederhanakan hubungan-hubungan yang kompleks dan bermacam-macam antara beberapa variabel penelitian. Dengan analisa faktor, Variabelvariabel penelitian dapat dikelompokkan menjadi beberapa faktor dengan jumlah yang lebih kecil. Dasar pengelompokkan tersebut adalah korelasi antara variabel yang membentuk satu faktor.

Sampling Distribution Test


Pada proses ini peer group dari unit yang tidak efisien diperlukan metode yang dapat membantu dalam pengelompokkan dari unit-unit yang memiliki karakteristik yang sama adalah sampling distribution test. Metode yang digunakan untuk sampling distribution test ini adalah Hierarchial Cluster Analysis (HCA). Konsep dasar dari HCA adalah prose clustering dengan menggunakan hirarki didasari dengan konsep treelike structure. Konsep ini dimulai dengan menggabungkan dua obyek yang mirip kemudian gabungan dua obyek tersebut akan bergabung lagi dengan satu atau lebih obyek yang paling mirip lainnya dan demikian seterusnya sehingga ada semacam hirarki dari obyek yang membentuk cluster. Urut-urutan tersebut bias dianalogikan sebagai pohon yang bercabang-cabang mulai dari akar, daun, dahan dan seterusnya (santoso, 2002).

Identifikasi Operasi Yang Efisien


Cook dan Kress (1990) dalam penelitian Green, Doylen, dan Cook (1996), menyarankan bahwa setiap kandidat DMU yang akan dirangking dapat memberikan bobotnya untuk memaksimumkan keinginannya terbatas pada beberapa konstrain dan beberapa kandidat. Batas kelayakan CK (desireability frontier) meliputi kandidat yang menginginkan nilai 1, dimana nilai ini analog dengan efficiency frontier untuk DMU dalam DEA.

168
Maximize

W V
j =1

ij ij

Subject to : 1 untuk q = 1,2,m ...............(19.8) dan Wij - Wij+1 d (j,) untuk j = 1,2,...........,k-1 Wik = d (k,) ...........................................................................................................(19.9)

19.5. Pengertian Kualitas


Ada banyak sekali definisi dan pengertian kualitas, yang sebenarnya definisi atau pengertian yang satu hampir sama dengan definisi atau pengertian yang lain. Kutipan dari buku karangan Ariani W. Dorothea tentang pengertian kualitas menurut beberapa ahli yang banyak dikenal antara lain. Juran (1962) kualitas adalah kesesuaian dengan tujuan atau manfaatnya. Crosby (1979) kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan yang meliputi availability, delivery, reliability, maintainability, dan cost effectiveness. Goetch dan Davis (1995) kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berkaitan dengan produk, pelayanan, orang, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi apa yang diharapkan. Perbendaharaan istilah ISO 8402 dan Standar Nasional Indonesia (SNI 19-8402-1991) kualitas adalah keseluruhan ciri dan karakteristik produk atau jasa yang kemampuannya dapat memuaskan kebutuhan, baik yang dinyatakan secara tegas maupun tersamar. Istilah kebutuhan diartikan sebagai spesifikasi yang tercantum dalam kontrak maupun kriteria-kriteria yang harus didefinisikan terlebih dahulu. (Ariani W. Dorothea, 2003)

Pentingnya Kualitas
Ada beberapa alasan perlunya kualitas bagi suatu organisasi atau perusahaan yang dapat diidentifikasikan kedalam 6 (enam) peranan pentingnya kualitas, yaitu: Meningkatkan reputasi perusahaan; menurunkan biaya; meningkatkan pangsa pasar; dampak internasional, adanya pertanggungjawaban produk untuk penampilan produk, mewujudkan kualitas yang dirasakan penting. (Ariani W. Dorothea, 2003)

Pengendalian Kualitas (Quality Control)


Untuk perusahaan kecil, kontrol hanya dilaksanakan sendiri, termasuk kualitas oleh karena itu masalah Quality Control (QC) tidak begitu penting, tetapi jika untuk perusahaan menengah dan besar seharusnya perlu adanya QC secara khusus. Untuk itu QC menjadi suatu bagian tersendiri (khusus). Quality Control

169
adalah profesi Inspecting, Testing, dan Grading, dengan menggunakan statistik sebagai analisa angkaangka (data-data) yang tepat sebagai jawaban untuk pembanding dan estimasi hasil yang baik dan yang tidak baik dipisah-pisahkan (grading) untuk mencari produk mana yang dapat diterima atau mana yang ditolak (Richard Chang, 1998)

19.6. Fault Tree Analysis


Fault tree, analysis: analisis pohon kegagalan : merupakan teknik analisis deduktif yang diawali dengan hipotesis adanya peristiwa kegagalan yang selanjutnya secara sistematik menimbulkan peristiwa atau kombinasi peristiwa yang bisa menyebabkan terjadinya kegagalan. (A-Z Indexs, www.batan.go.id). Fault Tree Analysis adalah suatu teknik analisa desain keandalan (reliability) suatu desain sistem yang bermula atas dasar kesadaran terhadap efek kegagalan sistem yang bermula atas dasar kesadaran terhadap efek kegagalan system, yang disebut juga Top Event. Titik awal analisa ini adalah pengidentifikasian mode kegagalan pada top level suatu sistem (Connor, 1993). Deddy Crisianto (2006), menyebutkan bahwa Fault Tree Analysis merupakan suatu metode visual yang melakukan analisis atas cacat produk yang saling memiliki keterkaitan. Disebut pohon cacat atau kesalahan (Fault Tree) karena peralatan analisis disusun menjadi sebuah diagram yang memperlihatkan cacat produk itu secara praktis. Pohon cacat atau kegagalan mutu lebih lanjut akan merekomendasikan jalan keluar alternatif untuk memperbaiki atau mengatasi cacat atau tuna mutu yang terjadi atas produk. Dengan sifatnya yang demikian, maka fault tree dimaksud sekaligus memperlihatkan pola analisis sebab-akibat seperti yang dijumpai pada diagram tulang ikan (fishbone diagram). Berhubung karena analisis menyajikan pula dampak dari cacat yang terjadi atas produk serta rekomendasi jalan keluar alternatif untuk mengatasi cacat yang bersangkutan, maka fault tree analysis dapat pula dipakai sebagai alat kendali proses untuk menghindari ketunamutuan produk (product failure). Konsep Dasar Fault Tree Analysis Beberapa konsep dasar yang perlu diketahui dan dipahami untuk dapat menganalisa kejadian melalui diagram pohon kesalahan (Fault Tree Analysis), konsep tersebut menurut Allan Villemeur, 1992: 1. Peristiwa Utama Yang Tidak Diinginkan (Top Event) Pusat Fault Tree Analysis disebut peristiwa yang tidak diinginkan. Peristiwa ini mendatangkan peristiwa puncak dari pohon dan analisa ditunjukkan pada pendapatan semua penyebabpenyebabnya. Sering peristiwa ini adalah suatu bencana, tetapi itu bisa menjadi suatu kegagalan sistem atau ketidakmampuan pabrik (aspek ekonomi). Untuk membuat analisa lebih mudah, peristiwa yang tidak diinginkaan harus didefinisikan dengan tepat. Sesungguhnya jika kejadian ini terlalu umum maka analisa akan berhenti untuk dijalankan, sebaliknya jika kejadian terlalu spesifik analisa dapat menemukan kegagalan utama pada elemen dasar sistem, oleh karena itu resiko awal direkomendasikan untuk menemukan kejadian yang tidak diinginkan. Peristiwa ini terkadang telah dikarakteristikkan sesuai macam misimisi sistem.

170
2. Presentasi Gerbang Logika Peristiwaperistiwa dihubungkan oleh gerbang logika sesuai konsekuensi penyebab hubungan baik, seperti ditunjukkan pada gambar 20.4.

Gambar 19.4 Contoh AND Gate 3. Pengkelasan Kegagalan (penyebab kegagalan) Kegagalan bisa dipecah menjadi dua kelas sesuai dengan penyebabnya (P.L.Clemens ; 2002) yaitu : a. Kegagalan atau Penyebab Primer Kegagalan elemen penyebab terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan atau Top Event. b. Kegagalan atau Penyebab Sekunder Kegagalan penyebab terjadinya kegagalan primer yang akan dianalisa lebih lanjut menjadi peristiwa paling dasar penyebab peristiwa yang tidak diinginkan. (P.L.Clemens ; 2002) 4. Peristiwa Dasar Analisa penyebab kejadian atau peristiwa dilanjutkan sampai peristiwa dasar ditemukan. Oleh karena itu, kejadiankejadian harus hatihati ditemukan sejak mencapai batas analisis. Peristiwa dasar dalam pohon kesalahan, sebagai berikut : a. Kejadian yang mana tidak dibutuhkan untuk dikembangkan. Kejadian ini cukup baik untuk menggambarkan dan mengetahui sejauh mana ketidakgunaan batas asal kejadian. b. Kejadian tidak bisa dipertimbangkan secara mendasar tapi kejadian asal tidak akan dikembangkan. Dalam kasus ini batas sistem dipelajari mencangkup ketika teridentifikasi kejadian tidak dapat digambarkan atau dipandang sebagai dasar dan penyebab kejadian itu belum dikembangkan tetapi akan segera dikembangkan. Analisa mempertimbangkan, kemudian ia secara temporer menjangkau batas dalam mempelajari dan bahwa sebagaimana data kurang memadai untuk contoh penyebab kejadian ini akan diketahui kemudian.

171
Prinsip Fault Tree Prinsip Fault Tree dapat menuntun dalam melakukan analisa, yaitu: 1. Mengidentifikasi berbagai kemungkinan kejadian kombinasi mengarahkan pada kegiatan yang tidak diinginkan. 2. Menghadirkan grafik kombinasi seperti struktur. Ini penting untuk memberi gambaran diantara beberapa bidang pohon kesalahan yaang mana antar hubungan tertutup praktis. Fault Tree Analysis memberi kesempatan analisa untuk mengidentifikasi berbagai penyebab kesalahan, dengan mengulang definisi awal diapliksi deduktif berdasarkan urutan prinsip dan aturan yang telah digambarkan. Kemudian dalam pelaksanaan dengan objek kedua, penyebab kesalahan dipresentasikan oleh sebuah pohon. Pohon kesalahan berisi urutan tingkat kejadian yang dihubungkan dalam beberapa cara yang mana kejadian lainnya pada tingkat urutan dari kejadian pada tingkaat bawah baaru ditentukan macam operator logika (gate atau gerbang), kejadian-kejadian itu adalah kecacatan umum dihubungkan untuk menyeimbangkan kegagalan, kesalahan manusia, kekurangan perangkat lunak dan lainlain seperti kejadian yang tidak diinginkan. Proses deduktif dilanjutkan peristiwa sampai dasar diidentifikasi. Peristiwa itu tidak berhubungan satu dengan lainnya dan kemungkinan kejadiannya diketahui. Telah disebutkan bahwa tentu saja pohon kesalahan bukan suatu model dari semua kegagalan seperti terjadi dalam sistem. Pada kenyataan, itu adalah suatu model logika interaksi antara peristiwaperistiwa penuntun menuju pada kejadian yang tidak diinginkan (Alain Villemeur,1992).

Konstruksi Pohon Kesalahan Analisa fault tree yang benar memerlukan definisi yang cermat dari sistem. Pertama, diagram layout fungsional sistem yang penting seharusnya digambar untuk menunjukkan hubungan fungsional dan mengidentifikasikan tiap komponen sistem. Batasan sistem secara fisik disusun comedian untuk memfokuskan perhatian penganalisa pada area yang tepat dan penting. Kesalahan yang lazim adalah kesalahan menyusun batasan sistem yang realistis, yang menimbulkan penyimpangan analisa. Informasi harus tersedia untuk tiap komponen system yang mengijinkan penganalisa menentukan mode yang perlu dari kerusakan komponen. Informasi ini dapat diperoleh dari pengalaman atau dari spesifikasi teknik komponen. Pada beberapa analisa batasan system menjadi sangat berarti, dimana kondisi batas dari sistem harus ditentukan. Kondisikondisi batas ini seharusnya tidak dibingungkan dengan batasan fisik dari sistem. Kondisikondisi batas sistem mendefinisikan situasi yang digambarkan oleh Fault Tree. Kejadian puncak adalah kondisi batas sistem yang paling penting yang didefinisikan sebagai kerusakan sistem utama. Untuk beberapa sistem yang ada. Banyak kemungkinan bagi kejadian puncak tetap ada sehingga pilihan tepat dari kejadian puncak kadang kala adalah suatu tugas yang sulit. Pada umumnya, kejadian puncak harus dipilih berdasarkan criteria sebagai berikut:

172
Sebagai suatu kejadian yang terjadinya harus mempunyai sebuah definisi tertentu dan kemungkinan dari keterjadiannya dapat dikuantitaskan dan 2. Sebagai suatu kejadian yang dapat lebih jauh dipilah untuk menemukan penyebabnya. (Connor, 1993) 1.

Tahapan Fault Tree Analysis Menurut Thomas Pyzdex (2002), Fault Tree mempunyai beberapa tahapan umum untuk mencapai hasil analisa yang optimal hingga ke akar-aakar penyebabnya, yaitu : 1. Tentukan kejadian paling atas, kadangkadang disebut kejadian utama. Ini adalah kondisi kegagalan dibawah studi. 2. Tetapkan batasan Fault Tree Analysis. 3. Periksa sistem untuk mengerti bagaimana berbagai elemen berhubung pada satu dengan lainnya dan untuk kejadian paling atas. 4. Buat pohon kesalahan, mulai pada kejadian paling atas dan bekerja ke arah bawah. 5. Analisis pohon kesalahan untuk mengidentifikasi cara dalam menghilangkan kejadian yang mengarah kepada kegagalan. 6. Persiapkan rencana tindakan perbaikan untuk mencegah kegagalan dan rencana kemungkinan berkenaan dengan kegagalan saat mereka terjadi. Fault Tree Analysis merupakan pendekatan dari atas ke bawah yang menyediakan perwakilan grafik kejadian yang mungkin mengarah pada kegagalan. Beberapa simbol digunakan dalam pembuatan pohon kesalahan ditunjukkan dalam tabel 19.1.

173

Tabel 19.1 Simbol Simbol Logika (Gerbang) Dalam FTA Simbol Gerbang Nama Gerbang Gerbang AND Hubungan Kasual Kejadian keluaran terjadi jika semua kejadian masukan terjadi serentak Kejadian keluaran terjadi jika satu dari kejadian masukan terjadi Masukan menghasilkan keluaran saat kejadian bersyarat terjadi Kejadian keluaran terjadi jika semua kejadian masukan terjadi degan urutan dari kiri ke kanan Kejadian keluaran terjadi jika satu, tetapi tidak keduanya, dari kejadian masukan terjadi Kejadian keluaran terjadi jika m-diluar-n kejadian masukan terjadi

Gerbang OR

Gerbang Menghalangi

Gerbang AND prioritas

Gerbang OR Ekslusif

n inputs

Gerbang m-diluar-n (gerbang voting atau sampel)

Cut Set Method Cut Set menurut P.L. Clemens, 2002 adalah kombinasi pembentuk pohon kesalahan yang mana bila semua terjadi akan menyebabkan peristiwa puncak terjadi. Cut set digunakan untuk mengevaluasi diagram pohon kesalahan dan diperoleh dengan menggambarkan garis melalui blok dalam sistem untuk menunjukkan jumlah minimum blok gagal yang menyebabkan seluruh sistem gagal. Sebagai contoh bisa dilihat dari gambar 19.5.

174

Tabel 19.2 Simbol simbol logika (kejadian) dalam FTA Simbol Kejadian Persegi Lingkaran Arti Kejadian diwakili oleh sebuah gerbang Kejadian dasar dengan data yang cukup

Belah Ketupat

Kejadian yang belum berkembang

Putaran

Baik terjadi atau tidak terjadi

Oval

Kejadian bersyarat yang digunakan dengan gerbang menghalangi Simbol perpindahan

Segitiga

Peristiwa A, B, dan C membentuk menjadi peristiwa T. Peristiwa A, B dan C disebut sebagai cut set. Namun bukan kombinasi peristiwa terkecil yang menyebabkan peristiwa puncak. Untuk mengetahuinya diperlukan minimal cut set (Alain Villemeur : 1992). Minimal cut set ini adalah kombinasi peristiwa yang paling kecil yang membawa ke peristiwa yang tidak diinginkan. Jika satu dari peristiwaperistiwa dalam minimal cut set tidak terjadi, maka peristiwa puncak atau peristiwa yang tidak diinginkan tidak akan terjadi. Dengan kata lain minimal cut set merupakan akar penyebab yang paling terkecil yang berpotensial menyebabkan kecacatan (peristiwa puncak).

175 T

Gambar 19.5 Contoh Struktur Cut Set Suatu pohon kesalahan berisi batasan minimal cut set, yaitu : 1. Pertama, minimal cut set menunjukkan kegagalan tunggal memproduksi peristiwa yang tidak diinginkan (top event). 2. Kedua, minimal cut set menunjukkan kegagalan ganda yang mana jika kejadian terjadi secara simultan atau bersamaan dan menyebabkan peristiwa tidak diinginkan.

Langkah Pembentukan Cut Set Beberapa langkah membentuk cut set menurut P.L. Clemens, 2002, yaitu : 1. Mengabaikan semua unsurunsur pohon kecuali pembentuk atau dasar. 2. Permulaan dengan seketika dibawah peristiwa puncak, menugaskan masingmasing gerbang dan pembentuk atau penyebab dasar. 3. Kelanjutan menurut langkah dari peristiwa puncak mengarah ke bawah membangun matrik menggunakan nomor dan huruf. Huruf ini mewakili gerbang peristiwa puncak menjadi masukan matrik awal. Sebagai kontruksi maju : a. Menggantikan nomor untuk masingmasing gerbang AND dengan nomor untuk semua gerbang yang disebut masukan. Secara horizontal dalam matrik baris. b. Memindahkan nomornomor untuk masingmasing gerbang OR dengan semua gerbang yang disebut masukan. Memanjang vertikal dalam matrik kolom. Masingmasing gerbang OR dibentuk baris bergantian harus pada berisi semua masukan lain dibaris induk asli. 4. Hasil matrik akhir, hanya menghasilkan angkaangka mewakili pembentuk. Masingmasing baris dari matrik ini adalah cut set Boolean. Dengan pemeriksaan, menghapuskan baris manapun yang berisi semua unsurunsur yang ditemukan dalam baris lebih sedikit. Juga menghapuskan unsurunsur berlebihaan didalam baris dan baris yang menyalin baris lain. Baris yang sisa adalah minimal cut set. Pembentukan cut set dapat dilihat dengan jelas pada gambar 19.6.

176

TOP A

B 1 C 2 3 2 4

Gambar 19.6 Contoh Pembentukan Cut Set

Cut Set Quantitative Perhitungan dalam Fault Tree Analisis digunakan untuk mengetahui nilai probabilitas dari kejadian puncak yang terjadi. Untuk menghitung probabilitas hanya diperlukan jumlah seluruh proses yang sukses dan kegagalan proses, hal ini ditunjukkan dalam rumus berikut ini (P.L Clemens , 2002)

PF =
Keterangan : S = Sukses (produk/proses) F = Kegagalan (failure) PF = Probabilitas Kegagalan

F (S + F )

Untuk selanjutnya akan dihitung probabilitas dalam masingmasing gerbang, yaitu : 1. Untuk gerbang OR, probabilitas masingmasing peristiwa atau masukannya mengalami penjumlahan dan pengurangan. a. Untuk 2 masukan PF = 1 [(1 PA)(1 PB)] PF = PA + PB - PAPB

177
b. Untuk lebih dari 2 masukan PF = PA + PB + PC 2. Untuk gerbang AND probabilitas masingmasing masukannya dikalikan. Dalam gerbang AND ini, untuk masukan sejumlah 2 atau lebih semua cara perhitungannya sama yaitu dikalikan.

178

Halaman ini sengaja dikosongkan.......................................................

179

BAB 20 Pengertian Dan Pengendalian Kualitas

20.1. Pengertian Kualitas


Menurut Montgomery (1993), terdapat dua segi umum tentang kualitas, yaitu kualitas rancangan dan kualitas kecocokan. Dimana pada kualitas kecocokan adalah seberapa baik produk itu sesuai dengan spesifikasi dan kelonggaran yang disyaratkan oleh rancangan itu, sedangkan kualitas rancangan adalah variasi dalam tingkat kualitas yang memang sengaja dibuat. Istilah kualitas memang tidak terlepas dari manajemen kualitas yang mempelajari setiap area dari manajemen operasi, dari perencanaan lini produk dan fasilitas sampai penjadwalan dan memonitor hasil. Kualitas merupakan bagian dari semua fungsi usaha yang lain (pemasaran, sumber daya manusia, keuangan, dan lain-lain). Dalam kenyataannya, penyelidikan kualitas adalah suatu penyebab umum (common cause) yang alamiah untuk mempersatukan fungsi-fungsi usaha. Ada beberapa alasan perlunya kualitas bagi suatu organisasi Russel (1996) mengidentifikasi 6 peran pentingnya kualitas yaitu : 1. Meningkatkan reputasi perusahaan 2. Menurunkan biaya 3. Meningkatkan pangsa pasar 4. Dampak Internasional 5. Adanya pertanggungjawaban produk 6. Untuk penampilan produk dan mewujudkan kualitas yang dirasakan penting dan masih banyak lagi alasan mengapa kualitas begitu penting bagi perusahaan. (Manajemen Kualitas Pendekatan Sisi Kualitatif, Dorothea Wahyu Ariani, 2003, Hal 8-9)

20.2. Pengendalian Kualitas


Pengendalian kualitas merupakan suatu pengendalian untuk memeriksa atau menguji karakteristik kualitas yang dimiliki oleh produk yang berguna untuk penilaian atas kemampuan proses produksi yang dikaitkan dengan standar spesifikasi produk. (Manajemen Kualitas Pendekatan Sisi Kualitatif Dorothea Wahyu Ariani, 2003, Hal 9). Alat-alat pengendalian kualitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Diagram Pareto Diagram pareto adalah grafik batang yang menunjukkan masalah berdasarkan urutan banyaknya kejadian. Masalah yang paling banyak terjadi ditunjukkan oleh grafik batang pertama yang tertinggi serta

180
ditempatkan pada sisi kiri, dan seterusnya sampai masalah yang paling sedikit terjadi ditunjukkan oleh grafik batang terakhir yang terendah serta ditempatkan pada sisi paling kanan. (Vincent Gaspersz, 2001). 2. Diagram Sebab Akibat (Fishbone Diagram) Diagram sebab akibat adalah suatu diagram yang menunjukkan hubungan antara sebab dan akibat. Berkaitan dengan pengendalian proses statistikal, diagram sebab akibat dipergunakan untuk menunjukkan faktor-faktor penyebab (sebab) dan karakteristik kualitas (akibat)yang disebabkan oleh faktor-faktor penyebab itu. Pada dasarnya diagram sebab-akibat dapat dipergunakan untuk kebutuhan-kebutuhan barikut : a. Membantu mengidentifikasi akar penyebab dari suatu masalah b. Membantu membangkitkan ide-ide untuk solusi suatu masalah. c. Membantu dalam penyelidikan atau pencarian fakta lebih lanjut. (Vincent Gaspersz, 2001)

20.2. Six Sigma


Six Sigma adalah suatu metode atau teknik pengendalian dan peningkatan kualitas menuju tingkat kesempurnaan (zero defectkegagalan nol) atau merupakan estimasi tingkat kesempurnaan proses yang mungkin diperoleh yang didasarkan atas kegagalan per sejuta kesempatan (DPMO-defect per milion opportunity). Six Sigma juga bisa diartikan konsep statistik yang mengukur suatu proses yang berkaitan dengan cacat atau kerusakan. Mencapai enam sigma berarti bahwa proses menghasilkan hanya 3,4 cacat per sejuta peluang, dengan kata lain proses tersebut berjalan hampir sempurna. Sigma (huruf abjad Yunani ke-18) adalah istilah dalam statistik yang mengukur sesuatu yang dinamakan penyimpangan standar. Dalam penggunaannya kata itu menunjukkan cacat pada output suatu proses, dan membantu kita memahami sejauh mana proses itu menyimpang dari kesempurnaan. Adapun peluang cacat dan manfaat dari masingmasing tingkat sigma ditunjukkan sebagai berikut :

20.4. Konsep Six Sigma


Six Sigma dapat dianggap sebagai strategi terobosan yang memungkinkan perusahaan melakukan peningkatan luar biasa di tingkat bawah. Six Sigma juga dapat dipandang sebagai pengendalian proses industri berfokus pada pelanggan, melalui penekanan pada kemampuan proses. Pada dasarnya pelanggan akan puas jika mereka menerima nilai sebagaimana yang diharapkan. Apabila produk diproses pada tingkat kualitas Six Sigma, perusahaan boleh mengharapkan 3,4 kegagalan per sejuta kesempatan (DPMO) atau mengaharapkan bahwa 99,99966% dari apa yang diharapkan pelanggan akan ada dalam produk tersebut. Pengendalian kualitas Six Sigma sebesar 3,4 DPMO diinterpretasikan sebagai dalam satu unit produk tunggal terdapat rata-rata kesempatan untuk gagal dari suatu CTQ adalah hanya sebesar 3,4 kegagalan per sejuta kesempatan (DPMO). Semakin tinggi target sigma yang dicapai, kinerja sistem industri akan semakin baik. Six Sigma dipandang sebagai pengendalian proses industri berfokus kepada pelanggan, melalui penekanan pada kapabilitas proses (process capability).

181
Menurut Gaspersz (2002), terdapat enam aspek kunci yang perlu diperhatikan dalam konsep aplikasi Six Sigma, yaitu : 1. Identifikasi pelanggan 2. Identifikasi produk 3. Identifikasi kebutuhan dalam memproduksi produk 4. Definisikan proses 5. Hindari kesalahan dalam proses dan hilangkan pemborosan yang ada 6. Tingkatkan proses secara terus-menerus menuju target Six Sigma. Pendekatan pengendalian proses Six Sigma mengijinkan adanya pergeseran nilai rata-rata setiap CTQ (Critical To Quality) individual dari proses industri terhadap nilai spesifikasi target sebesar 1,5 sigma, sehingga akan menghasilkan 4,5 DPMO (Defect Per Million Opportunity)

Defect Per Million Opportunities (DPMO) Merupakan ukuran kegagalan dalam program peningkatan kualitas Six Sigma, yang menunjukkan kegagalan per sejuta kesempatan. Target dan pengendalian kualitas Six Sigma sebesar 3,4 DPMO diinterpretasikan sebagai dalam satu unit produk tunggal terdapat rata-rata kesempatan untuk gagal dalam suatu karakteristik CTQ adalah 3,4 kegagalan per satu juta kesempatan ( DPMO).

DPMO =

banyaknya ketidakses uaian x 1.000 .000 banyaknya pemeriksaa n x CTQ

Suatu visi peningkatan kualitas menuju target kualitas menuju target 3,4 kegagalan per sejuta kesempatan (DPMO) untuk setiap transaksi produk (barang dan/atau jasa). Upaya giat menuju kesempurnaan atau zero defect (Vincent Gaspersz, 2002)

20.5. Konsep Jasa


Menurut Kotler (1994), jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksi jasa mungkin atau mungkin tidak berkaitan dengan produk fisik. Adapun karakteristik utama yang membedakan jasa dan barang menurut Tjiptono (1998) yaitu: Intangibility (tidak Berwujud) yaitu, jasa memiliki sifat tidak dapat disentuh, tidak dapat dengan mudah didefinisikan dan diformulasikan atau dipahami secara rohaniah. Insperability (tidak dapat dipisahkan) yaitu, jasa diproduksi dan dikonsumsi pada waktu yang bersamaan.

182
Variability (keragaman) yaitu, jasa memiliki banyak variasi bentuk, kualita dan jenis tergantung pada siapa, kapan dan dimana jasa tersebut dihasilkan. Perishability (tidak tahan lama), jasa tidak dapat disimpan sebab lebih jauh lagi , pasar jasa berubahubah.

20.6. Konsep Kualitas Jasa


Menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1988) menemukan 5 dimensi pokok kualitas jasa (untuk contoh cara konsumen menilainya, lihat tabel): 1. Keandalan (reliability), berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk memberikan layanan yang akurat sejak pertama kali tanpa membuat kesalahan apapun dan menyampaikan jasanya sesuai dengan waktu yang disepakati. 2. Daya tanggap (responsiveness), berkenaan dengan kesediaan dan kemampuan para karyawan untuk membantu para pelanggan dan merespons permintaan mereka, serta menginformasikan kapan jasa akan diberikan dan kemudian memberiikan jasa secara cepat 3. Jaminan (assurance), yakni perilaku para karyawan mampu menumbuhkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan dan perusahaan bisa menciptakan rasa aman bagi para pelanggannya. Jaminan juga berarti bahwa karyawan selalu bersikap sopan dan menguasai pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menangani setiap pertanyaan atau masalah pelanggan 4. Empati (Empathy), berarti perusahaan memahami masalah para pelanggannya dan bertindak demi kepentingan pelanggan, serta memberikan perhatian personal kepada para pelanggan dan memiliki jam operasi yang nyaman. 5. Bukti fisik (tangible), berkenaan dengan daya tarik fasilitas fisik, perlengkapan, dan material yang digunakan perusahaan, serta penampilan karyawan.

183
Tabel 21.1. Contoh cara konsumen menilai lima dimensi kualitas jasa
Bidang Jasa Reparasi mobil (pasar konsumen) Reliability Masalah diatasi dengan cepat dan selesai pada waktu yang dijanjikan Daya Tanggap Mudah diakses; tidak lama menunggu; responsive terhadap permintaan Sistem ticketing, inflight, dan penanganan bagasi yang cepat Jaminan Mekanik yang berpengalaman luas Empati Mengenal nama pelanggan; mengingat masalah dan preferensi pelanggan sebelumnya Bukti Fisik Fasilitas reparasi; ruang tunggu; seragam; peralatan Pesawat, tempat pemesanan tiket; tempat bagasi; seragam Ruang tunggu; ruang operasi; peralatan; bahan-bahan tertulis

Penerbangan (pasar konsumen)

Terbang tepat waktu dan tiba ditujua sesuai jadwal

Terpercaya; reputasi positif dalam hal keselamatan penumpang; karyawan yang kompeten Pengetahuan; keterampilan; kepercayaan; reputasi

Memahami kebutuhan khusus individual; mengantisipasi kebutuhan pelanggan

Kesehatan (pasar konsumen)

Janji ditepati sesuai jadwal; diagnosisnya terbukti akurat

Mudah diakses; tidak lama menunggu; bersedia mendengar keluh kesah pasien Menanggapi permintaan khusus; adaptif terhadap perubahan Respon cepat terhadap permintaan; tidak birokratis; manangani masalah dengan segera

Mengenal pasien dengan baik; mengingat masalah (penyakit, keluhan, dll) sebelumnya; pendengar yang baik; sabar

Arsitektur (pasar bisnis)

Memberikan rancangan sesuai saat yang dijanjikan berikut dengan anggaran yang sesuai Menyediakan informasi yang dibutuhkan pada saat diminta

Kepercayaan, reputasi, nama baik di masyarakat; pengetahuan dan keterampilan Staf berpengetahuan luas; terlatih; terpercaya

Memahami industri klien; memahami dan tanggap akan kebutuhan spesifik klien; mengenai kliennya Mengenal nama pelanggan internal sebagai para individu; memahami kebutuhan individual dan departemen

Kantor, laporan; rancangan; tagihan; busana karyawan Laporan internal; kantor; busana karyawan

Pemrosesan informasi (pelanggan internal)

Definisi tentang Total Quality Management (TQM) adalah sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi (Santosa, 1992, p.33). Total quality approach hanya dapat dicapai dengan memperhatikan karakteristik TQM berikut ini :

184
Fokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal Memiliki obsesi yang tinggi terhadap kualitas Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah Memiliki komitmen jangka panjang Membutuhkan kerja sama tim (teamwork) Memperbaiki proses secara berkesinambungan Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan Memberikan kebebasan yang terkendali Memiliki kesatuan tujuan Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan

20.7. Harapan Konsumen


Menurut Fandy Tjipto (1998) harapan konsumen dapat didefinisikan sebagai perkiraan atau keyakinan konsumen tentang apa yang akan diterimanya bila ia membeli atau mengkonsumsi suatu produk atau jasa, sedangkan menurut Olsen dan Dover (Zeithaml et al, 1990) harapan konsumen didefinisikan sebagai keyakinan konsumen sebelum mencoba atau membeli suatu produk yang dijadikan standar atau acuan dalam menilai kinerja produk tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa harapan konsumen merupakan suatu nilai kegunaan yang diperkirakan dalam suatu jasa ataupun produk sebelum digunakan. Harapan ini tidak dapat dipenuhi karena beberapa sebab antara lain: konsumen gagal mengkomunikasikan harapannya terhadap suatu produk atau jasa, konsumen keliru menafsirkan sinyal-sinyal perusahaan serta karena kinerja yang buruk dari perusahaan

20.8. Presepsi Konsumen


Menurut Leon G.S dan Lestie (Bary et.al 1992, dikutip dari Elvia, 2000) presepsi konsumen didefinisikan sebagai proses konsumen dalam mengatur dan mengintepretasikan stimuli menjadi berarti dan merupakan gambaran secara koheren terhadap dunia sekelilingnya. Presepsi ini timbul setelah konsumen merasakan sesuatu yang telah diterima (sudah menggunakan produk atau telah menikmati jasa pelayanan) dan sudah mengambil keputusan dalam pikirannya.

20.9. Kepuasan Pelanggan


Erwita Dinarsari, S. Supriayanto, Thinni Nurul Rochmah dalam Jurnal Administrasi dan Kebijakan Kesehatan menulis bahwa menurut Kotler (1997) kepuasan pelanggan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja suatu produk dan harapannya. Menurut Yazid (1999) kepuasan pelanggan merupakan perbedaan antara harapan dan unjuk kerja yang diterimanya.

185
Oliver dam Widodo Putro (2003,22) mendevinisikan kepuasan sebagai respon konsisten atas pemenuhan kebutuhannya, memberikan pemenuhan suatu level yang menyenangkan, meliputi pemenuhan yang berada diatas maupun level yang berada di bawah. Menurut penulis, yang disebut kepuasan pelanggan antara lain adalah rasa puas yang ditimbulkan akibat suatu produk pelayanan atau jasa yang diterima atau dinikmati seserang yang memenuhi harapannya.

Tujuan Perusahaan

Kebutuhan dan Keinginan Pelanggan

PRODUK

Harapan Pelanggan Terhadap Produk

Nilai Produk Bagi Pelanggan

Tujuan Perusahaan

Gambar 21.1 Konsep Kepuasan Pelanggan Sumber: Tjiptono, Fandy (1995) Strategi Pemasaran, Yogyakarta : Andi Offset, p 28 dalam Widodo Putro

Faktor-faktor yang digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan a. Menurut Widodo J. Pudjiraharjo dalam Jurnal Administrasi dan Kesehatan mengemukakan bahwa dalam memenuhi kepuasan pasien maka rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu, agar terwujud pelayanan yang prima. Untuk dapat mewujudkan pelayanan yang prima ini

186
terdapat 5 indikator yaitu: empahty (rasa empati) yang berupa pemberian pelayanan dengan penuh perhatian dan sesuai kebutuhan klien, Reliability (keandalan) kemampuan petugas untuk memberikan layanan yang diharapkan secara akurat, responsivenes (cepat tanggap) yaitu keinginan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang dibutuhkan dengan segera, communication (komunikasi) yang berarti selalu memberikan informasi yang sebaik-baiknya dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh para klien dan carring (pengayoman) yaitu mudah dihubungi dan memberikan perhatian kepada klien. Keberhasilan penerapan pelayanan prima pada bidang pelayanan kesehatan pada akhirnya diukur dengan derajat kepuasan pemakai. Secara lebih khusus keberhasilan pelayanan prima adalah ukuran maslahat kepuasan yang didapat oleh pemakai dibandingkan dengan besar pengorbanan yang telah dikeluarkannya. b. Menurut Lele (1995) dalam Penelitian Analisis Kepuasan dan Harapan pelanggan dalam rangka Peningkatan Loyalitas Pelanggan Kelas Utama Rumah sakit Panti Rahayu Purwodadi Grobogan oleh Erwita Dinarsari, S. Supriyanto, Thinni Nurul Rochmah (jurnal AKK, Volume 1 nomor 1, januari 2003) ada empat landasan kepuasan pelanggan : 1) Produk, yaitu meliputi perancangan produk sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan meliputi mutu, biaya dan sumber daya. 2) Kegiatan penjualan (proses) meliputi sikap, tindakan dan latihan untuk para petugas. 3) Purna beli yaitu pelayanan pendukung mencakup informasi, garansi, nasehat, peringatan, latihan, umpan balik dan tanggapan kelluhan. 4) Budaya, menejemen menerapkan bahwa kepuasan pelanggan merupakan tujuan perusahaan, jadi memberi kepuasan kepada pelanggan merupakan budaya kerja. Menurut Zeithaml et al dalam Tjiptono (2000) faktor yang digunakan langsung untuk mengevaluasi kepuasan dibidang kesehatan adalah: 1) Bukti langsung (tangible) yang terdiri dari ruang pelayanan dan fasilitas; 2) Keandalan (reliability) meliputi janji yang ditepati dan diagnosis yang tepat; 3) Daya tanggap (responsivnes) meliputi penanganan keluhan pasien dan mudah tidaknya dihubungi; 4) jaminan (assurance) meliputi keterampilan, kepercayaan dan reputasi; 5) empathy meliputi mengenal pasien, ingat masalahnya, perhatian dan kesabaran.

c.

187

Daftar Pustaka

Alting, D.L dan J.Jorgensen, (1995). "The Life Cycle Concepts as a Basis for Sustainable Industrial Production". Proceeding Anals of the CIRP, Vol.42, No.2, p.163-67 Alting, D.L,(1993), "Life Cycle Design". Concurrent Engineering, Vol.1, No.6, p.1-6. Amin Akhavan Tabassi, A.H. Abu Bakar, (2008), Training, motivation, and performance: The case of human resource management in construction project in Mashhad, Iran, Internasional Journal Of Project Management, August. Anno. (1994), "Ecofactory : Concepts and R&D Themes", New Technology . Japan Artolo L Tolentino, (2004), New consepts of productivity and its improvement, Presented at the European productivity network seminar, Budapest, 13-14 May. Atuahene-Gima, K., & A. Ko, (2001). An Empirical Investigation of the Effect of Market Orientation and Entrepreneurship Orientation on Product Innovation. Organization Science. 12(1), 54-74. Azzone, G dan G. Noci,(1997), "Measuring The Environmental Performance of New Products: An Integrated Approach". International Journal of Production Research, Vol..34. No.11, p.3055-78 Azzone, G dan U.Bertel, (1996)." Exploiting Green Strategies for Competitive Advantage". Long Range Planning, Vol.27, No. 6, p. 69-81 Becherer, R. C., and J. G. Maurer, (1997). The Moderating Effect of Environ-mental Variables on the Entrepreneurial and Marketing Orientation of Entrepreneur-Led Firms. Entrepreneurship Theory and Practice. 22(1), 47-58. Bill Ferme, (2008), Improving Manufacturing Productivity, diakses tanggal 10 Desember 2008. Boothroyd, Geoffrey., Dewhurst, Peter dan Knight, Winston., (2002), Product Design for Manufacture and Assembly, Second Edition, Marcel Dekker Inc, New York.

188

Borch, F. J.,(1947).The Marketing Philosophy as a Way of Business Life, New York: General Electric. Carolina Castaldi, (2008), The relative weigth of manufacturing and service in Europe: An Innovation Perspective, Technological Forecasting & social Change xxx. Chandler, G. N., and S. H. Hanks, (1993).Measuring the Performance of emerging businesses: A Validation Study. Journal of Business Venturing. 8(3), 391-408. Ciptomulyono, U.(1998). "Paradigma Teknologi Yang Berwawasan Lingkungan". Suara-Pembaruan, 28/10/1998, Jakarta. Craven, D. W., G. E. Hills, and R. B. Woodruff, (1987),Marketing Management. Homewood, IL: Irwin. David J Summanth, (1985), Productivity engineering and management, Mc Graw Hill Book Company. David, Fred R, (2006), Manajemen Strategis (Konsep), Edisi Kesepuluh, Penerbit Salemba Empat, Jakarta. DeSimone, L.D dan F.Popoff.,(1998). Eco-effciency: The business lingk to Sustainable Developement. The MIT Press Dieter, George E, (2000), Engineering Design A Materials and Processing Approach, 3rd Edition, McGraw Hill Inc, Singapore. Gary Dessler, (2007), Manajemen Sumber Daya Manusia (Edisi bahasa Indonesia), PT Indeks, Jakarta Hasil Rumusan Panel Diskusi Nasional, Pengembangan UKM, 2001 Hentschel, C.(1993)."The Greening of Products and Production : A New Challenge for Engineers". To be presented at International Conference on Advances in Productions Managements Systemes. Hopfenbeck, W.(1995).The Green Management Revolution: Lessons in Environmental Excellence. Prentice Hall Ibusuki, Ugo dan Kaminski, Paulo Carlos, (2006), Product Development Process With Focus on Value Engineering and Target Costing: A Case Study in an Automotive Company, International Journal of Production Economics 105 pp 459 - 474, (www. elsevier.com). Jonas Rutkauskas, Eimen Paulavicien, (2005), Concept of productivity in service sector, Enggineering economy, no 3 (43). Jones J. Christopher, (1980), Design Methods Seed of Human Future, Wiley Interscience, London Jovane, F., L.Alting, A. Armillota, W.Eversheim, K.Feldmann, G.Seliger, dan N.Roth, (1995). "A Key issue in Product Life Cycle : Disassemby". Proceeding Anals of the CIRP, Vol.42, No.2, p.651-58

189

Klaten dalam Angka, 2001 Komninos, Ioannis B.Eng M.Sc, (2002),Product Life Cycle Management, Urban and Regional Innovation Research Unit Faculty of Engineering Aristotele University of Thessaloniki (www.urenio.org ) Kompas, 1997. edisi 3 Agustus Kompas, 2000. edisi 20 Maret Liker, Jeffrey K, (2006), The Toyota Way 14 Prinsip Manajemen dari Perusahaan Manufaktur Terhebat di Dunia, Penerbit Erlangga, Jakarta. Mandelbaum, Jay dan Reed, Danny L, (2006), Value Engineering Handbook, Institute for Defense Analysis (http\\ve.ida.org) Matsuno, Ken, John T. Mentzer, and Aysegul Ozsomer, (2002), The Effects of Entrepreneurial Proclivity and on Business Performance, Journal of Marketing. 66(July), 18-32. Meadow, D.H. , D.L.Meadows, J. Randers, dan W.W. Beherns III (1972). Limits to Growth. Signet Books Meadow, D.H. dan D.L.Meadows J. Randers, (1992). Beyond The limits, Chelsea Green Publising. Miles, B.M., & Huberman, A.M. (1992). Analisis Data Kualitatif, Terjemahan, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia Press. Miles, M. P., and D. R. Arnold (1991). The Relationship between Marketing Orientation and Entrepreneurial Orientation. Entrepreneurship Theory and Practice. 15(4), 49-65. Miles, M. P., and L. S. Munilla, (1993).Eco-Orientation: An Emerging Business Philosophy. Journal of Marketing Theory and Practice. 1(2), 43-51. Miles, M. P., G. R. Russell, and D. R. Arnold, (1995). The Quality Orientation: an Emerging Business Philosophy. Review of Business. 17(1), 7-15. Miles, M.P., and J.G. Covin, (2002). Exploring the practice of corporate venturing: Some common forms and Their Organizational Implications. Entrepreneurship Theory and Practice, 26(3), 21-40. Morris, M. H., and G. Paul,(1987). The Relationship between Entrepreneurship and Marketing in Established Firms. Journal of Business Venturing. 2(3), 247-259.

190

Nurcahyanie, Y.D (2004). Peranan Desainer Produk Menghantarkan Industri Kerajinan Kecil Menengah Menghadapi Kompetisi Perdagangan Bebas , Prosiding Simposiun Nasional RAPI III-FT UMS Surakarta, 11 Desember 2004, ISSN : 1492-9612, hal I.287 I.293 Nurcahyanie, Y.D, Singgih, L.M, Santosa, (2009), Pengembangan Perancangan Produk Modular untuk Mendukung Green Lifecycle Engineering, Prosiding Seminar Nasional MMT ITS, ISBN .978979-99735-8-0, Hal. A-46 Nurcahyanie,Y.D (2006).Sustainable Development Issues Scan: Office Furniture Industry Prepared for Furniture Industry in Indonesia. Proceeding of International Conference Tropical Architecture within Globalization, ISBN:978-979-9459-50-3, hal. 167 Nurcahyanie,Y.D (2007), Sustainable Development Issues Scan: The Case of Furniture Industries in Indonesia , Proseeding of International Seminar on Industrial Engineering, ISSN: 1978774X, hal. B6 Nurcahyanie,Y.D, Rusdiyantoro, Sutrisno (2010), Laporan PPM IbIKK Pengembangan Produk Ramah Lingkungan yang Diproduksi oleh Laboratorium Sistem Manufaktur Teknik Industri Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Didanai oleh DP2M Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Nuzsep Almigo, (2004), Hubungan antara kepuasan kerja dengan produktivitas kerja karyawan, Jurnal psyche, vol 1, no 1. Pieter Serneels, (2008), Human capital revisited: the role of experience and education when controlling for performance and cognitive skills, Labour Economic, vol 15, pp 1143-1161. Prasetyowibowo Bagas, (1998), Desain Produk Industri, Yayasan Delapan Sepuluh, Bandung. Rachmina, Dwi ; Praningrum, (1998), Masalah di Bidang Pemasaran, Prosiding Konferensi Nasional Usaha Kecil, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, KADIN. Rob Vitale, Joe Giglierano, Morgan Miles,(2003), Entrepreneurial Orientation, Market Orientation, and Performance in Established and startupFirms,Http://www.Uic.Edu/Cba/Ies/2003papers/GigliVitale-Miles.htm Seliger, G. , E.Zussman, A.Kriwet.(1995). "Integration of Recyling Consideration Into Product Design: A System Approach". Proceeding NATO ARW Sudarmadi, Wini Aggraeni, (2008), PTPN III, Bonus tahunannya bisa 7 kali gaji, Majalah Swasembada, 6- 20 Februari.

191

Sumanth, David J, (1985),Productivity Engineering And Mangement, Mc Graw-Hill Book. Taguchi, G. (1987). The Evaluation of quality. 40th Annual Quality Congress Transactions. American Society for Quality Control. Tahid, S., Nurcahyanie, Y.D,(2007), Konsep Teknologi Dalam Pengembangan Produk Industri, ISBN: 978-979-1486-05-7, Kencana Prenada Media Group, Jakarta Tambunan, Tulus (2001), Perkembangan UKM dalam Era AFTA: Peluang, Tantangan, permasalahan dan Alternatif Solusinya, Jakarta: Yayasan Indonesia Forum LPFE-UI, Tipnis, V.A.(1995)."Evolving issues in Product Life Cycle Design: How to design products that are environmentally safe to manufacture/assemble, distribute, use, service/repair, discard/collect,disassemble,recycle/recover dan dispose". Proceeding Anals of the CIRP, Vol.42, No.2, p.169-73 Tolba, M.K.(1992). Development Without Destrcuctiob:Evolving Envrionemental Perceptions. Tycooly Publishing Ltd. Ulhoi, J.P. dan S.Hildebrandt (1995). "Corporate Excellence Thrrough Technology, Environmental and Quality Management". Proceeding on Productivity and Quality Management Frontiers IV- Institut of Industrial Engineers Ulhoi, J.P.(1995). "Corporate Greening: The Global Trend of The Next Millenium". Proceeding of Internastional Engineering Mangement Conference, October, New Jersey Ulhoi, J.P.(1995). "Corporate Resources and Environmental Management : What, Why and How ? ", International Journal of Management, Vol.10, No.4, p.440-450 Ulhoi, J.P.(1995)." The Greening of Industry: Strategic Challenges and Corporate Responses".Proceeding Second International Meeting Managing in the Global Economy : A Decision Sciences Perspective, Seol, June-1995, Korea Ulhoi, J.P.(1996)."Corporate Environmental and Resources Management : In Search of a New Managerial Paradigm". European Journal of Operational Research, Vol. 80, p2-15 Ulrich, Karl T dan Eppinger, Steven D,(2001), Perancangan dan Pengembangan Produk, Penerbit Salemba Teknika, Jakarta. Veithzal Rifai, (2003), Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan, Dari Teori ke Praktek, PT Raja Grafindo Perkasa, Jakarta. Wiklund, J. (1999). The Sustainability of the Entrepreneurial Orientation-Performance Relationship. Environmental Variables on the Entrepreneurial and Practice. 24(1), 37-47.

192

Zust,R dan R. Wagner (1994), "Approach to the Identification and Quantification of Environmental Effects During Product Life". Annals of the CIRP, Vol.41, No.1, p.473-76 www.best.me.berkely.edu www.depkop.go.id www.kompas.com, Jumat, 19 Desember 2008, Evian, Kemurnian Alam Terbalut Kristal www.projacs.com www.ptpn3.co.id, diakses tanggal 1 Januari 2009 www.sampoerna.co.id, diakses tanggal 1 Januari 2009 www.sinarharapan.co.id, 2003,Willy Sidharta, Direktur Utama PT.Aqua Golden Mississippi Tbk www.thefreedictionary.com www.toyota.co.id www.unilever.co.id www.web-articles.info

193

INDEKS A
Akhavan 131 Allan Villemeur 169 Alting dan Jorgensen 50 Amin Akhavan et.al 131

B
Barbera dan McConnel 7,8 Barbera dan McConnel Boothroyd 105,106,107,109 Borch 81 Bowlin 163 7

C
Campbell 13 Cascio 10 Chaston 7 Ciptomulyono 18 Concurrent Engineering/ Simutaneous Engineering 99 Cook dan Kress 167 Craven, 82 Craven, Hills, & Woodruff 82 Crosby 168

D
Daur Hidup Produk 93 Design For Environment (DFE) 61 DeSimone 18 DFMA 105 DFMA pada Digital Equipments Corporation108 Dieter, 99,109

E
Eco Design 53 Eco-factory 51 Emulation113 Environment Management System (EMS)36 Environmental Impact Assessment (EIA)41 Erwita Dinarsari, S. Supriyanto, Thinni Nurul Rochmah 186

G
GATT (General Agreement on Tariff and Trade)79 Good House Keeping47 Green Design53 Green, Doylen, dan Cook 167

194

H
Hadipranata 13 Hazilla dan Kopp 7 Human Capital123-124 Human Resources Productivity129 Human Resources Management (HRM) 125-127

I
IbIKK. 136-139 Industri Kerajinan 82 Industri Manufaktur119

J
Jorgenson dan Wilcoxen 7 Joseph 14 Jovane 47 Juran 47

K
Kerja Dalam Divisi Pengembangan Produk 89 Koesmono 132 Komninos 93, 99, 113 Konsumsi energi Malaysia 73 Kuncoro 9

L
Lean Production 49 Life Cycle Cost 50 Liker 110

M
Mahoney 13 Manufacturing Productivity143-145 Material Productivity 149-156 Matsuno, 82 Meadow 17 Meadow 17 Michael James Farrel 161 Miles, 82,99 Morris, 58

N
Nurture59 Nuzsep 10

P
Pollution Control (Pengendalian Pencemaran)40 Porter dan Van der Linde 3 Portney, Oates dan Palmer 4 Product Cannibalism113 Produktivitas Hijau23-33

195

Q
Quality Function Deployment 49

R
Ravianto 9 Recycling of toxic wastes54 Remich 51 Richardson dan Multi 6 Rifai 126 Rivai 125 Rob Vitale 81 Roberts (1992), Cropper dan Oates (1992) , OECD (1993), Jaffe dan Stavins (1995), Glass (1996), dan Elkins dan

S
Spek (1998) 3 Sedarmayanti 10 Serneels 123 Simamora 125 Sistem Industri Kerajinan Tangan Terpadu (Sikatt) 87 Sukotjo 9

R
Robust Design 49

T
Tambunan 79,88,92 Technology change54 Tipnis 18,48 Tjiptono 181,186 Tolba 17

U
Ulhoi 52 Unit Bisnis Intech Metalworks (IbIKK Adibuana) 138

W
Wagner 51 Warwick 123 Wiklund82

196

V
Veithzal 132

Z
Zust51

Buku ini memberikan wawasan tentang peningkatan produktivitas yang berkaitan langsung dengan peningkatan kinerja perusahaan dan keuntungan ekonomi. Dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, kami sangat berharap buku ini mudah diterima dan mudah dicerna sehingga bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya baik untuk mahasiswa, praktisi, atau untuk menambah referensi di bidang analisis produktivitas.

Adibuana Press

ISBN 978-979-8559-18-1