Anda di halaman 1dari 19

KONSEP MEDIS A. DEFENISI Tonsilitis adalah massa jaringan limfoid yang terletak di rongga faring.

Tonsil menyaring dan melindungi saluran pernafasan serta saluran pencernaan dari invasi organisme patogen dan berperan dalam pembentukan antibodi. Meskipun ukuran tonsil bervariasi, anak-anak umumnya memiliki tonsil yang lebih besar daripada remaja atau orang dewasa. Perbedaan ini dianggap sebagai mekanisme perlindungan karena anak kecil rentan terutama terhadap ISPA (Wong, 2008). Tonsilitis adalah inflamasi dari tonsil yang disebabkan oleh infeksi (Harnawatiaj, 2006). Tonsilitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok A streptococcus beta hemolitik, namun dapat juga disebabkan oleh bakteri jenis lain atau oleh infeksi virus (Hembing, 2004). Macam-macam tonsillitis menurut Imam Megantara (2006), yaitu sebagai berikut: 1. Tonsillitis akut Tonsil akut merupakan radang akut pada tonsil. Disebabkan oleh streptococcus pada hemoliticus, streptococcus viridians, dan

streptococcus piogynes, dapat juga disebabkan oleh virus. 2. Tonsilitis falikularis Tonsil membengkak dan hiperemis, permukaannya diliputi eksudat diliputi bercak putih yang mengisi kipti tonsil yang disebut detritus. Detritus ini terdapat leukosit, epitel yang terlepas akibat peradangan dan sisa-sisa makanan yang tersangkut. 3. Tonsilitis Lakunaris Bila bercak yang berdekatan bersatu dan mengisi lacuna (lekuk-lekuk) permukaan tonsil.

4. Tonsilitis Membranosa (Septis sore Throat) Bila eksudat yang menutupi permukaan tonsil yang membengkak tersebut menyerupai membrane. Membran ini biasanya mudah diangkat atau dibuang dan berwarna putih kekuning-kuningan. 5. Tonsilitis kronik Radang kronik pada tonsil. Tonsillitis kronik biasanya sering terjadi pada anak-anak terbanyak pada usia kira-kira 5 tahun dan puncak berikutnya pada usia 10 tahun. faktor predisposisi : rangsangan kronik (makanan) pengaruh cuaca, pengobatan radang akut yang tidak adekuat dan hygiene mulut yang buruk. B. ETIOLOGI Penyebab terjadinya tonsillitis yaitu oleh adanya infeksi bakteri dan virus, (Mansjoer, 2001) : 1. Streptokokus Beta Hemolitikus Streptokokus beta hemolitikus adalah bakteri gram positif yang dapat berkembang biak ditenggorokan yang sehat dan bisa menyebabkan infeksi saluran nafas akut. 2. Streptokokus Pyogenesis Streptokokus pyogenesis adalah bakteri gram positif bentuk bundar yang tumbuh dalam rantai panjang dan menyebabkan infeksi streptokokus group A. Streptokokus Pyogenesis adalah penyebab banyak penyakit penting pada manusia berkisar dari infeksi khasnya bermula

ditenggorakan dan kulit. 3. Streptokokus Viridans Streptokokus viridans adalah kelompok besar bakteri streptokokus komensal yang baik a-hemolitik, menghasilkan warna hijau pekat agar darah. Viridans memiliki kemampuan yang unik sintesis dekstran dari glukosa yang memungkinkan mereka mematuhi agregat fibrin-platelet dikatup jantung yang rusak.

4.

Virus Influenza Virus influenza adalah virus RNA dari famili Orthomyxo viridae (virus influenza). Virus ini ditularkan dengan medium udara melalui bersin pada manusia gejala umum yang terjadi yaitu demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, hidung tersumbat. Dalam kasus yang buruk influenza juga dapat menyebabkan terjadinya pneumonia.

C. MANIFESTASI KLINIK Menurut Megantara, Imam 2006, manifestasi klinik dari tonsillitis yaitu Nyeri tenggorokan (yang semakin parah jika penderita menelan) nyeri seringkali dirasakan ditelinga (karena tenggorokan dan telinga memiliki persyarafan yang sama). Tanda dan gejala lainnya yaitu: 1. Pada pemeriksaan tampak faring hiperemis, tonsil membengkak, hiperemis : terdapat detritus (tonsillitis folibularis), kadang detritus berdekatan menjadi satu (tonsillitis laturasis) atau berupa membrane semu. 2. Tampak arkus palatinus anterior terdorong ke luar dan uvula terdesak melewati garis tengah. Kelenjar sub mandibula membengkak dan nyeri tekan, terutama pada anak-anak. 3. Tonsila biasanya nampak bercak bercak dan kadang diliputi oleh eksudat. Eksudat ini mungkin keabu abuan atau kekuningan. Eksudat ini dapat mengumpul dan membentuk membran dan pada kasus dapat terjadi nekrosis jaringan lokal, nyeri tenggorokan, sulit menelan, demam, mual dan kelenjar limfa pada leher membengkak, malaise (perasaan tidak menentu pada tubuh yang tidak nyaman ). 4. Tengorokan terasa kering, atau rasa mengganjal di tenggorokan (leher) 5. Nyeri saat menelan (nelan ludah ataupun makanan dan minuman) sehingga menjadi malas makan Nyeri dapat menjalar ke sekitar leher dan telinga. 6. Demam, sakit kepala, kadang menggigil, lemas, nyeri otot. Dapat disertai batuk, pilek, suara serak, mulut berbau, mual, kadang nyeri

perut, pembesaran kelenjar getah bening (kelenjar limfe) di sekitar leher. 7. Adakalanya penderita tonsilitis (kronis) mendengkur saat tidur (terutama jika disertai pembesaran kelenjar adenoid (kelenjar yang berada di dinding bagian belakang antara tenggorokan dan rongga hidung). 8. Nyeri tenggorokan atau nyeri telan ringan bersifat kronik, menghebat bila terjadi serangan akut. 9. Badan lesu, nafsu makan berkurang, sakit kepala.

10. Pada adenoiditis kronik terjadi hidung buntu, tidur mendengkur. 11. Tonsil umumnya membesar, pada serangan akut tonsil hyperemi 12. Arkus anterior posterior merah 13. Pada rinoskopi anterior, fenomena palatum mole negative, kadang tertutup sekret mukopurulen. Tentu tidak semua keluhan dan tanda di atas diborong oleh satu orang penderita. Hal ini karena keluhan bersifat individual dan kebanyakan para orang tua atau penderita akan ke dokter ketika mengalami keluhan demam dan nyeri telan. D. PATOFISIOLOGI Bakteri dan virus masuk masuk dalam tubuh melalui saluran nafas bagian atas, akan menyebabkan infeksi pada hidung atau faring kemudian menyebar melalui sistem limfa ke tonsil. Adanya bakteri dan virus patogen pada tonsil menyebabkan terjadinya proses inflamasi dan infeksi sehingga tonsil membesar dan dapat menghambat keluar masuknya udara. Infeksi juga dapat mengakibatkan kemerahan dan edema pada faring serta ditemukannya eksudat berwarna putih keabuan pada tonsil sehingga menyebabkan timbulnya sakit tenggorokan, nyeri telan, demam tinggi bau mulut serta otalgia yaitu nyeri yang menjalar ke telinga. (Nurbaiti 2001). Pada Tonsilitis Akut, penularan terjadi melalui droplet dimana kuman menginfiltrasi lapisan epitel kemudian bila epitel ini terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi dimana terjadi pembendungan radang dengan

infiltrasi leukosit polimorfo nuclear, sedangkan tonsillitis kronik terjadi karena proses radang berulang ,maka epitel mukosa dan jaringan limpoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limpoid diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga ruang antara kelompok melebar (kriptus) yang akan diisi oleh detritus. Proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul purlengtan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar limfe submandibula. E. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Tes laboratorium Tes laboratorium ini digunakan untuk menentukan apakah bakteri yang ada dalam tubuh pasien merupkan bakteri grup A, karena grup ini disertai dengan demam rematik, glomerulnefritis, dan demam jengkering. 2. Pemeriksaan usap tenggorok Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan sebelum memberikan pengobatan, terutama bila keadaan memungkinkan. Dengan pemeriksaan ini kita dapat mengetahui kuman penyebabkan dan obat yang masih sensitive terhadapnya. 3. Pemeriksaan darah lengkap yaitu : Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan lekosit pada anak, apabila ada menandakan anak terkena infeksi. 4. Kultur dan uji resistensi bila diperlukan.

F. TERAPI DAN PENGOBATAN Pada penderita tonsillitis, terlebih dahulu harus diperhatikan pernafasan dan status nutrisinya. Jika perbesaran tonsil menutupi jalan nafas, maka perlu dilakukan tonsilektomi, demikian juga jika pembesaran tonsil menyebabkan kesulitan menelan dan nyeri saat menelan, menyebabkan penurunan nafsu makan / anoreksia. Pada penderita tonsillitis yang tidak memerlukan tindakan operatif (tonsilektomi), perlu dilakukan oral hygiene untuk menghindari perluasan infeksi, sedangkan untuk mengubahnya dapat diberikan antibiotic, obat kumur dan vitamin C dan B.

Pemantauan pada penderita pasca tonsilektomi secara kontinu diperlukan karena resiko komplikasi hemorraghi. Posisi yang paling memberikan kenyamanan adalah kepala dipalingkan kesamping untuk memungkinkan drainage dari mulut dan faring untuk mencegah aspirasi. Jalan nafas oral tidak dilepaskan sampai pasien menunjukkan reflek menelanya telah pulih. Jika pasien memuntahkan banyak darah dengan warna yang berubah atau berwarna merah terang pada interval yang sering, atau bila frekuensi nadi dan pernafasan meningkat dan pasien gelisah, segera beritahu dokter bedah. Perawat harus mempunyai alat yang disiapkan untuk memeriksa tempat operasi terhadap perdarahan, sumber cahaya, cermin, kasa, nemostat lengkung dan basin pembuang. Jika perlu dilakukan tugas, maka pasien dibawa ke ruang operasi, dilakukan anastesi umum untukmenjahit pembuluh yang berdarah. Jika tidak terjadi perdarahan berlanjut beri pasien air dan sesapan es. Pasien diinstruksikan untuk menghindari banyak bicara dan batuk karena hal ini akan menyebabkan nyeri tengkorak. Setelah dilakukan tonsilektomi, membilas mulut dengan alkalin dan larutan normal salin hangat sangat berguna dalam mengatasi lendir yang kental yang mungkin ada. Diet cairan atau semi cair diberikan selama beberapa hari serbet dan gelatin adalah makanan yang dapat diberikan. Makanan pedas, panas, dingin, asam atau mentah harus dihindari. Susu dan produk lunak (es krim) mungkin dibatasi karena makanan ini cenderung meningkatkan jumlah mucus yang terbentuk.
1. Penatalaksanaan tonsilitis akut

Antibiotik golongan penicilin atau sulfanamid selama 5 hari dan obat kumur atau obat isap dengan desinfektan, bila alergi dengan diberikan eritromisin atau klindomisin.

Antibiotik yang adekuat untuk mencegah infeksi sekunder, kortikosteroid untuk mengurangi edema pada laring dan obat simptomatik.

Pasien

diisolasi

karena

menular,

tirah

baring,

untuk

menghindari komplikasi kantung selama 2-3 minggu atau sampai hasil usapan tenggorok 3x negatif. Pemberian antipiretik.

2. Penatalaksanaan tonsilitis kronik

Terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur / hisap. Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atau terapi konservatif tidak berhasil.

G. KOMPLIKASI Komplikasi tonsilitis akut dan kronik menurut Mansjoer, A (1999), yaitu : 1. Abses pertonsil Terjadi diatas tonsil dalam jaringan pilar anterior dan palatum mole, abses ini terjadi beberapa hari setelah infeksi akut dan biasanya disebabkan oleh streptococcus group A. 2. Otitis media akut Infeksi dapat menyebar ke telinga tengah melalui tuba auditorius (eustochi) dan dapat mengakibatkan otitis media yang dapat mengarah pada ruptur spontan gendang telinga. 3. Mastoiditis akut Ruptur spontan gendang telinga lebih jauh menyebarkan infeksi ke dalam sel-sel mastoid. 4. Laringitis 5. Sinusitis 6. Rhinitis

ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian


a. Identitas klien

Usia Tonsillitis akut biasanya sering terjadi pada anak-anakterbanyak pada usia kira-kira 5 tahun dan puncak berikutnya pada usia 10

Jenis Kelamin Jenis kelamin tidak mempengaruhi terjadinya tonsillitis. Semua anak dapat mengalami tonsillitis. Hal itu dipengaruhi dari makanan yang mereka makan, perawatan hygiene yang kurang.

Agama Pendidikan Alamat

b. Riwayat kesehatan

Riwayat kesehatan sekarang Penderita biasanya demam, nyeri tenggorok, mungkin sakit berat dan merasa sangat nyeri terutama saat menelan dan membuka mulut disertai dengan trismus (kesulitan membuka mulut). Bila laring terkena, suara akan menjadi serak. Pada pemeriksaan tampak faring hiperemis, tonsil membengkak, hiperemis : terdapat detritus (tonsillitis folibularis), kadang detritus berdekatan menjadi satu (tonsillitis laturasis) atau berupa membrane semu. Tampak arkus palatinus anterior terdorong ke luar dan uvula terdesak melewati garis tengah. Kelenjar sub mandibula membengkak dan nyeri tekan, terutama pada anak-anak. Pembesaran adenoid dapat menyebabkan pernafasan mulut, telinga mengeluarkan cairan, kepala sering panas, bronchitis, nafas bau dan pernafasan bising.

Riwayat kesehatan keluarga Pasien dengan tonsillitis diturunkan dari keluarga. Penyakit yang mungkin di derita oleh keluarga adalah gangguan infeksi

pernafasan. Tetapi tonsilitis lebih disebabkan karena anak mengkonsumsi makanan seperti makanan manis, mengandung banyak pengawet dan perawatan mulut yang tidak baik. Riwayat kesehatan dahulu Tidak ada penyakit selama ibu hamil yang menjadi latar belakang dari tonsillitis. Hanya saja kemungkinan besar anak terserang tonsillitis dikarenakan anak dilahirkan premature. Hal itu disebabkan dari kegunaan organ tubuh yang belum matur sehingga akan menyebabkan cepat dan gampang diserang penyakit. Hal itu termasuk dengan tonsil pada anak.
c. Pemeriksaan fisik 1. Nadi

Pada pasien yang memiliki tonsillitis biasanya nadinya cepat (takikardi)


2. Suhu

Bila terjadi infeksi tonsillitis suhu akan naik (hipertermi, > 37,5oC)
3. Pernapasan

Pada pasien dengan tonsillitis memiliki respirasi yang meningkat. B1 (breathing) Inspeksi Pada pasien dengan tonsillitis terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi pernafasan, serta penggunaan otot bantu pernafasan. Palpasi Ekspansi paru meningkat, fremiktus traktil dada berkurang atau tidak ada Perkusi Pada dada terdengar suara normal, diafragma mendatar dan menurun, penanjakan hati mengecil, batas paru dan hati lebih rendah, pekak jantung berkurang.

B2 (Blood) Pada pasien dengan tonsilitis terlihat peningkatan tekanan darah dan nadi, serta terjadi pula peningkatan suhu karena infeksi pada tonsil sehingga terjadi pembengkakan tonsil. B3 (brain) Pada infeksi perlu dikasi tingkat kesadarannya. Di samping itu, di perlukan pemeriksaan GCS, untuk menentukan tingkat kesadaran klien apakah composmentis, somnolen,dll B4 (Bladder) Pengukuran volume output urine perlu dilakukan karena berkaitan dengan kecukupan intake cairan, output urine menurun B5 (Bowel) - Mual/muntah (anoreksia) - Nafsu makan memburuk - Tidak mampu mengonsumsi makanan karena pembengkakan tonsil - Penurunan berat badan menetap. B6 (Bone) Penderita tonsillitis merasa keletihan, kelemahan secara umum memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal tersebut diakibatkan karena kebutuhan nutrisi dan cairan pasien berkurang akibat nyeri saat menelan makanan dan minuman.
d. Pola kebiasaan sehari-hari 1. Nutrisi

Pada anak yang memiliki gejala tonsillitis akan memiliki keluhan susah untuk menelan, nafsu makan berkurang, mengeluh sakit ketika menelan, kadang-kadang anoreksia. Hal itu ditandai dengan keadaan mulut kering. Biasanya dengan keluhan ini berat badan anak menurun yang disebabkan oleh kurangnya nutrisi dari makanan yang bisa masuk ke dalam tubuh akibat dari tonsillitis

2. Istirahat dan Tidur

Pasien yang menderita tonsillitis akan mengalami gangguan tidur. Hal ini disebabkan karena nyeri yang dimiliki akibat dari pembengkakan pada tonsil. Kesulitan tidur ini akan menghambat pertumbuhan dan daya tahan tubuh dari anak.
3. Hygiene Personal

Pasien yang menderita tonsilitis mandi 2x sehari, saat BAB dan BAK peampres langsung diganti oleh ibu. Terpenuhi karena Hygiene Personalnya dipenuhi oleh Ibunya dan dengan bantuan perawat
4. Eliminasi

Haluaran urine pada anak yang menderita tonsillitis menurun. Hal itu disebabkan oleh ketidak mampuan anak untuk menelan air, sehingga anak tidak mau meminum air akibat rasa sakit yang dirasakan ketika menelan. Hal itu menyebabkan haluaran urin menjadi menurun. 2. Diagnosa Keperawatan Pre Operasi 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi nafas karena adanya benda asing ; produksi secret berlebih 2. Gangguan pola nutrisi berhubungan dengan nyeri telan 3. Gangguan pengaturan suhu tubuh hipertermi sehubungandengan infeksi akut oleh mikroorganisme 4. Gangguan kebutuhan istirahat tidur sehubungandengan adanya nyeri pada daerah tonsil 5. kecemasan s/d kurangnya pengetahuan atau informasi tentang penyakit yang diderita oleh klien. Post operasi 1. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan jaringan ; insisi bedah 2. Resiko perdarahan berhubungan dengan rapuhnya jaringan post op

3. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan resiko perdaran akibat tindakan operatic tondilektomi 4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penyebaran kuman akibat invasif pasca operatif. 3. Intervensi Keperawatan Pre operasi
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan dengan

obstruksi nafas karena adanya benda asing; produksi secret berlebih. Tujuan : bersihan jalan nafas efektif Kriteria hasil : Tidak ada penumpukan sekrret Frekuensi pernapasan dalam batas normal Tidak ada bunyi nafas tambahan

Intervensi : a. Kaji / pantau frekuensi pernafasan R/ : Takipnea dapat ditemukan pada penerimaan atau selama adanya proses infeksi akut. b. Auskutasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas R/ : Adanya obstruksi jalan nafas dapat / tidak dimanifestasikan adanya bunyi nafas adventisius. c. Catat adanya dispnea, gelisah, ansiebis distress pernafasan, penggunaan otot bant pernafasan R/ : Disfungsi pernafasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan dirumah sakit. d. Anjurkan pasien untuk posisi yang nyaman, mis : Peninggian kepala tempat tidur, duduk pada sandaran tempat tidur. R/ : Peninggian tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi

e. Lakukan oral hygiene dengan teratur. R/ : Oral hygiene dapat mencegah proses infeksi berlanjut dan dapat mengontrol pengeluaran secret. f. Bila perlu lakukan suctioning R/ : Suctioning membantu pengeluaran secret pada pasien yang tidak mampu mengeluarkan secret secara mandiri melalui bentuk efektif. g. Oksigenasi R/ : Pemberian oksigen dapat membantu klien mencukupi kebutuhan oksigen yang mungkin tidak tercukupi dengan baik akibat obstruksi jalan nafas.
2. Gangguan pola nutrisi berhubungan dengan nyeri telan

Tujuan : nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : Nafsu makan meningkat Peningkatan BB

Intervensi :
a. Tentukan kalori harian

R/ : Dengan mengetahui kalori yang dibutuhkan dapat mengetahui jumlah diit yang diperlukan.
b. Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat

R/ : Nutrisi yang adekuat dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan mempercepat penyembuhan luka.
c. Beri dorongan individu untuk makan, khususnya makanan lunak.

R/ :.Asupan makanan yang cukup dan adekuat dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
d. Berikan ketenangan, suasana makan yang rileks

R/ :.Suasana yang nyaman meningkatkan semangat klien untuk makan.

e. Sajikan makanan porsi kecil tapi sering

R/ : Makanan dalam porsi kecil dapat mengurangi intensitas dalam menelan.


3. Hipertermi berhubungan dengan infeksi akut oleh mikroorganisme

Tujuan : hipertermi teratasi Kriteria hasil : Suhu tubuh kembali normal

Intervensi : a. Kaji TTV R/ : Dengan mengkaji tingkat demam maka akan diketahui seberapa berat infeksi yang dialami. b. Beri kompres hangat pada daerah frontal / dahi R/ : Kompres hangat membantu vasodilatasi pembuluh darah dikepala sehingga mempercepat penguapan panas. c. Anjurkan keluarga klien untuk memakaikan pakaian yang tipis pada klien R/ : Pakaian tipis membantu proses radiasi pada tubuh secara tidak langsung. d. Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan obat golongan antipiretik R/ : Pemberian obat antipiretik bertujuan untuk menurunkan panas.
4. Gangguan kebutuhan istirahat tidur sehubungandengan adanya nyeri

pada daerah tonsil Tujuan : istirahat/tidur terpenuhi Kriteria hasil : Klien tidak mengeluh sulit tidur Klien tampak kuat dan segar

Intervensi : a. Atur posisi tidur yang baik untuk klien R/ : posisi tidur yang baik dapat menjamin kenyamanan saat tidur b. Batasi jam berkunjung bagi tamu

R/ : Berikan kesempatan kepada klien untuk beristirahat tanpa merasa terganggu. c. Ciptakan suasana yang nyaman dan tenang R/ : Suasana nyaman dan tenang membantu mempercepat istirahat tidur bagi klien d. Berikan pengertian kepada klien tentang pentingnya istirahat tidur R/ : Pentingnya istirahat dan tidur sebab dapat memicu keadaan tubuh untukk mengarah ke proses penyembuhan yang cepat.
5. Kecemasan

berhubungan dengan kurangnya pengetahuan atau

informasi tentang penyakit yang diderita oleh klien. Tujuan : kecemasan teratasi Kriteria hasil : klien dan keluarga tidak bertanya lagi tentang penyakit yang

diderita Intervensi : a. Kaji tingkat kecemasan klien dengan mendengarkan keluhan klien dan keluarganya R/ : Dengan mendengarkan semua keluhan yang diutarakan, perawat bisa mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan yang dialami dan dapat memberikan intervensi yang selanjutnya. b. Berikan informasi tentang penyakit yang sedang dideritai R/ : Dengan memberikan informasi dan penjelasan klien dapat mengerti apa yang sedang dideritanyadan klien akan dapat mengurangi rasa cemasnya. c. Anjurkan klien untuk selalu berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa R/ : Dengan berdoa serta mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa maka yakinlah bahwa kecemasan dan penyakit klien pasti bisa berkurang dan sembuh.

d. Memberikan perawatan yang baik dan ramah pada klien R/ : Dengan memberikan peleyanan yang baik dan ramah pada

klien maka klien akan merasa diperhatikan sehingga klien menjadi tenang dan nyaman. Post operasi 1. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan jaringan; insisi bedah Tujuan : nyeri hilang atau berkurang Kriteria hasil : Klien tidak menunjukan ekspresi kesakitan Klien dapat beristirahat dengan tenang

Intervensi :
a. Kaji tingkat nyeri

R/ : menentukan intervensi selanjutnya


b. berikan tindakan nyaman (pijatan punggung,perubhan posisi) dan

aktifitas hiburan R/ : Meningkatkan relaksasi dan membantu pasien memfokuskan perhatian pd sesuatu disamping diri sendiri/ketidaknyamanan
c. Dorong pasien untuk mengeluarkan saliva atau penghisap mulut

dengan hati-hati bila tdk mampu menelan R/ : Menelan menyebabkan aktifitas otot ygdpt menimbulkan nyeri karena adanya edema/regangan jahitan
d. Selidiki perubahan karakteristik nyeri,periksa mulut jahitan atau

trauma baru R/ : Dapat menunjukkan terjadinya komplikasi yg memerlukan evaluasi lanjut/intervensi jaringan yg terinflamasi dan kongesti,dpt dgn mudah mengalami trauma dgn penghisapan kateter,selang makanan
e. Catat indikator non verbal dan respon automatik terhadap

nyeri,evaluasi efek analgesik R/ : Alat menentukan adanya nyeri,kebutuhan terhadap keefektifan obat

f.

Anjurkan penggunaan perilaku manajemen stress contoh : teknik relaksasi, bimbingan imajinasi R/ : Meningkatkan rasa sehat, tidak menurunkan kebutuhan analgesic dan meningkatkan penyembuhan

g. Berikan irigasi oral, anestesi sprei dan kumur-kumur. Anjurkan

pasien melakukan irigasi sendiri R/ : Memperbaiki kenyamanan, meningkatkan penyembuhan dan menurunkan bau mulut. Bahan pencuci mulut berisi alcohol / fenol harus dihindari karena mempunyai efek mengeringkan.
h. Kolaborasi pemberian analgetik

R/ : Derajat nyeri sehubungan dengan luas dan dampak psikologi pembedahan sesuai dengan kondisi tubuh 2. Resiko perdarahan berhubungan dengan rapuhnya jaringan post op Tujuan : tidak terjadi perdarahan Kriteria hasil : Tidak menunjukan adanya tanda-tanda perdarahan

Intervensi : a. Beri kalung es disekitar area operasi R/ : Es mengakibatkan vasokontriksi pembuluh darah sehingga menekan perdarahan b. Beri es cream ( yang halus, tidak merangsang batuk ), sesering mungkin R/ : Batuk menyebabkan penekanan pada vaskuler sehingga mempertinggi resiko perdarahan c. Hindari makanan panas dan kasar selama 1 minggu R/ : Makanan panas mengakibatkan vasodilatasi pembuluh darah yang meningkatkan resiko perdarahan, makanan kasar bisa melukai area post operasi yang bisa menyebabkan perdarahan.

3. Resiko kekurangan vol. cairan berhubungan dengan resiko perdarahan akibat tindakan operatif tondilektomi. Tujuan : cairan tubuh terpenuhi Kriteria hasil : TTV stabil, palpasi denyut nadi dengan kualitas yang baik Turgor kulit normal, membrane mukosa lembab Pengeluaran urine individu yang sesuai

Intervensi : a. Catat pemasukan dan pengeluaran catatan inroperasi R/ : Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam

mengidentifikasi pengeluaran cairan / kebutuhan penggantian dan pilihan yang mempengaruhi intervensI. b. Munculnya mual / muntah, riwayat pasien mabuk perjalanan R/ : Semakin lama durasi anestesi, semakin besar rasio mual yang mempunyai kecenderungan mabuk perjalanan mempunyai resiko mual/ muntah yang lebih tinggi pada masa pascaoperasi. c. Pantau suhu kulit, palpasi denyut perifer R/ : Kulit yang dingin / lembab, denyut yang lemah

mengindikasikan untuk penggantian cairan tambahan. d. Berikan cairan parenteral, sesuai petunjuk R/ : Gantikan kehilangan cairan yang telah didokumentasikan. Catat waktu penggantian nol rupulasi yang potensial bagi penurunan komplikasi. 4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penyebaran kuman akibat invasif pasca operatif. Tujuan : infeksi tidak terjadi Kriteria hasil : tidak menunjukan adanya tanda-tanda infeksi suhu badan normal

Intervensi : a. Kaji adanya tanda-tanda infeksi. R/ : Deteksi dini terjadinya infeksi. b. Observasi TTV. R/ : Mengetahui keadaan umum klien dan Merupakan tanda adanya infeksi apabila terjadi peradangan c. Kolaborasi dengan dokter pemberian antibiotik. R/ : Antibiotik dapat mencegah sekaligus membunuh kuman penyakit untuk berkembang biak

Beri Nilai