Anda di halaman 1dari 21

POLRI DAERAH METRO JAYA DIT RESNARKOBA

POLRI DAERAH METRO JAYA DIT RESNARKOBA RAPAT 25 jan 12 STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR NOMOR : SOP/
RAPAT 25 jan 12
RAPAT
25 jan 12

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

NOMOR : SOP/

/I/2012

TENTANG PENGAWASAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA DI LINGKUNGAN DIREKTORAT RESERSE NARKOBA POLDA METRO JAYA

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:

a.

Penyelidik adalah pejabat Polisi Negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk melakukan penyelidikan;

b.

Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang;

c.

Penyidik adalah pejabat Polisi Negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan;

d.

Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya;

e.

Pengawas Penyidikan adalah pejabat Polisi Negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh Peraturan Kapolri untuk melakukan pengawasan penyidikan;

f.

Pengawasan Penyidikan adalah serangkaian tindakan pengawas penyidikan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Perkap ini untuk menjamin proses penyelidikan dan / atau penyidikan tindak pidana dilakukan secara profesional, proporsional, transparan dan akuntabel;

g. Atasan Penyidik

2

g.

Atasan penyidik adalah penyidik yang diberi wewenang dalam Perkap ini untuk memberi perintah tentang pelaksanaan penyelidikan dan / atau penyidikan dan pengawasan penyidikan;

h.

Pejabat Struktural adalah pejabat Polisi Negara Republik Indonesia yang diberi wewenang sesuai dengan jabatannya pada fungsi teknis kepolisian yang melaksanakan kegiatan penyelidikan dan / atau penyidikan;

i.

Administrasi penyidikan adalah penatausahaan dan segala kelengkapan yang disyaratkan undang-undang dalam proses penyidikan, meliputi pencatatan, pelaporan, pendataan dan pengarsipan atau dokumentasi untuk menjamin ketertiban, kelancaran dan keseragaman administrasi baik untuk kepentingan peradilan, operasional maupun pengawasan;

j.

Tata Naskah disingkat Takah adalah kegiatan komunikasi tertulis antara atasan penyidik dengan penyidik dan pengawas penyidikan tentang proses penyelidikan dan / atau penyidikan tindak pidana termasuk pengawasan penyidikan yang menjadi tanggung jawabnya;

k.

Laporan Hasil Penyelidikan disingkat LHP adalah Laporan tertulis yang dibuat oleh penyelidik dan diketahui oleh penyidik untuk disampaikan kepada Atasan Penyidik tentang hasil penyelidikan yang telah dilaksanakan disertai dengan pendapat dan kesimpulan penyelidik;

l.

Laporan Kemajuan disingkat Lapju adalah Laporan tentang perkembangan hasil penyidikan tindak pidana yang dibuat oleh penyidik atas permintaan Atasan Penyidik atau atas permintaan Pengawas penyidikan melalui Atasan penyidik;

m.

Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan disingkat SP2HPL adalah Pemberitahuan tertulis kepada pelapor atau pengadu tentang hasil kegiatan penyelidikan bahwa ditemukan atau tidak ditemukan adanya perbuatan pidana;

n.

Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan disingkat SP2HP adalah Pemberitahuan tertulis kepada pelapor atau pengadu tentang perkembangan kegiatan penyidikan yang telah dilakukan;

o.

Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Pengawasan Penyidikan disingkat SP2HP2 adalah Pemberitahuan tertulis kepada pengadu komplain tentang perkembangan hasil pengawasan penyidikan;

p.

Penghentian Penyelidikan adalah Kegiatan menghentikan proses penyelidikan berdasarkan hasil gelar perkara yang menyatakan bahwa perkara yang diselidiki bukan merupakan tindak pidana dan / atau tidak ditemukan cukup bukti tentang adanya perbuatan pidana dengan menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyelidikan disingkat SP2L;

q.

Penghentian Penyidikan adalah kegiatan menghentikan proses penyidikan karena tidak cukup bukti, bukan merupakan tindak pidana atau demi hukum berdasarkan hasil gelar perkara dengan menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan disingkat SP3 sebagaimana diatur di dalam Hukum Acara Pidana;

r. Supervisi

3

r. Supervisi adalah salah satu kegiatan pengawasan penyidikan yang meliputi kegiatan penelitian terhadap administrasi penyidikan, memberikan bimbingan teknis dan arahan serta dapat diikuti dengan gelar perkara;

s. Koreksi adalah salah satu kegiatan pengawasan penyidikan yang meliputi memberikan arahan perbaikan terhadap administrasi penyidikan, tindakan penyidik dan sikap perilaku penyidik untuk menjamin kelancaran proses penyidikan tindak pidana;

t. Asistensi adalah salah satu kegiatan pengawasan penyidikan yang meliputi bimbingan dan konsultasi dalam upaya mencegah dan mengatasi hambatan dalam proses penyidikan tindak pidana;

u. Gelar Perkara adalah salah satu kegiatan pengawasan penyidikan yang dilakukan dalam bentuk focus group discussion (diskusi kelompok yang terfokus) untuk memeriksa hasil penyelidikan dan / atau penyidikan dalam rangka memutuskan tindak lanjut proses penyelidikan dan / atau penyidikan termasuk memeriksa berkas perkara hasil penyidikan yang diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum oleh pengadilan;

Dasar Hukum :

Pasal 2

1. Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP dan PP 27 tahun 1993 tentang Pelaksanaan KUHAP

2. Undang-Undang RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI

3. Pedoman Sidik (Juklak dan Juknis), Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009, Peraturan Pemerintah, Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997, Undang-Undang RI No. 36 Tahun 2009, Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1997 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1999.

4. Perkap 12 Tahun 2009

5. Perkap 22 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Kewilayahan.

6. Perkap Nomor : ……/ tahun 2012 tentang Pengawasan Penyidikan Tindak Pidana di Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

7. Perkap No. 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polri.

Pasal 3

Maksud dan Tujuan

a. Maksud :

Maksud membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang Pegawasan Penyidikan tindak pidana dilingkungan Dit Resnarkoba Polda Metro Jaya sebagai pedoman dan petunjuk untuk :

1. Membantu kelancaran penyidikan melalui pencegahan terjadinya hambatan akibat kesalahan tindakan penyidik.

2. Meningkatkan

4

2. Meningkatkan hasil penyidikan dinilai dari aspek penegakan maupun pelayanan Polri.

3. Menghindari terjadinya pemanjangan rantai Birokrasi yang dapat menyulitkan penyidik ataupun para pihak yang berkepentingan (Korban, saksi, tersangka).

4. Menjamin prinsip transparansi dan akuntabilitas kinerja.

b. Tujuan :

1. Membantu terwujudnya transparansi pelayanan penyidikan.

2. Membantu menyelesaikan tunggakan perkara.

3. Membantu Direktur untuk mengawasi penyidikan perkara.

4. Membantu melaksanakan pembimbingan dan konsultasi penyidikan.

5. Memberikan saran, tindakan, terhadap penyelidikan dan penyidikan perkara.

6. Koordinasi dengan Irwasda, Bid Propam, Bidkum, Instansi atau pihak terkait atas temuan hasil pengawasan terhadap penyidikan.

Pasal 4

AZAS-AZAS

Penyelenggaraan pengawasan dan pengendalian penanganan perkara serta pelaksanaan penyidikan perkara tindak pidana di lingkungan tugas Dit Resnarkoba Polda Metro Jaya menggunakan azas-azas sebagai berikut :

a. Legalitas, yaitu setiap tindakan penyidik senantiasa berdasarkan peraturan perundang-undangan;

b. Profesionalitas adalah setiap penyidik didalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tugas dan fungsi nya berdasarkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku

c. Proporsionalitas, yaitu setiap penyidik melaksanakan tugasnya sesuai legalitas kewenangannya masing-masing;

d. kepastian hukum, yaitu setiap tindakan penyidik dilakukan untuk menjamin tegaknya hukum dan keadilan;

e. kepentingan umum, yaitu setiap penyidik Polri lebih mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi dan/atau golongan;

f. akuntabilitas, yaitu setiap penyidik dapat mempertanggungjawabkan tindakannya secara yuridis, administrasi dan teknis;

g. transparansi, yaitu setiap tindakan penyidik memperhatikan asas keterbukaan dan bersifat informatif bagi pihak-pihak terkait hanya terbatas pada perkembangan penyidikan dan bukan merupakan teknis penyidikan;

h. efektivitas dan efisiensi waktu penyidikan, yaitu dalam proses penyidikan, setiap penyidik wajib menjunjung tinggi efektivitas dan efisiensi waktu sesuai dengan kriteria tingkat kesulitan penyidikan;

i. kredibilitas, yaitu setiap penyidik memiliki kemampuan dan keterampilan yang prima dalam melaksanakan tugas penyidikan.

5

Pasal 5 RUANG LINGKUP

Ruang lingkup pengawasan penyidikan di lingkungan Dit Resnarkoba Polda Metro Jaya meliputi :

a. Aspek administrasi penyelidikan dan / atau penyidikan;

b. Aspek teknis penyelidikan dan / atau penyidikan;

c. Aspek koordinasi dengan instansi terkait;

d. Aspek Perilaku Penyidik;

e. Aspek perilaku Pengawas penyidikan;

f. Hal hal lain yang berkaitan dengan penyelidikan dan / atau penyidikan.

Pasal 6

a. Proses penyelidikan dan / atau penyidikan perkara harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

b. Dalam proses penyelidikan dan/atau penyidikan perlu dilakukan pengawasan.

Pasal 7

Pengawas Penyidikan dipimpin oleh Kabag Wassidik dibantu oleh para Kanit Wassidik dan para Penyidik Utama.

Pasal 8

ANGGARAN

Didalam melaksanakan kegiatan, pengawasan penyidikan didukung anggaran dari Daftar Isian Perencanaan Anggaran (DIPA).

(1)

6

BAB II

PENGAWASAN PENYIDIKAN

Bagian Kesatu ASPEK ADMINISTRASI

Pasal 9

Pengawasan penyidikan terhadap aspek administrasi penyelidikan dan / atau penyidikan dilakukan oleh :

a. Atasan Penyidik sesuai dengan tingkat jabatan yang secara struktural membawahi penyidik;

b. Pengawas Penyidikan atas perintah Atasan penyidik;

c. Pengemban

fungsi

Itwasda

pengaduan komplain;

dan

Propam

dalam

rangka

melayani

(2) a. Pengawasan penyidikan terhadap aspek administrasi penyelidikan dan atau penyidikan sebagaimana ayat (1) huruf a dilaksanakan dengan tata naskah (Takah);

b. Pengawasan penyidikan terhadap aspek administrasi penyelidikan dan / atau penyidikan sebagaimana ayat (1) huruf b dilaksanakan dengan gelar perkara, supervisi, koreksi dan asistensi;

(3)

Pengawasan penyidikan terhadap aspek administrasi penyelidikan dan / atau penyidikan sebagaimana ayat (1) huruf c dilaksanakan dengan cara supervisi, koreksi dan asistensi melalui Atasan penyidik yang dikoordinasikan dengan pengawas penyidikan sebagaimana ayat (1) huruf b.

Bagian Kedua ASPEK TEKNIS

Pasal 10

(1) Pengawasan penyidikan terhadap aspek teknis penyelidikan dan atau penyidikan tindak pidana narkotika, psikotropika, dan bahan-bahan berbahaya lainnya, dilakukan oleh:

a. Atasan Penyidik sesuai dengan tingkat jabatan yang secara struktural membawahi penyidik;

b. Pengawas Penyidikan atas perintah Atasan penyidik;

c. Pengemban fungsi Itwasda dan Propam dalam rangka melayani pengaduan komplain;

(2) Pengawasan

7

(2) Pengawasan penyidikan terhadap aspek teknis penyelidikan dan / atau penyidikan sebagaimana ayat (1) huruf a dilaksanakan dengan cara melakukan supervisi, koreksi, asistensi, dan gelar perkara terhadap teknis penyelidikan dan / atau penyidikan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencegah terjadinya penyimpangan;

(3) Pengawasan penyidikan terhadap aspek teknis penyelidikan dan / atau penyidikan sebagaimana ayat (1) huruf b dilaksanakan dengan cara melakukan supervisi, koreksi, asistensi, dan gelar perkara terhadap teknis penyelidikan dan / atau penyidikan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencegah terjadinya penyimpangan, dalam melakukan kegiatan upaya paksa, penyidik berkoordinasi dengan Pengawas Penyidikan;

(4) Pengawasan penyidikan terhadap aspek teknis penyelidikan dan / atau penyidikan sebagaimana ayat (1) huruf c dilaksanakan dengan cara supervisi, koreksi, asistensi, dan gelar perkara melalui Atasan penyidik yang dikoordinasikan dengan pengawas penyidikan sebagaimana ayat (1) huruf b dalam rangka menjawab pengaduan komplain;

Bagian Ketiga ASPEK KOORDINASI DENGAN INSTANSI TERKAIT

(1)

Pasal 11

Pengawasan penyidikan terhadap aspek koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka sistem peradilan pidana, penyelidikan dan/ atau penyidikan tindak pidana narkotika, psikotropika dan bahan-bahan berbahaya lainnya dilakukan oleh :

a. Atasan Penyidik sesuai dengan tingkat jabatan yang secara struktural membawahi penyidik;

b. Pengawas Penyidikan atas perintah Atasan penyidik;

c. Pengemban

fungsi

Itwasda

pengaduan komplain;

dan

Propam

dalam

rangka

melayani

(2) Pengawasan penyidikan terhadap aspek koordinasi dengan instansi terkait pada sistem peradilan pidana dalam rangka penyelidikan dan / atau penyidikan tindak pidana sebagaimana ayat (1) huruf a dan b dilaksanakan dengan cara melakukan supervisi, koreksi, asistensi, gelar perkara dan bantuan terhadap penyidik untuk melakukan koordinasi lintas sektoral dalam rangka sistem peradilan pidana narkotika dan bahan-bahan berbahaya lainnya untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan membantu mengatasi hambatan penyidikan;

(3) Pengawasan

8

(3) Pengawasan penyidikan terhadap aspek koordinasi dengan instansi terkait pada sistem peradilan pidana dalam rangka penyelidikan dan / atau penyidikan tindak pidana sebagaimana ayat (1) huruf c dilaksanakan dengan cara melakukan supervisi, koreksi, asistensi, gelar perkara melalui Atasan penyidik yang dikoordinasikan dengan pengawas penyidikan sebagaimana ayat (1) huruf b guna menjawab pengaduan komplain sekaligus membantu penyidik mengatasi hambatan penyidikan;

Bagian Keempat ASPEK PERILAKU PENYIDIK

Pasal 12

(1) Pengawasan penyidikan terhadap aspek perilaku penyidik dalam rangka penyelidikan dan / atau penyidikan tindak pidana narkotika, psikotropika dan bahan-bahan berbahaya lainnya dilakukan oleh :

a. Atasan Penyidik sesuai dengan tingkat jabatan yang secara struktural membawahi penyidik;

b. Pengawas Penyidikan atas perintah Atasan penyidik;

c. Pengemban

fungsi

Itwasda

pengaduan komplain;

dan

Propam

dalam

rangka

melayani

(2) Pengawasan penyidikan terhadap aspek perilaku penyidik dalam rangka penyelidikan dan / atau penyidikan tindak pidana narkotika, psikotropika dan bahan-bahan berbahaya lainnya sebagaimana ayat (1) huruf a dan b dilaksanakan dengan cara melakukan supervisi, koreksi, asistensi, gelar perkara guna mencegah terjadinya penyimpangan dan membantu mengatasi hambatan penyidikan;

(3) Pengawasan penyidikan terhadap aspek perilaku penyidik dalam rangka penyelidikan dan / atau penyidikan tindak pidana narkotika, psikotropika dan bahan-bahan berbahaya lainnya sebagaimana ayat (1) huruf c dilaksanakan dengan cara melakukan supervisi, koreksi, asistensi, dan gelar perkara melalui Atasan penyidik yang dikoordinasikan dengan Pengawas Penyidikan sebagaimana ayat (1) huruf b dalam rangka menjawab pengaduan komplain sekaligus untuk memperbaiki sikap perilaku penyidik agar tidak melakukan penyimpangan;

(1)

Pasal 13

Dalam hal Penyidik yang diduga melakukan pelanggaran disiplin atau kode etik profesi Polri, sebelum diproses melalui mekanisme acara hukum disiplin atau kode etik profesi Polri harus dilakukan pemeriksaan pendahuluan oleh Pengawas penyidikan atas perintah Atasan penyidik. (2) Setelah

9

(2) Setelah mendapatkan petunjuk bahwa telah terjadi pelanggaran disiplin atau pelanggaran kode etik profesi Polri yang tidak cukup dihukum dengan pemberian sanksi administrasi, pemeriksaan selanjutnya diserahkan kepada fungsi Propam atas perintah Atasan penyidik dalam waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah dilaksanakan pemeriksaan pendahuluan.

Bagian Kelima ASPEK PERILAKU PENGAWAS PENYIDIKAN

Pasal 14

(1) Pengawas penyidikan dalam melakukan pengawasan penyidikan tindak pidana, tidak boleh bertentangan dengan Peraturan dan Perundang- Undangan yang berlaku serta tidak bersifat menghambat proses penyidikan;

(2) Pengawas penyidikan dilarang mengintimidasi, menakut-nakuti, mempengaruhi, dan/atau melepas jabatan penyidik dengan alasan apapun yang bertentangan dengan hukum;

(3)

(1)

Pengawas penyidikan dilarang mengeluarkan salah seorang atau lebih penyidik yang tergabung dalam Tim Penyelidikan/Penyidikan apabila :

a. Tidak ada permintaan tertulis dari penanggung jawab kegiatan tentang dugaan adanya penyimpangan atau keterlibatan atau perbenturan kepentingan penyelidik/penyidik terhadap perkara yang ditangani;

b. Tidak ada permintaan secara pribadi penyelidik/penyidik atas suatu kegiatan yang dilaksanakan dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan;

c. Tidak ditemukan adanya perbuatan melawan hukum, atau penyalahgunaan kewenangan, atau perbuatan lainnya yang berdampak kontingensi (protes, unjuk rasa, atau anarkisme masyarakat).

d. Pengawas penyidikan dilarang membuat Laporan yang bertentangan dengan hasil temuan selama pelaksanaan pengawasan.

Pasal 15

Pengawasan penyidikan terhadap aspek perilaku dimaksudkan untuk mencegah adanya :

a. Tindakan kekerasan dan / atau pelanggaran Hak Asasi Manusia selama proses penyidikan berlangsung;

b. Penyalahgunaan wewenang;

c. Diskriminasi

c. Diskriminasi

penyidikan;

dan

10

keberpihakan

dalam

penyelidikan

dan

/

atau

d. Pelanggaran terhadap hukum disiplin dan kode etik profesi Polri;

(2)

Melaksanakan pengawasan secara teliti, sungguh-sungguh, dan bertanggung jawab dan tidak bertendensi negatif;

(3)

Menjawab pengaduan masyarakat secara tertulis dan atau lisan berdasarkan hasil pengawasan yang telah dilakukan dengan pengawasan secara teliti, sungguh-sungguh, dan tidak bertendensi negatif;

(4)

Menjawab

pengaduan

masyarakat

berdasarkan

hasil

pengawasan

yang

telah dilakukan.

Pasal 16

Pemeriksaan pendahuluan sebagaimana dimaksud Pasal 13 dilaksanakan oleh Pengawas penyidikan dengan cara sebagai berikut :

1. Melakukan penelitian administrasi penyelidikan dan / atau penyidikan;

2. Wawancara / interogasi terhadap penyidik terkait proses teknis dan perilaku penyidik dalam pelaksanakan penyelidikan dan / atau penyidikan;

3. Melakukan konfirmasi kepada pihak pihak terkait yang diperlukan;

4. Untuk memudahkan pemeriksaan pendahuluan, Pengawas penyidikan menyiapkan daftar pertanyaan singkat berkaitan dengan administrasi penyidikan, teknis penyidikan dan sikap perilaku penyidik yang dapat diberi tanda untuk kecepatan dan kemudahan pemeriksaan;

5. Membuat laporan hasil pemeriksaan pendahuluan yang berisi tentang kesimpulan dan rekomendasi kepada atasan penyidik;

BAB III

KRITERIA DAN TINGKAT KESULITAN PERKARA

Bagian Kesatu KRITERIA PERKARA

Pasal 17

1. Perkara pidana Narkotika sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009.

2. Perkara pidana Psikotropika sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997.

3. Perkara

11

3. Perkara pidana yang berkaitan dengan Bahan-Bahan berbahaya antara lain :

a. Undang-Undang RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;

b. Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan;

c. Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen;

d. Peraturan Menteri, dan Perda.

Bagian Kedua TINGKAT KESULITAN PERKARA

Pasal 18

Tingkat kesulitan perkara terdiri atas perkara : sedang, sulit, dan sangat sulit.

1. Perkara sedang adalah perkara yang termasuk dalam kategori perkara tertangkap tangan dengan satu tersangka (ada barang bukti dan minimal 2 / dua orang saksi).

2. Perkara sulit adalah perkara yang dalam kategori perkara diawali tertangkap tangan dengan tersangka lebih dari 1 / satu orang dan atau jaringan nasional (ada barang bukti dan minimal 2 / dua orang saksi).

3. Perkara sangat sulit adalah perkara yang dalam kategori perkara diawali tertangkap tangan dengan tersangka lebih dari 1 / satu orang dan atau jaringan internasional (ada barang bukti dan minimal 2 / dua orang saksi).

Pasal 19

1. Penentuan tingkat kesulitan perkara berdasarkan hasil Gelar Perkara tingkat awal dari hasil penyidikan.

2. Tingkat kesulitan perkara dituangkan di dalam Laporan Hasil Gelar Perkara tingkat awal dan Rencana Penyidikan;

3. Penanganan perkara pidana sedang, sulit dan sangat sulit, yang dalam pencarian alat bukti dan/ atau tersangka memerlukan tambahan biaya di luar biaya yang telah ditentukan berdasarkan indeks harga satuan, maka penyidik dapat mengajukan permintaan tambahan biaya dengan membuat Laporan Kemajuan dan melampirkan hasil Gelar Perkara kepada Atasan Langsung/Pejabat Struktural berdasarkan persetujuan Pengawas Penyidikan.

12

BAB IV

SYARAT ADMINISTRASI DALAM PENGAWASAN

Bagian Kesatu Dilakukan oleh Pejabat Struktural

(1)

Pasal 20

Pengawasan administrasi dan kegiatan penyelidikan dan atau penyidikan yang dilakukan pejabat struktural dituangkan dalam Tata Naskah (Takah);

(2) Pengawasan melekat yang dilakukan oleh pejabat struktural dalam bentuk pengawasan langsung dituangkan di dalam laporan hasil Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a;

(3)

Laporan hasil kegiatan Pengawasan tersebut ditandatangani oleh penanggung jawab kegiatan (Kanit) dan diketahui oleh pejabat yang melakukan pengawasan (Kasubdit).

Bagian Kedua Dilakukan oleh Pengawas Penyidikan

(1)

Pasal 21

Pengawasan administrasi dalam kegiatan penyelidikan dan atau penyidikan yang dilakukan Pengawas Penyidikan dituangkan dalam supervisi, koreksi, asisensi dan gelar perkara apabila terdapat :

a. Pengaduan/komplain

penyidik;

masyarakat

terhadap

perkara

yang

ditangani

b. Dugaan terjadi penyimpangan terhadap penanganan perkara baik di tingkat penyelidikan ataupun penyidikan yang diketahuinya atau dilaporkan kepada institusi Polri;

c. Perkara dengan tingkat kesulitan tertentu yang sulit diungkap / diselesaikan oleh penyidik, sehingga diperlukan supervisi, koreksi, dan /atau asistensi atas koordinasi penyidik dan/atau permintaan atasan penyidik/atasan langsung/ pejabat struktural/ pembina fungsi;

(2)

Pengawas Penyidikan melakukan pengawasan berdasarkan Surat Perintah dari atasan penyidik terhadap semua laporan polisi, pengaduan masyarakat dan laporan informasi yang ditangani oleh penyidik untuk :

(1).

memberi arahan dan bantuan demi kelancaran penyidikan;

(2).

melakukan pengawasan terhadap tindakan penyidik;

(3) mencegah

13

(3). mencegah terjadinya hambatan penyidikan;

(4). mengatasi hambatan yang menyulitkan penyidikan;

(5). menjamin prinsip transparansi dan akuntabilitas kinerja penyidik;

(6). meningkatkan kinerja penyidik di bidang penegakan hukum maupun

pelayanan Polri

(7). melaporkan hasil penyidikan dan/atau perkembangan penyidikan kepada

pimpinan / pejabat yang berwenang.

BAB V GELAR PERKARA

 

Pasal 22

Gelar Perkara terdiri dari :

1.

gelar perkara biasa dan

2.

gelar perkara khusus.

 

Pasal 23

(1)

Gelar perkara biasa sebagaimana dimaksud pada pasal 22 angka 1 dilaksanakan pada tahap :

a

awal penyidikan;

b.

pertengahan penyidikan;

c.

akhir penyidikan;

(2)

Gelar perkara biasa diselenggarakan oleh Tim Penyidik dan atau Pengawas penyidikan atas perintah/ persetujuan atasan penyidik ;

(3)

Gelar perkara biasa dipimpin oleh Atasan Penyidik dan dihadiri Pengawas Penyidikan atau pejabat yang berwenang sesuai dengan jenis gelar yang

dilaksanakan.

(4) Dalam hal sangat diperlukan, penyelenggaraan gelar perkara Biasa dapat menghadirkan unsur-unsur terkait lainnya dari fungsi Itwasda, Propam, Bidkum, unsur Sistem Peradilan Pidana (SPP), instansi terkait lainnya dan/atau pelapor, terlapor dan advokat sesuai dengan kebutuhan gelar perkara.

(1)

Pasal 24

Gelar perkara biasa yang dilaksanakan tahap awal penyidikan sebagaimana dimaksud pada pasal 23 ayat (1) huruf a, dengan tujuan:

a. Meningkatkan tindakan penyelidikan menjadi tindakan penyidikan; b. Menentukan

14

b. Menentukan cukup unsur atau tidak cukup unsur

c. Menentukan pasal-pasal yang dapat diterapkan;

d. Menentukan tingkat kesulitan perkara;

e. Menentukan waktu penyidikan (penyelesaian perkara);

f. Menentukan anggaran yang dibutuhkan;

g. Merumuskan rencana penyidikan;

h. Menentukan skala prioritas dalam upaya penindakan (pengembangan);

i. Menentukan penerapan teknik dan taktik penyidikan; atau

j. Menentukan target-target penyidikan.

(2). Dalam gelar perkara biasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), berkaitan dengan penyidikan tindak pidana narkotika, psikotropika dan bahan berbahaya lainnya, dapat menghadirkan pihak-pihak yang terkait atau pihak yang

(3).

berkepentingan.

Menentukan waktu penyidikan (penyelesaian perkara) sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf e, adalah :

a. perkara sedang

:

60 hari;

b. perkara sulit

:

90 hari;

c. perkara sangat sulit

: 120 hari.

Pasal 25

Gelar perkara Biasa yang diselenggarakan pada tahap pertengahan sebagaimana dimaksud pada 23 ayat (1) huruf b, dengan tujuan :

1. Untuk mengecek kelengkapan persyaratan formal dan material, yang akan dikirim ke Jaksa Penuntut Umum, apakah sudah sesuai dengan hasil pelaksanaan gelar sebagaimana tersebut pada pasal 24 ayat (1).

2. Setelah Berkas Perkara dikirim ke Penuntut Umum dan dinyatakan oleh Jaksa penuntut Umum belum lengkap (P18, P19) maka dilakukan gelar perkara ulang untuk melengkapi petunjuk yang diberikan oleh Jaksa Penuntut Umum.

Pasal 26

Gelar perkara Biasa yang diselenggarakan pada tahap akhir penyidikan sebagaimana dimaksud pada pasal 23 ayat (1) huruf c, (setelah P21) bertujuan untuk melakukan :

1. Pengecekan terhadap tersangka.

2. Pengecekan terhadap barang bukti.

3. Pengecekan terhadap Administrasi.

4. Memutuskan untuk penyerahan Tersangka dan barang bukti ke JPU (Tahap 2).

(2) Gelar

15

Pasal 27

(1) Gelar Perkara Khusus sebagaimana dimaksud pada pasal 22 ayat (2) diselenggarakan dalam keadaan tertentu, mendesak, untuk menghadapi

keadaan darurat, atau untuk mengatasi masalah yang membutuhkan koordinasi intensif antara penyidik dan para pejabat terkait. (2) Gelar Perkara Khusus sebagaimana dimaksud pada pasal 22 ayat (2) diselenggarakan dengan tujuan untuk:

a. menanggapi/mengkaji adanya keluhan dari masyarakat, penasihat hukum, maupun pihak-pihak lain yang terkait dengan perkara yang dilakukan penyidikan;

b. melakukan tindakan kepolisian terhadap seseorang yang mendapat perlakuan khusus menurut peraturan perundang-undangan;

c. menentukan langkah-langkah penyidikan terhadap perkara pidana narkotika, psikotropika dan perkara pidana yang berkait dengan bahan berbahaya, pada jaringan tingkat Nasional dan Internasional;

d. memutuskan penghentian penyidikan;

e. melakukan tindakan koreksi terhadap dugaan terjadinya penyimpangan; dan/atau

f. menentukan barang sitaan untuk diajukan pemusnahan dan atau pelelangan ke instansi terkait.

(3)

Gelar perkara khusus sebagaimana dimaksud pada pasal 22 ayat (2) meliputi perkara:

a. atensi Presiden atau pejabat pemerintah;

b. atensi pimpinan Polri;

c. perhatian publik secara luas;

d. melibatkan tokoh formal/informal dan berdampak massal;

e. mencakup beberapa peraturan perundang-undangan yang tumpang tindih;

f. penanganannya mengakibatkan dampak nasional di bidang idiologi, politik, ekonomi, sosial, budaya/agama atau keamanan;

g. melanjutkan kembali penyidikan yang telah dihentikan;

h. penanganannya berkemungkinan menimbulkan reaksi massal;

i. yang akan dihentikan penyidikannya;

(4)

Gelar perkara khusus hanya dapat dilakukan di tingkat Polda dan Mabes Polri.

Pasal 28

(1)

Gelar Perkara khusus diselenggarakan oleh Pengawas Penyidikan dan dipimpin oleh pejabat yang ditunjuk serta dihadiri oleh instansi/pihak terkait.

(2)

Pejabat yang dapat ditunjuk untuk memimpin Gelar Perkara khusus pada Dit Resnarkoba Polda Metro Jaya adalah Dir/Wadir/Kabag Wassidik;

Pasal 29

16

Pasal 29

Instansi/pihak terkait yang dapat dihadirkan dalam Gelar Pekara Khusus antara lain:

a.

Inspektorat Pengawasan Daerah;

b.

Bidang Propam;

c.

Bidang Hukum;

d.

Instansi / pihak terkait.

 

Tata Cara Gelar Perkara

Pasal 30

(1)

Penyelenggaraan gelar perkara meliputi 3 (tiga) tahapan, yaitu:

a. persiapan;

b. pelaksanaan; dan

c. kelanjutan hasil gelar perkara.

(2)

Tahap persiapan gelar perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:

a. penyiapan Surat Perintah gelar perkara dari atasan penyidik;

b. penyiapan bahan paparan gelar perkara oleh Tim Penyidik;

c. penyiapan sarana dan prasarana gelar perkara oleh penyelenggara gelar (Tim Penyidik dan atau Pengawas Penyidikan); dan

d. pengiriman surat undangan gelar perkara oleh penyelenggara gelar;

(3)

Tahap pelaksanaan gelar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf meliputi:

b

a. pembukaan gelar perkara oleh pimpinan gelar perkara;

b. paparan Tim Penyidik tentang pokok perkara, pelaksanaan penyidikan, dan hasil penyidikan yang telah dilaksanakan;

c. tanggapan dan diskusi para peserta gelar perkara;

d. kesimpulan dan rekomendasi hasil gelar perkara;

e. penandatanganan kesimpulan dan rekomendasi hasil gelar perkara oleh peserta gelar perkara.

Hasil

17

Hasil Gelar Perkara Pasal 31

(1)

Tahap kelanjutan hasil gelar perkara sebagaimana dimaksud pada pasal 30 ayat (1) huruf c meliputi:

a. pembuatan laporan hasil gelar perkara oleh penyelenggara gelar perkara;

b. penyampaian laporan kepada atasan penyidik;

c. arahan dan / atau disposisi atasan penyidik kepada penyelenggara gelar perkara;

d. pelaksanaan hasil gelar perkara oleh Tim Penyidik

e. pengecekan terhadap pelaksanaan hasil gelar perkara oleh Pengawas Penyidikan;

f. gelar perkara yang dilaksanakan atas dasar pengaduan komplain maka Pengawas Penyidikan sebagai penyelenggara gelar perkara mengirimkan surat pemberitahuan perkembangan hasil pengawasan penyidikan (SP2HP2) kepada pengadu komplain berdasarkan hasil gelar perkara (hanya substansi saja tidak berkaitan dengan rahasia penyidikan);

(2)

hasil gelar perkara dilaporkan kepada pejabat yang membuat Surat Perintah Penyidikan dan harus dilaksanakan oleh Tim Penyidik;

(3)

dalam hal terjadi hambatan atau kendala dalam pelaksanaan hasil gelar perkara, penyidik melaporkan kepada Atasan Penyidik;

Pasal 32

(1)

Hasil gelar perkara khusus yang telah dilaporkan kepada atasan penyidik dan telah mendapatkan pengesahan diteruskan oleh pengawas penyidikan kepada Tim Penyidik dan harus dilaksanakan oleh Tim Penyidik, dengan tembusan kepada Itwasda, Bidpropam dan Bidkum;

(2) Dalam hal terjadi hambatan atau kendala dalam pelaksanaan hasil gelar perkara khusus, penyidik melaporkan kepada Atasan Penyidik dengan tembusan kepada pengawas penyidikan.

(1)

Pasal 33

Penyidik yang tidak melaksanakan hasil Gelar Perkara tanpa alasan yang sah dapat dilakukan pemeriksaan pendahuluan oleh pengawas penyidikan untuk kepentingan rekomendasi kepada atasan penyidik guna dikenakan sanksi administratif

(2) Sanksi

(2)

(3)

18

Sanksi administratif yang dapat dikenakan oleh atasan penyidik terhadap Tim Penyidik dapat berupa :

a. penggantian penyidik yang menangani perkara;

b. pemberhentian sementara penyidik dari penugasan penyidikan perkara;

c. pemberhentian tetap atau pemindahan penyidik dari fungsi penyidikan; atau;

d. penerapan sanksi hukuman disiplin atau etika profesi.

Penerapan sanksi hukuman disiplin atau etika profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d pelaksanaannya diserahkan kepada fungsi Propam atas perintah atasan penyidik;

SUPERVISI, KOREKSI DAN ASISTENSI

(1)

(2)

(3)

(4)

Pasal 34

Kegiatan supervisi, koreksi, dan asistensi merupakan bagian dari metode pengawasan oleh Pengawas Penyidikan;

Pengawas penyidikan dalam melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di atas, harus berdasarkan atas perintah Pejabat Struktural / Atasan Penyidik pada fungsi teknis bersangkutan

Pengawas Penyidikan dalam melaksanakan kegiatannya didukung dengan administrasi, anggaran, dan kelengkapan lainnya yang diperlukan melalui pengajuan rencana kegiatan dan anggaran kepada atasan penyidik;

Hasil kegiatan Pengawas Penyidikan disusun dalam bentuk Laporan Tertulis disertai dengan rekomendasi tindak lanjut dan diajukan kepada Pejabat Struktural/Atasan Penyidik yang memberikan perintah atau yang menandatangani Surat Perintah.

HUBUNGAN TATA CARA KERJA DALAM KEGIATAN PENGAWASAN

Pasal 35

(1) Pengawasan penyidikan oleh atasan penyidik dilaksanakan secara berjenjang menurut hirarki di tiap tingkatan kesatuan kerja yang sedang melaksanakan penyelidikan dan / atau penyidikan;

(2) Pengawasan

(2)

19

Pengawasan penyidikan oleh Pengawas Penyidikan dilaksanakan sebagai berikut :

a. Dalam hal ada pengaduan/komplain yang diterima oleh Pengawas Penyidikan, Inspektorat Pengawasan Daerah dan Propam dapat ditindak lanjuti dengan koordinasi melalui atasan penyidik untuk dilaksanakan pengawasan penyidikan oleh Pengawas penyidikan.

b. Pengawas Penyidikan menindak lanjuti dengan melakukan supervisi, koreksi, asistensi, gelar perkara dan pemeriksaan pendahuluan disesuaikan dengan pengaduan / komplain yang diterima;

Pasal 36

Pengawas Penyidikan di tingkat Polda melakukan pengawasan penyidikan terhadap proses penyelidikan dan/atau penyidikan yang dilakukan oleh tim penyidik di tingkat Polda, Polres dan Polsek;

Pasal 37

Dalam melaksanakan tugas pengawasan penyidikan :

(1)

Pengawas Penyidikan ditingkat Polda, dapat meminta bantuan pengawasan penyidikan kepada Pengawas Penyidikan di tingkat Mabes Polri;

(2)

Pengawas penyidikan ditingkat Polres, dapat meminta bantuan pengawasan penyidikan kepada Pengawas Penyidikan di tingkat Polda dan Mabes Polri;

(3) Pengawas Penyidikan pada Satuan Kerja Atasan dapat melakukan evaluasi dan penilaian terhadap kegiatan pengawasan penyidikan Satuan Kerja

dibawahnya.

BAB V

INDEPENDENSI DAN INTERVENSI PENYIDIKAN

(1)

Bagian Kesatu

INDEPENDENSI PENYIDIK

Pasal 38

Penyelidikan dan/atau penyidikan berdasarkan pada peraturan perundang- undangan yang berlaku;

(2) Penyelidik dan/atau penyidik dalam menjalankan tugasnya sesuai SOP Manajemen Penyidikan dan tidak tergantung pada perintah pejabat dan/atau pihak lainnya;

(3) Penyelidik

 

20

(3)

Penyelidik

dan/atau

penyidik

membuat

Rencana

Kegiatan

dan

melaksanakannya sesuai Rencana Kegiatan;

 

(4)

Dalam hal tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan, penyelidik dan/atau penyidik dapat bertindak di luar Rencana Kegiatan yang telah ditentukan;

(5)

Penyelidik dan/atau penyidik dapat menolak dan/atau tidak mengikuti arahan, rekomendasi, pendapat dari pihak manapun apabila berdasarkan alasan logis dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum;

(6) Penolakan sebagaimana dimaksud di dalam ayat (5) di atas dibuat/diajukan secara tertulis kepada yang memberikan arahan atau rekomendasi atau pendapat dengan meminta pertimbangan dari Pengawas penyidikan.

Bagian Kedua

INTERVENSI DALAM PENYIDIKAN

(1)

(2)

(3)

Pasal 39

Intervensi sebagaimana dimaksud dalam pasal 38 ayat (1) di atas berbentuk:

a. Komunikasi dalam Tata Naskah (Takah);

b. Gelar Perkara;

Penyelidik dan/atau penyidik dapat menolak intervensi dari pihak manapun apabila berdasarkan alasan logis dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum;

Penolakan sebagaimana dimaksud di dalam pasal 38 ayat (5) di atas dibuat/diajukan secara tertulis kepada atasan yang mengintervensi.

Bab VII

LARANGAN DALAM PENGAWASAN

(1)

(2)

PASAL 40

proses

penyelidikan dan / atau penyidikan;

Pengawas Penyidikan dilarang mengintimidasi, menakut-nakuti dan/atau mempengaruhi, dengan alasan apapun yang bertentangan dengan hukum;

Pengawas

Penyidikan

dilarang

melakukan

intervensi

terhadap

(3) Pengawas

21

Pengawas Penyidikan dilarang mengeluarkan salah seorang atau lebih penyidik yang tergabung dalam Tim Penyidikan/Penyelidikan apabila :

a. Tidak ada permintaan tertulis dari atasan penyidik tentang dugaan adanya penyimpangan atau keterlibatan atau perbenturan kepentingan penyelidik/penyidik terhadap perkara yang ditangani;

b. Tidak ada permintaan pribadi penyelidik/penyidik atas suatu kegiatan yang dilaksanakan dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan;

c. Tidak ditemukan adanya perbuatan melawan hukum atau penyalahgunaan kewenangan atau perbuatan lainnya yang berdampak kontijensi (protes, unjuk rasa atau anarkisme masyarakat).

(4) Pengawas Penyidikan dilarang membuat laporan hasil pengawasan penyidikan tidak berdasarkan fakta dan temuan yang diperoleh selama pelaksanaan proses penyidikan.

(3)

BAB VI

PENUTUP

Demikian Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang Pengawasan Penyidikan Tindak Pidana narkotika, psikotropika dan bahan-bahan berbahaya lainnya di lingkungan Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, sebagai pedoman bagi Pengawas penyidikan dalam rangka melaksanakan pengawasan penyidikan. Selanjutnya SOP ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Dikeluarkan di

:

Jakarta

pada tanggal

:

Januari

2012

DIR RESNARKOBA POLDA METRO JAYA

Drs. NUGROHO AJI W., S.H., M.H.

KOMISARIS BESAR POLISI NRP 64030696