Anda di halaman 1dari 1

Pewarnaan Spora Menurut Volk & Wheeler (1988), dalam pengamatan spora bakteri diperlukan pewarnaan tertentu ang

dapat menembus dinding tebal spora! "ontoh dari pewarnaan ang dimaksudkan oleh Volk & Wheeler tersebut adalah dengan penggunaan larutan hi#au malakit $%, dan untuk memper#elas pengamatan, sel &egetati&e #uga diwarnai dengan larutan sa'ranin (,$% sehingga sel &egetati&e ini berwarna merah! )engan demikian ada atau tidakn a spora dapat teramati, bahkan posisi spora di dalam tubuh sel &egetati&e #uga dapat diidenti'ikasi!*amun ada #uga +at warna khusus untuk mewarnai spora dan di dalam proses pewarnaann a melibatkan treatment pemanasan, aitu, spora dipanaskan bersamaan dengan +at warna tersebu tsehingga memudahkan +at warna tersebut untuk meresap ke dalam dinding pelindung spora bakteri! -eberapa +at warna ang telah disebutkan di atas, dapat mewarnai spora bakteri, tidak lepas dari si'at kimiawi dinding spora itu sendiri!Semua spora bakteri mengandung asam dupikolinat!.ang mana subtansi ini tidak dapat ditemui pada sel &egetati' bakteri, atau dapat dikatakan, sen awa ini khas dimiliki oleh spora!)alam proses pewarnaan, si'at sen awa inilah ang kemudian diman'aatkan untuk di warnai menggunakan pewarna tertentu, dalam hal ini larutan hi#au malakit! Sedangkan menurut pel/+ar (1980), selain subtansi di atas, dalam spora bakteri #uga terdapat kompleks "a12dan asam dipikolinan peptidoglikan! Proses pembentukan spora disebut sprorulasi, pada umumn a proses ini mudah ter#adi saat kondisi medium biakan bakteri telah memburuk, hal ini sesuai dengan ken ataan bahwa, sampel ang diambil dalam praktikum ini berasal dari biakan bakteri ang dibuat beberapa minggu ang lalu, sehingga di asumsikan, nutrisi di dalam medium telah hampir habis, sehingga diharapkan bakteri melakukan proses sporulasi ini! 3aapan ini terbukti benanr dengan ken ataan bahwa dari kedua sampel aitu koloni 1 dan koloni 1, keduan a sama4sama menghasilkan spora! *amun menurut )wi#oseputro (1959) beberapa bakteri mampu membentuk spora meskipun tidak dalam keadaan ekstrem ataupun medium ang kurang nutrisi! 3al ini dimungkinkan karena bakteri tersebut se/ara genetis, dalam tahapan pertumbuhan dan perkembangann a memang memiliki satu 'ase sporulasi! Masih menurut )wi#oseputro (1959) #ka medium selalu diadakan pembaruan dan kondisi lingkungan disekitar bakteri selalu di#aga kondusi', beberapa #enis bakteri dapat kehilangan kemampuann a dalam membentuk spora! 3al ini dimungkinkan karena struktur bakteri ang sangat sederhana dan si'atn a ang sangat mudah bermutasi, sehingga perlakuan pada lingkungan ang terus menerus dapat mengakibatkan bakteri mengalami mutasi dan kehilangan kemampuann a dalam membentuk spor