Anda di halaman 1dari 11

10.2.

1 Monoclinic Continua Pada kasus ini kita mengiinvestigasi kecepatan dan perpindahan tiga buah gelombang yang saling berasosiasi dengan arah penjalaran sepanjang sumbu simetri. Persamaan Christofel Sepanjang Sumbu Simetri Asumsi media monoklinik continua dan sumbu x3 berimpit dengan sumbu normal dari bidang simetri. Dengan kata lain, sumbu x3 merupakan sumbu simetri. Persamaan continumnya dituliskan sebagai

Asumsikan gelombang merambat sepanjang sumbu x3 dimana n1=n2=0, dan vektor satuan dari sumbu normal muka gelombang n=[0,0,1]. Maka persamaan ( ( ) )

( ( )

( ( )

( (

) )

( (

) )

( (

) ) )

( (

) )

( (

) )

( (

) ) )

( (

) )

( (

) )

( (

) ) )

Sehingga [ Dapat ditulis [ ][ ] [ ] (10.10) ]=0

Dimana persamaan (10.10) diatas dapat ditulis ulang menjadi [ dan , (10.12) ][ ] [ ] (10.11)

Vektor perpindahan yang berasosiasi pada persamaan (10.11) berada pada bidang x1x2. Vektor displacement yang berasosiasi pada persamaan (10.12) berimpit dengan sumbu x3. Arah pergerakan partikel yang berasosiasi dengan persamaan (10.11) tegak lurus dengan arah penjalaran gelombang sedangkan pergerakan partikel yang berasosiasi dengan persamaan (10.12) sejajar dengan arah penjalaran gelombang. Kita sebut gelombang yang arah pergerakan partikelnya tegak lurus dan sejajar arah perambatan gelombangnya ini sebagai mode asli dari gelombang, dan dibedakan sebagai gelombang S dan P. Kecepatan Fasa Gelombang Dari persamaan (10.11) [ ( )( ) ( ( ) , ( )-( ) ( ) ) ]

Dengan menggunakan rumus ABC untuk penyelesaian persamaan kuadrat dimana * , ( ( ) ( ( ) ( ( ) ( ( ) ( ) ( ) ) ( ) ( ) ( ) )-+ (, ( )-) ( )

( sehingga

( Dan (

) (

(10.13a)

) (

(10.13b)

Dari persamaan (10.12)

Arah Gerak Partikel

(10.13c)

Dari persamaan (10.12) vektor perpindahan gelombang P searah dengan arah perambatan gelombangnya yaitu sejajar dengan sumbu x3.. maka [ ] [ ]

vektor perpindahan gelombang S dapat ditinjau dari persamaan (10.11) dimana kita masukan hasil pada (10.13) ke persamaan (10.11)

) (

[
( ) ( )

[ ]

[
( ) ( )

[
( ) ( )

[ ]

[
( ) ( )

[
( ) ( )

[ ]

(10.14)

Dengan menyelesaikan persamaan matriks diatas dengan solusi non trivia Dari baris 2

( sehingga
(

) (

] [ ]

(10.15)

Dengan sudut yang dibentuk pada bidang x1x2 adalah


( ) ( )

(10.16)

Dengan cara yang sama ( [ Terlihat bahwa saling ortogonal dimana ) ( ) ]

( [ ] [ ( [ ( ) (

) ( ] )

[ ]

) ]

( ] [

) ]

[ ( ( ( ) ( ) ) (

) Pada kasus ini, dimana gelombang menjalar sepanjang sumbu simetri, vektor displacementnya paralel maupun tegak lurus dengan normal dari muka gelombangnya Sistem Koordinat Natural Diberikan suatu penjalaran gelombang sepanjang arah mode alaminya, sistem koordinat yang sumbunya berimpit dengan arah pergerakan partikel dari tiga gelombang yang ada disebut sistem koordinat natural. Untuk memenuhi syarat ini kita cek ( ( ) ( ) ( ) ) ( )

) )(

,(

) (

)
( ),(

) (

(10.17)
) -

Persamaan continumnya dituliskan sebagai [ [ ][ ] [ ] (10.18) ]

Sama seperti sebelumnya dimana persamaan (1.10) dapat ditulis menjadi

Dimana square submatrik diatas dapat dinyatakan sebagai [ ] [ ][ ][ ]

Dari (10.10) dan (10.18) terlihat bahwa berperan sebagai sumbu rotasi. 10.2.2 Traversely Isotropic Continua Persamaan Christoffel

hal ini menunjukan bahwa untuk

memperoleh sistem koordinat natural perlu dilakukan rotasi sebesar terhadap sumbu x3 yang

Asumsi media traversely isotropic dimana sumbu x3 berimpitdengan sumbu normal dari bidang traversely isotropi. Dimana sumbu x3 merupakan sumbu rotasi simetri. Persamaan matrik elastisnya

[ Dimana (10.19) Maka persamaan (10.6) dapat disusun ulang

( ( )

( ( )

( ( ( ( ( ( ( ( ( ( ( ( ) ) ) ( ) ) ( ) ) ( ( ) ( ) ) ) ) ( ) ) ( ( ( ( ) ) ( ( )

) )

) )

) )

) ) )

Fasa Kecepatan pada Bidang Transverse Isotropy Jika gelombang merambat pada arah sumbu rotasinya maka tidaka akan diperoleh tiga persamaan yang berbeda, karena gelombang S akan mempunyai sifat medium yang sama. Sehingga gelombang harus merambat pada bidang transverse Asumsikan gelombang merambat sepanjang sumbu x1 dimana n3=n2=0, dan vektor satuan dari sumbu normal muka gelombang n=[1,0,0]. Maka persamaan (10.7) menjadi [ ][ ] [ ] (10.21)

Dengan meninjau sistem diatas, kita melihat bahwa persamaan diatas saling bebas satu sama lain.

Gelombang P merambat sepanjang sumbu x1 begitu pula dengan pergerakan partikelnya. Vektor yang berhubungan adalah [ ]

(10.22)

Gelombang S merambat sepanjang sumbu x1. Kita melihat bahwa pada kasus kedua pergerakan partikel tegak lurus x1 dan berada pada bidang x1x2 yang merupakan bidang horizontal. Sehingga kita menyebutnya gelombang SH. [ ]

(10.23)

Untuk membedakan gelombang S lain yang merambat sepanjang sumbu x1. kita melihat bahwa pada kasus ketiga pergerakan partikel tegak lurus bidang x1x2 Sehingga kita menyebutnya gelombang SV. [ ]

Kecepatan pada Arah Sembarang

(10.24)

Kita dapat menyusun persamaan yang lebih umum untuk kasus penjalaran gelombang pada arah acak. ( [ ( ( ) ) ( ) ) ( ( ( ) ) ) ]

,(

) ( ( ) )

-* ( ,( ) )

( -

) +

Dengan menyatakan bahwa ( ulang menjadi , ,( ) ,( ) ( ) ] ,( ) ( ,( ) -*[

maka persamaan diatas dapat dituliskan -* ( ) [ ) ( )+ + ] ( (10.25) ) ) ( ( )

Terlihat bahwa persamaan diatas merupakan fungsi dari gelombang yang sejajar dengan sumbu simetri rotasi. Dari persamaan diatas ,( ) =( ( ) Pada kasus
( )

yang merupakan normal dari muka

) (10.26)

nilainya menyerupai persamaan (10.23) sehingga kita nyatakan ( )


( )

(10.27)

Dari persamaan diatas {[ [ ,( ) ( ] ( )) } ( ) ]

Dengan menggunakan rumus ABC untuk penyelesaian persamaan kuadrat dimana

Maka ( ) ,( ) ( )

Dimana merupakan diskriminan ,( [ (10.24) sehingga kita nyatakan ) [ ( )] ( ) ( ) ]

Sama seperti sebelumnya untuk kasus

nilainya menyerupai persamaan (10.22) dan

( ) ( ) Komponen

,(

)-

(10.28) (10.29)

,(

)-

dapat dinyatakan sebagai (10.30)

Dimana adalah sudut fase sehingga persamaan diatas dapat dinyatakan dalam sudut fase. Arah Pergerakan Partikelnya Untuk memperoleh arah pergerakannya kita mencari bidang yang melalui sumbu simetri rotasi. Pada kasus ini kita gunakan bidang x1x3 sehingga kita dapat mengeset s persamaan ( [ Menjadi ( ) [ ( ) , [ Pesamaan ( ) ( (10.32) ) ( ) dengan SH berkorespodensi ( ( ) ) ( ) Sama seperti pada kasus monoklinik (10.32) ][ ] [ ] (10.33) persamaan (10.33) ( ) ( ) ( ) ( ) ] (10.31) ( ( ) ) ( ) ) ( ( ( ) ) ) ] . Maka

sedangkan

berkorespondensi dengan qSP dan qSV Pada kasus (10.32) displacement vektornya A=[0,A2,0] paralel terhadap x2 dan tegak lurus bidang propagasi. Pada kasus (10.33) kita mempunyai persamaan yang berkorespondensi dengan qSP dan qSV dimana displacementnya A=[ A1,0, A3] dimana tidak paralel maupun ortogonal terhadap arah propagasi sehingga kita harus mencari sudut yang dibentuk oleh vektor perpindahan dengan sumbu x3.

Dari baris dua persamaan 10.33 ( ( ) )


, ( ) (

,( =,
(

) ( )
) )

( ) (
-

) (10.36)

Karena ( ( ) )

,
, ( ) (

( ) (
( )

(
)

) )
-

(10.37)