Anda di halaman 1dari 62

"Dialog bersama Al-

Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc."[1]


(Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah)

Penulis : Ustadz Abu Fadhl Abdul Qodir Al-


Al-Bugishy
Editor : Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

Muqoddimah

Ada sebuah fenomena yang terjadi akhir-akhir ini perlu kita perhatikan, karena ia
merupakan batu sandungan dan hambatan bagi kesadaran umat Islam untuk kembali
kepada manhaj salaf, sehingga perlu kita cermati fenomena ini, sebab kita saksikan
sekelompok atau sebahagian dari syabab mutahammisin (pemuda yang begitu
bersemangat dan menggebu-gebu di dalam beragama) begitu mudah memasukkan
seseorang atau lembaga-lembaga yang berlabel Islam ke dalam barisan Ahlus Sunnah
wal Jamaah. Ironisnya lagi, orang-orang seperti ini atau kelompok ini, mulai mengklaim
dirinya sebagai Ahlus Sunnah alias salafiyyin, pengikut manhaj Salafush shaleh,
pengikut manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.[2] Tapi, sangat disayangkan mereka tidak
memahami manhaj Ahlus Sunnah dengan baik, sehingga begitu mudah mengeluarkan
atau memasukkan seseorang atau lembaga tertentu di dalam barisan Ahlus Sunnah wal
Jamaah, atau manhaj salafus shaleh sesuai dengan keinginan mereka.

Inilah fenomena yang kita saksikan muncul akhir-akhir ini. Oleh karena itu, kita ingin
mendudukkan persoalan ini sebagaimana mestinya; kita akan merujuk kepada
penjelasan-penjelasan para ulama kita tentang sebuah kaedah yang kita harus jadikan
sebagai standar-untuk menilai seseorang atau menilai suatu lembaga, apakah dia
masuk dalam kategori Ahlus Sunnah atau tidak!! Sebab mengeluarkan dan
memasukkan seseorang dari manhaj Ahlussunah bukanlah persoalan mudah[3].

Ini adalah kemungkaran besar yang harus dingkari. Allah -Ta’ala- berfirman,

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran: 104).

Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata, "Memerintahkan (untuk melakukan) sunnah,


dan melarang bid’ah merupakan amar ma’ruf nahi mungkar. Itu termasuk
seutama-utamanya amal sholih". [Lihat Minhaj As-
As-Sunnah (5/253)]
Tak pantas bagi para jama’ah-
jama’ah-jama’ah Islamiyyah pada hari ini untuk sempit dada
dengan adanya kritikan , karena hal itu termasuk menegakkan keadilan, dan persaksian
kepada Allah, yang telah diperintahkan oleh Allah –walaupun pada diri kita, dan
pemeluk agama kita- sebagaimana Allah -Ta’ala- berfirman,

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak
keadilan, menjadi saksi Karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak
dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu
kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin
menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan
menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang
kamu kerjakan". (QS.An-Nisaa’ :135).

Memutarbalikkan (kata-kata) adalah berdusta. Enggan menjadi saksi adalah


menyembunyikan persaksian sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah.[4]
Maka bagaimana mungkin dakwah seorang akan menjadi baik setelahnya, sementara ia
menyembunyikan kesalahan-kesalahan (penyimpangan) sambil berkedok dengan
toleransi politis.

Tak syak lagi bahwa ghiroh yang Allah letakkan dalam hati setiap mukmin terhadap
batasan-batasan-nya; inilah yang membangkitkan dirinya untuk melaksanakan
kewajiban ini (mengeritik setiap orang yang menyimpang)[5] sebagaimana yang
disabdakan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

‫ م  ا  أن ا وة ر ا وإن ر ا إن‬

"Sesungguhnya Allah cemburu; seorang mu’min cemburu. Sedang kecemburuan Allah,


seorang mu’min mendatangi (melakukan) yang diharamkan oleh Allah baginya".[6]

Jika setiap kali seorang mu’min mau meluruskan pemahaman yang menyimpang, lalu
dikatakan kepadanya, "Sekarang bukan waktunya. Orang-orang kafir sekarang sedang
mengawasi kita", maka kapankah kesalahannya (baca:penyimpangannya) akan
diketahui? Kapankah ia (orang yang melakukan penyimpangan) akan tercegah dari
kesalahan-kesalahannya? Kapankah orang sakit akan sehat, dan orang yang lemah
akan kuat?

Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah


-Shallallahu ‘alaihi wa sallam-; beliau bersabda,

ُ ِ ُْْ‫ ِْ! ُة ا‬
ِ ِ ُْْ‫ ا‬
ُ ِ ُْْ‫ وَا‬#ُ$‫& ِ ِاُْْ َأ‬
% ُ'َ ِ ََْ ُ َ(َ)َْ* ُ ُ+#ُ,َ ‫ِ ِ ِ ْ َو‬-‫َورَا‬

"Seorang mu’min adalah cermin bagi mu’min lainnya; Seorang mu’min adalah saudara
bagi mu’min lainnya. Dia mencegah hancurnya mata pencaharian saudaranya, dan
menjaganya dari belakang".[7]

Bukanlah termasuk wala’ (loyal dan cinta) kepada orang-orang mu’min, engkau
menolong saudaramu dalam kebatilannya, karena berdalih bahwa ia (saudara tersebut)
melawan orang-orang komunis.

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

ُْ.ْ/‫ك ا‬
َ َ$‫ًَِ َأ‬2 ْ‫ ً َأو‬#ُْ3َ , ‫َ َل‬5َ6 ٌ8ُ9‫ َر‬: َ ‫ َل‬#ُ:‫ُ ُ ُ< ا; ِ َر‬.ْ/‫ن ِإذَا َأ‬
َ َ‫ ً آ‬#ُْ3َ ?
َ ْ ‫َ ََأ‬6‫ن ِإذَا َأ‬
َ َ‫ًَِ آ‬2
&
َ َْ‫ُ ُ<ُ؟ آ‬.ْ/‫َ َل َأ‬A: <ُ Bُ ُCْ,َ ْ‫َ)ُ ُ َأو‬Dَْ ْ ِ Eِ ْ%3‫ن ا‬
; Fَِ6 G
َ ِ‫ْ ُ ُ< َذ‬.َ/

"Tolonglah saudaramu, baik ia berbuat zholim atau dizholimi". Seorang laki-laki


berkata, Wahai Rasulullah, aku akan menolongnya jika ia dizholimi. Bagaimana
pandanganmu jika ia menzholimi, bagaimana caranya aku menolongnya?. Beliau
bersabda, "Engkau mencegah atau menghalanginya dari kezholiman, karena itulah
(bentuk) pertolongan baginya".[8]

Kami berharap semoga risalah ringkas ini tidak dianggap batu sandungan, tapi sebuah
pertolongan dari seorang saudara syafiq (sayang) kepada saudara yang zholimun li
nafsih (menzholimi dirinya sendiri).

Sebab Penulisan Risalah ini

Beberapa waktu yang silam, ada seorang ikhwah yang memberikan kami sebuah
rekaman CD berisi ceramah Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc yang berjudul "Benarkah
Anda Bermanhaj Salaf?"
Salaf?". Melihat judulnya, kami langsung terperanjat kaget campur
heran, "Sejak kapan Wahdah Islamiyah memahami manhaj salaf dengan baik sehingga
harus bertanya seperti ini kepada orang lain?!!". Padahal sebelum bertanya, mestinya
berkaca dulu dan bertanya kepada diri sendiri.

Ceramah ini nampaknya "ilmiah", karena disajikan dalam sebuah rekaman CD dengan
menggunakan sebuah komputer dan beberapa alat peraga. Ceramah ini direkam dan
didokumentasikan oleh Tasjilatul Ummah, Ramadhan 1428 H. Demikianlah yang nampak
di depan bola mata kita. Tapi realita berbicara lain ketika kita menyimak ceramah
"ilmiah" ini dari menit pertama sampai akhir. Ternyata ceramah ini malah membuat kita
tersenyum heran; kok ada sebuah ceramah yang disampaikan oleh seorang yang
bertitel (Lc) dari Madinah, tapi isinya jauh panggang dari api. Para santri dan bukan
santri saja heran mendengarkan ceramah "ilmiah" ini sampai ada yang bergumam,
"Kok lulusan Madinah seperti itu?"

Ketika kami melihat dan mendengar syubhat-syubhat di dalamnya, maka kami merasa
terdorong memberikan ta’liq (catatan) ringkas agar kaum muslimin terjaga darinya dan
tidak terperosok ke dalamnya, sebab syubhat sering tampil dalam bentuk kebenaran.
Semoga risalah ringkas ini menjadi nasihat bagi Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (JM),
dan orang-orang simpati kepadanya, serta menjadi tameng bagi salafiyyun dari syubhat
dan kekeliruannya. Nas’alullahal afiyah was salamah.

Sekilas tentang
tentang Isi Ceramah JM

• Ceramah yang berdurasi 1:16 menit ini mengandung pembelaan untuk Ormas
Wahdah Islamiyah dari "tuduhan-tuduhan" orang-orang yang mengaku salafi
( H IJK‫[) ا‬9]
• Sang Ustadz di awal ceramahnya berbicara tentang ( ‫اع‬#/‫ب أ‬#/N‫ ) ا‬jenis-jenis
dosa: SYIRIK – KUFUR – KABIROH (dosa besar) – SHOGHIROH (dosa kecil).
Katanya, semua dosa tak terlepas dari empat jenis ini.

Namun ada suatu hal yang dilupakan oleh sang Ustadz bahwa bid’ah (besar atau kecil)
bisa mengeluarkan seseorang dari lingkup Ahlus Sunnah. Dari sini awal kesalahannya.
kesalahannya.

• Usai membahas kufur dan syirik beserta dalilnya, JM memfokuskan


pembahasannya dalam masalah dosa kecil dan dosa besar dari sisi defenisi dan
kriterianya beserta contohnya sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafizh
Abu Abdillah Adz-Dzahabiy -rahimahullah- dalam kitabnya Al-Al-Kaba’ir.
• Setelah itu, JM membahas masalah bid’ah dan tingkatan-tingkatannya, lalu
menghubungkannya dengan dhowabith (kriteria) dosa besar. JM menjelaskan
hal ini sebagai pengantar bagi para pendengar agar ia mudah dalam memberikan
pembelaan bagi Wahdah Islamiyah. Dalam artian, kalaupun WI menurut JM telah
terjatuh dalam dosa atau bid’ah, yah paling maksimal itu adalah shoghiroh
(dosa kecil) yang tidak membuat pelakunya keluar dari lingkup Ahlus Sunnah
alias Islam!![10] Demikian menurut JM.
Pertanyaan untuk JM

• Pembaca yang budiman, perhatikan kelihaian sang Ustadz dalam menyeret kita
menuju pemikirannya yang keliru. Sekarang kita mau bertanya kepada JM,
"Orang yang merayakan maulid, Isra’ Mi’raj setiap tahun, bahkan ia
membelanya dengan "hujjah & dalil", apakah ia termasuk Ahlus Sunnah? Kapan
seorang keluar dari Ahlus Sunnah?"
• "Orang-orang yang menciptakan dan melakukan dzikir jama’ah di zaman ini,
apakah ia masih dalam lingkup Ahlus Sunnah ?"
• "Orang-orang yang merayakan Valentine Day’s dan membelanya termasuk
Ahlus Sunnah?"
• "Apakah orang-orang yang berdemo (dengan cara damai atau tidak) dalam
mengeritik pemerintah termasuk Ahlus Sunnah, bukan Ahlul bid’ah?!!"
• "Apakah orang-orang yang membai’at pemimpin organisasi atau yayasan
dalam perkara yang ma’ruf adalah Ahlus Sunnah??!"
• "Bagaimana jika ada yang mengumpulkan semua bid’ah-bid’ah ini, apakah ia
masih tetap Ahlus Sunnah?!!"

Kami yakin JM akan pusing tujuh keliling memberikan jawaban yang bertele-tele dalam
mendudukkan permasalahan ini sesuai manhaj ilmiah.

• Selanjutnya, JM kali ini memaparkan aliran-aliran sempalan dalam Islam.


Pertama: KHAWARIJ yang mengkafirkan pelaku dosa besar dan menyatakan
Pertama
mereka kekal dalam neraka. Kedua
Kedua: MU’TAZILAH yang meyakini pelaku dosa
besar berada diantara dua tempat (mukmin bukan, kafir bukan). Mu’tazilah
ibaratnya orang yang pusing menghukumi pelaku dosa besar. Tapi mereka sama
dengan KHAWARIJ dalam meyakini kekalnya pelaku dosa besar dalam neraka!!
Ketiga: MURJI’AH yang paling mutasahil (bergampangan) dengan dosa besar,
sebab mereka meyakini bahwa pelaku dosa besar tetap dianggap mukmin yang
sempurna imannya. Adapun Ahlus Sunnah sebagai kelompok haq, mereka
wasath (pertengahan) diantara kelompok-kelompok tersebut, sebab Ahlus
Sunnah meyakini bahwa pelaku dosa besar saat di dunia ia adalah mukmin, tapi
kurang imannya, dan di akhirat ia berada dalam kehendak Allah; jika ia hendak
mengampuni dosanya, maka Allah akan ampuni. Jika Dia hendak menyiksanya,
maka Dia akan menyiksanya..

Footnote :
[1] Jahada Mangka selanjutnya kami sebut sang Ustadz atau JM

[2] Kelompok yang mulai mengklaim dirinya belakangan ini sebagai Ahlus Sunnah
adalah Wahdah Islamiyah . Walaupun pengakuan sebagai salafiyyun masih berat dan
malu-malu.

[3] Ini adalah petikan mukaddimah Ustadz Jahada Mangka, Lc dalam ceramahnya yang
kami akan ta’liq (beri catatan) ringan dalam tulisan ini, Insya Allah. Petikan ini disertai
sedikit perubahan sesuai kondisi yang ada.

[4] Lihat Majmu’ Al-


Al-Fatawa (28/235)

[5] Tapi tentunya dengan hikmah, bukan serampangan. Adapun dakwah hizbiyyah,
maka kalian akan melhat da’wah mereka jauh dari hikmah (sifat bijak). Lihat saja ketika
mereka meledakkan sebagian tempat sehingga membunuh manusia secara zholim, dan
merusak hak milik orang. Tentunya ini bukan hikmah !! Lihat saja ketika mereka masuk
dalam kancah perpolitikan haram sehingga mereka rela mengorbankan dirinya "atas
nama ummat". Tentunya ini bukan hikmah !! Lihat saja ketika mereka membenci
Salafiyyun yang menasihati mereka, sedang dilain waktu, mereka membela para ahli
bid’ah semacam Sayyid Quthb. Tentunya ini bukan hikmah !! Lihat saja ketika mereka
mengharamkan barang-barang produk Yahudi dan Nashrani, sementara mereka
menyemarakkan dan menggalakkan demonstrasi yang termasuk hasil produksi
pemikiran orang-orang Yahudi dan Nashrani. Tentunya ini bukan hikmah, karena telah
mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah!! Lihat saja perbuatan mereka yang tak
dihiasi oleh hikmah ketika sekelompok hizbiyyun yang menamai diri mereka dengan
"mujahidin" di Poso. Mereka menangkap wanita nashrani yang tak bersalah, lalu
mereka bunuh dengan cara sadis; disayat-sayat sampai mati. Inikah yang namanya
hikmah, padahal nabi melarang membunuh wanita, anak kecil, para pendeta yang tak
terlibat perang?! Tentunya ini bukan hikmah !! Jika kita mau sebutkan ketidakbijakan
para hizbiyyun, maka perlu sebuah kitab yang khusus membahas perkara itu.

[6] HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (5223), dan Muslim dalam Shohih-nya (2761)

[7] HR. Abu Dawud dalam As-As-Sunan (4918), Al-Bukhoriy dalam Al-
Al-Adab Al-Al-Mufrod
Al-Kubro (16458), Al-Qudho’iy dalam Musnad Asy-
(239), Al-Baihaqiy dalam Al- Asy-Syihab
(125) secara ringkas dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- . Hadits ini di-hasan-kan
oleh Syaikh Nashir Al-Albaniy Al-Atsariy dalam Ash-
Ash-Shohihah (926)
[8] HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-
Al-Ikroh (6552)

[9] Maksudnya: para salafiyyun yang menasihati mereka –khususnya, para ustadz salaf
Makassar-, seperti Al-Ustadz DzulQornain, Khidhir, Ibnu Yunus, Abdul Qodir Abu
Fa’izah, dan lainnya. Istilah pengaku-aku salafi telah dijadikan alat oleh WI dan
sewarnanya untuk merusak citra salafiyyin. Padahal merekalah yang lebih pantas
dengan istilah tersebut sebagaimana anda akan lihat, insya Allah. Istilah itu juga
digunakan oleh Mut’ab bin Suryan Al-Ushoimiy, Penulis Beda Salaf dengan "Salafi"
untuk mencoreng citra salafiyyin. Tapi, Alhamdulillah Al-Ustadz Abu Fa’izah telah
membantah segala tuduhan dan pernyataan Al-Ushoimiy dalam buku bantahan yang
berjudul "Beda Salafi dengan Hizbi". Jazahullahu khoiron.

[10] Ini adalah bentuk peremehan terhadap bid’ah yang bisa mengubahnya menjadi
bid’ah kabiroh (yang besar) sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy-Syathibiy dalam
Al-
Al-I’tishom (2/389-398), tahqiq Masyhur Hasan Salman.
"Dialog bersama Al-
Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc."
(Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah)

Kekeliruan
Kekeliruan dan Penyimpangan 1
"Salah Paham tentang Makna Manhaj Ahlus Sunnah & Islam"

Penulis : Ustadz Abu Fadhl Abdul Qodir Al-


Al-Bugishy
Editor : Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

Dari sini, sang Ustadz mulai melakukan triknya satu persatu dalam menyanggah
"syubhat-syubhat" yang diarahkan kepada ORMAS-nya yang bernama WAHDAH
ISLAMIYAH (WI).

Para Pembaca yang budiman, satu kesalahan besar lagi fatal yang dilakukan oleh JM,
saat ia ia mengeluarkan PERNYATAAN bahwa "Ahlussunnah itulah Islam, manhaj
Ahlussunnah, itulah Islam. Manhaj Salafus Shaleh, itulah Islam. Sehingga tidak boleh
kita bedakan Islam dan Ahlussunnah". Ini nas ucapan JM.

Dalam tempat lain dari ceramah itu, ia berkata, "Islam


Islam itu adalah manhaj Ahlus Sunnah.
Sunnah
Manhaj Ahlus Sunnah, itu adalah Islam.
Islam Maka tidak
tidak boleh kita pisahkan,
pisahkan karena
Islam!.
mengeluarkan orang dari manhaj ahlus sunnah berarti mengeluarkan dari? dari Islam!
Islam. Cuma
Mengeluarkan orang dari manhaj salaf berarti mengeluarkan orang dari Islam
memang, perlu kita pahami bahwa orang ber- Islam, orang mengikuti manhaj
ahlussunnah waljama’ah itu- mutafawit, bertingkat-tingkat. Bisa dipahami?
Bertingkat-tingkat!".

Ketiga kalinya, JM mempertegas: "Karena


Karena kapan kita mengeluarkan seseorang, atau
sebuah lembaga dari manhaj salaf berarti sama dengan kita mengeluarkan
mengeluarkan orang dari?
Islam!"
dari Islam!

PERNYATAAN JM ini adalah batil. Memang Islam itu adalah manhaj Ahlus Sunnah atau
sebaliknya, jika kita pahami bahwa Islam yang dimaksud disini adalah Islam murni yang
belum dicampuri dan dikotori oleh noda bid’ah. Adapun jika yang dimaksud adalah
umum mencakup Islam yang murni dan ternodai dengan bid’ah, maka tentunya
seorang tidak boleh menyatakannya sebagai manhaj Ahlus Sunnah.

Ucapan ini persis dengan keyakinan Khawarij dan Mu’tazilah. Dari prinsip kaum
Khawarij dan Mu’tazilah bahwa keislaman dan keimanan adalah satu bagian tidak
terpisah. Kapan hilang sebagiannya –dengan melakukan dosa besar- maka hilanglah
seluruhnya. Sehingga dalam hukum dunia kaum Khawarij mengklaim pelaku dosa besar
kafir keluar dari keislaman dan kaum Mu’tazilah menganggapnya fi manzilatin baina
manzilatain (bukan kafir dan bukan mukmin), dan mereka bersepakat bahwa di akhirat
neraka.
pelaku dosa besar kekal dalam neraka

Adapun Ahlus Sunnah mereka berkeyakinan bahwa keimanan dan keislaman itu
berkurang. Dosa dan bid’ah itu bertingkat-tingkat, ada yang
bertambah dan berkurang
mengeluarkan dari keislaman dan keimanan dan ada yang tidak mengeluarkannya tapi
hanya sekedar mengurangi keimanan dan keislaman itu. Hal ini sangat dimaklumi dalam
buku-buku Salaf dari dahulu hingga sekarang.

Maka ucapan JM di atas menunjukkan dua hal:

• Siapa sebenarnya yang Khawarij dan siapa sebenarnya yang Mu’tazilah?


Mu’tazilah
• Kelemahan dan kedangkalan JM dan teman-temannya dari Da’i Wahdah dari
membaca dan mempelajari ilmu ulama Salaf. Sehingga sangat aneh ada yang
mengeritik pengikut dakwah salaf sedang dia tidak memahami apa manhaj salaf
itu?

Ini sekedar nasehat, agar jangan ada “maling yang teriak maling”.

Selain itu, Islam di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat sebelum
munculnya bid’ah-bid’ah dan pelakunya adalah Islam yang murni dari Allah -Ta’ala-.
Adapun setelah munculnya bid’ah-bid’ah dan pelakunya, maka makna Islam sedikit
mengalami pergeseran sehingga kata "Islam" mencakup orang-orang yang mengikuti
Islam yang murni dan mencakup orang-orang yang menodai Islam dengan
bid’ah-bid’ahnya. Kondisi seperti ini memaksa pengikut Islam yang murni untuk
menggunakan istilah yang menjelaskan bahwa merekalah penganut Islam murni,
sehingga muncullah istilah AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH sebagai pengikut Islam
murni yang pernah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para
sahabatnya. Jadi, AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH lebih sempit maknanya dan Islam
lebih luas maknanya. Dalam artian, AHLUS SUNNAH sudah tentu Islam. Namun orang
yang ber-Islam belum tentu AHLUS SUNNAH. Dengan kata lain, mengeluarkan orang
dari AHLUS SUNNAH belum tentu mengeluarkannya dari Islam, sebab boleh jadi
keislamannya masih ada, walaupun sudah ternodai dengan bid’ah. Perkara seperti ini
adalah perkara yang badihi (aksiomatik) bagi para salafiyyin.
Jika JM memegang teguh PERNYATAAN itu, maka pernyataan itu bisa kita jadikan
sebagai senjata makan tuan. Sebab ia sendiri membagi firqoh-firqoh sesat dan
menyebutkan sebagiannya, seperti KHAWARIJ, MU’TAZILAH, dan MURJI’AH.
Sekarang kita bertanya kepada sang Ustadz, "Ketiga kelompok ini apakah ia AHLUS
SUNNAH atau bukan?" Jika JM menjawab, "Mereka adalah AHLUS SUNNAH ", maka
ia telah menyelisihi pernyataan para ulama bahwa mereka itu bukan AHLUS SUNNAH.
Jika JM menyatakan bahwa mereka bukan AHLUS SUNNAH, maka berarti ia telah
mengeluarkan mereka dari Islam. Padahal para ulama menganggap bahwa
kelompok-kelompok sesat itu masih muslim, bukan kafir. [Lihat Mauqif Ahlis Sunnah
wal Jama'ah min Ahlil Ahwa' wal Bida' (1/137-153), cet. Maktabah Al-Ghuroba'
Al-Atsariyyah, 1415 H]

Syaikhul Islam -rahimahullah- berkata,

ْ َ ‫َ َل َو‬A : ‫ن‬ ; ‫ إ‬ ِ َْ(ْDOP‫ ا‬


َ ِ)ْQ;K‫ وَا‬Iً َAِْ6 8% ُ‫ آ‬Hٍ ِ‫ْ وَا‬EُSْDِ ُ ُJْ'َ ‫ًْا‬Jُ‫ آ‬8ُ ُ5ْDَ ْ َ Iِ ;ِْ‫ْ ا‬Hَ5َ6 & َ ََ$ ‫ب‬ َ َ(ِ'ْ‫ا‬
Iَ ;D%K‫ع َوِإ وَا‬
َ َْ9 Iِ َTَ,;.‫ن ا‬ ُ ‫َا‬#ْ*‫ْ ا; ِ ِر‬EِSََْ َ ِ)َْ9‫ْ َأ‬8َT ‫ع‬َ َْ9‫ َوِإ‬Iِ ;ِ-َْ‫ ا‬Iِ َ)َTْ‫ َوَْ ِ اَْر‬Iِ َ)َTْ‫ اَْر‬U
َ ََْ6
ْEِSِ6 ْ َ َ ;Jَ‫ آ‬8; ُ‫ آ‬Hٍ ِ‫ ِ ْ وَا‬ ِ َْ(ْDOP‫ ا‬
َ ِ)ْQَ:‫ َو‬Iً َAِْ6

"Barangsiapa yang berkata, "Sesungguhnya 72 kelompok sempalan; setiap salah satu


dari mereka adalah kafir dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari agama", maka
sungguh ia telah menyelisihi Al-Kitab, Sunnah, dan ijma’ para sahabat –ridhwanullahi
alaihim ajma’in-, bahkan ijma’ (kesepakatan) para imam yang empat dan selain yang
empat. Tak ada diantara mereka yang mengkafirkan masing-masing diantara 72
kelompok ini". [Lihat Majmu' Al-
Al-Fatawa (7/218) karya Syaikhul Islam]

Lebih tragis lagi, JM menganggap kita yang mengaku salafi sebagai kelompok yang
lebih parah, lebih berbahaya dan lebih ghuluw (ekstrim) daripada KHAWARIJ dan
MU’TAZILAH, sebab menurutnya kita -salafiyyun- mengeluarkan orang dari AHLUS
SUNNAH alias ISLAM dengan sebab melakukan dosa kecil.

Dengarkan JM berkata tentang kita yang menyatakan diri sebagai salafi , "Padahal
mereka punya manhaj, dalam kaitannya dengan sikap dan pandangan terhadap
murtakibil kabiirah itu jauh lebih dahsyat dari, jauh lebih berbahaya dari pada khawarij
dan mu’tazilah.
mu’tazilah “Khawarij
Khawarij gaya baru”!"
baru”

Dia juga berkata, "Berarti


Berarti mereka asyaddu wa akhtar minal khawarij wal
mu’tazilah"[1]
mu’tazilah
JM juga berkata, "Berarti, haaula’i asyaddu minal khawarij wa asyaddu
asyaddu wa akhtar
minal mu’tazilah.
mu’tazilah Lalu mengklaim diri sebagai salafiyyin. Maka ini harus hati-hati, harus
waspada jangan cepat tertipu dengan pengakuan, nahnu salafiyyin, nahnu salafiyyin.
Lihat maa hiyatuh!, lihat hakikatnya!. Kalau ada yang sudah sangat terlalu mudah, dan
sangat terlalu rentan mengeluarkan orang dari manhaj Ahlus Sunnah, hanya dengan
hal-hal seperti ini. Maka ini kita harus WASPADA".
WASPADA

Kami mau bertanya kepada JM secara terhormat , "Jika orang-orang yang mengaku
salafi ini adalah lebih parah
parah daripada Khawarij dan Mu’tazilah,
Mu’tazilah nah apakah mereka yang
mengaku salafi ini adalah AHLUS SUNNAH alias ISLAM atau bukan??!!!" Saya kira JM
akan kesusahan dan bersimbah peluh untuk menjawab pertanyaan ini, kecuali ia akan
terjatuh dalam penyimpangan berikutnya. Nas’alullaha salamah minadh dholal wal jahl
ba’dal huda wan nur (Kita memohon kepada Allah dari kesesatan dan kebodohan
setelah datangnya petunjuk dan jalan yang terang).

Jika orang-orang yang mengaku salafi ini adalah lebih parah daripada Khawarij dan
Mu’tazilah, maka konsekuensinya pengaku salafi ini bukan Ahlus Sunnah, bukan Islam
menurut Jahada. Jadi, siapa sebenarnya "Khawarij Gaya Baru???" Jahada atau
orang-orang yang mengaku salafi. Jawabannya, kami serahkan kepada pembaca yang
berakal.

PERNYATAAN JM bahwa mengeluarkan orang dari Ahlus Sunnah sama dengan


mengeluarkan orang dari Islam. PERNYATAAN ini mengharuskan tidak adanya ahli
bid’ah dan tabdi’, sebab tabdi’ akan menyebabkan kita harus mengeluarkan para ahli
bid’ah dari AHLUS SUNNAH alias Islam. Inilah konsekuensi pernyataan JM yang batil;
tak ada jalan keluar baginya, kecuali harus bertobat dari pernyataan itu.

Kesalahpahaman tentang makna Islam yang dialami oleh Jahada, juga pernah menimpa
seorang Penulis buku yang benama Ustadz Abdul Halim Abu Syuqqoh, Penulis kitab
"Tahrir Al-
Al-Mar’ah fii Ashr Ar-
Ar-Risalah". Kesalahpahaman ini telah diluruskan oleh
Syaikh Al-Albaniy ketika beliau dialog dengan Abu Syuqqoh. Sekarang dengarkan
kisahnya, kami ambilkan dari kitab Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaliy As
As--Salafiy (salah
seorang murid Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy -rahimahullah-), berikut nashnya:

• Syaikh Al-Albaniy berkata, "Jika ditanyakan kepada Anda, apa madzhabmu?


Apa jawaban Anda?"
• Abu Syuqqoh menjawab, "muslim".
• Syaikh Al-Albaniy berkata, "Ini tak cukup !"
• Abu Syuqqoh menjawab, "Sunnguh Allah telah menamai kita muslim". Abu
Syuqqoh membaca firman-Nya -Ta’ala-,

"Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu".
(QS.Al
Al-
Al-Hajj :78 ).

• Syaikh Al-Albaniy berkata, "Ini adalah jawaban yang benar andaikan kita berada
di kurun pertama sebelum tersebarnya kelompok-kelompok sesat. Andaikan
kita sekarang bertanya kepada muslim manapun dari kelompok-kelompok sesat
ini yang kita telah berbeda dengannya dalam pokok aqidah, maka tak akan
melenceng jawabannya dari kata ini (yaitu "kata muslim"). Semuanya akan
menjawab, baik itu orang Syi’ah-Rofidhoh,Khawarij, Duruz, maupun
Nushoiriy-Alawiy, "Aku adalah muslim". Jadi, ini tak cukup di hari-hari ini".
• Abu Syuqqoh berkata, "Kalau begitu aku katakan, Aku adalah seorang muslim
yang berada di atas Al-Kitab dan As-Sunnah".
• Syaikh Al-Albaniy berkata, "Ini juga tak cukup !"
• Abu Syuqqoh berkata, "Kok bisa?".
• Syaikh Al-Albaniy berkata, "Apakah Anda mendapati seorang diantara mereka
yang telah kita contohkan -misalnya- ia berkata, "Saya adalah seorang muslim
yang tak berada di atas Al-Kitab dan As-Sunnah"…Siapa yang akan
menyatakan, "Aku tak berada di atas Al-Kitab dan Sunnah?"

Kemudian Syaikh -hafizhahullah- mulai menjelaskan pentingnya landasan yang kami


bangun, yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman As-Salaf Ash-Sholih.

• Abu Syuqqoh berkata, "Kalau begitu aku katakan, Aku adalah seorang muslim
yang berada di atas Al-Kitab dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman
As-Salaf Ash-Sholih".
• Syaikh Al-Albaniy berkata, "Jika ada yang bertanya kepadamu tentang
madzhabmu, apakah engkau mengatakan hal itu kepadanya" .
• Abu Syuqqoh berkata, "Ya".
• Syaikh Al-Albaniy berkata, "Bagaimana pendapatmu jika kita meringkas kalimat
itu menurut bahasa? Karena sebaik-baik ucapan adalah yang ringkas, lagi
menunjukkan (maksud). Maka kita katakan, "Salafiy"[2].
• Abu Syuqqoh berkata, "Mungkin aku bisa bertoleran denganmu, maka aku
katakan kepadamu,"Ya ". Tapi keyakinanku sebagaimana yang telah lalu.
Karena awal kali –ketika orang mendengar bahwa engkau adalah
salafiy-,makapikiran manusia akan lari kepada banyak perkara nerupa
tindakan-tindakan bermuatan kekerasan yang sampai pada tingkatan kekasaran
yang terkadang terjadi dari salafiyyun".
• Syaikh Al-Albaniy berkata, "Anggaplah ucapanmu benar. Jika kau katakan,
"muslim", tidakkah pikiran orang akan lari kepada orang Syi’ah-Rofidhoh, atau
Duruziy, atau Isma’iliy…dan seterusnya?[3]
• Abu Syuqqoh berkata, "Mungkin saja. Tapi aku telah mengikuti ayat yang mulia
ini:

"Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim". (QS.Al


Al-
Al-Hajj :78 ).

• Syaikh Al-Albaniy berkata, "Tidak, wahai saudaraku!Sungguh engkau tak


mengikuti ayat ini, karena ayat ini memaksudkan Islam yang benar (baca: murni).
Seyogyanya Anda berbicara dengan manusia sesuai tingkatan
berpikirnya…apakah seorang diantara kalian akan memahami bahwa engkau
adalah muslim sesuai dengan makna yang dimaksudkan dalam ayat itu?
Perkara-perkara yang terlarang (tercela) yang Anda telah sebutkan, yah
terkadang benar atau tidak, karena ucapanmu "keras", ini terkadang pada
sebagian person, bukan menjadi manhaj dalam aqidah ilmiyyah. Tinggalkan
person-person itu, karena kita sekarang berbicara tentang manhaj; karena bila
kita bilang, "Syi’ah, Duruziy, Khawarij, shufiy, atau Mu’tazilah, maka akan
muncul perkara-perkara tercela tersebut (berupa sikap keras dan brutal).[4]
Jadi, itu bukanlah inti pembicaraan kita. Kita sedang membahas tentang nama
yang menunjukkan madzhab seorang manusia yang ia beragama kepada Allah
dengannya".
• Kemudian Syaikh berkata, "Bukankah semua sahabat muslim?"
• Abu Syuqqoh berkata, "Tentunya muslim".
• Syaikh Al-Albaniy berkata, "Tapi diantara mereka ada orang yang mencuri, dan
berzina. Ini tentunya tak membolehkan bagi seorang diantara mereka untuk
bilang, "Aku bukan muslim". Bahkan ia adalah muslim, dan beriman kepada
Allah dan Rasul-nya sebagai suatu manhaj. Akan tetapi terkadang ia
menyelisihi manhajnya, karena ia bukanlah ma’shum. Karenanya, kita –Semoga
Allah memberkahimu- sekarang berbicara tentang sebuah kata yang
menunjukkan aqidah kita, pemikiran kita, dan acuan kita dalam kehidupan kita
yang berkaitan dengan urusan agama kita yang kita menyembah Allah
dengannya. Adapun fulan orangnya mutasyaddid (keras) atau mutasahil
(bergampangan), maka ini adalah perkara lain"
• Kemudian Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- berkata lagi, "Aku ingin engkau
pikirkan kata yang ringkas ini (kata salafiy)
salafiy sehingga engkau tak tetap
bersikeras di atas kata muslim, sedang Anda tahu bahwa tak ada seorang pun di
antara kalian yang memahami apa yang Anda inginkan selama-lamanya. Jadi,
bicarailah manusia sesuai tingkatan berpikir mereka. Semoga Allah
memberkahimu dalam sambutanmu".

Inilah diskusi Syaikh yang kami nukilkan dari kitab Limadzaa Ikhtartu Al-
Al-Manhaj
As-
As-Salafiy (hal. 36-38) karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaliy As-Salafiy Al-Atsariy
-hafizhahullah-, cet. Dar Ibnil Qoyyim & Dar Ibnu Affan, 1422 H.

Footnote :

[1] Maknanya: Mereka lebih parah dan berbahaya dibanding Khawarij dan Mu’tazilah.

[2] Maksudnya Syaikh, daripada kita susah mengucapkan, "Aku adalah seorang muslim
yang berada di atas Al-Kitab dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman As-Salaf
Ash-Sholih", ya lebih baik kita cari istilah ringkasnya. Nah ternyata kalimat itu diwakili
oleh kalimat "Aku Salafiy" !!

[3] Kelompok-kelompok sesat ini amat masyhur kebrutalan mereka, sehingga


terkadang membuat orang berburuk sangka kepada Islam dan menyangka sebagai
agama sadis, padahal Islam berlepas diri dari sikap brutal. Bukan Cuma itu, disana
masih ada kelompok sesat lainnya di zaman ini dari kalangan Khawarij (kita sebut hari
ini dengan teroris). Mereka ini juga tak kalah brutalnya dengan kelompok-kelompok
sebelumnya. Masih segar dalam ingatan kita tentang peristiwa 11 September ketika
sekelompok teroris menabrakkan pesawat ke gedung WTC sehingga dunia tersentak
kaget, dan dunia barat yang sudah mulai simpati dengan Islam, akhirnya benci dan
alergi dengan Islam dan kaum muslimin. Kaum Khawarij ini juga (yang
mengatasnamakan diri mereka sebagai mujahidin secara dusta) telah melakukan aksi
brutal dan teror di pulau Bali, tanpa izin dari pemerintah. Mereka melakukan peledakan
yang menelan jumlah besar dari kalangan kafir maupun muslim. Tak usah jauh, juga
terjadi peledakan secara brutal dan keras di Mall ratu Indah, Makassar. Semua ini
mencoreng wajah Islam sehingga ada sebagian orang –utamanya orang kafir, munafiq,
dan lainnya- , jika ia mendengar kata Islam, atau melihat orang yang multazim, maka
akan muncul dalam pikirannya segala bentuk kebrutalan, dan kesadisan yang
disandarkan kepada Islam, akibat ulah kaum Khawarij !! Ini juga menunjukkan kita
bahwa mereka (kaum Khawarij-
Khawarij-Teroris) adalah kaum yang tak yang berakhlaq. Tak
ada lagi sifat rahmatun lil alamin. Tergesa-
Tergesa-gesa…tak sabar…ceroboh…itulah yang
menguasai mereka !!! Nas’alullahas salamah wal afiyah minal fitan wa ahliha.

[4] Maksud beliau, jika kita sebutkan kelompok-kelompok sesat itu, maka akan muncul
juga ke dalam benak orang sesuatu berupa kekerasan dan kebrutalan sebagaimana
telah kami contohkan dalam footnote (no.110).
"Dialog bersama Al-
Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc."
(Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah)

Kekeliruan dan Penyimpangan


Penyimpangan 2

"Meniadakan Prinsip Tabdi’ yang Syar’i dan Meremehkan Bid’ah "

Penulis : Ustadz Abu Fadhl Abdul Qodir Al-


Al-Bugishy
Editor : Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

• Meniadakan Prinsip Tabdi’ yang Syar’i

Ahlus Sunnah dari dulu telah menetapkan prinsip tabdi’ yang syar’iy bagi orang yang
berhak di-tabdi’. Oleh karena itu, para ulama kita telah men-tashnif
(mengelompokkan) manusia ke dalam beberapa aliran dan kelompok sesat, seperti:
Khawarij, Mu’tazilah, Murji’ah, Shufiyyah, Jahmiyyah, Asy’ariyyah, Karromiyyah,
Maturidiyyah, dan lainnya.

Prinsip tabdi’ ini berusaha dihapuskan oleh Al-Ustadz Jahada Mangka saat ia
berkata,"Islam itu adalah, iya manhaj Ahlus Sunnah . Manhaj Ahlus Sunnah, itu adalah
Islam.
Islam Maka tidak boleh kita pisahkan.
pisahkan Iye, karena mengeluarkan orang dari manhaj
ahlus sunnah berarti mengeluarkan dari? dari Islam!.
Islam! Mengeluarkan orang dari manhaj
salaf berarti mengeluarkan orang dari Islam.
Islam Cuma memang, perlu kita pahami bahwa
orang ber- Islam, orang mengikuti manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah itu- mutafawit,
bertingkat-tingkat. Bisa dipahami? Bertingkat-tingkat!"

Ucapan ini jelas dalam menghapuskan prinsip tabdi’, sebab men-tabdi’ orang berarti
menyatakannya keluar dari lingkup Ahlus Sunnah. Sedang JM tentunya tak ingin
mengeluarkan orang dari Ahlus Sunnah, sebab jika ia dikeluarkan darinya, maka
otomatis ia dikeluarkan dari Islam. Tak ada jalan lain bagi JM, kecuali ia harus
menghapus prinsip tabdi’. Nah, ini telah menyelisihi perkara yang aksioma (badihi) di
sisi para thullabul ilmi.

Diantara perkara yang menguatkan bahwa JM menghapuskan prinsip tabdi’, dia


berkata setelah itu, "Cuma memang, perlu kita pahami bahwa orang ber- Islam, orang
mengikuti manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah itu- mutafawit ‘bertingkat-tingkat’. Bisa
dipahami? Bertingkat-tingkat!"
Padahal jika JM berpikir sedikit, maka ia akan paham bahwa Ahlus Sunnah adalah
Ath-Thoifah Al-Manshuroh (kelompok yang ditolong) alias Al-Firqoh An-Najiyah
(kelompok yang selamat) alias Al-Jama’ah yang disebutkan oleh Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- dalam beberapa sabdanya yang akan kami sebutkan.

Adapun selain Ath-Thoifah Al-Manshuroh (kelompok yang ditolong) alias Al-Firqoh


An-Najiyah (kelompok yang selamat) alias Al-Jama’ah, maka mereka adalah
kelompok-kelompok sesat yang masih muslim. Al-Firqoh An-Najiyah dikatakan
selamat dari neraka, karena ittiba’ (keteladanan) mereka kepada Sunnah Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam-, baik dalam perkara aqidah, ibadah, akhlaq dan lainnya.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda menyifati Al-Firqoh An-Najiyah alias


Ahlus Sunnah,

‫ق‬ُ ِ َ(ْJَ(َ:‫ ِ< َو‬Nِ َ‫ ه‬Iُ ; Xُ ْ‫ ا‬Yََ ‫ث‬


ٍ [
َ َ\ ‫ َو‬ َ ِْ)ْQَ: Iً َAِْ6 َS%ُ‫ِ آ‬6 ‫; ِر‬D‫ ًة ِإ ;] ا‬Hَ ِ‫ْا وَا‬#َُA: ْ َ 
َ ِ‫ْ َل َ ه‬#ُ:‫ َر‬
ِ ‫؟ا‬
‫َ َل‬A: ْ َ ‫ن‬ َ َ‫ آ‬Yََ 8ِ ْPِ َ َ/‫ْ َم ََْ ِ َأ‬#َْ‫ِْ َو ا‬Tَ,ْ^‫َأ‬

"Ummat ini akan berpecah menjadi 73 golongan; semuanya di neraka, kecuali


satu".Mereka (para sahabat) bertanya,"Siapakah kelompok itu, wahai Rasulullah?".
Beliau menjawab, "Orang yang berada di atas sesuatu yang aku dan para sahabatku
berada di atasnya hari ini".[1]

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa kelompok yang selamat dari neraka adalah
orang yang mengikuti sesuatu yang pernah dipijaki oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam- dan para sahabatnya berupa aqidah shohihah, ibadah, dan akhlaq. Adapun
kelompok-kelompok sesat lainnya, seperti Khawarij, Mu’tazilah, dan lainnya, maka
semua menyalahi yang pernah dipijaki oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para
sahabatnya. Jadi, Khawarij atau Mu’tazilah -misalnya- tak mungkin kita
menganggapnya sebagai Ahlus Sunnah!!

• Meremehkan Bid’ah

Pembaca yang budiman, bid’ah adalah perkara yang amat besar di sisi Allah, sebab ia
merupakan upaya dalam meralat syari’at Allah -Azza wa Jalla-. Para salaf dahulu
amat takut dengan bid’ah, walaupun bid’ah itu termasuk golongan shoghiroh (dosanya
kecil).
Sebagai contoh, kisah Abdullah bin Mas’ ud -radhiyallahu ‘anhu- yang masyhur dalam
mengingkari para pelaku dzikir jam a’ah di salah satu masjid Kufah.

‘Amer bin Salamah ibnul H arits -rahimahullah- menceritakan,

;Dُ‫ آ‬U ُ ِْCَ/ Yََ ‫ب‬ ِ َT Hِ ْQَ ِ ;‫ ا‬ ِ ْT ‫ ٍد‬#ُ)ْKَ 8َ ْQَA ‫َا ِة ^ََ ِة‬Hَْ‫ذَا ا‬Fَِ6 ‫ج‬ َ َ َ$ َDَْaَ ُ َ)َ Yَ‫َ اَِْْ ِ ِإ‬/‫َ َء‬Cَ6 #ُT‫َأ‬
Yَ:#ُ ‫ي‬ % ِ َ)ْdَْ‫َ َل ا‬5َ6 ‫ج‬ َ َ َ$‫ْ َأ‬Eُ'َْ‫ ِإ‬#ُT‫ َأ‬Hِ ْQَ ِ َْ; ‫ ا‬Hُ ْ)َT َDُْA َ Uَ ََCَ6 َ َDَ) Y;(َ ‫ج‬ َ َ َ$ ;ََ6 ‫ج‬َ َ َ$ َDُْA
ِ َْ‫َِ)ً ِإ‬9 ‫َ َل‬5َ6 ُ َ #ُT‫ َأ‬Yَ:#ُ َ َT‫ َأ‬Hِ ْQَ ِ َْ; ‫ ا‬O/‫? ِإ‬ ُ ْ ‫ِ َرَأ‬6 Hِ ِCْKَْ‫ً ا‬Jِ/! ‫ْ'َُْ ُ َأ ًْا‬/‫ْ َأ‬Eَ‫ َأ َر َو‬Hُ َْ,ْ‫وَا‬
ِ ;ِ ;‫ًَْا ِإ‬$ ‫َ َل‬A ََ6 #َ ُ‫َ َل ه‬5َ6 ْ‫?ِ ِإن‬ َ ْa <ُ ‫َ(ََا‬Kَ6 ‫َ َل‬A ? ُ ْ ‫ِ َرَأ‬6 Hِ ِCْKَْ‫ْ ً ا‬#َA ً5َِ ً:#ُُ9 ‫ن‬ َ ‫ُِو‬3َ(ْDَ
‫;َ َة‬.‫ِ ا‬6 8O ُ‫ آ‬Iٍ َ5َْ ٌ8ُ9‫ِ َر‬6‫ْ َو‬EِS ِHْ ‫ َأ‬Yً.َ ‫ ُل‬#ُ5ََ6 ‫ُوا‬OQَ‫ آ‬Iً َ-ِ ‫ن‬ َ ‫ُو‬OQَ'َُ6 Iً َ-ِ ‫ ُل‬#ُ5ََ6 ‫ا‬#ُOَ‫ ه‬Iً َ-ِ
‫ن‬َ #ُOَSَُ6 Iً َ-ِ ُ5َ ‫ ُل َو‬# ‫ا‬#ُ,OQَ: Iً َ-ِ ‫ن‬ َ #ُ,OQَKَُ6 Iً َ-ِ ‫َ َل‬A ‫ََذَا‬6 ? َ ُْA ْEُSَ ‫َ َل‬A َ ?ُ ُْA ْEُSَ ًeَْd ‫َ َر‬3ِ(ْ/‫ ا‬G َ ِ ْ‫َرأ‬
‫َ َر‬3ِ(ْ/‫ك وَا‬ َ ِ ْ ‫َ َل َأ‬A ََ6‫ْ َأ‬EُSََْ ‫وا َأنْ َأ‬%Hُ)َ ْEِSَِeOَ: ? َ ْDَِ*‫ْ َو‬EُSَ ْ‫ َ َأن‬fَ ِgَ ْ ِ ِSَِDَKَْE E; ُ\ Yَgَ
َDَْgَ ‫ َ)َ ُ َو‬Y;(َ Yَ‫ َأ‬Iً َ5َْ ْ ِ G َ ِْ h
ِ َِ,ْ‫& ا‬ َ َA#َ َ6 ْEِSََْ ‫َ َل‬5َ6 َ ‫َا‬Nَ‫ِي ه‬N;‫ْ ا‬Eُ‫ن َأرَاآ‬ َ #ُ)َDْ.َ ‫ا‬#َُA َ َT‫َأ‬
Hِ ْQَ ِ َْ; ‫ ا‬Yً.َ H% ُ)َ/ ِ ِT َ ِQْ';(‫ ا‬8َ ِْS;(‫ وَا‬i َ ِQْK;(‫َ َل وَا‬A H% ُ)َ6‫ْ وا‬Eُ'َِeOَ: َ/ََ6 ٌ ِ َ* ْ‫ َ َأن‬fَ ِgَ ْ ِ
ْEُ'َِDَKَ ٌ‫َْء‬d ْEُ'َ,ْ ‫ َ َو‬Iَ ; ‫ ُأ‬Hٍ ;َ,ُ َ ‫ع‬ َ َ ْ:‫ْ َأ‬Eُ'َ(َ'ََ‫ هَ َُ ِء ه‬Iُ َTَ,َ^ ْEُ'OِQَ/ Y;َ^ ُ ;‫ ََْ ِ ا‬Eَ ;َ:‫َو‬
‫ن‬َ ‫ُِو‬6‫َا‬#َ(ُ <ِ Nِ َ‫ُ ُ َوه‬Tَِ\ ْEَ 8َ ْQَ َِ/!َ‫ْ (ُ ُو‬Eَ َْKْ'ُ ‫ِي‬N;‫ِ وَا‬KْJَ/ <ِ Hِ َِT ْEُ';/‫ ِإ‬Yََ)َ Iٍ ;ِ  َ ِ‫َى ه‬Hْ‫ ِ ْ َأه‬Iِ ;ِ Hٍ ;َ,ُ
ْ‫ َأو‬#ُ,ِ(َ(ْJُ ‫ب‬ ِ َT Iٍ َََ* ‫ا‬#َُA ِ ;‫َ َ وَا‬T‫ َأ‬Hِ ْQَ ِ َْ; ‫َ َ ا‬/ْ‫َْ َ ِإ; َأ َرد‬kْ‫َ َل ا‬A ْEَ‫ ِ ْ َوآ‬Hٍ ُِ ِ َْkِْ ْ َ
ُ َQِ.ُ ‫ن‬ ; ‫ َل ِإ‬#ُ:‫ ا; ِ َر‬Y;َ^ ُ ;‫ ََْ ِ ا‬Eَ ;َ:‫َ َو‬Dَ\H; َ ‫ن‬ ; ‫ْ ً َأ‬#َA ‫ن‬ َ ‫ْ َءُو‬5َ ‫ن‬ َ !ُْ5ْ‫َ ِو ُز َ ا‬Cُ ْEُSَِA‫ ََا‬Eُ ْ ‫ا; ِ وَا‬
َ ‫ َأدْرِي‬8; َ)َ ْEُ‫َ َه‬Pْ‫ْ َأآ‬Eُ'ْDِ E; ُ\ Y;#َ َ ْEُSْDَ ‫َ َل‬5َ6 ‫ َُْو‬ ُ ْT َََ:Iَ َDْ ‫ َرَأ‬Iَ ; َ G َ ِeَ‫ أُو‬hِ َِ,ْ‫َ ا‬/#ُDَِmُ ‫ْ َم‬#َ
‫ن‬ِ ‫ْ َوَا‬S;D‫ ا‬fَ َ ‫ج‬ ِ ‫َا ِر‬#َkْ‫ا‬

“Kami pernah duduk-duduk di depan pintu rumah ‘Abdullah bin Mas’ ud sebelum
sholat Shubuh . Jika beliau keluar kami akan berjalan bersamanya ke mesjid. Lalu Abu
M usa Al-Asy’ary mendatangi kami seraya berkata : “Apakah Abu
‘Abdirrahman[2]sudah keluar kepada kalian?”Jawab kami : “Belum”. Kemudian diapun
duduk bersama kami sampai beliau keluar. Tatkala beliau keluar, kami semuanya berdiri
menuju kepadanya. Lalu Abu M usa berkata kepadanya : “Wahai Abu ‘Abdirrahman
sesungguhnya baru saja saya melihat di mesjid suatu perkara yang saya ingkari dan
saya tidak berprasangka –alhamdulillah- kecuali kebaikan”. Beliau berkata : “Apa
perkara itu?” Dia menjawab : “Kalau engkau masih hidup maka engkau akan melihatnya.
Saya melihat di mesjid ada sekelompok orang duduk-duduk dalam beberapa halaqoh
(majelis) sambil menunggu sholat. Di setiap halaqoh ada seorang lelaki (yang
memimpin) -Sementara di tangan mereka ada batu-batu kecil-. Lalu orang (pimpinan)
itu berkata : “Bertakbirlah kalian sebanyak 100 kali”. Merekapun bertakbir 100 kali.
Orang itu berkata lagi : “Bertahlillah kalian sebanyak 100 kali”, maka merekapun
bertahlil 100 kali, orang itu berkata lagi : “Bertasbihlah kalian sebanyak 100 kali”, maka
merekapun bertasbih 100 kali. Beliau berkata : “Apa yang engkau katakan kepada
mereka?”.Dia (Abu M usa) menjawab : “Saya tidak mengatakan sesuatu apapun
kepada mereka karena menunggu pendapat dan perintahmu”. Maka beliau berkata :
“Tidakkah engkau perintahkan kepada mereka agar mereka menghitung
kejelekan-kejelekan mereka dan kamu beri jaminan kepada mereka bahwa
kebaikan-kebaikan mereka tidak akan ada yang sia-sia?!”. Kemudian beliau pergi dan
kami pun pergi bersamanya sampai beliau mendatangi satu halaqoh diantara
halaqoh-halaqoh tadi seraya berdiri di depan mereka dan berkata : “Perbuatan apa ini
yang saya melihat kalian melakukannya?!”. Mereka menjawab : “Wahai Abu
‘Abdirrahman, ini adalah kerikil-kerikil yang kami (pakai) menghitung takbir, tahlil dan
tasbih dengannya”. Maka beliau berkata : “Hitunglah kejelekan-kejelekan kalian dan
saya jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan sia-sia. Betapa kasihannya kalian
wahai ummat Muhammad, begitu cepatnya kehancuran kalian. Ini, mereka para sahabat
Nabi kalian -Shollallahu ‘alaihi wasallam- masih banyak bertebaran. Ini pakaian beliau
(Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-) belum usang. Bejana-bejana beliau
belum pecah. Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kalian
betul-betul berada di atas suatu agama yang lebih berpetunjuk daripada agama
Muhammad atau kalian sedang membuka pintu kesesatan?!”. Mereka berkata : “Wahai
Abu ‘Abdirrahman, demi Allah kami tidak menginginkan kecuali kebaikan”. Beliaupun
berkata : “Betapa
Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan akan tetapi dia tidak
mendapatkannya.
mendapatkannya Sesungguhnya Rasulullah menceritakan kepada kami tentang suatu
kaum, mereka membaca Al-Qur`an akan tetapi (bacaan mereka) tidak melampaui
tenggorokan mereka. Demi Allah, saya tidak tahu barangkali kebanyakan mereka
adalah dari kalian”. Kemudian beliau meninggalkan mereka. Amr bin Salamah berkata :
“Kami telah melihat kebanyakan orang-orang di halaqoh itu adalah orang-orang yang
menyerang kami bersama Khaw arij pada perang Nahraw an” [HR. HR. Ad-
Ad-D arimy dalam
Sunan-nya (210). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Alb any dalam Ash-
Ash-Shoh ihah (no.
2005)]

Perhatikanlah kisah ini baik-baik –semoga Allah merahmatimu-, niscaya engkau akan
mendapatkan suatu harta yang lebih berharga daripada dunia dan seisinya. Lihat
bagaimana sahabat Abdullah bin Mas’ ud -radhiyallahu ‘anhu- menghukumi perbuatan
mereka sebagai suatu bid’ah dan kesesatan, tanpa memandang bid’ahnya tergolong
kabiroh (dosa besar) atau shoghiroh (dosa kecil). Inilah sikap para salaf dalam
mengingkari bid’ah; mereka amat tegas, sebab mereka takut jika bid’ah itu
berkembang dan berketurunan atau memanggil bid’ah lain. Jadi, para salaf tidaklah
meremehkan dan menganggap enteng suatu bid’ah; bukan seperti Al-Ustadz Jahada
Mangka, Lc yang meremehkan bid’ah.

Pembaca yang budiman, mungkin anda bertanya dalam hati apa buktinya bahwa JM
meremehkan bid’ah?
bid’ah Jawabnya, amat mudah!! Lihat saja saat ia mengomentari kasus
tanzhim yang dituduhkan kepada Wahdah, "Kita sepakati dulu bahwa, ya, oke, dia
adalah dosa!. Dia adalah bid’ah!Sekarang kita lihat!, iye, kembalikan kepada tadi!
(nampak anwaudz dzunub di layar) Antum lihat!

– Apakah tanzhim masuk syirik? ("Tidak!", kata mad’u ).

– Tanzhim masuk kufur?. ("Tidak!", kata mad’u)

– Tanzim masuk kabiirah? ("Tidak!", kata mad’u).

– Ada ancaman orang yang bertanzhim? ("Tidak!", kata mad’u).

– Ada hukumannya di dunia?

– Dila’nat dan dikutuk? ("Tidak!", kata mad’u).

– Dinafikan imannya?

Berarti tidak ada satupun dawabith (kriteria, pen.-) yang kita sebutkan di sini, dari
dawaabithul kabirah.
kabirah Berarti, paling tidak dia masuk dalam ketegori? ‘a?. Shaghiirah!
Seandainya pun kita sepakat bahwa tanzhim itu adalah bid’ah atau dosa, berarti dia
masuk dalam kategori? ‘a? Dosa kecil!." Demikian kata Al-Ustadz Jahada Mangka, Lc.

Jahada juga berkata , "Okelah, kita sepakati dulu sesuai dengan, ya, tuduhan mereka.
Marhalah bid’ah! Marhalah,
Marhalah, iye,, dosa, maksiat!.
maksiat! Tapi sekarang kita lihat, iye. Coba kita
lihat!

Apakah marhalah itu masuk dalam kategori kesyirikan? ‘a?

Masuk dalam kategori kekufuran? ("Tidak!", jawab mad’u).

Masuk dalam kategori dosa besar? ("Tidak!", jawab mad’u).


Tidak ada satupun dari dawabithnya!.
dawabithnya Tidak ada dawabith (kriteria), iye. Kemudian kalau
begitu paling tinggi dia adalah: dosa kecil.
kecil Dosa? Kecil! "

Dengan metode seperti di atas,


atas Jahada berkata saat mengomentari tentang tarbiyah
mereka, "Berarti paling tidak, paling tinggi kalau seandainya dia adalah pelanggaran,
maka dia adalah shagiirah (dosa kecil)! "

JM berkata dalam meremehkan bid’ahnya demo (muzhoharoh), "Apakah muzhaharah


(demonstrasi) masuk kategori syirik? Hatta (sampai) seandainyapun syirik. Kalau dia
adalah
adalah syirik kecil maka tidak keluar orang dari? Islam!,
Islam dari manhaj
ahlussunnah!apalagi jelas bukan syirik.
syirik Kufur? Bukan kufur!. Hatta seandainya kufur,
tapi dia kufrun duna kufrin,
kufrin maka juga tidak bisa kita keluarkan orang itu secara
otomatis dari Islam. Masuk dalam kabiirah? Ya, mungkin bisa masuk dalam kabiirah, ya
tapi ini perlu pembahasan khusus".
khusus

Inilah beberapa bukti akurat tentang peremehan JM terhadap bid’ah. Perlu dipahami
bahwa bid’ah bisa membuat seseorang keluar dari Ahlus Sunnah, walaupun bid’ah itu
kecil menurut sebagian orang. Ketahuilah bahwa bid’ah shoghiroh (kecil) akan berubah
menjadi bid’ah kabiroh sebagaimana halnya dosa shoghiroh (kecil) bisa berubah
kadarnya menjadi dosa kabiroh (besar).

Al-
Al-Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Musa Asy-Syathibiy -rahimahullah- berkata, "Jika kita
Asy-Syathibiy
telah menerima bahwa diantara bid’ah ada yang shoghiroh (kecil), maka yang demikian
itu berdasarkan beberapa syarat.

1. Syarat pertama:
pertama: tidak kontinyu di atasnya,
atasnya sebab maksiat yang kecil bagi orang
yang kontinyu melakukannya akan menjadi besar hubungannya dengan dirinya.
Karena hal itu timbul dari dari kontinyunya seseorang di atas maksiat.
Sedangkan kontinyu di atas maksiat mengubahnya menjadi besar. Oleh karena
itu, mereka (para ulama) berkata, "Tak ada dosa kecil jika kontinyu dilakukan,
dan tak ada dosa besar jika disertai permohonan ampuanan". Demikian pula
bid’ah, tanpa ada bedanya…
2. Syarat Kedua:
Kedua: Tidak mengajak (tidak berdakwah) kepada bid’ah tersebut.
tersebut
Karena suatu bid’ah terkadang ia shoghiroh (kecil) menurut sebuah tinjauan.
Kemudian orang mengadakannya mengajak untuk menyatakannya dan
mengamalkan konsekuensinya. Jadi, dosa semua perkara itu ada pada
pundaknya, sebab dialah yang membangkitkannya, dan dengan sebab dirinya
bid’ah itu banyak terjadi dan diamalkan. Karena hadits shohih telah
mengabarkan bahwa barangsiapa yang membuat suatu contoh yang jelek, maka
dosa kejelekan itu dan dosa orang yang mengamalkannya ada pada pundaknya,
dan hal itu tidaklah mengurangi dosa mereka sedikitpun. Dosa kecil dengan
dosa besar hanyalah perbedaan keduanya berdasarkan banyak-sedikitnya dosa.
Terkadang dosa kecil –dari sisi ini- menyamai dosa besar atau melebihinya.
Maka kewajiban seorang ahli bid’ah jika ia tertimpa bid’ah agar mencukupkan
bid’ah itu pada dirinya, dan tidak mengumpulkan dosanya dengan dosa orang
lain…
3. Syarat Ketiga:
Ketiga Bid’ah shoghiroh itu tidak dilakukan di tempat-
tempat-tempat yang
merupakan tempat perkumpulan manusia atau tempat-
tempat-tempat yang ditegakkan
padanya sunnah-
sunnah-sunnah , dan nampak padanya tanda-
tanda-tanda (syi’ar) syari’at.
syari’at.
Adapun menampakkan bid’ah tersebut di tempat-tempat umum oleh
orang-orang yang disangka baik, maka itu termasuk perkara yang amat
membahayakan sunnah Islam, karena hal itu tak keluar dari dua perkara. Entah
pelaku bid’ah itu diteladani dalam dalam bid’ah tersebut. Karena orang-orang
awam adalah pengekor sembarang orang. Terlebih lagi bid’ah yang dihias-hiasi
oleh setan untuk manusia, yang disenangi oleh hawa nafsu. Jika seorang pelaku
bid’ah shoghiroh diiikuti , maka bid’ah itu menjadi besar hubungannya dengan
dirinya. Karena barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dosanya
ada dipundaknya, dan juga dosa orang yang mengamalkan bid’ah itu. Jadi, dosa
akan besar baginya tergantung banyaknya pengikut. Ini sama persis yang
terdapat pada maksiat (dosa-dosa) kecil. Karena seorang alim -misalnya- jika
ia menampakkan maksiat -walaupun kecil-, maka akan gampang dilakukan oleh
manusia. Sebab seorang yang jahil akan bergumam, "Andai perbuatan ini
sebagaimana yang ia katakan bahwa itu adalah dosa, maka ia tak mungkin akan
melakukannya. Dia (sang alim) hanyalah melakukannya karena suatu perkara
(dasar) yang ia ketahui, yang kita tidak ketahui".Demikian pula bid’ah, jika
ditampakkan oleh seorang alim yang diteladani di dalamnya, maka pasti
(demikian juga masalahnya). Karena bid’ah itu merupakan sarana pendekatan
diri menurut sangkaan orang jahil, karena seorang jahil melakukannya
berdasarkan segi tersebut. Bahkan bid’ah lebih parah lagi menurut makna
(tinjauan) seperti ini. Sebab dosa terkadang tidak diikuti (oleh orang); berbeda
dengan bid’ah, orang tak akan canggung mengikutinya, kecuali bagi orang yang
tahu bahwa itu adalah bid’ah yang tercela. Ketika itulah bid’ah seperti
kedudukan dosa . Jika demikian halnya, maka bid’ah shoghiroh (kecil) itu
berubah menjadi bid’ah kabiroh (besar), tanpa syak. Jika ia mengaja kepada
bid’ah itu, maka kondisinya lebih parah. Jika penampakkan bid’ah itu
mendorong untuk mengikutinya, maka ajakan itu jelas lebih mengajak kepada
ittiba’ (mengikuti bid’ah itu)…Adapun melakukan bid’ah shoghiroh di
tempat-tempat yang dilakukan padanya sunnah-sunnah, maka ia seperti
mengajak kepadanya secara terang-terangan. Karena tempat dinampakkannya
syi’ar-syi’ar Islam akan memberikan opini bahwa segala sesuatu yang
dinampakkan di dalamnya, maka ia termasuk syi’ar-syi’ar Islam. Seakan-akan
orang yang menampakkan bid’ah itu berkata, "Ini adalah sunnah, maka
ikutilah !!"…Pembicaraan kita menunjukkan atas penekanan dalam
perkara-perkara baru (bid’ah), jangan sampai dilakukan di tempat-tempat
umum atau di tempat-tempat yang ditegakkan padanya sunnah-sunnah, amat
dipelihara di dalamnya perkara-perkara yang disyari’atkan. Karena jika bid’ah
ditegakkan di dalamnya, maka manusia akan mengambilnya dan
mengamalkannya. Lalu dosa hal itu akan kembali kepada orang yang
melakukannya pertama kali, dan dosanya pun membanyak, dan bahaya
bid’ahnya semakin besar.
4. Syarat Keempat:
Keempat: Bid’ah Shoghiroh (kecil) itu tidak dipandang kecil dan remeh,
jika kita menganggapnya kecil. Karena hal itu adalah peremehan terhadap
bid’ah. Sedang peremehan terhadap dosa adalah lebih besar dibandingkan dosa
itu sendiri. Hal itu (yakni, peremehan) menjadi sebab besarnya sesuatu yang
kecil, karena dosa memiliki dua tinjauan. (1) Tinjauan dari sisi tingkatannya
menurut syari’at. (2) Tinjauan dari sisi penyelisihannya terhadap Robb (Allah)
Yang Maha Agung dengan dosa itu. Adapun tinjauan pertama, maka dari sisi itu
dosa kecil itu dianggap kecil, jika kita memahami dari syari’at bahwa ia kecil,
sebab kita meletakkannya menurut syari’at. Adapun tinjauan yang lain (kedua),
maka ia kembali kepada keyakinan kita dalam mengamalkannya, dimana kita
meremehkan untuk menghadapi Robb –Subhanahu- dengan penyelisihan.
Kewajiban pada diri kita, menganggap dosa itu amat besar, sebab tak ada
bedanya pada hakikatnya antara dua penghadapan; menghadapi Allah dengan
dosa besar, dan menghadapi Allah dengan dosa kecil…". Demikian nukilan dari
Al-Imam Asy-Syathibiy -rahimahullah-.[3]

Jika kita kembali kepada sikap Al-Ustadz H. Jahada Mangka dalam meremehkan
beberapa pelanggaran yang terdapat dalam Wahdah Islamiyah (seperti, tarbiyah bid’ah,
bai’at bid’ah, muwazanah, demo, dan lainnya), maka sang Ustadz tak lepas dari empat
syarat yang disebutkan oleh Al-Imam Asy-Syathibiy di atas, sehingga bid’ah-bid’ah
WI ini –kalaupun kita anggap kecil-, maka ia berubah menjadi BID’AH KABIROH
(besar).

Anggaplah bid’ah itu kecil menurut pandangan JM, tapi apakah bid’ah kecil jika
dilazimi, tidak akan membuat orang keluar dari Ahlus Sunnah, apalagi jumlahnya banyak
dan dikenal atau dinyatakan oleh para ulama sebagai bid’ah??!. Bagaimana menurut
JM jika ada orang yang ber-maulid, ulang tahun, ber-milad, ber-Valentine, dzikir
jama’ah, yang mana semua ini menurut JM adalah shoghiroh ketika dihadapkan dengan
dhowabith yang dijelaskan oleh JM dalam ceramahnya tersebut. Kami tanya JM dan
orang semisalnya, "Apakah orang-orang yang melakukan bid’ah-bid’ah itu tetap
dianggap sebagai Ahlus Sunnah atau bukan??!"Tanda tanya besar !!

Selain itu, anggaplah bid’ah-bid’ah yang ada pada WI tersebut adalah shoghiroh,
apakah menghalangi kita untuk mengingkari WI saat melakukannya, apalagi membela
dan mempertahankannya dengan "dalil", dan "hujjah". Tidak, sama sekali tidak
demikian!! Bahkan boleh kita mengingkarinya sebagai tashfiyah dan tarbiyah bagi
ummat ini. Fa’tabiruu ya ulil abshor.

Jika kita mau jujur, sebenarnya pelanggaran-pelanggaran WI adalah bernilai kabiroh


(besar) , karena akan bermuara kepada al-
al-khuruj alal hukkam (pemberontakan dan
pembangkangan kepada penguasa muslim yang sah). Sedangkan Ahlus Sunnah telah
sepakat haramnya memberontak dan membangkang,
membangkang baik dengan lisan, tulisan,
perbuatan, dan senjata. Bukti mereka khuruj ala
alall hukkam
hukkam, WI telah melakukan demo,
tidak mengakui pemerintah yang berkuasa sekarang sebagai pemerintah yang sah dan
boleh dibai’at[4].

Anggaplah bahwa semua pelanggaran WI adalah shoghiroh (dosa kecil), tapi perlu
diingat bahwa para ulama telah menyatakan:

]َ ‫ ^َِْ َ َة‬fَ َ ‫^َْا ِر‬nِ ‫ا‬

"Tak ada dosa yang kecil jika kontinyu" .[5]

Jika seseorang meremehkan dosa kecil, maka noda dari dosa kecil itu jika menumpuk
akan menjadi dosa besar yang akan membinasakan. Sebab seorang yang meremehkan
dosa kecil akan terseret untuk meremehkan dosa kecil atau dosa besar lainnya,
bahkan akan meremehkan kekafiran dan kesyirikan sebagai balasan kurangnya khosyah
(rasa takut)nya kepada Allah. Wa’iyadzu billah. Inilah kondisi hati yang diliputi oleh
roon (noda dan bercak hitam). Allah -Ta’ala- berfirman,

"Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu
menutupi hati mereka". (QS. Al-Al-Muthoffifin:14
Muthoffifin ).

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-,

‫ن‬; ‫ ِإ‬Hَ ْQَ)ْ‫ََ ِإذَا ا‬mْ$‫ َأ‬Iً َeِmَ$ ْ?َ(ِ'ُ/ ِ6 ِ ِQَْA ٌIَ(ْ'ُ/ ‫ْدَا ُء‬#َ: ‫ذَا‬Fَِ6 #َ ُ‫ع ه‬
َ Bَ َ/ َ َJَْ(ْ:‫ب وَا‬
َ َ‫ َو‬8َ ِ5ُ: ُ ُQَْA ْ‫َ َد َوِإن‬
Hَ ِ‫َ ز‬Sِ6 Y;(َ #َ ُْ)َ ُ َQَْA

"Sesungguhnya orang yang beriman jika melakukan suatu dosa, maka dosa itu menjadi
titik hitam di dalam hatinya. Jika dia bertaubat dan mencabut serta berpaling (dari
perbuatannya) maka mengkilaplah hatinya. Jika dosa itu bertambah, maka titik hitam
itupun bertambah hingga memenuhi hatinya." [HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya
(3334), dan Ibnu Majah Sunan-nya (4244). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh
Al-Albaniy dalam Shohih At-At-Targhib (1620)]

Janganlah seseorang memandang remeh dosa-dosa yang ia lakukan, namun hendaklah


ia melihat kepada siapa ia bermaksiat. Janganlah seseorang memandang remeh
dosa-dosa, karena ia akan menyesalinya kelak, dan janganlah seseorang memandang
remeh dosa-dosa, karena sesungguhnya tidak ada dosa kecil jika dilakukan
terus-
terus -menerus, dan tidak ada dosa besar jika diiringi dengan istighfar, sebab gunung
kerikil-
itu berasal dari kerikil kecil.
-kerikil kecil

Cobalah renungi peringatan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa Sallam- tentang bahaya


meremehkan dosa-dosa kecil,

ْEُ‫ت ِإ ;آ‬
ِ ‫;َا‬5َ,ُ ‫ب َو‬
ِ #ُ/N% ‫;َ ا‬/Fَِ6 ‫ت‬
ِ ‫;َا‬5َ,ُ ‫ب‬ ِ ْ#ُ/N% ‫ ا‬8ِ َPََ‫ْ ٍم آ‬#َA ‫ْا‬#ُBَ َ/
َ ْmَT ‫َ َء وَا ٍد‬Cَ6 ‫ْ ٍد ذَا‬#ُ)ِT ‫َ َء‬9‫ْ ٍد ذَا َو‬#ُ)ِT
Y;(َ ‫ْا‬#ُ)ََ9 َ ‫ْا‬#ُCَgْ/‫ِ ِ َأ‬T ْEُ‫ه‬Bَ ْQُ$ ‫ن‬ ; ‫ت َوِإ‬ِ ‫;َا‬5َ,ُ ‫ب‬ ِ ْ#ُ/N% ‫ ا‬Yَ(َ Nُ َ$ُْ َSِT َSُQَِ^ ُ ْ'ِْSُ

"Waspadailah dosa-dosa kecil, karena perumpamaan dosa-dosa kecil itu laksana suatu
kaum yang singgah disuatu lembah kemudian masing-masing membawa sebatang
ranting, hingga mreka dapat mngumpulkan kayu yang cukup untuk memasakkan roti
mereka. Sesungguhnya pelaku dosa-dosa kecil tatkala disiksa dengan sebab
dosa-dosa yang dianggap remeh, (niscaya) hal itu akan membinasakannya". [HR.
Ahmad dalam Al-Al-Musnad (22860), Ath-Thobroniy dalam Al-
Al-Kabir (10500), dan
Al-Baihaqiy dalam Syu'abul Iman (7267). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam
Ash-
Ash-Shohihah (389)]

Al- Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata, "Diantara dampak buruk


Al-Hafizh Ibnu Qoyyim Al-
maksiat, seorang hamba senantiasa melakukan dosa sampai dosa itu akan remeh
menurutnya, dan terasa kecil dalam hatinya. Itulah tanda kebinasaan,
kebinasaan karena dosa jika
semakin kecil dalam pandangan seorang hamba, maka akan semakin besar urusannya
di sisi Allah". [Lihat Ad-
Ad-Daa'u wad Dawaa' (hal. 93-94), cet. Dar Ibnul Jauziy, dengan
tahqiq Ali bin Hasan Al-Atsariy]

Oleh karena itu, hendaknya seseorang kembali kepada Tuhan-nya! Janganlah ia


menunda-nunda taubatnya hingga ia tidak mampu lagi untuk melakukannya. Ibarat
seorang pemuda yang ingin mencabut sebuah pohon yang masih kecil, maka hal itu
tidaklah sulit baginya
baginya.
ya Namun apabila ia mengulur-ulur waktu, maka pohon itu akan
semakin membesar dan akarnya akan semakin kuat tertancap ke dalam bumi, dan ia
pun akan semakin tua dan melemah sehingga ia tidak mampu lagi untuk mencabutnya.

Abdur Rahman Ibnul Jauziy-rahimahullah- berkata dalam Shoidul Khothir


(hal.210-211), "Maha Suci Sang Raja Maha Agung (Allah) yang barangsiapa yang
mengenalnya, maka ia akan takut kepada-Nya; barang siapa yang merasa aman
terhadap makar-Nya, maka ia tak akan mengenal-Nya. Sungguh aku telah merenungi
suatu perkara yang amat agung, yaitu Allah –Azza wa Jalla- selalu memberi
penangguhan sampai seakan Dia lalai. Maka anda akan melihat tangan orang-orang
yang suka bermaksiat dalam keadaan bebas, seakan-akan tak ada yang
menghalanginya. Jika ia semakin bebas, dan akal lepas, maka Allah akan memberikan
hukuman kepada orang itu seperti hukuman raja yang sombong. Penangguhan
(hukuman dosa) itu hanyalah untuk menguji kesabaran orang yang bersabar, dan
mengulurkan penangguhan bagi orang yang zholim. Maka tegarlah orang yang sabar ini
di atas kesabarannya, dan si zholim ini diberi balasan atas kejelekan perbuatannya".

Inilahsedikit diantara nasihat bagi orang-orang yang meremehkan dosa-dosanya,


tanpa melihat kepada kebesaran Robb-nya. Semoga hal ini dipikirkan dan ditadabburi
oleh orang-orang yang mau berakal.

[1] HR. At-Tirmidziy (2641), Al-Hakim (444), Ibnu Wadhdhoh dalam Al-
Al-Bida’ wa
An-
An-Nahyu anha (hal.15-16), Al-Ajurriy (16), Al-Uqoiliy dalam Adh-
Adh-Dhu’afaa’
(2/262/no.815), Ibnu Nashr Al-Marwaziy dalam As-Sunnah (hal.18), Al-Lalika’iy (147),
dan Al-Ashbahaniy dalam Al-Al-Hujjah fi Bayan Al-
Al-Mahajjah (1/107). Hadits ini
di-hasan-kan oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaliy Al-
Al-Atsariy dalam Basho’ir Dzawisy
Syarof (hal.75), cet. Maktabah Al-Furqon, UEA

[2] Abu Abdir Rahman: Sapaan bagi Abdullah bin Mas’ud. Abu Abdirrahman, artinya:
Bapaknya Abdur Rahman. Hal ini juga berlaku di negeri kita sebagai sapaan
penghormatan. [ed]

[3] Lihat Al-


Al-I’tishom (2/389-398) karya Asy-Syathibiy, tahqiq Masyhur Hasan Salman,
cet. Maktabah At-Tauhid, 1421 H.

[4] Sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Ustadz H. Muh. Ikhwan Abdul Jalil dalam
sebuah ceramahnya dihadapan mahasiswa Al-Birr, dan juga pernyataan Sekjen WI,
Al-Ustadz H. Qosim Saguni. Mudah-mudahan nanti pernyataan kedua orang ini kami
akan nukilkan dalam sebuah risalah yang sedang kami garap. Semoga Allah menolong
kami dalam menyelesaikannya.

[5] Lihat Al-


Al-Madklhol (1/489) karya Ibnul Hajj
"Dialog bersama Al-
Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc."
(Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah)

Kekeliruan dan Penyimpangan 3

"Membolehkan Demonstrasi "

Penulis : Ustadz Abu Fadhl Abdul Qodir Al-


Al-Bugishy
Bugishy
Editor : Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

Diantara bid’ah dan pelanggaran besar yang pernah dilakoni oleh orang-orang WI
demonstrasi. Mereka menyangka berdemo adalah sesuatu yang boleh dan uslub
adalah demonstrasi
(metode) yang baik dalam menasihati pemerintah. Sehingga merekapun berusaha
melegitimasi demo yang pernah mereka lakukan dengan berbagai macam dalih, seperti
mereka katakan, "Demo tak apa-apa, yang penting tidak berbuat ricuh, kekacauan dan
keributan; yang penting dengan cara damai".

Sekarang kita mau bertanya, kapan demo itu dianggap kekacauan dan kapan dianggap
damai. Bagaimana jika ada yang berdemo dengan teriak-teriak dan berkonvoi melalui
trotoar, tidak menghalangi pengendara. Sesampainya di depan gedung DPR atau
Gubernur mereka berteriak dengan bantuan loadspeaker , menuntut penguasa agar
siap diajak bicara. Apakah ini damai??! Bagaimana jika ada yang demo seperti di atas,
tapi sesampainya di halaman Gubernur, mereka bakar ban mobil, dan berteriak di
hadapan pemerintah. Apakah ini demo yang damai??!

Nah, orang-orang yang membolehkan demo dengan syarat damai akan bingung
memberikan jawaban. Apa batasan dan dhowabith (kriteria) demo itu damai. Lalu siapa
diantara ulama yang menyatakan bahwa demo yang damai adalah boleh?!!! Kami yakin
para ustadz WI tak mampu mendatangkan pernyataan seorang ulama dalam
membolehkannya, kecuali orang-orang yang yang sepemikiran dengan mereka, seperti
Salman bin Fahd Al-Audah, Safar Al-Hawali, dan A’idh Al-Qorniy.

Dengarkan Jaahada berkata dalam membolehkan demo dengan syarat damai, " Masuk
dalam kabiirah? Ya, mungkin bisa masuk dalam kabiirah. Tapi ini perlu pembahasan
khusus.
khusus Perlu pengkajian terhadap apa yang disebutkan para ulama kita tentang kapan
tidak boleh seorang melakukan demonstrasi atau keluar dari sebuah pemerintah
(khuruj alal hukkam, pen). Bahkan terus terang, saya mau berikan wawasan.
wawasan SAYA
MAU BERIKAN WAWASAN!
WAWASAN Misalnya, Al-Akh Sofyan misalnya-kepala sekolah di
sebuah SMA misalnya. Lalu kemudian dia mengeluarkan satu kebijakan: "Semua siswi
SMA itu tidak boleh Jilbab". Semua guru-guru sudah berusaha untuk mendekati,
menasehati, menyampaikan, dan seterusnya, supaya dicabut kebijakan itu. Orang tua
siswi juga sudah datang berikan nasehat. Pokoknya dia tetap bersikukuh dengan
kebijakannya. Maka dilihat bahwa tidak ada jalan untuk memberikan pressure dan
tekanan supaya dia mencabut kebijakan itu, kecuali anak-anak siswa itu disuruh
demonstrasi. Tapi demonstrasi dalam hal ini yang kita maksudkan tidak anarkis
anarkis.
Memberikan pressure dan tekanan,
tekanan supaya dia bisa mencabut kebijakan dan keputusan
tersebut. Dan itulah jalan yang bisa ditempuh untuk bisa dia down dan bergeser dari
kebijakannya. Saya mau tanya! Demonstrasi yang seperti itu, boleh atau tidak?
("Boleh", jawab pendengar). Boleh atau tidak? Artinya, dia tidak akan bergeser dari
kebijakannya melarang siswa untuk berjilbab, seandainya tidak dengan cara seperti itu,
‘a? BAHKAN WAJIB!.
WAJIB Karena kita nanti mendapatkan hak-hak kita dengan cara
seperti itu. Tapi, okelah kita mengatakan secara umum, dia tidak boleh!"

Demikianlah pernyataan sang Ustadz bahwa demo boleh ketika demo dilakukan dengan
damai, tanpa bersikap anarkis, dan menjadi jalan terakhir. Sekali lagi kita bertanya,
"Siapakah ulama di belakang kalian yang membolehkan demo seperti ini. Kami yakin
orang-orang diantara kalian akan diam seribu bahasa, dan berkelit, "Tapi kan, tapi
kan…" Simpanlah kata "tapi" dalam laci baik-baik.

Kami yakin orang -orang WI terpengaruh dengan para tokoh kenamaan mereka, para
da’i hizbi, semisal Salman Al-Audah, Safar Al-Hawali, dan A’idh Al-Qorniy. Silakan
dengarkan pernyataan dai-dai idola mereka ini dalam membolehkan demo, dan berikut
bantahannya:

Al-Hawali yang pernah berkata: “Sesungguhnya demonya para wanita


Safar Al-
merupakan salah satu di antara uslub (metode) da’wah dan memberi pengaruh”.[1]

A’idh Al-
Al-Qorni yang berkata ketika bangga menyaksikan para wanita Al-Jaza’ir
berdemo: “Demi Allah, Yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh telah keluar di
Al-Jaza’ir dalam waktu sehari 700 ribu wanita muslimah yang berhijab menuntut
penerapan syari’at Islam”.[2]

Al-Audah berkata: “Desakan manusia tidak mungkin dilalaikan dalam segala


Salman Al-
kondisi di era sekarang ini. Kita sekarang di era orang-orang mayoritas memiliki
pengaruh besar. Mereka mampu menjatuhkan para pemimpin besar, menggoncang
singgasana, menghancurkan pagar-pagar dan pembatas. Senantiasa (masih
teringat)gambar-gambar/foto orang-orang yang tidak bersenjata menghadapi
tank-tank dengan dada mereka di Uni Soviet”.[3]

Seorang ulama’ salafi, Syaikh Abdul Malik Al-


Al-Jaza’iry berkata dalam menanggapi
ucapan ketiga da’i di atas: “Demi Allah, sungguh urusan mereka itu aneh ! Siapa yang
bisa membayangkan kalau Jazirah Arab –setelah adanya da’wah Syaikh Muhammad
Ibn Abdil Wahhab- akan mampu melahirkan orang-orang semisal mereka?! Setelah
kehidupan yang penuh kesucian dijaga oleh kaum muslimin Jazirah Arab,maka
datanglah Safar, Salman, dan A’idh Al-Qorni di hadapan kaum hawa agar mereka bisa
mengeluarkannya dari kehormatannya karena cuma ingin memperbanyak jumlah
dengannya dan memperkuat diri dengan para wanita?! Safar Al-Hawali menerangkan
pengaruh yang dalam ketika keluarnya para wanita berdemo, , Al-Qorni
menguatkannya dengan sumpah!!
sumpah , sedang Salman memompa mereka untuk bersabar
menghadapi tank-tank. Alangkah anehnya agama mereka!” [Lihat Madarik An-
An-Nazhor
(hal. 420)]

Syaikh Abdul Aziz Ibn Baz–rahimahullah- berkata, “Aku tidak memandang bahwa
demonya para wanita ataupun demonya para laki-laki termasuk solusi . Akan tetapi itu
merupakan musibah, dan termasuk sebab kejelekan, termasuk sebab dizhaliminya
sebagian orang, dengan cara yang tak benar. Akan tetapi cara-cara yang syar’i adalah
menyurat, menasihati berda’wah kepada
kepada kebaikan dengan cara damai. Demikianlah
yang ditempuh para ulama; demikianlah para sahabat Nabi –Shallallahu alaih wasallam-
dan para pengikut mereka dalam kebaikan: dengan cara menyurat, berbicara langsung
dengan orang yang berbuat salah, dengan pemerintah, dan penguasa dengan
menghubunginya, menasihatinya, dan menyuratinya tanpa membeberkannya di atas
mimbar dan lainnya!! Katanya: Pemerintah melakukan begini, akhirnya begini, Wallahul
Musta’an“.

Beliau juga berkata: “Dikategorikan dalam masalah ini apa yang dilakukan oleh
sebagian orang berupa demo yang menimbulkan keburukan yang besar bagi para da’i.
Maka karnaval dan teriak-teriakan bukanlah merupakan jalan untuk memperbaiki dan
da’wah [4] . Jalan yang benar (dalam menasihati pemerintah,pent.) adalah dengan cara
berziarah dan menyurat dengan cara yang baik”.[5]
Saya mau berikan wawasan bahwa demo adalah termasuk cara dan metode dakwah
kaum Khawarij yang dihias-hiasi oleh setan sehingga mereka menjadikannya jalan dan
solusi dalam dakwah.

Fadhilah Asy-
Asy-Syaikh Al-Allamah Sholeh bin Ghoshun -rahimahullah- berkata ketika
Syaikh Al-
menjelaskan hukum demo, “Jadi seorang da’i, orang yang memerintahkan kebaikan,
dan melarang dari kemungkaran, wajiblah bagi dirinya untuk menghiasi dirinya dengan
kesabaran, mengharapkan pahala dan ganjaran (di sisi Allah), menanggung segala
sesuatu yang ia dengarkan atau terkadang ia dicemooh dalam dakwahnya. Adapun
seorang da’I menempuh cara kekerasan, atau dia -wal’iyadzu billah- menempuh cara
dengan menyakiti manusia, mengganggu orang, atau menempuh cara perselisihan dan
pertengkaran, dan memecah belah kesatuan. Ini merupakan perkara-
perkara-perkara setan.
setan
Dia adalah prinsip dakwah Khawarij. Inilah prinsip dakwah Khawarij !! Mereka itulah
yang mengingkari kemungkaran dengan senjata, mengingkari sesuatu perkara-perkara
yang mereka anggap tidak boleh dan menyelisihi keyakinan mereka dengan cara perang,
menumpahkan darah, mengkafirkan orang, dan beberapa perkara lain. Maka bedakanlah
antara dakwah para sahabat Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- dan Salafush Sholeh
dengan dakwah Khawarij dan orang yang menempuh manhaj (jalan hidup) mereka, dan
menjalani jalan mereka. Dakwahnya para sahabat dengan cara hikmah, nasehat,
menjelaskan kebenaran, dengan penuh kesabaran, dengan berhias kesabaran, dan
mencari pahala dan ganjaran. Sedangkan dakwah Khawarij dengan cara membunuh
manusia, menumpahkan darah mereka, mengkafirkan mereka, memecah-belah
kesatuan, dan merobak-robek barisan kaum muslimin. Ini adalah perbuatan-perbuatan
keji dan bid’ah. Sepantasnya orang-orang yang mengajak kepada perkara-perkara
seperti ini dijauhkan dan dijauhi, diburuk-sangkai. Mereka itu telah memecah-belah
kesatuan kaum muslimin. Padahal persatuan itu merupakan rahmat,sedangkan
perpecahan merupakan sengsara dan adzab-wal’iyaadzu billah-. Andai suatu
penduduk negara di atas kebaikan, bersatu di atas satu kata, niscaya mereka akan
memiliki kharisma dan wibawa. Akan tetapi penduduk negara kita sekarang sudah
berkelompok-kelompok dan terkotak-kotak. Mereka telah sobek, berselisih, musuh
dari kalangan mereka masuk ke tengah-tengah mereka, dari sebagian mereka atas
sebagian yang lainnya. Ini merupakan cara bid’ah, dan keji. Merupakan jalan seperti
yang telah berlalu keterangannya, datang dari orang-orang yang mau memecah-belah
kesatuan, dan orang-orang yang telah membunuh Amirul Mukminin Ali-radhiyallahu
anhu- dan orang-orang yang bersama beliau dari kalangan sahabat, peserta bai’at
Ridhwan. Mereka telah membunuh beliau sedang mereka menginginkan “kebaikan”!!
Sedang mereka itu adalah pemimpin kerusakan, pemimpin bid’ah,dan pemimpin
perpecahan. Mereka itulah yang memecah-belah persatuan kaum muslimin, dan
melemahkan barisan kaum muslimin. Demikian juga sampai orang-orang yang
berpendapat bolehnya, mengadopsinya, dan menganggapnya baik. Maka orang seperti
ini jelek aqidahnya, dan harus dijauhi.Aku tahu-wa’iyaadzu billah- bahwa ada seorang
yang disiapkan untuk membahayakan ummatnya dan teman-teman majelisnya, serta
orang-orang yang ada disekitarnya. Nasihat yang haq, hendaknya seorang muslim
menjadi seorang bekerja, membangun, mengajak kepada kebaikan, dan mencari
kebaikan sebenar-benarnya. Dia harus mengucapkan kebenaran, berdakwah dengan
cara yang benar dan lembut, berbaik sangka terhadap saudaranya, serta mengetahui
bahwa kesempurnaan merupakan sesuatu yang sulit diraih, bahwasanya yang
ma’shum adalah Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- , dan andaikan para pemerintah tsb
hilang/pergi, maka tak akan datang orang yang lebih bagus dibandingkan mereka.
Andaikan semua orang yang ada hilang/pergi-sama saja diantara mereka ada
pemerintah, penanggung jawab, atau para penuntut, atau rakyat. Andaikan ini
semuanya pergi/hilang-rakyat negara mana saja-, niscaya akan datang pemimpin yang
lebih jelek darinya !! Karena tak akan datang suatu masa kecuali yang berikutnya lebih
buruk. Jadi, orang yang menginginkan agar orang sampai pada derajat kesempurnaan,
atau menjadi orang-orang yang ma’shum dari segala kesalahan dan kejelekan. Orang
(yang berpemikiran) macam ini adalah orang sesat. Mereka ini adalah orang-orang
Khawarij. Mereka inilah yang memecah-belah persatuan manusia dan menyakiti
mereka. Ini merupakan tujuan orang-orang yang memusuhi Ahlus Sunnah wal Jama’ah
dengan berbagai bid’ah dari kalangan orang Rofidhoh, Khawarij, Mu’tazilah, dan
seluruh jenis pelaku kejelekan dan bid’ah”. [Lihat Majallah Safinah An-
An-Najaah,
Najaah (edisi
2), Januari 1997 M.]

Diantara metode yang paling buruk dalam menasihati penguasa, keluar ke jalan-jalan
berkonvoi dalam rangka berdemo, apakah disertai kekacauan, ataukah, tidak!! Perlu
dimasukkan dalam WAWASAN BARU KITA bahwa demo yang damai adalah bid’ah
yang tercela dan terlarang. Tapi sekali lagi, anda jangan ditipu oleh setan lalu berkata,
"Demo, kalaupun dosa, yah paling dosa kecil, bukan dosa besar". Sebab ini adalah
peremehan terhadap bid’ah dan dosa.

Dengarkan Al- Al-‘Utsaimin -rahimahullah-


Al-Faqih Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-
berkata, “Demonstrasi merupakan perkara baru yang tidak pernah dikenal di zaman
Nabi –shollallahu alaih wasallam- , dan tidak pula di zaman Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin
dan para sahabat-radhiyallah anhum-. Kemudian di dalamnya juga terdapat kerusuhan,
dan huru-hara yang menjadikannya terlarang, dimana juga terjadi di dalamnya
pemecahan kaca-kaca, pintu-pintu dan lainnya. Juga terjadi ikhtilath (campur baur)
antara pria dan wanita, antara anak muda dengan orang tua , serta perkara-perkara
yang semacamnya, berupa kerusakan dan kemungkaran.AdapunAdapun masalah menekan dan
mendesak pemerintah, maka jika pemerintahnya muslim, cukuplah Kitabullah dan
Sunnah Rasul-
Rasul-Nya –Shollallahu alaih wasallam- sebagai pengingat baginya. Ini
merupakan sebaik-
sebaik-baik perkara (baca:nasihat) yang disodorkan kepada seorang
muslim. Jika pemerintahnya kafir, maka jelas mereka (orang-orang kafir) itu tidak mau
mempedulikan para demonstran. Boleh jadi Pemerintah kafir itu akan bersikap ramah
dan baik di depan para demonstran, sekalipun di batinnya tersembunyi kejelekan.
Karenanya, kami memandang bahwa demo merupakan perkaara munkar. Adapun
kerusuhan,pent.)!!”,,
ucapan (baca: alasan) mereka: “Inikan demo yang damai (tak ada kerusuhan,pent.)!!”
maka boleh jadi demonya damai di awalnya atau awal kalinya, kemudian berubah jadi
demo perusakan.Aku nasihatkan kepada para pemuda agar mereka mengikuti jalan
hidupnya para Salaf. Karena Allah telah memuji orang-orang Muhajirin dan Anshor;
Allah telah memuji orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan ”. [Lihat
Buletin Silsilah Ad-
Ad-Difa’ anis Sunnah (7): “Aqwaal ‘Ulama’ As-
As-Sunnah fil
Muzhaharat wa maa Yatarattab Alaih min Mafasid ‘Azhimah”, (hal.2-3), cet. Maktabah
Al-Furqon, UEA]

Alangkah benarnya apa yang dinyatakan oleh beliau bahwa demo-walaupun


walaupun tanpa
kerusuhan- merupakan perkara baru dan bid’ah. Bid’ahnya orang-
kerusuhan orang-orang Khawarij.
Anggaplah demo itu damai, akan tetapi itu merupakan sarana dalam menyebarkan aib
penguasa, karena dengan keluarnya seseorang ke jalan-jalan untuk demo, akan
memberikan opini bahwa mereka akan pergi mengeritik, dan membongkar aib, dan
kekurangan penguasa. Membeberkan aib penguasa muslim merupakan metode lama
yang dipergunakan oleh kaum Khawarij yang suka memberontak.

Al-
Al-Hafizh Al-Asqolany – rahimahullah- berkata dalam menjelaskan hakekat
Hafizh Ibn Hajar Al-
Al-Qo’adiyyah (salah satu kelompok Khawarij), “Al
orang-orang Al- Al-
Al-Qo’adiyyah:
Qo’adiyyah adalah
kelompok Khawarij yang tidak memandang (harusnya) memerangi (pemerintah).
Bahkan mereka hanya mengingkari pemerintah yang zholim sesuai kemampuan,
mereka mengajak kepada pendapat mereka, dan juga mereka menghias-hiasi
–disamping hal tsb– untuk memberontak, serta mengira itu baik” [ Lihat At-
At-Tahdzib
(8/114) sebagaimana dalam Lamm Ad-
Ad-Durr Al-
Al-Mantsur (hal.60) karya Jamal Ibn
Furoihan Al-Haritsy, cet. Dar Al-Minhaj, Mesir.]
Al-Hafizh –rahimahullah-berkata,, "Al
Dalam kitabnya yang lain, Al- Al-
Al-Qo’adiyyah:
Qo’adiyyah adalah
orang-orang yang menghias-hiasi pemberontakan atas pemerintah, sekalipun mereka
tidak melakukan (pemberontakan itu) secara langsung”. [ Lihat Hadyus Sari (459) yang
dinukil dari Lamm Ad-
Ad-Durr Al-
Al-Mantsur, hal.60, cet. Dar Al-Minhaj.]

Jadi, tugas Al-


Al-Qo’adiyyah dahulu sama persis dengan tugas sebagian orang yang
membakar semangat pemuda-pemuda untuk membangkang, dan tidak taat kepada
pemerintah, bahkan terkadang mengarahkan mereka kepada pemberontakan fisik lewat
ajang demonstrasi. Ini adalah tercela dalam pandangan ulama’ Ahlus Sunnah
dalil-
berdasarkan dalil -dalil, baik naqli, maupun aqli.

Melakukan demo merupakan bentuk pemberontakan non-senjata yang akan


mengantarkan kepada pemberontakan senjata, dan fisik. Demo bukanlah perkara yang
remeh, yang orang boleh berijtihad di dalamnya, sebab ia merupakan bentuk khuruj alal
hukkam (pemberontakan kepada penguasa). Sedang memberontak kepada penguasa
muslim adalah perkara yang menyelisihi aqidahnya salaf. Pemberontakan sekecil
apapun, itu terlarang; walaupun menghasung orang dengan ucapan dalam melawan
pemerintahnya !!

Syaikh Muhammad bin Sholih Al- Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata dalam Syarh Rof’il
Asatin fi Hukmil Ittishol bi As-
As-Salathin, "Bahkan anehnya, celaan itu ditujukan kepada
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Dikatakan kepada beliau, "Berbuat adillah",
dan juga dikatakan, "Ini adalah pembagian yang tak diinginkan wajah Allah dengannya".
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, "Akan keluar dari semisal orang ini, orang
yang seorang diantara kalian akan meremehkan sholatnya jika dibandingkan sholat
orang itu". Ini merupakan dalil terbesar bahwa pemberontakan
pemberontakan terhadap pemerintah
(khuruj alal hukkam, -pen.) bisa dengan senjata, ucapan dan komentar. Maksudnya,
orang ini (Dzul Khuwaisiroh) tidak mengambil senjata melawan Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam-, tapi orang itu hanya mengingkari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Adapun sesuatu yang disebutkan dalam sebagian kitab-kitab Ahlus Sunnah bahwa
pemberontakan melawan pemerintah adalah pemberontakan dengan menggunakan
senjata, maka yang mereka maksudkan dengan hal itu adalah pemberontakan akhir lagi
terbesar, sebagaimana halnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa
zina bisa mata, telinga, kaki. Tapi zina terbesar –yang merupakan zina pada
hakikatnya- adalah zina farji. Ungkapan seperti ini dari sebagian ulama’, inilah maksud
mereka. Kami tahu betul -berdasarkan konsekuensi tabiat kondisi- bahwa tak mungkin
ada pemberontakan bersenjata, kecuali didahului oleh pemberontakan dengan
menggunakan lisan, dan ucapan. Manusia tak mungkin akan mengambil senjata untuk
memerangi pemerintah tanpa ada sesuatu yang memancing emosi mereka. Pasti
disana ada sesuatu yang memancing emosi mereka, yaitu ucapan. Jadi,
pemberontakan melawan pemerintah dengan menggunakan ucapan merupakan
pemberontakan pada hakikatnya yang telah ditunjukkan oleh Sunnah dan waqi’
(realita). Adapun Sunnah, maka anda telah mengetahuinya. Adapun realita, maka
sesungguhnya kita telah tahu dengan yakin bahwa pemberontakan bersenjata adalah
cabang[6] dari pemberontakan lisan dan ucapan. Karena manusia tak akan
memberontak melawan pemerintahnya hanya sekedar ada yang bilang, "Ayo jalan,
ambil pedang". Mesti disana ada pengantar dan pembukaan berupa celaan kepada
pemerintah, dan menutupi kebaikan-kebaikan mereka. Kemudian hatipun dipenuhi
dengan perasaan marah, dan dendam. Ketika itulah terjadi bala’".[7]

Ada seorang penanya pernah berkata kepada Syaikh Sholih bin Ghonim bin As-
As-Sadlan
-hafizhohullah-, "Saya melihat pada jawaban lalu bahwa anda tak membatasi
pemberontakan pada pemberontakan bersenjata. Bahkan anda menganggap bahwa
pemberontakan terkadang dengan lisan. Apakah anda punya penjelasan terhadap
permaslahan ini secara khusus? Sebab diperhatikan adanya sikap bergampangan
kebanyakan orang dan dai dalam masalah berkomentar (tentang aib penguasa, -pen.),
dan hal itu tak dianggap bermasalah dan sebagai pemberotakan. Jika dikatakan
kepadanya, "Sesungguhnya di dalam perbuatan ini ada semacam pemberontakan",
maka ia akan berkata, "Kami tetap berwala’, dan kami tidak melakukan pemberontakan
melawan pemerintah". Mereka memandang bahwa dalam ucapan mereka ini terdapat
kemaslahatan yang sebenarnya untuk pemerintah?"

As-Sadlan -hafizhohullah- menjawab, "Pertanyaan ini


Syaikh Sholih bin Ghonim As-
penting, karena sebagian saudara-saudara kita terkadang melakukan hal ini dengan
niat baik dalam keadaan meyakini bahwa pemberontakan hanya dengan bersenjata saja.
Pada hakikatnya, pemberontakan tidaklah terbatas pada pemberontakan dengan
kekuatan senjata atau membangkang dengan berbagai macam metode yang dikenal
saja. Bahkan pemberontakan dengan ucapan lebih parah
parah daripada pemberontakan
bersenjata,
bersenjata karena pemberontakan dengan senjata dan kekerasan tidaklah
dikembangkan (dikompori) kecuali oleh ucapan. Jadi, kami katakan kepada
saudara-saudara kita yang terseret semangat, dan kami menyangka dari mereka ada
keshalihan –insya Allah Ta’ala-, "Wajib bagi mereka untuk berhati-hati". Kami juga
katakan kepada kepada mereka, "Pelan-pelan, karena sikap keras kalian akan
menumbuhkan dalam hati (kebencian, -pent), akan menumbuhkan hati yang segar yang
tidak mengenal kecuali emosi sebagaimana halnya sikap keras itu akan membuka pintu
di depan orang-orang yang memiliki tendensi sehingga mereka mengungkapkan
sesuatu yang terdapat dalam hatinya, walaupun itu benar atau batil. Tak ragu lagi,
pemberontakan dengan kalimat, dan menggunakan pena dengan cara apapun atau
menggunakan kaset atau ceramah atau seminar dalam memompa manusia dalam
bentuk tak syar’iy. Aku yakini hal ini adalah asas pemberontakan bersenjata. Aku
tahdzir (ingatkan) bahaya hal itu dengan sekeras-kerasnya, dan aku katakan kepada
mereka, "Wajib bagi kalian memperhatikan akibat buruknya, dan juga orang-orang yang
mendahului mereka kepada perkara seperti ini". Hendaknya mereka memperhatikan
fitnah (masalah dan akibat buruk) yang dialami oleh sebagian masyarakat muslim, apa
sebab fitnah itu dan langkah apa yang menyeret mereka kepada kondisi yang mereka
hadapi. Jika kita telah mengetahui hal itu, maka ia akan mengetahui bahwa
pemberontakan dengan kalimat (ucapan), menggunakan sarana informasi-komunikasi
untuk menjauhkan orang, memompa emosi, dan menekan. Semua ini akan
menumbuhkan fitnah (masalah) dalam hati".[8]

Kemudian, mengingkari kemungkaran perlu didudukkan dengan baik dan diletakkan


sesuai porsinya. Oleh karena itu, perlu dibedakan antara mengingkari kemungkaran
yang dilakukan oleh penguasa, dengan mengingkari kemungkaran yang dibuat oleh
rakyat. Sedang rakyat pun harus disikapi dengan baik dan hikmah.

Apabila anda bertanya tentang metode syar’i dalam mengingkari penguasa, maka
perkara ini telah dijelaskan oleh para ulama. Dalam pembahasan berikut ini kami akan
kupas metode mereka mengingkari, dan menasihati penguasa. Ini perlu diketahui,
karena banyak orang yang tak paham.

Ibnul Jauziy-rahimahullah- berkata, “perkara yang dibolehkan dalam amar ma’ruf dan
nahi Mungkar hubungannya dengan penguasa, yaitu memberikan pengertian dan
nasihat. Adapun berkata-kata kasar, seperti “Wahai orang zholim”, “wahai orang yang
tidak takut kepada Allah!” Jika hal itu menggerakan/membangkitkan fitnah (musibah)
yang menyebabkan kejelekannya tertular kepada orang lain, maka tidak boleh dilakukan.
Jika ia tidak takut, kecuali atas dirinya, maka boleh menurut jumhur ulama. Menurut
pendapatku, hal itu terlarang.” [ Lihat Al-
Al- Adab Asy-
Asy-Syar’iyyah (1/195-197)]

Ibnu An- Asy-Syafi’iy-rahimahullah- berkata, “Seseorang yang menasehati


An-Nuhhas Asy-
penguasa hendaknya memilih pembicaraan empat mata bersama penguasa
dibandingkan berbicara bersamanya di depan publik, bahkan diharapkan andaikan ia
berbicara dengan penguasa secara sirr ((rahasia), dan menasehatinya secara
tersembunyi, tanpa pihak ketiga.” [Tanbih Al-
Al- Ghofilin (hal. 64)]

As-Syaukaniy -rahimahullah- berkata, “Sesungguhnya bagi orang yang nampak


As-
baginya kesalahan penguasa dalam sebagian masalah agar ia menasihati penguasa, dan
tidak menampakan celaan padanya didepan publik”.[Lihat As-
As-Sail Al-
Al-Jarrar (4/556)]

Apa yang ditetapkan oleh Ibnul Jauziy, Ibnu An-Nahhas dan Asy-Syaukaniy, bahwa
menasihati penguasa dengan cara rahasia dan tersembunyi, ini telah dikuatkan oleh
hadits-hadits dan atsar dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , para sahabat, serta
para ulama’ Ahlus Sunnah yang menapaki jalan mereka.[9]

Sekarang kami nasihatkan kepada orang yang suka demo dan juga orang yang
menghasung mereka kepada hal itu dengan mengutip ucapan Penulis Beda Salaf
Dengan "Salafi" (BSDS)
(BSDS), Mut’ab Al-Ashimi, "Cara mengkritik seperti ini adalah
perbuatan dosa dan keluar dari manhaj pertengahan (Al-Wasithiyyah) dalam mengkritik
dan menghukumi orang lain. Dan ini bukanlah termasuk akhlak Salafus Shalih dalam
persoalan etika menasihati saudara mereka yang berakidah Ahlus Sunnah".[Lihat
BSDS (hal.47)]

Kami juga nasihati JM, dan orang yang simpati kepadanya dengan ucapan Penulis
BSDS (hal.38) saat ia menasihati salafiyyun secara zholim, "Jadilah kalian dai-dai
–bukan pengaku-aku (saya salafi.-pent.)—yang mengajak kepada salaf yang
sebenarnya. Yaitu perkataan dan perbuatan yang sesuai dengan pandangan Al-Qur’an
dan As-Sunnah tanpa ada sikap ifrath dan tafrith.[10] Dan jangan mengajak kepada
salaf hanya perkataan tanpa ada amalan".

‫وى‬H‫  وا‬E ‫ا‬#5 S ‫ت‬DT ‫ؤه‬DT‫أدء أ‬

"Semua pengakuan, tanpa ada bukti.

Adalah omong kosong". [Lihat BSDS (hal.39)]

Inilah salah satu sebab Syaikh Abdul Aziz bin Baaz mengirim surat ke Amir Nayif bin
Abdul Aziz di Riyadh agar kedua orang ini (Safar Al-
Al-Hawaliy, dan Salman Al-
Al-Audah)
diberhentikan dari aktivitas dakwah karena memiliki pernyataan-pernyataan yang
menyelisihi aqidah salaf, seperti membakar semangat para pemuda untuk
memberontak.[11]
Pembaca yang budiman, untuk menasihati orang lain –khususnya pemerintah-, tak
perlu melakukan demonstrasi. Seorang dalam menasihati mereka tak ada tanggung
jawab di pundak kita kecuali hanya sekedar menyampaikan saja. Jika nasihat kita
diterima, maka itulah yang kita harap. Jika tak diterima, maka hendaknya kita
BERSABAR, jangan emosi, dan terbawa perasaan sehingga menyeret kita untuk
melakukan demonstrasi dan pemberontakan ataupun pemukulan. Jangan seperti
sebagian MUTASHOWWIFUN (yakni, Jama’ah Tabligh) ketika dakwahnya tak diterima,
terkadang mereka emosi dan memukul orang.

Teladan dalam berdakwah, jelas bagi kita. Lihatlah para nabi dan rasul, saat mereka
berdakwah tak ada diantara mereka yang melakukan TEKANAN atas kaumnya bahwa
mereka harus menerima dakwah dan nasihatnya.

Allah -Ta’ala- berfirman,

Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), Maka Katakanlah:
"Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang
mengikutiku". dan Katakanlah kepada orang-orang yang Telah diberi Al Kitab dan
kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam". jika mereka
masuk islam, Sesungguhnya mereka Telah mendapat petunjuk, dan jika mereka
berpaling, Maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). dan Allah
Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. [Ali Imraan: 20]

Allah -Ta’ala- berfirman,

Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada
mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya
tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka".
(QS. Ar-
Ar-Ra’d: 40)

Allah -Ta’ala- berfirman,

Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali- kali
bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Quran
orang yang takut dengan ancaman-Ku". (QS. Qoof: 45)

Allah -Ta’ala- berfirman,


"Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi
peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,". (QS. Al -Ghosyiyah:
21-22)

Al-Yaman -radhiyallahu anhu- berkata,


Hudzaifah bin Al-

?ُ ُْA َ ‫ َل‬#ُ:‫; ا; ِ َر‬/‫; ِإ‬Dُ‫ آ‬q َaِT ‫َ َء‬Cَ6 ُ ;‫َْ ٍ ا‬kِT ُ ْ,َDَ6 ِ ِ6 ْ8َSَ6 ْ ِ ‫َا َورَا ِء‬Nَ‫َْ ِ ه‬kْ‫ ا‬r َd ‫َ َل‬A ْEَ)َ/ ? ُ ُْA ْ8َ‫ه‬
‫ َورَا َء‬G َ ِ‫ َذ‬O ;a‫ٌَْ ا‬$ ‫َ َل‬A ْEَ)َ/ ?
ُ ُْA ْ8َSَ6 ‫ َورَا َء‬G َ ِ‫َْ ِ َذ‬kْ‫ ا‬r َd ‫َ َل‬A ْEَ)َ/ ?
ُ ُْA &
َ َْ‫َ َل آ‬A ‫ن‬
ُ #ُ'َ ‫ِي‬Hْ)َT ٌI;ِ-‫َ َأ‬
‫ن‬َ ‫ُو‬Hَ(ْSَ ‫ي‬ َ ‫َا‬HُSِT َ‫ن َو‬َ #%Dَ(ْKَ ِ(;DُKِT ‫ ُم‬#ُ5ََ:‫ْ َو‬EِSِ6 ٌ‫َل‬9‫ْ ِر‬EُSُT#ُُA ‫ب‬ ُ #ُُA ِ ِ+َ;a‫ِ ا‬6 ‫ن‬ ِ َْPُ9 U ٍ ْ/‫َ َل ِإ‬A
?ُ ُْA &
َ َْ‫ آ‬fُ َDْ^‫ َل َ َأ‬#ُ:‫? ِإنْ ا; ِ َر‬ ُ ْ‫ َذِ َأدْ َرآ‬G
َ ‫َ َل‬A fُ َْKَ fُ ِmُ‫ب َوِإنْ َِْ ِ ِ َو‬
َ ِ ُ* ‫ك‬ َ ُ ْSَ2 Nَ ِ$‫ َوُأ‬Gَ َُ
ْfَْ:َ6 ْfِ+‫َوَأ‬

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya kita dahulu berada dalam kejelekan, lalu Allah
mendatangkan kebaikan, lalu kami berada di dalamnya. Apakah setelah kebaikan ini ada
kejelekan? Beliau jawab, "Ya". Aku katakan, "Apakah setelah kejelekan itu ada
kebaikan?". Beliau jawab, "Ya". Aku katakan lagi, "Apakah setelah kebaikan itu ada
kejelekan?" Beliau jawab, "Ya". Aku katakan, "Bagaimana?" Beliau bersabda, "Akan
ada setelahku beberapa pemimpin yang tak berpetunjuk dengan petunjukku, dan dan
berteladan dengan sunnahku. Akan tegak diantara mereka beberapa tokoh yang
hatinya adalah hati setan dalam tubuh seorang manusia". AKu katakan, "Apa yang
harus aku lakukan ya Rasulullah, jika menjumpai hal itu?" Beliau bersabda, "Engkau
mendengar dan taat kepada pemerintah itu, walaupun ia memukul punggungmu, dan
mengambil hartamu.
hartamu Dengar dan taatilah". [HR. Muslim dalam Kitab AL-AL-Imaroh: bab
Wujub Mulazamah Jama'ah Al-Muslimin inda Zhuhur Al-Fitan wa fi Kulli Haal wa
Tahrim Al-Khuruj alaa Ath-Tho'ah wa Mufaroqoh Al-Jama'ah (3435)]

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

ْ َ َ ‫ َأنْ َأرَا َد‬i


َ َ.ْDَ ‫ن‬ٍ َmُْKِ ٍ ْ َِT [َ6َ Hِ ْQُ ُ َ Iً َِ/[
َ َ ْ ِ'َ‫ْ َو‬Nُ$َِْ <ِ Hِ َِT ْ#ُْkََ6 ِ ِT ْ‫ن‬Fَِ6 8َ ِQَA ُ ْDِ ‫ك‬
َ ‫َا‬Nَ6 ]; ‫َوِإ‬
‫ن‬
َ َ‫ْ آ‬HَA ‫يْ َأد;ى‬Nِ ;‫َ ُ ََْ ِ َا‬.

“Barangsiapa ingin menasihati penguasa dalam suatu perkara, maka janganlah ia


menampakkan secara terang terangan. Akan tetapi hendaknya ia ia mengambil
tangannya agar ia bisa berduaan. Jika ia terima ,aka itulah yamg diharap, jika tidak
maka sungguh ia telah menunaikan tugas yan ada pada pundaknya”. [HR Ahmad dalam
Al-
Al-Musnad (3/403-404) dan Ibnu Abi Ashim dalam As- As-Sunnah (1096, 1097, 1098).
Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Zhilal Al-
Al-Jannah (hal. 514)]
Jika kita memperhatikan ayat-ayat dan hadits ini, maka kita akan mendapatkan faedah
bahwa menasihati umat harus bersabar dan tidak boleh memaksa dan MENEKAN
mereka agar mereka mengikuti dakwah kita. Kita hanya diperintahkan amar ma’ruf dan
nahi munkar. Jika diterima, yah syukur dan pujilah Allah, sebab anda akan mendapatkan
janji di sisi Allah. Jika tak diterima, maka sabar, dan jangan melampaui batas sehingga
melanggar batas sebagai seorang nashih (penasihat). Itulah dakwah Ahlus Sunnah wal
Jama’ah. Dakwah selain mereka, selalu dibangun di atas perasaan, tanpa dilandasi
dengan ilmu!!

Jadi , apa yang dinyatakan oleh Al-Ustadz Jahada Mangka bahwa jika tak ada jalan
untuk mendapatkan hak-hak kita, maka boleh berdemo. Ini jelas salah, dan menyalahi
jalannya para salaf !!

Terakhir kami akan nukilkan sebuah atsar yang menggambarkan sikap Imam Ahlis
Asy-Syaibaniy -rahimahullah-. Seorang diantara murid
Sunnah, Ahmad bin Hanbal Asy-
Ash-Sho’igh -rahimahullah- berkata, "Aku
beliau, Abul Harits Ahmad bin Muhammad Ash-
pernah bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal tentang suatu perkara yang
terjadi di kota Baghdad; adanya suatu kaum yang mau memberontak, "Apa yang anda
katakan tentang memberontak bersama kaum itu?" Kemudian beliau mengingkari
mereka seraya berkata, "Subhanallah. Jagalah darah, jagalah darah. Aku tidak
memandang hal itu baik, dan aku tak memerintahkannya. Bersabar di atas kondisi kita
hadapi lebih baik dari fitnah (masalah yang timbul dari pemberontakan, -pen.). Nanti
akan tertumpahkan darah di dalamnya, harta-harta akan dihalalkan, dan
kehormatan-kehormatan akan ternodai. Bukankah engkau telah mengetahui kondisi
manusia dahulu (yakni, pada hari-hari fitnah)[12]" Aku (Ash-Sho’igh) katakan,
"Bukankah manusia pada hari ini juga berada dalam fitnah (masalah), wahai Abu
Abdillah?" Beliau berkata, "Walaupun hal itu terjadi, maka itu hanyalah fitnah (masalah)
yang khusus (parsial) saja. Jika terjadi perang, maka fitnah (masalah dan kerusakan)
akan merata, dan jalan-jalan akan terputus. Bersabar di atas kondisi seperti (sekarang)
ini, dan agamamu selamat adalah lebih baik bagimu". (Kata Ash-Sho’igh), "Aku melihat
beliau mengingkari pemberontakan terhadap pemerintah seraya berkata, "Jagalah
darah; aku tak memandang hal itu boleh, dan aku tak memerintahkannya".[13]

Inilah mauqif (sikap) yang kokoh dan benar dari seorang Imam Ahlus Sunnah di
zamannya. Beliau diperintahkan menyatakan Al-Qur’an adalah makhluk, maka beliau
bersabar, dan rela di siksa dalam waktu lama. Saat beliau dalam kondisi sempit seperti
itu beliau diajak memberontak dan melawan Kholifah saat itu, tapi beliau tegar di atas
Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan tidak terbawa perasaan. Bahkan beliau
memerintahkan mereka bersabar dan melarang mereka melawan pemerintah. Beliau
tak terbawa dengan perasaannya sehingga menyatakan bolehnya berdemo dan
melawan penguasa demi mendapatkan hak berupa kebebasan beragama. Beliau tetap
berada di atas Sunnah. Adapun Al-Ustadz Jahada Mangka, Lc., maka ia
memerintahkan kita berdemo demi mendapatkan hak kita yang tak bisa diambil, kecuali
dengan jalan demo. Bahkan demo menurutnya adalah WAJIB dalam kondisi seperti itu.
Manakah ulama yang membolehkannya? Bukankah ini menjadi bukti bahwa sang
Ustadz tidak ada seorangpun ulama yang bersamanya dalam hal tersebut. Adapun kita
yang menapaki jalan salaf, alhamdulillah para ulama adalah pionir kita dalam memahami
din Islam ini. Salafiyyun tidaklah bersendirian dalam sikap-sikap mereka sehingga JM
perlu menyatakan bahwa tak ada orang tua diantara salafiyyin. Salafiyyun tidaklah
serampangan dalam bersikap, tidak menuruti emosional, tapi mereka memiliki qo’idah
dan dhowabith dalam dakwah yang amat jelas sejelas matahari di siang bolong. Bukan
seperti orang-orang WI yang mengutamakan emosional dan perasaan dalam dakwah
sehingga harus mendemo pemerintah seperti kaum Khawarij!!

Oleh karena itu, mereka lebih pantas kita katakan kepadanya seperti yang dikatakan
oleh Jahada Mangka sendiri, " Subhanallah ! itu adalah ashhabul ahwa’!Ashhabul
ahwa’! seperti ini! Tidak ada dawabith! Tidak ada kriteria yang jelas. Apa yang
membuat orang keluar dari Ahlus Sunnah, dan apa yang membuat orang masuk dalam
kategori Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tidak ada dawabith yang jelas
jelas. Sesuai dengan
perasaan! Kita mengatakan si fulan salafi, yah sesuai dengan perasaan kita, sesuai
perasaan
dengan keinginan kita. Dan kita mengatakan si fulan bukan salafi, sesuai dengan
kita. Tidak ada dawabithyang jelas…" Demikian kata JM
perasaan dan keinginan kita
dalam ceramahnya.

Dari pernyataan Al-Ustadz Jahada, terdapat keterangan bagi kita bahwa dalam tubuh
WI ustadz-ustadz mereka membolehkan demonstrasi dengan syarat damai. Ini
membantah sangkaan sebagian orang yang menyangka bahwa tak ada diantara
ustadz-ustadz WI yang membolehkan demonstrasi. Ini kami ketahui saat kami
berdialog dengan sebagian mereka. Saat itu kami membantah mereka bahwa namanya
demo baik itu damai atau tidak, maka ia tetap merupakan metode dakwah yang tak
syar’iy. Ini berdasarkan pernyataan para ulama yang telah kami sebutkan di atas.[14]

[1] Simak kasetnya: Syarh Ath-


Ath-Thohawiyyah (185). Ucapan Safar ini mengingatkan
kami tentang pernyataan Jahada yang menganggap bahwa demo adalah solusi akhir!!
[2] Lihat Fikrah Al-
Al-Irhab wal ‘Unf fil Mamlakah, hal.217 oleh Syaikh Abdus Salam
As-Suhaimy & Madaarik An-An-Nazhar, hal.416, cet. Dar Sabil Al-Mu’minin.

[3] Simak Kasetnya: Humum Fatat Multazimah. Ucapannya ini kami nukil dari Fikrah
Al-
Al-Irhab, hal.214

[4] Beda dengan yang dinyatakan oleh Safar Al-Hawali, katanya demo adalah uslub
da’wah. Maka perhatikan, dan jangan dikatakan: “Diakan ulama’ boleh saja ia berbuat
dan berkata semaunya sebab itukan ijtihad dia. Kalau benar dapat dua pahala, kalau
salah, dapat satu”. Ini merupakan tipuan Iblis, sebab demo merupakan salah satu
bentuk khuruj alal hukkam.Sedang permasalahan khuruj termasuk masalah aqidah yang
salaf sudah sepakat haramnya. Lagian Safar bukan ulama.

[5] Lihat Buletin Silsilah Ad-


Ad-Difa’ (7),hal.1-2

[6] Tersebabkan oleh pemberontakan lisan.

[7] Lihat Fatawa Al-


Al-Ulama’ Al-
Al-Akabir fi ma Uhdiro min Dima’ fil Jaza’ir (hal. 95-96)

[8] Lihat Muroja’at fi Fiqhil Waqi’ As-


As-Siyasiy wal Fikriy ala Dhou’ Al-
Al-Kitab wa
As-
As-Sunnah (hal. 88-89) karya Abdullah bin Muhammad Ar-Rifa’iy, 1414 H.

[9] Perlu kami ingatkan bahwa dahulu sebagian ustadz salaf dalam Laskar Jihad telah
melakukan demo dan beberapa bentuk penyimpangan lainnya selama jihad Ambon.
Mereka semua –alhamdulillah- telah rujuk dan tobat dari kesalahan itu sebagaimana
anda bisa baca dalam kitab terjemah yang berjudul "Meredam Amarah terhadap
Pemerintah". Penerjemah kitab ini, Al-Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Umar
As-Sewed membuat suatu pernyataan resmi rujuknya para ustadz-ustadz salaf dari
hal itu. [Lihat Meredam Amarah terhadap Pemerintah (hal.ix-xiv)] Hal ini kami ingatkan,
sebab sebagian orang (seperti, Abu Hamnah "As-Salafi") menyangka para ustadz salaf
belum rujuk penyimpangan-penyimpangan itu. Semoga dipahami dan dimaklumi.

[10] Alhamdulillah , prinsip berilmu yang diiringi dengan amalan, tanpa ada ifrath
(berlebihan) dan tafrith (teledor) merupakan perkara yang amat dijaga oleh salafiyyun
dari zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai zaman sekarang, bukan seperti
yang dituduhkan secara keji oleh Penulis BSDS. Nas’alullahal afiyah was salamah min
su’izh zhonni bil mu’minin ma laisa fihim.
[11] Tentang surat Syaikh bin Baaz ini, lihat kopian naskah aslinya dalam Madarik
An-
An-Nazhor (hal. 431) karya Syaikh Abdul Malik bin Ahmad bin Al-Mubarok Romadhoniy
Al-Jaza’iriy, cet. Dar Sabil Al-Mu’minin, 1418 H.

[12] Fitnah Kholqul Qur’an. Suatu musibah yang timbul saat Kholifah Ma’mun
memaksa para ulama –diantaranya Imam Ahmad- untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an
adalah makhluk. Ini adalah kekufuran yang jelas!! Dalam kondisi ini Imam Ahmad
memerintahkan mereka bersabar, jangan memberontak. Karena pemberontakan akan
melahirkan banyak kerusakan, baik yang diketahui, maupun yang tak diketahui. Kalian
telah melihat kerusakan itu beberapa tahun yang silam saat Pak Harto dilengserkan.

[13] Lihat As-


As-Sunnah (89) karya Al-Khollal.

[14] Dialog kami dengan sebagian mereka, baik perorangan atau perkelompok adalah
bukti bahwa sebenarnya salafiyyun sudah ada yang menasihati WI. Bahkan ada
diantara mereka yang berusaha dusta kepada kami saat ia menyatakan Syaikh bin
Baaz pernah men-tazkiyah Sayyid Quthb. Tatkala kami minta bukti berupa kitab
rujukan, maka ia berkata, "Afwan, ana dulu dusta dalam hal itu!!"
"Dialog bersama Al-
Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc."
(Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah)

Kekeliruan dan Penyimpangan 4

"Membolehkan adanya Bai’at kepada Selain Penguasa "

Penulis : Ustadz Abu Fadhl Abdul Qodir Al-


Al-Bugishy
Editor : Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

• Membolehkan adanya Bai’at kepada Selain Penguasa

Diantara penyimpangan Al-


Al-Ustadz H. Jahada,
Jahada ia membolehkan bai’at (janji setia)
dengan syarat seseorang ketika membai’at tidak menganggap bahwa bai’atnya
tersebut adalah membai’at imamatul kubro (khalifah) Dengarkan Jahada berkata, "Ya,
memang kita tidak bolehkan secara mutlak, dan itu kita katakan tidak boleh, ketika
ketika kita
memba’iat seseorang dengan anggapan bahwa itu adalah bai’at imamatul kubra, atau
khalifah’.. Karena, seorang
ba’iatul imamatul ‘uzhma ‘membaiat pemimpin besar, khalifah’
khalifah tidak bisa dibaiat kecuali dia memiliki 2 syarat. Pertama, dia mempunyai de
facto dan yang kedua de jure. Dia mempunyai wilayah yang independent dan dia
mempunyai hukum, akhirnya dia bisa men-tathbiq hukum di dalam wilayah itu".

Jika kita perhatikan isi ceramah dan ucapan JM ini, maka kita tahu bahwa ia tidak
bolehkan membai’at seseorang –selain khalifah- dengan niat sebagai seorang khalifah.
Adapun jika tidak diniatkan sebagai khalifah, tapi sebagai pemimpin yayasan, atau
organisasi, atau pergerakan, maka tak mengapa. Ini dikuatkan oleh beberapa hal:

• Dia menyatakan bahwa sebagian bai’at itu ada yang boleh diberikan kepada
sebagian orang, selain penguasa saat ia menjelaskan aqsamul bai’ah
(jenis-jenis bai’at). Dengarkan JM berkata, " Tinggal persoalannya bai’atul
Islam, atau bai’atuth tho’ah, dan sebagainya. Itu adalah persoalan yang tidak
bisa serta merta kita melakukan, mengatakan dia adalah sebuah bid’ah karena
ada contohnya.
contohnya Walaupun kemudian di dalam amal jama’i kita itu, kita tidak
membiasakan (…nampaknya rekaman terpotong …)[1] keluar dari manhaj
ahlus sunnah".

Semua jenis bai’at yang disebutkan oleh JM tidak boleh kita berikan, kecuali kepada
Khalifah dan umaro’ yang ada di bawah kepemimpinannya. Sebab semua bai’at
tersebut dilakukan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabat selaku
khalifah. Ini kalian bisa lihat dan cermati sendiri dalam kitab pegangan JM yang berjudul
"Al-Imamah Al-Uzhma", salah sebuah disertasi magister di Universitas Ummul
Quro[2]. Buku ini sebenarnya tak mendukung JM sedikitpun, jika ia men-tadabburi-nya.
Tapi demikianlah kondisi terakhir orang ini, kurang men-tadabburi kitab tersebut.

• JM men-tathbiq (menerapkan) pernyataan di atas dengan memberikan sebuah


contoh seraya berkata, "Makanya SyaikhulIslam Ibnu Taimiyyah di wilayah
Khilafah ‘Abbasiyah memba’iat murid-muridnya untuk melawan pasukan
mongol, pasukan Tartar.. Itu dilakukan olehSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyahdan
beberapa ulama-
ulama-ulama salaf.
salaf Makanya, eee, perlu memang didudukkan
persoalan ini, ya. Tapi ya, saya katakan seandainyapun dia dosa, maka paling
tidak dia adalah dosa besar. Dan dosa besar itu tidak bisa mengeluarkan
seseorang dari Islam atau Ahlus Sunnah wal Jamaah. Karena yang melakukan
hal itu, hanya Khawarij saja. Saya kira demikian".
• Dalam penerapannya di lapangan, WI telah melakukan bai’at kepada para aktifis
mereka saat pelantikan pengurus ORMAS WI. Ini telah dipersaksikan sendiri
oleh para mantan pengurus WI yang pernah dilantik lalu rujuk ke manhaj
salaf.[3]

Sebelum kita mengetahui hukum bai’at, maka perlu kami jelaskan makna bai’at
menurut pandangan para ulama sehingga kita akan mengetahui dhowabith bai’at yang
syar’iy dan bai’at bid’ah, tanpa berbicara dari perasaan dan hawa nafsu yang
menyebabkan akal berada di bawah telapak kaki.

Al- KholdunAl-Asybiliy -rahimahullah- berkata dalam Muqoddimah-nya


Al-Qodhi Ibnu KholdunAl-
saat menafsirkan makna BAI’AT , "Ketahuilah bahwa bai’at adalah janji untuk taat;
seakan-akan orang yang berbai’at berjanji kepada amirnya (pemerintahnya) untuk
menyerahkan kepadanya pandangan tentang urusan dirinya, dan urusan kaum
muslimin; ia tidak menentangnya dalam permasalahan itu sedikitpun, dan mentaatinya
dalam perkara yang dibebankan kepadanya, baik dalam keadaan senang maupun benci.
Dahulu mereka apabila membai’at amir (pemerintah), dan menetapkan janji mereka,
maka mereka meletakkan tangan mereka pada tangan amir dalam rangka menguatkan
janji. Jadi, hal itu (bai’at) menyerupai perbuatan penjual dan pembeli[4]. Lalu
disebutlah bai’at sebagai mashdar dari kata ( ‫) ـــــع‬. Maka jadilah bai’at itu berupa
jabat tangan. Inilah maknanya yang dikenal dalam bahasa Arab, dan syari’at. Itulah
yang dimaksudkan dalam hadits tentang bai’at Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pada
malam Aqobah, dan di sisi pohon[5], dan dimanapun lafazh ini ada. Diantaranya adalah
bai’at kepada kholifah". [Lihat Al-
Al-Ibar wa Diwan Al-
Al-Mubtada' wa Al-
Al-Khobar fi Ayyam
Al-
Al-Arab wa Al-
Al-Ajam wa Al-
Al-Barbar (1/108)]

Ucapan Ibnu Kholdun ini memberikan faedah kepada kita bahwa bai’at yang dikenal
dalam istilah syari’at adalah bai’at yang diberikan kepada waliyyul amr (pemerintah)
dari kalangan kaum muslimin. Inilah yang dikenal di kalangan ulama’. Oleh karena itu,
mereka tak mengenal adanya bai’at kepada selain pemerintah, sebab mereka paham
bahwa bai’at-bai’at itu adalah bid’ah yang mengakibatkan terjadinya perpecahan
umat, seperti bai’at kepada ketua yayasan, pimpinan pusat ORMAS, atau jama’ah
(perkumpulan) dakwah, ketua organisasi, dan lainnya.

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid -rahimahullah- dalam Hukmul Intima’ (hal.
163-164) berkata dalam menjelaskan kesimpulan hukum bai’at, "Sesungguhnya bai’at
dalam Islam adalah satu, berasal dari orang-orang yang memiliki kedudukan (ahlul halli
wal aqdi)[6] kepada pemerintah dan penguasa kaum muslimin. Sesungguhnya bai’at
selain itu berupa bai’at-bai’at tarekat dan hizbiyyah pada sebagian jama’ah-
jama’ah-jama’ah
Islamiyyah masa kini,
kini semua bai’at ini adalah bai’at-
bai’at-bai’at yang yang tak ada asalnya
dalam syari’at,
syari’at baik dari Kitabullah, Sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
sallam-,
amaliah seorang sahabat, dan tabi’in. Itu adalah bai’at-
bai’at-bai’at bid’ah.
bid’ah Sedang setiap
bid’ah adalah sesat; setiap bid’ah tak ada asal (dasar)nya dalam syari’at.
Bai’at-bai’at itu tak perlu dijaga. Karenanya, tak ada masalah, dan dosa ketika
meninggalkannya, dan melanggarnya. Bahkan ada dosa ketika melakukannya. Karena
ta’abbud (mendekatkan diri) dengannya adalah perkara baru yang ada dasarnya.
Belum lagi masalah yang timbul dari akibat bai’at-bai’at tersebut berupa
perobak-robekan umat, pemecahbelahan umat menjadi berkelompok-kelompok,
memancing fitnah (polemik) diantara mereka, pelampauan batas atas kelompok lain.
Jadi, bai’at-bai’at ini keluar dari batasan syari’at; sama saja apakah ia diistilahkan
dengan "Bai’at", "janji", atau "akad" (persetujuan)".
(persetujuan)

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah- pernah ditanya tentang pengangkatan
pemimpin dalam dakwah dan pembai’atan kepadanya. Maka Syaikh Abdul Aziz bin
Baaz berkata, "Merujuk kepada permintaan fatwa anda yang sangat bermanfaat
kepada Lembaga Umum Hai’ah Kibarul Ulama’ (no. 3285) tanggal 11-7-1416 H yang di
dalamnya engkau menanyakan tentang hukum mengangkat pemimpin yang wajib ditaati
dalam perkara dakwah, maka aku memberi faedah kepadamu bahwa dahulu telah keluar
fatwa dari Lajnah Da’imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah tentang apa yang engkau tanyakan,
maka kami sertakan salinannya dan itu sudah cukup, Insya Allah. Semoga Allah -Azza
wa Jalla- memberi taufiq kepada semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, dan
Maha Mengabulkan".

Salinan Fatwa itu sebagai berikut:

Fatwa no. 16098, tertanggal 5-


5-7-1414 H:

"Alhamdulillah, hanya baginya sholawat dan salam atas Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam- yang tiada nabi setelahnya, wa ba’du:

Jawaban: "Tidak diperbolehkan bai’at kecuali kepada pemerintah kaum muslimin dan
tidak boleh kepada syaikh tarekat, juga kepada yang lainnya, sebab hal ini tak ada
asalnya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Wajib bagi seorang muslim untuk
beribadah kepada Allah -Azza wa Jalla- dengan apa yang disyari’atkannya, tanpa
adanya ikatan dari orang tertentu, sebab ini termasuk perbuatan kaum nashara
terhadap pendeta dan para pemimpin gereja yang tidak dikenal dalam Islam".[7]

Para pembaca yang budiman, sebagian orang saat melakukan dan menerapkan bai’at
dalam organisasi mereka, lalu ada yang mengingkari bai’at bid’ah tersebut, maka
sebagian anggota mereka memberikan jawaban, "Ini bukan bai’at, ini hanya janji untuk
taat kepada pimpinan organisasi saja". Padahal, bai’at itu menurut bahasa dan istilah
syari’at adalah janji untuk taat kepada pemerintah. Jika janji untuk taat ini diberikan
kepada selain pemerintah, maka itulah bai’at bid’ah!!

Bai’at bid’ah ini terjadi dalam tubuh Wahdah Islamiyah berdasarkan persaksian dan
pengakuan seorang ikhwah yang keluar dari WI. Saat kami tanya apa isi bai’at itu, ia
menjawab bahwa ia diperintahkan berjanji untuk taat kepada Allah, Rasul-Nya, dan ulil
amri. Sedang yang dimaksud dengan ulil amri –kata ikhwah itu- adalah Pimpinan Pusat
Wahdah Islamiyah, yaitu H. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc.[8]OlehOleh karena itu, ikhwah
Islamiyah. Ini semua adalah bukti nyata yang
tersebut langsung keluar dari Wahdah Islamiyah
membenarkan dan menguatkan pernyataan Al-Ustadz Dzulqornain dalam sebuah
ceramah beliau saat menjelaskan penyimpangan WI. Fakta ini juga menjadi hujjah atas
orang yang menuduh Al-Ustadz Dzulqornain telah berdusta saat menyatakan bahwa
dalam WI ada bai’at.
Jadi, bai’at hanya diberikan kepada pemerintah muslim, bukan kepada selain mereka.
Maka kita yang berada di Indonesia harus membai’at pemimpin muslim, yakni Bapak
SBY -hafizhohullah- yang resmi menjadi presiden kita.

Ada diantara para hizbiyyun berkata, "Bagaimana


Bagaimana mungkin kita membai’at pemimpin
yang dipilih dengan cara tak syar’iy (Islami), seperti cara DEMOKRASI
DEMOKRASI!!!! Kami tak mau
membai’at mereka dan tak mau mengakuinya sebagai pemimpin kami !!! !!!".

Pernyataan seperti ini adalah keliru, sebab jika seorang pemimpin muslim berkuasa
dengan cara tak syar’iy, (seperti berkuasa melalui pemberontakan, kudeta, demokrasi,
dan lainnya), maka seorang wajib membai’atnya, dan mengakuinya sebagai pemimpin
yang harus ditaati!!

Kapan seorang berkuasa dengan paksa,


paksa dan telah sah berkuasa di tengah manusia,
manusia
maka seluruh rakyat wajib menaatinya untuk menjaga persatuan dan menghindari
pertumpahan darah di tengah kaum muslimin. Demikianlah disebutkan dalam banyak
buku aqidah pada ulama salaf terdahulu. Hal ini adalah dimaklumi dalam manhaj Salaf,
Tapi masalahnya kapan orang
orang-
-orang Wahdah ada minat membaca buku buku-
-buku ulama
SALAF ?

Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin ketika ditanya tentang
pemerintah Al-Jaza’ir yang menerapkan sistem demokrasi, maka beliau menjelaskan
bahwa mereka (para pemimpin muslim) memiliki hak untuk dibai’at oleh rakyat
Al-Jaza’ir.[9] Andaikan mereka bukan pemimpin dan pemerintah yang sah, maka tentu
Syaikh akan menyatakan bahwa tak ada bai’at bagi mereka. Dengar dialog berikut ini
yang terjadi antara Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin dengan para penanya
dari kalangan orang-orang Al-Jaza’ir:

• Penanya: Hubungannya dengan pemerintah Al-Jaza’ir –wahai Syaikh-,


sekarang para pemuda (yakni, anggota FIS) yang telah keluar dari penjara.
Kebanyakan diantara mereka masih ada pada mereka sedikit perasaan dendam
sehingga walaupun mereka telah keluar dari penjara, dan telah dimaafkan, tapi
mereka senantiasa berbicara masalah takfir (pengkafiran), dan masalah
pengkafiran pemerintah dengan main tunjuk, dan bahwa Pemimpin (pemerintah)
yang ada di Al-Jaza’ir adalah pemimpin kafir, dan tak ada bai’at baginya, tak
perlu didengar dan ditaati, baik dalam perkara ma’ruf maupun mungkar, karena
mereka (pemuda FIS) ) telah mengkafirkan pemimpin, dan menganggap
Al-Jaza’ir sebagai negara kafir.
• Syaikh: Negara Kafir?
• Penanya: Betul, negara kafir, wahai Syaikh! Karena mereka (pemuda FIS)
berkata, "Sesungguhnya undang-undang yang ada di Al-Jaza’ir adalah
undang-undang barat, undang-undang Islam". Pertama, apa nasihat anda
kepada para pemuda tersebut? Apakah ada bai’at bagi pemerintah Al-Jaza’ir,
dan perlu diketahui –wahai Syaikh- bahwa pemimpin itu biasa melakukan umrah,
dan menampakkan syi’ar-syi’ar Islam.
• Syaikh: Dia sholat atau tidak?
• Penanya: Dia sholat, wahai Syaikh!
• Syaikh: Kalau begitu, ia (pemimpin) itu muslim.
• Penanya: Dia datang kesini (Saudi), dan berumrah sekitar 20 hari atau sebulan.
Dia pernah di KSA.
• Syaikh: Selama ia masih sholat, maka ia adalah muslim, tak boleh dikafirkan.
Oleh karena ini, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tatkala ditanya tentang
pemberontakan melawan pemerintah, maka beliau bersabda,

"Jangan, selama ia masih sholat". [HR. Muslim dalam Kitab Al-


Al-Imaroh (62)][10]

Tidak boleh memberontak melawan pemimpin itu, tak boleh mengkafirkannya.


Barangsiapa yang mengkafirkannya, maka dia (yang mengkafirkannya) dengan
perbuatannya ini menginginkan masalah kembali dari awal. Baginya ada bai’at,
dia adalah pemimpin yang syar’iy.

Adapun masalah undang-undang, maka undang-undang wajib dinerima


kebenaran yang terdapat di dalamnya, karena menerima kebenaran adalah wajib
bagi setiap orang, walapun kebenaran itu dibawa oleh manusia yang paling kafir.
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

"Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: "Kami


mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah
menyuruh kami mengerjakannya".

Lalu Allah berfirman,


Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan
yang keji." Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak
kamu ketahui?". (QS. Al-A’raaf: 28)

Allah -Ta’ala- mendiamkan ucapan mereka,

"Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu".

Karena itu adalah benar. Jika Allah -Ta’ala- menerima kalimat kebenaran dari
orang-orang musyrik, maka ini adalah dalil bahwa kalimat kebenaran diterima
dari setiap orang. Demikian pula kisah setan, tatkala ia berkata kepada Abu
Hurairah,



‫إ‬
 ‫َا‬‫إذ‬
‫ت‬ ‫أ‬
ْ
َ
 

ِ


‫ ا‬

‫ل‬


!
"#
ِ$ِ‫& ا‬
%'
ِ(
) (
‫و‬
,
+
-


‫ن‬
%(
/0
َ 12)
3 4
5
6


"Sesungguhnya jika kau membaca ayat Kursi, maka senantiasa akan ada
padamu seorang penjaga dari Allah, dan setan tak akan mendekatimu sampai
waktu pagi". [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Bad'il Kholqi (3033)]

Ucapan itu diterima oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- (dari setan,- pen).
Demikian pula orang-orang Yahudi yang berkata,

(
‫إ‬
78

 9 ‫<راة‬2‫ن ا‬
‫أ‬
َ$‫= ا‬
>
?
A@‫ِا‬
‫ات‬
<B
 1!
DC4
E
‫إ‬
FG
ِ‫ر‬
H
َ
‫ا‬
‫ و‬1!

D
C4
E
‫إ‬
 – ‫ وذآ‬K7‫ـ‬M‫ا‬--N
ِO
'
P4
Q‫ ا‬1E$
‫ ا‬$
ِ
!

‫و‬
 1
2)
‫ت‬7
,

$,(‫و أ‬‫ أ‬R
+T
ُ?
‫ا‬
<
 (U
-ِ75
6
 $ِ
<
-
ِ@V
ُ‫أ‬َ

:

"Sesungguhnya kami telah menemukan dalam Taurat bahwa Allah meletakkan


langit pada sebuah jari, dan bumi pada sebuah jari –diapun menyebutkan
hadits-. Kemudian Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tertawa sampai gigi
geraham beliau tampakkarena membenarkan ucapan orang itu. Beliaupun
membaca ayat:

"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya


padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit
digulung dengan tangan kanan-Nya". [HR. Al-Bukhoriy dan Muslim]
Jadi, kebenaran yang terdapat dalam undang-undang buatan manusia adalah
diterima, walapun berasal dari buatan manusia. (Kebenaran itu diterima) bukan
karena itu adalah pendapat fulan, dan fulan, atau buatan fulan, dan fulan. Tapi
karena ia adalah kebenaran. Adapun kesalahan yang terdapat di dalamnya,
maka itu mungkin bisa dibetulkan dengan berkumpulnya para ahlul halli wal aqdi,
para ulama, dan para pemuka, dan mempelajari undang-undang itu. Maka yang
menyelisihi kebenaran ditolak, dan yang sesuai kebenaran diterima. Adapun
pemerintah dikafirkan, karena masalah seperti ini, (maka tak sepantasnya)!
Padahal Al-Jaza’ir berapa lama dijajah oleh orang-orang Perancis?

• Penanya: Selama 130 tahun


• Syaikh: 130 tahun ?! Baiklah, apakah mungkin undang-undang ini yang telah
dirancang oleh orang-orang Perancis, bisa diubah antara sore dan pagi saja? Ini
tak mungkin!! Perkara yang terpenting, wajib bagi kalian memadamkan fitnah
(masalah takfir) ini sesuai kemampuan kalian, dengan segala yang kalian mampu.
Kami memohon kepada Allah agar Dia melindungi kaum muslimin dari kejelekan
fitnah. [11]

Inilah dialog antara Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- dengan
orang-orang Al-Jaza’ir ketika terjadinya masalah dan konflit antara pemerintah
Al-Jaza’ir dengan Partai FIS. Di dalam dialog ini Syaikh menjelaskan bahwa
pemerintah Al-Jaza’ir yang terpilih melalui demokrasi adalah pemerintah resmi yang
wajib dibai’at oleh rakyat. Fa’tabiru ya ulil albab.

[1] Pada beberapa tempat sering terjadi keterputusan dalam rekaman ceramah Jahada
ini. Apakah sengaja, karena sesuatu atau??? Wallahu a’lam tentang hal itu.

[2] Buku ini karya Abdullah Ad-Damijy yang menjadi rujukan para hizbiyyin dalam hal
ini. Dan Ad-Damijy sendiri keliru dalam sejumlah masalah berkaitan dengan imamah.

[3] Bukti-bukti perkara ini, kami akan sebutkan dalam buku bantahan yang kami akan
luncurkan, Insya Allah.

[4] Dahulu antara penjual dan pembeli ada akad dengan cara berjabat tangan sambil
menyebutkan harga dan persetujuannya sebagaimana saat akad nikah demi
menguatkan akad.

[5] Yakni, pohon Ridhwan yang terletak di Mina.


[6] Mereka adalah dewan syuro dari kalangan para ulama, cendekiawan, dan
pemerintah.

[7] Lihat Menjalin Ukhuwah


Ukhuwah di atas Minhaj Nubuwah, karya Al-Ustadz Askari.

[8] Penggunaan gelar haji ini amat laris di kalangan para pemimpin teras WI dan
ustadz-ustadz mereka. Padahal ini adalah bid’ah yang bisa merusak nilai ibadah haji
kita sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Hajjatun Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam-
sallam-.

[9] Lihat Fatawa Al-


Al-Ulama’ Al-
Al-Akabir fi maa Uhdiro min Dima’ fil Jaza’ir (hal.
173-175) karya Syaikh Abdul Malik Romadhoni Al-Jaza’ir, cet. Maktabah Al-Asholah
Al-Atsariyyah, 1422 H.

[10] Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda demikian ketika ada sahabat yang
bertanya, "Apakah kita memerangi mereka", yakni pemerintah muslim yang melakukan
pelanggaran. Maka Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, "Jangan, selama ia
masih sholat".

[11] Lihat Fatawa Al-


Al-Ulama’ Al-
Al-Akabir fi maa Uhdiro min Dima’ fil Jaza’ir (hal.
173-175) karya Syaikh Abdul Malik Romadhoni Al-Jaza’ir, cet. Maktabah Al-Asholah
Al-Atsariyyah, 1422 H.
"Dialog bersama Al-
Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc."
(Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah)

Kekeliruan dan Penyimpangan 5

"Membela Muwazanah dalam Mengeritik Orang "

Penulis : Ustadz Abu Fadhl Abdul Qodir Al-


Al-Bugishy
Editor : Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

• Membela Muwazanah dalam Mengeritik Orang

Diantara penyimpangan JM, ia membela manhaj muwazanah (menimbang antara


kebaikan dan keburukan) ketika mengeritik dan men-tahdzir (memperingatkan)
penyimpangan dan kesalahan sebagian orang. Sebab menurut mereka bahwa jika hanya
keburukannya saja yang disebutkan, maka ini bukanlah termasuk sikap adil !! Jadi,
menurut "pejuang
pejuang" manhaj muwazanah bahwa kebaikan mereka juga harus disebutkan
pejuang
dikritik.
ketika dikritik

Orang yang pertama kali memunculkan bid’ah muwazanah ini adalah orang-orang yang
berusaha bersikap "adil" terhadap ahli bid’ah. Diantara orang-orang itu adalah Salman
Al-Audah, Ahmad Ash-Shuwayyan, dan lainnya. Mereka ini tak ridho jika kita hanya
menyebutkan keburukan Hasan Al-Banna, atau Sayyid Quthb ketika kita membantah
keduanya, tanpa menyebutkan kebaikannya.

Juga perlu diingat bahwa Muwazanah ini hanya berlaku bila salafiyyun mengeritik
mereka. Adapun kalau mereka mengeritik salafiyyin maka tidak perlu ada muwazanah
sehingga suatu hal biasa kalau kita mendengar atau membaca kritikan mereka dengan
bahasa keji dan tidak bermoral terhadap salafiyyin. Maklumlah kamus celaan mereka
terhadap salafiyyin sangat tebal dan belum pernah sempurna ke huruf Z.

Para pembaca yang budiman, agar kita mengetahui hukum muwazanah ini, maka ada
baiknya kami menukilkan sebagian fatwa ulama Ahlus Sunnah dalam perkara ini[1]:

(1.) Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah- pernah ditanya tentang manhaj Ahlus
(1.)
Sunnah dalam mengeritik ahli bid’ah dan kitab-kitab mereka. Apakah wajib
menyebutkan kebaikan dan keburukan mereka, atau hanya menyebutkan
keburukannya saja?
Syaikh bin Baaz -rahimahullah- menjawab, "Yang dikenal dalam komentar para ahli
ilmu adalah mengeritik kesalahan mereka untuk memberikan tahdzir (peringatan), dan
menjelaskan kesalahan-kesalahan mereka yang mereka keliru di dalamnya untuk
memberikan tahdzir dari bahaya kekeliruan itu. Adapun yang baik, maka sudah dikenal
dan diterima orang. Tapi maksudnya disini adalah tahdzir (memberikan peringatan) dari
kesalahan-kesalahan mereka, yaitu orang-orang Jahmiyyah, Mu’tazilah, Rofidhoh, dan
semisalnya. Jika ada hajat yang mendorong untuk menjelaskan sesuatu yang ada pada
mereka berupa kebenaran, maka dijelaskan. Jika penanya bertanya, "Apa yang ada
pada mereka berupa kebenaran? Perkara apa yang mereka mencocoki Ahlus Sunnah di
dalamnya? Sedang yang ditanya mengetahui hal itu, maka ia jelaskan. Tapi maksud
terbesar dan yang terpenting adalah menjelaskan sesuatu yang ada pada mereka
berupa kebatilan agar si penanya mewaspadainya; agar ia tidak cenderung kepada
mereka".

Penanya lain berkata, "Ada orang-orang yang mewajibkan muwazanah bahwa anda jika
mengeritik mubtadi’ (ahli bid’ah) disebabkan oleh bid’ahnya dalam rangka anda
mengingatkan manusia tentang bahayanya, maka anda wajib menyebutkan
kebaikan-
kebaikan -kebaikannya sehingga anda tidak menzhaliminya?"

Syaikh bin Baaz menjawab, "Tidak, tidak mesti, tidak mesti. Oleh karena ini, jika anda
membaca kitab-kitab ahlis Sunnah, maka anda akan mendapatkan bahwa maksudnya
adalah memberikan peringatan (tahdzir). Bacalah dalam kitab Al-Bukhoriy "Kholq
Af’al Al-
Al-Ibad" , dalam kitab Al-Adab yang terdapat dalam Shohih Al-Bukhoriy, Kitab
As-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad, Kitab At-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, dan
Rodd Utsman bin Sa’id Ad-Darimiy ala Ahlil Bida’, dan lainnya. Mereka (para ulama
itu) membawakan kebatilan mereka (ahli bid’ah) untuk memberikan tahdzir. Bukanlah
tujuannya untuk menghitung kebaikan-kebaikan mereka. Tujuannya adalah
mengingatkan bahaya kebatilan mereka.
mereka Kebaikan mereka tak ada nilainya bagi orang
kafir, jika bid’ahnya membuat ia kafir; kebaikan-
kebaikan-kebaikan mereka gugur.
gugur Jika tidak
membuatnya kafir, maka ia berada di atas kondisi bahaya. Jadi, maksudnya adalah
menjelaskan kesalahan-kesalahan , dan kekeliruan mereka yang wajib untuk
diwaspadai".

(2.) Syaikh Sholih bin Fauzan -hafizhohullah- pernah ditanya, "Baik ya Syaikh, apakah
anda men-tahdzir (memperingatkan) mereka, tanpa menyebutkan kebaikan-
kebaikan-kebaikan
mereka misalnya atau anda menyebutkan kebaikan dan kejelekan mereka
mereka?"
Al-Fauzan menjawab, "Jika aku sebutkan kebaikan mereka, artinya saya telah
Syaikh Al-
mengajak kepada mereka, jangan…jangan sebutkan. Sebutkan kesalahan yang mereka
lakukan saja, karena anda tidaklah dibebani untuk mempelajari kondisinya dan
melakukannya…engkau hanya dibebani untuk menjelaskan kesalahan yang ada pada
mereka agar mereka bertobat darinya; agar orang lain mewaspadainya. Adapun jika
anda menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka, maka mereka akan berkata, "Semoga
Allah memberikan kepadamu balasan kebaikan inilah yang kami harapkan".[2]".

Inilah dua pernyataan dua ulama di zaman ini yang menjelaskan bahwa tidak mesti
menyebutkan kebaikan ahli bid’ah saat ia dikritik, bahkan itulah yang lebih utama agar
manusia mewaspadainya dan menjauhinya. Jika kita menyebutkan kebaikannya, maka
tujuan tahdzir (peringatan) tidak tercapai, sebab manusia biasanya condong kepada
kebaikan orang lain sehingga akhirnya manusia akan berkata, "Dia menyimpang. Tapi
kan masih ada kebaikannya". Akibatnya manusia akan kasihan dan simpati kepada ahli
bid’ah itu, bahkan boleh jadi terseret dalam kebatilannya.

Kaedah muwazanah ini adalah batil, baik menurut tinjauan syari’at maupun tinjauan
akal.
akal Adapun tinjauan syari’atnya, anda bisa dapatkan penjelasannya dalam kitab yang
berjudul Manhaj Ahlis Sunnah wa Al-
Al-Jama’ah fi Naqd Ar-Ar-rijal wa Al-
Al-Kutub wa
Ath-
Ath-Thowa’if, karya Syaikh Robi’ Al-Madkholiy -hafizhohullah-. Menurut tinjauan
akal, kaedah muwazanah ini juga batil, sebab para pejuang muwazanah ini sendiri ketika
membantah
membant lawannya, maka mereka tak pernah menyebutkan kebaikan lawan
ah lawannya lawan.
Misalnya, orang-orang Wahdah Islamiyah saat mereka membantah Syi’ah Syi’ah, maka
mereka tak menyebutkan kebaikan orang-orang Syi’ah. Saat WI membantah para
salafiyyun[3], maka mereka tak pernah menyebutkan kebaikan salafiyyun
salafiyyun salafiyyun. Tak usah
jauh, lihat saja Al-Ustadz H. Jahada dalam ceramah yang berjudul "Benarkah Anda
Bermanhaj Salaf?". JM dari awal sampai akhir ceramahnya
ceramahnya, ia tak pernah
menyebutkan secuil kebaikan orang-orang yang mengaku salafi. Jika ia jujur dalam
ucapannya dan menyadari kata-kata yang keluar dari mulutnya, maka ia pasti akan
menyebutkan sedikit kebaikan salafiyyun. Tapi sama sekali tidak, bahkan -katanya-
mereka lebih asyaddu wa akhthor minal Khowarij wal Mu’tazilah (lebih parah dari
Khowarij dan Mu’tazilah). Demikianlah jika akal tak difungsikan sebagaimana mestinya.

Tapi itu masih ringan, wahai orang-orang yang berakal. Lebih parah dari itu Al-Ustadz
Haji Jahada Mangka Lc. berusaha melegitimasi manhaj muwazanah dengan hadits Abu
Hurairah tentang kisah bertemunya ia dengan setan yang mengajarinya ayat kursi. Lalu
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
‫; ُ ََأ‬/‫ْ ِإ‬HَA G
َ َAHَ َ^ #َ ُ‫ُوبٌ َوه‬Nَ‫آ‬

"Ingatlah, sesungguhnya dia (setan) itu jujur kepadamu, sedang ia itu pendusta". [HR.
Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Wakalah (2311)]

Pembaca yang budiman, perhatikan syubhat menyeret pelakunya dalam kekeliruan dan
kerancuan. Apakah kita juga melakukan muwazanah ketika menjelaskan kekafiran dan
kesesatan setan, seraya berkata, "Setan memang kafir dan sesat.
sesat Tapi kan ia masih
punya kebaikan!!"
kebaikan Sungguh aneh orang-orang yang sufaha’ul ahlam, tidak
menempatkan akalnya dan menggunakannya dengan baik. Jika anda mau memahami
makna hadits ini, maka kembalilah kepada ulama, seperti Syaikh Robi’ Al-Madkholiy
yang telah menjelaskan makna hadits ini dan bahwa ia bukan dalil manhaj muwazanah
dalam kitab beliau yang cemerlang Manhaj Ahlis
Ahlis Sunnah wa Al-Al-Jama’ah fi Naqd
Ar-
Ar-rijal wa Al-
Al-Kutub wa Ath-
Ath-Thowa’if. Intinya hadits ini bukanlah dalil untuk
melegitimasi manhaj muwazanah, sebab Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda
demikian dalam rangka at-ta’rif wal bayan (mengenalkan dan menjelaskan) tentang jati
diri orang (yakni, setan) yang ditemui oleh Abu Hurairah. Inilah sebabnya Al-Imam
Adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam An-An-Nubala’, beliau terkadang menyebutkan
kebaikan dan jasa ahli bid’ah untuk at-ta’rif wal bayan tentang jati diri dan perjalanan
hidup orang itu. Adapun saat membantah dan mengingkari kemungkaran, maka seorang
menyebutkan penyimpangan ahli bid’ah atau pelaku kebatilan agar manusia
menjauhinya dan waspada terhadap perbuatannya. Wallahu a’lam.

[1] Kami nukilkan dari kitab Manhaj Ahlis Sunnah wa Al-


Al-Jama’ah fi Naqd Ar-
Ar-rijal wa
Al-
Al-Kutub wa Ath-
Ath-Thowa’if (hal. 8 & 10), karya Syaikh Robi’ Al-Madkholiy
-hafizhohullah-, cet. Maktabah Al-Furqon, 1423 H.

[2] Maksudnya, ahli bid’ah akan gembira.

[3] Yang mereka sebut dengan mudda’is salafiyyah (para pengaku salafi)
"Dialog bersama Al-
Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc."
(Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah)

Kekeliruan dan Penyimpangan 6


"Salah paham terhadap Salafiyyun"

Penulis : Ustadz Abu Fadhl Abdul Qodir Al-


Al-Bugishy
Editor : Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

• Salah paham terhadap Salafiyyun

Diantara kekeliruan Jahada, ia menyangka bahwa salafiyyun melarang tanzhim,


marhalah, dan tarbiyah secara muthlaq. Padahal salafiyyun hanya mengingkari tanzhim
yang mengarah kepada ta’ashshub, dan khuruj alal hukkam (pemberontakan). Demikian
pula salafiyyun hanya mengingkari tarbiyah sirriyah dan marhalah sirriyah. Salafiyyun
tidak melarang tarbiyah serta sistem marhalah. Tapi yang mereka ingkari jika hal itu
dilakukan secara sirriyah (sembunyi-sembunyi) dan mengarah kepada pemberontakan.
Oleh karena itu, sekolah-sekolah yang didirikan oleh salafiyyun juga merupakan
tarbiyah yang ber-marhalah (berjenjang).

Dakwah sirriyah (rahasia alias sembunyi-sembunyi) di zaman ini di tengah kaum


muslimin adalah perkara yang tidak perlu, bahkan dakwah ini harus disebarkan dan
dipulikasikan ke semua lapisan. Jika dakwah dilakukan secara sirriyah, maka akan
mengundang kecurigaan. Karenanya, Umar bin Khoththob -radhiyallahu anhu- pernah
melarang sebagian orang di zaman beliau untuk melakukan perkumpulan rahasia dan
tersembunyi.

Dari Zaid bin Aslam Al-Adawiy -rahimahullah- dari bapaknya berkata,

ْ َ Hِ ْ ‫ َز‬ِ ْT Eَ َْ:‫ َأ‬، ْ َ ِ ِْT‫ َأ‬، ‫َ َل‬A : tَ ََT َ َُ َ ْT ‫ب‬
ِ ;mَkْ‫ن ا‬ ; ‫ً َأ‬:َ/ ‫ن‬ َ ْ#ُ)َِ(ْCَ ِْ6 ? ِ َْT Iَ َِ+َ6 َ‫َََه‬6
‫َ َل‬5َ6 : َ ? َ ْDِT ‫ْ ِل‬#ُ:‫ َر‬ ِ ‫ ا‬Y;َ^  ُ ‫ ََْ ِ ا‬Eَ ;َ:‫ َو‬, َ ‫ن‬َ َ‫ٌ آ‬Hَ‫ َأ‬َ ِ ‫س‬ ِ ;D‫ ا‬v ; َ‫َِإَ َأ‬Dْ ْ ِ Gَ ِْT‫ َو َ] َأ‬Hَ ْ)َT G
َ ِْT‫َأ‬
v; َ‫َ َأ‬Dَْ‫ ِإ‬G
ِ ْDِ ْHَ5َ6 ِْDَََT ‫ن‬
; ‫َ َ ه ُ َ] ِء َأ‬J;D‫ن ا‬
َ ْ#ُ)َِ(ْCَ ‫ك‬َ Hَ ْDِ, Eُ ْ ‫ وَا‬ِ ‫ِ ْ ا‬eَ ِْDَََT G
َ ِ‫ َذ‬
; َAO َXَ Eُ ِSََْ
?َ َْQْ‫ا‬, ;ََ6 ‫َ ُءوْا‬9 Iَ َِ+َ6 ْ?ََA : ‫ن‬ ; ‫ْ ِإ‬T‫ب َا‬
ِ ;mَkْ‫َ َل ا‬A ‫َا‬Nَ‫َا آ‬Nَ‫; ُ َوآ‬/Fَِ6 8ُ َِ6 Gَ ِ‫ َذ‬، ‫ْا‬#ُA; َJَ(َ6 Y;(َ fَ ِ ْ#ُT ِْTXَ
ٍ ْ'َT َ ِ*‫ َر‬ ُ ‫ْ ُ ا‬Dَ

"Telah sampai (suatu berita) kepada Umar bin Khoththob bahwa ada beberapa orang
yang akan berkumpul di rumah Fathimah. Maka umar mendatangi Fathimah seraya
berkata, "Wahai Putri Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, tak ada seorang pun
yang yang lebih kami cintai dibandingkan ayahmu, dan tak ada orang yang paling kami
cintai setelah ayahmu dibandingkan anda. Sungguh telah sampai berita kepadaku
bahwa ada beberapa orang yang berkumpul di sisimu. Demi Allah, jika sampai berita hal
itu kepadaku, maka sungguh aku akan membakar rumah mereka". Tatkala mereka
mendatangi Fathimah, maka Fathimah berkata, "Sesungguhnya Umar bin Khoththob
berkata demikian dan demikian. Sungguh ia melakukan hal itu". Lalu merekapun
berpencar sehingga Abu Bakr -radhiyallahu anhu- dibai’at ". [HR. Ibnu Abi Syaibah
dalam Al-
Al-Mushonnaf (14/567-568), dan Ibnu Ashim dalam Al-Al-Mudzakkir wa
At-
At-Tadzkir (no. 17)]

Perhatikan sikap Umar ketika mendengar ada sebagian orang yang berkumpul di rumah
Fathimah untuk membicarakan suatu permasalahan ketika hampir pemilihan kholifah
sepeninggal Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Umar khawatir dengan perkumpulan
rahasia tersebut akan timbul fitnah (masalah). Oleh karenanya, beliau melarang dan
mengancam mereka sampai akhirnya mereka membai’at Abu Bakr.

Perkumpulan dan pertemuan yang mengarah kepada suatu kerusakan adalah sesuatu
yang pantas dilarang. Di zaman kita ini banyak bermunculan jama’ah dakwah
islamiyyah. Diantara mereka ada yang memiliki metode dakwah sirriyah; tak semua
orang boleh menghadiri tarbiyah mereka atau dauroh (basic training) mereka, sebab
dalam pertemuan-pertemuan itu ada perkara-perkara rahasia yang hanya diketahui
oleh orang-orang yang iltizam (baca: fanatik) kepada aturan dan rambu organisasi.[1]
Mereka yang hadir ini sudah diketahui wala’ dan baro’-nya kepada organisasi. Adapun
orang lain yang tidak demikian ciri dan kriterianya dari kalangan luar, maka mereka
buatkan tarbiyah (pembinaan) dan dauroh yang sifatnya umum saja, sekedar menarik
hati dan simpati saja. Adapun membicarakan masalah-masalah yang mendalam, dan
rahasia, maka tak ada (disembunyikan), sebab para aktifis dakwah ini khawatir jika
rahasia dan misi bocor dan diketahui oleh orang banyak –khususnya, pemerintah-.
Inilah yang pernah diingatkan bahayanya oleh Al-Imam Umar bin Abdil Aziz
-rahimahullah- dalam ucapannya,

« ‫? ِإذَا‬
َ ْ ‫ْ ً َرَأ‬#َA ‫ن‬
َ ْ#َ9َDَ(َ ِْ6 ْEِSِDْ ‫ن ِد‬
َ ْ‫ ُدو‬Iِ ; َ)ْ‫ْ ا‬Eََْ6 ْEُS;/‫ َأ‬Yََ U
ِ ِْ:َْ Iٍ َ[
َ َ* »

"Jika engkau melihat suatu kaum yang berbisik-bisik (berbicara rahasia) tentang
agama mereka, tanpa orang banyak, maka ketahuilah bahwa mereka sedang merintis
kesesatan". [HR. Ahmad dalam Az-
Az-Zuhd (1694 & 1705), Ad-Darimiy dalam As- As-Sunan
(313), dan Al-Lalika'iy dalam Syarh Ushul I'tiqod Ahlish Sunnah wal Jama'ah (219 &
1093), dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Bayan Al-Al-Ilm (3/160)]

Majelis-majelis tarbiyah yang diadakan oleh para hizbiyyun amat mengundang


pertanyaan dan kecurigaan, sebab agama ini jelas, dan untuk semua orang. Tapi kenapa
agama ini disembunyikan?! Bukankah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para
sahabat malah bersemangat menyebarkannya. Cara dakwah sirriyah seperti ini di
tengah kaum muslimin adalah cara dakwah yang menyelisihi Sunnah. Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,

ْ
َْ ‫ َوَأ ِ
ْ وَا‬
َ ََْ‫ِِ َو‬
َ َِْ ‫ك‬
َ ‫وَا  َوِإ‬

"Dengar dan taatlah (kepada pemerintah), lazimilah keterbukaan, dan waspadailah


sirriyah (ketertutupan)". [HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-
As-Sunnah (887). Hadits ini
dikuatkan oleh Al-Albaniy dalam Zhilal Al-
Al-Jannah (1070)]

Kami pernah menyaksikan dengan mata kepala kami, ada sekelompok hizbiyyun yang
mengadakan dauroh sirriyah (sembunyi-sembunyi) sampai mereka memerintahkan
para peserta datang dua-dua orang dengan selang waktu yang berbeda. Jika tiba di
tempat dauroh, maka semua peserta diperintahkan memasukkan sandal ke dalam
rumah (tempat) dauroh, dan dilarang menghadiri sholat jama’ah, sebab –kata mereka-
tampak keluarnya para peserta akan menimbulkan kecurigaan. Subhanallah, mereka
telah berani meninggalkan sholat jama’ah dengan sangkaan belaka.

Perkara tanzhim, marhalah, tarbiyah, sama masalahnya dengan perkara at-tahazzub


(berkumpul di atas sesuatu tertentu). Terkadang tahazzub adalah perkara tercela, dan
terkadang ia terpuji. Yang terpuji adalah tahazzub yang dilakukan bersama kaum
muslimin yang dipimpin oleh pemerintah muslim dalam konteks sebuah negara. Adapun
yang tercela adalah tahazzub (perkumpulan) yang keluar dari kepemimpinan
pemerintah lalu bergabung bersama perkumpulan-perkumpulan lain yang bersepakat
untuk menyelisihi jama’ah (pemerintah dan rakyatnya) dalam perkara yang ma’ruf,
menyeleneh dari kepemimpinan syar’iy, dan mengikuti hawa nafsu. Inilah yang biasa
kita sebut "hizbiyyun".[2] [Lihat Al-
Al-Amr bi Luzum Jama'ah Al-
Al-Muslimin wa Imamihim
wa At-
At-Tahdzir min Mufaroqotihim (hal. 89-90) karya Syaikh Abdus Salam bin Barjas
Alu Abdil Karim, cet. Maktabah Al-Furqon, 1422 H]
Tanzhim menurut bahasa adalah penyusunan & pengaturan[3] . Segala sesuatu butuh
pengaturan. Oleh karena itu, negara sebenarnya juga adalah bentuk tanzhim, karena di
dalamnya terdapat pengaturan dari seorang penguasa atas rakyat dan kemaslahatan
mereka. Namun yang perlu kita ingat bahwa kini kata "tanzhim" sudah diplesetkan
maknanya kepada makna yang sempit. Sehingga ada sebagian orang yang membuat
tanzhim "bawah tanah" berupa dakwah dan tarbiyah sirriyah untuk melakukan
pemberontakan dengan berbagai macam alasan dan dalih kosong yang tak bisa
diterima oleh syari’at dan akal sehat. Inilah sebabnya para ulama dan ustadz salaf
mengingakari tanzhim model seperti ini, bukan semua tanzhim. Wallahu a’lam. [Lihat
Ad-
Ad-Da'wah ilallah Baina At-
At-Tajammu' Al-
Al-Hizbi wa At-
At-Ta'awun Asy-
Asy-Syar'iy (hal. 133),
cet. Maktabah Ash-Shohabah]

Selain itu, sering kita temukan tanzhim jama’ah pada hari ini yang bermuara pada
ta’ashshub (fanatik kelompok) dan tahazzub (hizbiyyah) sehingga jika ada seorang di
luar organisasinya, maka mereka menyikapi orang luar tidak seperti menyikapi anggota
jama’ah (organisasi). Seakan-akan orang luar bukan saudara mereka yang se-islam.[4]
Alangkah sialnya persaudaraan seperti ini !!!

Terakhir, perlu kita masukkan dalam wawasan kita bahwa terkadang tanzhim menjadi
dosa besar tatkala mengantarkan kepada ta’ashshub (fanatik) atau pemberontakan.
Oleh karena itu, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengancam orang yang melakukan
seruan jahiliah.

Jabir bin Abdillah -radhiyallahu anhu- berkata,

;Dُ‫ِ آ‬6 ‫َا ٍة‬Bَ fَ َKَ'َ6 ٌ8ُ9‫ ِ ْ َر‬ َ ِِ9َSُْ‫ًُ ا‬9‫َ ِر ِ ْ َر‬.ْ/َْ‫َ َل ا‬5َ6 ‫ي‬ % ‫َ ِر‬.ْ/َْ‫َ ِر َ ا‬.ْ/ََْ ‫َ َل‬A‫ي َو‬
% ِ ِ9َSُْ‫ا‬
َ َ ِِ9َSَُْ fَ َِKَ6 G
َ ِ‫ ُل َذ‬#ُ:‫ ا; ِ َر‬Y;َ^ ُ ;‫ ََْ ِ ا‬Eَ ;َ:‫َ َل َو‬5َ6 َ ‫َ ُل‬T ْ‫َى َد‬# Iِ ;ِِ‫َه‬Cْ‫ا ا‬#َُA َ ‫ َل‬#ُ:‫َر‬
ِ ;‫ ا‬fَ َKَ‫ٌ آ‬8ُ9‫ ِ ْ َر‬ َ ِِ9َSُْ‫ًُ ا‬9‫َ ِر ِ ْ َر‬.ْ/َْ‫َ َل ا‬5َ6 َ‫ه‬#ُ‫َ َد‬S;/Fَِ6 ٌIَDِ(ْDُ

"Dahulu kami dalam suatu perang, lalu ada seorang Muhajirin yang menendang pantat
seorang Anshor. Maka Orang Anshor itu berkata, "Wahai orang-orang Anshor,
tolonglah aku!!". Orang Muhajirin itu juga berkata, "Wahai orang-orang Muhajirin,
tolonglah aku". Hal itu pun didengarkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
seraya berkata, "Kenapa ada seruan jahiliah!!" Mereka menjawab, " Ada seorang
Muhajirin yang telah menendang pantat seorang Anshor". Beliau bersabda,
"Tinggalkanlah seruan jahiliah itu, karena ia adalah ucapan yang busuk". [HR.
Al-Bukhoriy dalam Kitab At-Tafsir, dan Muslim dalam Kitabul Birri wa Sh-Shilah]
Tanzhim jika mengajak kepada ta’ashshub (fanatik) kepada kelompok atau organisasi
dan mengusung kepada pemberontakan dan perlawanan terhadap pemerintah, maka
inilah SERUAN JAHILIAH yang dilarang oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam,
bahkan beliau ancam dalam sabdanya,

U
َ َْ ;Dِ ْ َ ‫ب‬
َ َ َ* ‫ُو َد‬Hُkْ‫ َأوْ ا‬h
; َd ‫ب‬
َ #ُُCْ‫َى َدَ َأوْ ا‬#ْHَ ِT Iِ ;ِِ‫َه‬Cْ‫ا‬

"Bukanlah termasuk diantara kami orang yang memukul pipi, atau merobek kantong
atau menyeru dengan seruan jahiliah".
jahiliah [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (148)]

Pembaca yang budiman, perhatikan hadits ini, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
mengancam orang yang menyeru dengan seruan jahiliah. Bukankah model tanzhim
hizbi adalah seruan jahiliah?! Ini membatalkan ucapan Jahada yang menyatakan bahwa
tak ada ancaman bertanzhim saat JM berkata, " Ada ancaman orang yang bertanzhim?
("Tidak!", kata mad’u)".

Inilah beberapa potong nasihat dan penjelasan dari kami tentang perkara-perkara yang
kami ta’liq (komentari) dalam ceramah Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc., seorang dai
dan aktifis serta penggerak roda Ormas Wahdah Islamiyah. Semoga risalah ini
menjadi penyadar bagi yang lalai, dan penghibur bagi pencinta Sunnah dan ahlinya.

? IT(‫ آ‬I:‫م ا‬# I)C‫ ا‬6 ‫دي‬9 ‫ول‬X‫ ا‬ID: 1429 ‫ هـ‬h6‫ا‬#‫ ا‬1 # 
ID: 2009 ‫ ـ‬

‫ل‬K/ ‫ ال‬I6)‫ ا‬I [K‫( وا‬J‫ ا‬S‫ وأن وأه‬D)C 6 ‫ ز ة‬8‫ أه‬IDK‫وأن ا‬
D( Y ‫[م‬:n‫ ا‬IDK‫وا‬, $!‫ و‬/‫ا‬#‫ أن د‬H,‫ ا) رب  ا‬Y^‫ا و‬
Y DQ/ !‫ و‬Q,^‫و‬,  !

Footnote :

[1] Bagi pemula, biasanya mereka (para pegiat dakwah) itu belum terlalu terbuka dalam
perkara yang mereka rahasiakan. Mereka dalam hal ini berbuat selangkah demi
selangkah, tapi pasti. Orang-orang yang pernah mengalaminya bersama mereka sudah
terlalu banyak. Cuma para pegiat dakwah itu sering mendustai kata hatinya dan
pengikutnya, sehingga hal ini sering berusaha ditutupi. Tapi bangkai tak mungkin akan
disembunyikan, kata orang. Pasti tercium dan diketahui oleh orang.
[2] Hizbiyyun ada dua: yang terlibat dalam partai politik dan yang tak terlibat. Tapi
mereka yang tak berpartai memiliki aqidah yang menyelisihi aqidah salaf, mereka
membangun wala’ dan bara’ di atas aqidah bid’ah tersebut atau di atas organisasi.
Inilah hizbi yang sering kita ingatkan bahayanya.

[3] Lihat Al-


Al-Mu’jam Al-
Al-Wasith (hal. 933)

[4] Perkara seperti ini sering terjadi di lapangan. Sebagai contoh, mereka (para pegiat
tanzhim bid’ah ini) jika memiliki anak kajian, maka mereka tak ridho dan murka jika
anak kajian mereka mendatangi kajian lain, walapun yang didatangi adalah kajian Ahlus
Sunnah alias salafiyyun. Ini adalah hizbiyyah yang tercela!! Jika ada anak kajian mereka
dari kalangan akhawat dilamar oleh seseorang, walapun sang pelamar adalah Ahlus
Sunnah, maka mereka (para pegiat tanzhim) ini berusaha seribu cara untuk
membatalkan lamaran itu. Ini adalah hizbiyyah yang tercela !! Jika ada yang
mengingkari seorang ustadz di antara mereka –padahal sudah jelas salah-, maka
mereka menuduh sang pengingkar sebagai batu sandungan dakwah. Ini adalah jerat
hizbiyyah!! Jika ada seorang hizbi yang bersama mereka, maka hizbi ini dianggap
sebagai saudara dekat sehingga menutup mata dari penyimpangannya. Inilah bentuk
hizbiyyah dan fanatik golongan yang tercela dalam Islam.