Anda di halaman 1dari 12

Hubungan sedarah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Hubungan sumbang (Inggris: incest) adalah hubungan saling mencintai yang


bersifat seksual yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan keluarga
(kekerabatan) yang dekat, biasanya antara ayah dengan anak perempuannya, ibu
dengan anak laki-lakinya, atau antar sesama saudara kandung atau saudara tiri.
Pengertian istilah ini lebih bersifat sosio antropologis daripada biologis (bandingkan
dengan kerabat-dalam untuk pengertian biologis) meskipun sebagian penjelasannya
bersifat biologis.

[sunting]
Penjelasan biologis dan sosial

Hubungan sumbang diketahui berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang


secara biologis lemah, baik fisik maupun mental (cacat), atau bahkan letal
(mematikan). Fenomena ini juga umum dikenal dalam dunia hewan dan tumbuhan
karena meningkatnya koefisien kerabat-dalam pada anak-anaknya. Akumulasi gen-
gen pembawa 'sifat lemah' dari kedua tetua pada satu individu (anak) terekspresikan
karena genotipenya berada dalam kondisi homozigot.

Secara sosial, hubungan sumbang dapat disebabkan, antara lain, oleh ruangan dalam
rumah yang tidak memungkinkan orangtua, anak, atau sesama saudara pisah kamar.
Hubungan sumbang antara orang tua dan anak dapat pula terjadi karena kondisi
psikososial yang kurang sehat pada individu yang terlibat. Beberapa budaya juga
mentoleransi hubungan sumbang untuk kepentingan-kepentingan tertentu, seperti
politik atau kemurnian ras.

Akibat hal-hal tadi, hubungan sumbang tidak dikehendaki pada hampir semua
masyarakat dunia. Semua agama besar dunia melarang hubungan sumbang. Di
dalam aturan agama Islam (fiqih), misalnya, dikenal konsep muhrim yang mengatur
hubungan sosial di antara individu-individu yang masih sekerabat. Bagi seseorang
tidak diperkenankan menjalin hubungan percintaan atau perkawinan dengan orang
tua, kakek atau nenek, saudara kandung, saudara tiri (bukan saudara angkat),
saudara dari orang tua, kemenakan, serta cucu.

[sunting]
Contoh-contoh hubungan sumbang dalam kebudayaan

Pada kelompok masyarakat tertentu, seperti suku Polahi di Kabupaten Gorontalo,


Sulawesi, praktek hubungan sumbang banyak terjadi. Perkawinan sesama saudara
adalah hal yang wajar dan biasa di kalangan suku Polahi.

Kalangan bangsawan Mesir Kuna, khususnya pascainvasi Alexander Agung,


melakukan perkawinan dengan saudara kandung dengan maksud untuk
mendapatkan keturunan berdarah murni dan melanggengkan kekuasaan. Contoh
yang terdokumentasi adalah perkawinan Ptolemeus II dengan saudara
perempuannya, Elsinoé. Beberapa ahli berpendapat, tindakan seperti ini juga biasa
dilakukan kalangan orang biasa. Toleransi semacam ini didasarkan pada mitologi
Mesir Kuna tentang perkawinan Dewa Osiris dengan saudaranya, Dewi Isis.
Dalam mitologi Yunani kuno, Dewa Zeus kawin dengan Hera, yang merupakan
kakak kandungnya sendiri.

Folklor Indonesia juga mengenal hubungan sumbang. Hubungan sumbang antara


Sangkuriang dan ibunya sendiri (Dayang Sumbi) dalam dongeng masyarakat Sunda
atau antara Prabu Watugunung dan ibunya (Sinta), yang menghasilkan 28 anak —
kisahnya diabadikan dalam pawukon — adalah contoh-contohnya.
http://www.rahima.or.id/SR/08-03/Opini1.htm
“Anak Perempuan Hasil Incest Lebih Rentan
terhadap Penyakit Genetik”

Pengantar Opini
Sebagai isu kekerasan seksual, kasus incest sebenarnya bukanlah kasus baru. Fakta
tentang incest sering kali tidak muncul karena dianggap aib keluarga. Padahal
menyimpan dan menyembunyikan fakta incest bak menyimpan api dalam sekam.
Tetapi masalahnya, pendampingan kasus incest bukanlah hal yang mudah. Butuh
keberanian dari berbagai pihak, terutama keluarga, untuk bisa melihat ini secara
proporsional dan berpihak kepada korban.

Dua tokoh yang kami wawancarai berikut mungkin bukan nama asing di lingkungan
pemerhati kesehatan perempuan dan Islam. Pertama kita akan berbicang lebih detil
dengan Ibu Dr. Ramonasari, Kepala divisi Kesehatan Reproduksi Perkumpulan
Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jakarta. Dan tokoh yang lainnya adalah KH.
Husein Muhammad. Keduanya mencoba berbagi mengenai masalah incest dari dua
kacamata yang berbeda; perspektif medis dan perspektif agama. Pada akhirnya,
semuanya berpulang kepada kearifan pembaca untuk menilai dan merenungi semua
informasi yang kami angkat dalam rubrik “opini”. Selamat membaca!

Wawancara redaksi Swara Rahima dengan Dr. Ramonasari, Kepala divisi


Kesehatan Reproduksi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jakarta.
Perempuan kelahiran 19 Mei 1956 yang juga pernah bekerja sebagai koordinator
klinik Griya Sahari PKBI dan aktif sebagai trainer sex education HIV/AIDS,
mengomentari seputar incest dari perspektif medis. Berikut kutipan wawancaranya.

Swara Rahima (SR) : Apa yang dimaksud incest?


Ramona (R) : Incest adalah hubungan badan atau hubungan seksual yang terjadi
antara dua orang yang mempunyai ikatan pertalian darah. Dalam hal ini hubungan
seksual sendiri ada yang bersifat sukarela dan ada yang bersifat paksaan. Nah, yang
paksaan itulah yang dinamakan perkosaan. Jika itu terjadi antara dua orang yang
bertalian darah itulah yang dinamakan incest. Dan kasus incest yang lebih banyak
diketahui masyarakat adalah perkosaan incest.

SR : Hubungan darahnya sedekat mana?


R : Cukup dekat misalnya antara kakak dengan adik, ibu dengan anak, bapak
dengan anak, atau paman dengan keponakannya. Dalam artian yang masih sangat
dekat hubungannya. Tetapi yang benar dikatakan incest itu yang murni hubungan
sedarah seperti kakak dengan adik, atau bapak dengan anak.

SR : Dari segi medis, apakah anak hasil hubungan incest akan menderita kelainan?
R : Tidak setiap pernikahan incest akan melahirkan keturunan yang memiliki
kelainan atau gangguan kesehatan. Jadi detilnya seperti ini, bisa saja gen-gen yang
diturunkan baik dan melahirkan anak yang normal. Walaupun begitu, kelemahan
genetik lebih berpeluang muncul dan riwayat genetik yang buruk akan bertambah
dominan serta banyak muncul ketika lahir dari orang tua yang memiliki kedekatan
keturunan. Pada kasus incest, penyakit resesif yang muncul dominan. Namun
gangguan emosional juga bisa timbul bila perlakuan buruk terjadi saat pertumbuhan
dan perkembangan janin pra dan pascakelahiran.
Apabila terjadi kelahiran, anak perempuan lebih rentan dan berpeluang besar
terhadap penyakit genetik yang diturunkan orangtuanya. Incest memiliki alasan
lebih besar yang patut dipertimbangkan dari kesehatan medis. Banyak penyakit
genetik yang berpeluang muncul lebih besar. Sebut saja pada genetik, kromosom
yang mengalami gangguan kesehatan jiwa (skizoprenia), Leukodystrophie atau
kelainan pada bagian saraf yang disebut milin, ada bagian dari jaringan penunjang
pada otak yang mengalami gangguan yang menyebabkan proses pembentukan
enzim terganggu. Selain itu albino (kelainan pada pigmen kulit) dan keterlambatan
mental (idiot) serta perkembangan otak yang lemah. Banyak penyakit keturunan
yang akan semakin kuat dilahirkan pada pasangan yang memiliki riwayat genetik
buruk dan terjadi incest. Namun, yang harus diwaspadai juga kecacatan kelahiran
bisa muncul akibat ketegangan saat ibu mengandung dan adanya rasa penolakan
secara emosional dari ibu.

SR : Apakah kasus seperti ini banyak terjadi ?


R : Bila yang dibayangkan akan lahir anak “monster” tentu saja tidak, karena bila
dilihat dari beberapa kasus, anak yang lahir biasanya sehat dan lucu-lucu saja.
Karena kebetulan si bapak “biologis”nya dan si ibu “biologis” itu kebetulan
memang tidak menurunkan sesuatu penyakit kepada anak- anaknya atau kebetulan
kedua-duanya dalam kondisi sehat. Tetapi segala sifat yang buruk yang diturunkan
akan bertambah lebih buruk sifatnya. Dan sesungguhnya masalah yang lebih
penting dicermati dari kasus anak hasil incest (terutama perkosaan incest) ini adalah
karena kondisi yang tidak sehat. Tidak sehat dalam konteks sosial maksudnya. Ini
berkaitan juga dengan konstruksi sosial tentang keluarga. Misalnya masyarakat
mengenal ayah dan anak sebagai satu kesatuan keluarga. Tetapi jika terjadi kasus
incest, dimana ayah telah menghamili anak perempuannya, maka bila lahir anak dari
anak perempuan tersebut maka status ayah itu menjadi ganda, ayah sekaligus kakek.
Itulah yang menyebabkan incest dapat menimbulkan tekanan psikologis yang sangat
berat bagi korbannya.

SR : Bagaimana dengan kasus di beberpa suku di Indonesia yang membolehkan


perkawinan sedarah (incest) ini?
R : Kalau di suku-suku itu yang terjadi adalah hanya kawin antar saudara, bukan
segaris misalnya ayah ke anaknya, atau paman ke keponakannya. Jadi sudah
menyebrang ke garis darah yang kedua misalnya sepupu jauh, atau anak om dengan
anaknya tante, dan itu bukan incest.

SR : Apakah PKBI mendapatkan banyak laporan atau menangani kasus incest?


R : Kami tidak terlalu banyak mendapat laporan tentang kasus itu. Mungkin ini ada
kaitannya dengan anggapan umum masyarakat yang masih memandang bahwa
mengadukan kasus ini menjadi sangat memalukan. Data secara angka kami tidak
punya. Akan tetapi bukan berarti kasus incest ini tidak ada di masyarakat. Mungkin
saja sebagian masyarakat masih merasa lebih nyaman dengan menutup-nutupi kasus
ini.

SR : adakah kasus perkosaan incest yang terjadi selain dari ayah ke anak
perempuan?
R : Yang banyak terekspos adalah perkosaan dari ayah kepada anak perempuan.
Tetapi ada juga kasus perkosaan incest yang dilakukan anak laki-laki kepada
Ibunya. Saya tidak tahu apakah karena si ibu masih bisa menahan diri untuk tidak
mengungkap ini atau apa. Tetapi bila hal ini sampai terjadi, mungkin saja
didasarkan karena kelainan si anak yang terlalu mencintai ibunya yang dalam ilmu
psikologi disebut dengan istilah Oedipus compleks, yaitu anak yang sangat memuja
ibunya sehingga anak menganggap ibu sebagai perempuan yang lain yang bukan
sebagai ibunya. Memang kasus perkosaan incest tidak banyak data laporannya. Saya
tidak mengatakan tidak ada, tetapi mungkin laporannya lebih sedikit dari fakta yang
sesungguhnya terjadi.

SR : Apakah karena dianggap tabu untuk diungkap?


R : Ya, hal ini memang dianggap masih sangat tabu untuk dibicarakan di
masyarakat. Kalaupun ada, lebih banyak laporan tersebut berasal dari masyarakat
bukan dari korban atau pelakunya sendiri.

SR : Kalau menurut ibu sendiri bagaimana seharusnya kita mengadvokasi masalah


ini?
R : Advokasinya salah satunya adalah dengan memberikan informasi sebanyak-
banyaknya mengenai masalah incest. Sebenarnya, incest itu bukan kejadian tiba-tiba
dimana si kakak ketemu adik langsung berhubungan, tidak! Dan kalau mau dibilang
penyebabnya adalah faktor kemiskinan 100%, tidak juga! Tetapi biasanya karena
rumah mereka sangat sempit. Lalu tidak mempunyai akses untuk main keluar,
sangat terbatas. Kalau keluar harus mengeluarkan uang, gaul dengan teman-teman
misalnya. Yang ada di rumah, satu kamar ramai-ramai. Yang ada lama-lama orang
terangsang nafsu biologisnya.

SR : Apakah ini ada kaitannya dengan pengetahuan agama?


R : Saya kira tidak juga. Bukankah agama sudah ada sejak dari zaman dulu? Kita
lahir sudah ada agama, tetapi yang aneh-aneh juga tetap ada. Bukan berarti pelaku
perkosaan incest itu orangnya tidak beragama, tidak juga. Kadang pelakunya itu
sangat rajin sholatnya atau ke gerejanya rajin, tetapi incestnya rajin juga.

SR : Bagaimana dengan pendidikan seks sebagai alternatif advokasi?


R : Ya harus! Karena kita harus memberitahu masalah ini dengan lebih
proporsional. Hanya tidak bisa tiba-tiba kita memberitahukan kelainan-kelainan
tersebut. Sebab kita seharusnya juga bisa menerangkan hal yang lain. Karena ini
adalah bagian dari penerangan kesehatan reproduksi dimana hak orang-orang untuk
mendapat informasi seluas-luasnya serta yang baik dan benar. Hanya sampai
sekarang mengenai pendidikan seks sendiri masih kontroversi. Karena bicara
kesehatan reproduksi ada kaitannya dengan pendidikan seks. Pendidikan seks oleh
sebagian masyarakat masih dianggap mengajarkan hubungan seks kepada anak-
anak, padahal masyarakatnya mungkin juga tidak mengerti, kenapa hubungan antar
darah tidak bagus. Hal ini seperti saya katakan sebelumnya berkaitan juga dengan
beberapa penyakit yang memang genetis seperti penyakit hemofilia -penyakit sel
darah merah yang pecah yang mengakibatkan anak harus terus menerus
mendapatkan tranfusi- yang mungkin juga diidap oleh anak hasil hubungan incest.

SR : Dalam konteks ini apakah pendidikan sex cukup disampaikan dengan cara
informal atau harus cara formal?
R : Sebetulnya formal lebih bagus. Hanya kurikulumnya sudah sanggup belum?
Karena pendidikan seks itu sendiri terbagi menjadi beberapa tahap, ada pendidikan
seks untuk anak, untuk remaja dan untuk dewasa. Sampai sekarang penyedianya
juga belum mampu, bacaannya juga belum terlalu banyak, cari modelnya juga
belum fariatif, dan model kurikulumnya belum ada. Nah, alternatif lain bila secara
formal belum dikasih maka sebaiknya kita menginformasikan itu secara informal.
Hanya masalahnya masyarakat kita sudah terlalu alergi dengan kata pendidikan
seks. Dan yang alergi itu justru dari masyarakat tua, jadi lebih banyak penolakannya
dulu dibanding penerimaan. Dan ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Karena
jangankan kasus perkosaan incest, perkosaan biasa saja saya yakin kasusnya lebih
tinggi daripada fakta yang ada

SR : Apakah hubungan seksual kepada anak tiri bisa disebut incest?


R : Memang dengan anak tiri tidak ada hubungan darah dan dia tidak termasuk
hubungan sedarah (incest). Hanya saja bila mempertimbangan kekerasan seksual
yang dialaminya, si anak tetap sebagai anak dan orang tua manapun tidak berhak
memperlakukannya sewenang-wenang, apalagi sampai memperkosanya.

SR : Jika dikaitkan dengan budaya patriarkhi bagaimana?


R : Ya, biasanya laki-laki memang memiliki rasa kepemilikan terhadap anaknya,
terhadap keluarganya hingga dia merasa berhak melakukan apapun, apalagi
misalnya dia merasa sebagai satu-satunya mencari nafkah keluarga. Tentu saja ini
bias gender dan ini memang masuk dalam akar budaya yang disebut dengan budaya
patriarkhi tadi.

SR : Kembali ke pernyataan ibu tadi yang mengatakan bahwa kasus incest sering
terjadi di kalangan masyarakat yang miskin, tetapi bila merujuk dari fakta yang
terdapat di Kalyanamitra (sebuah LSM perempuan), ada juga pelaku incest yang
jelas-jelas berasal dari kalangan menengah atas dan mereka sangat mengerti agama
seperti Kyai atau pastur. Bagaimana pendapat ibu tentang ini?
R : Yang namanya kyai, pastur, pejabat atau orang kaya sekalipun mereka tetap
manusia. Masalahnya masyarakat kita masih sering mengkultuskan orang-orang
tersebut di atas. Kyai atau pastur dianggap tidak mungkin melakukan hal-hal seperti
incest dll. Dan ini adalah sebuah kelakuan bodoh yang masih tetap dipelihara
masyarakat. Dan ini justru sesungguhnya memberikan peluang bagi terjadinya
penyelewengan – penyelewengan. Orang kalau selalu dikultuskan semakin lama
akan semakin gila, gila dalam arti nalarnya tidak jalan lagi. Nah, kalau nalarnya
tidak jalan apapun dilakukan. ] (dd)
http://idjatnika.multiply.com/journal/item/10

Incest: Apa pula itu?

Sebagai isu kekerasan seksual, incest bukanlah kasus baru. Fakta tentang terjadinya
incest seringkali tidak muncul ke permukaan karena dianggap sebagai aib keluarga.
Dari hasil telaah literatur ditemukan bermacam-macam pengertian dari istilah
incest. Dari hasil wawancara redaksi Swara Rahima dengan Dr. Ramonasari
dijelaskan bahwa incest adalah hubungan badan atau hubungan seksual yang terjadi
antara dua orang yang mempunyai ikatan pertalian darah dimana ikatan pertalian
darah diantara mereka cukup dekat misalnya antara kakak dengan adik, bapak
dengan anak perempuan, ibu dengan anak laki-laki atau paman dengan keponakan.
Dalam hal ini hubungan seksual yang terjadi ada yang bersifat sukarela dan ada
yang bersifat paksaan. Yang bersifat paksaan itulah yang dinamakan perkosaan.
Kasus incest yang banyak diketahui masyarakat adalah perkosaan incest, karena
kasus inilah yang lebih banyak dilaporkan oleh korban atau keluarganya.

Menurut Hayati (2004) incest adalah perkosaan yang dilakukan oleh anggota
keluarga atau orang yang telah dianggap sebagai anggota keluarganya. Kekerasan
seksual dalam kategori ini adalah yang terberat mengingat bahwa si pelaku adalah
orang dekat atau keluarga sendiri sehingga incest biasanya terjadi berulang, dan
diantara si korban dan si pelaku besar kemungkinan untuk saling bertemu. Keadaan
ini tentu saja sangat berat bagi korban, karena pertemuan dengan si pelaku akan
memacu ingatan korban akan kejadian perkosaan yang dialaminya.

Dalam tulisan lainnya dijelaskan pengertian incest adalah ketika orang tua,
keluarga, kakak atau seseorang dalam keluarga yang memiliki kekuasaan
melakukan hubungan seksual dengan orang dari keluarga yang sama. Incest yang
sering terjadi adalah antara ayah dengan anak perempuannya. Menurut Masland dan
Estridge incest adalah jenis perlakuan atau penyiksaan secara seksual yang
melibatkan dua anggota keluarga dalam satu keluarga, ayah dengan anak
perempuan, ibu dengan anak laki-laki, saudara laki-laki dengan saudara perempuan
dan kakek dengan cucu perempuan. incest biasanya dapat terjadi karena rumah
mereka sangat sempit, akses untuk main keluar tidak ada atau sangat terbatas. Kalau
keluar misalnya untuk main atau bergaul dengan teman-teman, harus mengeluarkan
uang. Kondisi di rumah, satu kamar beramai-ramai. Maka lama-kelamaan orang
yang berada di sana akan terangsang nafsu biologisnya

Kadang-kadang tidak ada tanda-tanda pemaksaan yang muncul. Tetapi ketika


melibatkan orang tua dan anak, perasaan takut ketahuan dan takut dihukum
merupakan bagian dari hubungan tersebut. Diakui bahwa otoritas dan kekuatan
superior orang dewasa biasanya mendorong anak menyetujui dan mau
melakukannya. Ini mungkin juga merupakan dorongan bagi sebagian anak atau
remaja untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang orang dewasa atau saudara
sekandung.

Menurut pengakuan pelaku incest yang dipublikasi di media massa, hubungan incest
mereka lakukan dengan alasan kesepian ditinggal istri, kurang puas dengan
pelayanan istri, karena kebiasaan anak perempuan tidur dengan bapaknya dan
menurut petugas yang memeriksa pelaku incest, kejadian ini juga dapat terjadi
karena adanya dugaan pelaku mengidap kelainan seks dan masalah gangguan
kejiwaan.

Kejadian incest yang berulang dilatarbelakangi oleh ketakutan korban terhadap


pelaku sehingga korban cenderung memilih untuk diam, tidak melaporkan kejadian
tersebut kepada siapapun. Hal ini menyebabkan pelaku merasa aman untuk
mengulangi hal tersebut. Kurangnya pengawasan orang tua terhadap perkembangan
anak-anaknya juga mempengaruhi terjadinya incest.

Dampak yang ditimbulkan dari peristiwa incest dapat dilihat dari berbagai segi,
yaitu :

1). Dampak dari segi fiqh Islam dan hukum

Seluruh pandangan mahzab fiqh Islam mengharamkan perkawinan sedarah. Incest


tidak bisa dibenarkan meskipun dengan sukarela apalagi dengan paksaan
(perkosaan). Mereka menyamakannya dengan zina yang harus dihukum. Tetapi ada
perbedaan di antara mereka soal hukumannya. Mahzab Maliki Syafi’i, Hambali,
Zahiri, Syiah Zaidi dan lain-lain menghukumnya dengan pidana hudud (hukum
Islam yang sudah ditentukan bentuk dan kadarnya seperti hukum potong tangan),
persis seperti hukuman bagi pezina. Sementara Abu Hanifah menghukumnya
dengan tindak pidana ta’zir (peringatan keras atau hukuman keras) bagi incest
sukarela.

Perbuatan cabul atau perbuatan tidak senonoh akan berdampak hukuman bagi
pelaku. Di dalam KUHP hukuman untuk pelaku perbuatan tersebut diatur dalam
pasal 289-296, sementara dalam RUU KUHP dirubah pasalnya menjadi pasal 425-
429.

2). Dampak dari segi psikologis

Dari berbagai peristiwa hubungan incest yang banyak dilaporkan media akhir-akhir
ini menunjukkan betapa menderitanya perempuan korban incest. Ketergantungan
dan ketakutan akan ancaman membuat perempuan tidak bisa menolak diperkosa
oleh ayah, kakek, paman, saudara atau anaknya sendiri. Sangat sulit bagi mereka
untuk keluar dari kekerasan berlapis-lapis itu karena mereka sangat tergantung
hidupnya pada pelaku dan masih berfikir tidak mau membuka aib laki-laki yang
pada dasarnya disayanginya dan seharusnya menjadi pelindungnya. Akibatnya
mereka mengalami trauma seumur hidup dan gangguan kejiwaan.

3). Dampak dari segi kemanusiaan

Nurani kemanusian universal (secara umum) yang beradab sampai hari ini
mengutuk incest sebagai kriminalitas terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Meskipun
dilakukan secara suka sama suka (sukarela) dan tidak ada yang merasa menjadi
korban, incest telah mengorbankan perasaan moral publik.

4). Dampak dari segi sosial


Peristiwa hubungan incest yang terjadi pada satu keluarga akan menyebabkan
hancurnya nama keluarga tersebut di mata masyarakat. Keluarga tersebut dapat
dikucilkan oleh masyarakat dan menjadi bahan pembicaraan di tengah masyarakat.
Masalah yang lebih penting dicermati dari kasus anak hasil incest adalah karena
kondisi yang tidak sehat dalam konteks sosial, yang berkaitan dengan konstruksi
sosial tentang keluarga. Misalnya masyarakat mengenal ayah dan anak sebagai satu
kesatuan keluarga. Tetapi jika terjadi kasus incest, dimana ayah menghamili anak
perempuannya, maka bila lahir anak dari anak perempuan tersebut maka status ayah
itu menjadi ganda, ayah sekaligus kakek.

5). Dampak dari segi kesehatan

Peristiwa incest apalagi perkosaan incest dapat menyebabkan rusaknya alat


reproduksi anak dan resiko tertular penyakit menular seksual. Korban dan pelaku
menjadi stress yang akan merusak kesehatan kejiwaan mereka. Dampak lainnya dari
hubungan incest adalah kemungkinan menghasilkan keturunan yang lebih banyak
membawa gen homozygot. Beberapa penyakit yang diturunkan melalui gen
homozygot resesif yang dapat menyebabkan kematian pada bayi yaitu fatal anemia,
gangguan penglihatan pada anak umur 4-7 tahun yang bisa berakibat buta, albino,
polydactyl dan sebagainya. Pada perkawinan sepupu yang mengandung gen albino
maka kemungkinan keturunan albino lebih besar 13,4 kali dibandingkan perkawinan
biasa. Kelemahan genetik lebih berpeluang muncul dan riwayat genetik yang buruk
akan bertambah dominan serta banyak muncul ketika lahir dari orang tua yang
memiliki kedekatan keturunan.

Gangguan emosional yang dialami si ibu akibat kehamilan yang tidak diharapkan
akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin pra dan pasca-
kelahiran.Selain itu banyak penyakit genetik yang peluang munculnya lebih besar
pada anak yang dilahirkan dari kasus incest seperti kelainan genetik yang
menyebabkan gangguan kesehatan jiwa (skizoprenia), keterlambatan mental (idiot)
dan perkembangan otak yang lemah.

Pendapat Tokoh dan Warga Masyarakat Mengenai Incest

1). DR. Meutia Hatta Swasono (Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan)

Pada kesempatan pembukaan acara konsultasi anak dalam rangka menindak lanjuti
studi Sekretaris Jenderal tentang kekerasan terhadap anak di Departemen Sosial di
Jakarta tanggal 21 Mei 2005, menteri negara pemberdayaan perempuan menyatakan
pendapat anak perlu diadopsi dalam menetapkan kebijaksanaan penanggulangan
tindak kekerasan terhadap anak. Lebih lanjut Ibu Menteri mengatakan kekerasan
dapat menimpa semua anak kapan saja dan dimana saja termasuk di dalam rumah,
di tempat kerja, di jalanan, di institusi seperti panti asuhan, lembaga
pemasyarakatan dan sebagainya. Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh kasus-kasus
yang dimuat di media massa seperti incest dan penghukuman di sekolah. Kasus-
kasus tersebut merupakan fenomena gunung es dimana pada kenyataannya kejadian
tersebut lebih banyak terjadi. Masyarakat kita masih belum punya keberanian untuk
melaporkan kasus-kasus tersebut karena masih dianggap tabu dan isu domestik
dalam keluarga yang dianggap sangat privasi.

2). DR. Ramonasari (Kepala Divisi Kesehatan Reproduksi Perkumpulan Keluarga


Berencana Indonesia (PKBI) Jakarta)

PKBI tidak terlalu banyak menerima laporan tentang kasus incest, mungkin ini ada
kaitannya dengan anggapan umum masyarakat yang masih memandang bahwa
mengadukan kasus ini sangat memalukan. Data secara angka PKBI tidak punya
tetapi bukan berarti kasus incest tidak ada di masyarakat.

Kasus perkosaan incest yang banyak terekspos adalah dari ayah kepada anak
perempuan, tetapi ada juga kasus perkosaan incest yang dilakukan anak laki-laki
terhadap ibunya. Memang kasus perkosaan incest tidak banyak data laporannya
tetapi mungkin saja laporannya lebih sedikit dari fakta yang sebenarnya terjadi. Hal
ini memang masih sangat tabu untuk dibicarakan di masyarakat. Kalaupun ada,
lebih banyak laporan tersebut berasal dari masyarakat bukan dari korban atau
pelakunya sendiri.

3). KH. Husein Muhammad (Anggota DPRD Cirebon)

KH Husein Muhammad menyatakan bahwa beliau tidak setuju dengan incest


meskipun dengan sukarela, apalagi dengan perkosaan. Seluruh pandangan mahzab
fiqh Islam mengharamkan perkawinan ini. Ayat-ayat suci Al Qur’an telah
menyebutkan dengan jelas larangan dalam agama untuk menikahi saudara
semuhrim. Agama berfungsi menentukan arah bagi kebaikan manusia. Incest dari
segi kesehatan, fisik dan psikologis tidak baik dimana hubungan itu menimbulkan
masalah, tentu hal ini merupakan penjelasan bahwa perkawinan itu perlu dilarang
apalagi dengan perkosaan.

4). Forum Komunikasi LBH-APIK Jakarta dan Komunitas Kampung Rawa

Hubungan ini terjadi karena ada unsur paksaan. Perasaan masyarakat terhadap
pelaku kesal, jijik, marah sedangkan terhadap korban sedih dan kasihan. Tindakan
yang dilakukan jika terjadi incest di lingkungan masyarakat adalah lapor kepada
Ketua RT/ RW/Kelurahan/Polisi, pelaku diarak keliling kampung, pendampingan
secara pribadi kepada korban untuk memberikan penguatan. Penanganan medis
diperlukan jika korban mengalami kekerasan/terluka serta perlu adanya upaya
pencegahan supaya incest tidak terjadi.

Kasus-kasus Incest di Masyarakat yang Dipublikasi di Media Massa

1). Kasus incest di Desa Nglandung, Kecamatan Geger, Madiun, Jawa Timur.

Selama 3 tahun anak kandungnya, Lel ( 14 tahun) diperistri oleh bapaknya sendiri.
Kejadian ini berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama karena korban takut
akan ancaman bapaknya dimana korban tahu benar akan kekasaran bapaknya,
sementara ibunya bekerja ke luar negeri. Kasus ini terungkap setelah korban
mengkambinghitamkan teman korban telah melakukan perbuatan cabul terhadap
anaknya. Namun dari hasil pemeriksaan pihak yang berwajib laporan itu terbukti
tidak benar, malahan pelaku yang dibekuk akibat pengakuan anaknya. Pelaku dijerat
dengan pasal 294 KUHP tentang pencabulan anak kandung di bawah umur.
Ancaman hukumannya maksimal 7 tahun penjara (Nova No 753/XV, 4 Agustus
2002).

2). Kasus incest di Sidoarjo, Jawa Timur

Seorang kakek memperkosa cucunya, Bunga (13 tahun) sampai sang cucu
melahirkan seorang anak. Menurut pengakuan Bunga, kakek tersebut selalu
mengancamnya dengan pisau ketika akan memperkosanya dan dilakukan kalau
rumah sepi. Majelis hakim PN Sidoarjo memvonis pelaku dengan hukuman 8 tahun
penjara potong masa tahanan. Ia terbukti melanggar pasal 285 KUHP dan pasal 64
ayat 1 yakni memaksa perempuan dengan ancaman kekerasan atau memaksa
perempuan yang bukan istrinya untuk bersetubuh dengannya. Kasus ini dilaporkan
ke pihak berwajib oleh Lembaga Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (LP3A)
dan sejak saat itu Bunga diasuh oleh LP3A (Nova No 809/XVI, 31 Agustus 2003).

3). Kasus incest di Cipayung, Jakarta Timur

Seorang bapak, mantan anggota penegak hukum mencabuli 2 anak kandungnya,


Anastasia (14 tahun) dan Yohana (12 tahun) sejak tahun 1996 ketika kedua anaknya
masih berumur 8 dan 6 tahun. Kasus ini dilaporkan ke pihak berwajib oleh istri
pelaku yang menyebabkan pria ini dijebloskan ke dalam penjara. Kanit Judi/Susila
Polres Jakarta Timur menduga tersangka mempunyai kelainan seks sehingga bisa
mencabuli 2 anak kandungnya sendiri. Tersangka dijerat dengan pasal 294 KUHP
karena melakukan perbuatan cabul pada gadis di bawah umur. Hukumannya sekitar
7 tahun penjara (Nyata, II April 2002).

4). Kasus incest di Bogor Barat

Seorang bapak yang bekerja sebagai PNS golongan II D mencabuli anak


kandungnya, Rina (19 tahun) sampai melahirkan seorang anak. Pelaku dilaporkan
ke pihak berwajib oleh korban (Nyata, IV April 2002).

5). Kasus incest di Tambaksari, Surabaya

Selama 3 tahun, Titi jadi pemuas nafsu ayahnya sendiri. Pelaku dilaporkan ke pihak
berwajib oleh korban dan ibunya yang telah bercerai dari pelaku (Nyata, IV Juni
2002).

6). Kasus incest di Sicincin, Kab. Padang Pariaman, Sumatera Barat

Peristiwa pemerkosaan yang dilakukan HS (32 tahun) terhadap anak kandungnya


telah berkali-kali dilakukan tersangka terhadap korban di kamarnya karena
tersangka selalu tidur sekamar dengan korban sementara istrinya telah bercerai dari
tersangka. Petugas menjerat pelaku dengan pasal 187 yo 294 KUHP (Pos Metro
Padang, Jum’at 19 Agustus 2005)

7). Kasus incest di Sicincin, Kab. Padang Pariaman, Sumatera Barat


Seorang anak memperkosa ibu kandungnya di sebuah kedai di terminal bus Sicincin
yang mengakibatkan ibu kandungnya terpaksa dirawat di Puskesmas karena
mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya. Pihak berwajib menduga pelaku
mengidap kelainan jiwa (Singgalang, 16 Mei 2005).

8). Kasus incest di Koto Baru, Kab. Dharmasraya, Sumatera Barat

Tidak puas dengan 2 istri, seorang bapak memperkosa anaknya sendiri, Melati (18
tahun). Pelaku mengancam korban dengan pisau agar mau mengikuti kemauannya.
Pelaku ditangkap di Solok tanggal 19 Agustus 2005. Pelaku diancam dengan pasal
285 yo 294 KUHP (Singgalang, 20 Agustus 2005).

9). Kasus incest di Cilegon, Banten

Seorang anak memperkosa ibu kandungnya hingga 4 kali dengan ancaman belati.
Sang ibu melaporkan perbuatan anaknya kepada Ketua RT dan dengan diantar oleh
Ketua RT, korban melapor ke Polres Banten (Rakyat Merdeka, Selasa 2 Agustus
2005).

Dan banyak lagi kasus-kasus yang telah tejadi. Mudah-mudahan dengan pemaparan
masalah incest ini, mata-hati kita terbuka, bahwa ternyata kasus itu ada dan
bukanlah hal yang ringan.***

(Tulisan ini ada pada file di laptop saya. Apakah ini hasil tulisan saya atau bukan?
Saya sama sekali tidak ingat. Oleh karena itu mohon maaf bila ini bukan tulisan
saya, dan saya publikasikan di blog saya. Hal ini saya sajikan karena cukup baik
ntuk diketahui oleh kita semua. I Djatnika, e-mail: ikadjatn@plasa.com).