Anda di halaman 1dari 5

IV-US Program 2005

Harian Independen SINGGALANG (16):


Mencari Nuansa Islami ke Masjid Amerika
Oleh Shofwan Karim, Ketua PWM Sumbar,

International Visitor Leadership Program on Grassroots Democracy, USA, 2005.

Bila ingin nuansa Islami, sebaiknya ke Masjid. Lebih mudah. Ini yang kami lakukan
sejak 2 Mei lalu sampai hari ini, 31 Mei. Pertama ke Masjid dan Islamic Center Washington, DC,
di Massachusetts, Ave, bersama Afandi Azhari. Pengacara dan aktivis UMNO Malaysia ini
mencarter taksi sepanjang siang dan sore Ahad pertama kami sampai di pusat pemerintahan
federal Amerika ini.
Kami shalat zuhur jamak ashar bersama Ahmad Rasyid. Sopir perusahaan yang libur
hari ahad itu, membawa mobilnya sendiri untuk dicarter. Ia bercerita banyak tentang pusat Islam
sekaligus Masjid ini. Menurut lelaki asal Maroko dan sudah menjadi warga Amerika sejak 10
tahun lalu itu, masjid ini dibangun seorang Arab kaya pada ujung tahun 1970-an. Lalu
manejemen Masjid di serahkan ke komunitas Muslim internasional di Washington. Sayang,
belakangan menimbulkan masalah. Ada kelompok yang ingin dominan . Bahasa Rasyid, hampir
terjadi “big war” (perang besar) antar kelompok itu. Kelompok Sunni di motori jamaah berasal
dari Saudi dan jama’ah Syi’i, yang dimotori mereka yang berasal dari Iran. Tetapi sekarang
Sunni yang memimpin. Buruknya, kata Rasyid, jama’ah Syi’i terpaksa shalat di luar. Yang
penting tak terjadi konflik lagi, hanya mereka enggan masuk ke dalam.
Lain pula di Huntsville, Alabama. Kedatangan 5 orang peserta program leadership visitor
pada 3 pekan lalu telah menyatukan 4 komunitas besar Muslim di kota ini. Rubina, dari
komunitas Muslim Sunni Pakistan mengatakan ia sampai kehilangan jalan untuk ke Masjid
Tauhid tempat acara berlangsung. Ini menandakan saya tidak tahu tempat ini. Untung ada
saudara 5 negara ini yang berkunjung, katanya. Dan memangnya Masjid Tauhid tempat diskusi
itu berlangsung dikelola oleh kalangan W. Muhammad yang mayoritas pengikutnya kalangan
hitam Afro-Amerika. Maka Rubina minta kaum muslimin di kota itu sering bertemu dan
melakukan kegiatan bersama. Padahal di kota itu hubungan Muslim dan Kristen terjalin baik.
Mengapa internal kita kurang dekat ?
Di Santa Fe, New Mexico dua pekan lalu agak menyedihkan. Kalau kita mungkin
menyebutnya Mushalla saja karena terlalu kecil. Tetapi mereka tetap menyebutnya Mosque atau
Masjid. Kami shalat Jum’at hanya sekitar 15 orang termasuk 5 orang kami yang Muslim dari
peserta program. Seorang anak muda memakai T-Shirt dan celana jean tampil menjadi khatib
dan imam. Selesai shalat kami diminta memperkenalkan diri dan bercerita singkat tentang tanah
air masing-masing. Anak muda khatib dan imam tadi mengatakan sedikit sekali kaum muslimin
yang menetap di sini . Padahal kota wisata yang penuh sejarah Indian, Mexico, Sepanyol dan
perang sipil utara-selatan pada pertangahan abad ke 19 ini banyak dikunjung wisata domistik
dan mancanegara. Tempat ini tidak akan lama. Insya Allah, tempat baru akan menggantikan
kamar kecil sewaan ini untuk menjadi Masjid memadai nantinya, sambungnya.
Di Seattle, Jum’at lalu saya shalat di Masjid Sheikh Idris yang terletak di North-East,
kota pusat Boeing dan Microsoft ini. Seorang lelaki 60-an tahun menyambut. Ia berasal dari
Selatan Kamboja dan pandai berbahasa Melayu. Telah 20 tahun ia menjadi garin masjid sejak
diserahkan ke publik oleh pendirinya Sheik Idris dari Saudi. M. Isya tinggal di sebuah rumah
dekat masjid. Tugasnya dari subuh sampai isya hanya mengurus masjid, termasuk mediator
pengurus dan jamaah. Di sini ada Muslim Youth Academy. Tetapi tempat kuliahnya lain. Di
Masjid ini pula saya bertemu dengan John Shriver, mahasiswa Islamic Studies University of
Washington Jum’at lalu. Ia diminta dosennya mengalami langsung praktik ibadah. John berjanji
dalam dua hari ini menghubungi saya dengan professor pembimbing studi Islam, untuk tukar
pikiran. shofwan@hotmail.com

Teks Foto : 1. Pintu Utama Masjid Sheik Idris, Seattle. @. M. Isya Garin Masjid yang
befdiri di luar sudah Jum'at memungut infaq untuk kebresiahan dan kegiatan Masjid

Harian Umum SINGGALANG (17):


Percakapan “dinner” dan Upah Kerja
Oleh Shofwan Karim, Ketua PWM Sumbar,
International Visitor Leaderhip Program , USA , 2005
Tadi malam saya janjian dengan Rodman (Memen) dinner di McWarchik Restaurant,
Seattle . Bersama LP Jeter, kami diskusi banyak soal lapangan kerja. Rodman sudah menjadi
permanent residence pemegang kartu hijau Amerika. Selesai kuliah binis di San Fransisco 4
tahun lalu, lelaki dari Palinggam itu pindah ke Seattle . Sekarang pemuda usia 27 tahun ini
bekerja di perusahaan Farmasi. Rodman banyak tanya soal Indonesia . Tampaknya lelaki
bujangan ini rindu juga ke tanah air yang sudah ditinggalkannya sejak 8 tahun lalu.
Soal kerja di Amerika tak masalah, katanya. Meskipun sebenarnya masih banyak angka
pengangguran tetapi itu bagi mereka yang ingin menyesuaikan profesi, kemampuan, latar
belakang pendidikan dengan kerja yang diinginkan. Seorang perempuan anak teman saya di sini
tamat S1 sosial, merasa lebih enak menjadi manajer pembersih taman kota . Tapi dia punya
mobil bagus.
Ngomong-ngomong berapa standar gaji di sini? LP dan Memen mengatakan ada yang
disebut minimum wage (upah minimum) federal, state, city atau county. Kalau tak salah, tingkat
federal antara 5 atau 6 dollar perjam. Tetapi di kota dan state (negara bagian) berbeda atara satu
dan lain. Di Seattle 7 dollar sekian sen. Di Washington, DC yang pernah saya tanyakan awal
bulan lalu, 8 dollar sekian sen. Kira-kira sukup sekali makan siang sederhana. Jadi kalau hanya
untuk makan dengan 3 jam kerja sudah hidup satu hari. Yang mahal tentu saja tempat tinggal.
Rodman membayar 850 dollar perbulan untuk satu kamar apartemennya. Tetapi dia punya mobil,
kartu kredit dan asuransi kesehatan.
Standar kerja 8 jam perhari dan 5 hari sepekan. Di luar itu tentu saja dihitung lembur.
Akan tetapi untuk para professional lain lagi. Tukang buat rumah (kita menyebutnya buruh
bangunan) bisa jadi minta 20 dollar perjam. Lain lagi para ahli komputer. Mereka kerja sesuai
dengan nilai software yang akan diinstallnya. Sebuah program Window Home Xp harganya
antara 80 sampai 90 dollar. Lalu tukang installnya paling tidak dibayar 60 sampai 70 dollar.
Baby sitter (penjaga anak), sekitar 12 sampai 15 dollar perjam. Tetapi seorang gadis
remaja memasang tariff 7 dollar perjam untuk satu kerja yang agak aneh. Apa itu ? Menemani
anjing berjalan. Saya pikir iklan itu main-main. Tetapi ketika saya konfirmasi ke LP dan Memen,
memang benar. Anjing piaraan di sini mesti diajak jalan-jalan. Kalau tuannya tak punya waktu,
maka harus dicari orang upahan untuk itu. Ini yang disebut dog-walking .
Saya diberitahu beberapa teman. Dulu pada krisis moneter akhir 1997 banyak mahasiswa
Indonesia minta pulang ke negerinya karena orang tua tak sanggup membiayai. Persatu dollar
pada waktu itu sampai pernah 17 ribu rupiah. Orang tua mana bisa membiayai anaknya kuliah di
Amerika, kecuali memang sudah dari sono-nya dapat bea-siswa. Lalu pemerintah ujung masa
Clinton memberikan kelonggaran untuk dapat bekerja paruh waktu ke mahasiswa dengan lebih
terbuka. Sebelumnya itu dilakukan diam-diam. Tentu saja, pajak pendapatan tetap berlaku ke
mereka. Seperti sekarang Memen, pemegang Green Card itu sepertinya mendapat perlakuan
hukum yang sama. Hanya mereka tidak boleh memilih waktu diadakan Pemilu. Memen agak
enggan pulang. Tetapi rindu dunsanak, membuat ia punya ancar-ancar pulang tahun depan dan
kembali lagi . Kecuali ada hal lain yang signifikan, katanya. Dan mamanya pernah katakan,
jangan memperisteri wanita di sini. He, he, he … lanjutnya tertawa ngakak . shofwan
@hotmail.com
Teks Foto: Rodman Y Djabar dan LP Jeter, setelah dinner, Rabu (1/6) . Foto : SK

Harian Umum SINGGALANG (15) :


Kecurigaan Analis dan Persahabatan
Oleh Shofwan Karim, Ketua PWM Sumbar,
International Visitor Leadership Program , USA , 2005
Membaca berita di detik.com tentang tuduhan seorang analis dari Universitas Erlangga
bahwa AS ikut campur tangan dalam ledakan Bom di Pasar Tantena, Poso, Sulawesi Tengah,
Sabtu (28/5) kemarin, menjadi bahan diskusi kami malam ini dengan teman saya LP Jeter di
rumahnya kawasan Capitol Hill, Seattle, negara bagian Washington, belahan barat Amerika.
Saya tertawa membaca tulisan itu. Tetapi teman saya menyela, yah, anda tertawa, tetapi
kami di sini merasa terhina. Apa perlunya Amerika ikut campur urusan dalam negeri orang,
katanya. Jadi, tidak benar Amerika ikut-ikutan soal bom atau apa di Indonesia , katanya.
Daripada bertengkar pula akibat virtual news di detik.com itu, maka kami pindah ke
pembicaraan lain.
LP dan saya membalik kembali persahabatan yang telah tumbuh sejak 4 tahun lalu. Ini
bermula seorang bule di lantai 3 sebuah plaza di Bandung . Waktu itu, si kulit putih ini
kehilangan kata untuk menerangkan bahwa ia perlu tambahan telepon yang dia bawa dari
Amerika. Penjual telepon sekaligus retail pulsa pra bayar itu juga tak tahu apa yang akan
dikatakan kepada lelaki di atas 50-an tahun ini.
Kebetulan saya juga sedang mencari telepon seken untuk anak saya yang kuliah di
Bandung . Melihat komunikasi yang morat-marit itu saya datang membantu. Akhirnya saya
sarankan kepada lelaki itu mengganti kartu Amerikanya dengan kartu pra bayar Indonesia Itulah
yang dilakukannya. Kemudian kami saling tukar alamat.
Tumbuhlah persahabatan antara kami. Setiap tahun bila datang ke Indonesia, LP Jeter
pasti mampir ke Padang dan tinggal di rumah saya selang 2 sampai 3 hari untuk melanjutkan
perjalanannya ke tempat lain di Indonesia atau ke negara lain. Kadang-kadang saya ajak LP
keliling Sumbar dan mampir di rumah kakak Isteri saya di Payakumbuh dan bermalam di sana .
Bahkan LP sempat bertemu dengan almarhumah mertua saya yang wafat 17 Mei lalu ketika saya
dan sampai sekarang masih di Amerika.
LP menahan saya seminggu ini. Walaupun program Kunjungan Kepemimpinan
Internasional masing-masing 1 dari 17 negara ini, ditutup Kamis (26/5) kemarin lusa, saya
diminta LP untuk sepekan ini menjadi tamunya. Kemarin kami makan malam di sebuah
restoran praktik masak mahasiswa jurusan tata boga The Art Institute of Seattle di bibir pantai.
Ada 5 keluarga kerabat LP dari perusahaan pembuat kapal terbang Boeing yang dinner bersama
kami. Di antaranya isteri Bob, teman LP berasal dari Palembang . Ibu Cia, begitu ia dipanggil,
antusias bercakap-cakap tentang Palembang , Jakarta dan berkisah tentang pernikahannya
dengan karyawan Boeing teman LP ini.
Kalau Bob sudah pensiun, ia mengajak Cia untuk tinggal di Indonesia Karena itu, Cia
sudah berunding dengan Bob tidak akan mengganti kewarganegaraannya. Lain lagi ibu Gloria
dan suaminya Paul. Ketika saya tanya tentang kehidupan beragama di Seattle, maka ia
mengeluarkan data. Menurut survey terakhir, penduduk Seattle yang sekitar 3 juta setengah
termasuk kota-kota satelit sekitarnya, hanya 14 persen yang mempraktikkan agamanya. Tetapi
ketika saya katakan bahwa tadi siang saya shalat Jum’at di Masjid Sheikh Idris di belahan North-
East Seattle, jamaahnya sekitar 2 ratus orang, maka dia tidak kaget. Yang saya maksud, orang-
orang Kristen yang ke gereja, kata Pak Paul, suami ibu Gloria. Ibu Gloria ingin sekali ke
Indonesia , tetapi belum ada waktu, katanya. Ibu ini banyak bertanya soal-soal kebudayaan,
tradisi, suku, bahasa dan dialek lokal yang ada di Indonesia
Kembali ke LP, sejak berpisah dengan isterinya wanita Indonesia sekian tahun lalu
tinggal sendirian di rumahnya berlantai tiga dengan basement ini. Berapa harga rumah ini ? LP
pura-pura lupa. Rumah yang di depan, baru dibeli orang harganya 850 ribu dollar ( lebih sedikit
8 milyar rupiah). Jadi kira-kira sajalah berapa harga rumah ini saya beli tahun 1980-an, katanya.
Putri kembarnya Stephanie dan Melissa sudah menikah. Melissa punya dua anak laki-laki Jadi
saya sudah kakek, kata LP. Pria bersemangat ini dalam setahun hanya 6 bulan mendiami rumah
ini. Selebihnya ia mengembara di luar negeri. Biaya hidup 6 bulan di Asia , katanya hanya
separuh di Seattle. Sejak 2 hari ini, saya menggunakan WiFi internet karena di rumah LP dapat
dijangkau hotspot. ***shofwan@hotmail.com

Hello my friend.

Please accept my gratitude for your taking the time for the news
interviews during your recent visit to Huntsville. I hope that you
had a successful trip back home. I have seen some reports of your
group visit to the United States and Huntsville, and especially the
high marks the group gave Huntsville.
Now that you have had time to recover from jetlag, are there memories
of Huntsville that stand out in your mind, espcially those memories
that relate to the culture of the area, and also what Huntsville
offered you as a first time visitor?
The story I am writing now is one about how you and the group were
received and what impressions that you retained.

I thoroughly enjoyed our chats, as I did with all the members of the
group, but most especially the stories you were able and willing to
share with me about the growth of Tanzania and the parallels with the
United States. You truly made Tanzania come alive for me in my mind,
and I pray that some day I will be able to bask in the warmth of the
hospitality of your country (and go up to the mountain, as well!).

I also truly hope that there were programs or processes that will help
you in your work for your country ... I wish that the U.S. also
spnsored groups to visit countries such as yours to consult and get
inputs on ways we could do things better. :-)

All the best, sir.


--
Tim Tyson
(O) 881-0057
(c) 457-3557

Harian Umum SINGGALANG (14) :


Guantanamo , Kunjungan SBY dan Lion Air-Boeing
Oleh Shofwan Karim, Ketua PWM Sumbar,
International Visitor Leadership Program , USA , 2005
Kemarin, Kamis Sore di Seattle atau Jum’at dinihari di Padang, Wolf Blitzer, reporter TV
Cable News Network (CNN) secara live menayangkan konferensi pers insiden Guantanamo (Gt).
Brigjen Jay Hood dari militer dan jubir Pentagon Lawrence menyatakan bahwa tidak ada bukti
yang kridibel tentang terjadinya kesalahan perlakuan terhadap al-Qur’an. Oleh karena itu CNN
membuat lebel bahwa kebijakan dalam menyelidiki kasus penistaan terhadap al-Qur’an
dilakukan dengan hati-hati dan tepat .
Lima orang tertuduh dalam kasus di Teluk Guantanamo (Gt), Kuba itu telah diintrogasi.
Insiden itu diekspose oleh Majalah Newsweek pekan kedua Mei lalu dan kemudian berita itu
ditarik. Dari kelima tahanan sementara diperoleh informasi yang masih simpang siur. Tertuduh
petugas (sipir) penjara dalam hal ini tidak mengaku telah memasukkan ke lobang toilet atau
istilah di sini flushing al-Qur’an into toilet. Di antaranya mengatakan ada lembaran al-Qur’an
milik penghuni yang lepas.
Penjara ini yang disebut Penjara Anti Teror Militer Amerika ini sepertinya khusus
diperuntukkan kepada Veteran Thaliban, Afghanistan dan beberapa tersangka terorisme terkait
apa yang disebut Al-Qaida atau Osama Ben Laden. Oleh Amnesty International dalam laporan
yang diumumkan di London, kemarin, Sekjennya Irene Khan mengatakan perlakuan buruk
terhadap para tahanan di Gt sama dengan “Gulag”, penjara Rusia yang ganas di rezim komunis
dulu. Investigasi terhadap kasus pelecehan al-Qur’an yang telah menghebohkan dunia Islam di
atas tadi, tampaknya sangat serius. Sejak kejadian 9 Mei lalu, dilaporkan terjadi demo massa di
berbagai negara Islam mengakibatkan beberapa korban dan cedera fisik.
Di tengah situasi gaung media yang demikian, kini Presiden Susilo Bambang Yudoyono
datang berkunjung ke Washington , DC dan kemarin bertemu Presiden Geroge W Bush di Oval
Office. The Seattle Times (ST), Surat Kabar Harian terkemuka di kota besar utama Negara
Bagian Washington pantai barat Amerika tak luput menulis tentang SBY .
Foto SBY, terpampang di halaman utama bisnis ST, di bawah judul, “ Boeing strikes
deal for new jet”. Walaupun berita itu tentang pembelian pesawat baru Boeing oleh Perusahaan
Penerbangan Indonesia Lion Air yang disebut penerbangan ongkos-murah (low-cost carrier),
Dominic Gates, ST arerospace reporter juga menulis kunjungan kenegaraaan SBY ke Amerika.
Dikatakan, SBY Presiden negara mayoritas Muslim terbesar di dunia itu, mau
meningkatkan hubungan dengan AS dan memperluas kerjasama militer dengan militer . Di
dalam pikiran penulis, kunjungan SBY tentulah ada makna stategisnya. Di antaranya, tentu saja
tidak terkait dengan soal Gt, tetapi dalam rangka meningkatkan hubungan kedua negara dalam
arti yang lebih luas. Masuk bulan ke tujuh (20/10/2004-26/5/2005) pemerintahannya, tentu saja
SBY ingin Indonesia berubah. Salah satu faktor yang tak bisa dibantah tentulah hubungan
dengan negara-negara besar di dunia. Di antaranya yang sangat berpengaruh adalah Amerika.
Masa Suharto, Gus Dur dan Mbak Mega telah dipengaruhi situasi nasional, regional dan global
yang naik turun. Hubungan antar negara tampaknya tak ubah hubungan manusia, harus
dihangatkan terus. Agaknya, itu yang diupayakan SBY kini. *** shofwan@hotmail.com