Anda di halaman 1dari 2

http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?

id=A4109_0_3_0_M

Konsep Peradaban Islam dan Barat Modern


30-March-2007

Oleh: Prof. Dr. Osman Bakar


Guru Besar Falsafah Sains Universitas Malaya

Setiap pandangan hidup meliputi tiga konsep utama, yaitu konsep alam, konsep manusia, dan konsep ilmu.
Ada tiga masalah pokok yang perlu dijawab dengan memuaskan. Apakah hakikat alam? Siapakah
manusia? Bagaimanakah manusia boleh mengetahui? Setiap masalah dan jawaban yang akan diberi
kepadanya banyak menentukan atau mempengaruhi bentuk, corak, dan ciri-ciri ilmu sains yang hendak
dimajukan oleh sesuatu masyarakat atau peradaban.

Bagi pandangan hidup yang bersifat dan bercorak keagamaan, ketiga konsep tersebut didasari oleh satu
konsep lain yang lebih asasi dan fundamental sifatnya, yaitu konsep ketuhanan. Bagi pandangan hidup
yang mengenyampingkan agama, tempat dan peranan konsep ketuhanan diambil alih oleh ideologi ciptaan
manusia. Dari segi teori dan praktiknya, konsep ketuhanan banyak mempengaruhi konsep alam, konsep
manusia dan konsep ilmu. Oleh karena konsep ketuhanan dalam Islam tidak sama dengan konsep
ketuhanan dalam peradaban Barat, sebagai akibatnya, kedua peradaban tamadun juga berbeda dalam
memahami konsep alam, konsep manusia dan konsep ilmu.

Konsep Barat
Di Barat, sumber utama konsep ketuhanannya ialah agama Kristen. Tetapi teologi Kristian sudah banyak
mengalami perubahan zaman karena hendak disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
perkembangan zaman. Ini berbeda dengan teologi Islam yang boleh dikatakan tidak berubah-ubah. Konsep
ketuhanan dalam Islam tidak banyak berubah karena ia didasarkan semata-mata kepada ajaran-ajaran al-
Quran yang juga tidak berubah-ubah.

Ketika agama Kristen berpengaruh dalam peradaban Barat, konsep alam yang dominan dalam peradaban
tersebut telah dirumuskan daripada ajaran-ajaran pokok dalam agama itu. Demikian juga apa yang terjadi
pada konsep manusia dan konsep ilmu. Apabila pengaruh agama Kristen di Eropa terus menerus merosot
sejak abad ketujuh belas masehi, maka konsep alamnya, konsep manusianya, dan konsep ilmunya juga
kehilangan pengaruh.

Perspektif-perspektif tradisional Kristen telah dikritik hebat oleh pelbagai aliran pemikiran sekular moden,
termasuklah humanisme, rasionalisme, deisme, evolusionisme dan empirisisme. Dengan konsep ketuhanan
menurut perspektif Kristen menjadi tertolak dan terpinggir, para ilmuwan Barat terpaksa memikirkan
perumusan baru konsep tiga serangkai yang telah kita perkatakan tadi. Perumusan ini diperlukan bagi
tujuan membina teras pengajian sains modern.
Proses perumusan teras pengajian sains modern tidak pernah berakhir. Sains modern kini sudah berusia
sekitar 400 tahun. Usaha mencari dasar dan pijakan bagi pengajian sains ini tidak pernah terhenti di
sepanjang waktu tersebut. Walaupun sains modern telah berkembang dengan pesatnya, namun dasar dan
pijakannya masih dicari-cari hingga sekarang. Barat modern masih belum bertemu dengan prinisip ilmu
yang boleh diangkat menjadi dasar dan teras yang bersifat lebih menyeluruh dan lebih kekal. Yang setara
dengan prinsip kesatuan ilmu dalam Islam tidak terdapat dalam peradaban Barat modern. Para ilmuwan
Barat sedang mencoba untuk menonjolkan teori evolusi sebagai dasar dan teras pengajian sains. Tetapi
nasib teori ini masih belum terjamin. Walau pun teori ini sudah berusia lebih 100 tahun dan kelihatan
kedudukannya semakin kukuh, namun dalam konteks sejarah kelangsungan ide yang besar-besar, teori
evolusi masih lagi dianggap baru dan bersifat sementara.

Konsep Islam
Dalam konteks peradaban Islam pula, kita dapati bahwa bukan saja konsep ketuhanannya yang tidak
mengalami perubahan besar tetapi juga tiga konsep lainnya. Konsep kemajuan dan pembangunan dalam
Islam telah didasarkan pada tempat konsep pokok ini. Meskipun pada dasarnya keempat-empat konsep ini
tidak berubah, tetapi teras pengajian sains Islam yang terbentuk daripada unsur-unsur yang terkandung di
dalam empat konsep ini telah berjaya mencetuskan kemajuan sains dan teknologi yang terdepan di dunia
selama lebih kurang lapan abad, yaitu dari abad ke-9 Masehi hingga ke abad enam belas Masehi.
Kemerosotan umat Islam pada abad-abad berikutnya bukan berpuncak daripada konsep ketuhanan dan
konsep tiga konsep lain yang tidak diizinkan berubah itu. Puncak utamanya ialah apabila empat konsep ini
tidak lagi ditanggapi dan dipahami dengan betul dan sekomprehensif seperti di zaman keagungan ilmu-ilmu
Islam.

Intisari konsep ketuhanan dalam Islam ialah prinsip tauhid yang merujuk kepada keesaan Allah dari segi
dzat-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Ini menjadikan ilmu tauhid, yakni ilmu keesaan Tuhan, sebagai ilmu
tertinggi dan terpenting di kalangan semua jenis dan cabang ilmu. Bukan itu saja, ilmu tauhid menjadi teras
ilmu, juga, sebagai dasar dan sumber segala ilmu yang lain. la merupakan ujung pangkal segala ilmu, titik
tolak segala ilmu dan tujuan akhir segala ilmu.

Di sini boleh dijelaskan sebagai contoh bagaimana ilmu sains berakar pada ilmu tauhid, khususnya ilmu
keesaan perbuatan Allah. Ilmu sains berminat untuk mengkaji kosmos dan bagian-bagiannya. Tetapi ilmu
tauhid seperti yang diwahyukan di dalam al-Quran sudah menyediakan kerangka spiritual dan metafisik bagi
pengajian alam semesta oleh karena ilmu keesaan perbuatan Allah menunjukkan dengan jelas kepada kita
hubungan antara Tuhan dan alam serta skop atau ruang lingkup perbuatan dan peranan Allah dalam alam
semesta. Ini bermakna bahwa dalam Islam ilmu kosmologi (pengajian alam semesta) berakar dari ilmu
tauhid.(CMM)