Anda di halaman 1dari 5

Prinsip utama yang dijadikan landasan hukum progresif adalah Hukum adalah untuk manusia bukan sebaliknya.

Jadi manusialah yang merupakan penentu dan dipahami dalam hal ini manusia pada dasarnya adalah baik. Prinsip tersebut ingin menggeser landasan teori dari faktor hukum ke faktor manusia. Konsekuensinya hukum adalah bukanlah merupakan sesuatu yang mutlak dan final tetapi selalu dalam proses menjadi (law as a process, law in the making) yakni menuju kualitas kesempurnaan dalam arti menjadi hukum yang berkeadilan, hukum yang mampu me ujudkan kesejahteraan atau hukum yang perduli terhadap rakyat. ! Putusan hakim se"ara faktual banyak dihasilkan oleh para hakim, dan untuk berikut akan saya bahas "ontoh putusan hakim yang dapat diklasifikasikan sebagai putusan hakim yang sesuai dengan metode penemuan hukum yang bersifat progresif # !. Putusan $% &o. '() K*Pid*!+,- .anggal !) /esember !+,-, dalam Perkara %tas &ama .erdak a # &atalega a /alam putusan ini, $ahkamah %gung mengabulkan permohonan kasasi dari Jaksa Penuntut 0mum terhadap putusan Pengadilan &egeri yang membebaskan terdak a &atalega a. Padahal dalam Pasal '11 K0H%P ditegaskan bah a # Penuntut 0mum tidak diberi hak untuk melakukan kasasi. &amun demikian, pada kenyataannya $ahkamah %gung memberikan hak kepada Penuntut 0mum untuk melakukan kasasi. Penerimaan kasasi tersebut merupakan contra legem terhadap Pasal '11 K0H%P, yang melarang pengajuan kasasi atas putusan bebas. Pasal '11 K0H%P menyatakan bah a # terhadap putusan perkara pidana yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan lain selain dari $%,

1 2atjipto 3ahardjo, Hukum Progresif (Penjelajahan 2uatu 4agasan) $ajalah Hukum &e sletter &omor )+ 5ulan /esember '661, 7ayasan Pusat Pengkajian Hukum, Jakarta, '661, hlm !

terdak a atau penuntut umum dapat mengajukan permintaan pemeriksaan kasasi kepada $ahkamah %gung ke"uali terhadap putusan bebas. /asar pertimbangan yang dipergunakan oleh $ahkamah %gung antara lain menyatakan bah a menurut kepatutan dalam masyarakat, khususnya dalam tindak pidana korupsi, apabila dalam putusan yang dijatuhkan telah melampaui batas ke enangan, dalam hal ini putusan didasarkan pada pertimbangan nonyuridis pada satu sisi, dan putusan pembebasan itu pada sisi yang lain menusuk perasaan hati masyarakat luas, maka terhadap putusan bebas tersebut dapat dimintakan pemeriksaan kasasi kepada $ahkamah %gung. /engan putusannya tersebut berarti $ahkamah %gung telah menyingkirkan Pasal '11 K0H%P dengan "ara menemukan dan men"iptakan hukum (case law).' Putusan ini kemudian dikuatkan dengan 2urat 8daran $ahkamah %gung (28$%) &o. $%*P8$5*'9)-*-- tanggal , %gustus !+,- dan 2urat Keputusan $enteri Kehakiman &o. 6!*11:P;:6(./.- tanggal !6 /esember !+,-. 5eberapa argumentasi yang dapat disampaikan terkait dengan putusan tersebut, adalah bah a $ahkamah %gung telah melakukan suatu langkah terobosan, dengan melakukan interpretasi terhadap ketentuan Pasal '11 K0H%P, sehingga kasasi dari penuntut umum yang seharusnya tidak diperbolehkan, akan tetapi dengan pertimbangan kedepan bah a tindak pidana korupsi merupakan suatu perbuatan yang tidak patut dilakukan dalam masyarakat dan menusuk perasaan keadilan masyarakat. <leh karena itu, $% berusaha untuk memberikan rasa keadilan bagi masyarakat (so"ial justi"e) dengan menjatuhkan putusan yang bertujuan men"iptakan rasa keadilan yang bersifat substansial (materiil), sehingga kasasi penuntut umum diterima dan dengan ke enangannya, $% mengadili sendiri dan menjatuhkan pidana terhadap terdak a yang telah diputus bebas oleh Pengadilan &egeri.

2 H.%. $ukhsin %syrof. %sas:asas Penemuan Hukum dan Pen"iptaan Hukum oleh Hakim dalam Proses Peradilan. $ajalah Hukum =aria Peradilan .ahun ke:>>? &o. ')' &o@ember '669. ?kahi. Jakarta, hlm. ((

'. Putusan $ahkamah %gung &o. ''9-K*Pdt*!++! dalam Perkara Pembebasan .anah untuk Proyek 5endungan Kedungombo, yang /iputuskan oleh $ajelis Hakim yang /iketuai %sikin Kusumaatmaja /alam putusannya tersebut, hakim menolak keterangan .ergugat (Pemerintah Pro@insi Ja a .engah) yang menganggap bah a rakyat telah bersepakat menerima ganti rugi berdasarkan musya arah, karena pada kenyataannya ganti rugi yang diberikan pemerintah kepada penduduk tidak men"erminkan keadilan dan kebenaran materiil, sehingga hakim perlu mendefenisikan ulang pengertian musya arah untuk mufakat. Kemudian dalam putusan tersebut hakim mengabulkan ganti rugi kepada pemilik tanah yang besarnya ternyata melebihi dari apa yang diminta dalam gugatannya. Putusan dalam tingkat kasasi ini menguntungkan penduduk sekitar selaku pemilik tanah disekitar aduk * bendungan Kedungombo, yang selalu menjadi korban keserakahan dari kaum

powerfull, yang biasanya memanfaatkan kelemahan:kelemahan peraturan perundangan: undangan. 2ebenarnya dibalik kasus aduk Kedungomobo ini, dapat dilihat sarat dengan ambisi

politik dari Pemerintahan <rde 5aru dalam melaksanakan pembangunan agar terlihat kemakmuran dan kesejahteraan rakyat dapat di ujudkan, tetapi hal tersebut dilakukan diatas penderitaan rakyat yang diinjak:injak haknya dan perampasan tanah:tanah dengan "ara se enang: enang. /alam usahanya memberikan putusan yang memenuhi rasa keadilan masyarakat ( social justice) yang didasarkan pada pen"airan akan keadilan yang substansial (materiil) itulah, maka hakim kasasi di $% menilai bah a ganti kerugian yang dituntut oleh masyarakat saat itu sudah

tidak sesuai lagi dengan harga tanah pada saat saat putusan kasasi diperiksa oleh hakim, sehingga dengan melakukan terobosan hukum yang progresif, hakim menjatuhkan putusan yang menurut penulis merupakan putusan yang mengedepankan sisi kemanusiaan, keadilan, dan kebenaran sebagaimana konsep hukum progresif itu sendiri. Hakim dalam perkara ini, telah melakukan penemuan hukum melalui teori atau metode interpretasi teleologis atau sosiologis, yang mana nilai ganti kerugian yang dituntut oleh masyarakat disesuaikan dengan nilai uang atau harga tanah pada saat perkara kasasi itu diputuskan, sehingga nilai tanah itu mengikuti nilai ekonomis tanah dari tahun ke tahun, yang terus bertambah mahal, hal ini sangat menguntungkan penduduk pemilik tanah tersebut. Putusan ini, oleh banyak kalangan termasuk 2atjipto 3ahardjo, dianggap sebagai re@olusi yang setara dengan putusan Hoge 3aad tahun !+!+, dengan alasan karena putusan $% dengan tegas:tegas membela kepentingan rakyat ke"il yang lemah kedudukannya. -. Penetapan Pengadilan &egeri Jakarta 2elatan dan 5arat &o. )19*(-.P, tanggal !1 &o@ember !+(- yang $engabulkan Permohonan Penggantian Jenis Kelamin dari 2eorang Aaki:laki 5ernama ? an 3obianto $enjadi 2eorang Perempuan dengan &ama =i@ian 3ubiyanti /ilihat dari segi ilmu hukum, seluk beluk ganti kelamin masih merupakan persoalan baru dibidang perkembangan hukumnya. %danya kepentingan persoalan hukum mun"ul setelah adanya perkembangan di bidang ilmu kedokteran yang disebut dengan operasi kelamin, sehingga penetapan hakim ini merupakan era baru di bidang praktik peradilan ?ndonesia dalam mengisi kekosongan peraturan hukum (rechtvacuum), karena hal ini memang belum ada pengaturannya
3 %ntonius 2udirman, '66(. Hati &urani Hakim dan Putusannya. 5andung # Bitra %dtya 5akti, hlm. !'

dalam peraturan perundang:undangan. /engan putusan ini, hakim dipandang telah berhasil melakukan penemuan hukum yang sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat. Pertimbangan hukum yang diberikan hakim adalah tepat, yaitu dalam kehidupan di masyarakat terdapat dua jenis manusia yaitu yang berjenis kelamin laki:laki dan nerjenis kelamin perempuan, tetapi tidak dapat dipungkiri dalam kenyataannya terdapat pula segolongan manusia yang hidupnya ada diantara kedua jenis itu, yaitu aria ( anita pria). /alam melengkapi kekosongan hukum tentang perubahan kelamin tersebut, hakim memberikan pertimbangan dengan meninjaunya dari segi agama yang disesuaikan dengan keyakinan si pemohon, yang tidak keberatan sepanjang perubahan kelamin tersebut merupakan satu:satunya jalan untuk menolong penderitaan si pemohon, sehingga ia dapat berkembang sebagai manusia yang ajar.1 Jika ditelaah, putusan ini merupakan penemuan hukum yang dilakukan hakim dengan metode konstruksi hukum, karena ketentuan hukum yang mengatur mengenai penggantian jenis kelamin, belum diatur dalam suatu peraturan perundang:undangan sehingga terjadi kekosongan undang:undang (wet vacuum). Hakim melakukan konstruksi dengan berlandaskan pada metode fiksi hukum, dimana dalam putusan tersebut, dikemukakan fakta:fakta baru, sehingga tampil suatu personifikasi atau keadaan hukum baru, yaitu perubahan kelamin dari si pemohon seorang laki:laki yang bernama ? an 3obianto menjadi seorang perempuan yang bernama =i@ian 3ubiyanti.

4 %ntonius 2udirman, '66(. Hati &urani Hakim dan Putusannya. 5andung # Bitra %dtya 5akti, hlm. !'