Anda di halaman 1dari 8

MINANG BERBENAH !

Oleh Emeraldy Chatra Zaman Gelap Tak sedikit kerusakan yang telah terjadi pada komunitas Minangkabau. Kerusakan itu terjadi pada ranah budaya, sosial dan ekonomi. Akibatnya, komunitas Minangkabau makin lama makin terpuruk, menjadi komunitas yang lemah ketika berhadapan dengan berbagai gempuran yang datang dari luar. Secara kultural orang Minang sudah dan harus -- berikrar menjadi muslim. Tak ada agama lain yang dianut orang Minang selain Islam. Keluar dari Islam berarti juga berhenti jadi orang Minang, dan konsekuensinya seluruh hak-hak perdata adatnya lenyap. Ia tak lagi berhak menyandang identitas sebagai orang Minang dan tak pula berhak menggunakan segala bentuk simbol kebudayaan Minangkabau. Namun komitmen menjadi muslim itu kini sudah banyak dilanggar. Orang (eks) Minang sudah ada yang jadi pendeta. Konon sudah lebih 30 orang. Sudah banyak pula yang murtad, pindah ke agama lain, terutama sekali Kristen (Protestan). Lebih berbahaya lagi, sangat banyak yang jadi setengah muslim. Identitas formal tetap muslim, di KTP tetap beragama Islam, tapi cara berpikir dan bertindaknya sudah tidak berpedoman kepada Quran dan hadis lagi. Mereka malah menganggap kitab-kitab lain lebih penting daripada Quran dan hadis. Sangat menyedihkan, karena mereka justru menjadi musuh diam-diam bagi Islam. Dari aspek sosial, keguyuban orang Minang makin tidak terasa. Saciok bak ayam, sadanciang bak basi; saraso samalu; ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun, tatilantang samo makan angin, tatungkuik samo makan tanah dan berbagai

ungkapan solidaritas yang menggambarkan karakter orang Minang kini tinggal ungkapan saja. Pada praktiknya, kebanyakan orang Minang sudah hidup sendiri-sendiri, individualis, dan tidak peduli lagi pada komunitas adatnya. Mereka memalingkan muka dari kaum maupun suku karena berbagai alasan. Akibatnya, tolong menolong dalam kaum sudah banyak berubah jadi persengketaan. Bersaudara kandung pun bisa bermusuhan, bahkan berbunuhan. Harta pusaka yang seharusnya menjadi pemersatu dan menjadi sumber kehidupan bersama justru berubah jadi sumber petaka dan pertikaian berdarah. Dari aspek ekonomi, masih banyak orang Minang yang hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak berpendidikan. Praktik jual beli tanah di perdesaan menyebabkan banyak orang tidak lagi mempunyai tanah pertanian dan akhirnya menjadi buruh tani. Ketidakmampuan secara ekonomi menyebabkan banyak anak-anak putus sekolah. Pengingkaran terhadap ajaran agama, ditambah dengan perpecahan dan kemiskinan mendorong munculnya berbagai krisis sosial yang parah. Dunia prostitusi yang sebelumnya tak dikenal di kalangan orang Minang, kini sudah jadi masalah serius. Keputusasaan dalam menghadapi hidup mengantarkan sebagian orang Minang pada dunia judi dan berbagai praktik kriminal. Pendek kata, kerusakan budaya, sosial dan ekonomi telah pula merusak moral orang Minang secara perlahan-lahan. Masalah orang Minang memang sudah sangat kompleks ! Mengapa kerusakan parah ini terjadi? Semua masalah yang kini dihadapi orang Minang bermula dari soal budaya. Esensi dari budaya adalah cara pandang terhadap dunia yang berlanjut menjadi pemikiran. Cara pandang yang keliru menghasilkan pemikiran yang keliru pula. Ujungnya, tindakan yang tidak betul bahkan membahayakan bagi peradaban manusia. Masalahnya, mengapa cara pandang itu menjadi keliru? Mengapa pula pemikiran orang Minang jadi kacau? Pertanyaan ini membutuhkan penjelasan yang mungkin agak rumit bagi yang belum akrab dengan pandangan kaum
2

konstruktivis, interaksionisme simbolik, dan belakangan muncul pula aliran kajian budaya (cultural studies) yang kritis. Namun pandangan mereka tidak dapat dilewati begitu saja, karena melalui pandangan itulah kita dapat memahami sebuah budaya serta proses keruntuhannya. Mereka meyakini dunia itu dikonstruksi secara sosial dan direproduksi secara sosial pula. Dunia (world) bukanlah himpunan fakta objektif. Dunia tidak sama dengan bumi (earth) yang objektif. Dalam pandangan mereka, dunia kehidupan sebenarnya hanyalah realitas intersubjektif, yang dibangun atas dasar subjektivitas manusia yang saling berkomunikasi dan berinteraksi. Orang yang tidak berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain tidak mengenal budaya, sebab budaya tidak dibawa sejak lahir, melainkan disosialisasikan, diajarkan oleh orang yang ada disekelilingnya. Orang bisa jadi srigala kalau dibesarkan oleh srigala, juga bisa juga jadi pelacur kalau dibesarkan oleh pelacur. Sebaliknya, orang bisa jadi bandit yang sangat jahat, padahal lahir di tengah keluarga yang sangat taat beragama ketika sosialisasi nilai-nilai agama tidak berhasil dilakukan. Karena itulah kadang-kadang kita berhadapan dengan fenomena yang bersifat anomali atau membingungkan, misalnya Tuan A yang taat beragama rupanya juga seorang koruptor. Dua ajaran yang saling bertentangan ternyata bisa berhimpun dalam satu diri manusia. Pelajaran yang dapat dipetik dari pandangan mereka adalah bahwa kekacauan pandangan budaya orang Minang dewasa ini tak lain karena proses komunikasi yang cenderung liar, sehingga menghasilkan makna-makna yang liar pula. Dunia dimaknai berdasarkan interaksi belaka, tanpa tuntunan, dan tentu saja mengandalkan pemikiran yang pragmatis dan liberal. Celakanya, di tengah wacana tanpa tuntunan itu kemudian menyelinap pikiran-pikiran yang seharusnya ditolak. Namun karena tidak ada yang menuntun, tak ada yang memberi peringatan, pikiran-pikiran yang diselusupkan itu akhirnya mewarnai pemaknaan. Pasar tempat bertemunya berbagai kepentingan serta media komunikasi yang makin canggih jadi

tempat masuk bagi pikiran-pikiran yang akhirnya mendominasi pemaknaan. Sebagian orang menganggap pemaknaan secara pragmatis dan liberal itu sudah sesuai dengan budaya Minang yang anti dominasi, dengan mengemukakan dalil basilang kayu dalam tungku atau duduak samo randah, tagak samo tinggi. Tapi menurut pandangan saya, orang Minang tidak pernah anti dominasi. Bukankah dalam masyarakat Minang kemenakan itu saparentah mamak? Mamak saparentah pangulu pula. Pangulu pun saparentah Nan Bana, yang berdiri sendiri. Nan Bana itu jelas bukan manusia. Lalu kapan orang Minang bebas dari dominasi? Dalil duduak samo randah, tagak samo tinggi pun dimaknai secara liberal. Padahal, tak pernah kemenakan duduk sama rendah tegak sama tinggi dengan pangulu. Dalil itu hanya berlaku untuk pangulu di Balai Adat, tidak dapat dipakai di sembarang tempat. Oleh karena dalil tadi digunakan sembarangan saja, maka terbuka kesempatan untuk menegasikan dominasi yang seharusnya dipertahankan. Akibatnya muncul masyarakat kacak langan bak langan, kacak batih bak batih alias seenaknya saja dalam memaknai dunia, dan seenaknya pula dalam bertindak. Petuah para penghulu atau taushiyah dari pemimpin agama berangsur kehilangan mantagi: boleh dipatuhi sepanjang masuk akal, tapi boleh juga ditolak kalau tak diterima akal. Benarkah liberalisasi pemikiran budaya yang melanda orang Minang menyebabkan mereka benar-benar bebas dari dominasi? Kenyataannya tidak demikian. Mereka memang bebas dari dominasi pangulu dan ulama, tapi mereka terjebak ke dalam dominasi pikiran sekuler yang berorientasi ke Barat, bahkan pikiran yang khas Katolik. Pikiran itu masuk ke kepala orang Minang melalui berbagai media, sedikit demi sedikit, dan akhirnya terperangkap oleh hegemoni pikiran yang asing. Masuknya virus pemikiran yang bertentangan dengan Islam dan budaya Minang jelas menyebabkan banyak orang Minang akhirnya jadi setengah muslim dan setengah Minang saja. Mereka tak dapat lagi membedakan mana aqidah Islam,

dan mana pula yang bukan. Bahkan, sulit bagi mereka membedakan mana tindakan yang menguntungkan dan mana pula yang merugikan diri sendiri. Kondisi seperti inilah yang membuat budaya Minang semakin tak berdaya membentuk kepribadian orang Minang. Implikasinya, berbagai masalah sosial dan ekonomi segera mengikuti. Di sisi lain, kita menyaksikan bagaimana tokoh-tokoh adat dan ulama terpojok akibat kontestasi pemikiran yang demikian sengit. Sesuai perjalanan waktu, tokoh adat dan ulama semakin tak berdaya menghadang gerusan pemikiran serba asing yang melanda orang Minang. Mereka menjadi penonton pasif, karena secara struktural mereka juga menghadapi usaha peminggiran dari penguasa. Sampai kapan zaman gelap seperti ini akan melanda orang Minang? Dapatkah orang Minang kembali bangkit dan keluar dari kegelapan? Berbenah ! Kita harus berbenah. Bila tidak, Minangkabau akan tinggal jadi catatan sejarah. Boleh jadi dalam waktu tak terlalu lama lagi orang Minang akan jadi perantau di negerinya sendiri. Segala yang buruk sangat mungkin terjadi kalau orang Minang sudah menjadi komunitas yang rapuh, tak punya kekuatan lagi dalam menghadapi serbuan komunitas lain yang ingin menguasai apa saja yang kini masih jadi milik mereka. Mengembalikan kekuatan orang Minang tentu bukan perkara sederhana dan mudah. Diperlukan strategi yang tepat dan energi yang sangat besar untuk mengembalikan kekuatan yang telah sirna. Dari mana kita mulai? Masuknya Lippo Group ke Sumatera Barat yang kemudian menjadi isu paling besar di kalangan orang Minang sejak tahun 60-an sebenarnya merupakan blessing in disguise (rahmat tersembunyi). Tanpa kasus ini, tak terbayangkan bagaimana membangkitkan kesadaran identitas orang Minang yang bertebaran di seluruh dunia, bahkan telah menjadi warga

negara asing. Tapi dengan adanya kasus Lippo kesadaran identitas itu bangkit dengan cepat, orang Minang seperti tersentak bangun dari tidurnya yang panjang. Ini adalah momen kebangkitan yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Momen ini harus memberi manfaat yang lebih besar. Pencabutan izin Superblock Lippo Group (SBLG) tidak boleh dianggap sebagai tujuan tunggal yang final, tapi harus menjadi common issue yang dipelihara dan dimanfaatkan untuk tujuan yang jauh lebih besar. Dengan demikian kita dapat merubah segala rencana jahat Lippo Group menjadi sumber penyesalan bagi mereka. Salah satu rahmat yang tak ternilai akibat adanya isu SBLG adalah berhimpunnya orang Minang dari berbagai latar belakang profesi, firqah dan status domisili, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Meskipun perjumpaan kadang diwarnai oleh pertentangan-pertentangan kecil, ia tak mengurangi arti paling hakiki dari perjumpaan tersebut. Bagaimana pun, perjumpaan itu ibarat tumpukan mesiu yang akan menghasilkan ledakan perubahan lebih besar lagi. Agar rahmat yang besar ini tidak menjadi sia-sia, kita harus mengorganisasikan kekuatan secara lebih baik. Forum Masyarakat Minangkabau Tolak Siloam harus ditransformasi menjadi gerakan yang lebih luas cakupannya. Pada waktu yang akan datang kita tidak lagi memikirkan Siloam atau SBLG, tapi memikirkan bagaimana masalah-masalah mendasar yang melemahkan masyarakat Minang dapat diatasi, sehingga orang Minang kembali menjadi kuat dan berdaulat di negerinya sendiri. Hemat saya ada tiga persoalan penting yang musti secepatnya diatasi. Pertama, masalah kepemimpinan. Melemahnya kekuatan ulama dan tokoh adat menyebabkan kekuatan asing bersimaharajalela dalam membius pikiran dan orientasi kehidupan orang Minang. Ulama dan niniak mamak bukan lagi jadi pemimpin mereka, melainkan hawa nafsu yang dikobarkan melalui media dan pasar yang sepenuhnya berada di bawah kontrol musuh-musuh Islam.

Dengan demikian kita harus menyusun strategi bagaimana mengembalikan kepemimpinan ulama dan niniak mamak ke tengah masyarakat. Kedua, masalah peranan kaum intelektual. Kita telah mengantarkan anak kemenakan kita menjadi orang-orang berilmu pengetahuan dan menguasai teknologi. Namun sejauhmana peran mereka dalam mengatasi berbagai masalah dalam masyarakat Minang masih belum dapat kita rasakan. Ironisnya, banyak dari mereka justru hanya dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan kita dari dalam. Ke depan kita harus punya perencanaan dan langkah-langkah khusus untuk mengembalikan kaum intelektual ke pangkuan orang Minang dan mendermabaktikan ilmu mereka untuk masyarakat Minang. Ketiga, masalah ekonomi grass-root. Jurang pemisah antara kaya dan miskin harus lebih diperkecil. Kekuatan ekonomi masyarakat lapisan bawah harus dibangun secara serius dengan mengoptimalisasi kekuatan orang Minang sendiri. Pembangunan ekonomi masyarakat lapisan bawah tidak dapat diserahkan kepada pemerintah atau pihak pemodal dari luar Minangkabau karena rentan penyalahgunaan. Untuk itu kita harus punya langkah strategis menghimpun kekuatan ekonom yang telah ada, untuk seterusnya digunakan membangun ekonomi grass-root. Parabuang Munculnya sekber-sekber untuk melawan SBLG di berbagai kota adalah prakondisi bagi kebangkitan komunitas Minang di masa yang akan datang. Kelak sekber-sekber itu harus dapat dimanfaatkan untuk mendukung gerakan yang lebih bercakupan luas dan mendasar. Oleh sebab itu, selagi izin SBLG belum dicabut kita masih punya kesempatan memotivasi perantau-perantau Minang di berbagai kota di Indonesia untuk segera membentuk sekretariat bersama. Agar tidak terjadi kevakuman setelah isu SBLG lenyap, kita harus secepatnya menyiapkan badan baru yang bersifat permanen, independen dan berbadan hukum. Badan atau
7

lembaga inilah yang akan menindaklanjuti dan mendayagunakan atmosfir perjumpaan orang Minang yang sekarang telah terjadi. Didalamnya berhimpun unsur-unsur ulama, niniak mamak dan kaum terpelajar dari berbagai profesi. Di samping itu kita sudah harus secepatnya merancang cara-cara yang cepat untuk memobilisasi dana gerakan dan membangun media komunikasi. Tanpa dana dan komunikasi tentu saja apa yang kita pikirkan akan tinggal mimpi belaka. Bandung, 14 Januari 2014