Anda di halaman 1dari 35

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Sistem Keuangan Islam merupakan bagian dari konsep yang lebih luas tentang ekonomi Islam. Sistem keuangan Islam bukan sekedar transaksi

komersial, tetapi harus sudah sampai kepada lembaga keuangan untuk dapat mengimbangi tuntutan zaman. Bentuk sistem keuangan atau lembaga keuangan yang sesuai dengan prinsip Islam dalah terbebas dari unsur riba. Kontrak keuangan yang dapat dikembangkan dan dapat menggantikan sistem riba adalah mekanisme syirkah yaitu : musyarakah dan mudharabah (bagi hasil). Perkembangan industri perbankan dan keuangan syariah dalam satu dasawarsa belakangan ini mengalami kemajuan yang sangat pesat, seperti perbankan syariah, asuransi syariah, pasar modalsyariah, reksadana syariah, obligasi syariah, pegadaian syariah, Baitul Mal wat Tamwil (BMT). Demikian pula di sektor riil, seperti Hotel Syariah,Multi Level Marketing Syariah, dsb. Maka seiring berkembangnya entitas syariah di Indonesia, maka muncul juga permintaan akan standar akuntansi syariah yang relevan di terapkan dalam suatu entitas syariah. pada dasarnya standar akuntansi merupakan pengumuman atau ketentuan resmi yang dikeluarkan badan berwenang di lingkungan tertentu tentang pedoman umum yang dapat digunakan manajemen untuk menghasilkan laporan keuangan. Dengan adanya standar akuntansi syariah, laporan keuangan diharapkan dapat menyajikan informasi yang relevan dan dapat dipercaya kebenarannya. Standar akuntansi juga digunakan oleh pemakai laporan keuangan
1

seperti investor, kreditor, pemerintah, dan masyarakat umum sebagai acuan untuk memahami dan menganalisis laporan keuangan sehingga memungkinkan mereka untuk mengambil keputusan yang benar. Dengan demikian, standar akuntansi memiliki peranan penting bagi pihak penyusun dan pemakai laporan keuangan sehingga timbul keseragaman atau kesamaan interpretasi atas informasi yang terdapat dalam laporan keuangan. 1.2 Rumusan Masalah 1. 2. Mengetahui apa itu akuntansi syariah? Menjelaskan perbedaan akauntansi syariah dan akuntansi konvensional? 3. Apa saja jenis entitas syariah yang ada di Indonesia?

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Akuntansi Syariah Akuntansi syariah adalah suatu proses yang dilakukan dengan berbagai

tahap mulai pengumpulan, penganalisaan, pencatatan dan lain sebagainya, yang berupa transaksi-transaksi muamalah yang didasarkan pada ketentuan ajaran Islam yang bersumber pada al-Quran dan Hadits. Dasar-dasar akuntansi syariah adalah syariat Islam yang diimplementasikan di kalangan masyarakat muslim yang prosesnya ditangani oleh para akuntan yang mengkombinasikan kemampuan dan kecakapan dengan kejujuran bekerja. 2.1.1 Perbedaan Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional Persamaan kaidah Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional terdapat pada hal-hal sebagai berikut: 1. 2. Prinsip pemisahan jaminan keuangan dengan prinsip unit ekonomi; Prinsip penahunan (hauliyah) dengan prinsip periode waktu atau tahun pembukuan keuangan; 3. 4. 5. Prinsip pembukuan langsung dengan pencatatan bertanggal; Prinsip kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan barang; Prinsip perbandingan (muqabalah) dengan prinsip perbandingan income dengan biaya (cost) 6. 7. Prinsip kontinuitas (istimrariah) dengan kesinambungan perusahaan; Prinsip keterangan (idhah) dengan penjelasan atau pemberitahuan.

Sedangkan perbedaannya, menurut Husein Syahatah, dalam buku Pokok-

Pokok Pikiran Akuntansi Islam, antara lain, terdapat pada hal-hal sebagai berikut: 1. Para ahli akuntansi modern berbeda pendapat dalam cara menentukan nilai atau harga untuk melindungi modal pokok, dan juga hingga saat ini apa yang dimaksud dengan modal pokok (kapital) belum ditentukan. Sedangkan konsep Islam menerapkan konsep penilaian berdasarkan nilai tukar yang berlaku, dengan tujuan melindungi modal pokok dari segi kemampuan produksi di masa yang akan datang dalam ruang lingkup perusahaan yang kontinuitas. 2. Modal dalam konsep akuntansi konvensional terbagi menjadi dua bagian, yaitu modal tetap (aktiva tetap) dan modal yang beredar (aktiva lancar), sedangkan di dalam konsep Islam barang-barang pokok dibagi menjadi harta berupa uang (cash) dan harta berupa barang (stock), selanjutnya barang dibagi menjadi barang milik dan barang dagang. 3. Dalam konsep Islam, mata uang seperti emas, perak, dan barang lain yang sama kedudukannya, bukanlah tujuan dari segalanya, melainkan hanya sebagai perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai atau harga, atau sebagi sumber harga atau nilai. 4. Konsep konvensional mempraktekan teori pencadangan dan ketelitian dari menanggung semua kerugian dalam perhitungan, serta

mengenyampingkan laba yang bersifat mungkin, sedangkan konsep Islam sangat memperhatikan hal itu dengan cara penentuan nilai atau harga dengan berdasarkan nilai tukar yang berlaku serta membentuk cadangan untuk kemungkinan bahaya dan resiko.

5. Konsep konvensional menerapkan prinsip laba universal, mencakup laba dagang, modal pokok, transaksi, dan juga uang dari sumber yang haram, sedangkan dalam konsep Islam dibedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang berasal dari kapital (modal pokok) dengan yang berasal dari transaksi, juga wajib menjelaskan pendapatan dari sumber yang haram jika ada, dan berusaha menghindari serta menyalurkan pada tempat-tempat yang telah ditentukan oleh para ulama fiqih. Laba dari sumber yang haram tidak boleh dibagi untuk mitra usaha atau dicampurkan pada pokok modal. 6. Konsep konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya ada ketika adanya jual-beli, sedangkan konsep Islam memakai kaidah bahwa laba itu akan ada ketika adanya perkembangan dan pertambahan pada nilai barang, baik yang telah terjual maupun yang belum. Akan tetapi, jual beli adalah suatu keharusan untuk menyatakan laba, dan laba tidak boleh dibagi sebelum nyata laba itu diperoleh. 2.1.2 Komponen Laporan Keuangan Syariah dengan Laporan Keuangan Konvensioanal Akuntansi Konvensional Laporan keuangan lengkap terdiri dari komponen-komponen berikut ini: a. laporan posisi keuangan (neraca) pada akhir periode; b. laporan laba rugi komprehensif laba rugi dan Akuntansi Syariah Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen berikut ini: a. Neraca; b. Laporan Laba Rugi; c. Laporan Arus Kas; d. Laporan Perubahan Ekuitas;

penghasilan komprehensif lain selama periode; c. laporan perubahan ekuitas selama periode; d. laporan arus kas selama periode; e. catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan f. laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif sebelumnya yang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya sesuai dengan paragraf Sumber: PSAK 1 dan PSAK 101

e. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat; f. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan; g. Catatan atas Laporan Keuangan.

2.2 2.2.1

Jenis Entitas Syariah yang Ada Di Indonesia Bank Syariah

2.2.1.1 Pengertian Bank Syariah Bank syariah atau bank Islam adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam yaitu mengacu pada ketentuan-ketentuan Al-quran dan Hadist. Dalam tata cara bermuamalat dijauhi praktek-praktek yang dikhawatirkan mengandung unsur-unsur riba. Falsafah dasar beroperasinya bank syariah yang menjiwai seluruh hubungan transaksinya adalah efesiensi, keadilan, dan kebersamaan. Munculnya bank syariah dalam sistem perbankan nasional merupakan respons atas pemahaman para ulama serta pemikir ekonomi yang menyatakan bahwa tingkat bunga (interest rate) adalah riba yang tidak sesuai dengan prinsip muamalah dalam Islam.Keberadaannya mulai dikenal sejak tahun 1992 tentang perbankan. Undang-undang tersebut kemudian disempurnakan lagi menjadi undang-undang No. 10 Tahun 1998 yang merupakan dasar adanya dual banking system, dimana bank-bank konvensional boleh membuka cabang syariah atau mengkonversi total menjadi bank syariah. Seiring dengan perkembangan bank syariah yang semakin meningkat, maka dikeluarkan Undang-undang No. 21 Tahun 2008 yang menunjukkan perkuatan posisi bank syariah dalam sistem perbankan nasional sekaligus menjadi landasan hukum yang kuat bagi bank syariah.Pengertian bank syariah dalam UU No. 21 Tahun 2008 pasal 1 butir 7. Adalah:

Bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Sedangkan Djazuli dan Janwari (2009) menyatakan bahwa : Bank Syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang operasionalnya disesuaikan dengan prinsip syariat Islam. 2.2.1.2 Falsafah Operasional Bank Syariah Kerangka dasar sistem perbankan Islam adalah satu aturan dan hukum, yang secara bersama disebut sebagai syariah.Syariah merupakan aturan yan diturunkan dari Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad. Kegiatah bank syariah merupakan implementasi dari prinsip ekonomi Islam dengan karakteristik sebagai berikut: 1. Menjauhkan dari unsur riba Larangan ini dimulai dari adanya pelarangan yang tegas terhadap riba.Riba menurut istilah bahasa Arab berarti tambahan, peningkatan, ekspansi, atau pertumbuhan.Menurut istilah teknis, riba berarti

pengambilan tambahan (premium) sebagai syarat yang harus dibayarkan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman selain pinjaman pokok (Mudrajat dan Suhardjono 2005). 2. Berbagi hasil dan risiko Fatwa MUI tentang larangan riba mendorong para pemilik dana menjadi investor. Sehingga konsep investor ini merupakan pengganti
8

konsep kreditur dalam kerangka perbankan konvensional. Penyedia modal dan usahawan berbagi risiko bisnis, demikian pula mereka akan berbagi keuntungan ketika mendapatkan laba. Sebagaimana tercantum dalam AlQuran di Surat Al-Baqarah : 275 dan An-Nisaa : 29, maka setiap transaksi kelembagaan syariah harus dilandasi atas dasar sistem bagi hasil dan perdagangan atau transaksinya didasari oleh adanya pertukaran antara uanga dengan barang, sehingga dapat dihindari adanya penyalahgunaan kredit, spekulasi, dan inflasi. 3. Prinsip keadilan sosial, persamaan, dan hak milik Islam memperbolehkan pendapatan dari laba tetapi melarang pembebanan bunga.Laba menandakan kesuksesan wirausaha dalam mencipatakan penambahan kekayaan.Sedangkan bunga, adalah suatu biaya yang dibebankan kepada peminjamnya tanpa mempedulikan bagaimana dengan hasil aktivitas bisnis apakah untung dan rugi. Keadilan social dalam pandangan Islam menuntut pemilik dana dan penggunan dana untuk berbagi atas keuntungan, demikian juga bila terjadi kerugian. Islam memberikan panduan bahwa proses akumulasi kekayaan dan distribusi ekonomi terbentuk secara fair dan benar. 2.2.1.3 Tujuan Bank Syariah Bank Syariah memiliki tujuan yang lebih luas dibandingkan dengan bank konvensional, hal ini terkait dengan keberadaannya sebagai institusi komersial serta kewajiban moral yang disandangnya. Sudarsono (2008) menyebutkan selain bertujuan meraih keuntungan sebagaimana layaknya bank konvensional pada umumnya, bank syariah juga bertujuan sebagai berikut:
9

1. Mengarahkan kegiatan ekonomi untuk bermuamalah secara Islam, khususnya muamalah yang berhubungan dengan perbankan agar terhindar dari praktek-praktek riba atau jenis-jenis usaha lain yang mengandung unsur gharar (tipuan). 2. Untuk memciptakan suatu keadilan di bidang ekonomi. Hal ini dilakukan dengan jalan meratakan pendapatan melalui kegiatan investasi, agar tidak terjadi kesenjangan yang amat besar antara pemilik modal dengan pihak yang membutuhan dana, 3. Untuk meningkatkan kualitas hidup umat. Hal ini dilakukan dengan jalan membuka peluang usaha yang lebih besar terutama bagi kelompok miskin yang diarahkan pada kegiatan usaha yang produktif, menuju terciptanya kemadirian berusaha (berwirausaha) 4. Untuk membantu menanggulangi (mengentaskan) masalah

kemiskinan yang pada umumnya merupakan program utama dari negara-negara yang sedang berkembang. 5. Untuk menjaga kestabilan ekonomi atau moneter pemerintah. 6. Untuk menyelamatkan ketergantungan umat Islam terhadap bank konvensional yang menyebabkan umat Islam di bawah kekuasaan bank, sehingga umat Islam tidak bisa melaksanakan ajaran agamanya secara penuh terutama di bidang kegiatan bisnis dan perekonomian. 2.2.1.4 Ciri-ciri Bank Syariah Bank syariah mempunyai ciri-ciri berbeda dengan bank konvensional, adapun ciri-ciri bank syariah menurut (Sudarsono: 2008) adalah sebagai berikut :

10

1. Beban biaya yang disepakati bersama pada waktu akad perjanjian diwujudkan dalam bentuk jumlah nominal, yang besarnya tidak kaku dan dapat dilakukan dengan kebebasan untuk tawar-menawar dalam batas wajar. Beban biaya tersebut hanya dikenakan sampai batas waktu sesuai dengan kesepakatan dalam kontrak. 2. Penggunaan presentase dalam hal kewajiban untuk melakukakan pembayaran selalu dihindari, karena persentase bersifat melekat pada sisa utang meskipun batas waktu perjanjian telah berakhir. 3. Di dalam kontrak-kontrak pembiayaan proyek, bank syariah tidak menerapkan perhitungan berdasarkan keuntungan yang pasti yang diterapkan di muka karena pada hakekatnya yang mengetahui tentang ruginya suatu proyek yang dibiayai bank hanyalah Allah semata. 4. Pengerahan dana masyarakat dalam bentuk deposito tabungan oleh penyimpan dianggap sebagai titipan (wadiah) sedangkan bagi bank dianggap sebagai titipan yang diamanatkan sebagai penyertaan dana pada proyek-proyek yang dibiayai bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip syariah sehingga pada penyimpanan tudak dijanjikan imbalan yang pasti. 5. Dewan Pengawas Syariah bertugas untuk mengawasi operasionalisasi bank dari sudut syariahnya. Selain itu manajer dan pimpinan bank Islam harus menguasai dasar-dasar muamalah Islam. 6. Fungsi kelembagaan bank syariah selain menjembatani antara pihak pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan dana juga mempunyai fungsi khusus yaitu fungsi amanah, artinya berkewajiban menjaga dan

11

bertanggung jawaban atas keamanan dana yang disimpan dan siap sewaktu-waktu apabila dana diambil pemiliknya. Perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional sangat signifikan, uraian Wibowo dan Widodo (2005) menjelaskan secara lengkap perbedaan itu untuk lebih jelasnya dapat dilihat di tabel 2.1 Tabel 2.1 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional Bank Syariah 1) Berdasarkan keuntungan 2) Profit dan fallah oriented 3) Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan 2) Profit oriented 3) Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan margin Bank Konvensional 1) Memakai perangkat bunga

kemitraan 4) Users or real funds 5) Investasi pada bidang yang halal

debitur-kreditur 4) Creator of money supply 5) Tidak membedakan

investasi yang halal dan haram

6) Operasional dengan

harus

sesuai Dewan 6) Tidak memiliki Dewan

arahan

Pengawas Syariah

pengawas Syariah

12

2.2.1.5 Prinsip-prinsip dasar perbankan syariah Sebagaimana pada bank konvensional penghimpunan dan penyaluran dana di bank syariah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk dengan prinsip-prinsip dasar dasar seperti yang dipaparkan Antonio (2001): 1. Prinsip titipan atau simpanan (Al-Wadiah) Al-Wadiah yaitu titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki. Akad wadiah terbagi menjadi 2 yaitu: 1) 2) Wadiah yad al-amanah (tangan amanah) Wadiah dhamanah (tangan penanggung)

2. Prinsip Bagi Hasil (profit-sharing), terdapat beberapa produk bagi hasil yang disediakan oleh bank syariah diantaranya: A. Al-Musyarakah (Partnership, project financing participation) Al-Musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana (atau amal/expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Al-Musyarakah ada dua jenis: musyarakah pemilikan dan musyarakah akad (kontrak). Musyarakah pemilikan tercipta karena warisan, wasiat, atau kondisi lainnya yang mengakibatkan pemilikan satu asset oleh dua orang atau lebih. Sedangkan musyarakah akad (kontrak) tercipta dengan cara kesepakatan di mana dua orang atau

13

lebih setuju bahwa tiap orang dari mereka memberikan modal musyarakah, dan mereka pun sepakat berbagi keuntungan dan kerugian. B. Al-Mudharabah (trust financing, trust invesment) Mudharabah berasal dari kata dharb yang berarti memukul atau berjalan. Secara teknis Al-mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shohibul maal) menyediakan seluruh modal sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola.

Keuntungan usaha secara mudharabah di bagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya si pengelola itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggungjawab atas kerugian tersebut. C. Al-Muzaraah (harvest-yield profit sharing) Al-muzaraah adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dan penggarap, di mana pemilik lahan memberikan lahan pertanian kepada si penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan bagian tertentu (persentase) dari hasil panen. D. Al-Musaqah Al-musaqah adalah bentuk yang lebih sederhana dari muzaraah di mana si penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan

14

pemeliharaan, sebagai imbalan si penggarap berhak atas nisbah tertentu dari hasil panen. Ibnu Umar berkata bahwa Rasullulah SAW. Pernah memberikan tanah dan tanaman kurma di Khaibar kepada Yahudi Khaibar untuk dipelihara dengan mempergunakan peralatan dan dana mereka. Sebagai imbalan, mereka memperoleh persentase tertentu dari hasil panen. 3. Jual beli (sale and purchase) Bentuk-bentuk akad jual beli yang telah dibahas para ulama dalam fiqih muamallah islamiah terbilang sangat banyak.Jumlahnya bisa mencapai belasan jika tidak puluhan.Dari sekian banyak itu, ada tiga jenis jual-beli yang telah dikembangkan sebagai sandaran pokok dalam pembiayaan modal kerja dan invesatasi dalam perbankan syariah, yaitu bai al-murabahah, bai as-salam, dan bai al-istishna. 1) Bai Al-Murabahah Bai al-Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam bai al-murabahah, penjual harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya. 2) Bai As-Salam (in-front payment sale) Dalam pengertian yang sederhana bai as-salam berarti pembelian barang yang diserahkan di kemudian hari sedangkan pembayaran di muka.

15

berkontrak harus menunjuk tempat yang disepakati di mana barang harus diserahkan. Jika kedua pihak yang berkontrak tidak menentukan tempat pengiriman. 3) Bai Al-Istishna (purchase by order or manufacture) Transaksi bai al-istishna merupakan kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang.Dalam kontrak ini, pembuat barang menerima pesanan dari pembeli. Pembuat barang lalu berusaha melalui orang lain untuk membuat atau membeli barang menurut spesifikasi yang telah disepakati dan menjualnya kepada pembeli akhir. Kedua belah pihak bersepakat atas harga serta sistem pembayaran: apakah pembayaran dilakukan di muka, melalui cicilan, atau ditangguhkan sampai suatu waktu yang akan datang. 4. Sewa (operational lease and financial lease) 1) Al-Ijarah (operational lease) Al-ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership/milkiyyah) atas barang itu sendiri. Menurut Dewan Syariah Nasional (DSN), ijarah adalah akan pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu jasa atau barang dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau upah tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang tersebut.

16

2) Al-ijarah Al-Muntahia bit-tamlik (financial lease with purchase option) Transaksi yang disebut dengan al-ijarah al-muntahia bit-tamlik adalah sejenis pepaduan antara kontrak jual-beli dan sewa atau lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan si penyewa.Sifat pemindahan kepemilikan ini pula yang membedakan dengan ijarah biasa. 5. Jasa (fee based service) 1) Al-Wakalah (deputyship) Wakalah atau wikalah berarti penyerahan, pendelegasian, atau pemberian mandat. Sedangkan secara istilah dapat didefinisikan sebagai pelimpahan kekusaan oleh seseorang kepada orang lain dalm hal-hal yang dapat diwakilkan. Islam mensyariatkan wakalah karena manusia

membutuhkannya, tidak setiap orang mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk menyelesaikan semua urusannya sendiri. Pada suatu kesempatan, seseorang perlu mendelegasikan suatu pekerjaan kepada orang lain untuk mewakili dirinya. 2) Al-Kafalah (guaranty) Al-Kafalah merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. Dalam pengertian lain, kafalah juga berarti mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai penjamin. 3) Al-Hawalah (transfer service) Al-hawalah adalah pengalihan utang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Dalam istilah para
17

ulama, hal ini merupakan pemindahan beban utang dari muhil (orang yang berutang) menjadi tanggungan muhalalaih atau orang yang berkewajiban membayar utang. 4) Ar-Rahn (mortage) Ar-Rahn adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya.Barang yang ditahan tersebut memiliki nilai ekonomis. 5) Al-Qardh(soft and benevolent) Al-qardh adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan. 2.3 Asuransi Syariah Definisi asuransi syari'ah menurut Dewan Syariah Nasional (DSN) adalah usaha untuk saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru' yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko /bahaya tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah. Asuransi Syariah adalah sebuah sistem dimana para partisipan /anggota/peserta mendonasikan/menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan digunakan untuk membayar klaim, jika terjadi musibah yang dialami oleh sebagian partisipan/anggota/peserta. Peranan perusahaan disini hanya sebatas pengelolaan operasional perusahaan asuransi serta investasi dari danadana/kontribusi yang diterima/dilimpahkan kepada perusahaan.

18

Asuransi syari'ah disebut juga dengan asuransi ta'awun yang artinya tolong menolong atau saling membantu . Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Asuransi ta'awun prinsip dasarnya adalah dasar syariat yang saling toleran terhadap sesama manusia untuk menjalin kebersamaan dalam meringankan bencana yang dialami peserta. 2.3.1 Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional 1. Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong menolong). Dimana nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tadabuli (jual beli antara nasabah dengan perusahaan). 2. Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharabah).Sedangkan pada asuransi konvensional investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga. 3. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Sedangkan pada asuransi konvensional, premi menjadi milik perusahaan dan perusahaanlah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut. 4. Bila ada peserta yang terkena musibah untuk pembayaran klaim nasabah dana diambilkan dari rekening tabarru(dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong menolong. Sedangkan dalam asuransi konvensional dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan.

19

5.

Keuntungan investasi di bagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola dengan prinsip bagi hasil. Sedangkan dalam asuransi konvensional keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Jika tidak ada klaim nasabah tak memperoleh apa-apa.

6.

Adanya Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah yang merupakan suatu keharusan. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam.

2.3.2

Produk Asuransi Syariah 1. Takaful dana pendidikan (fulnadi) Fulnadi adalah program asuransi untuk perseorangan yang bertujuan untuk menyediakan dana pendidikan untuk putra-putri peserta sampai pendidikan tingkat sarjana dengan manfaat proteksi atas resiko meninggal. 2. Takaful asuransi jiwa murni (Al-Khairat) Takaful Al-Khairat adalah suatu bentuk perlindungan yang manfaat proteksinya diperuntukkan bagi ahli waris apabila pemegang polis ditakdirkan meninggal dalam masa perjanjian. 3. Asuransi jiwa kesehatan (takaful falah) Adalah produk Asuransi Takaful Keluarga yang dirancang secara khusus bagi peserta yang menginginkan manfaat asuransi secara menyeluruh, ketika peserta mengalami musibah meninggal baik karena sakit ataupun kecelakaan.

20

4.

Asuransi kesehatan group/kumpulan (fulmedicare) Adalah Program Asuransi Kesehatan yang memberikan manfaat pelayanan kesehatan bagi peserta yang mengalami sakit karena resiko penyakit atau kecelakaan.

5.

Asuransi kesehatan keluarga (family care) Takaful Family Care adalah program asuransi kesehatan yang khusus diperuntukkan bagi keluarga. Jumlah minimal peserta adalah 2 orang.

6.

Asuransi mobil (tafakul abror) Produk Takaful yang menggantikan kerugian atas kendaraan bermotor yang disebabkan musibah kecelakaan, pencurian serta tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga.

7.

Asuransi perlindungan rumah (tafakul baituna) Merupakan paket istimewa dari Takaful yang melindungi rumah dari risiko kebakaran yang dilengkapi dengan perangkat perlindungan ekstra.

2.4

Pegadaian Syariah Gadai dalam fiqh disebut Rahn, yang menurut bahasa adalah tetap, kekal,

dan jaminan. Menurut beberapa mazhab, Rahn berarti perjanjian penyerahan harta oleh pemiliknya dijadikan sebagai pembayar hak piutang tersebut, baik seluruhnya maupun sebagian. Penyerahan jaminan tersebut tidak harus bersifat actual (berwujud), namun yang terlebih penting penyerahan itu bersifat legal misalnya berupa penyerahan sertifikat atau surat bukti kepemilikan yang sah suatu harta jaminan. Menurut mahab Syafii dan Hambali, harta yang dijadikan jaminan tersebut tidak termasuk manfaatnya.

21

Gadai

syariah

adalah

produk

jasa

berupa

pemberian

pinjaman

menggunakan sistem gadai dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip syariat Islam, yaitu antara lain tidak menentukan tarif jasa dari besarnya uang pinjaman. Perusahaan Umum Pegadaian adalah satu-satunya badan usaha di Indonesia yang secara resmi mempunyai izin untuk melaksanakan kegiatan lembaga keuangan berupa pembiayaan dalam bentuk penyaluran dana ke masyarakat atas dasar hukum gadai seperti dimaksud dalm Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pasal 1150 di atas. Tugas pokoknya adalah memberikan pinjaman kepada masyarakat atas dasar hukum gadai agar masyarakat tidak dirugikan oleh kegiatan lembaga keuangan informal yang cenderung memanfaatkan kebutuhan dana mendesak dari masyarakat. 2.4.1 Teknik Transaksi Pegadaian Syariah Pada dasarnya Pegadaian Syariah berjalan atas dua akad transaksi syariah, yaitu: 1. Akad Rahn. Rahn yang dimaksud adalah menahan harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya. 2. Akad Ijarah. Yaitu akad pemindahan hak guna atas barang dan atau jasa melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barangnya sendiri. Dari landasan Syariah tersebut maka mekanisme operasional Pegadaian Syariah dapat digambarkan sebagai berikut : Melalui akad rahn, nasabah
22

menyerahkan barang bergerak dan kemudian Pegadaian menyimpan dan merawatnya di tempat yang telah disediakan oleh Pegadaian. Akibat yang timbul dari proses penyimpanan adalah timbulnya biaya-biaya yang meliputi nilai investasi tempat penyimpanan, biaya perawatan dan keseluruhan proses kegiatannya. Atas dasar ini dibenarkan bagi Pegadaian mengenakan biaya sewa kepada nasabah sesuai jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak. Pegadaian Syariah akan memperoleh keutungan hanya dari bea sewa tempat yang dipungut bukan tambahan berupa bunga atau sewa modal yang diperhitungkan dari uang pinjaman.. Sehingga di sini dapat dikatakan proses pinjam meminjam uang hanya sebagai lipstick yang akan menarik minat konsumen untuk menyimpan barangnya di Pegadaian. 2.4.2 Produk-Produk yang Dikembangkan 1. Ar-rahn (gadai syariah) adalah produk jasa gadai yang berlandaskan pada prinsip-prinsip syariah, dimana nasabah hanya akan dipungut biaya asministrasi dan ijaroh (biaya jasa simpan dan pemeliharaan barang jaminan). 2. Mulia (murabahah logam mulia untuk investasi abadi) adalah penjualan logam mulia oleh pegadaian kepada masyarakat secara tunai, dan agunan dengan jangka waktu fleksibel. 3. Penaksirannilai barang Jasa ini diberikan bagi mereka yang menginginkan informasi tentang taksiran barang yang berupa emas, perak dan berlian. Biaya yang dikenakan adalah ongkos penaksiran barang.

23

4. Penitipan barang (ijaroh) Barang yang dapat dititipkan antara lain : sertifikat motor, tanah, ijazah. Pegadaian akan mengenakan biaya penitipan bagi nasabahnya Ar-Ruum atau gadai untuk pembiayaan usaha kelompok mikro kecil dan menengah (UMKM) Dari uraian ini dapat dicermati perbedaan yang cukup mendasar dari teknik transaksi Pegadaian Syariah dibandingkan dengan Pegadaian konvensional, yaitu : 1. Di Pegadaian konvensional, tambahan yang harus dibayar oleh nasabah yang disebut sebagai sewa modal, dihitung dari nilai pinjaman. 2. Pegadaian konvensional hanya melakukan satu akad perjanjian : hutang piutang dengan jaminan barang bergerak yang jika ditinjau dari aspek hukum konvensional, keberadaan barang jaminan dalam gadai bersifat acessoir, sehingga Pegadaian konvensional bisa tidak melakukan penahanan barang jaminan atau dengan kata lain melakukan praktik fidusia. Berbeda dengan Pegadaian syariah yang mensyaratkan secara mutlak keberadaan barang jaminan untuk membenarkan penarikan bea jasa simpan. 2.5 Pasar Modal Syariah Pasar Modal Syariah dapat diartikan sebagai pasar modal yang menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam kegiatan transaksi ekonomi dan terlepas dari hal-hal yang dilarang seperti: riba, perjudian, spekulasi dan lain-lain.

24

2.5.1

Produk Pasar Modal Syariah 1. Saham Syariah Saham merupakan surat berharga yang merepresentasikan

penyertaan modal kedalam suatu perusahaan. Sementara dalam prinsip syariah, penyertaan modal dilakukan pada perusahaan-perusahaan yang tidak melanggar prinsip-prinsip syariah, seperti bidang perjudian, riba, memproduksi barang yang diharamkan seperti bir, dan Di Indonesia, prinsip-prinsip penyertaan modal secara syariah tidak diwujudkan dalam bentuk saham syariah maupun non-syariah, melainkan berupa

pembentukan indeks saham yang memenuhi prinsip-prinisp syariah. Dalam hal ini, di Bursa Efek Indonesia terdapat Jakarta Islamic Indeks (JII) yang merupakan 30 saham yang memenuhi kriteria syariah yang ditetapkan Dewan Syariah Nasional (DSN). Indeks JII dipersiapkan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama dengan PT Danareksa Invesment Management (DIM). Jakarta Islamic Index dimaksudkan

untuk digunakan sebagai tolak ukur (benchmark) untuk mengukur kinerja suatu investasi pada saham dengan basis syariah. Melalui index ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk mengembangkan investasi dalam modal secara syariah. Jakarta Islamic Index terdiri dari 30 jenis saham yang dipilih dari saham-saham yang sesuai dengan Syariah Islam. Penentuan kriteria pemilihan saham dalam Jakarta Islamic Index melibatkan pihak Dewan Pengawas Syariah PT Danareksa Invesment Saham-saham yang masuk dalam Indeks Syariah

25

adalah emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah seperti: a. Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang b. Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi) termasuk

perbankan dan asuransi c. Usaha yang memproduksi, mendistribusi serta memperdagangkan makanan dan minuman yang tergolong haram. d. Usaha yang memproduksi, mendistribusi dan/atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat. Selain kriteria diatas, dalam proses pemilihan saham yang masuk JII Bursa Efek Indonesia melakukan tahap-tahap pemilihan yang juga mempertimbangkan aspeklikuiditas dan kondisi keuangan emiten, yaitu: a. Memilih kumpulan saham dengan jenis usaha utama yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan sudah tercatat lebih dari 3 bulan (kecuali termasuk dalam 10 kapitalisasi besar). b. Memilih saham berdasarkan laporan keuangan tahunan atau tengah tahun berakhir yang meiliki rasio Kewajiban terhadap Aktiva maksimal sebesar 90%. c. Memilih 60 saham dari susunan saham diatas berdasarkan urutan ratarata kapitalisasi pasar (market capitalization) terbesar selama satu tahun terakhir.

26

d. Memilih 30 saham dengan urutan berdasarkan tingkat likuiditas ratarata nilai perdagangan reguler selama satu tahun terakhir. Pengkajian ulang akan dilakukan 6 bulan sekali dengan penentuan komponen index pada awal bulan Januari dan Juli setiap tahunnya. Sedangkan perubahan pada jenis usaha emiten akan dimonitoring secara terus menerus berdasarkan data-data publik yang Sesuai dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 32/DSN-MUI/IX/2002. 2. Obligasi Syariah Obligasi Syariah adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang Obligasi Syariah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang Obligasi Syariah berupa bagi hasil/margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo". Tidak semua emiten dapat menerbitkan obligasi syariah. Untuk menerbitkan Obligasi Syariah, beberapa persyaratan berikut harus dipenuhi: 1) Aktivitas utama (core business) yang halal, tidak bertentangan dengan substansi Fatwa No: 20/DSN-MUI/IV/2001. Fatwa tsb menjelaskan bahwa jenis kegiatan usaha yg bertentangan dengan syariah Islam diantaranya: (i) usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang; (ii) usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan asuransi konvensional;
27

(iii) usaha

yg

memproduksi,

mendistribusi,

serta

memperdagangkan makanan dan minuman haram; (iv) usaha yg memproduksi, mendistribusi, dan atau menyediakan barang2 ataupun jasa yg merusak moral dan bersifat mudarat. 2) Peringkat investment grade: (i) memiliki fundamental usaha yg kuat; (ii) memiliki fundamental keuangan yg kuat; (iii) memiliki citra yg baik bagi publik. 3) Keuntungan tambahan jika termasuk dalam komponen JII.

Di Indonesia terdapat 2 skema obligasi syariah yaitu obligasi syariah mudharabah dan obligasi syariah ijarah. Obligasi Syariah Mudharabah merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad bagi hasil sedemikian sehingga pendapatan yang diperoleh investor atas obligasi tersebut diperoleh setelah mengetahui pendapatan emiten. Obligasi Syariah Ijarah merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad sewa sedemikian sehingga kupon (fee ijarah) bersifat tetap, dan bisa diketahui/diperhitungkan sejak awal obligasi diterbitkan. 3. Reksa Dana Syariah Reksa Dana Syariah merupakan Reksa Dana yang

mengalokasikan seluruh dana/portofolio kedalam instrument syariah

28

seperti saham-saham yang tergabung dalam Jakarta Islamic Indeks (JII), obligasi syariah, dan berbagai instrument keuangan syariah lainnya. Pangsa pasar reksa dana syariah saat ini makin menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan. Sejak dari kegiatan perbankan dan investasi syariah yang baru muncul beberapa tahun belakangan, pertumbuhan reksa dana syariah terus mengalamikenaikan. jumlah tersebut diproyeksi akan terus meningkat dengan makin banyaknya investor yang kini mulai melirik berinvestasi di reksa dana syariah yang dianggap lebih menguntungkan. 4. Sukuk Sukuk berasal dari bahasa Arab yaitu sak (tunggal) dan sukuk (jamak) yang memiliki arti mirip dengan sertifikat atau note. Dalam pemahaman praktisnya, sukuk merupakan bukti (claim)

kepemilikan.Sementara itu, menurut fatwa Majelis Ulama Indonesia No 32/DSN-MUI/IX/2002 sukuk adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah. Sukuk mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. ] Sedangkan menurut Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI) berpendapat lain mengenai arti sukuk. Menurut organisasi tersebut, sukuk adalah sebagai

29

sertifikat dari suatu nilai yang direpresentasikan setelah penutupan pendaftaran, bukti terima nilai sertifikat, dan menggunakannya sesuai rencana. Sama halnya dengan bagian dan kepemilikan atas aset yang jelas, barang, atau jasa, atau modal dari suatu proyek tertentu atau modal dari suatu aktivitas inventasi tertentu. Sukuk ritel negara merupakan sukuk yang dikeluarkan oleh pemerintah dan ditujukan bagi individu warga negara Indonesia. Meski sukuk memiliki pengertian yang sama dengan obligasi konvensional, tetapi sukuk memiliki perbedaan mendasar. Jika obligasi konvensional tidak mengharuskan adanya aset yang menjamin (underlying asset), sukuk harus memiliki underlying asset yang jelas sebagai

penjamin.Instrumen ini pun dijamin oleh pemerintah dan bebas risiko gagal bayar atau tidak dibayar pemerintah. Sukuk ritel mulai ditawarkan pada 30 Januari hingga 20 Februari 2009 dengan harga Rp 1 juta per unit. Individu dapat membeli sukuk ritel tersebut minimal Rp 5 juta melalui 13 agen penjualan yang ditunjuk oleh pemerintah. Di antaranya adalah Bank Syariah Mandiri, Bank Mandiri, BNI Sekuritas, CIMB-GK Securities Indonesia, Citibank, HSBC, Reliance Sekuritas, Trimegah Securities, Andalan Artha Advisindo Sekuritas, Anugerah Securindo Indah, Bahana Sekuritas, Danareksa Sekuritas, dan Bank Internasional Indonesia.

30

2.6

Koperasi Syariah Koperasi Syariah merupakan sebuah konversi dari koperasi konvensional

melalui pendekatan yang sesuai dengan syariat Islam dan peneladanan ekonomi yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya. Konsep pendirian Koperasi Syariah menggunakan konsep Syirkah Mufawadhoh yakni sebuah usaha yang didirikan secara bersama-sama oleh dua orang atau lebih, masing-masing memberikan kontribusi dana dalam porsi yang sama besar dan berpartisipasi dalam kerja dengan bobot yang sama pula. Masingmasing partner saling menanggung satu sama lain dalam hak dan kewajiban. Dan tidak diperkenankan salah seorang memasukan modal yang lebih besar dan memperoleh keuntungan yang lebih besar pula dibanding dengan partner lainnya. Azas usaha Koperasi Syariah berdasarkan konsep gotong royong, dan tidak dimonopoli oleh salah seorang pemilik modal. Begitu pula dalam hal keuntungan yang diperoleh maupun kerugian yang diderita harus dibagi secara sama dan proporsional. Penekanan manajemen usaha dilakukan secara musyawarah (Syuro) sesama anggota dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) dengan melibatkan seluruhnya potensi anggota yang dimilikinya. Kelahiran Koperasi Syariah di Indonesia dilandasi oleh Kepututsan Menteri (Kepmen) Nomor

91/Kep/M.KUKM/IX/2004 tanggal 10 September 2004 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Usaha Koperasi Jasa Keuangan Syariah.

31

2.6.1 Usaha Koperasi Syariah Usaha koperasi syariah meliputi semua kegiatan usaha yang halal, baik dan bermanfaat (thayyib) serta menguntungkan dengan sistem bagi hasil, dan tidak riba, perjudian (masyir) serta ketidakjelasan.Untuk menjalankan fungsi perannya, koperasi syariah menjalankan usaha sebagaimana tersebut dalam sertifikasi usaha koperasi. Usaha-usaha yang diselenggarakan koperasi syariah harus dinyatakan sah berdasarkan fatwa dan ketentuan dewan syariah nasional majelis ulama Indonesia.Usaha-usaha yang diselenggarakan koperasi syariah harus dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2.6.2 Tujuan dan Peran Koperasi Syariah Koperasi syariah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta turut membangun tatanan perekonomian yang berkeadilan sesuai prinsip islam. Koperasi syariah mempunyai fungsi dan peran, diantaranya : 1. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, guna meningkatkan,

kesejahteraan sosial ekonominya. 2. Memperkuat kualitas sumber daya insani anggota, agar menjadi lebih amanah, professional (fathonah), konsisten, dan konsekuen (istiqomah) di dalam menerapkan prinsip-prinsip ekonomi islam.

32

3. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi. 4. Sebagai mediator antara menyandang dana dengan penggunan dana, sehingga tercapai optimalisasi pemanfaatan harta. 5. Menguatkan kelompok-kelompok anggota, sehingga mampu bekerjasama melakukan kontrol terhadap koperasi secara efektif. 6. Mengembangkan dan memperluas kesempatan kerja. 7. Menumbuhkan kembangkan usaha-usaha produktif anggota.

33

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 3.1 Kesimpulan Akuntansi syariah adalah suatu proses yang dilakukan dengan berbagai tahap mulai pengumpulan, penganalisaan, pencatatan dan lain sebagainya, yang berupa transaksi-transaksi muamalah yang didasarkan pada ketentuan ajaran Islam yang bersumber pada al-Quran dan Hadits. Dasar-dasar akuntansi syariah adalah syariat Islam yang diimplementasikan di kalangan masyarakat muslim yang prosesnya ditangani oleh para akuntan yang mengkombinasikan kemampuan dan kecakapan dengan kejujuran bekerja. Bank syariah atau bank Islam adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam yaitu mengacu pada ketentuan-ketentuan Al-quran dan Hadist. Daam tata cara bermuamalat dijauhi praktek-praktek yang dikhawatirkan mengandung unsur-unsur riba. Falsafah dasar beroperasinya bank syariah yang menjiwai seluruh hubungan transaksinya adalah efesiensi, keadilan, dan kebersamaan. Asuransi Syariah adalah sebuah sistem dimana para

partisipan/anggota/peserta mendonasikan/menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan digunakan untuk membayar klaim, jika terjadi musibah yang dialami oleh sebagian partisipan/anggota/peserta. Gadai syariah adalah produk jasa berupa pemberian pinjaman

menggunakan sistem gadai dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip syariat Islam, yaitu antara lain tidak menentukan tarif jasa dari besarnya uang pinjaman.

34

Pasar Modal Syariah dapat diartikan sebagai pasar modal yang menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam kegiatan transaksi ekonomi dan terlepas dari hal-hal yang dilarang seperti: riba, perjudian, spekulasi dan lain-lain. Koperasi Syariah merupakan sebuah konversi dari koperasi konvensional melalui pendekatan yang sesuai dengan syariat Islam dan peneladanan ekonomi yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya. 3.2 Saran Di Indonesia perkembangan entitas berbasis syariah sedang sangat maju, mulai dari perbankan, asuransi, pasar modal dan lain sebagainya. Maka sebaiknya Indonesia dan para akuntan ikut mendukung perkembangan ini.

35