Anda di halaman 1dari 12

Pendahuluan Poliomyelitis adalah penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus polio.

Penyakit ini menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan total. Penyakit ini dapat menyerang pada semua kelompok umur, namun yang paling rentan adalah kelompok umur kurang dari 3 tahun. Gejala meliputi demam, lemas, sakit kepala, muntah, nyeri pada kaki ataupun tangan. Virus polio termasuk golongan RNA virus, entero o us, famili pi orna virus, dan terdiri dari 3 tipe yaitu tipe ! " brunhilde #, tipe $ " lansing # dan tipe 3 " leon #. Penyebaran virus polio dari tinja dan per ikan ludah. Polio dapat di egah se ara efektif dengan vaksin polio oral. Polio tidak dapat diobati, penyakit ini hanya bisa di egah melalui imunisasi. %munasasi &PV dan %PV, oleh sebab itu pada anamnesis perlu ditanyakan faktor imunisasi nya. 'eberapa faktor yang meningkatkan resiko terkena polio adalah belum mendapatkan imunisasai polio, berpergian ke daerah yang masih sering ditemukan polio, usia sangat lanjut dan sangat muda, luka di mulut( hidung( tenggorokan " misalnya baru menjalani pengangkatan amandel atau pen abutan gigi #, stress atau kelelehan fisik yang luar biasa " karena stres emosi dan fisik dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh #, gangguan sistem kekebalan tubuh misalnya penderita )%V. *ntuk lebih meyakinkan lagi bah+a pasien menderita perlu dilakukan pemeriksaan penunjang ontohnya kultur feses, kultur tenggrokkan. Pada poliomielitis ini pengobatanya tidak spesifik.

Skenario 12 ,eorang anak laki-laki berusia . tahun diba+a ibunya kepuskesmas karena kaki kanannya tidak dapat degerakan sejak $ hari yang lalu.

Anamnesis

Anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan ara melakukan serangkaian +a+an ara dengan pasien atau keluarga pasien atau dalam keadaan tertentu dengan penolong pasien. 'erbeda dengan +a+an ara biasa, anamnesis dilakukan dengan ara yang khas, berdasarkan pengetahuan tentang penyakit dan dasar-dasar pengetahuan yang ada di balik terjadinya suatu penyakit serta bertolak dari masalah yang dikeluhkan oleh pasien. /ujuan melakukan anamnesis adalah mengembangkan pemahaman mengenai masalah medis pasien dan membuat diagnosis banding. 0alaupun telah banyak kemajuan dalam pemeriksaan diagnostik modern, namun anamnesis klinis masih sangat dipelukan untuk mendapatkan diagnosis yang akurat. Akan tetapi, proses ini juga memungkinkan dokter untuk mengenal pasiennya serta memahami masalah medis dalam konteks kepribadian dan latar belakang sosial pasien. ,eorang dokter biasanya akan berusaha memperoleh informasi1 !. $. 3. 3. 5. 6. .. 7. Nama, usia, tinggi, berat badan. 2asalah atau keluhan utama pasien dan ri+ayatnya. Ri+ayat kesehatan pada masa lalu "seperti penyakit berat, operasi(pembedahan, atau penyakit yang tengah diderita oleh pasien# 4elainan pada organ. Ri+ayat keluarga. Ri+ayat penyakit pada masa kanak-kanak. ,tatus so ial-ekonomi, pekerjaan, penggunaan obat, tembakau, alokohol. Penggunaan obat rutin.

Pada kasus yang kita peroleh, kita dapat menentukan anamnesis sebagai berikut 1 !. $. 4eadaan *mum Ri+ayat Penyakit ,ekarang "RP,# 1

,eorang anak laki-laki berusia . tahun diba+a kepuskesmas dengan keluhan kaki kanannya tidak dapat digerakkan sejak $ hari yang lalu 3. Ri+ayat Penyakit 8ahulu "RP8# 1

Apakah dulunya pernah mengalami sakit yang sama atau berbeda dan pernah dira+at di rumah sakit.

3. 5. 6. ..

Ri+ayat pribadi 1 Ri+ayat Vaksinasi Ri+ayat sosial 1 Ri+ayat kesehatan keluarga dan ri+ayat penyakit menahun keluarga

4ebiasaan makan, kebiasaan merokok, alkohol, penggunaan narkoba, dan ri+ayat trauma.

9ingkungan tempat tinggal, hygiene, sosial-ekonomi, pekerjaan.

8alam proses +a+an ara atau anamnesis, dokter akan bertanya mengenai keluhan apa yang mendorong pasien datang berobat. 8alam kasus yang kita dapatkan, kita ketahui bah+a pasien adalah seorang anak yang masih berusia . tahun oleh karena itu sebaiknya kita melakukan alloanamnesis dimana kita melakukan +a+an ara dengan keluarga pasien. :ika kasus yang kita hadapi adalah poliomyelitis perlu ditanyakan pula $ hari sebelumnya apakah ada demam, pilek, batuk, diare, muntah, sakit kepala, malaise, nyeri otot, faringitis, anoreksia, sakit pinggang dan kesulitan menekuk leher serta punggung. Gejala tersebut merupakan gejala yang tidak khas, tetapi gejala tersebut merupakan gejala prodromal yang mun ul sebelum timbulnya kelumpuhan 3-6 hari, dan kelumpuhan terjadi dalam +aktu .-$! hari.!,$ 8ari anamnesis didapatkan anak usia . tahun dengan keluhan demam ringan 37;<, disertai batuk pilek, sakit kepala dan nyeri otot. A+alnya kaki kanan berasa lemas dan nyeri namun masih bisa berjalan dengan bantuan. ,ejak $ hari yang lalu pasien merasakan kaki kanannya tidak bisa digerakkan sama sekali dan kadang-kadang masih berasa nyeri. Ri+ayat imunisasi lengkap ke uali polio hanya mendapatkan $ = suntikan usia $ bulan dan 3 bulan.

Pemeriksaan Fisik 8alam pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan pengukuran tanda-tanda vital "//V# meliputi tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, dan suhu tubuh. 4emudian dilanjutkan dengan pemeriksaan khusus pada penyakit terkait. Pada kasus yang terkait dengan neurologis dapat dilakukan pemeriksaan fisik seperti kesadaran, tanda rangsang meningeal, saraf ranial, motorik, sensorik, koordinasi, status mental(kognitif. /etapi, semua itu tidak dilakukan karena memakan banyak +aktu. 4ita nilai keadaan umum terlebih dahulu, disini dikatakan pasien tampak sakit sedang dan dinding faring hiperemis. 4esadaran pasien ompos mentis.

9alu diperiksa tanda rangsang meningeal didapatkan kaku kuduk ">#, dan brud?inski ">#. 9alu didapatkan pasien sulit angkat kepala dan kaki saat supine, refleks tendon "-#, kekuatan motorik "-#, sensorik ">#.!,3,3 4aku kuduk dilakukan dengan tangan pemeriksa diletakkan diba+ah kepala pasien yang sedang berbaring. 4emudian kepala pasien ditekukkan "fleksi# dan diusahakan agar dagu men apai dada. :ika terdapat suatu tahanan dan dagu tidak dapat men apai dada berarti kaku kuduk ">#. /anda brud?inski ! dilakukan sama dengan ingin melakukan kaku kuduk tetapi tangan pemeriksa yang satu ditempatkan di dada pasien untuk men egah diangkatnya badan. 'ila tanda brud?inski ">#, maka tindakan ini mengakibatkan fleksi kedua tungkai. Refleks tendon menurun atau tidak ada sama sekali. Atrofi otot bagian yang lumpuh biasanya terlihat 3-5 minggu dan menetap dalam !$-!5 minggu. Gangguan saraf cranial (poliomyelitis bulbar) dapat mengenai saraf cranial I dan atau III! 'ila mengenai formasio retikularis di batang otak maka terdapat gangguan bernapas, menelan, dan system kardiovaskular. 4emudian didapatkan tanda tripod, yaitu bila dari sikap berbaring ia hendak duduk maka kedua lutut akan fleksi sedang kedua lengan dalam sikap ekstensi pada sendi siku untuk dipakai menunjang ke belakang pada tempat tidur. /anda ini timbul karena adanya spasme pada otot-otot paravertebral, ere tor trunsi sehingga anak tidak dapat melakukan gerak antefleksi kolumna vertebralis +aktu hendak melakukan gerak dari berbaring ke sikap duduk. 8i samping tanda tripod dapat pula dijumpai tanda kepala terkulai "head drop# yaitu bila penderita yang dalam sikap berbaring hendak kita tegakkan dengan ara menarik kedua ketiak(lengannya maka kepala penderita akan terkulai ke belakang "retrofleksi#.!,3,3 8ari pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak sakit sedang, ompos mentis, dinding faring hiperemis. Pemeriksaan neurologis 1 kaku kuduk >, lumpuh fla id >, sulit mengangkat kepala dan kaki pada posisi supine, refleks tendon -, kekuatan motorik -, sensorik >.

Pemeriksaan Penun"ang Virus polio dapat diisolasi dan dibiakkan dalam jaringan, dari hapusan tenggorok "s+ab tenggorok#, darah, 9<,, fe es, darah tepi, dan serologi antibody virus polio.

8arah tepi perifer 1 tidak ada pemeriksaan yang spesifik untuk diagnosis poliomyelitis pada gejala a+al, sama seperti virus lainnya. Pemeriksaan darah perifer mungkin dalam batas normal atau terjadi leukositosis pada fase akut yaitu !@.@@@-3@.@@@(ml dengan predominan P2N.

<airan 9<, 1 adanya pleositosis yaitu peningkatan jumlah sel $@-3@@ sel(ml, terjadi dominasi P2N, selanjutnya dominasi limfosit. 4adar protein sedikit meninggi dan kadar glukosa menurun serta elektrolit normal, sedang tekanan tidak meninggi. 4adar protein berkisar antara 3@-!$@ mg(!@@ ml pada minggu pertama tapi jarang A !5@ mg (!@@ ml, kadar protein yang meninggi ini akan bertahan selama 3-3 minggu.

%solasi virus 1 penderita mulai mengeluarkan virus ke dalam tinja saat sebelum fase paralitik terjadi. Pada isolasi feses yang diambil !@ hari dari a+itan gejala neurologi , 7@-B@C psitif untuk virus polio, oleh karena ekskresi terjadi intermiten maka yang sebaiknya diambil $ atau lebih spe imen dalam beberapa hari. Dkskresi dari faring dan 9<, jarang menghasilkan virus. )asil biakan juga penting untuk menentukan jenis serotype virus dan mempengaruhi ara vaksinasi.

,erologi 1 diagnosis poliomyelitis ditegakkan berdasarkan peninggian titer antibody 3= atau lebih antara fase akut dan konvalesens, yaitu dengan ara pemeriksaan uji netralisasi dan uji fiksasi komplemen. 4arena omplement fi=ing antibody mempunyai +aktu lebih pendek dibandingkan dengan titer netralisasi, dan lebih kuat maka dapat ditentukan adanya infeksi polio baru bila terdapat peninggian tes fiksasi komplemen. ,angat membantu bila +abah disebabkan oleh tipe tertentu atau oleh NPD yang lain.3,5

#orking $iagnosis Poliomielitis adalah infeksi virus yang sangat menular dan kadang berakibat fatal. %nfeksi virus ini mempengaruhi saraf dan bisa menyebabkan kelemahan otot yang menetap, kelumpuhan dan gejala-gejala lainnya. Penyebabnya adalah virus polio. Virus polio termasuk virus RNA , enterovirus " sehingga bisa berpengaruh terhadap saluran nafas #, famili pi orna virus. Virus tersebut meyerang sel kornu anterior medulla spinalis yang berfungsi dalam system motorik sehingga penderita mengalami kelumpuhan, kelumpuhan yang terjadi bersifat

asimetris Virus ini menular akibat menelan bahan terkontaminasi virus. Penularan virus terjadi melalui beberapa ara 1 per ikan ludah penderita saat batuk atau bersin, kontak dengan tinja penderita atau barang-barang yang terkena tiinja penderita. Virus ini masuk melalui mulut hidung, dan berkembangbiak di dalam tenggorokan dan saluran pen ernaan, lalu diserap dan disebabkan melaui sistem pembuluh darah dan pembuluh getah bening. 'eberapa faktor berikut bisa meningkatkan resiko terkena polio antara lain adalah belum mendapatkan imunisasi polio, berpergian ke daerah yang masih sering ditemukan polio, usia sangat lanjut atau sangat muda, luka di mulut(hidung(tenggorokan " misalnya baru menjalani pengangkatan amandel atau pen abutan gigi #, stress atau kelelahan fisik yang luar biasa " karena stres emosi dan fisik dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh #, gangguan sistem kekebalan tubuh misalnya penderita )%V.

$ifferent $iagnosis A. Miastenia Gravis 2iastenia gravis adalah gangguan sistem saraf perifer yang ditandai dengan pembentukan autoantibodi terhadap reseptor asetilkolin yang terdapat di daerah motor end-plate otot rangka. Autoantibodi igG se ara kompetitif berkaitan dengan reseptor asetilkolin , men egah pengikatan asetilkolin ke reseptor sehingga men egah kontraksi otot. Akhirnya, reseptor di taut neuromuskular rusak. 2iastenia gravis pada a+alnya dapat menyebabkan kelemahan otot yang mengontrol gerakan mata atau dapat memengaruhi seluruh tubuh. Perkembangan penyakit bervariasi dan dapat berkembang lambat, dengan atau tanpa remisi atau berkembang epat, yang menyebabkan kematian akibat paralisis pernapasan dan gagal napas. Penyebab miastenia gravis tidak diketahui, namun tampak berkaitan dengan ke enderungan keluarga untuk mengalami penyakit otoimun, kelenjar timus sering mengalami hiperlplasia dan tampak berfungsi seperti fungsi kelenjar tersebut pada masa kanak kanak a+al, yang menunjukkan bah+a kelenjar timus dapat men etuskan atau melanjutkan respons imun.

Gambaran klinis 1 kelemahan otot mata yang menyebabkan ptosis " turunnya kelopak mata #, kelemahan otot +ajah, leher dan tenggorokan yang menyebabkan kesulitan makan dan menelan, penyebaran kelemahan otot yang berkelanjutan. Pada a+alnya terjadi keletihan ringan dengan pemulihan kekuatan setelah beristirahat. Akhirnya kekuatan tidak pulih setelah beristirahat. 6 '. ,indrom Guillaine 'arre 2erupakan suatu neuropati perifer autoimun pas ainfeksi yang sering terjadi setelah infeksi respiratorik atau gastrointestinal. 8alam bentuk klasik, sindrom guilaine barre ",G'# merupakan inflamasi demielinisasi polineuropati akut yang ditandai oleh kelemahan mototrik, paralisis, dan hiporefleksi simetris, asendens dan progresif dari ujung ekstremitas tangan dan kaki kemudian menjalar ke atas(proksimal tubuh dengan atau tanpa disertai gejala sensorik atau otonom. Gejala yang khas meliputi arefleksia, flaksiditas, dan kelemahan yang relative simetris dimulai dari kaki dan naik hingga melibatkan lengan, tubuh, tenggorokan, dan +ajah. Progresivitas dapat terjadi dengan epat dalam beberapa jam atau hari atau lebih lambat, dalam beberapa minggu. Gangguan mun ul pada kedua sisi tubuh, kelemahan otot terjadi dalam beberapa hari atau minggu, bahkan berbulan-bulan. 4elemahan pada a+alnya mun ul di tungkai yang kemudian menjalar ke atas hingga dapat mengenai otot pernapasan dan otot-otot lengan. 8itemukan ri+ayat infeksi saluran napas atau pen ernaan sebelum a+itan. Adanya fa tor pen etus seperti ri+ayat vaksinasi, kehamilan, operasi sebelumnya dll. Refleks tendon menghilang akibat terlambatnya penyampaian impuls saraf karena kerusakan myelin. 'iasanya gejala dimulai dengan mati rasa atau parastesi pada tangan dan kaki, kemudian rasa lemah dan berat pada kaki, diikuti ketidakmampuan naik tangga atau berjalan. Refleks tendon dalam negative +alaupun kekuatan otot terpelihara. 8isfungsi saraf autonom dapat menyebabkan hipertensi, hipotensi, hipotensi ortostatik, takikardia, dan aritmia lain, retensi atau inkontinensia urin, retensi feses, atau berkeringat yang abnormal, flushing, atau vasokonstriksi perifer. /erpeliharanya fungsi defekasi dan miksi, hilangnya refleks pada lengan, tidak adanya suatu batas sensorik yang tegas, dan tidak adanya nyeri disekitar tulang punggung mengarah kepada sindrom guillaine barre.3,. %anifestasi &linis

2inor illness, gejala ini terjadi sebagai akibat proses inflamasi akibat berbiaknya virus polio. Gejala sangat ringan atau bahkan tanpa gejala. 4eluhan biasanya nyeri tenggorok dan perasaan tak enak di perut, gangguan G%/, demam ringan, malaise, dan nyeri kepala ringan. Gejala ini terjadi selama !-3 hari, kemudian menghilang. Gejala ini merupakan fase enteri . 2asa inkubasi !-3 hari dan jarang lebih dari 6 hari. ,elama +aktu itu virus bereplikasi pada nasofaring dan saluran erna ba+ah. Gejala tidak khas ini terdapat pada B@B5C kasus polio.5 2ajor illness merupakan gejala klinik akibat penyebaran dan replikasi virus di tempat lain serta kerusakan yang ditimbulkannya. Gejala klinis dimulai dengan demam, kelemahan epat dalam beberapa jam, nyeri kepala dan muntah. 8alam +aktu $3 jam terlihat kekakuan pada leher dan punggung. Penderita terlihat mengantuk, iritabel, dan emas. 'ila terjadi paralisis biasanya dimulai dalam beberapa detik sampai 5 hari sesudah keluhan nyeri kepala. Pada anak, stadium pre-paralisis lebih singkat dan kelemahan otot terjadi pada +aktu penurunan suhu, pada saat penderita merasa lebih baik. Pada de+asa, stadium pre-paralisis berlangsung lebih lama dan hebat, penderita terlihat sakit berat, tremor, agitasi, kemerahan di daerah muka, otot menjadi sensitive dan kaku, pada otot ekstensor ditemukan refleks tendon meninggi dan fasikulasi. ,e ara umum proporsi bentuk klinik poliomyelitis 1 Asimtomatik, tanpa gejala klinik, merupakan proporsi kasus terbanyak ".$C# Poliomyelitis abortif, terdapat 3 gambaran klinis utama, yaitu infeksi saluran napas atas, gangguan G%/, dan gejala seperti influen?a. Gejala tersebut mereda $-3 hari. Poliomyelitis asepti nonparalitik, terdapat tanda poliomyelitis abortif, namun nyeri kepala, mual dan muntah lebih berat, otot-otot leher posterior dan punggung kaku serta nyeri, sulit 'A4 dan konstipasi. Pada PE ditemukan kaku kuduk. Refleks profundus "tendon# biasanya terganggu 7-$3 jam setelah refleks superfi ial menghilang, menandakan akan terjadi paresis ekstremitas. Poliomyelitis paralitik 1 pada poliomyelitis paralitik spinal setelah nyeri kepala dan demam, terjadi nyeri otot hebat. 8alam !-$ hari timbul paresis atau paralisis flaksid asimetris. Pada PE ditemukan kaku kuduk, nyeri otot, refleks tendon dalam hiperaktif kemudian menghilang dan terjadi paralisis. Pasien merasa lebih baik setelah $-5 hari. Poliomyelitis bulbar, terdapat disfungsi saraf ranial dan medulla spinalis.

2anifestasi klinis berupa gangguan pernapasan "selain paralisis otot-otot ekstraokular, +ajah dan pengunyah#. ,araf ranial yang terkena jarang mengalami gangguan permanen. Poliensefalitis, kejang, koma, dan paralisis spasti 8apat terjadi paralisis nervus kranialis atau perifer.3,5 disertai peningkatan refleks fisiologis, iritabilitas, disorientasi, mengantukm dan tremor.

'tiologi Virus polio adalah virus RNA yang termasuk kelompok enterovirus dan family pikorna virus. Virus ini juga termasuk salah satu virus yang terke il jadi ia termasuk virus yang filterable. /erdapat 3 tipe virus polio yaitu tipe ! "'runhilde#, tipe $ "9ansing#, dan tipe 3 "9eon#. /ipe ! yang sering menyebabkan paralisis. Virus ini akan menimbulkan 3 ma am antibody, tetapi tidak terdapat kekebalan silang. Virus ini menular melalui per ikan ludah dan feses. Virus polio masuk kedalam tubuh manusia melalui mulut dan berkembang biak ditenggorokan dan usus. 'erkembang biak selama 3 sampai 35 hari, kemudian akan dikeluarkan melalu tinja selama beberapa minggu kemudian. Virus ini hanya dapat dimusnahkan dengan ara pengeringan atau pemberian ?at oksidator yang kuat seperti peroksida, atau kalium permanganate.3

'pidemiologi Goar "!B55# dalam uraiannya tentang polio di negeri yang sedang berkembang dengan sanitasi yang buruk berkesimpulan bah+a epidemi ditemukan B@C pada anak diba+ah usia 5 tahun "karena itu dulu disebut paralisis infantil# tapi bukan berarti poliomyelitis tidak ditemukan pada orang de+asa. Penyakit polio jarang didapatkan pada usia diba+ah umur 6 bulan, mungkin karena imunitas pasif yang didapat dari ibu. 0abah epidemi poliomyelitis yang terakhir dilaporkan terjadi pada tahun !B55 di Ne+ Dngland, *,A. 8engan ditemukan vaksin polio maka kini poliomyelitis hanya dijumpai sebagai kasus yang sporadik saja.3

Patofiologi Virus masuk ke dalam tubuh melalui saluran ororfaring setelah ditularkan melalui fekal-oral. 2asa inkubasi biasanya antara 3-!. hari, tapi bisa sampai 5 minggu. ,etelah masuk ke dalam tubuh, virus akan berkembang biak "multiplikasi# di jaringan limfoid tonsil atau pada plak peyeri kemudian ia akan menembus dinding usus melalui darah akan tersebar ke seluruh tubuh. Viremia ini tidak menimbulkan gejala "asimtomatik# atau hanya sakit ringan saja. 8iduga pada kasus-kasus yang menimbulkan paralisis, virus men apai system saraf se ara langsung melalui darah atau se ara retrograd melalui saraf tepi atau saraf simpatetik atau ganglion sensorik pada tempat ia bermultiplikasi yaitu di saluran G%/ atau jaringan ekstraneural lain. 'ila virus banyak didapat pada suatu daerah, maka timbulnya penyakit polio dapat di etuskan oleh tindakan operasi daerah tenggorok, dan mulut seperti tonsilektomi dan ekstraksi gigi atau tindakan penyuntikan(vaksinasi 8P/, kehamilan, kerja fisik yang berat(kelelahan.3

Penatalaksanaan /idak ada pengobatan spesifik terhadap poliomielitis. %nfeksi abortif 1 istirahat sampai beberapa hari setelah temperatur normal. 4alau perlu dapat diberikan analgetik, sedatif. :angan melakukan aktifitas selama $ minggu. $ bulan kemudian dilakukan pemeriksaan neuro-mskuloskeletal untuk mengetahui adanya kelainan. Non paralitik 1 sama dengan tipe abortif. Pemberian analgetik sangat efektip bila diberikan bersamaan dengan pembalut hangat selama !5-3@ menit setiap $-3 jam dan kadangkadang mandi air panas juga dapat membantu. ,ebaiknya diberikan foot board, papan penahan pada telapak kaki yaitu agar kaki terletak pada sudut yang sesuai terhadap tungkai. Eisioterapi bukan men egah atrofi otot yang timbul sebagai akibat denervasi sel kornu anterior, tetapi dapat mengurangi deformitas yang terjadi Paralitik 1 harus di ra+at di rumah sakit karena se+aktu-+aktu dapat terjadi paralisis pernafasan dan untuk ini harus diberikan pernafasan mekanis3,3,5

Pencegahan Ada dua jenis vaksin polio yaitu &PV " &ral Polio Va ine # dan %PV " %na tivated Polio va ine #. &PV diberikan $ tetes melalui mulut, sedangkan %PV deberikan melalui suntikan. !. &PV . 8iberikan dalam 3 dosis a+al 1 saat usia 6 minggu atau biasanya usia $ bulan, usia 3 bulan, dan pada usia antara 6-!7 bulan. 8osis keempat diberikan pada usia 3 tahun. %munisasi polio ulangan diberikan saat masuk sekolah " 5-6 tahun # dan dosis berikutnya diberikan pada usia !5-!B tahun. $. %PV diindikasikan untuk penderita immuno ompromised.3

&omplikasi 4omplikasi yang paling berat adalah kelumpuhan yang menetap. 4elupuhan terjadi pada kurang dari ! per !@@ kasusm tetapi kelemahan satu atau beberapa otot sering ditemukan. 4adang bagian otak yang berfungsi mengatur pernafasan terserang polio, sehingga terjadi kelemahan atau kelumpuhan pada otot dada.

Prognosis Prognosis polio bergantung pada derajat penyakitnya. Pada polio ringan dan sedang, kebanyakan pasien sembuh sempurna dalam jangka +aktu singkat. Penderita polio spinal 5@C akan sembuh sempurna, $5C mengalami disabilitas ringan, $5C disabilitas serius dan permanen. ,ebanyak !C penderita polio berat akan mengalami kematian.3

&esimpulan Poliomielitis disebabkan oleh virus polio , yang merupakan golongan RNA virus, enterovirus dan termasuk famili pi orna virus. Virus tersebut meyerang sel kornu anterior

medulla spinalis yang berfungsi dalam system motorik sehingga penderita mengalami kelumpuhan, kelumpuhan yang terjadi bersifat asimetris. Gejala dari poliomielitis terbagi menjadi $ yaitu minor dan mayor , gejala minor terdiri dari nyeri tenggorok gangguan G%/, demam ringan, malaise, nyeri kepala ringan, gejala mayor terdiri dari demam, kelemahan epat dalam beberapa jam, nyeri kepala dan muntah. /idak ada pengobatan spesifik pada poliomielitis, pen egahan dapat dilakukan dengan melakukan vasinasi. 8engan ditemukannya vaksin polio kini penyakit tersebut hanya bersifat sporadi saja.

$aftar Pustaka !. 9umbantobing ,2, Neurologi klinik pemeriksaan fisik dan mental. :akarta1 E4*%F $@@6 $. /homas :, 2onaghan /. 'uku saku o=ford pemeriksaan fisik G keterampilan praktis. :akarta1 DG<F $@!$ 3. 8e+anto G, ,u+ono 0:, Riyanto ', /urana H. Panduan praktis diagnosis G tatalaksana penyakit saraf. :akarta1 DG<F $@@B 3. :oesoef AA, Aliah A, 9imoa A, <handra ', Asna+i <, Guna+an 8. 4apita selekta neurologi. Ddisi kedua. Hogyakarta1 Gadjah 2ada *niversity Press1 $@@B 5. 2erdjani A, ,yoeib AA, /umbelaka AR, <haerulfatah A, 4aspan E, ,etiabudi 8. 'uku ajar infeksi G pediatri tropis. Ddisi kedua. :akarta1 'adan Penerbit %8A%1 $@@$ 6. <or+in D :. 'uku saku patofisiologi. :akarta 1 DG< F $@@B .. 2ar dante 4:, 4liegman R2, :enson )', 'ehrman RD. Alpert ::, 'ishop 0P. Nelson ilmu kesehatan anak esensial. Ddisi keenam. ,ingapura1 ,aunders DlsevierF $@!!