Anda di halaman 1dari 12

SAMPLING AUDIT Sampling dan Bukan Sampling Dalam Audit Sampling audit adalah penerapan prosedur audit terhadap

kurang dari seratus persen unsur dalam suatu saldo akun atau kelompok transaksi dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo akun atau kelompok transaksi tersebut. Auditor seringkali mengetahui mana saldo-saldo akun dan transaksi yang mungkin sekali mengandung salah saji. Auditor mempertimbangkan pengetahuan ini dalam perencanaan prosedur auditnya, termasuk sampling audit. Auditor biasanya tidak memiliki pengetahuan khusus tentang saldo-saldo akun atau transaksi lainnya yang, menurut pertimbangannya, perlu diuji untuk memenuhi tujuan auditnya. Dalam hal terakhir ini, sampling audit sangat berguna. Ada alasan lain bagi auditor untuk memeriksa kurang dari 100% unsur yang membentuk saldo akun atau kelompok transaksi. Sebagai contoh, auditor mungkin hanya memeriksa beberapa transaksi dari suatu saldo akun atau kelompok untuk (a memperoleh pemahaman atas si!at operasi entitas atau (b memperjelas pemahaman atas pengendalian intern entitas. "ukup atau tidaknya bukti audit berkaitan dengan, antara lain, desain dan ukuran sampel audit. #kuran sampel yang diperlukan untuk menghasilkan bukti audit yang cukup tergantung pada tujuan dan e!isiensi sampel. #ntuk tujuan tertentu, e!isiensi sampel berhubungan dengan desainnya$ suatu sampel akan lebih e!isien daripada yang lain jika sampel tersebut dapat mencapai tujuan yang sama dengan ukuran sampel yang lebih kecil. Secara umum, desain yang hati-hati akan menghasilkan sampel yang lebih e!isien. Statistical dan Non Stastical Sampling Ada dua pendekatan umum dalam sampling audit% nonstatistik dan statistik. &edua pendekatan tersebut mengharuskan auditor menggunakan pertimbangan pro!esionalnya dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian sampel, serta dalam menghubungkan bukti audit yang dihasilkan dari sampel dengan bukti audit lain dalam penarikan kesimpulan atas saldo akun atau kelompok transaksi yang berkaitan. 1 Statistical sampling, yaitu metode penentuan sampel secara objekti! dengan kriteria-kriteria tertentu. 'etode ini digunakan untuk mengetahui besarnya

sampel dan pemilihan unsurnya berdasarkan statistik. (erdapat empat jenis statistical sampling, yaitu% (a variable sampling, (b attribute sampling, (c discovery sampling, (d stratified sampling. ) *onstatistical sampling (judgement sampling , yaitu metode penentuan sampel dengan menggunakan pertimbangan auditor dalam memilih sampel secara subjekti!, sehingga sebenarnya cara ini mengandung risiko. +enggunaan sampling dengan metode non statistik harus memperhatikan hal , hal sebagai berikut% a. Dalam memilih unsur untuk diperiksa, setiap tipe transaksi dari kegiatan utama di dalam suatu periode hendaknya diikutkan dalam sampel yang diambil. b. Apabila dalam suatu periode terdapat penanggungja-ab yang berbeda atas transaksi-transaksi yang ada, maka transaksi-transaksi yang terjadi dalam masa kerja setiap penanggungja-ab harus diuji. c. Apabila dalam suatu periode terdapat perubahan kebijaksanaan, maka dalam mengambil sampel harus mengikutsertakan transaksi yang terjadi menjelang dan sesudah tanggal penetapan peraturan.kebijaksanaan tersebut. d. Apabila pemeriksa meneliti kesalahan alas jumlah, hendaknya unsur-unsur populasi dengan saldo yang besar diuji lebih banyak dan lebih hati-hati. e. /esarnya sampel harus disesuaikan dengan kebutuhan pemeriksaan. 0umlah sampel harus diperbanyak antara lain apabila$ jumlah transaksi yang akan diperiksa banyak, sistem pengendalian lemah, transaksi mengandung derajat kera-anan yang tinggi, kemungkinan terjadinya kesalahan dan kecurangan yang material, pemeriksaan yang pertama kali (initial , hasil pemeriksaan sebelumnya kurang memuaskan, integritas pimpinan diragukan. !. +emeriksa tidak dibenarkan mengurangi prosedur pemeriksaan tertentu dengan menambah jumlah sampel sebagai kompensasinya. Sampling dan Risiko Audit &etidakpastian yang melekat dalam penerapan prosedur-prosedur audit disebut risiko audit. 1isiko audit terdiri dari (a risiko (meliputi risiko ba-aan dan risiko pengendalian bah-a saldo atau kelompok dan asersi yang berkaitan, mengandung salah

saji yang mungkin material bagi laporan keuangan, jika dikombinasikan dengan salah saji pada saldo-saldo atau kelompok yang lain, dan (b risiko (risiko deteksi bah-a auditor tidak menemukan salah saji tersebut. 1isiko terjadinya peristi-a-peristi-a negati! ini (adverse events secara bersamaan dapat dipandang sebagai suatu !ungsi masing-masing risiko. Dengan menggunakan pertimbangan pro!esional, auditor menilai berbagai !aktor untuk menentukan risiko ba-aan dan risiko pengendalian (penentuan risiko pengendalian pada tingkat yang lebih rendah daripada tingkat maksimum akan menuntut pelaksanaan pengujian atas pengendalian , dan melakukan pengujian substanti! (prosedur analitik dan pengujian atas rincian saldo-saldo akun atau kelompok transaksi untuk membatasi risiko deteksi. Aspek , aspek risiko audit, antara lain% 1 1isiko Sampling. 1isiko sampling timbul dari kemungkinan bah-a, jika suatu pengujian pengendalian atau pengujian substanti! terbatas pada sampel, kesimpulan auditor mungkin menjadi lain dari kesimpulan yang akan dicapainya jika cara pengujian yang sama diterapkan terhadap semua unsur saldo akun atau kelompok transaksi. Dengan pengertian, suatu sampel tertentu mungkin mengandung salah saji moneter atau penyimpangan dari pengendalian yang telah ditetapkan, yang secara proporsional lebih besar atau kurang daripada yang sesungguhnya terkandung dalam saldo akun atau kelompok transaksi secara keseluruhan. #ntuk suatu desain sampel tertentu, risiko sampling akan ber2ariasi secara berla-anan dengan ukuran sampelnya% semakin kecil ukuran sampel, semakin tinggi risiko samplingnya. ) 1isiko *onSampling. 1isiko nonsampling meliputi semua aspek risiko audit yang tidak berkaitan dengan sampling. Seorang auditor mungkin menerapkan prosedur audit terhadap semua transaksi atau saldo dan tetap gagal mendeteksi salah saji yang material. 1isiko nonsampling meliputi kemungkinan pemilihan prosedur audit yang tidak semestinya untuk mencapai tujuan audit tertentu. Sebagai contoh, pengiriman surat kon!irmasi atas piutang yang tercatat tidak dapat diandalkan untuk menemukan piutang yang tidak tercatat. 1isiko nonsampling juga muncul karena auditor mungkin gagal mengenali salah saji yang ada pada dokumen yang diperiksanya, hal yang akan membuat prosedur audit menjadi tidak e!ekti! -alaupun ia telah memeriksa semua data. 1isiko

nonsampling dapat dikurangi sampai pada tingkat yang dapat diabaikan melalui cara-cara seperti perencanaan dan super2isi memadai. Jenis Pengujian Audit yang Mungkin Meme lukan Sampling +engujian Substanti! Dalam perencanaan sampel untuk pengujian substanti! rinci, auditor harus mempertimbangkan% 4ubungan antara sampel dan tujuan audit yang rele2an. +ertimbangan pendahuluan atas tingkat materialitas. (ingkat risiko keliru menerima yang dapat diterima ( allowable risk of incorrect acceptance . &arakteristik populasi, yaitu unsur yang membentuk saldo akun atau kelompok transaksi yang menjadi perhatian. Dalam perencanaan sampel tertentu, auditor -ajib mempertimbangkan tujuan audit tertentu yang harus dicapai dan -ajib menentukan apakah prosedur atau kombinasi prosedur audit yang akan diterapkan akan mencapai tujuan tersebut. Auditor -ajib menentukan apakah populasi yang menjadi asal suatu sampel adalah memadai untuk suatu tujuan audit. Sebagai contoh, auditor tidak akan dapat mendeteksi penyajian akun yang terlalu rendah karena adanya unsur yang dihilangkan, dengan melakukan sampling atas catatan. 1encana sampling semestinya untuk pendeteksian penyajian yang terlalu rendah tersebut melibatkan pemilihan sumber data yang mengikutsertakan unsur yang dihilangkan. Sebagai gambaran, pengeluaran kas kemudian mungkin perlu diambil sampelnya untuk menguji apakah utang dagang telah disajikan terlalu rendah karena tidak dicatatnya transaksi pembelian. Atau dokumen pengiriman mungkin diambil sampelnya untuk mendeteksi penyajian penjualan yang terlalu rendah karena pengiriman yang telah dilakukan belum dicatat sebagai penjualan. Dalam perencanaan sampel untuk pengujian substanti! rinci, auditor -ajib mempertimbangkan berapa besar salah saji moneter yang dapat terkandung dalam saldo akun atau kelompok transaksi yang bersangkutan tanpa mengakibatkan laporan keuangan menjadi salah saji secara material. Salah saji moneter maksimum pada saldo atau kelompok ini disebut salah saji yang dapat diterima (tolerable misstatement pada sampel. Salah saji yang dapat diterima adalah suatu konsep perencanaan dan berkaitan

dengan pertimbangan pendahuluan auditor atas tingkat materialitas, yang ditentukan sedemikian rupa sehingga salah saji yang dapat diterima, dikombinasikan untuk seluruh rencana audit, tidaklah melampaui estimasi tingkat materialitas tersebut. +engujian +engendalian Dalam perencanaan sampel audit tertentu untuk pengujian pengendalian, auditor harus mempertimbangkan% 4ubungan antara sampel dengan tujuan pengujian pengendalian. (ingkat penyimpangan maksimum dari pengendalian yang ditetapkan yang akan mendukung tingkat risiko pengendalian yang direncanakan. (ingkat risiko yang dapat diterima auditor atas penentuan risiko pengendalian yang terlalu rendah. &arakteristik populasi, yaitu unsur yang membentuk saldo akun atau kelompok transaksi yang menjadi !okus perhatian. Dalam mendesain sampel untuk pengujian pengendalian, auditor biasanya harus merencanakan untuk menilai e!ekti2itas operasi dalam hubungannya dengan penyimpangan dari pengendalian intern yang telah ditetapkan, baik dalam bentuk tingkat penyimpangan maupun jumlah moneter transaksi yang terkait. Dalam hal ini, pengendalian tertentu adalah pengendalian yang belum dimasukkan dalam desain pengendalian intern yang akan berpengaruh sebaliknya terhadap rencana tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan oleh auditor. (ingkat risiko pengendalian secara keseluruhan yang ditetapkan oleh auditor untuk asersi tertentu melibatkan kombinasi antara pertimbangan atas pengendalian yang telah ditetapkan, penyimpangan dari prosedur atau kebijakan yang telah ditetapkan, dan tingkat keyakinan yang diberikan oleh sampel dan pengujian pengendalian yang lain. Auditor harus menentukan tingkat penyimpangan maksimum dari pengendalian yang telah ditetapkan, yaitu, ia akan bersedia menerima tanpa mengubah rencana tingkat risiko pengendalian yang telah ditetapkan. 6nilah yang disebut tingkat penyimpangan yang dapat diterima. Dalam penentuan tingkat penyimpangan yang dapat diterima, auditor harus mempertimbangkan (a tingkat risiko pengendalian yang direncanakan, dan (b tingkat keyakinan yang diinginkan oleh bukti audit dalam sampel. Sebagai contoh, jika auditor merencanakan untuk menentukan tingkat risiko pada tingkat yang rendah, dan ia menginginkan tingkat keyakinan yang tinggi dari bukti audit

yang tersedia dari sampel untuk pengujian pengendalian (yaitu, tidak melakukan pengujian pengendalian yang lain atas asersi , ia mungkin menentukan bah-a tingkat penyimpangan yang dapat diterima sebesar 7% atau lebih kecil makin baik. 0ika auditor merencanakan tingkat risiko pengendalian yang lebih tinggi, atau ia menginginkan tingkat keyakinan dari pengujian pengendalian yang lain bersama-sama dengan yang disediakan oleh sampel (seperti misalnya permintaan keterangan atas cukup atau tidaknya personalia entitas atau pengamatan atas penerapan prosedur atau kebijakan , auditor mungkin memutuskan bah-a tingkat penyimpangan yang dapat diterima sebesar 10% atau lebih adalah cukup memadai. Jenis Statisti!al Sampling (erdapat empat jenis statistical sampling, antara lain% 1. Variable Sampling, untuk mengukur kebenaran nilai rupiah atau satuan kuantitas lainnya. ). Attribute Sampling, untuk mengukur !rekuensi kejadian atau penyimpangan tertentu di dalam kumpulan data (dinyatakan dalam persentase . 4al-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan attribute sampling antara lain% 'enentukan tingkat ketelitian dan keandalan yang diinginkan. 'engestimasikan tingkat kejadian atau penyimpangan. 'enggunakan da!tar label statistik untuk menentukan ukuran sampel. 'eningkatkan tingkat kejadian atau penyimpangan yang sebenarnya.

3. Discovery Sampling, untuk menguji adanya kesalahan kritis sehingga auditor dapat mempertimbangkan untuk memperluas pemeriksaan atau tidak. 4al , hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan discovery sampling antara lain% 'erumuskan lebih dahulu karakteristik yang akan diuji. 'enentukan persentase kesalahan maksimum yang dapat diterima dan tingkat keandalan yang diinginkan dari karakteristik yang sedang diuji. 'enggunakan da!tar statistik untuk menentukan ukuran sampel. 'enentukan tingkat kejadian atau penyimpangan yang sebenarnya.

5. Stratified Sampling, dimaksudkan untuk mengukur kebenaran nilai rupiah atau satuan kuantitas lainnya yang si!at datanya heterogen. 4al , hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan stratified sampling antara lain% 'enyusun strata dengan batas-batas yang jelas sehingga unsur tertentu dari populasi dapat diketahui termasuk dalam stratum mana. 'enentukan tingkat ketelitian dan keandalan yang diinginkan untuk estimasi nilai keseluruhan. 'enentukan stratum yang akan ditarik sampelnya 100% (jika ada . 'enentukan sampel pendahuluan setiap stratum. 'enentukan proporsi sampel setiap stratum. *ilai populasi dinyatakan dalam bentuk inter2al. SAMPLING DALAM P"NGUJIAN P"NG"NDALIAN Risiko Sampling Auditor perlu memperhatikan dua aspek risiko sampling dalam menyelenggarakan pengujian pengendalian jika ia menggunakan sampling% a. 1isiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu rendah ( risk of assessing control risk too low , yaitu risiko menentukan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sampel, terlalu rendah dibandingkan dengan e!ekti2itas operasi pengendalian yang sesungguhnya. b. 1isiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu tinggi ( risk of assessing control risk too high , yaitu risiko menentukan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sampel, yang terlalu tinggi dibandingkan dengan e!ekti2itas operasi pengendalian yang sesungguhnya. Statisti!al Sampling Sampling statistik membantu auditor dalam (a mendesain sampel yang e!isien, (b mengukur cukup atau tidaknya bukti audit yang diperoleh, dan (c menilai hasil sampel. Dengan menggunakan teori statistika, auditor dapat mengkuanti!ikasi risiko sampling untuk membantu dirinya dalam membatasi r isiko tersebut pada t ingkat yang menurut pertimbangannya dapat diterima. *amun, sampling statistik menimbulkan tambahan biaya dalam pelatihan auditor, pendesainan masing-masing sampel untuk memenuhi persyaratan statistik, dan pemilihan unsur yang akan diperiksa. &arena, baik

sampling nonstatistik maupun statistik dapat memberikan bukti audit yang mencukupi, maka auditor dapat memilih satu di antara dua metode sampling tersebut, setelah mempertimbangkan biaya dan e!ekti2itas secara relati! dalam situasi tertentu. Nonstatisti!al Sampling #nsur sampel harus dipilih sedemikian rupa sehingga sampel yang terpilih diharapkan dapat me-akili populasi. :leh karena itu, semua unsur dalam populasi harus memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Ada tiga metode pemilihan sampel yang umum digunakan% a. +emilihan acak (random selection , yaitu setiap unsur dalam populasi atau dalam setiap strata memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. b. +emilihan sistematik (systematic selection , yaitu pemilihan unsur dengan menggunakan inter2al konstan diantara yang dipilih, yang inter2al permulaannya dimulai secara acak. c. +emilihan sembarang (haphazard selection , yaitu merupakan alternati! pemilihan acak, dengan syarat auditor mencoba mengambil sampel yang me-akili dari keseluruhan populasi tanpa maksud untuk memasukkan atau tidak memasukkan unit tertentu ke dalam sampel yang dipilih. SAMPLING DALAM P"NGUJIAN SUBSTANTI# Risiko Sampling Auditor harus menerapkan pertimbangan pro!esional dalam menentukan risiko sampling. Dalam menyelenggarakan pengujian substanti! atas rincian, auditor memperhatikan dua aspek dari risiko sampling% a 1isiko keliru menerima (risk of incorrect acceptance , yaitu risiko mengambil keputusan, berdasarkan hasil sampel, bah-a saldo akun tidak berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo akun telah salah saji secara material. b 1isiko keliru menolak (risk of incorrect rejection , yaitu risiko mengambil keputusan, berdasarkan hasil sampel, bah-a saldo akun berisi salah saji material, padahal kenyataannya saldo akun tidak berisi salah saji material.

Probability-Proportional-to-Size $PPS% Sampling Probability proportional to size (++S adalah suatu metode pengambilan sampel dari sebuah populasi dimana peluang terpilihnya setiap unit sampel sebanding dengan ukuran. #kuran tersebut adalah in!ormasi tambahan yang dimiliki oleh setiap unit sampel yang dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam penarikan sampel sehingga dapat diperoleh estimator , estimator yang lebih e!isien. 6n!ormasi tambahan (ukuran yang berguna untuk dijadikan dasar pertimbangan penarikan sampel adalah in!ormasi yang mempunyai korelasi yang kuat dengan 2ariabel-2ariabel yang akan diteliti. ++S Sampling digunakan pada setiap unit sampel (transaksi keuangan yang telah terjadi dalam populasi (saldo akun atau kelompok akun memiliki ukuran yang ber2ariasi sehingga peluang terpilihnya sampel tidak sama. Semakin besar ukuran suatu unit sampel, maka semakin besar pula peluang terpilihnya unit sampel tersebut. Selain itu, penggunaan ++S Sampling harus memperhatikan ada atau tidaknya hubungan yang kuat antara in!ormasi tambahan (ukuran yang dimiliki oleh setiap unit sampel dengan populasi yang ingin diteliti. (ujuan rencana sampling ++S pada umumnya adalah untuk memperoleh bukti bah-a saldo akun yang dicatat tidak salah saji secara material. Auditor perlu melaksanakan pengujian lain pada sampel atau item-item dalam populasi sebelum menyimpulkan bah-a seluruh asersi yang berkaitan dengan akun tersebut telah bebas dari salah saji yang material. #ntuk setiap populasi, auditor harus memutuskan apakah seluruh item tersebut akan diikutkan. #nit sampling dalam sampling ++S adalah rupiah itu sendiri, dan populasinya adalah jumlah rupiah yang sama dengan jumlah total rupiah pada populasi tersebut. 'eskipun setiap rupiah tersebut merupakan dasar pemilihan sampel, namun yang diuji auditor adalah akun, transaksi, dokumen, atau item-item sejenis yang berkaitan dengan rupiah yang dipilih. &a ia'le Sampling <ariabel sampling adalah teknik statistik yang digunakan oleh auditor untuk menguji ke-ajaran suatu jumlah atau saldo dan untuk mengestimasi jumlah rupiah suatu saldo akun atau kuantitas yang lain. <ariabel sampling untuk memperkirakan saldo suatu akun digunakan oleh auditor dalam kondisi, yaitu% (1 jika klien tidak

menyajikan suatu jumlah yang dapat dianggap benar dan () jika suatu saldo akun ditentukan dengan sampling statistik. +engujian dan pengambilan sampel dalam pengujian subtanti! baik dengan cara nonstatistik dan statistik dilakukan melalui 9 (tujuh tahap, yaitu sebagai berikut% 1. +enentuan tujuan pengambilan sampel. ). +enentuan populasi dan unit sampling. 3. +enentuan pengendalian berbagai kepentingan dan bahan bukti kee!ekti!an proses operasi perusahaan. 5. +enentuan besarnya sampel. 7. +enentuan metode pemilihan sampel. 8. +emeriksaan sampel. 9. >2aluasi hasil belajar. +enggunaan <ariable Sampling dalam +emeriksaan, dimaksudkan untuk mengukur kebenaran nilai rupiah atau satuan kuantitas lainnya. 4al-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan <ariable Sampling antara lain sebagai berikut% a. 'enentukan tingkat ketelitian dan keandalan yang diinginkan untuk estimasi nilai keseluruhan. b. 'enghitung besarnya populasi. +erhitungan yang tepat adalah sangat penting dalam 2ariable sampling karena besarnya sampel dan perhitungan batas ketepatan, secara langsung dipengaruhi oleh besarnya populasi. c. 'elaksanakan sampel pendahuluan untuk menentukan ukuran sampel yang sebenarnya. d. *ilai populasi dinyatakan dalam bentuk inter2al. Pe 'andingan PPS Sampling dan &a ia'le Sampling ++S Sampling &elebihan% a. Sampling ++S umumnya lebih mudah digunakan daripada sampling 2ariabel klasik karena auditor dapat menghitung ukuran sampel dan menge2aluasi hasil sampel secara langsung atau &elebihan% a. Sampel-sampelnya ++S, jika diperlukan b. Saldo nol dan saldo yang bertanda berbeda tidak memerlukan pertimbangan perancangan khusus lebih mudah untuk diperluas daripada sampel <ariable Sampling

10

dengan bantuan table. b. #kuran sampel yang ++S tidak didasarkan pada beberapa ukuran penyimpangan pada nilai audit. c. Sampling ++S secara otomatis menghasilkan sampel yang sudah distrati!ikasi karena item-itemnya dipilih dalam proporsi pada nilai rupiahnya. d. +emilihan sampel sistematis ++S secara beberapa otomatis item menujukkan yang secara diestimasi

c. 0ika ada perbedaan yang besar antara nilai audit dan nilai buku, tujuan sampel auditor dengan lebih yang dapat ukuran kecil terpenuhihanya

dibandingkan sampling ++S.

indi2idual signi!ikan jika nilainilainya melebihi pisah batas atas moneter. e. 0ika auditor memperkirakan tidak ada salah saji, sampling ++S biasanya daripada !. Sampel akan hasil ++S menghasilkan dari lebih sampling mudah ukuran sampel yang lebih kecil 2ariabel klasik. dirancang, dan pemilihan sampel dapat dimulai sebelum tersedia populasi yang lengkap. &elemahan% a. Sampling ++S mengandung asumsi bah-a nilai audit unit sampling harus tidak kurang dari nol atau lebih besar dari nilai buku. b. 0ika kekurangsajian ditunjukkan dalam sampel tersebut, e2aluasi &elemahan% a. Sampling 2ariabel klasik lebih rumit dibanding sampling ++S, umumnya, auditor memerlukan bantuan program komputer untuk merancang sampel yang e!isien dan menge2aluasi hasil sampel.

11

atas sampel tersebut memerlukan pertimbangan khusus. c. +emilihan saldo nol atau saldo dengan tanda yang berbeda memerlukan pertimbangan khusus. d. >2aluasi ++S dapat melebihi AS1 (audit sampling risk jika salah saji ditemukan dalam sampel. e. Sejalan jumlah dengan salah meningkatnya saji yang

b. #ntuk menentukan ukuran sampel, auditor harus mempunyai estimasi penyimpangan standar karakteristik yang dikehendaki dalam populasi.

diperkirakan, ukuran sampel yang sesuai juga meningkat.

1)