Anda di halaman 1dari 16

SMART PAPER Konsep dan Potret Pelanggaran Pemilu di Indonesia

Karya ini ditulis oleh:

Aris Setiawan Yodi Alfath Bagus Panuntun El nur I! Irwan "ar#anto $mar A%dul A&i& Yusuf 'ahya Mahardi(a

)elegasi Political Science Fair *+,$ni.ersitas /ad#ah Mada

Pendahuluan
Penyelenggaraan Pemilu adalah sebuah token of membership bagi tiap negara yang ingin dikatakan negara demokrasi.1 Tidak ada Pemilu, tidak ada demokrasi. Namun sayangnya, Pemilu di berbagai negara marak sekali terjadi pelanggaran, baik itu di negara demokrasi maupun, lebih-lebih negara otoriter. Pemilu kerap dilakukan hanya sebagai suatu penyelenggaraan prosedural. Tidak terkecuali di Indonesia, pemilu di negara demokrasi terbesar ketiga ini masih sangat marak akan praktik pelanggaran pemilu. Setelah lama bosan menjalankan Pemilu prosedural selama Orde aru!, Pemilu di Indonesia ternyata belum dapat menampilkan penyelenggaraan Pemilu yang bebas dari pelanggaran. "al ini tentunya tidak dapat kita biarkan begitu saja. #engan maraknya pelanggaran, tentu tidak akan terlaksana Pemilu yang luber jurdil. Sebab itulah kita merasa penting untuk membahas secara mendalam mengenai pelanggaran pemilu. $ita juga akan membahas tentang jenis-jenis pelanggaran pemilu yang telah di klasi%ikasikan dalam && Nomor ' tahun !(1! tentang Pemilu, yaitu pelanggaran administrati%, tindak pidana pemilu, kode etik penyelenggara pemilu, dan sengketa hasil pemilu,. $ita juga akan melihat bagaimanakah dinamika pelanggaran Pemilu mulai 1))), !((*, dan !((). $emudian dari tiga bahasan diatas kita akan melihat kecenderungandan pola-pola pelanggaran yang terjadi pada Pemilu. "al tersebut dilakukan agar nantinya kita dapat memberikan berbagai masukan agar pelanggaran dalam Pemilu ini dapat direduksi.

+enis-jenis Pelanggaran dalam Pemilu


Pelanggaran pemilu kiranya dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu pelanggaran administrati%, tindak pidana pemilu, kode etik penyelenggara pemilu, sengketa pemilu. ,dapun penjelasan dari masing-masing pelanggaran Pemilu adalah sebagai berikut.

AG Karim, dalam Sigit Pamungkas. 2009. Perihal Pemilu. Yogyakarta: Lab J P !G"

P#milu $ros#dural %#las adala& $#milu yang tidak d#mokratis, sangat $#nu& d#ngan $#nyim$angan. 'a&kan dilakukan t#rang(t#rangan

Pelanggaran ,dministrati%
#e%inisi perbuatan yang termasuk dalam pelanggaran administrati% ialah Pelanggaran administrasi Pemilu adalah pelanggaran yang meliputi tata cara, prosedur, dan mekanisme yang berkaitan dengan administrasi pelaksanaan Pemilu dalam setiap tahapan penyelenggaraan Pemilu di luar tindak pidana Pemilu dan pelanggaran kode etik penyelenggara Pemilu. Sebagai contoh dari pelanggaran administrati% ialah tidak bisa memenuhi syarat-syarat untuk menjadi peserta pemilu, tidak menyertakan keter-akilan perempuan .(/, melakukan kampanye di tempat ibadah maupun di tempat pendidikan, dan sebagainya. #alam konteks ini, yang bisa melakukan pelanggaran administrati% ialah kontestan dan penyelenggara pemilu termasuk $P&. +ika terjadi pelanggaran administrati% oleh $P&, maka diselesaikan oleh badan kehormatan $P&. ,dapun jika pelanggaran yang dilakukan oleh kontestan, maka akan dilaporkan oleh ba-aslu kepada $P&. a-aslu memiliki peran untuk melaporkan pelanggaran

yang telah terjadi. ,dapun mekanisme pelaporan di dalam ba-aslu, ba-aslu menerima laporan dari masyarakat. 0aporan yang diterima harus di selidiki lebih lanjut dalam kurun -aktu . hari setelah laporan adanya pelanggaran itu diterima. Namun apabila dirasa in%ormasi belum memadai, maka ba-aslu akan meminta in%ormasi tambahan dengan memperpanjang -aktu selama 1 hari. $emudian ba-aslu menentukan apakah laporan tersebut benar atau tidak. +ika terbukti suatu pelanggaran administrati% terjadi, maka akan di laporkan ba-aslu kepada $P&. Namun jika laporan tersebut masuk dalam pelanggaran pidana, maka ba-aslu meneruskannya kepada kepolisian 2I.

Tindak Pidana Pemilu


Terdapat batasan yang jelas, dimana tidak semua tindak pidana yang terjadi pada masa pemilu atau yang berkaitan dengan penyelenggaran pemilu dinyatakan sebagai tindak pidana pemilu. eberapa tindak pidana pemilu

merupakan tindak pidana yang sebelumnya telah diatur terlebih dahulu dalam $&"P seperti memalsukan surat, netralitasn PNS, menhina agama, suku dan ras, dan tindakan lain yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya atau oleh

peserta pemilu dan3atau oleh penyelenggara pemilu.. Singkatnya, tindak pidana pemilu dipandang sebagai suatu tindak terlarang yang dilakukan oleh orangperorangan, badan, atau lembaga tertentu yang si%atnya serius dan harus diselesaikan di pengadilan untuk melindungi proses demokrasi melalui pemilu*. Proses penyelesaian tindak pidana pemilu dilakukan oleh aparat penegak hukum yang ada yakni kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan. $epolisian bertugas dan ber-enang melakukan penyidikan terhadap laporan atau temuan tindak pidana pemilu yang diterima dari penga-as pemilu dan masyarakat serta menyampaikan berkas perkara kepada penuntut umum sesuai -aktu yang ditentukan. Penuntut umum bertugas dan ber-enang melimpahkan berkas perkara ke pengadilan sesuai -aktu yang ditentukan. 0ebih lanjut perkara akan diselesaikan oleh Peradilan &mum, yaitu pengadilan negeri di tingkat pertama dan pengadilan tinggi di tingkat banding dan terakhir. Pengadilan negeri dan pengadilan tinggi memeriksa, mengadili dan memutus perkara tindak pidana pemilu berdasarkan pada $&",P ditambah dengan beberapa ketentuan khusus dalam && Pemilu. Pemeriksaan dilakukan oleh hakim khusus yang ditetapkan berdasar $eputusan $etua 4ahkamah ,gung 2I1.

Pelanggaran $ode 5tik Penyelenggara Pemilu


4enurut && no. ' tahun !(1! tentang Pemilu, pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu adalah pelanggaran terhadap etika penyelenggara Pemilu yang berpedomankan sumpah dan3atau janji sebelum menjalankan tugas sebagai penyelenggara Pemilu. 4asih dalam && Pemilu, penyelesaian pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu berada di tangan #e-an $ehormatan Penyelenggara Pemilu 6#$PP7. #$PP ada lembaga ad hoc baru menggantikan #$ $P& yang bertugas pada masa Pemilu !(().

Li&at &tt$:++k$u.%abar$ro,.go.id+ind#-.$&$+sub"#nu+in.ormasi+b#rita+d#tailb#rita+/*, 0ikaks#s $ada tanggal 1/ 0#s#mb#r 201), $ukul 21:)2 1 ' Li&at Subakti, 2amlan, dkk. 2011. Penanganan Pelangaran Pemilu. Jakarta: K#mitraan Part#rs&i$ bid

#alam peraturan bersama

a-aslu, $P& dan #$PP no. 11 tahun !(1!

tentang peraturan bersama kode etik disebutkan ada kode etik yang harus ditaati oleh penyelenggara pemilu. #iantaranya adalah jujur, keterbukaan, pro%esionalitas dan akuntabilitas. Penyelenggara pemilu juga berke-ajiban untuk bertindak netral dan tidak memihak, tidak mempengaruhi pemilih, menjamin kesempatan yang sama bagi setiap pemilih dan tidak menerima hadiah dalam bentuk apapun dari peserta pemilu. ,rtinya pelanggaran kode etik terjadi ketika penyelenggara pemilu melanggar hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya.

Sengketa "asil Pemilu8


Sengketa hasil pemilu Sengketa Pemilu adalah sengketa yang terjadi antarpeserta Pemilu dan sengketa Peserta Pemilu dengan penyelenggara Pemilu sebagai akibat dikeluarkannya keputusan $P&, $P& Pro9insi, dan $P& $abupaten3$ota. a-aslu bertugas melakukan penyelesaian sengketa pihak-pihak yang

Pemilu dengan menerima laporan dan mempertemukan

bersengketa untuk mencapai kesepakatan melalui musya-arah dan mu%akat. Sengketa Pemilu dapat dibedakan menjadi dua yaitu sengketa tata usaha negara pemilu dan sengeketa hasil pemilu. Sengketa tata usaha negara Pemilu adalah sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara Pemilu antara peserta dengan penyelenggara, ataupun penyelenggara dengan penyelenggara lain yang berbeda tingkatan maupun -ilayah kepengurusan. Penyelesaian sengketa ini adalah di pengadilan tata usaha negara. Namun apabila pihak yang bersengketa ada yang merasa keberatan, dapat mengajukan banding ke 4ahkamah ,gung untuk mendapatkan putusan pengadilan tingkat akhir. ,dapula sengketa hasil Pemilu adalah Perselisihan hasil Pemilu adalah perselisihan antara $P& dan Peserta Pemilu mengenai penetapan perolehan suara atau penetapan perolehan kursi dari pelaksanaan Pemilu. "al ini menjadi kebijakan 4ahkamah $onstitusi yang bertugas menyelesaikan sengketa hasil pemilu sebagai lembaga yang ber-enang mengadili di tingkat pertama dan terakhir berdasar. 4$ selanjutnya memeriksa dan menjatuhkan putusan paling
/

K#t#ntuan(k#t#ntuan $ada s#ngk#ta ini diola& dari b#b#ra$a $asal !! no 4 2012 'A' 5

lambat .( hari setelahnya. Putusan 4$ ini bersi%at %inal dan tidak dapat diganggu gugat:.

Potret Pelanggaran Pemilu ,000 *++0 Pelanggaran Pemilu 1)))


Pemilu tahun 1))) merupakan pemilu pertama pada masa re%ormasi yang dirancang berdasarkan prinsip-prinsip pemilu yang demokratis baik dari badan penga-asnya, proses pelaksanaannya ataupun peserta dan pemilih dalam pemilu. adan penyelenggara dan penga-as pemilu dibebaskan untuk bekerja tanpa pengaruh langsung pemerintah. Selain itu, peserta pemilu juga bebas melakukan persuasi terhadap pemilih dan pemilih bebas untuk menentukan pilihannya. erdasar pada laporan Pan-aslu Pusat, dikatakan jika kurang lebih terdapat *.!)( pelanggaran dalam pemilu tahun 1))). "asil tersebut lebih sedikit jika dibandingkan dengan laporan dari pemantauan dan pemberitahuan media massa. Pelanggaran-pelanggaran dalam pemilu tersebut meliputi pelanggaran administrati%, pelanggaran tata cara, pelanggaran pidana, money politics, dan netralitas birokrasi3pejabat pemerintah.' Pelanggaran administrati% sendiri merupakan pelanggaran terhadap ketentuan &ndang-&ndang Pemilu yang bukan merupakan ketentuan pidana pemilu dan terhadap ketentuan lain yang diatur dalam peraturan $P&.) Pelanggaran administrati% tersebut biasanya berhubungan dengan penggunaan hak pilih, tentang kampanye pemilu seperti tempat pemasangan atribut kampanye, dsb. Pada pemilu 1))), Pan-aslu Pusat melaporkan jika kasus-kasus yang mampu diselesaikan oleh lembaga tersebut hanya yang bersi%at administrati% dan tata cara penyelenggaraan pemilu. Sedangkan kasus-kasus yang si%atnya pidana pemilu seperti money politics belum dapat diselesaikan dengan baik. uktinya

yaitu sampai Pan-aslu 1))) dibubarkan dan adanya indikasi money politics
6

Li&at Yulianto, dan Junaidi, 7#ri. 2009. Pelanggaran Pemilu dan Penyelesaiannya. Jakarta: K289

Panitia P#nga:as P#mili&an !mum ;a&un 1999 ;ingkat Pusat, P#nga:asan P#mili&an !mum 1999:P#rtanggung%a:aban Panitia P#nga:as P#mili&an !mum ;a&un 1999 ;ingkat Pusat, Jakarta: Gram#dia,1999
9

Pasal 24 !! 9o.10+2004

sangat kuat bahkan menjadi perbincangan politi. Namun tidak satu kasus pun yang diproses sampai ke pengadilan. Selain itu, dari !:( kasus yang ditindaklanjuti sampai ke kepolisian, hanya !8 kasus yang berhasil diproses sampai pengadilan. +enis-jenis penyimpangan Pemilu sendiri dikategorikan secara berbeda sesuai dengan institusi yang menyelesaikannya. 4enurut Pan-aslu 1))), kategori tersebut dibagi menjadi *, yang pertama yaitu pelanggaran administrati% dan tata cara penyelenggaraan pemilu akan ditegakkan oleh Pan-aslu. $edua, pelanggaran terhadap ketentuan pidana pemilu baik yang dilakukan oleh perorangan atau badan hukum yang bukan partai politik akan ditegakkan oleh polisi. $etiga yaitu pelanggaran yang dilakukan oleh partai politik terhadap ketentuan pidana pemilu akan ditegakkan oleh 4ahkamah ,gung. Sedangkan keempat yaitu yang berhubungan dengan netralitas PNS akan ditegakkan oleh pemerintah.

Ta%el Penyimpangan Pemilu ,000 dan Penanganannya +enis Penyimpangan #iselesaikan Panitia Penga-as ,dministrati% Tata ;ara Pidana Pemilu <4oney Politics= Netralitas irokrasi3Pejabat +umlah
1))).

#ilimpahkan ke $epolisian . 1! !.8 1' 1 !:(

#ilimpahkan ke Pengadilan 1

+umlah

1..)* 1.:'1 .*: 1!! !.* ..))!

1..)' 1.:):

!*

:(: 1*(

1 !8

!.8 *.!)(

Sumber> Pertanggungja-aban Panitia Penga-as Pemilu Tahun 1))) Tingkat Pusat,No9ember

erdasarkan uraian kategorisasi tersebut maka muncul kategori baru yaitu money politics. Pelanggaran yang jelas terlihat yaitu pada pelaggaran administrati% dan tata cara penyelenggaraan pemilu. Pelanggaran tersebut seharusnya diselesaikan sendiri oleh Pan-aslu tetapi justru dilimpahkan ke kepolisisan bahkan sampai di pengadilan. Pada && No.. tahun 1))) pasal !8 juga telah dijelaskan jika Pan-aslu 1))) mempunyai salah satu tugas yaitu untuk menyelesaikan sengketa. Namun

Pan-aslu 1))) sama sekali tidak melaporkan adanya kasus sengketa dalam pelaksanaan pemilu 1))) tersebut. ?alaupun setelah diteliti memang tidak ada kasus sengketa karena kasus-kasus pelanggaran yang muncul kebanyakan masuk dalam pelanggaran adminstrasi dan tata cara. 4isalnya, saat kampanye pemilu 1))) terjadi banyak kasus perebutan tempat atau lokasi kampanye untuk para peserta pemilu. "al tersebut dilatarbelakangi oleh banyaknya peserta yang tidak mengetahui lokasi kampanye yang sudah ditetapkan oleh panitia pemilu. Oleh karena hal tersebut maka kasus tersebut digolongkan sebagai pelanggaran adminsitrati% dan tata cara, bukan kasus sengketa. 4asalah lain yang juga muncul pada pemilu 1))) yaitu pada && No.. tahun 1))) yang mana tidak adanya ketentuan tentang pengaturan mekanisme keberatan dari peserta pemilu atas hasil pemilu baik yang diumumkan oleh penyelenggara pemilu ataupun $P&. &ndang-undang tersebut menganggap jika hasil pemilu sudah sangat benar sehingga tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. $etentuan tersebut menunjukkan jika masih ada pengaruh Orde aru

yaitu 0P& sebagai lembaga yang menentukan segalanya dalam undang-undang tersebut. "al itu menyebabkan pemilu 1))) hampir gagal karena banyaknya anggota $P& dari partai politik yang tidak bersedia menandatangani hasil perolehan suara secara nasional karena alasan banyaknya pelanggaran dan kecurangan.

Pelanggaran Pemilu !((*


Pada pemilu !((*, hasil kerja Pan-aslu dalam menga-asi pemilu legislati% terlihat lebih baik dari pemilu sebelumnya. "al ini dapat dilihat dari laporan berikut> Tabel Pelanggaran ,dministrati% Pemilu 0egislati% !((* dan Penanganannya No Tahanan Temuan30aporan #iterima 1. !. .. Penda%taran Pemilih 6P* 7 @eri%ikasi ;alon Peserta Pemilu Penetapan #aerah Pemilihan dan ( .1* ( #iteruskan ke $P& ( !.1 ( #itangani $P& ( 8: (

+umlah $ursi *. 1. 8. :. '. @eri%ikasi ;alon 0egislati% $ampanye Pemungutan Penghitungan Suara Penetapan "asil Pemilu Penetapan Perolehan $ursi dan ;alon Terpilih ). Pengucapan Sumpah3+anji +umlah ( ')*8 ( '(1. ( !'!! 8'. 1)81 11): * .'. 8!1 1.'! 1.)1 ! .'! 1*: !!.( .:' N, (

Sum%er> 0aporan Penga-asan Pemilu ,nggota #P2,#P# dan #P2# !((*

erdasarkan tabel tersebut dapat dilihat jika banyak kasus pelanggaran administrasi yang diteruskan ke penyelenggara pemilu sebagai pemberi sanksi administrasi tetapi sebagian besar kasus tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik. uktinya yaitu dari '.(1. kasus pelanggaran hanya !.'!! kasus yang dapat diselesaikan oleh $P&3$P&#. $emungkinan kasus yang telah diselesaikan oleh $P&3$P&# sebenarnya lebih banyak. Tetapi karena pada saat itu tidak ada mekanisme dan prosedur baku dalam pemyelesaian kasus pelanggaran administrasi, maka jumlahnya tidak dapat ditetapkan secara pasti. Selain itu, karena tidak adanya mekanisme dan prosedur tersebut maka menyebabkan $P&3$P&# juga kurang serius dalam menyelesaikan pelanggaran-pelanggaran yang direkomendasikan oleh penga-as pemilu. +ika kasus pelanggaran administrati% diteruskan ke $P&3$P&#, maka kasus akan diteruskan kepada pihak kepolisian. Terdapat 1(!! 9onis yang terdiri dari )(1 9onis terdak-a bersalah dan 11: 9onis terdak-a bebas. "al tersebut menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan dengan pemilu 1))) yang hanya mencatat * 9onis. 0aporan Penga-asan Pemilu ,nggota #P2,#P# dan #P2# !((* Pelanggaran Pidana No Tahapan Pemilu 0aporan #iterima $e Penyidi k 1. Penda%taran Pemilih6P* 7 ( ( ( ( ( $e $ejaksaan $e Pengadilan @onis PN

!. ..

@eri%ikasi ;alon Peserta Pemilu Penetapan daerah Pemilihan dan +umlah $ursi

1:( (

'* (

8! (

1* (

1! (

*. 1. 8.

@eri%ikasi ;alon 0egislati% $ampanye Pemungutan Penghitungan Suara

11'8 1!(. 1)*

))1 )!* *1(

1': .'! !!!

1.: !). 1'1

118 !): 11:

:. '.

Penetapan "asil Pemilu Penetapan Perolehan $ursi dan ;alon Terpilih

( (

( (

( (

( (

( (

).

Pengucapan Sumpah3+anji +umlah

( .11.

( !*1.

( 1!1.

( 1(81

( 1(!!

?alaupun begitu, tetap saja penanganan pelanggaran pidana pemilu pada pemilu 0egislati% !((* belum memuaskan. #ari !*1. yang diteruskan ke penyidik kepolisian, hanya 1!1. kasus yang dilimpahkan ke kejaksaan. "al tersebut menunjukkan jika tingkat e%ekti%itas dari kepolisian hanya 11/. Sedangkan dari 1!1. yang dilimpahkan polisi ke kajksaan, hanya 1(81 kasus yang diba-a ke persidangan. "al tersebut menunjukkan jika tingkat e%ekti%itas dalam penanganan kasus tersebut dari polisi ke jaksa sebesar '1/. #ari sebagian besar kasus yang disidangkan, ternyata sebesar '',1/ dinyatakan bersalah oleh hakim. Tabel Sengketa Pemilu 0egislati% !((* dan Penyelesaiannya
No Tahapan #iterima 4usya-arah ,lternati% $eputusan

1. !. ..

Penda%taran Pemilih 6P* 7 @eri%ikasi ;alon Peserta Pemilu Penetapan #aerah Pemilihan dan

( *1 (

( !1 (

( * (

( . (

+umlah $ursi *. 1. 8. :. '. @eri%ikasi ;alon 0egislati% $ampanye Pemungutan dan Penghitungan Suara Penetapan "asil Pemilu Penetapan Perolehan $ursi A ;alon Terpilih 1*: .(1 1.) ( ' )( !1( 1' ( 1 ' 1' ! ( 1 !8 1: 1* ( 1

10

).

Pengucapan Sumpah3+anji +umlah

( 8**

( .'(

( ..

( 81

Sum%er> "idayat, Nur, dkk. !((8. Evaluasi Pengawasan Pemilu 2004. +akarta> Perludem

erdasarkan tabel tersebut maka dapat dilihat jika kasus sengketa yang terjadi pada pemilu 0egislati% !((* lebih kecil daripada yang diperkirakan sebelumnya. $asus-kasus tersebut umumnya muncul pada saat Tahap Pencalonan dan Penetapan ,nggota #P2 dan #P2# baik Pro9insi ataupun $abupaten3$ota. $asusnya yaitu banyaknya calon yang merasa tidak puas dengan penentuan nomor urut yang diputuskan oleh partai politiknya. +ika mengacu dengan undangundang, sebenarnya kasus tersebut tidak termasuk ke dalam sengketa pemilu karena ketidakpuasan bukanlah suatu kasus yang mempunyai dasar hukum dan apapun keputusan partai telah dibuat sesuai dengan aturan. Selain pada tahap yang sudah disebutkan di atas, tahap kampanye juga menjadi salah satu tahap di mana terjadi banyak sengketa antar peserta pemilu. $asus sengketa yang biasa terjadi yaitu tentang perebutan tempat untuk pemasangan atribut parpol dan tempat untuk kampanye rapat umum. &ntuk menanggapi kasus-kasus tersebut biasanya Pan-aslu !((* lebih sering bertindak sebagai mediator sehingga pihak-pihak yang bersangkutanlah yang akan membuat keputusan sendiri. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumya, jika sebenarnya kasus perebutan lokasi kampanye bukan termasuk kasus sengketa. "al tersebut hanya didasari kurangnya in%ormasi terhadap jad-al penggunaan lokasi kampanye atau memang ada salah satu pihak yang sengaja menggunakan tempat calon lain yang jika hal tersebut dipaksakan barulah menjadi pelanggaran. Pada pemilu !((*, hal tersebut menimbulkan ketegangan tersendiri antara Penga-as Pemilu dengan $P&. $P& merasa jika keputusannya sudah sangat benar dan tidak dapat diganggu gugat, sedangkan Penga-as Pemilu merasa mempunyai hak untuk menyelesaikan sengketa dan melakukan koreksi terhadap keputusan $P&. $etegangan tersebut juga bersumber dari && No.1! Tahun !((. yang menyebutkan jika tidak ada ruang untuk melakukan koreksi terhadap keputusan $P&3$P&#. "al tersebut berbeda dengan kasus perselisihan dari hasil pemilu yang mana memang 4ahkamah $onstitusi 64$7 yang mempunyai -e-enang untuk

11

menyelesaikannya. Namun karena kasus perselisihan tersebut sangat banyak 6!1' kasus teregistrasi7 seperti ketidakpuasan peserta pemilu terhadap hasil pemilu sedangkan -aktunya penyelesaiannya sangat terbatas yaitu 1* hari, maka membuat 4$ keliru dalam memproses pengujian gugatan tersebut. ;ontohnya yaitu kasus perselisihan suara di ondo-oso, +a-a Timur yang mencuat karena

ternyata 4$ salah dalam penentuan obyek sengketa. erdasarkan uraian-uraian di atas maka dapat disimpulkan jika pada Pemilu 0egislati% !((* sudah dapat berjalan dengan tertib, lancar,dan damai.1( 2akyat dapat mengikuti proses pemilu dengan baik tanpa terjadi kekerasan -alaupun persaingan politik yang terjadi sangat ketat. +ika pada pemilu 1))) pelanggaran banyak dilakukan oleh lembaga penga-as, maka pada pemilu !((* ini pelanggaran yang terjadi lebih banyak dilakukan oleh calon peserta pemilu.

Pelanggaran Pemilu Tahun !(()


Pemilu pada tahun !(() diatur pada && No. 1( Tahun !((' tentang Pemilihan &mum ,nggota #P2, #P#, #P2 dan && No. *! Tahun !((' tentang Pemilihan &mum Presiden dan ?akil Presiden. Pelaksanaan pemilu pada tahun ini juga tidak luput dari banyak pelanggaran. Pelanggaran yang terjadi, baik yang bersi%at administrasi, pidana pemilu, serta sengketa hasil pemilu sangat mencederai kualitas pemilu pada tahun tersebut. erikut merupakan jumlah pelanggaran pemilu legislati% tahun !(() menurut adan Penga-as Pemilu> 2ekapitulasi Pelanggaran Pemilu dalam Setiap Tahapan Pemilu ,nggota #P2, #P#, dan #P2# Tahun !(()11 No. 1. Tahapan Pemilu Pemutakhiran #ata Pemilih dan Pelanggaran Pemilu ,dministrasi .)1 Pidana !8 +umlah *1:

S#$ulu& b#sar $#rol#&an suara anggota 0P2 b#rdasarkan &asil $#milu L#gislati. 200* adala& Partai Golkar <124=, P0 P <109=, PPP <34=, Partai 0#mokrat <33=, PA9 <3)=, PK' <32=, PKS <*3=, P'2 <1*=, P0S <1)=, dan P'' <11=. S#lain itu $#milu L#gislati. 200* t#la& m#ng&asilkan #m$at anggota 0P0 dari s#tia$ $ro,insi.
11

10

La$oran 'a:aslu ;a&un 2009

12

Penyusunan #a%tar Pemilih Penda%taran dan Penetapan !. Peserta Pemilu ,nggota #P2, #P#, dan #P2# .. Penetapan +umlah $ursi dan Penetapan #aerah Pemilihan Pencalonan ,nggota #P2, #P#, dan #P2# 4asa $ampanye 4asa Tenang Pemungutan dan Penghitungan Suara Penetapan "asil Pemilu 1umlah 11( 1. 1!.

*. 1. 8. :. '.

*). 1!..!! .*( 1.81' 8: ,2!3-,

.' *.8!8 1). 1.()1 .! 4!+,0

1.1 18.)*' 1.. !.:() )) *,!34+

anyaknya kasus pelanggaran tersebut mencerminkan betapa buruknya kualitas pemilu tahun !((), sangat terlampau jauh berbeda dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Sedangkan dalam pemilu presiden a-aslu mencatat selama pelaksanaan kampanye capres dan ca-apres terjadi 1!' kasus pelanggaran, yaitu pelanggaran administrasi sebanyak :1 kasus, pelanggaran pidana pemilu *) kasus, dan lainnya ' kasus.1! #ari data rekapitulasi pelanggaran pemilu legislai% tadi, dapat dilihat bah-a pelanggaran terbanyak terjadi pada saat masa kampanye, ini berarti aktor yang paling banyak melakukan pelanggaran pemilu tahun !(() adalah partai politik. Namun tidak hanya partai politik, rendahnya kualitas pemilu tahun !(() juga disebabkan oleh beberapa pihak, diantaranya $P&, adan Penga-as Pemilu, dan pemerintah dengan peranannya masing-masing. $P& sebagai penyelenggara dianggap kurang memiliki independensi dan integritas, terlihat dari keputusan dan penetapan $P& yang sering berubah-ubah, misalnya dalam penetapan da%tar

12

&tt$:++nasional.kom$as.>om+r#ad+2009+06+03+1412***)+dit#mukan.124.$#langgaran.dalam.k am$any#.$il$r#s 0iaks#s $ada tanggal 16 0#s#mb#r 201), $ukul 13:3/ 1 '

1)

pemilih, jad-al kampanye dan deklarasi pemilu, pemasangan spanduk sosialisasi pemilu presiden, dan lain sebagainya. "asil kerja adan Penga-as Pemilu tidak menghasilkan e%ek jera secara

maksimal. "asil laporan lembaga ini juga sering kali mentah akibat lemahnya penga-alan terhadap tindak pelanggaran tersebut melalui pendekatan hukum yang terpadu. Sehingga dalam pelaporan kasus a-aslu hanya ibarat tukang pos,

akibatnya penyelenggaraan pemilu masih jauh dari harapan dan peserta pemilu cenderung meremehkan institusi penga-asan ini. Peran pemerintah dalam penga-asan dan dukungan dalam aspek anggaran dan birokrasi juga belum sempurna. #apat ditarik garis besar bah-a pelaksanaan pemilu tahun !(() jauh dari harapan karena banyaknya pelanggaran yang terjadi. ahkan beberapa kalangan

berpendapat bah-a pemilu legislati% tahun !(() adalah pemilu yang terburuk dari pemilu sebelumnya setelah re%ormasi. ,ktor-aktor yang berkaitan dengan pemilu tersebut juga belum bekerja secara maksimal, akibatnya banyak pelanggaranpelanggaran terjadi, dan penanganan pelanggaran tersebut belum dapat diselesaikan dengan tuntas.

Kesimpulan
Pemaparan diatas kiranya telah memberikan kita banyak hal. $ini kita dapat tidak sekadar mengetahui, namun juga memahami bah-a pelanggaran pemilu itu terbagi menjadi tiga jenis, yaitu pelanggaran administrati%, tindak pidana, kode etik, dan yang nantinya berimbas pada sengketa hasil pemilu. Pemahaman pada jenis pelanggaran ini akan membuat kita lebih peka dan kritis apabila nantinya kita melihat ada pelanggaran pemilu, siapa yang <bermain= disana, dan kemana kita harus melaporkannya. Sebab berbeda jenis pelanggaran, berbeda pula mekanise pelaporan dan penyelesaiannya. Pemaparan dan penjelasan mengenai pelanggaran pemilu di tahun 1))), !((*, !(() dapat kita ambil banyak pelajaran. #itemukan %akta bah-a semakin lama semakin banyak jumlah pelanggaran pemilu yang ditemukan dan di proses lebih lanjut. "al ini dapat berartikan semakin baik dan pekanyanya lembagalembaga penga-as, lembaga peradilan, dan masyarakat dalam memantau dan
1*

menemukan pelanggaran Pemilu. Namun disisi lain ini juga dapat berarti %atal bah-a aktor-aktor yang terlibat dalam Pemilu sudah semakin mudah menemukan modus dan celah pelanggaran baru dengan intensitas pelanggaran yang selalu meningkat. Tentu saja ini menjadi PR bagi kita semua, terutama aktor-aktor yang terlibat dalam Pemilu, mulai dari penyelenggara, penga-as, pengadil, peserta, hingga masyarakat, untuk bekerja dan berpartisipasi sesuai dengan ruang lingkupnya masing-masing, untuk men-ujudkan terlaksananya Pemilu yang luber jurdil.

)aftar Pusta(a
uku Pamungkas, Sigit. !((). Perihal Pemilu. Bogyakarta> 0ab +IP &C4 Subakti, 2amlan, dkk. !(11. Penanganan Pelangaran Pemilu. +akarta> $emitraan Partership Bulianto, dan +unaidi, @eri. !((). Pelanggaran Pemilu dan Penyelesaiannya. +akarta> $2"N Topo Santoso, dkk. !((8. Penegakan ukum Pemilu. +akarta> Tim Peneliti Perludem. "idayat, Nur, dkk. !((8. Evaluasi Pengawasan Pemilu 2004. +akarta> Perludem

Naskah Perundang-undangan &ndang-&ndang No.1( Tahun !((' &ndang-&ndang no. ' tahun !(1! tentang Pemilu 0egislati%

4akalah30aporan an-aslu. !(1(. 2encana Strategis a-aslu 2I !(1(-!(1* ?ebsite http>33kpu.jabarpro9.go.id3indeD.php3sub4enu3in%ormasi3berita3detailberita38* http>33ditjenpp.kemenkumham.go.id3arsip3bn3!(1.3bn':*-!(1..htm

13

http>33---.researchgate.net3publication3*!.1*.1!E?e-enangE4ahkamahE$ons titusiE#alamE4enyelesaikanESengketaE"asilEPemiluE0egislati%E6SuatuETi njauanEBuridis7 http>33nasional.kompas.com3read3!(()3(:3(131'1!***.3ditemukan.1!'.pelanggara n.dalam.kampanye.pilpres #iakses pada tanggal 1: #esember !(1., pukul 11>18 ?I http>33kpudbrebes.-ordpress.com3!(1(3(*3(13pelanggaran-kode-etik-pemilu-dansolusinya3 #iakses pada tanggal 18 #esember !(1., pukul 1)>() ?I http>33---.unisosdem.org3articleEdetail.phpFaidG11!:.AcoidG.AcaidG.1AgidG !. #ikakses pada tanggal 18 #esember !(1., pukul !1>.! ?I http>33kpud-banjarkota.go.id313'-kilas-berita3!*8-dkpp-putuskan-11:-kasuspelanggaran-kode-etik-penyelenggara-pemilu-hingga-tahun-!(1..html, diakses tanggal pada tanggal 18 #esember !(1., pukul 1'>*1 ?I

1/