Anda di halaman 1dari 27

TATA LAKSANA ASMA EKSASERBASI AKUT

SUSI INDRAWAN FK TRISAKTI 030.09.245

DEFINISI
Berdasarkan ciri klinis gejala episodic berulang berupa batuk, sesak napas, mengi dan rasa berat di dada terutama pada malam dan atau dini hari

Berdasarkan ciri-ciri utama fisiologis


episode obstruksi saluran napas, yang ditandai oleh keterbatasan arus udara pada ekspirasi ciri-ciri patologis yang dominan

adalah inflamasi saluran napas yang kadang disertai dengan perubahan struktur saluran napas

EPIDEMIOLOGI
WHO (2008)

MEMPERKIRAKAN 100-150 JUTA PENDUDUK DUNIA MENDERITA ASMA JUMLAH INI DIPERKIRAKAN AKAN TERUS BERTAMBAH SEBESAR 180.000 ORANG @TAHUN. HAMPIR SEPARUH DARI SELURUH PASIEN ASMA PERNAH DIRAWAT DI RUMAH SAKIT/UGD.

FAKTOR RESIKO
GENETIK FAKTOR LINGKUNGAN FAKTOR LAIN

atopi Hiperaktivitas bronkus Jenis kelamin Ras

Alergen dalam rumah Alergen luar rumah

Alergen makanan Alergen obat obatan Bahan yang mengiritasi Emosi berlebih

Obesitas

Asap rokok
Polusi udara Aktivitas berlebih Perubahan cuaca

genetik

PATOFISIOLOGI
Mediator inflamasi

Makrofag, eosinofil, netrofil, platelet, limfosi lekotriens. Tromboksan, PAF dan protein sitotoksis

PATOFISIOLOGI

inflamasi

obstruksi
Hiper aktivitas bronkus

KLASIFIKASI
Intermiten
Gejala klinis

Persisten ringan

Persisten sedang

Persisten berat

<2 hari /minggu >2hari/minggu tetapi tidak setiap hari

Gejala timbul setiap hari Sepanjang hari

Sifat serangan

Serangan

Serangan

dapat Serangan

dapat Aktifitas fisik sangat

singkat.

mengganggu aktivitas dan mengganggu


tidur. dan tidur. Tiap hari Setiap hari

aktivitas terbatas

Serangan malam <=2x /bulan Penggunaan

3-4x / bulan

Beberapa kali per hari Beberapa kali per hari

<2hari /minggu >2hari / minggu

beta
2 agonis kerja pendek

untuk mengatasi gejala

DIAGNOSA
ANAMNESA Gejala kunci Gambaran gejala Faktor pencetus Perkembangan penyakit Riwayat keluarga Riwayat social Riwayat eksaserbasi Persepsi penderita dan keluarga tentang asma PEM FISIK Inspeksi pasien terlihat gelisah, sesak (napas cuping hidung, napas cepat, retraksi sela iga, retraksi epigastrium, retraksi suprasternal), sianosis Palpasi pada serangan berat dapat terjadi pulsus paradoksus Perkusi Auskultasi ekspirasi memanjang mengi, PEM PENUNJANG Spirometer. VEP1 <80%nilai prediksi = obstruksi saluran nafas Peef flow meter PFM >=15% setelah inhalasi bronkodilator (uji bronkodilator) = perbaikan Rontgen untuk menyingkirkan penyakit yang tidak disebabkan asma. IgE Petanda inflamasi biopsi paru, pemeriksaan sel eosinophil dalam sputum, dan kadar oksida nitrit udara yang dikeluarkan dengan napas. Uji Hipereaktivitas Bronkus/HRB.

DIANGONA BANDING
Bronkitis kronik Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) ASMA

Obstruksi mekaNIS

Disfungsi larings

Gagal jantung kongestif Batuk kronik akibat lainlain

TATA LAKSANA ASMA


1. Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma, agar kualitas hidup meningkat 2. Mencegah eksaserbasi akut 3. Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin 4. Mempertahankan aktivitas normal termasuk latihan jasmani dan aktivitas lainnya 5. Menghindari efek samping obat 6. Mencegah terjadinya keterbatasan aliran udara ireversibel 7. Meminimalkan kunjngan ke gawat darurat 8. Mencegah kematian karena asma

TUJUAN TATA LAKSANA ASMA

edukasi pola hidup sehat monitor penyakit berkala,

PROGRAM TATA LAKSANA ASMA

kontrol teratur

identifikasi dan pengenalan pencetus

menetapkan pengobatan pada serangan akut

merencanaka n terapi

RELIEFER

KONTROLER

Beta 2 agonis kerja singkat

Beta 2 agonis kerja lama (oral dan inhalasi) Kortikosteroid sistemik

DUA GOLONGAN TATA LAKSANA ASMA

Antikolinergik kortikosteroid inhalasi Aminophilin Metilxantin Adrenalin Leukotrin modifiers

Kortikosteroid sistemik

Sodium kromoglikat

Selama 7-8 minggu

TATA LAKSANA ASMA STABIL

KLASIFIKASI Intermiten TERAPI Step 1

Persisten ringan Step 2

Persisten sedang Persisten berat Step 3 Step 4,5

JIKA ASMA TIDAK TERKONTROL DENGAN PENGOBATAN SEBELUMNYA, TINGKATKAN STEP JIKA DALAM 3 BULAN, ASMA DAPAT DIPERTAHANKAN, TURUNKAN STEP TOTAL KONTROL DENGAN DOSIS OBAT TERENDAH TAPI MEMBERIKAN HASIL MAKSIMAL
Global initiative for asthma (GINA 2006)

STEP 1 Edukasi Kontrol lingkungan B2 agonis kerja cepat

STEP 2 +ICS inhalasi dosis rendah /leukotrin

STEP 3
+ICS dosis rendah + B2 agonis kerja panjang /ICS dosis rendah + leukotrin /ICS dosis rendah + teophylin /ICS dosis menengah-

STEP 4 +ICS dosis menengah atau tinggi + B2 agonis kerja panjang +/Leukotrin a +/teophylin

STEP 5 + Gluko kortikoid oral +/Anti IgE

ASMA EKSASERBASI AKUT


SERANGAN AKUT ADALAH EPISODE PENINGKATAN SESAK NAFAS, BATUK, MENGI, DADA TERASA BERAT ATAU KOMBINASI GELA GEJALA TERSEBUT SECARA CEPAT DAN PROGRESIF. TERJADI JUGA PENURUNAN UDARA EKSPIRASI, ARUS PUNCAK EKSPIRASI (APE/VEP1). EKSASERBASI DAPAT TERJADI DI SEMUA DERAJAT ASMA. EKSASERBASI MENGGAMBARKAN TERDAPAT PAJANAN DARI PENCETUS, DAN MENGGAMBARKAN KEGAGALAN DALAM PENATA LAKSANAAN JANGKA PANJANG..

TATA LAKSANA ASMA EKSASERBASI AKUT

Menghilangkan obstruksi jalan nafas secepat mungkin Mengatasi hipoksemia Mengembalikan faal paru ke tingkat normal TUJUAN Membuat rencana pencegahan agar tidak terjadi relaps

TATA LAKSANA ASMA EKSASERBASI AKUT DI RUMAH

Beta agonis 2 kerja singkat 3x 2-4 semprot setiap 20 menit atau nebulizer 1x Nilai respon setelah 1 jam, Cek APE, cek adakah mengi atau sesak

Respon baik Eksaserbasi ringan - APE >80% nilai prediksi/ - Tak ada mengi/ sesak

Respon tidak lengkap Eksaserbasi sedang - APE 50-80% nilai prediksi/ - mengi/ sesak menetap

Respon buruk Obstruksi berat - APE <50% nilai prediksi/ - mengi/ sesak sangat menonjol

- Respon terhadap agonis beta 2


bertahan >4jam

Respon baik Eksaserbasi ringan

Respon tidak lengkap Eksaserbasi sedang

Respon buruk Obstruksi berat

- Agonis beta 2 kerja singkat - Agonis beta 2 kerja singkat (inhalasi) dapat dilanjutkan (inhalasi)

Agonis

beta

kerja

singkat

dapat (inhalasi)

dapat dilanjutkan setiap

setiap 3-4jam selama 24-48 dilanjutkan setiap 3-4jam selama 3-4jam selama 24-48jam jam. Hubungi dokter 24-48jam

- Ulangi beta 2 agonis segera

instruksi lanjut

untuk - Tambahkan kortikosteroid oral - Tambahkan kortikosteroid oral (MP) (MP) -Jika serangan sangat berat / tak - Hubungi dokter untuk instruksi responsive, hubungi dokter dan lanjut segera pergi ke gawat darurat.

TATA LAKSANA ASMA EKSASERBASI AKUT DI RUMAH SAKIT


Pengobatan awal : O2 Nasal kanul 3-4lpm

Beta 2 agonis kerja singkat (nebulizer) tiap 20 menit selama 1 jam Atau injeksi kortikosteroid , dosis, Atau inj adrenalin 1/1000 0,3 ml sc

- Kortikosteroid sistemik dosis jika serangan asma berat / tak respon dengan bronkodilator atau dengan kortikosteroid oral

Lakukan penilaian ulang setelah 1 jam Dengan anamnesa, pemeriksaan fisik, SaO2 dan APE

Respon baik - stabil dalam 60 menit - PF normal - APE >70% nilai prediksi/ -

Respon tak sempurna - resiko distress tinggi - PF ringan / sedang

Respon buruk - resiko tinggi distress - PF berat, gelisah, kesadaran

- <70% APE >50% nilai prediksi menurun - - Sa O2 tak ada perbaikan - APE <30% nilai prediksi - PaCO2 >45 mmHg PaO2 <60 mmHg

Agonis beta 2
kortikosteroid oral edukasia pasien

Rawat RS
O2 nasal kanul 3-4lpm

Rawat ICU
O2 nasal kanul 3-4lpm

Inhalasi beta 2 agonis dan antikolinergik Inhalasi beta 2 agonis dan antikolinergik Inj steroid sistemik Aminophilin drip Pantau APE, SaO2, nadi Inj steroid sistemik Aminophilin drip Pantau APE, SaO2, nadi. Mungkin perlu ventilator Jika ada perbaikan APE >60%, tata Pertimbangkan beta 2 agonis injeksi laksana respon baik

Jika taka da perbaikan dalam 6-12 jam, terapi dengan tata laksana respon buruk

SISTEM RUJUK
RUJUK KE AHLI PARU JIKA : TIDAK ADA RESPON DENGAN PENGOBATAN SERANGAN AKUT YANG MENGANCAM NYAQWA TANDA DAN GEJALA TAK KAHAS BUTUH UJI LAIN DILUAR PEMERIKSAAN STANDAR

KOMPLIKASI
PNEUMOTHORAX GAGAL NAFAS.

TERIMA KASIH