Anda di halaman 1dari 55

2004 PT Remaja BosdaKarya, Bandung Bab 2 - Pengetahuan sain Bab 3 Pengetahuan Filsa at

B!B 2 Bab 2 - P"#$"T!%&!# '!(#


Pada Bab 2 ini dibi)ara*an ontologi, e+istemologi, dan a*siologi sain, &raian mengenai ontologi sain membahas ha*i*at dan stru*tur sain, &raian tentang stru*tur sain tida* terlalu bagus, %al itu disebab*an oleh begitu banya* ma)am sain, *arena banya*nya ma*a banya* yang tida* saya *etahui, "+istemologi sain di o*us*an +ada )ara *erja metode ilmiah, 'edang*an +embahasan a*siologi sain diutama*an +ada )ara sain menyelesai*an masalah yang dihada+i manusia, !, -ntologi 'ain .i sini dibi)ara*an ha*i*at dan stru*tur sain, %a*i*at sain menja/ab +ertanyaan a+a sain itu sebenarnya, 'tru*tur sain seharusnya menjelas*an )abang-)abang sain, serta isi setia+ )abang itu, #amun di sini hanya dijelas*an )abang-)abang sain dan itu+un tida* leng*a+, 0, %a*i*at Pengetahuan 'ain Pada Bab 0 telah dijelas*an se)ara ring*as bah/a +engetahuan sain adalah +engetahuan rasional em+iris, 1asalah rasional dan em+iris inilah yang dibahas beri*ut ini, Pertama, masalah rasional, 'aya berjalan-jalan di bebera+a *am+ung, Banya* hal yang menari* +erhatian saya di *am+ung-*am+ung itu, satu diantaranya ialah orang-orang di *am+ung yang satu sehat-sehat, sedang di *am+ung yang lain banya* yang sa*it, 'e)ara +u*ul-rata +endudu* *am+ung yang satu lebih sehat dari+ada +endudu* *am+ung yang lain tadi, !da a+a ya2 .emi*ian +ertanyaan dalam hati saya, Kebetulan saya mengetahui bah/a +endudu* *am+ung yang satu itu memelihara ayam dan mere*a mema*an telurnya, sedang*an +endudu* *am+ung yang lain tadi juga memelihara ayam teta+i tida* mema*an telurnya, mere*a menjual telurnya, Berdasar*an *enyataan itu saya menduga, *am+ung yang satu itu +endudu*nya sehat-sehat *arena banya* mema*an telur, sedang*an +endudu* *am+ung yang lain itu banya* yang sa*it *arena tida* ma*an telur, Berdasar*an

ini saya menari* hi+otesis sema*in banya* ma*an telur a*an sema*in sehat, atau telur ber+engaruh +ositi terhada+ *esehatan, %i+otesis harus berdasar*an rasio, dengan *ata lain hi+otesis harus rasional, .alam hal hi+otesis yang saya aju*an itu rasionalnya ialah3 untu* sehat di+erlu*an gi4i, telur banya* mengandung gi4i, *arena itu, logis bila sema*in banya* ma*an telur a*an sema*in sehat, %i+otesis saya itu belum diuji *ebenarannya, Kebenarannya barulah dugaan, Teta+i hi+otesis itu telah men)u*u+i dari segi *erasionalannya, .engan *ata lain, hi+otesis saya itu rasional, Kata 5rasional6 di sini menunju**an adanya hubungan +engaruh atau hubungan sebab a*ibat, Kedua, masalah em+iris, %i+otesis saya itu saya uji 7*ebenarannya8 mengi*uti +rosedur metode ilmiah, &ntu* menguji hi+otesis itu saya guna*an metode e*s+erimen dengan )ara mengambil satu atau dua *am+ung yang disuruh ma*an telur se)ara teratur selama setahun sebagai *elom+o* e*s+erimen, dan mengambil satu atau dua *am+ung yang lain yagn tida* boleh ma*an telur, juga selama setahun itu, sebagai *elom+o* *ontrol, Pada a*hir tahun, *esehatan *edua *elom+o* itu saya amati, %asilnya, *am+ung yang ma*an telur rata-rata lebih sehat, 'e*arang, hi+otesis saya sema*in banya* ma*an telur a*an sema*in sehat atau telur ber+engaruh +ositi terhada+ *esehatan terbu*ti, 'etelah terbu*ti sebai*nya ber*ali-*ali ma*a hi+otesis saya tadi berubah menjadi teori, Teori saya bah/a 5'ema*in banya* ma*an telur a*an sema*in sehat6 atau 5Telur ber+engaruh +ositi terhada+ *esehatan,6 adalah teori yang rasional-em+iris, Teori se+erti inilah yang disebut teori ilmiah 7s)ienti i) theory8, Beginilah teori dalam sain, 9ara *erja saya dalam mem+eroleh teori itu tadi adalah )ara *erja metode ilmiah, Rumus ba*u metode ilmiah ialah3 logi)o-hy+otheti)o-:eri i)ati 7bu*ti*an bah/a itu logis, tari* hi+otesis, aju*an bu*ti em+iris8, %ara+ di)atat bah/a istilah logi)o dalam rumus itu adalah logis dalam arti rasional, Pada dasarnya )ara *erja sain adalah *erja men)ari hubungan sebab-a*ibat atau men)ari +engaruh sesuatu terhada+ yang lain, !sumsi dasar sain ialah tida* ada *ejadian tan+a sebab,!sumsi ini oleh Fred #, Kerlinger 7Foundation o

Beha:ior Resear)h, 0;<333<=8 dirumus*an dalam ung*a+an +ost ho), ergo +ro+ter ho) 7ini, tentu disebab*an oleh ini8, !sumsi ini benar bila sebab a*ibat itu memili*i hubungan rasional, (lmu atau sain berisi teori, Teori itu +ada dasarnya menerang*an hubungan sebab a*ibat, 'ain tida* memberi*an nilai bai* atau buru*, halal atau haram, so+an atau tida* so+an, indah atau tida* indah> sain hanya memberi*an nilai benar atau salah, Kenyataan inilah yang menyebab*an ada orang menyang*a bah/a sain itu netral, .alam *onte*s se+erti itu memang ya, teta+i dalam *onte*s lain belum tentu ya, 2, 'tru*tur 'ain .alam garis besarnya sain dibagi dua, yaitu sain *ealaman dan sain sosial, 9ontoh beri*ut ini henda* menjelas*an stru*tur sain dalam bentu* nama-nama ilmu, #ama ilmu banya* se*ali, beri*ut ditulis bebera+a saja diantaranya3 08 'ain Kealaman ? !stronomi> ? Fisi*a3 me*ani*a, bunyi, )ahaya dan o+ti*, isi*a nu*lir> ? Kimia3 *imia organi*, *imia te*ni*> ? (lmu Bumi3 +aleontologi, e*ologi, geo isi*a, geo*imia, mineralogi, geogra i> ? (lmu %ayati3 bio isi*a, botani, 4oologi> 28 'ain 'osial ? 'osiologi3 sosiologi *omuni*asi, sosiologi +oliti*, sosiologi +endidi*an ? !ntro+ologi3 antro+ologi budaya, antro+ologi e*onomi, entro+ologi +oliti*, ? Psi*ologi3 +si*ologi +endidi*an, +si*ologi ana*, +si*ologi abnormal> ? "*onomi3 e*onomi ma*ro, e*onomi ling*ungan, e*onomi +edesaan> ? Politi*3 +oliti* dalam negeri, +oliti* hu*um, +oliti* internasional !gar se*aligus tam+a* leng*a+, beri*ut ditambah*an %umaniora, 38 %umaniora ? 'eni3 seni abstra*, seni gra i*a, seni +ahat, seni tari> ? %u*um3 hu*um +idana, hu*um tata usaha negara, hu*um adat 7mung*in da+at dimasu**an *e sain sosial8>

? Filsa at3 logi*a, ethi*a, esteti*a> ? Bahasa, 'astra> ? !gama3 (slam, Kristen, 9on usius> ? 'ejarah3 sejarah (ndonesia, sejarah dunia 7mung*in da+at dimasu**an *e sain sosial8,

.emi*ian sebagian *e)il dari nama ilmu 7sain8, .itambah*an juga +engetahuan %umaniora 7yang mung*in da+at digolong*an dalam sain sosial8 dalam da tar di atas hanyalah dengan tujuan agar tam+a* leng*a+, 7Bahan diambil dari "nsi*lo+edi (ndonesia8, B, "+istemologi 'ain Pada bagian ini diurai*an obye* +engetahuan sain, )ara mem+eroleh +engetahuan sain dan )ara mengu*ur benar-tida*nya +engetahuan sain, 0, -bje* Pengetahuan 'ain -bje* +engetahuan sain 7yaitu obje*-obje* yang diteliti sain8 ialah semua obje* yang em+iris, @ujun ', 'uriasumantri 7Filsa at (lmu3 'ebuah Pengantar Po+uler, 0;;43 00A8 menyata*an bah/a obje* *ajian sain hanyalah obje* yang berada dalam ruang ling*u+ +engalaman manusia, Bang dima*sud +engalaman di sini ialah +engalaman indera, -bje* *ajian sain haruslah obje*-obje* yang em+iris sebab bu*ti-bu*ti yang harus ia temu*an adalah bu*ti-bu*ti yang em+iris, Bu*ti em+iris ini di+erlu*an untu* menguji bu*ti rasional yang telah dirumus*an dalam hi+otesis, !+a*ah obje* yang boleh diteliti oleh sain itu bebas2 !rtinya, a+a*ah sain boleh meneliti a+a saja asal em+iris2 1enurut sain ia boleh meneliti a+a saja, ia ebas> menurut ilsa at a*an tergantung +ada ilsa at yang mana> menurut agama belum tentu bebas, -bje*-obje* yang da+at diteliti oleh sain banya* se*ali3 alam, tetumbuhan, he/an, dan manusia, serta *ejadian-*ejadian di se*itar alam, tetumbuhan, he/an dan manusia itu> semuanya da+at diteliti oleh sain, .ari +enelitian itulah mun)ul teori-teori sain, Teori-teori itu ber*elom+o* atau di*elom+o**an dalam masing-masing )abang sain, Teori-teori yang telah ber*elom+o* itulah yang saya sebut

stru*tur sain, bai* )abang-)abang sain mau+un isi masing-masing )abang sain tersebut, 2, 9ara 1em+eroleh Pengetahuan 'ain Pengalaman manusia sudah ber*embang seja* lama, Bang da+at di)atat dengan bai* ialah seja* tahun C00-an '1, Bang mula-mula timbul aga*nya ialah +engetahuan ilsa at dan ham+ir bersamaan dengan itu ber*embang +ula +engetahuan sain dan +engetahuan misti*, Per*embangan sain didorong oleh +aham 1uhanisme, %umanisme ialah +aham ilsa at yang mengajar*an bah/a manusia mam+u mengatur dirinya dan alam, %umanisme telah mun)ul +ada 4aman Bunani Dama 7Bunani Kuno8, 'eja* 4aman dahulu, manusia telah mengingin*an adanya aturan untu* mengatur manusia, Tujuannya ialah agar manusia itu hidu+ teratur, %idu+ teratur itu sudah menjadi *ebutuhan manusia seja* dahulu, &ntu* menjamin tega*nya *ehidu+an yang teratur itu di+erlu*an aturan, 1anusia juga +erlu aturan untu* mengatur alam, Pengalaman manusia menunju**an bila alam tida* diatur ma*a alam itu a*an menyulit*an *ehidu+an manusia, 'ementara itu manusia tida* mau di+ersulit oleh alam, Bah*an sebai*nya *alau da+at manusia ingin alam itu mem+ermudah *ehidu+annya, Karena itu harus ada aturan untu* mengatur alam, Bagaimana membuat aturan untu* mengatur manusia dalam alam2 'ia+a yang da+at membuat aturan itu2 -rang Bunani Kuno sudah menemu*an3 manusia itulah yang membuat aturan itu, %umanisme mengata*an bah/a manusia mam+u mengatur dirinya 7manusia8 dan alam, @adi, manusia itulah yang harus membuat aturan untu* mengatur manusia dan alam, Bagaimana membuatnya dan a+a alatnya2 Bila aturan itu dibuat berdasar*an agama atau mitos, ma*a a*an sulit se*ali menghasil*an aturan yang dise+a*ati, Pertama, mitos itu tida* men)u*u+i untu* dijadi*an sumber membuat aturan untu* mengatur manusia, dan *edua, mitos itu amat tida* men)u*u+i untu* dijadi*an sumber membuat aturan untu* mengatur alam, Kalau begitu, a+a sumber aturan itu2 Kalau dibuat berdasar*an agama2 Kesulitannya ialah agama mana2 1asing-masing agama menyata*an dirinya benar, yang lain salah, @adi,

seandainya aturan itu dibuat berdasar*an agama ma*a a*an banya* orang yang menola*nya, Padahal aturan itu seharusnya dise+a*ati oleh semua orang, Begitulah *ira-*ira mere*a ber+i*ir, 1enurut mere*a aturan itu harus dibuat berdasar*an dan bersumber +ada sesuatu yang ada +ada manusia, !lat itu ialah a*al, 1enga+a a*al2 Pertama, *arena a*al diangga+ mam+u, *edua, *arena a*al +ada setia+ roang be*erja berdasar*an aturan yang sama, !turan itu ialah logi*a alami yang ada +ada a*al setia+ manusia, !*al itulah alat dan sumber yang +aling da+at dise+a*ati, 1a*a, %umanisme melahir*an Rasionalisme, Rasionalisme ialah +aham yang mengata*an bah/a a*al itulah alat +en)ari dan +engu*ur +engetahuan, Pengetahuan di)ari dengan a*al, temuannya diu*ur dengan a*al +ula, .i)ari dengan a*al ialah di)ari dengan ber+i*ir logis, .iu*ur dengan a*al artinya diuji a+a*ah temuan itu logis atau tida*, Bila logis, benar> bila tida*, salah, #ah, dengan aal itulah aturan untu* mengatur manusia dan alam itu dibuat, (ni juga berarti bah/a *ebenaran itu bersumber +ada a*al, .alam +roses +embuatan aturan itu, ternyata temuan a*al itu sering*ali bertentangan, Kata seseorang ini logis, teta+i *ata orang lain itu logis juga, Padahal ini dan itu itu tida* sama, bah*an *adang-*adang bertentangan, -rang-orang so+his +ada 4aman Bunani Kuno da+at membu*ti*an bah/a bergera* sama dengan diam, *edua-duanya sama logisnya, !+a*ah ana* +anah yang melesat dari busurnya bergera* atau diam2 .ua-duanya benar, !+a itu bergera*2 Bergera* ialah bila sesuatu +indah tem+at, !na* +anah itu +indah dari busur *e sasaran, @adi, ana* +anah itu bergera*, !na* +anah itu da+at juga dibu*ti*an diam, .iam ialah bila sesuatu +ada sesuatu /a*tu berada +ada suatu tem+at, !na* +anah itu setia+ saat berada di suatu tem+at, @adi, ana* +anah itu diam, (ni +un benar, *arena argumennya juga logis, @adi, bergera* sama dengan diam, sama-sama logis, !+a yang di+eroleh dari *enyataan itu2 Bang di+eroleh ialah ber+i*ir logis tida* menjamin di+erolehnya *ebenaran yang dise+a*ati, Padahal, aturan itu seharusnya dise+a*ati, Kalau begitu di+erlu*an alat lain, !lat itu ialah "m+irisme,

"m+irisisme ialah +aham ilsa at yang mengajar*an bah/a yang benar ialah yang logis dan ada bu*ti em+iris, #ah, dalam hal ana* +anah tadi, menurut "m+irisisme yang benar adalah bergera*, sebab se)ara em+iris da+at dibu*ti*an bah/a ana* +anah itu bergera*, 9oba saja +erut !nda menghadang ana* +anah itu, +erut anda a*an tembus, benda yang menembus sesuatu haruslah benda yang bergera*, Ba, memang, sesuatu yang diam tida* a*an mam+u menembus, Dogis juga, #ah dengan "m+irisisme inilah aturan 7untu* mengatur manusia dan alam8 itu dibuat, Teta+i nanti dulu, ternyata "m+irisisme masih memili*i *e*urangan, Ke*urangan "m+irisisme ialah *arena ia belum teru*ur, "m+irisisme hanya sam+ai +ada *onse+-*onse+ yang umum, Kata "m+irisisme, air *o+i yang baru diseduh ini +anas, nyala a+i ini lebih +anas, besi yang mendidih ini sangat +anas, Kata "m+irisisme, *elereng ini *e)il, bulan lebih besar, bumi lebih besar lagi, matahari sangat besar, .emi*ianlah seterusnya, "m+irisisme hanya menemu*an *onse+ yang si atnya umum, Konse+ itu belum o+erasional, *arena belum teru*ur, @adi, masih di+erlu*an alat lain, !lat lain itu ialah Positi:isme, Positi:isme mengajar*an bah/a *ebenaran ialah yang logis, ada bu*ti em+irisme, yang teru*ur, 5Teru*ur6 inilah sumbangan +enting Positi:isme, @adi, hal +anas tadi oleh Positi:isme di*ata*an air *o+i ini =0 derajat )el)ius, air mendidih ini 000 derajat )el)ius, besi mendidih ini 0000 derajat )el)ius, ini satu meter +anjangnya, ini satu ton beratnya, dan seterusnya, &*uran-u*uran ini o+erasional, *uantitati , tida* memung*in*an +erbedaan +enda+at, 'ebagaimana !nda lihat, aturan untu* mengatur manusia dan aturan untu* mengatur alam yang *ita mili*i se*arang bersi at +asti dan rin)i, @adi, o+erasional, Bah*an dada dan +inggul se*arang ini ada u*urannya, *atanya, ini dalam *erang*a u*uran *e)anti*an, .engan u*uran ini ma*a *ontes *e)anti*an da+at dio+erasi*an, Kehidu+an *ita se*arang +enuh oleh u*uran, Positi:isme sudah da+at disetujui untu* memulai u+aya membuat aturan untu* mengatur manusia dan mengatur alam, Kata Positi:isme, aju*an logi*anya, aju*an bu*ti em+irisnya yang teru*ur, Teta+i bagaimana )aranya2 Kita masih memerlu*an alat lain, !lat lain itu ialah 1etode (lmiah, 'ayangnya, 1etode (lmiah sebenarnya tida* mengaju*an sesuatu yang baru> 1etode (lmiah hanya

mengulangi ajaran Positi:isme, teta+i lebih o+erasional, 1etode (lmiah mengata*an, untu* mem+eroleh +engetahuan yang benar la*u*an lang*ah beri*ut3 logi)o-hy+otheti)o:eri i)arti , 1a*sudnya, mula-mula bu*ti*an bah/a itu logis, *emudian aju*an hi+otesis 7berdasar*an logi*a itu8, *emudian la*u*an +embu*tian hi+otesis itu se)ara em+iris, .engan rumus 1etode (lmiah inilah *ita membuat aturan itu, 1etode (lmiah itu se)ara te*nis dan rin)i menjelas*an dalam satu bidang ilmu yang disebut 1etode Riset, 1etode Riset menghasil*an 1odel-model Penelitian, #ah, 1odel-model Penelitian inilah yang menjadi instansi tera*hir dan memang o+erasional dalam membuat aturan 7untu* mengatur manusia dan alam8 tadi, .engan mengguna*an 1odel Penelitian tertentu *ita mengada*an +enelitian, %asil-hasil +enelitian itulah yang *ita /arisi se*arang beru+a tum+u*an +engetahuan sain dalam berbagai bidang sain, (nilah sebagian dari isi *ebudayaan manusia, (si *ebudayaan yang leng*a+ ialah +engetahuan sain, ilsa at dan misti*, &rutan dalam +roses ter/ujudnya aturan se+erti yang diurai*an di atas ialah sebagai beri*ut3 %umanismeRasionalisme"m+irismePositi:isme1etode (lmiah1etode Riset1odel-model Penelitian!turan untu*1engatur !lam!turan untu*1engatur 1anusia

3, &*uran Kebenaran Pengetahuan 'ain (lmu berisi teori-teori, @i*a !nda mengambil bu*u (lmu 7sain8 Pendidi*an, ma*a !nda a*an menemu*an teori-teori tentang +endidi*an, (lmu Bumi membi)ara*an teori-teori tentang bumi, (lmu %ayat membahas teori-teori tentang ma*hlu* hidu+, .emi*ian seterusnya, @adi, isi ilmu ialah teori, @i*a *ita bertanya a+a u*uran *ebenaran sain, ma*a yang *ita tanya ialah a+a u*uran *ebenaran teori-teori sain, !da teori 'ain "*onomi3 bila +ena/aran sedi*it, +ermintaan banya*, ma*a harga a*an nai*, Teori ini sangat *uat, *arena *uatnya ma*a ia diting*at*an menjadi hu*um, disebut hu*um +ena/aran dan +ermintaan, Berdasar*an hu*um ini, ma*a barang*ali benar dihi+otesis*an3 @i*a hari hujan terus, mesin +emanas gabah tida* dia*ti *an, ma*a harga beras a*an nai*, &ntu* membu*ti*an a+a*ah hi+otesis itu benar atau salah, *ita )u*u+ mela*u*an dua lang*ah, Pertama, *ita uji a+a*ah teori itu logis2 !+a*ah logis ji*a hari hujan terus harga gabah a*an nai*2 @i*a hari hujan terus, ma*a orang tida* da+at menjemur +adi, +ena/aran beras a*an menurun, jumlah orang yang memerlu*an teta+, orang berebutan membeli beras, *esem+atan itu diman aat*an +edagang beras untu* mem+eroleh untung sebesar mung*in, ma*a harga beras a*an nai*, @adi, logislah bila hujan terus harga beras a*an nai*, %i+otesis itu lolos ujian +ertama, uji logi*a, Kedua, uji em+iris, !da*an e*s+erimen, Buatlah hujan buatan selama mung*in, mesin +emanas gabah tida* dia*ti *an, beras dari daerah lain tida* masu*, Peri*sa +asar, !+a*ah harga beras nai*2 'e)ara logi*a seharusnya nai*, .alam *enyataan mung*in saja tida* nai*, misalnya *arena orang mengganti ma*annya dengan selain beras, @i*a e*s+erimen itu di*ontrol dengan *etat, hi+otesis tadi +asti didu*ung oleh *enyataan, @i*a didu*ung oleh *enyataan 7beras nai*8 ma*a hi+otesis itu menjadi teori, dan teori itu benar, *arena ia logis dan em+iris, @i*a hi+otesis terbu*ti, ma*a +ada saatnya ia menjadi teori, @i*a sesuatu teori selalu benar, yaitu ji*a teori itu selalu didu*ung bu*ti em+iris, ma*a teori itu nai* ting*at *eberadaannya menjadi hu*um atau a*sioma, !ga*nya banya* mahasis/a menyang*a bah/a hi+otesis bersi at mung*in benar mung*in salah, dengan *ata lain, hi+otesis itu *emung*inan benar atau salahnya sama besar, i ty- i ty, Prasang*aan itu salah,

%i+otesis 7dalam sain8 ialah +ernyataan yang sudah benar se)ara logi*a, teta+i belum ada bu*ti em+irisnya, Belum atau tida* ada bu*ti em+iris bu*anlah meru+a*an bu*ti bah/a hi+otesis itu salah, %i+otesis benar, bila logis, titi*, !da atau tida* ada bu*ti em+irisnya adalah soal lain, .ari sini tahulah *ita bah/a *elogisan suatu hi+otesis juga teori lebih +enting *etimbang bu*ti em+irisnya, %ara+ di)atat, bah/a *esim+ulan ini +enting, 9, !*siologi 'ain Pada bagian ini dibi)ara*an tiga hal saja, +etama *egunaan sain> *edua, )ara sain menyelesaian masalah> *etiga, netralitas sain, 'ebenarnya, yang *edua itu meru+a*an )ontoh a+li*asi yang +ertama, 0, Kegunaan Pengetahuan 'ain !+a guna sain2 Pertanyaannya sama dengan a+a guna +engetahuan ilmiah *arena sain 7ilmu8 isinya teori 7ilmiah8, 'e)ara umum, teori artinya +enda+at yang beralasan, !lasan itu da+at beru+a argumen logis, ini teori ilsa at> beru+a argumen +erasaan atau *eya*inan dan *adang*adang em+iris, ini teori dalam +engetahuan misti*> beru+a argumen logis-em+iris, ini teori sain, 'e*urang-*urangnya ada tiga *egunaan teori sain3 sebagai alat membuat e*s+lanasi, sebagai alat +eramal, dan sebagai alat +engontrol, 08 Teori 'ebagai !lat "*s+alanasi Berbagai sain yang ada sam+ai se*arang ini se)ara umum ber ungsi sebagai alat untu* membuat e*s+lanasi *enyataan, 1enurut T, @a)ob 71anusia, (lmu dan Te*nologi, 0;;33 <-=8 sain meru+a*an suatu sistem e*s+lanasi yang +aling da+at diandal*an dibanding*an dengan sistem lainnya dalam memahami masa lam+au, se*arang, serta mengubah masa de+an, Bagaimana )ontohnya2 !*hir tahun 0;;< di (ndonesia terjadi gejola* moneter, yaitu nilai ru+iah sema*in murah dibanding*an dengan dolar 7*urs ru+iah terhada+ dolar menurun8, $ejala ini telah memberi*an dam+a* yang )u*u+ luas terhada+ *ehidu+an di (ndonesia, $ejalanya ialah harga sema*in tinggi, Bagaimana menerang*a gejala ini2 Teori-teori e*onomi 7mung*in juga +oliti*8 da+at menerang*an 7menge*s+lanasi*an8 gejala itu, &ntu* mudahnya, teori e*onomi mengata*an r

*arena banya*nya utang luar negeri jatuh tem+o 7harus dibayar8, hutang itu harus dibayar dengan dolar, ma*a banya* se*ali orang yang memerlu*an dolar, *arena banya* orang membeli dolar, ma*a harga dolar nai* dalam ru+iah, #ah, ini baru sebagian gejala itu yang die*s+lanasi*an, 'e*ali+un baru sebagian, namun gejala itu telah da+at di+ahami ala *adarnya, sesuai dengan a+a yang telah die*s+lanasi*an itu, !da orang tiga bersaudara, dua la*i-la*i dan satu +erem+uan, 1ere*a na*al, sering mabu*, membuat *eonaran, sering bolos se*olah, tida* nai* *elas, +indah-+indah se*olah, 1ere*a ditinggal oleh *edua orang tuanya, ayah dan ibunya masing-masing *a/in lagi dan +indah *e tem+at barunya masing-masing, Biaya hidu+ tiga bersaudara itu bersama +embantu mere*a, tida* *urang, .a+at*ah !nda membuat e*s+lanasi menga+a ana*-ana* itu na*al2 !nda a*an da+at menjelas*an 7menge*s+lanasi*an8 ji*a !nda menguasai teori yang ma+u menjelas*an gejala 7na*al8 itu, 1enurut teori 'ain Pendidi*an, ana*-ana* yang orang tuanya )erai 7biasanya disebut bro*en home8, +ada umumnya a*an ber*embang menjadi ana* na*al, Penyebabnya ialah *arena ana*-ana* itu tida* menda+at +endidi*an yang bai* dari *edua orang tuanya, Padahal +endidi*an dari *edua orang tua amat +enting dalam +ertumbuhan ana* menuju de/asa, 'ebenarnya saya amat tertari* membi)ara*an to+i* ini> senang se*ali rasanya menambah*an banya* )ontoh lain, teta+i *edua )ontoh itu aga*nya men)u*u+i untu* menjelas*an *egunaan teori sebagai alat membuat e*s+lanasi, 28 Teori 'ebagai !lat Peramal Tat*ala membuat e*s+lanasi, biasanya ilmu/an telah mengetahui juga a*tor +enyebab terjadinya gejala itu, .engan 5menguta*-ati*6 a*tor +enyebab itu, ilmu/an da+at membuat ramalan, .alam bahasa *aum ilmu/an ramalan itu disebut +redi*si, untu* membeda*annya dari ramalan du*un, .alam )ontoh *urs dolar tadi, dengan mudah orang ahli meramal, 1isalnya, *arena bulanbulan mendatang hutang luar negeri jatuh tem+o sema*in banya*, ma*a di+redi*si*an *urs ru+iah terhada+ dolar a*an sema*in lemah, Ramalah lain da+at +ula dibuat, misalnya, harga barang dan jasa +ada bulan-bulan mendatang a*an nai*, Pada )ontoh dua tadi da+at +ula dibuat ramalan, 1isalnya,

+ada musim +a)e*li* ini banya* +asangan suami istri yang )erai, ma*a diramal*an *ena*alan remaja a*an mening*at, Ramalan lain3 a*an sema*in banya* remaja +utus se*olah, a*an sema*in banya* sis/a yang tia* nai* *elas, Te+at dan banya*nya ramalan yang da+at dibuat oleh ilmu/an a*an ditentu*an oleh *e*uatan teori yang ia guna*an, *e+andaian dan *e)erdasan> dan *etersediaan data di se*itar gejala itu, 38 Teori 'ebagai !lat Pengontrol "*s+lanasi meru+a*an bahan untu* membuat ramalan dan *ontrol, (lmu/an, selain mam+u membuat ramalan berdasar*an e*s+lanasi gejala, juga da+at membuat *ontrol, Kita ambil lagi )ontoh tadi, !gar *urs ru+iah menguat, +erlu ditangguh*an +embayaran hutang yang jatuh tem+o, jadi, +embayaran utang diundur, !+a yang di*ontrol2 Bang di*ontrol ialah *urs ru+iah terhada+ dolar agar tida* nai*, Kontrolnya ialah *ebutuhan terhada+ dolar di*urangi dengan )ara menangguh*an +embayaran hutang dalam dolar, !gar *ontrol lebih e e*ti sebai*nya *ontrol tida* hanya satu ma)am, .alam *asus e*onomi ini da+at *ita tambah *ontrol, um+amanya menangguh*an +embangunan +roye* yang memerlu*an bahan im+ort, Kontrol sebenarnya meru+a*an tinda*an-tinda*an yang diduga da+at men)egah terjadinya gejala yang tida* dihara+*an atau gejala yang memang dihara+*an, !yah dan ibu sudah )erai, .i+redi*si3 ana*-ana* mere*a a*an nai*, !da*ah u+aya yang e e*ti agar ana*-ana* itu tida* na*al2 !da, u+aya itulah yang disebut *ontrol, .alam *asus ini mung*in +amannya, bibinya, atau *a*e*nya, da+at mengganti ungsi ayah dan ibunya mere*a, Perbedaan +redi*si dan *ontrol ialah +redi*si bersi at +asi > tat*ala ada *ondisi tertentu, ma*a *ita da+at membuat +redi*si, misalnya a*an terjadi ini, itu, begini atau begitu, 'edang*an *ontrol bersi at a*ti > terhada+ sesuatu *eadaan, *ita membuat tinda*an atau tinda*an-tinda*an agar terjadi ini, itu, begini atau begitu, 2, 9ara 'ain 1enyelesaian 1asalah

(lmu atau sain yang isinya teori dibuat untu* memudah*an *ehidu+an, Bila *ita menghada+i *esulitan 7biasanya disebut masalah8, *ita menghada+i dan menyelesai*an masalah itu dengan mengguna*an ilmu 7sebenarnya mengguna*an teori ilmu8, .ahulu orang mengambil air di ba/ah bu*it, orang 'unda menyebutnya di leba*, Tat*ala a*an mengambil air, orang melalui jalan menurun sambil memba/a /adah air, Tat*ala +ulang ia melalui jalan menanja* sambil memba/a /adah yang berisi air, (tu menyulit*an *ehidu+an, &ntu* memudah*an, orang membuat sumur, !ir tida* lagi harus diambil di leba*, !ir da+at diambil dari sumur yang da+at dibuat de*at rumah, 1embuat sumur memerlu*an ilmu, Teta+i sumur masih menyusah*an *arena masih harus menimba, *adang-*adang sumur amat dalam, -rang men)ari teori agar air lebih mudah diambil, Dantas orang mengguna*an +om+a air yang digera**an dengan tangan, 1asih susah juga, orang lantas mengguna*an mesin, 'e*arang air dengan mudah di+eroleh, hanya memutar *ran, (lmu memudah*an *ehidu+an, 'eja* *am+ung itu berdiri ratusan tahun yang lalu, sam+ai tahun-tahun bela*angan ini +endudu*nya hidu+ dengan tenang, Tida* ada *ena*alan, !na*-ana* dan remaja begitu bai*nya, tida* ber*elahi, tida* mabu*-mabu*an, tida* men)uri, tida* membohongi orang tuanya, 'enang se*ali bermu*im di *am+ung itu, Tiba-tiba jalan raya melintas *am+ung itu, Distri* di+asang, +endudu* menda+at listri* dengan harga murah, Pendudu* senang, Bebera+a tahun *emudian, ana* mere*a na*al, !na* remaja sering ber*elahi, sering mabu*, sering men)uri, sering membohongi orang tuanya, Pendudu* sering bertanya 51enga+a *eadaan begini26 1ere*a menghada+i masalah, 1ere*a memanggil ilmu/an, meminta bantuannya untu* menyelesai*an masalah yang mere*a hada+i, !+a yang a*an dila*u*an oleh ilmu/an itu2 Ternyata ia mela*u*an lang*ahlang*ah sebagai beri*ut3 Pertama, ia mengidenti i*asi masalah, (a ingin tahu se+erti a+a *ena*alan remaja yang ada di *am+ung itu, (a ingin tahu lebih dahulu, se)ara +ersis, misalnya bera+a orang, sia+a yang na*al, malam atau hari a+a saja *ena*alan itu

dila*u*an, +enyebab mabu*, ber*elahi dengan sia+a, dan a+a +enyebabnya, dan sebagainya, (a ingin tahu sebanya*-banya*nya atau seleng*a+-leng*a+nya tentang *ena*alan yang di)erita*an oleh orang *am+ung *e+adanya, ia seolah-olah tida* +er)aya begitu saja +ada la+oran orang *am+ung tersebut, (a mengidenti i*asi masalah itu, (denti i*asi biasanya dila*u*an dengan )ara mengada*an +enelitian, %asil +enelitian itu ia analisis untu* mengetahui se)ara +ersis segala sesuatu di se+utar *ena*alan itu tadi, Kedua, ia men)ari teori tentang sebab-sebab *ena*alan remaja, Biasanya ia )ari dalam literatur, (a menemu*an ada bebera+a teori yang menjelas*an sebab-sebab *ena*alan remaja, .iantara teori itu ia +ilih teori yang di+er*ira*annya +aling te+at untu* menyelesai*an masalah *ena*alan remaja di *am+ung itu, 'e*arang ia tahu +enyebab *ena*alan remaja di *am+ung itu, Ketiga, ia *embali memba)a literatur lagi, 'e*arang ia men)ari teori yang menjelas*an )ara mem+erbai*i remaja na*al, .alam bu*u ia ba)a, bah/a mem+erbai*i remaja na*al harus disesuai*an dengan +enyebabnya, (a sudah tahu +enyebabnya, ma*a ia usul*an tinda*antinda*an yang harus dila*u*an oleh +emim+in, guru, organisasi +emuda, ustad4, orang tua remaja dan +olisi serta +enega* hu*um, .emi*ian biasanya )ara ilmu/an menyelesai*an masalah yang dihada+i, (tu adalah )erita tentang )ara sain menyelesai*an masalah, 9ara ilsa at dan misti* tentu lain lagi, Dang*ah ba*u sain dalam menyelesai*an masalah3 identi i*asi masalah, men)ari teori, meneta+*an tinda*an +enyelesaian, @anganlah henda*nya terlalu mengandal*an sain tat*ala timbul masalah, !da dua sebab, Pertama, belum tentu teori sain yang ada mam+u menyelesai*an masalah yang dihada+i, Teori itu mung*in memadai +ada 4aman tertentu, diguna*an untu* menghada+i masalah yang sama +ada 4aman yang lain, belum tentu teori itu e e*ti , Kedua, belum tentu setia+ masalah tersedia teori untu* menyelesai*annya, 1asalah selalu ber*embang lebih )e+at dari+ada +er*embangan teori, (lmu *ita ternyata tida* +ernah men)u*u+i untu* menyelesai*an masalah demi masalah yang dihara+*an *e+ada *ita, !+abila sain gagal menyelesai*an suatu masalah yang diaju*an *e+adanya, ma*a sebai*nya masalah itu dihada+*an *e ilsa at, mung*in ilsa at

mam+u menyelesai*annya, Tentu dengan )ara ilsa at atau mung*in +engetahuan misti* da+at membantu, Bang terbai* ialah setia+ masalah diselesai*an se)ara bersama-sama oleh sain, ilsa at dan misti*, yang be*erjasama se)ara ter+adu, 3, Bonus #etralitas 'ain Pada tahun 0;<0-an terjadi +olemi* antara 1u*ti !lin 7(!(# Bogya*arta8 dengan 'adali 7(TB8, 1u*ti !li menyata*an bah/a sain itu netral, sementara 'adali ber+enda+at sain tida* netral, Ternyata 1u*ti !li hanya meman)ing, ia tida* sungguh-sungguh ber+enda+at begitu, .alam ujaran 1u*ti !li, /a*tu itu, sain itu netral, se+erti +isau, diguna*an untu* a+a saja itu terserah +enggunannya, Pisau itu da+at diguna*an untu* membunuh 7salah satu +erbuatan jahat8 dan da+at juga diguna*an untu* +erbuatan lain yang bai*, Begitulah teori-teori sain, ia da+at diguna*an untu* *ebai*an dan da+at +ula untu* *ejahatan, Kira-*ira begitulah +engertian sain netral itu, #etral biasanya diarti*an tida* memiha*, .alam *ata 5sain netral6 +engertian itu juga ter+a*ai, !rtinya3 sain tida* memiha* +ada *ebai*an dan tida* juga +ada *ejahatan, (tulah sebabnya istilah sain netral sering diganti dengan istilah sain bebas nilai, #ah, bebas nilai 7:alue ree8 itulah yang disebut sain netral> sedang*an la/annya ialah sain teri*at, yaitu teri*at nilai 7:alue bound8, 'e*arang, mana*ah yang benar, a+a*ah sain seharusnya :alue ree atau :alue bound2 !+a*ah sain itu sebai*nya bebas nilai atau teri*at nilai2 Pemba)a yang terhormat, *etahuilah bah/a +ersoalan ini bu*anlah +ersoalan *e)il, (a +ersoalan besar *arena banya* se*ali as+e* *ehidu+an manusia yang diatur se)ara langsung oleh sain, @adi, +aham bah/a sain itu netral atau sain itu teri*at 7tida* netral, memiha*8, a*an mem+engaruhi *ehidu+an manusia se)ara langsung, Karena itu sebai*nya *ita berhati-hati dalam meneta+*an +aham *ita tentang ini, !+a untungnya bila sain netral2 Bila sain itu *ita angga+ netral, atau *ita mengata*an bah/a sain sebai*nya netral *euntungannya ialah +er*embangan sain a*an )e+at terjadi, Karena tida* ada yang menghambat atau menghalangi tat*ala +eneliti 708 memilih dan meneta+*an obje* yang henda* diteliti, 728 )ara meneliti, dan 738 tat*ala mengguna*an +rodu* +enelitian,

-rang yang mengangga+ sain tida* netral, a*an dibatasi oleh nilai dalam 708 memilih obje* +enelitian, 728 )ara meneliti, dan 738 mengguna*an hasil +enelitian, Tat*ala a*an meneliti *erja jantung manusia, orang yang beraliran sain tida* netral a*an mengambil mung*in jantung *elin)i atau jantung he/an lainnya yang +aling miri+ dengan manusia, -rang yang beraliran sain netral mung*in a*an mengambil orang gelandangan untu* diambil jantungnya, -rang yang beraliran sain :alue bound, dalam e+istemologi a*an meneliti jantung itu tida* dengan menya*iti *elin)i itu, sementara orang yang menganut sain :alue ree tida* a*an mem+eduli*an a+a*ah subje* +enelitian menderita atau tida*, -rang yang beraliran sain netral a*an mengguna*an hasil +enelitian itu se)ara bebas, sedang orang yang berma4hab sain teri*at a*an mengguna*an +rodu* itu hanya untu* *ebai*an saja, @adi, +ersoalan netralitas sain itu terda+at bai* +ada e+istemologi, mau+un a*siologi sain, 'ebenarnya dalam ontologi +un demi*ian, .alam )ontoh di atas obje* dan metode +enelitian adalah e+istemologi, sedang +enggunaan hasil +enelitian adalah a*siologi, -ntologinya ialah teori yang ditemu*an itu, -ntologi itu +un netral, ia tida* boleh mela/an nilai yang diya*ini *ebenarannya oleh +eneliti, !+a *erugiannya bila *ita ambil +aham sain netral2 Bila *ita +aham sain netral2 Bila *ita +ilih +aham sain netral ma*a *erugiannya ialah ia a*an mela/an *eya*inan, misalnya *eya*inan yang berasal dari agama, Per)obaan +ada manusia mung*in a*an diarti*an sebagai +enyi*saan *e+ada manusia, 1a*a, +enganut sain tida* netral a*an memilih obje* +enelitian yang miri+ dengan manusia, &ntu* melihat +roses re+rodu*si, tentu harus ada +ertemuan antara s+erma an o:um, &ntu* itu +eneliti dari *alangan +enganut sain netral tida* a*an *eberatan mengambil se+asang lela*i-+erem+uan yang belum ni*ah untu* mengada*an hubungan *elamin yang dari situ diamati bertemunya s+erma dan o:um, Peneliti yang menganut sain tida* netral a*an mela*u*an itu terhada+ +asangan yang telah meni*ah, (ni +ada as+e* e+istemologi, Bang +aling merugi*an *ehidu+an manusia ialah bila +aham sain netral itu telah menera+*an +ahamnya +ada as+e* a*siologi, 1ere*a da+at saja

mengguna*an hasil +enelitian mere*a untu* *e+erluan a+a+un tan+a +ertimbangan nilai, Paham sain netral sebenarnya telah mela/an atau menyim+ang dari ma*sud +en)i+taan sain, Tadinya sain dibuat untu* membantu manusia dalam menghada+i *esulitan hidu+nya, Paham ini sebenarnya telah berma*na bah/a sain itu tida* netral, sain memiha* +ada *egunaan membantu manusia menyelesai*an *esulitan yang dihada+i oleh manusia, 'ementara itu, +aham sain netral justru a*an memberi*an tambahan *esulitan bagi manusia, Kata *un)i terleta* dalam a*siologi sain, yaitu ini3 tat*ala +eneliti a*an membuat teori, sebenarnya ia telah berniat a*an membantu manusia menyelesai*an masalah dalam *ehidu+annya, menga+a justru temuannya menambah masalah bagi manusia2 Karena ia menganut sain netral +adahal seharusnya ia menganut sain tida* netral, Berdasar*an uraian sederhana di atas da+atlah ditari* *esim+ulan bah/a yang +aling bija*sana ialah *ita memiha* atau memilih +aham bah/a sain tida*lah netral, 'ain itu bagian dari *ehidu+an, sementara *ehidu+an itu se)ara *eseluruhan tida*lah netral, Paham sain tida* netral adalah +aham yang sesuai dengan ajaran semua agama dan sesuai +ula dengan niat ilmu/an tat*ala men)i+ta*an teori sain, @adi, sebenarnya tida* ada jalan bagi +enganut sain netral, Beri*ut di*uti+*an sebagian dari tulisan Pro , %erman 'oe/ardi, guru besar Filsa at (lmu &ni:ersitas Padjadjaran Bandung, Kuti+an ini da+at diguna*an untu* menambah bahan +ertimbangan dalam menentu*an a+a*ah sain sebai*nya netral atau tida* netral, 1enurut %erman 'oe/ardi 7-rasi (lmiah +ada .ies #atalis (!(# 'unan $unung .jati Bandung *e-3C = !+ril 20048, dari sudut +andang e+istemologi, sain terbagi dua, yaitu 'ain Formal dan 'ain "m+eri*al, 1enurutnya, 'ain Formal itu berada di +i*iran *ita yang beru+a *ontem+lasi dengan mengguna*an simbol-simbol, meru+a*an im+li*asi-im+li*asi logis yang tida* ber*esudahan, 'ain Formal itu netral *arena ia berada di dalam *e+ala *ita dan ia diatur oleh hu*um-hu*um logi*a,

!da+un 'ain "m+eri*al, ia tida* netral, 'ain "m+eri*al meru+a*an /ujud *on*ret, yaitu jagad raya ini, isinya ialah jalinan-jalinan sebab a*ibat, 'ain "m+eri*al itu tida* netral *arena dibangun oleh +a*ar berdasar*an +aradigma yang menjadi +ija*annya, dan +ija*annya itu meru+a*an hasil +enginderaan terhada+ jagad raya, Benar bah/a 'ain "m+eri*al itu terdiri atas logi*a 7jalinan sebab a*ibat8, namun ia dimulai dari suatu +ija*an yang berma)amma)am, Pija*an itu tentulah nilai, 1a*a si atnya tida* netral, Tida* netral *arena di+engaruhi oleh +ija*annya itu, 'elanjutnya %erman 'oe/ardi menambah*an uraian beri*ut, Barang*ali *ita menyang*a bah/a *ausalitas itu dimana-mana sama, biasanya dirumus*an dalam bentu* +ro+osisi E menyebab*an B 7E B8, 1emang begitu, #amun, bila diamati lebih dalam, ternyata hal itu tida*lah sederhana itu, Bai*lah *ita +eri*sa +andangan .a:id %ume, (mmanuel Kant dan !l$ha4ali, .a:id %ume mengata*an bah/a dalam alam +i*iran "m+iri)isme tida* da+at dibenar*an adanya generalisasi sam+ai mun)ulnya hu*um E B, .ari suatu *ejadian sam+ai menjadi hu*um 7teori8 di+erlu*an adanya medium yang beru+a reasoning jalinan sebab a*ibat yang banya* se*ali, .an reasoning itu tida* mung*in, Tida* mung*in *arena rumitnya itu, Karena itu, hanyalah *ebiasaan orang saja 7tida* ada dasar logi*anya8 untu* menyim+ul*an setia+ E a*an dii*uti B, Penda+at ini ter*enal dengan istilah s*e+tisisme %ume, @adi, menurut %ume, sebab a*ibat itu sebenarnya tida*lah di*etahui, (mmanuel Kant membantah s*e+tisisme %ume itu dengan mengata*an bah/a ada +engetahuan bentu* *etiga, yaitu a +riori sinteti*, (ni menurut %erman 'oe/ardi, adalah suatu jalinan sinteti* yang sudah ada, yang *eadaannya itu diterang*an oleh Kant se)ara transendental, (nilah medium yang di)ari oleh %ume, yang bagi orang (slam jalinan sinteti* itu adalah )i+taan Tuhan yang sudah ada seja* semula, 'uatu *ejadian E F B sebenarnya terjadi di atas medium itu, *ejadian E F B itulah yang selanjutnya menjadi hu*um yang general, Tam+a* +ada *ita bah/a dengan mengi*uti a)ara "m+erisisme, sia+a+un tida* a*an mam+u menunju**an medium itu, 'ehubungan dengan ini Kant mengata*an bah/a Tuhan lah yang men)i+ta*an medium tersebut,

Tentang *emaha*uasaan Tuhan itu !l-$ha4ali menyata*an lebih tandas lagi sehubungan dengan hu*um E F B, Kata !l-$ha4ali, *e*uatan E menghasil*an B bu*an +ada atau mili* E itu, melain*an +ada atau mili* Tuhan, Bila *a+as dileta**an di atas a+i, *e*uatan untu* terjadinya terba*ar atau tida* terba*ar *a+as itu bu*an +ada a+i melain*an +ada Tuhan, Terba*arnya *a+as oleh a+i meru+a*an suatu regularitas atau *ebiasaan atau adat, adat itu dari Tuhan, namun +ada *ejadian *husus se+erti +ada #abi (brahim, a+i tida* memba*ar, Karena Tuhan +ada /a*tu itu tida* memberi*an *e*uatan memba*ar +ada a+i, (ni meru+a*an hu*um *ausalitas yang sangat undamental, bah/a *e*uatan +ada +enyebab 7E8 adalah *e*uatan Tuhan, 'e*arang, istilah yang mendunia untu* menyata*an *e*uatan Tuhan itu ialah a*tor G, Ke*uatan dari atau +ada Tuhan itu, bai*lah *ita sebut a*tor G, menghasil*an suatu +engertian bah/a *ausalitas itu si atnya berubah dari )u*u+ 7su i)ient8 menjadi tergantung 7)ontingent8 +ada a*tor lain 7dalam hal ini Tuhan8, .ari *esim+ulan itu a*an mun)ul *esim+ulan lain, yaitu *ausalitas atau lin*age menjadi bergeser dari tida* mem+erhitung*an *ehenda* Tuhan *e mem+erhitung*an *ehenda* Tuhan, .ari sini mun)ul bebera+a +ergeseran, yaitu3 ? .ari deterministi* 7+asti8 bergeser *e sto*asti* 7mung*in8> ? .ari sebab a*ibat terjadi +ada /a*tu yang sama *e sebab a*ibat terjadi +ada /a*tu yang berlainan> ? .ari )u*u+ 7su i)ient8 bergeser *e tergantung 7)ontingent8 +ada a*tor G> ? .ari nis)aya 7ne)essary8 bergeser *e berganti 7sustitutable8, 'ain Formal di*ata*an netral *arena hu*um-hu*umnya bu*an dibuat oleh manusia, %u*um-hu*umnya dibuat oleh Tuhan, %u*um-hu*umnya itu ada di dalam *e+ala *ita, !da+un 'ain "m+eri*al, ia tida* netral, Tida* netral *arena ia dibangun berdasar*an +ija*an seseorang +a*ar yang mung*in berada dengan +a*ar lain, Tentang ini Thomas Kuhn memberi*an e*s+lanasi sebagai beri*ut,

#-R1!D'9("#9" 0#etral2!#-1!D(#-R1!D'9("#9" 2#etral2 KR('('!#-1!D(#-R1!D'9("#9" 3#etral2KR('('.&D&K(#(K"D!KP!R!.($1! 0P!R!.($1! 2P!R!.($1! 3

'ain "m+eri*al disebut Kuhn 'ain #ormal 7#ormal ')ien)e8, 'ain #ormal mun)ul dari +aradigma, yaitu suatu +ija*an, dari seseorang +a*ar, .alam +er*embangannya 'ain #ormal mengahada+i enomena yang tida* da+at diterang*an oleh teori sain yang ada, ini disebut anomali, 'elanjutnya anomali ini menimbul*an *risis 7*etida*+er)ayaan +ara +a*ar terhada+ teori itu8 sehingga a*an timbul +aradigma baru atau +ija*an baru, (nilah +er*embangan sain, berubah dari +aradigma yang satu *e +aradigma yang lain, Karena itu 'ain #ormal itu tida* netral, 1asalah utama 'ain #ormal ialah masalah +enginderaan, Padahal *ita tahu bah/a metode andalan bah*an metode satu-satunya bagi 'ain #ormal ialah obser:asi 7dalam arti luas8, sementara obser:asi itu sangat mengandal*an +enginderaan, Teta+i +ada +enginderaan inilah *elemahan utama 'ain #ormal, 1enurut )ara ber+i*ir "m+irisisme +enginderaan adalah modal undamental bagi manusia untu* mengetahui jagad raya, Teta+i, se+erti di*ata*an Kuhn, yang orang *etahui itu tida*lah bersi at teta+, melain*an sementara dan a*an berubah setelah terjadi anomali, Kini +ertanyaannya ialah3 1enga+a +engideraan itu ada )a)atnya sehingga +enda+at +ara +a*ar itu sering tida* sama dan sering berubah2 (ni dija/ab oleh Ri)hard Tarnas, Tarnas mengata*an bah/a di de+an mata manusia itu ada 5lensa6 yang mem ilter +englihatan 5lensa6 itu di+engaruhi oleh nilai, +engalaman, *eterbatasan, trauma dan hara+an, 1a*a, *ata Tarnas, sama dengan Kant, yang ada di bena* manusia itu bu*anlah jagad raya yang sebenarnya melain*an sesuatu jagad raya )i+taan manusia itu, Karena itu *ausalitas yang dibangun oleh a*al manusia itu menjadi *ausalitas yang terlalu sederhana, Bila manusia mengubah jagad raya 7jagad raya buatannya8, memang manusia a*an mem+eroleh a+a yang dihara+*annya, a*an teta+i sering*ali disertai

oleh a*ibat-a*ibat yang tida* dihara+*annya, Kejadian ini 7mun)ul a*ibat yang tida* dihara+*an8 disebut antiteti*al dan a*ibat-a*ibat yang beru+a antiteti*al inilah yang menimbul*an *erusa*an-*erusa*an di +lanet *ita se+erti bolongnya la+isan o4on, Ke*urangan dalam +enginderaan manusia itu, menurut %erman 'oe/ardi, da+at disem+urna*an oleh irman Tuhan, 1enurut %erman 'oe/ardi, bila 'ain #ormal itu netral ia a*an menimbul*an 3R 7resah, renggut, rusa*8, Kaya*nya se*arang *ita telah menya*si*an *ebenaran thesis %erman 'oe/ardi itu, Karena itu thesis tersebut +erlu menda+at +erhatian, Krisis 'ain 1odern 'ain modern ialah sain em+iri*al, yaitu sain normal menurut Kuhn, Tulisan ini esensinya diambil dari bu*u %erman 'oe/ardi Tiba 'aatnya (slam Kembali Ka ah Kuat dn Berijtihad 7'uatu Kognisi Baru tentang (slam8, 0;;;, Bagian Tiga Bab 04 yang berjudul Tarnas The 9isis o 1odern ')ien)e, Pada tahun 0;;3, bu*u Tarnas yang berjudul The Passion o the Hestern 1ind, terbit, .alam bu*u itu ada sebuah bab yang berjudul The 9risis o 1odern ')ien)e, 1enurut Tarnas, sedi*itnya ada enam hal yang menari* +erhatian tentang sain modern, Pertama, +ostulatat dasar sain modern ialah s+a)e, matter, )ausality, dan obser:ation, ternyata semuanya dinyata*an tida* benar, Kedua, dianutnya +enda+at Kant bah/a yang orang *ata*an jagad raya, bu*anlah jagad raya yang sebenarnya, teta+i jagad raya sebagaimana di)i+ta*an oleh +i*iran manusia, Ketiga, determinisme #e/ton *ehilangan dasar, orang +indah *e sto)hasti), Keem+at, +arti*el-+arti*el sub-atomati* terbu*a untu* inter+retsi s+iritual, Kelima, adanya un)ertainty sebagaimana ditemu*an oleh %eisenberg, Keenam, *erusa*an e*ologi dan atmos ir yang menyeluruh yang disebut Tarnas +lanetary e)ologi)al )risis, .ari enam hal yang menari* di atas Tarnas menyim+ul*an bah/a orang merasa tahu tentang jagad raya, +adahal tida*3 tida* ada jaminan orang da+at tahu> yang di*ata*an jagad raya sebenarnya menunju**an hubungan orang dengan jagad raya itu, atau jagad raya sebagaimana di)i+ta*an oleh orang itu, a r

Tentu saja *esim+ulan Tarnas itu sangat menggetar*an, 1enga+a sam+ai demi*ian2 Tarnas menja/ab sendiri3 Dandasan ilmiah untu* menggambar*an jagad raya dalam sain modern adalah sangat terbatas bah*an landasan itu )u*u+ berbahaya, 1a*a *ita bertanya, bagaimana *elanjutan sain modern itu bila +ostulat-+ostulat dasarnya dibu*ti*an tida* benar, dan terutama bila landasan ilmiahnya terbatas bah*an berbahaya2 Teta+i bai*lah *ita lihat lebih rin)i mengenai *esalahan-*esalahan sain modern itu, Pertama, tentang s+a)e atau jagad raya, Pandangan se*arang yang berla*u ialah bah/a s+a)e itu terbatas 7 inite8, teta+i le+as bentu*nya leng*ung 7tida* linier8 sehingga garis edar bendabenda ang*asa berbentu* eli+s, bu*an *arena tertari* gra:itasi *e arah matahari melain*an memang bentu*nya leng*ung, Kini, berla*u +andangan em+at dimensi s+a)e-time, bu*an hanya tiga se+erti +ada geometri "u)led, @agad raya yang *ita *etahui bu*anlah jagad raya yang sebenarnya, ia adalah jagad raya )i+taan manusia, (nilah +andangan Kant, 'e*arang, terbu*ti +enemuan-+enemuan +ada me*ani*a *uantum menyo*ong +andangan Kant itu, 1a*a, yang di*ata*an jagad raya 7s+a)e8 itu hanyalah hubungan manusia dengan jagad raya, atau jagad raya sebagaimana tam+a* menurut a+a yang di+ertanya*an oleh manusia, Kedua, tentang matter atau materi, Bai* .emo)ritus mau+un #e/ton, memandang materi itu solid, Pandangan se*arang menyata*an materi itu *osong, 1e*ani*a *uantum membu*ti*annya, Ketiga, tentang *ausalitas, 'ain modern mengangga+ *ausalitas itu sederhana, Kini ditemu*an bah/a +arti*el-+arti*el saling mem+engaruhi tan+a da+at di+ahami bagaimana hubungan *ausalitas di antara mere*a> *ausalitas itu *om+le*s, Keem+at, tentang un)etainty dari %eisenberg, Ternyata obser:asi tdh ele*tron hanya da+at dila*u*an terhada+ salah satu +osisi atau *e)e+atannya, selain itu obser:er tida* da+at mengobser:asinya tan+a merusa*nya, %eisenberg menemu*an bah/a gera*an atom tida* da+at *eduanya diteta+*an se*aligus, +osisi atau *e)e+atannya, (ni mem+ertanya*an tentang *elemahan obser:asi, r

Kelima, tentang +arti*el sub-atomati*, 9a+ra menda+ati bah/a ada sema)am *e)erdasan ele*tron, sehingga *ini isi*a terbu*a untu* menerima inter+retasi s+iritual, Keenam, *erusa*an e*ologi menyeluruh, (ni adalah tanda-tanda *on*ret adanya dam+a* buru* sain, ia meru+a*an *ebali*an dari yang dihara+*an dari sain, .am+a* itu antara lain beru+a *ontaminasi air, udara, tanah, e e* buru* berganda +ada *ehidu+an tetumbuhan dan he/an, *e+unahan berbagai s+e)ies, *erusa*an hutan, erosi tanah, +engurasan air tanah, a*umulasi ilmiah yang to*si*, e e* rumah *a)a, bolongnya o4on, salah satu ujungnya ialah e*onomi dunia sema*in runyam, Pengembangan (lmu Bila !nda bertemu dengan seseorang yang baru dilanti* menjadi re*tor sesuatu +erguruan tinggi dan !nda bertanya a+a +rogram utamanya, ma*a !nda a*an menda+at ja/aban bah/a +rogram utamanya ialah +engembangan ilmu, Tentu saja, *arena +erguruan tinggi +ada umumnya adalah gudang ilmu, #amun, ya*inlah !nda banya* orang yang tida* memahami se)ara te+at a+a sebenarnya +engembangan ilmu itu, termasu* banya* juga dari *alangan re*tor yang sedang menjabat sebagai re*tor, Beri*ut adalah uraian yang te+at mengenai +engembangan ilmu, bila !nda setuju, @i*a !nda membu*a (lmu Bumi, !nda a*an melihat bah/a isinya ialah teori tentang bumi> bu*u (lmu %ayat isinya adalah teori tentang ma*hlu* hidu+> bu*u 'ejarah isinya teori tentang *ejadian masa lalu> bu*u Filsa at isinya teori ilsa at, dan begitulah selanjutnya, @adi, isi ilmu adalah teori, 'e)ara umum teori ialah +enda+at yang beralasan, 'ema*in banya* ma*an telor a*an sema*in sehat atau telor ber+engaruh +ositi terhada+ *esehatan, adalah teori dalam sain, Bila +ermintaan mening*at ma*a harga a*an nai*, juga adalah teori sain, 1enurut Plato, +enjaga negara 7+residen dan menteri8 haruslah iloso dan mere*a tida* boleh ber*eluarga, ji*a ber*eluarga ma*a mere*a tida* a*an beres menjaga negara, (ni teori ilsa at, @i*a +endudu* suatu negara beriman berta*/a ma*a Tuhan a*an menurun*an ber*ah bagi mere*a dari langit, (ni salah satu teori dalam agama (slam, @in da+at disuruh mela*u*an sesuatu, (ni teori dalam +engetahuan misti*, Teori adalah +enda+at 7yang beralasan8,

Karena isi ilmu adalah teori, ma*a mengembang*an ilmu adalah teorinya, !da bebera+a *emung*inan dalam mengembang*an teori, Pertama, menyusun teori baru, .alam hal ini memang belum +ernah dari teori yang mun)ul, lantas seseorang menemu*an teori baru, Kedua, menemu*an teori baru untu* mengganti teori lama, .alam *asus ini, tadinya sudah ada teorinya teta+i *arena teori ini sudah tida* mam+u menyelesai*an masalah yang mestinya ia mam+u menyelesai*annya, ma*a teori itu diganti dengan teori baru, Ketiga, mere:isi teori lama, .alam hal +eneliti atau +engembang, tida* membatal*an teori lama, tida* juga menggantinya dengan teori baru, ia hanya mere:isi, ia hanya menyem+urna*an teori lama itu, Keem+at, membatal*an teori lama, (a hanya membatal*an, tida* menggantinya dengan teori baru, (ni aneh3 ia mengurangi jumlah teori yang sudah ada, ia membatal*an teori dan tida* menggantinya dengan teori baru, teta+i teta+ di*ata*an ia mengembang*an ilmu, Bagaimana +rosedur serta lang*ah-lang*ah +engembangan ilmu a*an amat ditentu*an oleh jenis ilmunya, (tu memerlu*an organisasi, ada managernya, (tu memerlu*an biaya tinggi *adang-*adang memerlu*an tenaga yang sedi*it atau banya*> memerlu*an /a*tu, ada yang sebentar dari yang lama, bah*an ada yang sangat lama,

B!B 3 P"#$"T!%&!# F(D'!F!T


Pada bab ini dibi)ara*an antologi, e+istemologi dan a*siologi ilsa at, -ntologi membi)ara*an ha*i*at, obje* dan stru*tur ilsa at, "+istemologi membahas )ara mem+eroleh dan u*uran *ebenaran +engetahuan ilsa at, !*siologi mendis*usi*an masalah *egunaan ilsa at dan )ara ilsa at menyelesai*an masalah yang dihada+i, .ibi)ara*an juga +ada bab ini masalah netralitas ilsa at yang a*an membahas a+a*ah ilsa at itu sebai*nya netral 7:alue ree8 atau teri*ar 7:alue bound8, !, !ntologi Filsa at -ntologi ilsa at membi)ara*an ha*i*at ilsa at, yaitu a+a +engetahuan ilsa at itu sebenarnya, 'tru*tur ilsa at dibahas juga di sini, Bang dima*sud stru*tur di sini ialah )abang-)abang ilsa at serta isi 7yaitu teori8 dalam setia+ )abang itu, Bang dibi)ara*an di sini hanyalah )abang-)abang saja, itu+un hanya sebagian, Teori dalam setia+ )abang tentu sangat banya* dan itu tida* dibi)ara*an di sini, 'tru*tur dalam arti )abang-)abang ilsa at sering juga disebut sistemati*a ilsa at, 0, %a*i*at Pengetahuan Filsa at %atta mengata*an bah/a +engertian ilsa at lebih bai* tida* dibi)ara*an lebih dulu> nanti bila orang telah banya* mem+elajari ilsa at orang itu a*an mengerti dengan sendirinya a+a ilsa at itu 7%atta, !lam Pi*iran Bunani, 0;CC,(338 Dange:eld juga ber+enda+at se+erti itu, Katanya, setelah orang ber ilsa at sendiri, barulah ia ma*lum a+a ilsa at itu, ma*in dalam ia ber ilsa at a*an sema*in mengerti ia a+a ilsa at itu 7Dange:eld, 1enuju *e Pemi*iran Filsa at, 0;C03;8, Penda+at %atta dan Dange:eld itu benar, teta+i a+a salahnya men)oba menjelas*an +engertian ilsa at dalam bentu* suatu uraian, .ari uraian ini dihara+*an +emba)a mengetahui a+a ilsa at itu, se*ali+un belum leng*a+, .an dari situ a*an da+at ditang*a+ a+a itu +engetahuan ilsa at, Poedja/ijatna 7Pembimbing *e !lam Filsa at, 0;<43008 mende inisi*an ilsa at sebagai sejenis +engetahuan yang berusaha men)ari sebab yang sedalam-

dalamnya bagi segala sesuatu berdasar*an a*al +i*iran bela*a, %asbullah Ba*ry 7'istemati* Filsa at, 0;<03008 mengata*an bah/a ilsa at sejenis +engetahuan yang menyelidi*i segala sesuatu dengan mendalam mengenai *etuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga da+at menghasil*an +engetahuan tentang bagaimana ha*i*atnya sejauh yang da+at di)a+ai a*al manusia dan bagaimana si*a+ manusia itu seharusnya setelah men)a+ai +engetahuan itu, .e inisi Poedja/ijatna dan %asbullah Ba*ry menjelas*an satu hal yang +enting yaitu bah/a ilsa at itu +engetahuan yang di+eroleh dari ber+i*ir, 'e+erti yang sudah dijelas*an +ada Bab 0, memang )iri *has ilsa at malah ia di+eroleh dengan ber+i*ir dan hasilnya beru+a +emi*iran 7yang logis teta+i tida* em+iris8, !+a yang diingat*an oleh %atta dan Dange:eld memang ada benarnya, Kita sebenarnya tida* )u*u+ hanya dengan mengata*an ilsa at ialah hasil +emi*iran yang tida* em+iris, *arena +ernyataan itu memang belum leng*a+, Bertnard Russel menyata*an bah/a ilsa at adalah the attem+t to ans/er ultimate Iuestion )riti)ally 7@oe Par*, 'ele)ted Reading in the Philoso+hy o "du)ation, 0;C0338, .,9, 1ulder 7Pembimbing *e .alm (lmu Filsaat, 0;CC3008 mende inisi*an ilsa at sebagai +emi*iran teoritis tentang susunan *enyataan sebagai *eseluruhan, Hilliam @ames 7"n)y)lo+edia o Philoso+hy, 0;C<320;8 menyim+ul*an bah/a ilsa at ialah a )olle)ti:e name or Iuestion /hi)h ha:e not been ans/ered to the satis i)ation o all that ha:e as*ed them, #amun, dengan mengata*an bah/a ilsa at ialah hasil +emi*iran yang hanya logis, *ita telah menyebut*an inti sari ilsa at, Pada Bab 0 telah saya jelas*an 7)obalah lihat *embali matri* itu8 bah/a +engetahuan manusia ada tiga ma)am yaitu +engetahuan sain, +engetahuan ilsa at dan +engetahuan misti*> +engetahuan ilsa at ialah +engetahuan yang logis dan tida* em+iris, @i*a !nda orang +emula dalam ilsa at +egang saja ini, 2, 'tru*tur Filsa at %asil ber+i*ir tentang yang ada dan mung*in ada itu tadi telah ter*um+ul banya* se*ali, dalam bu*u tebal mau+un ti+is, 'etelah disusun se)ara sistematis, itulah yang disebut sistemati*a ilsa at, Bang inilah yang saya ma*sud dengan stru*tur ilsa at, a

Filsa at terdiri atas tiga )abang besar yaitu 3 antologi, e+istemologi, dan a*siologi, Ketiga )abang itu sebenarnya meru+a*an satu *esatuan3 ? antologi, membi)ara*an ha*i*at 7segala sesuatu8 ini beru+a +engetahuan tentang ha*i*at segala sesuatu> ? e+istmologi, )ara mem+oleh +engetahuan itu> ? a*siologi, membi)ara*an guna +engetahuan itu, er a !ntologi men)a*u+i banya* se*ali ilsa at, mung*in semua ilsa at masu* di sini, misalnya Dogi*a, 1eta isi*a, Kosmologi, Teologi, !ntro+ologi, "ti*a, "steti*a, Filsa at Pendidi*an, Filsa at %u*um dan lain-lain, "+istemologi hanya men)a*u+ satu bidang saja yang disebut "+istemologi yang membi)ara*an )ara mem+eroleh +engetahuan ilsa at, (ni berla*u bagi setia+ )abang ilsa at, 'edang*an a*siologi hanya men)a*u+ satu )abang ilsa at yaitu !*siologi yang membi)ara*an guna +engetahuan ilsa at, (ni+un berla*u bagi semua )abang ilsa at, (nilah *erang*a stru*tur ilsa at, 'alah satu ilsa at yang masih 5baru6 ialah Filsa at Perennial, Karena baru, ilsa at itu diurai*an ala *adarnya beri*ut ini, Filsa at Perennial0 (stilah +erennial berasal dari bahasa Datin +erennis yang *emudian diado+si *e dalam bahasa (nggris +erennial yang berarti *e*al 7Kommaruddin %idayat dan 1uhammad Hahyuni #a is, !gama 1asa .e+an 3 Pers+e*ti Filsa t Perennial, 0;;A308, .engan demi*ian, Filsa at Perennial 7Philoso+hia Perennis8 adalah ilsa at yang di+andang da+at menjelas*an segala *ejadian yang bersi at ha*i*i, menyang*ut *eari an yang di+erlu*an dalam menjalani hidu+ yang benar, yang menjadi ha*i*at seluruh agama dan tradisi besar s+iritualitas manusia 7lihat Kommaruddin %idayat dan 1, Hahyuni #a is, 0;;A3JJ8, %a*i*at itu menjadi inti +embi)araan Filsa at Perennial, yaitu adanya yang su)i 7The 'a)red8 atau yang satu 7The -ne8 dalam seluruh mani estasinya se+erti dalam agama, ilsa at, seni, dan sain, @adi, dalam de inisi te*nisnya Filsa at Perennial ialah +engetahuan ilsa at tentang yang selalu ada 7Budy 1una/ar Rahman dalam Komaruddin %idayat dan 1, Hahyuni #a is, hal Jii, JJiJ8,
0

.iado+si dari ma*alah !deng 1u)htar $ha4ali, mahasis/a '2 (!(# Bandung !ng*atan 0;;<K0;;=

Ber*aitan dengan itu, !ldous %uJley yang dalam +ertengahan abad 0; mem+o+uler*an istilah +erennial melalui bu*unya The Perennial Philoso+hy mengemu*a*an bah/a ha*i*at Filsa at Perennial, ada tiga yaitu meta ii*a, +si*ologi dan eti*a 7The Perennial Philoso+hy, 0;4A3:ii8, 1eta isi*a untu* mengetahui adanya ha*i*at realitas (lahi yang meru+a*an substansi dunia ini bai* yang material, biologis mau+un intele*tual, Psi*ologi adalah jalan untu* mengetahui adanya sesuatu dalam diri manusia 7yaitu soul8 yang identi* dengan Realitas (lahi, .an eti*a adalah yang meleta**an tujuan *ahir *ehidu+an manusia, .engan demi*ian, ma*a Filsa at Perennial mem+erlihat*an *aitan seluruh e*sistensi yang ada di alam semester ini dengan Realitas (lahi itu, Realitas +engetahuan tersebut hanya da+at di)a+ai melalui a+a yang disebut Plotinus intele* atau soul atau s+irit yang jalannya +un hanya melalui tradisi-tradisi, ritusritus, simbol-simbol, dan sarana-sarana yang diya*ini oleh *alangan +erennialis sebagai berasal dari Tuhan 7lihat Komaruddin %idayat, 0;;A3JJiJ8, Pengenalan meta isi*a lebih dahulu sebelum +engetahuan lainnya mung*in disebab*an *arena +er*embangan ilsa at +ada a/alnya adalah meta isi*a, sehingga untu* memahami isi alam harus di+ahami lebih dahulu /ujud Tuhan, 1engenai +si*ologi sebagai hal *edua yang harus di*enali adanya *arena *enyataan bah/a Tuhan sebagai tujuan* meru+a*an sesuatu yang tida* terbatas yang hanya da+at di*etahui oleh bagian dari unsur 5dalam6 manusia, !tas dasar tersebut da+at di*emu*a*an bah/a +embi)araan tentang )ara mengetahui 7e+istemologi8 obje* Filsa at Perennial sama artinya dengan +embi)araan tentang +roses batin manusia 5menang*a+6 Realitas !bsolut itu, 1eta isi*a, Filsa at Perennial mengata*an bah/a e*sistensi-e*sistensi tertata se)ara hirar*is 7Frithjo ')houn, The Tran)endent &nity o Religion, 0;<A30;8, Realitas selalu saling ter*ait, jumlahnya mening*at *eti*a le:el-nya nai*, 'ema*in tinggi e*sistensi sema*in real ia 7%ouston 'mith, Beyond Post-1odern, 0;<;3=8, 1elalui Filsa at Perennial disadari adanya Bang (n inite dibali* *enyataan ini 7le:el o reality8, @uga dalam diri manusia 7le:el o sel hood8 yang terdiri dari body, mind, dan soul, di+er)ayai adanya yang disebut s+irit 7roh8, !lam semesta s

dan manusia +ada dasarnya hanyalah tajalli atau +enam+a*an in inite atau s+irit yang dalam (slam disebut al-%aII 7Komaruddin %idayat, 0;;A3JJJii8, Karena adanya dua le:el ini ma*a diya*ini dunia ini bersi at hirar*is, Ting*at-ting*at e*sistensi ini menjelas*an bah/a tradisi 7agama misalnya8 adalah jalan yang memberi tahu *ita tentang )ara menem+uh 5+enda*ian6 dan ting*at e*sistensi yang lebih rendah, yaitu *ehidu+an sehari-hari, *e ting*at yang lebih tinggi, yaitu Tuhan melalui +engalaman mistis atau +engalaman *esatuan, Hujud real ini da+at disama*an dengan *laim Realisme mengenai a+a yang tam+a* nyata, Teta+i real di sini adalah real dengan sendirinya, Bagi orang yang telah terbiasa dengan Rasionalisme atau "m+irisme +embedaan ini aga* sulit dila*u*an, Bu*an*ah manusia sudah real lalu ada realitas lain yang lebih real yang tam+a*2 1engenai hal ini %ouston 'mith mengemu*a*an alegori Plato sebagai analognya, 1engenai alegori Plato ba)alah uraian Plato mengenai manusia guna 7)a:e man8 lihat misalnya dalam !hmad Ta sir, Filsa at &mum, 70;;034;-A08, .alam legenda Plato itu orang yang +unya bayangan orang itu adalah sesuatu yang real, teta+i orang yang +unya bayangan adalah lebih real dibanding*an dengan bayangannya, .i dalam alegori itu henda* digambar*an juga 7oleh Plato8 bah/a manusia yang tida* dileng*a+i dengan 5)ahaya6 a*an terus ber*utat +ada bentu* tertentu dan tida* a*an tiba +ada dimensi yang lebih tinggi, %anya dengan 5)ahaya6 itulah manusia a*an mam+u melihat adanya dimensi lain yang lebih real dari+ada ia lihat se*arang, (nti alegori itu adalah untu* menggambar*an *emung*inan adanya sesuatu *ehidu+an yang lebih tinggi yang se*arang sulit di+ahami *arena manusia tida* mam+u i*ut serta dalam +enam+a*annya, 1anusia di*elilingi oleh benda-benda, benda-benda itu membatasi manusia untu* mening*at *e *ualitas lebih tinggi, 1anusia mam+u mening*at *e ting*at lebih tinggi itu dengan *emam+uan 5)ahaya6, .engan demi*ian, jelaslah bah/a ada hirar*i realitas, Realitas tan+a batas hanya da+at diung*a+*an melalui )itra-)itra, 1elalui +en)itraan itu realitas tan+a batas da+at diu*ur dalam enam hal ya*ni energi, durasi, ruang ling*u+, *esatuan, nilai +enting, dan *ebai*an 7lihat Komaruddin

%idayat, 0;;A3008, "nergi atau *e*uatan misalnya, meru+a*an suatu +engaruh yang menyebab*an yang lain memberi*an res+on atas *eberadaannya, Hilliam @ames mengata*an bah/a di*ata*an real ji*a sesuatu menyebab*an *ita ber*e/ajiban untu* berurusan dengannya 7Hilliam @ames, 'ome Problems o Philoso+hy, 0;<030008, 'uatu /ujud di*ata*an ta* terhingga ji*a ia memasu*i enam *ategori di atas, 1isalnya ji*a energi atau +o/er ta* terhingga, ia 1aha Kuasa, ji*a durasi ta* terhingga, artinya durasinya ta* ter+utus, ma*a ia !badi> ji*a ruang ling*u+nya ta* terbatas, ia !da dimana-mana> ji*a *esatuannya tan+a syarat, ia 1urni 7tida* memuat a+a+un8> ji*a nilai +entingnya diutama*an, ia menjadi 1utla*> ji*a *ebai*annya ditonjol*an, ia 1ahasem+urna, Kesemuanya itu adalah Tuhan, Pembi)araan mengenai obje* utama Filsa at Perennial tentu a*an sulit bila tida* dihubung*an dengan alam sebagai )itraan Tuhan, Tuhan dan alam sesuai dengan hirar*inya masing-masing harus dibi)ara*an, Pembi)araan ini bera*ibat +ada +en)i+taan e*sistensi yang hirar*is dari atas *e ba/ah, yang lebih atas berarti lebih real yaitu $odhead atau Bang Ta* Terhingga, yaitu Tuhan menyata*an adanya le:el lebih real bu*an berarti le:el di ba/ahnya tida* real melain*an *urang real dibanding*an dengan e*sistensi le:el di atasnya, Psi*ologi, 1anusia adalah ma*hlu* yang men)ermin*an alam raya, demi*ian juga sebali*nya, 1anusia suatu saat da+at menjadi ma*ro*osmos +ada saat yang lain menjadi mi*ro*osmos, Kedua *emung*inan itu a*an ber+engaruh +ada +enilaian mana yang lebih bai* dalam hirar*i *emanusiaan, Bang terbai* dalam diri manusia adalah yang +aling 5dalam6, ia adalah basis dan dasar bagi /ujud manusia, Pada basis yang +aling dalam inilah *aum su i menemu*an suatu lo*us +er)a*a+an antara mansuia dengan Tuhan 7lihat K, Bertens, 'ejarah Filsa at Barat !bad EE, 0;=33A=8, &ntu* memahami lebih jauh tentang *ondisi 5dalam6 manusia, Filsa at Perennial melihat dua *e)enderungan dalam manusia, yaitu !*u--bje* 7me8 yang bersi at terbatas dan !*u-'ubye* 7(8 yang dalam *esadarannya tentang *eterbatasan ini mam+u membu*ti*an bah/a dalam dirinya sendiri ia bebas dari *eterbatasannya,

Filsa at Perennial yang men)oba men)ari *eabadian, memilih !*u-'ubye* yang ta* terhingga yang menenggelam*an diri +ada +usat diri yang +aling dalam, menutu+ segala +ermu*aan indera/i, +erse+si mau+un +emi*iran, dibung*us dalam *antung ji/a yang bersi at (lahi, sehingga masu* +ada suatu +en)a+aian yang bu*an ji/a, bu*an +ersonal, melain*an 'egala-.iri 7all-sel 8 yang melam+aui segala *edirian, Filsa at Perennial menggaris*an bah/a di dalam manusia 5mengin*arnasi6 Tuhan yang ta* terhingga, ji*a manusia mam+u membuang +enutu+-+enutu+ a*al indra/i, membuang *erang*eng materi dan terbang melam+aui ruang dan /a*tu, Kondisi sema)am itulah mung*in yang diung*a+*an oleh $abriel 1ar)el 5'ema*in dalam a*u menjang*au diri*u, sema*in tam+a* ia melam+aui diri*u6 7lihat 1athias %aryadi, 1embina %ubungan antar Pribadi Berdasar*an Prinsi+ Partisi+asi, Perse*utuan dan 9inta 1enurut $abriel 1ar)el, 0;;C34;-A<8, 1anusia mam+u menang*a+ lim+ahan !*u-'ubye* yang ta* terbatas di saat sedang tenggelam dalam tugas yang tida* memberi*an sedi*it+un +erhatian +ada *e+entingan +ribadi, .alam bahasa (-1e tida* ada lagi me yang tersisa, 1aIam itu da+at di)a+ai melalui em+at le:el, Pertama, sebuah *ehidu+an yang se)ara +rimer diidenti**an dengan *esenangan dan *ebutuhan isi* 7memberi atau menerima, hidu+ se*edar menghabis*an umur8 a*an bersi at atau bernilai +inggiran> *edua seseorang yang da+at mengembang*an +erhatian +ada a*al, ini da+at menjadi diri yang menari*> *etiga, ji*a manusia da+at beralih +ada hati, ia a*an menjadi orang bai*> *eem+at, ji*a ia da+at mele/atinya dan sam+ai *e roh, yang menjaga dari lu+a diri dan mem+ertahan*an egalitarianisme ya*ni *e+entingan +ribadi sama dengan *e+entingan orang lain, ia a*an menjadi orang sem+urna 7%ouston 'mith, 0;<;30=8, Filsa at Perennial bu*an berarti tida* menghargai a*al, #amun dalam menghargai a*al itu yang dihargai ialah orang yang mengguna*annya bu*an +ada *emam+uan a*al itu, "ti*a, 'uasana batin tertentu +ada tataran +si*ologis ternyata sanggu+ menembus sam+ai *esejatiannya, (tu di+eroleh melalui metode-metode tertentu, 1etode itu ialah metode yang biasanya diguna*an oleh +ejalan misti* atau sulu*, Teta+i Filsa at Perennial tida* membahas itu se)ara rin)i,

"ti*a adalah *um+ulan untu* menge e*ti *an usaha trans ormasi diri yang a*an memung*in*an untu* mengalami dunia dengan )ara baru, 1ela*u*an +erubahan, re ormasi dan +engaturan a*an memba/a *e arah *ondisi diri yang baru, men)a*u+ bagaimana +rinsi++rinsi+ untu* mengetahui dunia se)ara lebih sejati dari se*edar +enam+a*annya a+a adanya, (si eti*a adalah bentu*-bentu* *erendahatian, *ederma/anan, *etulusan, Kerendahhatian meru+a*an *a+asitas untu* membuat jara* diri dengan *e+entingan +ribadinya, menjauh*an ego sehingga ia da+at melihatnya se)ara obje*ti dan a*urat, Tiga *ebai*an utama ini masingmasing ber*aitan dengan tatanan manusia, Ketulusan adalah *emam+uan untu* mengetahui benda-benda se)ara a*tual dan obje*ti , Kederma/anan adalah melihat orang lain se+erti +ada dirinya sendiri, sedang*an *erendahhatian adalah melihat diri sendiri se+erti orang lain, Filsa at Post 1odern 7Post 1odern Philoso+hy8 .i dalam literature ilsa at, biasanya baba*an sejarah ilsa at dibagi tiga, Pertama, Filsa at Bunani Kuno 7!n)ient Philoso+hy8 yang didominasi Rasionalisme, *edua Filsa at !bad Tengah 71iddle !ges Philoso+hy8, disebut juga The .ar* !ges Philoso+hy 7Filsa at !bad Kegela+an8, yang didominasi oleh +emi*iran to*oh Kristen, *etiga Filsa at 1odern 71odern Philoso+hy8 yang didominasi lagi oleh Rasionalisme, !*hir-a*hir ini aga*nya telah mun)ul baba*an *eem+at, yaitu Filsa at Pas)amodern 7Post 1odern Philoso+hy8, @i*a +eriode +ertama didominasi rasio, +eriode *edua didominasi +emi*iran to*oh Kristen, +eriode *etiga didominasi rasio lagi, ma*a +ada +eriode *eem+at itu a+a yang mendominasi2 Pada intinya, ilsa at Pas)amodern 7ana*-ana* sering menyebutnya Posmo8 meng*riti* Filsa at 1odern, -rang-orang Posmo mengata*an Filsa at 1odern itu harus dide*onstru*si, Karena Filsa at 1odern itu didominasi Rasionalisme, ma*a yang dide*onstru*si itu adalah Rasionalisme itu, Rasionalisme ialah +aham ilsa at yang mengata*an a*al itulah alat +en)ari dan +engu*ur *ebenaran, #ah, +aham itulah yang dide*onstru*si oleh Filsa at Posmo,

'ebenanrya, budaya Barat 7yang ternyata mengglobal8 adalah budaya yang se)ara *eseluruhan dibangun berdasar*an Rasionalisme itu, .an *ata 9a+ra, memang hanya berdasar*an Rasionalisme, Pada tahun 0==0-an #iet4s)he telah menyata*an bah/a budaya barat 7ya, budaya rasional itu8 telah berada di +inggir jurang *ehan)uran, itu disebab*an oleh terlalu mende/a*an rasio, Pada tahun 0;;0-an 9a+ra menyata*an bah/a budaya Barat itu telah han)ur, itu disebab*an oleh terlalu mende/a*an rasio, 'e+ertinya, to*oh-to*oh Filsa at Posmo itu ingin menyelemat*an budaya Barat, 1enurut mere*a budaya da+at diselamat*an bila budaya Barat disusun ulang tida* hanya berdasar*an Rasionalisme, -rang-orang Posmo ber+enda+at bah/a sumber *ebenaran tida* hanya rasio, ada sumber *ebenaran lain selain rasio, !gama, misalnya, @i*a diguna*an agama, ma*a +enggunaan rasio telah termasu* di dalamnya, Kaya*nya ada bai*nya budaya disusun berdasar*an ajaran agama teta+i harus di+ilih agama yang benar-benar berasal dari Tuhan Bang 1aha Pintar, B, "+istemologi Filsa at "+istemologi ilsa at membi)ara*an tiga hal, yaitu obje* ilsa at 7yaitu yang di+i*ir*an8, )ara mem+eroleh +engetahuan ilsa at dan u*uran *ebenaran 7+engetahuan8 ilsa at, 0, -bje* Filsa at Tujuan ber ilsa at ialah menemu*an *ebenaran yang sebenarnya, yang terdalam, @i*a hasil +emi*iran itu disusun, ma*a susunan itulah yang *ita sebut sistemati*a Filsa at, 'istemati*a atau 'tru*tur Filsa at dalam garis besar terdiri atas antologi, e+istemologi dan a*siologi, (si setia+ )abang ilsa at ditentu*an oleh obje* a+a yang diteliti 7di+i*ir*an8nya, @i*a ia memi*ir*an +endidi*an ma*a jadilah Filsa at Pendidi*an, @i*a yang di+i*ir*annya hu*um ma*a hasilnya tentulah Filsa at %u*um, dan seterusnya, 'ebera+a luas yang mung*in da+at di+i*ir*an2 Duas se*ali, Baitu semua yang ada dan mung*in ada, (nilah obje* ilsa at, @i*a ia memi*ir*an +engetahuan jadilah ia Filsa at (lmu, ji*a memi*ir*an eti*a jadilah Filsa at "ti*a, dan seterusnya,

-bje* +enelitian ilsa at lebih luas dari obje* +enelitian sain, 'ain hanya meneliti obje* yang ada, sedang*an ilsa at meneliti obje* yang ada dan mung*in ada, 'ebenarnya masih ada obje* lain yang disebut obje* orma yang menjelas*an si at *emendalaman +enelitian ilsa at, (ni dibi)ara*an +ada e+istemologi ilsa at, Perlu juga ditegas*an 7lagi8 bah/a sain* meneliti obje*-obje* yang ada dan em+iris> yang ada teta+i abstra* 7tida* em+iris8 tida* da+at diteliti oleh sain, 'edang*an ilsa at meneliti obje* yang ada teta+i abstra*, ada+un yang mung*in ada, sudah jelas abstra* itu +un ji*a ada, 9obalah lihat lagi matri* *ita +ada Bab 0, 2, 9ara 1em+eroleh Pengetahuan Filsa at Pertama-tama iloso harus membi)ara*an 7mem+ertanggung ja/ab*an8 )ara mere*a mem+eroleh +engetahuan ilsa at, Bang menyebab*an *ita hormat *e+ada +ara iloso antara lain ialah *arena *etelitian mere*a, sebelum men)ari +engetahuan mere*a membi)ara*an lebih dahulu 7dan mem+ertanggungja/ab*an8 )ara mem+eroleh +engetahuan tersebut, 'i at itu sering *urang di+eduli*an oleh *ebanya*an orang, Pada umumnya orang mementing*an a+a yang di+eroleh atau di*etahui, bu*an )ara mem+eroleh atau mengetahuinya, (ni gegabah, +ara iloso bu*an orang yang gegabah, Ber ilsa at ialah ber+i*ir, Ber+i*ir itu tentu mengguna*an a*al, 1enjadi +ersoalan, a+a sebenarnya a*al itu, @ohn Do)*e 7'idi $a4alba, 'istemati*a Filsa at, ((, 0;<330008 mem+ersoal*an hal ini, (a melihat, +ada 4amannya a*al telah diguna*an se)ara terlalu bebas, telah diguna*an sam+ai di luar batas *emam+uan a*al, %asilnya ialah *e*a)auan +emi*iran +ada masa itu, 'eja* CA0 '1 sam+ai bera*hirnya ilsa at Bunani, a*al mendominasi, 'elama 0A00 tahun sesudahnya, yaitu selama !bad Tengah Kristen, a*al harus tundu* +ada *eya*inan Kristen> a*al di ba/ah, agama 7Kristen8 mendominasi, 'eja* .es)artes, to*oh +ertama ilsa at 1odern, a*al *embali mendominasi ilsa at, .es)artes 70A;C-0CA08 dengan )ogito ergo sumnya berusaha mele+as*an ilsa at dari dominasi agama Kristen, (a ingin a*al mendominasi ilsa at, 'eja* ini ilsa at didominasi oleh a*al, !*al menang lagi,

Loltaire telah berhasil memisah*an a*al dengan iman, Fran)is Ba)on amat ya*in +ada *e*uatan 'ain dan Dogi*a, 'ain dan Dogi*a diangga+ mam+u menyelesai*an semua masalah 7Hill .urant, The 'tory o Philoso+hy, 0;A;32A48, 9ondoret mendu*ung Ba)on 3 'ain dan Dogi*a itulah yang +enting, Kemudian +emi*iran ini dii*uti +ula oleh +emi*ir @erman 9hristian Hol dan Dessing, Bah*an +emi*ir-+emi*ir Pran)is mendramatisasi *eadaan ini sehingga a*al telah dituhan*an 7lihat .urant, 0;A;32A48, '+ino4a mening*at*an *emam+uan a*al tat*ala ia menyim+ul*an bah/a alam semester ini la*sana suatu sistem matemati*a dan da+at dijelas*an se)ara a +riori dengan )ara mendedu*si a*sioma-a*sioma, Filsa at ini jelas memberi*an du*ungan *e+ada *e+ongahan manusia dalam mengguna*an a*alnya, Karena itu tida*lah +erlu *aget tat*ala %obbes mening*at*an *emam+uan a*al ini menjadi !theisme dan 1ateralisme yang non*om+romis, 'eja* '+ino4a sam+ai .iderot *e+ingan-*e+ingan ima telah tundu* di ba/ah *aidah-*aidah a*liah, %el:etius dan %olba)h mena/ar*an idea yang 5edan6 itu di Pran)is, dan Da 1ettrie, yang menyata*an manusia itu se+erti mesin, menjaja*an +emi*iran ini di @erman, Tat*ala +ada tahun 0<=4 Dessing mengumum*an bah/a ia menjadi +engi*ut '+ino4a, itu telah )u*u+ sebagai +ertanda bah/a iman telah jatuh sam+ai *e titi* hadirnya dan a*al telah berjaya 7Dihat .urant, 0;A;32AA8, .a:id %ume 70<00-0<<C8 tida* begitu senang +ada *eadaan ini, (a menyata*an bila a*al telah menentang manusia, ma*a a*an datang /a*tunya manusia menantang a*al, !+a a*al itu sebenarnya2 Do)*e 70C32-0<048 telah meneliti a*al, (a berhasil tam+il dengan argumennya tentang *erasionalan agama Krsiten, Pengetahuan *ita datang dari +engalaman, begitu *atanya, Teorinya tabula rasa menjelas*an +andangannya itu, (a ber*esim+ulan bah/a yang da+at *ita *etahui hanya materi, *arena itu materialisme harus diterima, Bila +enginderaan adalah asal usul +emi*iran, ma*a *esim+ulannya haruslah materi adalah material ji/a, Tida* demi*ian *ita &s*u+ $eorge Ber*eley 70C=4-0<A38 analisis Do)*e itu justru membu*ti*an materi itu sebenarnya tida* ada, .a:id %ume seorang &s*u+ (rlandia ber+enda+at lain, Katanya, *ita mengetahui a+a ji/a itu, sama

dengan *ita mengenal materi, yaitu dengan +erse+si, jadi se)ara internal, Kesim+ulannya ialah bah/a ji/a itu bu*an substansi, suatu organ yang memili*i idea-idea> ji/a se*edar suatu nama yang abstra* untu* menyebut rang*aian idea, %asilnya, %ume sudah menghan)ur*an mind sebagaimana Bar*eley menghan)ur*an materi, 'e*arang tida* ada lagi yang tersisa, dan ilsa at menemu*an dirinya berada di tengah-tengah reruntuhan hasil *aryanya sendiri, @angan *aget bila !nda mendengar *ata-*ata begini3 #o matter ne:er mind, 'emua ini gara-gara a*al, !*al telah diguna*an melebihi *a+asitasnya, -leh *arena itu Do)*e menyelidi*i lagi, a+a sebenarnya a*al itu, .i lain +iha*, memang Do)*e ber+enda+at bah/a *ita belum /a*tunya membi)ara*an masalah ha*i*at sebelum *ita mengetahui dengan jelas a+a a*al itu sebenarnya, Teta+i bai*lah, *ita terima saja bah/a a*al itu ada dan ia be*erja berdasar*an suatu )ara yang tida* begitu *ita *enal, !turan *erjanya disebut Dogi*a, 'ejauh a*al itu be*erja menurut aturan Dogi*a, aga*nya *ita da+at menerima *ebenarannya, Bagaimana manusia mem+eroleh +engetahuan ilsa at2 .engan ber+i*ir se)ara mendalam, tentang sesuatu yang abstra*, 1ung*in juga obje* +emi*irannya sesuatu yang *on*ret, teta+i yang henda* di*etahuinya ialah bagian 5di bela*ang6 obje* *on*ret itu, .us abstra* juga, 'e)ara mendalam artinya ia henda* mengetahui bagian yang abstra* sesuatu itu, ia ingin mengetahui sedalam-dalamnya, Ka+an +engetahuannya itu di*ata*an mendalam2 .i*ata*an mendalam tat*ala ia sudah berhenti sam+ai tanda tanya, .ia tida* da+at maju lagi, disitulah orang berhenti, dan ia telah mengetahui sesuatu itu se)ara mendalam, @adi jelas, mendalam bagi seseorang belum tentu mendalam bagi orang lain, 'e+erti telah disebut di mu*a, 'ain mengetahui sebatas a*ta em+iris, (ni tida* mendalam, Filsa at ingin mengetahui di bela*ang sesuatu yang em+iris itu, (nilah yang disebut mendalam, Teta+i itu+un mem+unyai rentangan, 'ebagaimana hal abstra* di bela*ang a*ta em+iris itu da+at di*etahui oleh seseorang, a*an banya* tergantung +ada *emam+uan ber+i*ir seseorang, 'aya misalnya mengetahui bah/a gula rasanya manis 7ini +engetahuan em+iri*8> dibela*angnya

saya mengetahui bah/a itu disebab*an oleh adanya hu*um yang mengatur demi*ian, (ni +engetahuan ilsa at, abstra*, teta+i baru satu lang*ah, -rang lain da+at mengetahui bah/a hu*um itu dibuat oleh Bang 1aha Pintar, (ni sudah lang*ah *edua, lebih mendalam dari+ada se*edar mengetahui adanya hu*um, -rang lain masih da+at melang*ah *e lang*ah *etiga, misalnya ia mengetahui bah/a Bang 1aha Pintar itu adalah Tuhan, ia masih da+at maju lagi misalnya mengetahui di bela*ang a*ta em+iris itu da+at berting*at-ting*at, dan itu menjelas*an *emendalaman +engetahuan ilsa at seseorang, &ntu* mudahnya mung*in da+at di*ata*an begini3 ber+i*ir mendalam inilah ber+i*ir tan+a bu*ti em+iri*, Pada uraian di atas *ita mengetahui a*al itu di+erdebat*an oleh ahli a*al dan orang-orang yang se)ara intensi mengguna*an a*alnya, Kerja a*al, yaitu ber+i*ir mendalam, menghasil*an ilsa at, !+a*ah dengan demi*ian berarti teori-teori ilsa at itu tida* ada gunanya atau nilai *ebenarannya amat rendah2 Tida* juga, Ba, itulah ilsa at, *adang-*adang ilsa at diragu*an oleh ilsa at itu sendiri, @i*a *ita ingin mengetahui sesuatu yang tida* em+iri*, a+a yang *ita guna*an2 Ba, a*al itu, !+a+un *elemahan a*al, bah*an se*ali+un a*al amat diragu*an ha*i*ata *eberadaannya, toh a*al telah menghasil*an a+a yang disebut ilsa at, Kelihatannya, ada satu hal yang +enting di sini3 janganlah hidu+ ini digantung*an +ada ilsa at, janganlah hidu+ ini ditentu*an seluruhnya oleh ilsa at, ilsa at itu adalah +rodu* a*al dan a*al itu belum di*etahui se)ara jelas identitasnya, 3, &*uran Kebenaran Pengetahuan Filsa at Pengetahuan ilsa at ialah +engetahuan yang logis tida* em+iris, Pernyataan ini menjelas*an bah/a u*uran *ebenaran ilsa at ialah logis tida*nya +engetahuan itu, Bila logis benar, bila tida* logis, salah, !da hal yang +atut !nda ingat, !nda tida* boleh menuntut bu*ti em+iris untu* membu*ti*an *ebenaran ilsa at, Pengetahuan ilsa at ialah +engetahuan yang logis dan hanya logis, Bila logis dan em+iris, itu adalah +engetahuan sain, Kebenaran teori ilsa at ditentu*an oleh logis tida*nya teori itu, &*uran logis tida*nya tersebut a*an terlihat +ada argumen yang menghasil*an *esim+ulan 7teori8 itu, Fungsi argumen dalam ilsa at sangatlah +enting, sama dengan ungsi

data +ada +engetahuan sain, !rgumen itu menjadi *esatuan dengan *on*lusi, *on*lusi itulah yang disebut teori ilsa at, Bobot teori ilsa at justru terleta* +ada *e*uatan argumen, bah*an +ada *ehebatan *on*lusi, Karena argumen itu menjadi *esatuan dengan *on*lusi, ma*a boleh juga diterima +enda+at yang mengata*an bah/a ilsa at itu argumen, Kebenaran *on*lusi ditentu*an 000M oleh argumennya, 9, !*siologi Pengetahuan Filsa at .i sini diurai*an dua hal, +ertama *egunaan +engetahuan ilsa at dan *edua )ara ilsa at menyelesai*an masalah, 0, Kegunaan Pengetahuan Filsa at !+a guna +engetahuan ilsa at2 !tau a+a *egunaan ilsa at2 Tida* setia+ orang +erlu mengetahui ilsa at, Teta+i orang yang merasa +erlu ber+artisi+asi dalam membangun dunia +erlu mengetahui ilsa at, 1enga+a2 Karena dunia dibangun oleh dua *e*uatan3 agama dan ilsa at, &ntu* mengetahui *egunaan ilsa at, *ita da+at memulainya dengan melihat ilsa at sebagai tiga hal, +etma ilsa at sebagai *um+ulan teori ilsa at, *edua ilsa at sebagai metode +eme)ahan masalah, *etiga ilsa at sebagai +andangan hidu+ 7+hiloso+hy o li e8, 1engetahui teori-teori ilsa at amat +erlu *arena dunia dibentu* oleh teori-teori itu, @i*a !nda tida* senang +ada Komunisme ma*a !nda harus mengetahui 1arJisme, *arena teori ilsa at untu* Komunisme itu ada dalam 1ar)isme, @i*a !nda menyenangi ajarah 'yiNah .ua Belas di (ran, ma*a !nda henda*nya mengetahui ilsa at 1ulla 'hadra, Begitulah *ira-*ira, .an ji*a !nda henda* membentu* dunia, bai* dunia besar mau+un dunia *e)il 7diri sendiri8, ma*a !nda tida* da+at mengela* hati dari +enggunaan teori ilsa at, @adi, mengetahui teoriteori ilsa at amatlah +erlu, Filsa at sebagai teori ilsa at juga +erlu di+elajari oleh orang yang a*an menjadi +engajar dalam bidang ilsa at, Bang amat +enting juga ialah ilsa at sebagai methodology, yaitu )ara meme)ah*an masalah yang dihada+i, .i sini ilsa at diguna*an sebagai satu )ara atau model +eme)ahan masalah se)ara mendalam dan uni:ersal, Filsa at selalu men)ari sebab tera*hir dan dari sudut +andang seluas-luasnya, %al ini diurai*an +ada bagian lain sesudah ini, r a

Filsa at sebagai +andangan hidu+ tentu +erlu juga di*etahui, 1enga+a misalnya salah seorang Presiden !meri*a 7Bill 9linton, 0;;=8, telah menga*u ber4ina, dan masyara*atnya teta+ banya* yang memberi*an du*ungan2 1ung*in*ah hal se+erti itu untu* (ndonesia2 Presiden (ndonesia yang menga*u ber4ina +asti a*an di)o+ot oleh masyara*at (ndonesia, 1enga+a berbeda2 Karena masyara*at (ndonesia berbeda +andangan hidu+nya dengan masyara*at !meri*a, Filsa at sebagai +hiloso+hy o li e sama dengan agama, dalam hal sama mem+engaruhi si*a+ dan tinda*an +enganutnya, Bila agama dari Tuhan atau dari langit, ma*a ilsa at 7sebagai +andangan hidu+8 berasal dari +emi*iran manusia, Beri*ut uraian yang membahas *egunaan ilsa at dalam menentu*an +hiloso+hy o li e, Banya* orang memili*i +andangan hidu+, banya* orang yang mengangga+ +hiloso+hy o li e itu sangat +enting dalam menjalani *ehidu+an, Kegunaan Filsa at bagi !*idah2 !*idah adalah bagian dari ajaran (slam yang mengatur )ara ber*eya*inan, Pusatnya ialah *eya*inan *e+ada Tuhan, Posisinya dalam *eseluruhan ajaran (slam sangat +enting, meru+a*an ondasi ajaran (slam se)ara *eseluruhan, di atas a*idah itulah *eseluruhan ajaran (slam berdiri dan didiri*an, Keterangan se+erti ini berla*u juga bagi agama selain (slam, Karena *edudu*an a*idah se+erti itu, ma*a a*idah seseorang muslim haruslah *uat, dengan *uat a*idah a*an *uat +ula *eislamannya se)ara *eseluruhan, &ntu* mem+er*uat a*idah +erlu dila*u*an se*urang-*urangnya dua hal, +ertama mengamal*an *eseluruhan ajaran (slam se)ara sungguh-sungguh, *edua mem+ertajam +engertian ajaran (slam itu, @adi, a*idah da+at di+er*uat dengan +engalaman dan +emahaman 7ajaran (slam8, .a+at*ah ilsa at mem+er*uat +emahaman *ita tentang Tuhan2 Thomas !Iuinas 7022A-02<48 berusaha menyusun argumen logis untu* membu*ti*an adanya Tuhan, .alam bu*unya 'umma Theologia ia berhasil +enyusun lima argumen tentang adanya Tuhan,
2

.iado+si dari ma*alah 1, Fahrudin Kaha, mahasis/a '2 (!(# Bandung !ng*atan 0;;<K0;;=

Pertama, argumen gera*, !lam ini selalu bergera*, $era* itu mung*in berasal dari alam itu sendiri, gera* itu menunju**an adanya Penggera*, Tuhan adalah Penggera* Pertama, Kedua, arguman *ausalitas, Tida* ada sesuatu yang mem+unyai +enyebab +ada dirinya sendiri, sebab itu harus di luar dirinya, .alam *enyataannya ada rang*aian +enyebab, Penyebab +ertama adalah Tuhan yang tida* memerlu*an +enyebab yang lain, Ketiga, argumen *emung*inan, !danya alam ini bersi at mung*in3 mung*in ada dan mung*in tida* ada, Kesim+ulan di+eroleh dari *enyataan alam ini dimulai dari tida* ada, lalu mun)ul atau ada *emudian ber*embang, a*hirnya rusa* dan hilang atau tida* ada, Kenyataan ini menyim+ul*an bah/a alam ini tida* mung*in selalu ada, .alam diri alam itu ada dua *emung*inan atau ada dua +otensi, yaitu ada dan tida* ada, teta+i dua *emung*inan itu tida* a*an mun)ul bersamaan +ada /a*tu yang sama, 1ula-mula alam ini tida* ada, lalu ada, .i+erlu*an Bang !da untu* mengubah alam dari tiada menjadi ada, sebab tida* mung*in mun)ul sesuatu dari tiada *e ada se)ara otomatis, @adi, !da Pertama itu harus ada, !*an teta+i !da Pertama yang harus ada itu dari mana2 Kembali lagi *ita menghada+i rang*aian +enyebab 7tasalsul8, Kita harus berhenti +ada !da Pertama yaitu yang %arus !da, Keem+at, argumen ting*atan, (si alam ini ternyata berting*at-ting*at 7le:els8, !da yang dihormati, lebih dihormati, terhormat, !da indah, lebih indah, sangat indah, dan seterusnya, Ting*at tertinggi menjadi +enyebab ting*at di ba/ahnya, !+i yang mem+unyai +anas yang tinggi menjadi +enyebab +anas yang rendah di ba/ahnya, begitu seterusnya, Bang 1aha 'em+urna adalah +enyebab yang sem+urna, yang sem+urna adalah +enyebab yang *urang sem+urna, Bang atas menjadi +enyebab yang ba/ah, Tuhan adalah Bang Tertinggi, (a Penyebab yang di ba/ah-#ya, Kelima, argumen teologis, (ni adalah argumen tujuan, !lam ini bergera* menuju sesuatu, +adahal mere*a tida* tahu tujuan itu, !da sesuatu Bang 1engatur alam menuju tujuan !lam, (tu adalah Tuhan 7lihat !hmad Ta sir, Filsa at &mum, 0;;<3=C-==8,

!rgumen yang di*emu*a*an Thomas !Iuinas itu sebenarnya tida* a*an memba/a *ita memahami Tuhan se)ara sem+urna, !rgumen-argumen itu memili*i *elemahan, Karena itu Kant menyata*an bah/a Tuhan tida* da+at di+ahami melalui a*al 7ia menyebutnya a*al teoritis8 Tuhan da+at di+ahami melalui suara hati yang disebut moral, !danya Tuhan itu bersi at harus, hati saya *ata Kant, yang mengata*an Tuhan harus ada, Kant mengata*an bah/a adanya Tuhan bersi at im+erati , 'ia+a yang memerintah2 Ba, suara hati atau moral itu, 1enurut Kant indera dan a*al itu terbatas +ada *emam+uannya, (ndera dan a*al 7ma*sudnya3 rasio8 hanya mam+u memasu*i daerah enomena, bila indera masu* *e daerah noumena ma*a ia a*an sesat dalam antinomi, a*al bila memasu*i daerah noumena ia a*an tersesat dalam +aralogism, .aerah noumena itu hanya mung*in diarungi oleh a*al +ra*tis, demi*ian *ata Kant 7lihat !hmad Ta sir, 0;;<30A;8, !*al +ra*tis adalah moral atau suara hati, 1enurut Kant a*al teoritis 7a*al rasional8 tida* melarang *ita mem+er)ayai Tuhan, *esadaran moral 7suara hati8 *ita memerintah*an untu* mem+er)ayai-#ya, Roussenau benar *eti*a ia mengata*an bah/a di atas a*al rasional di *e+ala ada +erasaan hati3 Pas)al benar tat*ala ia menyata*an bah/a hati mem+unyai a*al mili*nya sendiri yang tida* +ernah da+at di+ahami oleh a*al rasional 7Hill .urant, The 'tory o Philoso+hy, 0;A;32<=8, !rgumen-argumen a*liah tentang adanya Tuhan, juga tentang yang gaib lainnya, yaitu obje*obje* metarional, tida* da+at di+egang *ebenarannya> bila a*al 7rasio8 masu* *e daerah ini ia a*an tersesat *e dalam +aralogisme, (nilah +endirian Kant, !rgumen a*liah tentang ini lemah, Kant mengemu*a*an )ontoh argumen yang sering di*emu*a*an theolog rasioinalis untu* membu*ti*an adanya Tuhan, yaitu argumen +engaturan alam semesta, .i dalam argumen ini di*ata*an bah/a alam ini teratur, yang mengatur adalah 1aha Pengatur, yaitu Tuhan, !lam teratur, memang *ata Kant, Banya* isi alam ini yang begitu teratur yang da+at memba/a *ita *e+ada *esim+ulan adnaya Tuhan yang mengaturnya, !*an teta+i, *ata Kant, *ita juga menya*si*an bah/a alam ini mengandung juga banya* *etida*teraturan, *e*a)auan, bah*an menyebab*an *esulitan dan *ematian, @adi, terda+at +erla/anan, (nilah salah satu )ontoh +aralogisme, itu, Kant menga*ui bah/a *eteraturan itu memang ada bila as

alam itu dilihat se)ara *eseluruhan, a*an teta+i itu+un tida* *uat untu* dijadi*an bu*ti adanya 'ang Pengatur, Tuhan tida* da+at dibu*ti*an adanya dengan a*al teoritis 7ma*sudnya rasio8, (nilah thesis utama Kant dalam hal ini 7lihat lebih jauh !hmad Ta sir, Filsa at &mum, 0;;<30C28, !ga*nya *ita da+at menyim+ul*an bah/a ilsa at 7dalam hal ini a*al logis8 da+at berguna untu* mem+er*uat *eimanan, ini menurut sebagian iloso , se+erti Thomas !Iuinas> teta+i menurut iloso lain, se+erti Kant, bu*ti-bu*ti a*liah 7dalam arti rasio8 tentang adanya Tuhan sebenarnya lemah, bu*ti yang *uat adalah suara hati, 'uara hati itu memerintah, bah*an rasio +un tida* mam+u mela/annya, Beri*ut adalah uraian lain yang mengu+as *egunaan ilsa at bagi +engembangan hu*um islami, Kegunaan Filsa at bagi %u*um3 (stilah hu*um islami sering ran)u, Kadang-*adang hu*um islami itu diarti*an syariNah, *adang-*adang i*ih 7 iIh8, Bang dima*sud di sini ialah i*ih, Fi*ih se)ara bahasa berarti mengetahui, !l-OurNan mengguna*an *ata al- iIh dalam +engertian memahami atau +aham, Pada 4aman #abi 1uhamamd '!H *ata al- iIh itu tida* hanya berarti +aham tentang hu*um teta+i +aham dalam arti umum, FaIiha artinya +aham, mengerti, tahu, .alam +er*embangan tera*hir i*ih di+ahami oleh *alangan +a*ar ushul al- iIh sebagai hu*um +ra*tis hasil ijtihad, 'ementara di *alangan +a*ar i*ih, al- iIh di+ahami sebagai *um+ulan hu*um islami yang men)a*u+ semua as+e* syarNiy bai* yang tertuang se)ara te*stual mau+un hasil +enalaran terhada+ sesuatu te*s, (tulah sebabnya di *alangan ahli ushul al- iIh *onse+ syariah di+ahami sebagai te*s yarNiy ya*ni !l-OurNan dan al-'unnah yang teta+ dan tida* +ernah mengalami +erubahan, Butir-butir aturan dan *etentuan hu*um yang ada dalam i*ih +ada garis besarnya men)a*u+ tiga unsur +o*o*, Pertama, +erintah se+erti sholat, 4a*at, +uasa dan sebagainya, Kedua, larangan se+erti larangan musyri*, 4ina dan sebagainya, Ketiga, +etunju* se+erti )ara sholat, )ara +uasa, dan sebagainya, 3 .iado+si dari ma*alah .idi 1ashudi, mahasis/a '2 (!(# Bandung !ng*atan 0;;<K0;;= s

Keseluruhan unsur +o*o* di atas bila dilihat dari sudut si atnya, ia da+at dibagi dua, Pertama, bersi at teta+, tida* ber+engaruh oleh *ondisi tertentu, se+erti sebagai aIidah dan seluruh ibadah mahdhah> dalam hal ini ijtihad tida* berla*u +adanya, Kedua, yang bersi at da+at berubah sesuai dengan *ondisi tertentu, inilah bidang ijtihad, Tujuan utama diturun*annya hu*um islami 7 i*ih8 ialah untu* men)i+ta*an *emaslahatan hidu+ manusia, yang dima*sud *emaslahatan ialah *ebai*an, @elasnya, +embentu*an i*ih itu sejalan dengan tuntutan *emaslahatan manusia, &ntu* menjamin *emaslahatan itu diteta+*an bebera+a asas hu*um islami, yaitu3 !dam al-haraj, artinya tida* sulit dalam mela*sana*annya 7O', <30A<8 !l-Ta*hli , ringan serta mam+u dila*sana*an 7O', 232=C> 432=8 !l-Taysir, mudah sesuai *emam+uan 7O', 230=A> 223<=8 (tu berarti hu*um islami dibentu* atas dasar +rinis+ menghilang*an *esem+itan *arena *esem+itan itu menyeba*an *esulitan, Prinsi+ lain yang mendasari hu*um islami ialah da N al-dlarar, menghilang*an bahaya 7O', 232A> 0;A> 4302> 232308, Prinsi+ lain lagi ialah al taNassu i istiNmal al-haII ya*ni boleh mela*u*an sesuatu asal tida* membahaya*an yang lain 7O', 23223> CA3C> <330> A3=<8, .ari sini lahirlah *aidah ushul al- iIh yang berbunyi 5menola* bahaya didahulu*an dari+ada mengambil maslahat6, %u*um islami yang dijadi*an aturan beramal ada di dalam i*ih sebagai *um+ulan hu*um, Fi*ih 7dalam arti *um+ulan hu*um8 itu dibuat berdasar*an *aidah-*aidah hu*um 7yang ber ungsi sebagai teori8 yang diguna*an dalam meneta+*an hu*um tersebut, Ternyata *aidah-*aidah +embuatan hu*um 7ushul al- iIh8 itu dibuat berdasar*an teori-teori ilsa at, Karena itu manthiI 7manti*, logi*a8 amat +enting bagi ulama ushul al- iIh, 'elain itu dalam ushul al- iIh ilsa at berguna juga dalam mena sir*an te*s dan memberi*an *riti* ideologi, .alam mena sir*an te*s /ahyu atau te*s hadis yang a*an dijadi*an sumber aturan hu*um, 1isalnya dalam mena sir*an ayat-ayat !l-Ouran dan

al-'unnah yang 4hanniy yang +ena sirannya *adang-*adang memerlu*an taN/il dan +ena siran meta oris, .alam memberi*an *riti* ideologi, ya*ni mengguna*an ungsi *ritis ilsa at, Pemi*iran )ara ilsa at amat di+erlu*an dalam menganalisis ideologi se)ara *ritis, mem+ertanya*an dasarnya, mem+erlihat*an im+li*asinya dan membu*a *edo* yang mung*in berada di bela*angnya, .alam hal ini ilsa at itu da+at mela*u*an dua hal, Pertama, *riti* terhada+ ideologi saingan yang a*an merusa* (slam atau masyara*at (slam, *edua *riti* terhada+ hu*um islami, misalnya mem+ertanya*an a+a*ah hu*um itu se+erti itu, a+a*ah itu sesuai dengan esensi yang di*andung oleh te*s yang dijadi*an dasar hu*um tersebut, Kesim+ulannya, memang benar, ilsa at, *hususnya ilsa at sebagai metodologi, berguna bagi +engembangan hu*um dalam hal ini hu*um islami, Bagi +er*embangan bahasa +un ilsa at ada gunanya, 9obalah renung*an uraian beri*ut ini, Kegunaan Filsa at bagi Bahasa4 .ise+a*ati oleh +ara ahli bah/a bahasa ber ungsi sebagai alat untu* menge*s+resi*an +erasaan dan +i*iran, Terlihat adanya hubungan yang erat antara bahasa dan +i*iran, !hmad !bdurrahman %amad 7!l-alaIah byan alDughah /a al-Fi*r, dan al-1aNri ah al-@amiNiyyah, 0;=A30<8 menggambar*an hubungan itu bagai*an satu mata uang yang mem+unyai dua sisi, !ristoteles, sebagaimana di*uti+ %amad 70;=A3328 menggambar*an hubungan antara bahasa dan +emi*iran 7logi*a8 sebagai hubungan antara hitungan dan ang*a, hubungan itu adalah hubungan interde+enden, Tat*ala bahasa ber ungsi sebagai alat ber+i*ir ilmiah mun)ul +roblem yang serius, ini diselesai*an antara lain dengan bantuan ilsa at, Begitu juga tat*ala +emi*iran 7 ilsa at8 sam+ai +ada rumusan *onse+ yang rumit, bahasa juga mengalami +ersoalan, yaitu bahasa sering *urang mam+u menggambar*an isi *onse+ itu, Bahasa dalam hal ini harus men)ari *ata dan susunan baru untu* menggambar*an isi *onse+ itu,
4

.iado+si dari ma*alah Tarmana !bdul Oasim, mahasis/a '2 (!(# Bandung !ng*atan 0;;<K0;;=

.i antara +roblem yang dihada+i bahasa ialah dalam +emeliharaannya, Bahasa sering tida* mam+u membebas*an diri dari gangguan +ema*ainya, -rang a/am sering merusa* bahasa, mere*a mengguna*an bahasa tan+a mengi*uti *aidah yang benar, Kerusa*an bahasa tersebut biasanya disebab*an oleh tida* diguna*annya *aidah logi*a, Dogi*a itu ilsa at, Filoso adalah 5+rotoy+e6 orang bija*sana, -rang bija*sana tertentu harus mengguna*an bahasa yang benar, Bahasa yang benar itu a*an mam+u me/a*ili *onse+ logis yang diba/a*annya, Karena itu +ada logi*alah *ita menemu*an *aitan erat antara bahasa dan ilsa at, .an +ada logi*a +ula *ita temu*an man aat *on*ret bahasa, Peran logi*a dalam bahasa ialah mem+erbai*i bahasa, logi*a da+at mengetahui *esalahan bahasa, Peran ini dia*ui oleh (brahim 1ad*ur sebagaimana di*uti+ oleh (brahim 'amirraNi 7FiIh al-Dugah al1uIararn, tt30=8 yang mengata*an bah/a *aidah bahasa *hususnya bahasa !rab, te+atnya #ah/u telah di+engaruhi oleh Dogi*a !ristoteles dalam bebera+a hal, Pertama, mengguna*an *ias atau analogi sebagai *aidah dalam #ah/u sebagaimana diguna*an dalam logi*a, Pembagian *ata menurut 'iba/ayh menjadi ism, iNil,hur mung*in di+engaruhi oleh +embagian !ristoteles *ata benda, *ata *erja dan adat, Kedua, mun)ulnya #ah/u 'iryani +ada se*olah #ashibayn +ada abad *e-C 1asehi bersamaan dengan mun)ulnya +a*ar #ah/u yang +ertama, Ke*eliruan dalam berbahasa melahir*an *e*eliruan dalam ber+i*ir, Beri*ut bebera+a )ontohnya 7lihat 1undiri, Dogi*a, 0;;430;48, Pertama, *e*eliruan *arena *om+osisi, 1isalnya *e*eliruan dalam meneta+*an si at +ada bagian untu* menyi ati *eseluruhan, se+erti 5'etia+ *a+al +erang suatu negara telah sia+ tem+ur, ma*a *eseluruhan ang*atan laut telah sia+ tem+ur6 atau 51ur ini sangat ringan *arena itu mesin ini sangat ringan +ula, Kedua, *e*eliruan dalam +embagian atau de:isi, yaitu *e*eliruan *arena meneta+*an si at *eseluruhan ma*a *eliru +ula dalam meneta+*an si at bagian, 1isalnya, 5Kom+le*s +erumahan ini dibangun +ada daerah yang sangat luas tentulah *amar-*amar tidurnya luas juga6, Ketiga, *e*eliruan *arena te*anan, (ni terjadi dalam +embi)araan tat*ala salah dalam memberi*an te*anan dalam +engu)a+an, 1isalnya, 5Karena *e*enyangan ia tertidur6, bila te*anan +ada *e*enyangan 75*arena *e*enyangan ia tertidur68 ma*a arti *alimat itu a*an berbeda dari *alimat

yang +ertama3 yang +ertama biasa yang *edua mengeje*, Keem+at, *e*eliruan *arena am iboli, !m iboli terjadi bila *alimat itu mem+unyai arti ganda, 9ontohnya se+erti 51ahasis/a yang dudu* di *ursi +aling de+an P6 1ahasis/a yang +aling de+an atau *ursinya, dua-duanya mung*in, Kesim+ulannya ialah ilsa at sangat ber+eran dalam menentu*an *ausalitas bahasa, Tan+a +eran serta ilsa at 7logi*a8 *e*eliruan dalam bahasa tida* mung*in da+at di+erbai*i, 'elain itu +er*embangan ber+i*ir atau ilsa at a*an dii*uti oleh +er*embangan bahasa, Kata al-muruNah asalnya ialah al-marNu yang berarti seorang lela*i tulen 7al marNu al-mu*tamil8, @adi *ata itu hanya menunju**an +ada seseorang, Teta+i dalam ilsa at *ata itu sudah mengandung banya* arti se+erti +otensi, *e*uatan, semangat, +erasaan, lela*i, +emberani, amanah dan lain-lain, Kata al-QaIl arti a/alnya ialah tali, alat +engi*at, Kata #abi '!H iNIilha /a ta/a**al, i*at untamu lalu ta/a**al, (NIil dari *ata al-QaIl, .alam ilsa at, a*al memili*i +engertian jauh lebih luas dari+ada itu, Kata a*idah 7aIidah8 demi*ian juga, 9ontoh-)ontoh itu menjelas*an bah/a ilsa ata berhubungan dengan bahasa, %ubungan itu sangat erat bah*an menjelas*an bah/a +er*embangan ilsa at mem+engaruhi +er*embangan bahasa, mung*in juga sebali*nya, Kesim+ulannya3 ilsa at berguna bagi bahasa, 2, 9ara Filsa at 1enyelesai*an 1asalah Kegunaan ilsa at yang lain ialah sebagai methodology, ma*sudnya sebagai metode dalam menghada+i dan menyelesai*an masalah bah*an sebagai metode dalam memandang dunia 7/orld sho/8, .alam hidu+ *ita, *ita menghada+i banya* masalah, 1asalah artinya *esulitan, Kehidu+an a*an dijalani lebih ena* bila masalah itu terselesai*an, !da banya* )ara dalam menyelesai*an masalah, mulai dari yang amat sederhana sam+ai yang rumit, !da ra+at di sebuah RT, yang dibi)ara*an masalah *eamanan, Pa* Ketua RT menyata*an bah/a a*hir-a*hir di *am+ung *ita banya* +en)urian, tida* se+erti biasanya, 1enangga+i itu ham+ir semua orang yang hadir mengusul*an

agar ronda malam di+ergiat, (nilah *ira-*ira )ara orang a/am menyelesai*an masalah, .i situ ada seorang yang ber+enda+at lain, (a bertanya a+a saja barang yang biasanya di)uri, seja* bulan a+a, +ada +u*ul bera+a biasanya terjadi, Dantas ia mengusul*an selain menggiat*an ronda, sebai*nya digiat*an juga +engajian, (a mela*u*an identi i*asi lebih dahulu, lantas ia melihat +enyebab lebih mendasar, (a +i*ir, bila +erondanya bermoral buru*, bisa-bisa +eronda itu sendiri yang men)uri, -rang ini ilmu/an, Kira-*ira beginilah +enyelesaian 'ain, Filsa at +un memili*i )ara tersendiri dalam menyelesai*an masalah, 'esuai dengan si atnya, ilsa at menyelesai*an masalah se)ara mendalam dan uni:ersal, Penyelesaian ilsa at bersi at mendalam, artinya ia ingin men)ari asal masalah, &ni:ersal, artinya ilsa at ingin masalah itu dilihat dalam hubungan seluas-luasnya agar nantinya +enyelesaian itu )e+at dan bera*ibat seluas mung*in, Banya* orang (slam tida* menyenangi sebagian budaya Barat, *hususnya tentang *ebebasan se*s, 1ere*a mengata*an *ebebasan se*s harus diberantas, (ni +enyelesaian langsung, 'edi*it mendalam bila *ita mengusul*an +er*etat masu*nya in ormasi dari Barat terutama yang menyang*ut *ebebasan se*s, atau *ita mengusul*an sensor ilm di+erberat, Filsa at belum +uas dengan +enyelesaian itu, Dalu bagaimana2 Filsa at mem+elajari asal usul *ebebasan se*s itu, .itemu*an, itu mun)ul dari +aham %edonisme, 1a*a *ita +erangi +aham itu, Filoso lain belum juga +uas, *arena menurutnya %edonisme itu belum +enyebab +aling a/al, %edonisme itu sebenarnya turunan Pragmatisme, Pragmatisme itu bersama dengan Diberalisme lahir dari Rasionalisme, Karena itu iloso ini mengata*an yang +aling strategis ialah memerangi Rasionalisme itu, !+a*ah rasionalisme itu +enyebab +ertama mun)ulnya *ebebasan se*s2 &ntu* sementara, aga*nya ya, 1a*a untu* memberantas *ebebasan se*s *ita harus menjelas*an bah/a Rasionalisme itu adalah +emi*iran yang salah, Penyelesaian ini mendalam, *arena telah menemu*an +enyebab yang +aling asal, Penyelesaian itu juga uni:ersal, *arena yang a*an di+erbai*i +ada a*hirnya *ela* bu*an hanya +ersoalan *ebebasan se*s, hal-hal lain yang meru+a*an turunan Rasionalisme juga a*an dengan sendirinya hilang,

Bonus Tulisan beri*ut ini tida* lagi masu* Bab !*siologi, (ni meru+a*an *onse+-*onse+ ter)e)er, .i*um+ul*an di sini *arena dirasa +erlu, diberi judul bonus, 9ara -rang &mum 1enilai !da tiga )ara orang menilai suatu +enda+at atau +ernyataan, Pertama, ia menilai berdasar*an *etida*tahuan tentang itu, *etida*tahuannya itulah yang dijadi*annya u*uran, Kedua, menilai dengan mengguna*an +enda+atnya sebagai u*uran, Ketiga, menilai dengan mengguna*an +enda+at umumnya +a*ar sebagai alat u*ur, 'ebagai )ontoh, ada orang mengata*an bah/a jin da+at disuruh, -rang ti+e +ertama langsung menyata*an 5itu tida* mung*in6 dan alasannya ialah memang ia tida* tahu bah/a jin da+at disuruh mela*u*an sesuatu, Ketida*tahuannya 7dalam hal ini bah/a jin da+at disuruh8 yang dijadi*an alasan menola* +ernyataan itu, !neh*an2 1enola* +enda+at dengan alasan *etida*tahuan bah/a itu memang begitu, 'ebenarnya bila *ita tida* hanya ada dua hal yang laya* dila*u*an, +ertama, diam, *edua mem+elajarinya, Ti+e *edua mengada*an studi tentang jin, %asil yang ia +eroleh menyata*an bah/a jin memang tida* da+at disuruh, #ah, +enda+atnya inilah yang dijadi*an alasan menola* +ernyataan tadi 7jin da+at disuruh8, 9ara *edua ini+un masih lemah, Demah, *arena ia sebenarnya tida* +unya alasan, mandat, untu* mengguna*an +enda+atnya sebagai +engu*ur *ebenaran suatu +ernyataan, .us, ia ber+enda+at berdasar*an +enda+atnya, Ti+e *etiga adalah golongan yang sedi*it, mere*a mem+elajari +enda+at +ara ahli bidang jin, 1ere*a *um+ul*an +enda+at +ara +a*ar +ada umumnya mere*a menerima atau menola* +ernyataan bah/a jin da+at disuruh, @adilah orang ti+e +ertama3 diam, @adilah ti+e *edua3 mem+elajarinya, Terbai*3 jadilah ti+e *etiga, yaitu mem+elajarinya se)ara luas dan mendalam, lantas mengemu*a*an +enda+at berdasar*an +enda+at +a*ar +ada umumnya dalam bidang itu,

#etralitas Filsa at Tat*ala menjelas*an netralitas sain *ita ber*esim+ulan seharusnya sain itu tida* netral artinya sain itu seharusnya tida* bebas nilai, Filsa at bagaimana2 !da berbagai hal yang menari* untu* di+erhati*an mengenai +ertanyaan itu, Pertama, dalam ilsa at ada Filsa at #ilai atau "ti*a, Filsa at "ti*a adalah )abang ilsa at yang *husus membi)ara*an nilai, yaitu nilai bai* buru*, Karena eti*a membi)ara*an nilai ma*a +astilah eti*a itu tida* bebas nilai, !dalah mung*in nilai yang diguna*an dalam eti*a itu bu*an nilai dari agama, teta+i teta+ saja ia tida* netral *arena ia telah membi)ara*an buru* dan bai*, Kedua, ilsa at itu adalah +emi*iran orang, *arena +emi*iran orang ma*a tida*lah mung*in orang itu netral dalam ber+i*ir> se*urang-*urangnya hasil +emi*iran itu telah ber+iha* +ada +emi*ir itu, Berbeda dengan sain, Peneliti sain tida* ber+i*ir, teori sain disusun berdasar*an data yang ter*um+ul bu*an disusun berdasar*an +emi*iran +eneliti, Ketiga, masih ada *emung*inan netralnya ilsa at, yaitu +ada logi*a, 1ung*in saja logi*a itu netral, &ntu* memasti*an ini *ita da+at mengangga+ logi*a itu esensinya sama dengan esensi matemati*a, #ah, ji*a matemati*a da+at diangga+ netral, ma*a logi*a juga da+at netral, 'eandainya Dogi*a *ita angga+ netral, itu bu*an berarti ilsa at itu netral, sebab masih menjadi +ersoalan a+a*ah logi*a itu ilsa at atau bu*an ilsa at, @i*a !nda termasu* yang ber+andangan bah/a logi*a itu adalah bagian dari ilsa at, ma*a !nda harus ber+enda+at bah/a sebagian dari ilsa at adalah netral,

.!FT!R P&'T!K!
!bdullah 1,",, Kon)i Rij*i, @a*arta3 %asanah, 0;=A, !bu al-'iraj al-Thusy, !l-Duma, 1esir3 .ar al-Kutub al-%aditsah, 0;;C, !bu !bdullah 1aNlu , al-1unjid al-Dughah /a al-Q!lam, Beirut3 .ar al-1asyirI, 0;<A, !bu Ba*ar !tjeh, Pengantar 'ejarah 'u i dan Tasha//u , Ramadhani, 0;=;, !bdul Oadir Gailani, Kore*si terhada+ !jaran Tasha/u , @a*arta3 $ema (nsani Press, 0;;C, !bdul KhaliI al-!nthar, al-'ihr /a al-'aharah /a al-1ashurum, Terjemahan Tarmana, Bandung3 %idayah, 0;;C, !hmad !bdurrahman %amad, al-Q!laIah bayn al-Dughah /a al-Fi*r, .ar al-1aNri ah al-@amiNiyyah, 0;=A, !hmad Ta sir, Filsa at &mum, Bandung3 Rosda*arya, 0;;<, !ldous %uJley, ThePerennial Philoso+hy, #e/ Bor*3 %ar+er and Ro/, 0;4A, !nnemarie ')himmel, .imensi 1isti* dalam (slam, Terjemahan, Pusta*a Firdaus, 0;=C, !li !bu %ayullah al-1ar4uIy, !l-@a/ahir al DamaNah, tt, !,', %ornby, ! DeanerNs .i)tionary o 9urrent "nglish, Dondon3 -J ord &ni:ersity Press, 0;A<, !l-$ha4ali, !l-!u aI3 Kum+ulan (lmu $haib, .iterjemah*an oleh 1asroh al-Khusaeni, 'urabaya3 1ah*ota, 0;=4, Badrudi 'ub*hi, BidRah-bidRah di (ndonesia, @a*arta3 $ema (nsani Press, 0;;C, 9li ord $eert4, !bangan 'ntri dan Priyai, Pusta*a @a/a, 0;=3, 9, 1ulder, Pembimbing *e dalam (lmu Filsa at, @a*arta3 Badan Penerbit Kristen, 0;CC, .a:is D, 'ilis, (nternational "n)y)lo+edia o the 'o)ial 'ien)es, #e/ Bor*3 1a)1illan 9om+any, 0;<2, "lias, 1odern .i)tionary "nglish !rabi), 0;C=, "nsi*lo+edi (slam, )

Fred #, Kerlinger, Foundation o Beha:ior Resear)h, #e/ Bor*3 %olt, Rinehart and Hinston, 0;<3, Frithjo ')houn, The Tran)endent &nity o Religion, #e/ Bor* 3 %ar+er and Ro/, 0;<A, %am*a, Tasau Per*embangan dan Kemurnian, @a*arta3 #urul (slam, 0;=0, %atta, !lam Pi*iran Bunani, @a*arta3 Tinta 1as, 0;CC, %asan !yub, Tabsith al-Q!Iidah al-(slamiyah, Ku/ait3 .ar al-Buhuts al-Q(lmiyah, 0;<;, %aNiri, (lmu %udluri3 Prnsi+-+rnsi+ "+istemologi dalam (slam, Bandung3 1i4an, 0;;;, %erman 'oe/ardi, Tiba 'aatnya (lam Kembali Ka ah Kuat dan Berijtihad 7'uatu Kognisi Baru tentang (slam8, Bandung3 .iterbit*an sendiri oleh Pengarangnya, 0;;;, %asbullah Ba*ry, 'istemati*a Filsa at, @a*arta3 Hidjaja, 0;<0, %ouston 'mith, Beyond Post-1odern, 0;<;, 728 (bn Khaldun, 1uIaddimah, .ar al-Fi*r, 0;=0, (brahim 'amirraNi, FiIh al-Dughah al 1uIarran, Beyrut3 .ar al-TsaIa ah al-(slamiyyah, tt, (bn 1is*a/aih, Tahd4ib al-!*laI, terjemahan, 1i4an, Bandung, 0;;4, (bnu 1and4ur @amaluddin al-!nshari, Disan al-Q!rab Kairo3 .ar al-1ishiriyyah li al-Ta*li /a al-Tarjamah, tt, @auhar 'alim !bbay 7+enerjemah8, !l-Thibb !/asin al Kaey, @a*arta3 Bayasan (bnu Ruman, tt, @oe Par*, 'ele)ted Reading in The Philoso+hy o "du)ation, #e/ Bor*3 The 1a)1illan 9om+any, 0;C0, @ujus ', 'uriasumantri, Filsa at (lmu 3 'ebuah Pengantar Po+uler, @a*arta3 'inar %ara+an, 0;;4, @, Lan Baal, 'ejarah dan Pertumbuhan Teori !ntro+ologi Budaya, (, @a*arta3 $ramedia, 0;=<, @ames .re:er, Kamus !ntro+ologi, Penerjemah #an)y 'imanjunta*, @a*arta3 Bina !*sara, 0;=C, Kamus &mum Bahasa 'unda, Panitia Kamus DB'', Bandung3 Tarate, 0;;2, s

K, Bertens, 'ejarah Filsa at Barat !bad EE, @a*arta3 $ramedia, 0;=3, Kerlinger, Foundation o Beha:ior Resear)h, #e/ Bor*3 %olt, Rinehart and Hinston, 0;<3, Karl @as+er, Philoso+hi)al Faith and Re:elation, Dondon3 9olin, 0;C<, Komaruddin %idayat dan 1uhammad Hahyuni, !gama 1asa .e+an3 Pers+e*ti Filsa at Perennial, @a*arta3 Paramadina, 0;;A, Dange:ed, 1enuju *e Pemi*iran Filsa at, .ja*arta3 PT, Pembangunan, 0;C0, Dembaga 'eni Bela .iri %i*matul (man, Bu*u Pegangan !nggota, Bandung3 D'B.%(, 0;;3, Douis 1aNlu , al 1unjid i al-Dughah /a al-Q!lam, Beirut3 .ar al-1arsyriI, 0;<A, 1ohammad %atta, !lam Pi*iran @unani, .ja*arta3 Tintamas, (, 0;CC, 1athias %aryadi, 1embina %ubungan !ntar Pribadi Berdasar*an Prinsi+ Partisi+asi, Perse*tuan dan 9inta 1enurut $abriel 1ar)el, Bogya*arta3 Kanisius, 0;;C, 1undiri, Dogi*a, PT, Raja $ra indo, @a*arta, 0;;4, 1urtadla 1uthahhari, 1ena+a* @alan '+iritual, @a*arta3 Pusta*a %idayah, 0;;A, 1uhammad (sa .aud, %i/ar al-'ya/a y maNa @inniy al-1ulim, Terjemahan ! i 1uhammad dan %, !bdul !dhiem, Bandung3 Pusta*a %idayah, 0;;C, 1uhammad bin !bdul Hahab, al-Tauhid allad4i hu/a %aIIullah Qala al-Q!bid, Dibanon3 .ar al-Q!rabiyyah, 0;C;, 1ahmud 'yaltut, (slam !Iidah /a 'yariNah, 1esir3 .ar al-Oalam, 0;;C, 1aria 'usuei .ha:amony, Fenomenologi !gama, @a*arta3 Kanisius, 0;;<, Poedja/ijatna, Pembimbing *e !lam Filsa at, .ja*arta3 PT, Pembangunan, 0;<4, Reymond Firth, %uman Ty+es, Terjemahan, Bandung3 'umur Bandung, 0;C0, 'amudi !bdullah, Ta*hayyul dan 1agi) dalam Pandangan (slam, Bandung3 !l-1aNari , 0;;<, 'ihristany, al1ilal /a al#ihal, .ar al-Fi*r, tt, 'a)hi*o 1urata, The Tao o (slam, Bandung3 1i4an, 0;;C, 'yihabuddin Bahya al-'yuhra/adi, %i*ayat-hi*ayat 1istis, Bandung3 1i4an, 0;;2, s - -

'yai*h Hahid !bdul 'alam Bali, al-'harim al-Battar i Tashaddi li 'aharat al-!srar, Terjemahan, @a*arta3 Rabbani Press, 0;;A, 'uroso -ra*as, Hhite 1agi), Pe*alongan3 Bahagia, 0;=;, 'idi $a4alba, 'istemati*a Filsa at, .ja*arta3 Bulan Bintang, ((, 0;<3, 'uyono !riyono, Kamus !ntro+ologi, @a*arta3 !*ademi*a Press, 0;=A, T, @a)ob, 1anusia, (lmu dan Te*nologi, Bogya*arta3 Tiara Ha)ana, 0;;3, &mar %asyim, 'etan sebagai Tertuduh dalam 1asalah 'ihir, Ta*hayyul, Pedu*unan dan !4imat, 'urabaya3 Bina (lmu, tt, HebsterNs #e/ T/entith 9entury .i)tionary o "nglish Danguage, 0;=0, Hahid !bdul 'alam, HiIayat al-(nsan min al-@inny /a al-'yaithan, Beirut3 .ar al-Kutub al-(lmiyah, 0;;=, Hill .urant, The 'tory o Philoso+hy, #e/ Bor*3 'imon and ')huster, (n),, 0;A;, Hilliam @ames, "n)y)lo+edia o Philoso+hy, 0;C<, 728 Hililam @ames, 'ome Problems o Philoso+hy, #e/ Bor*3 Dongman, 0;<0, Hadji 1uhammad al-'yaha/i, 1emanggil Roh dan 1ena*lu**an @in, Bandung3 Remaja Rosda*arya, 0;;<,

T"#T!#$ P"#&D('
!%1!. T!F'(R, lahir di Beng*ulu tahun 0;42, Pendidi*annya dia/ali di 'e*olah Ra*yat 7se*arang '.8 di Beng*ulu, melanjut*an se*olah di P$! 7Pendidi*an $uru !gama8 C tahun di Bogya*arta, 'elanjutnya belajar di Fa*ultas Tarbiyah (!(# Bogya*arta, dan menyelesai*an @urusan Pendidi*an &mum tahun 0;C;, Tahun 0;<A-0;<C 7selama ; bulan8 mengambil Kursus Filsa at di (!(# Bogya*arta, Tahun 0;=2 mengambil Program '-2 di (!(# @a*arta, Tahun 0;=< sudah menyelesai*an '-3 di (!(# @a*arta juga, 'eja* tahun 0;<0, Ta sir mengajar di Fa*ultas Tarbiyah (!(# Bandung, sam+ai se*arang, Tahun 0;;3, $uru Besar (lmu Pendidi*an ini mem+elo+ori berdirinya !sosiasi 'arjana Pendidi*an (slam 7!'P(8, 'eja* @anuari 0;;< diang*at menjadi $uru Besar +ada Fa*ultas Tarbiyah (!(# Bandung, Karya tulisnya tersebar +ada berbagai media, &mumnya menulis tentang +endidi*an dan ilsa at, !*hir-a*hir ini *era+ juga menulis tentang tasa/u , Bu*u tera*hir ini, Filsa at (lmu3 1enuju Pengetahuan 1isti* ialah salah satu *ajian beliau tentang misti*, Bu*u lain yang sudah di+ubli*asi*an di antaranya3 Filsa at &mum, !*al dan %ati 'eja* Thales sam+ai 9a+ra, Rosda*arya, Bandung )eta* ulang *esembilan Februari, 2000> 1etodologi Pendidi*an !gama (slam, Rosda*arya Bandung, sudah )eta*an *eenam> (lmu Pendidi*an dalam Pers+e*ti (slam, Rosda*arya, Bandung, )eta*an *elima 720028,