Anda di halaman 1dari 5

2/6/2014

Bagikan

LesEhaN KanG ALY: Kajian Maqasid Syariah: Sebuah Pengenalan


0

Lainnya

Blog Berikut

Buat Blog

Masuk

LesEhaN KanG ALY


s'derhaNa Apa AdaNya
Kamis, 01 April 2010

About Me
Aly Syahbana Jakarta, Indonesia Bukan siapa2, cuma manusia biasa yg ingin slalu dijalanNya. Lihat profil lengkapku

Kajian Maqasid Syariah: Sebuah Pengenalan


Oleh: Ali Syahbana*1 A. Pendahuluan Puja dan puji syukur tetap terlimpahkan kehadirat Allah swt, atas segala nikmat yang diberikan. Dialah Dzat yang telah menciptapkan segala sesuatu tanpa kesia-siaan. Dzat pencipta manusia dengan penuh kemuliaan dan kesempurnaan. Dan teriring doa semoga kita selalu diberi oleh-Nya sebuah kesejahteraan, baik di alam sekarang maupun yang kelak akan kita rasakan. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahualaihiwasallam, sosok yang telah mengibarkan panji-panji Islami menuju tahta kehormatan dan kemuliaan tertinggi. Dan besar harapan kita semoga termasuk bagian dari umat yang mendapat syafaat beliau di yaumul hisab kelak. Amin Allahumma amin ya rabbal alamin. Wabadu, kajian maqasid syariah merupakan satu dari beberapa disiplin literatur yang diskursusnya berkaitan dengat Syariat Islam. Maqasid syariah juga telah menjadi bagian dari beberapa rujukan penting dalam syariat islamiah. Di samping itu, maqasid syariah pun memiliki kontribusi yang berarti dalam memahami hukum-hukum Allah maupun berijtihad terhadap sekelumit fenomena yang menghampiri yang jawabannya tidak tertera dalam teks al Quran dan as Sunnah serta Ijma para ulama. Di luar itu semua, dengan mengetahui dan memahami maqasid syariah, setidaknya membuat kita terlepas akan klaim pembidahan dalam agama. Sebagaimana Imam Abu Ishak as Syatibi (w: 790 H), tokoh penggagas maqasid syariah mengemukakan bahwa salah satu sebab pembidahan dalam agama ialah buta akan pengetahuan maqasid syariah. Berangkat dari hal tersebut, berbekal kitab al Maqasid as Syariah karya Prof. Dr. Nuruddin bin Mukhtar al Khadimi (Direktur Pasca Sarjana Universitas Ezzitouna Tunisia) sebagai referensi utama, ditambah beberapa referensi pendukung lainnya, dalam kesempatan kali ini penulis akan mencoba mengenalkan secara sederhana tentang kajian maqasid syariah. Tiada harapan bagi penulis kecuali lembaran-lembaran ini bisa membawa berkah dan manfaat baik di masa sekarang maupun yang akan datang, baik di alam dunia maupun alam yang kekal selamanya. B. Definisi Maqasid Syariah al Maqasid merupakan bentuk plural dari kata al maqsad, ia adalah masdar mim dari kata kerja qasada yaqsudu qasdan wamaqsadan. Kata al qasd dan al maqsud memiliki makna yang sama dan secara etimologi atau bahasa bisa berarti sbb: Al qasd memiliki makna niat, maksud atau tujuan. Al qasd juga berarti kesederhanaan, adil dan seimbang, sebagaimana Firman Allah swt : Dan sederhanalah kamu dalam berjalan (Qs. Lukman : 19). Artinya ketika kamu berjalan, janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat. Al qasd juga bisa diartikan dengan jalan yang lurus, mudah diraih dan tidak begitu jauh. Makna ini sesuai firman Allah swt : Dan hak bagi Allah swt (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. dan Jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya

bRita Acara
no : 41/Tap/MP-Ran RI/V/2009 Hal : Peresmian

Dengan ini kami selaku ketua MP-Ran RI menyatakan bahwa ; Nama : Ali Syahbana Alamat : Jl. Tidak Rata no. 03, Indonesia No Blogger : 21389 Telah resmi menjadi bagian dari "komunitas blogger Indonesia". Teriring doa semoga blog yang bersangkutan bisa membawa berkah dan manfaat untuk umat sejagat baik di dunia maupun akhirat. amin Dunia Maya, 30 Mei 2009

ttd, Ketua MP-Ran RI

Blog Archive
2013 (5) 2012 (16) 2010 (11) Desember (1) Juli (1) April (9) Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Kedua di Ho Chi Minh ... Hapal Alquran, Kuliah Gratis di IAIN Raden Fatah H... Menag Buka Pendidikan Maahad Al Quran Gratis Islam Versi Kang Karno Tentang Syirik Khauf (Takut) Imam Abu Hanifah Vs Imam Malik Dalam Mengakses Sun... Kajian Maqasid Syariah: Sebuah Pengenalan Wanita dan Tradisinya 2009 (4)

http://syahbana-ali.blogspot.com/2010/04/kajian-maqasid-syariah-sebuah.html

1/5

2/6/2014

LesEhaN KanG ALY: Kajian Maqasid Syariah: Sebuah Pengenalan


(kepada jalan yang benar) (Qs. an Nahl : 9). Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu Keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu (Qs. at Taubah : 42). Adapun makna Syariah, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al Madkhol Lidirosati As Syariah Al Islamiyah. Abd. karangan Dr. Latif Hidayatullah yaitu: hukum-hukum yang ditetapkan Allah swt kepada hamba-hamba-Nya yang disampaikan melalui para Nabi dan Rasul-Nya, baik lingkup akidah, ibadah, muamalah, akhlak dan tatanan kehidupan yang bertujuan untuk kesejahteraan umat manusia di dunia maupun akhirat.

mEnu Pilihan
Anggap Suara Hatiku (2) Catatan Kritis (20) Celotehku (18) Sekilas Info (3) Wacana Kita (5)

Lesehan sEbeLah
Dari definisi diatas, setidaknya bisa ditemukan titik terang mengenai arti maqasid syariah secara terminologi atau dalam makna ishtilahi. Terlepas dari hal itu, boleh dikatakan bahwa tujuan-tujuan syariat Islam pada intinya menginginkan kemudahan bukan kesulitan dan kesukaran, menghendaki kehidupan yang seimbang dan sejahtera. Hal ini, dipertegas dengan beberapa ayat dalam al Quran, misalnya; Qs. al Baqarah : 185, al Hajj : 78, an Nisa : 28 dan seterusnya.. Apabila realitasnya demikian, maka bagaimana kita mendefinisi maqasid syariah secara terminologi? Prof. Dr. Nuruddin bin Mukhtar al Khadimi dalam karyanya tentang maqasid syariah telah memaparkan seputar partisipasi para ulama berkaitan dengan definisi maqasid syariah. Ia menyebutkan beberapa ulama yang mendefinisikan maqasid syariah, diantaranya adalah : Syaikh Mohammed Tohir bin Asyur, pakar maqasid syariah yang juga guru besar di masjid agung Ezzitouna Tunisia mendefinikan bahwa, Maqasid syariah ialah essensi atau hikmah yang terkandung dalam semua hukum syariat yang telah ditetapkan Syari (Allah Swt dan rasul-Nya) dan mencakup segala aspek hukum. Syaikh Alal al Fasi, salah satu ulama dan pemikir Maroko turut memberikan definisi maqasid syariah, Maqasid syariah yaitu motif atau beberapa rahasia yang ditetapkan oleh Allah swt pada setiap hukum dari hukum syari. Pakar maqasid kontemporer dari Maroko Dr. Ahmad. Raisuni ikut mendefinisikan, bahwa Maqasid syariah ialah tujuan-tujuan dari diletakkannya syariat yang tidak lain untuk kemaslahatan umat. Begitu juga founding father maqasid syariah, Imam Abu Ishaq as Syatibi (w: 790 H) memberikan indikasi bahwa, Tujuan Syari dalam meletakan hukum ialah untuk kemaslahatan hamba-Nya. (al Muwafaqat fi Ushul as Syariah; 2/5). Mengacu pada definisi-definisi diatas, penulis bisa mengambil benang merah bahwa, Maqasid syariah ialah segenap tujuan dari hukum-hukum yang disyariatkan Allah swt terhadap hamba-Nya, yang tidak lain untuk sebuah kemaslahatan. C. Pembagian Maqasid Syariah Para pakar maqasid telah memetakan maqasid syariah menjadi beberapa bagian. Namun, pada kesempatan ini penulis hanya akan memaparkan sedikit dari bagian tersebut yang dianggap perlu untuk diketahui. Adapun pembagian maqasid syariah, yaitu : I- Maqasid Syariah ditinjau dari tingkat kebutuhannya: Maqasid syariah pada pembagian ini terbagi menjadi : Maqasid Dharuriyah (Primer), Maqasid Hajiyah (Sekunder) Dan Maqasid Tahsiniyah (Tersier). - Maqasid Dharuriyah (primer) Maqasid dharuriyah adalah tujuan-tujuan dari kebutuhan manusia yang harus dipenuhi atau eksistensinya wajib terpenuhi. Ulama Ushuliyyin mengistilahkan maqasid dharuriyah dengan sebutan Kulliyatu alkhams atau lima asas, yaitu : Hifz ad Din , maknanya menjaga keberlangsungan agama Islam. Aplikasinya dengan memahami, menyebarluaskan serta mengamalkan ajaran-ajarannya dalam aktivitas keseharian. Dan atas dasar Hifz ad Din, telah disyariatkan hukum-hukum seperti; disyariatkannya pengucapan dua kalimat syahadat sebagai penguat akidah dan iman, disyariatkanyan dzikir dan pembacaan al Quran, pembangunan masjid atau tempattempat ibadah, madrasah, universitas, majlis-majlis pengajian, dan lain-lain. Hifz an Nafs, artinya menjaga atau memelihara hak dan jiwa manusia baik berupa hak untuk hidup, keselamatan, kesehatan, ketenangan jiwa, akal dan ruhani. Dan untuk panjagaan terhadap jiwa tersebut, ditetapkan hukum-hukum syariat seperti; larangan membunuh tanpa hak, disyariatkan qishas, larangan qoth at thoriq (pembegalan atau merampok), larangan membakar jenazah - bahkan wajib bagi kita memandikan, mengkafani, dan menguburnya sebagai wujud pemuliaan-, dan beberapa syariat lainnya
Create Your Badge Already a member? Sign in

aSep sOetRisNa BK-PPI sE TimTenG BuleTin PPI Maroko dEdy W SanUsi GNFI GoEs WawaN Iman mOeRsAliN IndOnEsia Versi ARab PCI NU Maroko TV IndOnesiA Website PPI Maroko

Pengikut
Join this site
w ith Google Friend Connect

Members (8)

Asah Asih Asuh


Sbaztian PodoLinu

http://syahbana-ali.blogspot.com/2010/04/kajian-maqasid-syariah-sebuah.html

2/5

2/6/2014

LesEhaN KanG ALY: Kajian Maqasid Syariah: Sebuah Pengenalan


yang berdimensi menjaga nyawa / jiwa. Hifz al Aql berarti pemeliharan terhadap akal dari berbagai hal yang dapat merusaknya. Berangkat dari tujuan ini, telah disyariatkan hukum-hukum seperti; pengharaman sesuatu yang memabukkan dan segala sesuatu yang dapat merusak akal manusia. Hifz an Nasl, an Nasb dan al Ard yang artinya menjaga keberlangsungan regenerasi umat manusia, serta pemeliharaan terhadap harga diri dan martabatnya. Pada tataran aplikasi dari ketiga hal tersebut, telah ditetapkan dalam al Quran beberapa hukum, semisal; perintah untuk menikah, pengharaman zina, pelarangan nikah tahlil (sekedar cara / perantara untuk mengembalikan seorang wanita pada suami yang telah mentalak tiga), dan juga disyariatkan hukuman bagi syudzudz (hubungan sesama jenis) dan sebagainya. Hifz al Mal yaitu menjaga dan melestarikan keberadaan harta serta membelanjakannya pada jalur yang sesuai. Dalam menjaga harta ini telah disyariatkan hukum-hukum seperti; larangan mencuri, ghasab (merampas atau mengambil milik orang lain secara paksa), menipu atau korupsi, larangan riba dan lain-lain. - Maqasid Hajiyah (sekunder) Ialah tujuan-tujuan yang disandarkan pada barometer hajat kebutuhan manusia. Yang mana jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, hanya berimbas pada timbulnya kesulitan yang tidak sampai fatal akibatnya. Maqasid hajiahAl mashalih al hajiyah yang memiliki arti kemashlahatan yang dibutuhkan. Seperti kemashlahatan transaksi jual-beli, pertanian, kerjasama dalam perdagangan. disebut juga dengan Sebagai contoh dari maqasid hajiyah adalah; diperbolehkannya memakai sutera bagi orang yang terkena penyakit kulit. Hal ini dikarenakan jika ia tidak memakai sutera akan mengakibatkan penyakitnya bertambah parah. Begitu juga dibolehkannya salam (akad pesan memesan), sewa-menyewa, muzaraah (pemanfaatan pertanian dengan cara pemilik tanah memberikan alat, benih dan hewan kepada yang hendak menanaminya dan hasilnya akan dibagi sesuai kesepakatan bersama), mudharabah (kongsi), qiradh (investasi), dan sebagainya. Dan Juga kebolehan qashar (meringkas) shalat bagi musafir, berbuka bagi orang yang sakit, melihat aurat dengan sebab tertentu, dan lain-lain. - Maqasid Tahsiniyah (tersier) Adalah tujuan yang dilandaskan pada barometer kebutuhan manusia yang bersifat sebagai pelengkap atau penyempurna. Dinamakan maqasid tahsiniyah tidak lain karena posisinya sebagai supelmen dalam kehidupan manusia sekaligus memperindah interaksi sosial diantara mereka. Maqasid tahsiniyah - sebagaimana dikemukakan Imam Syatibi termasuk dalam katagori makarim al Akhlak (keluhuran budi pekerti). (Al Muwafaqat fi Ushul as Syariat, 2:11). Contoh maqasid tahsiniyah seperti; menjaga kebersihan tubuh, menutup aurat, memakai parfum sesuai ketentuan syariat, kode etik pada saat kita makan, minum, berpakaian, dan lain sebagainya. II- Maqasid syariah ditinjau dari aspek sandaran dalil Syari Maqasid syariah ditinjau dari sisi ini terbagi menjadi : Maqasid Mulghah (tidak dianggap), Maqasid Mutabarah (dianggap) dan Maqasid Mursalah (nisbi). - Maqasid Mulghah (tidak dianggap oleh syariat) Sebagian Ulama mengibaratkan maqasid mulghah dengan al Mashalih al Mulghah yang pengertiannya ialah kemaslahatan yang tidak dibenarkan dalam perspektif syarI, dan tidak dianggap keberadaannya oleh Allah swt. Kemaslahatan ini lahir dari kacamata individual manusia bukan menurut pandangan Syariat. Jika dilihat sekilas dan secara lahiriyah maka akan tampak sebagai sebuah kemaslahatan, namun pada hakikatnya tidak demikian bahkan ia dapat dikatagorikan sebagai kemafsadatan. Contoh dari maslahah mulghoh seperti ; kenikmatan sejenak yang dirasakan para peminum khamr (minuman keras), penghasilan materi bagi para penjual, pekerja dan distributornya. Atau membunuh seseorang untuk dikonsumsi dagingnya, dikarenakan kondisi kelaparan yang bisa mengakibatkan kematian, dan lain sebagainya. - Maqasid Mutabarah (dianggap oleh syariat) Adalah kemaslahatan yang telah diakui dan ditetapkan keberadaannya dalam nash (teks) syari atau ijmaMaslahah mutabarah merupakan kemaslahatan yang sah dan qathi serta wajib bagi kita untuk mengaplikasikannya. Imam Abu Ishak as Syatibi mengatakan, Sesuatu yang keberadaannya dibenarkan oleh syaraiat, maka tidak ada keraguan dan pertentangan dalam validitas dan pengamalannya. (al Itisham, 2 : 374). (konsesus) para ulama dan mujtahid.

Pengunjung LesehaN

hit counter

Potret Kecil

Glitterfy.com - Photo Flipbooks

http://syahbana-ali.blogspot.com/2010/04/kajian-maqasid-syariah-sebuah.html

3/5

2/6/2014

LesEhaN KanG ALY: Kajian Maqasid Syariah: Sebuah Pengenalan


Sebagai Contoh dalam pembahasan ini ialah ; Kemaslahatan dalam mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa dan melaksanakan ibadah haji (Qs. Taha : 41, Qs. At Taubah : 103, Qs. Al Baqarah : 183). Begitu juga pengharaman zina dan hukuman bagi pelakunya, Hukum qishas dan pembunuhan yang disengaja, dan lain-lain. - Maqasid Mursalah (eksistensinya nisbi) Yaitu penetapan sebuah hukum berdasarkan pada kemaslahatan, yang tidak ada ketentuan dianggap atau tidaknya dalam nash (teks) syari maupun ijma (konsesus) para ulama. (Dr. Abdul Latif Hidayatullah, al Madkhal Lidirasath as Syariah al Islamiah, hlm. 104). Pakar Maqasid asal Maroko, Alal al Fasi dalam al Maqasid as Syariah wa Makarimiha telah memberikan beberapa syarat penetapan hukum dengan maslahah mursalah, antara lain : Maslahah mursalah harus dalam koridor tujuan-tujuan ditetapkannya syariat (sesuai maqasid syariah). Nilai kemaslahatannya harus jelas dan keberadaannya logis (diterima oleh akal). Dalam mengaplikasikan maslahah mursalah harus berdasarkan pada kondisi untuk menjaga sesuatu yang vital dan menghindari bahaya yang fatal. Sebagaimana firman Allah swt, Qs. Al Hajj : 78. (Lihat juga: al Itisham, as Syatibi, hlm. 307-314) . Adapun validitas dalil maslahah al Mursalah, menurut mayoritas ulama adalah dibolehkannya proses istinbath al ahkam (pengambilan hukum) dengan berpegang pada dalil maslahah al mursalah, dengan alasan sbb: Nash-nash al Quran dan as Sunnah yang menganjurkan untuk mengambil kemaslahatan dan meninggalkan kemafsadatan. Kesepakatan para ulama dan mujtahid yang mengklaim bahwa syariat Islam ditetapkan untuk kemaslahatan umat manusia, baik pada masa sekarang maupun yang akan datang. Aplikasi para sahabat dan tabiin yang menetapkan hukum dengan melandaskan pada suatu kemaslahatan pada kasus-kasus yang tidak ditemukan dalil syari secara eksplisit. Diantara contoh maslahah al mursalah adalah pembukuan al Quran pada zaman khalifah Abu Bakar as Siddiq, penyatuan Mushaf dan Qiraah (tata cara membaca) al Quran pada masa khalifah Utsman bin Affan, Pembukuan undang-undang di era para sahabat Nabi, larangan menikah dengan ahli kitab (non muslim dari unsur agama samawi) pada masa khalifah Umar bin Khattab, ditetapkannya peraturan lalu lintas dimasa sekarang yang timbul atas dasar kemaslahatan umat manusia, dan beberapa contoh lainnya. III- Maqasid Syariah ditinjau dari level keaslian Maqasid syariah pada bagian ini terbagi menjadi : Maqasid Asliah (asal) dan Maqasid Tabiah (pelengkap). - Maqasid Asliah (asal) Imam Abu Ishak as Syatibi dalam al Muwafaqat memperkenalkan bahwa maqasid asliah ialah tujuan-tujuan dari segala sesuatu yang pelaksanaannya wajib bagi mukallaf. Sebagian Ulama menyebut Maqasid asliah dengan sebutan maqasid asasiah (pokok). Contoh dari maqasid ini adalah; pernikahan dengan maksud menghasilkan keturunan. Dengan adanya pernikahan, tentunya akan menjadi jalan untuk memperoleh keturunan yang merupakan tujuan utama dari pernikahan. Sedangkan istimta (melampiaskan hasrat biologis), membina keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah (bahagia dan sejahtera) merupakan beberapa tujuan yang mengikuti tujuan uatama di atas (mendapatkan keturunan). Begitu juga mengamalkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, tujuan pokokknya adalah taabbud (beribadah) kepada Allah swt. Sedangkan mendapat kedudukan dimata manusia, pekerjaan yang menghasilkan materi, dan lain sebagainya adalah merupakan tujuan pengikut dari tujuan utama di atas. - Maqasid Tabiah (pengikut) Maqasid tabiah menurut hemat penulis adalah tujuan-tujuan yang lahir dibalik pelaksanaan tujuan asas atau utama. Maqasid tabiah bisa juga masuk dalam kategori maqasid hajiyah dan kamaliyah. Adapun contoh dari maqasid ini yaitu sebagaimana dipaparkan dalam contoh maqasid asliah di atas.

http://syahbana-ali.blogspot.com/2010/04/kajian-maqasid-syariah-sebuah.html

4/5

2/6/2014
D. Penutup

LesEhaN KanG ALY: Kajian Maqasid Syariah: Sebuah Pengenalan

Maqasid syariah pada tataran prakteknya bisa masuk dalam berbagai aspek kehidupan. Entah itu aspek ibadah, muamalah, penetapan hukum, siyasah syariyyah ataupun yang lainnya. Maka dengan kita mengetahui dan memahaminya, setidaknya kita telah memiliki saham untuk lebih memahami maksud hukum-hukum Ilahi ataupun menetapkan hukum pada realitas yang kita hadapi. Dalam kitab Min Alam al Fikr al Maqasidi karya Dr. Ahmad Raisuni dijelaskan Barang siapa yang telah menguasai maqasid syariah, maka ia telah memahami akan syariat Allah swt dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang mengetahui atau memahaminya, maka ia adalah hakim dan faqih yang hakiki. Wallahualam bisshawab.

* Disampaikan dalam diskusi reguler Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko Cab. Kenitra pada tanggal 16 Mei 2009. * Tulisan ini ditashih oleh Dr. Arwani Syaerozi, pemerhati maqasid syariah asal Indonesia. 1 Penulis termasuk mahasiswa Fak. Dirasah Islamiah Univ. Ibnu Thufail Kenitra Maroko.
Diposkan oleh Aly Syahbana di 01.26 Label: Catatan Kritis

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar

Posting Lebih Baru


Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Beranda

Posting Lama

Template Watermark. Diberdayakan oleh Blogger.

http://syahbana-ali.blogspot.com/2010/04/kajian-maqasid-syariah-sebuah.html

5/5