Anda di halaman 1dari 55

PRESENTASI KASUS

DIABETES MELITUS TIPE 1

Aldi Fauzan Lazuardi

( 1102009019 )

P RESENTASI K ASUS D IABETES M ELITUS T IPE 1 Aldi Fauzan Lazuardi ( 1102009019

Baharuddin Wahyu Usman

Fitria Apriliani

( 1102009052 )

( 1102009117 )

P RESENTASI K ASUS D IABETES M ELITUS T IPE 1 Aldi Fauzan Lazuardi ( 1102009019
P RESENTASI K ASUS D IABETES M ELITUS T IPE 1 Aldi Fauzan Lazuardi ( 1102009019

Pembimbing :

Dr. Ellen Roostaty Sianipar, Sp.A

STATUS PASIEN

  • Nama

: An. E

  • : 2 tahun 8 bulan

Usia

  • Jenis Kelamin

: Laki - laki

  • Agama

: Islam

  • Alamat

: Jln Belimbing RT. 13 RW. 1 No. 6

Jagakarsa Jakarta Selatan

  • No. CM

: 2013 458080

S TATUS P ASIEN  Nama : An. E  : 2 tahun 8 bulan Usia

IDENTITAS ORANG TUA

Ayah

Ibu

  • Nama

: Tn. A

  • Nama

: Ny. N

  • Usia : 24 tahun

  • Usia : 23 tahun

  • Agama

: Islam

  • Agama

: Islam

  • Pendidikan: SMP

  • Pekerjaan : Tukang

Parkir

  • Pekerjaan : Ibu Rumah

Tangga

I DENTITAS O RANG T UA Ayah Ibu  Nama : Tn. A  Nama :

ANAMNESA

Aloanamnesa Ibu dan Ayah
Aloanamnesa
Ibu dan Ayah

Keluhan Utama

Sesak, Mencret, Demam, BAK

banyak dan sering

Keluhan Tambahan

Tidak mau makan, Rewel,

Sering Haus, Lemas

A NAMNESA Aloanamnesa Ibu dan Ayah Keluhan Utama Sesak, Mencret, Demam, BAK banyak dan sering Keluhan

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Dibawa Ke IGD RSUD Rujuk kontrol RSCM Pasar Rebo • Sesak • BAB cair • BAK
Dibawa Ke IGD RSUD
Rujuk kontrol RSCM
Pasar Rebo
• Sesak
• BAB cair
• BAK banyak dan sering
• Ampas kehijauan
• Demam 2 hari
• Rewel
• Tidak mau makan
• Merasa haus
• Lemas
• Cek GDS 500
• Rawat inap
• GDS paling tinggi sekitar
200-300
• Bila makan coklat GDS
naik jadi 500
• Aktif bermain saat GDS
500
• Saat GDS tinggi BAK
banyak

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

  • Pasien sebelumnya hanya mengalami ISPA dan

diare

  • Penyakit paru, asma, jantung bawaan, kejang, penyakit darah, morbili disangkal oleh ibu pasien

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

  • Riwayat penyakit seperti ini di keluarga di sangkal

oleh ibu pasien

R IWAYAT P ENYAKIT D AHULU  Pasien sebelumnya hanya mengalami ISPA dan diare  Penyakit

RIWAYAT KEHAMILAN

  • Ante Natal Care dilakukan di Bidan

  • Rutin periksa kehamilan setiap 1 bulan

  • Ibu tidak pernah mengkonsumsi jamu, obat-obatan, dan alkohol saat kehamilan

  • Tidak ada penyakit penyerta selama kehamilan

R IWAYAT K EHAMILAN  Ante Natal Care dilakukan di Bidan  Rutin periksa kehamilan setiap

RIWAYAT KELAHIRAN

  • Lahir cukup bulan

  • Secara spontan ditolong bidan

  • BB 2800 gram, PB 48 cm

  • Lingkar kepala dan nilai APGAR tidak diketahui

  • Tidak ada kelainan bawaan

R IWAYAT K ELAHIRAN  Lahir cukup bulan  Secara spontan ditolong bidan  BB 2800

RIWAYAT PASCA PERSALINAN

  • Pasien minum ASI sampai usia 2 tahun

  • Setelah usia 2 tahun, pasien diberi ASI dan susu formula

  • Ibu pasien selalu mengontrol kadar karbohidrat pasien

R IWAYAT P ASCA P ERSALINAN  Pasien minum ASI sampai usia 2 tahun  Setelah

RIWAYAT TUMBUH KEMBANG

  • Tumbuh kembang pasien normal, hanya berat

badan pasien yang sulit naik

  • Pada usia 1 tahun berat badan 9 Kg, sedangkan pada usia 2 tahun 8 bulan berat badan pasien 10,3 Kg

RIWAYAT TUMBUH KEMBANG

  • Riwayat imunisasi pasien dikatakan lengkap di puskesmas, Imunisasi terakhir campak

R IWAYAT T UMBUH KEMBANG  Tumbuh kembang pasien normal, hanya berat badan pasien yang sulit

SOSIAL EKONOMI

  • penghasilan perbulan ayah pasien tidak ingin menyebutkan nominal. Jumlah anggota keluarga 3 orang

LINGKUNGAN

  • Pasien tinggal di rumah kontrakan yang dihuni oleh 3 orang anggota keluarga ( ayah, ibu, dan 1 orang anak )

  • Rumah teratur namun tidak kumuh

  • Sirkulasi udara dan pencahayaan baik

  • Sumber air bersih yang digunakan berasal dari PAM

S OSIAL E KONOMI  penghasilan perbulan ayah pasien tidak ingin menyebutkan nominal. Jumlah anggota keluarga

PEMERIKSAAN FISIK

  • Dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2013

    • Status Generalis

      • Keadaan Umum : Baik

      • Kesadaran

      • Tanda vital

: Compos Mentis

  • : 116 x/menit

HR

  • : 28 x /menit

RR

Suhu

BB

: 36,7 o C

: 10,3 kg

  • : Normocephal

Kepala

  • : conjungtiva anemis -/-, Skelera

Mata

Ikterik -/-

P EMERIKSAAN F ISIK  Dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2013  Status Generalis  Keadaan
  • Hidung

: deviasi septum (-), sekret (-)

  • Mulut

: sianosis (-), lidah tidak kotor

  • Leher

: kelenjar getah bening tidak membesar

  • Toraks:

  • Paru-paru

:

  • Inspeksi : bentuk dada simetris kanan dan kiri, pernapasan simetris dalam keadaan statis dan dinamis, retraksi sela iga (-)

  • Palpasi : fremitus taktil dan fremitus vokal normal

  • Perkusi : sonor di kedua hemitoraks

  • Auskultasi : suara napas vesikuler, ronki (-/-), wheezing (-/-)

  • Jantung :

    • Inspeksi : iktus kordis tampak

    • Palpasi : iktus kordis teraba di ICS 4 linea midclavicula sinistra

    • Perkusi : batas jantung normal

 Hidung : deviasi septum (-), sekret (-)  Mulut : sianosis (-), lidah tidak kotor
  • Auskultasi : BJ I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)

  • Abdomen

:

  • Inspeksi : sikatrik (-)

  • Auskultasi : bising usus normal

  • Palpasi : Bising Usus terdengar, Nyeri tekan epigastrium (-) Hepar dan lien tidak teraba membesar

  • Perkusi : timpani diseluruh quadran perut

  • Ekstremitas

: Akral hangat (+), edema ekstremitas (-) turgor baik

 Abdomen :  Inspeksi : sikatrik (-)  Auskultasi : bising usus normal  Palpasi

PEMERIKSAAN

IGD

Mawar

Mawar

Mawar

Mawar

19/1/13

19/1/13

20/1/13

21/1/13

23/1/13

HEMATOLOGI

 

LED

-

-

4 0

-

Hemoglobin

8.7

-

7.7

-

7.6

Hematokrit

33

-

27

-

27

Leukosit

21200

-

10810

-

8660

Thrombosit

572000

-

361000

-

363000

Eritrosit

-

-

4.7

-

-

MCV

-

-

58

-

-

MCH

-

-

17

-

-

MCHC

-

-

22

-

-

HITUNG JENIS

 

Basofil

-

-

0

-

Eosinofil

-

-

1

-

-

Batang

-

-

0

-

 
-
-

Segmen

-

-

50

-

 

Limfosit

-

-

41

-

-

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Di RSUD Pasar Rebo

PEMERIKSAAN

LABORATORIUM

  • Di RSUD Pasar Rebo

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Di RSUD Pasar Rebo
PEMERIKSAAN LABORATORIUM Di RSUD Pasar Rebo

PEMERIKSAAN

IGD

Mawar

Mawar

Mawar

Mawar

19/1/13

19/1/13

20/1/13

21/1/13

23/1/13

KIMIA DARAH FUNGSI HATI

  • - -

16

-

-

SGPT/ALAT

 

SGOT/ASAT

  • - -

28

-

-

DIABETES

 

Gula Darah Sewaktu

Stik HI

43 (duplo)

-

419

-

HbA1c

  • - -

10.1 (↑)

-

-

FUNGSI GINJAL

 

-

Ureum

  • - -

16.5

-

Ureum - - 16.5 -

PEMERIKSAAN

IGD

Mawar

Mawar

Mawar

Mawar

19/1/13

19/1/13

20/1/13

21/1/13

23/1/13

GAS DARAH- ELEKTROLIT

Elektrolit Na +

-

142

-

153

-

Elektrolit K +

-

2.3

-

7.8

-

Elektrolit Cl

-

105

-

118

-

pH

7.04

7.47

-

-

-

PCO2

11

21

-

-

-

PO2

91

23

-

-

-

Hct

-

22

-

-

-

HCO3-

3.0

15.3

-

-

-

HCO3- std

4.9

16.4

-

-

-

TCO2

3.3

15.9

-

-

-

BE ecf

-27.6

-8.4

-

-

- -
-
-

BE (B)

-25.6

-7.5

-

-

Saturasi O2

PEMERIKSAAN

IGD

Mawar

Mawar

Mawar

Mawar

Mawar

Mawar

Mawar

19/1/13

19/1/13

20/1/13

21/1/13

23/1/13

24/1/13

25/1/13

26/1/13

URINALISA

 

-

Warna

Kuning

-

Kuning

Kuning

Kuning

  • - Kuning

Kejernihan

Jernih

-

Keruh

Jernih

Jernih

 
  • - Jernih

-

BJ

1.030

-

1.020

1.020

1.020

 
  • - 1.020

-

pH

6.0

-

6.0

7.5

7.0

 
  • - 7.0

-

   

Glukosa

+4

-

-/Negatif

-/Negatif

+3

 
  • - -/Negatif

-

   

Bilirubin

-/Negatif

-

-/Negatif

-/Negatif

-/negatif

 
  • - -/Negatif

-

   

Keton

+4

-

-/Negatif

-/Negatif

+1

 
  • - -/Negatif

-

   

Darah/Hb

+1

-

-/Negatif

-/Negatif

-/negatif

 
  • - -/Negatif

Protein

   

-

+1

-

+1

-/Negatif

+1

 
  • - -/Negatif

Urobilinogen

-/Negatif

-

-/Negatif

-/Negatif

-/negatif

 

-

 
  • - -/Negatif

Nitrit

-/Negatif

-

-/Negatif

-/Negatif

-/negatif

 

-

   

Leukosit

-/Negatif

-

-/Negatif

-/Negatif

-/negatif

 
  • - -/Negatif

-

   

SEDIMEN

 
  • - -/Negatif

-

Leukosit

  • - 1-2

-

1-2

1-2

 
  • - 1-2

-

Eritrosit

  • - 0-1

-

1-2

1-2

Silinder

  • - -/Negatif

-

-/Negatif

-/negatif

  • - 1-2

-

Sel epitel

  • - +/positif

-

+/positif

+/positif

  • - -/Negatif

-

- -
-
-

Kristal

  • - Urat amorf

-

-/Negatif

-/negatif

  • - +/positif

 

(+)

  • - -/Negatif

Bakteri

  • - +/positif

-

+/positif

+/positif

  • - +/positif

-

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Di RS Cipto Mangunkusumo

PEMERIKSAAN

LABORATORIUM

  • Di RS Cipto Mangunkusumo

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Di RS Cipto Mangunkusumo
PEMERIKSAAN LABORATORIUM Di RS Cipto Mangunkusumo

HEMATOLOGI

   

Hemoglobin

7.7

g/dL

11.5 - 14.5

Hematokrit

28.1

%

32.0 - 43.0

Eritrosit

4.77

10 6 /μL

3.90

5.30

MCV

58.9

fL

76.0

90.0

MCH

16.1

pg

25.0

31.0

MCHC

27.4

g/dL

32.0 -36.0

Trombosit

511

10 3 /μL

150 - 400

Leukosit

7.80

10 3 /μL

4.00 12.00

HITUNG JENIS

 

Basofil

0.6

%

 

0 1

Eosinofil

1.9

%

1 3

Neutrofil

26.2

%

52.0

76.0

Limfosit

64.5

%

20 40

20 – 40

Monosit

6.8

%

a2 8

 

0 10

PEMERIKSAAN

HASIL

SATUAN

NILAI RUJUKAN

KIMIA KLINIK

     

FK(SI)-TIBC

12

μg/dL

24 - 91

Serum iron (Fe)

TIBC

499

μg/dL

220 429

Transferin

2

%

15 45

IMUNOSEROLOGI

     

Ferritin

0.9

ng/mL

10.0 400.0

       
 
KIMIA KLINIK FK(SI)-TIBC 12 μg/dL 24 - 91 Serum iron (Fe) TIBC 499 μg/dL 220 –

PEMERIKSAAN LABORATORIUM PRODIA TANGGAL 06-02-2013

PEMERIKSAAN a

HASIL

C-Peptide (sewaktu)

0.3 ng/mL

PEMERIKSAAN LABORATORIUM PRODIA T ANGGAL 06-02-2013 PEMERIKSAAN a HASIL C-Peptide (sewaktu) 0.3 ng/mL

PEMERIKSAAN LABORATORIUM RSCM TANGGAL 07-02-2013

PEMERIKSAAN

HASIL

SATUAN

NILAI RUJUKAN

HEMATOLOGI

 

RUTIN

7.85

g/dL

10.6-12.0

Hemoglobin

 

Hematokrit

30.7

%

35-43

Leukosit

8060

/mm 3

6000-175000

Trombosit

395000

/mm 3

227000-452000

MCV

62.5

fL

76-90

MCH

16.0

pg

25-31

MCH 16.0 pg 25-31

PEMERIKSAAN LABORATORIUM RSCM TANGGAL 26-07-2013

PEMERIKSAAN

HASIL

SATUAN

NILAI RUJUKAN

HEMATOLOGI

     

LENGKAP

Hemoglobin

  • 12.0 g/dL

11.5 - 14.5

Hematokrit

  • 35.1 %

 

32.0 - 43.0

Eritrosit

  • 4.63 10 6 /μL

 
  • 3.90 5.30

MCV/VER

  • 75.8 fL

 
  • 76.0 90.0

MCH/HER

  • 25.9 pg

 
  • 25.0 31.0

MCHC/KHER

  • 34.2 g/dL

 

32.0 -36.0

Trombosit

144

10 3 / μL

150 - 400

150 - 400

Leukosit

6.61

10 3 / μL

4.00 12.00

 

PEMERIKSAAN

 

HASIL

SATUAN

NILAI RUJUKAN

 

HITUNG JENIS

 

Basofil

  • 0.5 %

0 1

Eosinofil

  • 1.4 %

1 3

Neutrofil

  • 54.9 %

52.0 76.0

Limfosit

  • 28.4 %

20 40

Monosit

  • 14.8 %

2 8

LED

20

Mm

0 10

KIMIA KLINIK

Gliko Hb (HbA1c)

10.3

%

< 5.7 : normal

5.7 6.4 : berisiko D. Melitus

> 6.5 : Diabetes melitus

PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN HITUNG JENIS Basofil 0.5 % 0 – 1 Eosinofil 1.4 %

PEMERIKSAAN GDS TERAKHIR

Tanggal

Pagi

Siang

Malam

11-10-2013

124

(2 jam) 143

  • 106 (2 jam) 53

403

(2 jam) 52

12- 10- 2013

  • 71 (2 jam) 435

44 (2 jam) 332

47 ( 2 jam) 419

  • 13 -10 -2013

139 ( 2 jam) 63

256 (2 jam) 47

179

  • 14 10 - 2013

  • 57 (2 jam) 185

  • 119 114

 

(2 jam) 332

22 10 - 2013

143

( 2 jam) 122

  • 146 231

 
P EMERIKSAAN GDS TERAKHIR Tanggal Pagi Siang Malam 11-10-2013 124 (2 jam) 143 106 (2 jam)

RESUME

Pada awal pengobatan sewaktu pasien umur 1 tahun, pasien datang ke IGD RSUD Pasar Rebo dengan keluhan sesak, BAB cair disertai ampas

bewarna kehijauan, demam 2 hari SMRS. Pasien rewel, tidak mau

makan, merasa haus, dan tampak lemas. Batuk dan pilek disangkal, kejang di sangkal. Kemudian pasien sempat di rawat di RSUD Pasar Rebo selama 12 hari dan hasil pemeriksaan GDS nya mencapai 500. Kemudian pasien di rujuk untuk control di RSCM. GDS pasien paling tinggi sekitar 200 300 selama pengobatan di RSCM. Bila pasien makan coklat GDS nya bisa mencapai 500. Menurut keterangan orang tua pasien, pasien tidak mengeluh apa apa dan pasien masi aktif bermain sewaktu GDS nya 500. Riwayat penyakit seperti ini di keluarga disangkal oleh ibu pasien

Pada pemeriksaan fisik didapat normal. Pada pemeriksaan laboratorium pada awal masuk di IGD di dapat kadat Hb 8.7 g/dL, Ht 33 %, leukosit

21200 uL, trombosit 572000, GDS stik high, pH 7.04, PCO2 11 mmgH,

BE ecf -27.6. Pada pemeriksaan tanggal 20/01/2013 HbA1c 10.1 %.

RESUME • Pada awal pengobatan sewaktu pasien umur 1 tahun, pasien datang ke IGD RSUD Pasar

DIAGNOSIS KERJA

  • Diabetus Melitus Tipe 1

DIAGNOSIS KERJA  Diabetus Melitus Tipe 1

PENATALAKSANAAN

-

Injeksi pen insulin aspart 3-3-2 unit

-

Injeksi pen insulin detemir 4 unit

-

PENATALAKSANAAN - Injeksi pen insulin aspart 3-3-2 unit - Injeksi pen insulin detemir 4 unit -

PROGNOSIS

  • Ad vitam

  • Ad fungtionam

: ad bonam

: ad malam

PROGNOSIS  Ad vitam  Ad fungtionam : ad bonam : ad malam

ANALISA KASUS

  • Anamnesa

    • Lemas

    • Berat badan tidak meningkat

    • Buang air besar banyak

    • Sering merasa haus sering minum

Dari

anamnesa

diatas

merupakan

gejala

khas

untuk

Diabetes

Melitus

untuk

lebih

tepatnya

lagi

maka

dilakukan pemeriksaan laboratorium Glukosa darah sewaktu, Glukosa darah puasa dan HbA1c

  • GDS sehari- hari sebelum suntik insulin >200 mg/dL

  • HbA1c terakhir : 10.3 %

ANALISA KASUS  Anamnesa  Lemas  Berat badan tidak meningkat  Buang air besar banyak
  • Tatalaksana

    • Insulin aspart (Rapid Acting) diberikan sebelum makan untuk mengatasi hiperglikemi setelah makan

    • Insulin detemir (long acting) diberikan karena sifat kerjanya yang tidak mempunyai kadar puncak dengan lama kerja 24 jam .

 Tatalaksana  Insulin aspart (Rapid Acting) → diberikan sebelum makan untuk mengatasi hiperglikemi setelah makan

TINJAUAN PUSTAKA

DIABETES MELITUS

TINJAUAN PUSTAKA DIABETES MELITUS TIPE 1

TIPE 1

DEFINISI

DM

tipe

1

adalah

kelainan

sistemik akibat

terjadinya gangguan metabolisme glukosa yang ditandai oleh hiperglikemia kronik.

Diakibatkan oleh kerusakan sel –β pankreas baik oleh proses autoimun maupun idiopatikproduksi insulin berkurang bahkan terhenti.

D EFINISI  DM tipe 1 adalah kelainan sistemik akibat terjadinya gangguan metabolisme glukosa yang ditandai

EPIDEMIOLOGI

  • Insiden tertinggi diabetes mellitus tipe 1 terjadi di Finlandia, Denmark serta Swedia yaitu sekitar 30 kasus baru setiap tahun dari setiap 100.000 penduduk.

  • Anak perempuan dan anak laki-laki hampir sama

  • Puncak di usia 5-7 tahun dan pada saat pubertas

  • Insiden di Indonesia dari data registry nasional untuk penyakit DM pada anak dari UKK Endokrinologi PP IDAI, terjadi peningkatan jumlah dari 200-anak dengan DM pada tahun 2008 menjadi 580-an pasien pada

tahun 2011.

E PIDEMIOLOGI  Insiden tertinggi diabetes mellitus tipe 1 terjadi di Finlandia, Denmark serta Swedia yaitu

ETIOLOGI DAN PATOGENESIS

E TIOLOGI DAN PATOGENESIS

PERJALANAN PENYAKIT

  • Periode Pra-Diabetes

  • Periode Manifestasi Klinis

  • Periode Honey Moon

  • Periode Ketergantungan Insulin yang Menetap

PERJALANAN PENYAKIT  Periode Pra-Diabetes  Periode Manifestasi Klinis  Periode Honey Moon  Periode Ketergantungan

GAMBARAN KLINIS

  • Gejala-gejala poliuria, polidipsia, polifagia dan berat badan yang cepat menurun terjadi antara 1 sampai 2 minggu sebelum diagnosis ditegakkan.

  • Ketoasidosis menyebabkan tanda awal pada kebanyakan anak diabetes (25%).

  • Perjalanan alamiah penyakit DM tipe 1 ditandai

dengan adanya fase remisi (parsial/total) yang dikenal sebagai honeymoon periode.

G AMBARAN K LINIS  Gejala-gejala poliuria, polidipsia, polifagia dan berat badan yang cepat menurun terjadi

KRITERIA DIAGNOSIS

  • Bila dengan gejala (polidipsi, poliuria, polifagia), maka pemeriksaan gula darah abnormal satu kali sudah dapat menegakkan diagnosis DM. sedangkan bila tanpa gejala, maka diperlukan paling tidak 2 kali pemeriksaan gula darah abnormal pada waktu yang berbeda

  • Kriteria hasil pemeriksaan gula darah abnormal adalah :

    • Kadar gula darah sewaktu > 200 mg/dL atau

    • Kadar gula darah puasa > 126 mg/dL atau

    • Kadar gula darah postpandrial > 200 mg/dL

  • Untuk menegakkan

  • diagnosis

    DM

    Tipe

    1,

    dilakukan

    pemeriksaan penujang, yaitu C-peptide 0.85 ng/ml.

    Pemeriksaan lain adalah adanya autoantibody, yaitu

    • Islet cell autoantibodies (ICA),

    • Glutamic acid decarboxylase autoantibodies (65K GAD),

    • IA2 (dikenal sebagai ICA 512 atau tyrosine posphatase) autoantibodies dan Insuline autoantibodies (IAA).

    K RITERIA D IAGNOSIS  Bila dengan gejala (polidipsi, poliuria, polifagia), maka pemeriksaan gula darah abnormal

    TES TOLERANSI GLUKOSA

    • Dosis glukosa1,75 g/ kgBB (maksimum 75 g). dalam 200-250 c air.

    • Tidak sedang menderita suatu penyakit.

    • Tidak sedang di dalam pengobatan/ minum obat- obat yang dapat meningkatkan kadar glukosa darah.

    • Gunakanlah darah vena.

    • Setelah darah vena diambil dengan pengawet EDTA/ heparin segera disimpan di dalam es/ lemari es.

    T ES T OLERANSI G LUKOSA  Dosis glukosa  1,75 g/ kgBB (maksimum 75 g).

    PENGELOLAAN

    • Komponen pengelolaan DM tipe 1

      • pemberian insulin,

      • pengaturan makan,

      • olahraga,

      • edukasi, yang didukung oleh pemantauan mandiri (home monitoring).

      • Monitoring kontrol glikemik

    P ENGELOLAAN  Komponen pengelolaan DM tipe 1  pemberian insulin,  pengaturan makan,  olahraga,

    INSULIN

    I NSULIN
    • Jenis insulin : insulin kerja cepat, kerja pendek, kerja

    menengah, kerja panjang, maupun insulin campuran (campuran kerja cepat/pendek dengan kerja menengah).

    • Dosis Insulin : Dosis total harian pada anak berkisar

    antara

    0,5-1

    ditegakkan.

    Unit/KgBB

    pada

    awal

    diagnosis

    • Regimen : Kita mengenal dua macam regimen, yaitu regimen konvensional, serta regimen intensif.

     Jenis insulin : insulin kerja cepat, kerja pendek, kerja menengah, kerja panjang, maupun insulin campuran

    Terapi insulin awal pada anak-anak

    • Anak-anak dengan hiperglikemia sedang tanpa ketonuria atau asidosis diawali dengan dosis tunggal insulin kerja sedang per hari secara subkutan sebanyak 0,3-0,5 unit/kg

    • Anak-anak dengan hiperglikemia dan ketonuria tetapi tanpa asidosis atau dehidrasi dapat diberikan dosis awal insulin kerja sedang sebanyak 0,5-0,7 unit/kg dan diberikan secara subkutan sebanyak 0,1 unit/kg secara teratur dalam interval 4-6 jam.

    Terapi insulin awal pada anak-anak  Anak-anak dengan hiperglikemia sedang tanpa ketonuria atau asidosis diawali dengan

    PENGATURAN MAKAN/DIET

    tujuan

    mencapai

    kontrol

    metabolik

    yang

    mengabaikan kalori yang dibutuhkan.

    baik

    tanpa

    • 50-60% dari karbohidrat, 10-15% berasal dari protein dan 30% dari lemak.

    • jumlah kalori sesuai dengan BB ideal

    • jadwal makan makan lebih sering dengan porsi sedang

    • Pembagian kalori per 24 jam diberikan 3 kali makanan utama dan 3 kali

    • makanan kecil sebagai berikut :

    • 20% berupa makan pagi.
      10% berupa makanan kecil.

    • 25% berupa makan siang.

    • 10% berupa makanan kecil.

    • 25% berupa makan malam.
      10% berupa makanan kecil.

    P ENGATURAN MAKAN / DIET  tujuan  mencapai kontrol metabolik yang mengabaikan kalori yang dibutuhkan.

    OLAHRAGA

    Olahraga akan membantu menurunkan kadar gula darah serta meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap

    insulin.

    Namun

    olahraga

    dapat

    hipoglikemia

    ketoasidosis)

    maupun

    meningkatkan

    hiperglikemia

    risiko

    (bahkan

    gula darah sebelum olahraga di atas 250 mg/dl serta

    didapatkan

    adanya

    ketonemia

    maka

    dilarang

    berolahraga. Apabila kadar gula darah di bawah 90

    mg/dl,

    maka

    menambahkan

    hipoglikemia.

    sebelum

    berolahraga perlu

    diet

    karbohidrat

    untuk

    mencegah

    O LAHRAGA  Olahraga akan membantu menurunkan kadar gula darah serta meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin.

    EDUKASI/PEMANTAUAN

    Tujuan mengurangi morbiditas akibat komplikasi akut maupun kronis, baik selama perawatan di

    rumah sakit maupun secara mandiri di rumah.

    • Keadaan umum, tanda vital

    • Kemungkinan infeksi

    • Kadar gula darah

    • Kadar HbA1C

    • Pemeriksaan keton urine

    • Mikroalbuminuria

    • Fungsi ginjal

    • Funduskopi untuk memantau terjadinya retinopati

    • Tumbuh kembang.

    E DUKASI / PEMANTAUAN  Tujuan  mengurangi morbiditas akibat komplikasi akut maupun kronis, baik selama

    KONTROL METABOLIK

    K ONTROL M ETABOLIK Pasien harus melakukan pemeriksaan gula darah berkala dalam sehari. Setiap 3 bulan

    Pasien harus melakukan pemeriksaan gula darah berkala dalam

    sehari. Setiap 3 bulan memeriksa HbA1c

    K ONTROL M ETABOLIK Pasien harus melakukan pemeriksaan gula darah berkala dalam sehari. Setiap 3 bulan

    KOMPLIKASI

    Komplikasi ketoasidosis

    jangka

    pendek:

    hipoglikemia

    dan

    Komplikasi

    jangka

    lama

    termasuk

    penyakit

    kardiovaskular), kegagalan kronis ginjal, kerusakan

    retina, serta kerusakan saraf

    K OMPLIKASI  Komplikasi ketoasidosis jangka pendek: hipoglikemia dan  Komplikasi jangka lama termasuk penyakit kardiovaskular),

    PROGNOSIS

    • Gula darah, HbA1c, kolesterol, tekanan darah, dan berat badan yang terkontrol sangat penting sebagai faktor penentu prognosis dan perkembangan penyakit diabetes sendiri terutama komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular.

    • Pasien DM tipe 1 yang dapat survive dalam waktu 10- 20 tahun setelah onset tanpa komplikasi, pasien tersebut memiliki prognosis yang baik. Factor lain yang berpengaruh terhadap prognosis penyakit ini adalah edukasi dan motivasi, kesadaran pasien, serta tingkat pendidikan pasien.

    P ROGNOSIS  Gula darah, HbA1c, kolesterol, tekanan darah, dan berat badan yang terkontrol sangat penting

    DAFTAR PUSTAKA

    • Al Homsi MF, Lukic ML. An Update on the pathogenesis of Diabetes Mellitus. Faculty of Medicine and Health Sciences, UAE University, Al Ain, United Arab Emirates; 2000

    • Brink SJ, Lee WRW, Pillay K, Kleinebreil (2010). Diabetes in children and adolescents, basic training manual for healthcare professionals in developing countries, 1st ed. Argentina: ISPAD, h 20-21.

    • Irland NB. The story of type 1 diabetes. Nursing for women’s health, volume 14, 2010; 327-338

    • ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2009. Pediatric Diabetes 2009: 10.

    • Mortensen HB, et al. Multinational study in children and adolescents with newly diagnosed type 1 diabetes: association of age, ketoacidosis, HLA status, and autoantibodies on residual beta- cell function and glycemic control 12 months after diagnosis. Pediatric Diabetes 2010: 11: 218
      226.

    • Netty EP. Diabetes Mellitus Tipe I dan Penerapan Terapi Insulin Flexibel pada Anak dan Remaja. Diajukan pada Forum Komunikasi Ilmiah (FKI) Lab./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR/RSUD Dr. Soetomo Surabaya. February 13, 2002.

    • Rustama DS, Subardja D, Oentario MC, Yati NP, Satriono, Harjantien N (2010). Diabetes Melitus. Dalam: Jose RL Batubara Bambang Tridjaja AAP Aman B. Pulungan, editor. Buku Ajar Endokrinologi Anak, Jakarta: Sagung Seto 2010, h 124-161.

    • Thomas RC, et al. Autoimmunity and the Pathogenesis of type 1 Diabetes. McGill University Medical School, Montreal, Canada; 2010; 47(2): 5171

    • Weinzimer SA, Magge S (2005). Type 1 diabetes mellitus in children. Dalam: Moshang T Jr. Pediatric endocrinology. Philadelphia: Mosby Inc, h 3-18.

    D AFTAR P USTAKA  Al Homsi MF, Lukic ML. An Update on the pathogenesis of