Anda di halaman 1dari 11

KOELI BERKELANJUTAN

MENYINGKAP KONDISI BURUH DI PERKEBUNAN SAWIT ANGGOTA RSPO

Hutan Rakyat Institute


Disampaikan dalam Diskusi Publik Universitas Darma Agung Medan, 7 November 2013

Buruh Perkebunan Sawit : Dari 236.000 buruh di perkebunan kelapa sawit, terdapat setidaknya 80.000 buruh harian lepas (BHL) tanpa tambahan jaminan sosial. Selain itu, terdapat 68.000 orang buruh pengutip brondolan atau dikenal dengan istilah kernet. Setiap buruh pemanen memiliki kernet atau pembantu yang tidak punya perikatan dengan perusahaan, untuk mencapai target kerja yang ditetapkan perusahaan. (KPS, 2008)

Buruh perkebunan di Sumatera Utara umumnya adalah mereka yang tidak mempunyai tanah ditempat kelahirannya dan banyak didatangkan dari Jawa. Mayoritas buruh yang bekerja di perkebunan adalah generasi ketiga dari keturunan kuli kontrak yang didatangkan pada tahun 1800-an untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor perkebunan pada saat itu. Saat ini, tenaga kerja untuk berbagai perkebunan sawit di Sumatera dan Kalimantan banyak dari pulau Nias. (Siagian, 2013; juga: Factsheet Sawit Watch,2012 )

RSPO Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) merupakan inisiatif multi-stakeholder didirikan pada 2003 oleh perusahaan swasta dan organisasi masyarakat sipil yang bertujuan untuk memajukan pengadaan produksi dan penggunaan minyak sawit berkelanjutan melalui pengembangan, penerapan dan verifikasi standar global yang kredibel dan keterlibatan pemangku kepentingan sepanjang rantai suplai industri kelapa sawit. RSPO mempromosikan praktik produksi minyak sawit bekelanjutan yang membantu mengurangi deforestasi, melestarikan keanekaragaman hayati, menghargai buruh dan kehidupan masyarakat pedesaan di negara penghasil minyak sawit

Banyak pihak memandang bahwa RSPO sangat maju dalam membangun prinsip dan kriteria khususnya dalam memberikan jaminan perlindungan terhadap buruh. Namun prinsip dan kriteria tersebut semata-mata hanya mekanisme diatas kertas tanpa pembuktian berbasis fakta lapangan.

Temuan-Temuan :

Upah Murah dan Target Kerja Tinggi


Upah buruh perkebunan masih mengacu pada standar KHL yang ditetapkan pemerintah untuk seorang buruh lajang. Namun, angka KHL yang menjadi acuan upah buruh industri tentu saja berbeda dengan buruh perkebunan mengingat kondisi perkebunan itu sendiri. Target kerja yang tinggi dan harapan memperoleh premi sebagai tambahan menjadi alasan utama buruh melibatkan isteri dan anak ikut bekerja

Sistem Kerja Ganda


Perkebunan ini menerapkan sistem kerja berdasarkan jam kerja/hari dan pencapaian target tertentu secara bersamaan, ditentukan sepihak oleh perkebunan. Bila seorang buruh telah bekerja 7 jam/hari tetapi belum mencapai target kerja borongan yang telah ditentukan, maka buruh kebun tidak diperkenankan pulang sebelum target kerja tercapai. Sebaliknya bila target telah tercapai namun belum mencapai 7 jam kerja, Buruh kebun belum dibenarkan pulang, dan dipaksa sampai 7 jam kerja terpenuhi.

Ketidakjelasan Dokumentasi Perikatan Kerja


Ketidakjelasan dokumentasi ini tidak hanya terjadai pada buruh berstatus BHL atau PKWT tetapi juga buruh tetap (SKU). Kondisi ini menyulitkan buruh perkebunan untuk memperoleh hak-hak normatif.

Ketidakjelasan Standar Pengangkatan Status Buruh


Banyak buruh yang bertahun-tahun berstatus sebagai BHL atau PKWT, padahal dalam aturan, buruh BHL diangkat statusnya menjadi buruh tetap (SKU) setelah bekerja 3 bulan berturut-turut Kalau mau jadi SKU disini tidak ada aturannya. Disini jadi BHL dulu, baru PKWT, terus kalau bagus nasib jadi SKU. Kayak saya inilah, sudah PKWT selama 2 tahun, pekerjaan saya manen. Saya pernah dijanjikan jadi SKU sehabis lebaran tahun 2011, ternyata tidak. Saya pun mandah, tahun 2012 dipanggil lagi bekerja sebagai PKWT dan dijanjikan jadi SKU, tapi sudah setahun, tidak diangkat jadi SKU sampai sekarang, (E, buruh pemanen berstatus PKWT perkebunan sawit di kecamatan Tinggi Raja, Asahan)

Kebebasan Berserikat Hanya Diatas Kertas


UU memberi jaminan kebebasan berserikat bagi buruh. Kriteria 6.6 RSPO juga memberi jaminan kepada seluruh buruh untuk menjadi atau membentuk serikat buruh.

Saya mendapat intimidasi dari pihak perusahaan yang mengatakan saya tidak akan mendapatkan bonus, tidak mendapatkan alat kerja, dan diberi SP 1. demikian disampaikan Sw, seorang buruh perkebunan sawit di kecamatan Bahorok, Langkat terkait aktivitasnya membangun serikat buruh baru.
Aku pernah tanya sama mandor kenapa aku tiba-tiba sudah terdaftar jadi anggota serikat pekerja, mandor aku waktu itu mengatakan memang sudah seperti itu prosedurnya, (Su, pemanen di perusahaan perkebunan sawit di kecamatan Tinggi Raja, Asahan). Su (31), seorang buruh perkebunan sawit di kecamatan Wampu, Langkat. Sejak tahun 2010 ia sudah menjadi anggota SBPI. Ia mengakui selama menjadi anggota SBPI, ia mengalami intimidasi dari pihak perusahaan yang mengatakan buruh afdeling 10 yang diorganisir SBPI akan dipecat bila melakukan aksi. Di perkebunan, ketika diterima menjadi SKU maka buruh sudah menjadi anggota serikat buruh tanpa melalui proses penerimaan. Di slip gaji buruh, biasanya tertera iuran serikat buruh yang langsung dipotong ketika buruh menerima gaji. Memilih mundur dari serikat tersebut artinya harus siap menerima resiko diintimidasi atau dimutasi.

Buruh Anak Di Ancak


Sesuai dengan kriteria 6.7 RSPO, perkebunan tidak boleh mempekerjakan anakanak. Namun, anak yang dipekerjakan di perkebunan ditemukan di salah satu perkebunan sawit di kecamatan Bahorok, Langkat.

Tingginya target kerja dan minimnya upah yang diterima menjadi faktor penyebab utama keterlibatan buruh (anak) dalam proses kerja di perkebunan.

Buruh Perempuan dan Perempuan Buruh

Buruh perempuan di perkebunan biasanya mengerjakan 4 pekerjaan pokok yaitu menyemprot, memupuk, menunas dan membabat. Pekerjaan menyemprot sebagian besar dilakukan oleh perempuan dan mayoritas dari mereka adalah BHL.
Dalam kenyataannya, buruh perempuan yang bekerja di perkebunan biasanya memiliki status buruh harian lepas dengan kondisi ikatan kerja yang tidak jelas sehingga banyak dari mereka yang tidak terdokumentasi. Selain itu, perempuan buruh harian lepas ini bekerja dengan fasilitas kerja yang tidak layak.

Perempuan Buruh
Akibat tingginya target kerja dan harapan memperoleh premi, suami yang bekerja menjadi pemanen harus membawa istri untuk membantunya di ancak. Istri biasanya bekerja menaikkan buah ke angkong, mengangkong sampai ke TPH, membersihkan pelepah dan memungut berondolan. Tidak ada ikatan kerja antara isteri buruh dengan perkebunan. Bila terjadi kecelakaan kerja, maka itu menjadi tanggungjawab buruh yang bersangkutan.

Buruh Perempuan dan Perempuan Buruh


Buruh Perempuan Penyempot di perkebunan sawit di kecamatan Wampu, Langkat Perempuan Buruh di salah satu perkebunan sawit swasta di kecamatan Bahorok, Langkat

Minimnya Perlindungan Terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan K3 pada buruh di perkebunan yaitu: - Hubungan kerja yang tidak jelas - Tingginya target kerja - Fasilitas kerja yang tidak layak - Pembelian alat kerja yang mereduksi upah buruh