Anda di halaman 1dari 22

Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting 1

D
DDa
aas
ssa
aar
rr D
DDa
aas
ssa
aar
rr P
PPe
een
nng
gga
aan
nng
ggk
kka
aat
tta
aan
nn C
CCu
uut
ttt
tti
iin
nng
gg

TUJUAN


Penjelasan dasar-dasar pengangkatan Cutting


Penjelasan faktor-faktor yang mempengaruhi pengangkatan Cutting pada saat
pemboran


Penjelasan metode penentuan parameter-parameter pengangkatan cutting pada
pemboran:


Sumur vertical


Sumur directional dan horizontal





2 Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting
1. Pendahuluan
Dalam proses pemboran langsung, bit yang dipakai selalu menggerus batuan formasi
dan menghasilkan cutting, sehingga semakin dalam pemboran berlangsung semakin banyak
pula cutting yang dihasilkan. Supaya tidak menumpuk di bawah lubang dan tidak
menimbulkan masalah pipe sticking maka cutting tersebut perlu diangkat ke permukaan
dengan baik, yaitu banyaknya cutting yang terangkat sebanyak cutting yang dihasilkan.
Dalam proses rotary drilling lumpur baru masuk lewat dalam pipa dan keluar ke
permukaan lewat anulus sambil mengangkat cutting, seperti terlihat pada Gambar 1
sehingga perhitungan kecepatan minimum yang diperlukan untuk mengangkat cutting ke
permukaan dilakukan di anulus.


Gambar 1. Proses Pengangkatan Cutting di Anulus

Cutting yang tidak dapat terangkat dengan baik akan mengendap kembali ke dasar
sumur dan mengakibatkan beberapa masalah dalam pemboran, diantaranya :
1. Akan terjadi penurunan laju penetrasi dikarenakan penggerusan kembali
cutting yang tidak terangkat (regrinding).
2. Meningkatnya beban drag dan torque karena daya yang diperlukan untuk
memutar drill string semakin berat.
3. Kemungkinan terjadinya pipe sticking, yaitu terjepitnya pipa pemboran
dikarenakan tumpukan cutting yang mengendap.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pengangkatan cutting ke permukaan
diantaranya:
Kecepatan fluida di annulus sebagai fungsi dari luas area annulus dan rate
pemompaan yang diberikan.
Kapasitas untuk menahan fluida yang merupakan fungsi dari rheologi
lumpur pemboran seperti; densitas lumpur, jenis aliran (laminar atau
turbulen), viskositas, dst.
Laju penembusan yang dilakukan drill bit (rate of penetration).
Kecepatan pemutaran pipa pemboran (RPM).

Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting 3
Eksentrisitas drill pipe. Yaitu posisi relatif pipa pemboran terhadap lubang
pemboran, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.


Gambar 2 Eksentrisitas Pipa Pemboran

Ukuran rata-rata partikel cutting.
Konsentrasi cutting di dalam lumpur pemboran.
Adanya pengaruhi kemiringan pada lubang pemboran.
Sedangkan parameter besaran yang sangat berpengaruh dalam mekanisme
pengangkatan cutting antara lain :
a. Vslip (kecepatan slip) yaitu kecepatan kritik dimana cutting mulai akan terangkat
ke permukaan.
b. Vcut (kecepatan cutting) yaitu yaitu kecepatan kritik dimana cutting mulai akan
terendapkan
c. Vmin (kecepatan minimum) yaitu kecepatan slip ditambah dengan kecepatan
cutting sehingga cutting dapat terangkat ke permukaan tanpa terjadi
penggerusan kembali.
Secara umum hubungan antara kecepatan slip, kecepatan cutting, dan kecepatan
minimum adalah sebagai berikut :


4 Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting


Gambar 3. Pengangkatan Cutting oleh Lumpur Pemboran

V
sl
= V
m
- V
cut
.....................................................................................................................................(1)
dimana:
Vsl = Kecepatan slip, ft/menit
Vm = Kecepatan lumpur, ft/menit
Vcut = Kecepatan cutting, ft/menit
Dinding lubang yang belum tercasing mempunyai selaput tipis sebagai pelindung
yang disebut mud-cake. Agar selaput yang berguna tersebut tidak terkikis oleh aliran
lumpur, harus diusahakan aliran tetap laminer. Untuk mencegah terjadinya aliran turbulen,
dapat diindikasikan dengan bilangan Reynold . Dengan bilangan reynold yang tidak lebih
dari 2000 aliran akan tetap laminer, sehingga batas tersebut dijadikan pegangan untuk
menentukan kecepatan maksimum di anulus yang disebut kecepatan kritik.
( ) | |
( )
p
d h
p h
ca
d m
m Yb d d PV PV
V

+ +
=


2 / 1 2 2
3 , 9 08 , 1 08 , 1
................................................................(2)
Dimana :
Vca = Kecepatan kritik, ft/detik
PV = Plastic viscosity, cp
Yb = Yield point bingham, lb/100 ft
2

m
= Densitas lumpur, ppg
dp = Diameter drillpipe, in
dh = Diameter lubang, ppg


Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting 5
2. Sumur Vertikal
2.1. Kecepatan Slip Metode Moore
Kecepatan slip untuk sumur vertikal dihitung dengan menggunakan persamaan:
|
|
.
|

\
|
=
f
f s
d V
cut sl


54 , 1 ................................................................................. (3)
dimana:
Vsl = Slip velocity, ft/detik
s = Densitas cutting, ppg
f = Densitas fluida (lumpur), ppg
dcut = Diameter cutting, in
Kecepatan slip ini dihitung dengan prosedur sebagai berikut:
2.1.1. Penentuan Apparent Viscosity
Friction factor pada korelasi ini didasarkan berdasarkan perhitungan dari
apparent Newtonian viscosity dengan menggunakan persamaan:
n
n
n
V
dp dh K
a
|
|
|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
=

0208 , 0
1
2
144
1
min
...................................................................... (4)
dimana :
a = Apparent viscosity , cP
K = Indeks konsistensi =
( )
n
511
510
300
u

n = Indeks kelakuan aliran =
300
600
log 32 , 3
u
u

dh = Diameter lubang, in
dp = Diameter pipa, in
Vmin = Kecepatan minimum , ft/s
u
600
= Dial reading pada 600 rpm
u
300
= Dial reading pada 300 rpm
2.1.2. Penentuan Reynold Number
Apparent viscosity tersebut digunakan untuk menentukan Reynold Number
dibawah ini:
a
d x V x f x
N
cut sl

928
Re
= .................................................................................. (5)
Dimana:
N
Re
= particle Reynold Number
f = densitas fluida, ppg
Vsl = slip velocity, ft/s
a = apparent viscosity, cp

6 Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting
d
cut
= diameter cutting , in
Selanjutnya apparent viscosity ini digunakan untuk menentukan friction factor
dengan menggunakan Gambar 4 berikut.


Gambar 4. Grafik antara Particle Reynold Number
terhadap Friction Factor
Gambar 4 ini secara matematis memiliki persamaan:
Untuk NRe > 300 , aliran di sekitar partikel adalah fully turbulent dan
friction factor nya = 1.5
Untuk NRe < 3 ,aliran laminar dan friction factor-nya :
Re
40
N
f = ......................................................................................................(6)
Untuk 3 < NRe < 300 maka aliran transisi dan friction factor-nya:
Re
22
N
f = ...................................................................................................(7)
faktor friksi ini kemudian dapat digunakan untuk menentukan Vsl pada
persamaan.
2.2. Kecepatan Cutting
Kecepatan Cuttingnya dapat ditentukan dengan persamaan (3):
conc
h
p
cut
C
d
d
ROP
V
(
(

|
|
.
|

\
|

=
2
1 36
.................................................................................. (8)
dimana;

Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting 7
Vcut = Kecepatan cutting, ft/s
dp = Diameter pipa, in
dh = Diameter lubang, in
Cconc = Konsentrasi cutting, %
ROP = Rate Of Penetration, ft/hr
Dapat juga dinyatakan dengan persamaan lain yaitu:
Jika yang diketahui luas penampang pipa dan lubang
conc
hole
pipe
cut
C
A
A
ROP
V
(

=
1 36
...................................................................................... (9)
dimana :
Apipe = Luas penampang pipa, in
2

Ahole = Luas penampang lubang, in
2

Jika V cutting dinyatakan dalam ft/menit, maka persamaan (8) dapat ditulis:
conc
h
p
cut
C
d
d
ROP
V
(
(

|
|
.
|

\
|

=
2
1 60
.................................................................................. (10)

dimana:
Vcut = Kecepatan cutting. ft/min
Sehingga kecepatan minimum cutting adalah :
Vmin = Vsl + Vcut ............................................................................................. (11)
Secara keseluruhan prosedur penentuan Vmin, Vcut dan Vslip pada sumur
vertikal dapat dilihat pada Gambar 5 berikut.

8 Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting


Gambar 5. Flowchart Penentuan V cut, V min, dan V slip untuk Sumur
Vertikal


Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting 9
3. Sumur Directional dan Horizontal
3.1. Metoda Larsen
3.1.1. Kecepatan Cutting
Kecepatan Cutting dapat untuk sumur directional dengan inklinasi 55 -
90
o
diperkenalkan oleh T. I. Larsen. Kecepatan cutting Larsen ini diturunkan dari
persamaan yang sama seperti untuk sumur vertikal, yaitu pada persamaan 8.
Akan tetapi Larsen kemudian mengembangkan suatu koreksi tambahan
terhadap laju penembusan mata bor, yang ditunjukkan pada Gambar 6 berikut.


Gambar 6. Hubungan antara Konsentrasi Cutting vs
ROP
Hubungan pada Gambar 7. dapat dituliskan dengan persamaan :
Cconc = 0,01778 ROP +0,505 ......................................................... (12)
dimana :
Cconc = Konsentrasi cutting, %
ROP = Rate Of Penetration, ft/hr
Dengan memasukkan faktor koreksi pada persamaan 8, maka didapatkan
persamaan baru untuk sumur directional sebagai berikut:
|
.
|

\
|
+
(
(

|
|
.
|

\
|

=
ROP d
d
V
hole
pipe
cut
16 . 18
64 . 0 1
1
2
..................................................... (13)

10 Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting

3.1.2. Kecepatan Slip (Vs) dan Faktor Koreksi
Hubungan kecepatan slip untuk sumur directional diGambarkan dalam
grafik pada Gambar 7.


Gambar 7. Equivalent Slip Velocity vs Apparent Viscosity
Gambar 7 secara matematis dinyatakan dengan persamaan berikut:
cp a a V
slip
53 006 , 3 00516 , 0 s + = ..............................................(14)
( ) cp a a V
slip
53 28 , 3 53 02554 , 0 > + + = ......................................(15)
dimana:
a = Apparent viscosity,
cp = Kecepatan slip, ft/s
Gambar 7 diperlukan untuk memprediksikan hubungan antara Vmin
dengan Vcut setelah mengetahui prediksi kecepatan slip-nya.
Persamaan yang yang digunakan untuk menentukan apparent
viscositynya berbeda dengan metoda vertikal. Persamaan yang digunakan yaitu:
( )
crit
p h
a
V
d d YP
PV

+ =
5
.........................................................................(16)
dimana :
a = Apparent viscosity,cp
PV = Viskositas plastik, cp
YP = Yield point, lb/100 ft
2

dh = Diameter lubang, in
dp = Diameter pipa, in
Vcrit = Kecepatan kritik atau kecepatan slip, ft/s

Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting 11
Korelasi kecepatan slip pada persamaan 14 dan 16 memerlukan koreksi
terhadap inklinasi, ukuran cutting dan densitas sebagai berikut:
1. Koreksi terhadap inklinasi sumur
213 , 0 000233 , 0 0342 . 0
2

= ang ang ang
C u u
........................... (17)

dimana :
Cang = faktor koreksi terhadap inklinasi
ang
u = sudut inklinasi, deg


Gambar 8. Faktor Koreksi untuk Sudut Inklinasi

2.Koreksi terhadap ukuran cutting
Koreksi ukuran cutting dilakukan dengan menggunakan
persamaan berikut:
286 , 1 04 , 1
50
+ = cut D x C
size
................................................................ (18)
dimana :
Csize = Faktor koreksi terhadap ukuran cutting
D50cut = Diameter cutting, in

12 Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting


Gambar 9. Faktor Koreksi Ukuran Cutting
3. Koreksi terhadap densitas
( ) 7 , 8 7 , 8 0333 , 0 1 > = m m C
mwt
...............................................(19)
7 , 8 0 , 1 < = m C
mwt
.............................................(20)
dimana :
C
mwt
= Faktor koreksi terhadap densitas mud
m = Densitas lumpur, ppg


Gambar 10. Faktor koreksi untuk densitas Lumpur
Dengan demikian persamaan yang menyatakan hubungan sepenuhnya
tentang kecepatan slip (Vs) metode Larsen adalah :

Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting 13
mwt size ang slip slip
C x C x C x V V =
...................................................... (21)
dimana:
Vslip = Kecepatan slip sesudah dikoreksi, ft/s
Vslip = Kecepatan slip sebelum dikoreksi, ft/s
Prosedur penentuan transportasi cutting sumur directional metode
Larsen dapat dilihat pada Gambar 11.


14 Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting


Gambar 11. Flowchart Penentuan Transportasi
Cutting Metode Larsen
3.2. Metode Rudi Rubiandini dan Shindu L. M.
Kecepatan minimum cutting metode Rudi Rubiandini dan Shindu L.M.
mengkoreksi parameter inklinasi, densitas lumpur dan rotary speed (RPM). Persamaan
ini merupakan pengembangan dari persamaan Moore, Larsen dan percobaan yang
dilakukan Peden. Prinsip pengembangan persamaan ini adalah membuat plot suatu
parameter Vs tak berdimensi. Vs tak berdimensi yaitu perbandingan Vs directional
metoda Larsen dan Peden, dengan Vs vertikal metoda Moore.
3.2.1. Koreksi Inklinasi
Koreksi sudut (Ci) diperoleh dari plot dimensionless Vs cutting sehingga
didapatkan persamaan koreksi sudut yang dikalikan dengan Vs vertikal Moore.
Koreksi sudut (Ci) yang digunakan adalah:
Untuk
o
45 s u :
|
.
|

\
|
+ =
45
2
1
u
i
C
....................................................................................... (22)
Untuk
o
45 > u
Ci = 3 .........................................................................................................(23)
dimana:
q = Sudut inklinasi, deg
Ci = Koreksi sudut.
3.2.2. Koreksi Densitas Lumpur
Plot dimensionless Vs terhadap inklinasi metode Larsen dengan berbagai
densitas lumpur dapat ditentukan koreksi densitas lumpur terhadap Vsv. Dengan
mengambil nilai densitas sama dengan 12 ppg dan nilai Dimensionless Vs sama
dengan 3 maka koreksi densitas (Cmw) terhadap Vsv adalah:
15
3 m
C
mw
+
= ............................................................................................(24)
dimana:
m = Densitas lumpur, ppg
Cmw = Koreksi terhadap densitas lumpur.
3.2.3 Koreksi Terhadap RPM
Sedangkan koreksi terhadap rotary speed (RPM) adalah:
|
.
|

\
|
=
600
600 RPM
C
RPM
..............................................................................(25)
dimana:
CRPM = Koreksi terhadap RPM

Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting 15
RPM = Kecepatan putar / rotary
Sehingga Vmin untuk sumur vertikal, directional, maupun horizontal
dengan mengembangkan rumus Moore adalah:
Vmin = Vcut + ( Ci x Cmw x CRPM)Vsv
maka untuk:
Untuk
o
45 s u
sv
V
RPM m
Vs
|
.
|

\
|
|
.
|

\
| +
|
.
|

\
|
+ =
600
1
15
3
45
2
1
u
................................................. (26)
Untuk :
o
45 > u
sv
V
RPM m
Vs
|
.
|

\
|
|
.
|

\
| +
=
600
1
15
3
3

.............................................................. (26)
Prosedur penentuan transportasi cutting dengan metode Rudi dan
Sindhu ini dijelaskan pada Gambar 12.

16 Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting


Gambar 12. Flowchart Penentuan Parameter
Transportasi Cutting Metode Rudi-Sindhu
4. CONTOH PERHITUNGAN
Data :
u = 61,352 o
m = 15 ppg

Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting 17
s = 19,16 ppg
PV = 40 cP
YP = 17 lb/100 ft2
a = 145,7 cP
dh = 6 in
dp = 3,38 in
Dcut = 0,7283 in
ROP = 54 ft/hr
RPM = 0
Cconc = 1.5 %
Kec. Pengangkatan Cutting:

[(

]*

+
....................................................................................................(13)

[(

]*

+



Asumsi Vslip :
Asumsi Slip Velocity = 0.1 ft/s
Vminiawal = 0,1 + 1,5578 = 1,6578 ft/s
crit
pipe hole
p a
V
D D Yp ) ( . 5

+ =
........................................................................................................(16)
cP
Yp x x
a
32 , 17
6578 , 1
) 38 , 3 6 ( . 17 5
40 =

+ =

Karena cP a 53 > maka digunakan persamaan (15)
cP a a V
sl
53 28 , 3 02554 , 0
2
> + = ......................................................................................(15)
V
sl2
= (0,02554 x 174,32) + 3,28 = 7,731 ft/s
| V
sl2
- V
sl1
| = | 7,731 - 0,1| > [0,01], jadi Vsl1 = 7,731 ft/s
V
min
= 7,731 + 1,5578 = 9,289 ft/s
V
min
hasil perhitungan tadi kemudian digunakan untuk menghitung kembali
apparent viscosity dengan menggunakan persamaan (16).
cP
x
a
97 , 63
289 , 9
) 38 , 3 6 ( . 17 5
40 =

+ =
Karena cP a 53 > maka digunakan persamaan (15)
Vsl2 = (0,02554 x 63,97) + 3,28 = 4,9137 ft/s
| V
sl2
- V
sl1
| = | 4,9137 - 7,731 | > 0,01,

18 Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting
jadi V
sl1
= 4,913 ft/s
Dengan melakukan iterasi sampai | V
sl2
- V
sl1
| < 0,01, didapatkan V
sl
= 3,9758 ft/s
Perhitungan Koreksi Vslip
# Koreksi Angle Inclination :
Cang = 0,0342 (ang) - 0,000233 (ang)
2
- 0,213 .....................................................................(17)
Cang = 0,0342 (61,3526) - 0,0002338 (61,3526 )
2
- 0,213 = 1,0052
# Koreksi terhadap Ukuran Cutting :
C
size
= -1,04 (D50 cutting) + 1,286 ..............................................................................................(18)
C
size
= -1,04 x 0,7283 + 1,286 = 0,5285
# Koreksi terhadap Mud Weight :
7 , 8 1 > = m C
mwt
.................................................................................................................(19)
karena ppg m 7 , 8 >
Cmwt = 1
Final Slip Velocity:
V
slip
= V
sl
. (C
ang
).(C
size
).(C
mwt
) .............................................................. (21)
V
slip
= 3,9758 x 1,0052 x 0,5285 x 1 = 2,1121 ft/s
Final minimum Velocity:
V
min
= V
slip
+ V
cut
................................................................................................................................(11)
V
min
= 2,1121 + 1,5578 = 3,669 ft/sec


Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting 19
2. Contoh
Perhitungan dengan menggunakan Persamaan Rudi-Shindu,
Dengan data yang sama untuk perhitungan Menggunakan Metode Larsen:
Data :
u = 61,352
o

m = 15 ppg
s = 19,16 ppg
PV = 40 cP
YP = 17 lb/100 ft2
a = 145,7 cP
dh = 6 in
dp = 3,38 in
Dcut = 0,7283 in
ROP = 54 ft/hr
RPM = 0
C
conc
= 1,5 %
Kecepatan Cutting:
Dengan menggunakan konsentrasi cutting dan ROP yang sama dengan data diatas,
maka Vcut dengan persamaan (8) adalah :
cone
hole
pipe
cut
C
D
D
ROP
V
(
(

|
|
.
|

\
|

=
2
1 36
................................................................. (8)
s ft
ROP
V
cut
/ 4648 , 1
5 , 1
6
38 , 3
1 36
2
=
(
(

|
.
|

\
|

=
Asumsi V
slip

V
sl1
= 0.1 ft/s
Iterasi Slip Velocity:
V
min
= Vs + V
cut

V
min awal
= 0,1 + 1,4648 = 1,5648 ft/s
( )
min
_
. 5
V
D D Yp
p a
pipe hole
+ = ........................................................................................ (16)
( )
cP
x
a 31 , 182
5648 , 1
38 , 3 6 17 . 5
40 =

+ =
a
d x V x m
N
cut Sl

1
. 928
Re = ................................................................................................. (5)

20 Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting
56 . 5
31 , 182
7283 , 0 1 , 0 15 . 928
Re = =
x x
N
NRe > 3 dan NRe <300, jadi aliran yang terjadi menurut Moore transisi
Re
22
N
f = .........................................................................................................................................(7)
3295 , 9
5608 , 5
22
= = f
Vsv (Slip Velocity Vertikal) dengan Moore :
|
|
.
|

\
|
=
f
f s
D f V
cut Sl


2
................................................................................................................(3)
s ft V
Sl
/ 1929 , 4
15
15 16 , 19
7283 , 0 3295 , 9
2
= |
.
|

\
|
=
| V
sl2
- V
sl1
| = | 4,1929 - 0,1 | > | 0,01 |, jadi
2
2 1
1
Sl Sl
Sl
V V
V
+
=
s f t V
Sl
/ 1465 , 2
2
1929 , 4 1 , 0
1
=
+
=
Dengan melakukan iterasi sampai | V
sl2
- V
sl1
| < 0.01, didapatkan V
sl1
= 1,06723 ft/s
Koreksi Sudut, Densitas dan RPM :
Dari koreksi sudut yang didapatkan untuk sudut inklinasi lubang sumur pemboran
lebih besar dari 45
o
, maka digunakan persamaan. (27).
sv s
V
RPM m
V
|
.
|

\
|

|
.
|

\
|
+ =
600
1
15
3 3

......................................................................................................(27)
s ft x V
s
/ 8067 , 12 06723 , 1
600
0
1
15
15
3 3 =
|
.
|

\
|

|
.
|

\
|
+ =


Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting 21
DAFTAR PARAMETER DAN SATUAN

a = Apparent viscosity, cP
s
= Densitas cutting, ppg
m
= Densitas lumpur, ppg
f
= Densitas fluida, ppg
600
u
= Dial reading pada 600 rpm
300
u
= Dial reading pada 300 rpm
Apipe = luas penampang pipa, in2
Ahole = luas penampang lubang, in2
Cconc = Konsentrasi cutting, %
dh = Diameter lubang, in
dp = Diameter pipa, in
dcut = Diameter cutting, in
f = Friction factor
K = Indeks konsistensi
n = Indeks kelakuan aliran
NRe = Particle Reynold Number
PV = Plastic viscosity, cp
Vsl = Kecepatan slip, ft/menit
Vm = Kecepatan lumpur, ft/menit
Vcut = Kecepatan cutting, ft/menit, ft/det
Vca = Kecepatan kritik, ft/detik
Vmin = Kecepatan minimum , ft/s
Yb = Yield point bingham, lb/100 ft2
ROP = Rate Of Penetration, ft/hr



22 Dril-062 Dasar-dasar Pengangkatan Cutting
DAFTAR PUSTAKA

1. Adam T. Bourgoyne Jr., Keith K. Millhelm, Martin E. Chenevert, F.S. Young Jr., SPE
Textbook Series Vol. 2, "Applied Drilling Engineering", First Printing
Society of Petroleum Engineers, Richardson TX, 1986.
2. Beyer, A.H., et. al, "Flow Behaviour of Foam as Well Circulating Fluid", SPE Reprint
Series 6A, Drilling, SPE of AIME, Dallas, Texas, 1973.
3. Craft, B.C., et.al., "Well Design, Drilling & Production", Prentice Hall Inc., New Jersey,
1962.
4. Dodge, D.G. and Metzner, A.B. , " Turbulent Flow of Non Newtonian System ", AIChE J.,
1959.
5. Gatlin, Carl., "Petroleum Engineering : Drilling and Well Completions", Prentice Hall Inc.,
1960.
6. J.M. Peden, J.T. Ford, and M.B. Oyenenin, Heriot-Watt U., SPE Paper, " Comprehensive
Experimental Investigation of Drilled Cuttings Transport in Inclined
Wells Including the Effects of Rotation and Eccentricity", Oktober 1990,
SPE No. 20925.
7. Lord, D.L., "Mathematical Analysis of Dynamic & Static Foam Behaviour", SPE
Symposium on Low Gas Permeability Reservoir, Dencer, Colorado,
1979.
8. Lucky., Shindu, " Persamaan Baru Penentuan Kecepatan Minimum Lumpur Untuk
Mengangkat Cutting Sumur Vertikal, Miring dan Horizontal", Tugas
Akhir, Jurusan Teknik Perminyakan, FIKTM, 1999.
9. Marsden, S.S., et.al., "The flow of Foam Through Short Porous Media & Apparent
Viscosity Measurements", Trans AIME, 1966.