Anda di halaman 1dari 12

Akhmad W Rauf, Deskripsi Tentang Hambatan Guru dalam Implementasi KTSP

Jurnal MEDTEK, Volume 1, Nomor 1, April 2009

DESKRIPSI TENTANG HAMBATAN GURU DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) DI SMU NEGERI 4 WATAMPONE Akhmad Wahyuddin Rauf
Dosen Jurusan Pendidikan Teklnik Elektro Fakultas Teknik UNM e-mail: akhmadwrauf@yahoo.co.id

Abstrak Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui hambatan guru dalam mengimplementasikan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) di SMU Negeri 4 Watampone. Populasi penelitian ini adalah semua guru SMU Negeri 4 Watampone dan pengambilan sampel dilakukan secara acak. Penentuan sampel dilakukan berdasarkan tabel Krecjie dengan taraf kesalahan 5% sehingga dari jumlah populasi 71 orang diambil sampel 59 orang. Instrumen yang digunakan adalah angket. Teknik analisis yang digunakan adalah Statistik Deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru-guru di SMU Negeri 4 Watampone 93,22% mengalami hambatan dan hanya 6,78% yang tidak mengalami hambatan dalam mengimplementasikan KTSP. Hal yang paling mendasar untuk segera dilakukan berkaitan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh pihak sekolah yaitu segera menyiapkan sarana dan prasarana dan kompetensi guru dalam mengembangkan kurikulum. Kata Kunci: Hambatan guru, Implementasi, KTSP

Kemerosotan pendidikan sudah terasa selama bertahun-tahun, hal ini tercermin dengan adanya upaya mengubah kurikulum mulai kurikulum 1975 diganti dengan kurikulum 1984, kemudian diganti dengan kurikulum 1994 dan diganti dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang dikenal sebagai kurikulum 2004 dan seterusnya hingga kini yang dipergunakan adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang diberlakukan mulai tahun 2006. Dalam penerapan KTSP di Indonesia masih memiliki kelemahan-kelemahan antara lain: kurangnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada, ini ditandai dengan minimnya kualitas guru dan sekolah. Sebagian besar guru belum bisa diharapkan memberikan kontribusi pemikiran dan ide-ide kreatif untuk menjabarkan panduan kurikulum itu

(KTSP), baik di atas kertas maupun di depan kelas. Selain disebabkan oleh rendahnya kualifikasi, juga disebabkan pola kurikulum lama yang terlanjur mengekang kreatifitas guru. Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai kelengkapan dari pelaksanaan KTSP, sementara kondisi di lapangan menunjukkan masih banyak satuan pendidikan yang minim alat peraga, laboratorium serta fasilitas penunjang yang menjadi syarat utama pemberlakuan KTSP. Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik konsepnya, penyusunannya maupun prakteknya di lapangan. (http:/Imam hanafie mh.A,MA/plus minus ktsp) SMU Negeri 4 Watampone merupakan rintisan sekolah kategori mandiri untuk pelaksanaan KTSP, tentu saja ini merupakan suatu peluang bagi sekolah ini untuk memajukan dunia pendidikan

Akhmad W Rauf, Deskripsi Tentang Hambatan Guru dalam Implementasi KTSP

dengan segala potensi yang dimilikinya. Ini semua tidak terlepas dari kerjasama yang baik antara kepala sekolah, guru, orang tua siswa dan masyarakat sekitar. Berdasarkan wawancara dan data dari Wakil Kepala Sekolah bagian Kurikulum Muhammad Yunus, S.Pd, Senin 6 Oktober 2008 mengatakan bahwa sejauh ini masih ada guru yang belum memahami KTSP, ini tentu saja sangat berpengaruh besar dalam implementasinya dalam proses belajar mengajar, serta masih minimnya sarana dan prasarana yang disediakan di sekolah tersebut. Atas pertimbangan inilah penulis tertarik untuk meneliti hambatan-hambatan yang dialami guru-guru dalam Implementasi KTSP di SMU Negeri 4 Watampone. Dengan demikian, dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan khususnya mengenai kendalakendala yang dihadapi dalam implementasi KTSP. 1. Pengertian Hambatan Belajar dikenal dengan 2 gejala yang tampak, yaitu: belajar yang sukses atau berhasil atau efektif dan belajar yang gagal atau terhambat, tidak mencapai tujuan, gejala ini sering disebut mengalami hambatan dalam proses belajarnya (Abdul Haling: 2007). Hasan Alwi (2002) menyatakan bahwa hambatan berasal dari kata hambat yang diartikan Membuat sesuatu perjalanan/pekerjaan menjadi lambat atau tidak lancar dan secara terpisah hambatan diartikan halangan atau rintangan. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa dalam hambatan itu mengandung arti bahwa: 1) merupakan kondisi tertentu dimana berbeda dengan kondisi lainnya sehingga mempunyai gejala tersendiri, dan 2) gejala tersebut adalah adanya kegagalan dalam melakukan suatu kegiatan. Dengan demikian, hambatan adalah segala bentuk kondisi yang tidak mendukung sehingga menyebabkan tidak terlaksananya/terselenggaranya dengan baik suatu kegiatan yang diinginkan.

2. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) pasal 1 ayat 15 dikemukakan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Terkait dengan penyusunan KTSP, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah membuat Panduan Penyusunan KTSP. Hal ini dijelaskan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 16 ayat 1 dan 2 sebagai berikut: 1. Penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP. 2. Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 berisi sekurang-kurangnya: a. Model-model kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK pada jalur pendidikan formal kategori standar. b. Model-model kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK pada jalur pendidikan formal kategori mandiri. Adanya pemberlakuan KTSP di satuan pendidikan mengisyaratkan adanya pemberdayaan segenap komponen sekolah dan kesiapan sekolah ditandai dengan ketersediaan sarana dan prasarana. Karena KTSP lebih beriorentasi pada hal-hal yang pada penguasaan kemampuan praktek (Skill) (http/:Awan Sundiawan/ktsp diakses tanggal 13 Februari 2009). Fasilitas berupa sarana dan prasarana menurut Mulyasa (2006) merupakan salah satu faktor yang menunjang berhasil tidaknya kurikulum yang dikembangkan oleh sekolah. Sarana dan prasarana yang dimaksud adalah media pendidikan, buku dan sumber belajar, tempat bermain, tempat beribadah, tempat berolahraga serta sumber

Jurnal MEDTEK, Volume 1, Nomor 1, April 2009

belajar lainnya, ruang kelas, ruang perpustakaan, ruang laboratorium. Keterbatasan fasilitas yang disediakan oleh sekolah tidak hanya memperlambat proses pembelajaran juga hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Selain fasilitas, guru juga diharapkan mampu memberikan kontribusi yang sangat besar dalam implementasi KTSP. a. Komponen-komponen KTSP Menurut Masnur Muslich (2007) empat komponen KTSP yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan antara lain: 1) Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Rumusan tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan mengacu pada tujuan umum pendidikan berikut: a) Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. b) Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. c) Tujuan Pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. 2) Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Struktur kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah tertuang dalam Standar Isi (SI), yang dikembangkan dari kelompok mata pelajaran sebagai berikut: a) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. b) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. c) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.

d) Kelompok mata pelajaran estetika e) Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan. Muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu, materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum. a) Mata pelajaran Berisi struktur kurikulum tingkat sekolah yang disusun berdasarkan kebutuhan siswa dan sekolah terkait dengan upaya pencapaian SKL. Pengembangan struktur kurikulum dilakukan dengan cara antara lain: 1) Mengatur alokasi waktu pembelajaran tatap muka seluruh mata pelajaran wajib dan pilihan Keterampilan/Bahasa Asing lain); 2) Memanfaatkan 4 jam tambahan untuk menambah jam pembelajaran pada mata pelajaran tertentu atau menambah mata pelajaran baru; 3) Mencantumkan jenis mata pelajaran muatan lokal dalam struktur kurikulum; 4) Tidak boleh mengurangi mata pelajaran yang tercantum dalam Standar Isi. b) Muatan lokal Berisi tentang: jenis, strategi pemilihan dan pelaksanaan Mulok yang diselenggarakan oleh Sekolah. Dalam pengembangaannya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: (1) Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi sesuai dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah. (2) Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. (3) Substansi yang akan dikembangkan, materinya tidak sesuai menjadi bagian dari mata pelajaran lain, atau terlalu luas substansinya sehingga harus dikembangkan menjadi mata pelajaran tersendiri. (4) Merupakan mata pelajaran wajin yang tercantum dalam struktur kurikulum.

Akhmad W Rauf, Deskripsi Tentang Hambatan Guru dalam Implementasi KTSP

(5) Bentuk penilaiannya kuantitatif (angka). (6) Setiap sekolah dapat melaksanakan mulok lebih dari satu jenis dalam setiap semester, mengacu pada minat dan karakteristik program studi yang diselenggarakan di sekolah. (7) Siswa boleh mengikuti lebih dari satu jenis mulok pada setiap tahun pelajaran, sesuai dengan minat dan program mulok yang diselenggarakan sekolah. (8) Sekolah harus menyusun SK, KD dan silabus untuk mata pelajaran Mulok yang diselenggarakan oleh sekolah. (9) Pembelajarannya dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran atau tenaga ahli dari luar sekolah yang relevan dengan substansi mulok. c) Kegiatan Pengembangan diri Kegiatan pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan potensi, kebutuhan, bakat, minat, dan karakteristik peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru, tetapi bisa dibimbing oleh konselor, dan tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk ekstrakurikuler. d) Pengaturan beban belajar Beban belajar untuk pendidikan menengah menggunakan jam pembelajaran setiap minggu setiap semester dengan sistem tatap muka, penugasan terstruktur, sesuai dengan kebutuhan dan ciri khas masing-masing. Beban belajar adalah bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Semua itu dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik. Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan guru. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran untuk SMA adalah 45 menit

dan tatap muka per minggu berlangsung selama 38 s.d. 39 jam pembelajaran. Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian kegiatan mandiri tidak terstruktur ditentukan oleh peserta didik. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur pada SMA maksimum 60% dari jumlah tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. e) Ketuntasan Belajar Ketuntasan belajar berisi tentang Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) per mata pelajaran yang ditetapkan oleh sekolah dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: (1) Ketuntasan belajar ideal untuk setiap indikator adalah 0 100%, dengan batas kriteria ideal minimum 75%. (2) Sekolah harus menetapkan kriteria ketuntasan minimal per MP dengan mempertimbangkan kemampuan ratarata peserta didik, kompleksitas dan SDM. (3) Sekolah dapat menetapkan KKM di bawah batas kriteria ideal, tetapi secara bertahap harus dapat mencapai kriteria ketuntasan ideal. f) Kenaikan Kelas, dan kelulusan Berisi tentang kriteria dan mekanisme kenaikan kelas yang dikembangkan oleh BSNP, serta strategi penanganan siswa yang tidak naik atau tidak lulus yang diberlakukan oleh sekolah. g) Pendidikan kecakapan hidup Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian dari pendidikan semua mata pelajaran, yang dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang

Jurnal MEDTEK, Volume 1, Nomor 1, April 2009

bersangkutan atau drai satuan pendidikan formal lain dan pendidikan nonformal yang sudah memperoleh akreditasi. h) Pendidikan berbasis Keunggulan Lokal dan Global (1) Program pendidikan yang dikembangkan dengan memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global. (2) Substansinya mencakup aspek: Ekonomi, Budaya, Bahasa, TIK, Ekologi, dan lain-lain, yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik. (3) Dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran yang terintegrasi, atau menjadi mapel Mulok. (4) Dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan atau satuan pendidikan nonformal. 3) Kalender Pendidikan Satuan pendidikan dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat. 4) Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Berdasarkan silabus inilah guru mengembangkannya menjadi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bagi siswanya. Pada dasarnya, prinsip-prinsip pengembangan silabus menurut Mulyasa (2007) antara lain: a) Ilmiah; b) Relevan; c) Fleksibel; d) Kontinuitas; e) Konsisten; f) Memadai; g) Aktual dan kontekstual; h) Efektif; dan i) Efisien Selanjutnya menurut Mulyasa (2007) pengembangan silabus KTSP dalam garis besarnya mencakup langkah-langkah sebagai berikut: (1) Mengisi kolom identitas (2) Mengkaji dan menganalisis standar kompetensi

(3)

(4)

(5)

(6)

a. Urutan tidak harus sesuai dengan urutan yang ada dalam standar isi, melainkan berdasarkan hirarki konsep disiplin ilmu dan tingkat kesulitan bahan. b. Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran. c. Keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran. Mengkaji dan menentukan kompetensi dasar (a) Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada dalam standar isi. (b) Keterkaitan antar kompetensi dasar dalm mata pelajaran. (c) Keterkaitan kompetensi dasar dengan standar kompetensi. Mengidentifikasi materi standar yang menunjang standar kompetensi dan kompetensi dasar, dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: (a) Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik. (b) Kebermanfaatan bagi peserta didik (c) Struktur keilmuan (d) Kedalaman dan keluasan materi (e) Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan. (f) Alokasi waktu Mengembangkan Pengalaman Belajar (Standar Proses) Pengalaman belajar merupakan kegiatan mental dan fisik yang dilakukan peserta didik dalam proses pembentukkan kompetensi, dengan berinteraksi aktif dengan sumber belajar melalui pendekatan, metode, dan media pembelajaran yang bervariasi. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai oleh peserta didik. Rumusan pengalaman manajemen pengalaman belajar peserta didik. Merumuskan Indikator Keberhasilan

Akhmad W Rauf, Deskripsi Tentang Hambatan Guru dalam Implementasi KTSP

a. Indikator merupakan penjabaran dari kompetensi dasar yang menunjukkan tanda-tanda, perbuatan dan respon yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik. b. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. c. Indikator dirumuskan dalam kata kerja operasional yang dapat diukur dan dapat diobservasi, sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun alat penilaian. (7) Menentukan Penilaian (Standar Penilaian) Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio dan penilaian diri. (8) Alokasi Waktu Alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar dilakukan dengan memperhatikan jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran perminggu dengan mempertimbangkan jumlah kompensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan dan tingkat kepentingannya. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu yang dibutuhkan oleh rata-rata peserta didik untuk menguasai kompetensi dasar. (9) Menentukan Sumber Belajar Sumber belajar adalah rujukan, objek dan bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan sumber belajar dilakukan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, indikator kompetensi, serta materi pokok, dan kegiatan pembelajaran.

Menurut mulyasa (2007), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus. RPP merupakan komponen penting dari kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), yang pengembangannya harus dilakukan secara professional. Komponen-komponen yang harus dipahami guru dalam pengembangan KTSP antara lain: kompetensi dasar, materi standar, hasil belajar, indikator hasil belajar, penilaian, dan prosedur pembelajaran. Selanjutnya dikemukakan prinsipprinsip dalam pengembangan RPP dalam menyukseskan implementasi KTSP, sebagai berikut: 1) Kompetensi yang harus dirumuskan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran harus jelas, makin konkrit, kompetensi makin mudah diamati, dan makin tepat kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk membentuk kompetensi tersebut. 2) Rencana pelaksanaan pembelajaran harus sederhana dan fleksibel, serta dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran, dan pembentukkan kompetensi peserta didik. 3) Kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran harus menunjang, dan sesuai dengan kompetensi dasar yang akan diwujudkan. 4) Rencana pelaksanaan pembelajaran yang dikembangkan harus utuh dan menyeluruh, serta jelas pencapaiannya. 5) Harus ada koordinasi antar komponen pelaksana program di sekolah, terutama apabila pembelajaran dilaksanakan secara tim atau dilaksanakan di luar kelas, agar tidak mengganggu jam-jam pelajaran yang lain. Menurut Mulyasa (2006), format RPP KTSP sekurang-kurangnya memuat tujuan pembelajaran, materi ajar, metode

Jurnal MEDTEK, Volume 1, Nomor 1, April 2009

pembelajaran, sumber belajar dan penilaian hasil belajar. b. Pembelajaran dan penilaian berbasis KTSP Menurut Mulyasa (2007) Pembelajaran berbasis KTSP dapat didefinisikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan KTSP dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. Adapun prinsip-prinsip pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan antara lain: 1) Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas dinamis dan menyenangkan. 2) Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu: a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, b) belajar untuk memahami dan menghayati, c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif. d) belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, dan e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang efektif, aktif, kreatif dan menyenangkan. 3) Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi keTuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral. 4) Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai,

akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contah dan teladan). 5) Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. 6) Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan pendidikan dengan muatan seluruhg bahan kajian secara optimal. 7) Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antar kelas dan jenis serta jenjang pendidikan. Penilaian hasil belajar dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan dan pemerintah. Penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pendidik dan satuan pendidikan merupakan penilaian internal, sedangkan penilaian yang diselenggarakan oleh pemerintah merupakan penilaian eksteral. Penilaian internal adalah penilaian yang direncanakan dan dilakukan oleh guru pada saat proses berlangsung dalam rangka penjaminan mutu. penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu. Untuk itu diperlukan data sebagai dasar pengambilan keputusan. Keputusan tersebut berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik dalam mencapai suatu kompetensi. Jadi penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam pelaksanaan KTSP yang berbasis kompetensi. (http/:model penilaian smu

Akhmad W Rauf, Deskripsi Tentang Hambatan Guru dalam Implementasi KTSP

Diakses pada hari sabtu tgl 13 Februari 2009). Lebih lanjut penilaian dilakukan dengan menjabarkan aspek-aspek penilaian, yaitu guru-guru mampu menyusun indikator penilaian untuk mengukur ketercapaian kompetensi, penilaian tersebut termasuk pengetahuan, sikap dan keterampilan. langkah selanjutnya yang dilakukan guru memberikan remedial bagi siswa yang mendapat nilai di bawah nilai standar ketuntasan dan pengayaan bagi peserta didik yang mempunyai kemampuan lebih. Salah satu manfaat dari pemberian penilaian adalah dapat memberikan umpan balik kepada peserta didik terhadap prestasi belajarnya. Setelah dilakukan penilaian, guru mampu memberikan umpan balik kepada peserta didik dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan peserta didik sehingga mampu memperbaiki hasil belajar peserta didik.

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Hasil analisis statistik deskriptif tentang implementasi KTSP di SMU Negeri 4 Watampone. Hambatan yang dirasakan oleh guru berdasarkan: a. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tabel 2. Distribusi Frekuensi Hambatan Guru dalam Struktur dan Muatan Kurikulum
No 1 2 3 Struktur dan Muatan Kurikulum Pengaturan beban belajar Ketuntasan belajar Kenaikan kelas dan kelulusan Jumlah F (orang) 14 23 9 46 % 23,73 38,98 15,25

METODOLOGI
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang menggambarkan fenomena sebenarnya dari objek yang diteliti yaitu hambatan guru dalam implementasi KTSP di SMU Negeri 4 watampone. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Oktober 2008 dan dilakukan melalui metode angket yang diberikan kepada 59 orang responden. Berdasarkan hasil pengujian validitas menunjukkan bahwa dari 30 butir instrumen yang telah diuji terdapat 3 butir item yang tidak valid yaitu butir soal 5,16, dan 28, dimana ke tiga item tersebut dikeluarkan dari instrumen. Hal ini berdasarkan hasil perbandingan antara harga rhitung dan rtabel. Berradasarkan hasil pengujian, reliabilitas instrumen dapat diterima. Selanjutnya setelah memperoleh angka reliabilitas, langkah selanjutnya dengan melihat harga tersebut pada tabel r product moment. Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan bahwa instrumen penelitian yang diberikan memenuhi kriteria reliabilitas dengan nilai di atas 0,5 yaitu 0,878.

b. Penyusunan Silabus berdasarkan KTSP Tabel 3. Distribusi Frekuensi Hambatan Guru dalam Menyusun Silabus berdasarkan KTSP
No 1 2 3 4 5 Penyusunan Silabus Menentukan materi pokok Mengembangkan kegiatan pembelajaran Merumuskan indikator Menyusun penilaian Menentukan alokasi waktu Jumlah F (orang) 1 17 18 12 7 55 % 1,69 28,81 30,51 20,34 11,86

c. Penyusunan RPP Tabel 4. Distribusi Frekuensi Hambatan Guru dalam Menyusun RPP berdasarkan KTSP
No 1 Penyusunan RPP Merumuskan tujuan pembelajaran F (orang) 8 % 13,56

Jurnal MEDTEK, Volume 1, Nomor 1, April 2009

3 4

Memilih dan menetapkan materi pembelajaran Memilih dan menetapkan metode pembelajaran Memilih media dan sumber belajar Jumlah

6,78

23 22 57

38,98 37,29

kurikulum di tingkat satuan pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian, guru-guru di SMU Negeri 4 Watampone telah mengembangkan struktur dan muatan kurikulum sebagaimana yang tercantum pada standar isi, namun dalam implementasinya guru masih mengalami hambatan. Guru merupakan faktor penentu dalam keberhasilan implementasi kurikulum. Guru dituntut mampu mengembangkan kurikulum sesuai dengan standar isi dan standar kompetensi lulusan yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan. Struktur dan muatan kurikulum merupakan bagian dari standar isi yang harus dikembangkan oleh guru sebagai dasar untuk mengembangkan kurikulum lebih lanjut. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak terlaksananya dengan baik penyusunan struktur dan muatan kurikulum merupakan faktor penghambat dalam mengimplementasikan kurikulum di tingkat satuan pendidikan. 2. Silabus Selanjutnya tugas guru dalam mengembangkan KTSP adalah menyusun silabus. Penyusunan silabus dilakukan dengan mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah disiapkan oleh Depdiknas. Standar kompetensi dan kompetensi dasar merupakan arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Sedangkan untuk merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan standar proses dan standar penilaian. Silabus dikembangkan oleh guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian, guru-guru di SMU Negeri 4 Watampone telah mengembangkan silabus berdasarkan tuntutan KTSP, namun guru-guru masih mengalami hambatan dalam menyusun silabus dan hambatan yang dialami oleh

d. Menyusun Penilaian Tabel 5. Distribusi Frekuensi Hambatan Guru dalam Menyusun Penilaian
No 1 Penyusunan Penilaian Menjabarkan aspek-aspek penilaian Memberikan remedial dan pengayaan Memberikan umpan balik Jumlah F (orang) 25 % 42,37

2 3

18 12 55

30,51 20,34

Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa nilai median adalah 61 dan nilai Modus adalah 63 sedangkan untuk skor rata-rata (mean) yang diperoleh adalah 60,17 dengan nilai standar deviasi 8,48. Skor hasil data implementasi KTSP dikelompokkan ke dalam empat kategori. Nilai statistik dasar tersebut digunakan untuk data kategori. Hasil angket untuk mengetahui gambaran hambatan yang dialami oleh guru-guru di SMU Negeri 4 Watampone. Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif terlihat bahwa guru-guru SMU Negeri 4 Watampone dalam implementasi KTSP masih mengalami hambatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pembahasan sub-sub variabel di bawah ini: 1. Struktur dan Muatan Kurikulum Struktur dan muatan kurikulum merupakan salah satu komponen dalam menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Setiap satuan pendidikan harus mengembangkan struktur dan muatan kurikulum sebagai dasar pengembangan

Akhmad W Rauf, Deskripsi Tentang Hambatan Guru dalam Implementasi KTSP

guru masih beragam. Silabus merupakan pedoman bagi guru dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian telah terbukti bahwa kesulitan dalam menyusun silabus merupakan faktor penghambat dalam implementasi KTSP. 3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Silabus dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran, dilaksanakan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti oleh masingmasing guru. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus dan merupakan komponen penting dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang pengembangannya harus dilakukan secara professional. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sangat dibutuhkan oleh guru dalam proses pembelajaran di kelas, dan membantu guru untuk berlaku secara profesional. Berdasarkan hasil penelitian di SMU Negeri 4 Watampone masih mengalami hambatan dalam menyusun RPP. Sehingga dapat dikatakan bahwa kesulitan dalam membuat RPP merupakan faktor penghambat dalam implementasi KTSP. 4. Penilaian Penilaian dilakukan oleh guru untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik untuk perbaikan proses pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian masih ada guru yang masih mengalami hambatan dalam memberikan penilaian kepada peserta didik. Berdasarkan hasil pembahasan di atas menunjukkan bahwa guru-guru di SMU Negeri 4 Watampone masih mengalami hambatan dalam mengimplementasikan KTSP.

SIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Implementasi KTSP di SMU Negeri 4 Watampone masih mengalami hambatan, ini terlihat dari hasil yang diperoleh yaitu 93,22% guru yang mengalami hambatan dalam mengimplementasikan KTSP. 2. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari dokumentasi terlihat bahwa guru-guru di SMU Negeri 4 Watampone mengalami hambatan berupa sarana dan prasarana. Ini terlihat dari data-data yang diperoleh tidak sesuai dengan standar sarana dan prasarana yang telah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan. 3. Guru-guru masih mengalami hambatan dalam menyusun struktur dan muatan kurikulum, berdasarkan hasil penelitian terlihat 14 guru yang mengalami hambatan dalam pengaturan beban belajar, 23 guru mengalami hambatan dalam menentukan ketuntasan belajar, 9 guru yang mengalami hambatan dalam menentukan kenaikan kelas dan kelulusan. 4. Guru-guru masih mengalami hambatan dalam menyusun silabus, ini terlihat dari hasil penelitian bahwa 1 guru yang mengalami hambatan dalam menentukan materi pokok, 17 guru yang mengalami hambatan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran, 18 guru yang mengalami hambatan dalam merumuskan indikator, 12 guru yang mengalami hambatan dalam menyusun penilaian, 7 guru yang mengalami hambatan dalam menentukan alokasi waktu. 5. Guru-guru masih mengalami hambatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, ini terlihat dari hasil yang diperoleh bahwa 8 guru yang mengalami hambatan dalam merumuskan tujuan pembelajaran, 4 guru yang mengalami hambatan dalam memilih dan menetapkan materi pembelajaran, 23 guru yang mengalami hambatan dalam memilih dan menetapkan metode pembelajaran, 22 guru yang mengalami hambatan dalam memilih media dan sumber belajar.

Jurnal MEDTEK, Volume 1, Nomor 1, April 2009

6. Guru-guru masih mengalami hambatan dalam menyusun penilaian, ini terlihat dari hasil yang diperoleh bahwa 25 guru yang mengalami hambatan dalam menjabarkan aspek-aspek penilaian, 18 guru yang mengalami hambatan dalam memberikan remedial dan pengayaan, 12 guru yang mengalami hambatan dalam memberikan umpan balik. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disarankan sebagai berikut: 1. Pihak sekolah harus menyiapkan sarana dan prasarana yang lengkap dan alat peraga yang relevan dengan materi pelajaran demi kelancaran pelakasanaan KTSP. 2. Disarankan guru lebih meningkatkan kualitas dan kreatifitasnya dalam menyusun dan mengembangkan kurikulum di satuan pendidikan. Sehingga hambatan-hambatan yng dialami dalam mengembangkan kurikulum dapat teratasi.

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Haling, Abdul. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Makassar : Badan Penerbit UNM. Hamalik, Oemar. 2007. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Joko Susilo, Muhammad. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Jakarta: Pustaka Pelajar. Karli, Hilda dan Hutabarat, Oditha R, M.th. 2007. Implementasi KTSP dalam Model-model Pembelajaran, Jakarta: Generasi Info Media Khaeruddin. 2006. Proses Belajar Mengajar dalam Kurikulum. Makassar: Universitas Negeri Makassar Muchlis, Masnur. 2007. KTSP, Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara. ________. 2007. KTSP, Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara Mulyasa. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Sebuah Panduan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Nasional Standar Pendidikan (BSNP). 2006. Standar Isi. Jakarta: BSNP

________. 2006. Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: BSNP Departemen Pendidikan Nasional. 2006. KTSP Aliah Negeri, Jakarta: Depdiknas.