Anda di halaman 1dari 10

Dasar utama: Kis. 2:42-47: 1. Persekutuan 2. Pewartaan 3. Perayaan sakramen/liturgi 4. Pelayanan 5. Penghayatan hidup/kesaksian Pendukung: Kis. 4:32-37, Rm.

12:3-13, 1 Kor. 12:12-30 Kesimpulan: KBG adalah suatu kesatuan dalam Roh yang terarah kepada Bapa, di mana semua anggota menjadi kawanan orang-orang kudus, keluarga Allah dengan dasar ajaran Para Rasul dan para nabi, di dalam Kristus sebagai pemimpin di mana tubuh seluruh bangunan menjadi Bait Allah yang kudus.
1

Gagasan tentang komunitas basis diinspirasi oleh ajaran tentang Allah Trinitas; yakni Allah sebagai persekutuan antar pribadi yang sempurna. Leonardo Boff menegaskan bahwa dalam diri Allah ketiga Pribadi illahi memiliki segala sesuatu secara bersama-sama dan saling memberikan segala sesuatu kepada yang lain, kecuali kekhasan yang membentuk identitas masing-masing Pribadi. Identitas Bapa ialah kenyataan bahwa Ia mengasalkan kedua Pribadi yang lain. Identitas Putera bahwa Ia berasal dari Bapa. Sedangkan identitas Roh ialah bahwa Ia dihembuskan olehBapa dan Putera. Maka, aspek teologis yang ditekankan ilah aspek communio.

Communio merupakan kerinduan, keprihatinan, doa, serta usaha Yesus Kristus dalam membangun Kerajaan Allah di dunia. Gereja selaku ahli waris dan penerus semangat dan Roh Yesus Kristus di atas bumi ini. Maka Gereja mengejawantahkan identitasnya apabila ia menampilkan aspek communio ini dalam iman, harapan, dan kasih baik secara vertikal maupun secara horizontal.

Visi Gereja: 1. LG (art. 23, 26) mengatakan bahwa Gereja Katolik yang satu terwujud dalam diri Gereja-gereja lokal. Pusat Gereja adalah altar di mana dirayakan Ekaristi. Kristus hadir dalam Gereja Katolik, dalam seluruh jemaat kaum beriman setempat yang sah. Pusat Gereja adalah Kristus: Dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka (Mat. 18:20) 2. LG (art. 11) berbicara mengenai Gereja keluarga dan orang beriman yang ber-Communio, tidak hanya menghayati iman secara perorangan, tetapi juga sebagai Gereja, yang secara paling dasariah terwujud dalam keluarga dan komunitas kecil, di mana semua anggota saling mengenal.

Misi Gereja:
1. GS (art. 1) mengatakan bahwa misi yang diemban Gereja dilaksanakan dalam bentuk kerja sama dengan siapa saja yang berkehendak baik, menyatu dan membaur dalam masyarakat sekitar, dalam konteks sosial budaya, sosial ekonomi, dan memberi kesaksian tentang Injil Yesus Kristus. Dengan cara demikian Gereja sungguh solider dengan masyarakat, sebab kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan masyarakat dirasakan oleh murid-murid Kristus juga.

Misi Gereja:

2. AG (art. 15) menegaskan bahwa para misionaris, yakni para pekerja yang diutus Allah harus membangun komunitas-komunitas kaum beriman, sehingga mereka mampu menyebarluaskan tugas-tugas keimaman, kenabian, dan rajawi yang dipercayakan kepada mereka oleh Tuhan. Sehubungan dengan itu, komunitas-komunitas tersebut akan menjadi suatu pertanda bagi kehadiran Allah di dunia. 3. RM (art. 51) mengatakan, Komunitas Basis Gerejawi merupakan suatu pertanda dari daya hidup (vitalitas) Gereja sendiri, suatu perangkat untuk pembentukan dan pewartaan Injil, serta menjadi suatu permulaan yang mantap bagi suatu masyarakat baru yang berdasarkan cinta kasih. Komunitas-komunitas tersebut bersifat desentral dan membentuk komunitas-komunitas paroki.
6

Misi Gereja:
4. FABC-V(Bandung, 27 Juli 1990) menyimpulkan bahwa Gereja di Asia harus menjadi persekutuan jemaat-jemaat; di situ umat awam, para relegius, dan klerus saling mengakui dan menerima sebagai saudara dan saudari. Mereka dihimpun oleh sabda Allah, yang dipandang sebagai kehadiran kuasa sakramental, Tuhan yang bangkit mulia, membimbing mereka membentuk jemaat-jemaat kristiani kecil. Di situlah mereka berdoa dan bersama-sama merenungkan Injil Yesus, menghayati dalam hidup mereka seharihari, sementara mereka saling mendukung dan bekerja sama, bersatu sebudi dan sehati. (Laurrensius, 2010: 30)

Misi Gereja:
5. SAGKI-2000 (1-5 Nov.) menyimpulkan bahwa KBG merupakan salah satu cara baru hidup meng-Gereja. Komunitas basis dipandang sebagai satuan umat yang relatif kecil dan yang mudah berkumpul secara berkala untuk mendengarkan firman Allah, berbagi masalah sehari-hari; baik masalah pribadi, kelompok maupun masalah sosial, dan mencari pemecahannya dalam terang Kitab Suci (bdk. Kis. 2:1-7)Komunitas basis seperti ini terbuka untuk membangun suatu komunitas yang juga merangkul saudara-saudari beriman lain. Komunitas basis hidup berdasarkan iman, jumlah anggotanya tidak terlalu banyak, komunitas terbuka antaranggota dalam semangat persaudaraan, membangun solidaritas dengan sesama, khususnya dengan saudara yang miskin dan tertindas.

1.

Arus informasi dan globalisasi telah mengubah struktur-struktur masyarakat. Persekutuan hidup primer dalam masyarakat tradisional telah terkikis. Arus urbanisasi dan migrasi menyebabkan hilangnya hubungan persekutuan antar manusia yang primer itu. Sebagai makhluk sosial manusia tidak merasakan kebahagiaan. Maka salah satu upaya Gereja adalah menghidupkan kembali persekutuan dasar itu, dengan mengambil bentuk KBG.

2.

KBG merupakan pilihan strategis dalam menjawab tantangan zaman. Zaman ini ditandai oleh berbagai perubahan dalam berbagai bidang kehidupan. Hal itu turut mempengaruhi cara hidup menggereja. Menurut Rm. Mangunwijaya, pelayanan berbasis kelompok besar dan penghayatan cara menggereja yang bersifat masal menjadi semakin sulit. Pada saat yang sama, justru kelompok kecil atau keluargalah yang menjadi sasaran pengaruh buruk perkembangan dunia modern. Karena itu situasi menuntut agar bimbingan kehidupan keluarga dan kelompok kecil menjadi program Gereja yang sentral dan fundamental.
10