Anda di halaman 1dari 72

LAPORAN PENDAHULUAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN

A. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang

bertujuan untuk melukai seseorang, baik secara fisik maupun psikologis, yang dapat dilakukan secara verbal maupun non verbal yang diarahkan pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Perilaku kekerasan dapat terjadi dalam dua bentuk yaitu perilaku kekerasan saat sedang berlangsung atau perilaku kekerasan terdahulu /riwayat perilaku kekerasan (Keliat & Akemat, 2010) Perilaku kekerasan merupakan campuran perasaan frustasi dan benci atau marah. Hal ini didasari keadaan emosi secara mendalam dari setiap orang sebagai bagian penting dari keadaan emosional kita yang dapat diproyeksikan ke lingkungan, kedalam diri atau secara destruktif. Perlaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Sering disebut gaduh gelisah atau amuk dimana seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak dikontrol (Yosep, 2007).

B. Etiologi 1. Faktor predisposisi a. Biologis/Neurologis Adanya kerusakan system limbic ,lobus frontal,lobus temporal dan ketidakseimbangan neurotransmitter. b. Psikologis Teori Frustasi : Kegagalan yang di alami akan

menimbullkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk

Teori

Tumbang

Masa

kanak-kanak

yang

tidak

menyenangkan seperti di perasaan di tolak,di hina,di aniaya,atau saksi penganiayaan.

c. Perilaku Reinforcement yang di terima saat melakukan kekerasan,sering mengobservasi kekerasan di dalam atau di luar rumah,semua aspek ini menstimulasi individu menghadapi perilaku

kekerasan. d. Social budaya Budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dan control social yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaju kekerasan di terima (pasmisive). 2. Factor Presipitasi Bersumber dari diri individu sendiri,lingkungan dan interaksi dengan orang lain. Ancaman yang menyebabkan di bagi menjadi dua,yaitu : tujuan a. Internal stressor: Kelemahan fisik (kehilanagan anggota fisik, keputusasaan, ketidak berdayaan kehilangan keluarga, kurangnya percaya diri. b. Eksternal stressor: Situasi lingkungan yang ribut,kritikan yang mengarah pada penghinaan,kehilangan orang yang di cintai/kehilangan pekerjaan,konflik di lingkungan. C. Tanda dan Gejala 1. Fisik : mata melotot/pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, wajah memerah dan tegang, serta postur tubuh kaku. 2. Verbal : mengancam, mengumpat dengan kata-kata kotor, berbicara dengan nada keras, kasar dan ketus. 3. Perilaku : menyerang orang lain, melukai diri sendiri/orang lain, merusak lingkungan, amuk/agresif.

4. Emosi : tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, merasa terganggu, dendam, jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut. 5. Intelektual : mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan dan tidak jarang mengeluarkan kata-kata bernada sarkasme. 6. Spiritual : merasa diri berkuasa, merasa diri benar, keragu-raguan, tidak bermoral dan kreativitas terhambat. 7. Sosial : menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan dan sindirin. 8. Perhatian : bolos, melarikan diri dan melakukan penyimpangan seksual.

D. Rentang Respons repon adaftif respon maladaftif

Asertif

Frustasi

Pasif

Agresif

Kekerasan

Keterangan : 1. Asertif : Individu dapat mengungkapkan marah tanpa

menyalahkan orang lain dan memberikan ketenangan. 2. Frustasi : Individu gagal mencapai tujuan kepuasan saat marah dan tidak dapat menemukan alternatif. 3. Pasif : Individu tidak dapat mengungkapkan perasaannya. 4. Agresif : Perilaku yang menyertai marah, terdapat dorongan untuk menuntut tetapi masih terkontrol. 5. Kekerasan : Perasaan marah dan bermusuhan yang kuat serta hilangnya kontrol.

Pasif Negatif dan merendahkan diri, contohnya perkataan : Dapatkah saya ? Dapatkah kamu ? Cepat lambat, mengeluh Menundukkan kepala Menjaga jarak dengan sikap acuh/mengabaik an Loyo, tidak dapat tenang Sedikit/sama sekali tidak

Asertif

Isi Pembicara an

Positif dan menawarkan diri, contohnya perkataan : Saya dapat Saya akan

Tekanan Suara Posisi badan Jarak

Sedang Tegap dan santai Mempertahank an jarak yang nyaman Sikap tenang Mempertahank an kontak mata sesuai dengan hubungan

Penampila n Kontak Mata

Agresif Menyombongk an diri, merendahkan orang lain, contohnya perkataan : Kamu selalu Kamu tidak pernah Keras dan ngotot Kaku, condong ke depan Siap dengan jarak akan menyerang orang lain Mengancam, posisi menyerang Mata melotot da

E.

Mekanisme koping Mekanisme koping yang umum digunakan adalah mekanisme pertahanan ego seperti, displacement, sublimasi, proyeksi, represi, denial, dan reaction formation. 1. Displacement: Mengalihkan emosi, arti simbolik, fantasi dari sumber yang sebenarnya (benda, orang, keadaan) kepada orang lain, benda atau keadaan lain. 2. Sublimasi: Mengganti keinginan atau tujuan yang terhambat dengan cara yang dapat diterima masyarakat. Impuls yang berasal dari Id yang sukar disalurkan oleh karena mengganggu individu atau masyarakat, oleh karena itu impuls harus dirubah bentuknya sehingga tidak merugikan individu / masyarakat sekaligus mendapatkan pemuasan.

3. Proyeksi: Menyalahkan orang lain atas kelalaian dan kesalahankesalahan atau kekurangan diri sendiri, keinginan-keinginan, impuls-impuls sendiri. 4. Represi: Secara unconcious mencegah keinginan-keinginan atau pikiran yang menayakitkan ke conscious. 5. Denial: Menolak untuk menerima atau menghadapi kenyataan yang tidak enak. 6. Reaction formation: Bertingkah laku berlebihan yang langsung bertentangan sebenarnya. F. Penatalaksanaan medis 1. Terapi Somatik Menurut (Depkes RI, 2000, hal 230) menerangkan bahwa terapi Somatik adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan gangguan jiwa dengan tujuan mengubah perilaku yang maladaptife menjadi perilaku adaktif dengan melakukan tindakan yang ditujukan pada kondisi fisik klien, tetapi target terapi adalah perilaku klien . 2. Terapi kejang listrik Terapi kejang listrik atau elektronik convulsive therapy (ECT) adalah bentuk terapi kepada klien dengan menimbulkan kejang grand mall dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempatkan pada pelipis klien. Terapi ini ada awalnya untuk menangani skizofrenia membutuhkan 20-30 kali terapi biasanya dilaksanakan adalah tiap 2-3 hari sekali (seminggu 2 kali). 3. Psikofarmaka Beberapa obat yang sering digunakan untuk mengatasi perilaku kekerasan diantaranya : a. Anti ansietas dan hipnotik sedatif, misalnya diazepam (valium) b. Anti depresan misalnya amitriptilin c. Mood stabiluizer misalnya lithium,carbamazepin d. Antipsikotik misalnya clorpromazine, haloperidol, stelazin dengan keinginan-keinginan, perasaan yang

e. Obat lain misalnya naltrexon, propanolol. 4. Peran serta keluarga Keluarga merupakan system pendukung utama yang memberikan perawatan langsung pada setiap keadaan(sehat-sakit) klien. Perawat membantu keluarga agar dapat melakukan lima tugas kesehatan, yaitu mengenal masalah kesehatan, membuat

keputusan tindakan kesehatan, memberi perawatan pada anggota keluarga, menciptakan lingkungan keluarga yang sehat, dan menggunakan sumber yang ada pada masyarakat. Keluarga yang mempunyai mencegah kemampuan perilaku mengatasi masalah akan dapat primer),

maladaptive

(pencegahan

menanggulangi perilaku maladaptive (pencegahan skunder) dan memulihkan perilaku maladaptive ke perilaku adaptif (pencegahan tersier) sehingga derajat kesehatan klien dan kieluarga dapat ditingkatkan secara opti9mal. (Budi Anna Keliat,1992).

G. Komplikasi Klien dengan perilaku kekerasan dapat melakukan tindakantindakan berbahaya bagi dirinya, orang lain maupun lingkungannya, seperti menyerang orang lain, memecahkan perabot, membakar rumah dll. Sehingga klien dengan perilaku kekerasan beresiko untuk mencederai diri orang lain dan lingkungan Tanda dan gejala: 1. Gejala klinis yang ditemukan pada klien dengan perilaku kekerasan didapatkan melalui pengkajian meliputi : 2. Wawancara : diarahkan penyebab marah, perasaan marah, tandatanda marah yang diserasakan oleh klien. 3. Observasi : muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan kehendak: merampas makanan, memukul jika tidak senang.

H. Fungsi positif marah

1. Energizing function Rasa marah akan menambah energy / tenaga seseorang karena emosi akan meningkatkan adrenalin dalam tubuh yang mengakibatkan peningkatan metabolism tubuh sehingga terbentuk energy tambahan 2. Expressive function Dengan mengeksprsikan kemarahan, individu dapat memperlihatkan / mengkomunikasikan pada orang lainkeinginan dan harapannya secara terbuka tanpa melalui kata-kata 3. Self promotional function Marah dapat digunakan memproyeksikan konsep diri yang positif atau meningkatkan harga diri

4. Defensive function Kemarahan dapat meningkatkan pertahanan ego dalam menaggapi kecemasan yang meningkat dalam konflik eksternal 5. Potenting function 6. Kemampuan koping terhadap rasa marah akan meningkatkan kemampuan mengontrol situasi; persaingan tidak sehat. 7. Discriminating function Dengan mengekspresikan marah individu dapat membedakan keadaan alam perasaanya; sedih, jengkel, marah, amuk.

I.

Pohon masalah

Resiko menciderai diri sendiri dan orang lain (Akibat) Resiko perilaku kekerasan (Care problem) Gangguan konsep diri : HDR (Penyebab)
koping individu in efektif
7

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN 1. Aspek biologis Respons fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap sekresi epineprin sehingga tekanan darah meningkat, tachikardi, muka merah, pupil melebar, pengeluaran urine meningkat. Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan, ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh kaku, dan refleks cepat. Hal ini disebabkan oleh energi yang dikeluarkan saat marah bertambah. 2. Aspek emosional Individu yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya, jengkel, frustasi, dendam, ingin memukul orang lain, mengamuk, bermusuhan dan sakit hati, menyalahkan dan menuntut. 3. Aspek intelektual Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses intelektual, peran panca indra sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses intelektual sebagai suatu pengalaman. Perawat perlu mengkaji cara klien marah, mengidentifikasi penyebab kemarahan, bagaimana informasi diproses, diklarifikasi, dan diintegrasikan. 4. Aspek social interaksi sosial, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan. Emosi marah sering merangsang kemarahan orang lain. Klien seringkali menyalurkan kemarahan dengan mengkritik tingkah laku yang lain sehingga orang lain merasa sakit hati dengan mengucapkan kata-kata kasar yang berlebihan disertai suara keras. Proses tersebut dapat mengasingkan individu sendiri, menjauhkan diri dari orang lain, menolak mengikuti aturan. 5. Aspek spiritual Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan lingkungan. Hal yang bertentangan dengan norma yang

dimiliki dapat menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa. B. DIAGNOSA KEPERWATAN a. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan b. Perilaku kekerasan / amuk c. Gangguan Harga Diri : Harga Diri Rendah

C. INTERVENSI KEPERWATAN NO 1 DX KEP Perilaku kekerasan TUJUAN TUM: - Pasien dapat melanjutkan hubungan peran sesuai tanggung jawab. TUK: 1 1. PPasien dapat Membina Hubungan saling percaya TUK: 2 2. PPasien dapat mengidentifikasi penyebab marah / amuk PERENCANAAN KRITERIA EVALUASI Setelah dilakukan ...x20 menit interaksi diharapkan klien menunjukkan tanda-tanda a. Pasien mau membalas salam. b. Pasien mau jabatan c. Pasien menyebutkan Nama d. Pasien tersenyum e. Pasien ada kontak Mata f. Pasien tahu nama Perawat g. Pasien menyediakan waktu untuk kontrak Setelah dilakukan ...x20 menit interaksi diharapkan klien menunjukkan tanda-tanda a. Pasien dapat Mengungkapkan perasaannya. b. Pasien dapat menyebutkan perasaan marah / jengkel Setelah dilakukan ...x20 menit interaksi diharapkan klien menunjukkan tanda-tanda a. Pasien dapat mengungkapkan perasaan saat marah /jengkel. b. Pasien dapat menyimpulkan tanda-tanda jengkel / kesal
10

1. 2. 3. 4. 5.

INTERVENSI Beri salam / panggil nama pasien. Sebut nama perawat sambil Salaman Jelaskan maksud hubungan Interaksi Beri rasa nyaman dan sikap Empatis Lakukan kontrak singkat tapi sering

1. Beri kesempatan untuk Mengungkapkan perasaannya. 2. Bantu pasien untuk mengungkapkan marah atau jengkel. 1. 2. 3. 4. 5. Anjurkan pasien mengungkapkan perasaan saat marah /jengkel. Observasi tanda perilaku kekerasan pada pasien

TUK: 3 3. PPasien dapat mengidentifikasi tanda marah

TUK: 4 4. PPasien dapat mengungkapkan perilaku marah yang sering dilakukan

UK: 5 PPasien dapat mengidentifikasi akibat perilaku Kekerasan

TUK: 6 6. PPasien mengidentifikasi cara construksi dalam berespon terhadap perilaku kekerasan

1. Bicarakan akibat / kerugian cara yang dilakukan 2. Bersama pasien menyimpulkan cara yang digunkana pasien. 3. Tanyakan pasien apakah mau tahu cara marah yang sehat Setelah dilakukan ...x20 menit 1. Tanyakan pada pasien interaksi diharapkan klien apakah pasien mau tahu menunjukkan tanda-tanda cara baru yang sehat 1. melakukan berespon terhadap 2. Beri pujian jika pasien kemarahan secara konstruktif. engetahui cara lain yang ehat 3. Diskusikan cara marah yang sehat dengan pasien.

Setelah dilakukan ...x20 menit interaksi diharapkan klien menunjukkan tanda-tanda a. Pasien mengungkapkan marah yang biasa dilakukan b. Pasien dapat bermain peran dengan perilaku marah yang dilakukan c. Pasien dapat mengetahui cara marah yang dilakukan menyelesaikan masalah atau tidak Setelah dilakukan ...x20 menit interaksi diharapkan klien menunjukkan tanda-tanda a. Pasien dapat menjelaskan akibat dari cara yang digunakan

1. Anjurkan pasien mengungkapkan marah yang biasa dilakukan 2. Bantu pasien bermain peran sesuai perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. 3. Bicarakan dengan pasien apa dengan cara itu bisa menyelesaikan masalah

11

4. TUK: 7 PPasien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol marah Pasien dapat 1. mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan a) Tarik nafas dalam b) Mengatakan secara langsung tanpa menyakiti c) Dengan sholat/berdoa 1 2.

7.

3. 4. 5.

RPK (Resiko TUK: Perilaku 8. PPasien dapat Kekerasan) dukungan keluarga mengontrol marah

Keluarga pasien dapat : 1. a. Menyebutkan cara merawat pasien dengan perilaku kekerasan. b. Mengungkapkan rasa puas 2. dalam merawat pasien 3.

a) Pukul bantal untuk melampiaskan marah b) Tarik nafas dalam c) Mengatakan pada teman saat ingin marah Anjurkan pasien sholat atau berdoa Pasien dapat memilih cara yang paling tepat. Pasien dapat mengidentifikasi manfaat yang terpilih Bantu pasien menstimulasi cara tersebut. Beri reinforcement positif atas keberhasilan. Anjurkan pasien menggunakan cara yang telah dipelajari. Identifikasi kemampuan keluarga merawat pasien dari sikap apa yang telah dilakukan Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat pasien. Jelaskan cara-cara merawat pasien.

12

9.

TUK: PPasien dapat menggunakan obat dengan benar

a. Pasien dapat menggunakan obat-obat yang diminum dengan kegunaannya. b. Pasien dapat minum obat sesuai program pengobatan

TUK: 10. PPasien dapat dukungan dari lingkungan untuk mengontrol marah

a. Lingkungan mengetahui bagaimana cara menyikapi pasien dengan perilaku kekerasan.

Harga Diri Rendah (HDR)

TUM: Pasien dapat mengontrol

a. Ekspresi Wajah bersahabat ,

menunjukkan rasa scaang, ada

4. Bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat pasien. 5. Bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah melakukan demonstrasi. 1. Jelaskan jenis-jenis obat yang diminum pasien dan oeluarga. 2. .Diskusikan manfaat minum obat. 3. Jelaskan prinsip 5 benar minum obat 4. Anjurkan pasien minum obat tepat waktu 1. Jelaskan peran serta lingkungan terhadap kondisi pasien 2. Beri penjelasan bagaimana cara menyikapi pasien dengan perilaku kekerasan 3. Diskusikan cara -cara yang dilakukan untuk menyikapi pasien dengan perilaku kekerasan 1. Bina hubungan saling percaya dengan

13

perilaku kekerasan pada saat berhubungan dengan orang lain TUK : 1 1. PPasien dapat membina hubungan saling percaya

TUK : 2 Pasien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimilik

mengungkapkan prinsip komunikasi tcrapeutik Sapa pasien dengan ramah laik verbal maupun non verbal a. Perkenalkan diri dengan sopan b. Tanyakan nama iengkap pasien dan nama panggilan disukai pasien c. Jelaskan tujuan pertemuan d. Jujur dan menepati janji e. Tunjukkan siknp empati dan menerima pasien apa adanya f. Beri perhatian kepada pasien dan perhatikan kebutuhan dasar pasien a. Daftar kemampuan yang dimiliki 1. Diskusikan kemampuan dan pasien di rumah sakit, rumah, aspek positif yang dimiliki sekolah dan tempat kerja buat daftarnya b. Daftar positif keluarga pasien 2. Setiap bertemu pasien c. Daftar positif lingkungan pasien dihindarknn dari metnberi penilni; negatif 3. Utamakan memberi pujian yang realistic pada kemampuan dan aspek positif pasien

kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, klien mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi

14

TUK 3 3. Pasien dapat menilai kemampuan yang digunakan

a. Pasien menilai kemampuan yang digunakan b. Pasien memiliki kemampuan yang dapat digunakan di rumah

TUK : 4 Pasien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki

a. Pasien menilai kemampuan yang akan . dilatih b. Pasien mencoba Susunan jadwal harian

TUK: 5 5 PPasien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dari kemampuannya

a. Pasien melakukan kegiatan yang telah di latih (mandiri, dengan bantuan atau tergantung) b. Pasien marnpu melakukan beberapa kegiatan secara

1. Diskusikan dengan pasien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit 2. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan pengguna di rumah sakit 3. Berikan pujian 1. Meminta pasien untuk:memilih satu kcgiatan yang mau dilakukan di rumah sakit 2. Bantu pasien melakukannya jika perlu beri contoh 3. Beri pujian atas keberhasilan pasien. 4. Diskusi kaji jadwal kegiatan harian atas kegiatan yang telah dilatih 5. Catatan : Ulangi untuk kemampuan lain sampai semua selesai 1. Beri kesempatan pada pasien untuk mencoba kcgiatan yang telah direncanakan 2. Beri pujian atas keberhasian pasien

15

TUK : 6 6. Pasien dapat memanfatkan system pendukung yang ada

3. Diskusikan kemungkinan penaksiiran di rumah a. Keluarga memberi dakungan 1. Beri pendidikan kcschatan dan pujian pada keluarga tentang cara b. Keluarga memahami jadwal merawat pasien dengan kegiatan harian pasien harga diri rcndah 2. Bantu keluarga memberikan dukungnn selama pasien dirawat. 3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah 4. Jelaskan cara pelaksmann jadwal kegiatan pasien di rumah 5. Anjurkan memberi pujian pada pasien setiap berhasil

mandiri

16

LAPORAN PENDAHULUAN DEFISIT PERAWATAN DIRI

A. Pengertian Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan

kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000). Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004). Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya ( Tarwoto dan Wartonah 2000 ). JenisJenis Perawatan Diri 1. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri. 2. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias. Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri. 3. Kurang perawatan diri : Makan Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan aktivitas makan. 4. Kurang perawatan diri : Toileting Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri (Nurjannah : 2004, 79 ).

17

B. Etiologi Menurut Tarwoto dan Wartonah, (2000) Penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai berikut : 1. Kelelahan fisik 2. Penurunan kesadaran Menurut Dep Kes (2000: 20), penyebab kurang perawatan diri adalah : 1. Faktor prediposisi a. Perkembangan Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien

sehingga perkembangan inisiatif terganggu. b. Biologis Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri. c. Kemampuan realitas turun Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri. d. Sosial Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri. 2. Faktor presipitasi Yang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri. Menurut Depkes (2000: 59) Faktor faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah: a. Body Image

18

Gambaran

individu

terhadap

dirinya

sangat

mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya. b. Praktik Sosial Pada anak anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene. c. Status Sosial Ekonomi Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk

menyediakannya. d. Pengetahuan Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya. e. Budaya Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan. f. Kebiasaan seseorang Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain lain. g. Kondisi fisik atau psikis Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk

melakukannya.

Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene. a. Dampak fisik

19

Banyak seseorang

gangguan tidak

kesehatan

yang

diderita

karena

terpeliharanya

kebersihan

perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah : Gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku. b. Dampak psikososial Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

C. Patofisiologi Perawatan diri kurang

Menurunnya motivasi perawatan diri

Isolasi sosial : menarik diri D. Tanda dan Gejala Menurut Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah: 1. Fisik a. Badan bau, pakaian kotor. b. Rambut dan kulit kotor. c. Kuku panjang dan kotor d. Gigi kotor disertai mulut bau e. penampilan tidak rapi 2. Psikologis a. Malas, tidak ada inisiatif. b. Menarik diri, isolasi diri.

20

c. Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina. 3. Sosial a. Interaksi kurang. b. Kegiatan kurang . c. Tidak mampu berperilaku sesuai norma. d. Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri. Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri adalah : 1. Data subyektif a. Pasien merasa lemah b. Malas untuk beraktivitas c. Merasa tidak berdaya. 2. Data obyektif a. Rambut kotor, acak acakan b. Badan dan pakaian kotor dan bau c. Mulut dan gigi bau. d. Kulit kusam dan kotor e. Kuku panjang dan tidak terawat

21

22

E. Diagnosa Keperawatan Rencana Tindakan Keperawatan Klien Dengan Defisit Perawatan Dirigor

Tgl

No Dx

Perencanaan Dx Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi Defisit TUM: klien dapat perawatan mandiri dalam diri perawatan diri TUK: Klien mampu menunjukkan Bina hubungan saling percaya : Klien dapat membina tanda-tanda percaya kepada Beri salam setiap berinteraksi. hubungan saling perawat: Perkenalkan nama, nama panggilan percaya dengan Wajah cerah, tersenyum perawat dan tujuan perawat perawat Mau berkenalan berkenalan Ada kontak mata Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien Menerima kehadiran perawat Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi Bersedia menceritakan perasaannya Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi klien Buat kontrak interaksi yang jelas Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati Penuhi kebutuhan dasar klien Klien mengetahui Klien mampu menyebutkan: Diskusikan dengan klien: pentingnya Penyebab tidak merawat Penyebab klien tidak merawat diri perawatan diri diri Manfaat menjaga perawatan diri

23

Klien mengetahui cara-cara melakukan perawatan diri

Manfaat menjaga perawatan diri Tanda-tanda bersih dan rapi Gangguan yang dialami jika perawatan diri tidak diperhatikan Klien mampu menyebutkan frekuensi menjaga perawatan diri: Frekuensi mandi Frekuensi gosok gigi Frekuensi keramas Frekuensi ganti pakaian Frekuensi berhias Frekuensi gunting kuku Klien mampu menjelaskan cara menjaga perawatan diri: Cara mandi Cara gosok gigi Cara Keramas Cara Berpakaian Cara berhias Cara gunting kuku Klien dapat mempraktekkan perawatan diri dengan dibantu

Klien dapat melaksanakan

untuk keadaan fisik, mental, dan sosial. Tanda-tanda perawatan diri yang baik Penyakit atau gangguan kesehatan yang bisa dialami oleh klien bila perawatan diri tidak adekuat Diskusikan frekuensi menjaga perawatan diri selama ini Mandi Gosok gigi Keramas Berpakaian Berhias Gunting kuku Diskusikan cara praktek perawatan diri yang baik dan benar : mandi gosok gigi Keramas Berpakaian Berhias Gunting kuku Berikan pujian untuk setiap respon klien yang positif Bantu klien saat perawatan diri : Mandi

24

perawatan diri dengan bantuan perawat

Klien dapat melaksanakan perawatan diri secara mandiri

Klien mendapatkan dukungan keluarga untuk meningkatkan perawatan diri

oleh perawat: Mandi Gosok gigi Keramas Ganti pakaian Berhias Gunting kuku Klien dapat melaksanakan praktek perawatan diri secara mandiri Mandi 2 X sehari Gosok gigi sehabis makan Keramas 2 X seminggu Ganti pakaian 1 X sehari Berhias sehabis mandi Gunting kuku setelah mulai panjang 1. Keluarga dapat menjelaskan cara-cara membantu klien dalam memenuhi kebutuhan perawatan dirinya 2. Keluarga dapat menyiapkan sarana perawatan diri klien: sabun mandi, pasta gigi,

Gosok gigi Keramas Ganti pakaian Berhias Gunting kuku Beri pujian setelah klien selesai melaksanakan perawatan diri Pantau klien dalam melaksanakan perawatan diri: Mandi Gosok gigi Keramas Ganti pakaian Berhias Gunting kuku Beri pujian saat klien melaksanakan perawatan diri secara mandiri. Diskusikan dengan keluarga: Penyebab klien tidak melaksanakan perawatan diri Tindakan yang telah dilakukan klien selama di rumah sakit dalam menjaga perawatan diri dan kemajuan yang telah dialami oleh klien Dukungan yang bisa diberikan oleh

25

sikat gigi, shampoo, handuk, pakaian bersih, sandal, dan alat berhias 3. Keluarga dapat mempraktekan perawatan diri pada klien

keluarga untuk meningkatkan kemampuan klien dalam perawatan diri Diskusikan dengan keluarga tentang: Sarana yang diperlukan untuk menjaga perawatan diri klien Anjurkan kepada keluarga menyiapkan sarana tersebut Diskusikan dengan keluarga hal-hal yang perlu dilakukan keluarga dalam perawatan diri : Anjurkan keluarga untuk mempraktekkan perawatan diri (mandi, gosok gigi, keramas, ganti baju, berhias dan gunting kuku) Ingatkan klien waktu mandi, gosok gigi, keramas, ganti baju, berhias, dan gunting kuku. Bantu jika klien mengalami hambatan dalam perawatan diri Berikan pujian atas keberhasilan klien

26

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI

I.

MASALAH UTAMA Perubahan persepsi sensori : halusinasi

II.

PROSES TERJADINYA MASALAH A. Pengertian Halusinasi adalah persepsi sensori yang palsu yang terjadi tanpa rangsang ensternal yang nyata. ( Barbara, 1997 : 575 ). Halusinasi adalah persepsi panca indra tanpa ada

rangsangan dari luaryang dapat mempengaruhi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu baik. (Carpenito, 1996). B. Macam- macam halusinasi 1. Halusinasi pendengaran 2. Halusinasi penglihatan. 3. Halusinasi penciuman. 4. Halusinasi pengecapan. 5. Halusinasi perabaan. 6. Halusinasi kinestik. 7. Halusinasi hipnogogik. 8. Halusinasi hipnopompik. 9. Halusinasi histerik. 10. Halusinasi autoskopi. C. Tanda dan gejala 1. Bicara, senyum / tertawa sendiri. 2. Mengatakan menghidu. 3. Merusak diri sendiri / orang lain / lingkungan. 4. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan tidak nyata. 5. Tidak dapat memusatkan perhatian dan konsentrasi. 6. Pembicaraan kacau, kadang tidak masuk akal. mendengar suara, melihat, mengecap,

27

7. Sikap curiga dan bermusuhan. 8. Menarik diri, menghindari dari orang lain. D. Mekanisme sebab- akibat. 1. Penyebab Isolasi sosial : menarik diri a. Pengertian : Perilaku menarik diri adalah suatu usaha menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrabdan tidak menyadari kesempatan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan sikap

memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (Budi Anna Keliat, 1998). b. Tanda dan Gejala
1) Apatis 2) Afek tumpul 3) Menghindar dari orang lain 4) Klien tampak memisahkan diri dengan orang lain 5) Komunikasi kurang 6) Kontak mata kurang 7) Berdiam diri 8) Kurang mobilitas

2. Akibat Risiko mencederai diri sendiri dan orang lain a. Pengertian Suatu keadaan dimana seorang individu melakukan suatu tindakan yang dapt membahayakan bagi keselamatan jiwanya maupun orang lain disekitarnya (Townsend, 1994) b. Tanda dan gejala 1) Adanya peningkatan aktifitas motorik 2) Perilaku aktif ataupun destruktif

28

3) Agresif E. Pohon masalah

Resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan. Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran. Isolasi diri : manarik diri

Akibat Core Problem Penyebab

III.

MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI 1. Resiko menciderai diri dan orang lain. Data Obyektif : Perilaku hiperaktif, agresi dan destruktif. Mudah tersinggung, jengkel dan marah. Sikap bermusuhan. Menolak makan.

Data Subyektif : klien mengatakan benci dan kesal pada seseorang klien suka membentak dan menyerang orang yang

mengusiknya jika sedang kesal 2. Perubahan persepsi sensori : halusinasi dengar. Data Obyektif : Bicara, senyum/ tertawa sendiri. Menarik diri dan menghindar dari orang lain.. Curiga, bermusuhan, merusak diri, orang lain dan lingkungan. Ekspresi wajah tegang, mudah tersinggung. Berbicara dan tertawa sendiri Bersikap seperti mendengar atau melihat sesuatu. Berhenti berbicara di tengah kalimat seperti mendengar sesuatu. Duduk menyendiri

29

Dissorientasi.

Data Subyektif Pasien mengatakan : Mendengar suara suara, melihat gambaran tanpa adanya stimulasi yang nyata, mencium bau tanpa stimulasi. 3. Perubahan isolasi sosial : menarik diri. Data Obyektif : Tidak memeprdulikan lingkungan. Kegiatan menurun, mobilitas kurang. Klien tampak diam, melamun dan menyendiri. Menghindar dari orang lain Komunikasi kurang Kontak mata kurang

Data Subyektif Klien mengatakan lebih suka sendiri daripada berhubungan dengan orang lain. IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Resiko menciderai diri dan orang lain yang berhubungan dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi dengar. 2. Perubahan persepsi sensori : halusinasi (dengar) yang

berhubungan dengan adanya isolasi sosial : manarik diri. V. FOKUS INTERVENSI Diagnosa 1. Resiko menciderai diri sendiri dan oaring lain berhubungan dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi dengar a Tujuan Umum Klien tidak menciderai orang lain b Tujuan Khusus 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya kriteria hasil: Ekspresi wajah bersahabat

30

menunjukkan rasa senang ada kontak mata atau mau jabat tangan mau menyebutkan nama mau menyebut dan menjawab salam mau duduk berdampingan dengan perawat mau mengutarakan masalah yang dihadapi

Intervensi Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi terapetik a. Sapa klien dengan ramah baik secara verbal maupun non verbal b. perkenalkan diri dengan sopan c. tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien d. jelaskan tujuan pertemuan e. jujur dan menepati janji f. tunjukkan sikap empati dan terima klien apa adanya g. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien

Rasionalisasi Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk

kelancaran hubungan interaksi selanjutnya 2. Klien dapat mengenal halusinasinya Kriteria hasil: a. Klien dapat menyebutkan waktu, isi, frekuensi

timbulnya halusinasi b. Klien dapat mengungkapkan perasaanya terhadap halusinasinya c. Bantu klien mengenal halusinasinya Jika menemukan klien yang sedang halusinasi, tanyakan apa yang sedang terdengar

31

Katakan bahwa perawat pwecaya klien mendengar suara itu namun perawat sendiri tidak melihatnya

KAtakan bahwa klien lain juga ada yang seperti klien

Katakan bahwa perawat siap membantu klien

d. Diskusikan dengan klien Situasi yang menimbulkan atau tidak menimbulkan halusinasi Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi

e. Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi 3. Klien dapat mengontrol halusinasinya Kriteria hasil: Klien dapat menyebutkan tindakan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya Klien dapat menyebutkan cara baru Klien dapat memilih cara yang telah dipilih untuk mengendalikan halusinasi Intervensi a. Identifikasi bersama klien cara yang dilakukan jika terjadi halusinasi. Rasional: merupakan upaya untuk memutus siklus halusinasi b. Diskusikan manfaat dara yang digunakan klien, jika bermanfaat beri pujian. Rasional: reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri klien c. Diskusikan cara baru untuk mengontrol timbulnya halusinasi 1) Katakan saya tidak mau dengar kamu 2) Menemui orang lain untuk bercakap-cakap 3) Melihat jadwal kegiatan sehari-hari agar halusinasi tidak sempat muncul Klien dapat mengikuti terapi aktivitas kelompok

32

4) Meminta perawat/teman/keluarga untuk menyapa jika klien melamun, rasional: memberi alternatif pikiran bagi klien

d. Bantu klien melatih dan memutus halusinasi secara bertahap rasional: memotivasi dapat meningkatkan keinginan klien untuk mencoba memilih salah satu cara

pengendalian halusinasi e. Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih, evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil f. Anjurkan klien untuk mengikuti TAK, orientasi realita Rasional: Stimulasi persepsi dapat mengurangi perubahan interpretasi realita klien 4. Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol

halusinasinya Kriteria hasil Klien dapat hubungan saling percaya pada perawat Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda dan tindakan untuk mengendalikan halusinasi Intervensi a. Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga jika sedang halusinasi Rasional: untuk mendapatkan bantuan keluarga dalam mengontrol halusinasi b. Diskusikan dengan keluarga tentang 1) 2) Gejala halusinasi yang dialami klien Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi 3) Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah, beri kegiatan jangan biarkan sendiri

33

4)

Beri informasi tentang kapan pasien memerlukan bantuan. Rasional: Untuk meningkatkan

pengetahuan tentang halusinasi

5. Klien memanfaatkan obat dengan baik Kriteria hasil Klien dan keluarga mampu menyebutkan manfaat, dosis dan efek samping Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar Klien dapat menginformasikan manfaat dan efek samping obat Klien dapat memahami akibat pemakaian obat tanpa konsultasi Klien dapat menyebutkan prinsip 5 benar penggunaan obat Intervensi a. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuansi dan manfaat obat b. Ajurkan klien untuk minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya c. Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat yang dirasakan.Rasional: dengan mengetahui efek samping obat klien tahu apa yang harus dilakukan setelah minum obat d. Diskusikan bahayanya obat tanpa konsultasi.Rasional: Pengobatan dapat bejalan sesuai rencana e. Bantu klien menggunakan prinsip 5 benar. Rasional: dengan mengetahui prinsip maka kemandirian klien tentang pengobatan dapat ditingkatkan secara bertahap

34

Diagnosa Keperawatan 2 : Perubahan persepsi sensori : halusinasi b/d menarik diri. a. Tujuan umum Tidak terjadi perubahan persepsi sensori : halusinasi. b. Tujuan khusus 1. Dapat membina hunbungan saling percaya. Kriteria evaluasi : Ekspresi wajah beersahabat, menunjukkan rasa senang, adanya kontak mata, mau berjabat tangan, mau

menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi. Intervensi Keperawatan : a. Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi teraupetik. b. Sapaklien dengan ramah baik vebal maupun nonb verbal. c. Perkenalkan diri dengan sopan d. Tanyakan nama lengkap klien dan nama kesukaan klien. e. Jelaskan tujuan pertemuan. f. Jujur dan menepeti janji. g. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya. h. Ciptakan lingkungan yang tenang dan bersahabat. i. Beri perhatian dan penghargaan : temani klien walau tidak menjawab. j. Dengarkan dengan empati beri kesempatan bicara, jangan buru buru, tunjukkan bahwa perawat mengikuti pembicaraan klien. Rasionalisasi : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya

35

2. KLien dapat menyebutkan penyebab menarik diri. Kriteria evaluasi : KLien dapat menyebutkan penyebab menarik diri.

Intervensi keperawatan : a. Kaji pengetahuan klien tantang perilaku menarik diri dan tanda tandanya. b. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan pearasaan penyebab menarik diri tidak mau bergaul. c. Diskusikan pada klien tentang perilaku menarik diri, tanda serta penyebab yang muncul. d. Berikan reinforcement positif terhadap kemampuan klien dalam mengungkapkan perasaannya. Rasionalisasi : - Diketahuinya penyebab akan dapat dihubungkan dengan factor presipitasi yang dialami klien.

3. KLien dapat menyebabkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain. Kriteria Evaluasi : KLien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian berhubungan dengan orang lain. Intervensi Keperawatan : a. Kaji pengetahuan klien tentang manfaat keuntungan berhubungan dengan orang lain serta kerugiannya bila tidak berhubungan dengan orang lain. b. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya tentang berhubunagn dengan orang lain c. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian bila tidak berhubungan denagn orang lain.

36

d.

Diskusikan bersama tentan keuntungan berhubungan denagn orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.

e.

Beri reinforcement positif terhadapo kemampuan mengungkapkan pearasaan tentang keuntungan

berhubunagn dengan orang lain dan kerugian bila tidak berhubungan denagn orang lain. Rasionalisasi : Mengidentifikasi sejauh mana keuntunagn yang klien rasakan bila berhubungan dengan orang lain. Mengidentuifikasi kerugian yang klien rasakan bila tidak berhubungan dengan orang lain. 4. KLien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap. Kriteria evaluasi ; Klien dapat mendemonstrasikan hubunagn sosial

secara bertahap k-p, k-p-p lain, k-p-p lain-k lain, k-pkel/kelompok masyarakat. Intervensi Keperawatan : a. Kaji kemampuan klien membina hubunagn dengan orang lain. b. Dorong dan Bantu klien berhubungan dengan orang lain melalui tahap k-p, k-p-p lain, k-p-p lain-k lain, k-pkel/kelompok masyarakat. c. Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang telah dicapai. d. Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungn. e. Diskusikan jadwal harian yang daopat dilaukan

bersama klien dalam mengisi waktu luang. f. Memotivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan. g. Beri reinfgorcement atas kegiatan klien dalam ruangan. Rasionalisasi :

37

KLien harus dicoba berinteraksi secara bertahap agar terbiasa membina hubungan yang sehat dengan orang alain

Mengevaluasi

manfaat

yang

dirasakan

klien

sehingga timbul motivasi untuk berinteraksi. 5. KLien dapat mengunngkapkan perasaannya setelah

berhubungan dengan orang lain. Kriteria evaluasi : KLien dapat mengungkapkan perasaan setelah

berhubungan dengan orang lain untuk diri sendiri dan orang lain. Intervensi Keperawatan : a. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengn orang lain. b. Diskusikan dengan klien tentang perasaan manfaat berhubungn dengan orang lain. c. Beri reinforcement atas kemampuan klien

mengungkapkan perasaanya berhubungan dengan orang lain. Rasionalisasi : Ungkapan perasaan klien bila berhubungan dengan orang lain akan sangat membantu klien memahami manfaat berhubungan dengan orang lain. 6. KLien dapat memberdayakan system pendukung atau

keluarga mampu mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan orang lain. Kriteria evaluasi : Keluarga Menjelaskan dapat cara Menjelaskan mearawat klien perasaannya, menarik diri,

mendemontrasikan cara perawatan klien menarik diri, berpartisipasi dalam perawatan klien menarik diri. Intervensi Keperawatan :

38

a. Bina hubungan saling percaya denagn keluarga : salam, perkenalkan diri, sampaikan tujuan, buat kontrak eksplorasi perasaan keluarga. b. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang : Perilaku menarik diri, penyebab perilaku menarik diri, akibat yang akan terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi, cara keluarga menghadapi klien menarik diri. c. Dorong anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu kali seminggu. d. Anjurkan anggota keluarga untuk memberi dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain. e. Beri reinforcement atas hal hal yang telah dicapai keluarga. Rasionalisasi : Keluarga dapat membantu dan mendukung klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui keterlibatan keluarga dalam merawat klien. 7. Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat. Kriteria evaluasi : Klien dapat minum obat dengan prinsip yang benar. Mengetahui efek obat dan mengkomunikasikan dengan perawat jika terjadi keluhan. Intervensi Keperawatan : a. Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek samping minum obat) b. Bantu dalam mengguanakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu). c. Anjurkan klien untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan. d. Beri reinforcement positif bila klien menggunakan obat dengan benar.

39

Rasionalisasi : Dengan mengetahui prinsip yang benar dalam menggunakan obat, akan meminimalkan terjadinya ketidakefektifan pengobatan atau keracunan. Hal ini juga dimaksudkan untuk memotivasi klien agar bersedia minum obat (patuh dalam pengobatan).

40

LAPORAN PENDAHULUAN DEFISIT PERAWATAN DIRI

A. Pengertian Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan

kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000). Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004). Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya ( Tarwoto dan Wartonah 2000 ). JenisJenis Perawatan Diri 1. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri. 2. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias. Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri. 3. Kurang perawatan diri : Makan Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan aktivitas makan. 4. Kurang perawatan diri : Toileting Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri (Nurjannah : 2004, 79 ).

41

B. Etiologi Menurut Tarwoto dan Wartonah, (2000) Penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai berikut : 1. Kelelahan fisik 2. Penurunan kesadaran Menurut Dep Kes (2000: 20), penyebab kurang perawatan diri adalah : 1. Faktor prediposisi a. Perkembangan Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu. b. Biologis Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri. c. Kemampuan realitas turun Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri. d. Sosial Kurang perawatan diri dukungan dan latihan Situasi kemampuan lingkungan

lingkungannya.

mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri. 2. Faktor presipitasi Yang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri. Menurut Depkes (2000: 59) Faktor faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah: a. Body Image Gambaran individu terhadap dirinya sangat

mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya

42

perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya. b. Praktik Sosial Pada kebersihan anak diri, maka anak selalu dimanja akan dalam terjadi

kemungkinan

perubahan pola personal hygiene. c. Status Sosial Ekonomi Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk

menyediakannya. d. Pengetahuan Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya. e. Budaya Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan. f. Kebiasaan seseorang Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain lain. g. Kondisi fisik atau psikis Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.

Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene. a. Dampak fisik Banyak seseorang gangguan tidak kesehatan yang diderita

karena

terpeliharanya

kebersihan

43

perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah : Gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku. b. Dampak psikososial Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

C. Patofisiologi Perawatan diri kurang

Menurunnya motivasi perawatan diri

Isolasi sosial : menarik diri D. Tanda dan Gejala Menurut Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah: 1. Fisik a. Badan bau, pakaian kotor. b. Rambut dan kulit kotor. c. Kuku panjang dan kotor d. Gigi kotor disertai mulut bau e. penampilan tidak rapi 2. Psikologis a. Malas, tidak ada inisiatif. b. Menarik diri, isolasi diri. c. Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.

44

3. Sosial a. Interaksi kurang. b. Kegiatan kurang . c. Tidak mampu berperilaku sesuai norma. d. Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri. Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri adalah : 1. Data subyektif a. Pasien merasa lemah b. Malas untuk beraktivitas c. Merasa tidak berdaya. 2. Data obyektif a. Rambut kotor, acak acakan b. Badan dan pakaian kotor dan bau c. Mulut dan gigi bau. d. Kulit kusam dan kotor e. Kuku panjang dan tidak terawat

45

E. Diagnosa Keperawatan RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRIgor

Tgl

No Dx

Perencanaan Dx Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi Defisit TUM: klien dapat perawatan mandiri dalam diri perawatan diri TUK: Klien mampu menunjukkan Bina hubungan saling percaya : Klien dapat membina tanda-tanda percaya kepada Beri salam setiap berinteraksi. hubungan saling perawat: Perkenalkan nama, nama panggilan percaya dengan Wajah cerah, tersenyum perawat dan tujuan perawat perawat Mau berkenalan berkenalan Ada kontak mata Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien Menerima kehadiran perawat Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi Bersedia menceritakan perasaannya Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi klien Buat kontrak interaksi yang jelas Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati Penuhi kebutuhan dasar klien Klien mengetahui Klien mampu menyebutkan: Diskusikan dengan klien: pentingnya Penyebab tidak merawat Penyebab klien tidak merawat diri perawatan diri diri Manfaat menjaga perawatan diri Manfaat menjaga untuk keadaan fisik, mental, dan perawatan diri sosial.
46

Klien mengetahui cara-cara melakukan perawatan diri

Tanda-tanda bersih dan rapi Gangguan yang dialami jika perawatan diri tidak diperhatikan Klien mampu menyebutkan frekuensi menjaga perawatan diri: Frekuensi mandi Frekuensi gosok gigi Frekuensi keramas Frekuensi ganti pakaian Frekuensi berhias Frekuensi gunting kuku Klien mampu menjelaskan cara menjaga perawatan diri: Cara mandi Cara gosok gigi Cara Keramas Cara Berpakaian Cara berhias Cara gunting kuku Klien dapat mempraktekkan perawatan diri dengan dibantu oleh perawat: Mandi Gosok gigi Keramas Ganti pakaian
47

Klien dapat melaksanakan perawatan diri dengan bantuan perawat

Tanda-tanda perawatan diri yang baik Penyakit atau gangguan kesehatan yang bisa dialami oleh klien bila perawatan diri tidak adekuat Diskusikan frekuensi menjaga perawatan diri selama ini Mandi Gosok gigi Keramas Berpakaian Berhias Gunting kuku Diskusikan cara praktek perawatan diri yang baik dan benar : mandi gosok gigi Keramas Berpakaian Berhias Gunting kuku Berikan pujian untuk setiap respon klien yang positif Bantu klien saat perawatan diri : Mandi Gosok gigi Keramas Ganti pakaian Berhias Gunting kuku

Klien dapat melaksanakan perawatan diri secara mandiri

Klien mendapatkan dukungan keluarga untuk meningkatkan perawatan diri

Berhias Gunting kuku Klien dapat melaksanakan praktek perawatan diri secara mandiri Mandi 2 X sehari Gosok gigi sehabis makan Keramas 2 X seminggu Ganti pakaian 1 X sehari Berhias sehabis mandi Gunting kuku setelah mulai panjang 4. Keluarga dapat menjelaskan cara-cara membantu klien dalam memenuhi kebutuhan perawatan dirinya 5. Keluarga dapat menyiapkan sarana perawatan diri klien: sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi, shampoo, handuk, pakaian bersih, sandal, dan alat berhias 6. Keluarga dapat mempraktekan perawatan diri pada klien

Beri pujian setelah klien selesai melaksanakan perawatan diri Pantau klien dalam melaksanakan perawatan diri: Mandi Gosok gigi Keramas Ganti pakaian Berhias Gunting kuku Beri pujian saat klien melaksanakan perawatan diri secara mandiri. Diskusikan dengan keluarga: Penyebab klien tidak melaksanakan perawatan diri Tindakan yang telah dilakukan klien selama di rumah sakit dalam menjaga perawatan diri dan kemajuan yang telah dialami oleh klien Dukungan yang bisa diberikan oleh keluarga untuk meningkatkan kemampuan klien dalam perawatan diri Diskusikan dengan keluarga tentang: Sarana yang diperlukan untuk menjaga perawatan diri klien Anjurkan kepada keluarga menyiapkan sarana tersebut

48

Diskusikan dengan keluarga hal-hal yang perlu dilakukan keluarga dalam perawatan diri : Anjurkan keluarga untuk mempraktekkan perawatan diri (mandi, gosok gigi, keramas, ganti baju, berhias dan gunting kuku) Ingatkan klien waktu mandi, gosok gigi, keramas, ganti baju, berhias, dan gunting kuku. Bantu jika klien mengalami hambatan dalam perawatan diri Berikan pujian atas keberhasilan klien

49

LAPORAN PENDAHULUAN RESIKO BUNUH DIRI

I. MASALAH UTAMA RESIKO BUNUH DIRI (RBD) II. PROSES TERJADINYA MASALAH Pengertian Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh pasien untuk mengakhiri kehidupannya. Berdasarkan besarnya kemungkinan pasien melakukan bunuh diri. Ada tiga macam perilaku bunuh diri, yaitu: 1. Isyarat bunuh diri Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak langsung ingin bunuh diri, misalnya dengan mengatakan: Tolong jaga anak-anak karena saya akan pergi jauh! atau Segala sesuatu akan lebih baik tanpa saya. Pada kondisi ini pasien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya, namun tidak disertai dengan ancaman dan percobaan bunuh diri. Pasien umumnya mengungkapkan perasaan seperti rasa bersalah / sedih / marah / putus asa / tidak berdaya. Pasien juga mengungkapkan hal-hal negatif tentang diri sendiri yang menggambarkan harga diri rendah 2. Ancaman bunuh diri Ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh pasien, berisi keinginan untuk mati disertai dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan dan persiapan alat untuk melaksanakan rencana tersebut. Secara aktif pasien telah memikirkan rencana bunuh diri, namun tidak disertai dengan percobaan bunuh diri. Walaupun dalam kondisi ini pasien belum pernah mencoba bunuh diri, pengawasan ketat harus dilakukan. Kesempatan sedikit saja dapat dimanfaatkan pasien untuk melaksanakan rencana bunuh dirinya. 3. Percobaan bunuh diri Percobaan bunuh diri adalah tindakan pasien mencederai atau melukai diri untuk mengakhiri kehidupannya. Pada kondisi ini, pasien aktif mencoba bunuh diri dengan cara gantung diri, minum racun, memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi.

50

Berdasarkan jenis-jenis bunuh diri diatas dapat dilihat data-data yang harus dikaji pada tiap jenisnya. Penyebab Penyebab Resiko Bunuh Diri adalah : 1. HDR Pengertian Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan. (Budi Ana Keliat, 1999). Gangguan harga diri atau harga diri rendah dapat terjadi secara : 1. Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misal harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja dll. Pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena privacy yang kurang diperhatikan : pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pemasangan kateter, pemeriksaan perianal, dll), harapan akan struktur, bentuk dan ffungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/sakit/penyakit, perlakuan petugas yang tidak menghargai. 2. Kronik, yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama. Tanda dan gejala - Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan terhadap penyakit - Rasa bersalah terhadap diri sendiri - Merendahkan martabat sendiri, merasa tidak mampu - Gangguan hubungan sosial seperti menarik diri - Percaya diri kurang - Mencederai diri 2. Perubahan sensori persepsi ; halusinasi Pengertian Perubahan sensori persepsi ; halusinasi adalah suatu keadaan yang merupakan gangguan pencerapan (persepsi) panca indra tanpa ada
51

rangsangan dari luar yg dapat meliputi semua system penginderaan pada seseorang dalam keadaan sadar penuh ( baik ). Tanda dan Gejala : Bicara, senyum dan tertawa sendiri. Menarik diri dan menghindar dari orang lain. Tidak dapat membedakan tidak nyata dan nyata. Tidak dapat memusatkan perhatian. Curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya), takut. Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung. (Budi Anna Keliat,) 3. Gangguan isi pikir ; waham Pengertian Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien (1). Gangguan isi pikir dapat diidentifikasi dengan adanya waham. Waham atau delusi adalah ide yang salah dan bertentangan atau berlawanan dengan semua kenyataan dan tidak ada kaitannya degan latar belakang budaya (Morgon,1998). Tanda dan gejala a. Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran, curiga, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai dengan kenyataan b. Klien tampak tidak mempercayai orang lain, curiga,

bermusuhan c. Takut, kadang panik d. Tidak tepat menilai lingkungan / realitas e. Ekspresi tegang, mudah tersinggung Akibat Akibat perilaku bunuh diri adalah cedera atau kematian. Jika perilaku bunuh diri mengakibatkan kematian maka tindakan yang dilakukan adalah perawatan jenazah. Cedera yang disebabkan oleh perilaku bunuh diri sangat dipengauhi oleh cara seseorang melakukan percobaan bunuh diri, Jika perilaku bunuh diri dilakukan dengan menggantung maka cedera yang terjadi adalah berupa jejas di leher. Jika minum racun maka akan terjadi pencederaan di lambung dan saluran pencernaan. Untuk itu intervensi yang dilakukan juga sangat tergantung dengan cedera yang terjadi.
52

III. POHON MASALAH

Risiko Cedera / kematian

Risiko bunuh diri

Harga diri Rendah

Halusinasi

Gangguan isi pikir Waham

IV. Diagnosa Perawatan Resiko Bunuh diri V. Tindakan Perawatan Ancaman/percobaan bunuh diri dengan diagnosa keperawatan : Risiko Bunuh Diri 1. Tindakan keperawatan untuk pasien percobaan bunuh diri a. Tujuan b. Tindakan : Pasien tetap aman dan selamat : Melindungi pasien

Untuk melindungi pasien yang mengancam atau mencoba bunuh diri, maka saudara dapat melakukan tindakan berikut: 1) Menemani pasien terus-menerus sampai dia dapat dipindahkan ketempat yang aman 2) Menjauhkan semua benda yang berbahaya (misalnya pisau, silet, gelas, tali pinggang) 3) Memeriksa apakah pasien benar-benar telah meminum obatnya, jika pasien mendapatkan obat 4) Dengan lembut menjelaskan pada pasien bahwa saudara akan melindungi pasien sampai tidak ada keinginan bunuh diri

53

2.

Tindakan keperawatan untuk keluarga dengan pasien percobaan bunuh diri a. Tujuan: Keluarga berperan serta melindungi anggota keluarga yang mengancam atau mencoba bunuh diri b. Tindakan: 1) Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi pasien serta jangan pernah meninggalkan pasien sendirian 2) Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat menjauhi barangbarang berbahaya disekitar pasien 3) Mendiskusikan dengan keluarga ja untuk tidak sering melamun sendiri 4) Menjelaskan kepada keluarga pentingnya pasien minum obat secara teratur

Isyarat Bunuh Diri dengan diagnosa harga diri rendah 1. Tindakan keperawatan untuk pasien isyarat bunuh diri a. Tujuan: 1) Pasien mendapat perlindungan dari lingkungannya 2) Pasien dapat mengungkapkan perasaanya 3) Pasien dapat meningkatkan harga dirinya 4) Pasien dapat menggunakan cara penyelesaian masalah yang baik b. Tindakan keperawatan 1) Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri, yaitu dengan meminta bantuan dari keluarga atau teman. 2) Meningkatkan harga diri pasien, dengan cara: a) Memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya. b) Berikan pujian bila pasien dapat mengatakan perasaan yang positif. c) Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting d) Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien

54

e) Merencanakan aktifitas yang dapat pasien lakukan 3) Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah, dengan cara: a) Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalahnya b) Mendiskusikan dengan pasien efektifitas masing-masing cara penyelesaian masalah c) Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalah yang lebih baik 2. Tindakan keperawatan untuk keluarga dengan pasien isyarat bunuh diri a. Tujuan : keluarga mampu merawat pasien dengan risiko bunuh diri. b. Tindakan keperawatan: 1) Mengajarkan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri a) Menanyakan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri yang penah muncul pada pasien. b) Mendiskusikan tentang tanda dan gejala yang umumnya muncul pada pasien berisiko bunuh diri. 2) Mengajarkan keluarga cara melindungi pasien dari perilaku bunuh diri a) Mendiskusikan tentang cara yang dapat dilakukan keluarga bila pasien memperlihatkan tanda dan gejala bunuh diri. b) Menjelaskan tentang cara-cara melindungi pasien, antara lain: (1) Memberikan tempat yang aman. Menempatkan pasien di tempat yang mudah diawasi, jangan biarkan pasien mengunci diri di kamarnya atau jangan meninggalkan pasien sendirian di rumah (2) Menjauhkan barang-barang yang bisa digunakan untuk bunuh diri. Jauhkan pasien dari barang-barang yang bisa digunakan untuk bunuh diri, seperti: tali, bahan bakar minyak / bensin, api, pisau atau benda tajam lainnya, zat yang berbahaya seperti obat nyamuk atau racun serangga. (3) Selalu mengadakan pengawasan dan meningkatkan

pengawasan apabila tanda dan gejala bunuh diri meningkat.

55

Jangan pernah melonggarkan pengawasan, walaupun pasien tidak menunjukan tanda dan gejala untuk bunuh diri. c) Menganjurkan keluarga untuk melaksanakan cara tersebut di atas. 3) Mengajarkan keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan apabila pasien melakukan percobaan bunuh diri, antara lain:

a) Mencari bantuan pada tetangga sekitar atau pemuka masyarakat untuk menghentikan upaya bunuh diri tersebut b) Segera membawa pasien ke rumah sakit atau puskesmas mendapatkan bantuan medis 4) Membantu keluarga mencari rujukan fasilitas kesehatan yang tersedia bagi pasien a) Memberikan informasi tentang nomor telepon darurat tenaga kesehatan b) Menganjurkan keluarga untuk mengantarkan pasien

berobat/kontrol secara teratur untuk mengatasi masalah bunuh dirinya. c) Menganjurkan keluarga untuk membantu pasien minum obat sesuai prinsip lima benar yaitu benar orangnya, benar obatnya, benar dosisnya, benar cara penggunakannya, benar waktu penggunaannya.

56

LAPORAN PENDAHULUAN WAHAM

A. Masalah Utama : Perubahan proses pikir : waham B. Proses terjadinya masalah 1. Waham Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya. (Budi Anna Keliat,1999). Tanda dan Gejala : a. Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya berulang kali secara

berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan b. Klien tampak tidak mempunyai orang lain c. Curiga d. Bermusuhan e. Merusak (diri, orang lain, lingkungan) f. Takut, sangat waspada g. Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas h. Ekspresi wajah tegang i. Mudah tersinggung (Azis R dkk, 2003) 2. Penyebab dari Waham Salah satu penyebab dari perubahan proses pikir : waham yaitu Gangguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, dan merasa gagal mencapai keinginan.
57

Tanda dan Gejala : a. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi) b. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri) c. Gangguan hubungan sosial (menarik diri) d. Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan) e. Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya. ( Budi Anna Keliat, 1999) 3. Akibat dari Waham Klien dengan waham dapat berakibat terjadinya resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan lingkungan. Tanda dan Gejala : a. Memperlihatkan permusuhan b. Mendekati orang lain dengan ancaman c. Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai d. Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan e. Mempunyai rencana untuk melukai

C. Pohon Masalah Perubahan proses pikir: Waham

Gangguan konsep diri : harga diri rendah (Keliat, BA, 1999) D. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji 1. Masalah keperawatan: a. Resiko menciderai diri, orang lain, dan lingkungan b. Perubahan proses pikir : waham c. Gangguan konsep diri : harga diri rendah. 2. Data yang perlu dikaji: a. Resiko menciderai diri, orang lain, dan lingkungan
58

Data subjektif Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin membunuh, dan ingin membakar atau mengacak-acak

lingkungannya. Data objektif Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang, melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya. b. Perubahan proses pikir : waham Data subjektif : Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan. Data objektif : Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan/ realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung. c. Gangguan konsep diri : harga diri rendah. Data subjektif Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apaapa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri Data objektif Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternative tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup E. Diagnosa Keperawatan 1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham. 2. Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan harga diri rendah. F. Rencana Keperawatan Diagnosa 1: Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berubungan dengan waham.
59

Tujuan umum : Klien tidak menciderai diri, orang lain, dan lingkungan. Tujuan khusus: Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. Tindakan: 1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (topik, waktu, tempat). 2. Jangan membantah dan mendukung waham klien : katakan perawat menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan anda" disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien. 3. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi : katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian. 4. Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan

perawatan diri. Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksinya Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki. Tindakan: 1. Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis. 2. Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis. 3. Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk

melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan perawatan diri). 4. Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.

60

Rasional : dengan mengetahui kemampuan yang dimiliki klien, maka akan

memudahkan perawat untuk mengarahkan kegiatan yang bermanfaat bagi klien dari pada hanya memikirkannya Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi Tindakan: 1. Observasi kebutuhan klien sehari-hari. 2. Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah). 3. Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham. 4. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin). 5. Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.

Rasional : Dengan mengetahui kebutuhan klien yang belum terpenuhi perawat dapat merencanakan untuk memenuhinya dan lebih memperhatikan kebutuhan klien tersebut sehingga klien merasa nyaman dan aman Klien dapat berhubungan dengan realitas. Tindakan: 1. Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu). 2. Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas. 3. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien. Rasional : menghadirkan realitas dapat membuka pikiran bahwa realita itu lebih benar dari pada apa yang dipikirkan klien sehingga klien dapat menghilangkan waham yang ada

61

Klien dapat menggunakan obat dengan benar Tindakan: 1. Diskusikan dengan klien tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat. 2. Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara dan waktu). 3. Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan. 4. Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar. Rasional : Penggunaan obat yang secara teratur dan benar akan mempengaruhi proses penyembuhan dan memberikan efek dan efek samping obat Klien dapat dukungan dari keluarga. Tindakan: 1. Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang : gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat. 2. Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga Rasional : dukungan dan perhatian keluarga dalam merawat klien akan mambentu proses penyembuhan klien

Diagnosa 2: Perubahan proses pikir: waham berhubungan dengan harga diri rendah Tujuan umum : Klien tidak terjadi perubahan proses pikir: waham dan klien akan meningkat harga dirinya. Tujuan khusus : Klien dapat membina hubungan saling percaya Tindakan : 1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan) 2. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya

62

3. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien 4. Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Tindakan : 1. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 2. Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi pujian yang realistis 3. Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan. Tindakan : 1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 2. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki Tindakan : 1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan 2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien 3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan Tindakan : 1. Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan 2. Beri pujian atas keberhasilan klien 3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Tindakan : 1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien.
63

2. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat. 3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah. 4. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.

64

LAPORAN PENDAHULUAN ISOLASI SOSIAL

I.

Kasus (Masalah Utama) Isolasi sosial

II. Proses Terjadinya Masalah Isolasi Sosial adalah kondisi kesepian yang diekspresikan oleh individu dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan negatif yang mengancam. Dengan karakteristik : tinggal sendiri dalam ruangan, ketidakmampuan untuk berkomunikasi, menarik diri, kurangnya kontak mata. Ketidak sesuaian atau

ketidakmatangan minat dan aktivitas dengan perkembangan atau terhadap usia. Preokupasi dengan pikirannya sendiri, pengulangan, tindakan yang tidak bermakna. Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian yang ditimbulkan oleh orang lain. Mengalami perasaan yang berbeda dengan orang lain, merasa tidak aman ditengah orang banyak. (Mary C. Townsend, Diagnose Kep. Psikiatri, 1998; hal 252). Isolasi sosial merupakan keadaan di mana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak (Carpenito ,L.J, 1998: 381). Menurut Rawlins, R.P & Heacock, P.E (1988 : 423) isolasi sosial menarik diri merupakan usaha menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan orang lain, individu merasa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berfikir, berperasaan,

berprestasi, atau selalu dalam kegagalan. Penyebab Isolasi sosial menarik diri sering disebabkan oleh karena kurangnya rasa percaya pada orang lain, perasaan panik, regresi ke tahap perkembangan sebelumnya, waham, sukar berinteraksi dimasa lampau, perkembangan ego yang lemah serta represi rasa takut (Townsend, M.C,1998:152). Menurut Stuart, G.W & Sundeen, S,J (1998 : 345). Isolasi sosial disebabkan oleh gangguan konsep diri harga diri rendah.

65

Gangguan konsep diri: harga diri rendah adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri (Stuart dan Sundeen, 1998 :227). Menurut Townsend (1998:189) harga diri rendah merupakan evaluasi diri dari perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif baik langsung maupun tidak langsung. Pendapat senada dikemukan oleh Carpenito, L.J (1998:352) bahwa harga diri rendah merupakan keadaan dimana individu mengalami evaluasi diri yang negatif mengenai diri atau kemampuan diri.

Tanda dan Gejala Menurut Townsend, M.C (1998:152-153) & Carpenito,L.J (1998: 382) isolasi sosial menarik diri sering ditemukan adanya tanda dan gejala sebagai berikut: Data subjektif : a. Mengungkapkan perasaan tidak berguna, penolakan oleh lingkungan b. Mengungkapkan keraguan tentang kemampuan yang dimiliki Data objektif a. Tampak menyendiri dalam ruangan b. Tidak berkomunikasi, menarik diri c. Tidak melakukan kontak mata d. Tampak sedih, afek datar e. Posisi meringkuk di tempat tidur dengang punggung menghadap ke pintu f. Adanya perhatian dan tindakan yang tidak sesuai atau imatur dengan perkembangan usianya g. Kegagalan untuk berinterakasi dengan orang lain didekatnya h. Kurang aktivitas fisik dan verbal i. j. Tidak mampu membuat keputusan dan berkonsentrasi Mengekspresikan perasaan kesepian dan penolakan di wajahnya

Akibat dari isolasi sosial Perilaku isolasi sosial : menarik diri dapat berisiko terjadinya gangguan sensori persepsi halusinasi (Townsend, M.C, 1998 : 156).
66

Gangguan sensori persepsi halusinasi adalah persepsi sensori yang salah (misalnya tanpa stimulus eksternal) atau persepsi sensori yang tidak sesuai dengan realita/kenyataan seperti melihat bayangan atau mendengarkan suara-suara yang sebenarnya tidak ada (Johnson, B.S, 1995:421). Menurut Maramis (1998:119) halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun dari panca indera, di mana orang tersebut sadar dan dalam keadaan terbangun yang dapat disebabkan oleh psikotik, gangguan fungsional, organik atau histerik. Perubahan persepsi sensori halusinasi sering ditandai dengan adanya: Data subjektif: a. Tidak mampu mengenal waktu, orang dan tempat b. Tidak mampu memecahkan masalah c. Mengungkapkan adanya halusinasi (misalnya mendengar suara-suara atau melihat bayangan) d. Mengeluh cemas dan khawatir Data objektif: a. Apatis dan cenderung menarik diri b. Tampak gelisah, perubahan perilaku dan pola komunikasi, kadang berhenti berbicara seolah-olah mendengarkan sesuatu c. Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara d. Menyeringai dan tertawa yang tidak sesuai e. Gerakan mata yang cepat f. Pikiran yang berubah-rubah dan konsentrasi rendah g. Respons-respons yang tidak sesuai (tidak mampu berespons terhadap petunjuk yang kompleks.

III. a. Pohon Masalah

Gangguan sensori persepsi :Halusinasi

Isolasi Sosial

67

Gangguan Konsep Diri (Harga Diri Rendah)

b. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji 1. Masalah Keperawatan a. Gangguan sensori persepsi : Halusinasi b. Isolasi sosial c. Gangguan konsep diri : harga diri rendah 2. Data yang perlu dikaji a. Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi 1) Data Subjektif a) Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata b) Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata c) Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus d) Klien merasa makan sesuatu e) Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya f) Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar g) Klien ingin memukul/melempar barang-barang 2) Data Objektif a) Klien berbicar dan tertawa sendiri b) Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu c) Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu d) Disorientasi b. Isolasi sosial 1) Data Subyektif Sukar didapat jika klien menolak komunikasi, kadang hanya dijawab dengan singkat tidak, ya. 2) Data Obyektif Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul, menyendiri/menghindari orang lain, berdiam diri di kamar, komunikasi kurang atau tidak ada (banyak diam), kontak mata kurang, menolak berhubungan dengan

68

orang lain, perawatan diri kurang, posisi tidur seperti janin (menekur) c. Gangguan konsep diri (harga diri rendah) 1. Data subjektif: a). Mengkritik diri sendiri atau orang lain b). Perasaan tidak mampu c). Rasa bersalah d). Sikap negatif pada diri sendiri e). Sikap pesimis pada kehidupan f). Keluhan sakit fisik g). Menolak kemampuan diri sendiri h). Pengurangan diri/mengejek diri sendiri i). Perasaan cemas dan takut j). Merasionalisasi penolakan/menjauh dari umpan balik positif k). Mengungkapkan kegagalan pribadi l). Ketidak mampuan menentukan tujuan 2. Data objektif: a. Produktivitas menurun b. Perilaku destruktif pada diri sendiri c. Menarik diri dari hubungan social d. Ekspresi wajah malu dan rasa bersalah e. Menunjukkan tanda depresi (sukar tidur dan sukar makan IV. Diagnosa Keperawatan 1. Ganggua sensori persepsi : Halusinasi 2. Isolasi sosial V. Rencana Tindakan Keperawatan 1. Gangguan sensori persepsi ; halusinasi Tujuan umum: Tidak terjadi perubahan persepsi sensori: halusinasi Tujuan khusus: a. Klien dapat membina hubungan saling percaya

Tindakan:

69

- Bina hubungan saling percaya: salam terapeutik, memperkenalkan diri, jelaskan tuiuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kesepakatan / janji dengan jelas tentang topik, tempat, waktu. - Beri perhatian dan penghargaan: temani kilen walau tidak menjawab - Dengarkan dengan empati : beri kesempatan bicara, jangan terburu-buru, tunjukkan bahwa perawat mengikuti pembicaraan klien. b. Klien dapat menyebut penyebab menarik diri Tindakan: - Bicarakan penyebab tidak mau bergaul dengan orang lain. - Diskusikan akibat yang dirasakan dari menarik diri. c. Klien dapat menyebutkan keuntungan hubungan dengan orang lain Tindakan: - Diskusikan keuntungan bergaul dengan orang lain. - Bantu mengidentifikasikan kernampuan yang dimiliki untuk bergaul. d. Klien dapat melakukan hubungan sosial secara bertahap:

klien-perawat, klien-keluarga. Tindakan:

klien-perawat-klien

lain,

perawat-klien-kelompok,

- Lakukan interaksi sering dan singkat dengan klien jika mungkin perawat yang sama. - Motivasi temani klien untuk berkenalan dengan orang lain - Tingkatkan interaksi secara bertahap - Libatkan dalam terapi aktivitas kelompok sosialisasi - Bantu melaksanakan aktivitas setiap hari dengan interaksi - Fasilitasi hubungan kilen dengan keluarga secara terapeutik e. Klien dapat mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain. Tindakan: - Diskusi dengan klien setiap selesai interaksi / kegiatan - Beri pujian atas keberhasilan klien f. Klien mendapat dukungan keluarga Tindakan: - Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan keluarga
70

- Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga. 2. Isolasi sosial Tujuan umum : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal Tujuan khusus : a. Klien dapat membina hubungan saling percaya

Tindakan : - Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terpeutik b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Tindakan : - Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien. - Setiap bertemu klien hindarkan dari penilaian negatif. Utamakan memberi pujian yang realistik. c. Klien dapat menilai kemampun yang dimiliki Tindakan : - Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit - Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkn penggunaannya. d. Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki Tindakan : - Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan - Tingkatkan kegiatan sesuai toleransi kondisi klien - Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan e. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuannya Tindakan : - Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan - Beri pujian atas keberhasilan klien - Diskusikan kemungkinan pelaksanan di rumah
71

f. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Tindakan : - Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah - Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat - Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.

72