Anda di halaman 1dari 38

1.

Konsep reseptor dan sejarahnya Pembahasan aktivitas termodinamik, membawa kita pada kesimpulan bahwa obat khas, yang bekerja pada kadar sangat rendah, menimbulkan efeknya dengan cara berantaraksi dengan makromolekul khusus dalam sel hidup. Mekanisme pertama adalah pembentukan singkat kompleks obat-reseptor yang terpulihkan. Ini memicu mekanisme kedua_seperti pembukaan saluran ion, atau mengkatalisis pembentukan pemberita kedua!,biasanya "MP siklik #"MPs$. Peserta lain pada reaksi berantai ini seperti berbagai-bagai kinase diaktifkan. %angkaian peristiwa ini akhirnya menghasilkan perubahan hayati yang dikaitkan pada obat tersebut. &onsep reseptor lahir pada tahun '()(, dirumuskan oleh *ohn +- ,angley, ahli ilmu faal Inggris yang menyelidiki antagonisme atropin dan pilokarpin. Istilah !resaptor! diperkenalkan pada tahun '-.) oleb Paul /hrlich, pelopor terkenal dalam kemoterapi dan imunokimia. &onsepnya tentang ikatan reseptor (Corpora non agunt nisi fixata senyawa tidak bekerja kecuali jika terikat$, aktivitas hayati, indeks terapi, dan daya tahan obat pada dasarnya masih sahih, walaupun telah sangat diperluas dan dipertepat. 0ejarah awal tentang konsep reseptor dikisahkan oleh Parascandola #'-(.$.

2. Wujud dan kriteria jatidiri reseptor %eseptor murni, yang mengawali rangkaian peristiwa fisikokimia dan menjurus kepada respons farmakologi, mempunyai sifat kimia yang beragam. 1eberapa golongan reseptor, dapat dibedakan sebagai berikut2 '. Lipoprotein atau glikoprotein adalah jenis reseptor yang paling umum. &eduanya biasanya terpadu kuat dalam membran plasma atau membran organel sel sebagai protein intrinsik. "kibatnya mereka sulit diisolasi karena strukturnya #dan karena itu fungsinya$ terkungkung oleh membran sekitarnya. Isolasi molekul reseptor dapat merusak bentuk atau melumpuhkan struktur, bahkan hingga hilang sifat khasnya untuk mengikat. 3. Lipid sendiri kadang-kadang dapat dianggap sebagai reseptor. /fek tak-khas anestetika lokal terhadap ionofor kolinergik dapat dikaitkan dengan antaraksi obat amfifilik ini dengan annulus #cincin$ lipid dari protein ionofor. 4alaupun lapisan

'

lipid ini hanya beberapa molekul tebalnya, dia membungkus protein dengan sempurna dan sangat berpengaruh pada bentuk protein itu. 5. Protein murni sering berfungsi sebagai reseptor obat, seperti halnya en6im. 1anyak obat menimbulkan efeknya dengan secara khusus mempengaruhi en6im yang penting dalam reaksi biokimia, dan dengan demikian mengubah fungsinya. %eseptor meneruskan pesan pemberita pertama yaitu neurotransmiter, hormon, atau obat melalui membran sel7 reseptor itu digabungkan kepada sistem efektor atau molekul. 8abungan tadi akan mengubah kadar pemberita kedua yaitu "MPs, inositol trifosfat, diasilgliserol, atau ion 9a
3:

yang kemudian mengaktifkan en6im

atau membuka saluran ion. Perbedaan dasar antara ikatan obat-reseptor dan subsrat-en6im adalah bahwa terjadi perubahan kimia pada substrat setelah dia terikat pada sisi aktif en6im. sedangkan pada obat tidak terjadi hal seperti itu, dan biasanya ia akan terdisosiasi secara utuh dari reseptor. Tabel 1 Perbandingan hubungan en6im-substrat dan obat-reseptor

;. Asam nukleat terdiri atas kelompok reseptor obat yang penting dalam arti yang luas. 0ejumlah antibiotika dan 6at anti tumor langsung mengganggu replikasi atau transkripsi "<+, atau menghambat translasi pesan genetika pada ribosom. 0isi akseptor hormon steroid juga "<+, dan menunjukkan kekhasan yang sangat tinggi yang tidak kita pahami sama sekali dan akan dibahas dalam bab tersendiri. =erdapat seperangkat kriteria yang agak luas untuk mengidentifikasi reseptor yang harus diikuti untuk percobaan in vivo maupun in vitro. &riteria tersebut adalah sebagai berikut2 '$ %eseptor atau sisi ikatan harus tersedia pada jaringan dalam jumlah yang sepadan dengan kadar reseptor yang ditentukan7 '.-'.. pmol>g adalah kadar reseptor yang biasanya didapatkan pada daerah pusat atau pinggir #1maks$.
3$

Pengikatan obat pada reseptor harus terjenuhkan, dengan tetapan keseimbangan ikatan #&<$ dalam batas nanomolar. =etapan ikatan adalah kadar pada waktu separuh sisi reseptor diduduki7 ini dapat ditentukan dengan metode radioisotop. Penambahan obat yang nonradioaktif # dingin $ akan mengurangi derajat keterjenuhan ikatan obat bertanda radioaktif. "kan tetapi, perlu dicamkan bahwa keterjenuhan tidak sama dengan kekhasan.

5$ &inetika ikatan harus sebanding dengan laju respons in vivo dan harus menghasilkan tetapan keseimbangan yang sama dengan tetapan laju disosiasi dibagi dengan tetapan laju asosiasi. ;$ 0edapat mungkin ikatan harus stereo-spesifik7 tapi pemenuhan kriteria ini pun bukan merupakan bukti mutlak bahwa sisi bersangkutan adalah reseptor. ?$ %eseptor harus diisolasi dari organ atau jaringan yang bersangkut-paut dengan aktivitas yang sedang diteliti. @$ <iharapkan bahwa tata ikatan pada reseptor bagi sederetan obat yang sekeluarga hendaklah sama dengan tata aktivitas klinis atau setidaktidaknya aktivitas in vivo.. 0ebagai penguji metodologi, harus dimasukkan juga obat tak-khas ke dalam deretan itu. 3. Teori klasik tentang hubungan kadar-respons

=eori klasik diperlukan, yaitu berdasarkan pada pengukuran efek akhir kerja obat - suatu efek yang timbul beberapa langkah sebelum proses ikatan obatreseptor. &arena itu, pendekatan modern lebih mengikuti tingkat molekul, sedangkan metodologi farmakologi kuno bekerja pada tingkat sel dan organisme. =entu saja kedua jalan itu mempunyai keuntungan dan kerugian. Teori pendudukan 9lark yang klasik didasarkan pada anggapan bahwa obat berantaraksi dengan sisi ikatan bebas yang sama, lalu mengaktifkannya, dan menghasilkan respons hayati yang sebanding dengan jumlah kompleks obatreseptor yang terbentuk. %espons ini berhenti bila kompleks tersebut berdisosiasi. <engan menganggap reaksi itu reaksi dwimolekul, kita dapat menuliskan

Gambar 3.' &urva dosis-respons dengan skala semilogaritma, yang menunjukkan definisi /<?. A &<

Persamaan #($ menyatakan hubungan hiperbola antara efek dan kadar obat bebas. &arena itu, /<?. sama dengan &< #gambar 3.'$. &ebetulan persamaan #($ serupa dengan hubungan Michaelis-Menten dalam kinetika en6im7 /maks menggantikan Bmaks. &urva dosis-respons #seperti pada gambar 3.3$ biasanya menunjukkan efek dan logaritma kadar obat seluruhnya C<=$, dengan menganggap kadar obat yang terikat demikian kecil sehingga dapat diabaikan dan C<=$ kira-kira sama dengan C<D. "kan tetapi, jika kadar reseptor C%=D menjadi nisbi besar terhadap KD, maka /<?. A &< : .,? C%=D #-$ yang berarti bahwa pada kadar obat-terikat yang tinggi, kadar obat seluruhnya dapat melebihi KD dengan jumlah yang sama dengan separuh kadar reseptor seluruhnya. =ampaknya keadaan /<?. A &< tidak begitu la6im.

8ambar 3.3 1agan kurva dosis-respons memperlihatkan respons terhadap kadar obat seluruhnya #log C<=D$. &urva a dan b #dengan nilai /<?. berbeda$ memperlihatkan kerja obat dalam deretan yang sama yang bekerja terhadap sisi reseptor yang sama tapi dengan aktivitas intrinsik berbeda. &urva c merupakan agonis persial pada deretan yang sama. &urva a adalah kerja a bersama-sama dengan antagonis pesaing7 d dan < adalah kadar obat yang diperlukan untuk respons yang sama tanpa atau dengan antagonis pesaing #Menurut Eollenberg, '-(?$

*ika pendudukan beberapa reseptor sudah cukup untuk mendapatkan respons maksimum, seperti biasanya terjadi, akan terdapat reseptor adangan dan /<?.>&< F ' dan harga sebenarnya untuk &< #dan dengan demikian afinitas obat terhadap reseptor$ akan ternilai rendah. &eadaan ini menunjukkan terjadinya kesesuaian terimbas , karena tampak bahwa sejumlah kecil molekul agonis dapat memicu perubahan konformasi pada banyak reseptor, dan mengakibatkan pengaktifan sejumlah besar reseptor, melebihi yang diperlukan #9olGuhoun, '-)5, h. '?-$. &onsep reseptor cadangan dapat dikaitkan dengan gagasan keman!uran atau aktivitas intrinsik, yang berarti bahwa ada obat yang dapat mengaktifkan sedikit reseptor dibandingkan obat lain untuk mendapatkan efek farmakologi sepenuhnya, dan dengan demikian obat itu disebut lebih manjur!. %eseptor cadangan itu dinyatakan dalam kurva dosis-respons untuk aktivitas beberapa hormon peptida, seperti terlihat dalam gambar 3.5. <iagram sederhana ini membandingkan efek farmakologi hormon peptida pertumbuhan dengan ikatannya terhadap biakan sel manusia tempatnya bekerja. /fek seratus

persen tercapai dengan baik sebelum reseptor jenuh. 0istem lain - misalnya insulin dalam adiposit #sel penyimpanan lemak$ - menunjukkan juga perilaku serupa. Penyimpangan dari prakiraan teori seperti itu memperlihatkan bahwa kadar reseptor bisa penting dalam menilai data dosis-respons, seperti pentingnya kadar en6im pada kinetika en6im. *ika diperlukan ambang pendudukan minimum untuk mendapatkan efek hayati, /<?. akan melampaui KD sebenarnya.

Gambar 2.3 1agan tentang efek hayati faktor pertumbuhan epidermis #garis penuh$ dan persen ikatan maksimum #garis putus-putus$ terhadap fibroblast manusia. =idak berhipitnya kedua kurva itu menggambarkan konsep reseptor cadangan2 efek farmakologi maksimum #pada kira-kira ',( nM$ tercapai pada kurang dan '.. " pendudukan reseptor #pada kira-kita ? nM$ #<iubah-suai dari Eollenberg, '-(?$

4alaupun demikian, semua agonis yang menghasilkan kurva dosis-respons yang sejajar dan dengan maksimum yang sama, dianggap bekerja pada sisi yang sama tapi dengan afinitas berbeda #gambar 3.3$. Ikatan nonreseptor pada sisi merugikan #sering disebut reseptor diam $ dengan demikian dapat dibedakan dari ikatan yang benar. 0child meluaskan penggunaan gagasan ini untuk memerikan efek bila ada antagonis pesaing #"$. *ika # merupakan bagian reseptor yang diduduki, yaitu jika H A C<%D > C%=D dan kompleks "% tidak aktif, maka #'.$

&<>C<D A #' : C"D &"$H > #' I H$ kadar obat yang lebih rendah CdD tanpa adanya antagonis, maka &< CdD A H > #' - H$ Persamaan #''$ dibagi dengan #'3$ 2 C<D > CdD A ' : C"D&"

#''$

&" adalah tetapan asosiasi antagonis. *ika respons hayati yang sama dicapai pada #'3$ #'5$

Maka terdapatlah persamaan 0child. C<D>CdD adalah nisbah dosis , seperti terlihat pada gambar 3.3. <ari persamaan #'5$, C"D3, yaitu kadar antagonis yang mengharuskan penduakalian kadar agonis untuk mencapai efek agonis murni, adalah C"D3 A ' > &" dan p"3 A - log &" Ini memberikan metode percobaan yang mudah untuk mengukur aktivitas antagonis. 0udah barang tentu ini analog dengan konsep p< 3 A - log KD . /fek inhibitor pesaing dapat juga dinyatakan sebagai tetapan afinitas in$ibitor (K%& dengan merajahkan kadar inhibitor terhadap kebalikan kecepatan reaksi, atau terhadap kebalikan kadar liganda bertanda #agonis bertanda isotop yang digantikan oleh antagonis$. Perpotongan garis yang dihasilkan adalah I &I. &I A I9?. > ' : C,JD > &J I9?. adalah kadar inhibitor yang menggantikan ?.K liganda bertanda, C,JD adalah kadar liganda bertanda, dan K' adalah tetapan disosiasinya. Ini adalah metode yang tepat untuk percobaan ikatan in vitro( tetapi tidak tepat untuk kajian sediaan organ atau hewan utuh. Easil percobaan yang maju pesat dan yang memperhitungkan percobaan ikatan in vitro, mendukung teori pendudukan yang diubah tentang aktivitas obat. +amun, ada gejala yang tak dapat dijelaskan dengan teori pendudukan, yaitu2 '. ketakmampuan agonis parsial untuk memberikan respons penuh sewaktu merintangi efek obat yang lebih aktif7 3. adanya beberapa obat yang pada mulanya merangsang, kemudian merintangi efek7

5. penga)apekaan atau ta $*p$*laxis - penurunan efek agonis karena pengaruh berulang antagonis atau pemberian antagonis dalam kadar yang lebih tinggi7 ;. konsep tentang reseptor cadangan. Lntuk menampung sebagian atau semua gejala ini, beberapa pilihan teori pendudukan telah dikemukakan. =ak ada satu pun yang betul-betul memuaskan, dan ada pula yang tidak mempunyai dasar fisikokimia. Teori laju Paton, yang diubah-suai oleh Paton dan %ang, menolak anggapan bahwa respons itu berbanding lurus dengan reseptor yang diduduki, dan sebagai gantinya mengusulkan hubungan respons dengan laju pembentukan kompleks obat-reseptor. Menurut pandangan ini, lamanya pendudukan reseptor menentukan apakah molekul itu agonis, agonis parsial, atau antagonis. <engan demikian, konsep aktivitas intrinsik tidak diperlukan lagi. =eori laju memberikan keterangan yang cukup tentang kemampuan beberapa antagonis untuk memicu respons sebelum merintangi reseptor, dan juga menerangkan tentang pengawapekaan. +amun, tidak ada dasar fisikokimia yang masuk akal, dan bertentangan dengan beberapa fakta yang diperoleh dengan percobaan #misalnya, lambatnya laju disosiasi agonis$. Teori kesesuaian-terimbas, yang mulanya dikembangkan oleh &oshland untuk en6im, menyatakan bahwa morfologi sisi ikatan tidak perlu sesuai dengan konformasi liganda - bahkan dengan konformasi yang diunggulkan sekali pun. Menurut teori ini, pengikatan menyebabkan pencetakan plastis timbal-balik antara liganda dan reseptor sebagai suatu proses dinamis. Perubahan konformasi yang dipicu oleh kesesuaian-terimbas timbal-balik dalam reseptor makromolekul ditafsirkan menjadi efek hayati. Teori gangguan makromolekul 1elleau, erat hubungannya dengan teori kesesuaian-terimbas. <ikemukakan bahwa agonis mengimbaskan ketertiban khusus bila terikat pada reseptor, dan menyebabkan gangguan konformasi khusus pada reseptor makromolekul. 0ebaliknya, antagonis menyebabkan efek ketaktertiban yang tak-khas. 4alaupun hanya diperagakan dengan obat kolinergik

alkilamonium, gagasan 1elleau mempunyai dasar fisikokimia yang kokoh, dan data termodinamiknya mendukung hipotesis itu.

4. Konsep molekul tentang ungsi reseptor &erumitan yang besar pada sistem hidup dan sangat jauhnya jarak antara penyebab dan efek #yaitu pemberian obat dan kerja farmakologi$ menimbulkan banyak hal yang ruwet dalam pengkajian hubungan dosis-respons pada jaringan atau sediaan organ. &arena itu, para ahli farmakologi molekul dan fisikawan mencari jalan untuk menyederhanakan sistem percobaan itu. Mereka menghilangkan beberapa faktor yang tidak perlu dan tidak ada hubungannya, seperti pengangkutan obat dan metabolisme, serta melaksanakannya pada tingkat yang dapat terjangkau dengan percobaan molekul dan metode fisikokimia yang saksama. 0asaran ini makin disadari sebagai metodologi percobaan ikatan kuantitatif pada sediaan membran dan kemudian menjadi lebih canggih, saksama, dan sederhana pada reseptor terisolasi. 0enyawa bertanda isotop dengan aktivitas sangat tinggi memungkinkan kita bekerja dengan kadar liganda faali serendah tingkat pikomol #'.-'3 M$. Eal ini membuka jalan untuk melakukan percobaan langsung pada sisi reseptor dan mengembangkan beberapa model reseptor komplementer. "riens, 1urgen, 9hangeuM, 9olGuhoun, 9uatrecasas, Eollenberg, &arlin, 0eeman, 0nyder, Hamamura, dan banyak rekan-rekannya termasuk di antara ahli farmakologi molekul yang berada di garis depan dalam kemajuan reseptorologi yang hebat dan mengagumkan semenjak permulaan tahun '-).an. 4.1 !i at molekul pada reseptor obat Model reseptor pada mulanya lebih didasarkan pada data farmakologi daripada pengukuran ikatan-liganda langsung. Model tersebut menyatakan bahwa agonis dan antagonis sebagai saingannya terikat pada sisi reseptor yang sarna sampai memenuhinya . Pandangan ini sebagian didasarkan pada penemuan dalam bidang en6imologi, di sini konsep tersebut pada umumnya sahih untuk persaingan metabolit-antimetabolit dan pada kajian aktivitas vitamin dan hormon. &emiripan struktur yang sangat dekat antara agonis dan antagonis dalam kelompok ini

'.

dijadikan bukti langsung bahwa sisi ikatannya sama. +amun, tidak adanya korelasi struktur antara kebanyakan neurotransmiter dan 6at perintangnya menjadi sebab untuk memulai peninjauan kembali hipotesis ikatan kompetitif atau ikatan pesaing. Pada umumnya, liganda dan sisi reseptornya adalah komplementer menurut pengertian konsep kesesuaian-terimbas7 ini menyatakan bahwa terjadi saling peleburan antara obat dan makromolekul yang !memanfaatkan sepenuhnya antaraksi stereo-elektronik. Pada keadaan terbaik, energi yang dilepaskan saat pengikatan dapat mencapai ;.-?. k*>mol, suatu angka yang setara dengan tetapan keseimbangan ikatan sekitar '.-( - '.-- M, yang menyatakan afinitas tinggi. 0ifat komplementer yang berkaitan dengan kesesuaian-terimbas, mengacu pada sifat plastis reseptor makromolekul, dalam arti mampu untuk mengalami perubahan konformasi dan untuk bergabung dengan liganda. <alam keadaan aktif #yaitu konformasi berbeda$, reseptor dapat berantaraksi dengan molekul efektor, yang kemudian meneruskan impuls saraf atau tanda lainnya ke jaringan lain. 0ifat komplementer ini juga menentukan keselektifan reseptor. Lntuk ikatan khasruang atau stereo-spesifik, pada umumnya dianggap bahwa liganda harus mempunyai tiga substituen yang berbeda7 hal ini dianggap cukup untuk keselektifan tinggi. "riens memperkirakan bahwa jika terdapat tiga sisi ikatan yang berbeda #misalnya ikatan hidrogen, sisi ion, dan sisi antaraksi hidrofob$, masing-masing dalam lima bentuk mandiri #berkenaan dengan jarak masingmasing sisi ikatan berpasangan$, maka reseptor akan terikat dengan afinitas kuat pada hanya satu dari antara sejuta senyawa yang bermacam-macam itu. 0emua !bentuk mandiri pada sisi reseptor tentulah hasil kelentukan reseptor itu. &emampuan reseptor untuk berada dalam berbagai bentuk geometri molekul tanpa perubahan berarti dalam fungsinya, mungkin suatu keharusan untuk dapat memahami sifat majemuk kebanyakan reseptor. 0ecara faali dan menurut struktur tidak ada alasan untuk menerima bahwa jenis reseptor tertentu secara mutlak sama dalam seluruh organisme. %eseptor tertentu itu mungkin suatu 0truktur kompleks, terdiri atas banyak subunit yang merupakan bagian dari kerangka membran yang lebih rumit lagi. Mautner mengatakan pada tahun l-@)

''

#Mautner, l-(.$, *auh sebelum struktur reseptor obat diketahui secara rinci, bahwa ahli kimia medisinal akan berhadapan dengan konsep isoreseptor!, seperti halnya ahli en6im menerima adanya iso6im. 4alaupun pengetahuan kita sekarang tentang struktur reseptor masih dangkal, rasanya ciri-ciri fungsi dan struktur reseptor yang tepat, misalnya opiat dalam sistem saraf dan dalam ileum, mungkin tidak sama. =idak saja peranannya masing-masing berlainan sebagai unsur peserta dalam neuromodulasi dan pengaturan peristaltik, tapi juga kira-kira berbeda dalam arti morfologi2 reseptor neuromodulasi dianggap prasinaptik atau terletak dalam membran prasinaptik akhir, di depan lekukan sinaps, sedangkan reseptor yang lain adalah reseptor pascasinaptik klasik, yang terletak di dalam membran pascasinaptik sel efektor atau pada urat saraf berikutnya. <alam hal pertama, reseptor memodulasi pelepasan neurotransmiter, dan dalam hal kedua, reseptor mungkin mengaktifkan en6im seperti adenilat siklase, atau memicu potensial kerja. +anti akan kita lihat bahwa hampir semua neurotransmiter menunjukkan kemajemukan reseptor. "hli kimia medisinal berhadapan dengan empat subjenis reseptor adrenergik dan tiga sampai empat reseptor opiat yang berlainan, sekadar menyebut dua contoh saja. &elentukan reseptor dapat melandasi ciri urnum reseptor majemuk. Misalnya, walaupun keempat isoreseptor adrenergik tadi serupa, reaksinya terhadap neurotransmiter umum, yaitu norepinefrin, secara kuantitatif berlainan. %eaksinya terhadap suatu obat juga khas, dan beragam dalam berbagai organ serta berbeda dalam berbagai jenis hewan. <alam bab-bab selanjutnya dalam buku ini, terbukti sekali bahwa kemajemukan reseptor lebih nyata sebagai keharusan daripada perkecualian. &ita harapkan bahwa pada saatnya nanti, dengan membandingkan berbagai struktur molekul isoreseptor, akan diperoleh kriteria yang tepat untuk membeda-bedakannya. "riens dan kelompoknya #'-)-, h. ?-@;$ memperluas dan membahas secara rinci berbagai pemikiran yang dinyatakan di atas tadi. &eseberagaman reseptor atau sisi pengenalan untuk agonis dan antagonis sudah didokumentasikan dengan baik. &ita dapat membedakan #'$ sisi ikatan

'3

agonis, #3$ sisi ikatan antagonis pesaing #sisi pelengkap$, dan #5$ sisi ikatan antagonis bukan-pesaing atau teratur #sisi alosterik$. 0isi ikatan agonis merupakan pokok bahasan sinambung, dan berkisar mulai dari pendekatan yang murni fisika sampai pembahasan sifat biokimia jika ini diketahui. <alam pembahasan ini sudah termasuk pembicaraan tentang masing-masing tempat pada makromolekul reseptor2 berbagai asam amino khusus, lipid, atau nukleotida yang dijaga dalam konfigurasi geometri yang tepat oleh kerangka sisa molekul, maupun oleh lingkungan supramolekul seperti membran. Pada hakikatnya, kebanyakan reseptor obat adalah bagian membran plasma yang lipoprotein, dan karena itu bersifat amfifil. =entu ada perkecualian, seperti reseptor hormon steroid7 di sini steroid terikat pada reseptor bebas dalam sitosol dan kompleks itu kemudian diangkut. Antagonis pesaing pada mulanya dianggap terikat pada sisi ikatan agonis dan dengan sesuatu cara menggantikan dan mengeluarkan agonis tadi karena afinitasnya sangat tinggi, tetapi tidak mempunyai aktivitas intrinsik. Ini mengakibatkan pergeseran dosis-respons secara sejajar, seperti terlihat pada gambar 3.;.

'5

Gambar 2.4 &urva dosis-respons untuk suatu agonis pada saat terdapat 1, antagonis pesaing, dengan kadar menaik #berlipat dua$ #Menurut=riggle, '-)($

8ambar 3.? membandingkan struktur beberapa pilihan contoh senyawa tersebut. <engan sekilas dapat terlihat bahwa walaupun beberapa agonis mempunyai struktur serupa, diperlukan analisis yang berhati-hati untuk membedakan hubungan pasangan agonis-antagonis atau bahkan antara antagonis segolongan. 0eperti biasanya, terlihat perkecualian dalam hal ini. Lmpamanya, analgetika opiat dan antagonisnya sangat mirip strukturnya, tapi jika kita perhatikan hubungan antara peptida opiat endogen yang dikenal sebagai enkefalin, dengan antagonis opiat, ketidakmiripan mencolok antara kedua golongan tadi menjadi lebih nyata.

';

0ifat antagonis yang sangat nyata adalah afinitasnya pada reseptor sangat besar, sering kali dua atau empat kali orde besaran lebih tinggi dibandingkan dengan agonis #tabel 3.3$. Pemeriksaan sekali lagi mengungkapkan bahwa semua agonis dalam tabel itu mempunyai gugus nonpolar besar, umumnya cincin

'?

aromatik. &arena itu, sisi ikatan tamba$an harus ada pada reseptor guna menampung gugus hidrofob yang besar itu. 0isi ini merupakan tambahan bagi sisi ikatan agonis, yang biasanya polar7 keadaan asetilkolin dan antagonisnya, propantelin, terlihat pada gambar 3.@. 0isi tambahan itu mungkin sekali tergabung dengan antar-muka lipid-protein di dalam membran atau dengan celah hidrofob protein. Hang lebih menarik lagi adalah bahwa terdapat beberapa senyawa yang bersifat antagonis dalam lebih dari satu sistem. "i enhidramin #gambar ;.;.$ misalnya, bekerja sebagai antihistamin maupun sebagai antikolin.

Gambar 2.# 8ambar bagan ikatan asetilkolin dan obat antikolinergik propantelin pada reseptor kolinergik. 0istem cincin trisiklik pada propantelin terikat pada sisi ikatan tambahan. #<ireproduksi sei6in "riens dkk., #'-)-$, Plenum press, +ew Hork$

"ntagonis pesaing dapat ditinjau menurut dua cara. Menurut cara yang satu, sisi ikatan antagonis dianggap berdekatan letaknya dengan sisi agonis dan mungkin

'@

bertumpang-tindih sebagian. &arena itu antagonis akan mengganggu agonis mencapai reseptor, walaupun ia tidak perlu menduduki sisi agonis dan sisi tambahan, seperti terlihat pada gambar 3.?. 0ebaliknya, antagonis dalam fungsinya dapat menghalangi pencapaian oleh agonis dengan mengubah afinitas reseptor. Ini sangat sejalan dengan penghambatan alosterik, yang akan dibahas di bawah ini. <engan demikian, sisi tambahan merupakan sisi yang lebih penting bagi antagonis, dan sisi ikatan untuk agonis dan antagonis tidak sama, walaupun kedua-duanya terdapat pada reseptor lipoprotein yang sama, dan walaupun dia menunjukkan kecenderungan yang tinggi pada agonis maupun antagonis. &eadaan ini, digabung dengan berbagai afinitas dari bermacam-macam bentuk atau keadaan reseptor, menuju kepada pengembangan reseptor dengan model duamuka. 4.2 $odel molekul reseptor %odbard dan rekan-rekannya #<e ,ean dkk, '-)-$ mengusulkan model reseptor +subsisi ganda+ yang menarik dan dapat menerangkan kerjasama reseptor, kurva dosis, respons dwifase, antagonisme pesaing dan bukan pesaing, dan adanya agonis parsial. Model ini mengemukakan bahwa agonis terikat pada dua subsisi dan dengan demikian memicu respons reseptor-efektor, sedangkan antagonis hanya terikat pada salah satu subsisi, termasuk sisi alosterik atau tambahan, dan dengan demikian tidak menyebabkan terjadinya bentuk % reseptor #lihat di bawah$. ,isi alosterik agak jauh dari sisi agonis dan bahkan mungkin terletak pada protomer reseptor yang lain dalam kompleks reseptor-efektor itu. Pendudukannya oleh penghambat alosterik menghasilkan perubahan konformasi yang merambat sampai ke sisi agonis dan mengubah afinitasnya. Maka terjadilah pendesakan timbal-balik antara agonis dan antagonis alosterik. ,agi pula, model farmakologi klasik tidak dapat membedakan penghambatan bersaing dan penghambatan alosterik. /fektor alosterik belum tentu merupakan penghambat. 0ama seperti dalam en6imologi, ada yang mengaktifkan, dan ada pula yang mentakaktifkan keadaan reseptor.

')

4.2.1 Model reseptor dua-muka Model reseptor dua-muka #juga dikenal sebagai model Monod-4yman9hangeuM$ dikembangkan menurut dasar kinetika penghambatan bersaing dan alosterik maupun melalui penafsiran hasil percobaan ikatan langsung. Model ini mempostulatkan bahwa lepas dari ada atau tidak adanya liganda, reseptor berada dalam dua keadaan tersendiri2 keadaan % #rileks, aktif, atau hidup $ dan = #tegang, takaktif, atau mati $, yang berada dalam keadaan keseimbangan. "gonis #obat, <$ mempunyai afinitas tinggi terhadap keadaan % dan akan menggeser keseimbangan ke kanan7 antagonis #penghambat, I$ lebih menyukai keadaan = dan akan memantapkan kompleks =I2

"gonis parsial mempunyai afinitas kira-kira sama untuk kedua bentuk reseptor itu. 0ebagian anggota populasi reseptor berada dalam keadaan %, bahkan tanpa adanya satu agonis pun. *adi, reseptor dapat diumpamakan mempunyai tegangan seperti otot yang sedang beristirahat. +isbah keadaan ditentukan oleh tetapan keseimbangan &,, &=, dan &% #untuk obat < atau penghambat I$, dan memberikan makna fisikokimia sebenarnya pada konsep aktivitas intrinsik. "riens dkk. #'-)-$ dan =riggle #'-)($ secara rinci menurunkan kinetika transformasi antara kedua keadaan itu. 8ambar 3.) memperlihatkan model dua-muka suatu reseptor yang tergabung dengan saluran ion, yang mengatur daya hantar membran. <isamping keadaan % dan =, diperlihatkan juga keadaan tak-peka. <alam keadaan terakhir ini, sisi pengenal dilepaskan dari sisi efektor #dalam hal ini, ionofor$, seperti terlihat pada kadar obat yang sangat tinggi atau setelah perangsangan berulangulang. Penglepasan #juga disebut desentisisasi atau pengawapekaan, pemudaran,

'(

atau jika khas-reseptor, tak$ifilaksis&, dapat juga ditafsirkan dalam hubungannya dengan daur-ulang reseptor. 1erbeda dengan anggapan yang dipakai dalam teori pendudukan klasik, agonis dalam model dua-muka tidak mengaktifkan reseptor, akan tetapi menggeser keseimbangan ke arah bentuk %. Eal ini menerangkan mengapa jumlah reseptor yang diduduki tidak sama dengan jumlah reseptor yang diaktifkan. Pergeseran dari bentuk % ke bentuk = #dari ikatan agonis ke ikatan antagonis$ suatu reseptor dapat juga diimbas oleh pengatur alosterik. Lntuk ini contoh yang paling nyata adalah pada reseptor opiat. <i sini +a : atau ,i: #tapi bukan &:$, yang bekerja sebagai pengatur, menggeser protein reseptor ke bentuk = #antagonis$, sedangkan dalam dapar yang bebas-+a: reseptor lebih suka

Gambar 2.% Model reseptor dua-muka yang dihubungkan dengan saluran ion. %eseptor yang belum diduduki #panah tengah$ dapat berada pada muka-= yang tertutup #kiri$ atau muka-% yang terbuka #kanan$. &eduanya berada dalam kesetimbangan yang mempunyai tetapan kesetimbangan &,. &edua muka ini dapat mengikat 6at penghambat #l$ atau obat #<$, tetapi hanya kesesuaian yang cocok yang menjamin kemantapan muka-= atau muka-%. Pada reseptor yang diawapekakan #bawah$, sisi pengenalan terlepas dari saluran ion #<iubah-suai dari Eollenberg, '-(?$

'-

mengikat agonis. &arena efek itu dapat diukur pada kadar +a: sekecil ? mM, yang jauh di bawah kadar natrium faali yang '?. rnM, reseptor mempunyai afinitas yang jauh lebih tinggi terhadap antagonis in vivo daripada in vitro. *uga akan diperlukan lima sampai sepuluh kali lebih banyak agonis dibandingkan dengan antagonis untuk /<?. karena reseptor berada dalam konformasi antagonis. Sifat kerjasama reseptor, yang banyak ditelaah pada reseptor hormon dan ionofor, dapat diterangkan dengan perluasan lebih jauh model dua-muka tadi. <ianggap bahwa kerjasama beberapa protomer reseptor diperlukan untuk sesuatu efek seperti pembukaan saluran ion, dan semua protomer ini harus mencapai keadaan % atau = agar dapat membuka atau menutup pori. Ini berarti bahwa sisi ikatan atau protomer reseptor tempat sisi itu berada, harus berantaraksi, dan dengan melakukan itu, afinitasnya berubah sebagai fungsi bagian reseptor keadaan-% dalam kumpulan itu. Ini juga berarti bahwa kompleks obat-reseptor dapat memicu peralihan reseptor tetangga yang tidak diduduki dari keadaan = ke keadaan %. 1ila suatu liganda memperlancar pengikatan atau efek reseptor, sifat kerjasama itu positif, jika ia menghalanginya, sifat kerjasama itu negatif #misalnya dalam reseptor insulin$. 0ifat kerjasama negatif dapat juga menyebabkan reseptor cadangan yang banyak terlihat pada beberapa sistem. &arena reseptor menggerundul selama masa daur metabolismenya sendiri, maka pendudukan liganda yang rendah dalam gerundul itu masih dapat menyebabkan perubahan besar dalam konfigurasi gerundul, yang menghasilkan efek sempurna tanpa nisbah '2' untuk ikatan liganda-reseptor. Perilaku kerjasama hemoglobin dan beberapa en6im dibahas dalam hipotesis Monod-4yman-9hangeuM, yang menganggap bahwa peralihan bersama terjadi serentak dalam semua subunit kumpulan reseptor. <alam model &oshland+emethy-Nilmer, hanya subunit pengikat yang mengalami perubahan konformasi, dengan mengubah antaraksinya dengan tetangganya dan menghasilkan perubahan berantai. 0ukar untuk membedakan kedua model ini dengan percobaan7 penerapannya untuk reseptor obat dibahas secara rinci oleh =riggle #'-)($ dan 9olGuhoun #'-)5$.

3.

0eperti telah terbukti pada pembahasan terdahulu, efektor atau sistem penguat adalah bagian reseptor oligomer yang menunjukkan bahwa suatu obat telah terikat pada reseptor #atau, bahwa telah terjadi perubahan konformasi ke keadaan % atau =$, dengan memberi isyarat kepada mata rantai berikutnya dalam rantai reseptor-efektor yang akhirnya memicu efek hayati. <i samping untuk memulai tahap kerja obat, efektor biasanya juga penguat, dengan memperbesar peristiwa awal yang tidak menonjol seperti pengikatan beberapa ribu molekul liganda pada kadar '.-- I '.-'. M. Penguatan ini dapat berbentuk riam, seperti dalam hal epinefrin atau glukagon yang terkenal2 hormon ini memulai glikogenolisis melalui serentetan langkah pengaktifan en6im, seperti terlihat dalam gambar 3.(, yang menyebabkan efek awal itu diperbesar kira-kira '.. juta kali. &ita kagum pada keberadaan en6im adenilat siklase #"0$ di mana-mana, yang bekerja sebagai penguat pertama atau efektor dalam sejumlah besar riam yang diawali oleh obat maupun dalam sejumlah peristiwa rantai biokimia dalam en6imologi. "MPs yang dihasilkan selanjutnya, mengaktifkan beberapa kinase, yang memfosforilasi berbagai protein dan bekerja sebagai efektor terakhir. &arena kebanyakan reseptor tempatnya di dalam membran sel, rangkaian peristiwa ini merupakan perhubungan antar sel.

3'

%iam sejenis dikenal melalui efek hormon steroid yang melenyapkan penekan khas dari "<+ dan memicu transkripsi m"%+, dan ini menghasilkan sintesis protein besar-besaran.

33

*enis efektor lain adalah ionofor membran yang dapat terangsang, yang dalam konformasi %-nya #terbuka$ dapat melalukan kira-kira '.....-3..... ion dalam satu impuls, dan menghasilkan depolarisasi atau polarisasi membran, serta beberapa kemungkinan gejala faali. 4.2.2 Model reseptor bergerak Model reseptor bergerak diusulkan oleh 9uatrecasas dan oleh <e Eaen #Eollenberg, '-(?$ dalam upaya untuk menjelaskan mengapa begitu banyak macam obat, hormon, dan neurotransmiter dapat mengaktifkan adenilat siklase. Menurut konsep klasik, sisi pengenalan tetap selalu dikaitkan dengan sisi efektor, dan akan mengatur kerjanya atas dasar satu lawan satu atau atas dasar stokhiometri lain. 0isi pengenalan sudah barang tentu bersifat khas. *ika hipotesis ini diterapkan pada masalah adenilat siklase, harus diterima salah satu dari dua keadaan berikut, yaitu bahwa jumlah iso6im adenilat siklase sama-banyak dengan reseptor yang bekerja dengan perantaraannya7 atau adenilat siklase memerlukan begitu banyak macam sisi pengenalan yang dapat melayani liganda yang banyak. &emungkinan kedua ini menyatakan tidak adanya keselektifan. Meskipun demikian, tidak ada bukti untuk masing-masing pengandaian itu. &onsep reseptor bergerak memberikan penyelesaian untuk masalah ini, dengan mengingat bahwa membran lipid adalah cairan dua dimensi, dan protein yang tertanam di dalamnya dapat mengalami gerakan lateral cepat atau translasi dengan laju ? - '. Om>menit, suatu jarak yang besar sekali jika diukur dengan skala molekul #Poo, '-(?$. &arena itu protomer pengenalan senyawa kompleks reseptor tidak perlu selalu dihubungkan dengan molekul efektor, jadi hubungan stokhiometri tidak diperlukan. Hang terjadi, seperti terlihat dalam gambar 3.'., protomer pengenalan dapat mengalami gerakan lateral cepat, dan bila diaktifkan ke keadaan %, dapat dipakai untuk hal yang dijuluki pasangan benturan . %eseptor dalam keadaan % mempunyai konformasi yang tepat untuk memicu aktivitas efektor, yang dapat merupakan pembukaan ionofor atau pengaktifan adenilat siklase. &arena itu, berbagai sisi pengenalan dapat mengaktifkan molekul adenilat siklase yang sama pada berbagai waktu melalui mekanisme yang sama. 1egitu

35

pula, satu sisi pengenalan dapat mengaktifkan beberapa molekul adenilat siklase atau sistem efektor lain selama masa aktifnya. Pasangan benturan ganda itu dapat dilihat sebagai keterangan tingkat molekul tentang kekerjasamaan positif dan konsep tentang cadangan reseptor. =idak ada gunanya mengharapkan beberapa sisi pengenalan pada en6im atau sejumlah isoen6im, cukup pemisahan fisik sisi pengenalan dan efektor serta gabungannya yang berpotensi banyak. Meskipun demikian, barangkali benar bahwa sisi pengenalan yang mengelola gerbang ion lebih kekal tergabung dengan ionofor dibandingkan dengan reseptor obat atau hormon yang bekerja melalui adenilat siklase atau sistem fosfatidilinositol. Pilihan lain di samping hipotesis pasangan benturan diusulkan oleh ,evit6ki #'-(3,'-(@$, tetapi percobaan kinetika tidak menunjang adanya mekanisme lain. 4.3 $etabolisme dan dinamika reseptor 0eperti semua protein, reseptor dan subunit reseptor mempunyai sandi gen yang sesuai, ditranskripsi pada m"%+, ditranslasi, dan selanjutnya diproses ke dalam retikulum endoplasma kasar. Proses pascatranslasi terdiri atas '. Penghilangan rangkaian peptida pemandu 3. +-glikosilasi asparagin 0etelah protein reseptor dibungkus dalam alat 8olgi, beberapa karbohidrat dihilangkan dan lainnya ditambahkan pada oligosakarida bercabang berbentuk antena 7 proses ini dinamakan + apping+. Pligosakarida pada reseptor glikoprotein agaknya merupakan unit pengenal yang diperlukan untuk pengikatan liganda berafinitas-tinggi, dan juga sebagai pelindung terhadap penguraian proteolitik dini. 8abungan reseptor supramolekul itu kemudian dimasukkan ke dalam membran sel sebagai protein intrinsik, yang biasanya merentang sepanjang lebar dwilapisan lipid. &arena itu ia dapat berhubungan dengan ruang luar-sel maupun dengan dalam-sel, dengan demikian berperan sebagai penyampai isyarat transmembran. 0ebagai akibat konsep reseptor gerak, penelitian akhir-akhir ini mengungkapkan bahwa reseptor yang terikat pada membran mengalami proses dinamis yang berfungsi untuk mekanisme pengendalian #Eollenberg, '-(?a,

3;

'-(?b7 Eanover dan <ickson, '-(?$. "da beberapa kategori mekanisme pengendalian7 bedanya terutama dalam kecepatan respons2 ada yang sangat cepat #milidetik sampai detik$, ada yang lebih lambat dan tertunda. 0ehubungan dengan itu, kita mengenal mekanisme berikut2 '. 3. 5. ;. ?. @. 4.3.1 Pengendalian pada tingkat genetik, Pengendalian oleh liganda, Modifikasi kovalen atau nonkovalen, Perpindahan reseptor dalam membran #pembentukan belak$, perpindahan reseptor ke ruang-dalam sel #penyusupan$ dan pengembalian berpotensi ke dalam membran plasma, dan Penyusupan dan penguraian proteolitik. Pengendalian pada tingkat genetik Pengendalian pada tingkat genetik sering terlihat pada hormon yang dapat mengatur laju sintesis reseptornya sendiri maupun reseptor lain dengan fungsi bersesuaian #misalnya, pengendalian sintesis reseptor oksitosin dalam rahim oleh estrogen$ 4.3.2 Pengendalian oleh liganda Pengendalian reseptor oleh liganda dapat merupakan pengendalian-sendiri #homospesifik$ atau pengendalian-silang #heterospesifik$. <alam hal pertama, pengikatan liganda dapat mencetuskan penyusupan kompleks liganda-reseptor, dengan menghilangkan reseptor dari permukaaan sel dan menurunkan jumlah reseptor yang tersedia #seperti halnya pada reseptor insulin$. Pengendalian heterospesifik terlihat misalnya pada histamin, yang pada kadar tinggi dapat mengaktifkan reseptor asetilkolin, dan pada anksiolitika golongan ben6odia6epin #trankuilaiser$, yang mengendalikan reseptor 8"1". 4.3.3 Modifikasi kovalen Modifikasi kovalen pada reseptor terjadi dengan fosforilasi, reaksi redoks sulfhidril-disulfida, dan pembelahan proteolitik, dengan cara yang sama seperti untuk kebanyakan en6im. 0etelah ikatan liganda, reseptor dapat memfosforilasi dirinya pada sisa tirosin atau serin, atau perubahan konformasi yang disebabkan oleh lganda dapat membuat reseptor sebagai substrat untuk fosforilase kinase.

3?

"kibat semua reaksi ini belum sepenuhnya dipahami. %eaksi redoks sulfhidril seperti terlihat pada kolinoseptor nikotinik, mengubah kepekaan nisbi liganda2 pada reseptor insulin, terjadi perubahan afinitas. *adi. modifikasi kovalen pada reseptor. baik homospesifik maupun heterospesifik. mempunyai arti biokimia untuk istilah farmakologi afinitas dan !aktivitas intrinsik . 4.3.4 Modifikasi nonkovalen Modifikasi nonkovalen pada reseptor dapat melibatkan antaraksi dengan liganda kecil #ion, nukleotida$ atau makromolekul #seperti pada model reseptor gerak$, dan menyebabkan perubahan alosterik. Modifikasi ini juga dapat mempengaruhi lingkungan reseptor, dan mengubah potensial membran atau penyebaran reseptor #penggerundulan, pembelakan$. 9ontoh yang mencolok adalab efek ion +a: pada afinitas nisbi reseptor opiat terhadap agonis dan antagonis, atau efek nukleotida guanin terhadap sejumlah reseptor, yang akan dibahas dalam pasal berikut. 8erak lateral kompleks liganda-reseptor, suatu gejala yang masih belum dipahami, dikendalikan selanjutnya oleh perubahan fluiditas membran yang dipicu oleh kompleks liganda-reseptor itu sendiri. 4.3. Penggerundulan reseptor Penggerundulan reseptor, walaupun merupakan antaraksi nonkovalen, sungguh-sungguh merupakan mekanisme pengendalian tersendiri. &hususnya reseptor hormon peptida diketahui dapat membentuk gerundul yang terlihat di bawah mikroskop pada pemeriksaan reseptor berfluoresensi. Penggerundulan adalah prasyarat yang perlu, tapi belum cukup, untuk mendapatkan efek farmakologi. Pengikatan liganda pada reseptor yang tergerundul dalam beberapa keadaan masih diperlukan untuk mengaktifkan sel seperti lipolisis yang diperantarai oleh reseptor insulin pada adiposit #sel lemak$. 0eperti dinyatakan sebelumnya, penggerundulan mungkin dapat menerangkan kekerjasamaaan reseptor dalam arti positif maupun negatif. 0ecara teori, dimerisasi mungkin menyebabkan penurunan 5.K afinitas ikatan, dan dengan demikian mempengaruhi respons seluruh sistem.

3@

4.3.! Pen"usupan reseptor Penggerundulan reseptor juga menyebabkan penyusupan reseptor. 8ejala ini. bcrdasarkan endositosis melalui lubang bersalut #<ickson, '-(?7 9arpentier dkk., '-(@$. ,ubang ini terlihat dalam mikrograf elektron sebagai sarung membran yang disalut pada bagian dalamnya #sitoplasma$ dengan jaringan protein klatrin. Pernah dikemukakan bahwa protein reseptor tertentu mempunyai daerah dalam struktur yang memungkinkannya untuk bereaksi dengan lubang tersalut #gambar 3.-$. 8erundul reseptor dalam lubang tersalut #daerah ;$ dapat segcra terendositosis, dan menyebabkan terbentuknya gelembung #endosom$ #daerah ?$ yang kemudian diangkut ke bagian dalam sel itu. 0eperti terlihat dalam gambar 3.-, reseptor internal mengalami salah satu dan beberapa nasib. 1arangkali peran terpenting pada penyusupan ini adalah mengambil reseptor dari membran plasma, yaitu penekanan populasi reseptor. 0eperti diuraikan

Gambar 2.& Penggerundulan dan penyusupan reseptor. %eseptor dalam membran plasma #'$ mengikat liganda #,$ #3$dan>atau terfosforilasi oleh protein kinase 9#5$, untuk mempersiapkan pembentukan belak yang melibatkan penggerundulan dalam lubang tersalut #;$ yang dilapisi bagian dalamnya oleh protein kiatrin #QQQ$. ,ubang tersalut, bersama-sama dengan kompleks reseptor-liganda, terlepas dan membentuk endosom #?$7 liganda dapat dilepaskan ke dalamnya. <ari endosom, reseptor dapet kembali ke bentuk = dan kembali ke permukaan sel #@$7 dalam hal ini liganda dilepaskan ke sel bagian dalam #($7 sebagai kemungkinan lain, reseptor dapat diserahkan kepada lisosom #)$ dan diuraikan, atau diangkut ke inti bersama-sama liganda #-$

3)

penekanan adrenoseptor adalah cara kerja obat antidepresan. 1eberapa reseptor internal #seperti lipoprotein kerapatan-rendah pembawa-kolesterol$ melepaskan ligandanya #daerah ($ dan kembali ke permukaan sel, dan dengan demikian menjalankan peranannya sebagai pengangkut protein #daerah @$. %eseptor lainnya mengalami disosiasi yang disebabkan oleh pE rendah dalam endosom, dan banyak lagi akan terurai sepenuhnya dalam lisosom #daerah )$, dan dengan demikian menyempurnakan jalur metabolisme bagi reseptor. *uga pemah dihipotesiskan bahwa endosom mungkin adalah wahana yang mengantarkan kompleks hormon-reseptor kepada inti sel #daerah -$, suatu proses yang biasa bagi hormon steroid, dan terjadi dengan mekanisme yang belum diketahui. 4.4 Pengiriman isyarat le'at membran 1agan umum tentang pengisyaratan dimulai dengan datangnya pemberita pertama dari luar sel-neurotransmiter, hormon, atau 6at endogen lain, atau liganda eksogen seperti obat atau toksin bakteri. "ntaraksi reseptor-liganda terjadi di luar sel, dalam kebanyakan hal liganda tidak memasuki sitoplasma. +amun, tentu ada perkecualian, seperti yang dibahas dalam pasal terdahulu tentang penyusupan reseptor. Pada umumnya, isyarat yang dikirim oleh liganda diteruskan ke bagian dalam sel oleh kompleks reseptor-liganda, yang berantaraksi dengan transduser. &ompleks tiga serangkai reseptor-liganda-transduser kemudian berantaraksi dengan penguat, biasanya en6im, yang mengeluarkan 6at yang mengaktifkan efektor dalam #biasanya fosforilase kinase$7 kemudian efektor kinase memfosforilasi-sambil mengaktifkan atau mentakaktifkan-en6im sisi khusus yang mengatur respons akhir sel. &ita mengenal tiga sistem, yang menggunakan berbagai transdusen7 '. sistem adenilat siklase, 3. sistem guanilat siklase, dan 5. sistem inositol trifosfa t-diasilgliserol. 4.4.1 Sistem adenilat siklase 0istem ini telah dijelaskan oleh sejumlah peneliti selama masa yang nisbi panjang. 0utherland dan %all menemukan "MPs dalam tahun '-?(, %odbell dan kawan-kawannya memperlihatkan perlunya 8=P dalam proses ini dalam tahun

3(

'-)', dan urutan peristiwa itu secara lengkap dipetakan oleh ". 8. 8ilman dan kelompoknya pada waktu yang lebih akhir lagi. %angkaian reaksi tersebut diperlihatkan dalam gambar 3.'.. "da dua jenis reseptor yang berperan serta dalam sistem ini2 reseptor perangsang %s dan reseptor penghambat %i. *adi, reseptor membran yang bekerja melalui adenilat siklase melakukannya dengan mengaktifkan penguat #lihat di bawah$ ataupun dengan menghambatnya. 1ila reseptor terisi oleh ligandanya, dia membentuk2 kompleks sementara dengan protein pengikat guanil nukleotida, yang terisi oleh 8<P. =ransduser protein ini baik perangsang #8s$ maupun penghambat #8i$Imenjadi aktif dalam proses pengikatan ini. <alam kompleks tiga serangkai liganda-reseptor-88<P, 8<P digantikan oleh 8=P, yang memicu pelepasan subunit R dari protein RST trimer 8s. 0ubunit S dan T juga dilepaskan. &emudian subunit R yang aktif bergabung dengan en6im adenilat siklase #"0$ (penguat&, dan menghasilkan "MPs, yaitu pemberita kedua. "0 pernah dimurnikan secara homogen #Pfeuffer dkk., '-(?$. &eadaan 8s aktif diakhiri oleh 8=Pase yang diaktifkan oleh liganda, dengan menghidrolisis 8=P yang terikat menjadi 8<P. <iperkirakan bahwa kemudian protein 8s dibentuk kembali dari ketiga subunit dalam bentuk inaktif, dan siap untuk daur ikatan berikutnya dengan reseptor terisi. =ransduser penghambat 8 i dapat bertindak langsung, dengan cara yang sama seperti protein 8 s berlaku, atau mungkin secara tak langsung. 1ila tak langsung, subunit ST yang dilepaskan dari protein 8i mungkin bergabung dengan subunit Rs yang dilepaskan dari protein 8s, dan dengan demikian membentuk kembali trimer yang takaktif. 8agasan ini ditunjang oleh fakta bahwa protein 8i rnempunyai afinitas lebih tinggi untuk 8=P daripada 8s, dan karena itu trimer 8i lebih mudah terdisosiasi. Eendaklah diingat bahwa reseptor, protein 8, dan siklase berantaraksi dalam sistem gerak secara pemasangan benturan, dan dengan demikian banyak ragam reseptor dapat mengaktikan populasi protein 8 dan siklase yang sama. *ika 8=N digantikan oleh analog sintetik yang tak dapat terhidrolisis, yaitu guanil-? il-imidodifosfat #8pp#+E$p7 oksigen anhidrida digantikan oleh gugus +E$, maka reaksi itu tidak dapat dihentikan, dan "MPs akan terus terbentuk. 8=Pase, yang biasanya dapat mengakhiri keadaan aktif, dapat juga ditakaktifkan oleh toksin kolera. <iare berat yang dapat

3-

mematikan dan kehilangan elektrolit yang terjadi pada kolera menceminkan keadaan bahwa "MPs adalah pengaktif sekresi cairan dalam usus. 0ebaliknya, toksin pertusis #yang menyebabkan batuk rcean$ merintangi pengaktifan 8 olen 8=P, dan mungkin menyebabkan penyempitan saluran napas. 0enyawa lain dari alam, yaitu diterpena orskolin #3-'$, diisolasi dari akar Coleus forsko$lii, mengaktifkan adenilat siklase secara langsung #0eamon, '-(;$. 0enyawa ini pemah dipakai di India sebagai obat rakyat untuk gangguan pernapasan, tak bisa tidur, dan sawan. *uga merupakan obat penurun tekanan darah yang manjur dan pelebar saluran napas serta menurunkan tekanan dalam mata pada glaukoma. Perkembangan yang paling mengesankan dalam pengiriman isyarat adalah kenyataan bahwa protein yang dibentuk oleh onkogen #gen penyebab kanker$ adalah juga protein pengikat 8=P.

Gambar 2.1( 9ontoh pengaktifan adenilat siklase. '. %eseptor, dalam konformasi kaku #mati$ #%=$ mengikat Iiganda #,$, dan membentuk 3. kompleks liganda-reseptor aktif #%%-,$, yang sekarang dapat menjalani pemasangan benturan dengan trimer protein pengikcat guanil-nukteotida perangsang #8i$. 5. &ompleks tiga serangkai itu #,-%%-8* diaktifkan dengan menukar ikatan 8<P pada protein 8 dengan 8=P, ;. &ompleks tiga serangkai tadi terdisosiasi menjadi reseptor takaktif #%=$, liganda #,$, subunit ST pada protein 8, dan ?. subunit R aktif protein 8. @. 0ubunit Rs aktif mengikat adenilat siklase #"0$ dan mengaktifkannya serta mengawali sintesis "MPs dari "=P, ). 0ubunit Rs drtakaktifkan dengan menghidrolisis 8=P menjadi 8<P dan fosfat anorganik #Pi$7 kompleks subunit Rs-8<P pulih kembali dengan bergabung dengan subunit ST

=ahap akhir pengiriman isyarat adalah tindakan "MPs terhadap subunit pcngatur pada en6im, yaitu protein kinase. &emudian en6im ini, yang ada di mana-mana, memfosforilasi dan mengaktifkan en6im dengan fungsi khusus , untuk berbagai sel dan organ. <alam sel lemak, protein kinase " mengaktifkan lipase yang mengerahkan asam-asam lemak7 dalam sel hati dan otot, dia mengatur glikogenolisis dan sintesis glikogen. ,ebih banyak lagi

5.

terdapat contoh pengaktifan #1erridge, '-(?$. 0ebaliknya, jika ada reseptor penghambat #misalnya R-adrenoseptor$ berantaraksi dengan protein 8i, maka penguraian lipid akan berkurang, karena pembentukan "MPs menurun.

4.4.2 Sistetn guanilat siklase *enis kedua tentang pengiriman isyarat adalah dengan menggunakan -.P siklik #8MPs$ dan bukan "MPs sebagai pemberita kedua. 0emula disangka bahwa jalur ini tidak langsung berhubungan dengan reseptor yang terikat dengan membran, dan hanya dapat bekerja dengan cara merangsang saja, mungkin dengan mengaktifkan protein kinase 8. 8MPs berperan dalam perilaku serangga, tetapi juga dalam selaput jala manusia dan dalam kegiatan faktor natriuretik serambi jantung, yaitu hormon yang baru ditemukan yang dihasilkan oleh jantung dan mengatur tekanan darah. Pada hal terakhir ini, harus diterima adanya keterlibatan reseptor. Mungkin sekali 8MPs juga bekerja lewat 9a3: sebagai pemberita ketiga dalam mengaktifkan protein kinase yang tergantung pada 9a #0chulman, '-(;$. 4.4.3 Sistem inositol trifosfat-diasilgliserol *alur pengisyaratan ketiga yang luas pemakaiannya didasarkan pada fosfatidilinositol, unsur normal membran sel. 0eperti terlihat pada gambar 3.'', isyarat luarsel diterima oleh reseptor yang terikat pada membran dan berantaraksi dengan protein 8s, mengaktifkan fosfolipase 9 #fosfatidilinositol

5'

Gambar 2.11 0istem isyarat fosfatidilinositol, '. %eseptor kaku dan takaktif #% =$ mengikat

liganda #,$ dan berubah ke keadaan lemas dan aktif #%%$. 3. %eseptor ini berantaraksi dengan protein 8, dan dengan cara yang kira-kira sama dengan pengaktifan "0, mengaktifkan fosfolipase 9 #P,-9$ atau fosfodiesterase. 5. Nosfatidilinositol #PI$ dibelah menjadi diasilgliserol #<8$, yang tetap dalam membran dan mengaktifkan protein kinase 9 #P&-9$2 ;. P&-9 dapat pula diaktifkan langsung oleh ester forbol ?. Inositol trifosfat #IP 5$ berdifusi ke da*am sitoplasma dan membebaskan ion 9a 3: dari penyimpanannya. @. &emudian 9a3: langsung atau bekerjasama dengan kalmodulin #9M$, mengaktifkan protein kinase. ). &inase ini, maupun P&-9, mengfosforilasi protein, dan mengawali proses aali. &edua cabang ini dapat bekerja bebas satu sama lain

difosfat CPIP3D fosfodiesterase$, suatu en6im yang membelah fosfat diester. &edua hasil pada reaksi pembelahan ini adalah inositol trifosfat #IP5$ dan diasilgliserol #<8$7 keduaduanya bertindak sebagai pemberita kedua, tetapi dalam kompartetnen sel yang berlainan #1erridge, '-(?7 Eokin, '-(?$. Inositol trifosfat larut dalam air dan karena itu dapat berdifusi ke dalam sitoplasma7 di sini dia menggiatkan kalsium dari tempat penyimpanannya dalam mikrosom atau retikulum endoplasma. Ion 9a3: kemudian mengaktifkan kinase yang tergantung pada 9a #seperti troponin 9 dalam otot$ secara langsung atau terikat pada protein pengikat-9a yang ada di mana-mana, yaitu kalmodulin dan mengaktifkan kinase yang tergantung pada kalmodulin. &inase ini, selahjutnya, mengfosforilasi en6im yang khas untuk sel #&lee.dkk. '-(.7 4est, '-(37 8arrison, '-(?$. 0ebaliknya, diasilgliserol larut dalam lipid dan tinggal di dalam dwilapisan lipid dalam membran. <i situ dia mengaktifkan protein kinase 9 #P&9$, suatu en6im yang

53

sangat penting dan luas penyebarannya #+ishi6uka, '-(@$. /n6im ini, melalui fosforilasi, melayani banyak sistem2 neurotransmiter #asetilkolin, R'-dan S-adrenoseptor, serotonin$, hormon peptida #insulin, hormon pertumbuhan epiderm, somatomedin$, dan sejumlah fungsi sel #metabolisme glikogen, kerja otot, protein tubuh, dsb.$. <iasilgliserol juga berantaraksi dengan guanilat siklase #8arrison, '-(?$. 0elain diasilgliserol, diperlukan pula lipid membran normal yang lain, yaitu fosfalidilserin, untuk mengaktifkan P&9. 0emua cabang <8-IP5 pada jalur tersebut biasanya bergerak serentak. =anpa mekanisme fosfatidilinositol, protein kinase dapat diaktifkan oleh ester orbol penggalak tumor #3-3$. 0enyawa alami ini dan penggalak tumor lainnya menyebabkan pengaktifan kekal protein kinase 97 minat peneliti terhadap mekanisme pengaktifan ini amat besar karena mekanisme tersebut dapat lebin jauh menerangkan tumorigenesis2 pemberian bersama ester forbol dan ionofor-kalsium dapat memicu sintesis protein. &arena pengaktifan P&9 dalam hal ini kekal, maka mekanisme pengisyaratan sel mungkin cukup terganggu, sehingga menyebabkan pertumbuhan yang tidak terkendali, yaitu kanker. 1erbagai efek pengaktifan P&9 dapat diterangkan dengan fakta bahwa en6im ini dihasilkan oleh berbagai keluarga gen, agaknya sebagai iso6im yang mempunyai struktur agak berlainan tapi pada pokoknya mempunyai mekanisme kerja yang sama dalam berbagai jenis sel #Parker dkk., '-(@$. *alur fosfatidilinositol disempurnakan oleh regenerasi fosfolipid dari IP5 dan <8, seperti terlihat dalam gambar 3.'3 #lihat juga Majerus dkk., '-(@$. Hang menarik adalah bahwa IP5 berturut-turut didefosforilasi menjadi inositol. =ahap terakhir urutan mi dapat dihambat oleh ion ,i, dengan demikian merintangi

55

sintesis fosfetidilinositol. 8aram ,i dipakai untuk mengendalikan gejala penyakit tekanan jiwa atau depresi manik, yaitu suatu gangguan emosi. <engan demikian orang akan tertarik untuk mcnghubungkan rcaksi terakhir jalur PI ini dalarn asalmuasal penyakit tadi. 4.) $ekanisme pato isologi pada pengiriman isyarat Easil terakhir dalam bidang pengiriman isyarat yang banyak diteliti ini mulai menyikapkan beberapa penemuan luar biasa tentang peranan sistem PI dalam patofisologi. 0istem PI ini dikaitkan dengan berbagai onkogen, yaitu gen yag selalu ada, tetapi jika diaktifkan, menyebabkan perubahan bentuk ganas pada sel. 0eperti telah disebutkan terlebih dahulu, protein yang disandikan oleh ras dari sel #tak ganas$ mungkin merupakan bagian utuh pada sistem PI7 protein 8 #Eelmreich

5;

dan Pfeuffer, '-(?$ meningkatkan penggabungan antara reseptor faktor pertumbuhan dengan fosfolipase 9. Mutasi titik-yaitu substitusi satu asam amino tunggal dengan yang lainmenyebabkan perubahan onkogen. *ika sekarang onkogen ras yang termutasi dan ganas dimasukkan ke dalam sel, akan terbentuk IP5 walaupun tidak ada faktor pertumbuhan. Eal ini penting karena walaupun tidak ada faktor pertumbuhan yang normal, onkogen memicu perangsangan sel secara berkelanjutan7 pertumbuhan berkelanjutan yang tak terkendali itu serupa dengan pembentukan sel ganas. Easil jadi onkogen fos dan m* rupanya rnengatur perilaku gen lain dan karena itu mungkin mampu menimbulkan perubahan kekal dalam sel yang biasanya tanggap terhadap faktor pertumbuhan. 1eberapa onkogen lain yang terkait pada sistem PI menyandi tirosin kinase, yang mengaktifkan protein dengan cara memfosforilasi gugus hidroksilnya pada tirosin. 1anyak reseptor faktor pertumbuhan #misalnya faktor pertumbuhan epiderm, /8N7 faktor pertumbuhan turunan lempeng darah, P<8N7 dan faktor pertumbuhan mirip-insulin$, dan semuanya bekerja sebagai tirosin>serin kinase. Eubungan antara onkogen dengan faktor pertumbuhan diperkuat dengan penemuan bahwa virus onkogenik yang menghasilkan sarkoma #tumor pada jaringan penghubung$ membuat sandi untuk protein yang menurut struktur dan fungsinya homolog dengan reseptor /8N dan I8N. Perbedaan. antara reseptor faktor pertumbuhan dan produk onkogen rupanya terletak pada bagian 9-akhir, yang bagannya diperlihatkan pada gambar 3.'5. Pada molekul reseptor /8N, dalam keadaan normal dan takaktif, 9-akhir menghalangi sisi aktif #fosforilase$. *ika diaktifkan oleh molekul /8N, protein reseptor mengalami autofosforilasi flan selanjutnya perubahan konformasi, serta menyingkapkan sisi aktifnya dan menyebabkan perkembangbiakan sel oleh mekanisme yang belurn diketahui.

5?

Gambar 2.13 Eubungan antara reseptor faktor pertumbuhan epiderm dengan stnjktur onkogen erb-1. Ljung-akhir karboksi pada reseptor /8N menghalangi sisi aktrf kinase7 sisi itu hanya dapat berfungsi jika reseptor diaktifkan oleh /8N, mengaiami autofosforilasi pada tirosin, dan berubah konformasinya. %eseptor tertkendali. Pnkogen erb-1 adalah homolog reseptor /8N, tetapi tidak mempunyai rantai akhir 97 dengan tidak adanya sesuatu 6at pengatur, tirosin kinase tetap selalu berfungsi #<iubah-suai dari %. 0chat6man, "90 Medicinal 9hemistry 0ymposium, *uni '-(@, 9hapel Eill, +9)

Easil onkogen erb-/ adalah homolog reseptor /8N #"ntoniades dan Panta6is, '-(@$, tetapi hasil tersebut tidak mempunyai 9-akhir seperti homolog reseptor /8N itu, sehingga sisi aktifnya selalu terbuka dan dapat berfungsi7 karena itu tidak mengikuti peraturan normal. *adi, aktivitas tirosin kinase pada onkogen virus yang tak terkendali akan meruasak pengisyaratan transmembran normal. Perubahan onkogenik lain yang lebih rumit dan berhubungan tak langsung dengan hormon dapat pula dikhayalkan #Eollenberg. '-(?$. 0ekarang dapat dilihat bagaimana pelbagai onkogen bekerja (sis& #sekarang sudah dikenal sekitar 3? onkogen$2 beberapa di antaranya #m*

membuat sandi untuk faktor pectumbunan #P<8N$ yang mengaktifkan gen lain dan fos&, yaitu yang menetapkan 6at tertentu rnengatur pembagian sel dan pertumbuhan, melalui fungsi khusus dalam inti sel. 1ila faktor pertumbuhan diubah menjadi onkogen, fungsi pengaturannya jadi kacau dan tak terrkendali, dan hasilnya adalah kanker #0alomon dan Perroieau, '-(@$. 0omatostatin #00, faktor penghambat pelepasan hornon-pertumbuhan$ temyata bukan hanya menghambat kerja hormon pertumbuhan, tetapi juga semua proses yang diperantarai /8N #<eNeudis dan Moreau, '-(@$ pada kadar yang sangat rendah #pikomolar hingga nanomolar$ dengan menghentikan pemisahan

5@

sentrosom. la juga menggalakkan aktivitas fosfoprotein fosfatase #en6im yang menghidrolisis ester fosfat$7 dengan perkataan lain, ia menentang efek, tirosin kinase. Easil peroobaan pada berbagai kanker ganas sangat memuaskan, tetapi 00 mempunyai waktu-paro sangat pendek, dan karena itu harus dicari analog yang lebih mantap. "e inisi peristilahan ikatan armakologi
Agonis adalah 6at yang berantaraksi dengan bagian khusus pada sel, yaitu reseptor, dan memberikan respons yang dapat diamati. "gonis dapat merupakan 6at faali endogen seperti neurotransmiter atau hormon, atau dapat juga obat sintetik. Agonis parsial yang bekerja pada reseptor yang sama seperti agonis lain pada kelompok liganda #molekul pengikat$ atau obat. +amun, berapa pun dosisnya, mereka tidak dapat menghasilkan respons hayati tertinggi yang sama seperti agonis sempuma #"riens, '-(5$. Aktivitas intrinsik suatu agonis adalah tetapan kesepadanan tentang kemampuan agonis untuk mengaktifkan reseptor dibandingkan dengan senyawa paling aktif dalam deretan yang ditelaah. "ktivitas intrinsik, maksimum satu untuk agonis sempurna dan minimum nol untuk antagonis, "ktivitas intrinsik dapat disamakan dengan Km pada en6im. Afinitas adalah kemarnpuan obat untuk bergabung dengan reseptor, ini sebanding dengan tetapan keseimbangan ikatan &<. ,iganda berafinitas rendah memerlukan kadar yang lebih tinggi untuk menghasilkan efek yang sama seperti liganda berafinitas tinggi. "gonis dan antagonis mempunyai afinitas terhadap reseptor. Antagonis menghambat efek agonis, tetapi tidak mempunyai aktivitas hayati sendiri dalam sistem tertentu itu. <ia dapat bersaing untuk sisi reseptor yang sama yang diduduki agonis, atau dapat bekerja pada sisi alosterik, yang berbeda dengan sisi obat-reseptor. Pada peng$ambatan alosterik, ikatan antagonis mengubah reseptor, dan mencegah agonis berikatan deogan reseptor itu7 antagonis mengubah afinitas reseptor terhadap agonis. Dosis efektif rata-rata #/<?.$ adalah jumlah obat yang diperlukan untuk mencapai efek separuhmaksimum, atau yang menghasilkan efek dalam ?.K kelompok hewan percobaan7 biasanya dinyatakan dengan mg>kg bobot badan. /<?. in vitro hendaknya dinyatakan sebagai kadar molar #/9?.$, bukan sebagai jumlah mutlak. Kadar peng$ambat rata-rata #I9?.$ adalah kadar tatkala antagonis memberikan efek separuh-maksimum. Istilah p<3 menunjukkan logaritma negatif dosis molar agonis yang diperlukan untuk mencapai efek separuh-maksimum. *adi, p<3 merupakan ukuran afinitas dalam keadaan ideal #yaitu hubungan dosis-respons linier$. p"3 adalah logaritma negatif kadar molar antagonis yang memerlukan dosis agonis dua kali lipat untuk menangkal efek antagonis itu dan mengembalikan respons awal. . ,

5)

5(