Anda di halaman 1dari 5

GIZI BURUK PADA ANAK Kurang energi protein adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi

energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka kebutuhan gizi (AKG).

1.FAKTOR PENYEBAB
1. Faktor diet. Diet kurang energi dan protein akan mengakibatkan penyakit KEP. 2. Peranan faktor sosial. Pantangan untuk menggunakan bahan makanan tertentu yang sudah turuntemurun. 3. Peranan kepadatan penduduk. Mc Laren (1982) memperkirakan bahwa KEP terdapat dalam jumlah yang banyak akibat suatu daerah terlalu padat penduduknya dengan higiene yang buruk. 4. Faktor infeksi. Terdapat interaksi sinergistis antara infeksi dan malnutrisi. Infeksi berat dapat memperjelek keadaan gizi melalui gangguan masukan dan meningginya kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. 5. Faktor kemiskinan. Dengan penghasilan yang rendah, ketidakmampuan membeli bahan makanan ditambah timbulnya banyak penyakit infeksi karena kepadatan tempat tinggal dapat mempercepat timbulnya KEP.

2. PATOGENESIS
1. Patogenesis Marasmus
Pada keadaan marasmus yang menyolok ialah pertumbuhan yang kurang atau terhenti disertai atrofi otot dan menghilangnya lemak di bawah kulit. Pada mulanya kelainan demikian merupakan suatu proses fisiologis. Untuk kelangsungan hidup jaringan, tubuh memerlukan energi yang dapat dipenuhi oleh makanan yang diberikan. Kebutuhan ini tidak terpenuhi pada intake yang kurang, karena itu untuk pemenuhannya digunakan cadangan protein tubuh sebagai sumber energi. Penghancuran jaringan pada defisiensi kalori tidak saja membantu memenuhi kebutuhan energi, akan tetapi juga memungkinkan sintesis glukosa dan metabolit esensial lainnya seperti berbagai asam amino untuk komponen homeostatik. Oleh karena itu pada marasmus berat, kadangkadang masih ditemukan kadar asam amino yang normal, sehingga hati masih dapat membentuk albumin.

2. Patogenesis Kwashiorkor
Pada kwashiorkor yang klasik, gangguan metabolisme dan perubahan sel menyebabkan edema dan perlemakan hati. Pada penderita defisiensi protein tidak terjadi katabolisme jaringan yang sangat berlebihan karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori yang cukup dalam dietnya. Namun kekurangan protein dalam diet akan menimbulkan kekurangan berbagai asam amino esensial yang dibutuhkan untuk sintesis. Oleh karena dalam diet terdapat cukup karbohidrat, maka produksi insulin akan meningkat dan sebagian asam amino dari dalam serum yang jumlahnya sudah kurang tersebut akan disalurkan ke otot. Berkurangnya asam amino dalam serum merupakan penyebab kurangnya pembentukan albumin oleh hati, sehingga kemudian timbul edema. Perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan lipoprotein beta sehingga transport lemak dari hati ke depot lemak juga terganggu dan akibatnya terjadi akumulasi lemak dalam hati.

3. GAMBARAN KLINIS
1. Marasmus
Gejala klinis Gizi buruk/KEP berat dapat ditemukan sebagai berikut:

Tampak sangat kurus, hingga tulang terbungkus kulit. Wajah seperti orang tua (old man face). Cengeng, rewel. Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada, (pada daerah pantat tampak seperti memakai celana longgar/baggy pants). Perut cekung. Iga gambang. Sering disertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang), dan diare.

2. Kwashiorkor
Edema, umumnya seluruh tubuh, terutama pada punggung kaki (dorsum pedis). Wajah membulat dan sembab. Pandangan mata sayu. Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit, rontok. Perubahan status mental, apatis dan rewel. Pembesaran hati. Otot mengecil (hipotropi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crazy papement dermatosis). Sering disertai penyakit infeksi (umumnya akut), anemia, dan diare.

3. Marasmus Kwashiorkor
Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus dengan BB/U <> Disamping itu pada setiap penderita KEP berat/gizi buruk, selalu periksa adanya gejala defisiensi nutrien mikro yang sering menyertai, seperti: Xerophtalmia (defisiensi vitamin A). Anemia (defisiensi Fe, Cu, vitamin B12, asam folat). Stomatitis (defisiensi vitamin B, vitamin C).

6. PENATALAKSANAAN
Prinsip dasar pengobatan rutin yang dilakukan pada penderita KEP berat/gizi buruk adalah: 1. Atasi/cegah hipoglikemia. 2. Atasi/cegah hipotermia. 3. Atasi/cegah dehidrasi. 4. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit. 5. Obati/cegah infeksi. 6. Mulai pemberian makanan. 7. Fasilitasi tumbuh kejar (catch up growth). 8. Koreksi defisiensi nutrien mikro. 9. Lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental. 10. Siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh.

1. Atasi/Cegah Hipoglikemia
Periksa kadar gula darah bila ada hipotermia (suhu aksila < style="font-family: Symbol;">C, atau suhu rektal 35,5C). Bila kadar gula darah di bawah 50 mg/dl, maka berikan: 50 ml bolus glukosa 10% atau larutan sukrosa (1 sendok teh gula dalam 5 sendok makan air) secara oral atau sonde/pipa nasogastrik. Selanjutnya berikan larutan tersebut setiap 30 menit selama 2 jam (setiap kali berikan bagian dari jatah untuk 2 jam). Secepatnya berikan makan setiap 2 jam, siang dan malam.

2. Atasi/Cegah Hipotermia
Bila suhu rektal < style="font-family: Symbol;">C, hangatkan anak dengan pakaian atau selimut, atau letakkan dekat lampu atau pemanas. Suhu diperiksa sampai mencapai > 36,5C.

3. Atasi/Cegah Dehidrasi
Jika anak masih menyusui, teruskan ASI dan berikan setiap setengah jam sekali. Jika anak masih dapat minum, lakukan tindakan rehidrasi oral dengan memberikan minum anak 5 ml/kgBB setiap 30 menit cairan rehidrasi oral khusus untuk KEP. Jika tidak ada cairan khusus untuk anak dengan KEP berat dapat menggunakan oralit. Jika anak tidak dapat minum maka dilakukan rehidrasi intravena dengan cairan Ringer Laktat/Glukosa 5% dan NaCl 0,9%.

4. Koreksi Gangguan Keseimbangan Elektrolit


Pada semua KEP berat terjadi gangguan keseimbangan elektrolit di antaranya: Kelebihan natrium tubuh, walaupun kadar natrium plasma rendah. Defisiensi kalium dan magnesium. Ketidakseimbangan ini diterapi dengan memberikan: K 2 4 meq/kgBB/hari (150 300 mg KCL/kgBB/hari). Mg 0,3 0,6 meq/kgBB/hari (7,5 15 MgCl2/kgBB/hari).

5. Obati/Cegah Infeksi

Pada KEP berat, tanda yang umumnya menunjukan adanya infeksi seperti demam, seringkali tidak nampak, oleh karena itu pada semua KEP berat secara rutin diberikan: Antibiotika spektrum luas, bila tanpa komplikasi: kontrimoksazol 5 ml suspensi pediatri secara oral, 2 kali sehari selama 5 hari (2,5 ml bila BB <> Bila anak sakit berat (apatis, letargi) atau ada komplikasi (hipoglikemia, hipotermia, infeksi kulit, infeksi saluran napas atau saluran kencing) beri ampisilin 50 mg/kgBB IM atau IV setiap 6 jam selama 2 hari, kemudian secara oral amoksisilin 15 mg/kgBB setiap 8 jam, selama 5 hari. Bila amoksisilin tidak ada, maka teruskan ampisilin 50 mg/kgBB setiap 6 jam secara oral, atau gentamisin 7,5 mg/kgBB/IM atau IV sekali sehari selama 7 hari. Bila dalam 48 jam tidak ada kemajuan klinis, tambahkan kloramfenikol 25 mg/kgBB/IM atau IV setiap 6 jam selama 5 hari. Bila terdeteksi kuman spesifik, beri pengobatan spesifik. Bila anoreksia menetap selama 5 hari pengobatan antibiotik, lengkapi pemberian hingga 10 hari. Vaksinasi campak bila umur anak > 6 bulan dan belum pernah diimunisasi.

6. Koreksi Defisiensi Nutrien Mikro


Berikan setiap hari: Tambahan multivitamin. Asam folat 1 mg/hari (5 mg hari pertama). Seng (Zn) 2 mg/kgBB/hari. Bila berat badan mulai naik: Fe 3 mg/kgBB/hari atau sulfas ferosus 10 mg/kgBB/hari.

Vitamin A oral pada hari 1, 2 dan 14. Untuk umur > 1 tahun 200.000 SI, umur 6 12 bulan 100.000 SI, dan umur 0 5 bulan 50.000 SI.

7. Mulai Pemberian Makanan


Pemberian diet dibagi dalam 3 fase, yaitu: fase stabilisasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi. Fase Stabilisasi (2 7 hari) Fase dimulainya pemberian makanan segera setelah anak dirawat sehingga energi dan protein cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme basal tubuh. Prinsif pemberian nutrisi pada fase inisial/stabilisasi adalah sebagai berikut: Porsi kecil, sering, rendah serat dan rendah laktosa. Oral atau nasogastrik. Kalori 100 kkal/kgBB/hari Protein 1 1,5 gr/kgBB/hari. Cairan 130 ml/kgBB/hari (100 ml/kgBB/hari bila ada edema berat) Fase Transisi (Minggu ke-2) Fase pemberian makanan secara perlahan-lahan untuk menghindari resiko gagal jantung dan intoleransi saluran cerna bila anak mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak secara mendadak. Kalori 150 kkal/kgBB/hari Protein 2 3 gr/kgBB/hari Cairan 150 ml/kgBB/hari. Fase Rehabilitasi (Minggu ke-3 7) Pada masa pemulihan, dibutuhkan berbagai pendekatan secara gencar agar tercapai asupan makanan yang tinggi dan pertambahan BB > 10 gr/kgBB/hari. Awal fase rehabilitasi ditandai dengan timbulnya selera makan, biasanya 1 2 minggu setelah dirawat. Setelah masa transisi dilampaui, anak diberi: Makanan/formula dengan jumlah tidak terbatas dan sering. Energi 150 220 kkal/kgBB/hari. Protein 4 6 gr/kgBB/hari Bila anak masih mendapat ASI, teruskan tetapi beri formula lebih dulu karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuh kejar.

8. Fasilitasi Tumbuh Kejar


Untuk mengejar pertumbuhan yang tertinggal, anak diberi asupan makanan seperti pada fase-fase tersebut di atas. Untuk itu harus tersedia jumlah asupan makanan yang memadai seperti pada tahapan fase-fase di atas.

9. Sediakan Stimulasi Sensorik dan Dukungan Emosi/Mental 10. Siapkan Follow Up Setelah Sembuh
Bila berat badan sudah mencapai 80% BB/U dapat dikatakan anak sembuh. Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan di rumah setelah penderita dipulangkan. Kepada orang tua disarankan: Membawa anaknya kembali untuk kontrol secara teratur. Pemberian suntikan/imunisasi ulang (booster). Pemberian vitamin A setiap 6 bulan. Selain itu atasi penyakit penyerta, yaitu: Defisiensi vitamin A. Dermatosis. Penyakit karena parasit/cacing. Diare berlanjut. Tuberkulosis, obati sesuai dengan pedoman tuberkulosis.

7. KESIMPULAN
Gizi buruk adalah salah satu penyakit gangguan gizi yang disebabkan rendahnya asupan karbohidrat dan protein dalam makanan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Tatalaksana Kurang Energi-Protein pada Anak di Rumah Sakit Kabupaten/Kodya. Jakarta. 2000; 1-22. 2. Masnjoer A, dkk. Penyakit Gizi Anak. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid II. FKUI. Jakarta. 2000; 512-19. 3. Behrman RE, Voughan VC. Malnutrisi. Dalam: Ilmu Kesehatan Anak-Nelson. Edisi ke-12. Bagian I. EGC. Jakarta. 1993; 298-301. 4. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Defisiensi Gizi. Balam: Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jilid I. FKUI. Jakarta. 1985; 360-66.