Anda di halaman 1dari 4

Konsep Kekuasaan dan Kekerasan menurut Hannah Arendt Kekerasan sepertinya berada di mana-mana.

Dia seolah-olah ada dalam manusia sebagai bagian dari kodrat manusia, menyerap dan merasuki hampir semua aspek kehidupan manusia, mulai dari keluarga sampai negara, bahkan institusi yang lebih besar lagi; mulai dari tawuran antar kampung sampai perang dunia, atau bentuk kekerasan yang halus, sebagaimana disebut oleh Pierre Bourdieu1 sebagai "kekerasan simbolik". Lantas, yang men adi pertanyaan besarnya adalah mengapa kekerasan ini men adi amak ter adi di masyarakat! "anakah yang salah, sistem atau aktor! Kemudian benarkah keterlibatan indi#idu dalam kekerasan karena dorongan pribadi atau karena diposisikan oleh $hal% di luar dirinya! Dalam upaya men awab pertanyaan-pertanyaan tersebut, gagasan &annah 'rendt banyak membantu. (elaah 'rendt yang men)oba menggali relasi antara kekerasan dan kekuasaan negara, dapat di adikan alat analisis untuk membedah menularnya kekerasan negara pada masyarakat. (elaah 'rendt men adi kontekstual bila dikaitkan dengan kerusuhan dan kekerasan di negeri ini. *i))olo "a)hia#elli dalam Il Principle menyatakan hubungan antara kekuasaan negara dengan kekearsan adalah mutlak, dimana kekerasan ber+ungsi sebagai alat untuk mempertahankan posisi kekuasaan seorang penguasa di hadapan rakyat yang dikuasainya. Bagi "a)hia#elli, se auh diguanakan untuk kepentingan penguasa, kekerasan itu adalah legitim., Berdasarkan konsep "a)hia#elli tersebut, kekuasaan dipandang sebagai suatu instrumen aturan yang menghasilkan hubungan hierarkies dan koersi+ antara pengusa dan yang dikuasai. &al ini hanya satu langkah pendek menu u pandangan dominan lain dalam pemikiran politik bahwa kekerasan adalah ekspresi tertinggi atau bahkan merupakan inti dari kekuasaan. Pendapat yang hampir serupa uga dikemukakan seorang +ilsu+ -nggris (homas &obbes. -a berpendapat bahwa kekerasaan merupakan keadaan alamiah manusia .state of nature/. "aka hanya pemerintahan negara yang kuat dan terpusat .Leviatan/ yang bisa mengatasi masalah ini. "anusia adalah makluk yang dikuasai dorongan irasional, anarkitis dan mekanistis; manusia adalah makluk yang saling iri dan ben)i sehingga men adi kasar, ahat, buas, dan berpikiran pendek. "anusia adalah homo homini lupus, serigala bagi sesamanya, dan karena itu menimbulkan perang semua lawan semua .bellum omnium contra omnes/.0 "enurut &obbes, dalam suatu negara, untuk mengendalikan manusia se)ara ob ekti+, tanggung awab moral tidak men adi perhatian utama, yang penting adalah bagaimana membuat takut masyarakatnya. Bagi &obbes, yang paling utama adalah negara haruslah kuat tanpa tanding, sehingga dapat memastikan, memaksakan ketaatan para anggota masyarakat terhadap peraturan yang dibuatnya.1 Di 'bad ke ,2 lalu, seorang +ilsu+ 3erman, &annah 'rendt, melontarkan pandangan sangat menggelitik bahwa sebagai perwu udan dari kekuatan . force/ yang pada prinsipnya hanya
1 2

Pierre Bourdieu, Dominasi Maskulin, 3alasutra, 4ogyakarta, ,212, hlm ,. *i))olo "a)hia#elli, Il Principle, Penerbit *arasi, 4ogyakarta, ,225, hlm ,0-06. 3 "ark (ebbit, Philosophy of Law An introduction, 7outledge, London and *ew 4ork, ,228, hlm 96. 4 :ran; "agnis-<useno, Kuasa dan Moral, 3akarta, =ramedia, 1956, hlm 12.

sebuah instrumen atau sarana untuk men)apai suatu tu uan tertentu, kekerasan . violence/ pada dasarnya tidak bisa legitimate, ia hanya bisa justified di dalam masyarakat. ... iolence can be justifiable! but it will never be le"itimate. Its justification loses in plausibility the farther its intended end recedes into the future.# Kekerasan se)ara moral dan normati+ selalu problematik dan tidak pernah bisa diterima sepenuhnya oleh anggota masyarakat. Kekerasan se)ara alamiah memiliki si+at instrumental. <eperti semua sarana, ia selalu memerlukan arahan dan usti+ikasi melalui tu uan yang dike arnya. Karena si+atnya demikian itu maka kekerasan selamanya tidak akan pernah men adi sumber dan basis kekuasaan. Bahkan sebaliknya, kekerasan ustru merusak dan menghan)urkan kekuasaan karena keduanya mempunyai basis yang berbeda. 'rendt mende+inisikan kekuasaan sebagai kapasitas kapasitas kolekti+ yag mun)ul diantara banyak orang ketika mereka bertindak bersama-sama, kekuasaan itu milik kelompok, dan akan menghilang ketika kelompok tersebut ber)erai-berai. Kekuasaan ter adi diantara manusia ika mereka bertindak bersama. Kekuasaan negara dibangun atas dasar komunikasi dan relasi antara warga negara dimana mereka saling mangakui dan mendekati satu sama lain. <etiap orang tampil sebagai warga negara yang membuka diri terhadap sesamanya sehingga meniadakan perbedaan ras, agama, dan budaya. <etiap orang memang dilahirkan dalam keterbedaan dan kekhasaannya masing-masing, namun karena politik inilah akhirnya mereka disamakan karena mereka saling mendekat dan beker asama untuk hidup bernegara. 6 Dalam ker a sama dan soidaritas ini mereka tidak mengedepankan kepentingan indi#idu melainkan kepentingan bersama demi kebaikan bersama. Dengan demikian yang politis bagi 'rendt, berarti hidup berhubungan dengan orang lain dan beker asama men amin kehidupan bersama dalam sebuah negara.> Kekuasaan dipahami bisa memiliki kesamaan dengan kekerasan, yaitu sebagai dominasi orang terhadap se umlah orang lain, atau ketundukan orang lain terhadap orang lain, dengan )ara kekerasan .misalnya dari "a)hia#elli maupun &obbes/. 'rendt dengan tegas menolak konsepsi tersebut. Kekuasaan, sebagai pemberdayaan kolekti+ yang terbentuk melalui tindakan komunikasi, bisa tanpa kekerasan. <ebaliknya, kekerasan dapat hidup terpisah tanpa kekuasaan, yaitu ketika hanya sebagai kasus kekuatan sangat terbatas sebagai kasus indi#idual. Bahwa 'rendt melihat kekerasan dapat merusak kekuasaan, dan sebaliknya tidak dapat men)iptakannya.5 $Kekerasan selalu merusak kekuasaan; keluar dari laras sen ata tumbuh komando paling e+ekti+, menghasilkan kepatuhan paling sempurna?.apa yang tidak pernah tumbuh darinya adalah kekuasaan% 'pabila sebelumnya menurut "a)hia#elli dan &obbes hubungan antara kekuasaan dengan kekerasan adalah mutlak, 'rendt melihatnya dari sisi yang berbeda, dimana antara kekuasaan dan kekerasan memiliki dimensi yang berbeda .meskipun tidak menyangkal memiliki beberapa persamaan/. Pen abarannya adalah sebagai berikut9@
5 6

&annah 'rendt, $n iolence, &ar)ourt, *ew 4ork, 19>2, hlm 8,. 7ieke Diah Pitaloka, %analitas Kekerasan& 'elaah Pemikiran (annah Arendt tentan" Kekerasan )e"ara , Kokoesan, Depok, ,212, hlm 09. 7 &annah 'rendt, 'he (uman *ondition! Ani#ersity o+ Bhi)ago Press, 1995, hlm ,0-,5 8 &annah 'rendt, $n iolence! $p.*it! hlm 86. 9 7ieke Diah Pitaloka, $p.*it, hlm 16-1>.

1. Kekuasaan berkembang dari tindakan bersama manusia, sehingga ia dapat dilegitimasi. Kekerasan tidak akan pernah dilegitimasi, manun agar kekerasan men adi rasional dan e+ekti+ ia memerlukan pembenaran .justification/. ,. Kekuasaan dan kekerasan saling bertolak belakang, ketika kekuasaan mun)ul maka kekerasan akan hilang, maka ketika suatu pemerintah melakukan kekerasan terhadap rakyatnya ustru disanalah ia kehilangan kekuasaannya .le"itimasi kekuasannya/. 0. Karena kekuasaan merupakan bentukan konsensus, maka ia selalu berpatokan pada umlah, yaitu besarnya persetu uan anggota masyarakat atau pendukungnya. <ebaliknya, kekerasan tidak memerlukan persetu uan, ia ber+okus pada e+ekti#itas implementasinya semata. .Indeed one of the most obvious distinction between power and violence is power always stands in need of numbers! whereas violence up to a point can mana"e without them because it relies on implements/.12 1. <isi ekstrem dari kekuasaan adalah semua pihak melawan satu pihak, sementara kekerasan adalah satu pihak melawan semua pihak .one a"ainst all/.11 Bontoh yang )ukup rele#an yang pernah ter adi di -ndonesia adalah pada masa ke atuhan re;im Crde Baru, dimana saat itu pemerintah .kelompok minoritasD +lite/ mengerahkan segala kekerasan dan instrumennya untuk mempertahankan kekuasaan melawan semua gerakan massa .mayoritas/, sehingga lahirlah tragedi (risakti, dan <emanggi dan --. 'rendt uga berargumen bahwa dalam masyarakat modern abad ,2, kekerasan sering ditemukan sebagai +emonena yang banal, tidak lagi dianggap asing dan sebagai sesuatu yang lumlar dialami setiap orang. <e)ara har+iah, kata $banal% dapat diartikan wa ar, biasa, dan dangkal. Dengan demikian banalitas ke ahatan .banality of evil/, seperti yang di elaskan oleh &annah 'rendt merupakan ke ahatan yang dilakukan dalam skala raksasa, yang tidak dapat ditelusuri pada kegilaan, patologi, atau keyakinan ideologi sang pelaku. Dengan demikian, $biasa% yang dimaksud disini tidak berarti ke ahatan kekerasan yang dilakukan merupakan ke ahatan biasa, tetapi ke ahatan yang dianggap biasa oleh sang pelaku yang dangkal dalam berpikir dan menilai.1, Lantas, apakah yang men adi latar belakang dari banalitas ke ahatan! 'rendt menyebut setidaknya ada tiga latar belakang ter adinya banalitas ke ahatan. Pertama, ke enuhan indi#idu dalam hidup akibat kesepian yang lahir dari modernitas. "asyarakat modern )enderung mengalami atomisasi yang pada akhirnya mudah dimanipulasi. Dengan kesepian yang dialaminya, menyebabkan hilangnya akal sehat. "aka kebenaran yang sesuai dengan kaidah logika men adi sandaran hidupnya, menyebabkan manusia ter)erabut dari realitas. Poin pertama ini memun)ulkan poin kedua, yakni pelarian diri dari masalah akibat ketumpulan nurani dan kedangkalan berpikir, tidak lain karena seseorang tidak berani mengambil keputusan dari nuraninya. Ketiga, banalitas ke ahatan lahir sebagai warisan dari re;im totalitarian.

10 11

&annah 'rendt, $n iolence! $p.*it! hlm 11-1,. Ibid! hlm 1,. 12 7ieke Diah Pitaloka, $p.*it, hlm 11,.

Daftar Pustaka :ran; "agnis-<useno, Kuasa dan Moral, 3akarta, =ramedia, 1956. &annah 'rendt, $n iolence, &ar)ourt, *ew 4ork, 19>2. EEEEEEEEEEEEEEE, 'he (uman *ondition! Ani#ersity o+ Bhi)ago Press, 1995. "ark (ebbit, Philosophy of Law An introduction, 7outledge, London and *ew 4ork, ,228. *i))olo "a)hia#elli, Il Principle, Penerbit *arasi, 4ogyakarta, ,225. Pierre Bourdieu, Dominasi Maskulin, 3alasutra, 4ogyakarta, ,212. 7ieke Diah Pitaloka, %analitas Kekerasan& 'elaah Pemikiran (annah Arendt tentan" Kekerasan )e"ara, Kokoesan, Depok, ,212.