Anda di halaman 1dari 15

PETUNJUK PELAKSANAAN LASBUTAG DAN LATASBUSIR

NO. 006/T/Bt/1998

DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA

DIREKTORAT

BINA

TEKNIK

PRAKATA

Sehubungan dengan pelaksanaan program penanganan jalan secara padat karya guna meningkatkan kesempatan kerja dengan penggunaan material dan peralatan produksi dalam negeri, yang akan dimulai pada tahun anggaran 1998/1999, perlu dikeluarkan buku-buku petunjuk teknis bagi para petugas di lapangan. Buku "Petunjuk Pelaksanaan Lasbutag dan Latasbusir" ini berisi petunjuk teknis praktis pelaksanaan secara sederhana tetapi masih tetap mengacu kepada persyaratanpersyaratan dalam spesifikasi yang berlaku di Direktorat Jenderal Bina Marga. Menyadari akan belum sempurnanya buku ini, pendapat dan saran dari semua pihak terutama pemakai, sangat kami harapkan guna perbaikan dan penyempurnaannya.

Jakarta, Maret 1998 DIREKTUR BINA TEKNIK

Ir. MOHAMAD ANAS ALY

PETUNJUK PELAKSANAAN LASBUTAG DAN LATASBUSIR DAFTAR ISI


Bab I 1.1 1.2 Halaman Pendahuluan ............................................................................1 Latar Belakang .........................................................................1 Asbuton Sebagai Bahan Perkerasan ........................................1

Bab II 2.1 2.2 2.3 2.4 2.4.1 2.4.2 2.4.3 2.5 2.5.1 2.5.2 2.5.3 2.5.4 2.5.5

Prosedur Pelaksanaan .............................................................2 B a h a n ..................................................................................2 P e r a I a t a n ..........................................................................4 Pembuatan Rancangan Campuran (Mix Design) ......................5 Penyiapan Campuran ...............................................................6 Cara Pencampuran ...................................................................7 Produksi Campuran .................................................................9 Pemeraman dan Pengangkutan Campuran ............................9 Pelaksanaan ......................................................................... 10 Pembersihan Perkerasan ...................................................... 10 Penyemprotan Lapis PengikatiLapis Resap Pengikat ............10 Penghamparan ..................................................................... 10 Pemadatan ............................................................................ 11 Pengujian Kualitas ................................................................. 12

ii

Bab I Pendahuluan

1.1. LATAR BELAKANG.


Asbuton adalah salah satu aspal alam yang terdapat di Pulau Buton. Asbuton mempunyai penetrasi relatif rendah yang bercampur dengan mineral kapur yang agak lunak, yang akan pecah menjadi ukuran filler bila terkena beban lalu lintas. Lasbutag / Latasbusir adalah campuran antara Asbuton, Agregat dan bahan peremaja yang diaduk secara dingin. Pemanfaatan Lasbutag untuk perkerasan jalan sangat bermanfaat untuk pemeliharaan maupun untuk pelapisan ulang perkerasan yang ada. Hal ini sejalan dengan kebijaksanaan diversifikasi bahan dan diversifikasi teknologi yang diterapkan Direktorat Jenderal Bina Marga.

1.2. ASBUTON SEBAGAI BAHAN PERKERASAN.


Campuran perkerasan yang menggunakan Asbuton dibagi dua jenis yaitu; Lasbutag (lapis asbuton agregat) yang mempunyai nilai struktur dan Latasbusir (lapis tipis asbuton pasir) yang tidak mempunyai nilai struktur, dan fungsinya setara dengan perkerasan sand sheet. 1.2.1 Funasi a. Sebagai lapis permukan atau lapis aus b. Untuk melindungi lapis dibawahnya dari pengaruh air dan cuaca. c. Menyediakan permukaan jalan yang rata dan kesat (tidak licin) 1.2.2 Sifat-Sifat a. Kedap air b. Kestabilan akhir dipengaruhi oleh akibat pemadatan lalu lintas c. Cukup fleksibel (kenyal)

Bab II Prosedur Pelaksanaan

2.1.Bahan
Bahan yang diperlukan untuk Lasbutag dan Latasbusir adalah : 1. Agregat kasar yang dibuat dari batu pecah atau kerikil pecah atau kerikil alam 2. Agregat halus dapat dibuat dari hasil saringan batu pecah atau pasir alam 3. Asbuton dengan ukuran butir maksimum 12,7 mm 4. Bahan peremaja yang merupakan campuran dari minyak berat (bunker oil), aspal keras dan minyak tanah 5. Filler, umumnya tidak diperlukan filler dalam Lasbutag / Latasbusir karena asbuton mengandung partikel berukuran filler

2.1.1

Persvaratan Bahan

a) Agregat kasar harus terdiri dari bahan yang bersih, keras dan awet yang tidak mengandung kotoran atau bahan-bahan lain yang merugikan. Sebelum digunakan agregat harus diuji di labolatorium yang terdiri dari : - Analisa saringan lihat table (1) - Abrasi maksimum 40% - Pelekatan terhadap aspal minimum 95%

TABLE I Gradasi Agregat Kasar

Ukuran Saringan (mm) 19 12,7 9,5 4,75 0,075

ASTM 3/4" 1/2" 3/8" #4 #200

% Berat yang lolos

100 30 - 100 0-55 0-10 0-1

b)

Agregat Halus Agregat halus harus terdiri atas partikel-partikel yang bersih, tidak mengandung umpalan lempung clan bahan lain yang merugikan sebelum digunakan agregat harus diuji di l aboraturium yang terdiri dari : - Analisa saringan lihat tabel 2 - Sand equivalen

TABLE 2 Gradasi Agregat Halus Ukuran Saringan (mm) ASTM Latasbusir Klas A Lasbutag Latasbusir Klas B

9,50 4,75 2,30 0,600 0,075

.3/8 #4 #8 #30 #200

100 72 - 100 72 - 100 25 - 100 0-8

100 98 - 100 93 - 100 76 - 100 0-8

c). Asbuton Asbuton yang digunakan harus minimal memenuhi gradasi seperti tabel 3. Semakin halus bentuk asbuton akan semakin baik tingkat stabilitas dan makin pendek waktu pemeramannya. Kadar air asbuton pada saat pencampuran diusahakan serendah mungkin dengan maksimum 6% kadar air.

TABEL 3 Gradasi Asbuton


Ukuran Saringan (mm) ASTM % Berat yang lolos

12,7 4,75 0,600

1/2" #4 #30

100 90-100 35-100

Kadar aspal asbuton harus ditentukan dengan metode Extraksi Reflux, dan umumnya kadar aspal asbuton yang dipakai adalah yang mempunyai kadar 20% bitumen. d). Bahan Peremaja. Bahan peremaja dibuat dari campuran antara bunker keras pen 60/70 atau pen 80/100, minyak tanah. dapat ditambah bahan anti stripping. Komposisi bahan peremaja sebagai berikut:

oil (BO), aspal Bila diperlukan

Komposisi Bahan Peremaja Jenis Bahan Peremaja ( % ) Lasbutag Latasbusir A/B 47 37 15 1 44 37 18 1


prosentase Anti

Komponen Banker Oli Aspal semen Minyak Tanah Anti Stripping *)


*)

Bila diperlukan, bila tidak diperlukan maka Stripping ditambahkan pada prosentase aspal keras.

2.2 Peralatan
1. Alat Pencampur Lasbutag dan Latasbusir percampuran dilaksanakan secara dingin, untuk mencapur dapat menggunakan Asphalt Mixing Plan (AMP), alat pengaduk beton atau pan mixer. Apabila dipergugnakan AMP, yang dipergunakan adalah jenis batch tanpa menghidupkan drier. Kapasitas alat pengaduk minimal 200 liter dan mampu menghasilkan campuran yang homogen dan seluruh agregat t erselimuti secara merata. Peralatan Penghamparan Lasbutag dan Latasbusir dapat dihampar dengan alat penghampar mekanis (finisher) atau dihampar secara manual. Alat penghampar mekanis dioperasikan sama seperti pengoperasian campuran aspal panas. Penghamparan secara manual dilakukan dengan menempatkan kasokaso di sisi tempat penghamparan dan diratakan dengan kayu penyipat. Peralatan Pemadat. Alat pemadat yang digunakan untuk dalam pemadatan adalah 1. Tandem Roller ( mesin gilas roda besi ) 2. Tyre Roller ( mesin gilas roda karet )

2.

3.

2.3.Pembuatan Rancanqan Campuran


Perencanaan campuran Lasbutag dan Latasbusir dilakukan dengan cara grafik untuk mendapatkan dan menentukan campuran nominal, dari nilai campuran nominal ini lalu dibuat beberapa variasi campuran dan dievaluasi dengan menggunakan metode Marshall yang dimodifikasi untuk menentukan campuran yang optimum (lihat Petunjuk Pelaksanaan lapis permukaan Perkerasan Jalan dengan Menggunakan Aspal Batu Buton) No. 15/PT/B/1989. Dari pengalaman, proporsi campuran Lasbutag akan terdiri dari perbandingan campuran sebagai berikut (perbandingan dalam berat) Agregat Kasar Agregat halus/pasir Asbuton Modifier 2 0 -3 0 % 45-60% 15-20% 4 - 5%

Cara lain dalam pembuatan Rancangan Campuran dapat dilakukan dengan rumus pendekatan sebagai berikut : Bila didalam spesifikasi telah ditentukan bahwa campuran = 7,2 %, maka prosentase Asbuton dihitung sebagai berikut : X = 46 Kadar bitumen job mix / N Dimana x = prosentase Asbuton dalam campuran N = kadar bitumen dalam Asbuton Sedangkan prosentase Modifier dapat dihitung dengan rumus Y = 0,62 Kadar bitumen job mix Dimana y = prosentase Modifier dalam campuran Sebagai contoh : Bila diketahui Asbuton yang dipakai adalah B20 (kadar bitumen = 20 %) dan kadar bitumen job mix = 7,2 %, maka prosentase Asbuton dan Modifier dapat dihitung sebagai berikut. X = 46 7,2/20 = 16,56 % dibulatkan = 17 Y = 0,62 7,2 = 4,46 % dibulatkan = 4,5 kadar bitumen dalam yang diperlukan dapat

Maka komposisi campuran dalam prosen berat total campuran sebagai berikut Asbuton = 17 Modifier = 4,5 Agregat = (100-17-4,5) % = 78,5 % yang terdiri dari agregat kasar dan agregat halus. Bila agregat kasar 30 % maka agregat halus = 78,5 - 30 % = 47,5 %. Dengan komposisi ini lalu dilakukan evaluasi sifat-sifat campuran dengan cara Marshall, bila hasilnya tidak memenuhi persyaratan spesifikasi maka perlu dilakukan penyesuaian komposisi campuran sampai didapat campuran yang optimal. Cara perencanaan campuran seperti diterangkan diatas adalah, cara pendekatan praktis, sedangkan cara yang lebih baik dan lengkap dapat mengacu kepada tata cara perencanaan campuran seperti tertuang pada Buku spesifikasi Labutag.

2.4. Penyiapan Campuran


a. Penyiapan Bahan Peremaja Bahan Peremaja harus dibuat dengan mencampur minyak berat (bunker oil) yang dipanaskan sampai 105 C dan dimasukkan aspal keras, lalu dipanaskan sampai 150 C. Campuran ini harus diaduk hingga merata. Selanjutnya dimasukkan minyak tanah dan diaduk hingga merata. Contoh Komposisi Modifier Lasbutag Bunker Oli = 47% Aspal Semen = 38% Minyak Tanah = 15% 100% (berat total campuran)

Bila dikehendaki komposisi dalam volume maka perlu koreksi terhadap berat jenis Bunker Oil Aspal keras Minyak tanah = = = U47 1 U38 1,03 U15 0,8 Total = = = = 47 bagian

36,89 bagian 18,75 bagian

102,64 bagian

Maka takaran dalam volume dapat dihitung sebagai berikut : Bunker oli Aspal semen Minyak tanah = = = Total U47 x 100% = 45,8% 102,64 x 100% = 35,9% U36.89 102,64 U18.75 x 100% = 18,3% 102,64 = 100% (dalam volume)

b. Penyiapan Asbuton Asbuton harus disiapkan sehingga lolos saringan 2,7 mm. Bila diperlukan, dapat dilakukan pemecahan atau pengayakan. Kadar air diusahakan maksimum 6 persen. Cara penanganan akan mempengaruhi dari variabilitas dari stokpile dan juga mempengaruhi jumlah asbuton yang dapat digunakan dalam campuran. c. Penyiapan Mineral Agregat Agregat kasar harus disiapkan dalam keadaan kering dengan kadar air maksimum 2% dan agregat harus kadar air maksimum 3%. 2.4.1. Cara Pencampuran Alat yang diperlukan untuk pencampuran adalah dapat berupa - Asphalt Mixing Plant (AMP) - Beton molen / Pan Mixer Dalam pengoperasian AMP tata cara pelaksanaan pencampuran sama seperti untuk pembuatan Hotmix, hanya alat pemanas (drier) tidak difungsikan. Khusus pencampuran dengan beton molen atau pan mixer dengan kapasitas sekurang-kurangnya 200 liter. Pencampuran dapat dilaksanakan dalam perbandingan berat atau dalam volume. Khusus untuk pencampuran dalam volume, maka prosentase masingmasing komponen harus dikonversikan terhadap berat isi masing-masing bahan. Contoh perhitungan konversi dari perbandingan dalam % berat terhadap volume : Contoh Komposisi Lasbutag dalam prosentase total mix (dalam berat) sebagai berikut - Agregat Kasar = 20 % - Pasir = 55,5 % - Asbuton = 20 % - Modifier = U4,5 % Total = 100 %

Untuk konversi terhadap volume, dilakukan pengukuran berat isi masingmasing komponen, umpamanya diketahui berat isi sebagai berikur Berat Isi Agregat Kasar = 1,3 Berat isi Pasir = 1,2 Berat isi Asbuton = 1 Berat isi Modifier = 1 Konversi dalam volume Agregat Kasar = U20 = 15,4 bagian 1,3 Pasir = U5.5 = 46,2 bagian 1,2 Asbuton = U20 = 20 bagian 1 Modifier = 4,5 = 4,5 bagian 1 Total = 86,1 bagian Perhitungan / prosentase dalam volume dihitung sebagai berikut : Agregat Kasar Pasir Asbuton Modifier = 15,4 x 100% 86,1 = 46.2 x 100% 86,1 = 20 x 100% 86,1 = 4,5 x 100% 86,1 = 18 % = 53,7 % = 23,3 % =5%

Total = 100 % (dalam volume) Bila diketahui kapasitas alat pengaduk = 400 liter maka dapat ditakar komposisi campuran sebagai berikut Agregat Kasar Pasir Asbuton Modifier = 18 % x 400 liter = 53,7% x 400 liter = 23,3% x 400 liter = 5 x 400 liter = = = = 72 liter 215 liter 93 liter 20 liter

2.4.2. Produksi Campuran a. Perbandingan bahan campuran harus sesuai dengan rencana campuran (Job Mix)

b. Untuk setiap pengadukan harus dilaksanakan sampai bahan tercampur secara merata yang dapat dilihat dari kerataan (partikel coating) c. Tahapan pelaksanaan pencampuran sebagai berikut - Masukkan semua agregat kasar + agregat halus (diaduk +U 1 menit) - Tambahkan bagian bahan pelunak / modifier dan aduk +U 1 menit - Masukkan asbuton semuanya dan diaduk - Masukkan sisa 1/2 bagian bahan pelunak lalu diaduk sehingga seluruh campuran terlihat merata ( 6 menit) - Campuran siap untuk di peram

2.4.3. Pemeraman dan Pengangkutan Campuran 1. Pemeraman Untuk mencapai stabilitas minimum yang diperlukan campuran Lasbutag / Latasbusir perlu pemeraman selama 3 - 6 hari. Untuk setiap produk harian Lasbutag dan Latasbusir harus ditempatkan dalam satu stockpiling yang terpisah didalam tempat penyimpanan yang kering dan terlindung dan diberi identitas yang jelas tanggal pencampurannya. Ketentuan penyimpanan dilakukan sebagai berikut : a) Pasir tempat penyimpanan timbunan harus keras, mempunyai drainase yang baik serta bebas dari tanaman/bahan organis dan kotoran. b) Tinggi timbunan tidak lebih dari 2,0 meter 2. Pengangkutan Campuran Pengangkutan Campuran Lasbutag / Latasbusir ke lokasi penghamparan dapat dilakukan dengan dumptruck atau truck bak biasa, dan pemuatannya dapat dilakukan dengan loader atau cara manual menggunakan sekop. Bila pengangkutan dan pembongkaran campuran dilakukan dengan manual, perlu diperhatikan jangan sampai terjadi segregasi pada campuran, hal ini dapat diatasi dengan pengadukan ulang campuran di lapangan sebelum dihamparkan.

2.5. Pelaksanaan

2.5.1. Pembersihan Perkerasan Sebelum dilakukan penghamparan Lasbutag / Latasbusir maka permukaan perkerasan yang ada harus dibersihkan dengan sapu, mesin penyapu atau kompresor udara. Semua kotoran dan lapisan yang terkelupas dibuang. Hal ini diperlukan agar lapisan Lasbutag mengikat dengan baik dengan lapisan bawahnya. 2.5.2. Penvempropan Lapis Penqikat / Lapis Resap Pengikat. Setelah pembersihan permukaan, maka perlu penyemprotan lapis resap pengikat atau lapis pengikat yang disemprotkan merata di atas permukaan yang ada sesuai dengan jumlah takaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Bahan Pengikat dapat berupa cut back atau aspal emulsi. Jumlah takaran penyemprotan disesuaikan dengan jenis dan keadaan permukaan yang disemprot, yang biasanya dilakukan percobaan penyemprotan terlebih dahulu untuk menentukan jumlah semprotan yang paling balk hasilnya. Jumlah semprotan akan berkisar antara 0,15 It/m2 s/d 0, 30 It/m2. 2.5.3. Penghamparan 1. 2. 3. 4. Ruas jalan yang akan dilapis dibersihkan dari materrial lepas, atau yang tidak diingini dan dijaga kepadatan dan kerataan permukaannya. sebelum penghamparan dimulai, permukaan jalan diberi lapis perekat (tack coat) atau prime coat. Seluruh peralatan dan tenaga kerja untuk keperluan penghamparan disiapkan di lokasi. Bila penghamparan dilakukan secara manual maka untuk mengatur tebal penghamparan serta sudut kemiringannya, dipakai balok-balok kayu dengan tebal atau tinggi tertentu yang dipaku pada permukaan jalan sehingga kokoh dan berfungsi sebagai pembatas tepi hamparan. Untuk perataan permukaan hamparan, dipergunakan penggaris dari kayu. Penghamparan dengan mesin dilakukan dengan mengatur kecepatan supaya didapat permukaan yang rata. Diusahakan agar penghamparan tidak dilakukan dengan tanggan.

5.

10

2.5.4. Pemadatan Untuk memadatkan permukaan Lasbutag yang balk perlu pemadatan lapisan Lasbutag / Latasbusir yang telah dihamparkan. Penggilasan campuran harus terdiri dari tiga tahap pengoperasian sebagai berikut: 1. Penggilasan awal 2. Penggilasan kedua (lanjutan) 3. Penggilasan Lanjutan a). Pemadatan Penggilasan Awal Pemadatan awal dilakukan dengan alat pemadat tandem roller 6 - 8 ton roda baja sebanyak 2 - 4 lintasan dengan kecepatan 2 - 4 km/jam. Jangan dilakukan penggilasan secara berlebihan, karena akan menyebabkan retak melintang pada lapisan yang dipadatkan tersebut. b). Penggilasan Kedua Pemadatan kedua dilaksanakan setelah selesai pemadatan awal, dengan menggunakan mesin gilas roda karet, sebanyak 20 s/d 30 lintasan dengan kecepatan 5 km/jam. Pemadatan kedua ini relatif lebih banyak dibanding dengan campuran hot mix pada umumnya. Hal ini disebabkan karena campuran Lasbulag masih mengandung bahan pelarut yang mudah menguap dan adanya kadar air dalam campuran. Setelah pengilasan kedua ini Lapisan Lasbutag dapat dilalui oleh lalu lintas dan diusahakan kecepatannya dibatasi. Hal ini dimaksudkan agar permukaan Lasbutag secara bertahap dipadatkan oleh lalu lintas sehingga mendapatkan stabilitas lapisan yang makin meningkat. c). Penggilasan Lanjutan Karena sifat campuran Lasbutag dimana stabilitas akan meningkat apabila mendapat tambahan pemadatan oleh lalu lintas, maka pada jalan yang berlalu lintas rendah dapat dilakukan pemadatan lanjutan dalam jangka waktu dua minggu setelah selesai pemadatan kedua. Penggilasan lanjutan ini dengan menggunakan penggilas roda karet seperti pada penggilasan kedua. Catatan : Untuk setiap tahapan penggilasan, baik pada penggilasan awal, penggilasan kedua dan penggilasan lanjutan, untuk menghindari melekatnya campuran pada permukaan roda penggilas, tidak diperbolehkan membasahi alat pemadat dengan air, tetapi dapat diganti dengan membersihkan permukaan roda penggilas dengan lap yang diberi sedikit bahan pelumas, seperti solar atau oli.

11

2.5.5. Pengendalian Kualitas Pengendalian kualitas hasil pemadatan meliputi kerataan permukaan, ketebalan dan kepadatan hasil pemadatan. Pengendalian pemadatan pada Lasbutag tidak dapat dilakukan dengan core drill, karena umumnya Lasbutag tidak dapat langsung di core drill. Untuk mengatasi hal tersebut maka pengujian kepadatan dilakukan dengan Sand Cone (AASHTO T183). Syarat kepadatan dibandingkan dengan kepadatan laboratorium harus dicapai minimal 97%. Sedangkan kepadatan setelah pemadatan lanjutan, dimana sebagian besar kadar air dan minyak telah menguap, kepadatan harus mencapai 100% terhadap kepadatan laboratorium. Kerataan permukaan setelah pemadatan harus dikontrol dengan mistar penggaris dengan panjang 3 m, kerataan yang dicapai tidak lebih dari 3 mm pada semua titik. Ketebalan dapat diukur bersama-sama pada pembuatan pengujian sand cone dengan mengukur memakai pita ukur pada lobang sand cone tersebut Pengujian dilakukan selang jarak 200m, dan ketebalan harus sesuai dengan tebal rencana.

12