Anda di halaman 1dari 87

BAB I PENDAHULUAN

Fracture pada daerah extremitas atas merupakan fracture yang sering terjadi. Banyak hal yang menyebabkan fracture ini terjadi, antara lain karena kecelakaan ataupun salah posisi saat terjatuh. Trauma yang menyebabkan fracture dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan fracture. Akibat trauma pada tulang bergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya.( ! Fracture pada extremitas atas dapat terjadi disemua kalangan usia, baik yang usia muda maupun yang berusia tua. Adapaun hal yang paling ditakutkan bila terjadi fracture pada extremitas atas adalah adanya kekakuan pada daerah yang mengalami fracture. Ada " hal yang perlu diperhatikan# ( ! pada pasien berusia lanjut, terkadang perlu untuk tidak memperdulikan fracture, tetapi lebih berkonsentrasi pada pengembalian gerakan, ("! apapun jenis cedera itu, dan bagaimanapun cara terapinya, jari$jari tetap harus dilatih untuk melakukan gerakan sejak awal.( !

BAB II ANATOMI EXTREMITAS ATAS

Clavicula dan Scapula

%ambar. Anatomi cla&icula

Humerus 'umerus bersendi dengan scapula pada articulatio humeri serta dengan radius dan ulna pada articulatio cubiti. Bagian proximal dari os humerus mempunyai sebuah caput, yang membentuk sekitar sepertiga kepala sendi dan bersendi dengan fossa glenoidalis. Tepat di bawah caput humeri terdapat collum anatomicum (anatomic neck!. (i bawah collum terdapat tuberculum majus dan minus yang di pisahkan satu sama lain oleh sulcus bicipitalis. )ada pertemuan ujung atas humerus dan corpus humeri terdapat penyempitan disebut collum chirurgicum (surgical neck!. *ekitar pertengahan permukaan lateral corpus humeri terdapat peninggian kasar yang disebut tuberositas deltoidea. (i belakang dan di bawah tuberositas terdapat sulcus spiralis yang ditempati oleh ner&us radialis. Bagian distal dari os humerus mempunyai epicondylus medialis dan lateralis untuk tempat lekat musculi dan ligamentum, capitulum humeri yang bulat bersendi dengan caput radii,
4

dan trochlea humeri yang berbentuk katrol untuk bersendi dengan incisura trochlearis ulnae. (i atas capitullum terdapat fossa radialis, yang menerima caput radii pada saat siku diflexikan. (i anterior, diatas trochlea terdapat fossa coronoidea , yang selama pergerakan yang sama menerima processus coronoideus ulnae. (i posterior, di atas trochlea , terdapat fossa olecrani, yang bertemu dengan olecranon pada waktu sendi siku diextensikan.

%ambar +. ,s humerus

-.A/% FA*01A2 23/%A/ ATA* 1si -uang Fascial Anterior 2engan Atas
5

4.biceps brachii o 0aput longum ,rigo # tuberculum supraglenoidale scapulae 1nsersio # pada bagian posterior tuberositas radii dan aponeurosis bicipitali pada fascia profunda lengan bawah )ersyarafan # n. musculocutaneus Fungsi # supinator lengan bawah, flexor articulatio cubiti o 0aput bre&is ,rigo # processus coracoideus scapulae 1nsersio # pada bagian posterior tuberositas radii dan aponeurosis bicipitali pada fascia profunda lengan bawah )ersyarafan # n. musculocutaneus Fungsi # flexio lengan atas dan juga adductor lemah

4.coracobrachialis ,rigo # processus coracoideus scapulae 1nsersio # permukaan medial corpus humeri )ersyarafan # n. musculocutaneus Fungsi # flexor articulatio cubiti

4.brachialis ,rigo # facies anterior setengah bagian bawah humerus 1nsersio # processus coronoideus ulnae
6

)ersyarafan # n. musculocutaneus Fungsi # flexor articulatio cubiti A.brachialis A.brachialis mulai dari tepi bawah m.teres minor sebagai lanjutan dari a.axillaris. A.brachialis merupakan arteria utama untuk lengan atas. Arteria ini berakhir di depan collum radii dengan bercabang menjadi a.radialis dan a.ulnaris. 0abang$cabang # o -ami musculares untuk ruang anterior lengan atas. o A.nutricia untuk humerus o A.profunda brachii dipercabangkan dari pangkal a.brachialis dan mengkuti perjalanan n.radialis menuju ke sulcus spiralis os.humeri. o A.collateralis ulnaris superior dipercabangkan di pertengahan lengan atas dan mengikuti perjalanan n.ulnaris. o A.collateralis ulnaris inferior dipercabangkan dekat ujung terminal arteria dan ikut membentuk anastomosis di sekitar sendi siku. /.musculocutaneus /. musculocutaneus berasal dari fasciculus lateralis plexus brachialis (05,6,7! di axilla. /er&us ini berjalan turun ke bawah dan lateral, menembus m.coracobrachialis, dan kemudian berjalan ke bawah di antara m.biceps brachii dan m.brachialis. kemudian ner&us ini keluar dari sisi lateral tendo m.biceps dan menembus fascia profunda tepat di atas siku. Akhirnya berjalan ke bawah sisi lateral lengan bawah sebagai n.cutaneus antebrachii lateralis. /.medianus

/.medianus berasal dari fasciculus medialis dan lateralis plexus brachialis di axilla. /er&us ini berjalan turun ke bawah pada sisi lateral a.brachialis. (i pertengahan lengan atas, /er&us ini menyilang a.brachialis kemudian berjalan ke distal di sisi lateral arteria.

/.ulnaris /.ulnaris berasal dari fasciculus medialis plexus brachialis di axilla. /. ulnaris berjalan turun ke bawah di sisi medial a.brachialis sampai di pertengahan lengan atas. (ari situ pada insertio m.coracobrachialis, n.ulnaris menembus septum intermusculare mediale, diikuti oleh a.collateralis ulnaris superior dan masuk di ruang fascial posterior lengan atas8 n.ulnaris berjalan di belakang epicondylus medualis humeri.

/.radialis )ada saat meninggalkan axilla, n.radialis langsung menuju masuk ke ruang fascial posterior lengan atas dan kembali ke ruang anterior tepat di atas epicondylus lateralis humeri.

1si -uang Fascial )osterior 2engan Atas 4.triceps brachii o 0aput longum ,rigo # tuberculum infraglenoidale scapulae 1nsersio # processus olecranii )ersyarafan # n.radialis %erakan # extensor articulatio cubiti o 0aput lateral ,rigo # fascies posterior setengah bagian atas corpus humeri
8

1nsersio # processus olecranii )ersyarafan # n.radialis %erakan # extensor articulatio cubiti o 0aput medial ,rigo # fascies posterior setengah bagian bawah corpus humeri 1nsersio # processus olecranii )ersyarafan # n.radialis %erakan # extensor articulatio cubiti

/.radialis /er&us ini berasal dari fasciculus posterior plexus brachialis di axilla. /.radialis melingkari sisi dorsal lengan atas di dalam sulcus spiralis di antara caput$caput m.triceps brachii. /er&us ini menembus septum intermusculare lateral di atas siku dan melanjutkan diri ke distal menuju fossa cubiti di depan siku, diantara m.brachialis dan m.brachioradialis. (i dalam suclus spiralis, n.radialis berjalan bersama dengan &asa profunda brachii, dan berhubungan langsung dengan corpus humeri. /er&us ini memberikan cabang ke m. triceps brachii caput medial lalu melalui sulcus spiralis di humerus, dimana dia mempersyarafi m. triceps brachii caput lateral. 9etika n.radialis mencapai humerus bagian distal, ner&us ini melewati epidondylus lateral dan melanjutkan diri ke lengan bawah. (i lengan bawah n.radialis bercabang menjadi cabang superficial dan cabang profunda. 0abang superficial berjalan turun di lengan bawah di bawah m.brachioradialis dan akhirnya menembus fascia profunda dekat dorsum manus. 0abang superficial n.radialis memberikan persyarafan sensoris kepada dua per tiga lateral kulit dorsum manus. 0abang profunda menembus m.supinator dan setelahnya dikenal dengan nama ner&us interosseus posterior.
9

/er&us radialis dan cabang$cabangnya memberikan persyarafan motoris kepada # o 4.triceps brachii o 4.anconeus o 4.brachioradialis o 4.extensor carpi radialis longus o 4.extensor carpi radialis bre&is (cabang profunda n.radialis! o 4.supinator (cabang profunda n.radialis! o 4.extensor digitorum (n.posterior interosseus! o 4.extensor digiti minimi (n.posterior interosseus! o 4.extensor carpi ulnaris (n.posterior interosseus! o 4.abductor pollicis longus (n.posterior interosseus! o 4.extensor pollicis bre&is (n.posterior interosseus! o 4.extensor pollicis longus (n.posterior interosseus! o 4.extensor indicis (n.posterior interosseus!

/.ulnaris *etelah menembus septum intermusculare mediale di pertengahan lengan atas, n.ulnaris turun di belakang septum, di posterior tertutup oleh caput medial m.triceps brachii. /er&us ini berjalan bersama dengan &asa collateralis ulnaris superior.

A.profunda brachii Arteria ini dipercabangkan oleh a.brachialis dekat pangkalnya. )embuluh ini berjalan bersama dengan n.radialis di dalam sulcus spiralis dan ikut serta dalam anostomosis di sekitar sendi siku.

10

A.collateralis ulnaris superior dan a.collateralis ulnaris inferior

RE IO ANTEBRACHII Tulang radius dan ulna tidak saja sebagai pelindung lengan atas dan maupun tangan tapi mempunyai fungsi pronasi dan supinasi dengan gerakan radius dan ulna. 9edua tulang lengan bawah dihubungkan oleh -adioulnar joint yang diperkuat oleh ligamentum anulare yang melingkar capitulum radius dan di distal oleh radioulnar joint yang diperkuat oleh ligamentum radioulna yang mengandung fibrocartilago triangularis. 4embrane interosea memperkuat hubungan ini sehingga radius dan ulna merupakan satu kesatuan yang kuat. ,leh karena itu, patah yang hanya mengenai satu tulang agak jarang terjadi atau bila patahnya hanya mengenai satu tulang saja hampir selalu disertai radioulnar joint dislocation yang dekat dengan patah tersebut. *elain itu, radius dan ulna dihubungkan oleh musculus antar tulang yaitu musculus supinator, musculus pronator teres, musculus pronator :uadratus yang membuat gerakan pronasi dan supinasi. 9etiga otot itu bersama dengan otot lain yang berinsersi dengan radius dan ulna menyebabkan patah tulang lengan bawah disertai dislocation angulasi dan rotasi terutama radius. Antebrachii terdiri atas " buah tulang parallel yang berbeda panjang bentuknya8 os radius dan os ulna. (i sebelah proximal membentuk + persendian sedangkan sebelah distal " persendian. Tulang radius, lebih pendek daripada ulna, bentuk lebih melengkung dan bersendi dengan os ulna pada bagian proximal dan distal ;radio$ulnar joint< yang bersifat rotator. Antara kedua tulang ini juga dihubungkan oleh membrane interosseus, suatu jaringan fibrous yang berjalan obli:ue dari ulna ke radius. 4embrane ini berfungsi merotasikan tulang radius terhadap os ulna, yang menghasilkan gerakan pada lengan bawah. 4uskulus di region antebrachii dapat dikelompokkan, muskulus compartmen anterior dan posterior. 0ompartmen anterior diisi oleh muskulus flexor sedangkan compartmen posterior diisi oleh musculus extensor. Beberapa musculus ada yang berperan dominan dalam mempertahankan posisi dan gerakan sendi lengan bawah dan tangan (elbow and wrist joint!. 4uskulus tersebut adalah# /o. Fungsi 4uskulus
11

Flexor elbow " + = 5 6 3xtensor elbow *upinator elbow )ronator elbow Flexor pergelangan tangan 3xtensor pergelangan tangan

m.brachialis, m.biceps, m.brachioradialis m.triceps, m.anconeus m.supinator, m.biceps m.pronator teres, m.pronator :uadrates m.flexor carpi radialis, m.flexor carpi ulnaris m.extensor carpi radialis longus dan bre&is, m.extensor carpi ulnaris

%ambar. ,tot$otot daerah antebrachii

12

%ambar. Tulang pada region antebrachii# os radius dan os ulna Aliran darah region antebrachii merupakan lanjutan dari a.brachialis, yang bercabang menjadi a.radialis dan a.ulnaris setinggi caput os radii. *edangkan persyarafan antebrachii berasal dari + ner&us# n.radialis, n.ulnaris, n.medianus.

PER ELAN AN TAN AN

13

%ambar. >rist bone

%ambar. Tulang 4etacarpal

14

%ambar. Aliran darah dan persyarafan daerah pergelangan tangan

BAB III
15

!RACTURE EXTREMITAS ATAS PADA ORAN

DE"ASA

!rac#ure adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (4ansjoer et al, "???!. Fracture extremitas atas pada orang dewasa dibagi menjadi beberapa jenis fracture tergantung lokasinya.( !

I$

!RACTURE CLA%ICULA

EPIDEMIOLO I 4enurut data epidemiologi pada orang dewasa insiden fracture cla&icula sekitar =? kasus dari ??.??? orang, dengan perbandingan laki$laki perempuan adalah " # . Fracture pada midcla&icula yang paling sering terjadi yaitu sekitar @5A dari semua fracture cla&icula, sementara fracture bagian distal sekitar ?A dan bagian proximal sekitar 5A. ( ! *ekitar "A sampai 5A dari semua jenis fracture merupakan fracture cla&icula. 4enurut American Academy of ,rthopaedic *urgeon, frekuensi fracture cla&icula sekitar obstetric dengan pre&alensi ETIOLO I )enyebab fracture cla&icula biasanya disebabkan oleh trauma pada bahu akibat kecelakaan apakah itu karena jatuh atau kecelakaan kendaraan bermotor, namun kadang dapat juga disebabkan oleh faktor$faktor non traumatic("!. Berikut beberapa penyebab pada fracture cla&icula yaitu #

kasus dari

??? orang dalam satu tahun. Fracture cla&icula juga merupakan kasus trauma pada kasus kasus dari " + kasus kelahiran anak yang hidup.

Fracture cla&icula akibat kecelakaan termasuk kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh dari ketinggian dan yang lainnya. Fracture cla&icula akibat kompresi pada bahu dalam jangka waktu lama, misalnya pada pelajar yang menggunakan tas yang terlalu berat.

16

Fracture cla&icula akibat proses patologik, misalnya pada pasien post radioterapi, keganasan clan lain$lain.

PATO!ISIOLO I Fracture cla&icula pada umumnya mudah untuk dikenali dikarenakan os cla&icula terletak dibawah kulit (subcutaneus! dan tempatnya relatif di depan. 9arena posisinya yang teletak dibawah kulit maka tulang ini sangat rawan sekali untuk terjadi fracture. Fracture cla&icula terjadi akibat dari tekanan yang kuat atau hantaman yang keras ke bahu. 3nergi tinggi yang menekan bahu ataupun pukulan langsung pada tulang akan menyebabkan fracture. Fraktur cla&icula paling sering disebabkan oleh karena mekanisme compressi atau penekanan, paling sering karena suatu kekuatan yang melebihi kekuatan tulang tersebut dimana arahnya dari lateral bahu apakah itu karena jatuh, kecelakaan olahraga, ataupun kecelakaan kendaraan bermotor. )ada daerah tengah tulang cla&icula tidak di perkuat oleh otot ataupun ligament$ligament seperti pada daerah distal dan proximal cla&icula. 0la&icula bagian tengah juga merupakan transition point antara bagian lateral dan bagian medial. 'al ini yang menjelaskan kenapa pada daerah ini paling sering terjadi fraktur dibandingkan daerah distal ataupun proksimal. &LASI!I&ASI'() 9lasifikasi dari fracture cla&icula didasari oleh lokasi fracture pada cla&icula tersebut. Ada tiga lokasi pada cla&icula yang paling sering mengalami fracture yaitu pada bagian midshape cla&icula dimana pada anak$anak berupa greenstick, bagian distal cla&icula dan bagian proximal cla&icula. 4enurut /eer secara umum fracture cla&icula diklasifikasikan menjadi tiga type yaitu # Tipe 1# Fracture mid cla&icula (Fracture B+ tengah cla&ikula! $ $ Fracture pada bagian tengah cla&icula 2okasi yang paling sering terjadi fracture, paling banyak ditemui
17

$ $

Terjadi medial ligament coraco$cla&icula (antara medial dan B+ lateral! 4ekanisme trauma berupa trauma langsung atau tak langsung (dari lateral bahu!

Tipe 11 # Fracture B+ lateral cla&icula $ Fracture cla&icula lateral dan ligament coraco$cla&icula, yang dapat dibagi#
o o o

type # undisplaced jika ligament intak type "# displaced jika ligament coraco$cla&ikula ruptur. type +# fracture yang mengenai sendi akromiocla&icularis.

Tipe 111 # Fracture pada bagian proksimal cla&icula. Fracture yang paling jarang terjadi dari semua jenis fracture cla&icula, insidensnya hanya sekitar 5A.

Fracture pada bagian distal cla&icula. 2okasi tersering kedua mengalami fracture setelah midcla&icula.

18

%ambar. Allman classification( ,"!. Ada beberapa subtype fracture cla&icula bagian distal, menurut /eer ada + yaitu # . Tipe 1 # merupakan fracture dengan kerusakan minimal, dimana ligament tidak mengalami kerusakan. ". Tipe 11# merupakan fracture pada daerah medial ligament coracocla&icular. +. Tipe 111 # merupakan fracture pada daerah distal ligament coracocla&icular dan melibatkan permukaan tulang bagian distal cla&icula pada A0 joint.

19

%ambar. (isplaced fracture of the middle third of the cla&icle C the most common injury( !

%ambar. The fracture usually unites in this position, leaving abarely noticable bump

(1)

DIA NOSIS '*+(+,) e-ala &linis (iagnosis dari fracture cla&icula biasanya didasari dari mekanisme kecelakaan dan lokasi adanya ekimosis, deformitas, ataupun crepitasi. )asien biasanya mengeluh nyeri setelah terjadinya kecelakaan tersebut dan sulit untuk mengangkat lengan atau bahu. Fracture pada bagian tengah cla&icula, pada inspeksi bahu biasanya asimetris, agak jatuh kebawah, lebih kedepan ataupun lebih ke posterior. (iagnosis pasti untuk fracture cla&icula ialah berdasarkan pemeriksaan radiologi. *ecara praktis diagnostik dibuat berdasarkan anamnesis misalnya apakah ada riwayat trauma, dan
20

pemeriksaan fisik bias kita dapatkan pembengkakan daerah cla&icula atau aberasi, diagnosanya akan lebih mudah apabila yang terjadi adalah fracture terbuka. )neumotoraks biasa didapatkan pada pasien dengan fracture cla&icula terutama yang mengalami multiple traumatik, dilaporkan sekitar lebih dari +A dengan fracture cla&icula mengalami pneumotoraks. )neumotoraks diakibatkan masuknya udara pada ruang potensial antara pleura &iseral clan parietal. (islokasi fracture &ertebra torakal juga dapat ditemukan bersama dengan pneumotoraks. 2aserasi paru merupakan penyebab tersering dari pnerumotoraks akibat trauma tumpul. PEMERI&SAAN RADIOLO I a$ !.#. P.l.s Mid clavicula 3&aluasi pada fracture cla&icula yang standar berupa proyeksi anteroposterior (A)! yang dipusatkan pada bagian tengah cla&icula. )encitraan yang dilakukan harus cukup luas untuk bisa menilai juga kedua A0 joint dan *0 joint. Bisa juga digunakan posisi obli:ue dengan arah dan penempatan yang baik. )royeksi A) "?$6?D dengan cephalic terbukti cukup baik karena bisa meminimalisir struktur thorax yang bisa mengganggu pembacaan. 9arena bentuk dari cla&icula yang berbentuk *, maka fracture menunjukkan deformitas multiplanar, yang menyebabkan susahnya menilai dengan menggunakan radiologi biasa. 0T scan, khususnya dengan + dimensi meningkatkan akurasi pembacaan. Medial clavicula dan SC -.in# )royeksi standar untuk menilai *0 joint adalah posteroanterior ()A!, lateral dan obli:ue. Fracture medial cla&icula dan cedera pada *0 joint biasanya sulit dinilai dengan pencitraan yang biasa karena adanya o&erlap cla&icula dengan sternum dan costa pertama. *ebagai catatan penting, ossifikasi sekunder pada bagian proksimal cla&icula tidak akan nampak pada usia sebelum " tahun dan mungkin sampai umur "5 tahun.

21

*ehingga pada gambaran radiograph biasa akan sulit membedakan antara suatu fracture dengan dislokasi pads *0 joint. La#eral clavicula dan AC -.in# )emeriksaan radiologi pada sisi yang mengalami cedera kadang$kadang cukup sulit, namun beberapa pemeriksaan membandingkan penampakan pada daerah cedera tersebut. )royeksi A) pada A0 joint digunakan 5D inclinasi cephalic, sepanjang tulang scapula. /ormal alignment pada sendi dengan proyeksi A) apabila ukuran celah sendi kurang dari 5 mm dan facies bagian bawah akromion dan distal cla&icula tidak terputus$ putus. /$ CT Scan Medial clavicula dan SC -.in# 0T scan memegang peranan yang penting dalam mendiagnosa fracture cla&ikula bagian medial dan cedera pada *0 joint. 0T scan seharusnya digunakan dengan mencakup *0 joint dan secara otomatis setengah dari kedua cla&icula untuk membandingkan satu sisi dengan sisi yang lain. Eika didapatkan ada kelainan pada &ascular, bisa kita nilai dengan menggunakan intra&enous contras. La#eral clavicula dan AC -.in#

0T scan merupakan salah satu alat pencitraan di bidang radiologi yang cukup sensitif dalam menegakkan diagnosa. 0T scan kadang$kadang digunakan untuk mendiagnosa fracture intra$ artikular atau stress fracture pada A0 joint. 4eskipun demikian 0T scan terbatas untuk menilai sekitar jaringan lunak termasuk capsula, ligament dan sendi syno&ial.

PENATALA&SANAAN
22

)enatalaksanaan pada fracture cla&icula ada dua pilihan yaitu dengan tindakan bedah atau operati&e treatment dan tindakan non bedah atau nonoperati&e treatment.( ,",+! Tujuan dari penanganan ini adalah untuk menempatkan ujung$ujung dari patahan tulang supaya satu sama lain saling berdekatan dan untuk menjaga agar mereka tetap menempel sebagaimana mestinya sehingga tidak terjadi deformitas dan proses penyembuhan tulang yang mengalami fracture lebih cepat.( ,"! )roses penyembuhan pada fracture cla&icula memerlukan waktu yang cukup lama. )enanganan non$operati&e dilakukan dengan pemasangan armsling selama 6 minggu. *elama masa ini pasien harus membatasi pergerakan bahu, siku dan tangan. *etelah sembuh, tulang yang mengalami fracture biasanya kuat dan kembali berfungsi. )ada beberapa patah tulang, dilakukan pembidaian untuk membatasi pergerakan atau mobilisasi pada tulang untuk mempercepat penyembuhan("!. )atch tulang lainnya harus benar$benar tidak boleh digerakkan (immobilisasi). 1mobilisasi bisa dilakukan melalui# . )embidaian # benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang. ". )emasangan gips # merupakan bahan kuat yang digunakan di sekitar tulang yang patah. 4odifikasi spica bahu (gips cla&icula! atau balutan berbentuk angka delapan atau strap cla&icula dapat digunakan untuk mereduksi fracture ini, menarik bahu ke belakang, dan mempertahankan dalam posisi ini. Bila dipergunakan strap cla&icula, bagian axilla harus diberi bantalan yang memadai untuk mencegah cedera kompresi terhadap pleksus brakhialis dan arteri axillaris. )eredaran darah dan syaraf kedua lengan harus dipantau. +. )enarikan (traksi) : menggunakan beban untuk menahan sebuah anggota, gerak pada tempatnya. =. Fiksasi internal : dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan (plate! atau batang logam pada pecahan$pecahan tulang atau sering disebut open reduction with internal fixation (,-1F!. 5. Fiksasi eksternal# 1mmobilisasi lengan atau tungkai menyebabkan otot menjadi lemah dan menciut. 9arena itu sebagian besar penderita perlu menjalani terapi fisik.
23

&OMPLI&ASI '*+(+,) 9omplikasi pada fracture cla&icula dapat berupa #

4alunion. 4alunion merupakan suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya, membentuk sudut, atau miring. 9omplikasi seperti ini dapat dicegah dengan melakukan analisis yang cermat sewaktu melakukan reduksi, dan mempertahankan reduksi itu sebaik mungkin terutama pada masa awal periode penyembuhan. %ejala malunion pada cla&icula dapat menyebabkan penderita tidak puas. %ejala sebelum operasi termasuk kelemahan, nyeri, gejala$gejala neurologik, dan munculnya perasaan yang cemas (bahu yang semakin memburuk dengan gejala$gejala lainnya!

/onunion 2ebih umum terjadi pada fraktur yang ditangani dengan cara operasi, khususnya pada studi sebelumnya. *ecara keseluruhan, angka non union yang lebih kurang dari tetapi hasilnya secara fungsional memperlihatkan kepuasan. )enanganan operasi termasuk stabilisasi dan graft tambahan pada tulang memberikan hasil yang memuaskan serta fiksasi dengan plate dan peralatan intermedullary. A hingga yang lebih besar dari ?A, telah dilaporkan. )aling banyak pada fraktur B+ distal

Fracture B+ tengah dengan lebih dari " cm dan fraktur B+ lateral menjadi faktor resiko lebih tinggi nonunion.

9omplikasi neuro&askular, bisa menyebabkan timbulnya trombosis dan pseudoaneurisma pada arteri axillaris dan &ena subcla&ia kemudian bisa menyebabkan timbulnya cerebral emboli. 9erusakan ner&us supracla&icular menyebabkan timbulnya nyeri dinding dada.
24

-efraktur, fracture berulang pada cla&icula yang mengalami fracture sebelumnya. )neumothoraks biasa didapatkan pada pasien dengan fracture cla&icula terutama yang mengalami multiple traumatik, diakibatkan oleh karena robeknya lapisan pleura sehingga masuk udara pada ruang potensial antara pleura &iseral dan parietal.

PRO NOSIS )rognosis jangka pendek dan panjang sedikit banyak bergantung pada berat ringannya trauma yang dialami, bagaimana penanganan yang tepat dan usia penderita. )ada anak prognosis sangat baik karena proses penyembuhan sangat cepat, sementara pada orang dewasa prognosis tergantung dari penanganan, jika penanganan baik maka komplikasi dapat diminimalisir. Fractur cla&icula disertai multiple trauma memberi prognosis yang lebih buruk daripada pognosis fracture cla&icula murni.

II$

!RACTURE SCAPULA

EPIDEMIOLO I )rosentase Fracture scapula terjadi kira$kira A dari semua patah tulang, +A dari cedera bahu, dan 5A dari fracture daerah bahu. *ekitar 5?A dari fracture scapula melibatkan tubuh dan tulang belakang. Fracture leher glenoid merupakan sekitar "5A dari semua fracture, sedangkan fraktur ca&itas glenoidalis (glenoid rim dan fossa! membentuk sekitar ?A dari fracture scapula. )rosessus acromialis dan coracoid mencapai @A dan 7A.(5! ETILO I Fracture scapula dapat biasanya terjadi karena adanya trauma berat. Trauma langsung adalah yang paling sering terjadi, tetapi mekanisme tidak langsung juga dapat bertanggung jawab. *ebuah contoh dari kekuatan tidak langsung adalah jatuh pada lengan terlentang yang mempengaruhi caput humerus yang dapat berdampak pada ca&itas glenoidalis.( ,5!
25

E0ALA &LINIS 9eluhan yang sering dikeluhkan pada pasien dengan fracture scapula adalah kesulitan dalam menggerakkan lengan terutama abduksi bahu dan mungkin didapatkan memar pada scapula atau dinding dada. (ikarenakan dibutuhkan trauma dengan energi tinggi untuk menyebabkan fracture pada scapula, hal ini sering disertai adanya cedera hebat pada dinding dada, &ertebrae, abdomen dan kepala. )emeriksaan neurological dan &ascular penting untuk dilakukan. ( ,",5! AMBARAN RADIOLO IS X1RA2 Fracture scapula sulit untuk ditentukan pada pemeriksaan x$ray polos dikarenakan jaringan lunak disekitarnya. Film dapat memperlihatkan fracture comminuti&e pada badan scapula, atau fracture pada leher scapula dengan fragment luar terdorong ke arah bawah yang dikarenakan berat lengan orang tersebut. 9adang$kadang dapat ditemukan retakan pada acromion atau prosessus coracoideus. 0T *can berguna untuk menunjukkan fracture glenoidalis. &LASI!I&ASI Fracture scapula dapat dibedakan menjadi bermacam$macam berdasarkan anatomisnya, antara lain# fracture badan scapula, fracture fossa glenoidalis, fracture acromion, dan fracture prosessus coracoideus. Fracture daerah leher scapula memiliki tingkat insidensi yang paling tinggi.( ,"!

26

27

PENATALA&SANAAN '*+(+3) Fracture pada badan scapula Terapi operatif biasanya jarang dilakukan. )asien memakai armsling untuk kenyamanan, dan sejak awal melakukan latihan aktif pada bahu, siku dan jari$jari tangan. Fracture intra$articular )ada fracture glenoid type 1, jika terjadi displacement , dapat mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan dari sendi bahu. Eika fragment fracture melibatkan lebih dari B+ dari permukaan glenoid dan terjadi displacement lebih dari 5mm, makan terapi pembedahan disertai fiksasi harus dilakukan. Fracture type 11 yang disertai adanya subluksasi inferior

28

dari caput humerus biasanya membutuhkan dilakukannya ,-1F. Fracture type 111, 1F, F jelas merupakan indikasi dilakukannya operasi. Fracture pada glenoid neck Fracture biasanya bersifat impacted dan permukaan dari glenoid masih utuh(intak!. )enggunaan armsling diperlukan pada fracture ini disertai adanya latihan$latihan guna mencegah kekakuan. Fracture pada acromion Biasanya dilakukan terapi non$operati&e. 'anya fracture acromion Tipe 111, di mana ruang subacromial berkurang, membutuhkan inter&ensi operasi untuk mengembalikan struktur anatomi seperti normal. Fracture pada prosessus coracoideus Fracture pada bagian distal dari ligament coracoacromial tidak menyebabkan displacement yang serius, namun pada proximal ligament biasanya berhubungan dengan acromiocla&icular mungkin memerlukan pengobatan operatif. III$ DE!INISI Fracture humerus adalah hilangnya kontinuitas tulang , tulang rawan sendi, tulang rawan epiphyseal baik yang bersifat total maupun parsial pada tulang humerus. Fracture humerus adalah diskontinuitas atau hilangnya struktur dari tulang humerus (4ansjoer, Arif, "???!. *edangkan menurut *jamsuhidayat ("??=! Fracture humerus adalah fracture pada tulang humerus yang disebabkan oleh benturan atau trauma langsung maupun tidak langsung. " ETIOLO I 9ebanyakan Fracture dapat saja terjadi karena kegagalan tulang humerus menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar, dan tarikan. Trauma dapat bersifat# . 2angsung Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi Fracture pada daerah tekanan. Fracture yang terjadi biasanya bersifat comminuti&e dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.
29
,+

!RACTURE HUMERUS '*+(+,)

". Tidak langsung Trauma tidak langsung terjadi apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah Fracture. Tekanan pada tulang dapat berupa# . Tekanan berputar yang menyebabkan Fracture bersifat obli:ue atau spiral ". Tekanan membengkok yang menyebabkan Fracture trans&ersal +. Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan Fracture impaksi, dislocation =. 0ompressi &ertical yang dapat menyebabkan Fracture comminuti&e atau memecah 5. Trauma karena tarikan pada ligament atau tendon akan menarik sebagian tulang

EPIDEMIOLO I (i Amerika *erikat, fracture diafisis humerus terjadi sebanyak ,"A kasus dari seluruh kejadian fracture, dan fracture proximal humerus terjadi sebanyak 5,7A kasus dari seluruh fracture. *edangkan kejadian fracture distal humerus terjadi sebanyak ?,?57A kasus dari seluruh fracture. >alaupun berdasarkan data tersebut fracture distal humerus merupakan yang paling jarang terjadi, tetapi telah terjadi peningkatan jumlah kasus, terutama pada wanita tua dengan osteoporosis. Fracture proximal humerus sering terjadi pada usia dewasa tua dengan umur rata$rata 6=,5 tahun, sedangkan fracture proximal humerus merupakan fracture ketiga yang paling sering terjadi setelah fracture pel&is dan fracture distal radius. fracture diafisis humerus lebih sering pada usia yang sedikit lebih muda yaitu pada usia rata$rata 5=,@ tahun.( ! &LASI!I&ASI Fracture humerus dapat diklasifikasikan sebagai berikut# . Fracture )roximal 'umerus ". Fracture Shaft 'umerus +. Fracture (istal 'umerus

30

*$ !rac#ure Pr.4imal Humerus )ada Fracture jenis ini, insidensinya meningkat pada usia yg lebih tua yang terkait dengan osteoporosis. )erbandingan wanita dan pria adalah "# . 4ekanisme trauma pada orang dewasa tua biasa dihubungkan dengan kerapuhan tulang (osteoporosis!. )ada pasien dewasa muda, Fracture ini dapat terjadi karena high-energy trauma, contohnya kecelakaan lalu lintas sepeda motor. 4ekanisme yang jarang terjadi antara lain peningkatan abduksi bahu, trauma langsung, kejang, proses patologis# malignancy. %ejala klinis pada fracture ini adalah nyeri, bengkak, nyeri tekan, nyeri pada saat digerakkan, dan dapat teraba crepitasi. 3kimosis dapat terlihat dinding dada dan pinggang setelah terjadi cedera. 'al ini harus dibedakan dengan cedera thorax. 4enurut Neer, proximal humerus dibentuk oleh = segmen tulang# . 0aput humerus ". Tuberculum mayor +. Tuberculum minor =. (iafisis atau shaft 9lasifikasi menurut Neer antara lain(",+!# . !ne-part fracture # tidak ada pergeseran fragmen, namun terlihat garis fracture ". "wo-part fracture # anatomic neck surgical neck Tuberculum mayor Tuberculum minor

+. "hree-part fracture : Surgical neck dengan tuberculum mayor Surgical neck dengan tuberculum minus

=. Four-part fracture 5. Fracture-dislocation 6. #rticular surface fracture


31

I MINIMAL DISPLACEMENT 2 PART 3 PART 4 PART

II ANATOMICAL NECK

III SURGICALL NECK

IV GREATER TUBEROSITY

V LESSER TUBEROSITY ARTICULAR SURFACE

VI FRACTURE DISLOCATION

A P

32

($ !rac#ure Shaft Humerus Fracture ini adalah fracture yang sering terjadi. 6?A kasus adalah fracture sepertiga tengah diafisis, +?A fracture sepertiga proximal diafisis dan ?A sepertiga distal diafisis. 4ekanisme terjadinya trauma dapat secara langsung maupun tidak langsung. %ejala klinis pada jenis fracture ini adalah nyeri, bengkak, deformitas, dan dapat terjadi pemendekan tulang pada tangan yang Fracture. )emeriksaan neuro&ascular adalah penting dengan memperhatikan fungsi ner&us radialis. )ada kasus yang sangat bengkak, pemeriksaan neuro&ascular serial diindikasikan untuk mengenali tanda$tanda dari 0ompartement syndrome. )ada pemeriksaan fisik terdapat crepitasi pada manipulasi lembut. (eskripsi klasifikasi Fracture shaft humerus # a. Fracture terbuka atau tertutup b. 2okasi # sepertiga proximal, sepertiga tengah, sepertiga distal c. (erajat # dengan pergeseran atau tanpa pergeseran d. 9arakter # trans&ersal, obli:ue, spiral, segmental, comminuti&e e. 9ondisi intrinsik dari tulang f. 3xtensi articular

,$ !rac#ure Dis#al Humerus Fracture ini jarang terjadi pada dewasa. 9ejadiannya hanya sekitar "A untuk semua kejadian fracture dan hanya sepertiga bagian dari seluruh kejadian fracture humerus. 4ekanisme cedera untuk fracture ini dapat terjadi karena trauma langsung atau trauma tidak langsung. Trauma langsung contohnya adalah apabila terjatuh atau terpeleset dengan posisi siku tangan menopang tubuh atau bisa juga karena siku tangan terbentur atau dipukul benda tumpul. Trauma tidak langsung apabila jatuh dalam posisi tangan menopang tubuh namun posisi siku dalam posisi tetap lurus. 'al ini biasa terjadi pada orang dewasa usia pertengahan atau wanita usia tua. %ejala klinis dari fracture ini antara lain pada daerah siku dapat terlihat bengkak, kemerahan, nyeri, kaku sendi dan biasanya pasien akan mengeluhkan siku lengannya seperti

33

akan lepas. 9emudian dari perabaan (palpasi! terdapat nyeri tekan, crepitasi, dan neuro&ascular dalam batas normal. a$ !rac#ure Suprac.nd5lar Humeri Fracture supracondylus merupakan salah satu jenis fracture yang mengenai daerah siku, dan sering ditemukan pada anak$anak. Fracture supracondylus adalah fracture yang mengenai humerus bagian distal di atas kedua condylus. )ada fracture jenis ini dapat dibedakan menjadi Fracture supracondylus extension type (pergeseran posterior! dan flexion type (pergeseran anterior! berdasarkan pada bergesernya fragmen distal dari humerus. Eenis flexi adalah jenis yang jarang terjadi. Eenis extensi terjadi karena trauma langsung pada humerus distal melalui benturan pada siku dan lengan bawah dalam posisi supinasi dan dengan siku dalam posisi extensi dengan tangan yang terfiksasi. Fragmen distal humerus akan terdislocation ke arah posterior terhadap humerus. Fracture humerus supracondylar jenis flexi pada anak biasanya terjadi akibat jatuh pada telapak tangan dan lengan bawah dalam posisi pronasi dan siku dalam posisi sedikit flexi. )ada pemeriksaan klinis didapati siku yang bengkak dengan sudut jinjing yang berubah. (idapati tanda Fracture dan pada foto rontgen didapati Fracture humerus supracondylar dengan fragmen distal yang terdislocation ke posterior. %ambaran klinis, setelah jatuh anak merasa nyeri dan siku mengalami pembengkakan, deformitas pada siku biasanya jelas serta kontur tulang abnormal. /adi perlu diraba dan sirkulasi perlu diperiksa, serta tangan harus diperiksa untuk mencari ada tidaknya bukti cedera /er&us dan gangguan &askularisasi, sehingga bila tidak diterapi secara cepat dapat terjadi# Gacute &olksman ischaemicG dengan tanda$tanda# pulseless$ pale$ pain$ paresis$ paralysis. )ada lesi /er&us radialis didapati ketidakmampuan untuk extensi ibu jari dan extensi jari lain pada sendi metacarpofalangeal. Euga didapati gangguan sensorik pada bagian dorsal serta metacarpal 1. )ada lesi /er&us ulnaris didapati ketidakmampuan untuk melakukan gerakan abduksi dan adduksi jari. %angguan sensorik didapati pada bagian &olar jari F. )ada lesi /er&us medianus didapati ketidakmampuan untuk gerakan oposisi ibu jari dengan jari lain. *ering didapati lesi pada sebagian /er&us medianus, yaitu lesi pada cabangnya yang
34

disebut /er&us interoseus anterior. (i sini didapati ketidakmampuan jari 1 dan 11 untuk melakukan flexi.

a$ Pada De6asa Fracture supracondylus extension type 4enunjukkan cedera yang luas, dan biasanya akibat jatuh pada tangan pasca extensi. 'umerus patah tepat di atas condylus. Fragmen distal terdesak ke belakang lengan bawah (biasanya dalam posisi pronasi! terpuntir ke dalam. .jung fragmen proximal yang bergerigi mengenai jaringan lunak bagian anterior, kadang mengenai arteri brachialis atau n. medianus. )eriosteum posterior utuh,sedangkan periosteum anterior ruptur8 terjadi hematom fossa cubiti dalam jumlah yang signifikan. Fracture supracondylus flexion type Type flexi terjadi bila penderita jatuh dan terjadi trauma langsung pada sendi siku pada distal humeri. /$ !rac#ure Transc.nd5lar Humeri Biasanya terjadi pada pasien usia tua dengan tulang osteopenik.

c$ !rac#ure In#erc.nd5lar Humeri )ada dewasa, jenis Fracture ini adalah type paling sering diantara type Fracture humerus distal yang lain. 9lasifikasi menurut %iseborough and %adin# $ $ $ $ Type 1 # Fracture tanpa adanya pergeseran dan hanya ada berupa garis Fracture Type 11 # terjadi sedikit pergeseran dengan tidak ada rotasi antara fragmen condylus Type 111 # pergeseran dengan rotasi Type 1F # Fracture comminuti&e berat dari permukaan articular

($ &.ndiler !rac#ure a$ Pada De6asa (apat dibagi menjadi Fracture condylus medial dan Fracture condylus lateral. 9lasifikasi menurut &ilch #
35

Type 1 # penonjolan lateral trokhlea utuh,tidak terjadi dislocation radius dan ulna Type 11 # terjadi dislocation radius ulna, kerusakan capsuloligamen

9lasifikasi &ilch( ,"! : a. Type 1 # garis Fracture membelah dari lateral ke trokhlea melaluicelah

capitulotrokhlear. 'al ini timbul pada fracture shelter$harris tipe 1F. *iku stabil dikarenakan trokhlea intak. b. Type 11 # garis Fracture meluas sampai apex dari trokhlea. 1ni timbul pada Fracture stabil oleh karena ada kerusakan pada trokhlea.

salter$harris type 11. *iku tidak 9lasifikasi 'acob# *tage 1 *tage 11 *tage 111

# Fracture tanpa pergeseran dengan permukaan articular # # Fracture dengan pergeseran sedang pergeseran dan dislocation komplit dan instabilitas siku

1ntak

Medial C.nd5ler P75seal !rac#ures Fracture jenis ini biasanya terjadi pada umur @ sampai = tahun. 9lasifikasi &ilch: a. Type 1 # garis Fracture melewati sepanjang apex dari trokhlea. 'al ini

timbul pada Fracture salter$harris type 11. b. Type 11 # garis Fracture melewati celah capitulotrokhlear.

9lasifikasi kilfoyle : *tage 1 # tidak ada pergeseran, permukaan articular intak


36

*tage 11 *tage 111

# #

garis Fracture komplit dengan pergeseran yang minimal pergeseran komplit dengan rotasi fragmen dari penarikan otot flexor

G!"#!$ 3% S!&'($ )!$$*+ ,$!-'.$( DIA NOSIS Anamnesis Anamnesis terdiri dari# . #uto anamnesis# (icatat tanggal saat melakukan anamnesis dari dan oleh siapa. (itanyakan persoalan# mengapa datang, untuk apa dan kapan dikeluhkan8 penderita bercerita tentang keluhan sejak
37

awal dan apa yang dirasakan sebagai kelainan8 bagian apa dari anggotanyaBlokalisasi perlu dipertegas sebab ada pengertian yang berbeda misalnya ;H sakit di tangan H.<, yang dimaksud tangan oleh orang awam adalah anggota gerak atas dan karenanya tanyakan bagian mana yang dimaksud, mungkin saja lengan bawahnya. 9emudian ditanyakan gejala suatu penyakit atau beberapa penyakit atau beberapa penyakit yang serupa sebagai pembanding. .ntuk dapat melakukan anamnesis demikian perlu pengetahuan tentang penyakit. Ada beberapa hal yang menyebabkan penderita datang untuk minta pertolongan# ! *akitBnyeri *ifat dari sakitBnyeri# 1 1 1 1 1 1 1 2okasi setempatBmeluasBmenjalar Ada trauma riwayat trauma atau tidak *ejak kapan dan apa sudah mendapat pertolongan Bagaimana sifatnya# pegalBseperti ditusuk$tusukBrasa panasBditarik$tarik, terus$ menerus atau hanya waktu bergerakBistirahat dan seterusnya Apa yang memperberatBmengurangi nyeri /yeri sepanjang waktu atau pada malam hari Apakah keluhan ini untuk pertama kali atau sering hilang timbul

"! 9elainan bentukBpembengkokan 1 1 AngulasiBrotasiBdiscrepancy (pemendekanBselisih panjang! Benjolan atau karena ada pembengkakan

+! 9ekakuanBkelemahan 9ekakuan# )ada umumnya mengenai persendian. Apakah hanya kaku, atau disertai nyeri, sehingga pergerakan tergangguI 9elemahan# Apakah yang dimaksud instability atau kekakuan otot menurunBmelemahBkelumpuhan

38

(ari hasil anamnesis baik secara aktif oleh penderita maupun pasif (ditanya oleh pemeriksa8 yang tentunya atas dasar pengetahuan mengenai gejala penyakit! dipikirkan kemungkinan yang diderita oleh pasien, sehingga apa yang didapat pada anamnesis dapat dicocokkan pada pemeriksaan fisik kemudian. ". #llo anamnesis# )ada dasarnya sama dengan auto anamnesis, bedanya yang menceritakan adalah orang lain. 'al ini penting bila kita berhadapan dengan anak kecilBbayi atau orang tua yang sudah mulai dementia atau penderita yang tidak sadarBsakit jiwa8 oleh karena itu perlu dicatat siapa yang memberikan allo anamnesis, misalnya# 1 1 1 allo anamnesis mengenai bayi tentunya dari ibu lebih cocok daripada ayahnya atau mungkin pada saat ini karena kesibukan orangtua, maka pembantu rumah tangga dapat memberikan keterangan yang lebih baik juga pada kecelakaan mungkin saksi dengan pengantar dapat memberikan keterangan yang lebih baik, terutama bila yang diantar tidak sadarkan diri.

Pemeri8saan !isi8 (ibagi menjadi dua yaitu ( ! pemeriksaan umum (status generalisata! untuk mendapatkan gambaran umum dan ("! pemeriksaan setempat (status lokalis!. %ambaran umum# )erlu menyebutkan# a. 9eadaan .mum (9..!# baikBburuk, yang dicatat adalah tanda$tanda &ital yaitu# 1 1 1 9esadaran penderita8 apatis, sopor, koma, gelisah 9esakitan Tanda &ital seperti tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu

b. 9emudian secara sistematik diperiksa dari kepala, leher, dada (thorax!, perut (abdomen# hepar, lien! kelenjar getah bening, serta kelamin c. 3xtremitas atas dan bawah serta punggung (tulang belakang!
39

)emeriksaan lokal# 'arus dipertimbangkan keadaan proximal serta bagian distal dari anggota terutama mengenai status neuro &ascular. )ada pemeriksaan orthopaediBmuskuloskeletal yang penting adalah# a. (ook (inspeksi! 1 1 1 1 1 Bandingkan dengan bagian yang sehat )erhatikan posisi anggota gerak Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan Fracture tertutup atau terbuka 3xtra&asasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari )erhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan pemendekan

b. Feel (palpasi! )ada waktu mau meraba, terlebih dulu posisi penderita diperbaiki agar dimulai dari posisi netralBposisi anatomi. )ada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik si pemeriksa maupun si pasien, karena itu perlu selalu diperhatikan wajah si pasien atau menanyakan perasaan si pasien. 'al$hal yang perlu diperhatikan# 1 1 1 1 Temperatur setempat yang meningkat /yeri tekan, nyeri tekan yang bersifat superficial biasanya disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fracture pada tulang 0repitasi )emeriksaan &ascular pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena. %efilling (pengisian! arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal daerah trauma, temperatur kulit. 1 )engukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai c. &o)e (pergerakan terutama mengenai lingkup gerak!

40

*etelah memeriksa feel pemeriksaan diteruskan dengan menggerakkan anggota gerak dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. )encatatan lingkup gerak ini perlu, agar kita dapat berkomunikasi dengan sejawat lain dan e&aluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Apabila terdapat Fracture tentunya akan terdapat gerakan abnormal di daerah Fracture (kecuali pada incomplete fracture!. %erakan sendi dicatat dengan ukuran derajat gerakan dari setiap arah pergerakan mulai dari titik ? (posisi netral! atau dengan ukuran metrik. )encatatan ini penting untuk mengetahui apakah ada gangguan gerak. 9ekakuan sendi disebut ankylosis dan hal ini dapat disebabkan oleh faktor intra articular atau extra articular. 1 1 1ntra articular# 9elainanBkerusakan dari tulang rawan yang menyebabkan kerusakan tulang subcondral8 juga didapat oleh karena kelainan ligament dan capsul sendi 3xtra articular# oleh karena otot atau kulit

)ergerakan yang perlu dilihat adalah gerakan aktif (penderita sendiri disuruh menggerakkan! dan pasif (dilakukan oleh pemeriksa!. *elain pemeriksaan penting untuk mengetahui gangguan gerak, hal ini juga penting untuk melihat kemajuanBkemunduran pengobatan. *elain diperiksa pada posisi duduk dan berbaring juga perlu dilihat waktu berdiri dan jalan. Ealan perlu dinilai untuk mengetahui apakah pincang disebabkan karena instability, nyeri, discrepancy, fixed deformity. Anggota gerak atas# 1 *endi bahu# merupakan sendi yang bergerak seperti bumi ( global *oint!8 ada beberapa sendi yang mempengaruhi gerak sendi bahu yaitu# gerak tulang belakang, gerak sendi sternocla&ikula, gerak sendi akromiocla&ikula, gerak sendi gleno humeral, gerak sendi scapulotorakal (floating *oint!. 9arena gerakan tersebut sukar diisolasi satu persatu, maka sebaiknya gerakan diperiksa bersamaan kanan dan kiri8 pemeriksa berdiri di belakang pasien, kecuali untuk exorotasi atau bila penderita berbaring, maka pemeriksa ada di samping pasien. 1 *endi siku# %erak flexi extensi adalah gerakan ulna humeral (olecranon terhadap humerus!. %erak pronasi dan supinasi adalah gerakan dari antebrachii dan memiliki sumbu ulna8 hal ini diperiksa pada posisi siku J?K untuk menghindari gerak rotasi dari sendi bahu.
41

*endi pergelangan tangan# )ada dasarnya merupakan gerak dari radio carpalia dan posisi netral adalah pada posisi pronasi, dimana jari tengah merupakan sumbu dari antebrachii. (iperiksa gerakan extensi$flexi dan juga radial dan ulnar de&iasi.

Eari tangan# 1bu jari merupakan bagian yang penting karena mempunyai gerakan aposisi terhadap jari$jari lainnya selain abduksi dan adduksi, extensi, dan flexi. Eari$jari lainnya hampir sama, 40) (&eta +arpal ,halangeal 'oint! merupakan sendi pelana dan de&iasi radial atau ulnar dicatat tersendiri, sedangkan )1) ( ,roximal -nter ,halanx! dan (1) (.istal -nter ,halanx! hanya diukur flexi dan extensi.

PEMERI&SAAN RADIOLO IS'*) (engan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya Fracture. >alaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta extensi Fracture. .ntuk menghindarkan nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya, maka sebaiknya kita mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis. )emeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip dua# . (ua posisi proyeksi8 dilakukan sekurang$kurangnya yaitu pada antero$posterior dan lateral ". (ua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, di proximal dan distal sendi yang mengalami Fracture +. (ua anggota gerak. )ada anak$anak sebaiknya dilakukan foto pada kedua anggota gerak terutama pada Fracture epiphysis =. (ua trauma, pada trauma yang hebat sering menyebabkan Fracture pada dua daerah tulang. 4isalnya pada Fracture calcaneus atau femur, maka perlu dilakukan foto pada pel&is dan &ertebra 5. (ua kali dilakukan foto. )ada Fracture tertentu misalnya Fracture os scafoid foto pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan foto berikutnya ?$ = hari kemudian.

42

.mumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis Fracture, tetapi perlu dinyatakan apakah Fracture terbukaBtertutup, tulang mana yang terkena dan lokalisasinya, apakah sendi juga mengalami Fracture serta bentuk Fracture itu sendiri. PEMERI&SAAN LABORATORIUM )emeriksaan laboratorium meliputi# . )emeriksaan darah rutin untuk mengetahui keadaan umum ". Atas indikasi tertentu# diperlukan pemeriksaan kimia darah, reaksi imunologi, fungsi hatiBginjal +. )emeriksaan mikroorganisme culture dan sensiti)ity test PENATALA&SANAAN )enatalaksanaan secara umum# . Bila terjadi trauma, dilakukan primary sur)ey terlebih dahulu. ". *ebelum penderita diangkut, pasang bidai untuk mengurangi nyeri, mencegah (bertambahnya! kerusakan jaringan lunak dan makin buruknya kedudukan Fracture. Bila tidak terdapat bahan untuk bidai, maka bila lesi di anggota gerak bagian atas untuk sementara anggota yang sakit dibebatkan ke badan penderita )ilihan adalah terapi konser&atif atau operatif. )ilihan harus mengingat tujuan pengobatan Fracture yaitu mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin. . Fracture proximal humeri )ada Fracture impaksi tidak diperlukan tindakan reposisi. 2engan yang cedera diistirahatkan dengan memakai armsling selama 6 minggu. *elama waktu itu penderita dilatih untuk menggerakkan sendi bahu berputar sambil membongkokkan badan meniru gerakan bandul (pendulum exercise!. 'al ini dimaksudkan untuk mencegah kekakuan sendi. )ada penderita dewasa bila terjadi dislocation abduksi dilakukan reposisi dan dimobilisasi dengan gips spica, posisi lengan dalam abduksi (shoulder spica!. ". Fracture shaft humeri

43

)ada Fracture humerus dengan garis patah trans&ersal, apabila terjadi dislocation kedua fragmennya dapat dilakukan reposisi tertutup dalam narkose. Bila kedudukan sudah cukup baik, dilakukan imobilisasi dengan gips berupa . slab (sugar tong splint!. 1mmobilisasi dipertahankan selama 6 minggu. Teknik pemasangan gips yang lain yaitu dengan hanging cast. /anging cast terutama dipakai pada penderita yang dapat berjalan dengan posisi fragmen distal dan proximal terjadi contractionum (pemendekan!. Apabila pada Fracture humerus ini disertai komplikasi cedera n.-adialis, harus dilakukan open reduksi dan internal fiksasi dengan plate-screw untuk humerus disertai eksplorasi n. -adialis. Bila ditemukan n. -adialis putus (neurotmesis! dilakukan penyambungan kembali dengan teknik bedah mikro. 9alau ditemukan hanya neuropraksia atau aksonotmesis cukup dengan konser&atif akan baik kembali dalam waktu beberapa minggu hingga + bulan. +. Fracture supracondylar humeri 9alau pembengkakan tak hebat dapat dilakukan reposisi dalam narkose umum. *etelah tereposisi, posisi siku dibuat flexi diteruskan sampai a.-adialis mulai tak teraba. 9emudian diextensi siku sedikit untuk memastikan a.-adialis teraba lagi. (alam posisi flexi maksimal ini dilakukan imobilisasi dengan gips spal. )osisi flexi maksimal dipindahkan karena penting untuk menegangkan 4. trisep brachii yang berfungsi sebagai internal splint. 9alau dalam pengontrolan dengan radiologi hasilnya sangat baik gips dapat dipertahankan dalam waktu +$6 minggu. 9alau dalam pengontrolan pasca reposisi ditemukan tanda FolkmannLs iskaemik secepatnya posisi siku diletakkan dalam extensi, untuk immobilisasinya diganti dengan skin traksi dengan sistem (unlop. )ada penderita dewasa kebanyakan patah di daerah supracondylar garis patahnya berbentuk T atau M, yang membelah sendi untuk menanggulangi hal ini lebih baik dilakukan tindakan operasi dengan pemasangan internal fiksasi. =. Fracture transcondylar humeri Terapi konser&atif diindikasikan pada Fracture dengan dislocation minimal atau tanpa dislocation. Tindakan yang paling baik dengan melakukan operasi reposisi terbuka dan dipasang fiksasi interna dengan plate-screw.

44

5. Fracture intercondylar humeri Bila dilakukan tindakan konser&atif berupa reposisi dengan immobilisasi dengan gips sirkuler akan timbul komplikasi berupa kekakuan sendi (ankilosis!. .ntuk mengatasi hal tersebut dilakukan tindakan operasi reduksi dengan pemasangan internal fiksasi dengan plate-screw. 6. Fracture condylus lateral N medial humeri 9alau Fracturenya tertutup dapat dicoba dulu dengan melakukan reposisi tertutup, kemudian dilakukan imbolisasi dengan gips circular. Bila hasilnya kurang baik, perlu dilakukan tindakan operasi reposisi terbuka dan dipasang fiksasi interna dengan plate-screw. 9alau lukanya terbuka dilakukan debridement dan dilakukan fiksasi luar. &OMPLI&ASI Adapun komplikasi yang dapat terjadi# . 9ekakuan sendi bahu (ankylosis!. 2esi pada n.*irkumflexi aksilaris menyebabkan paralisis m.(eltoid. ". Apabila pada Fracture medial humerus disertai komplikasi cedera n.-adialis, harus dilakukan operasi reduksi dan internal fiksasi dengan plate screw untuk humerus disertai explorasi n.-adialis. +. 0ompartement syndrome yang biasa disebut dalam 5 ) ( ,ain ,allor ,ulselesness ,araesthesia ,aralysis!, terjepitnya a. Brakhialis yang akan menyebabkan nekrosis otot$otot dan /er&us. =. 4al union cubiti &arus (carrying angle berubah! dimana siku berbentuk ,, secara fungsi baik, tapi cosmetic kurang baik. )erlu dilakukan koreksi dengan operasi meluruskan siku dengan teknik French osteotomy. !RACTURE DAERAH ANTEBRACHII'*+() A$ !rac#ure C.lles DE!INISI

45

Fracture 0olles adalah Fracture ,s -adius B+ (istal dimana garis fracture$nya maximal inchi dari -adio 0arpal Eoint dan Fragmen (istalnya (isplacement ke Arah (istal. EPIDEMIOLO I Fracture distal radius terutama OFracture 0ollesL lebih sering ditemukan pada wanita, dan jarang ditemui sebelum umur 5? tahun. *ecara umum insidennya kira$kira @ C 5A dari seluruh Fracture dan diterapi di ruang gawat darurat. (ari suatu sur&ey epidemiologi yang dilakukan di *wedia, didapatkan angka 7=,5A dari seluruh Fracture pada lengan bawah merupakan Fracture distal radius. .mur di atas 5? tahun pria dan wanita berbanding 5. *ebelum umur 5? tahun, insiden pada pria dan wanita lebih kurang sama di mana Fracture 0olles lebih kurang 6?A dari seluruh Fracture radius. *isi kanan lebih sering dari sisi kiri. Angka kejadian rata$rata pertahun ?,J@A. .sia terbanyak dikenai adalah antara umur 5? C 5J tahun.( ,",@!

ETIOLO I DAN !A&TOR RESI&O'*+9) usia lanjut postmenopause massa otot rendah osteoporosis kurang giPi olahraga seperti sepakbola dll akti&itas seperti skating, skateboarding atau bike riding kekerasan A0- (albumin$creatinin ratio! yang tinggi efek ini kemungkinan disebabkan oleh gangguan

sekresi ,"5$dihidroksi&itamin (, yang menyebabkan malabsoprsi kalsium.


46

&LASI!I&ASI'*+() Ada banyak sistem klasifikasi yang digunakan pada Fracture extensi dari radius distal. /amun yang paling sering digunakan adalah sistem klasifikasi oleh Frykman. Berdasarkan sistem ini maka Fracture 0olles dibedakan menjadi = type berikut #

Type 1A Type 1B Type 11A Type 11B

# Fracture radius ekstra articular # Fracture radius dan ulna ekstra articular # Fracture radius distal yang mengenai radiocarpal joint # Fracture radius distal dan ulna yang mengenai radiocarpal joint

Type 111A # Fracture radius distal yang mengenai radioulnar joint Type 111B # Fracture radius distal dan ulna yang mengenai radioulnar joint Type 1FA # Fracture radius distal yang mengenai radiocarpal joint dan radioulnar joint Type 1FB # sendi radioulnar Fracture radius distal dan ulna yang mengenai radiocarpal joint dan

47

%ambar. sistem klasifikasi oleh Frykman '*) PATO ENESIS .mumnya Fracture distal radius terutama Fracture 0olles dapat timbul setelah penderita terjatuh dengan tangan posisi meyangga badan. )ada saat terjatuh sebagian energi yang timbul diserap oleh soft tissue dan wrist joint kemudian baru diteruskan ke os radius distal, hingga dapat menimbulkan patah tulang pada daerah yang lemah yaitu antara batas tulang cortical dan tulang spongiosa. 9husus pada Fracture 0olles biasanya fragmen distal bergeser ke dorsal, tertarik ke proximal dengan angulasi ke arah radial serta supinasi. Adanya Fracture prosesus styloid ulna mungkin akibat adanya tarikan triangular fibrocartilago atau ligamen ulnar collateral

48

Berdasarkan percobaan cada&er didapatkan bahwa Fracture distal radius dapat terjadi, jika pergelangan tangan berada dalam posisi dorsoflexi =? C J?? dengan beban gaya tarikan sebesar J5 kg pada wanita dan "@" kg pada pria. )ada bagian dorsal radius Fracturenya sering comunited, dengan periosteum masih utuh, sehingga jarang disertai trauma tendon extensor. *ebaliknya pada bagian &olar umumnya fracture tidak komunited, disertai oleh robekan periosteum, dan dapat disertai dengan trauma tendon flexor dan jaringan lunak lainnya seperti n. medianus dan n. ulnaris. Fracture pada radius distal ini dapat disertai dengan kerusakan radiocalpar joint dan radio ulna distal berupa luksasi atau subluksasi. )ada radioulnar distal joint umumnya disertai dengan robekan dari triangular fibrocartilago.

Me8anisme #er-adin5a !rac#ure'() : Biasanya disebabkan karena trauma langsung, atau sebagai akibat jatuh dimana sisi dorsal lengan bawah menyangga berat badan. *ecara ilmu gaya dapat diterangkan sebagai berikut #Trauma langsung dimana lengan bawah dalam posisi supinasi penuh yang terkunci dan berat badan waktu jatuh memutar pronasi pada bagian proximal dengan tangan relatif terfixir pada tanah. )utaran tersebut merupakan kombinasi tekanan yang kuat dan berat, akan memberikan mekanisme yang ideal dari penyebab Fracture *mith. Trauma lain diduga disebabkan karena tekanan yang mendadak pada dorsum manus, dimana posisi tangan sedang mengepal. 1ni biasanya didapatkan pada penderita yang mengendarai sepeda yang mengalamii trauma langsung pada dorsum manus. MANI!ESTASI &LINIS 9ita dapat mengenali Fracture ini (seperti halnya 0olles jauh sebelum radiografi diciptakan! dengan sebutan deformitas garpu makan malam, dengan penonjolan punggung pergelangan tangan dan depresi di depan. )ada pasien dengan sedikit deformitas mungkin hanya terdapat nyeri tekan lokal dan nyeri bila pergelangan tangan digerakkan.
49

*elain itu juga didapatkan kekakuan, gerakan yang bebas terbatas, dan pembengkakan di daerah yang terkena.

%ambar +. (inner fork deformity ( ,",@! )ada saat terjadi Fracture, terjadi kerusakan cortex, arteri maupun &ena, sumsum tulang dan soft tissue. Akibat dari hal tersebut yaitu terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitar. 9eadaan ini menimbulkan hematom pada canal medulla antara tepi tulang dibawah periostium dengan jaringan tulang yang mengatasi Fracture. 2alu terjadilah respon inflammasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik dengan ditandai &asodilatasi dari plasma dan leukosit. Tentunya hal tersebut merupakan salah satu upaya tubuh untuk melakukan proses penyembuhan
50

dalam memperbaiki cidera, dimana tahap tersebut menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. 'ematom menyebabkan dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, lalu menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. 'al tersebut menyebabkan terjadinya edema. 3dema yang terbentuk akan menekan ujung syaraf nyeri, sehingga terjadilah nyeri tekan. DIA NOSIS (iagnosis Fracture dengan fragmen terdislocation tidak menimbulkan kesulitan. *ecara klinis dengan mudah dapat dibuat diagnosis patah tulang 0olles. Bila Fracture terjadi tanpa dislocation fragmen patahannya, diagnosis klinis dibuat berdasarkan tanda klinis patah tulang. )emeriksaan radiologi juga diperlukan untuk mengetahui derajat remuknya Fracture comminuti&e dan mengetahui letak persis patahannya. )ada gambaran radiologis dapat diklasifikasikan stabil dan instabil. *tabil bila hanya terjadi satu garis patahan. 1nstabil bila patahnya comminuti&e dan ;crushing< dari tulang cancellous. )ada keadaan type tersebut periosteum bagian dorsal dari radius B+ distal tetap utuh.. Terdapat Fracture radius melintang pada sambungan corticocancelouse, dan prosesus styloideus ulnar sering putus. Fragmen radius ( ! bergeser dan miring ke belakang, ("! bergeser dan miring ke radial, dan (+! terimpaksi. 9adang$kadang fragmen distal mengalami peremukan dan comminuti&e yang hebat."

51

%ambar. (a! deformitas garpu makan malam, (b! Fracture tidak masuk dalam sendi pergelangan tangan, (c! )ergeseran ke belakang dan ke radial. )royeksi A) dan lateral biasanya sudah cukup untuk memperlihatkan fragmen Fracture. (alam e&aluasi Fracture, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan # . Adakah Fracture ini juga menyebabkan Fracture pada prosesus styloideus ulna atau pada collum ulna I ". +. Apakah melibatkan -adioulnar joint I Apakah melibatkan radio carpal joint I )royeksi lateral perlu die&aluasi untuk konfirmasi adanya subluksasi radioulnar distal. *elain itu, e&aluasi sudut radiokarpal dan sudut radioulnar juga diperlukan untuk memastikan perbaikan fungsi telah lengkap. ,",+,5

%ambar. %ambaran radiologi Fracture dan abnormalitas distal lengan bawah.


52

)ada x$ray menunjukkan Fracture angulasi dorsal dari metaphysis distal radius ("$+ cm proximal ke pergelangan tangan!. Fracture yang mencapai ke persendian, disebut Fracture intra$ articular sedangkan Fracture yang tidak mencapai persendian disebut Fracture eksta$articular. .inner fork deformity merupakan temuan klinis klasik dan radiologi pada Fracture colles. (islocation dan angulasi dorsal dari fragmen distal radius mengakibatkan suatu bentuk garis pada proyeksi lateral yang menyerupai kur&a garpu makan malam.
,",+,5,7

0ambar . ,erbandingan radiologi

PEMERI&SAAN PENUN0AN a. b. c. d. e. )emeriksaan foto radiologi dari !rac#ure : menen#u8an l.8asi+ luasn5a )emeriksaan jumlah darah lengkap Arteriografi # dilakukan bila kerusakan vascular dicuri;ai 0rea#inin : #rauma .#.# menin;8a#8an /e/an 8rea#inin un#u8 8lirens ;in-al )emerikasaan rontgen, menentukan luasnya Fracture, trauma.
53
,",+

f.

*can

tulang, tomogram,

memperlihatkan

Fracture

juga dapat

digunakan

untuk

mengidentifikasi jaringan lunak 't mungkin meningkat ('emokonsentrasi! atau menurun (pendarahan bermakna pada sisi Fracture B organ jauh pada trauma multiple!. 0reatinin, trauma otot meningkat beban creatinin untuk clearence ginjal.

PENATALA&SANAAN Fracture tak bergeser (atau hanya sedikit sekali bergeser!, Fracture dibebat dalam slab gips yang dibalutkan sekitar dorsum lengan bawah dan pergelangan tangan dan dibalut kuat dalam posisinya. Fracture yang bergeser harus direduksi di bawah anestesi. Tangan dipegang dengan erat dan traksi diterapkan di sepanjang tulang itu (kadang$kadang dengan extensi pergelangan tangan untuk melepaskan fragmen8 fragmen distal kemudian didorong ke tempatnya dengan menekan kuat$kuat pada dorsum sambil memanipulasi pergelangan tangan ke dalam flexi,
54

de&iasi ulnar dan pronasi. )osisi kemudian diperiksa dengan sinar Q. 9alau posisi memuaskan, dipasang slab gips dorsal, membentang dari tepat di bawah siku sampai leher metacarpal dan "B+ keliling dari pergelangan tangan itu. *lab ini dipertahankan pada posisinya dengan pembalut kain krep. )osisi de&iasi ulnar yang ekstrim harus dihindari8 cukup "? derajat saja pada tiap arah.

%ambar 5. -eduksi # (a! pelepasan impaksi, (b! pronasi dan pergeseran ke depan, (c! de&iasi ulnar. )embebatan # (d! penggunaan sarung tangan, (b! slab gips yang yang dibalutkan dan reduksi dipertahankan hingga gips mengeras. 2engan tetap ditinggikan selama satu atau dua hari lagi8 latihan bahu dan jari segera dimulai setelah pasien sadar. 9alau jari$jari membengkak, mengalami sianosis atau nyeri, segera buka balutan. *etelah 7$ ? hari dilakukan pengambilan sinar Q yang baru8 pergeseran ulang sering terjadi dan biasanya diterapi dengan reduksi ulang8 sayangnya, sekalipun manipulasi berhasil, pergeseran ulang sering terjadi lagi. Fracture menyatu dalam 6 minggu dan, sekalipun tak ada bukti penyatuan secara radiologi, slab dapat dilepas dengan aman dan diganti dengan pembalut kain krep sementara.
,=,5,6

basah, (f! slab

55

%ambar 6. (a! Film pasca reduksi, (b! gerakan$gerakan yang perlu dipraktekkan oleh pasien secara teratur Fracture comminuti&e berat dan tak stabil tidak mungkin dipertahankan dengan gips8 untuk keadaan ini sebaiknya dilakukan fiksasi luar, dengan pen proximal yang mentransfiksi radius dan pen distal, sebaiknya mentransfiksi dasar$dasar metakarpal kedua dan sepertiga. Fracture 0olles, meskipun telah dirawat dengan baik, seringnya tetap menyebabkan komplikasi jangka panjang. 9arena itulah hanya Fracture 0olles type 1A atau 1B dan type 11A yang boleh ditangani oleh dokter 1%(. *elebihnya harus dirujuk sebagai kasus darurat dan diserahkan pada ahli orthopedik. (alam perawatannya, ada + hal prinsip yang perlu diketahui, sebagai berikut # Tangan bagian extensor memiliki tendensi untuk menyebabkan tarikan dorsal sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran fragmen Angulasi normal radiocarpal joint ber&ariasi mulai dari palmar, sedangkan angulasi dorsal tidak Angulasi normal radioulnar joint adalah 5 sampai +? derajat. *udut ini dapat dengan mudah dicapai, tapi sulit dipertahankan untuk waktu yang lama sampai terjadi proses penyembuhan kecuali difiksasi. Bila kondisi ini tidak dapat segera dihadapkan pada ahli orthopedik, maka beberapa hal berikut dapat dilakukan #
56

sampai "+ derajat di sebelah

. ".

2akukan tindakan di bawah anestesi regional -eduksi dengan traksi manipulasi. Eari$jari ditempatkan pada +hinese finger traps dan siku diele&asi sebanyak J? derajat dalam keadaan flexi. Beban seberat @$ ? pon digantungkan pada siku selama 5$ ? menit atau sampai fragmen disimpaksi.

+.

9emudian lakukan penekanan fragmen distal pada sisi &olar dengan menggunakan ibu jari, dan sisi dorsal tekanan pada segmen proximal menggunakan jari$jari lainnya. Bila posisi yang benar telah didapatkan, maka beban dapat diturunkan.

=.

2engan bawah sebaiknya diimobilisasi dalam posisi supinasi atau midposisi terhadap pergelangan tangan sebanyak 5 derajat flexi dan "? derajat de&iasi ulna.

5.

2engan bawah sebaiknya dibalut dengan selapis >ebril diikuti dengan pemasangan anteroposterior long arms splint

6.

2akukan pemeriksaan radiologik pasca reduksi untuk memastikan bahwa telah tercapai posisi yang benar, dan juga pemeriksaan pada /er&us medianusnya

7.

*etelah reduksi, tangan harus tetap dalam keadaan terangkat selama 7" jam untuk mengurangi bengkak. 2atihan gerak pada jari$jari dan bahu sebaiknya dilakukan sedini mungkin dan pemeriksaan radiologik pada hari ketiga dan dua minggu pasca trauma. 1mmobilisasi Fracture yang tak bergeser selama =$6 minggu, sedangkan untuk Fracture yang bergeser membutuhkan waktu 6$ " minggu.
,"

&OMPLI&ASI'() )enting karena komplikasi ini akan mempengaruhi hasil akhir fungsi yang tidak memuaskan. .mumnya akan selalu ada komplikasi. 4enurut 0ooney, hanya ada ",JA kasus yang tidak mengalami disability dan gangguan fungsi. Adapun komplikasi yang mungkin terjadi# A. (1/1 . ". 0ompressi B trauma /. ulnaris dan medianus 9erusakan tendon
57

+. =.

3dema pasca reposisi -edislocation

B. 2A/E.T . ". +. Arthrosis dan nyeri kronis *houlder 'and *yndrome (efek kosmetik ( penonjolan styloideus radius !

=. -uptur tendon 5. 4alunion B /on union 6. *tiff hand ( perlengketan antar tendon ! 7. Folksman 1schemic 0ontracture @. 9ompressif /europathy J. -uptur Tendon ?. -edislocation . *tiff 'ands ". %angguan gerakan dan fungsi +. 9ontraktur (upuytrens

B$ !rac#ure Smi#7s'() DE!INISI Fracture *miths adalah Fracture pada ,s -adius B+ (istal dimana garis fracture$nya (satu! inchi dari -adio 0arpal Eoint dan fragmen distalnya displacement ke arah &entral (&olar!. (isebut juga ;re)erse colles<.

58

%ambar. Fracture *mith ME&ANISME IN0UR2 Terjadi fracture ini disebabkan adanya kesalahan pada saat posisi terjatuh, yaitu terjatuh dengan pergelangan tangan dalam posisi flexi dan dengan lengan atas dalam posisi supinasi.("!

MANI!ESTASI &LINIS )asien yang mengalami fracture ini tidaklah menunjukkan tanda$tanda seperti ;.inner-fork deformity<, tetapi ;garden spade deformity<. )ada pemeriksaan x$ray, didapatkan adanya fracture pada yang terjadi pada metaphysis os radius bagian distal. )ada foto lateral, menunjukkan adanya fragment$fragment fracture yang terdorong kearah anterior. PENATALA&SANAAN Ada beberapa hal yang dapat memperngaruhi terapi pada jenis fracture ini# . )ola fracture ". Faktor local, seperti kualitas tulang itu sendiri, cedera jaringan lunak,
59

+. Faktor pasien, seperti usia, faktor psikologi, gaya hidup, kondisi medis lainnya 9,/*3-FAT1F( ,"! Fracture yang stabil non$displaced ataupun fracture yang mengalami displacement secara minimal dapat diperbaiki dengan closed reduction dan imobilisasi dengan plaster. Tindakan ini sering dilakukan 75A$@?A dari fracture os radius bagian distal. )ada pasien awalnya dapat digunakan sugar tong splint . Apabila bengkaknya sudah mereda, dapat digunakan gips dengan posisi tangan "?D &olar flexi dan ulnar de&iasi. )osisi lengan yang ideal, durasi imobilisasi, dan kebutuhan untuk pemakaian gips dalam waktu lama8 ketiga metode tersebut masih contro&ersial, tidak ada study prospecti)e yang dapat menunjukkan salah satu lebih baik disbanding metode yang lain. Flexi pergelangan tangan yang extreme harus dihindarkan karena dapat meningkatkan carpal canal pressure dan kekakuan pada jari$jari tangan. %ips harus dipakai kurang lebih selama 6 minggu atau sampai terbukti telah terbentuk union pada foto radiologi. )asien harus tetap diawasi oleh perawat untuk dilakukan therapyBlatihan untuk menggerakkan tangannya secara acti&e. ,)3-AT1F Fracture yang tidak stabil ataupun yang mengalami displacement membutuhkan tindakan operatif setelah dilakukannya close atau open reduction. ,ercutaneous pinning terutama digunakan pada fracture extraarticular atau two-part fracture intraarticular. Tindakan ini dapat dilakukan dengan cara memasang "$+ buah 9irschner wires pada daerah terjadinya fracture. )ada umumnya ditempatkan pada bagian proximal dari styloid os radius dan membentuk sisi dorsoulnar dari fragment proximal dari os radius distal. )ada umumnya digunakan short-arm casting atau external fiksasi. )in dapat diangkat kurang lebih sekitar +$= minggu pasca operasi, dengan gips tetap dipertahankan seperti sebelumnya. Fiksasi external telah berkembang karena didasarkan pada studi yang menghasilkan tingkat komplikasi yang relati&e rendah. Fiksasi external juga dapat diindikasikan ketika terjadi kehilangan reposisi setelah dilakukan imobilisasi menggunakan gips. ,-1F dapat digunakan pada saat# . 1ndikasi utama adalah dengan adanya displacement fragment articular dalam bentuk fracture yang tidak dapat dilakukan prosedur tindakan reduksi secara tertutup ataupun dengan reduksi terbuka terbatas
60

". Fracture articular complex 9,4)219A*1 Adapun beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada fracture ini antara lain# . (isfungsi ner&us medianus ". 4alunion atau union8 biasanya terjadi karena adanya imobilisasi atau reduksi yang inadekuat dan membutuhkan ,-1F dengan bone graft +. )ost traumatic osteoarthritis8 terjadi sebagai konsekuensi dari cedera articular radioulnar dan radiocarpal, sehingga membutuhkan restorasi anatomi pada permukaan articular =. 9ekakuan pada siku, tangan dan jari$jari tangan8 terutama terjadi pada imobilisasi dengan gips ataupun dengan external fiksasi dalam waktu lama 5. -upture tendon8 paling sering terjadi pada m.extensor pollicis longus, dapat terjadi akibat komplikasi lambat dari fracture radius distal 6. 9omplikasi external fixation antara lain8 C$ !rac#ure DE!INISI Fracture %alleaPi adalah fracture yang terjadi pada ,s -adius B+ distal atau B+ tengah dengan dislkasi -adio .lnar Eoint distal. ( ,"! EPIDEMIOLO I Fracture %alleaPPi jumlah kejadiannya mencapai +$7A dari semua fracture lengan bawah. Fracture ini sering terjadi pada laki$laki. 4eskipun fracture %alleaPPi sangat jarang dilaporkan, fracture ini diperkirakan terjadi sekitar 7A dari fracture lengan bawah pada orang dewasa. ETIOLO I 3tiologi fracture %aleaPPi adalah posisi jatuh yang menyebabkan beban aksial untuk pada lengan yang hyperpronasi. allea<i

61

E0ALA &LINIS Fracture %aleaPPi lebih sering terjadi dibanding dengan fracture 4onteggia. /yeri pada daerah os ulna merupakan tanda paling khas. 'al ini mungkin disertai adanya ketidakstabilan dari wrist joint ()iano$key sign! atau dengan merotasi pergelangan tangan. *angat penting untuk melakukan pengecekan terhadap lesi n. .lnaris. Fracture dapat berupa trans&ersal maupun obli:ue dapat terlihat pada sepertiga distal os radius. Bagian distal dari radioulnar joint dapat mengalami subluxasi ataupun dislokasi.

62

G!"#!$ 6% G!&&(!//*0+ ,$!-'.$(%112

G!"#!$% G!"#!$!3 $!4*5&56* ,$!-'.$( G!&&(!//*

112

PENATALA&SANAAN 4irip dengan penatalaksanaan pada fracture 4onteggia, pada fracture %alleaPi langkah yang terpenting adalah untuk mengembalikan panjang tulang yang mengalami fracture. 0losed reduction sering berhasil pada anak$anak, sedangkan pada oang dewasa reduction yang terbaik adalah dengan operasi terbuka dan compression plating dari os radius. *inar x$ray dapat dilakukan untuk memastikan bahwa bagian distal dari radio$ulnar joint telah berkurang. Ada tiga kemungkinan# 1 Bagian distal dari radio$ulnar joint telah berkurang

63

Tidak memerlukan tindakan lanjutan. Tangan pasien diistirahatkan beberapa hari, sambil tetap melakukan sedikit gerakan. -adio$ulnar joint tetap harus dilakukan pengecekan, baik secara klinis maupun radiologi, selama 6 minggu. 1 -adio$ulnar joint berkurang tetapi tidak stabil 2engan bawah harus diimobilisasi dalam keadaan stabil (biasanya dalam posisi supinasi!, bila perlu ditambahkan dengan trans&erse 9$wire. )ada lengan bawah dipasang splint di atas siku selama 6 minggu. 1 -adio$ulnar yang tereduksi

D$ !rac#ure M.n#e;;ia DE!INISI Fracture 4ontegia adalah Fracture yang terjadi pada ,s .lna B+ proximal atau B+ tengah dengan dislocation -adio .lnar Eoint proximal. EPIDEMIOLO I Fracture 4onteggia meliputi kurang dari 5 A pada fracture lengan bawah dan dipublikasikan dalam literature sebanyak $"A. (ari seluruh frktur 4onteggia, Tipe 4onteggia merupakan sepertiga tersering dari fracture %alleaPPi.( ?! ETIOLO I Fracture 4onteggia sangat terkait dengan jatuhnya seseorang yang diikuti oleh outstretchhand dan tekanan maksimal pada gerakan pronasi . (an jika siku dalam keadaan flexi maka kemungkinan terjadinya lesi tipe 11 atau 111 semakin besar.. )ada beberapa kasus, cedera langsung pada lengan bawah dapat menghasilkan cedera serupa. 3&ans pada tahun J=J dan )enrose melakukan studi mengenai etiologi fracture 4onteggia pada cada&er dengan cara menstabilkan humerus dan menggunakan energy secara subjektif pada forearm. )enrose menyebutkan bahwa lesi dengan tipe 11 merupakan &ariasi pada dislocation posterior dari siku. Bado percaya bahwa lesi tipe 111 terjadi akibat gaya lateral pada siku sering terjadi pada anak$ menurut Bado merupakan yang paling sering (5JA!, diikuti tipe 111 ("6A!, tipe 11 (5A! dan tipe 1F ( A!. Fracture

64

anak. *ecara esensi, trauma energy tinggi (tabrakan motor! dan trauma energy rendah (jatuh dari posisi berdiri! bisa memicu cedera ini.

PATO!ISIOLO I'*=) *truktur pada forearm tertaut secara baku. (an jika ada satu tulang yang mengalami disrupsi maka akan berpengaruh ke tulang lain. .lna dan radial berikatan secara intak hanya pada proximal dan distal sendi. /amun, mereka menyatu sepanjang sumbu dihubungkan dengan membrane interosseus. 'al inilah yang menyebabkan radius bisa berputar mengelilingi ulna. 9etika ulna mengalami fracture, energy disalurkan sepanjang membrane interosseus dan terdisplasi pada proximal radius. Akhirnya yang terjadi adalah disrupsi membrane interosseus sehingga mendisplasi proximal radius. 'asil akhirnya adalah disrupsi membran intraoseus proximal dari fracture, dislocation sendi proximal radioulnar dan dislokasi sendi radiocapitellar. (islocation caput radialis bisa mengarah pada cedera ner&us radialis. 0abang dari ner&us radialis yang mempersyarafi posterior interoseus yang mengelilingi leher dari radius, sangat rentan beresiko untuk mengalami cedera, terutama pada cedera dengan Bado tipe 11. 0edera pada ner&us radialis cabang median interoseus anterior dan ner&us ulnaris juga dilaporkan. 9ebanyakan cedera syaraf adalah neurapraksis dan membaik dalam waktu =$6 bulan. )emuntiran pada pergelangan tangan akibata trauama bisa diatasi dengan ekstensi dan latihan gerak jari bisa mencegah terjadi contraktur sambil menunggu cedera saraf.

AMBARAN &LINIS'() Berdasarkan mekanisme diatas, pasien datang dengan nyeri siku. Terkait dengan tipe fracture dan keparahan, kemungkinan mengalami pembengkakan siku, deformitas, krepitasi, parestesi atau baal. Beberapa pasien tidak merasakan nyeri hebat saat beristirahat tapi flexi sendi cubiti dan rotasi lengan bawah terbatas dan nyeri.

65

(islocation lokasi caput radial mungkin teraba pada anterio, posterior atau posisi anterolateral. )ada tipe 1 dan 1F, caput radial dapat dipalpasi pada fosa antecubiti. 0aput radialis dapat dipalpasi secara posterior pada tipe 11 dan pada daerah lateral pada tipe 111. 9ulit sebaiknya diperiksa untuk memastikan bahw tidak terjadi fracture terbuka. /adi dan pengisisan kapiler harus dicatat. 'ematom mungkin terjadi pada lokasi dislocation walapun bukan tempat trauma secara langsung. Fungsi motorik harus diperiksa karena cabang dari ner&us radialis dapat terjepit,

mengakibatkan kelemahan atau paralysis dari jari atau ibu jari untuk extensi. 0abang sensorik biasanya tidak terlibat. /amun harus diperiksa.

PEMERI&SAAN PENUN0AN Pemeri8saan La/.ra#.rium *tudi laboratorium diminta sesuai dengan indikasi pada kondisi pasien untuk membantu pada saat anastesi atau tatalaksana perioperatif. R.n#;en 4enggunakan foto polos sudah cukup untuk menegakkan diagnosis fracture 4onteggia. Tehnik yang dilakukan adalah orthogonal, yaitu antara tulang dan pesawat harus membentuk sudut J? derajat. (an termasuk sendi pergelangan tangan dan siku juga harus ikut terfoto. (iambil baik posisi Anterior posterior dan 2ateral serta tidak lupa tangan yang sehat juga diambil fotonya . )rinsipnya adalah aturan dua$rule of two. Mang akan didapatkan adalah fracture ulna yang nyata tapi dislocation dari caput radialis mungkin sedikit atau terlihat begitu nyata. .ntuk menge&aluasi sendi radiocapitelllar, garis harus digambar parallel sesuai dengan aksis os radius. (an garis ini haris menuju ke salah satu titik pada sendi siku.

66

G!"#!$% F$!-'.$( D*+&5-!'*53 M53'(66*!112 TATALA&SANA Terapi Medis /yeri ditangani sedini mungkin. Eika fracture terbuka, maka imunisasi tetanus,

antibiotic intra&ena harus diberikan. 2uka terbuka harus dirigasi dengan larutan saline steril dan ditutup dengan kasa yang steril dan lembab. 0aput radialis sebaiknya direduksi saat di 1%( jika memungkinkan. -eduksi tertutup$closed reduction pada anak akan lebih mudah jika dilakukan dalam keadaan narkose. 9etamin $"mgBkgBB 1F atau +$= mgBkgBB 14 bisa digunakan sebagai sedasi. *ebaiknya ada imaging intensifier yang bersifat real-time sehingga reduksi bisa dipantau apakah sudah tercapai secara optimal dan maksimal. Opera#i> )ada orang dewasa. ,perasi sangat direkomendasikan. -eduksi terbuka disertai dengan compressi menggunakan plate pada ulna secara umum dan diikuti dengan reduksi secara tidak langsung pada tulang radius. Eika reduksi secara langsung tidak bisa tercapai maka reduksi
67

terbuka juga harus dilakukan. Eika caput radialis tetap tidak stabil pertahankan selama kurang lebih 6 minggu dalam posisi supinasi. Eika caput radialis stabil setelah reduksi baik terbuka ataupun tertutup, lakukan gerakan aktif dengan hinged elbow orthosis menjaga forearm dalam posisi supinasi. 2indungi lengan sampai sembuh. Eika anterior dislokasi dan reduksi tertutupnya tidak stabil, PRO NOSIS )ada tahun JJ , Anderson and 4eyer mengguankan criteria untuk menge&alusi fracture

forearm dan prognosisnya# 1xcellent - 2nion with less than 345 loss of elbow and wrist flexion6extension and less than 789 loss of forearm rotation Satisfactory - 2nion with less than 745 loss of elbow and wrist flexion6extension and less than 849 loss of forearm rotation 2nsatisfactory - 2nion with greater than :45 loss of elbow and wrist flexion6extension and greater than 849 loss of forearm rotation Failure - &alunion nonunion or chronic osteomyelitis

/yeri, disfungsi saraf dan deformitas secara kosmetik merupakan salah satu factor juga yang harus dipertimbangkan dalam memperbaiki kualitas hidup pasien.

!RACTURE BARTON DE!INISI Fracture Barton adalah fracture yang disertai adanya dislokasi atau subluxasi dari pergelangan tangan kearah dorsal atau &olar pada os radius bagian distal. ( ,"!

68

69

ME&ANISME IN0UR2 4ekanisme terjadinya fracture ini adalah terjatuh dengan pergelangan tangan dalam keadaan dorsoflexi dengan lengan bawah dalam keadaan pronasi. *ering terjadi kekeliruan pada saat diagnosis dengan fracture *mith, perbedaan keduanya adalah garis fracture berjalan secara obli:ue melalui tepi &olar kearah persendian pada pergelangan tangan, fragment bagian distal mengalami displacement kearah anterior bersamaan dengan tulang pergelangan lainnya. 9arena fragmentnya tergolong kecil dan unsupported , pada umumnya fracturenya bersifat tidak stabil.("!

TERAPI Fracture dapat dengan mudah direduksi, tetapi dapat dengan mudah pula mengalami displacement. Fiksasi internal, dengan menggunakan buttress plate sangat dianjurkan.

!RACTURE SCAPHOID'*+() Fracture scaphoid memiliki angka kejadian 75A dari seluruh fracture os carpal, jarang terjadi pada usia lanjut maupun anak$anak. Fracture tergolong tidak stabil, bisa disertai adanya gangguan pada ligament scapho$lunatum dan terjadi rotasi pada lunatum bagian dorsal. ("!

70

Aliran darah pada os scaphoid berasal dari cabang dari arteri radialis yang memberi pasokan darah sekitar 7?$@?A termasuk bagian proximal, namun aliran darah akan berkurang pada daerah proximal. 'al ini lah menyebabkan =?A bila terjadi fracture pada daerah proximal akan terjadi non union ataupun a&ascular nekrosis.

ME&ANISME IN0UR2 4ekanisme terjadinya fracture ini adalah terjatuh dengan tangan dalam keadaan terbuka (terulur! sehingga member tekanan pada saat dorsoflexi, ulnar de&iasi, dan intercarpal supinasi.("!

71

MANI!ESTASI &LINIS )asien dengan fracture scaphoid tampak pergelangan tangan nyeri dan bengkak. Adapun beberapa test pro&ocati&e yang dapat dilakukan antara lain# . *caphoid lift test# menimbulkan rasa nyeri pada saat gerakan &olar dorsal saat pergeseran os skafoid ". >atson test# nyeri pada displacement bagian dorsal os scaphoid ketika pergelangan tangan digerakkan dari sisi ulnar kearah radial bersamaan dengan penekanan daerah os scaphoid

%ambar. >atson Test

DIA NOSIS

72

(iagnosis pasien dengan fracture os scaphoid dapat ditegakkan setelah dilakukan pemeriksaan penunjang foto anteroposterior dan lateral dari pergelangan tangan. Foto secara obli:ue maupun secara ;scaphoid &iew<. Eika hasil dari pemeriksaan fisik dapat menunjukkan adanya tanda$tanda fracture, tetapi pada radiologi tidak menunjukkan adanya fracture, maka percobaan imobilisasi dapat dilakukan dengan pemeriksaan radiologi yang rutin $" minggu setelah dugaan fracture ditegakkan.("!

&LASI!I&ASI . Bentuk fracture# 1 1 1 'oriPontal obli:ue Trans&ersal Fertical obli:ue

73

". *tabilitas# 1 1 *tabil# Fracture yang tidak disertai adanya displacement Tidak stabil# Fracture (isplacement dengan ukuran lunocapitatum R 5D +. 2okasi 1 1 1 B+ (istal B+ tengah (paling sering terjadi! B+ proximal mm dengan penurunan angulasi

dari scapholunatum dengan sudut R6?D atau lebih dengan atau angulasi dari

PENATALA&SANAAN ' ,()

74

)engobatan awal pada saat keadaan gawat darurat harus terdiri dari spica splint ibu jari maupun gips jika bengkak pada daerah yang mengalami farcture tidak begitu nyataBjelas. )emakaian gips berukuran panjang masih contro&ersial, dalam beberapa penelitian menunjukkan adanya pengurangan waktu terjadinya union, insidensi terjadinya non union rendah, dan terjadi delayed union. .ntuk fracture stabil yang tidak terjadi displacement, sebuah long arm thumb spica dipakai dengan pergelangan tangan dalam posisi de&iasi netral dan flexiBextensi dan dipertahankan selama 6$@ minggu. )asien dapat berubah menggunakan short arm thumb spica cast selama 6 minggu tambahan atau setelah terbukti ditemukan tanda$tanda proses penyembuhan pada foto radiologi. )resentasi kesembuhan dengan terapi non$operati&e tergantung pada lokasi terjadinya fracture# tuberositas dan B+ distal ??A, waist @?$J?A, daerah proximal 6?$7?A. Fracture yang mengalami displacement pada umumnya membutuhkan tindakan open reduction and internal fixation (,-1F!. )endekatan &olar diantara m.flexor carpi radialis dan arteri radialis memberikan gambaran yang baik untuk dilakukan ,-1F dan untuk perbaikan ligamentum radioscapholunatum. Tindakan ini dapat membahayakan pasokan darah ke bagian &ascular. ,perasi fiksasi dapat dilakukan dengan menggunakan 9irschner wire ataupun 'erbert compressi skrup dan dapat disertai adanya bone graft. 1mobilisasi pasca operasi dilakukan dengan menggunakan long-arm thumb spica cast selama 6 minggu.

%ambar. 9irschner wire

75

%ambar. 9irschner wire

%ambar. 'erbert 0ompression *crew 9,4)219A*1 (elayed union, non$union, malunion


76

,steonecrosis8 terjadi terutama pada fracture bagian proximal, yang disebabkan oleh lemahnya pasokan darah ke daerah tersebut. Terjadinya insiden tersebut dapat diminimalkan dengan cara imobilisasi dengan long-arm thumb spica cast atau dengan terapi ,-1F lebih awal

!RACTURE PADA TAN AN DAN 0ARI10ARI TAN AN 0edera pada daerah tangan merupakan paling sering daripada cedera pada tempat yang lain. *angat penting seberapapun tingkat keparahan yang dialami, sangatlah dibutuhkan fungsi yang sempurna pada daerah ini. )emeriksaan yang cermat, perawatan yang rutin, serta kebutuhan rehabilitasi yang khusu, semua tergantung dari keputusan dokter yang pertama kali melihat pasien. Eika disertai adanya kerusakan pada kulit, pemeriksaan harus dilakukan ditempat dengan lingkungan yang bersih serta diperlukan penggunaan sarung tangan yang steril. )ada cedera yang bersifat superficial ataupun fracture yang parah dapat terlihat sangat jelas, namun pada cedera yang lebih dalam sangat sulit untuk dilakukan penilaian. )emeriksaan yang paling penting untuk dilakukan adalah penilaian pada sirkulasi darah, jaringan lunak, tulang, sendi, serat syaraf dan tendon. )emeriksaan sinar x$ray setidaknya dibutuhkan sejumlah + posisi (posteroanterior, lateral, obli:ue!, dan terkadang pada cedera tangan dibutuhkan x$ray pada jari$jari tangan. Tujuan terapi pada tangan termasuk pemeliharaan pada fungsi dan pergerakan pada sendi dengan tetap melakukan proteksi pada bagian yang mengalami fracture. Beberapa factor yang dianggap mempengaruhi terapi antara lain adalah usia pasien, sisi dominan dari tangan, pekerjaan, kemungkinan disertai adanya kerusakan pada jaringan lunak, moti&asi pasien dan mobilisasi awal dari jari yang mengalami cedera.

EPIDEMIOLO I
77

Fracture pada daerah metacarpal dan phalangeal adalah yang paling sering terjadi, skitar ?A dari semua jenis fracture8 lebih dari 5?A berhubungan dengan jenis pekerjaan. )erbatasan antara jari$jari tangan adalah yang paling sering terlibat, dengan insidensi# (istal phalanx =5A, 4etacarpal +?A, )roximal phalanx 5A, )halanx medial ?A. *ekitar "7A dari fracture jari$jari tangan tidak dapat dilakukan tindakan di ruang emergency. -eduksi yang tidak akurat, pemakaian splint yang tidak memuaskan (tidak baik! merupakan kesalahan yang paling sering terjadi ((a&is and *tothard!.( !

ME&ANISME IN0UR2 Ada berbagai macam mekanisme terjadinya fracture ini8 pada umumnya, bentuk fracture muncul akibat langsung dari tekanan akibat terjadinya trauma.("!

MANI!ESTASI &LINIS Beberapa hal yang wajib untuk ditanyakan karna dapat mempengaruhi dari pengobatan. Antara lain# . .sia pasien ". Tangan yang mendominasi atau yang tidak mendominasi +. )ekerjaan pasien =. )enyakit systemic yang menyertai 5. *ifat cedera# trauma langsung, remuk, terpelintir, luka robek, luka lecet 6. >aktu terjadinya cedera (terutama pada open fracture! 7. Terpapar kontaminasi# gigitan hewanBmanusia, terkena air payau, @. )engobatan awal yang telah dilakukan# pembersihan luka, pemberian cairan antiseptic, perban, tourni:uet
78

)ada pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan antara lain# . Fiabilitas jari$jari tangan (capillary refill time S" seconds! ". *tatus neurologis +. (eformitas =. -ange of motion (by %oniometer!

%ambar. %oniometer )343-19*AA/ -A(1,2,%1* )emeriksaan radiologis secara anteroposterior, lateral, dan obli:ue dari jari ataupun tangan yang cedera harus diperoleh. Eari$jari yang mengalami fracture atau cedera harus dilihat tersendiri, jika mungkin, untuk meminimalisir adanya tumpang tindih dengan jari$jari lain. Tomografi mungkin dapat digunakan untuk melihat atau menge&aluasi fracture intra$articular.

79

!RACTURE LEHER (NECK) METACARPAL'*) Fracture yang terjadi akibat adanya trauma langsung dengan &olar comminuti&e angulasi dorsal. )ada fracture ini sering kali dilakukan reduksi secara tertutup, tetapi perawatan seetelah reduksi cukup sulit. Tingkat kecacatan yang dapat diterima dapat ber&ariasi tergantung bagian apa yang mengalami cederaB fracture, Angulasi lebih dari 5D pada bagian dua atau + metacarpal tidak dapat diterima, begitu pula pada angulasi =?$=5D pada =$5 metacarpal juga tidak dapat diterima. )ada fracture yang tidak stabil membutuhkan inter&ensi tindakan operasi dengan menggunakan percutaneous pin (dapat menggunakan intramedular atau trans&ersal ke metacarpal yang saling berdekatan! atau dengan menggunakan plat fiksasi.

!RACTURE METACARPAL SHA!T'*+() Fracture baik yang mengalami displacement maupun yang undisplacement dapat direduksi dan dipasangkan bidai (splint! dengan posisi proteksi 1ndikasi dilakukannya tindakan operasi pada pasien dengan fracture ini antara lain adanya deformitas rotasional dan dorsal angulasi R ?D untuk metacarpal " dan +, R"?D untuk metacarpal = dan 5.Fiksasi dengan cara operasi dapat dicapai dengan reduksi secara tertutup dan percutaneous pinning (intramedullary atau trans&ersal pada metacarpal yang mengalami cedera! atau dilakukan reduksi secara terbuka dan fiksasi menggunakan plate.

!RACTURE BASIS METACARPAL '*+() 9ecuali fracture pada metacarpal ibu jari, sifat cedera dari fracture ini adalah stabil dan dapat diterapi dengan cara memastikan bahwa tangan dapat berotasi secara benar kemudian dilakukan pembebatan pada jari dengan menggunakan slab &olar yang membentang dari lengan bawah sampai persendian jari$jari bagian proximal. Bebat dipertahankan selama + minggu dan dianjurkan untuk tetap melakukan latihan ringan. Fracture re)erse Bennett adalah fracture dislokasi pada basis dari metacarpal 5 B hamatum. ,s metacarpal mengalami displacement kearah proximal dengan adanya dorongan
80

dari m.extensor carpi ulnaris. Tingkat keparahanB derajat displacement dapat dipastikan dengan menggunakan foto radiologi pada tangan posisi pronasi sekitar +?D dengan posisi supinasi penuh (anteroposterior!. Fracture ini sering membutuhkan inter&ensi secara operasi dengan dilakukannya tindakan ,-1F.

!RACTURE METACARPAL IBU 0ARI 'THUMB) Terdapat + macam bentuk fracture pada daerah metacarpal# fracture impaksi dari basis metacarpal, fracture$dislocasi Bennett dari sendi 0arpometcarpal, fracture kominutif dari bagian basal (-olandoLs fracture!.

. Fracture impaksi *eorang petinju, ketika sedang meninju, dapat mengalami fracture pada daerah metacarpal . )embengkakan dan nyeri local dapat ditemukan, dan x$ray menunjukkan adanya fracture trans&ersal sekitar 6mm sebelah distal dari carpometacarpal joint dengan melengkung kea rah luar dan mengalami impaksi. Terapi. Eika mengalami angulasi kurang dari "?$+?D dan fragment mengalami impaksi, ibu jari harus diistirahatkan disertai pemakaian )aris gips yang luas dari lengan bawah kea rah ibu jari, kemudian ibu jari difiksasi dalam keadaan abduksi penuh. %ips dapat dilepas "$+ minggu dan ibu jari telah dilatih imobilisasi.
81

". Fracture$dislocasi Bennett Fracture ini umunya terjadi pada basis dari os metacarpal pertama dan sering terjadi karena memukul. Bentuknya obli:ue, dan meluas kearah carpometacarpal joint dan biasanya tidak stabil.

%ambar. BennetLs fracture 1bu jari terlihat lebih pendek dari normal dan tampak pembengkakan pada daerah carpometacarpal joint. )ada pemeriksaan Q$ray menunjukkan bahwa fragment triangular yng kecil tetap berhubungan dengan tepi medial dari os trapePium, jempol sisanya mengalami subluxasi kea rah proximal dan tertarik kea rah atas oleh tendon abductor pollicis longus. )engobatan. *ecara luas dianggap (dengan sedikit bukti! bahwa reduksi yang sempurna sangatlah penting. 1ni harus dilakukan, bagaimanapun, dapat dicoba dan biasanya dapat dicapai dengan menarik jempol, lalu melakukan abduksi jempol. -eduksi dapat dilakukan dengan " cara# dengan menggunakan plester atau fiksasi internal. +. Fracture -olando
82

4erupakan fracture intra$articular comminuti&e dari basis metacarpal

dengan

konfigurasi T atau M. -eduksi secara tertutup dan penggunaan 9$wire atau reduksi secara terbuka dan fiksasi dengan plat dapat digunakan. )ada cedera yang berat fiksasi external dapat digunakan.

%ambar. -olandoLs fracture

!RACTURE PHALANX'*+() Eari$jari tangan dapat mengalami cedera karena adanya trauma secara langsung dan dapat menunjukkan tanda$tanda pembengkakan ataupun luka terbuka. )engobatan yang dilakukan secara terburu$buru dan tidak adekuat dapat mengakibatkan kekakuan pada jari$jari yang dalam beberapa kasus, dapat lebih buruk daripada tidak memiliki jari.

!RACTURE PROXIMAL DAN MEDIAL SHA!T PHALANX


83

. Fracture intra$articular Fracture condylar Tunggal, bicondylar, osteochondral 4erupakan type fracture yang membutuhkan reduksi secara anatomic8 ,-1F dilakukan pada displacement kurang dari mm. Fracture comminuti&e phalanx intra$articular sebaiknya dilakukan rekonstruksi pada permukaan articular. Fracture comminuti&e yang berat dianggap tidak dapat dilakukan rekonstruksi. ". Fracture$dislocasi Fracture$dislocasi bagian dorsal. )engobatan masih contro&ersial8 tergantung pada presentasi dari fracture permukaan articular. +. Fracture extra$articular -eduksi secara tertutup sebaiknya dilakukan dengan traksi pada jari$jari yang diikuti dengan pemasangan splint Fracture stabil dimana reduksi secara tertutup tidak dapat dilakukan, dapat dilakukan ,-1F dengan implant fragment berukuran kecil

!RACTURE DISTAL PHALANX . Fracture 1ntra$articular Tepi dorsal

84

0edera 4allet finger disebabkan karena fracture dari tepi dorsal dengan adanya gangguan pada tendon extensor. *ebab lain, cedera mallet finger adalah hasil dari gangguan dari tendon sehingga tidak terdapat kelainan pada foto radiologi.

%ambar. 4allet finger Terapi. (1) joint harus dimobilisasikan dengan posisi hyperextensi, dengan menggunakan splint mallet finger dapat memfiksasi sendi bagian distal, tetapi tidak dengan bagian proximal. )ada a&ulsi tendon (terutama yang tidak terasa sakit! splint dipertahankan selama @ minggu dan hanya dipergunakan saat malam hari pada = minggu setelahnya. >alaupun ada penundaan dalam melakukan tindakan ini selama +$= minggu setelah cedera, penggunaan splint jangka panjang ini tetap memiliki prosentase kesembuhan yang cukup baik. A&ulsi tulang8 diterapi dengan menggunakan splint selama 6 minggu karena proses penyembuhan tulang lebih cepat daripada tendon. Terapi operatif umumnya dihindari walaupun pada fragment tulang dengan ukuran besar, kecuali jika terdapat subluxasi. ,perasi memiliki tingkat komplikasi yang tinggi, jika terdapat subluxasi maka pemakaian dari skrup berukuran kecil atau 9$wire dapat digunakan.
85

". Fracture extra$articular Trans&ersal, longitudinal, dan comminuti&e Terapi# -eduksi secara tertutup dan penggunaan splint

+. 0edera pada bantalan kuku *ering diabaikan dalam menghadapi suatu fracture yang jelas, akan tetapi bila gagal untuk mengatasi cedera tersebut dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan kuku. Eika kuku sudah terlepas dari dasarnya, sebaiknya diangkat secara keseluruhan dan dibersihkan dengan menggunakan betadine.

BAB I% &ESIMPULAN

Fracture pada daerah extremitas atas merupakan suatu hal yang sering kali terjadi. Banyak penyebab yang dapat menimbulkan fracture ini. Bisa akibat trauma langsung ataupun tidak langsung. Fracture ini dapat terjadi disemua usia, baik itu dewasa maupun anak$anak. Ada berbagai macam faktor risiko yang dapat menimbulkan fracture pada daerah ini, antara lain adalah usia pasien. Faktor usia ini berhubungan langsung dengan adanya osteoporosis. 4akin tua usia seseorang, resikonya semakin meningkat. *eperti halnya fracture pada daerah lain, cara mendiagnosis suatu fracture extremitas dapat dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik (generalis maupun lokalis!, serta pemeriksaan penunjang lain seperti -ontgen, 0T scan, 4-1, dll. Terdapat " macam tindakan yang dapat dilakukan dalam menangani fracture ini yaitu terapi konser&atif maupun terapi definiti&e. )ada prinsipnya terapi pada pasien fracture meliputi = hal# %ecogni;e, reposisi, imobilisasi dan rehabilitasi. Tidak semua pasien dengan fracture merupakan indikasi dilakukannya operasi, terkadang konser&atif sudah cukup.

86

BAB %I DA!TAR PUSTA&A

. Apley %raham and 2ouis *olomon. Buku Ajar ,rtopedi dan Fracture *istem Apley. 3disi 9etujuh. 3%0# "? ". ". 9o&al E 9enneth. 'andbook of Fracture. *econd edition. 2ippincott >illiams and >ilkins# "??".
3% -ubino

2.Eosep. 0la&icle Fracture. A&ailable at# http#BBemedicine.medscape.comBarticleB "6?J5+$o&er&iewTa? ?= . Accessed in 4arch, ?7 "? " Thomas ). *capula Fracture. http#BBemedicine.medscape.comBarticleB "6+?76$o&er&iewTa? " /o&ember, ? "? Adarsh 9. 'umerus Fracture. http#BBemedicine.medscape.comBarticleB@"5=@@$o&er&iewTshowall *eptember, J "? . A&ailable . accessed A&ailable . Accessed at# in at# in

4% %oss

5% *ri&asta&a

6% /elson

(a&id 2. (istal fracture of the radius. A&ailable at# http#BBemedicine.medscape.comBarticleB@"=56=$o&er&iew . Accessed in 4arch ?, "??5. Eanos ). %alleaPi Fracture. A&ailable at# http#BBemedicine.medscape.comBarticleB "+J++ $o&er&iew . Accessed in /o&ember, 6 "? ?. Floriano. 4onteggia Fracture. A&ailable at# http#BBemedicine.medscape.comBarticleB "+ =+@$o&er&iew . Accessed in ,ctober, 5 "? .

7% 3rtl

8% )uttigna

J. -.*jamsuhidajat N >im de Eong, Buku Ajar 1lmu Bedah. 3disi ". 3%0 @7J$@@
87