Anda di halaman 1dari 9

TTN (TRNSIENT TACHYPNEA OF THE NEWBORN)

Definisi TTN ( transient tachypnea of the newborn) : Gangguan pernapasan pada bayi baru lahir yang berlangsung singkat yang biasanya berlangsung short-lived (< 24 jam) dan bersifat self-limited serta terjadi sesaat setelah ataupun beberapa jam setelah kelahiran, baik pada bayi yang prematur maupun pada bayi yang matur (lahir aterm). Tanda dan gejala TTN (transient tachypnea of the newborn) : Bernapas cepat dan dalam (takipnea) lebih dari 60x/menit Napas cuping hidung Sela iga cekung saat bernapas (retraksi interkostal) Mulut dan hidung kebiruan (sianosis) Grunting atau merintih/mendengkur saat bayi mengeluarkan napas

Anatomi dan fisiologi Menurut pusdiknakes (2003) perubahan fisiologis pada bayi baru lahir adalah salah satunya sistem pernapasan. Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta. Setelah lahir, pertukaran gas harus melalui paru-paru.

Perkembangan Paru-Paru

Paru berasal dari titik tubuh yang muncul dari faring yang bercabang-cabang membentuk struktur percabangan bronkus. Proses ini berlanjut setelah kelahiran sampai usia 8 tahun, sampai jumlah bronchiolus dan alveolus akan sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan bukti gerakan nafas sepanjang trisemester kedua dan ketiga. Kematangan paru-paru akan

mengurangi peluang kelangsungan hidup bayi baru, yang dissebabkan oleh keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler paru-paru, dan tidak mencukupinya jumlah surfaktan. Awal adanya nafas Dua faktor yang berperan pada rangsangan pertama nafas bayi : Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan dua rahim yang merangsang pusat pernapasan otak. Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru-paru selama persalinan yang merangsang masuknya udara ke dalam paru-paru secara mekanis. Interaksi antara sistem pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat menimbulkan pernafasan teratur dan berkesinambungan. Jadi sistem-sistem harus berfungsi secara normal.

Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernafas Upaya pernapasan pertama seorang bayi berfungsi untuk mengeluarkan cairan dalam paru-paru dan mengembangkan alveolus paru-paru untuk pertama kali. Prooduksi surfaktan dimulai pada 20 minggu kehamilan dan jumlahnya meningkat sampai paru-paru matang sekitar 30-40 minggu kehamilan. Surfaktan ini berfungsi mengurangi tekanan permukaan paru-paru dan

membantu menstabilkan dinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir parnafasan. Tanpa surfaktan alveoli akan kolaps setiap saat setelah akhir setiap pernapasan yang menyebabkan sulit bernapas. Dari cairan menuju udara Bayi cukup bulan mempunyai cairan di dalam paru-paru. Pada saat bayi melalui jalan lahir selama persalinan, sekitar 1/3 ciran ini akan diperas keluar paru-paru. Dengan beberapa kali tarikan napas pertama, udara memenuhi ruang trakea dan bronkus bayi baru lahir. Dengan sisa cairan didalam paru-paru dikeluarkan dari paru-paru dan diserap oleh pembuluh limfe dan darah. Fungsi pernapasan dalam kaitanya fungsi kardiovaskuler Oksigen sangat penting dalam mempertahankan kecukupan pertukaran udara. Jika terdapat hipoksia, pembuluh darah paru-paru akan mengalami vasokontriksi. Pengerutan pembuluh darah ini berarti tidak ada pembuluh darah yang terbuka, guna menerima oksigen yang berada dalam alveoli, sehingga penurunan oksigensi jaringan akan memperburuk hipoksia. Peningkatan aliran darah paru-paru akan mendorong terjadinya peningkatan sirkulasi limfe dan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan merangsang perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim. Penyebab TTN (transient tachypnea of the newborn) : Penyebab TTN lebih dikaitkan dengan beberapa faktor risiko yang meningkatkan kejadian TTN pada bayi baru lahir. Faktor risiko TTN pada bayi baru lahir diantaranya: Lahir secara secar Lahir dari ibu dengan diabetes

Lahir dari ibu dengan asma Bayi kecil untuk usia kehamilan

Selama proses kelahiran melalui jalan lahir, terutama bayi cukup bulan, tekanan sepanjang jalan lahir akan menekan cairan dari paru-paru untuk keluar. Perubahan hormon selama persalinan juga berperan pada penyerapan cairan di paru-paru. Bayi yang kecil atau prematur atau yang lahir melalui jalan lahir terjadi dan perubahan hormonal seperti kelahiran normal, sehingga mereka lebih beresiko mengalami penumpukan cairan di paru-paru saat mereka menarik napas untuk pertama kali. Patofisiologi TTN (transient tachypnea of the newborn) : Sebelum lahir paru-paru bayi terisi dengan cairan. Saat di dalam kandungan bayi tidak menggunakan paru-parunya untuk bernapas. Bayi mendapatkan oksigen dari pembuluh darah plasenta. Saat mendeteksi kelahiran, cairan di paru-paru bayi mulai berkurang sebagai respon dari perubahan hormonal. Cairan juga terperas keluar saat bayi lahir melewati jalan lahir (tekanan mekanis terhadap thorak). Setelah lahir bayi mengambil napas pertamanya dan paruparu terisi udara dan cairan di paru-paru didorong keluar. Cairan yang masih tersisa kemudian dibatukkan atau diserap oleh tubuh secara bertahap melalui sistem pembuluh darah atau sistem limfatik. Bayi dengan TTN mengalami sisa cairan yang masih terdapat di paru-paru atau pengeluaran cairan dari paru-paru terlalu lambat sehingga bayi mengalami kesulitan untuk menghirup oksigen secara normal kemudian bayi bernapas lebih cepat dan lebih dalam untuk mendapatkan cukup oksigen ke paru-paru. Pemeriksaan laboratorium

Analisis gas darah biasanya akan memperlihatkan hipoksia ringan. Hipokarbia biasanya didapatkan. Jika ada, hipokarbia biasanya ringan (PCO2 >55 mmHg). Extreme hypercarbia sangat jarang, namun jika terjadi, merupakan indikasi untuk mencari penyebab lain.

Differensial Count adalah normal pada TTN, tapi sebainya dilakukan untuk menentukan apakah terdapat proses infeksi. Nilai hematokrit akan menyingkirkan polisitemia

Urine dan Serum Antigen test dappat membantu menyingkirkan infeksi bakteri.

Diagnosis banding TTN (transient of the newborn) : Pneumonia/sepsis. Jika neonatus mengalami pneumoni atau sepsis, akan didapat pada riwayat kehamilan ibu tanda-tanda infeksi, seperti koriomnionitis, ketuban pecah dini, dan demam. Differenssial count menunjukan tanda neutropenia atau leukositosis dengan jumlah abnormal dari sel immature. Tes antigen urin dapat positif bila neonates mengalami group B streptococcal. Jika terdapat tanda-tanda infeksi seperti diatas, dianjurkan untuk memberikan antibiotik berspektrum luas. Pemberian antibiotik dapat dihentikan jika didapatkan hasil kultur yang negative dalam 3 hari. HMD. Biasanya terjadi pada neonates yang premature atau dengan alasan lain akan tertundanya maturasi paru. Pada rontgen thorak dapat diketahui dengan jelas pola retikulogranular dengan gambaran etelektasis paru. Diagnosis kerja : TTN (transient takipneu of the newborn) Penatalaksanaan TTN (transient tachypnea of the newborn) :

Bayi dengan TTN diawasi dengan cermat. Kadangkala dapat diawasi di NICU (perawatan intensif bayi baru lahir). Pemantauan frekuensi jantung, pernapasan dan kadar oksogen.

Beberapa bayi diawasi dan dipastikan frekuensi pernapasan menurun dan kadar oksigen tetap normal, lainnya mungkin membutuhkan oksigen tambahan melalui masker, selang dibawah hidung atau kotak oksigen.

Jika bayi tetap berusaha keras untuk bernapas meskipun oksigen sudah diberikan, maka continous positive airway pressure (CPAP) dapat digunakan untuk memberikan aliran udara ke paru-paru. Dengan CPAP bayi mengenakan selang oksigen di hidung dan mesin secara berkesinambungan memberikan udara bertekanan ke hidung bayi untuk membantu paru-paru tetap terbuka selama pernapasan.

Pada kasus berat maka bayi dapat membutuhkan bantuan ventilator, namun ini jarang terjadi.

Nutrisi dapat menjadi masalah tambahan jika bayi bernapas terlalu cepat sehingga bayi tidak dapat menghisap, menelan dan bernapas secara bersamaan. Pada kasus ini maka infus melalui pembuluh darah perlu diberikan agar bayi tidak dehidrasi dan kadar gula darah bayi tetap terjaga.

Dalam 24-48 jam proses pernapasan bayi dengan TTN biasanya akan membaik dan kembali normal dan dalam 72 jam semua gejala TTN sudah tidak ada. Jika keadaan bayi belum mambaik maka harus dicari kemungkinan penyebab lainnya yang mungkin menyertai.

Setelah bayi pulih dari TTN umumnya bayi akan pulihn sepenuhnya, dimana bayi boleh dipulangkan. Sebelum pulang berikan edukasi kepada ibu agar melakukan observasi di rumah dengan memantau tanda-tanda gangguan pernapasan seperti kesulitan bernapas, tampak biru, sela iga cekung saat bernapas, bila hal ini muncul segera hubungi dokter dan unit gawat darurat terdekat.

Medikasi obat TTN (transient tachypnea of the newborn) : Antibiotik empiris sering digunakan selama 48 jam setelah lahir, sampai sepsis telah dikesampingkan. Antibiotik umumnya adalah ampisillin dan aminoglikosida (gentamisin). Pilihan didasarkan pada flora lokal dan kepekaan antibiotik. Dosis jumlah dan interval didasarkan pada usia postmenstrual, diukur dalam minggu, dan usia pasca melahirkan, diukur dalam hari. Ampisilin (Omnipen-N) sebuah antibiotik dengan aktivitas terhadap gram positif dan beberapa bakteri gram negatif. Ampisilinmengikat terhadap penisilin-mengikat protein, menghammbat pertumbuhan bakteri. Gentamisin bekerja melawan gram negatif cakupan aerobik. Gentamisin juga menyediakan aktivitas sinergis dengan penisilin terhadap bakteri gram positif termasuk kelompok B streptococcus dan enterococcus. Gentamisin menghambat sintesis protein oleh ireversibel mengikat 30S bakteri dan ribosom50S.

Komplikasi TTN (transient tachypnea of the newborn) : Hipoksia : karena penanganan terlalu lama, akibatnya terjadi kekurangan nutrisi pada organ-organ vital (otak,jantung,paru dan ginjal) Asidosi metabolik (hipoglikemi, hipotermia)

Kesimpulan Transient tachypnea of the Newborn (TTN) adalah suatu penyakit ringan pada neonatus yang mendekati cukup bulan atau cukup bulan yang mengalami gawat napas segera setelah lahir dan hilang dengan sendirinya dalam waktu 3-5 hari. Penegakan diagnosis terdiri dari anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yaitu labor sederhana dan rontgen thorak. Pengobatan yang ditunjukan biasanya hanya berupa pengobatan suportif. Prinsip pengobatannya adalah mempertahankan oksigenasi, pemberian antibiotik, memperhatikan cara pemberian makanan dalam hubungannya dengan resiko aspirasi, dan monitoring cairan dan elektrolit. Penyakit ini bersifat sembuh sendiri dan tidak ada risiko kekambuhan atau disfungsi paru lebih lanjut. Gejala respirasi membaik sejalan dengan mobilisasi cairan dan ini biasanya dikaitkan dengan dieresis.

DAFTAR PUSTAKA

1. KN Siva Subramanian, MD et al. 2010. Transient Tachynea of the Newborn. http://emedicine.medscape.com/article/976914-overviem (diakses tanggal 25 Oktober 2011) 2. Waldo E Nelson, MD et al. 2000. Ilmu Kesehatan Anak edisi 15. Jakarta: EGC. 3. Abdul L et al. 2003. Diagnosis Fisis Pada Anak. Edisi ke-2. Jakarta: CV Sagung Seto. 4. Tricia Lacy Gomella, MD et al. 2004, Neonatology: Management, Procedures, On-call Problems. Disease, and Drugs. 5th Edition. USA: Lange Medical Books/McGraw-Hill. 5. Behrman RE, Vaughan VC, 1992, Nelson Ilmu Kesehatan Anak, Bagian II, Edisi 12, Penerbit EGC, Jakarta. 6. Anatomi. 2006. Perawatan dan Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Surabaya.