Anda di halaman 1dari 64

RASIONALITAS PERESEPAN ANTIBIOTIK UNTUK PENGOBATAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT PADA ANAK DI PUSKESMAS PEKAUMAN BANJARMASIN

KARYA TULIS ILMIAH

OLEH MUSTIKA MUTHAHARAH NPM 08045 D3 FI.

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN PROGRAM STUDI DIII FARMASI 2011

RASIONALITAS PERESEPAN ANTIBIOTIK UNTUK PENGOBATAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA ANAK DI PUSKESMAS PEKAUMAN BANJARMASIN

Karya Tulis Ilmiah Diajukan kepada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Menyelesaikan Program Studi D3 Farmasi

Oleh Mustika Muthaharah NPM 08045 D3 FI.

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN PROGRAM STUDI DIII FARMASI 2011

ABSTRAK Mustika.M. 2011. Rasionalitas Peresepan Antibiotik Untuk Pengobatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Anak di Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Karya Tulis Ilmiah, Program Studi D3 Farmasi STIK Muhammadiyah Banjarmasin. Pembimbing : (I) Andika, S.Far.,Apt (II) Hiryadi, M.Kep. Sp.Kom Kata Kunci : Rasionalitas, Peresepan, Antibiotik, ISPA, Anak Angka kesakitan dan kematian anak akibat Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Indonesia saat ini masih cukup tinggi. Pengobatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) memerlukan perhatian khusus dan pemilihan obat yang tepat seta tindakan yang cepat agar menurunkan angka kematian. Ketidakrasionalan peresepan sering terjadi pada pengobatan Infeksi Saluran Pernafasan. Penggunaan antibiotic yang tidak sesuai dengan diagnosis penyakit menyebabkan terjadinya peresepan yang tidak rasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah rasionalitas peresepan antibiotik yang digunakan untuk mengobati penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada pasien anak di Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Penelitian ini mengambil tempat di Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Rancangan dalam penelitian ini bersifat deskriptif. Populasi yang digunakan adalah resep untuk pasien anak penderita ISPA di Puskesmas Pekauman Banjarmasin pada bulan Mei tahun 2011 yang berjumlah 400 resep. Dari polulasi tersebut diambil sebanyak 80 resep sebagai sampel dengan menggunakan metode acak sederhana. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi. Data primer diperoleh dari hasil observasi resep sedangkan data sekunder diperoleh dari formulir monitoring indikator peresepan antibotik Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabulasi dan persentase yang kemudian di analisis secara deskripitif. Dari hasil penelitian diketahui bahwa peresepan antibiotik untuk pengobatan ISPA pada anak di Puskesmas Pekauman Banjarmasin yang rasional adalah sebanyak dua puluh dua resep (dua puluh tujuh koma lima persen). Jumlah tersebut jauh lebih kecil daripada jumlah ketidakrasionalan yang terjadi yaitu sebanyak lima puluh delapan resep (tujuh puluh dua koma lima persen). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasionalitas peresepan antibiotik untuk pengobatan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak di Puskesmas Pekauman Banjarmasin terbilang cukup rendah sehingga perlu ditingkatkan dengan melakukan pemilihan obat yang tepat sesuai dengan diagnosis ISPA yang diderita pasien.

KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta memberikan kekuatan dan kekampuan sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal Karya Tulis Ilmiah dengan judul RASIONALITAS PERESEPAN ANTIBIOTIK UNTUK PENGOBATAN ISPA PADA ANAK DI PUSKESMAS PEKAUMAN BANJARMASIN. Proposal ini dibuat dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan Diploma III Farmasi di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin. Dalam proses penulisan proposal ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Ibu Hj. Ulfah Hidayati, SST.,M.Kes selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin. 2. Ibu Sri Rahayu, S.Far.,Apt selaku Ketua Program Studi D3 Farmasi. 3. Bapak Andika, S.Far.,Apt selaku pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan, masukan dan motivasi sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat diselesaikan. 4. Bapak Hiryadi, M.Kep. Sp.Kom selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan untuk penulisan proposal ini. 5. Dinas Kesehatan Kota yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di Puskesmas Pekauman Banjarmasin.

6. Bapak Dr. M. Fuadi selaku Kepala Puskesmas Pekauman yang telah memberiakan arahan dan secara tidak langsung mengajarkan penulis tentang pentingnya menjaga amanah dan tanggungjawab. 7. Ibu dr. Masliani selaku dokter dari poli anak di Puskesmas Pekauman Banjarmasin yang telah memberikan bimbingan dan tambahan ilmu kepada penulis. 8. Ibu Rina Feteriyani, S.Far.,Apt yang telah banyak membantu penulis dalam pemilihan judul, memberikan saran serta kemudahan dalam proses pengambilan data sejak studi pendahuluan hingga penelitian selesai. 9. Kedua orang tua tercinta yang selalu menyertai dengan doa dan memberikan dukungan moril dan materil dengan ikhlas. 10. Teman-teman seperjuangan dan sahabat terdekat (Try, Pooh, Cha, Riza) yang selalu memberikan dorongan semangat dan saling membantu dalam proses penulisan proposal ini. Penulis menyadari dalam penulisan proposal ini masih terdapat kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan guna menyempurnakan proposal ini. Semoga proposal ini dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak.

Banjarmasin, 10 Agustus 2011

Penulis

Kupersembahkan KaryaTulis Ilmiah ini untuk keluargaku tercinta.. Abi. Ibu.. Dan ade. Terimakasih untuk semua doa, cinta dan dukungan yang kalian berikan

Abi. Seorang motivator terbaik sepanjang masa yang pernah kumiliki. Ayah nomor satu seluruh dunia. Sosok yang hangat, sabar dan menyenangkan Selalu tersenyum dan menguatkan saat aku lemah dan goyah Terimakasih untuk selalu mendukung dan memberikan semangat dalam setiap langkah yang kupilih. Ibu Guru terbaik sepanjang masa bagiku. Mengajarkanku semua hal baik dalam kehidupan Sosok yang sederhana, tegas namun sangat perhatian Seperti peramal yang selalu bias membaca semua pikiranku Selalu menenangkan disaat badai kegelisahan menderaku Terimakasih untuk setiap bait doa yang selalu dipanjatkan untukku

Ade Jadilah diri sendiri, karena meski terlahir dari rahim yang sama, kita lahir dengan membawa cahaya yang berbeda warna Maka bersinarlah dengan cahaya yang kau punya

DAFTAR ISI

Halaman ABSTRAK ...................................................................................................... KATA PENGANTAR ..................................................................................... i ii

LEMBAR PERSEMBAHAN .......................................................................... iv DAFTAR ISI .................................................................................................... v

DAFTAR TABEL ............................................................................................ vii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... viii DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... ix

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang .......................................................................... B. Rumusan Masalah ..................................................................... C. Tujuan Penelitian ..................................................................... D. Manfaat Penelitian ................................................................... 1 6 7 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Rasionalitas Peresepan ............................................................. 8

B. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) .................................. 12 C. ISPA Non Pneumonia ............................................................... 15 D. Pengobatan ISPA Non Pneumonia ........................................... 18 E. Antibiotik Untuk Pengobatan ISPA .......................................... 19 F. Kerangka Pikir .......................................................................... 20

BAB III METODELOGI PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ................................................................ 21 B. Variabel dan Definisi Operasional ............................................ 21 C. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................... 22 D. Populasi dan Sampel ................................................................. 22 E. Jenis Data dan Sumber Data ..................................................... 24

F. Teknik Pengolahan dan Analisa Data ....................................... 24 G. Metode Pengumpulan Data ....................................................... 26 H. Etika Penelitian ......................................................................... 26 I. Jalan Penelitian ......................................................................... 28

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Wilayah Penelitian ..................................... 29 B. Analisa Data ............................................................................. 33 C. Pembahasan .............................................................................. 34

BAB V

PENUTUP A. Kesimpulan .............................................................................. 38 B. Saran ........................................................................................ 38

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 39 LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 1. 2. 3. 4. 5.

Halaman

Definisi Operasional . 22 Tabel Distribusi Frekuensi Sederhana .. 25 Lembar Observasi . 26

Jumlah Penduduk Berdasarkan Data Proyeksi 2009 30 Jumlah Rumah Tangga Penduduk dan Rata-rata Penduduk per Rumah Tangga di Wilayah Kerja Puskesmas Pekauman Tahun 2010 .. 31

6. 7. 8. 9.

Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin .. 32 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur . 32 Jumlah Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin 33 Rasionalitas Peresepan Antibiotik Untuk Pengobatan ISPA Pada Anak di Puskesmas Pekauman Banjarmasin .. 34

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman 20

1. Kerangka Pikir .

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Halaman 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50

Surat Izin Studi Pendahuluan Surat Izin Penelitian dari Institusi ..... Surat izin Penelitian dari Instansi ..... Surat Permohonan Bimbingan KTI ...... Lembar Konsultasi Bimbingan KTI ( Pembimbing I ).. Lembar Konsultasi Bimbingan KTI ( Pembimbing II ).... Lembar Observasi. Pernyataan Keaslian Tulisan Riwayat Hidup .

10. Hasil Tabulasi Data ..

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Obat merupakan suatu komponen penting dalam pelayanan kesehatan. Penggunaan obat yang benar, tepat dan aman dapat memberikan efek yang maksimal bagi penyembuhan. Antibiotik sebagai salah satu jenis obat yang digunakan untuk menyembuhkan infeksi oleh mikrobakteri merupakan jenis obat yang seringkali diresepkan oleh dokter karena efektifitasnya yang sangat baik untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh mikrobakteri. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi pada setiap bagian saluran pernafasan baik atas maupun bawah yang disebabkan oleh jasad renik, bakteri, virus maupun riketsin tanpa atau disertai radang dari parenkim (Alsagaff & Abdul, 2005:110). ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti: sinus, ruang telinga tengah, dan selaput paru (Rasmaliah, 2004: 4). Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut atau ISPA baik Infeksi Saluran Pernafasan atas maupun bawah, dewasa ini semakin sering dijumpai. Di berbagai tempat pelayanan kesehatan seringkali dijumpai pasien dengan keluhan gangguan pernafasan dari yang tergolong infeksi ringan seperti flu sampai infeksi berat seperti Tuberculosis (TBC), Bronkhitis dan Pneumonia.

Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan ini tergolong berbahaya karena dapat menular dengan cepat dan jika infeksi menyerang saluran pernafasan bagian bawah maka dapat menyebabkan infeksi berat yang memerlukan penanganan khusus. Apabila penanganan yang dilakukan tidak cepat dan tepat maka akan menimbulkan resiko kematian (Mandal, 2008; 42). Terapi pengobatan untuk penyakit ISPA dilakukan berdasarkan kepada jenis infeksi yang terjadi. Jika infeksi terjadi pada saluran nafas bagian atas (hidung, mulut, kerongkongan, tenggorokan), kejadian kegawatan relatif jarang terjadi. Contoh

penyakit infeksi saluran pernafasan bagian atas seperti influenza dan sinusitis. Untuk penyakit influenza yang disebabkan oleh virus biasanya dapat sembuh dengan sendirinya setelah 7 hari. Akan tetapi dapat juga diberikan terapi pengobatan dengan pemberian antihistamin dan dekongestan sebagai terapi pendukung untuk mengobati peradangan yang terjadi karena infeksi ringan tersebut. Sedangkan untuk infeksi pada saluran pernafasan bagian bawah (paru-paru dan organ pernafasan sekitarnya) biasanya beresiko besar untuk terjadi kegawatan sehingga memerlukan terapi pengobatan yang khusus dan intensif (Mandal, 2008: 28). ISPA pada anak sebagian besar disebabkan oleh pneumococcus yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit pneumonia. Pneumococcus merupakan 90% penyebab utama terjadinya infeksi dan radang paru pada masa anak-anak. Pengobatan untuk ISPA yang terjadi pada saluran pernafasan bagian bawah dan disebabkan oleh infeksi bakteri dilakukan dengan menggunakan antibiotik. Sebagai terapi pengobatan awal sebelum diketahui jenis bakterinya dapat digunakan antibiotik berspektrum luas seperti golongan aminopenisilin. Sebagai obat pilihan pertama dapat digunakan

ampisilin atau amoksisillin dengan dosis 125-250mg per oral tiap 8 jam atau 30mg/kg berat badan selama 7 hari. Jika infeksi yang terjadi sudah berat maka dosis dapat ditingkatkan menjadi 2 kali lipat. Antibiotik lainnya yang dapat digunakan untuk terapi pada infeksi pernafasan adalah erythromycin dengan dosis 20-40mg/kg barat badan/ hari selama maksimal 7 hari. Dapat juga digunakan sefadroksil dengan dosis 25mg/kg berat badan (anak dibawah 1 tahun) atau 250-500mg (1 tahun keatas), diberikan 2 kali sehari setiap 12 jam (Sukandar, 2008: 767). Untuk terapi pengobatan yang lebih spesifik dapat dilakukan setelah adanya pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui jenis bakterinya. Jika jenis bakteri telah diketahui maka dapat diberikan antibiotik berspektrum sempit yang sesuai dengan jenis bakteri penyebab infeksi, misalnya setelah pemeriksaan laboratorium diketahui kuman yang menginfeksi saluran pernafasan tersebut adalah Pneoumococcus yang merupakan bakteri gram positif maka dapat di berikan terapi obat dengan menggunakan benzilpenisislin (Penisislin-G) yang berspektrum sempit dan bekerja efektif terhadap bakteri gram positif. Hal ini dimaksudkan agar dapat membunuh bakteri dengan lebih spesifik hingga pengobatan menjadi lebih fokus dan memberikan efek yang maksimal (Ethical Digest, 2010: 24). Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab kematian tersering pada anak di Negara sedang berkembang (WHO, 2003). Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyebab kematian yang paling sering terjadi pada anak-anak di seluruh dunia. 40%-60% dari kunjungan di Puskesmas adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20%-30% (Rasmaliah, 2004). Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut masih merupakan

penyebab utama kesakitan dan kematian balita di Indonesia yaitu sebesar 28% (Rosdy dan Kristiani, 2005: 2). Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2002, penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) masih merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian balita di Indonesia. Menurut catatan Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan, sepanjang tahun 2009 tercatat 5 balita meninggal akibat serangan ISPA. Jumlah penderita ISPA di 13 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Selatan ini tercatat mencapai 111.590 orang, terdiri dari 52.130 balita dan 59.460 di atas usia lima tahun dengan jumlah penderita terbanyak di wilayah Kota Banjarmasin. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan tahun 2010 hingga bulan oktober menyebutkan bahwa kasus ISPA yang terjadi sebanyak 120.354 kasus yang tersebar di 13 kabupaten/kota. Banjarmasin menempati urutan pertama sebagai daerah dengan kasus ISPA terbanyak yaitu 33.083 kasus. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Puskesmas Pekauman pada tahun 2009 menempati urutan pertama untuk kasus ISPA pada anak dan balita dari 26 Puskesmas di daerah Kota Banjarmasin. Berdasarkan data dari Puskesmas Pekauman selama tiga tahun terakhir kasus ISPA pada anak dan balita selalu menempati urutan pertama dalam daftar 10 penyakit terbanyak pada poli anak di Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Selama tahun 2010 penyakit ISPA menempati posisi ketujuh dari 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Pekauman. Untuk bulan Januari 2011 ISPA menempati posisi keenam, sedangkan pada bulan Februari dan Maret menempati posisi ketujuh dari 10 penyakit terbanyak yang terjadi di Puskesmas Pekauman.

Penggunaan obat dikatakan rasional apabila pasien mendapatkan obat sesuai dengan indikasi penyakitnya, dalam dosis sesuai dengan kondisi masiang-masing, untuk jangka waktu yang cukup dan dengan harga yang paling terjangkau. Salah satu dampak dari penggunaan obat yang tidak rasional adalah terjadinya peningkatan angka morbiditas dan mortalitas penyakit. Seperti halnya penderita ISPA ringan (non pneumonia) pada anak yang seringkali mendapatkan resep antibiotik yang sebenarnya tidak diperlukan. Hal ini menjadikan pemakaian obat tidak tepat indikasi dan

memperbesar resiko terjadinya resistensi pemakaian antibiotik pada anak, sedangkan pada anak yang jelas menderita pneumonia akhirnya justru tidak mendapatkan terapi yang akurat, karena antibiotik yang tersedia telah digunakan untuk mereka yang tidak memerlukan. Dengan demikian tidaklah mengherankan apabila saat ini angka kematian anak akibat ISPA masih cukup tinggi di Indonesia. Penggunaan antibiotik pada pengobatan ISPA sebenarnya hanya untuk jenis ISPA pneumonia atau ISPA yang disebabkan oleh infeksi mikrobakteri. Sedangkan untuk ISPA non pneumonia yang biasanya disebabkan oleh virus penggunaan antibiotik tidak dapat membantu penyembuhan. Pemberian antibiotik untuk penderita ISPA non pneumonia hanya akan meningkatkan resiko terjadinya resistensi antibiotik terhadap penderita. Penderita menjadi lebih rentan terinfeksi dan sulit untuk diobati dengan antibiotik tertentu yang menyebabkan tubuh penderita menjadi resisten terhadap antibiotik tersebut (Alsagaff, 2005: 121). Berdasarkan hasil studi pendahuluan di Puskesmas Pekauman pada bulan April tahun 2011, diperoleh data peresepan antibiotik yang tidak rasional untuk pengobatan ISPA non pneumonia pada anak periode Juli 2010 - Maret 2011. Jumlah resep yang

tidak rasional adalah sebanyak 36 resep dari jumlah total 60 resep untuk pasien ISPA anak usia 0-12 tahun. Jumlah dalam persen yakni sebesar 60% dari total peresepan. Dari total 60 resep untuk pengobatan ISPA non pneumonia, 36 resep diataranya menggunakan antibiotik sebagai pilihan terapi sedangkan untuk pengobatan ISPA non pneumonia sebenarnya tidak diperlukan terapi dengan menggunakan antibiotik. Ketidaksesuaian pemilihan terapi pengobatan dengan patofisiologi penyakit yang diderita pasien menjadikan resep tersebut dapat dikatakan tidak rasional. Jumlah ketidakrasionalan tersebut masih dapat berubah tergantung kepada jumlah pasien ISPA yang datang untuk berobat ke Puskesmas. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, penulis akhirnya memutuskan untuk mengangkat permasalahan tentang Rasionalitas Peresepan Antibiotik untuk Pengobatan ISPA pada Anak di Puskesmas Pekauman Banjarmasin.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimana rasionalitas peresepan antibiotik untuk pengobatan ISPA di Puskesmas Pekauman Banjarmasin ? C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui rasionalitas peresepan antibiotik untuk pengobatan ISPA di Puskesmas Pekauman Banjarmasin.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat bagi Puskesmas Pekauman Banjarmasin :

Penelitian

ini dapat dijadikan sebagai masukan dan bahan evaluasi

terhadap rasionalitas peresepan antibiotik untuk pengobatan ISPA pada anak 2. Manfaat bagi peneliti : a. Dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai rasionalitas peresepan antibiotik untuk pengobatan ISPA. b. Sebagai suatu bentuk kepedulian terhadap permasalahan dalam pelayanan kesehatan yang terjadi khususnya mengenai rasionalitas peresepan antibiotik untuk pengobatan ISPA pada anak. 3. Manfaat bagi pembaca : Semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta dapat dijadikan bahan acuan dan perbandingan untuk penelitian yang berhubungan ataupun sejenis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Rasionalitas Peresepan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 2005, rasional adalah sesuatu yang dilakukan menurut pertimbangan dan pikiran yang sehat, menurut penikiran yang logis. Rasionalitas adalah pendapat yang berdasarkan pemikiran yang bersistem dan logis; hal dan keadaan rasional. Resep dalam arti yang sempit ialah suatu permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada apoteker untuk membuatkan obat dalam bentuk sediaan tertentu dan menyerahkannya kepada penderita. Suatu resep umumnya hanya diperuntukkan bagi satu penderita. Pada kenyataannya resep merupakan perwujudan akhir dari kompetensi, pengetahuan dan keahlian dokter dalam menerapkan pengetahuannya dalam bidang farmakologi dan terapi. Selain sifat-sifat obat yang diberikan dan dikaitkan dengan variabel dari penderita, maka dokter yang menulis resep idealnya perlu pula mengetahui nasib obat dalam tubuh: penyerapan, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat; toksikologi serta penentuan dosis regimen yang rasional bagi setiap penderita secara individual. Resep juga merupakan perwujudan hubungan profesi antara dokter, apoteker dan penderita (Joenoes, 2004: 7). Peresepan atau penulisan resep adalah tindakan terakhir dari dokter untuk penderitanya, yaitu setelah menentukan anamnesis, diagnosis dan prognosis serta

terapi yang akan diberikan; terapi dapat profilaktik, simtomatik, kausal. Terapi ini diwujudkan dalam bentuk resep. Penulisan resep yang tepat dan rasional merupakan penerapan berbagai ilmu, karena begitu banyak variabel-variabel yang harus diperhatikan, maupun variabel unsur obat dan kemungkinan kombinasi obat, ataupun variabel penderitanya secara individual (Joenoes, 2004: 13). Jadi rasionalitas peresepan dapat diartikan sebagai suatu penulisan resep atau permintaan tertulis oleh dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada apoteker yang dilakukan dengan penuh pertimbangan berdasarkan kepada pemikiran yang bersistem dan logis. Definisi peresepan yang rasional itu sendiri menurut WHO adalah penggunaan obat yang efektif. aman, murah, tidak polifarmasi, drug combination (fixed), individualisasi, pemilihan obat atas dasar daftar obat yang telah ditentukan bersama. Pemberian obat yang rasional adalah pemberian obat yang mencakup 6 tepat atau benar, yaitu tepat pasien, tepat obat, tepat waktu, tepat dosis, tepat jalur pemberian dan tepat dokumentasi (Priyanto, 2008: 26). Penulisan suatu resep seyogyanya didasarkan pada serangkaian langkah rasional. Penerapan langkah yang dimaksud dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Membuat diagnosis spesifik. Resep yang dibuat semata-mata pada keinginan untuk memuaskan pasien secara psikologis sehingga memerlukan beberapa jenis terapi, sering tidak mencapai sasaran dan dapat mengakibatkan timbulnya efek-efek samping. Suatu diagnosis spesifik, meskipun suatu perkiraan diperlukan untuk pindah ke tahap berikutnya.

b. Pertimbangan patofisiologi dari diagnosis yang terpilih Bila patologi penyakit sudah betul-betul dimengerti, penulis resep menempati posisi yang jauh lebih baik untuk memilih terapi yang efektif. Pasien harus diberi informasi dengan tingkat dan banyaknya informasi yang sesuai dengan patofisiologi penyakit. c. Memilih sasaran terapi spesifik Suatu sasaran terapi harus dipilih untuk setiap proses patofisiologi yang diterapkan dalam tahap terdahulu. Misalnya pada pasien dengan arthritis rematoid, penghilangan nyeri dengan mengurangi proses peradangan merupakan salah satu tujuan terapi utama yang menentukan pertimbangan golongan obat yang akan digunakan. Penghentian proses penyakit pada arthritis rematoid adalah suatu tujuan terapeutik yang lain yang dapat memberikan peningkatan terhadap pertimbangan golongan obat dan resep lain. d. Menentukan obat pilihan Satu atau lebih golongan obat akan ditentukan oleh setiap tujuan terapi yang telah ditetapkan dalam tahap sebelumnya. Seleksi suatu obat pilihan (drug of choice) di antara golongan obat ini akan mengikuti pertimbangan karakteristik tertentu dari pasien dan presentasi klinik. Untuk obat-obatan tertentu, karakterisik seperti umur, ras, penyakit lain, dan obat lain yang sedang digunakan merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan obat yang pali sesuai untuk penatalaksanaan keluhan yang ada. e. Penentuan regimen dosis yang sesuai

Regimen dosis ditentukan terutama oleh fakmakokinetik obat pada pasien tersebut. Bila pasien diketahui mempunyai penyakit organ utama yang diperlukan untuk eliminasi obat yang dipilih, maka penyesuaian regimen dosis rata-rata akan diperlukan. Untuk obat seperti ibuprofen yang eliminasi utamnya melalui ginjal, maka fungsi ginjal harus diukur. Bila fungsi ginjal normal, waktu paruh ibuprofen (kira-kira 2 jam) memerlukan pemberian 3 atau 4 kali sehari. Dosis yang dianjurkan menurut buku-buku dan kepustakaan dari pabrik obat adalah 400-800 mg 4 kali sehari. f. Merancang rencana untuk memonitor kerja obat dan menentukan kapan terapi berakhir. Penulis resep harus dapat menjelaskan pada pasien jenis-jenis efek obat yang akan dimonitor dan cara memonitor, termasuk uji laboratorium (bila diperlukan) serta tanda dan gejala yang harus dilaporkan oleh pasien. Dalam keadaan yang memerlukan batasan terapi (misal, pada umumnya penyakit infeksi), lama terapi harus ditentukan dengan jelas sehingga pasien tidak akan menghentikan minum obat sebelum waktunya dan akan mengerti mengapa resep tidak perlu diperbaharui (obat tidak perlu dilanjutkan). g. Merencanakan program pendidikan pasien. Penulis resep dan anggota tim kesehatn lainnya harus dipersiapkan untuk mengulangi, menyebarluaskan dan memperkuat informasi yang akan di transfer kepada pasien sesuai dengan keperluan. Semakin toksik obat yang diresepkan, semakin penting arti program pendidikan ini. Pentingnya informasi dan keterlibatan pasien dalam tiap tahap diatas harus diketahui seperti yang telah

diperlihatkan oleh pengalaman dengan obat-obatan teratogenik (Lofholm & Katzung, 2004: 1010).

B. Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA) 1. Pengertian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Menurut World Health Organization (2007), Infeksi Saluran Pernafasan Akut adalah penyakit saluran pernafasan atas atau bawah, biasanya menular, yang dapat menimbulkan berbagai spektrum penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan, tergantung pada patogen penyebabnya dan faktor lingkungan. Namun demikian, ISPA didefinisikan sebagai infeksi saluran pernafasan akut yang disebabkan oleh infeksi yang ditularkan dari manusia ke manusia. Menurut WHO (1994) infeksi saluran pernafasan adalah infeksi yang menyerang bagian saluran pernafasan seperti hidung, telinga, pharynx, epiglottis, larynx, trachea, bronchi, bronchioli atau paru-paru. Infeksi saluran pernafasan akut bagian atas mencakup infeksi akut pada telinga, hidung, dan tenggorokan. Sedangkan infeksi pernafasan akut bagian bawah mencakup infeksi akut pada epiglottis, larynx, trachea, bronchi, bronchioli dan paru. 2. Gejala dan Tanda Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pasien ISPA dapat menunjukkan berbagi gejala seperti batuk, sukar bernafas, hidung tersumbat, pilek dan sakit tenggorokan (WHO, 1994). Timbulnya gejala biasanya cepat yaitu dalam beberapa jam atau beberapa hari (WHO, 2007).

ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasanya. Infeksi saluran pernapasan atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin. Akan tetapi ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia sering teradi pada anak kecil terutama apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak higienis. Risiko terutama terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban immunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta tidak tersedianya atau berlebihannya pemakaian antibiotik (Alsagaff & Abdul, 2005: 111). Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda tampak di pemeriksaan klinik dan tanda-tanda tampak di pemeriksaan laboratorium. Tandatanda klinis ISPA adalah sebagai berikut : a. Pada sistem pernafasan : Nafas pendek, tidak teratur dan cepat, retraksi / tertariknya kulit kedalam dinding dada, suara nafas lemah atau hilang, suara nafas seperti ada cairannya sehingga terdengar keras. b. Pada sistem peredaran darah dan jantung : denyut jantung cepat atau lemah, hipertensi, hipotensi dan gagal jantung. c. Pada sistem syaraf : Gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, kejang dan koma. d. Pada hal umum : Mudah letih dan banyak berkeringat. Untuk tanda-tanda laboratorium dapat diketahui melalui pemeriksaan secara khusus dengan menggunakan sampel berupa sputum (dahak). Sampel berupa sputum

sangat baik digunakan, bakteri, jamur atau virus yang menyebabkan ISPA dapat diketahui dengan lebih akurat karena sputum merupakan spesimen yang bersentuhan langsung dengan saluran pernafasan. Suatu spesimen sputum dianggap mewakili sekresi saluran nafas bagian bawah yang dapat dikeluarkan melewati saluran nafas bagian atas. Tetapi untuk pasien bayi dan balita seringkali kesulitan dalam pengambilan sputum sebagai sampel karena pasien tidak dapat mengeluarkan sendiri sputum tersebut. Penggunaan nebulizer bisa membantu mengeluarkan sekret. Kultur sputum merupakan cara diagnosis yang direkomendasikan untuk membantu pemberian terapi. Kultur ini sangat membantu mengidentifikasi signifkasi epidemiologi dari organisme penyebab, baik untuk melihat pola penularan atau resistensi (Ethical Digest, 2010: 20). Hasil analisa laboratorium dapat digunakan untuk mengetahui penyebab utama ISPA, apakah disebabkan oleh bakteri, jamur, atau virus. Jika ISPA disebabkan oleh bakteri maka hasil laboratorium juga dapat memberikan keterangan tentang jenis bakteri yang menjadi penyebab ISPA tersebut.

C. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Non Pneumonia Penyakit ISPA non pneumonia sebagian besar disebabkan oleh virus pernafasan. Sampai saat ini telah dikenal lebih dari 100 jenis virus penyebab ISPA. Infeksi virus memberikan gambaran klinik yang khas. Gambaran klinik secara umum yang sering didapati adalah: rhinitis, nyeri tenggorokan, batuk-batuk dengan dahak kuning atau putih kental, nyeri retrosternal dan konjungtivitis. Suhu badan akan meningkat antara 4-7 hari, disertai dengan malaise, mialgia, nyeri kepala,

anoreksia, mual, muntah-muntah dan insomnia. Kadang-kadang dapat juga terjadi diare (Alsagaff & Abdul, 2005: 112). Penyakit ISPA non pneumonia dapat berkembang menjadi ISPA pneumonia apabila selama masa inkubasi penderita terinfeksi bakteri atau sebelumnya telah menderita penyakit paru yang menahun seperti Tuberkulosis (TBC) misalnya. Gambaran klinik perkembangan ISPA non pneumonia menjadi ISPA pneumonia dapat diketahui dengan menghitung waktu peningkatan suhu tubuh dan bentuk fisik sputum. Apabila peningkatan suhu tubuh berlangsung sangat lama dan sputum yang semula berwarna jernih berubah menjadi keruh, berwarna kuning atau hijau maka penderita telah mengalami perkembangan penyakit ISPA non pneumonia menjadi ISPA pneumonia. Ada 6 gambaran sindroma ISPA yang disebabkan oleh virus Non pneumonia) yaitu : 1. Sindroma Korisa (Coryzal/Common Cold Syndrome) Sindroma ini ditandai dengan peningkatan sekresi hidung, bersin-bersin, hidung buntu, kadang-kadang disertai sekresi air mata dan konjungtivitis ringan. Sekresi hidung mula-mula cair kemudian mokoid dan selanjutnya menjadi purulen. Keadaan tersebut seringkali menimbulkan nyeri kepala dan nyeri setempat. Sindroma korisa biasanya diawali dengan suara serak dan rasa nyeri tenggorok. Kadang-kadang disertai keluhan sistemik berupa nyeri kepala, mialgia, malaise, rasa lemah malas dan rasa dingin. Penyebab sindroma ini biasanya rhinovirus, parainfluenza I dan II, echovirus, coxsackie dan RSV. 2. Sindroma Faring (Pharyngeal Syndrome)

Gambaran klinik yang menonjol adalah suara serak dan nyeri tenggorok dengan derajat ringan sampai berat. Terdapat keradangan faring dan pembesaran adrenoid serta tonsil, kadang-kadang adrenoid sangat besar sehingga menimbulkan obstruksi pada hidung. Kadang bercak-bercak serta eksudasi berwarna didapatkan pada permukaan tonsil disertai pembesaran kelenjar di leher. Sering dijumpai penderita dengan batuk-batuk, tanpa disertai korisa. Gejala sindroma faring berua panas dingin, malaise, nyeri/pegal seluruh badan, nyeri kepala, dan kadang-kadang suara parau. Penyebab utama sindrom ini adalah adenovirus. 3. Sindroma Faringokonjungtiva Merupakan varian dari sindroma faring yang disebabkan oleh virus yang sama. Gejala klinik diawali dengan faringitis yang berat kemudian diikuti dengan konjuntivitis yang sering kali bilateral. Dapat juga dimulai dengan gejal konjungtivitis yang berlangsung selam 1-2 minggu sebelum gejala faringitis itu sendiri. Pada sindroma faringokonjungtiva didapatkan fotofobi dan nyeri pada bola mata. 4. Sindroma Influenza Gambaran yang menonjol pada sindroma influenza adalah gangguan fisik cukup berat, dengan gejala batuk, meriang, panas badan, lemah badan, nyeri kepala, nyeri tenggorok, nyeri retrostenal, nyeri seluruh tubuh, malaise dan anoreksia. Gejala-gejala ini terjadi secara mendadak dan dengan cepat dapat menular ke semua anggota keluarga dalam satu rumah.

5. Sindroma Herpangina Gambaran klinik Sindroma Herpangina berupa vesikel-vesikel yang terdapat di dalm mulut an faring. Vesikel ini kemudian mengalami ulserasi dengan tepi yang membengkak, disertai nyeri tenggorokan, nyeri kepala dan panas badan. Penyebab sindroma herpangina adalah virus Coxssckie A dan umumnya menyerang anak-anak. 6. Sindroma Laringotrankeobronkitis Obstruktif Akuta (Croup Syndrome) Pada anak-anak, gambaran klnik dari sindroma laringotrankeobronkitis obstruktif akuta tampak gawat dan berat berupa batuk-batuk, sesak napas yang disertai stridor inspirasi, sianosis serta gangguan-gangguan sistemik lainnya. Gejala awal sering ringan yaitu berupa sindroma korisa, kemudian cepat memburuk berupa obstruksi jalan napas yang hebat dengan penarikan sela antara iga dan toraks bagian bawah serta penggunaan otot-otot napas bantu secara menonjol. Penyebab utama keadaan ini adalah virus parainfluenza, RSV, adenovirus dan virus influenza. Pada umumnya gejala tersebut menghilang dengan cepat, akan tetapi ada kalanya berkembang menjadi kegagalan pernapasan yang memerlukan tindakan trakeostomi dengan segera. Hal ini disebabkan ada superinfeksi antibiotik yang biasanya disebabkan oleh kuman Streptokokus Hemolitikus dan Stafilokokus. Pada keadaan gawat dapat diberikan antibiotika ampisislin atau eritromisin. Pemberian kortikosteroid intravena sering juga

diperlukan. Sindroma ini harus dibedakan dengan infeksi bakterial karena mempunyai gambaran klinis yang sama (Alsagaff & Abdul, 2005: 113).

D. Pengobatan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Non Pneumonia Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa penyakit ISPA non pneumonia disebabkan oleh virus sehingga untuk pengobatannya tidak dapat dilakukan dengan menggunakan antibiotik. Pemberian antibiotik pada penderita ISPA non pneumonia tidak akan memberikan efek kesembuhan karena antibiotik tidak dapat bekerja terhadap infeksi virus. Untuk infeksi virus seharusnya diobati dengan menggunakan anti virus, akan tetapi sampai saat ini belum ditemukan obat yang khusus anti virus untuk mengobati penyakit ISPA non pneumonia. Karena hal tersebut maka tujuan terapi pada penderita ISPA non pneumonia adalah terapi simtomatik. Obat yang dapat digunakan adalah analgetik , antipiretik, dekongestan, antitusif, mukolitik, ekspektoran dan kortikosteroid. Obat-obatan tersebut dapat diberikan secara oral atau topikal seperti tetes / semprot hidung dan obat kumur. Pengobatan tidak harus selalu menggunakan obat-obatan kimia, pengobatan tradisional juga dapat menjadi pilihan dalam mengobati gejala yang timbul pada ISPA non pneumonia (Mandal, 2008: 28). Perkembangan ISPA non pneumonia menjadi ISPA pneumonia dapat dicegah dengan penanganan yang baik dan cepat, segara setelah gejala klinis terlihat sehingga tidak terjadi infeksi bakteri. Tindakan pengobatan yang cepat, tepat dan

akurat menjadi factor penting dalam penyembuhan penyakit ISPA (Chayono, 2010: 72).

E. Antibiotik untuk Pengobatan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba terutama fungi yang dapat menghambat atau membasmi mikroba jenis lain. Banyak antibiotik dewasa ini yang dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh. Namun dalam praktek sehari-hari antimikroba sintetik yang tidak diturunkan dari produk mikroba (misalnya sulfonamide dan kuinolon) juga sering digolongkan sebagai antibiotik (Anonim,2006: 571). Pemberian antibiotik untuk pengobatan pada ISPA harus memperhatikan jenis dan penyebab terjadinya ISPA tersebut sebagai berikut : 1. ISPA pneumonia berat : Dilakukan perawatan intensif di Rumah Sakit, diberikan antibiotik melalui jalur infus atau injeksi, diberi alat bantu pernafasan berupa oksigen dan sebagainya. 2. ISPA pneumonia : Diberikan antibiotik secara oral. Pilihan obatnya kotrimoksazol, jika terjadi alergi dapat diberikan amoksisillin, penisilin, ampisilin. 3. ISPA Non pneumonia : pengobatan dilakukan tanpa menggunakan antibiotik. Diberikan perawatan di rumah, untuk batuk dapat diberikan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan. Bila demam dapat diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita

dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan terdapat bercak nanah dan pembesaran kelenjar getah bening dileher dianggap sebagai radang tengggorokan oleh kuman streptococcus dan harus diberi antibiotik selam 10 hari (Rasmaliah,2004: 34)

F. Kerangka Pikir

Rasionalitas

Peresepan antibiotik untuk pengobatan ISPA

Gambar 1. Kerangka Pikir

BAB III METODELOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian Rancangan dalam penelitian ini adalah jenis rancangan penelitian noneskperimental yang bersifat deksriptif. Metode penelitian deskriptif adalah penelitian yang berhubungan dengan variabel yang ada tanpa membuat suatu perbandingan atau pun menghubungkan (Hidayat, 2009:30). Rancangan penelitian ini digunakan untuk mengetahui rasionalitas peresepan antibiotik untuk pengobatan ISPA pada anak di Puskesmas Pekauman Banjarmasin. B. Variabel dan Definisi Operasional 1. Variabel Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh suatu penelitian tentang suatu konsep pengertian tertentu/sebagai konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai (Notoamodjo, 2010: 130). Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah rasionalitas menyangkut tentang peresepan antibiotik untuk pengobatan ISPA pada anak. 2. Definisi Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena (Hidayat, 2007: 79).

Dalam penelitian ini, peneliti membuat tabel definisi operasional sebagai berikut :

Tabel 3.1. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Parameter Alat Ukur Skala Ukur Ordinal Rasional ( Non Pneumonia antibiotik) Kategori

Rasionalitas peresepan antibiotik

Kesesuaian peresepan antibiotik dengan diagnosis

Resep antibiotik yang diberikan untuk

Lembar observasi

ISPA pada pasien pasien anak. ISPA non pneumonia (Non Pneumonia antibiotik) = Tidak rasional

C. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian dilakukan di Puskesmas Pekauman Banjarmasin.

2. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Juli tahun 2011.

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah semua resep untuk pasien anak penderita ISPA di Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Populasi resep untuk pasien anak penderita ISPA di Puskesmas Pekauman Banjarmasin pada bulan Mei tahun 2011 berjumlah 400 orang. 2. Sampel Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat, 2007:60). Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah resep untuk pasien anak penderita ISPA Non pneumonia di Puskesmas Pekauman pada bulan Mei tahun 2011. Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
N n= Nd + 1

Keterangan : n = Jumlah Sampel N = Jumlah Anggota Populasi d = Nilai presisi yang ditetapkan

400 n= 400 (10%) + 1

400 n= 4+1

400 n= 5

n=

80

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 80 resep. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode acak sederhana. E. Jenis Data dan Sumber Data Data yang digunakan sebagai bahan materi penelitian adalah data primer dan data sekunder. 1. Data Primer Data primer merupakan data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti dan langsung didapatkan dari hasil observasi. Data tersebut adalah resep untuk pasien anak penderita ISPA di Puskesmas Pekauman Banjarmasin. 2. Data Sekunder Data sekunder yang digunakan pada penelitian ini yaitu data yang diperoleh dari Puskesmas Pekauman Banjarmasin berupa formulir monitoring indikator peresepan periode Juli 2010-Maret 2011 serta daftar 10 penyakit terbanyak periode Januari-Maret 2011.

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data 1. Teknik Pengolahan Data Teknik pengolahan data adalah sebagai berikut: a. Editing, adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul. b. Coding, adalah kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting bila pengolahan dan analisis data menggunakan komputer. Biasanya dalam

pemberian kode dibuat juga daftar kode dan artinya dalam satu buku (code book) untuk memudahkan kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variabel. c. Entry Data, adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam master table atau database komputer, kemudian membuat frekuensi sederhan atau bisa juga dengan membuat tabel kontigensi. 2. Analisa Data Setelah semua data terkumpul, data diolah secara manual dalam bentuk tabulasi dan persentase. Data yang sudah diolah tersebut kemudian dianalisa secara deskriptif. Data yang diperoleh dari hasil observasi kemudian dipersentasekan dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Mahfoedz, 2009).

F P= N x 100 %

Keterangan :

P = Persentase F = Jumlah resep yang tidak rasional N = Jumlah resep (sampel)

Data yang diperoleh kemudian disajikan dalam bentuk tabulasi dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi sederhana seperti di bawah ini :

Tabel 3.2. Tabel Distribusi Frekuensi Sederhana Kategori Rasionalitas Rasional Tidak Rasional Jumlah .......... .. Persentase ( % ) .. ..

\ G. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini proses pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi atau pengamatan. Pengamatan dilakukan dengan cara terlibat

langsung dalam pelayanan resep sehingga memudahkan untuk melakukan analisa terhadap rasionalitas resep. Sebagai instrumen pengumpulan data dibuat lembar observasi dalam bentuk tabel yang di isi oleh peneliti berdasarkan hasil pengamatan sebagai berikut :

Tabel 3.3. Lembar Observasi Jenis Kelamin P/L Item Obat Antibiotik Ya / Tidak Rasional Ya / Tidak

Tgl

No

Umur

Diagnosis

H. Etika Penelitian Penelitian dilakukan setelah mendapatkan rekomendasi dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin, kemudian dilanjutkan dengan mengajukan permohonan izin kepada Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin untuk mendapatkan persetujuan melakukan penelitian di Puskesmas Pekauman

Banjarmasin dengan menekankan masalah etika yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut :

1. Informed consent Informed Consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Informed Consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilekukan dengan memberikan lember persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan Informed Consent adalah agar subjek mengerti maksud dan tujan penelitian, mengetahui dampaknya. Penelitian ini dilakukan berdasarkan persetujuan responden yang diperoleh melalui lembar persetujuan dan diberikan kepada subjek yang akan diteliti. 2. Anonymity (tanpa nama) Masalah ini merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan. 3. Confidentially (kerahasiaan) Masalah ini merupakan masalah etika dalam memberikan jaminan kerahasiaan penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijaminkerahasiaannya oleh peneliti.

I.

Jalan Penelitian Penelitian dimulai dari analisa situasi dan studi literatur/pustaka. Selanjutnya proses bimbingan judul pada bulan Maret 2011. Pad bulan April dilaksanakan studi pendahuluan di lokasi penelitian, dilanjutkan dengan

menetapkan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Proses pengajuan judul ke komite skripsi dilakukan pada tanggal 11-30 April 2011. Menyususun kerangka pikir, mengidentifikasi variabel penelitian,

menentukan populasi, sampel dan teknik pengambilan sampel dilakukan dalam proses bimbingan proposal Karya Tulis Ilmiah yang dilaksanakan pada tanggal 1 Mei-20 Juni 2011. Proses pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 22 Juni-2 Juli 2011 di Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Proses pengambilan data dimulai dengan menentukan objek penelitian yang dipilih sesuai dengan kriteria populasi dan sampel yang telah ditentukan dengan menggunakan metode acak sederhana. Setelah didapatkan objek yang memenuhi keriteria kemudian dilakukan pemeriksaan mengenai rasionalitas peresepan antibiotik pada resep. Data yang diperoleh kemudian dimasukkan kedalam lembar observasi berbentuk tabel. Data yang sudah terkumpul kemudian dibuat dalam bentuk tabulasi dan persentase yang selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Proses tersebut dilakukan dengan bimbingan yang dilaksanakan pada tanggal 4-14 Juli 2011.

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Wilayah Penelitian Puskesmas Pekauman terletak di jalan K.S. Tubun No.81 Banjarmasin yang didirikan pada tahun 1974 dan merupakan Puskesmas yang pertama kali ada di wilayah Banjarmasin. Puskesmas Pekauman merupakan Puskesmas Induk yang membawahi empat Puskesmas Pembantu (Pustu) yaitu Pustu Kelayan Selayan, Pustu Basirih, Pustu Kuin Kacil dan Pustu Mantuil. Puskesmas Pekauman juga membawahi dua Puskesdes yaitu Puskesdes Mantuil dan Puskesdes Handil Bamban. 1. Geografi dan Batas Wilayah Penelitian ini mengambil tempat di wilayah kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Puskesmas Pekauman ini berlokasi di Kelurahan Pekauman kecamatan Banjarmasin Selatan. Puskesmas Pekauman didirikan pada tahun 1974 dengan luas lahan 2400 m. Luas wilayah kerja Puskesmas Pekauman adalah 10,6 km yang meliputi 4 kelurahan, yaitu : a. Kelurahan Pekauman dengan luas wilayah 1,20 Km b. Kelurahan Kelayan Barat dengan luas wilayah 0,15 Km c. Kelurahan Kelayan Selatan dengan luas wilayah 4,25 Km d. Kelurahan Mantuil dengan luas wilayah 5,05 Km Dengan batasan wilayah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara

: Sungai Martapura

b. Sebelah Selatan : Kabupaten Banjar c. Sebelah Barat d. Sebelah Timur 2. Sarana dan Prasarana Puskesmas Pekauman memiliki sarana pelayanan kesehatan yang cukup lengkap. Puskesmas Pekauman memiliki sarana pelayanan kesehatan berupa ruang pemeriksaan yaitu Poli Umum beserta Kamar Tindakan, Poli Anak, Poli Gizi dan Lansia, KIA / KB (Poli Kebidanan & Imunisasi) dan Poli PKPR. Selain itu terdapat juga sarana dan prasarana penunjang lainnya seperti Klinik Sanitasi, Laboratorium, Apotek, Gudang Obat, Loket pendaftaran dan ruang Tata Usaha. Tersedia juga mushola, toilet karyawan dan toilet pasien. Untuk sarana transportasi Puskesmas Pekauman memiliki sebuah mobil yang digunakan untuk melakukan pelayanan Puskesmas Keliling. 3. Demografi Adapun jumlah Penduduk di Wilayah kerja Puskesmas Pekauman berdasarkan data proyeksi tahun 2009 dapat dilihat pada tabel 4.1. : Sungai Martapura : Kelayan Luar

Tabel 4.1. Jumlah penduduk berdasarkan data proyeksi tahun 2009 Kelurahan Pekauman Kelayan Selatan Kelayan Barat Mantuil Jumlah Jumlah Penduduk 10.372 22.90 8.288 11.629 53.194 Jumlah RT 30 63 30 34 160

Sumber : Profil Puskesmas Pekauman Tahun 2009 Jumlah rumah tangga penduduk dan rata-rata penduduk per rumah tangga berdasarkan Tahun 2010 adalah seperti pada tabel 4.2. Tabel 4.2. Jumlah rumah tangga penduduk dan rata-rata penduduk per rumah tangga di wilayah kerja Puskesmas Pekauman tahun 2010 Jumlah No. Kelurahan Rumah Tangga 2612 6667 2783 1799 10977 19642 12370 9203 Jumlah Penduduk Rata-rata jiwa/rumah tangga 4 3 4 5

1. 2. 3. 4.

Mantuil Kelayan Selatan Pekauman Kelayan Barat

Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pekauman Tahun 2010

Banyaknya jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di wilayah kerja Puskesmas Pekauman tahun 2010 juga dapat dilihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3. Jumlah Penduduk berdasarkan jenis kelamin di wilayah kerja Puskesmas Pekauman Tahun 2010 No. 1. 2. 3. 4. Kelurahan Mantuil Kelayan Selatan Pekauman Kelayan Barat Laki-laki 5508 9864 6152 4687 Perempuan 5469 9778 6218 4516 Jumlah 10977 19642 12370 9203

Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pekauman Tahun 2010

Sedangkan untuk jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur di wilayah kerja Puskesmas Pekauman dapat dilihat pada tabel 4.4. sebagai beikut :

Tabel 4.4. Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur di wilayah kerja Puskesmas Pekauman Tahun 2010 60 tahun No. Kelurahan 0-4 tahun 1. 2. 3. 4. Mantuil Kelayan Selatan Pekauman Kelayan Barat 1112 2313 1247 892 5-9 tahun 826 1584 842 658 10-19 tahun 2237 3691 2243 1652 20-59 tahun 6272 11106 7233 5385 dan ke atas

530 948 805 616

Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pekauman Tahun 2010

B. Hasil Penelitian 1. Jumlah Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin Dari hasil penelitian diperoleh data jumlah sampel berdasarkan jenis kelamin seperti tertera pada tabel 4.5.

Tabel 4.5. Jumlah sampel penelitian berdasakan jenis kelamin No. 1. 2. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah 42 orang 38 orang 80 orang

Jumlah total sampel Sumber : Data primer yang diolah

2. Rasionalitas Peresepan Antibiotik Untuk Pengobatan ISPA Pada Anak di Puskesmas Pekauman Untuk hasil penelitian terhadap rasionalitas peresepan antibiotik untuk pengobatan ISPA pada anak juga disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian terhadap rasionalitas peresepan antibiotik untuk pengobatan ISPA pada anak dapat dilihat pada tabel 4.6. Tabel 4.6. Rasionalitas Peresepan Antibiotik untuk Pengobatan ISPA pada Anak di Puskesmas Pekauman Bulan Mei Tahun 2011 Kategori Rasional Tidak Rasional Jumlah Sumber : Data primer yang diolah Jumlah Resep 22 58 80 Persentase 27,5 % 72,5 % 100 %

C. Pembahasan Pada bagian ini akan dibahas mengenai permasalahan tersebut berdasarkan data diatas, yaitu berdasarkan kategori hasil data dari sampel mengenai rasionalitas peresepan antibiotik untuk pengobatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut pada anak di Puskesmas Pekauman bulan Mei tahun 2011. Infeksi Saluran Pernafasan Akut adalah penyakit saluran pernafasan atas atau bawah, biasanya menular. Infeksi saluran pernafasan akut bagian atas mencakup infeksi akut pada telinga, hidung, dan tenggorokan. Sedangkan infeksi pernafasan akut bagian bawah mencakup infeksi akut pada epiglottis, larynx, trachea, bronchi, bronchioli dan paru Penyakit ISPA non pneumonia sebagian

besar disebabkan oleh virus pernafasan. Sampai saat ini telah dikenal lebih dari 100 jenis virus penyebab ISPA (Anonim,1994). Infeksi virus memberikan gambaran klinik yang khas. Gambaran klinik secara umum yang sering didapati adalah: rhinitis, nyeri tenggorokan, batuk-batuk dengan dahak kuning atau putih kental, nyeri retrosternal dan konjungtivitis. Suhu badan akan meningkat antara 4-7 hari, disertai dengan malaise, mialgia, nyeri kepala, anoreksia, mual, muntah-muntah dan insomnia. Kadang-kadang dapat juga terjadi diare. Gejala spesifik yang timbul pada penderita ISPA tergantung kepada jenis virus yang menyerang. Jenis virus penyebab ISPA yaitu Influenza virus, Parainfluenza virus, Respiratory syncitial virus ( RS-virus), Adenovirus, Rhinovirus, Coxsackie virus A, Coxsackie virus B, Echovirus dan Coronavirus.

Gejala yang timbul akibat infeksi virus ini dikelompokkan menjadi enam bagian berdasarkan sindrom yang ada yaitu sindroma Korisa, Sindroma Faring, Sindroma Faringokonjungtiva, Sindroma Influenza, Sindroma Herpangina dan Sindroma Laringotrakeobronkitis Obstruktif Akuta (Croup Syndrome). Penyakit ISPA non pneumonia disebabkan oleh virus sehingga untuk pengobatannya tidak dapat dilakukan dengan menggunakan antibiotik. Pemberian antibiotik pada penderita ISPA non pneumonia tidak akan memberikan efek kesembuhan karena antibiotik tidak dapat bekerja terhadap infeksi virus. Untuk infeksi virus seharusnya diobati dengan menggunakan anti virus, akan tetapi sampai saat ini belum ditemukan obat yang khusus anti virus untuk mengobati penyakit ISPA non pneumonia. Karena hal tersebut maka tujuan terapi pada penderita ISPA non pneumonia adalah terapi simtomatik. Obat yang dapat digunakan adalah analgetik, antipiretik, dekongestan, antitusif, mukolitik, ekspektoran dan

kortikosteroid. Obat-obatan tersebut dapat diberikan secara oral atau topikal seperti tetes / semprot hidung dan obat kumur (Mandal,2008). Pemberian antibiotik harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Diagnosis yang tepat akan menentukan rasionalitas pemilihan obat untuk terapi pengobatan pasien. Kesalahan dalam diagnosis akan mengakibatkan kesalahan juga pada pemilihan obat untuk terapi pengobatan. Selain itu peresepan obat yang tidak sesuai dengan diagnosis dapat menyebabkan pengobatan menjadi tidak rasional dan dapat menimbulkan efek yang berlebihan dan tidak diharapkan.

Pemberian antibiotik yang tidak diperlukan dapat meningkatkan resiko terjadinya efek resistensi sehingga bakteri menjadi tidak peka terhadap jenis antibiotik yang diberikan. Bakteri tersebut membentuk kekebalan dan tidak dapat mati jika menggunakan jenis antibiotik dengan dosis yang sama sehingga harus dilakukan penambahan dosis dan memperpanjang lama penggunaan obat atau pemilihan antibiotik jenis baru. Penggunaan antibiotik dengan dosis besar dan jangka waktu yang lama akibat terjadinya resistensi dapat menimbulkan efek samping yang fatal seperti adanya reaksi anafilaksis. Pemberian antibiotik pada bayi dapat menyebabkan pergeseran ikatan bilirubin dengan albumin sehingga mengganggu sistem imun. Mekanisme reaksi imun juga dapat berkembang menjadi hepatitis anikterik dengan nekrosis sel hati. Efek samping lain yang ditimbulkan oleh pemakaian antibiotik dalam waktu lama dan dosis besar adalah timbulnya komplikasi pada saluran kemih yang disebabkan oleh pembentukan dan penumpukan kristal dalam ginjal, kaliks, pelvis, ureter atau kandung kemih yang menyebabkan iritasi dan obstruksi. Ada pula efek samping ringan yang sering terjadi pada penggunaan antibiotik seperti reaksi alergi dan gangguan saluran cerna (diare). Resiko efek samping tersebut diatas akan semakin besar apabila pasien adalah bayi dan anak-anak karena pada umumnya bayi dan anak-anak memiliki organ dan sistem tubuh yang belum berkembang sepenuhnya seperti fungsi hati dan ginjal yang menjadi alat untuk metabolisme, ekskresi serta detoksifikasi bagi tubuh sehingga memudahkan terjadinya efek toksik (Setiabudy,2007).

Dari hasil data yang diolah tentang rasionalitas peresepan antibiotik untuk pengobatan ISPA pada anak hanya 27,5 % resep yang rasional. Resep dibuat sesuai dengan ketentuan untuk pengobatan penyakit ISPA non pneumonia yang bersifat simptomatis tanpa penggunaan antibiotik. Sedangkan jumlah resep yang tidak rasional mencapai 72,5 % dari total keseluruhan resep. Angka ketidakrasionalan resep ini dikarenakan adanya penggunaan antibiotik yang tidak diperlukan dalam pengobatan. Penggunaan obat yang tidak diperlukan seperti antibiotik tersebut menjadi faktor penyebab terjadinya tidak tepat indikasi yang mengakibatkan resep dinilai tidak rasional.

BAB V PENUTUP

A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap rasionalitas peresepan antibiotik untuk pengobatan infeksi saluran pernafasan akut pada anak di Puskesmas Pekauaman Banjarmasin tahun 2011 dapat disimpulkan bahwa hampir separuh resep dikatakan rasional.

B. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas maka peneliti menyarankan beberapa hal sebagai berikut : 1. Kepada pihak Puskesmas agar lebih spesifik dalam menegakkan diagnosis penyakit sehingga dapat memberikan terapi pengobatan yang sesuai dengan diagnosis yang ada. 2. Meningkatkan rasionalitas peresepan dengan pemilihan obat yang sesuai dengan kebutuhan pasien berdasarkan diagnosis yang telah ditegakkan, karena penggunaan obat yang rasional dan tidak berlebihan sesuai dengan diagnosis penyakit akan memaksimalkan proses penyembuhan dan mengurangi efek samping dari pengobatan.

DAFTAR RUJUKAN

Alsagaff, Hood & Mukty, Abdul (Eds.). 2005. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya. Airlangga University Press.

Chayono, JB Suharjo B. 2010. Kesalahan Diagnosis dan Keselamatan Pasien. Ethical Digest, hlm.72-76.

Depkes RI. 2002. Penggunaan Obat Rasional. Jakarta: Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan.

Ethical Digest. April 2010. Penyakit Paru Terbanyak., hlm.20-23.

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika

Joenoes, Nanizar Zaman. 2003. ARS PRESCRIBENDI (Resep yang Rasional) Edisi 1. Surabaya. Airlangga University Press.

Katzung, Bertram G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik (Buku 2) Edisi 8. Terjemahan dan Editor oleh Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Machfoedz, Irham. Metodelogi Penelitian Bidang Kesehatan, Keperawatan, Kebidanan, Kedokteran. Yogyakarta: Fitramaya

Mandal, B.K.,Wilkins, E.G.L., Dunbar, E.M., White, R.T. Mayon. 2004. Lecture Notes Penyakit Infeksi. Terjemahan oleh dr. Juwalita Surapsari. 2008. Jakarta: Erlangga

Notoatmodjo, Soekidjo. 2002. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Rasmaliah. 2004. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan Penanggulangannya. Medan: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Rosdy, Edi & Kristiani. 2005. Penanggulangan ISPA. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Sukandar, Elin Yulinah, dkk. 2008. ISO Farmakoterapi. Jakarta. PT. ISFI Penerbitan.

WHO. 1994. Out Patient Management of Young Children With Acute Respiratory Infection.

WHO. 2003. Penanganan ISPA pada Anak di Rumah Sakit Kecil Negara Berkembang. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Lampiran 1. Surat Izin Studi Pendahuluan

Lampiran 2. Surat Izin Penelitian dari Institusi

Lampiran 3. Surat Izin Penelitian dari Instansi

Lampiran 4. Surat Permohonan Bimbingan

Lampiran 5. Lembar Konsultasi Bimbingan KTI ( Pembimbing I)

Lampiran 6 . Lembar Konsultasi Bimbingan KTI ( Pembimbing II)

Lampiran 7. LEMBAR OBSERVASI

Tgl

No . R/

Jenis Kelamin P/L

Umur

Diagnosis

Item Obat

Antibiotik Ya / Tidak

Rasional Ya / Tidak

Lampiran 8 PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama NPM Program Studi Program : : : : MUSTIKA MUTHAHARAH 08045 D3 Fi. DIII FARMASI REGULER

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Karya Tulis Ilmiah yang saya tulis ini benarbenar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan plagiat, yaitu pengambilalihan tulisan, atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran saya sendiri. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan Kerya Tulis Ilmiah ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Banjarmasin, 20 Juni 2011 Pembuat Pernyataan

Mustika Muthaharah

Lampiran 9 RIWAYAT HIDUP

1. Nama Lengkap 2. Tempat/tanggal lahir 3. Nama orang tua

: : :

Mustika Muthaharah Banjarmasin, 23 Maret 1991 a. Drs. H. Suriadi Kurnain b. Dra. Hj. Siti Salmah

4. Riwayat Pendidikan a. TK b. SD

: Taman Kanak-kanak Muslimat NU Buntok : Sekolah Dasar Negeri XIV Buntok

c. SMP : Madrasah Tsanawiyah Negeri Buntok d. SMA : Madrasah Aliyah Normal Islam Puteri Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai