Anda di halaman 1dari 4

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.

1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Karet Menurut Setyamidjaja (1993), klasifikasi tanaman karet adalah sebagai berikut : Divisi Subdivisi Kelas Ordo Family Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Euphorbiales : Euphorbiaceae : Hevea : Hevea brasiliensis Muell Arg.

Tanaman karet memiliki sistem perakaran yang terdiri dari akar tunggang, akar lateral yang menempel pada akar tunggang dan akar serabut. Pada tanaman yang berumur 3 tahun kedalaman akar tunggang sudah mencapai 1,5 m. Apabila tanaman sudah berumur 7 tahun maka akar tunggangnya sudah mencapai kedalaman lebih dari 2,5 m. Pada konsisi tanah yang gembur akar lateral dapat berkembang sampai pada kedalaman 40 80 cm, dimana akar lateral berfungsi untuk menyerap air dan unsur hara dari tanah. Pada tanah yang subur akar serabut masih dijumpai sampai kedalaman 45 cm. Akar serabut akan mencapai jumlah yang maksimum pada musim semi dan pada musim gugur mencapai jumlah minimum (Basuki dan Tjasadihardja, 1995). Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15 25 m. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi. Beberapa pohon karet ada kecondongan arah tumbuh agak miring. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (Setiawan, 2005). Daun karet berselang-seling, tangkai daunnya panjang dan terdiri dari 3 anak daun yang licin berkilat dengan panjang 3,5 30 cm. Helaian anak daun bertangkai pendek dan berbentuk lonjong-oblong atau oblong-obovate, pangkal sempit dan tegang, ujung runcing, sisi atas daun berwarna hijau tua sedangkan sisi bawah berwarna agak cerah, panjangnya 5 35 cm dan lebar 2,5 12,5 cm (Sianturi, 2001). Daun karet berwarna hijau, apabila akan rontok berubah warna menjadi kuning atau merah. Daun mulai rontok apabila memasuki musim kemarau. Daun karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai daun utama sekitar 3-20 cm. Panjang tangkai anak daun sekitar 3-10 cm. Biasanya terdapat 3 anak daun pada setiap helai

daun karet. Anak daun karet berbentuk elips, memanjang dengan ujung yang meruncing, tepinya rata dan tidak tajam (Marsono dan Sigit, 2005). Bunga karet terdiri dari bunga jantan dan betina yang terdapat dalam malai payung yang jarang. Pada ujungnya terdapat lima taju yang sempit. Panjang tenda bunga 4 8 mm. Bunga betina berambut, ukurannya sedikit lebih besar dari bunga jantan dan mengandung bakal buah yang beruang tiga. Kepala putik yang akan dibuahi dalam posisi duduk juga berjumlah tiga buah. Bunga jantan mempunyai sepuluh benang sari yang tersusun menjadi suatu tiang. Kepala sari terbagi dalam dua karangan dan tersusun lebih tinggi dari yang lain (Marsono dan Sigit, 2005). Bunga majemuk terdapat pada ujung ranting yang berdaun. Tiap-tiap karangan bunga bercabang-cabang. Bunga betina tumbuh pada ujung cabang, sedangkan bunga jantan terdapat pada seluruh bagian karangan bunga. Jumlah bunga jantan jauh lebih banyak daripada bunga betina. Bunga berbentuk lonceng berwarna kuning. Bunga betina ukurannya lebih besar dari pada bunga jantan (Setyamidjaja, 1993). Buah karet memiliki pembagian ruang yang jelas. Masing-masing ruang berbentuk setengah bola. Jumlah ruang biasanya tiga, kadang-kadang sampai enam ruang. Garis tengah buah sekitar 3 5 cm. Bila telah masak, maka buah akan pecah dengan sendirinya Pemecahan biji ini berhubungan dengan pengembangbiakan tanaman karet secara alami yaitu biji terlontar sampai jauh dan akan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung (Marsono dan Sigit, 2005). Tanaman karet dapat diperbanyak secara generatif (dengan biji) dan vegetatif (okulasi). Biji yang akan dipakai untuk bibit, terutama untuk penyediaan batang bagian bawah harus sungguh-sungguh baik (Setyamidjaja, 1993).

Tambahan yang cari tadi Gak usah diedit lah ya..

2.1 2.1.1 Ciri Umum

Karakteristik

Tanaman

Karet

Tanaman karet berupa pohon, ketinggiannya dapat mencapai 30-40 meter. Sistem perakarannya pada/kompak, akar tunggangnya dapat menembus tanah hingga kedalaman 1-2 meter, sedangkan akar lateralnya dapat menyebar sejauh 10 meter. Bentuk batang tanaman karet bulat dengan kulit kayu yang halus-rata bewarna putih kecoklatan. 2.1.2 Ciri Akar Termasuk tanaman yang berakar tunggang. Perakaran tanaman karet alam menyebar secara ekstensif, oleh karena itu memerlukan drainase yang baik. Akar tanman karet mampu menetrasi tanah hingga kedalaman 1 meter. Banjir yang sering melanda tanaman karet dapat merusak perakarannya. 2.1.3 Ciri Bagian KayuKayu karet bila dipotong bewarna putih kekuningan. Percabangan batang tanaman karet dimulai sejak bibit berumur satu tahun sesudah masa tanaman. Sesudah percabangan, diameter batang meningkat secara teratur dan kontinyu, namun sesudah tanaman disadap, pertumbuhan tanaman berhenti sama sekali. Kayu tersebut dapat dijadikan kerajinan tangan dan perabot rumah tangga. Namun demikian, kayu pohon karet kuang tahan terhadap serangan serangga seperti rayap, serangga dan jamur (Syamsulbahri, 1985). Dari lapisan kulit terluar (periperi) hingga menuju pisat kayu terdiri dari lapisan kulit terluar, lapisan gabus, kulit keras, dan kulit lunak. Kulit lunak ini sebagian besar terdiri atas pembuluh ayak yang vertikal dan pembuluh lateks. Pembuluh lateks merupakan modifikasi dari pembuluh ayak (sieve tubes). Sieve tube atau pembuluh ayak merupakan bagian dari pembuluh angkut floem. Pembuluh lateks tersebut tumbuh dari lapisan kambium. Pembuluh lateks tersusun secara memanjang (longitudinal). Pembuluh lateks berbentuk tabung memutar melingkari batang dengan sudut kemiringan 3,50 arah verikal. Oleh karena itu, pada pengambilan cairan lateks pada pohon karet, dilakukan penyayatan sadap miring. Penyayatan dimulai dari sebelah kiri atas mengarah kesebelah kanan bawah. 2.1.4 Ciri Bagian Daun Daun tanaman karet adalah trifolia dengan tangkai daun yang panjang,serat daun tampak jelas dan bersifat kasar. Daun tersusun secara spiral dan berambut. Daun baru tanaman karet berwarna merah tua, selanjutnya berangsur-angsur akan berubah menjadi hijau tua. Perkembangan semenjak daun muncul hingga masak memerlukan waktu 36 hari, dengan rincian 18 hari digunakan untuk perkembangan daun hingga mencapai ukuran maksimal, sedangkan sisa harinya digunakan untuk pematangan daun dengan diakhiri perubahan warna daun menjadi hijau tua (Syamsulbahri, 1985). Tanaman karet secara reguler merontokkan daun-daunnya (deciduous). Rontoknya daun-daun ini hanya terjadi pada bulan tertentu. Biasanya rontok terjadi pada bulan kering. Apabila terjadi rontok daun, maka produksi lateks akan berkurang.

2.1.5 Ciri Bagian Bunga Bunga pada pohon karet hidup dan tumbuh bergerombol. Bunga pohon karet tumbuh pada bagian ketiak daun. Individu bunga bertangkai pendek dan bunga betina terletak di ujung tangkai. Bunga karet mekar berbarengan dengan tumbuhnya daun pohon karet setelah masa kemarau. Proporsi bunga jantan pohon karet lebih banyak ketimbang bunga betina. Bunga jantan hanya memiliki waktu mekar selama satu hari kemudian rontok. Berbeda dengan bunga jantan, bunga betina mekar selama 3-4 hari, pada waktu yang sama maih tedapat bunga jantan yang belum rontok, sehingga penyerbukan dapat terjadi. Dikarenakan perbedaan fase tumbuh antara bunga jantan dan betina yang berbeda dalam waktu, maka hanya beberapa bunga betina yang mampu menghasilkan buah (Syamsulbahri, 1985). Tanaman karet dapat menyerbuk sendiri atau menyerbuk secara silang. Sesudah terjadi penyerbukan, hanya sebagian kecil saja bunga betina yang bekembang menjadi buah. Sekalipun dengan penyerbukan buataan, tidak lebih dari 5% bunga yang tumbuh menjadi buah (Ghani et al., 1989). 2.1.6 Ciri Bagian Buah Buah dari karet masak sesudah 5-6 bulan setelah pembuahan. Buah yang masak tampak kompak, padat dan besar. Buah terrsebut terdiri dari 3 ruang bakal biji. Biji karet besar dan sedikit padat, ukurannya 2-3,5 x 1,5-3 cm, mengkilat dengan bobot biji antara 2-4 gram (Syamsulbahri, 1985).
http://sustainablemovement.wordpress.com/2011/12/27/tanaman-karet-hulu-hilir/